Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2014

Friedrich Leopold Goltz seorang filosofi Jerman, suatu hari pernah melakukan percobaan dengan menggunakan seekor katak. Katak tersebut dimasukkan ke dalam panci berisi air bersuhu sedang, tidak panas tidak dingin. Selanjutnya pancipun dipanaskan.

Suhu bergerak naik perlahan, katak tetap nyaman dalam posisinya terendam air yang terus menghangat. Hingga pada suhu tertentu ketika air mulai mendidih sang katak mulai merasa kegerahan tapi ia tetap bertahan. Akhirnya ketika ia sudah tak tahan lagi iapun berusaha meloncat ke luar. Namun ada daya energinya ternyata telah habis terpakai demi menyesuaikan diri dengan panas air yang melingkupinya. Maka sang katak malangpun akhirnya mati. Inilah yang dinamakan teori katak rebus.

Teori ini di kemudian hari digunakan untuk menggambarkan orang yang merasa aman dan nyaman dalam keterancaman masa depan, yang merasa tenang-tenang saja meskipun lingkungan telah rusak dan terus bertambah rusak saja, tidak sadar bahwa dirinya telah larut dan hanyut di dalam kerusakan tersebut. Akibatnya hilanglah kesensitivitasan diri yang seharusnya  dapat menjadi tolak ukuran kebenaran. Berbagai isu negative yang datang menerjang tidak dapat lagi dirasakan kejanggalannya.

Baca juga : https://vienmuhadi.com/2014/11/19/pengosongan-kolom-agama-pada-ktp/

Ini tampaknya yang sedang terjadi di republik tercinta ini.  Dimulai dari balita yang sejak dini sudah terbiasa bermain game tanpa batas waktu dan aturan, murid SD yang suka menyontek namun didiamkan, murid SMP SMA yang tawuran bahkan  tentara dan bapak-bapak terhormat anggota MPR DPR yang hobby berkelahi. Belum lagi masalah keluarga dimana kedua orang-tuanya sibuk bekerja mencari uang hingga anak-anak terbengkalai khususnya ahlak dan agamanya, juga perzinahan dan korupsi yang makin meraja-lela.

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)

Ucapan rasulullah saw 15 abad  silam makin terasa kebenarannya. Ya, umat Islam saat  ini makin cinta dunia, secara berlebihan. Demi menjadi kaya, sukses, maju dan terkenal orang tak lagi peduli bagaimana cara mendapatkannya. Ayat-ayat Al-Quran tidak lagi dijadikan pegangan bahkan ketika memilih pemimpin, padahal pemimpin dalam Islam adalah kunci keberhasilan bangsa.

Maka beginilah hasilnya, pemimpin bangsa yang terpilih adalah hasil pilihan rakyat yang juga kurang mempedulikan kitab sucinya. “Kita bukan Negara Islam”, begitu alasannya. Sangat kentara bahwa sekulerisme telah merasuki jiwa sebagian umat. Para ulama dan uztad/uztadazah yang sebelum pemilu telah berjuang keras mengingatkan rakyat hanya bisa mengelus dada. Padahal imbauan diberikan bukannya tanpa dasar, diantaranya sebagai berikut:

Pertama, bila Jokowi yang pada saat sebelum pemilu adalah gubernur DKI, terpilih menjadi R1, maka konsekwensinya wakil gubernur dipastikan bakal menggantikan posisi Jokowi. Dan wakil tersebut tak lain adalah Ahok seorang yang bukan saja non Muslim namun juga sering tidak pro terhadap Islam dan tabiatnya buruk meskipun mungkin lurus, ini yang hilang dari sebagian politikus Muslim. Tetapi ini tetap perlu pembuktian.

( Baca juga : https://vienmuhadi.com/2014/10/21/fpi-menyerang-ahok-melawan/ )

Dari mulutnya keluar pernyataan “ Ini gara-gara miras tidak dilegalkan. Coba kalau dilegalkan tidak perlu mereka membuat oplosan yang akhirnya merenggut nyawa mereka !”, “ Banyak orang butuh miras, turis juga butuh itu”. Tanggapan ini berkaitan dengan ditemukannya korban akibat miras oplosan.

Kedua, PDIP yang merupakan partai utama pendukung Jokowi dipenuhi orang non Muslim. Artinya, bagi non Muslim, pantas bila mereka memilih Jokowi. Namun bagi Muslim ? Apalagi di partai tersebut ada dedengkot Syiah Jalaludin Rahmat yang sering terang-terangan mengolok-olok Aisyah istri Rasulullah yang paling dicintai sekaligus ibu bagi kaum Muslimin, umirul mukminin, disamping para sahabat Muhajirin dan Anshar.

“ Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.  … “(QS. Al-Ahzab(33):6).

“ Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela`natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”.(QS. Al-Ahzab(33):57).

Maka tak heran bila belakangan ini datang berita tentang masuknya ratusan imigran gelap yang mengaku datang dari Afganistan untuk mencari suaka. Mereka menyerbu Balikpapan dan kota-kota besar di bagian timur lainnya. Namun anehnya mereka datang tanpa istri dan anak-anak mereka. Badan mereka tegap-tegap layaknya militer. Apa tujuan pendatang gelap yang ternyata Syiah itu ??? Akankah orang-orang ini ingin menjadikan negri tercinta ini Suriah jilid 2?? Bila menyiksa diri di hari Asyura saja sudah terbiasa apalagi hanya membantai orang yang tidak sefaham?? Nau’dzubillah min dzalik …

http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2014/12/05/34461/pengakuan-aparat-imigran-bisa-naik-pesawat-teriak-ya-husein-ya-husein.html#.VIWIG9KUde4 

Juga wacana bahwa PTI ( Perguruan Tinggi Islam) yang tadinya berada di bawah pengawasan Departemen Agama akan dipindahkan kebawah  Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Pemindahan ini ditengarai berpotensi bakal meng-sekuler-kan ilmu-ilmu Islam. Ini berpotensi PTI akan disamakan dengan studi Islam, sebuah fakultas yang  sifatnya hanya sekedar mempelajari ilmu ke-Islam-an bukan atas dasar keyakinan dan keimanan yang harusnya merupakan ciri khas PTI.

http://www.republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/14/11/26/nfmxhb-pemindahan-perguruan-tinggi-islam-tak-bermanfaat 

Berita miring juga datang dari metri Pendidikan Anies Bawesdan. Pria ganteng pintar nan simpatik yang digandrungi banyak ibu-ibu ini mempermasalahkan doa pembuka dan penutup di sekolah yang dinilai sebagai promosi agama tertentu, Islam tentunya.

http://news.detik.com/read/2014/12/01/161654/2764309/10/mendikbud-anies-sekolah-negeri-promosikan-sikap-berketuhanan-yang-maha-esa

Hmm, aneh bin ajaib sejak kapan doa dianggap sebagai promosi agama yaa. Rasanya semua orang pasti tahu bahwa doa adalah komunikasi kepada Tuhannya. Kecuali mungkin bagi orang-orang JIL Sepilis dan Paramadina pimpinan pak Anies yang beberapa waktu lalu mendatangkan rabbi Yahudi untuk memperkenalkan Yahudi. Rabbi ini mengatakan bahwa Tuhannya telah menjanjikan tanah Palestina khusus bagi umat Yahudi. Nah apakah bukan ini yang namanya promosi?? Sementara negara-negara Barat saja sejak beberapa bulan terakhir berbondong-bondong mengakui Palestina sebagai negara di tanah tersebut.

Tak urung uztad Yusuf Mansur melalui tweetnya uring-uringan menanggapi hal tersebut. Namun segera pak mentripun bereaksi, mengatakan bahwa beliau tidak bermaksud demikian. Atas reaksi tersebut muncul kemudian teori Water Test yang diperkirakan digunakan rezim yang baru beberapa bulan ini memerintah. Yaitu melontarkan pemikiran kontroversial, bila tidak ada reaksi maka pemikiran akan  ditindak-lanjuti. Sebaliknya bila terjadi reaksi negative maka mereka mengatakan telah terjadi kesalahan komunikasi … Hmm …

Umat Islam negri ini tampaknya benar-benar sedang dicoba. Kerusakan agama sejatinya adalah kerusakan terbesar dalam hidup ini. Mari kita segera bertobat karena sesungguhmya kerusakan terjadi karena kesalahan kita sendiri. Mengapa Indonesia yang mayoritas Muslim bisa memilih pemimpin yang tidak menjunjung tinggi ayat-ayat Al-Quran.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.(QS.Ar-Ruum(30:41).

Ini yang akan menyebabkan ridho Allah swt tak akan datang. Mungkinkah ini cara Sang Khalik untuk memisahkan dan menunjukkan mana orang munafik dan mana Muslim sejati?? Untuk mengetahui mana Muslim yang kaffah, yang benar-benar mau menjadikan ayat-ayat Al-Quranul Karim sebagai pegangan, memperjuangkannya kemudian bersabar dan yakin bahwa pertolongan Allah swt pasti akan datang.

