Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2013

Seminggu menjelang berakhirnya masa tugas suami, apartemen yang selama ini kami tinggali sudah harus dikembalikan ke perusahaan. Kami diberi kebebasan mencari sendiri hotel apartemen, dengan tanggungan mereka. Dengan penuh semangat, saya usulkan agar suami memilih hotel di pusat keramaian kota. Ini adalah kesempatan baik dan mungkin terakhir, karena selama ini kami tinggal di apartemen di Courbevoie, tidak berapa jauh dari kantor suami di La Defense.

IMG_4637IMG_4638Maka selama seminggu itu, sungai Seine yang membelah kota Paris menjadi 2 bagian yaitu Rive Gauche ( bagian kiri ) dan Rive Droit ( bagian kanan) menjadi pemandangan kami begitu kami membuka jendela kamar kami, Alhamdulillah …

IMG_3829IMG_4787IMG_4879Stasiun metro St Michel dan stasiun Pont Neuf  terletak hanya beberapa  puluh meter  dari tempat ini. Meski sebenarnya untuk menjelajahi Quartier Latin yang terletak di Paris 5 ini, kita tidak perlu  menggunakan metro. Quartier Latin adalah  bagian tertua kota yang ramai dipadati turis. Dengan berjalan kaki, Place St Michel, Notre dame de Paris, bulevard St Germain, Sorbonne,  Pantheon bahkan Palais de Luxembourg yang agak jauh di selatanpun bisa dicapai. Menyeberangi sungai, ke arah utara, Hotel de Ville atau ke arah barat, musee du Louvre juga masih dapat digapai.

MadeleineDemikian juga Place de la Concorde, yang merupakan salah satu tempat paling bersejarah di negri ini. Pelataran terluas di Paris ini dikelilingi bangunan-bangunan penting seperti gedung Asembly National yang berhadapan dengan bangunan kembarannya yaitu gereja Madeleine, hotel Crillon, hotel paling bergengsi di Paris dimana tamu negara sering menginap serta jardin Tuleries yang fenomenal itu.

Pelataran ini juga dikelilingi oleh 8 patung yang melambangkan 8 kota besar yang menjadi batas Paris dengan kota-kota tersebut. 8 kota tersebut adalah Brest, Rouen, Lille, Strasbourg, Lyon, Marseille, Bordeaux dan Nantes. Pelataran ini terbuat dari paving block, memberi kesan kuno namun tetap cantik.

Paris de la ConcordeSementara persis di bagian tengahnya berdiri tugu Obelisk, tugu kuno peninggalan raja Ramses, yang merupakan hadiah dari raja Mesir Mohammad Ali pada tahun 1829 untuk Perancis, sebagai lambang persahabatan ke 2 negara. Tugu ini  diapit oleh 2 buah air mancur kembar nan indah mempesona, dengan patung-patung erotiknya, seperti biasa  ..

Ironisnya, dibalik kecantikan penampilannya, tempat ini menyimpan kenangan yang sungguh pahit. Disinilah raja Louis XVI dan permaisurinya, Marie Antoinette di guilotine alias hukum pancung pada tahun 1793.  Dengan cara yang sama, ratusan orang menjadi korban keganasan dan kemarahan rakyat  yang merasa terzalimi selama bertahun-tahun hidup mereka dibawah tirani kerajaan.

Alexandre Dumas, seorang penulis kenamaan Perancis berhasil mengabadikan tragedi berdarah ini melalui novelnya yang berjudul La Femme au collier de velours . Hasil karyanya ini dipublikasikan pada tahun 1850.

Suatu hari di hari-hari akhir itu, saya berjalan-jalan ke arah Chatelet, tujuan saya Centre Pompidou yang terletak di Paris 4. ( Paris terbagi atas 20  wilayah / arrondissement). Biasanya di tempat ini, tepatnya di depan pelataran di depan perpustakaan Pompidou yang merupakan perpustakaan terbesar di Eropa,  sering ada atraksi gratis. Ternyata benar, hari itu saya berkesempatan menonton pesulap Canada beraksi.  Ia menutup sulapnya dengan atraksi yang cukup memukau.  Dengan gaya lucu, khas interpreneur profesional,  di atas sepeda  tingginya ia memainkan atraksi berbahaya, yaitu melempar pisau secara bergantian di antara dua tangannya.

