Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2017

Amal ibadah dan ilmu

Beberapa hari yang lalu saya “ terjebak” film Hollywood yang diputar channel HBO berjudul “Tomorrow Land”, sebuah film yang judulnya mengambil salah satu wahana hiburan terkenal Disneyland bertema futuristik.  Mengapa saya katakan ”terjebak”? Karena jujur sebenarnya saya bukan orang yang hobby nonton film baik di tv apalagi di bioskop. Tapi kalau kebetulan kepergok film di tv menarik, sering kali saya keterusan menontonnya, meski tidak dari awal dan belum tentu ditonton sampai selesai … 🙂

Lalu apa menariknya film sains-fiksi yang bercerita tentang sulit dan banyaknya bencana di bumi hingga menyebabkan seorang saintis berambisi menciptakan alternative tempat tinggal yang jauh lebih aman di luar angkasa sana.  Hhhmm … sampai disini mungkin sudah dapat ditebak ke arah mana pikiran saya …

Betul sekali .. bukankah kita hidup di dunia ini hanya sementara, sedang akhirat adalah kehidupan yang relative jauh lebih abadi. Kehidupan dunia adalah cobaan dan ujian, yang baik maupun yang buruk, yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Untuk itu dituntut kesabaran yang tinggi. Islam mengajarkan umatnya untuk mengucapkan “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” ketika menghadapi kesulitan.

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”. (Terjemah QS. Al-Ghafir(40):39).

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (Terjemah QS. Al-Baqarah(2): 155-156).

Dan sebagai balasannya Allah swt sebagai pemilik sekaligus penguasa kehidupan ini menjanjikan kita kehidupan yang aman, menyenangkan, jauh dari segala kesulitan. Itulah kehidupan akhirat di surga yang jauh lebih kekal dibanding kehidupan duniawi.

Sayangnya tempat yang  penuh kenikmatan itu hanya khusus diperuntukkan mereka yang taat kepada Tuhannya saja, yaitu Allah Azza wa Jala. Itulah tuhan semesta alam, tuhannya semua manusia, mulai dari manusia pertama nabi Adam as hingga manusia terakhir kelak, apapun agama, bangsa dan warna kulitnya.  Khusus bagi mereka yang lulus dari berbagai kesulitan ujian dan cobaan yang diberikan-Nya.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):214).

Dengan kata lain, tak perlu kita repot-repot menciptakan dunia baru yang serba canggih, aman dari segala bencana dan kesusahan seperti film “ Tomorrow Land”. Apalagi kita semua tahu bahwa kematian pasti akan mendatangi kita semua, kapan kita dapat menikmati tanah masa depan ciptaan sang saintis??

Tapi begitulah mimpi besar dan khayalan orang-orang Yahudi ( Barat) yang tercermin dari sebagian besar film  Disney dan Hollywood yang karyanya hampir selalu mendunia dan berhasil memperdaya sebagian besar manusia dengan ide-ide gilanya. Itulah mimpi dan cita-cita menguasai dunia, hidup dalam kemewahan dan kenyamanan yang berlebihan hingga lupa kehidupan akhirat. Lupa bahwa dunia adalah ladang amal yang menentukan kemana akan kembali, yaitu surga yang penuh kenikmatan, atau neraka yang siksanya sungguh pedih.

Mungkin saat ini mereka memang telah berhasil mencapai kemajuan yang menakjubkan. Namun sungguh tidak seharusnya kita sebagai Muslim iri terhadap kesuksesan duniawi yang mereka capai tersebut. Karena dasar mereka bukan karena keimanan dan kecintaan terhadap Sang Pencipta. Dan keberhasilan tersebut juga tidak menyebabkan mereka lebih bersyukur dan mendekatkan diri kepada-Nya. Keberhasilan yang demikian tidak akan mendatangkan ke-ridho-an-Nya, justru sebaliknya, jahanamlah tempat kembali mereka. Na’udzubillah min dzalik ..

Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan-nya bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti”. (Terjemah QS. Ali Imran(3):196-198).

Atas izin-Nya usaha gigih mereka yang hanya menghendaki kesuksesan dunia memang dibalas-Nya bahkan secara sempurna, tanpa sedikitpun kerugian. Tapi sayangnya sesuai keinganan mereka, ya hanya sebatas kehidupan dunia, di akhirat nanti perbuatan mereka tidak akan diperhitungkan-Nya, sungguh alangkah sia-sianya …

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. ( Terjemah QS. Huud(11): 15-16).

Ironisnya, orang-orang Yahudi yang mengaku beriman kepada Tuhan Semesta Alam serta adanya surga dan neraka, pada kenyataannya amat sangat ingin berumur panjang bahkan hingga seribu tahun. Tampak bahwa sifat serakah dan cinta dunia yang berlebihan telah mengalahkan keimanan mereka hingga begitu takutnya mati.

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):96).

Maha benar Allah swt yang telah memperingatkan kita, kaum Muslimin, agar senantiasa membaca surat Al-Fatihah dalam shalat kita, yaitu minimal 17 x dalam sehari.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. ( Terjemah QS. Al-Fatihah (2):6-7).

Sadarkah kita apa sebetulnya yang dimaksud “ jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” dalam ayat 6 dan 7 surat tersebut?

Rasululah saw bersabda bahwa “Sesungguhnya orang –orang yang dimurkai itu adalah orang-orang  Yahudi, dan sesungguhnya orang-orang  yang sesat itu adalah orang-orang Nasrani”. ( HR Imam Turmuzi, Imam Ahmad).

http://www.ibnukatsironline.com/2014/08/tafsir-fatihah-ayat-7.html

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam kitabnya Iqtidha Shirathil Mustaqim, “Pangkal kekufuran Yahudi adalah karena mereka tak mengamalkan ilmunya. Padahal mereka mengetahui kebenaran, namun tidak mau mengikutinya dalam bentuk ucapan atau perbuatan, atau bahkan tidak mau mengikuti keduanya”.

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.” (QS. Al-Baqarah ayat 146).

Beliau (Ibnu Taimiyah) melanjutkan “ Sedangkan kekufuran Nasrani berawal dari perbuatan mereka yang tanpa ilmu. Mereka berijtihad (berpendapat) sendiri dalam banyak ragam ibadah, tanpa ada ajaran dari Allah. Mereka berpendapat atas nama Allah tanpa ilmu. Kesalahan mereka terbesar adalah menjadikan nabi Isa as dan roh kudus sebagai sesembahan selain Allah. Bahkan disebutkan bahwa tidaklah Nabi Isa itu diangkat menjadi Tuhan kecuali setelah berlalunya masa beliau selama 325 tahun”.

Kekufuran dan kejahatan orang-orang Yahudi dalam memerangi kebenaran sejak dahulu kala, diantaranya yaitu dengan membunuhi para nabi, mengubah-ubah ayat-ayat Taurat dan Injil, mengadu domba umat Islam dengan umat Nasrani, terus berlanjut hingga hari ini. Rakyat Palestina yang tanah airnya diduduki Zionis Yahudi terkutuk sejak puluhan tahun lalu adalah yang paling menderita. Bahkan hingga detik ini mereka harus berjuang mati-matian mempertahankan Masjidil Aqsho yang dengan semena-mena direbut dan dikuasai pasukan bar-bar tersebut. Mereka kerap melarang umat Islam masuk dan shalat di dalam masjid ke 3 paling utama bagi umat Islam tersebut.

Sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada sholat di masjid-masjid lainnya. Sholat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan sholat di Masjidil Aqsha lebih utama lima ratus kali lipat.” (HR Ahmad dari Abu Darda).

Ya Allah lindungi saudara-saudari kami di Palestina, beri mereka kekuatan dan kesabaran untuk mempertahankan rumah-Mu, jiwa serta keimanan dan keislaman mereka …

Ya Allah satukan hati kaum Muslimin untuk melawan dan memerangi segala tak-tik dan akal bulus Zionis Yahudi terkutuk ( termasuk film, fashion dan gaya hidup seperti LGBT dll) dalam memenuhi nafsu jahat mereka untuk menguasai dunia dan mengelabui kaum Muslimin …

Ya Allah beri kami kaum Muslimin kemauan dan kemampuan agar dapat menjalankan amal ibadah sesuai ilmu yang Kau berikan melalui nabi-Mu Muhammad saw … aamiin 3x ya robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Juli 2017.

Vien AM.

Read Full Post »

4 Model Mukmin.

Al-Quran banyak menyebutkan ciri-ciri orang yang benar-benar beriman, di antaranya ayat 2-4 surat Anfal sebagai berikut :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, maka gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal:2-4).

Ayat di atas menyebutkan lima ciri mukmin sejati, yaitu :

  1. Hatinya bergetar saat mendengar nama Allah SWT.
  2. Keimanannya bertambah saat mendengar lantunan atau bacaan ayat Al-Quran.
  3. Bertawakal (berserah diri) hanya kepada Allah SWT.
  4. Mendirikan shalat
  5. Menafkahkan rezeki di jalan Allah.

Makna ayat diatas dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir antara lain sebagai berikut :

Ali Ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, orang-orang munafik tidak terpengaruh jika nama Allah SWT disebut. Mereka sama sekali tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, tidak bertawakal, tidak shalat apabila sendirian, dan tidak menunaikan zakat harta bendanya.

Mujahid mengatakan, orang mukmin itu ialah orang yang apabila disebut nama Allah hatinya gemetar karena takut kepada-Nya.

Sedangkan Sufyan As-Sauri mengatakan, ia pernah mendengar As-Saddi mengatakan, sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah maka gemetarlah hati mereka. Yang dimaksud ialah seorang lelaki yang apabila ia hendak berbuat aniaya (dosa) atau hampir berbuat maksiat, lalu dikatakan kepadanya.”Bertakwalah kepada Allah!” Maka gemetarlah hatinya (dan membatalkan perbuatan aniaya atau maksiatnya).

Sebagian ulama sepakat Mukmin yang demikian sebagai Mukmin Hanif. Pertanyaannya bagaimana dengan Mukmin yang tidak tergetar hatinya dan tidak merasa takut ketika nama Allah Azza wa Jalla disebut, apakah itu berarti ia termasuk golongan orang Munafik??

Ibn Rajab berkata: “Nifaq (kemunafikan) secara bahasa merupakan jenis penipuan, makar, menampakkan kebaikan dan memendam kebalikannya”.

Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: bila berbicara, ia berdusta; bila berjanji, ia mengingkari; dan bila diberi kepercayaan (amanah), ia berkhianat.” Dalam riwayat lain ditambahkan, jika berseteru ia licik.

Secara syari’at Nifaq terbagi dua yaitu Nifaq Amaly ( munafik perbuatan ) dan Nifaq Diny ( munafik agama ). Nifaq Amaly tidak mengeluarkan seseorang dari Islam (murtad). Itulah yang dimaksud hadist di atas. Hampir setiap orang pernah melakukan salah satu dari hal tersebut, dengan tingkatan yang berbeda tentunya. Namun demikian hal tersebut sangat buruk, karena bisa merugikan orang lain. Oleh sebab itu harus dihindari sejauh-jauhnya.

Allah swt menyebut orang yang demikian sebagai orang yang menyembah Allah di tepi. Mereka mau beribadah, menjalankan shalat, zakat dll ketika mereka mendapat kenikmatan. Tapi bermalas-malasan bila tertimpa musibah atau hal yang tidak sesuai dengan keinginannya dan harapannya. Mereka adalah orang-orang merugi.

“ Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”. (Terjemah QS. Al-Hajj(22):11).

Termasuk di dalam kelompok ini adalah mereka yang bermalas-malasan ketika menjalankan shalat. Sebagian ulama sepakat menamakan mereka sebagai Mukmin Awam.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):142).

Sebaliknya Nifaq Diny. Jenis nifak ini mengeluarkan seseorang dari agamanya ( murtad ) dan mereka akan kekal di dasar neraka jahanam. Itulah yang dinamakan Munafikun Sejati. Contohnya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul yang hidup pada zaman Rasulullah saw. Juga Abdullah bin Saba, pendiri Syiah sekaligus biang perusak Islam yang hidup di zaman khalifah Ustman bin Affan ra dan khalifah Ali bin Abi Thalib ra.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. ( Terjemah QS.An-Nisa(4): 145).

