Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Ateisme dan Fenomenanya.

Perputaran bumi serta pergantian malam dan siang adalah fenomena alam yang sangat patut untuk dicermati. Pengalaman spiritual yang dilakukan nabi Ibrahim as dalam rangka mencari Tuhannya adalah sebuah pelajaran yang sangat indah.

“ Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”.(QS. Al-An’am(6):76-78).

Perumpamaan malam hari adalah bagaikan melihat gajah secara utuh/keseluruhan. Sementara siang hari adalah laksana orang buta yang meraba hewan berbelalai ini secara partial/bagian demi bagian. Hingga beranggapan bahwa gajah itu panjang bila yang diraba kebetulan hanya belalainya. Atau gajah itu lebar dan tipis bila yang diraba hanya telinganya.

Perumpamaan lain, adalah meja belajar dengan lampu belajarnya yang dibiarkan menyala hingga menyinari sebagian kecil meja, menerangi bagian tertentu di atas meja yang menjadi focus bacaan. Meja ini berada di sebuah ruangan yang gelap dimana lampu belajar adalah satu-satunya penerangan.

Bagian kecil yang terang di atas meja dan menjadi focus bacaan adalah perumpamaan kehidupan siang hari. Pada saat itu,  segala yang ada di hadapan kita “kelihatannya”  jelas terlihat detil.  Sementara benda lain di atas meja yang tidak tersorot lampu tidak terlihat. Fenomena ini sama dengan orang buta yang meraba bagian gajah tertentu.

Jadi, pandangan di siang hari yang kelihatannya jelas itu sebenarnya justru sebaliknya. Sesungguhnya pandangan di  siang hari amat sangat terbatas. Apa buktinya ? Buktinya, benda-benda langit seperti bintang dan bulan yang menjadi perhiasan atap bumi tidak dapat kita saksikan. Ini disebabkan silaunya sinar matahari. Yang menyebabkan pandangan kita hanya mampu focus pada apa yang diteranginya. Yang hingga bentuk bumi dimana kita berpijakpun tak bisa kita lihat secara jelas.

Bentuk bumi secara jelas baru bisa kita lihat setelah matahari terbenam. Yaitu melalui bayangan yang terpantul di langit ketika malam tiba. Demikian pula benda-benda langit yang jumlahnya milyaran itu.   Itulah salah satu hikmah diciptakan-Nya malam dan siang. Betapa terasa,  alangkah kecilnya kita ini. Allahuakbar !

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.(QS. Ali Imran(3);190-191).

Ironisnya, sebagian besar orang barat dewasa ini, yang notabene mengaku dan merasa maju ternyata tidak mampu mengambil hikmah fenomena alam terbesar ini. Dengan dalih sains dan ilmu pengetahuan mereka mengatakan bahwa semua itu hanyalah bagian dari sistim alam semesta. Bahkan dengan lancangnya berani menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Kalaupun ada hanya dalam pikiran, tidak wujud. Itulah kaum ateis tulen alias kafir sebenar-benar kafir.

Padahal asalnya orang Barat adalah penganut Kristen. Aneh tapi nyata. Tapi begitulah kenyataannya karena justru ajaran gerejalah yang sering dituding  menjadi penyebab orang Barat menjadi ateis.  Ajaran ini dianggap menghambat perkembangan sains dan ilmu pengetahuan.

Adalah Inkuisisi yaitu pengadilan terhadap orang-orang  berbagai golongan masyarakat yang dipandang membahayakan kepercayaan dan kekuasaan gereja. Galileo Galilei adalah satu diantaranya.  Pada tahun 1633 Galileo yang melanjutkan teori heliosentrisnya  Copernicus diadili dengan tuduhan tindakan kejahatan tingkat tinggi. Teori ini dianggap melecehkan pendapat gereja bahwa bumi adalah pusat perputaran bukan matahari.  Bahkan beberapa tahun sebelum itu, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup dengan tuduhan yang sama.

Sejak itu gerakan melawan gerejapun tumbuh meski secara sembunyi-sembunyi.  Diawali dari prilaku pastur-pasturnya yang dianggap korup dan tidak bersih hingga Al-Kitab sebagai kitab suci merekapun mulai dipertanyakan.  Dimulai dari sejarah penulisannya, isinya yang seringkali vulgar dan kasar, konsep tentang ketuhanan yang ‘njelimet’ hingga akhirnya keberadaan Tuhan itu sendiri.

Ini masih ditambah lagi dengan anggapan bahwa agama hanyalah belenggu kebebasan.  Apalagi di zaman dimana demokrasi dan kebebasan mengemukakan pendapat menjadi slogan hampir seluruh masyarakat di dunia ini. Ateis kelihatannya menjadi pilihan yang digemari orang-orang yang memimpikan hidup sebebas mungkin tanpa banyak batasan, aturan dan hukum.

Agaknya para filosof yang paling pantas dituntut mengapa banyak orang Barat tertarik menjadi ateis.  Orang-orang ‘pintar’ yang hobby bermain dengan kata-kata dan membuat difinisi rumit ini dengan lihai mampu membuat orang bertanya-tanya, sesungguhnya apakah difinisi Tuhan itu. Blaise Pascal, seorang filosof Perancis kelahiran 1623 mengatakan “ Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan”.

Hemm, lalu siapa Tuhan mereka kalau mereka memang percaya akan eksistensi Tuhan. Mungkin pernyataan seorang selebritis sebagai berikut bisa menjawab pertanyaan di atas. ” My religion is song, sex, sand and champagne”. Atau  iklan di pinggir jalan di kota Manchester Inggris ” It’s like Religion” sebagaimana dikemukakan uztad Dr. Hamid Zarkasyi dalam bukunya ” Misykat” bisa menjadi jawaban jitu. Iklan tersebut adalah iklan sebuah klub sepak bola kebanggaan Inggris.

Celakanya, di Indonesia, negri berpenduduk mayoritas Islam, juga mulai ikut tertulari virus ateis yang sangat berbahaya ini.  Meskipun  jumlahnya memang baru sangat sedikit, tidak terang-terangan dan berada di komunitas tertentu.  Namun penyebabnya kemungkinan besar adalah arus globalisasi tadi. Karena kalau ditilik dari latar belakang dan sejarah agamanya jelas berbeda dengan teman-teman ateis mereka di Barat.

