Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2013

Ukasyah bin Mihshan al Asadi adalah seorang sahabat Muhajirin yang berasal dari Bani Abdu Syams. Ia telah memeluk Islam pada masa-masa awal sehingga termasuk dalam as Sabiqunal Awwalin.

Suatu ketika Nabi SAW menceritakan kepada sahabat-sahabatnya, bahwa kelak di hari kiamat beliau akan memamerkan umat beliau di hadapan para pemimpin (Nabi-nabi terdahulu). Dengan bangganya beliau akan memperlihatkan umat beliau yang begitu banyak hingga memenuhi dataran dan bukit. Lalu Allah berfirman kepada Nabi SAW, “Ridhakah engkau, ya Muhammad?”

Maka Nabi SAW akan menjawab, “Aku ridha, ya Tuhanku!”

Kemudian Allah berfirman lagi, “Sesungguhnya ada tujuh puluh ribu dari umatmu yang masuk surga tanpa hisab dengan wajah seperti bulan purnama.”

Para sahabat pun terkagum-kagum dengan cerita Nabi SAW. Namun tiba-tiba Ukasyah mendekati beliau dan berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah aku termasuk golongan itu.”

“Engkau termasuk golongan mereka!!” Kata Nabi SAW.

Melihat tindakan Ukasyah, beberapa sahabat mendekati beliau dan meminta didoakan seperti halnya Ukasyah. Beliau tersenyum melihat reaksi para sahabat tersebut dan bersabda, “Kalian sudah didahului Ukasyah.”

Perang Badar merupakan perang yang banyak memunculkan pahlawan-pahlawan Islam. Perang pertama yang sangat menentukan, apakah Islam akan tenggelam dan lenyap selagi masih embrio, ataukah akan terus tumbuh berkembang pesat? Dan sejarah membuktikan, 313 orang yang belum cukup berpengalaman dengan persenjataan terbatas dan perbekalan seadanya, apalagi memang tidak dipersiapkan untuk bertempur tetapi hanya untuk mencegat kafilah dagang Quraisy, ternyata mampu mengalahkan seribu orang pasukan kafir Quraisy yang dipimpin Abu Jahal yang berpengalaman, dengan persenjataan lengkap dan perbekalan yang lebih banyak. Tentunya semua itu terjadi tidak lepas dari pertolongan Allah SWT.

Salah satu pahlawan yang lahir di medan perang Badar ini adalah Ukasyah bin Mihshan bin Harsan  Al-Asadi. Begitu dahsyatnya ia bertempur sehingga pedangnya pun patah. Melihat hal itu, Rasulullah SAW menghampiri Ukasyah sambil membawa sebuah ranting pohon, sambil bersabda, “Berperanglah dengan ini wahai Ukasyah.”

Begitu diterima dari Nabi SAW dan digerak-gerakkan, ranting pohon itupun berubah menjadi sebuah pedang yang panjang, kuat, mengkilat dan tajam. Ukasyahpun meneruskan pertempurannya hingga Allah memberikan kemenangan pada umat Islam.

Pedang yang kemudian diberi nama “Al ‘Aun” menjadi senjata andalan Ukasyah dalam setiap pertempuran yang diikutinya, baik bersama atau tanpa Rasulullah SAW. Begitupun ketika Ukasyah menjemput syahidnya di Perang Riddah, pedang dari ranting pemberian Nabi SAW setia menemaninya.

Pada hari-hari akhir hidup Rasulullah, Rasulullah pernah mengumpulkan para sahabat dan mempersilahkan mereka untuk meng-qishos beliau bila pernah merasa beliau zalimi. Tak ada seorangpun yang berani berdiri hingga Ukasyah akhirnya berdiri.

“Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku” ucap ‘Ukasyah.

Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh kekasih yang baru saja sembuh. Namun ia juga tidak mau mengecewakan Rasulullah. Segera setelah sampai, cambuk diserahkannya kepada Rasul mulia. Dengan cepat cambuk berpindah ke tangan ‘Ukasyah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.

Abu Bakar ra, Umar ra  dan Ali bin Abi thalib ra tentu saja kecewa dan tak tinggal diam.

“Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan qishos Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku”

Namun Rasulullah mencegah para sahabat yang tak diragukan lagi kesetiaannya itu. Dengan tenamg beliau saw tetap mempersilahkan Ukasyah meneruskan niatnya.

Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat. Tak terhitung yang menahan nafas. ‘Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi ‘Ukasyah mengambil            qishos. “Wahai ‘Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil qishos, inilah ragaku,” Nabi selangkah maju mendekatinya.

“Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu”. Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan ghamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.

Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, ‘Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu. ‘Ukasyah menangis gembira, ‘Ukasyah bertasbih memuji Allah, ‘Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu,

“Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengqishos manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka”.

Dengan tersenyum, Nabi berkata: “Ketahuilah duhai manusia, sesiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini”. ‘Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang lain berebut mencium ‘Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali.

“Duhai, ‘Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga”. Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.

Pembunuh Ukasyah adalah Thulaihah al Asadi yang saat itu mengaku sebagai nabi, tetapi kemudian menjadi sadar dan kembali kepada Islam dan menjadi baik keislamannya. Ketika Umar bertemu dengan Thulaihah, ia berkata, “Apakah engkau yang telah membunuh orang yang saleh, Ukasyah bin Mihshan??”