Pertunjukkan yang berlangsung hampir 1 jam lamanya itu diakhiri dengan tepuk tangan panjang penonton. Berkali-kali sang maestropun membungkukkan badannya dalam-dalam sambil mengucapkan « Thank you .. Thank You “. Setelah itu iapun melemparkan topinya ke atas, menangkapnya kembali lalu berkeliling mendekati penonton.

This is free, of couse .. But the trip from Canada to French is not “, serunya sambil mengedipkan mata penuh arti. “ If you are satisfied,  half euro or even 20 euro doesn’t matter”, lanjutnya lagi dengan nada kocak, memancing tawa penonton.  Sekedar info, rata-rata orang memberi setengah euro untuk pertunjukkan seperti itu.

Alhasil, topi sang maestro yang digeletakkan di lantai itupun akhirnya penuh terisi koin- koin euro,    menjadi tanda sukses pertunjukkannya hari itu. Satu hal yang lazim terjadi di kota ini. Atraksi semacam ini memang hal biasa dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis manca negara.

Setelah itu penontonpun bubar, berpencar mencari hiburan lain. Demikian juga saya. Pandangan saya tertumbuk pada bendera Palestina yang sedang berkibar, tidak jauh dari tempat saya berdiri. Saya segera mendekati tempat tersebut.  Ternyata ini aksi solidaritas untuk kemerdekaan Palestina. Sejumlah poster dan foto-foto kekejaman tentara Israel dipajang di tempat tersebut.  Sementara sebuah meja panjang dengan beberapa kursi terlihat dipenuhi pengunjung. Di atas meja terlihat sebuah kotak berisi postcard dan sebuah kotak pos bertuliskan : » Mr le president de la republique », dengan alamat lengkap istana Elysees, istana resmi kepresidenan.

Usut punya usut, ternyata ini semacam poling/ jejak pendapat terhadap berdirinya Palestina merdeka. Pengunjung dipersilahkan memilih satu atau lebih post card yang tersedia di atas meja, kemudian menuliskan apa yang ingin dikatakannya tentang post card yang dipilihnya itu.

Seperti poster dan foto-foto  yang dipajang di sekitar lokasi, post card-post card tersebut menggambarkan berbagai kekejaman tentara Israel terhadap rakyat Palestina. Yang lebih menarik, post card pilihan pengunjung tersebut ditujukan kepada presiden Perancis, dan tanpa perangko, karena penyelenggara yang akan langsung menyerahkannya kepada orang no 1 negri tersebut.

Tentu saja saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga  tersebut. Kapan lagi bisa menulis surat kepada presiden, isinya tentang penderitaan saudara-saudari kita di Palestina dan harapan bagi kemerdekaan mereka pula.

Dari  An-Nu’man B. Basyir ra, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

 “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bantu-membantu itu seperti suatu jasad. Apabila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain akan turut merasakan sakitnya, dengan tanpa dapat tidur dan demam.” (Shahih Muslim, no. 2586. Bab: Mencintai orang-orang beriman, bantu-mebantu, dan saling kerjasama)

11078058_10152950765662054_4149501251067377125_nTidak itu saja, penyelenggara juga menjual T-shirt bertuliskan « Boycot Israel”di bagian depan dan “Go to Hell Israel”di bagian belakangnya.  Sesuatu yang rasanya mustahil terjadi tanah air.  T-shirt berwarna hijau yang hari itu dijadikan seragam penyelenggara itu dijual dengan harga 8 euro.

Namun jangan salah duga. Aksi tersebut tidak berarti bahwa penyelenggara berpihak kepada kaum Muslimin. Ini hanyalah salah satu bentuk toleransi  mereka. Sama halnya ketika mereka berteriak  bahwa kaum LGBT ( Lesbian  Gay Biseksual Transgender) juga mempunyai hak untuk hidup dan dihormati … 😦

Oya, tidak jauh dari tempat saya berdiri ini, berdiri patung baru yang cukup menarik perhatian.  Patung tembaga tersebut adalah patung raksasa Zinedine Zidane,  sedang menyeruduk  lawannya. 😦  ..Kejadian menghebohkan ini terjadi pada tahun 2006 di pesta kejuaraan sepak bola di Berlin.  Meski keberadaan patung raksasa setinggi 5 meter ini berhasil menarik pengunjung, saya yakin, pasti sang pahlawan persepak-bolaan Perancis kelahiran  Aljazair ini tidak senang  dirinya diabadikan dalam posisi seperti itu.

