Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Malaikat, jin dan manusia adalah 3 makhluk ciptaan Allah yang sering disebut dalam Al-Quranul Karim. Perbedaan pokok di antara ketiganya adalah dari bahan penciptaannya. Malaikat terbuat dari materi cahaya, jin dari materi api dan manusia dari materi tanah.

Dalam tafsir Ibnu Katsir diberitakan bahwa Iblis, yang merupakan kakek moyang jin, sebagaimana Adam yang merupakan kakek moyang manusia, awalnya adalah hamba yang shaleh. Bersama malaikat ia rajin beribadah.  Hingga tiba suatu saat Allah swt menciptakan Adam dan memerintahkan malaikat dan Iblis agar bersujud kepada Adam. Perintah ini sebenarnya hanya untuk mengetahui seberapa jauh tingkat ketaatan keduanya kepada Sang Khalik. Dan ternyata karena kesombongannya Iblis menolak. ia merasa bahwa dirinya yang terbuat dari api, jauh lebih terhormat dari pada Adam yang hanya terbuat dari tanah. Berikut rekaman surat Al-Araaf ayat 11 dan 12 yang mengabadikan peristiwa tersebut.

“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.

 Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?”

Menjawab Iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah“.

Kesombongan yang diperlihatkan Iblis di atas adalah kedurhakaan Iblis pertama terhadap Allah Azza wa Jalla. Berbeda dengan Adam yang begitu menyadari kekeliruannya ketika ia tetap memetik buah Kuldi padahal Allah melarangnya, ia langsung bertobat. Sebaliknya dengan Iblis. Bukannya menyesal, ia malah menantang Sang Khalik agar hukumannya ditangguhkan hingga akhir zaman nanti.

Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan“.

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah(2):35-37).

Allah berfirman: “Turunlah kamu ( Iblis) dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.

 Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”.

Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”. (QS.Al-Araaf(7):13-18).

Inilah  yang membedakan antara keduanya, meski akibatnya keduanya sama-sama harus  turun ke muka bumi.  Adam ( dan Hawa) turun ke bumi dalam keadaan terhormat, bersih dari dosa. Sementara Iblis turun dalam keadaan terhina dan tercela bahkan terkutuk. Inilah awal permusuhan dan perseteruan antara bangsa jin dan bangsa manusia, yang akan terus terjadi hingga akhir zaman nanti.

Namun dalam perkembangannya, tidak semua bangsa jin itu jahat, hina dan terkutuk. Seperti juga bangsa manusia yang tidak semua bersih dan bebas dari dosa. Jadi, baik jin maupun manusia ada yang beriman, sholeh dan taat namun ada juga yang ingkar dan kafir.  Hal ini terlihat dari surat Al-Jin  ayat 11 hingga 15 berikut.

“ Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Dan sesungguhnya kami mengetahui, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada) Nya dengan lari”.

“ Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan”.

“ Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang ta`at dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang ta`at, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam”.

Sementara syaitan sebenarnya bukanlah makhluk melainkan sifat jahat yang bisa dimiliki baik oleh jin maupun manusia.

 “ dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,  yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS. An-Naas(114):4-6).

Secara lengkap dan jelas surat  Jin menceritakan bagaimana proses berimannya sebagian jin. Dikisahkan, sebelum kedatangan Rasulullah saw, bangsa jin biasa naik ke langit untuk mencuri dengar pembicaraan para malaikat, hingga para jinpun bisa meramalkan masa depan manusia, apa yang akan terjadi dan menimpa manusia. Hal ini kemudian disampaikan kepada para dukun dan tukang-tukang sihir, tentu saja dengan tambahan disana sini. Itu sebabnya sihir dan ilmu hitam di masa itu sangat populer dan marak berkembang di kalangan masyarakat, karena sering kali bisa mendekati kenyataan.

Hingga suatu saat mereka terkejut mendapati pintu langit dipenuhi penjagaan yang sangat ketat hingga mereka tidak lagi mudah mencuri dengar rahasia langit. Maka Iblispun sebagai raja jin memerintahkan pasukannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Menyebarlah kalian semuanya di muka bumi dari barat sampai timur, dan perhatikanlah dengan seksama apa sebenarnya yang telah terjadi.”

Maka setan-setan dari bangsa jin itu kemudian menyebar, mengelilingi muka bumi dari barat ke timur, hingga  sampailah mereka di kota Makkah. Di atas sebuah masjid yang  dikemudian hari dinamakan masjid  Jin, mereka melihat cahaya terang memancar dengan terangnya, hingga mencuat ke ujung langit. Mereka segera mendekat dan memperhatikan apa yang sedang terjadi di dalamnya. Ternyata di dalam sana Rasulullah Muhammad saw sedang membacakan ayat-ayat suci Al-Quran.

“ Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya. ”. (QS. Al-Jin (72):19).

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata:

“Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak”. (QS. Al-Jin (72):1-3).

Rupanya itulah yang terjadi. Sebagian jinpun beriman. Dan sejak itu pulalah pintu langit dijaga ketat oleh para malaikat. Maka sejak itulah bangsa jin tidak lagi dapat mencuri dengar pembicaraan di langit, kalau tidak ingin dikejar panah api yang dilontarkan oleh malaikat penjaga.

“ dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)”. (QS. Al-Jin (72):8-9).

Akhir kata, dari ayat-ayat di atas saja ada beberapa kesimpulan yang tampaknya dapat kita ambil,

1. Sombong, adalah sifat buruk yang tidak boleh disepelekan begitu saja. Iblis, hamba Allah yang tadinya adalah hamba yang sholeh, ternyata terpeleset hanya karena nafsu sombongnya, yang merasa api yang menjadi materi dasar pembuatannya itu lebih baik dari  tanah yang merupakan materi dasar penciptaan Adam as.

 « Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan meski hanya sebiji sawi »(HR. Ibnu Majah ).

2. Taubat, adalah perbuatan yang sangat mulia dan tinggi di sisi Allah swt. Nabi Adam as dan istrinya, Hawa telah membuktikan hal tersebut.

3.  Nasab seseorang tidak menentukan kesholehan. Buktinya anak cucu Iblis yang telah dikutuk karena kesombongan dan keenggannya untuk bertobat ,tetap ada yang sholeh. Sebaliknya anak cucu Adam yang telah diampuni dosa dan kesalahannya, juga tetap ada yang kafir.

4. Iblis dan pasukannya, yaitu setan dari jenis jin dan manusia akah senantiasa mengganggu kita, hingga akhir zaman nanti. Tujuannya agar bisa menjadi ‘teman’mereka dalam memasuki neraka jahanam.

5. Hidup di dunia hanya sementara, akhiratlah tempat kembali. Ibaratnya kita sedang menjalani ujian yang hasilnya akan menentukan kemana nanti kita akan kembali, surga atau neraka. Yang sayangnya kita tidak pernah tahu, kapan ujian tersebut harus kita serahkan ke “penguji”.

6. Tidak perlu lagi mempercayai para dukun dan tukang sihir karena bangsa jin sebagai sumber kepercayaan yang dulunya bisa mencuri dengar rahasia langit, sejak diutusnya Rasulullah saw ke muka bumi ini tidak dapat lagi melakukan hal tersebut.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Agustus 2013.

Vien Muhadi.

Read Full Post »

Muhasabah atau introspeksi diri adalah ciri seorang Muslim yang baik. Ini adalah usaha seorang hamba untuk mengetahui seberapa  besar amal ibadah yang telah dikerjakannya  selama ini. Muhasabah diperlukan agar ia dapat mengira-ngira apakah perbuatannya selama itu bisa dihitung sebagai amal ibadah, sebagai tiket untuk memasuki surga-Nya, kelak setelah hari yang dijanjikan-Nya itu tiba.

