Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2014

Rekomendasi mendagri tentang diperbolehkannya tidak mengisi kolom KTP menuai reaksi pro dan kontra.  Meski sebenarnya ini bukan hal baru. Karena pada Desember 2013 lalu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang kala itu masih menjabat wakil gubernur DKI menilai pencantuman agama dalam KTP tidak terlalu penting dan tak memiliki manfaat bagi orang lain.

Selanjutnya pada bulan Juni 2014, direktur Megawati Institute, Siti Musdah Mulia, memunculkan wacana penghapusan kolom agama pada KTP dalam sebuah diskusi publik. Tokoh Sepilis ( Sekulerisme Pluralisme Liberalisme) dari PDIP ini memang dikenal nyleneh karena jauh sebelum itu, yaitu pada tahun 2008, pernah menulis di sebuah harian berbahasa Inggris bahwa Islam mengakui homoseksualitas !

Ini masih disusul lagi gugatan 5 mahasiswa fakultas Hukum UI mengenai keabsahan UU Perkawinan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka berpendapat bahwa pasal 2 ayat 1 UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang isinya  melarang perkawinan beda agama ini berpotensi merugikan hak konstitusional mereka.

(http://panjimas.com/news/2014/09/11/5-mahasiswa-ui-gugat-uu-perkawinan-soal-tidak-sahnya-nikah-beda-agama-ke-mk/ )

Namun demikian pernyataan resmi yang keluar dari mulut Cahyo Kumolo sebagai mendagri beberapa hari lalu tetap saja mengejutkan banyak orang, terutama ormas Islam tentu saja. Mendagri beralasan hal ini untuk mengakomodir warga yang tidak termasuk ke dalam 6 agama resmi yang selama ini diakui pemerintah, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghuchu. Selain juga untuk memenuhi keinginan sebagian pengikut aliran kepercayaan yang ada di negri ini.

Bagi umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk negri ini, keberadaan kolom agama jelas amat sangat penting. Ini adalah identitas diri. Islam bukan sekedar pengakuan di hati, ia harus di deklarasikan. Itu sebabnya ada kalimat syahadat, dan ini harus diikuti pengamalannya. Islam sarat dengan ibadah ritual yang memiliki dasar hukum yang kuat. Dimulai dari kelahiran, menikah hingga meninggal dunia, ada syarat-syarat dan hukum-hukum yang harus dipenuhi.

Intinya, kolom agama dalam KTP seorang Muslim mustahil dihilangkan, karena hal ini akan menghilangkan hak-haknya sebagai Muslim. Sebagai contoh, bagaimana seorang Muslim akan dimakamkan bila tiba-tiba ia tewas dalam kecelakaan tanpa seorangpun mengenalnya, sementara kolom agama di KTP nya kosong. Juga ketika menikah, Islam melarang pemeluknya menikah dengan yang tidak seagama. Jadi pernyataan Ahok bahwa kolom agama tidak penting dan tidak ada manfaatnya jelas ngawur !

Sebaliknya pengosongan kolom agama yang katanya ditujukan bagi mereka yang beragama di luar yang diakui pemerintah,  terdengar janggal. Bagaimana mungkin pemerintah sudah menetapkan agama yang resmi diakui, tetapi tetap diizinkan mengosongkannya. Apakah ini namanya bukan melanggar hukum ? Atau mungkin ini pertanda bahwa pemerintah bakal mengizinkan lahirnya agama baru ??? Padahal dengan adanya 6 agama ini saja pemerintah seringkali tidak mampu mengatasi masalah yang berkaitan dengan agama.

Syiah dan Ahmadiyah yang mengaku bagian dari Islam padahal terbukti sesat, juga JIL ( jaringan Islam Liberal) yang sering melontarkan pandangan nyleneh adalah contohya.  Sayangnya pemerintahan saat ini justru terlihat memiliki kedekatan dengan Syiah.  Presiden Iran, negri seribu mullah yang merupakan simbol Syiah, Hassan Rouhani dikabarkan sebenarnya ingin hadir pada acara pelantikan presiden yang baru lalu. Perlu dicatat, hampir semua Syiah di negri ini memilih Jokowi – JK karena PDIP sebagai partai pendukung pasangan tersebut memang dipenuhi sosok Syiah.

http://www.kiblat.net/2013/11/15/mui-ajaran-syiah-penuhi-10-kriteria-aliran-sesat-yang-ditetapkan-mui/

Belum lagi fenomena pemurtadan yang makin hari makin kasar dan kasat mata, seperti yang terjadi pada Car Free Day di kawasan Semanggi Jakarta baru-baru ini. Padahal pemerintah telah membuat aturan yang jelas tentang hal ini. Ini masih ditambah lagi dengan perseteruan antara Ahok dan FPI yang makin hari makin parah, dan berbuntut pengajuan permohonan dari Ahok agar ormas Islam ini dibubarkan.

