Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2015

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah adanya malam Lailatul Qadar yang berarti malam kemuliaan, sebagaimana digambarkan surat ke 97 yaitu surat Al-Qadar.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Jumhur ulama sepakat bahwa yang dimaksud Al Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan ( Lailatul Qadar) adalah Al-Quran yang diturunkan ke langit dunia ( Daarul Izzah). Seperti kita ketahui Al-Quran itu turun ke langit dunia sekaligus. Setelah itu baru diturunkan ke dunia dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Mekah dan Madinah sampai wafatnya  beliau.

Imam An-Nasa’I (no. 7991) meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata : “……dan Al-qur’an diletakkan di Baitil Izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad saw.”

Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” ( Terjemah QS. Al Isra (17):106).

http://zarkasih20.blogspot.com/2011/08/nuzulul-quran-lailatul-qodar-atau-17.html

Asbabun Ayat surat Al-Qadar:

Ibnu Abi Hatim dan al Wahidi dari Mujahid meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah saw. pernah menyebut tentang seorang laki-laki dari bani Israel yang berjuang fisabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan secara berterusan. Kaum Muslimin berasa kagum dengan perjuangan orang tersebut, sekaligus merasa iri atas ketangguhan dan keberuntungan lelaki bernama Syam`un Al-Ghazy tersebut. Mereka merasa tak akan pernah bisa memiliki kesempatan untuk beribadah dalam kurun waktu selama itu mengingat usia kaum Muslimin yang tidak sepanjang umur umat nabi-nabi lain.

Untuk itu maka Allah menurunkan surah Al- Qadr, yang menerangkan bahwa satu malam Lailatul Qadar itu lebih lebih baik daripada perjuangan lelaki dari bani Israel selama 1000 bulan tersebut.

http://asbabunnuzulharjin.blogspot.com/2013/07/surah-al-qadr.html

Dari Aisyah ra bahwasanya ” Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadan dan beliau bersabda: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” ” (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)

I’tikaf adalah diam/menetap di masjid dalam rangka mengingat kebesaran Allah swt, bertafakur, berzikir, bersyukur atas segala yang telah diberikan kepada kita. Caranya dengan memperbanyak shalat sunnah, membaca Al-Quran serta mengkajinya.

Sebenarnya di zaman sebelum kenabian, Rasulullahpun sudah terbiasa melakukan kegiatan semacam itu. Yaitu ber-khalwah / tahanuts di gua Hira. Ketika itu Rasulullah merasa sangat prihatin atas keadaan masyarakat Mekkah yang bejat dimana perzinahan, mabuk-mabukan dan yang semacamnya sudah menjadi kelaziman. Rasulullah berkhalwah selama 3 tahun di bulan Ramadhan hingga datangnya masa kenabian. Dan sejak turunnya surat Al-Qadar diatas Rasulullah mengganti kegiatan tersebut dengan I’tikaf di masjid selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Perumpamaan I’tikaf sebagaimana dicontohkan Rasulullah adalah seperti grasi yang diberikan kepala Negara kepada seorang tahanan. Nah bila seorang kepala Negara saja bisa dan mempunyai hak untuk mengampuni seseorang apalagi Allah swt Yang Maha Pengampun.

“ Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Malam pengampunan itu terjadi pada malam Lailatul Qadar yaitu pada salah satu malam ganjil 10 hari terakhir Ramadhan. Allah swt sengaja merahasiakan malam tersebut agar umat Islam yang menginginkan pengampunan tersebut benar-benar berusaha mencarinya secara serius. Tentu bukan hal yang memberatkan bila dibandingkan ganjarannya yaitu seolah berjihad sepanjang 1000 bulan atau kurang lebih 83 tahun!