Pasti ia sakit hati, sama seperti sakitnya hati ini, dan juga mungkin kawan-kawan lainnya, karena kabarnya, Zidane terprovokasi melakukan tindakan kasar tersebut karena lawannya yang asal Itali itu selama pertandingan berlangsung terus membuntutinya sambil membisikan kata-kata ejekan terhadap saudara perempuannya  yang berjilbab. Zidane memang berasal dari keluarga Muslim. Betul-betul taktik busuk yang berhasil …

Lepas dari Centre Pompidou, saya segera menuju stasiun metro. Waktu telah menunjukkan pukul 17.30. Artinya sebentar lagi masuk waktu Asar. Tujuan saya adalah Mosquee de Paris, masjid terbesar yang ada di kota ini. Masjid ini terletak di, 39 rue Geoffrey Saint-Hilaire, Paris 5.  Jika ingin naik metro dari tempat ini, kita harus menumpang metro  no 7 dan berhenti di stasiun Place Monge.

Mosquee de Paris46443_426522137053_685982053_5062294_6303357_nmosquee de parisIMG_4690Masjid ini dibangun pada tahun 1926 untuk menghormati 70.000  pahlawan Muslim Perancis yang gugur dalam perang melawan Jerman pasca perang Dunia I. Arsitektur masjid ini mirip dengan arsitektur istana Alhambra di Spanyol, lengkap  dengan Patio de Leons yang terkenal itu. Tapi ini tanpa Leons atau singanya.

Disinilah saya selama 2 tahun lebih melaksanakan shalat Jumat, bersama ratusan Muslimah Perancis. Benar-benar sebuah kenangan yang sangat indah, mendengarkan kutbah Jumat tausiyah di tanah orang kafir. Sayang, tausiyah tersebut diberikan dalam bahasa Arab. Padahal saya perhatikan meski mayoritas jamaah adalah turunan Arab, harap maklum, Maroko, Alajazair dan Tunisia adalah Negara bekas jajahan Perancis,  namun anak-anak mudanya yang merupakan generasi ke 2, ke 3 atau bahkan mungkin ke 4, tidak lagi begitu mampu berbahasa Arab.

Menjadi pertanyaan besar, mungkinkah ini disengaja, karena saya pernah mendengar bahwa masjid agung ini sangat berbau pemerintah. Oleh sebab itu pemerintah melarang menggunakan tausiyah dalam bahasa Perancis, supaya orang Perancis tidak paham. ??!?

“ Katakanlah: “… … , kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. … … “.(QS.Al-Baqarah(2):217).

Atau mungkinkah saya saja yang su’udzon, karena  sebelum khutbah resmi, katanya, ringkasan khutbah telah diberikan dalam bahasa Perancis. Maklumlah Islamphobia di Perancis sudah sangat akut. Yang pasti, masjid lain yang ada di negri ini tidak mau mengikuti aturan masjid agung ini. Bahkan kebijaksanaan UOIF, organisasi Islam terbesar di negri ini, sering bersebrangan dengan keputusan dan aturan mesjid ini. Dan sering kali melawan kebijaksanaan pemerintah. Bisa dibilang masjid agung ini adalah milik pemerintah.

Namun sebagai masjid terbesar dan masjid yang paling mudah dicapai oleh Muslim yang tinggal di pusat Paris, masjid ini tetap ramai dikunjungi jamaah. Meski, seperti apa yang telah diprediksi Rasulullah, sebagai salah satu tanda akhir zaman, setiap hari mesjid ini membuka dirinya untuk turis, untuk dilihat-lihat dan berfoto ria. Meski kalau kita mau usnudzon, bisa saja ini menjadi dakwah tersendiri.

( Bersambung).