Pengosongan kolom agama juga ditengarai berpotensi ke arah pemurtadan. Bahkan bisa ke arah Atheisme. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan budaya kita, juga Pancasila, khususnya sila pertama tentang Ketuhanan.  Tampak jelas bahwa budaya Liberal Barat sudah sedemikian merasuknya ke dalam dada sebagian orang Indonesia. Adakah ini sebuah pertanda bahwa sebentar lagi pemerintah juga bakal merestui perkawinan sesama jenis disusul perkawinan dengan beda spesies ??? Naudzubillah min dzalik …

http://panjimas.com/news/2014/09/21/nikah-sejenis-nikah-beda-agama-selanjutnya-nikah-beda-spesies/

Tampaknya Muslim di Indonesia saat ini bakal menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan keislamannya. Pemerintah terlihat bernafsu ingin meng-“internasionalisasi”kan Indonesia dengan mengabaikan sejarah dan latar belakang bangsa serta keberagamaan rakyatnya. Ironisnya hal ini didukung oleh sebagian umat Islam, yang mungkin sudah jenuh dan bosan dengan nasib bangsa yang tidak kunjung maju dan tertinggal jauh dari negara-negara tetangga. Islam memang tidak melarang mengejar kesenangan dan keberhasilan kehidupan duniawi namun kebahagiaan akhirat tetap prioritas utama. Tengoklah bagaimana Islam pada zaman keemasannya selama berabad-abad.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“.(QS. Al-Qashshas (28):77).

Membandingkan lebih baik pemimpin kafir yang penting tidak korupsi, merokok dan bertato meski tidak berjilbab,  riba asal bermanfaat dll bukanlah pembenaran yang dapat ditrima. Mustinya hal tersebut justru menjadi pemicu, agar kita memilih pemimpin Muslim yang akhlaknya baik dan kerjanya juga baik.

Belum lagi fenomena pendukung buta hati yang tidak mampu atau tidak mau realistis melihat cara kerja pemimpin pilihannya. Tengok pidato Abu Bakar Ash-Sidieq ketika beliau dilantik sebagai khalifah pertama Islam berikut :

“ Aku, bukanlah yang terbaik diantara kamu sekalian. Oleh karena itu aku  sangat menghargai dan mengharapkan saran dan pertolongan kalian semua. Menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang terpilih sebagai penguasa adalah kesetiaan yang sebenar-benarnya; sedang menyembunyikan kebenaran adalah suatu kemunafikan. Orang yang kuat maupun orang yang lemah adalah sama kedudukannya dan aku akan memperlakukan kalian semua secara adil. Jika aku bertindak dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, taatilah aku, tetapi jika aku mengabaikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tidaklah layak kalian menaatiku.”

Ini mencerminkan bahwa antara pemimpin dan yang dipimpin sama, yaitu sama-sama menjadikan  Allah dan Rasul-Nya sebagai pegangan. Namun apa yang kita lihat hari ini??

Pernyataan mendagri bahwa pengosongan kolom agama di KTP salah satunya untuk mengakomodir para pemeluk kepercayaan yang selama ini merasa dipaksa mengisi “Islam” sebagai agama mereka, patut dicermati.  Apalagi bila kita mengingat kisah kerbau kyai Slamet, kerbau keramat keraton Surakarta dan lain-lain ritual syirik yang hingga detik ini masih digadang-gadang sebagian orang yang mengaku Islam.

Apakah ini pertanda bahwa dakwah Islam selama ini sebenarnya tidak berjalan dengan baik? Buktinya ya itu tadi, kesyirikan yang dibiarkan berlarut-larut dengan harapan dapat dihilangkan sedikit demi sedikit ternyata tetap terus berjalan. Patut diingat, pada zaman rasulullah dan sahabat segala sesuatu yang berbau kesyirikan segera dihancurkan. Penghancuran semua patung dan berhala yang ada di dalam Ka’bah pada masa penaklukan Mekah, adalah salah satu contohnya.