Thulaihah menjawab, “Ukasyah menjadi orang yang bahagia (menjadi syahid) karena diriku, dan aku menjadi orang celaka karena dirinya. Tetapi aku memohon ampun kepada Allah…”

Kemudian Thulaihah menyitir sabda Nabi SAW, “Surga itu diliputi oleh hal-hal yang dibenci dan neraka itu ditaburi oleh hal-hal yang disukai…”

Umar bin Khaththab hanya tersenyum dan membenarkan Thulaihah.

Subhanallah …

Jakarta, 29 April 2013.

Vien AM.

Dikutip dari :

http://www.sdmutiaraislam.com/2012/01/ukasyah-bin-mihshan-ra.html

http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/21861-ukasyah-dan-keberaniannya-mencambuk-rasulullah.html

Read Full Post »

Incest ( baca Inses) yang dalam bahasa Indonesia sering disebut hubungan sumbang adalah perkawinan ( resmi maupun tidak resmi) antar anggota keluarga. Atau tepatnya hubungan seksual yang dilakukan diantara mereka. Bisa ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak lelakinya, antar saudara kandung, saudara tiri atau juga paman atau tante dengan ponakan dan sebaliknya.

Dalam dunia kesehatan modern hari ini, hubungan seperti diatas sangatlah tidak dianjurkan, karena ternyata amat berbahaya bagi kesehatan. Hubungan tersebut berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang lemah, cacat, baik fisik maupun mental. Bahkan bisa mengakibatkan kematian !

Hal ini dimungkinkan karena gen-gen pembawa sifat lemah terakumulasi pada keturunannya. Penelitian menunjukkan bahwa anak hasil perkawinan seperti ini memiliki risiko lebih besar menderita penyakit-penyakit genetik tertentu dari pada perkawinan pada umumnya. Biasanya penyakit tersebut adalah penyakit yang berhubungan dengan kelainan darah. Thalasemia dan Haemophilia adalah salah satunya. Seperti yang terjadi pernah pada abad 19, di lingkungan keluarga kerajaan Inggris, dimana perkawinan antar keluarga masih sering dilakukan.

Sejarah mencatat bahwa beberapa masyarakat kuno terbiasa melakukan perkawinan antar keluarga tersebut tanpa menyadari resikonya. Ada beberapa alasan mengapa mereka melakukan hal ini. Yang terbanyak adalah karena alasan politik, yaitu demi melanggengkan kekuasaan. Bisa juga demi alasan kemurnian keturunan atau ras.

Dalam mitologi Yunani kuno, dewa Zeus yang merupakan dewa tertinggi adalah suami dari dewi Hera, yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri. Sedangkan dalam mitologi Mesir kuno, pasangan dewa Osiris dan dewi Isis sebenarnya juga adalah 2 saudara kakak beradik.  Demikian juga Ptolemeus II, seorang raja Mesir kuno. Salah satu istrinya, yaitu Elsinoe, adalah saudara perempuannya sendiri. Juga ratu legendaris Mesir masa lalu, Cleopatra, ia pernah menikahi dua orang saudara kandungnya sendiri.

Di Indonesia hal ini juga tercatat pernah terjadi, meski hanya sebatas legenda. Yang terkenal yaitu kisah Sangkuriang dari Jawa Barat dan kisah Prabu Watugunung dari Bali. Kedua kisah ini memiliki kemiripan, yaitu tentang pemuda yang ingin mengawini ibu mereka. Keduanya awalnya tidak mengetahui bahwa perempuan jelita yang mereka cintai itu adalah ibu mereka sendiri.

Kisah Sangkuriang adalah kisah yang melatar belakangi lahirnya kota Bandung, dengan gunung Tangkuban Perahunya. Ibunya bernama Dayang Sumbi. Namun perkawinan antar anak dan ibu ini akhirnya bisa terhindari berkat usaha sang ibu yang akhirnya menyadari bahwa pemuda yang jatuh cinta padanya dan ingin mengawininya itu adalah anak kandungnya sendiri.

Ia menyadari hal tersebut setelah melihat bekas luka dikepala sang pemuda. Luka tersebut adalah luka pukulan sang ibu karena Sangkuriang telah membunuh ayah kandungnya, meski sebenarnya tidak sengaja. Kemudian Sangkuraing lari melarikan diri dan baru bertemu lagi dengan ibunya Sumbi setelah ia dewasa. Ia tidak mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah ibunya. Demikian pula Dayang Sumbi, ia tidak tahu bahwa pemuda tersebut adalah anaknya.

Sebaliknya dengan Prabu Watugunung, istrinya yaitu Dewi Sinta, sangat terlambat mengetahui bahwa suaminya ternyata adalah anak kandungnya sendiri. Ini terjadi setelah ia melahirkan 28 anak dari suaminya itu. Ia baru menyadari hal itu setelah suatu hari melihat luka di kepala sang suami. Luka tersebut adalah luka akibat pukulan sang ibu bertahun-tahun yang lalu karena kenakalan putranya, yang menyebabkannya melarikan diri dan baru bertemu lagi setelah ia dewasa.