Read Full Post »

Tanpa terasa, nyaris 3 bulan sudah kami meninggalkan Paris, Perancis. Begitu banyak kenangan, suka dan duka  kami lalui. Berbagai macam pengalaman kami rasakan dan saksikan. Dari sana, banyak hikmah yang dapat kami petik. Alhamdulillah …

Jakarta dan Paris tentu saja tidak sama. Hal mencolok yang paling terasa, transportasi ! Tanpa perlu dibahas panjang lebar semua orang juga tahu betapa parahnya sistim transportasi di ibu kota Jakarta ini. Jangankan bicara kendaraan umum, untuk berjalan kakipun sungguh tidak nyaman.

Selain tidak tersedia trotoar polusipun bisa bikin sesak nafas. Pejalan kaki benar-benar tidak punya hak di kota ini. Pilihan hanya 2, naik kendaraan umum yang sama sekali tidak nyaman dan tidak terjadwal atau naik kendaraan pribadi. Kalau mau diperluas, ada taxi atau sepeda motor/ ojek. Dengan kondisi, semua maceeeet .

Namun demikian tidak perlu kita terlalu berkecil hati. Karena persamaannya juga ada, yaitu sama-sama ibu kota negara .. 🙂 . Supaya lebih lega, bolehlah saya tambahkan, sama-sama banyak rampok ! 😦 ..

Saya tidak bergurau, saya benar-benar mengalaminya sendiri. Bayangkan, hanya beberapa bulan sebelum usai tugas suami, ban mobil kami, raib digondol maling. Tidak tanggung-tanggung pula, ke-empat-empatnya! Ironisnya lagi, kejadian tersebut  terjadi di garasi pribadi apartemen kami sendiri, yang beberapa hari terakhir itu memang sedang rusak, sehingga terbuka lebar, sepanjang siang dan malam.

Suami mengetahui musibah ini sekitar pukul 4 pagi, ketika hendak pergi ke mesjid untuk shalat subuh berjamaah. Pikiran pertama yang terlintas di benak suami ketika itu “ Untung rampoknya udah kabur”.    Tak dapat dibayangkan apa yang terjadi jika suami datang dan memergoki rampok sedang beraksi … Astaghfirullah hal ladzim …  Rupanya Allah swt masih melindunginya, Alhamdulillah …

Sebenarnya bukan sekali ini saja kami mengalami musibah di kota pusat mode dunia ini. Pada tahun 2001 kaca mobil pernah dipecah orang. Gara-garanya hanya sebuah tas anak kami yang masih SD ‘nampang’di jok depan mobil. Ketika itu saya baru saja menjemput anak kami tersebut. Kami berdua tidak langsung meninggalkan parkiran yang terletak  di depan sekolah melainkan berjalan-jalan dulu di taman luas yang berada di samping sekolah. Saya ingat betul namanya, Parc Monceau.

Sekembali dari jalan-jalan itulah saya melihat bahwa kaca mobil kami telah dipecah orang dari luar. Dan yang diambil ya hanya tas anak kami itu. Kebetulan tas tersebut memang rada élit’, sedikit mirip tas kantoran. Pasti si maling tadi tidak menyangka bahwa tas tersebut hanya tas yang berisi buku-buku anak SD.  Saya akui, saya memang lalai tidak menyembunyikan tas tersebut. Namun siapa yang menyangka bahwa orang Paris ‘doyan’dan gampang tergiur barang seperti itu.

Yang kedua, terjadi pada tahun 2003, yaitu 2 bulan sebelum berakhirnya masa penugasan suami, persis seperti yang terjadi pada tahun 2012 lalu. Suatu hari seperti biasa saya pergi kursus bahasa Perancis. Karena siangnya kami ada acara bersama AVF, suatu kelompok sosial untuk mengenal kehidupan kota di Perancis dimana kami tinggal, maka saya pulang dulu, untuk salin dsb.

Namun setiba di apartemen dimana kami tinggal, pintu tidak bisa dibuka. Bahkan anak kuncinya tidak berhasil saya masukkan. Tiba2 saja hati saya berdebar kencang. Pasti ada yang tidak beres. Saya segera turun dan menelpon suami di kantor, membayangkan ada orang asing di dalam sana, hiii ..

Suami berpesan untuk mengawasi saja apartemen dari luar, sambil menanti kedatangannya. Tak lama kemudian ia datang dan berusaha membuka paksa apartemen, tanpa hasil. Akhirnya kamipun melaporkan kejanggalan tersebut ke SAMU, semacam 911 nya Perancis. Tak sampai setengah jam kemudian, bantuanpun tiba. Pintu dibongkar dan kamipun segera masuk.