Sifat mereka seperti yang dijelaskan dalam ayat 8 sampai 20 surah Al-Baqarah. Diantaranya yaitu mengaku dan merasa beriman kepada Allah dan hari akhir padahal tidak. Mereka melakukan kerusakan besar di muka bumi ( terutama kerusakan agama), tetapi merasa telah melakukan perbaikan. Mereka menganggap orang beriman sebagai orang yang lemah akal, padahal merekalah orang lemah akal yang sesungguhnya. Sikap mereka berpura-pura baik di hadapan orang beriman demi kemaslahatan duniawi semata-mata, padahal hati mereka bersama kekufuran. Keimanan mereka sangat tipis. Mereka bagaikan musuh dalam selimut, yang siap menjatuhkan dan menerkam sesama saudara seiman.

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu”.( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):13).

Di samping itu ada satu lagi jenis Mukmin yang paling tinggi derajatnya, itulah Mukmin Mujahid.  Mukmin Mujahid adalah seorang Mukmin Hanif sebagaimana kriteria ayat 2-4 surat Al-Anfal di atas, namun kepeduliannya terhadap sesama Muslim dan ajaran Islam sangatlah tinggi. Selain taat ber-ibadah Mukmin Mujahid juga aktif mengajak lingkungannya agar berbuat ma`ruf dan mencegah kemungkaran ( ‘amar ma’ruf nahi munkar).  Mereka tidak suka melihat kebathilan terjadi di depan mata mereka tanpa mereka berusaha mencegahnya. Mereka tidak rela saudara-saudarinya seiman di dzalimi, ayat-ayat Allah dipermainkan dan dilecehkan. Itu semua dilakukannya karena kecintaannya yang begitu tinggi terhadap Sang Khalik.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu”. Terjemah QS. At-Taubah (9):112).

Untuk itu mereka rela dimusuhi dan dikucilkan orang-orang yang tidak menyukainya. Mereka adalah orang-orang yang pantang menyerah meski ujian dan cobaan berat menghadang mereka. Bahkan bila jalan damai tidak bisa ditempuh, berperang mempertaruhkan tidak hanya harta namun juga jiwa dan keluarga demi tegaknya keadilan, demi kalimat Allah swt, mereka tidak ragu melakukannya.

“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang menegaskan pentingnya berperang, berjihad dengan harta dan diri demi membela Islam.

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu ( untuk tidak berperang dengan bermacam alasan), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya”. ( Terjemah QS. At-Taubah (9):45).

Sejatinya keberadaan Mukmin Mujahid seperti itulah yang menyebabkan Islam yang lil aalamiin dapat terwujud. Seperti juga sebaik dan sebagus apapun sebuah negara, tanpa tegaknya hukum dan keadilan mustahil hal itu bisa terjadi. Inilah yang menjadi kunci kesuksesan Islam di masa lalu.  Para sahabat yang tidak pernah takut berperang dalam membela ajaran dan nabinya. Ketika itu jumlah sahabat yang gugur tak terhitung banyaknya. Tak heran bila Allah swt menjanjikan para syuhada ( mati syahid) ini dengan imbalan yang sangat tinggi yaitu kenikmatan di surga bersama para nabi.

” Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.(TerjemahQS. An-Nisa 69).

Bahkan seorang Mukmin Hanifpun sebenarnya ia egois karena ia hanya mementingkan dan memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak mau repot dengan urusan di  luar diri dan keluarganya. Bukankah tugas kaum Mukminin dan Muslimin untuk saling mengingatkan, saling menasehati, bahu membahu dalam menegakkan keadilan dan kebenaran, seperti ketika kita shalat berjamaah dengan shaf yang rapat, rapi dan teratur, taat dibawah komando imam yang satu??

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. ( Terjemah QS. Al-Asr (103):2-3).

Sungguh tepat apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib ra, yang mengalami bencana besar pertama dalam Islam paska wafatnya Rasulullah saw, “Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Juli 2017.

Vien AM.

Read Full Post »