Untuk kesekian kalinya, GSF, sebuah gerakan solidaritas maritim internasional yang digagas oleh masyarakat sipil global untuk menembus blokade laut Israel di Jalur Gaza, mengalami hambatan besar. Global Sumud Flotilla 2.0 yang terdiri lebih dari 54 kapal dari berbagai negara dan mengangkut 428 aktivis dari 50 negara tersebut dibajak oleh tentara Zionis Israel di perairan internasional dekat pulau Siprus pada 18 Mei 2026. GSF 2.0 dengan membawa bantuan medis, pangan, dan logistik untuk masyarakat Gaza memulai pelayaran globalnya dari pelabuhan Barcelona, Spanyol, pada 12 April 2026.
Tentara Israel menembaki sejumlah kapal setelah akhirnya membajak seluruh kapal dan tanpa rasa bersalah menculik semua aktivis yang berada dalam kapal-kapal tersebut. Termasuk 9 aktivis asal Indonesia yang tengah menjalankan tugas jurnalistik. Ironisnya lagi, Netanyahu dengan bangga memberikan ucapan selamat kepada pasukannya yang telah melakukan operasi illegal tersebut. Ia menuduh armada kemanusiaan tersebut hanya sebagai aksi propaganda yang melayani kepentingan Hamas.
Tak cukup itu saja, setiba di pelabuhan Ashdod menuju ke penjara, dengan tangan terikat ke belakang punggung mereka dipaksa bersujud, ditendang dan dipukul bila menolak. Sementara telinga mereka harus menerima maki-makian Itamar Ben-Gvir, menteri Keamanan Nasional Israel berhaluan sayap kanan, yang terus menunjuk-nunjuk para aktivis sebagai teroris. Ironisnya lagi, perbuatan busuk tersebut secara sengaja direkam dan kemudian diunggah ke media sosial.
Sujud yaitu posisi ujung jari kaki, lutut dan kepala menempel di tanah di hadapan seseorang, adalah posisi tertinggi merendahkan diri seseorang. Dan semua manusia apapun bangsa dan agamanya mengakui hal tersebut. Itu sebabnya para raja yang otoriter hampir selalu menuntut rakyatnya sujud kepadanya.
Namun Islam melarang hal tersebut. Sujud hanya diperkenankan kepada Sang Pencipta Allah Azza wa Jala, satu-satunya tuhan segala yang ada di langit maupun di bumi. Malaikat , burung bahkan bayang-bayangpun bersuijud kepada-Nya. Satu-satunya mahluk yang menolak bersujud pada-Nya hanya Iblis, dedengkot jin berhati syaitan. Ini tertulis pada ayat 30 dan 31 surat Al-Hijr berikut, “ Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu”.
Begitu pula Maryam ibu nabi Isa as yang umat Nasrani menyebutnya Yesus Kristus. ” Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`”.(Terjemah QS. Ali Imron(3):43).
Itu sebabnya umat Islam melakukan sujud minimal 34x sehari semalam yang dibagi dalam 5x shalat sebagai bentuk ketundukan hamba kepada Tuhannya. Dan sekaligus demi menjalankan perintah dan meraih ridho dan kasih-sayang-Nya.
Maka wajar saja bila sikap pongah Ben-Gvir yang menganggap dirinya seolah-olah tuhan menimbulkan kecaman lebih dari 20 negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Italia, Kanada, juga Indonesia. Beruntung 3 hari kemudian berkat sejumlah diplomasi yang dilakukan sejumlah pihak, para aktivis tersebut berhasil dideportasi menuju Turki untuk kemudian dipulangkan ke negara masing-masing.