“Barangsiapa menegakkan shalat pada malam Lailatul Qadr atas dorongan iman dan mengharap balasan (dari Allah), diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu”. (H.R Al Bukhari no.1768, An Nasa’i no. 2164, Ahmad no. 8222)

Rasulullah mengajarkan untuk membaca doa berikut:

”Allahumma innaka afuwwun karim tuhibbul afwa fa’fu anni”, yang artinya: “Ya Allah Engkau Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah, Engkau senang mengampuni hamba-hambaMu karena itu ampunilah dosa-dosaku”.

Ada riwayat mengatakan “afuwwun” lebih tinggi dari pada “ ghofur” karena afuwwun bermakna tidak hanya mengampuni dosa tapi juga menghapus catatan dosa tersebut. Sedangkan ghofur mengampuni tapi catatan dosa tersebut masih tetap ada.

Malam itu  para malaikat memenuhi bumi untuk melihat dan mencatat siapa saja hamba Allah yang malam itu hadir menghidupkan malamnya demi meraih “grasi”keberkahan istimewa dari Tuhannya, Allah Azza wa Jalla. Tentunya hanya hamba yang takwa, yang selama awal Ramadhan telah sungguh-sungguh mempersiapkan peristiwa istimewa ini, atau bahkan mungkin selama setahun terakhir, yang beruntung didatangi para  malaikat di malam penuh berkah tersebut. Dan untuk mengetahui bahwa seseorang telah sukses meraih malam tersebut pasti akan terlihat dari sikapnya yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 15 Juli 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

«Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat ». ( Terjemah QS. Al-Fatihah (1) :6-7).

Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud pada ayat akhir surat Al-Fatihah yaitu ayat 7 tentang « mereka yang dimurkai » adalah umat Yahudi, sedangkan » mereka yang sesat »adalah umat Nasrani.

Umat Yahudi dikatakan dimurkai karena mereka telah mencampur-adukan ayat-ayat suci Taurat ( Perjanjian Lama) dan Injil ( Perjanjian Baru), membunuhi para nabi dan utusan serta selalu melawan perintah Allah.

Sedangkan umat Nasrani dikatakan tersesat karena mengikuti jalan orang-orang Yahudi tanpa menyadari bahwa mereka telah disesatkan. Yang bahkan dengan begitu bersemangat berdakwah mengajak umat Islam agar mau ikut memeluk agama yang mereka anut, tidak peduli sabda Yesus bahwa ajarannya khusus untuk bangsa Israel.

Matius 15 :24. Yesus menjawab, “Aku diutus hanya kepada bangsa Israel, khususnya kepada mereka yang sesat.”

Yang ironisnya juga menggunakan cara-cara yang tidak elok bahkan cenderung licik dalam berdakwah, « cerdik seperti ular tulus seperti merpati ». Maka tak heran bila belakangan ini dapat kita jumpai misionaris yang berpenampilan layaknya seorang Muslim, yaitu berjilbab, berbaju koko, berkopiah dan bahkan berdakwah menggunakan istilah dan nama-nama berbahasa Arab. Seperti nama penerbit yayasan Jalan Al-Rahmat, yayasan Nurkalimatullah, sekolah teologi Kalimatullah dll.

Tak jarang pula mereka mengadakan berbagai dakwah dengan kedok acara sosial, seperti pertunjukkan musik, berbagai macam lomba, bazar, pengobatan dll. Padahal di acara tersebut mereka membagi-bagikan Al-Kitab, mengajak anak-anak Muslim menyanyikan lagu-lagu Kristen bahkan ada yang nekad membaptis kaum Muslimin yang awam ajaran Kristen !

Matius 10 :16. Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

1 Corintus 9 :20. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.

Saking semangatnya mereka juga telah mempersiapkan dakwah mereka dengan sangat  cermat dan rapi. Diantaranya adalah Gerakan Penuaian Jiwa dan Transformasi  tahun 2005-2020, W10/40 ( Window/Jendela 10/40) dan W4/14 ( Window/Jendela 4/14)  yang merupakan contoh dakwah jangka panjang mereka. Di masa lalu, ingatlah bagaimana pada zaman penjajahan Belanda dan Inggris yang telah berhasil mengkristenkan Ambon, Teratai dan Morotai yang tadinya Muslim.

W10/40 adalah sebuah kawasan yang terbentang dari 10 sampai 40 derajat Lintang Utara garis Khatulistiwa dan merentang dari Afrika Barat sampai ke Asia Timur. Daerah inilah yang saat ini sedang diincar misionaris untuk dikafirkan padahal mayoritas penduduknya adalah Muslim.

( Lihat   http://misi.sabda.org/tantangan-dari-jendela-1040 ).

Sedangkan W4/14 adalah rentang anak usia 4 hingga 14 tahun yang disasar misionaris untuk   digarap menjadi ujung tombak Kristenisasi. Kita pasti sadar bahwa anak seusia itu sangatlah rentan, dan mudah diiming-imingi “kesenangan sesaat”, melalui hiburan seperti game online, mainan boneka, permen dan aneka permainan lain. Apalagi dengan kondisi saat ini dimana kedua orang-tua sibuk bekerja mencari nafkah dan mengejar karir.

( Lihat http://www.renunganharian.net/23-sisipan/juli-2012/349-jendela-4-14.html ).

Sungguh sebuah tantangan yang amat besar bagi umat Islam untuk mempertahankan keimanan dan keislaman kita dan anak keturunan kita. Padahal kitalah, umat Islam yang telah dibekali ajaran yang pasti benar, yang seharusnya mengajak mereka agar kembali ke jalan yang benar.

Hendaklah ada di antara kalian suatu golongan yang membeda, bekerja untuk dakwah, amar ma’ruf dan nahi munkar.” (Ali Imron 3 : 104)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. … … ”. (Terjemah An Nahl (16) : 125).

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (Terjemah QS. Al-Ankabuut(29):46).

Namun demikian tetap saja sebenarnya sumber permasalahan berada pada orang-orang Yahudi. Karena merekalah yang seharusnya paling bertanggung-jawab atas prilaku para misionaris yang bertindak atas nama kitab suci mereka. Protokol Zionisme yang dibuat di Basel, Swiss pada 1895 adalah bukti terbaru yang dapat dijadikan pegangan. Tujuannya adalah untuk menguasai dunia. Ironisnya, agen-agen Zionisme tersebut sudah memenuhi bumi kita tercinta yang katanya mayoritas Muslim ini. Na’udzubillah min dzalik …

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/05/07/nny9y6-ali-mustafa-yaqub-banyak-agen-zionis-di-indonesia )

Sayangnya lagi umat Nasrani hanya mengekor saja, tidak mau membaca dan memperhatikan isi kitab sucinya yang telah dicampur-aduk sedemikian rupa. Padahal kalau mau diperhatikan masih bisa dicari mana ayat yang benar mana ayat yang tidak benar, karena adanya kontradiksi di sana sini. Meski akhirnya, setelah berabad-abad lamanya tertutup rapat, kebusukan tersebut baru terbongkar. Ini antara lain berkat ilmu Hermeneutika, sebuah ilmu untuk menafsirkan text, yang sangat mengedepankan akal dan pikiran.

Namun begitu bukan Yahudi namanya kalau mereka hanya berdiam diri saja. Belakangan ini ilmu Hermeneutika mulai dicoba untuk mengutak-ngutik kitab suci umat Islam. Dengan ilmu tersebut mereka ingin mengkritisi Al-Quranul Karim. Padahal jelas sejarah Al-Quran tidak sama dengan Al-Kitab.

Penulisan Al-Quran yang merupakan kumpulan firman Allah telah dilakukan tak lama setelah wafatnya Rasulullah Muhammad saw. Hal itu dilakukan dengan dasar tulisan dan catatan para sahabat yang tersebar di batu, dedaunan dan aneka bahan dasar tulisan lainnya. Dan yang terutama atas dasar hafalan para sahabat dan umat Islam yang telah menjadikan ayat-ayat Al-Quran sebagai bacaan shalat, minimal 5 x sehari, sejak Rasulullah masih hidup di antara mereka. Inilah satu penyebab mengapa umat Islam disunahkan menghafal surat-surat  Al-Quran dalam bahasa aslinya yaitu Arab.