Disamping itu, jargon « Islam adalah rahmatan lil alamin » dan « Islam adalah agama toleransi » tampaknya  justru memojokkan umat Islam itu sendiri. Kedua jargon ini telah ditafsirkan sedemikan rupa hingga menjadi kabur dan kebablasan. Dan siapa yang dianggap tidak sesuai  dengan kedua jargon tersebut dianggap sebagai teroris. Nasib penyanyi legendaries Yusuf Islam adalah contoh yang paling sederhana. Pemusik Inggris era 1970-an bernama asli Cat Stevens ini pernah dicekal masuk Amerika Serikat karena “kesalahannya”menjadi mualaf . Ia dianggap sebagai teroris karena kesalahan tersebut!

Kekurang-pedulian pemerintah kepada persaudaraan Islam juga tercermin dari reaksi Jokowi terhadap masalah Palestina. Masjidil Aqsho pada akhir bulan lalu sempat ditutup oleh pemerintah pendudukan Israel. Meskipun malamnya masjid dibuka kembali tak urung hal ini mengakibatkan panasnya hubungan Israel tidak saja dengan warga setempat namun juga negara-negara Islam seperti Yordania dan Turki.

Tapi tidak demikian dengan Negara kita. Kecuali setelah Jokowi yang kebetulan bertemu dengan Ban Ki Moon sekjen PBB, menanyakan bagaimana posisi Indonesia terhadap Palestina.  Jawabannya memang mendukung Palestina tapi terkesan hanya setengah hati, sekedar memenuhi janjinya pada pilpres kemarin, mungkin.  Memang kenyataannya pada acara jumpa pers pertama menlu Retno LP Marsudi, sedikitpun tak disinggung masalah Timur Tengah.

Yang pasti, pada awal November lalu telah datang seorang rabbi ( ulama Yahudi) dari AS yang memberi semacam pengenalan tentang agamanya, bahwa Tuhannya sama dengan Tuhan umat Islam, dan Tuhan telah menjanjikan tanah Palestina khusus untuk umatnya !  Acara ini bukan digelar di AS atau negara barat lainnya, tapi di universitas Paramadina, Jakarta, yang direkturnya tak lain tak bukan adalah mentri pendidikan baru kita, Anies Bawesdan. ( Republika 24 November 2014, kolom sudut pandang oleh A Syalabi Ichsan).

Juga ketika Jokowi bertemu dengan presiden Myanmar. Beliau sama sekali tidak mengusik tentang nasib Rohingya, Muslim Myanmar, yang sejak bertahun-tahun diperlakukan pemerintah secara  semena-mena. Padahal dunia internasional sering mengecam hal ini karena dianggap telah melanggar HAM.

Sementara itu Susi Pudjiastuti, mentri kelautan dan perikanan yang kontroversial itu kembali membuat berita besar. Dengan alasan menyelamatkan ikan-ikan kita dari  ‘illegal fishing’ beliau mengundang angkatan laut AS untuk membantu menjaga perairan Indonesia. Pertanyaannya, mengapa harus Amerika Serikat, sobat Israel  si penyerobot tanah Palestina, yang jauhnya ribuan mil dari Indonesia, dan jelas-jelas memusuhi Islam ??

( http://www.antaranews.com/berita/462816/menteri-kelautan-dan-perikanan-temui-dua-dubes-benua-amerika )

Ya Allah mau dibawa kemana negri ini ….   😦 …

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. …“.(QS.Ali Imran(3):19).

Jakarta, 18 November 2014.

Wallahu’alam bish shawwab.

Vien AM.

Read Full Post »

Kami tiba di kota pelabuhan tersebut pada pukul 15.30 waktu setempat. Kamipun langsung  memanfaatkan waktu yang tersisa di hari itu dengan berjalan-jalan melihat pusat kota. Danau dimana kita dapat memberi makan angsa yang bebas berenang di atasnya tampaknya menjadi hiburan tersendiri bagi warga Stavanger. Danau ini terletak diantara pelabuhan yang cukup ramai dan pusat perbelanjaan. Tak kalah menarik adalah deretan restoran dengan arsitektur bangunan kayu yang di cat warna-warni. Restoran ini berdiri berjajar di sepanjang pedestrian berbatu yang mengikuti kontur tanah naik turun.

Kami sempat beberapa kali melihat dan berpapasan dengan Muslimah, berkat jilbabnya, Subhanallah … Sayang kami tidak mempunyai informasi tentang Muslim di kota ini. Namun tanpa sengaja  kami menemukan resto halal siap saji hanya beberapa puluh meter dari hotel tempat kami menginap.

Hanya kami satu-satunya restoran yang seluruh sajiannya halal”, tegas sang pemilik resto yang menyediakan masakan lumayan bervariasi selain kebab.