Saat ini, sejumlah Negara barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan Australia, Incest dikategorikan sebagai suatu kejahatan pidana, dan pelakunya harus mendapat hukuman. Amerika misalnya, Incest dinyatakan illegal dengan hukuman bervariasi di tiap Negara bagiannya. Massachusetts adalah Negara bagian paling keras hukumannya yakni bisa mencapai 20 tahun penjara, sedang di Hawai hanya 5 tahun. Sementara di Inggris, hukumannya adalah 12 tahun penjara.

Pada tahun 2000-an, masyarakat Jerman pernah dihebohkan dengan kasus perkawinan Incest. Adalah Patrick dan Susan, pasangan suami istri yang juga saudara kakak beradik kandung. Perkawinan illegal mereka baru terbongkar setelah berjalan bertahun-tahun lamanya. Setelah proses panjang pengadilan, 2001 hingga 2008, keduanya akhirnya harus menjalani hukuman penjara 2 tahun.

Namun pasangan yang telah memiliki 4 orang anak, 2 cacat, tersebut sempat naik banding. Mereka beralasan bahwa larangan perkawinan Incest yang telah berlaku sejak tahun 1871 itu sudah ketinggalan zaman dan melanggar HAM. Karenanya harus diteliti kembali. Perdebatan hangatpun muncul di berbagai media massa.

Namun dengan tegas, profesor Juergen Kunze, seorang ahli genetika di Rumah Sakit Berlin, mengatakan, undang-undang ini diperlukan bukan hanya di Jerman tapi juga di seluruh Eropa.

“Penelitian menunjukkan risiko terjadinya kelainan genetik sangat tinggi akibat hubungan Incest. Kemungkinan lebih dari 50 persen anak akan cacat,” ujarnya.

Sekedar info tambahan, temuan tersebut baru terungkap beberapa tahun belakangan ini saja, yaitu diawali dengan ditemukannya teori tentang Genetika pada akhir abad 19 oleh George Mendel.

Lalu bagaimana ajaran Islam sendiri memandang perkawinan antar keluarga seperti ini ?

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”,(QS. An-Nisa (4):23).

Subhanallah … Ayat ini telah diturunkan pada abad 7, jauuuh sebelum adanya penemuan ilmiah bahwa perkawinan antar anggota keluarga beresiko menurunkan keturunan yang rentan dan lemah, bahkan bisa mematikan.

Ini makin membuktikan bahwa perintah dan larangan yang diturunkan Allah swt itu pasti mengandung hikmah, yang pada akhirnya akan menguntungkan kita. Meski sebenarnya, takwa, adalah tujuan utamanya. Artinya, tidak penting apakah ayat tersebut  menguntungkan kita atau tidak. Karena sebenarnya hanya dengan izin-Nya jua semuanya bisa terjadi.

Kisah Qabil dan Habil, dua putra nabi Adam as dan Siti Hawa adalah contohnya. Ketika itu, demi berkembangnya manusia didunia ini, Allah swt memerintahkan agar ke 6 pasang putra nabi pertama sekaligus manusia pertama di dunia ini saling menikahi saudaranya masing-masing, dengan syarat bukan kembarannya sendiri.

Namun ternyata Qabil tidak mau mentaati perintah tersebut. Dengan nekad, ia malah membunuh Habil, saudaranya yang diperintahkan menikahi kembaran Qabil. Ini terjadi setelah keduanya ditantang Sang Khalik agar melakukan kurban, dan kurban Qabil tidak diterima oleh-Nya. Inilah peristiwa pembunuhan pertama yang terjadi di muka bumi ini. Akibatnya Qabilpun menyesal dan hidup menderita selamanya.

“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.(QS. Al-Maidah(5):27).

Kalau kita cermati contoh-contoh kasus Incest yang terjadi, kebanyakan mereka adalah saudara kandung atau anak yang terpisah dari saudara atau ayah-ibunya. Mereka bertemu dan jatuh cinta tanpa mengetahui bahwa sebenarnya mereka bersaudara dan mempunyai hubungan darah.

Dari sini, satu lagi hikmah ayat Al-quran dapat kita petik, yaitu dilarangnya mengambil anak angkat tanpa menyebutkan asal usulnya. Ini yang terjadi pada Zaid bin Haritsah, putra angkat Rasulullah saw, yang sebelum turunnya perintah Allah menggunakan nama Zaid bin Muhammad. Yang dengan demikian dapat menghindarkan kemungkinan jatuh cinta dan menikah dengan saudara kandung sendiri.

Dari `Uqbah ibn Harits bahwa dia menikahi anak perempuan Ihab ibn `Azis. Maka datang kepadanya seorang perempuan maka (dia) berkata, “Sesungguhnya saya telah menyusui `Uqbah dan (perempuan) yang dia nikahi.” Maka berkata kepadanya `Uqbah, “Aku tidak tahu kalau engkau telah menyusuiku dan engkau tidak pula memberitahuku.” Maka (`Uqbah) berkendara menuju Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam di Madinah, maka dia bertanya kepada beliau. Maka bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, “Bagaimana (lagi) padahal sudah dikatakan (bahwa kalian adalah bersaudara susuan)?” Maka `Uqbah menceraikannya (istri) dan menikahi istri (perempuan) selainnya. (HR Bukhari).

Hadist diatas juga membuktikan betapa di masa lalupun, umat Islam telah terbiasa memperhatikan siapa saja saudara sesusuan mereka. Ini penting agar perkawinan Incest tidak terjadi.

Ironisnya, perkawinan yang tidak diridhoi Allah swt ini masih saja terus terjadi, di sekitar kita.  Adalah suku Polahi. Suku Polahi adalah sebuah suku masyarakat yang tinggal di suatu daerah di hutan pedalaman Gorontalo, Sulawesi Selatan. Menurut kabar, suku ini adalah suku masyarakat pelarian zaman penjajahan Belanda yang melakukan eksodus ke hutan karena takut dan tidak mau dijajah oleh kolonial Belanda, sehingga menjadikan mereka sebagai suku terasing sampai dengan saat ini.

Suku ini masih sangat terbelakang. Mereka  belum mengenal pakaian, mereka hanya mengenakan daun palma dan kulit kayu sebagai penutup syahwat mereka. Rumah mereka sangat sederhana, tak ada dinding pembatas di dalamnya. Mereka juga tak mengenal sekolah dan fasilitas kesehatan modern. Kabarnya mereka hanya bisa menghitung sampai angka 4, lebih dari itu dikatakan “banyak”. Yang lebih parah, masyarakat yang hanya berjumlah 500 orang ini terbiasa mengawini anggota keluarga mereka sendiri. Tak tanggung-tanggung, antar kakak beradikpun jadi !

Namun yang lebih menyedihkan lagi, belakangan ini kasus pemerkosaan yang dilakukan ayah terhadap anak kandung perempuannya sendiri makin meningkat. Apa yang terjadi dengan umat ini? Apa dan bagaimana tanggung jawab penguasa negri ini? Tidakkah cukup segala musibah yang melanda negri ini??

Nau’dzubillah min dzalik.

Jakarta, 23 April 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

grand archKeluar dari 4 temps, mall yang kabarnya terbesar di Eropa itu, Grand Arch, tugu raksasa setinggi  110 meter yang dibangun pada tahun 1985 langsung menyongsong. Tugu ini merupakan duplikat Arch de Triomphe, dalam versi modernnya, sesuai dengan lingkungan sekitarnya, yaitu La Defense.

La Defense adalah bagian Paris modern dimana gedung-gedung tinggi pencakar langit layaknya Manhattan di New York, kokoh berdiri menantang langit. Disinilah selama hampir 3 tahun suami tercinta pergi ‘ngantor’, dengan hanya berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit.  Hal yang mustahil terjadi di Jakarta, kantor barunya setelah pulang ke tanah air. Dari  stasiun metro La Defense, ujung metro line 1 ini pulalah kami pulang pergi melaksanakan berbagai kegiatan kami selama itu.

Grand Arch bersama dengan Arch de Triomphe dan Arch de Triomphe du Carousel yang ukurannya lebih kecil lagi dari Arch de Triomphe,  membentuk satu garis lurus yang dikenal dengan nama Axe Historique, garis lurus bersejarah. Bulevard terkenal Champs Elysees dan Place de la Concorde yang fenomenal itu terletak diantara Arch de Triomphe dan Arch de Triomphe du Carousel.  Arch de Triomphe du Carousel sendiri berada di ujung akhir Jardin de Tuleries, persis di depan Pyramida kaca raksasa yang merupakan pintu gerbang Musee du Louvre .

Yang mengejutkan, adalah temuan bahwa Axe Historique ini ternyata menuju ke 1 titik, yaitu Ka’bah di Mekkah ! Paling tidak, itulah yang dikatakan Hanum putri Amien Rais dan suaminya , Rangga, dalam buku « 99 cahaya di Langit Eropa » karya pasangan muda tersebut. Ini berdasarkan keterangan seorang Muslimah, mualaf asli Perancis, peneliti yang bekerja di Institut du Monde Arab, Paris.

arch de triomp carouselEntahlah, apakah itu suatu kebetulan atau tidak. Yang pasti tugu kemenangan bernama Arch de Triomph du Carousel itu faktanya memang dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte yang juga dikenal sebagai Napoleon 1.  Sementara sejumlah sumber  menyatakan bahwa Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis yang terkenal itu, pernah menyatakan kekagumannya atas Islam.  Ini berawal pada tahun 1798, ketika ia berkunjung ke Mesir dan menaklukan negri 1000 menara ini. Waktu itu ia belum menjadi kaisar.

« Puis enfin, à un certain moment de l’histoire, apparut un homme appelé Mahomet. Et cet homme a dit la même chose que Moïse, Jésus, et tous les autres prophètes : il n’y a qu’Un Dieu. C’était le message de l’Islam. L’Islam est la vraie religion. Plus les gens liront et deviendront intelligents, plus ils se familiariseront avec la logique et le raisonnement. Ils abandonneront les idoles, ou les rituels qui supportent le polythéisme, et ils reconnaîtront qu’il n’y a qu’Un Dieu. Et par conséquent, j’espère que le moment ne tardera pas où l’Islam prédominera dans le monde. »

“Lalu akhirnya, pada beberapa titik dalam sejarah, muncul seorang pria bernama Muhammad. Dan orang ini mengatakan hal yang sama bahwa Musa, Yesus dan nabi-nabi lainnya: hanya ada satu Tuhan. Itu adalah pesan Islam. Islam adalah agama yang benar. Makin banyak orang membaca makin banyak orang menjadi lebih cerdas, mereka menjadi akrab dengan logika dan penalaran. Mereka meninggalkan berhala, atau ritual yang mendukung politeisme, dan mereka mengakui bahwa hanya ada satu Tuhan. Dan karena itu saya berharap bahwa suatu waktu nanti akan segera tiba waktunya Islam mendominasi dunia.

Tulisan di atas bukan satu-satunya bukti kekaguman Napoleon yang sangat hobby membaca ini, atas Islam. Ada sejumlah tulisan lain yang menerangkan kekaguman Napoleon pada Rasulullah Muhammad saw dan para sahabat. Diantaranya yaitu pernyataan kekagumannya tentang keberhasilan penyebaran Islam, yang dalam waktu kurang dari 100 tahun telah manpu ‘meng-Islam-kan’ hampir separuh dunia.  Bahkan ada pula catatan bahwa  ketika berada di Mesir, Napoleon pernah bersyahadat ! Meski sebagian berpendapat bahwa itu hanyalah bagian dari politik Napoleon. Wallahu’alam .. Napoleon memang dikenal sebagai tokoh besar yang kontroversial.

Tulisan diatas sendiri disadur dari Jurnal Sainte Helene, pada tahun 1815 – 1818. Sainte Helene atau Santa Helena adalah tempat Napoleon di asingkan pada tahun 1812, tak lama setelah kekalahannya. Pulau ini terletak di tengah lautan Atlantik sebelah selatan, 1900 kilo meter dari Afrika. Dibutuhkan 2.5 bulan untuk mencapai pulau ini, dengan menumpang kapal.

Sedangkan jurnal St Helene adalah catatan harian orang-orang yang menemani Napoleon selama di pengasingan. Sebagai informasi, selama di Santa Helena, Napoleon memang selalu mendiktekan biografi hidupnya kepada orang-orang dekat yang mendampinginya. Salah satunya adalah asisten pribadinya yang bernama Ali.

Di pulau terpencil nun jauh di ujung sana inilah Napoleon hidup selama 6 tahun hingga akhir hayatnya. Disinilah kabarnya ia menghabiskan waktunya untuk lebih mengenal Islam yang pernah dikaguminya, dan mungkin bersyahadat, secara serius …

german embassy 1Namun pagi ini saya mendapat surprised. Melalui Face Book, saya melihat sebuah foto hasil jepretan seorang teman di Paris. Foto tersebut adalah foto langit-langit sebuah ruangan dengan hiasan mirip kaligrafi. Tebakan saya kaligrafi tersebut berbunyi « La illaha illa Allah ».

Lalu apa surprisednya ? Bila tulisan tersebut berada di masjid atau tempat-tempat milik Muslim tentu hal biasa. Tapi bila tulisan tersebut berada di langit-langit salah satu ruangan di dalam rumah duta besar Jerman di Paris, tentu berbeda. Dan info yang saya dapat kemudian, ternyata bangunan tersebut awalnya adalah milik putri Napoleon 1 !  Subhanallah … Dapatkah ini dijadikan bukti bahwa Napoleon memang benar-benar telah bersyahadat jauh sebelum dipenjarakan di pengasingannya di Santa Helena? Wallahu’alam ..

Berikut video mengenai Napoleon dan Islam :

http://www.youtube.com/watch?v=bL6DTlAnwek

Adalah kenyataan, bahwa salah seorang jendral kepercayaan Napoleon yang ikut mendampingi Napoleon dalam ekspedisinya ke Mesir yaitu, jendral Francois Menou, telah bersyahadat. Jendral yang mempunyai julukan Baron de Boussay ini kemudian menikah dengan seorang Muslimah Mesir dan mengganti namanya menjadi Abdallah. Sebelum wafatnya pada tahun 1810, ia sempat menduduki jabatan gubernur jendral Tuscany dan Venezia.

Sementara orang terdekat Napoleon, Raza Roustam, yang senantiasa setia mendampingi Napoleon kemanapun sang kaisar pergi, adalah seorang Muslim sejati. Roustam yang ahli berkuda itu adalah seorang  Mesir kelahiran Georgia yang diberikan penguasa Mesir kepada Napoleon pada lawatannya ke Mesir. Dengan penuh rasa percaya diri, sang asisten pribadi istimewa ini selalu berpakaian ala Mameluk lengkap dengan sorbannya, hingga menarik perhatian siapapun yang melihatnya.

german embassy 2Dan sejumlah foto yang dipajang di salah satu ruangan rumah duta besar Jerman yang dilihat beberapa teman saya di Paris beberapa hari lalu itu, kabarnya memang foto para sahabat Muslim Napoleon dari Mesir. Orang-orang yang menginspirasi kebesaran dan kebenaran Islam.

Marion, demikian nama peneliti yang disebutkan Hanum dalam bukunya, juga berani berkata bahwa Napoleonic Code, hukum yang dibuat Napoleon sekembalinya dari Mesir itu, jika dicermati secara serius, sebenarnya senafas dengan syariah Islam.

Kini, melihat kenyataan bahwa Islam berkembang pesat di negri yang pernah dikuasainya, seperti yang pernah diimpikannya, bagaimana kira-kira perasaan Napoleon bila ia masih hidup, puaskah ia? Yang pasti, selang beberapa hari setelah kami meninggalkan Paris, pemerintahan Perancis dibawah kepresidenan Francois Holland telah mengirimkan tentaranya ke Mali, untuk menghancurkan pasukan Mujahidin Mali yang sedang berjuang untuk menerapkan hukum Islam di negaranya.

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”.(QS.Al-Jatsiyah(45):18).

Apakah aksi berlebihan pemerintah Perancis ini merupakan reaksi ketidak-senangan mereka terhadap perkembangan Islam di negaranya? Apakah berbagai larangan seperti pelarangan jilbab, pelarangan azan, pelarangan pembangunan masjid dll yang dilontarkan pemerintah terhadap umat Islam di negri itu berhasil menghentikan penyebaran agama yang diridhoi-Nya itu?

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”(QS.Ali Imran(3):54).

Entahlah. Yang jelas, kami berdua hanya dapat berharap dan berdoa semoga saudara-saudari kita di negri ini bisa tetap istiqomah menjalankan syariat agama ini meski hanya sebagai kaum minoritas.

Sebagai penutup, tulisan yang saya buat ini bukan dimaksudkan sebagai  ‘íming-iming’agar para pembaca berkunjung ke Paris. Justru sebaliknya, saya berharap agar tulisan ini dapat cukup mewakili keinginan tersebut. Kecuali bila pembaca telah menunaikan kewajiban haji bila memang mampu dan masih memiliki kelebihan harta setelah melaksanakan kewajiban-kewajiban lain sebagai Muslim. Atau bila itu adalah memang tugas perusahaan, tentu saja. Itupun masih ditambah dengan tujuan untuk kepentingan dakwah, insya Allah.

eifel totindoAkhir kata, saya ucapkan banyak terima-kasih kepada sahabat-sahabat dan teman-teman yang telah membuat kami betah tinggal di kota ini, dengan segala suka dukanya. Teman-teman Totindo dimana kami secara rutin berkumpul untuk mengkaji ayat-ayat suci Al-Quranul Karim, baik melalui pengajian biasa maupun pengajian via Skype. Ataupun sekedar kumpul-kumpul sambil mencicipi masakan Indonesia yang memang top. Ataupun juga sekedar berjalan-jalan menikmati keindahan kota sambil berfoto-ria. …  🙂  ..

Au revoir “, kata dalam bahasa Perancis yang pada umumnya diartikan sebagai sampai bertemu kembali ini tampaknya kurang cocok untuk dijadikan judul dalam artikel ini.  Mungkin ” Good Bye” atau “A Dieu”  dalam bahasa Perancisnya,  lebih tepat. Meski “Dieu” yang artinya Tuhan itu kedengaran sedikit lebay, karena rata-rata orang Perancis tidak percaya Tuhan.  Tetapi ternyata kata itu tetap saja exist … 🙂

Terima-kasih ya Allah, telah Kau beri kami kesempatan untuk menyaksikan berbagai kejadian dan peristiwa di belahan barat bumi-Mu ini. Semoga kami memiliki kemampuan untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari segala kejadian tersebut. Aamiin aamiin aamiin ya robbal álamin ..

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.(QS.Al-Mulk(67):15).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 1 April 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Apapun, masjid adalah tempat silaturahim yang baik. Disini pula suatu hari saya pernah mengantar seorang  reporter TV tanah air menemui direktur masjid ini. Dalam wawancaranya itu, beliau mengaku kagum dengan Muslim Indonesia yang terlihat kompak dan mudah diatur ketika berhaji. Dalam kesempatan itu beliau juga menyampaikan salam ukhuwahnya untuk Muslim negri kita.

Yang juga cukup membanggakan, masjid ini terletak di lokasi yang cukup bergengsi. Masjid ini terletak di sudut  jalan, di depan Jardin de Plantes, yaitu kebun raya tanaman bio yang cukup luas  dan museum National d’Histoire Naturelle, museum yang menyimpan sejarah bintang langka, seperti Dinosaurus dll. Kedua situs ini banyak dikunjungi wisatawan dan hampir setiap hari selalu ramai.

Di sudut jalan ini berdiri sebuah restoran halal ala Maroko. Berbagai makanan khas Maroko seperti kuskus dan tajin yang banyak disukai bule  Perancis dijual di tempat ini. Di restoran ini terdapat  hamam, yaitu permandian air panas ala Maroko, yang dipisahkan antara laki2 dan perempuan. Jangan heran bila melihat antrian panjang bule-bule, mengantri di sudut masjid ini. Sekedar info, orang Perancis banyak yang sangat menyukai hal-hal yang eksotis – orientalis.

Bagi kaum Muslimin penggemar masakan khas Perancis juga ada kabar gembira. Restoran yang menyajikan masakan khas seperti crepe asin isi salmon, raclette dll dapat dijumpai tak jauh dari sini. Letaknya di belakang stasiun metro Place Monge.

Sementara itu di sudut lain masjid berdiri sebuah toko buku Islam dalam berbagai bahasa, selain toko buku di depan masjid yang hanya menjual buku dalam bahasa Perancis dan Arab. Di kedua toko ini dijual pula berbagai pernak pernik berbau  ‘islam’ seperti parfum Arab, Henna cat kuku dan rambut, gamis dll, disamping tentu saja sajadah dan tasbih.

Saya sempat mengobrol lumayan sering dengan  pemilik toko buku yang di ujung jalan itu. Ia adalah seorang pria setengah umur yang ramah dan sangat santun. Istrinya adalah orang bule asli Perancis  yang menutup auratnya dengan sangat sempurna. Cadar menutupi sebagian wajahnya. Hal yang banyak dilakukan mualaf asli negri ini. Sedangkan suaminya adalah orang Syria yang sejak lama telah tinggal di Perancis dan menjadi  warga Negara Perancis. Keduanya terlihat sangat sholeh dan sholehah.  Mereka sangat menjungjung tinggi agama Islam. Kagum saya pada mereka.

Kenangan yang juga tak patut dilupakan adalah keberadaan kedutaan Indonesia.  Disinilah masyarakat Indonesia sering bertemu. Tidak hanya ketika Ramadhan, Lebaran atau Natal. Namun juga ketika kebetulan sedang mengurus passport.  Bahkan persatuan ibu-ibu pejabat yang tergabung dalam Dharma Wanita juga menyelenggarakan arisan dan pertemuan rutin bulanan. Acara ini terbuka untuk seluruh warga Indonesia, baik yang sudah puluhan tahun tinggal di Paris dan menikah dengan bule maupun yang sedang tugas mendampingi suami,  seperti saya ini.

Di bagian belakang gedung perwakilan Negara ini berdiri pula semacam koperasi merangkap kantin. Disinilah berbagai keperluan dapur khas Indonesia seperti kecap, bumbu kacang, indomie  dll dapat ditemukan.  Begitu juga  masakan jadi khas Indonesia buatan masyarakat Indonesia di Paris.

Sayangnya, masakan tersebut belum tentu halal. Biasanya, untuk mengetahui kehalalan masakan tersebut kita harus mencari tahu dulu siapa yang memasak lauk pauk tersebut.  Beruntung tahun lalu, ada istri teman sekantor suami, seorang Muslmah,  yang hobby memasak dan mau menerima pesanan masakan. Jadi terjamin halal, Alhamdulillah …

Namun dalam urusan perut, sebenarnya kaum Muslimin tidak perlu terlalu khawatir. Sekarang ini banyak sekali toko daging ( mentah) halal di Paris, orang menamakannya “ Boucheri Musulman”, baik di pusat  kota maupun di banlieu, kota-kota satelit di sekitar Paris. Malah di supermarket besarpun tidak jarang ditemukan adanya stand daging halal.  Itupun bukan hanya sebatas daging sapi, kambing dan ayam tapi juga masakan siap saji seperti lasagne, pizza, ayam goreng, sandwich, burger dll.

Begitupun bumbu dapur dan rempah-rempah, selain di kedutaan, kita juga bisa berbelanja di china town, seperti super market Tang Freres yang terletak di Paris 13. Atau toko-toko kelontong kecil milik orang Cina atau orang India yang jumlahnya lumayan banyak, bisa menjadi alternatif menarik. Jadi tidak ada alasan tinggal di Paris itu bakal sulit makan nasi atau masak masakan khas daerah kesayangan suami. … 🙂 ..  Meski memang, tentu saja,  bumbunya tidak selengkap di tanah air.

IMG_4692Yang juga tak kalah menggembirakan, di objek-objek wisata resto halal juga tidak terlalu sulit ditemui. Di Musee du Louvre misalnya, di area food court museum ini , sejak beberapa waktu lalu telah tersedia sebuah counter resto halal. 2009-07 Paris_2198Juga di Sacre Couer, sebuah resto fast food halal yang menjual ayam goreng  ala Kentucky, bisa ditemui. Lumayan, untuk pengganjal perut setelah lelah berjalan mendaki bukit kecil dimana gereja tua berwarna putih ini berdiri. Bukit ini sering disebut sebagai atapnya Paris. Karena dari sini kita bisa memandang sebagian kota.

Sementara tak terlalu jauh dari Arc de Triomph, tugu pahlawan yang terletak di bundaran jalan dimana 12 jalan raya bertemu, salah satunya adalah Champs Elysees,  sebuah resto halal yang cukup enak boleh dijajal. Di dinding resto masakan  khas Perancis ini tergantung beberapa lukisan tokoh Turki. Pemilik resto ini memang orang Turki.

Kabarnya, tak jauh dari tugu dengan relief memukau ini juga ada restoran Indonesia. Sayang,  beberapa kali saya mencari tidak menemukannya. Yang saya tahu resto Indonesia yang berada di rue Vaugirard, tidak jauh dari Palais de Luxembourg,  Paris 6.

Bagi yang suka berbelanja di Galery Lafayette, mall mewah terkenal di Paris yang memiliki kubah biru nan elok itu,  juga tidak perlu resah. Sebuah resto halal yang menyajikan masakan Perancis milik seorang Muslim asal Maroko bisa ditemui tidak terjalu jauh dari galeri yang selalu dipadati turis ini.

Sedangkan di sekitar boulevard St Germain, salah satu jalan utama kota Paris yang dirancang secara apik oleh Haussmann di akhir abad 19, sebuah resto halal yang menyajikan masakan Cina dapat menjadi obat penawar kangen masakan Asia yang lumayan enak.  Resto ini terletak di rue Dauphine, tak berapa jauh dari toko bernama « Terima-Kasih ».  Surprised ya ? Begitu juga saya … 🙂

toko terimakasihItu sebabnya, saya segera masuk dan melihat-lihat toko yang ternyata berisi pernak pernik dan sejumlah furniture kayu khas Indonesia. Kebetulan saya bertemu dengan si pemilik, seorang asli Perancis.  Usut punya usut, si pemilik memang pecinta produk negri kita. Itu sebabnya tokonya ia beri nama Terima-kasih. Ia bercerita bahwa ia sering berkunjung ke Jakarta dan Surabaya. Selain untuk urusan bisnis, ia mengaku telah jatuh cinta kepada 2 kota besar itu, dengan segala hiruk pikuknya.

Begitupun di 4temps, pusat perbelanjaan modern di ujung Paris, yang terletak di La Defense, sebuah cafe halal siap saji a la Mc Donald bernama Lal’s cafe, siap melayani kaum Muslimin yang peduli akan kehalalan makanan yang masuk ke perut mereka.

Saya jadi teringat kepada 2 orang Muslimah yang di hari-hari terakhir menghampiri saya. Dari kejauhan mereka sudah melihat ke arah saya. Awalnya saya ragu, berpikir keras apakah saya mengenal kedua perempuan cantik berwajah Arab Aljazair tersebut.  Pertanyaan saya tak lama segera terjawab. Ternyata mereka hanya ingin menanyakan letak café halal tersebut.

Tadinya saya hanya memberi ‘ancer-ancer’nya saja. Tapi kemudian saya berubah pikiran, setelah teringat pengalaman tak terlupakan diantar saudara Muslim ketika suatu hari kami nyasar di negara orang. “Cari pahala ah, selagi masih ada kesempatan”. Maka jadilah saya berbalik arah, mengejar dan mengantar keduanya hingga terlihat papan arah penujuk jalan “Lal’s café”.  Indahnya persaudaraan ..

Namun sebenarnya, untuk mendapatkan makanan halal di kota ini sama sekali tidak sulit, minimal kebab, yang terbanyak adalah kebab Turki. Makanan ini ada hampir di semua sudut kota. Bahkan di tempat-tempat terbuka model pasar kaget kalau di Jakarta, kemungkinan hot dog atau jajanan lain halal yang semacamnya selalu ada. Kuncinya perhatikan dulu penjualnya.  Bila wajahnya menunjukkan ‘wajah Islam ‘,  seperti Aljazair, Maroko, Aljazair atau Turki, 4 etnis Muslim terbanyak di kota ini, cobalah beranikan diri bertanya, apakah makanan yang dijualnya itu halal. Tanyakan dengan suara pelan saja.

Beberapa kali saya melakukan hal itu. Dan ternyata benar. “ Oui, bien sure. Je suis musulman, je m’appelle Muhammad”.  Dengan semangat tanpa ditanya ia memperkenalkan diri, bahwa ia seorang Muslim dan bernama Muhammad.  Selanjutnya, ketika saya menanyakan mengapa tidak diberi tanda halal.  Ia menjawab bahwa resikonya terlalu berat, pelanggan bule bisa menjauh dan mencibir.  Apa boleh buat .. 😦

Ada juga beberapa resto, contohnya di sekitar Sacre Couer atau di sekitar St Michel, tempat dimana turis sering ngantri mencari makan. Meski resto tidak memasang tanda halal, namun begitu melihat ada perempuan berjilbab sedang celingukan mencari resto,  secara spontan sang penjual langsung berteriak bahwa restonya halal.  Ada juga beberapa resto yang  tanpa ditanya mengatakan bahwa ayamnya halal, namun tidak sapinya. Aneh yaa, tapi begitulah …

Lepas dari Lal’s café, sayapun melanjutkan langkah menuju arah lain 4 temps. Sore itu saya janji bertemu dengan seorang teman asal Azerbaijan yang juga sedang di Paris dalam rangka menemani suaminya bertugas. Seperti kebanyakan warga Negara bekas pecahan Rusia, teman saya ini juga Muslim. Sayang ilmu ke-Islam-annya amat minim. Ia mengaku bahwa dirinya belum bisa 100 % meninggalkan kebiasaannya  mengkonsumsi alcohol, terutama bila suaminya, yang juga Muslim menawarkannya, hiks ..

Ia juga bercerita bahwa dirinya baru mulai mengerjakan shalat setahun belakangan ini. Itu sebabnya pada perjumpaan terakhir ini saya menghadiahkan mukena untuknya. Plus buku cerita anak bergambar tentang kehidupan Rasulullah saw untuk kedua putrinya yang masih balita. Dengan harapan, semoga biografi  sederhana tersebut mampu mendekatkan mereka kepada nabi-Mu serta Islam yang tampak jauuh itu. Shalawat dan salam sejahtera bagimu ya Rasul …

“ Aduh bagus sekali, koq kamu tahu kalau saya hanya punya mukena satu, yang segera saya cuci ketika saya sedang haid”, sambutnya senang, dalam bahasa Perancis yang sangat fasih.

( Bersambung)

Read Full Post »