Disamping itu agar kemurnian Al-Quran tetap terjaga perkataan Rasulullah saw juga dipisahkan, dan dilarang penulisannya hingga waktu tertentu, yaitu setelah ayat-ayat Al-Quran tidak lagi turun, yang otomatis terhenti seiring dengan wafatnya sang rasul. Jadi sungguh mustahil ayat-ayat Al-Quran dapat dipalsukan.

Tetapi upaya musuh-musuh Islam itu ternyata tidaklah sia-sia. Ini terbukti dengan lahirnya JIL ( Jaringan Islam Liberal) dengan SIPILISnya. SIPILIS adalah singkatan Sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan sosial, Pluralis yang menganggap semua agama sama benarnya serta Liberalis yang membolehkan menafsirkan text-text kitab suci agama sebebas-bebasnya.

Gerakan ini dipelopori antara lain oleh almarhum Gus Dur, Cak Nur dan Dawam Raharjo, yang dibiayai pendidikannya di Barat oleh Barat. Sekarang ini JIL diketuai Ulil Absor Abdalla yang sering membuat pernyatan nyleneh. Ada juga prof Dr Siti Musdah Mulia, seorang guru besar UIN yang menyatakan bahwa Al-Quran tidak pernah melarang Homoseksual. Padahal tak satupun agama di dunia ini yang membolehkan prilaku yang binatang sajapun enggan melakukannya, kecuali babi. Bukankah prilaku ini jelas-jelas menentang hak manusia untuk dilahirkan dan melahirkan ??

Ini masih ditambah lagi dengan gencarnya isu HAM, demokrasi dan toleransi yang sudah kebablasan, hingga aliran-aliran sesat seperti Ahmadiyah, Syiah dll makin saja bebas berkembang. Bahkan belakangan ini wacana lahirnya Islam Nusantara mulai dikembangkan, terbukti dengan mulai dipopulerkannya pembacaan Al-Quran dengan langgam daerah. Ini jelas akan membuat wajah Islam terpecah, sesuai keinginan Yahudi. Belum lagi dengan isu terorisme yang sering disandingkan dengan nama Islam. Dan ini semua memang disengaja agar supaya umat Islam yang kurang kuat keimanannya menjadi tidak PD terhadap agamanya sendiri. Hingga ketika dilecehkan dan diperangi tidak membelanya.

Padahal kita seyogyanya menyadari bahwa ada 3 kekuatan besar dunia yang mengancam eksistensi Islam, yaitu Zionisme, Kristenisasi dan Imperialisme Barat. Yang ujung-ujungnya semua adalah sama yaitu Yahudi dengan Dajjalnya. Dengan tujuan utama yaitu menjauhkan umat manusia dari Tuhannya, Allah Azza wa Jalla.

Kita tentu tahu betapa banyaknya hadist Rasulullah yang memperingatkan bahayanya Dajjal si mata satu yang merupakan musuh terbesar Islam di akhir zaman nanti. Dan tanah Palestina yang sejak puluhan tahun terakhir ini dijajah Israel adalah yang kelak akan menjadi ajang pertempuran antara pasukan pembela kebenaran melawan pasukan syaitan dibawah Dajjal.

Tampaknya inilah saat yang tepat untuk benar-benar bersatu agar kita dapat menghadapi musuh terberat kita. Tidak perlu lagi kita berdebat dan mempertentangkan hal-hal yang bukan hal pokok. Musuh sudah di depan mata haruskah kita masih juga berselisih hal-hal cabang seperti doa qunut, ziarah kubur, tahlilan, yasinan, bidah hasanah bidah dhalalah dan lain sebagainya. Apalagi merasa diri atau golongan paling benar. Karena sudah jelas yang paling benar adalah umat Islam yang menjadikan Al-Quran dan Hadist sebagai dalil dan pegangan hidup mereka.

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang semuanya berada di Neraka, kecuali satu golongan, yakni “al-Jama’ah.” “Siapakah golongan yang selamat itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para shahabatku.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juli 2015.

Vien AM.

Disimpulkan dari kajian Drs Abu Deedat Syihab, MH,  ketua BDI – FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan).

Read Full Post »

«Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? » (Terjemah QS.Ali Imran (3) :71).

Pada bahasan Urgensi Kristologi (1) telah diterangkan adanya  Red Letter Bible ( huruf bertinta merah pada Al-Kitab). Al-Kitab model ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1901 oleh  Louis Klopsch, editor asal Jerman sebuah majalah Amerika Christian Herald. Kebanyakan pemeluk Kristen Protestan menggunakan Al-Kitab model ini.

 ( https://www.crossway.org/blog/2006/03/red-letter-origin/ )

Huruf bertinta merah yang jumlahnya tidak lebih dari 10 % isi Al-Kitab ini menunjukkan bahwa itulah tulisan Yesus. Sementara sisanya yang 90 % bukan ditulis oleh Yesus, melainkan yang terbanyak oleh Paulus. Ini membuktikan kebenaran ayat diatas bahwa telah terjadi kerancuan di dalam Al-Kitab. Telah bercampur antara yang benar/haq dan salah/bathil.

Kebenaran, yang haq, terlihat dengan ditemukannya ayat-ayat tentang ke-Esa-an Tuhan padahal umat Nasrani berpegang teguh pada dogma Trinitas ( Tiga dalam satu). Yaitu di   Ulangan 4 :35 ( tauhid nabi Musa as), 2 Samuel 7 :22 ( tauhid nabi Daud as), 1 Raja-raja 8 :23 ( tauhid nabi Sulaiman as). Juga ayat bahwa Yesus bukan Tuhan melainkan utusan-Nya. (Markus 9:37,  Yohanes 5:24,30 dan Yohanes 7:28, 33). Ayat-ayat tersebut sesuai dengan apa yang diterangkan Al-Quranul Karim sebagai kitab suci terakhir yang diturunkan Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Juga ayat tentang akan datangnya seorang nabi, yang akan menyampaikan apa yang dikatakan Tuhannya. Ini telah terjadi 14 abad silam, atau 7 abad setelah turunnya Yesus. Dan hal ini dapat dibuktikan dengan datangnya sang nabi yang selalu memulai setiap ucapannya dengan kata “Bismillahirahmanirahim” yang artinya “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang”. Itulah nabi Muhammad saw, saudara mereka dari keturunan saudara nabi Ishak as yaitu nabi Ismail as, putra nabi Ibrahim as!

Ulangan 18:18 Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

Sementara yang bathil, antara lain terlihat dalam ayat-ayat pelecehan para nabi yang notabene adalah utusan Tuhan. Ini dapat ditemukan di Kejadian 9:18-27 (tentang nabi Nuh mabuk dan tampil bugil tanpa disadari), Kejadian 19:30-38 ( tentang dua putri nabi Luth yang menzinahi ayahnya ketika ayahnya sedang tidur), 2 Samuel 11:2-27 ( tentang nabi Daud yang menghamili istri anak buahnya). Sedangkan ayat-ayat vulgar dan tidak senonoh antara lain dapat ditemukan di Yehezkiel 23:1-21, Ulangan 23:1-2, Kidung Agung 4:1-7, 7:6-13.

Pertanyaannya adalah, siapakah Paulus? Murid Yesuskah ia? Mengapa ia dapat menuliskan ayat dalam Al-Kitab sebegitu banyaknya, hingga jauh melebihi tulisan Yesus sendiri? Yang pasti Paulus bukanlah murid Yesus. Matius 10:2-4 menyebutkan nama-nama ke murid Yesus yang 12 itu, tapi tak satupun menyebut nama Paulus!