« Kebab itu kayak masakan Padang kalo di Indonesia kali ya, tapi ini versi internasionalnya », begitu komentar anak-anak setengah bergurau.

Hmm, benar juga ya, kebab memang bisa di jumpai hampir di seluruh pelosok dunia lho, paling tidak di negara-negara yang sudah kami kunjungi. Dan yang lebih melegakan kebab yang kami kunjungi selalu halal, hingga kamipun mengambil kesimpulan kedai kebab sudah pasti halal karena biasanya pemiliknya Muslim Turki, Maroko atau Tunisia. Paling tidak itulah kesimpulan kami saat itu.

Esoknya, sesuai rencana kami menuju pelabuhan untuk memulai cruise kami menyusuri Lysefyord. Fyord sepanjang 42 km ini akan ditempuh selama 3 jam  dengan kapal Rodne Fyord Cruise. Tepat pukul 11 siang kapal berkapasitas 40 – 45  penumpang ini berlabuh meninggalkan pelabuhan. Alhamdulillah udara cerah meski tetap saja di luar lumayan dingin dan berangin.

IMG_7108IMG_2627IMG_2593Kapal berlayar keluar dari pelabuhan awalnya perlahan, melewati kapal-kapal yang di parkir dan bangunan-bangunan yang berdiri di tepi pelabuhan. Setelah melewati jembatan panjang yang menghubungkan daratan satu ke daratan yang lain, kapalpun mulai melaju pesat membelah sungai menuju laut dengan latar belakang Subhanallah, bukan cuma deretan bukit, tapi bukit yang bertumpuk, saling tumpah tindih memamerkan keindahannya. Belum lagi airnya yang begitu bening dan bersih bagaikan kristal, ditambah  pantulan cahaya matahari.

IMG_7029IMG_7045IMG_7069

Pulpit Rock dari bawah

Pulpit Rock dari bawah

Angin kencang yang makinIMG_7095 lama makin dingin segera menerpa wajah-wajah penumpang yang nekad bertahan di dek kapal.  Akhirnya sebagian besar penumpangpun menyerah, dengan terpaksa harus puas menikmati keindahan ciptaan-Nya dari dalam kapal yang dilengkapi heater itu. Namun ternyata kapal lebih sering berjalan perlahan bahkan berhenti sejenak, ketika mendekati obyek menarik. Diantaranya air terjun, tebing-tebing yang cantik, perkampungan penduduk, adanya sekawanan kambing yang sedang menuruni tebing dan lain-lain, termasuk Pulpit Rock atau Preikestolen yang termasyur itu. Kami segera membayangkan bagaimana rasanya berada diatas sana, di tepi tebing yang menjorok ke laut tersebut.

Semoga udara tetap cerah”, itulah harapan kami.

Namun ternyata Sang Khalik berkehendak lain. Sekitar 20 menit menjelang kapal merapat ke pelabuhan hujan rintik-rintik turun bahkan makin lama makin deras. Kami terpaksa berlarian ketika turun dari kapal, menuju restoran siap saji yang ada di sekitar lokasi. Padahal rencananya kami akan take away dan menyantapnya di dalam mobil, sebagai bekal sebelum mendaki tebing.

Sampai kami selesai makan siang, dan melanjutkan perjalanan ke Tau, dengan ferry selama kurang lebih 1 jam, hujan tetap tidak berhenti. Apa boleh buat tampaknya kami harus merubah rencana. Tidak tega sebenarnya melihat wajah anak-anak yang tidak mampu menyembunyikan kekecewaan mereka. Dengan berat hati, akhirnya diputuskan hiking besok pagi saja, sepagi mungkin. Dengan catatan rute perjalanan turistik Stavanger – Bergen sepulang hiking terpaksa dibatalkan.

“Kasian ayah, habis hiking pasti kan cape banget kalo harus nyetir 6 jam-an jalur pegunungan pula. Kita lewat tol aja, ok” bujuk saya.

IMG-20141023-WA003IMG_7136Setelah semua setuju maka mobilpun melancar mantab menuju penginapan di sekitar Tau, sebuah kota kecil tak jauh dari Pilpit Rock. Pemandangan alam yang disuguhkan negri ini memang benar-benar mengagumkan. Pegunungan yang terlihat tumpang tindih bukan sekedar berderet saja, sungai dan danau yang airnya amat jernih menjadi pemandangan utama kami. Tak sampai setengah jam kemudian sampailah kami di “ The Wathne Feriesenter “, penginapan ala bumi perkemahan yang terdiri dari beberapa rumah kayu berwarna merah lengkap dengan terasnya.  Bumi perkemahan ini terletak di ujung danau panjang Tysdalvalnet seluas 3.74 km2, dan di apit jejeran gunung yang sungguh menakjubkan.