Astaghfirullah hal ladzim, ternyata apartemen kami telah dirampok, di siang hari bolong .. Uniknya, rampok tersebut hanya mengambil perhiasan, itupun hanya yang asli, yang imitasi dibiarkan saja tergeletak dikasur.  Bahkan kamera yang harganya lumayan mahalpun tidak disentuhnya. Rampok tersebut membongkar laci2 lemari kamar kami, dapur dan vase2 yang ada di ruang tamupun dijugkir balikkan.

Menurut beberapa teman, memang ada sebagian orang yang suka menyembunyikan perhiasan di tempar beras di dapur dan di dalam vase kembang. Hemm, rupanya, benar2 rampok perhiasan professional ini. Yang menjadi pertanyaan dari mana ia tahu kami memilki sejumlah perhiasan ? Saya  jarang sekali mengenakkan perhiasan yang memang jumlahnya tidak seberapa itu dan perhiasan tersebut bukanlah perhiasan permata berlian yang mencolok pula. Yang saya miliki hanyalah perhiasan emas berlian sederhana pemberian orang tua saya ketika kami menikah dulu.

Menurut keterangan polisi, daerah tempat kami tinggal yaitu, Neuilly sur Seine,  memang daerah yang telah lama menjadi incaran rampok perhiasan. Harap maklum, daerah ini adalah daerah elitenya Paris. Ketika kami tinggal di tempat ini, Sarkozy, mantan Presiden Perancis yang sejak kecil memang tinggal di daerah ini, adalah wali kotanya. Ketika itu ia belum terpilih sebagai presiden. Yaaah nasiiib, namanya juga cuma apartemen kontrakan kantor, mana tahu kami semua itu.

Ile st LouisGrand PalaisOpera HouseNamun Paris tetaplah Paris. Daya tarik kota ini memang benar-benar mengagumkan. Banyak sekali obyek turis yang pantas untuk dikunjungi. Kota ini memilki banyak sekali museum, yang minimal, bagi mereka yang tidak menyukai museum, bangunannyapun sudah cukup untuk dijadikan obyek berfoto-ria. Arsitektur bangunan kota ini, memang sangat patut diacungi jempol. Bahkan jembatan-jembatannyapun tak kurang indahnya dari bangunannya sendiri. IMG_4877IMG_4916IPont Alexadre 3

Alangkah beruntungnya kami ini, diberi Sang Khalik kesempatan untuk menikmati kota ini, 2 kali pula, yaitu dari tahun 2000-2003 dan 2009 hingga akhir 2012.  Lebih enaknya lagi,  buat kami kaum Muslimah, berjalan-jalan menimati keindahan kota, hanya karena kita berjilbab saja, bisa menjadi dakwah tersendiri.  Bagaimana tidak ?

Mengenakan jilbab di tanah air tentu bukan hal aneh. Tetapi di negri dimana Islam hanya minoritas bahkan sering diidentikkan dengan terorisme atau Arabisme, tentu saja berbeda.  Apalagi dibanding bule-bulenya yang biasa berpakaian buka-bukaan dimana-mana. Biarlah mereka menilai sendiri bagaimana prilaku kita, Muslimah Asia, Indonesia, tepatnya …

“ Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang” .(QS.Al-Ahzab(33):59).

Jangan biarkan mereka terus berprasangka buruk terhadap kita, dengan hanya melihat misalnya, sebagian pemuda berwajah Arab yang suka berbuat kerusuhan atau Muslimah yang meminta-minta meski terpaksa. Karena seharusnya mereka juga menyadari bagaimana akibat perang, dengan Afganistan atau Irak misalnya, bukankah Barat yang menyerang dan mengeroyok Negara tersebut, hingga menyebabkan penduduknya terpaksa mengungsi dan menjadi imigran gelap yang kerap dikejar-kejar petugas?

IMG_4889Paris, seperti juga kota-kota metropolitan lain di dunia ini, memang amat rawan. Metro, alat transportasi masal terbesar kota yang telah berumur seratus tahun lebih itu tak terkecuali. Hampir setiap hari maling beroperasi di tempat ini. Biasanya turis asing yang jumlahnya amat sangat banyak itu yang menjadi sasaran utamanya.

Bagi yang sudah terbiasa menumpang Metro, maling-maling ini sebenarnya mudah dikenali. Jangan dulu membayangkan bahwa maling tersebut adalah preman bertubuh kekar dengan wajah seram. Sebaliknya, kebanyakan dari mereka adalah imigran gelap dari Eropa Timur,  ABG putri pulak ! Biasanya mereka berkelompok, sekitar 4-5 orang, namun masuk metro secara berpencar.

Pernah suatu hari saya memergoki seseorang, tangannya sedang merogoh tas teman saya, yang kebetulan memang tidak tertutup rapat. Reflek, saya langsung meloncat dari bangku dimana saya duduk dan segera menangkap tangan gadis tersebut.  Namun dasar maling, ia pura-pura tidak tahu dan berlaga tidak mengerti apa yang saya katakan.  Heuh …

Champs ElyseeSelain metro, tempat yang sering dijadikan objek incaran maling adalah tempat-tempat yang ramai dikunjungi turis.  Contohnya adalah bulevard Champs Elysees dengan Arc de Triomphnya yang terkenal itu. Di sepanjang boulevard yang memiliki trotoar sangat lebar ini berjejer puluhan rumah mode milik desainer kenamaan tingkat dunia, Louis Vitton, Hermes, Prada, Yves St Laurent dll semua ada di sini. Surga buat para pemburu belanja kelas dunia.

Namun yang paling menyedihkan, sekaligus  memalukan, adalah makin banyaknya peminta-minta perempuan berjilbab di sepanjang bulevard tersebut. Tak jarang, mereka ini mengemis dengan posisi sujud di sela-sela berjubelnya  turis yang lalu-lalang, tak peduli bahkan ketika saljupun sedang turun.

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan di bawah adalah tangan peminta-minta”.(HR. Muslim).

Meski sedih juga hati ini, karena mereka pasti kenal betul hadist diatas, kalau tidak karena terpaksa saya yakin pasti merekapun enggan melakukan hal memalukan tersebut.  Harap maklum, mereka adalah para pengungsi, korban berbagai perang dan kerusuhan yang melanda Negara mereka; Afganistan, Yugoslavia, Negara-negara bekas jajahan Rusia, Syria dan Negara-negara timur tengah lainnya adalah contohnya.

2010-12 l'hiver a la Tour Eiffel_15Selain Champs Elysees, lokasi sekitar menara Eiffel yang merupakan ikon Paris juga tak luput dari incaran para  maling. art islamJuga museum terbesar di Perancis bahkan mungkin di Eropa, Musee du Louvre, yang baru beberapa bulan lalu membuka departemen barunya, yaitu Art Islam. Di tengah antrian masuk yang panjang itu, para pengunjung harus tetap awas, karena malingpun suka menyelinap diantara pengunjung.

2010-10 Chateau de Versailles_832010-10 Chateau de Versailles_46Demikian pula di Chateau de  Versailles, istana kebanggaan rakyat Perancis , dimana Napoleon Bonaparte dan Louis XIV, dua raja Perancis yang terkenal itu, pernah tinggal. Di tempat ini, tas saya pernah nyaris digerayangi copet  kalau saja suami dan anak saya tidak segera memergoki tingkah laku mereka.

Belum lagi dengan tingkah para gembel dan pemabuk yang sering terasa mengganggu kenyamanan turis dalam menikmati keindahan dan kecantikan kota ini. Ironismya, gembel-gembel yang baunya benar-benar tidak sedap itu doyan membeli miunuman keras dan bisa memelihara anjing. Mereka bau, maaf,  bukan saja karena jarang mandi tapi juga suka mabuk dan muntah sembarangan, di dalam metro sekalipun. … 😦 .  Kalau saja mereka mau memahami dan mengimani ayat berikut …

« Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”…. , »(QS.Al-Baqarah(2) :219).

Kabarnya, mereka memelihara anjing memang disengaja, dengan suatu tujuan. Anjing yang merupakan binatang kesayangan sebagian besar orang Perancis itu digunakan sebagai tameng.  Artinya, petugas tidak bisa leluasa menangkapi gembel dengan alasan siapa nanti yang memelihara anjing mereka ??

 ( Bersambung)

Read Full Post »