Beberapa sumber termasuk Wikipedia, menyebutkan nama asli Paulus adalah Saul. Ia lahir di Tarsus (Turki) namun dibesarkan di Yerusalem. Ia berumur 8 tahun lebih muda daripada Yesus. Ayah Paulus berasal dari suku Benyamin, satu dari 12 suku Bani Israel.

Budaya yang berkembang di Yerusalem  ketika itu adalah budaya Yunani. Budaya ini amat digandrungi pendudukmya, tak terkecuali Paulus. Ia sangat menyukai filsafat Yunani lengkap dengan mitos dewa-dewinya, seperti Zeus sebagai Tuhan tertinggi/bapak dewa, Hera sebagai saudara sekaligus istri Zeus karena diperkosa Zeus. Lalu Ares sebagai Tuhan perang, Aprodite sebagai Tuhan kecantikan dll.

Yang paling menarik, Zeus yang digambarkan suka selingkuh itu mempunyai anak hasil selingkuhan dengan perempuan bumi. Itulah Herkules ( Heracles) sang pahlawan penyelamat masyarakat Yunani. Paulus sangat terobsesi pada kehebatan tokoh super ini.

Namun sebagai seorang Yahudi tulen, Paulus juga berguru pada Gamalil, seorang ulama Yahudi yang amat terkenal di Yerusalem. Tak heran bila kemudian pada dirinya terkumpul dua pengaruh, yaitu hukum Taurat dan filsafat Yunani. Persinggungan pengaruh filsafat Yunani terhadap agama Yahudi di masa itu adalah hal yang umum.

Sementara itu penguasa Yerusalem di zaman itu adalah orang-orang Yahudi zalim yang tidak mengindahkan agamanya. Mereka sangat membenci ajaran Yesus. Dan berkat jasa Yudas, salah satu murid Yesus yang berkhianat, penguasa berhasil menjebak Yesus. Hukum Salib pada waktu itu adalah hal biasa.

Matius 27:21-22. Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka: “Barabas.” Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!”

Pada awalnya Paulus ketika masih bernama Saul sangat memusuhi pengikut-pengikut Yesus dan sering bertindak sangat kejam terhadap mereka.  Tetapi paska penyaliban Yesus, Saul yang cerdik, licik dan ambisius, berhasil mendekati murid-murid Yesus. Dari merekalah ia mempelajari ajaran Yesus, namun dengan mencampur-adukkannya dengan ajaran Yahudi dan filasafat Yunani.

Ialah orang pertama yang berpendapat bahwa ajaran Yesus tidak dikhususkan bagi bani Israel. Akibatnya ia harus berhadapan dengan murid-murid Yesus yang meyakini bahwa ajaran Yesus hanya untuk bani Israel.

Matius 10:5-6. Kedua belas rasul itu kemudian diutus oleh Yesus dengan mendapat petunjuk-petunjuk ini, “Janganlah pergi ke daerah orang-orang yang bukan Yahudi. Jangan juga ke kota-kota orang Samaria.         Tetapi pergilah kepada orang-orang Israel, khususnya kepada mereka yang sesat”.

Untuk menghindari perselisihan maka diadakanlah persidangan di Yerusalem yang dipimpin oleh Petrus dan Yakobus, adik Yesus, yang disebut sebagai Sidang Sinode atau Konsili Gereja yang pertama (Konsili Yerusalem). Dari konsili inilah akhirnya keinginan Paulus tercapai.

Selain itu Paulus juga mendapat gelar kehormatan sebagai santo ( orang suci) dan mendapat mandat untuk memberitakan Injil ke daerah-daerah berbahasa Yunani. Dari situ pulalah akhirnya  lahir dogma Tuhan anak dan Tuhan penyelamat sebagaimana Herkules menyelamatkan hidup banyak orang Yunani. Sempurnalah sudah obsesi dan mimpi Paulus. Meski dengan versi yang agak berbeda, karena Yesus menjadi penyelamat seluruh manusia melalui penyalibannya. Sedangkan Herkules melalui kekuatan ototnya.