Inilah saatnya umat Muslim harus keluar dari panci panas yang makin lama makin mendidih tanpa kita menyadari sebagaimana teori katak di awal tulisan di atas. Kita harus bersatu, bergandengan tangan sebelum energi kita habis tuntas terpakai untuk menyesuaikan dengan panas yang makin menggila. Mari kita berjuang sesuai kemampuan kita, setiap diri pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi kita bisa saling mengisi kelebihan dan kekurangan tersebut.

Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Ingatlah berbagai pertolongan yang datang pada saat-saat kritis. Kisah Rasulullah bersama Abu Bakar di gua Tsur, kisah Rasulullah dilempari dan diusir dari Thaif, kisah nabi Musa yang dikejar Firaun dan pasukannya, kisah nabi Ibrahim yang dibakar dll.

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ( Abu Bakar) ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya … “. (QS. At-Taubah(9):40).

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Al-Insyiraah(94) :5).

Ya Allah tolonglah kami keluar dari kesulitan ini, aamiin YRA

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Desember 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Lembaran kertas benar-benar telah mengubah dunia. Kertas telah membuat ilmu pengetahuan dan peradaban manusia berkembang begitu cepat, secepat kilat. Cendekiawan Muslim, Ziauddin Sardar, menyatakan, pembuatan kertas pada masa kejayaan kekhalifan Islam merupakan peristiwa paling revolusioner dalam sejarah manusia. ”Pembuatan kertas juga merupakan tonggak penting dalam sejarah peradaban manusia,” ungkap Sardar dalam bukunya berjudul Kembali ke Masa Depan. Umat Islam berperan besar dalam proses pembuatan kertas. Bayangkan, jika kertas tak diproduksi umat Islam. Pastilah, ilmu pengetahuan dan teknologi tak berkembang pesat, seperti saat ini.

Meski penggunaan kertas mulai menyusut di era digital ini, namun kertas telah berjasa mengantarkan manusia memasuki zaman cyber. Jauh sebelum kertas ditemukan, manusia kuno mengungkapkan perasaannya di atas batu dan tulang belulang. Menulis di atas batu telah dilakukan bangsa Sumeria sejak 3.000 tahun SM. Orang-orang Chaldea dari Babylonia Kuno menulis di tanah liat.

Bangsa Romawi menggunakan perunggu untuk mencatat. Pada Abad ke-9 SM, buku-buku besar tersusun dari lembaran-lembaran kayu telah dipakai sebelum masa Homer. Masyarakat Mesir kuno, menggunakan papirus untuk menulis dan menggambar. Papyrus sudah menyerupai kertas, dari kata itu pula orang Barat mengenal paper (kertas).

Papirus merupakan tanaman yang tinggi tangkainya mencapai 10 hingga 15 kaki. Tangkainya berbentuk segi tiga secara bersilangan dan di sekeliling dasarnya tumbuh beberapa daun yang berserabut pendek. Kertas orang Mesir (papyrus) itu telah berkembang dengan pesat pada abad ke-3 SM hingga 5 SM. Penggunaan papyrus mulai terkikis ketika bangsa Mesir mulai beralih ke kulit binatang.

Kali pertama, kertas ditemukan di Cina pada era kekuasaan Kaisar Ho-Ti dari Dinasti Han. Konon, menurut sejarah lama Cina, cikal-bakal pembuatan kertas mulai dikembangkan seorang pejabat pemerintah bernama Ts’ai Lun pada tahun 105 M. Meski begitu, banyak pula yang meragukan Ts’ai Lun sebagai penemu kertas.

”Meski dokumen-dokumen sejarah lama Cina secara hati-hati dan eksplisit menyebut Ts’ai Lun sebagai penemu kertas. Namun, pastinya ide dan produk kertas tak muncul secara serta merta,” papar Sukey Hughes dalam buku Washi The World of Japanese Paper. Terlebih, peradaban Cina sudah mulai mengenal kertas sejak tahun 100 SM. Kertas yang dibuat Tsiau Lun berasal dari kulit pohon murbei.

Selain peradaban Cina, konon bangsa India pun pada tahun 400 M sudah mulai mengenal kertas. Lalu sejak kapan peradaban Islam mulai akrab dengan kertas? Menurut Sardar, pertama kali kertas diperkenalkan ke dunia Islam pada abad ke-8 M di Samarkand, Irak. Teknologi industri kertas mulai berkembang pesat di dunia Islam, setelah terjadinya Pertempuran Talas pada 751 M.

