Feeds:
Posts
Comments

Archive for February 17th, 2015

Berbicara mengenai masuknya Islam di Papua, uztad Fadzlan bercerita,

“Nuu Waar adalah nama pertama untuk Papua, sebelum berubah menjadi Irian Jaya, kemudian Papua saat ini. Nuu Waar, dalam bahasa orang Papua, berarti cahaya yang menyimpan rahasia alam. Sedangkan Papua dalam bahasa setempat berarti keriting. Karena itu, komunitas Muslim lebih senang menyebutnya dengan Nuu Waar dibandingkan Irian atau Papua,” ujarnya kepada Republika, Februari lalu.

Menurut uztad ini,  Islam sebenarnya masuk lebih dulu ke Nuu Waar dibanding  Kristen, terutama di Fak-Fak.  Namun, karena misionaris lebih gencar menyebarkan ajarannya, ditambah lagi peran media yang condong membela ke Kristen, maka akhirnya Kristenlah kini yang terlihat dominan.  Wikipedia menuliskan bahwa Muslim di Papua adalah minoritas yaitu hanya 22.5 %. Itupun 15.5 % diantaranya bukan warga asli, alias pendatang (2010) (??).

 “Padahal, saat ini jumlah umat Islam di Nuu Waar kemungkinan lebih banyak daripada pemeluk Kristen. Itu sebabnya  pemerintah daerah tidak berani membuat angket untuk mengetahui jumlah yang sebenarnya”, tegas uztad Fadzlan.

Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang syiar Islam di Nusantara. Berdasarkan buki-bukti yang ada, ditarik kesimpulan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia  sejak abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Daerah pertama yang didatangi oleh Islam adalah pesisir utara Sumatera, berlanjut dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu Kerajaaan Perlak, tahun 840, di Aceh.  Dari sinilah selanjutnya Islam menyebar ke pelosok Nusantara. Ada beberapa pendapat/teori mengenai penyebaran Islam ke Papua. Diantaranya adalah teori Bacan.

Teori Bacan menyimpulkan bahwa Islam telah masuk ke Papua pada era kerajaan Bacan berkuasa melalui  wali Ja’far As-Shadiq (1250 M), melalui keturunannya syiar Islam menyebar ke Sulawesi, Filipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa dan Papua.  Pendapat ini didukung oleh sumber-sumber Barat, meski waktunya tidak sama.  Menurut mereka pada abad ke XVI sejumlah daerah di Papua bagian barat, terutama yang di wilayah pesisir, yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati, telah tunduk kepada kekuasaan Sultan Islam Bacan di Maluku.  Sementara yang dipedalaman masih tetap menganut faham animisme.

Sementara bukti lain mencatat bahwa pada tahun 1214 M, rombongan ekspedisi kerajaan Samudra Pasai  dibawah Syekh Iskandarsyah telah datang ke Papua. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu.

Dalam “The Preaching of Islam” karya Thomas W. Arnold, dinyatakan bahwa Islam memasuki Papua,  secara langsung maupun tidak langsung, karena pengaruh kerajaan Islam Demak. Kerajaan ini berkuasa setelah mengalahkan kerajaan Majapahit  Hindu Budha  pada tahun 1527.

Kajian oleh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan telah terjadi saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda (yakni antara Hindu-Budha dan  Islam) pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur. Data-data tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah terjadi terjadi jauh sebelum keruntuhan total kerajaan Majapahit di tahun 1527M. Dengan kata lain, ketika kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat melalui jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit di delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan seluruh kepulauan Papua.

Berikut beberapa bukti peninggalan sejarah Islam yang ada di pulau Papua  :

  1. Tradisi lisan masih tetap terjaga sampai hari ini yang berupa cerita dari mulut ke mulut tentang kehadiran Islam di Bumi Cendrawasih.
  2. Naskah-naskah dari masa Raja Ampat dan teks kuno lainnya yang berada di beberapa masjid kuno.
  3. Di Fakfak, Papua Barat dapat ditemukan 8 atau 9 manuskrip kuno berhuruf Arab. Lima manuskrip berbentuk kitab dengan ukuran yang berbeda-beda, yang terbesar berukuran kurang lebih 50 x 40 cm, yang berupa mushaf Al Quran yang ditulis dengan tulisan tangan di atas kulit kayu dan dirangkai menjadi kitab. Sedangkan keempat kitab lainnya, yang salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadits, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Kelima kitab tersebut diyakini masuk pada tahun 1214 dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari kerajaan Samudra Pasai yang datang menyertai ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu. Sedangkan ketiga kitab lainnya ditulis di atas daun koba-koba, Pohon khas Papua yang mulai langka saat ini. Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang terbuat dari bambu. Sekilas bentuknya mirip dengan manuskrip yang ditulis di atas daun lontar yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia Timur.
  4. Masjid Patimburak yang didirikan di tepi teluk Kokas, distrik Kokas, Fakfak yang dibangun oleh Raja Wertuer I yang memiliki nama kecil Semempe.