Walaupun belakangan ini usaha untuk mengotori kemurnian Al-Quran juga sudah terlihat. Yaitu dengan mulai  diterapkannya ilmu Hermeneutika terhadap Al-Quran. Ilmu ini berusaha  memandang dan mengkritisi kalam Allah dengan menganggapnya sebagai bukan ayat-ayat suci ! Hal yang sungguh menggelikan sekaligus memuakkan. Bagaimana mungkin mereka ini berani melecehkan kitabnya sendiri. Parahnya lagi, pernyataan-pernyataan berbau ateis ini keluar dari kampus Islam !

Tampak bahwa sistim pola pikir Barat yang sangat mengedepankan akal dengan teori empirisnya, telah merasuk jauh ke dalam pemikiran anak-anak muda kita. Teori ini mengatakan bahwa segala sesuatu itu harus bisa dibuktikan dan teramati oleh panca indera. Akibatnya ilmu dan pengetahuan apapun bila tidak ada data empiris tidak dapat diterima alias tertolak. Termasuk ilmu agama dan ketuhanan tadi !

Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia akan bertambah jauh dari Allah.”

Sementara Al-Ghazali mengingatkan, seseorang hendaknya menuntut ilmu tidak hanya sekedar kebutuhan melainkan harus hingga tuntas, hingga sampai kepada hakekat atau inti ilmu tersebut. Karena hanya dengan inti ilmu inilah seseorang akan mencapai suatu tingkat penyingkapan akan rahasia dan kebesaran Sang Maha Pencipta, Allah azza wa jalla. Itulah keutamaan ilmu karena puncak ilmu adalah pengenalan Allah SWT.

Ia juga berkata, “Barangsiapa yang kehilangan ilmu, maka hatinya akan sakit dan mati. Ia tidak menyadarinya karena kesibukan dunia mematikan perasaannya. Jika kesibukan itu menampakkan kematian maka ia merasakan sakit yang pedih dan penyesalan yang tiada akhir.”

Ucapannya itu dimaksudkan dalam menafsirkan hadis  : “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”, dan ayat berikut :

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”.(QS.Qaaf(50):22).

Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan antara kehidupan dunia dengan akhirat, ilmu dan pengetahuan keagaamaan dengan ilmu umum. Keduanya saling berkaitan erat dan tidak mungkin dipisahkan. Karena kehidupan dunia dan ilmunya pada hakekatnya adalah bekal menuju kehidupan akhirat yang relative abadi.

Orang yang mengaku memeluk Islam tidak cukup ‘hanya’  menjalankan ritualnya, seperti shalat, zakat, puasa, membaca Al-Quran dan pergi haji. Akhlak yang baik sebagai bentuk nyata penerapan ayat-ayat Al-Quran seperti menjaga silaturahmi, tidak sombong, sabar, jujur, suka bekerja keras dan lain-lain juga sangat diperlukan. Pribadi Rasulullah Muhammad saw adalah panutannya.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al-Ahzab(33):21).

Mungkin mereka yang ‘ kebarat-baratan’ ini lupa bahwa masyarakat Barat dewasa ini banyak yang merasa kehilangan ‘sesuatu’. Prilaku bebas dan demokrasi yang kebablasan sedang menuju kehancurannya. Anak-anak yang tidak lagi hormat kepada kedua orangtuanya, orang-orang muda yang enggan mendengar pendapat pendahulunya, persaingan yang tidak mengenal aturan  dan lain-lain telah membuat mereka gundah dan risau.

Kesuksesan material ternyata tidak menjadi jaminan kebahagiaan hidup.  Harta yang melimpah ruah juga tidak menjamin kepuasan dan rasa tenang.  Pun ilmu dan kemajuan teknologi, ternyata juga tidak berhasil mencegah berkembangnya  penyakit yang makin hari justru makin beragam dan mematikan.

Anehnya, pasca peristiwa 11 september 2001 yang ‘diharapkan’ mencemarkan dan mencoreng Islam malah membuat banyak orang Barat tertarik mempelajari Islam.  Dan kebanyakan adalah para ilmuwan yang kemudian berbalik dan kembali ke fitrah, bersyahadat memuji Tuhannya, Allah swt.

Dengan ilmunya yang dalam orang-orang ini dapat memahami kebenaran ayat-ayat Al-Quran. Diantaranya ayat-ayat tentang siang dan malam di awal tulisan ini. Mereka mendapati bahwa ilmu yang susah payah dipelajarinya itu ternyata telah diprediksi 14 abad silam melalui ayat-ayat-Nya dan sunnah rasul-Nya.

Dengan ketinggian ilmu dan akalnya mereka menjadi tahu betapa kecilnya mereka. Dengan ketinggian ilmu dan akalnya mereka menjadi tahu bahwa ada kekuatan raksasa di luar sana. Dengan ketinggian ilmu dan akalnya mereka menjadi tahu dengan ilmu dan akal saja manusia tidak akan sampai pada tuhannya. Untuk itu imanlah yang mereka butuhkan.

Menjadi bukti nyata bahwa Tuhan itu ada, tidak mati seperti apa yang dikatakan Friedrich Nietszche, filosof terkenal Jerman kelahiran 1844 dan juga teman-temannya sesama filosof ateis sezamannya.

( Baca :

http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=151%3Aatheis&catid=2%3Ahamid-fahmy-zarkasyi&Itemid=17 ).

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ».(QS.Al-Hasyr(59)22-24).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 September 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Menggapai Lailatul Qadar

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”,(QS.Al-Baqarah(2):183).

Menjelang Ramadhan ayat diatas makin sering muncul. Berpuasalah agar kita, umat Islam menjadi orang-orang yang takwa. Ayat diatas secara jelas menegaskan bahwa berpuasa (di bulan Ramadhan) itu bukanlah sekedar menahan makan, minum dan berhubungan suami istri di siang hari. Puasa yang diperintahkan-Nya adalah puasa hingga kita bisa mencapai takwa.  Pertanyaannya, adakah semua umat Islam di dunia ini mengetahui persis bagaimanakah orang yang takwa itu?

“ Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”.(QS.Al-Baqarah(2):2-4).

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang takwa adalah orang yang meyakini rukun Iman dan rukun Islam sebagai berikut :

1.Beriman/yakin kepada yang ghaib ( Allah swt, para malaikat dan bangsa jin)

2.Mendirikan shalat ( bukan sekedar melaksanakan shalat, artinya shalat dengan penuh kesadaran akan maknanya).