Merenung,  mengingat, menghitung dan mengkalkulasi diri amal apa yang belum sempat dikerjakan,  seberapa banyak dosa yang telah dilakukan, dan  sudahkah ia bertobat atas kesalahan-kesalahan tersebut, adalah merupakan bagian dari Muhasabah. Dengan kata lain, Muhasabah adalah sebuah upaya untuk selalu menghadirkan kesadaran bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya itu senantiasa disaksikan oleh Sang Khalik, bahkan dihisab dan dicatat oleh 2 malaikat penjaga, yaitu Raqib dan Atid.

Itu sebabnya alangkah baiknya bila kita mau menghisab diri sebelum kita dihisab oleh Nya di hari perhitungan ( Al-Yaumil Hisab) nanti, dengan tujuan agar kita dapat segera memperbaiki diri, menuju takwa. Ini adalah bagian dari persiapan diri.  Karena bekal manusia yang paling baik dan berharga dalam menemui-Nya adalah taqwa.

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok (kiamat). Bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Hasry(59):18).

Umar r.a pernah mengucapkan kata-katanya yang sangat terkenal: “Haasibu anfusakum qabla antuhasabu” (Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab).

Al-Hasan rahimahullah mengatakan: “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti (untuk muhasabah) saat bertekad (untuk berbuat sesuatu). Jika (amalnya) karena Allah, maka ia terus melaksanakannya dan jika karena selain-Nya ia mengurungkannya.”

Dari ucapan Al-Hasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Muhasabah juga dapat bermakna berhenti. Yaitu berhenti sejenak, merenung,  untuk mengevaluasi apakah apa yang kita perbuat itu lillahi taála, murni demi mencari keridhoan Allah swt, bukan hal lain.

Muhasabah dibagi menjadi 2, yaitu berhenti untuk merenung sebelum melakukan kegiatan dan yang kedua, berhenti untuk merenung setelah melakukan kegiatan. Perumpamaan Muhasabah seperti ini ibarat kendaraan yang melaju cepat ke suatu tempat. Ia berhenti untuk memastikan apakah jalan yang dilaluinya sudah tepat.  Sekaligus memeriksa apakah tujuan berikutnya sudah benar pula.

Karena ada kalanya seseorang beribadah dengan tekun, setiap hari. Namun ternyata tanpa disadarinya sebenarnya ia telah kehilangan ruhnya. Mengapa? Karena bisa jadi ia melakukannya hanya karena kebiasaan, karena rutinitas. Meski ini masih jauh lebih baik daripada karena riya, misalnya. Ini bukan hal yang mustahil terjadi. Sebab bisa saja, karena sudah terbiasa dinilai sebagai ahli ibadah, iapun jadi malu jika tidak beribadah seperti yang biasa dilakukannya. Namun yang paling parah jika ibadah tanpa disadari telah mengarah kepada kemusryikan, na’udzubillah min dzalik.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS.Al-Anám(6):82).

Muhasabah juga bertujuan agar seorang yang beriman tidak meremehkan apalagi terbiasa melakukan dosa-dosa kecil.  Karena dosa kecil yang dilakukan hampir setiap hari, akhirnya bisa menumpuk dan menjadi dosa besar..

Untuk itu seorang Muslim seyogyanya senantiasa berpikir dahulu sebelum bertindak. Sebaiknya dipikirkan dahulu secara matang apakah tindakan yang akan dilakukannya itu memang benar-benar bermanfaat, apakah lebih banyak manfaat daripada mudharatnya. Jangan sampai ibadah hanya sekedar ikut-ikutan bukan berdasarkan ketaatan kepada-Nya.

Ada beberapa tahapan Muhasabah, diantaranya adalah :

1. Ma’rifatullah, yaitu mengenal Allah swt.

Ini adalah tahap awal Muhasabah  Semua Muslim pasti tahu bahwa kita ini adalah hamba Allah, yang mendapat tugas untuk beramal sholeh di dunia. Kita juga pasti tahu bahwa akhirat dengan surga dan nerakanya adalah kehidupan nanti, di akhirat. Dan setiap Muslim yang baik pasti masuk surga adalah cita-cita.

Untuk itu sudah sewajarnya bila kita ini harus mengenal Sang Pemilik, yang tidak saja memiliki surga namun juga diri kita ini. Ada beberapa cara untuk mengenal Sang Pencipta, Allah swt, yaitu melalui ayat-ayat Al-Quranul Karim ( ayat Qauliyah),  merenungkan fenomena alam semesta ( ayat Kaulinah), mengenal sifat-sifat-Nya dan memperhatikan penciptaan diri sendiri. Ini adalah hak semua manusia. ( Baca :  http://vienmuhadisbooks.com/2009/07/01/bab-i-hak-manusia/ ).

 “Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja ( Al-Malik), Yang Maha Suci ( Al-Quddus) , Yang Maha Sejahtera ( As-salaam ), Yang Mengaruniakan keamanan ( Al-Mukmin), Yang Maha Memelihara ( Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa ( Al-Azis), Yang Maha Kuasa ( Al-jabbar), Yang Memiliki segala keagungan ( Al-Mutakabbir), Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan ( Al-kholiq)), Yang Mengadakan (Al-Barri’), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushowwir), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ».(QS.Al-Hasry (59) :23-24).

2.Musyaraqah, yaitu membuat perjanjian dengan Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan”.(QS.Qaaf(50):32-34).

Seperti juga pada sejumlah peristiwa penting dalam hidup, pernikahan misalnya, akad atau perjanjian antara calon mempelai lelaki dan perempuan adalah hal yang sangat menentukan. Demikian pula dalam Muhasabah.

Perjanjian Sang Khalik dengan hamba-Nya adalah suatu ikatan yang  teramat kuat dan sangat menentukan.  Inilah perjanjian dimana Alllah swt menawarkan surga  sebagai balasan bagi para hamba yang senantiasa memelihara dan mentaati aturan-aturan-Nya. Aturan-aturan tersebut tercantum jelas dalam Al-Quranul Karim dan diperjelas lagi secara detil dalam Sunah Rasul-Nya.

Lafaz  Syahadah yang merupakan pintu gerbang seorang Muslim adalah contoh yang paling tegas. Juga bacaan dalam Iftitah “ Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil ‘alamiin”, yang artinya : “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” yang senantiasa kita baca dalam shalat kita.

3. Muraqabah, yaitu upaya diri untuk senantiasa merasa terawasi oleh Allah ( Muraqabatullah).

“ … Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. (QS. Al-Baqarah(2): 235).

Seorang Muslim harus meyakini bahwa Allah swt selalu mengawasi dirinya. Apapun dan dimanapun kita berada,  akan diketahui-Nya. Tidak ada sesuatupun yang dapat disembunyikan dari-Nya, bahkan bisikan yang  ada di dalam hati sekalipun. Kesadaran inilah yang mustinya akan membuat seseorang senantiasa berhati-hati dalam bertindak.

“…Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Hadid(57):4), “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya”.(QS. Qoof(50):16),

Nabi saw bersabda, “Jangan engkau mengatakan engkau sendiri, sesungguhnya Allah bersamamu. Dan jangan pula mengatakan tak ada yang mengetahui isi hatimu, sesungguhnya Allah mengetahui”. (HR. Ahmad).