Sementara kedatangan misionaris Kristen tercatat pada pernyataan berikut,  Dalam Nama Allah kami menginjak kaki di Tanah ini“. Inilah Kalimat awal yang diucapkan dua misionaris Papua yakni Johan Gottlob Geissler dan C.W. Ottow, Pada tanggal 5 Februari 1855 dengan kapal Ternate membuang sauhnya di depan pulau Manansbari (Mansinam) Manokwari -Papua barat).

Kedua misionaris itu bisa masuk ke pulau Manansbari  berkat kebaikan raja Islam Tidore yang memberikan kedua orang tersebut surat rekomendasi.  Akhirnya Manokwaripun, sebagai salah satu kota besar di Papua berhasil di-Kristenkan, hingga hari ini. Namun harus diingat awal semua ini tak lepas dari pertarungan politik serta  peran negara-negara Barat penjajah seperti Belanda dan Spanyol yang ingin menguasai rempah-rempah dan hasil bumi Nusantara  yang begitu berlimpah.

Yang juga patut menjadi catatan, ketika para misionaris datang menyerbu Papua,  sejumlah kerajaan kecil Islam di Papua masih bertebaran, kerajaan Patipi adalah salah satunya. Sebaliknya ada juga sebagian  Papua yang rakyatnya masih animism, meski jumlahnya tidaklah banyak. Mereka ini adalah yang tinggal di pedalaman-pedalaman yang sulit dijangkau, sehingga ajaran Islam belum masuk. Ironisnya, inilah yang di kemudian hari dibesar-besarkan dan sering dijadikan model dan contoh keterbelakangan Papua, bahkan sengaja dipertahankan atas alasan warisan budaya.  Selain juga dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk mengaburkan peradaban Islam yang sejak berabad-abad lamanya telah menerangi Nuu Waar, nama yang lebih disukai rakyat daripada Papua yang terkesan membodohi .

Padahal selama abad 14 dan 15 kesultanan Ternate yang juga pernah menguasai sebagian Papua, sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia timur, bersama  Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah Nusantara kala itu, tengah mengalami masa keemasannya. Bahkan di masa pemerintahan Sultan Bayanullah (1500-1521), syariat Islam pernah diterapkan di kerajaan tersebut. Teknik pembuatan perahu dan senjata yang diperoleh dari orang Arab dan Turki digunakan untuk memperkuat pasukan Ternate dari serangan musuh. Tapi entah sengaja atau tidak, peran ke 3 kerajaan tersebut telah dikesampingkan dalam sejarah bangsa ini padahal mereka adalah pilar pertama yang membendung kolonialisme Barat.

Anehnya lagi, hari ini ketika uztadz Fadzlan dengan AKFN nya berkiprah dan berjuang mati-matian mengangkat harkat dan martabat masyarakat Papua yang terpinggirkan, para pendeta dan pemeluk Kristen Papua justru merasa kebakaran jenggot.

Orang Kristen tidak boleh cemburu. Yang seharusnya cemburu adalah umat Islam, karena selama ini umat Islam di Papua kurang sekali mendapat fasilitas. Justru yang sering mendapat fasilitas adalah mereka (Kristen), baik dari negara maupun hasil kekayaan alam negeri yang mereka ambil. Otsus itu mereka yang makan semua, sementara umat Islam tidak mendapat. Bukankah selama ini seluruh orang Kristen, misionaris dan gereja, menggunakan pesawat modern, tapi umat Islam tidak pernah mengganggu. Kok dengan kapal kecil saja mereka cemburu. Tidak ada yang melarang. Yang jelas, saat ini belum ada gangguan terhadap dakwah AFKN.  Irian itu negeri Muslim kok,” demikian tanggapannya, santai.

Mari kita dukung kegiatan positif uztad Fadzlan dan timnya demi mengembalikan rakyat Nuu Waar ke arah masyarakat yang maju dibawah lindungan Sang Khalik, Allah swt,  Sang Penguasa alam semesta yang sebenarnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Februari 2015.

Vien AM.

Bagi yang berminat berpartisipasi membantu kemajuan Nuu Waar, kirim zakat infak sodaqoh anda ke

BCA cabang Fak-Fak norek 0911 3180 31 an Mz Fadzlan Garamatan. Saat ini uztad Fadzlan sedang bersiap-siap membangun sebuah masjid besar di Patipi, Fak-Fak.

Read Full Post »