3. Berinfak sodaqoh.

4. Beriman/yakin kepada kitab-kitab suci ( Al-Quran, Injil, Taurat dan Zabur).

5. Beriman/yakin akan adanya Hari Kiamat.

Keyakinan terhadap kitab-kitab dan hal-hal ghaib diatas bukan hanya yakin sekedar yakin saja. Namun yakin yang melahirkan rasa takut, syukur, tunduk dan takluk kepada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla hingga dengan suka rela mau melaksanakan hukum dan menjalani  ketetapan-Nya, menjalankan segala perintah dan larangan-Nya, apapun bentuknya.

Dari Abu Abdul Rahman Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khatthab, beliau berkata:  Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “ lslam itu terbina atas lima perkara:  bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan menunaikan puasa pada bulan Ramadhan”.

Allah swt menciptakan  bulan Ramadhan sebagai bulan penggemblengan, bulan pelatihan sekaligus bulan cobaan, sebagai pembuktian seberapa dalam ketaatan kita pada-Nya.  Sementara 10 hari terakhir di bulan Ramadhan atau apa yang disebut Lailatul Qadar adalah hari-hari penobatan bagi siapa yang paling bertakwa. Sayangnya, hari istimewa tersebut dirahasiakan-Nya dari kita. Kitalah yang harus mencarinya.

“Carilah dengan segala upayamu malam Lailatul Qadar pada malam-malam yang ganjil daripada 10 akhir dalam Ramadan”-( HR.Ima Bukhari).

“ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan( Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qadr(97):1-5).

Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. “Barangsiapa menghidupkan (beribadat sepanjang malam) malam Lailatul-Qadar dan mendirikan shalat dua rakaat, kemudian memohon ampunan  Tuhannya, maka diampunkan dia oleh Allah swt  dan dimasukkan kedalam rahmatNya, kemudian disapukan dia oleh Jibril a.s. dengan dua sayapnya. Barangsiapa disapu oleh Jibril dengan sayapnya maka didalam syurgalah tempatnya…..”.

Dalam riwayat lain,“Barangsiapa mendirikan shalat  empat rakaat dengan membaca surah al-Fatihah, al-Kauthar dan al-Ikhlas tiga kali, dimudahkan menghadapi sakratul maut, dikecualikan daripada azab kubur dan dikurniakan empat tiang daripada nur tiap- tiap satunya terdiri 1000 mahligai“.

“ Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu dan siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Masih banyak lagi hadis tentang Lailatul Qadar ini. Intinya  pada malam itu Allah swt memerintahkan para malaikat termasuk malaikat Jibril as untuk memperhatikan, mendengar  dan mencatat apa yang dilakukan dan diminta hamba-hamba-Nya.  Dan doa dan permohonan pada malam tersebut akan dikabukan-Nya.

Menurut riwayat, adalah Mujahid, seorang sahabat, yang bercerita bahwa ayat tentang Lailatul Qadar turun setelah Rasulullah berkisah tentang seorang shaleh dari bani Israel yang selama 80 tahun rajin berjihad. Riwayat lain dari Ali bin Aurah, pada satu hari Rasulullah telah menyebut 4 orang Bani Israel yang telah beribadah kepada Allah selama 80 tahun. Mereka sedikitpun tidak durhaka kepada Allah lalu para sahabat kagum dengan perbuatan mereka itu. Para sahabat merasa iri karena tidak dapat berbuat seperti mereka.

Jibril kemudian datang memberitahukan Rasulullah saw bahwa Allah swt menurunkan ayat yang lebih baik dari amalan orang-orang Yahudi itu. Itulah  surah Al Qadar yang membuat Rasulullah dan para sahabat amat gembira. Allah Azza wa Jalla menjanjikan pahala lebih dari 1000 bulan atau sekitar 84 tahun bagi kaum Muslimin yang beribadah pada malam Lailatul Qadar. Mereka yang dengan ikhlas ikhtikaf ( berzikir minimal sejak Magrib hingga Subuh hari berikutnya di rumah-Nya), tafakur dan bermunajab, berharap malaikat Jibril as mendatangi mereka.

Namun demikian, janji Allah tersebut sesungguhnya hanya berlaku bagi hamba-hamba Allah yang selama satu tahun terakhir berhasil lolos seleksi pemilihan. Puncaknya  di 20 hari pertama Ramadhan berhasil melaksanakan puasa dan ibadah-ibadah Ramadhan dengan baik.  Merekalah itulah  kandidat pemenang Lailatul Qadar yang sesungguhnya, yang tercatat dalam catatan para malaikat sebagai calon yang memenuhi persyaratan untuk di datangi, untuk menerima janji Tuhannya.

Itulah ganjaran pahala yang setara dengan beribadah selama 1000 bulan atau 84 tahun, 4 tahun lebih banyak dari ganjaran orang Yahudi yang berjihad selama 80 tahun. Jadi bukan mereka yang tafakur dan ikhtikaf hanya selama malam-malam suci di mana Al-Quran pertama kali diturunkan.

Apalagi sekedar membaca dan khatam  Al-Quran dalam bulan Ramadhan namun tanpa mengkajinya, meski pahalanya tentu saja kita dapatkan, insya Allah. Karena sesungguhnya hikmah keberadaan ayat-ayat tersebut baru terasa bila kita mau merenungkan  dan mengkajinya dengan seksama.

Demikian juga  shalat malam seperti  tarawih dan tahajud, berinfak sedekah serta amal kebajikan yang dikerjakan hanya ketika Ramadhan datang. Ini semua tidak cukup menjadi jaminan bahwa seorang hamba bakal lolos seleksi untuk ikut dalam lomba mencapai Lailatul Qadar.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda : “ Apabila masuk bulan Ramadhan, dibukakan pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka Jahannam, serta dibelenggu  syaitan-syaitan”. (HR. Bukhari).

Hadis diatas banyak disebut ketika memasuki bulan Ramadhan. Yang menjadi pertanyaan, bila selama bulan suci tersebut syaitan-syaitan dibelenggu, mengapa kejahatan tetap saja terjadi pada bulan tersebut ?

Ini sebuah kenyataan yang sungguh mengerikan.  Karena hal ini justru menjadi bukti bahwa tanpa gangguan syaitanpun ternyata manusia bisa tetap berbuat jahat. Artinya, sifat, kebiasaan dan pengaruh syaitan itu bisa menjadikan manusia menjelma menjadi syaitan itu sendiri!