Kaum Muslim berhasil menawan orang Cina yang ulung membuat kertas. ”Para tahanan itu segera diberi fasilitas untuk memperlihatkan keterampilan mereka,” papar Sardar. Sayangnya, proses pembuatan kertas yang diperkenalkan orang-orang Cina itu tak bisa dilajutkan, lantaran tak ada kulit pohon murbei di negeri Islam.

Para sarjana Muslim pun memutar otak. Sebuah terobosan spektakuler akhirnya tercipta. Mereka memperkenalkan penemuan baru dan inovasi yang mengubah keterampilan membuat kertas menjadi sebuah industri. Kulit pohon murbei diganti dengan pohon linen, kapas, dan serat.

Selain itu, para sarjana Islam pun memperkenalkan bambu yang digunakan untuk mengeringkan lembaran kertas basah dan memindahkan kertas ketika masih lembab. Inovasi lainnnya proses permentasi untuk mempercepat pemotongan linen dan serat dengan menambahkan pemutih atau bahan kimiawi lainnya.

Proses pembuatan kertas juga menggunakan palu penempa besar untuk menggiling bahan-bahan yang akan dihaluskan. Awalnya, proses ini melibatkan para pekerja ahli. Namun, seiring ditemukannya kincir air di Jativa, Spanyol pada 1151 M, palu penempa tak lagi digerakkan tenaga manusia. Sejak itu penggilingan bahan-bahan menggunakan tenaga air.

Tak lama kemudian, orang-orang Muslim memperkenalkan proses pemotongan kertas dengan kanji gandum. Proses ini mampu menghasilkan permukaan kertas yang cocok untuk ditulis dengan tinta. Sejak saat itu, industri kertas menyebar dengan cepat ke negeri-negeri Muslim.

Percetakan kertas pertama di Baghdad didirikan pada tahun 793 M, era Khalifah Harun Al-Rasyid dari Daulah Abbasiyah. Setelah itu, pabrik-pabrik kertas segera bermunculan di Damskus, Tiberia, Tripoli, Kairo, Fez, Sicilia Islam, Jativa, Valencia, dan berbagai belahan dunia Islam lainnya.

Wazir Dinasti Abbasiyah, Ja’far Ibnu Yahya, mulai mengganti parkemen dengan kertas di kantor-kantor pemerintahan. Pada abad ke-10, berdiri pabrik kertas yang mengapung di Sungai Tigris. Kertas pun begitu populer di dunia Islam dari India sampai Spanyol.

Saking populernya kertas, seorang petualang Persia pada 1040 mencatat: Di Kairo para pedagang sayuran dan rempah-rempah sudah menggunakan kertas untuk membungkus semua dagangannya. Padahal, pada saat itu Eropa sama sekali belum mengenal kertas. Eropa yang tengah dicengkram kegelapan masih memakai parkemen.

Orang Barat baru mengenal kertas beberapa ratus tahun setelah orang Muslim menggunakannya. Pabrik kertas pertama di Eropa dibangun pada 1276 M di Fabrino, Italia. Seabad kemudian, berdiri pabrik kertas di Nuremberg Jerman. Barat mempelajari tata cara membuat kertas, setelah Kristen menginvasi Spanyol Islam. Setelah kejayaan Islam redup, Barat akhirnya mendominasi industri kertas.

Kertas dan Revolusi Budaya

”Produksi kertas tak hanya memberi rangsangan luar biasa untuk menuntut ilmu, tetapi membuat harga buku semakin murah dan mudah diperoleh. Hasil akhirnya adalah revolusi budaya,” cetus Cendekiawan Muslim, Ziauddin Sardar.

Menurut dia, produksi buku dalam skala yang tak pernah terjadi sebelumnya membuat konsep ilmu bertransformasi menjadi sebuah praktik yang benar-benar distributif.

Bermunculannya industri kertas pada era kejayaan Islam juga telah melahirkan sejumlah profesi baru. Salah satunya adalah warraq. Mereka menjual kertas dan berperan sebagai agen. Selain itu, warraqin juga bekerja sebagai penulis yang menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya. Mereka juga menjual buku dan membuka toko buku.