Selanjutnya dari pengakuan para aktivis itulah diketahui selama 3 hari mereka diperlakukan dengan semena-mena, dengan amat sangat tidak manusiawi. Pemerintah Kanada mengatakan telah menerima informasi yang merinci perlakuan mengerikan terhadap warganya. Adapun pemerintah Jerman dan Spanyol mengonfirmasi bahwa sejumlah warga mereka mengalami cedera.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni melontarkan kritik keras terhadap Uni Eropa. Di hadapan para pengusaha Italia, Meloni menuding Brussel telah berubah menjadi raksasa birokrasi yang terlalu sibuk mengatur berbagai aspek kehidupan, tetapi lemah dalam menghadapi tantangan global. Sementara Perancis menjatuhkan sanksi khusus larangan masuk Perancis bagi Ben-Gvir. Sedangkan presiden terpilih Irlandia Catherine Connolly yang sejak lama telah menyuarakan dukungannya terhadap Palestina, secara terang-terangan menyebut Israel sebagai negara teroris.
Penyelenggara Global Sumud Flotilla 2.0 menyatakan setidaknya ada 15 kasus kekerasan seksual serta perlakuan keji lainnya. “Setidaknya ada 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan. Ada yang ditembak dengan peluru karet dari jarak dekat. Puluhan orang mengalami patah tulang”.
Tapi hebatnya semua aktivis yang mengalami siksaan berkata, “ Kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami rakyat Palestina setiap hari”. Mereka juga menyatakan tidak kapok dan terus akan meneruskan cita-cita mulai untuk membantu penderitaan rakyat Palestina.
https://www.bbc.com/indonesia/articles/c0r2j2zznqzo
Namun dibalik itu semua ternyata Israel tidak melepas seluruh aktivis GSF. Seorang Perempuan usia 54 tahun bernama Zohar Regev Chamberlain, adalah satu-satunya aktivis yang tetap yang ditahan dan ditolak pembebasannya oleh pihak berwenang Israel. Zohar lahir sebagai sebagai Yahudi, tumbuh dan besar di sebuah pemukiman Israel. Hingga pada suatu hari di tahun 2004, diusianya yang ke 34, ia memutuskan meninggalkan tempat asalnya untuk berpindah ke Spanyol, lalu menetap lama di Belanda dan Jerman.
Dua tahun kemudian, diawali karena sedih melihat penderitaan rakyat Palestina, Gaza khususnya, iapun memeluk Islam. Dua tahun kemudian yaitu pada tahun 2008 untuk pertama kalinya bergabung dengan GSF demi membela Gaza. Tahun ini ia kembali bergabung dalam GSF 2.0 dan ikut ditahan pemerintah Israel. Tapi karena ia masih memegang paspor dan kewarganegaraan Israel, nasibnya berbeda dari rekan‑rekannya. Hingga detik ini ia masih ia ditahan dan akan diseret ke pengadilan dengan dakwaan berat pengkhianatan terhadap negara.
Sungguh mengenaskan. Sementara masih banyak Muslim yang tidak peduli terhadap penderitaan saudaranya di Palestina, seorang Israel berdarah Yahudi berani mengorbankan dirinya untuk Palestina. Padahal dalam pengakuannya ia mengatakan bahwa ia memiliki kehidupan yang sangat nyaman, aman dan makmur di Eropa. Ia bisa saja diam dan menikmati hidupnya. Namun hatinya tak kuat menahan rasa sakit hati melihat penderitaan anak Gaza yang setiap hari kehilangan orang-orang yang dikasihi, kehilangan rumah, sekolah dll.
GSF yang merupakan kepanjangan Global Sumud Flotilla, “Sumud” yang berasal dari bahasa Arab yang artinya keteguhan, ketabahan atau daya tahan, Flotilla dalam Bahasa Spanyol artinya armada kecil kapal, sungguh nama yang tepat untuk menunjukkan solidaritas dunia dalam melihat keteguhan rakyat Palestina terutama Gaza dalam menghadapi krisis. Koalisi kemanusiaan diluar batas agama, wilayah dan kebangsaan ini terdiri dari ribuan relawan, aktivis hak asasi manusia, dokter dan jurnalis dari puluhan negara ini bersatu untuk membela dan membantu penderitaan Palestina yang sudah bertahun-tahun.
Israel dengan dibantu AS sebagai pelindungnya, telah benar-benar keterlaluan dalam kebiadaban dan kesewenang-wenangannya. Gaza Palestina meski katanya sedang dalam keadaan gencatan senjata tapi setiap hari korban terus berjatuhan karena gempuran tentara Israel terus saja terjadi. Yang paling menderita sudah pasti adalah kaum perempuan dan anak-anak. Mereka kehilangan segalanya, tidak hanya orang-tua dan orang-orang yang dikasihinya tapi juga kesehatan dan mental mereka.
Laporan menyebutkan lebih dari 1 juta anak Gaza menderita trauma akut. Saking ketakutannya banyak diantara mereka yang secara mendadak kehilangan kemampuan untuk berbicara. Hampir setiap hari menyaksikan orang-orang yang disayangi meregang nyawa di depan mata, melihat darah berceceran bahkan ikut mencari potongan2 tubuh manusia sungguh bukan hal mudah untuk dilupakan begitu saja.
Ironisnya karena merasa tak satupun negara berani melawan tindakan brutal yang dilakukan tentara Israel dan maka demi nafsu merealisasikan mimpi membentuk Israel Raya, sejak beberapa bulan terakhir gempuranpun merambah ke negara-negara tetangga seperti Lebanon, Yaman dan Iran. Dan seperti juga serangan di Gaza, sipilpun ikut menjadi korban.
Langkah perjuangan GSF tidak berhenti pada pembebasan aktivis. Saat ini fokus GSF telah beralih pada upaya hukum pidana internasional guna menyeret para petinggi militer dan politik Israel ke pengadilan. Hal ini merujuk pada sejumlah sanksi dan perintah penangkapan yang sudah mulai diterbitkan oleh sotoritas internasional.
“Membangun kasus untuk dibawa ke pengadilan. Sudah ada 35 arrest warrant (perintah tangkap) kepada IDF (Israel Defense Forces) dan pemimpin-pemimpinnya karena terkait dengan Gerakan Sumud atas berbagai pelanggaran yang mereka lakukan,” ujar Steering Committee GSF, Maimon Herawati, yang juga merupakan dosen tetap Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, pada Ahad, 24 Mei 2026.
Ia menegaskan bahwa misi utama dari pelayaran kemanusiaan ini adalah kemerdekaan mutlak bagi para tahanan Palestina. Juga untuk membantu kekejaman sistemis yang dihadapi oleh ribuan warga asli Palestina yang ditahan tanpa kepastian hukum.
“9.000 lebih saat ini dalam penjara dan saya harap teman-teman media meng-highlight ini semua. 400 di antaranya adalah anak-anak. Lebih dari 200 adalah perempuan. Dan semua mengalami penyiksaan yang di luar batas kemanusiaan. Kami ingin membebaskan tahanan Palestina, kerja belum selesai sampai seluruh tahanan Palestina bebas,” pungkasnya.
Berita terakhir, selain mengutuk keras tindakan Israel yang dengan pongah memamerkan telah menyerobot 70 % wilayah Gaza, akhirnya PBB juga berani memasukkan Israel ke dalam daftar hitam kekerasan seksual di zona konflik (29 Mei 2026). Pelapor khusus PBB tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, Reem Alsalem, mengatakan keputusan ini sebenarnya sudah lama tertunda.
“Saya sebelumnya telah menyatakan kekecewaan saya karena Israel belum tercantum, mengingat kekerasan seksual sistematis, berskala besar, dan mengerikan yang dilakukan Israel terhadap perempuan, laki-laki, dan anak-anak Palestina yang telah didokumentasikan dan diverifikasi secara independen,” imbuhnya.
Akhir kata sebagai manusia sekaligus Muslim mari kita minimal mendoakan agar usaha mulia GSF membuahkan hasil sesuai harapan. Semoga Allah swt membalas kebaikan para aktivis baik yang Muslim maupun yang bukan dengan balasan yang lebih baik di dunia, dan akhirat sebagai tambahan khusus bagi yang Muslim, aamiin yaa robbal ‘aalamiin … Syukur Alhmdulillh bila Sang Khaliq memberi bonus hidayah bagi yang non Muslim. Allahu Akbar …
Wallahu’alam bish shawwab.
Vien AM.
Jakarta, 2 Juni 2026 / 17 Dzulhijjah 1447 H.
Leave a comment