Hal-hal yang tampaknya kecil dan sederhana;   tertib dalam  shalat misalnya, Ini adalah perintah rutin imam agar merapatkan dan merapikan shaf sebelum shalat jamaah dimulai, yang acap kali diabaikan makmum. Padahal bukankah dari kecil kita sering diberi tahu  bahwa shaf yang tidak rapat bakal diselipi syaitan yang akan mengganggu konsentrasi shalat kita?

Bukan sekali dua kali saja, saya melihat, terutama jamaah perempuan, memulai shalat tanpa menggubris peringatan imam. Masing-masing bersikukuh berdiri di tengah-tengah sajadah yang lebarnya bisa mencapai 50 cm. Boleh jadi sajadahnya memang rapat tapi tidak orangnya. Ini masih lebih baik. Karena sering juga terjadi, lagi-lagi biasanya di bagian perempuan, shaf yang “bolong-bolong” di sana sini.

Belum lagi, kebiasaan makmum yang sering mendahului gerakan imam. Belum juga imam selesai mengucap takbir, makmum sudah bergerak mengganti gerakan. Tiba-tiba saya teringat ucapan seorang da’i pada salah satu tausiyah Ramadhan yang  mengingatkan bahwa hal-hal tersebut beresiko mengeluarkan seseorang dari jamaah shalat yang ganjarannya 27 x lipat itu. Sungguh ironis bukan ?

Ramadhan dengan  Lailatul Qadarnya memang telah lewat. Tapi bila Allah berkehendak, saat-saat indah yang penuh berkah tersebut mungkin masih bisa kita nikmati tahun depan. Jika kita memang benar-benar ingin mendapatkan keberkahan tersebut, mengapa kita tidak mempersiapkannnya sedini mungkin.

Dengan puasa syawal yang 6 hari ini misalnya. Puasa ini sangat istimewa karena Allah swt mengganjarnya dengan puasa satu tahun penuh. Mumpung masih ada waktu.

“Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dgn (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) 2 bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” ( HR.Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).

Atau dengan mulai membiasakan diri shalat subuh berjamaah di masjid ( bagi kaum laki-laki) serta tertib dalam mengerjakannya. Atau memulainya dengan berusaha  membuang sifat-sifat syaitan dan kebiasaan-kebiasaan buruk, hingga ketika Ramadhan tiba nanti kebiasaan-kebiasan tersebut benar-benar telah hilang.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Agustus  2012.

Vien AM.

Read Full Post »

 “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)”. (QS.Al-Anbiya(21):1).

Hadis riwayat Sahal bin Saad ra., ia berkata: Aku mendengar Nabi saw. bersabda sambil memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah: Waktu aku diutus (menjadi rasul) dan waktu hari kiamat adalah seperti ini (mengisyaratkan dekatnya waktu kiamat). (Shahih Muslim No.5244)

Ayat dan peringatan Rasulullah diatas telah terjadi 14 abad silam. Bagi sebagian orang, mungkin hal ini agak membingungkan. Karena hingga hari ini ternyata hari Kiamat belum juga terjadi.  Mungkinkah Allah swt menyalahi janji-Nya ? Jawabnya jelas tidak mungkin. Sebaliknya, kita tampaknya yang harus lebih teliti dalam mengamati dan memaknai ayat-ayat dan hadist tentang hari Kiamat dan segala yang berkaitan dengannya.

Para ulama, berdasarkan Al-Quran dan hadist yang mereka kuasai, tentu saja, membagi Kiamat menjadi 2, yaitu Kiamat besar atau Kiamat Kubro dan Kiamat kecil atau Kiamat Sugro.  Kiamat besar adalah hari berakhirnya dunia dan alam semesta ini, secara keseluruhan. Sedangkan Kiamat kecil adalah hari kematian seseorang, yaitu berakhirnya kehidupan seorang manusia di dunia ini.

Kiamat kecil ini pasti akan mendatangi tiap yang berjiwa, termasuk manusia. Ia akan datang secara tiba-tiba, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dan pasti akan terjadi; kapan, dimana dan kemanapun kita bersembunyi.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung …. … ”.(QS.Ali Imran(3) :185)

 “ Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, … “(An-Nisa (4):78)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Al-Munafikun(63):11).

Selanjutnya setelah Kiamat besar terjadi barulah Sang Khalik akan memperhitungkan apa yang  telah kita kerjakan didunia, untuk dibalas dengan pahala atau siksa. Kiamat akan terjadi begitu terdengar tiupan sangkakala. Sangkakala ini ditiup oleh malaikat Israfil atas perintah Sang Khalik.

“ Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat,”.(QS.Al-Haqqah(69):13-15).

Maka terjadilah hari Kiamat yang didustakan orang-orang yang kafir itu. Pada hari bumi berguncang hebat, membuat manusia berlarian ketakutan bagaikan anai-anai yang bertebaran, melupakan kekerabatan bahkan anak yang sedang disusuinya !

“(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras”.(QS.Al-Hajj(22):2).

Dibenturkan-Nya gunung-gunung terhadap bumi tempat kita selama in tinggal hingga hancur-luluh, bagaikan debu dan bulu yang beterbangan. Bumi bergetar sehebat-hebatnya, memusnahkan semua yang ada dan memuntahkan segala isinya. Bahkan matahari yang selama ini sering dijadikan sesembahan beberapa peradaban kunopun digulung-Nya hingga kegelapan total yang sungguh mencekam menyelimuti seluruh permukaan bumi ini.

Dalam suasana kepanikan hebat itulah langit terbelah, menghancurkan gugusan mliyaran bintang yang menghiasinya hingga jatuh berserakan. Kemudian muncullah 8 malaikat menjunjung Sang Khalik di atas Ársy-Nya ke hadapan para hamba-Nya.

 «  Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan,” (QS.At-Takwir(81) :1-3)

  “ Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan”, (QS.Al-Waqiyah(56):4-6).

“ Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.(Al-Qaryah(101):4-5).

« Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”.(QS.Al-Haqqah(69):17-18).

Selanjutnya, atas kehendak-Nya matilah semua yang ada di alam semesta ini. Yang tinggal hanyalah Sang Kekuatan Dasyat, Sang Maha Pemilik, Allah Azza wa Jalla. Di tengah keheningan dan kegelapan mencekam itu kemudian Ia memerintahkan malaikat Israfil yang dibangunkan-Nya kembali agar meniup sangkakala, untuk kedua kalinya.

