Feeds:
Posts
Comments

Archive for January 9th, 2023

Thaif adalah sebuah kota di provinsi Makkah yang terletak sekitar 65 kilometer di sebelah tenggara kota Makkah. Kota ini berhawa sejuk karena berada di lembah pegunungan yaitu pegunungan Asir yang merupakan 1 dari lebih 7 pegunungan yang mengeliling kota Mekkah.   

Kota ini dijuluki dengan julukan ‘Qoryatul Muluk’ yang artinya desa para raja. Disebut demikian karena sejak dahulu kala para pembesar Makkah menjadikannya tempat berlibur. Kini kota tersebut tidak saja menjadi tempat liburan para pembesarnya tapi juga rakyat biasa.  Di beberapa daerah tertentu para amir dan konglomerat Arab Saudi membangun vila-vila mewah mereka, dengan penjagaan super ketat tentunya.

Di Thaif inilah Rasulullah 15 abad lalu berkunjung, berharap siapa tahu dalam keadaan santai para pemimpin Quraisy yang sedang berlibur mampu berpikir jernih untuk menerima Islam. Ketika itu Rasulullah nyaris putus asa karena selama 10 tahun berdakwah hanya berhasil menarik 40 pengikut. Dan meskipun ke 40 pemeluk Islam tersebut semua berasal dari suku Quraisy namun sebagian besar dari mereka menolak Islam bahkan sangat memusuhi Rasulullah.

Suku Quraisy dimana Rasulullah berasal, adalah satu dari banyak suku yang menempati Mekkah. Suku yang merupakan keturunan dari nabi Ismail as ini adalah suku yang paling terpandang di Mekkah. Merekalah yang dipercaya untuk menjaga Ka’bah yang sejak dahulu sudah menjadi pusat peribadatan penduduk jazirah Arab.

Mereka ini pulalah satu-satunya suku yang  memiliki hak sekaligus kewajiban menerima dan menjamu tamu-tamu yang berdatangan dari segala penjuru jazirah demi memuliakan Ka’bah. Ibadah haji yang merupakan ibadah ritual yang disyariatkan Islam memang sudah ada sejak nabi Ibrahim as diutus ribuan tahun sebelum datangnya Islam, sebagaimana ayat 127 dan 128 surat Al-Baqarah berikut : 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Ironisnya, justru  itulah tampaknya yang membuat mereka terutama para pembesarnya, sulit menerima dakwa Rasullah SAW. Mereka khawatir dengan datangnya Islam mereka akan kehilangan kebesaran dan kemuliaan yang selama ratusan tahun telah mereka miliki. Itulah sebabnya perlawanan mereka terhadap Rasulullah makin menjadi-jadi apalagi sejak wafatnya Abu Thalib, pemuka Quraisy sekaligus paman yang senantiasa melindungi Rasulullah.

Untuk itu Rasulullah bertekad mendatangi para pemuka Quraisy ke Thoif. Mungkin dalam keadaan santai bersama keluarga di tempat yang sejuk pula, mereka lebih bisa diajak berbicara, paling tidak mau memberikan pertolongan dan perlindungan dari orang-orang yang memusuhi beliau, demikian pikiran Rasulullah.

Maka pada suatu hari di tahun 620M, tak lama setelah wafatmya dua orang yang sangat beliau sayangi, yaitu Siti Khadijah dan Abu Thalib, pergilah Rasulullah ke Thaif. Secara diam-diam, ditemani   Zaid bin Haritsah, Rasulullah memasuki kota Thaif. Perlu perjuangan yang tidak sedikit untuk mencapai kota tersebut apalagi dengan berjalan kaki. Namun tekad Rasulullah sudah bulat. Selama sepuluh hari Rasulullah berdiam di kota berhawa sejuk tersebut.

Namun pemuka-pemuka Quraisy benar-benar keras kepala. Alih-alih menemui, mereka malah memerintahkan orang-orangnya untuk melempari Rasulullah SAW hingga beliau terpaksa berlindung ke suatu kebun. Di kebun anggur milik  Uthbah dan Saibah bin Rabi’ah ini, Zaid bin Haritsah mengobati kaki dan kepala Rasulullah yang terluka akibat lemparan orang-orang Quraisy tersebut.  

Betapa sedihnya Rasulullah melihat kekerasan hati pemuka-pemuka Quraisy. Dengan penuh kepedihan diadukannya kesedihannya tersebut kepada Sang Khalik melalui doa berikut :

Ya Allah! Sesungguhnya kepadaMu-lah aku mengadukan kelemahan diriku, sedikitnya upayaku serta hina dinanya diriku di hadapn manusia, Wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih! Engkau adalah Rabb orang-orang yang tertindas, Engkaulah Rabbku, kepada siapa lagi Engkau menyerahkan diriku?

(Apakah) kepada orang lain yang selalu bermuka masam terhadapku? Atau kepada musuh yang telah menguasai urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli, akan tetapi ampunan yang Engkau anugerahkan adalah lebih luas bagiku.

Aku berlindung dengan perantaraan Nur Wajahmu yang menyinari segenap kegelapan dan yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik agar Engkau tidak turunkan murkaMU kepadaku atau kebencianMu melanda diriku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau menjadi ridha. Tiada daya serta upaya melainkan KarenaMu.”

Mendengar hal tersebut, rasa belah kasih Uthbah dan Syaibah bin Rabi’ah tergerak. Mereka segera memanggil budak mereka yang beragama Nasrani bernama Addas seraya berkata kepadanya, “Ambillah setangkai anggur ini dan antarkan kepada orang tersebut (Nabi),”

Tatkala Addas menaruhnya di hadapan Nabi, beliau mengulurkan tangannya untuk mengambilnya dengan membaca “Bismillah“, lalu memakannya.

Addas berkata, “Sesungguhnya ucapan ini tidak biasa diucapkan oleh penduduk negeri ini.

Lantas Nabi bertanya kepada Addas, “Kamu berasal dari negeri mana? Dan apa agamamu?

Addas menjawab, “Aku seorang Nasrani dari penduduk Ninawa (Nineveh).

Nabi berkata lagi, “Dari negeri seorang pria shalih bernama Yunus bin Matta?”

Addas berkata, “Apa yang kamu ketahui tentang Yunus bin Matta?

Nabi menjawab, “Dia adalah saudaraku, dia seorang Nabi, demikian pula dengan diriku.

Addas langsung merengkuh Nabi, kedua tangan dan kedua kaki Nabi pun diciuminya. Sementara, Uthbah dan Syaibah bin Rabi’ah saling berkata satu sama lainnya, “Budakmu itu telah dibuatnya menentangmu.

Maka, tatkala Addas datang, keduanya berkata kepadanya, “Bagaimana kamu ini! Apa yang telah kamu lakukan?”

Wahai tuanku! Tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini yang lebih baik dari orang ini! Dia telah memberitahukan kepadaku suatu hal yang hanya diketahui oleh seorang Nabi,” jawab Addas tegas.

Tak heran bila saat ini dapat kita temui masjid bernama Addas yang dibangun untuk mengenang bekas budak yang kemudian memeluk Islam tesebut. Sementara itu demi menjawab doa Sang Kekasih Allah swt mengirim 2 malaikat gunung untuk menghibur beliau seraya berkata,

Wahai Rasulullah, maukah engkau jika aku jatuhkan dua gunung kepada mereka? (Jika engkau mau, maka akan aku lakukan).”

Namun Rasulullah menolak bahkan menjawab, “Aku justru berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang rusuk mereka generasi yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun.

Doa yang tulus dipanjatkan Rasulullah tersebut dikabulkan Allah swt. Terbukti beberapa tahun kemudian penduduk Thaif memeluk Islam. Bahkan menjadi satu-satunya suku Arab yang tak satupun pemeluknya murtad setelah wafatnya Rasulullah beberapa tahun kemudian.     

Ahamdulillah Allah swt memberi kami kesempatan mengunjungi kota tersebut pada November lalu dengan menaiki bus yang disediakan travel umrah yang kami gunakan. Ntah mengapa Thaif yang menyimpan peristiwa bersejarah tersebut baru beberapa tahun belakangan ini menjadi salah satu tujuan para jamaah haji dan umroh. Cukup banyak tempat ziarah yang bisa dikunjungi di kota ini. Di antaranya adalah masjid dan makam sahabat Nabi Abdullah bin Abbas, Masjid Addas, Masjid Kuk, dan Pasar Ukaz.

Kami melaksanakan shalat jama’ Zuhur dan Ashar di masjid Abdullah bin Abbas. Abdullah bin Abbas RA  adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang berpengetahuan luas dan banyak hadis sahih yang diriwayatkan melalui dirinya. Ia jugalah yang menurunkan seluruh khalifah dari Bani Abbasiyah.Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia baru berusia 13 tahun. Namun hubungannya dengan Rasulullah sangat dekat. Rasulullah sangat menyayanginya.

Ya Ghulam ( anak kecil) , maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?” tanya Rasulullah. “Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah, maka kamu akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu.” 

Nasihat tersebut rupanya dipegang Abdullah bin Abbas hingga akhir hayatnya. Saking waro dan tawadhunya, di akhir-akhir hidupnya ia memilih tinggal di Thaif dari pada di Mekkah yang makin hari makin ramai. Abdullah bin Abbas wafat pada usia 71 tahun. Jasadnya kemudian dikebumikan di tempat dimana kini berdiri masjid Abdullah bin Abbas.  

Kini Thaif selain penduduknya yang taat menyembah hanya kepada Allah swt, alamnyapun subur dan menjadi salah satu daerah pertanian terpenting di Arab Saudi. Aneka buah-buahan seperti kurma, jeruk, anggur, plum, tin dll dengan mudah dapat kita temui di kota tersebut.

Demikian juga beragam macam sayur-mayur dan bunga-bungaan.  Bunga-bungaan seperti mawar, misk, dan yasmin dijadikan sebagai bahan baku untuk membuat minyak wangi. Hasil tanaman yang melimpah ruah tersebut sebagian diekspor ke berbagai negara. Rashed Husain Alqorashei Factory sebuah tempat penyulingan bunga mawar  di Thaif adalah salah satu tujuan wisata Thaif. Di tempat tersebut pengunjung dapat menyaksikan presentasi bagaimana cara  mengolah bunga mawar hingga menjadi parfum, sabun, lotion dll. 

Tak jauh dari tempat tersebut dapat ditemui toko yang menjual hasil sulingannya. Selanjutnya untuk mengisi perut yang telah mulai keroncongan sebuah rumah makan yang menyajikan nasi mandi yang merupakan makanan khas Timur Tengah lengkap dengan teh herbalnya siap menanti.  

Thaif juga rupanya dapat dinikmati melalui kereta gantung ( cable car/periferik). Dari atas kereta yang meluncur di atas bebatuan cadas ini kita dapat melihat jalan raya mulus yang meliuk bagaikan ular di tengah bentangan pemandangan pegunungan yang mengelilingi Thaif.

Hal lain yang tak kalah menarik dari Thaif adalah keberadaan pohon Zaqqum, pohon yang namanya tercantum dalam surat Al-Waqiah ayat 52-56. Dalam ayat tersebut diceritakan bahwa pohon langka yang durinya tajam dan besar tersebut adalah makanan penghuni neraka. Pohon yang rasanya pahit luar biasa ini kabarnya tidak tumbuh dimanapun kecuali di kota Thaif ini.  

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 9 Januari 2023.

Vien AM.

Read Full Post »