Muraqabatullah atau kesadaran tentang adanya pengawasan Allah yang tinggi akan melahirkan Ma’iyatullah (kesertaan Allah). Contohnya adalah peristiwa ketika Rasulullah saw dalam perjalanan hijrah ke Madinah dan nyaris tertangkap pasukan Quraisy. Ketika itu Rasulullah saw dan Abu Bakar ra sedang bersembunyi di dalam gua. Abu Bakar amat khawatir karena melihat pasukan telah berada di mulut gua dimana mereka berada.  Tetapi Allah swt telah membutakan orang-orang Musyrik itu hingga tidak melihat Rasulullah dan Abu Bakar. Sesuatu yang mustahil terjadi bila Sang Khalik tidak turun tangan. ( ayat 40 surat At-taubah). Muqarabah yang seperti ini akan melahirkan ketenangan jiwa.

4.Mujahadah, yaitu upaya keras untuk bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah kepada Allah, menjauhi segala yang dilarang dan mengerjakan apa saja yang diperintahkan-Nya.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS.Al-Ankabut(29): 69).

Contoh yang paling menarik dalam ber-mujahadah adalah kisah seorang sahabat bernama Ka’ab bin Malik. Kelalaian sahabat Nabi SAW yakni Ka’ab bin Malik sehingga tertinggal rombongan saat perang Tabuk adalah karena ia sempat kurang bermujahadah untuk mempersiapkan kuda perang dan sebagainya. Ka’ab bin Malik mengakui kelalaian dan kekurangan mujahadah pada dirinya secara jujur kepada Rasulullah saw.

Meski akibatnya ia harus membayarnya dengan sangat mahal. Ia diasingkan selama kurang lebih 50 hari sebelum akhirnya turun ayat Allah yang memberikan pengampunan padanya. Namun demikian ia tidak pernah menyesali keputusannya tersebut, bahkan puas menerima dan menjalaninya. Karena ini berarti Allah swt benar-benar telah mengampuni dosa dan kesalahannya dan membebaskannya dari api neraka.

dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.(QS.At-Taubah (9):118).

 5.Taslim, yaitu penyerahan diri dan kepatuhan kepada perintah Allah swt.

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu ( Muhammad)  hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”(QS. An-Nisa (4):65).

Tidak ada hukum lain diatas hukum-Nya yang lebih dipatuhinya. Seorang Muslim harus menyadari hal ini.

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”.(QS. An-Nisa (4):13).

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan”.(QS. An-Nisa (4):14).

6. Ridho.

Ini  adalah tahap akhir seorang Muslim menuju puncak pengabdiannya. Mereka ini mengerjakan amal kebaikan tanpa pamrih. Mereka ridho berhukum kepada hukum Allah meski harus bertentangan dengan adat dan kebiasaan masyarakat. Meski tidak jarang mungkin hukum tersebut  tidak menguntungkan dan tidak berpihak padanya. Bahkan boleh jadi membuatnya dimusuhi orang sekitarnya. Namun ia tidak peduli. Padahal mereka tahu bahwa balasan dari Sang Khalik baru datang nanti, setelah mereka meninggal dunia kelak. Meski tidak jarang pula siapa yang mematuhi dan berani menegakkan hukum-Nya, urusan duniapun dapat digenggamnya.

Hal ini hanya dapat dilakukan  oleh mereka yang yakin, haqqul yakin, bahwa kehidupan di dunia hanya sementara dan hanya cobaan. Negri akhirat adalah tujuan dan lebih abadi. Untuk itu Allah swtpun ridho membalas perbuatan agung  mereka. Balasan mereka adalah surga tertinggi. Itulah keberuntungan yang tiada taranya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”.(QS.Al-Bayyinah(98):8).

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”. (QS. At-Taubah(9):72).

Wallahu’alam bish shawwab.

 Jakarta, 3 Mei 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Incest ( baca Inses) yang dalam bahasa Indonesia sering disebut hubungan sumbang adalah perkawinan ( resmi maupun tidak resmi) antar anggota keluarga. Atau tepatnya hubungan seksual yang dilakukan diantara mereka. Bisa ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak lelakinya, antar saudara kandung, saudara tiri atau juga paman atau tante dengan ponakan dan sebaliknya.

Dalam dunia kesehatan modern hari ini, hubungan seperti diatas sangatlah tidak dianjurkan, karena ternyata amat berbahaya bagi kesehatan. Hubungan tersebut berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang lemah, cacat, baik fisik maupun mental. Bahkan bisa mengakibatkan kematian !

Hal ini dimungkinkan karena gen-gen pembawa sifat lemah terakumulasi pada keturunannya. Penelitian menunjukkan bahwa anak hasil perkawinan seperti ini memiliki risiko lebih besar menderita penyakit-penyakit genetik tertentu dari pada perkawinan pada umumnya. Biasanya penyakit tersebut adalah penyakit yang berhubungan dengan kelainan darah. Thalasemia dan Haemophilia adalah salah satunya. Seperti yang terjadi pernah pada abad 19, di lingkungan keluarga kerajaan Inggris, dimana perkawinan antar keluarga masih sering dilakukan.

Sejarah mencatat bahwa beberapa masyarakat kuno terbiasa melakukan perkawinan antar keluarga tersebut tanpa menyadari resikonya. Ada beberapa alasan mengapa mereka melakukan hal ini. Yang terbanyak adalah karena alasan politik, yaitu demi melanggengkan kekuasaan. Bisa juga demi alasan kemurnian keturunan atau ras.

Dalam mitologi Yunani kuno, dewa Zeus yang merupakan dewa tertinggi adalah suami dari dewi Hera, yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri. Sedangkan dalam mitologi Mesir kuno, pasangan dewa Osiris dan dewi Isis sebenarnya juga adalah 2 saudara kakak beradik.  Demikian juga Ptolemeus II, seorang raja Mesir kuno. Salah satu istrinya, yaitu Elsinoe, adalah saudara perempuannya sendiri. Juga ratu legendaris Mesir masa lalu, Cleopatra, ia pernah menikahi dua orang saudara kandungnya sendiri.

Di Indonesia hal ini juga tercatat pernah terjadi, meski hanya sebatas legenda. Yang terkenal yaitu kisah Sangkuriang dari Jawa Barat dan kisah Prabu Watugunung dari Bali. Kedua kisah ini memiliki kemiripan, yaitu tentang pemuda yang ingin mengawini ibu mereka. Keduanya awalnya tidak mengetahui bahwa perempuan jelita yang mereka cintai itu adalah ibu mereka sendiri.

Kisah Sangkuriang adalah kisah yang melatar belakangi lahirnya kota Bandung, dengan gunung Tangkuban Perahunya. Ibunya bernama Dayang Sumbi. Namun perkawinan antar anak dan ibu ini akhirnya bisa terhindari berkat usaha sang ibu yang akhirnya menyadari bahwa pemuda yang jatuh cinta padanya dan ingin mengawininya itu adalah anak kandungnya sendiri.

Ia menyadari hal tersebut setelah melihat bekas luka dikepala sang pemuda. Luka tersebut adalah luka pukulan sang ibu karena Sangkuriang telah membunuh ayah kandungnya, meski sebenarnya tidak sengaja. Kemudian Sangkuraing lari melarikan diri dan baru bertemu lagi dengan ibunya Sumbi setelah ia dewasa. Ia tidak mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah ibunya. Demikian pula Dayang Sumbi, ia tidak tahu bahwa pemuda tersebut adalah anaknya.

Sebaliknya dengan Prabu Watugunung, istrinya yaitu Dewi Sinta, sangat terlambat mengetahui bahwa suaminya ternyata adalah anak kandungnya sendiri. Ini terjadi setelah ia melahirkan 28 anak dari suaminya itu. Ia baru menyadari hal itu setelah suatu hari melihat luka di kepala sang suami. Luka tersebut adalah luka akibat pukulan sang ibu bertahun-tahun yang lalu karena kenakalan putranya, yang menyebabkannya melarikan diri dan baru bertemu lagi setelah ia dewasa.

Saat ini, sejumlah Negara barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan Australia, Incest dikategorikan sebagai suatu kejahatan pidana, dan pelakunya harus mendapat hukuman. Amerika misalnya, Incest dinyatakan illegal dengan hukuman bervariasi di tiap Negara bagiannya. Massachusetts adalah Negara bagian paling keras hukumannya yakni bisa mencapai 20 tahun penjara, sedang di Hawai hanya 5 tahun. Sementara di Inggris, hukumannya adalah 12 tahun penjara.

Pada tahun 2000-an, masyarakat Jerman pernah dihebohkan dengan kasus perkawinan Incest. Adalah Patrick dan Susan, pasangan suami istri yang juga saudara kakak beradik kandung. Perkawinan illegal mereka baru terbongkar setelah berjalan bertahun-tahun lamanya. Setelah proses panjang pengadilan, 2001 hingga 2008, keduanya akhirnya harus menjalani hukuman penjara 2 tahun.

Namun pasangan yang telah memiliki 4 orang anak, 2 cacat, tersebut sempat naik banding. Mereka beralasan bahwa larangan perkawinan Incest yang telah berlaku sejak tahun 1871 itu sudah ketinggalan zaman dan melanggar HAM. Karenanya harus diteliti kembali. Perdebatan hangatpun muncul di berbagai media massa.

Namun dengan tegas, profesor Juergen Kunze, seorang ahli genetika di Rumah Sakit Berlin, mengatakan, undang-undang ini diperlukan bukan hanya di Jerman tapi juga di seluruh Eropa.

“Penelitian menunjukkan risiko terjadinya kelainan genetik sangat tinggi akibat hubungan Incest. Kemungkinan lebih dari 50 persen anak akan cacat,” ujarnya.

Sekedar info tambahan, temuan tersebut baru terungkap beberapa tahun belakangan ini saja, yaitu diawali dengan ditemukannya teori tentang Genetika pada akhir abad 19 oleh George Mendel.

Lalu bagaimana ajaran Islam sendiri memandang perkawinan antar keluarga seperti ini ?

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”,(QS. An-Nisa (4):23).

Subhanallah … Ayat ini telah diturunkan pada abad 7, jauuuh sebelum adanya penemuan ilmiah bahwa perkawinan antar anggota keluarga beresiko menurunkan keturunan yang rentan dan lemah, bahkan bisa mematikan.

Ini makin membuktikan bahwa perintah dan larangan yang diturunkan Allah swt itu pasti mengandung hikmah, yang pada akhirnya akan menguntungkan kita. Meski sebenarnya, takwa, adalah tujuan utamanya. Artinya, tidak penting apakah ayat tersebut  menguntungkan kita atau tidak. Karena sebenarnya hanya dengan izin-Nya jua semuanya bisa terjadi.

Kisah Qabil dan Habil, dua putra nabi Adam as dan Siti Hawa adalah contohnya. Ketika itu, demi berkembangnya manusia didunia ini, Allah swt memerintahkan agar ke 6 pasang putra nabi pertama sekaligus manusia pertama di dunia ini saling menikahi saudaranya masing-masing, dengan syarat bukan kembarannya sendiri.

Namun ternyata Qabil tidak mau mentaati perintah tersebut. Dengan nekad, ia malah membunuh Habil, saudaranya yang diperintahkan menikahi kembaran Qabil. Ini terjadi setelah keduanya ditantang Sang Khalik agar melakukan kurban, dan kurban Qabil tidak diterima oleh-Nya. Inilah peristiwa pembunuhan pertama yang terjadi di muka bumi ini. Akibatnya Qabilpun menyesal dan hidup menderita selamanya.

“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.(QS. Al-Maidah(5):27).

Kalau kita cermati contoh-contoh kasus Incest yang terjadi, kebanyakan mereka adalah saudara kandung atau anak yang terpisah dari saudara atau ayah-ibunya. Mereka bertemu dan jatuh cinta tanpa mengetahui bahwa sebenarnya mereka bersaudara dan mempunyai hubungan darah.

Dari sini, satu lagi hikmah ayat Al-quran dapat kita petik, yaitu dilarangnya mengambil anak angkat tanpa menyebutkan asal usulnya. Ini yang terjadi pada Zaid bin Haritsah, putra angkat Rasulullah saw, yang sebelum turunnya perintah Allah menggunakan nama Zaid bin Muhammad. Yang dengan demikian dapat menghindarkan kemungkinan jatuh cinta dan menikah dengan saudara kandung sendiri.

Dari `Uqbah ibn Harits bahwa dia menikahi anak perempuan Ihab ibn `Azis. Maka datang kepadanya seorang perempuan maka (dia) berkata, “Sesungguhnya saya telah menyusui `Uqbah dan (perempuan) yang dia nikahi.” Maka berkata kepadanya `Uqbah, “Aku tidak tahu kalau engkau telah menyusuiku dan engkau tidak pula memberitahuku.” Maka (`Uqbah) berkendara menuju Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam di Madinah, maka dia bertanya kepada beliau. Maka bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, “Bagaimana (lagi) padahal sudah dikatakan (bahwa kalian adalah bersaudara susuan)?” Maka `Uqbah menceraikannya (istri) dan menikahi istri (perempuan) selainnya. (HR Bukhari).

Hadist diatas juga membuktikan betapa di masa lalupun, umat Islam telah terbiasa memperhatikan siapa saja saudara sesusuan mereka. Ini penting agar perkawinan Incest tidak terjadi.

Ironisnya, perkawinan yang tidak diridhoi Allah swt ini masih saja terus terjadi, di sekitar kita.  Adalah suku Polahi. Suku Polahi adalah sebuah suku masyarakat yang tinggal di suatu daerah di hutan pedalaman Gorontalo, Sulawesi Selatan. Menurut kabar, suku ini adalah suku masyarakat pelarian zaman penjajahan Belanda yang melakukan eksodus ke hutan karena takut dan tidak mau dijajah oleh kolonial Belanda, sehingga menjadikan mereka sebagai suku terasing sampai dengan saat ini.

Suku ini masih sangat terbelakang. Mereka  belum mengenal pakaian, mereka hanya mengenakan daun palma dan kulit kayu sebagai penutup syahwat mereka. Rumah mereka sangat sederhana, tak ada dinding pembatas di dalamnya. Mereka juga tak mengenal sekolah dan fasilitas kesehatan modern. Kabarnya mereka hanya bisa menghitung sampai angka 4, lebih dari itu dikatakan “banyak”. Yang lebih parah, masyarakat yang hanya berjumlah 500 orang ini terbiasa mengawini anggota keluarga mereka sendiri. Tak tanggung-tanggung, antar kakak beradikpun jadi !

Namun yang lebih menyedihkan lagi, belakangan ini kasus pemerkosaan yang dilakukan ayah terhadap anak kandung perempuannya sendiri makin meningkat. Apa yang terjadi dengan umat ini? Apa dan bagaimana tanggung jawab penguasa negri ini? Tidakkah cukup segala musibah yang melanda negri ini??

Nau’dzubillah min dzalik.

Jakarta, 23 April 2013.

Vien AM.

Read Full Post »

Teror A La Barat (2).

In any war between the civilized man and the savage, support the civilized man. Support Israel defeat Jihad” .

Tak kurang dari 10, poster besar berisikan kata-kata di atas  tertempel di stasiun subway ( kereta bawah tanah) di New York. Tulisan ini jelas memihak Israel.  Dan siapapun pasti tahu, yang diserang siapa lagi kalau bukan Islam, dengan Jihadnya. Dan yang menyakitkan lagi, perseteruan tersebut di analogikan dengan Israel sebagai orang  beradab, sementara Islam adalah liar !

Lebih menyesakkan lagi, poster yang beresiko besar memancing emosi umat Islam ini terang-terangan didukung oleh pemerintah Amerika, yang katanya toleran terhadap semua agama, minimal wali kota New Yorknya. Buktinya, begitu melihat seseorang berusaha menghapus tulisan rasis tersebut, polisipun langsung menangkapnya. Alasannya klasik, kebebasan berekspresi.

Semakin  jelas terlihat bahwa Islamophobia alias takut terhadap Islam tetap masih menguasai Barat. Dan Israel kelihatannya yang paling diuntungkan. Barat mendudukannya sebagai civilzed people alias masyarakat beradab. Sementara Islam dengan Jihadnya semakin dipojokkan. Jihad yang awalnya merupakan perbuatan mulia didudukkan sebagai savage alias perbuatan liar.

Padahal rakyat Palestina dibawah pendudukan Israel jelas-jelas tertindas dan diperlakukan semena-mena. Bahkan air dan listrikpun amat dibatasi. Ketidak adilan dan keberpihakan terhadap ras Yahudi sangat kentara. Tetapi Barat seolah buta dan tidak mau peduli akan hal ini. Meski protes dan penolakan rasis diteriakkan.

Ironisnya, tidak sedikit kaum Muslimin yang termakan isu tersebut. Akibatnya mereka menjadi tidak PD alias Percaya Diri. Bagi mereka, kata Jihad menjadi momok yang sungguh memalukan dan menakutkan. Jihad yang di awal Islam terbagi atas jihad dalam arti perang fisik dan mental sekarang ini hanya dimaknai umat Islam lebih sebagai jihad mental. Jihad dalam arti perang secara fisik, diartikan sebagai perbuatan tak beradab dan melambangkan keterbelakangan. Persis seperti yang dicekokkan Barat.

Padahal jihad dalam arti perang menurut kamus Islam bukanlah perang sembarang perang yang tanpa tujuan dan hanya berdasarkan nafsu  kebinatangan. Perang dalam Islam adalah demi menegakkan keadilan dan melawan kemungkaran.

“ Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. … “(QS.An-Nahl(16):90).

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu”.(QS.At-Taubah(9)’:112).

Islam mengajarkan umatnya untuk beramal ibadah. Mendirikan shalat dan  puasa adalah salah satu contoh ibadah yang dimaksudkan-Nya. Sementara berbuat baik seperti menghormati kedua orang–tua, menjaga silaturahim, berinfak, berbuat adil dan saling memaafkan adalah beberapa contoh amal kebaikan yang wajib dilakukan umat Islam. Itulah perbuatan ma’ruf. Sedangkan mengingatkan dan mencegah orang agar tidak berbuat jahat adalah bagian dari mencegah kemungkaran. Itulah ciri orang Mukmin.

“ Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.Al-Ashr(103):2-3).

Ayat diatas memberitahukan ciri orang yang merugi. Yaitu orang yang tidak beriman, tidak mengerjakan amal saleh dan tidak saling menasehati agar mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran. Artinya kebenaran harus ditegakkan dengan kesabaran yang benar.  Jadi kesabaran itu ada juga yang tidak benar.

Islam adalah agama yang sempurna. Ia memiliki hukum-hukum yang harus ditegakkan. Dan hanya dengan ditegakkan hukum inilah tujuan ber-Islam dapat dipenuhi. Yaitu rahmatan lil alamin atau keamanan dan ketenangan bagi alam semesta. Persis dengan negara yang menegakkan hukum dengan baik, bukan sekedar memiliki berbagai hukum dan perangkatnya, namun hukum tersebut tidak dijalankan secara baik dan sempurna.

Kedisiplinan, contohnya dalam berpuasa Ramadhan dan mendirikan shalat pada waktunya; kebersihan, contohnya dalam berwudhu; menutup aurat, yaitu jilbab bagi perempuan; adalah contoh kecilnya.

Kesabaran memang ciri khas Muslim. Orang-orang yang tidak menyukai dan membenci umat Islam sangat memahami hal ini. Itu sebabnya, musuh-musuh Islam sering berusaha memanfaatkan hal tersebut. Pelecehan dan penghinaan terhadap Rasulullah adalah buktinya.

“ Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (QS.Al-Araf(7):156).

“  (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung” . (QS.Al-Araf(7):157).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari”.(QS.Al-Hujurat(49):2).

Ayat-ayat diatas jelas menerangkan bagaimana harusnya kita, umat Islam bersikap terhadap Rasulullah saw. Bahkan meninggikan suarapun atau berbicara dengan nada marah, tidak diizinkan-Nya. Apalagi ketika beliau saw dilecehkan, ketika hukum dan ayat-ayat Al-Quran dipersulit pelaksanaannya. Menolong, membela dan membersihkan nama Rasulullah dari fitnah keji, wajib hukumnya !

Periode Mekah, ketika kedudukan Islam masih lemah, adalah contoh yang sangat tepat dalam menjaga kesabaran. Contoh kesabaran Rasulullah yang dianiaya Musrikin Quraisy bahkan dianggap gila ketika itu memang patut ditiru bila kita tidak memilki kuasa untuk melawan.

Namun pada periode Madinah, karena umat telah cukup kuat, maka hukum harus ditegakkan. Negosiasi dan metode pendekatan yang lunak adalah tahap awal. Pemboikotan situs-situs yang sering digunakan sebagai alat propaganda mereka adalah cara yang paling jitu. Tetapi jika tahapan jalan damai tidak berjalan mulus, perang adalah jalan terakhir yang harus diambil. Inilah jihad terberat dan terbesar umat. Karena taruhannya memang jiwa dan kemewahan hidup, yang menjadi tujuan utama rata-rata manusia.

Artinya, menjauhkan jihad dari kamus umat Islam memang senjata jitu musuh-musuh Islam yang sangat ampuh. Dengan santainya, mereka sekarang ini dapat bebas mengolok-olok Islam dan seluruh perangkatnya, tanpa khawatir dibalas. Demokrasi dan kebebasan berpendapat serta berekspresi adalah perantaranya. Perumpamaannya, seperti mengganggu macan yang terbelenggu, atau macan tidur, atau macan malas dan penakut, atau macan lumpuh. Sementara terorisme adalah alasan yang paling mudah dilemparkan musuh. Islam radikal, itulah julukan yang disematkan mereka yang berusaha melawan kejahatan terselubung musuh.

Saat ini, Perancis, negara sekuler yang  melarang azan berkumandang dan murid sekolah mengenakan jilbab, dihebohkan  oleh sekelompok orang yang membuat kerusakan di lingkungan Yahudi. Seperti biasa, pemerintah langsung menuduh perbuatan yang lazim disebut Antisemitism ini, sebagai perbuatan orang-orang Islam radikal. Segera diputuskan, semua rumah ibadah, sekolah dan pemukiman Yahudi harus dilindungi dan dijaga ketat.

Selanjutnya, polisi menggeledah dan menyerbu sejumlah masjid dan pemukiman Muslim yang dicurigai sebagai sarang teroris.  Hasilnya, seorang meninggal dan 11 ditangkap. Ironisnya, di luar dugaan mereka, ke 12 orang tersebut ternyata Muslim warga negara Perancis asli,bukan orang-orang Arab sebagaimana yang diharapkan. Sungguh betapa kecewanya mereka.

Diluar betul tidaknya perbuatan mereka, menjadi bukti bahwa ajaran Islam ternyata lebih menarik dari pada ajaran Ateis yang saat ini menjadi primadona Barat. Barat dan Yahudinya yang mengaku negara beradab, padahal suka mengolok-olok dan menghina ajaran lain, yang bahkan berani menelanjangi Tuhan dan orang-orang suci mereka sendiri melalui lukisan-lukisan kebanggaan mereka yang dipajang di gereja-gereja dan gedung perkantoran, membuat anak-anak mereka berani melawan ibu-ibu mereka; tampaknya harus mengakui bahwa Islam adalah agama fitrah seluruh manusia, bukan cuma milik orang-orang ‘terbelakang’seperti orang-orang Timur apalagi khusus orang-orang Arab.

“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS.Ar-Ruum(30):30).

“ Tiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, bapaknya lah yang menjadikan dia Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi”.  (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 8 Oktober 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Ateisme dan Fenomenanya.

Perputaran bumi serta pergantian malam dan siang adalah fenomena alam yang sangat patut untuk dicermati. Pengalaman spiritual yang dilakukan nabi Ibrahim as dalam rangka mencari Tuhannya adalah sebuah pelajaran yang sangat indah.

“ Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”.(QS. Al-An’am(6):76-78).

Perumpamaan malam hari adalah bagaikan melihat gajah secara utuh/keseluruhan. Sementara siang hari adalah laksana orang buta yang meraba hewan berbelalai ini secara partial/bagian demi bagian. Hingga beranggapan bahwa gajah itu panjang bila yang diraba kebetulan hanya belalainya. Atau gajah itu lebar dan tipis bila yang diraba hanya telinganya.

Perumpamaan lain, adalah meja belajar dengan lampu belajarnya yang dibiarkan menyala hingga menyinari sebagian kecil meja, menerangi bagian tertentu di atas meja yang menjadi focus bacaan. Meja ini berada di sebuah ruangan yang gelap dimana lampu belajar adalah satu-satunya penerangan.

Bagian kecil yang terang di atas meja dan menjadi focus bacaan adalah perumpamaan kehidupan siang hari. Pada saat itu,  segala yang ada di hadapan kita “kelihatannya”  jelas terlihat detil.  Sementara benda lain di atas meja yang tidak tersorot lampu tidak terlihat. Fenomena ini sama dengan orang buta yang meraba bagian gajah tertentu.

Jadi, pandangan di siang hari yang kelihatannya jelas itu sebenarnya justru sebaliknya. Sesungguhnya pandangan di  siang hari amat sangat terbatas. Apa buktinya ? Buktinya, benda-benda langit seperti bintang dan bulan yang menjadi perhiasan atap bumi tidak dapat kita saksikan. Ini disebabkan silaunya sinar matahari. Yang menyebabkan pandangan kita hanya mampu focus pada apa yang diteranginya. Yang hingga bentuk bumi dimana kita berpijakpun tak bisa kita lihat secara jelas.

Bentuk bumi secara jelas baru bisa kita lihat setelah matahari terbenam. Yaitu melalui bayangan yang terpantul di langit ketika malam tiba. Demikian pula benda-benda langit yang jumlahnya milyaran itu.   Itulah salah satu hikmah diciptakan-Nya malam dan siang. Betapa terasa,  alangkah kecilnya kita ini. Allahuakbar !

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.(QS. Ali Imran(3);190-191).

Ironisnya, sebagian besar orang barat dewasa ini, yang notabene mengaku dan merasa maju ternyata tidak mampu mengambil hikmah fenomena alam terbesar ini. Dengan dalih sains dan ilmu pengetahuan mereka mengatakan bahwa semua itu hanyalah bagian dari sistim alam semesta. Bahkan dengan lancangnya berani menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Kalaupun ada hanya dalam pikiran, tidak wujud. Itulah kaum ateis tulen alias kafir sebenar-benar kafir.

Padahal asalnya orang Barat adalah penganut Kristen. Aneh tapi nyata. Tapi begitulah kenyataannya karena justru ajaran gerejalah yang sering dituding  menjadi penyebab orang Barat menjadi ateis.  Ajaran ini dianggap menghambat perkembangan sains dan ilmu pengetahuan.

Adalah Inkuisisi yaitu pengadilan terhadap orang-orang  berbagai golongan masyarakat yang dipandang membahayakan kepercayaan dan kekuasaan gereja. Galileo Galilei adalah satu diantaranya.  Pada tahun 1633 Galileo yang melanjutkan teori heliosentrisnya  Copernicus diadili dengan tuduhan tindakan kejahatan tingkat tinggi. Teori ini dianggap melecehkan pendapat gereja bahwa bumi adalah pusat perputaran bukan matahari.  Bahkan beberapa tahun sebelum itu, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup dengan tuduhan yang sama.

Sejak itu gerakan melawan gerejapun tumbuh meski secara sembunyi-sembunyi.  Diawali dari prilaku pastur-pasturnya yang dianggap korup dan tidak bersih hingga Al-Kitab sebagai kitab suci merekapun mulai dipertanyakan.  Dimulai dari sejarah penulisannya, isinya yang seringkali vulgar dan kasar, konsep tentang ketuhanan yang ‘njelimet’ hingga akhirnya keberadaan Tuhan itu sendiri.

Ini masih ditambah lagi dengan anggapan bahwa agama hanyalah belenggu kebebasan.  Apalagi di zaman dimana demokrasi dan kebebasan mengemukakan pendapat menjadi slogan hampir seluruh masyarakat di dunia ini. Ateis kelihatannya menjadi pilihan yang digemari orang-orang yang memimpikan hidup sebebas mungkin tanpa banyak batasan, aturan dan hukum.

Agaknya para filosof yang paling pantas dituntut mengapa banyak orang Barat tertarik menjadi ateis.  Orang-orang ‘pintar’ yang hobby bermain dengan kata-kata dan membuat difinisi rumit ini dengan lihai mampu membuat orang bertanya-tanya, sesungguhnya apakah difinisi Tuhan itu. Blaise Pascal, seorang filosof Perancis kelahiran 1623 mengatakan “ Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan”.

Hemm, lalu siapa Tuhan mereka kalau mereka memang percaya akan eksistensi Tuhan. Mungkin pernyataan seorang selebritis sebagai berikut bisa menjawab pertanyaan di atas. ” My religion is song, sex, sand and champagne”. Atau  iklan di pinggir jalan di kota Manchester Inggris ” It’s like Religion” sebagaimana dikemukakan uztad Dr. Hamid Zarkasyi dalam bukunya ” Misykat” bisa menjadi jawaban jitu. Iklan tersebut adalah iklan sebuah klub sepak bola kebanggaan Inggris.

Celakanya, di Indonesia, negri berpenduduk mayoritas Islam, juga mulai ikut tertulari virus ateis yang sangat berbahaya ini.  Meskipun  jumlahnya memang baru sangat sedikit, tidak terang-terangan dan berada di komunitas tertentu.  Namun penyebabnya kemungkinan besar adalah arus globalisasi tadi. Karena kalau ditilik dari latar belakang dan sejarah agamanya jelas berbeda dengan teman-teman ateis mereka di Barat.