Maka keluarlah seluruh manusia, mulai dari nabi Adam as sebagai manusia pertama, dari tidur panjangnya di alam kubur hingga manusia terakhir yang baru saja dimatikan-Nya itu.  Inilah saat dimana manusia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya selama hidup di dunia. Bagi orang-orang yang selama hidup selalu mendustakan hal ini, hati mereka benar-benar kecut dan gentar menghadapi kenyataan yang harus mereka hadapi.

“ Pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula?”. (QS.An-Naziat(79):6-10)

“ Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)”.(Az-Zumar(39):68).

“ Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka”.(QS.Al-Zalzalah(99):6).

Kembali ke ayat  1 surat Al-Anbiya di awal artikel, apa sebenarnya yang dimaksud “ telah dekat“ pada ayat tersebut. Mari kita perhatikan ayat-ayat berikut:

“… Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”.(QS. Al-Hajj(22):47).

“ Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”.(QS. As-Sajdah(32):5).

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.(QS. Al-Al-Ma’rij(70):4).

Ya, seribu tahun atau bahkan lima ribu tahun menurut kita sama dengan sehari saja  dalam perhitungan Allah Azza wa Jala. Sungguh, betapa kecilnya kita ini, bukan?? Allahuakbar ..

Ayat-ayat Al-Quran turun sekitar 1400 tahun silam. Berarti tidak sampai satu setengah hari menurut perhitungan-Nya, bila kita mengambil patokan 1 hari adalah 1000 tahun. Bila 5000 tahun? Bahkan 1/3 haripun tidak sampai ! Subhanallah ..

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan”.(QS.Thoha(20):15).

Meski Allah swt merahasiakan waktu tepat terjadinya Kiamat  namun Rasulullah saw, sebagai utusan terakhir-Nya, diberi-Nya informasi tentang tanda-tanda datangnya hari yang sungguh dasyat tersebut. Tanda-tanda tersebut terbagi 2 yaitu tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar.

Tanda-tanda kecil sejak lama sudah semua keluar dan akan terus berlanjut hingga akhir zaman. Munculnya nabi-nabi palsu, perzinahan yang meraja lela, alat musik dimana-mana, berlomba dan berbangga dalam menghias masjid, hubungan tetangga yang buruk, orang hina mendapat kedudukan terhormat, banyak wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang  adalah beberapa contohnya. Bahkan fenomena menjadi suburnya tanah Arab belakangan ini ternyata adalah bagian dari tanda kecil datangnya Kiamat.

”Tidak akan datang hari kiamat sehingga negeri Arab kembali menjadi padang rumput dan”sungai-sungai. (HR. Sahih Muslim).

Sementara tanda-tanda besar kedatangan Kiamat adalah sebagai berikut,

Suatu saat, ketika para sahabat sedang berkumpul dan berbicang perihal hari Kiamat, datanglah Rasulullah. Segera mereka menanyakan hal tersebut, maka Rasulullahpun bersabda : “Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga kalian melihat sepuluh tanda : Terbit Matahari dari arah Barat, kabut, Binatang melata, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya Isa putra Maryam, Dajjal dan tiga gerhana : gerhana di timur, di Barat, dan di jazirah Arab dan api yang keluar dari jurang Adn yang akan menggiring manusia atau mengumpulkan manusia. Api itu akan menginap bersama mereka di manapun mereka menginap dan akan beristirahat siang dengan mereka tatkala mereka tidur siang”.

Yang juga patut mendapat catatan, riwayat mengatakan bahwa datangnya tanda-tanda besar Kiamat itu bagaikan untaian kalung. Begitu salah satu tandanya muncul maka yang lainnya akan berhamburan keluar, layaknya untaian kalung yang terlepas.

”Peristiwa –peristiwa ajaib laksana untaian kalung, saling berdekatan satu sama lainya.” sabda Rasulullah saw ketika menjelaskan tanda-tanda kiamat.

( Untuk mengetahui tanda-tanda Kiamat secara lengkap, click web berikut :

 http://ilmuislam2011.wordpress.com/2012/03/01/tanda-tanda-kiamat/  )

Disamping itu, berdasarkan sains, tanda-tanda berakhirnya alam semesta juga dapat diikuti. Global warming atau Pemanasan Global atas suhu rata-rata atmosfer, bumi dan laut adalah buktinya. Dampaknya benar-benar dapat dirasakan kita semua. Temperatur dan iklim yang tidak menentu dan berbagai bencana alam seperti bencana Tsunami, meletusnya gunung-gunung secara beruntun, asteroid raksasa yang diperkirakan bakal jatuh menabrak bumi adalah contoh yang nyata.

”Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,dan apabila lautan dipanaskan,”.(QS.At-Takwir (81):1-6).

” dan apabila lautan dijadikan meluap ”,(QS.Al-Infithar(82):3).

Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi) ». (QS. Al-Ma’ rij(70):5-7).

« Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung»..(QS.Al-Baqarah(2) :1-5).

Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya. Alangkan beruntungnya kaum Muslimin, yang mau membaca kitab-Nya dan menjadikannya pegangan. Dalam suatu hadis dikatakan bahwa Muslim yang hidup di akhir zaman tidak akan mengalami huru-hara mengerikan Hari Akhir ini. Dengan rahmat-Nya, mereka akan dimatikan sebelum kejadian tersebut berlangsung.

“Tiba-tiba Allah mengirimkan angin yang baik lantas menerpa mereka lewat ketiak mereka,  kemudian mengambil ruh tiap-tiap orang mukmin dan muslim dan tinggallah manusia-manusia jahat yang keadaannya kacau balau seperti himar. Maka pada zaman mereka inilah hari kiamat terjadi “.( HR.Shahih Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 24 Juli 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Dalam kehidupan sehari-hari, simbol, lambang, tanda atau ikon adalah hal yang biasa adanya. Simbol atau lambang bisa mewakili negara, bangsa, agama, kelompok pecinta tertentu seperti kelompok musik, klub olah-raga dll. Bendera sebagai simbol negara adalah yang paling umum dan sering digunakan. Didalam bendera inilah biasanya tercermin semangat  dan motivasi pencetus kelompok yang membuatnya. Tanda, simbol, angka bahkan warnanyapun biasanya memilki arti khusus yang sangat penting dan berarti bagi pengikutnya.