Tetapi ternyata dogma Paulus tersebut tidak memuaskan semua pihak. Pada masa kekuasaan kaisar Bizantium, Konstantin I, terjadi perselisihan pemikiran tentang  kedudukan dan substansi antara Tuhan dan anak Tuhan. Apakah keduanya sama ataukah tidak.

Untuk mengatasi hal tersebut maka diselenggarakanlah KonsiIi Nicea ( Nicea adalah nama kota di Turki, sekarang bernama Iznik). Konsili ini terjadi pada tahun 325 M. Hasilnya, sang kaisar memutuskan bahwa Tuhan dan anak Tuhan adalah satu, alias sama! Maka siapa yang tidak setuju dan menentang harus dijatuhi hukuman berat.

( https://id.wikipedia.org/wiki/Konsili_Nicea_I )

Dan ia adalah uskup Arius yang di kemudian hari pengikutnya popular dengan nama Arianus. Arius bersiteguh bahwa anak Tuhan yaitu Yesus dengan Allah, Tuhan bapak tidaklah sama. Menurut pendapatnya Yesus meski ia sempurna tapi tetap mahluk ciptaan, yang mempunyai awal dan akhir. Itu sebabnya ia bisa mati.

Yohanes 17:3. Inilah hidup sejati dan kekal; supaya orang mengenal Bapa, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang diutus oleh Bapa.

Selanjutnya yaitu pada tahun 381 M, Trinitas resmi digunakan sebagai doktrin tunggal semua gereja seluruh dunia. Pada tahun itu Roh Kudus dinyatakan satu dari tiga. Maka lengkaplah sudah doktrin Allah, Yesus dan Roh Kudus sebagai Tuhannya umat Kristiani.

Jadi sungguh pantas begitu besarnya kemurkaan Allah swt mengetahui orang-orang yang sudah dimuliakan dengan kitab Injil tetapi tidak mengikuti apa yang ada di dalamnya. Karena itu tadi, pengikutnya tidak menyadari bahwa kitab mereka sudah tidak lagi seperti ketika ditinggalkan Rasulnya, yaitu Isa as / Yesus. Alangkah ironisnya.

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (Terjemah QS.Al-Maidah(5):47)..

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”. (Terjemah QS. Al-Bayyinah (98):6).

Berikut beberapa pokok ajaran Yesus yang telah diselewengkan Paulus :

1. Yesus adalah anak Tuhan bahkan Tuhan itu sendiri. Padahal Yesus tidak pernah meminta disembah/dituhankan.

2. Yesus tidak membatalkan hukum Taurat, justru meneruskan hukum Taurat.

3. Yesus mengajarkan laki-laki harus dikhitan, tidak ada dosa waris, khamar dan babi haram, orang meninggal dunia dibungkus kain kafan.

4. Yesus mengajarkan berpuasa, berwudlu, mengajarkan sujud serta berdoa ketika sedang sujud.

5. Yesus tidak membatalkan hukum rajam.

6. Yesus menerapkah hukum Qisash.

Sepintas ajaran Yesus diatas mirip dengan ajaran Islam, karena memang pada dasarnya semua agama yang diturunkan Allah swt kepada para nabi melalui malaikat Jibril as adalah sama. Yaitu penyembahan yang murni, ikhlas kepada Tuhan Yang Satu, Allah Azza wa Jalla. Yang berbeda adalah syariatnya.

Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):69).

Meski demikian para ulama sepakat bahwa ayat diatas berlaku pada zamannya.

Untuk mengetahui perbedaan ajaran Yesus dan Paulus silahkan klik situs berikut :

http://lampuislam.blogspot.com/2013/08/paulus-sang-perusak-ajaran-asli-yesus.html

Wallahu’alam bish shawwab.

( Bersambung).

Read Full Post »