Waduuh, kalau di dunia ini ada pemandangan yang begitu menakjubkan, gimana di surga yaa, Subhanallah. Ayo berlomba kita dalam kebaikan supaya bisa lihat keindahan di surga sana ”, setengah bercanda berkata saya kepada suami dan anak-anak.

Lebay deh ibu “, jawab anak-anak sontak. 🙂 …

Sore itu, setelah hujan reda kami mensurvey perjalanan menuju Pulpit Rock yang katanya hanya setengah jam dengan mobil. Dengan petunjuk GPS kamipun menyusuri jalan-jalan kecil, naik turun, sempit dan berkelak-kelok menuju kesana. Sesuai perkiraan memang benar sekitar setengah jam. Namun yang lebih menyenangkan lagi pemandangannya itu lho, benar-benar sulit untuk dilukiskan. Meski ketika pulang kami sempat tersesat karena hari telah gelap. Tak urung waswas juga hati ini berjalan menyusuri tebing-tebing tinggi di pinggir laut dengan pemandangan bayangan gunung-gunung dan bukit gagah namun terkesan angker saking gelapnya.  Alhamdulillah akhirnya sampai juga kami di penginapan, leganya hati ini.

Esok paginya sesuai rencana kami berangkat menuju Pulpit Rock, agak ngaret, karena berfoto-foto dulu di tepi danau. Akibatnya sesampai di Preikestolen Fjellstue, pos terdekat untuk mencapai tujuan, parkiran sudah dipenuhi kendaraan para wisatawan, termasuk bus-bus besar turis dari mancanegara. Pos yang dilengkapi youth hostel ini terletak agak tinggi di pegunungan menghadap danau. Berdasarkan info yang tercantum di papan informasi dibutuhkan waktu kurang lebih 4 jam pulang pergi.

IMG_7151IMG_1182IMG_7168IMG_7186Maka dimulailahIMG_7264 pendakian ini dengan penuh semangat. Meski jujur bagi saya, track sepanjang 3.8 km ini lumayan berat. Track memang sudah disiapkan dengan baik dan relative aman, tetapi tetap saja di beberapa tempat lumayan terjal, cukup membuat nafas saya tersengal-sengal. Maklum selain faktor U alias umur, juga kurang execise … 🙂  Track ini lumayan bervariasi, ada yang relative landai, ada yang terdiri dari tumpukan batu-batu sedang kadang cukup runcing, ada yang besar tapi ada juga yang super besar, yang bahkan untuk melaluinya saja terpaksa setengah merangkak.  Beruntung kedua putra-putri kami cukup kuat dan gesit menolong ibunya yang semangat 45. Pemandangan selama perjalanan tidak perlu diceritakan, silahkan dinikmati saja sendiri.

IMG_7205IMG_2722IMG_7251IMG_7234IMG_2713Kurang lebih 2.5 jam kemudian sampailah kami di puncak tebing Preikestolen atau Pulpit Rock yang selama beberapa bulan ini hanya kami pandang lewat foto. Tebing berbentuk persegi panjang ini memiliki pelataran datar seluas 25×25 meter. Diatas pelataran inilah dengan berbagai pose seolah berani melawan alam, para wisatawan mancanegara itu bergaya di tepi jurang yang tak berpengaman itu.  Batu besar yang menjorok ke selat yang kemarin kami arungi itu, dimana di hadapannnya berdiri kokoh daratan tinggi berkarang besar, mampu memberikan sensasi yang sungguh luar biasa. Subhanallah …

Hebatnya, meski tak berpagar sama sekali, tidak pernah ada laporan korban terjatuh atau kecelakaan lain. Satu-satunya laporan hanyalah pasangan asal Austria yang sengaja datang ke tempat ini untuk bunuh diri bersama, dengan meloncat ke dalam kedalaman jurang sungai yang tak terlihar dasarnya itu.  Naudzubillamin dzalik …

Setelah puas menikmati keindahan kebesaran Allah, kamipun kembali.  Kami menempuh perjalanan pulang tersebut persis sama dengan ketika berangkat, yaitu 2.5 jam. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore, kami belum sempat makan siang, pantas saja kalau perut terasa keroncongan. Ketika itu kami berada di Joperland, sebuah kota kecil tidak jauh dari Pulpit Rock. Kebetulan hari itu hari Minggu jadi kota sepi, tidak ada satupun toko dan restoran yang kami lalui buka. Alhasil begitu melihat ada resto kebab, yang selama ini kami anggap pasti halal, tanpa berpikir panjang kamipun masuk. Tak lama kamipun sudah asik menikmati makan siang kami sambil berceloteh tentang pengalaman kami tadi siang. Hingga ketika kami hampir selesai makan, tiba-tiba anak kami berkata pelan:

“Yah bu lihat…”, bisik anak kami sambil diam-diam menunjuk ke arah dapur resto. Sontak kamipun segera melirik ke arah yang ditunjuknya. Disana, di dinding dapur restoran cepat saji tersebut, terlihat sebuah salib tergantung.

“Astaghfirullahaldzim … “, seru kami nyaris bersamaan.

Koq aneh ya, tadi Dilla kan udah tanya halal g nih …  Jawabnya halal”, keluh putri kami kecewa.

Ntahlah, Allah Maha tahu, pasti Ia mengetahui bahwa kami sama sekali tidak bermaksud mengkonsumsi apa yang diharamkannya. Yah, setidaknya bukan babi ajalah, celetuk anak-anak lagi mencoba menenangkan diri.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah(2):173).

Akhirnya kamipun mengakhiri perjalanan di salah satu Negara Skandivania itu dengan menempuh perjalanan ke Bergen. Bergen adalah kota ke 2 terbesar di Norwegia setelah Oslo, ibu kota Norwegia. Kota yang terletak di utara Stavanger ini sebenarnya hanya berjarak 210 km dari Stavanger namun harus ditempuh dalam waktu 5 jam-an. Ini disebabkan kecepatan kendaraan maksimal yang dizinkan pemerintah setempat, yaitu hanya 80 km/jam, termasuk di jalur tol.

Tak dapat dipungkiri, pemandangan sepanjang perjalanan tersebut sungguh indah dipandang mata.  Jalur dibuat sedemikan rupa memotong laut, selat, danau, sungai dan pegunungan, kadang menyeberang dengan ferry sering kali menerobos terowongan yang sangat panjang. Terakhir, sebelum masuk Bergen, mobil naik ferry, dan selama 1 jam kami berada diatasnya. Di ferry ini kita dapat turun dari kendaraan dan naik ke lobby ferry yang mempunyai fasilitas lengkap, seperti restoran, wc dll.

Akhir kata, ya Allah jadikan segala kesempatan yang Engkau berikan kepada kami sekeluarga untuk menikmati keindahan-Mu sebagai bekal untuk lebih mendekatkan lagi kepada-Mu.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran(5):190-191).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 10 November 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Fyord, dari bahasa Norwegia fjord, adalah bagian panjang dan sempit dari laut yang berada di antara tebing, bukit terjal atau gunung, hingga membentuk semacam teluk sempit memanjang. Fyord terbentuk ketika bongkahan es raksasa di puncak gunung ( gletser) memotong lembah berbentuk  U karena terjadinya pengikisan alam baik abrasi maupun erosi terhadap batuan dasar di sekitarnya. Proses ini terjadi secara perlahan selama jutaan tahun hingga akhirnya terbentuklah aliran sungai di sela-sela bukit, tebing, gunung sebagai dampak mencairnya gletser yang jatuh dan meleleh di lembah sempit tersebut dan juga area sekitarnya. Itu sebabnya air fyord sangat bersih dan jernih.

Itu pula sebabnya fyord bisa sangat dalam dan sangat panjang, dengan kedalaman bisa mencapai 1.300 m di bawah permukaan laut. Contohnya adalah fyord Sognefjord di Norwegia yang mempunyai panjang 205 kilometer dan kedalaman 1308 meter (4291 kaki ) di bawah permukaan laut, serta memiliki lebar sekitar 2.8 mil.

Fyord memiliki nilai ekonomis sangat tinggi karena selain merupakan daya tarik wisata yang sangat mengagumkan, fyord yang kaya akan sedimen ini menarik untuk diteliti demi mengungkap keberadaan minyak bumi ataupun jenis mineral-mineral bumi lainnya. Ini masih ditambah lagi dengan adanya terumbu karang dan berbagai jenis ikan, diantaranya ikan salmon yang terkenal mahal itu.

Geirangerfjord Norway

Geirangerfjord Norway

Hardangerfjor Norway

Hardangerfjor Norway

Milford Sound1 New Zealand

Milford Sound1 New Zealand

Fyord banyak ditemukan di negara-negara  Skandinavia, Islandia, Greenland dan New Zealand.  Menurut catatan resmi, fjord terpanjang di dunia adalah Scoresby Sund di Greenland (350 km), disusul Greely/Tanquary Fiord di Canada (230 km) dan Sognefjord di Norwegia  (203 km). Sedangkan fyord terdalam di dunia adalah Skelton Inlet di Antartika (-1, 933 m ), kemudian Sognefjord di Norwegia ( -1,308 m ) dan Messier Channel di Cili (-1,288 m). Ukuran minus di dalam kurung menunjukkan ukuran di bawah permukaan laut.

“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan”.(QS. An-Nuur(24):43).

Subhanallah, sungguh luar biasa cantiknya fyord buatan-Mu Ya Allah. Kecantikan alam ciptaan-Nya inilah yang membuat kami memutuskan untuk mengunjungi Norwegia. Kebetulan kami memang telah berniat menghadiri wisuda S2 putra kami ke 2 di Leiden, Belanda.  Dan setelah searching internet kesana kemari, Pulpit Rock atau Preikestolen, tebing terjal di Norwegia dengan pemandangan spektakuler fyord bernama Lyse atau Lysefyord di bawahnya, menjadi pilihan tujuan utama kami.

Wah lumayan nih bisa sekalian jadi ladang dakwah ibu, kayaknya Muslim belum terlalu dikenal disana deh”, itu mimpi saya. Dengan modal minimal jilbab saja sebenarnya tidak sulit bagi Muslimah untuk berdakwah. Paling tidak untuk sekedar menunjukkan bahwa Islam itu exist, dan lebih penting lagi bahwa Islam bukan cuma milik dunia Arab seperti bayangan kebanyakan orang Barat.

“ Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. (QS. Al-Ahzab(59):33).

Rencananya waktu 3 hari yang sebenarnya terlalu singkat itu akan kami gunakan untuk hiking ke tebing berketinggian 600 meter tersebut, menyusuri Lysefyord dengan kapal dan terakhir menyisir rute turistik 6 jam Stavanger – Bergen dengan mobil sewaan. Tiket kapal telah kami beli jauh-jauh hari melalui internet karena lebih murah dibanding membeli langsung di lokasi.

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya …”. (QS. Al-Mulk (67):15).

Maka pada tanggal 15 September 2014 lalu saya, suami dan putri bungsu kami, jadilah terbang meninggalkan tanah air menuju daratan Eropa. Kami menumpang Qatar Airways yang transit 4 jam di Doha. Total perjalanan kurang lebih 18 jam. Kami mendarat di bandara Charles de Gaule Paris sekitar pukul 7 pagi waktu setempat.

Dari ibu kota Perancis ini kami langsung melanjutkan perjalanan ke Denhag Belanda dengan mengendarai mobil sewaan yang telah di booking suami dari tanah air.  Perjalanan dengan jarak tempuh 472 km ini ditempuh dalam waktu kurang lebih 6 jam. Syukur Alhamdulillah Allah swt memberi kekuatan dan kemampuan suami tercinta menyetir setelah penerbangan panjang malam sebelumnya. Trima-kasih ayaaah …

Dua malam kami menginap di Denhag yang jaraknya hanya 22 km dari Leiden dimana wisuda bakal dilaksanakan. Acara wisuda di universitas tertua di Belanda ini ternyata amat sangat sederhana, tidak ada toga dan atribut lain seperti di negri kita. Di Indonesia, bahkan wisuda TK pun memakai toga … 🙂

Wisuda diselenggarakan 2x dalam setahun. Namun penyelenggaraannya bukan di hall atau ruang besar seperti umumnya wisuda di Indonesia, melainkan di beberapa ruangan kelas.  Wisudawan dipanggil satu persatu untuk masuk ke dalam ruangan sesuai jadwal yang telah diberikan sebelumnya. Ia berhak mengundang maksimal 15 orang sahabat dan handai taulan untuk duduk di deretan kursi di belakangnya. Sementara duduk di seberang wisudawan, dosen pembimbing dan rektor fakultas.

Disanalah keduanya, selama 10 menit memberikan speech : penilaian, kesan, nasehat serta saran kepada si wisudawan. Keduanya berbicara dengan suara cukup kencang hingga semua yang hadir bisa ikut mendengarkan. Suasananya demikian hidup, akrab dan santai. Setelah itu disertai jabat tangan, ijazahpun diserahkan. Bravo Bimo, semoga ilmunya bermanfaat dunia akhirat, bagi diri, keluarga dan lingkungan, aamiin YRA.

Esoknya, kami menyempatkan mengunjungi Delft dan Roterdam yang jaraknya hanya beberapa puluh km dari Denhag. Jarak antar kota di Belanda memang sangat berdekatan, maklum negara ini luasnya hanya sekitar 41 ribu km2. Bandingkan dengan Indonesia yang luasnya 1.990.250 km2.

Belanda,  Netherlands dalam bahasa Inggris, Nederland dalam bahasa Belanda,  artinya adalah  tanah yang rendah. Ini dikarenakan seperempat tanah negara ini memang berada di bawah permukaan laut. Rata-rata kota di negara ini berada di 1 m dibawah permukaan laut, bahkan ada yang 7 m. Tentu saja hal ini sangat berbahaya. Itu sebabnya bendungan menjadi semacam keharusan. Berkat dinding-dinding bendungan inilah Belanda  aman dari ancaman air laut yang sewaktu-waktu bisa mendatangkan bencana.

Disamping itu untuk menambah luas tanah negaranya, pemerintah berikhtiar maksimal dengan mereklamasi laut serta mengembangkan sistim tata air yaitu dengan kanal dan kincir angin yang kemudian menjadi ciri khas negara ini. Alhasil, hampir setengah dari penduduk Belanda sekarang ini hidup di darat yang telah direklamasi.

“God created the world, but the Dutch created Holland” ujar Rene Descartes, seorang filsuf Perancis kenamaan mencoba menggambarkan bagaimana orang Belanda mengeringkan daratan yang digenangi air agar dapat menjadi permukiman yang layak didiami.

Leiden

Leiden

Delf

Delf

di depan Leiden Univ, Leiden

di depan Leiden Univ, Leiden

Setelah puas berkeliling menikmati indahnya kanal-kanal kotaIMG_6566, siangnya kami melanjutkan perjalanan ke Paris. Perjalanan bertambah seru karena putra kami yang baru saja diwisuda ikut bergabung.  Di Paris kami hanya satu malam, dan rencananya kami akan menutup perjalanan kali ini dengan kembali ke Paris untuk 2 malam yaitu sekembalinya dari Norwegia nanti. Sebagai catatan, kami menggunakan penerbangan Jakarta – Paris – Jakarta atas permintaan si bontot yang ingin bernostalgia, mengingat hari-harinya di kota ini.

Sedangkan kota tujuan utama kami di Norwegia adalah Stavanger. Stavanger adalah kota ke 3 terbesar dan ke 4 terpadat penduduk di Norwegia.  Kota ini mempunyai luas 71 km2 dan sekitar 125 ribu penduduk ( 2010) bandingkan dengan Jakarta yang berluas sekitar 662 km2 dan 10 juta penduduk ( 2011).

Kota ini terletak di Norwegia bagian barat daya, tak jauh dari Laut Utara yang kaya minyak itu. Bagi sebagian besar orang Indonesia mungkin nama ini terdengar asing. Namun tidak bagi kami, terutama suami yang bekerja di perusahaan minyak. Karena Stavanger adalah kota minyak. Oil Capital of Norway adalah julukannya, disebabkan banyaknya perusahaan minyak dunia berkantor di kota ini, termasuk perusahaan dimana suami bekerja.

IMG_6880IMG_6960IMG_6883Namun yang diluar dugaan suami ternyata Stavanger tidak se’angker’yang dibayangkannya. Selama ini bila ada sejawat yang ditempatkan di Stavanger, yang terbayang adalah kota antah berantah di ujung dunia yang sepiii, dingiiin dan jauh dari keramaian. Nyatanya Stavanger cukup ramai, kotanya juga menarik dan unik, terutama bentuk rumahnya yang terbuat dari kayu.

Tetapi yang paling menakjubkan, kontur alamnya itu lho, Subhanallah … Dimana-mana terlihat bukit yang menyembul di tengah atau di balik laut dan danau … Dan yang lebih menguntungkan lagi, udara yang cukup ideal, yaitu sekitar 20 derajat, padahal ini sudah masuk musim gugur, biasanya bulan September maksimal hanya  15 derajat. Alhamdulillah,  terima-kasih ya Allah …

Meski belakangan saya baru tahu ternyata Norwegia memiliki iklim yang lebih besahabat dibandingkan dengan Negara lain dengan posisi ketinggian yang sama yaitu Alaska, Greenland dan Siberia.

( Bersambung).

Read Full Post »