Dibawah tanda dan simbol-simbol inilah bersatu para anggotanya, membentuk pendukung dan simpatisan kelompok. Simbol Nazi sebagai pendukung Hitler dan simbol bintang David bagi pengikut Yahudi adalah salah satu contohnya. Saking pentingnya arti dan makna sebuah lambang, kabarnya kota Washingtonpun dipenuhi oleh lambang bintang David, semakin membuktikan bahwa kota ini memang telah dikuasai para Mason, simpatisan Yahudi. Sementara lambang bintang dan bulan sabit yang baru pada zaman Ottoman mewakili dunia Islam masih menjadi perdebatan. Ada yang berpendapat lambang tersebut bagian dari lambang paganisme, kaum penyembah matahari di masa lalu. Wallahu’alam …

Dalam kelompok-kelompok berlambang ini biasanya ada tokoh-tokoh yang diagungkan, yang dianggap sebagai karakter kuat yang dapat mewakili warna kelompoknya. Tokoh-tokoh ini biasanya menjadi panutan  yang ditiru segala gerak-geriknya oleh para pengikut atau fansnya. Katakanlah fans grup musik atau fans berat klub sepak bola tertentu. Mungkin ada diantara kita yang masih teringat bagaimana Mohammad Ali, petinju legendaris di tahun 1970-an itu mampu membuat  fans beratnya mendadak terkena serangan jantung melihat ia berlaga, meski hanya melihat pertunjukan adu jotos itu di depan layar kaca.

Atau bagaimana ganasnya para bonek, kependekan kata Bondo Nekat alias modal nekad, yaitu para pendukung berat Persebaya ketika menonton klub pujaannya bertanding. Atau bagaimana ulah para holigan, pendukung fanatik klub sepak bola dengan wajah coreng moreng mampu membuat ambruk sebuah stadion bola dan mengakibatkan sejumlah kematian penontonnya. Atau ada pula fans kelompok musik dimana mereka meniru apa dan bagaimana saja sang idola bersikap dan berpenampilan. Tak peduli apakah sikapnya itu baik atau tidak. . Ini adalah contoh fanatisme negative kelompok.

Namun di luar itu, ada juga fanatisme kelompok yang sifatnya positif. Salah satu contohnya adalah dalam beragama. Islam mengajukan para rasul sebagai contoh keteladanan, terutama nabi Ibrahim as sebagai bapak para rasul dan Rasulullah Muhammad saw sendiri sebagai sosok keteladanan terbaik .

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al-Ahzab(33):21).

Rasulullah saw adalah sebaik-baik manusia, tidak ada yang melebihi beliau dalam hal kemuliaan dan kehormatan. Meniru apa dan bagaimana sikap Rasulullah adalah hal yang sangat baik. Kita memang dianjurkan untuk mengikuti dan mencontoh prilaku beliau. Bahkan wajib bagi kita agar mencintai Rasulullah lebih dari pada kecintaan terhadap diri kita sendiri, orang tua, anak, istri dan seluruh umat manusia.

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(QS.At-Taubah(9):24).

Namun demikian kecintaan tersebut tidak boleh berlebihan apalagi hingga ke tingkat pengkultusan, seperti yang terjadi pada masa lalu. Yaitu pada diri nabi Isa as dan orang-orang sholeh terdahulu.

“Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah: “(Aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.R Al Bukhari).

Demikian pula yang terjadi pada kabilah-kabilah di zaman hidup nabi Nuh as. Para kabilah tersebut bersiteguh tidak mau mendengar ajakan nabi Nuh as untuk meninggalkan sembahan-sembahan berhala mereka, yaitu Wadd, Suwaa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nasr.  Peristiwa tersebut Allah swt abadikan dalam ayat 23 surat Nuh berikut :

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nasr”.

Ironisnya, ke 5 berhala tersebut sejatinya adalah orang-orang sholeh yang hidup pada zaman sebelum mereka ada. Melalui cerita-cerita yang disampaikan para orang-tua dan nenek moyang maka ke 5 orang contoh keteladanan tersebutpun sedikit demi sedikit berubah. Dari tokoh idola akhirnya menjadi kultus individu dan sesembahan.

Sejarah juga bercerita, beberapa lama setelah nabi Musa as wafat, hidup seorang sholeh bernama Uzair. Ketika itu pada umumnya masyarakat berada dalam tingkat kebejatan yang amat parah. Uzair berusaha untuk mengingatkan mereka agar kembali ke jalan yang benar. Namun usaha mulia tersebut tampaknya sia-sia.

Hingga suatu hari saking sedih melihat kondisi masyarakatnya, Uzair, dengan menunggang keledainya, meninggalkan kota. Ia melewati sebuah desa yang telah dihancurkan sekelompok penjarah. Ia melihat mayat-mayat bergeletakkan disana-sini. Terkesima, Uzair berpikir kritis, bagaimana Tuhannya mampu menghidupkan kembali negri beserta mayat-mayat yang terlihat sungguh mengenaskan itu.  Dalam keadaan demikianlah Uzair jatuh tertidur. Ternyata ini adalah bagian dari skenario besar Sang Khalik dalam menjawab pertanyaan dan keraguan hamba-Nya yang sholeh.

Seratus tahun kemudian dibangunkan-Nya Uzair dari tidur lelapnya. Kisah menarik ini dikemudian hari  diabadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 259 sebagai berikut :

« Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya.

Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”

Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.

Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?”

Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari“.

Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”.

Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Maha Benar Allah Dengan Firman-Nya.

Selanjutnya dikisahkan bahwa Uzair kembali ke kotanya, untuk membuktikan kebesaran Allah azza wa jalla bahwa Ia telah menidurkannya selama 100 tahun. Tentu saja penduduk tidak mempercayainya. Untuk itu mereka menantang Uzair agar membuktikan hal yang menurut orang awam sangat mustahil tersebut.

”Sejak penyerbuan Nebukadnezar terhadap kami, bani Israil,  tentara mereka membakar semua kitab Taurat hingga tak seorang pun dari kami yang hafal isi Taurat kecuali Uzair. Maka kalau benar anda Uzair, sebutkan isi kitab Taurat.”, tantang mereka.

Uzairpun membacakan isi Taurat dengan fasih dan lancar. Maka sejak itu mereka percaya bahwa Uzair, orang sholeh itu, telah kembali dari tidur panjangnya selama 100 tahun. Uzairpun menjadi buah bibir dan menjadi tokoh yang diagungkan dan disucikan. Bahkan di kemudian hari orang-orang Yahudi menjadikannya sebagai anak Tuhan. Persis seperti orang-orang Nasrani menganggap Yesus, Isa as, sebagai putra Allah.

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? “(QS. At-Taubah (9):30).

( Menjadi catatan penting, kisah Uzair membuktikan bahwa kesolehan suatu masyarakat bukan karena jasa seseorang meski ia orang soleh sekalipun. Uzair terbangun 100 tahun kemudian dan mendapati masyarakatnya telah menjadi masyarakat yang sholeh, atas kehendak-Nya, bukan karena dirinya).

Ironisnya, meski Al-Quran dan Rasulullah berkali-kali mengingatkan hal tersebut, pengkultusan tetap saja terjadi. Bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Salah satu contohnya adalah kaum Sufi, yang meyakini bahwa Rasulullah saw terbuat dari cahaya ! Juga orang-orang Syiah yang menganggap semua keturunan Rasulullah saw adalah orang-orang yang maksum, yang tidak mungkin berbuat kesalahan.

Padahal bahkan Rasulullahpun adalah seorang manusia seperti kita semua, yaitu terbuat dari tanah, bisa meninggal dan bisa berbuat kesalahan. Bedanya,  Allah swt senantiasa menjaga beliau dari perbuatan buruk dan mengingatkan beliau begitu beliau khilaf. Allah swt meninggikan derajat Rasulullah karena beliau adalah utusan-Nya yang terakhir, utusan yang paling dicintai dan disayangi-Nya. Di tangan beliau Al-Quranul Karim dipercayakan.

Ironisnya lagi, ada kelompok tertentu yang mengaku Muslim, terpana dengan kehebatan Al-Quran melalui angka-angkanya, maka menganggap sang “penemu”mukjizat angka tersebut, sebagai Rasul baru, penerus Rasulullah Muhammad saw! Dan menjadikan angka 19 sebagai simbol mereka.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(QS.Al-Ahzab(33):40).

( Baca https://vienmuhadi.com/2010/01/21/ketika-ayat-mutasyabihat-di-takwilkan-rasyad-khalifa/ ).

Demikianlah Allah swt menyesatkan orang yang suka berlebihan dalam segala hal. Bukankah dalam ibadah sekalipun kita dilarang berlebihan??

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. : tiga orang laki-laki berkunjung ke rumah istri-istri Nabi Saw menanyakan bagaimana (kualitas) Nabi Saw beribadah kepada Allah. ketika mereka diberitahu perihal itu, mereka merasa ibadah yang selama ini mereka lakukan sangat tidak memadai dan berkata, “begitu jauhnya kita dari Nabi Saw yang dosa masa lampau dan masa depannya telah diampuni Allah”. lalu salah seorang dari mereka berkata, “aku akan mengerjakan shalat sepanjang malam”. yang lain berkata, “aku akan berpuasa sepanjang tahun”. dan yang lainnya lagi berkata, “aku tidak akan menikah seumur hidupku”. Rasulullah Saw menemui mereka dan berkata, “apakah kalian orang-orang yang berkata ini dan itu? demi Allah, aku lebih tunduk dan takut kepada Allah daripada kalian. tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan menikahi perempuan. maka barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”.

Wallhu’alam bish shwwab.

Paris, 6 Juli 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Segala puji bagi Allah SWT, sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, shahabat, keluarga serta orang-orang yang masih berittiba’ (mengikuti) kepada beliau sampai hari kiamat.

Al Qur’an adalah sumber hukum dan ilmu pengetahuan yang tak pernah kering untuk ditimba, penuh dengan pelajaran, di dalamnya terdapat hikmah dan teladan. Salah satu isi pokok dari Al Qur’an adalah kisah perjalanan kehidupan para nabi dan rasul serta orang-orang saleh dari umat-umat sebelum nabi Muhammad SAW. Hikmah diceritakannya sirah manusia-manusia pilihan itu tidak lain karena besarnya manfaat dari keteladanan iman, sifat dan akhlaq mereka. Maka disini akan saya angkat sebuah kisah Luqman Al Hakim yang penuh dengan hikmah bagi kita semua.

1. Tidak menyekutukan Allah.
Sebesar-besar kedzaliman dan kemungkaran adalah menyekutukan Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.(Q.S. Luqman:13)

Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, kecuali ia bertobat dan meninggalkan perbuatannya. Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang berhak untuk disembah (Allahu mustahiqqul ‘ibaadah). Dia lah yang berhaq di mintai pertolongan. Hanya kepada-Nyalah segala urusan diserahkan, takut (khouf), berharap (raja’) hanya layak ditujukan kepada Allah swt, bukan kepada yang lainnya

2. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
Firman Allah SWT.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”( QS.Luqman: 14)

Di dalam riwayat Bukhari, Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat:
“Amalan apakah yang dicintai oleh Allah ?Beliau menjawab: Shalat pada waktunya, ia bertanya lagi: Kemudian Apa ?, Beliau menjawab: berbuat baik kepada orang tua, .Ia bertanya lagi: kemudian apa?, Belau menjawab: Jihad di jalan Allah” (shahih Bukhari V/2227, hadits No.5625)

3. Ketaatan kepada kedua orang tua harus dilandasi oleh ketaatan kepada Allah; karena tidak boleh
taat kepada keduanya dalam rangka berbuat maksiat kepada Allah, lebih-lebih menyekutukan Allah ( syirik ). Allah berfirman
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”(QS. Luqman: 14).

4. Mengikuti jalan orang-orang yang kembali kepada Allah SWT
Firman Allah SWT
Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS. Luqman: 15)

Disini Luqman memberikan sebuah nasehat kepada anaknya agar ia mengikuti jejak orang-orang yang kembali kepada Allah SWT yaitu para nabi dan rasul serta orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, yang selalu bertaubat kepada Allah SWT, yang telah diberi Allah SWT hidayah, yaitu tetap dalam agama yang hanif yakni Islam.

5. Allah akan membalas semua perbuatan manusia.
Firman Allah swt :
(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.(Q.S: 16)

“Maka Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (QS. Al Zalzalah: 7-8).

6. Menegakkan sholat.
Shalat adalah tiang agama, sehingga ia tidak akan tegak tanpa shalat. Maka sebagai seorang yang beriman kita diwajibkan menegakkannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Luqman ayat 17 yang berbunyi :
“Hai anakku, dirikanlah shalat …”

Shalat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah SWT.
…”Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabuut: 45)

7. Amar Ma’ruf nahi Munkar.
Ada dua komponen penting dalam Islam yang memberikan sebuah dorongan yang kuat kepada setiap muslim untuk mendakwahkan agama yang dianutnya, yaitu Amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan berbuat kebajikan dan mencegah yang mungkar). Perintah untuk beramar ma’ruf nahi mungkar sangat banyak di dalam Al Qur’an seperti :
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.(QS. Ali Imran:104).