Menurut Sardar, sebagai agen, warraqin juga sering membuat sendiri kertas untuk mencetak buku. Sebagai penjual buku, warraqin mengatur segalanya, mulai dari mendirikan kios di pinggir jalan hingga toko-toko besar yang nyaman jauh dari debu-debu pasar. Kios-kios buku itu umumnya berdiri di jantung kota-kota besar, seperti Baghdad, Damskus, kairo, Granada, dan Fez.

Seorang sarjana Muslim, Al-Yaqubi dalam catatannya mengungkapkan pada abad ke-9, di pinggiran kota Baghdad terdapat tak kurang dari 100 kios buku. Di toko-toko buku besar, kerap berlangsung diskusi informal membedah buku. Acara itu dihadiri para penulis dan pemikir terkemuka.

Sardar menuturkan, salah satu toko buku terkemuka dalam sejarah Islam adalah milik Al-Nadim (wafat 990 M). Dia adalah seorang kolektor buku pada abad ke-10. Toko buku Al-Nadim di Baghdad dipenuhi ribuan manuskrip dan dikenal sebagai tempat pertemuan para pemikir, penyair terkemuka pada masanya. Katalog buku-buku yang terdapat di tokonya Al-Fihrist Al-Nadim dilengkapi dengan catatan kritis. Katalog itu dikenal sebagai ensiklopedia kebudayaan Islam abad pertengahan.

Industri penerbitan yang dipelopori warraqin dilakukan dengan sistem kerja sama antara penulis dengan penerbit. Seorang penulis yang ingin menerbitkan bukunya bisa menyampaikan keinginannya secara publik atau menghubungi satu atau dua warraqin. Buku tersebut nantinya akan ‘diterbitkan’ di sebuah masjid atau di toko buku terkenal.

Selama masa yang ditentukan, setiap harinya penulis buku itu akan mendiktekan isi bukunya. Setiap orang boleh menghadiri acara itu. Biasanya, para pelajar dan sarjana berkerumun menyimak acara penting itu. Para penulis biasanya menegaskan bahwa hanya warraqin saja yang boleh menulis bukunya.

Ketika buku selesai ditulis, manuskrip tangan akan diperiksa dan diperbaiki penulisnya. Setelah sepakat, buku akan diterbitkan dan dijual kepada pembaca. Sesuai kesepakatan, penulis akan mendapat royalti dari warraqin. Tumbuh suburnya industri penerbitan membuat gairah membaca masyarakat Muslim begitu tinggi.

Untuk menampung buku-buku yang terus terbit, dibangunlah perpustakaan-perpustakaan. Salah satu perpustakaan terkemuka adalah Baitul Hikmah yang dibangun Khalifah Harun Al-Rasyid di kota Baghdad.

Perjalanan Industri Kertas

3000 SM: Orang mesir, Romawi dan Yunani kuno menggunakan papirus sebagai media untuk menulis.
105 M: Seorang pejabat Cina bernama Ts’ai Lun dari Dinasti Han pafa masa kepemimpinan Kaisar Ho Ti memproduksi kertas dari kulit pohon murbei. Teknologinya masih sederhana.
400 M: Peradaban India juga sudah mengenal kertas.
610 M: Pembuatan kertas sudah menyebar ke Jepang melalui Korea dari Cina.
751 M: Dunia Islam mulai mengembangkan industri kertas, setelah memenangkan Perang Talas. Pada era itulah industri pertama kertas di dunia dibangun.
900 M: Kertas menyebar ke Mesir menggantikan papirus.
1000 M: Penggunaan kertas menyebar ke Marroko.
1200 M: Industri kertas menyebar ke Spanyol dan Sicilia.
1221 M: Pasukan Kristen menguasai Spanyol Islam dan mulai belajar membuat kertas.
1300 M: Orang-orang Italia memperbaiki teknik membuat kertas yang dikembangkan Arab.
1400 M: Arab mengekspor kertas ke Eropa.
1450-55: Johann Gutenberg mencetak bible.
1491 M: Orang Polandia mulai membuat kertas.
1567 M: Rusia memproduksi kertas.
1690 M: William Rittenhouse memproduksi kertas di Philadelphia, AS.
1854 M: Formula bubur kertas (pulp) dipatenkan.
1860 M: Bubur kertas kain diganti dengan bubur kertas kayu.

(heri ruslan; republika Senin, 10 Maret 2008 )

Dicopy dari :

http://hizbut-tahrir.or.id/2008/04/24/kejayaan-khilafah-jejak-industri-kertas-di-dunia-islam/

Read Full Post »