Walaupun belakangan ini usaha untuk mengotori kemurnian Al-Quran juga sudah terlihat. Yaitu dengan mulai  diterapkannya ilmu Hermeneutika terhadap Al-Quran. Ilmu ini berusaha  memandang dan mengkritisi kalam Allah dengan menganggapnya sebagai bukan ayat-ayat suci ! Hal yang sungguh menggelikan sekaligus memuakkan. Bagaimana mungkin mereka ini berani melecehkan kitabnya sendiri. Parahnya lagi, pernyataan-pernyataan berbau ateis ini keluar dari kampus Islam !

Tampak bahwa sistim pola pikir Barat yang sangat mengedepankan akal dengan teori empirisnya, telah merasuk jauh ke dalam pemikiran anak-anak muda kita. Teori ini mengatakan bahwa segala sesuatu itu harus bisa dibuktikan dan teramati oleh panca indera. Akibatnya ilmu dan pengetahuan apapun bila tidak ada data empiris tidak dapat diterima alias tertolak. Termasuk ilmu agama dan ketuhanan tadi !

Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia akan bertambah jauh dari Allah.”

Sementara Al-Ghazali mengingatkan, seseorang hendaknya menuntut ilmu tidak hanya sekedar kebutuhan melainkan harus hingga tuntas, hingga sampai kepada hakekat atau inti ilmu tersebut. Karena hanya dengan inti ilmu inilah seseorang akan mencapai suatu tingkat penyingkapan akan rahasia dan kebesaran Sang Maha Pencipta, Allah azza wa jalla. Itulah keutamaan ilmu karena puncak ilmu adalah pengenalan Allah SWT.

Ia juga berkata, “Barangsiapa yang kehilangan ilmu, maka hatinya akan sakit dan mati. Ia tidak menyadarinya karena kesibukan dunia mematikan perasaannya. Jika kesibukan itu menampakkan kematian maka ia merasakan sakit yang pedih dan penyesalan yang tiada akhir.”

Ucapannya itu dimaksudkan dalam menafsirkan hadis  : “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”, dan ayat berikut :

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”.(QS.Qaaf(50):22).

Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan antara kehidupan dunia dengan akhirat, ilmu dan pengetahuan keagaamaan dengan ilmu umum. Keduanya saling berkaitan erat dan tidak mungkin dipisahkan. Karena kehidupan dunia dan ilmunya pada hakekatnya adalah bekal menuju kehidupan akhirat yang relative abadi.

Orang yang mengaku memeluk Islam tidak cukup ‘hanya’  menjalankan ritualnya, seperti shalat, zakat, puasa, membaca Al-Quran dan pergi haji. Akhlak yang baik sebagai bentuk nyata penerapan ayat-ayat Al-Quran seperti menjaga silaturahmi, tidak sombong, sabar, jujur, suka bekerja keras dan lain-lain juga sangat diperlukan. Pribadi Rasulullah Muhammad saw adalah panutannya.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al-Ahzab(33):21).

Mungkin mereka yang ‘ kebarat-baratan’ ini lupa bahwa masyarakat Barat dewasa ini banyak yang merasa kehilangan ‘sesuatu’. Prilaku bebas dan demokrasi yang kebablasan sedang menuju kehancurannya. Anak-anak yang tidak lagi hormat kepada kedua orangtuanya, orang-orang muda yang enggan mendengar pendapat pendahulunya, persaingan yang tidak mengenal aturan  dan lain-lain telah membuat mereka gundah dan risau.

Kesuksesan material ternyata tidak menjadi jaminan kebahagiaan hidup.  Harta yang melimpah ruah juga tidak menjamin kepuasan dan rasa tenang.  Pun ilmu dan kemajuan teknologi, ternyata juga tidak berhasil mencegah berkembangnya  penyakit yang makin hari justru makin beragam dan mematikan.

Anehnya, pasca peristiwa 11 september 2001 yang ‘diharapkan’ mencemarkan dan mencoreng Islam malah membuat banyak orang Barat tertarik mempelajari Islam.  Dan kebanyakan adalah para ilmuwan yang kemudian berbalik dan kembali ke fitrah, bersyahadat memuji Tuhannya, Allah swt.

Dengan ilmunya yang dalam orang-orang ini dapat memahami kebenaran ayat-ayat Al-Quran. Diantaranya ayat-ayat tentang siang dan malam di awal tulisan ini. Mereka mendapati bahwa ilmu yang susah payah dipelajarinya itu ternyata telah diprediksi 14 abad silam melalui ayat-ayat-Nya dan sunnah rasul-Nya.

Dengan ketinggian ilmu dan akalnya mereka menjadi tahu betapa kecilnya mereka. Dengan ketinggian ilmu dan akalnya mereka menjadi tahu bahwa ada kekuatan raksasa di luar sana. Dengan ketinggian ilmu dan akalnya mereka menjadi tahu dengan ilmu dan akal saja manusia tidak akan sampai pada tuhannya. Untuk itu imanlah yang mereka butuhkan.

Menjadi bukti nyata bahwa Tuhan itu ada, tidak mati seperti apa yang dikatakan Friedrich Nietszche, filosof terkenal Jerman kelahiran 1844 dan juga teman-temannya sesama filosof ateis sezamannya.

( Baca :

http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=151%3Aatheis&catid=2%3Ahamid-fahmy-zarkasyi&Itemid=17 ).

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ».(QS.Al-Hasyr(59)22-24).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 September 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Menggapai Lailatul Qadar

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”,(QS.Al-Baqarah(2):183).

Menjelang Ramadhan ayat diatas makin sering muncul. Berpuasalah agar kita, umat Islam menjadi orang-orang yang takwa. Ayat diatas secara jelas menegaskan bahwa berpuasa (di bulan Ramadhan) itu bukanlah sekedar menahan makan, minum dan berhubungan suami istri di siang hari. Puasa yang diperintahkan-Nya adalah puasa hingga kita bisa mencapai takwa.  Pertanyaannya, adakah semua umat Islam di dunia ini mengetahui persis bagaimanakah orang yang takwa itu?

“ Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”.(QS.Al-Baqarah(2):2-4).

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang takwa adalah orang yang meyakini rukun Iman dan rukun Islam sebagai berikut :

1.Beriman/yakin kepada yang ghaib ( Allah swt, para malaikat dan bangsa jin)

2.Mendirikan shalat ( bukan sekedar melaksanakan shalat, artinya shalat dengan penuh kesadaran akan maknanya).

3. Berinfak sodaqoh.

4. Beriman/yakin kepada kitab-kitab suci ( Al-Quran, Injil, Taurat dan Zabur).

5. Beriman/yakin akan adanya Hari Kiamat.

Keyakinan terhadap kitab-kitab dan hal-hal ghaib diatas bukan hanya yakin sekedar yakin saja. Namun yakin yang melahirkan rasa takut, syukur, tunduk dan takluk kepada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla hingga dengan suka rela mau melaksanakan hukum dan menjalani  ketetapan-Nya, menjalankan segala perintah dan larangan-Nya, apapun bentuknya.

Dari Abu Abdul Rahman Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khatthab, beliau berkata:  Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “ lslam itu terbina atas lima perkara:  bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan menunaikan puasa pada bulan Ramadhan”.

Allah swt menciptakan  bulan Ramadhan sebagai bulan penggemblengan, bulan pelatihan sekaligus bulan cobaan, sebagai pembuktian seberapa dalam ketaatan kita pada-Nya.  Sementara 10 hari terakhir di bulan Ramadhan atau apa yang disebut Lailatul Qadar adalah hari-hari penobatan bagi siapa yang paling bertakwa. Sayangnya, hari istimewa tersebut dirahasiakan-Nya dari kita. Kitalah yang harus mencarinya.

“Carilah dengan segala upayamu malam Lailatul Qadar pada malam-malam yang ganjil daripada 10 akhir dalam Ramadan”-( HR.Ima Bukhari).

“ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan( Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qadr(97):1-5).

Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. “Barangsiapa menghidupkan (beribadat sepanjang malam) malam Lailatul-Qadar dan mendirikan shalat dua rakaat, kemudian memohon ampunan  Tuhannya, maka diampunkan dia oleh Allah swt  dan dimasukkan kedalam rahmatNya, kemudian disapukan dia oleh Jibril a.s. dengan dua sayapnya. Barangsiapa disapu oleh Jibril dengan sayapnya maka didalam syurgalah tempatnya…..”.

Dalam riwayat lain,“Barangsiapa mendirikan shalat  empat rakaat dengan membaca surah al-Fatihah, al-Kauthar dan al-Ikhlas tiga kali, dimudahkan menghadapi sakratul maut, dikecualikan daripada azab kubur dan dikurniakan empat tiang daripada nur tiap- tiap satunya terdiri 1000 mahligai“.

“ Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Masih banyak lagi hadis tentang Lailatul Qadar ini. Intinya  pada malam itu Allah swt memerintahkan para malaikat termasuk malaikat Jibril as untuk memperhatikan, mendengar  dan mencatat apa yang dilakukan dan diminta hamba-hamba-Nya.  Dan doa dan permohonan pada malam tersebut akan dikabukan-Nya.

Menurut riwayat, adalah Mujahid, seorang sahabat, yang bercerita bahwa ayat tentang Lailatul Qadar turun setelah Rasulullah berkisah tentang seorang shaleh dari bani Israel yang selama 80 tahun rajin berjihad. Riwayat lain dari Ali bin Aurah, pada satu hari Rasulullah telah menyebut 4 orang Bani Israel yang telah beribadah kepada Allah selama 80 tahun. Mereka sedikitpun tidak durhaka kepada Allah lalu para sahabat kagum dengan perbuatan mereka itu. Para sahabat merasa iri karena tidak dapat berbuat seperti mereka.

Jibril kemudian datang memberitahukan Rasulullah saw bahwa Allah swt menurunkan ayat yang lebih baik dari amalan orang-orang Yahudi itu. Itulah  surah Al Qadar yang membuat Rasulullah dan para sahabat amat gembira. Allah Azza wa Jalla menjanjikan pahala lebih dari 1000 bulan atau sekitar 84 tahun bagi kaum Muslimin yang beribadah pada malam Lailatul Qadar. Mereka yang dengan ikhlas ikhtikaf ( berzikir minimal sejak Magrib hingga Subuh hari berikutnya di rumah-Nya), tafakur dan bermunajab, berharap malaikat Jibril as mendatangi mereka.

Namun demikian, janji Allah tersebut sesungguhnya hanya berlaku bagi hamba-hamba Allah yang selama satu tahun terakhir berhasil lolos seleksi pemilihan. Puncaknya  di 20 hari pertama Ramadhan berhasil melaksanakan puasa dan ibadah-ibadah Ramadhan dengan baik.  Merekalah itulah  kandidat pemenang Lailatul Qadar yang sesungguhnya, yang tercatat dalam catatan para malaikat sebagai calon yang memenuhi persyaratan untuk di datangi, untuk menerima janji Tuhannya.

Itulah ganjaran pahala yang setara dengan beribadah selama 1000 bulan atau 84 tahun, 4 tahun lebih banyak dari ganjaran orang Yahudi yang berjihad selama 80 tahun. Jadi bukan mereka yang tafakur dan ikhtikaf hanya selama malam-malam suci di mana Al-Quran pertama kali diturunkan.

Apalagi sekedar membaca dan khatam  Al-Quran dalam bulan Ramadhan namun tanpa mengkajinya, meski pahalanya tentu saja kita dapatkan, insya Allah. Karena sesungguhnya hikmah keberadaan ayat-ayat tersebut baru terasa bila kita mau merenungkan  dan mengkajinya dengan seksama.

Demikian juga  shalat malam seperti  tarawih dan tahajud, berinfak sedekah serta amal kebajikan yang dikerjakan hanya ketika Ramadhan datang. Ini semua tidak cukup menjadi jaminan bahwa seorang hamba bakal lolos seleksi untuk ikut dalam lomba mencapai Lailatul Qadar.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda : “ Apabila masuk bulan Ramadhan, dibukakan pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka Jahannam, serta dibelenggu  syaitan-syaitan”. (HR. Bukhari).

Hadis diatas banyak disebut ketika memasuki bulan Ramadhan. Yang menjadi pertanyaan, bila selama bulan suci tersebut syaitan-syaitan dibelenggu, mengapa kejahatan tetap saja terjadi pada bulan tersebut ?

Ini sebuah kenyataan yang sungguh mengerikan.  Karena hal ini justru menjadi bukti bahwa tanpa gangguan syaitanpun ternyata manusia bisa tetap berbuat jahat. Artinya, sifat, kebiasaan dan pengaruh syaitan itu bisa menjadikan manusia menjelma menjadi syaitan itu sendiri!

Hal-hal yang tampaknya kecil dan sederhana;   tertib dalam  shalat misalnya, Ini adalah perintah rutin imam agar merapatkan dan merapikan shaf sebelum shalat jamaah dimulai, yang acap kali diabaikan makmum. Padahal bukankah dari kecil kita sering diberi tahu  bahwa shaf yang tidak rapat bakal diselipi syaitan yang akan mengganggu konsentrasi shalat kita?

Bukan sekali dua kali saja, saya melihat, terutama jamaah perempuan, memulai shalat tanpa menggubris peringatan imam. Masing-masing bersikukuh berdiri di tengah-tengah sajadah yang lebarnya bisa mencapai 50 cm. Boleh jadi sajadahnya memang rapat tapi tidak orangnya. Ini masih lebih baik. Karena sering juga terjadi, lagi-lagi biasanya di bagian perempuan, shaf yang “bolong-bolong” di sana sini.

Belum lagi, kebiasaan makmum yang sering mendahului gerakan imam. Belum juga imam selesai mengucap takbir, makmum sudah bergerak mengganti gerakan. Tiba-tiba saya teringat ucapan seorang da’i pada salah satu tausiyah Ramadhan yang  mengingatkan bahwa hal-hal tersebut beresiko mengeluarkan seseorang dari jamaah shalat yang ganjarannya 27 x lipat itu. Sungguh ironis bukan ?

Ramadhan dengan  Lailatul Qadarnya memang telah lewat. Tapi bila Allah berkehendak, saat-saat indah yang penuh berkah tersebut mungkin masih bisa kita nikmati tahun depan. Jika kita memang benar-benar ingin mendapatkan keberkahan tersebut, mengapa kita tidak mempersiapkannnya sedini mungkin.

Dengan puasa syawal yang 6 hari ini misalnya. Puasa ini sangat istimewa karena Allah swt mengganjarnya dengan puasa satu tahun penuh. Mumpung masih ada waktu.

“Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dgn (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) 2 bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” ( HR.Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).

Atau dengan mulai membiasakan diri shalat subuh berjamaah di masjid ( bagi kaum laki-laki) serta tertib dalam mengerjakannya. Atau memulainya dengan berusaha  membuang sifat-sifat syaitan dan kebiasaan-kebiasaan buruk, hingga ketika Ramadhan tiba nanti kebiasaan-kebiasan tersebut benar-benar telah hilang.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Agustus  2012.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »