Menjadi pemimpin bagi sebagian orang, dengan berbagai alasan, adalah sebuah impian dan cita-cita. Ada yang karena ingin memperbaiki/merubah keadaan, ada yang karena kewajiban dan tanggung-jawab sebagai pemilik suatu usaha, ada yang karena ingin membantu dan mengembangkan orang lain, tapi ada juga yang karena ambisi pribadi semata ingin berkuasa. Islam tidak melarangnya bahkan menganjurkannya, namun dengan syarat-syarat tertentu. Diantaranya harus adil, jujur, tidak zhalim dll.
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam/pemimpin, bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):124).
“Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim).
Abu Sa’id al Khudri menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, sedangkan manusia paling dibenci oleh Allah dan paling jauh tempat duduknya adalah pemimpin yang zhalim.” (Hadits Riwayat Imam Tirmidzi no.1329)
Sayangnya tidak semua orang yang ingin menjadi pemimpin mempunyai kemampuan untuk memimpin dengan baik. Ciri-ciri pemimpin yang baik diantaranya adalah yang tidak egois, mau mendengar pendapat orang lain, sabar, tidak cepat marah ketika dikritik dan tidak segan turun menemui orang yang dipimpinnya. Namun sebaliknya ia harus tetap tegas, tidak mudah terpengaruh pendapat dan percaya laporan bawahannya.
“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. ( Terjemah QS.Al-Ahzab (33:21).
Rasulullah Muhammad saw adalah contoh keteladanan terbaik sepanjang masa. Tidak saja akhlaknya namun sebagai pemimpinpun beliau amat sangat patut dicontoh. Rasulullah selalu bermusyawarah dalam menghadapi semua masalah besar. Pada perang Khandaq ( Parit) beliau tidak segan menerima usulan Salman Al-Farisi agar menggunakan parit sebagai pertahanan kota. Padahal Al-Farisi adalah orang Persia yang belum lama memeluk Islam hingga banyak sabahat yang meragukannya. Namun Rasulullah mempercayainya karena Al-Farisi mengajukan usulan berdasarkan pengalaman negrinya ketika sukses melawan musuh yang menyerangnya. Tampak jelas untuk urusan dunia Rasulullah tidak ingin mencampur-adukkannya dengan urusan akhirat yang beliau ketahui.
“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (HR. Muslim, no. 2363).
Sementara itu pada perang Uhud ketika Rasulullah meminta pendapat para sahabat untuk bertahan di dalam kota ( Madinah) atau keluar menghadapi musuh di luar kota, Rasulullah mengalah pada keputusan mayoritas, yaitu keluar kota. Padahal sebetulnya Rasulullah lebih memilih bertahan di dalam kota.
Begitu pula dalam mengangkat pemimpin, Rasulullah selalu mempertimbangkan banyak hal. Contohnya adalah Abu Dzar al-Ghifari, seorang sahabat yang memohon agar ia diberi kepercayaan mendapat sebuah jabatan kepemimpinan.
“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, sedangkan kepemimpinan adalah sebuah amanah. Dan kepemimpinan itu pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil haknya dan menunaikan kewajiban yang ada padanya.”
Abu Dzar al-Ghifari adalah seorang sahabat ahli ibadah yang dikenal zuhud (hidup sangat sederhana dan tidak memikirkan kenikmatan dunia). Beliau juga seorang yang tegas dalam membela kebenaran serta selalu bersikap jujur tanpa kompromi. Namun ternyata Rasulullah tidak memandangnya sebagai modal yang cukup untuk menjadikannya sebagai pemimpin.
Rasulullah justru memandangnya sebagai kelemahan dalam hal diplomasi karena seorang pemegang kekuasaan dituntut memiliki keluwesan, strategi dan kesabaran dalam menghadapi keragaman masyarakat. Kepemimpinan membutuhkan kombinasi antara iman, akhlak dan kemampuan/keterampilan mengelola manusia yang beragam serta membangun sistem yang baik.
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.”
Ayat 72 surah Al-Ahzab di atas menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah amanat yang begitu berat, sampai-sampai gunung yang kokohpun menolaknya. Tetapi, manusia dengan segala kelemahannya justru berani memikulnya sering kali bahkan bukan karena kemampuannya melainkan karena kesombongan dan ambisi semata. Hingga akhirnya membuahkan kehancuran bukan hanya bagi dirinya sendiri tapi juga orang-orang yang dipimpinnya.
Jabatan dan kepemimpinan sering dianggap sebagai simbol kehormatan, kekuasaan dan kekayaan. Padahal seorang pemimpin harus mempertanggungkan jawabkan kekuasaannya tidak hanya kepada yang dipimpinnya tapi juga kepada Allah swt. Imbalan bagi pemimpin yang adil dan amanah adalah surga tertinggi. Sebaliknya neraka Jahanam bagi yang zhalim.
Pemimpin zhalim juga telah didoakan agar mengalami kesukaran oleh Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan, “Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim).
Sayangnya hari ini kita dapat melihat banyak pemimpin yang mengaku Muslim namun zhalim. Bahkan sesama Muslimpun mereka tidak saling menjaga hubungan dengan baik. Mereka tampaknya lupa betapa pentingnya persatuan antar sesama Muslim yang sejatinya adalah kunci kekuatan Islam yang telah terbukti nyata pada masa-masa kejayaan Islam di masa lalu.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).
“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling memutuskan hubungan, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apa yang terjadi di Palestina selama puluhan tahun, sungguh merupakan buah tidak bersatunya umat Islam hingga mudah diperdaya musuh-musuh Islam. Juga dengan yang terjadi di Sudan belakangan ini dimana sesama Muslim saling menumpahkan darah, na’udzubillah min dzalik …
Perpecahan dan peperangan sesama Muslim dalam sejarah Islam bukanlah hal baru. Bahkan pada masa nabipun telah ada, itulah kaum munafikun. Sejarahpun mencatat hal tersebut membuat lemah dan kalahnya umat Islam. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah balasannya, yaitu neraka Jahanam yang merupakan neraka terdasyat, bersama dengan orang-orang kafir yang selama di dunia mereka jadikan teman akrab bahkan pelindung, na’udzu billah min dzalik …
“Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela`nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal”, ( Terjemah QS. At-Taubah (9):68).
Bila saat ini para pemimpin dzalim terus saja meneruskan kedzalimannya, tidak berlaku adil kepada rakyatnya, tidak segera bertobat bahkan terus menjalin hubungan mesra dengan musuh-musuh Islam yang nyata-nyata telah menyakiti kaum Muslimin seperti yang terjadi di Palestina, jangan lupa keadilan hakiki pasti terjadi.
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak”. (Terjemah QS.Ibrahim (14):42).
Dan lebih menariknya lagi, adil tidak hanya kepada sesama Muslim tapi juga kepada umat agama lain selama tidak memusuhi Muslim.
Wallahu’alam bish shawwab.
Jakarta, 15 Juni 2026 / 29 Dzulhijjah 1447 H.
Vien AM.