Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2020

Tanpa terasa hari ini kita telah memasuki pekan terakhir Ramadhan 1441H. Di tengah hiruk pikuk PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang dilakukan demi mencegah penyebaran virus Covid19 atau virus Corona, harus diakui hari-hari Ramadhan yang kita lalui bersama keluarga inti ini terasa cukup melegakan. Meski ibadah-ibadah Ramadhan yang biasa kita laksanakan di masjid seperti shalat Taraweh, Iktikaf dan kegiatan lain terpaksa hanya kita jalankan di rumah.

Tapi sebenarnya ini bukan masalah besar karena Rasulullahpun sebenarnya hanya 3 hari saja mendirikan shalat Taraweh di masjid selebihnya di rumah. Ini dilakukan karena Rasulullah khawatir umat merasa terbebani, dan menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Berikut ihwal dilakukannya shalat Taraweh berjamaah di masjid.

Abdurrahman bin Abdul Qari’ berkata, “Saya keluar ke masjid bersama Umar Radhiyallahu anhu pada bulan Ramadhan. Ketika itu orang-orang berpencaran; ada yang shalat sendirian, dan ada yang shalat dengan jama’ah yang kecil (kurang dari sepuluh orang). Umar berkata, “Demi Allah, saya melihat (berpandangan), seandainya mereka saya satukan di belakang satu imam, tentu lebih utama,”.

Kemudian beliau bertekad dan mengumpulkan mereka di bawah pimpinan Ubay bin Ka’ab. Kemudian saya keluar lagi bersama beliau pada malam lain. Ketika itu orang-orang sedang shalat di belakang imam mereka. Maka Umar Radhiyallahu anhu berkata,’Ini adalah sebaik-baik hal baru.’ Dan shalat akhir malam nanti lebih utama dari shalat yang mereka kerjakan sekarang”. Peristiwa ini terjadi pada tahun 14H.

https://almanhaj.or.id/3150-shalat-tarawih-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-salafush-shalih.html

Dan lagi masih beruntung kita mengalami masa sulit ini di zaman dimana teknologi sudah sedemikian canggihnya. Dengan bantuan teknologi tersebut dari rumah orang bisa tetap bekerja, bertatap muka dan berkomunikasi dengan dunia luar. Bahkan di bulan suci Ramadhan ini kaum Muslimin, bisa mendengarkan kajian ustad siapapun yang mereka inginkan, tanpa harus meninggalkan rumah, kapanpun kita mau.

Ketika pertama kali saya mengikuti kajian melalui video conference yang biasanya kami lakukan 2 pekan sekali, kesan pertama yang saya dapatkan adalah bisa melihat semua wajah teman-teman pengajian saya secara jelas, di satu screen., tanpa harus menoleh ke kiri maupun ke kanan. Di layar yang relative kecil tersebut saya bisa melihat gerakan bahkan ekspresi mereka yang mengantuk, yang tidak konsen dll. Persis cctv yang biasa dipantau satpam. 🙂

Tiba-tiba saya terpikir begitulah Allah Azza wa Jala mengawasi hamba-hambaNya dari detik ke detik selama 24 jam penuh. Masya Allah … Jadi sungguh aneh bila di zaman modern ini masih ada saja orang yang tidak mempercayai Tuhan Yang Maha Esa.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (Terjemah QS.Al-Baqarah(2):255).

Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dengan adanya virus Covid ini. Salah satunya yaitu tadi, beribadah bersama keluarga. Tampaknya Allah swt ingin mengingatkan kita bahwa di surga nanti kita bisa bertemu kembali dengan keluarga yang kita cintai. Dengan syarat sama-sama beriman.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (Terjemah QS. At-Thuur(52):21).

Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”,(Terjemah QS. Al-Ghafir( 40):8).

(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”.(Terjemah QS. Ar-Raad(13):23).

Untuk itu kita harus saling mengingatkan, diantaranya yaitu dengan terus mengkaji ayat-ayat Al-Quran, bagaimana Rasulullah menyikapinya, dengan bimbingan orang/ustad yang benar-benar menguasai ilmunya. Dan sekarang ini adalah saat yang tepat. 10 hari terakhir Ramadhan adalah saat-saat berharga dimana Allah swt melipat gandakan semua amal ibadah kita.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Terjemah QS.Al-Qadr(97):1-5).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir bahwa di kalangan bani Israel terdapat seorang laki-laki yang suka beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukannya selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan ayat ini (Al-Qadr 1-3) yang menegaskan bahwa satu malam Lailatul Qadr lebih baik daripada amal seribu bulan ( 83.3 tahun) yang dilakukan seorang laki-laki dari bani Israel tersebut.

Dari Aisyah RA, beliau berkata:

Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau (Rasulullah SAW) menjawab, “Ucapkanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya, Allah sesungguhnya Engkau Maha pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku’.”

Al-Quran diturunkan dalam 2 cara, pertama dari Lauh-Mahfudz ke langit dunia secara keseluruhan. Yang kedua dari langit dunia, disampaikan oleh malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw dengan cara bertahap selama kurang dari 23 tahun, yaitu hingga wafatnya Rasulullah saw. Peristiwa turunnya ayat pertama ( ayat 1-5 surat Al-Alaq ) inilah yang sering diperingati kaum Muslimin di negri kita sebagai peringatan Nuzulul Qur’an pada setiap tanggal 17 Ramadhan.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.” (HR. Thobari).

Dari Mauwiyah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Lailatul Qadr itu pada malam ke 27” (HR. Abu Dawud).

Namun demikian tidak semua ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar pasti terjadi setiap malam 27 Ramadhan. Karena ada beberapa hadist yang menyatakan terjadi pada malam ganjil lain, diantaranya tanggal 23 dan 25. Yang pasti Lailatul Qadar terjadi pada 10 hari terakhir Ramadhan. Meski besar kemungkinan yang sering terjadi adalah malam 27. Artinya pada malam tersebut jangan sampai kita melewatkannya begitu saja. Alangkah meruginya.

Dari Aisyah RA, “Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut(HR. Muslim)

Yang juga menarik Allah swt merahasiakan siapa yang mendapatkan Lailatul Qadar tersebut, meski seorang hamba selama 10 hari itu menghidupkan malam-malam harinya dengan bermunajat kepada Tuhannya. Diantaranya yaitu dengan shalat malam, membaca Al-Quran, berzikir dll. Kita hanya bisa menyaksikan hamba terpilih tersebut pasti akan menunjukkan perbaikan sikap, tidak hanya kepada Allah swt tapi juga kepada sesama manusia. Karena memang untuk itulah Rasulullah diutus kepada manusia.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Akhir kata bisa jadi pandemi covid19 yang sedang kita alami ini adalah sindiran bagi mereka yang lebih suka sibuk dengan urusan mudik di hari-hari akhir Ramadhan daripada mencari malam Lailtul-Qadar. Atau mereka yang sibuk bekerja siang malam demi urusan dunianya tapi lalai memikirkan urusan akhirat. Atau bahkan bisa jadi juga sentilan bagi mereka yang rajin beribadah di masjid tapi tidak pernah mengajak atau mengingatkan keluarganya hal yang sama. Na’udzubillah min dzalik …

Yaa Allah beri kami kemudahan untuk meraih malam keberkahan tersebut, menjadikannya jalan masuk ke surga-Mu bersama keluarga, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 17 Mei 2020.

Vien AM.

 

Read Full Post »

Sejarah-Lahirnya-Kalender-Hijriyah(Arrahmah.com) – Kalender Hijriyah adalah identitas kaum Muslimin. Bulan-bulan yang kita kenal sekarang juga sudah dikenal oleh masayarakat Arab. Hanya saja mereka belum mengenal penahunan. Di masa itu, penamaan tahun bukan dengan angka. Tapi menggunakan peristiwa yang paling menonjol di tahun tersebut. Seperti tahun gajah. Karena diserangnya Ka’bah oleh pasukan gajah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam Al-Quran bahwa hilal, matahari, dan bulan adalah waktu untuk manusia. Seperti dalam firman-Nya,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” [Quran Al-Baqarah: 197]

Demikian juga firman-Nya,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Quran Yunus: 5].

Kemudian muncullah kebutuhan kaum muslimin akan adanya penamaan yang baku pada tahun. Penamaan yang urut sehingga memudahkan aktivitas dan muamalah yang mereka lakukan. Kebutuhan ini terasa begitu mendesak di zaman pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Kemudian ia memerintahkan untuk menyusun tahun hijriyah.

Sebelum Penyusunan

Perhitungan tahun yang hakiki adalah dimulai sejak Allah menciptakan langit, bumi, matahari, dan bulan. Tatkala Adam ‘alaihissalam turun dari surga. Kemudian lahirlah anak-anaknya, maka keturunannya menghitung waktu dari turunnya Adam tersebut. Perhitungan tersebut terus berlangsung hingga diutusnya Nuh ‘alaihissalam. Kemudian perhitungan tahun mulai dari diutusnya Nuh hingga banjir yang membuat bumi tenggelam. Kemudian perhitungan tahun mulai dari topan hingga pembakaran Ibrahim ‘alaihissalam.

Saat anak keturunan Ismail sudah banyak, mereka bermigrasi ke berbagai wilayah. Mereka menyebar. Kemudian anak keturunan Ishaq membuat penanggalan dari peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim hingga diutusnya Yusuf. Dari diutusnya Yusuf sampai diutusnya Musa. Dari zaman diutusnya Nabi Musa hingga masa Nabi Sulaiman. Dari masa Sulaiman hingga Nabi Isa. Dari masa Nabi Isa hingga diutusnya Rasulullah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ibnul Jauzi: al-Muntazham fi Tarikh al-Mulk wa-l Umam, Daru-l Kutubi-l Ilmiyah, 4/226-227).

Dulu, orang-orang Arab sebelum Islam, mereka menamai tahun dengan kejadian. Misalnya: Tahun Pembangunan Ka’bah, Tahun al-Fijar (terjadi Perang Fijar), Tahun Gajah, Tahun Sail al-Arim (Banjir Arim), dll. Kemudian setelah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan munculnya syiar Islam di Mekah kemudian hijrah ke Madinah, kaum muslimin memiliki penamaan tersendiri. Penamaan tersebut memiliki nama-nama yang khusus juga. Seperti: Tahun al-Khandaq, dimana terjadi Perang Khandaq. Tahun Kesedihan, karena terdapat peristiwa yang begitu membuat Rasulullah sedih. Yaitu wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Tahun al-Wada’, tahun terjadinya haji al-wada’, Tahun ar-Ramadah (abu), karena kemarau yang panjang di tahun tersebut hingga tanah menjadi abu karena terbakar matahari. Ini terjadi di masa pemerintah Umar radhiallahu ‘anhu (Muhammad Shalih al-Munajid: Tafrigh Lihalaqat Barnamij al-Rashid, 12/54).

Yang Membuat Penanggalan Hijriyah

Tahun-tahun senantiasa disebut dengan peristiwanya hingga terjadi sesuatu di zaman pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Negeri-negeri banyak yang bergabung dengan Madinah. Muncullah kebutuhan untuk mengurutkan tahun. Disebutkan dalam satu riwayat bahwa ada seseorang yang mengadukan kepada Umar bin al-Khattab perihal utang-piutang. Ada seseorang yang berutang yang jatuh tempo di bulan Sya’ban. Karena ia belum membayar saat jatuh tempo tersebut, pihak pemberi utang melaporkannya kepada Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Kemudian Umar meresponnya dengan menanyakan bulan Sya’ban tahun kapan. Dari situlah akhirnya dirumuskan permasalahan penetapan tahun.

Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu mengumpulkan para sahabat dan berdiskusi dengan mereka. Kata Umar, “Tentukan sesuatu untuk masyarkat yang mereka bisa mengetahui waktu.” Ada yang mengatakan, “Tulislah dengan menggunakan penanggalan Romawi.” Pernyataan ini dikomentari, “Mereka itu membuat penanggalan sejak zaman Dzul Qarnain. Itu terlalu jauh masanya.”

Kemudian ada yang mengatakan, “Tulislah dengan penanggalan Persia.” Lalu ditanggapi, “Orang-orang Persia kalau berganti raja, maka warisan (kebijakan penguasa) sebelumnya ditinggalkan.” Kemudian para sahabat bersepakat untuk menghitung, “Berapa lamakah Rasulullah tinggal di Madinah?” Lamanya adalah 10 tahun. Lalu ditulislah penanggalan dengan menghitung sejak Rasulullah berhijrah.

Permasalahan berikutnya adalah tentang awal bulan dalam satu tahun tersebut. Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu, orang itu berkata, ‘Tetapkanlah penanggalan’. Umar berkata, ‘Penanggalan apa?’ Orang itu menjawab, ‘Sesuatu seperti yang dilakukan oleh orang-orang non Arab. Mereka menulis di bulan sekian pada tahun sekian’. Umar berkata, ‘Itu bagus. Tetapkanlah penanggalan’. Mereka berkata, ‘Dari bulan apa kita memulai?’ Ada yang mengatakan, ‘Bulan Ramadhan’. Ada lagi yang mengatakan, ‘Dari bulan Muharram. Karena ini adalah waktu dimana orang-orang pulang dari haji. Itulah bulan Muharram’. Mereka pun menyepakatinya.” (ath-Thabari: Tarikh ar-Rusul wa-l Mulk. Cet. Ke-3 1387 H, 2/388-389).

Pada 20 Jumadil Akhiroh 17 tahun dari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulailah penggungnaan penanggalan Islam, penanggalan hijriyah (Ibnul Jauzi: al-Muntazhom fi-t Tarikh al-Mulk wa-l Umam 4/227). Peristiwa ini bertepatan dengan 15 Juli 622 M. Dan tahun ini disebut dengan tahun izin (Arab: سنة الإذن). Maksudnya diizinakannya Rasulullah dan para sahabatnya untuk hijrah dari Mekah ke Madinah (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 2).

Digunakanlah penanggalan hijriyah dengan menjadikan bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam setahun. Penanggalan ini sudah dikenal oleh bangsa Arab. Karena mereka orang-orang Arab menentukan waktu dengan bulan. Hari pertama dimulai dengan masuknya waktu malam. Berbeda dengan kaum lainnya yang menentukan waktu dengan matahari (Ibnul Jauzi: al-Muntazhom fi-t Tarikh al-Mulk wa-l Umam 4/228).

Tahun hijriyah ini terdiri dari 12 bulan qamariyah. Jadi satu tahun hijriyah itu sama dengan 354 hari. Dan satu bulan terdiri dari 29 atau 30 hari.

Mengapa Muharam?

Tentang awal bulan untuk tahun hijriyah, para sahabat mengajukan beberapa usulan kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Ada yang mengusul bulan Sya’ban sebagai awal tahun. Ada yang mengajukan Ramadhan. Kemudian mengerucut ke pendapat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, yaitu bulan Muharram. Dengan alasan karena di bulan ini jamaah haji pulang dan Muharram adalah bulan Allah. Ini alasan dari sisi syariat. Adapun dari sisi sosial-budaya, Muharam merupakan bulan yang dipilih oleh bangsa Arab untuk memulai tahun-tahun mereka sebelum Islam datang. Sehingga mereka telah terbiasa dengan keadaan ini. Setelah Islam datang, Rasulullah mengukuhkannya dengan menyebut bulan ini syahrullah (bulan Allah).

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan haram. Dan tidak ada bulan setelah bulan Ramadhan yang lebih mulia di sisi Allah melebih bulan Muharram. Bulan ini dinamai dengan bulan Allah karena saking besar kemuliaannya (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 2).

Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah bulan suci dalam Islam. Di bulan ini pula banyak terdapat peristiwa-peristiwa penting dalam syariat maupun dalam sejarah.

Pertama: Penting Secara Syariat

Dianjurkannya Puasa 10 Muharram

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

قَدِمَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم المدينةَ فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء، فقال: “مَا هَذَا؟” قالوا: هذا يومٌ صَالِح، هذا يوم نجَّى الله بني إسرائيل من عدوِّهم فصامه موسى، قال:”فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ”. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah. Lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura (10 Muharram). Beliau bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari baik. Hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Lalu Musa pun berpuasa di hari tersebut’. Nabi berkata, ‘Aku lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian’. Rasulullah berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa di hari itu.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab ash-Shaum 1900 dan Muslim dalam Kitab ash-Shiyam 1130)

Kedua: Peristiwa Penting dalam Catatan Sejarah

Beberapa peristiwa penting dalam catatan sejarah yang terjadi di bulan Muharram adalah datangnya orang-orang Habasyah dengan pasukan gajah mereka di Kota Mekah. Mereka dipimpin oleh Abrahah al-Asyram dengan misi merobohkan Ka’bah. Di bulan ini juga kiblat kaum muslimin berpindah. Semula di Baitul Maqdis kemudian menuju Ka’bah. Perubahan ini terjadi sekitar 16 atau 17 bulan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah.

Pada bulan Muharram ini pula, kaum muslimin di masa kekhalifahan Umar berhasil menguasai kota penting di Irak, Bashrah. Hal ini terjadi pada tahun 14 H. Kemudian pada tahun 20 H, kaum muslimin berhasil menaklukkan Mesir dengan panglima mereka Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu. Kemudian bulan ini juga mencatat duka dengan syahidnya cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Husein bin Ali radhiallahu ‘anhuma, di Karbala (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 3).

Peristiwa-peristiwa lainnya juga yang disebut-sebut terjadi pada bulan ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dari banjir besar. Diangkatnya Nabi Idris ‘alaihissalam ke langit keempat. Padamnya api Namrud di masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Nabi Ya’qub ‘alaihissalam yang lama berduka dipertemukan lagi dengan putranya, Nabi Yusuf ‘alaihisslam. Diterimanya taubat Nabi Dawud ‘alaihissalam. Kemudian ia dijadikan pemimpin di bumi. Dikembalikannya kekuasaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya diselamatkan dari Firaun. Dan di bulan ini pula Nabi Isa ‘alaihissalam diangkat ke langit (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 3).

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

(fath/arrahmah.com)

Disalin dari: https://www.arrahmah.com/sejarah-lahirnya-kalender-hijriyah/

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 7 Mei 2020.

Vien AM.

Read Full Post »

Ramadhan 1441H yang sedang dijalani umat Islam saat ini adalah Ramadhan yang benar-benar berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan yang pernah dilalui selama ini. Betapa tidak … Masjid yang selama ini menjadi pusat ibadah kaum Muslimin terutama di bulan Ramadhan, tidak dapat menjalankan fungsinya seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan Masjidil Haram dan Masjid Nabawipun mengalami hal yang sama. Dan ini semua hanya gara-gara mahluk super kecil yang tak terjangkau pandangan mata, yaitu virus Corona atau yang juga dinamakan Covid-19.

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah”. ( Terjemah QS. A-Hajj(22):73).

Allah swt menjadikan lalat sebagai perumpamaan betapa kecil dan tidak berdayanya manusia itu. Ilmu kedokteran menyebutkan mahluk kecil bersayap ini mampu membuat manusia jatuh sakit setidaknya dengan 12 macam penyakit yang dibawanya. Diantaranya yang paling sering terjadi adalah typhus.

Disamping itu penelitian yang dilakukan tim kesehatan sebuah universitas di Arab Saudi tentang sayap lalat membuktikan bahwa tidak ada yang sia-sia dalam segala penciptaan-Nya, termasuk lalat yang kotor dan sarat membawa penyakit itu.

https://www.gomuslim.co.id/read/khazanah/2019/02/10/10506/-p-sebelum-sains-modern-rasulullah-ungkap-rahasia-obat-pada-sayap-lalat-p-.html

Dari Abu Hurairah RA, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang dari kalian, maka celupkanlah ia, sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya ada obat penawarnya, maka dari itu celupkan semuanya,” (HR Abu Daud).

Dilansir dari buku “Amazing You! Resep Rahasia Kehidupan Luar Biasa (2011)”  karya dr. Andhyka P. Sedyawan, dijelaskan bahwa lalat memiliki 100.000 sel otak aktif yang jauh lebih kompleks dari otak lebah. Dengan otak itu, lalat memiliki sistem yang sangat cepat untuk mengantisipasi bahaya yang datang, termasuk bahaya tepukan yang berujung kematian. Menghindari tepukan bagi lalat, bukanlah hal yang sulit. Saat terancam, otak lalat akan merespons dengan melakukan menuver yang supercepat. Bahkan, maneuver tersebut dapat dilakukan lalat dengan melakukan ke arah yang berlawanan. Dengan kata lain, lalat sulit dipukul karena mereka bisa bereaksi terhadap suatu gerakan 5 kali lebih cepat dari manusia. Bulu senstif pada tubuh mereka mengirim langsung data ke sayap sehingga lalat bisa langsung mengambil respons cepat.

https://health.kompas.com/read/2020/02/22/170100168/12-penyakit-yang-dapat-ditularkan-lalat?page=all.

Kembali kepada virus Corona yang ditetapkan sebagai pandemic karena daya tularnya yang maha dasyat padahal ukurannya jauh lebih kecil dari lalat,  yaitu 125 nanometer.( 1 nanometer sama dengan 1/1000 mikrometer). Virus yang kabarnya berasal dari kelelawar dan menyerang saluran pernafasan ini mampu membuat geger dunia, tak peduli dengan datangnya bulan suci Ramadhan yang mulia. Bulan dimana ayat pertama Al-Quranul Karim diturunkan, yaitu pada 17 Ramadhan yang diperingati kaum Muslimin sebagai Peringatan Nuzulul Quran.

Pada bulan tersebut pula terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Itulah malam Lailatul Qadar, malam yang paling dinantikan umat Muslim.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. ( Terjemah QS. Al-Qadr(97):1-3).

Bulan Ramadhan juga disebut juga bulan maghfiroh/pengampunan. Pada bulan tersebut segala amal ibadah dilipat gandakan balasannya, termasuk shalat Tarawih dan shalat Witir.

Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni, ”Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, At Tirmidzi ).

Namun sekarang dengan ditutupnya pintu-pintu masjid apakah itu berarti tertutup pula kesempatan untk mendapatkan berkah dan kemuliaan Ramadhan yang begitu berlimpah??

Tentu saja tidak. Bukankan bumi Allah luas? Shalat tidak harus di masjid bila tidak memungkinkan. Imbauan pemerintah untuk tetap tinggal di rumah dan menjaga jarak dengan orang lain bukan halangan untuk dapat menjalankan Ramadhan sebaik-baiknya. Bahkan bisa jadi lebih baik bila kita mau merenungkan apa sebenarnya hikmah di balik musibah ini. Selain tentu saja kesempatan untuk menjalankan seluruh shalat kita, baik wajib maupun sunnah, bersama keluarga tercinta.

“Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650)

Bisa jadi ini adalah ujian dari Allah swt untuk melihat keseriusan kita dalam beribadah. Apakah dengan berhari-hari bahkan berpekan-pekan diam di rumah membuat kita lebih dekat kepada-Nya, dengan banyak membaca Al-Quran dan mentadaburinya, membantu mereka yang kekurangan, tetap shalat di awal waktu layaknya ketika pintu masjid masih terbuka lebar, dll. Atau justru menjauh dengan mengisi hal-hal yang tidak berguna, seperti bermain game, menonton film, hiburan tv dll secara berlebihan.

Ini adalah saat yang tepat untuk muhasabah ( introspeksi), sudah benarkah ibadah kita selama ini? Shalat, puasa, zakat, haji dan umrah kita?? Ditrimakah amal ibadah kita oleh-Nya?? Jangan-jangan Allah hanya menganggap semua itu ritual belaka, ibadah rutin yang tidak disertai hati kita … Na’udzubillah mun dzalik …

Bukankah Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin, yang dengannya seharusnya umat Islamlah yang memimpin dan menjaga bumi ini dengan baik hingga yang demikian Allahpun ridho menurunkan rahmat-Nya.

Berita perkembangan terakhir menyebutkan 2 negara adi daya, Amerika Serikat dan Cina saling tuduh bahwa merekalah penyebab malapetaka ini. Apapun itu yang pasti Allah swt ternyata mengizinkannya. Bukankah tanpa izin-Nya mustahil segalanya bisa terjadi …

Yaa Allah munculkanlah di bulan suci ini pemimpin Muslim tangguh yang mampu menjaga amanah, sanggup memimpin dan melindungi kaum Muslimin, serta ilmuwan Muslim yang mampu menemukan penangkal virus Corona sebagaimana para ilmuwan Muslim Arab Saudi menemukan kebenaran mukjizat sayap lalat.

Yaa Allah jadikan Ramadhan ini melahirkan generasi yang mampu mengeluarkan kaum Muslimin dari keterpurukan dan ketertinggalannya dari kaum Kafirin.

Yaa Allah ampuni kami, maafkan kami, trimalah tobat kami, dan jadikanlah Ramadhan ini sebagai pembersih dosa, salah dan khilaf kami, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 Mei 2020.

Vien AM.

Read Full Post »