8. Bersabar terhadap apa yang menimpa kita.
Sesungguhnya segala cobaan yang menimpa seorang muslim itu adalah merupakan sesuatu yang mesti terjadi karena itulah bentuk ujian (ikhtibar) dari Allah SWT, apakah ia sabar atau tidak ?, firman Allah SWT.
“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”(QS. Luqman:17)

9. Tidak Menyombongkan diri
Sifat takabur atau merasa besar dihadapan manusia adalah sifat yang dibenci oleh Allah SWT.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

10. Bersikap pertengahan dalam segala hal dan berakhlaq yang baik
Islam tidak menghendaki sikap Ghuluw (berlebih-lebihan) juga tidak menginginkan untuk bersikap tahawun (meremehkan) dalam segala hal termasuk juga dalam perkara-perkara yang menurut penilaian sebagian orang dianggap kecil seperti sikap berjalan, berbicara dsb. Allah SWT mengatur itu semua sebagaimana firmanNya:
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Manusia akan mempunyai nilai jika menampakkan akhlaq yang baik, karena tujun diutusnya Rasulullah SAW selain untuk menyeru kepada Allah ( Ad-dakwah ilallah) adalah untuk menyempurnakan Akhlaq dan budi pekerti.

Dicopy dari :

http://alkisah.web.id/2009/12/nasehat-luqman-al-hakim-kepada-putranya.html

Paris, 3 Juli 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Syukur

Manusia pada umumnya mencintai harta benda. Oleh karenanya menjadi kaya adalah idaman dan cita-cita kebanyakan orang.  Demi mencapai tujuan inilah orang rela mengerjakan pekerjaan apapun, tidak peduli apakah pekerjaan itu halal atau tidak, menzalimi orang lain atau tidak. Ironisnya, bukan cerita yang jarang bila sang istri/pasangan tercinta tidak hanya tidak tahu namun malah mendukung perbuatan buruk tersebut.

Ya, harta kekayaan memang sangat berpotensi menutup mata hati seseorang. Padahal tidak berbukti bahwa kekayaan dan kebahagiaan itu berbanding lurus. Buktinya, berapa banyak kita mendengar cerita anak-anak ‘broken home’yang biasanya berasal dari keluarga kaya raya. Berapa sering kita mendengar skandal perselingkuhan dan perceraian yang biasanya menimpa keluarga berkecukupan.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.(QS.Ali Imran(3):114).

Dari ayat diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa kecintaan terhadap harta benda memang telah menjadi fitrah manusia. Sejauh kecintaan tersebut tidak sampai membuat kita lalai terhadap kehidupan akhirat, hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah. Karena kehidupan dunia hanyalah sementara. Kehidupan yang jauh lebih kekal adalah kehidupan akhirat, yaitu surga atau neraka.

Oleh sebab itu, nikmat terbesar dalam hidup ini sesungguhnya adalah nikmat Iman dan Islam. Karena dengan bekal inilah seseorang akan mengetahui  hakekat kehidupan yang sesungguhnya. Dan kedua nikmat ini hanya dapat diperoleh dengan adanya mata hati yang bersih.

Melalui nikmat Iman, seseorang akan mempercayai adanya Sang Pencipta Yang Satu. Dengan nikmat Iman seseorang akan meyakini adanya yang ghaib, seperti para malaikat, surga dan neraka, hari pembalasan  dll. Dan dengan nikmat Islam seseorang akan mampu menikmati manisnya shalat, zakat, puasa serta indahnya berbagi dengan sesama. Sebagai dampaknya, maka orang-orang seperti ini tidaklah  akan terjebak dalam kenikmatan palsu, kenikmatan duniawi.

Tidak dapat dipungkiri kenikmatan dunia seperti harta benda dan kekayaan memang dibutuhkan dalam hidup ini. Karena kita memang hidup di alam dunia. Namun dengan adanya kesadaran bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan dunia, maka ia tidak akan terperangkap dalam kenikmatan tersebut. Ia akan berpikir kritis apa dan bagaimana resiko dan tanggung-jawab yang harus diembannya ketika ia menikmati kenikmatan  tersebut.

Tingkat kenikmatan seseorang berbeda-beda. Orang yang mampu menikmati indahnya Iman dan Islam pasti juga mampu menikmati indahnya pemberian kelima indra dari-Nya, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba dan perasa. Dengan bekal inilah kita dapat menikmati betapa indahnya ciptaan-Nya.

Sebaliknya, sekiranya mereka ini dicoba dengan kurangnya salah satu dari ke 5 indra tersebut, mereka tetap mensyukurinya. Begitu pula bila mereka dicoba dengan kurangnya rezeki dll.

‎”Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya maka dia berkata,”Tuhanku telah memuliakanku”. Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata,”Tuhanku telah menghinaku”. Sekali-kali tidak! .. (QS.Al-Fajr(89):15-17)

Adalah salah besar orang yang beranggapan bahwa kekayaan dan kesempurnaan tubuh adalah suatu kemuliaan. Sementara kemiskinan dan kekurang sempurnaan tubuh adalah suatu kehinaan. Karena sesungguhnya baik kekayaan, kemiskinan maupun kekurangan, semua adalah ujian dan cobaan Allah Azza wa Jalla bagi hamba-hamba-Nya. Ini untuk mengetahui siapa sebenarnya yang tetap dalam ketakwaan, siapa yang tetap sabar dan bersyukur dalam menghadapi dan menyikapi kelebihan dan kekurangan tersebut .

“ Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):45-46).

Yang juga perlu dicatat, syukur tidak hanya cukup dikatakan secara lisan. Syukur yang dikehendaki-Nya adalah syukur yang diucapkan lewat lisan, dengan niat yang tulus di hati serta di wujudkan dalam sikap. Shalat 5 waktu, zakat, sodakoh dan infak,  membaca Al-Quran dan berusaha memahaminya adalah salah satu contohnya. Mari kita saling mengingatkan untuk memotivasi diri agar selalu ada peningkatan kwalitas dalam ibadah/syukur.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 29 April 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »