Adalah tabiat manusia mencintai kehidupan dunia dengan segala kesenangan, hingar bingar, gemerlap serta kemegahannya. Wajar, karena manusia memang hidup nyata di dunia. Tapi ketika kemudian ada kelompok manusia yang berbuat sesuka hati melanggar hak orang lain tentunya sudah tidak wajar. Itu sebabnya diperlukan adanya hukum yang mengatur prilaku manusia.
Namun yang lebih penting lagi ternyata hidup tidak hanya di dunia melainkan juga ada akhirat, yaitu kehidupan setelah mati. Di akhirat inilah orang akan mendapatkan balasan yang sesungguhnya atas apa yang telah dikerjakan di dunia baik dalam kebaikan maupun kejahatan. Dan pada akhirnya adalah surga dan neraka tempat kembali.
Sayangnya tidak sedikit orang yang meyakini hal tersebut kecuali orang beragama. Meski sebenarnya bagi orang yang mau berpikir, banyak sekali kejadian yang dapat membuktikan hal tersebut. Salah satunya adalah adanya alam semesta yang maha luas ini, yang dibandingkan bumi tempat kita tinggal, bumi tidak ada apa-apanya secuilpun. Setidaknya itulah yang tertulis dalam Al-Quran, kita suci umat Islam.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Terjemah QS. Ali Imron (3):190-191).
Untuk diingat, ayat Al-Quran yang pertama kali turun adalah “Iqro !” yang artinya “Bacalah!” Ini menekankan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk selalu berpikir, membaca. Temuan Sains dan Teknologi belakangan ini membuktikan bahwa untuk percaya pada sesuatu tidak harus melihat dengan mata kepala sendiri karena pandangan mata manusia amat sangat terbatas.
Baca : https://vienmuhadi.com/2023/02/28/satu-hari-akhirat-sama-dengan-seribu-tahun-dunia/
Tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Namun Ketika seseorang telah menyatakan memeluknya tidak ada pilihan lain selain wajib mematuhi semua syariatnya (hukum-hukumnya) sesuai Al-Quran dan sunnah Rasul.
“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”. (HR. Muslim).
Namun untuk memasuki syurga-Nya, Allah swt menuntut hamba-Nya untuk memurnikan ketaatan dan penyembahan, yaitu taat dan menyembah hanya kepada Tuhan Yang Satu, yaitu Allah Subhanallahu Wa Ta’ala.
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya”. ( Terjemah QS. Az-Zumar (39):2).
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”. Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku”. Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku“. (Terjemah QS.Az-Zumar (39):11-14).
Yang dimaksud “memurnikan” ketaatan (dari kata dasar ikhlas yang berarti murni) adalah tidak mencampur ketaatan dan penyembahan kepada Allah swt dengan yang lain, dalam segala hal maupun bentuk. Lawan ikhlas adalah syirik (mempersekutukan Allah).
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48).
Sementara itu dalam sebuah hadist dikatakan, Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 5: 251).
Tali ikatan Islam yang dimaksud adalah segala hukum yang mengikat seseorang menjadi seorang Muslim. Dan hal yang lebih dulu dan mudah diabaikan seorang Muslim adalah mengabaikan hukum Islam seperti riba’ (bunga bank), khamar (alkohol), perzinaan, menutup aurat dll. Sementara shalat adalah yang terakhir putus, karena bila seorang mengaku Muslim tapi tidak menjalankan shalat maka hilanglah ke-Islamannya. Shalat adalah satu-satunya kewajiban yang harus dikerjakan, dalam keadaan apapun. Bila sedang sakit atau darurat boleh dikerjakan sambil duduk, berbaring bahkan di atas kuda sekalipun.
“Barang siapa berani meremehkan shalat maka dia dengan yang lainnya akan lebih berani meremehkannya”. (Umar bin Khattab radhiallahu anhu).
https://hidayatullah.com/kajian/oase-iman/2016/05/16/94896/tali-terakhir-bernama-shalat.html
Inilah yang terjadi hari ini. Shalat di belahan dunia manapun Muslim berada mungkin masih bisa terlihat. Namun hukum Islam seperti yang disebutkan diatas masihkah terjaga baik??? Berapa banyak negara berpenduduk Islam di dunia ini yang tidak terjerat sistim Barat yang materialistis, yang pada dasarnya mengandung riba, perjudian, pelacuran, alkohol, pajak yang berlebihan, dll??
Islamophobia yang melanda Barat yang sengaja diciptakan pihak-pihak yang membenci Islam, sejatinya adalah suatu usaha untuk menjauhkan umat Islam dari hukum-hukumnya, bukan hanya agar orang Barat tidak menerimanya. Mereka membenci bukan hanya ritualnya seperti shalat, puasa, haji tapi terlebih lagi hukum-hukum Islamnya.
Hukum Islam dianggap sebagai hambatan besar bagi kemajuan yang sifatnya materialistis. Bunga bank, perjudian, penjualan minuman keras, narkoba dan anak, bisnis pelacuran dan yang semacamnya adalah sumber keuangan yang paling menjanjikan dan mudah didapat.
Untuk itu agama harus dipisahkan dari kehidupan dunia. Agama adalah urusan akhirat dengan Tuhannya, tidak boleh dicampur adukkan dengan kepentingan dunia yang materialistis. Itulah prinsip sekulerisme yang akhirnya diikuti oleh hampir semua negara di dunia ini termasuk negara-negara berpenduduk Islam. Ketakutan terhadap kemiskinan dan dalih modernisasi membuat negara-negara tersebut tunduk patuh pada Barat yang 250 tahun terakhir ini memang sedang berada di puncak kejayaan.
Islamophobia dimunculkan untuk mencitrakan ajaran Islam sebagai ajaran yang menyimpang, yang dipenuhi dengan ekstremisme dan kekerasan. Yang ironisnya tidak hanya dipercaya oleh non Muslim tapi juga Muslim yang kurang ilmu dan keimanannya, sungguh mengerikan.
Padahal Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, yang membedakan jelas antara kejahatan dan kebaikan. Islam adalah agama yang santun dan adil namun tegas, yang menghargai perbedaan pendapat tanpa harus mencampur-adukkannya, yang membela orang lemah dan miskin, menghormati orang-tua dan kaum perempuan, tidak mengajarkan menumpuk harta, dll.
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya”. (Terjemah QS. Al-Humazah (104): 1-2).
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”. (Terjemah QS. Al-Maa’un (107): 1-3).
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. [HR. Bukhari].
“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”. [HR. Bukhari Muslim].
Ironisnya hari ini dapat kita lihat jelas bagaimana sikap negara-negara Timur Tengah menghadapi genosida terhadap rakyat Palestina, Gaza khususnya, yang dilakukan Israel dengan izin AS. Negara-negara tetangga dekat Palestina tersebut adalah negara-negara Islam. Namun demi kepentingan materialistis mereka mengizinkan AS membangun pangkalan militer di negara mereka. Yang dengan demikian memudahkan negara adi daya tersebut, dengan segala dalihnya, menyerang Iran, satu-satunya negara yang secara terbuka membela Palestina.
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (Terjemah QS. Zukhruf (43):36-37).
Akhir kata semoga Allah Azza wa Jala ridho membuka hati manusia terutama para pemimpin negara untuk menyadari kesalahannya, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …
Wallahu’alam bishawwab.
Jakarta, 15 JuIi 2024 / 1 Safar 1448 H.
Vien AM.
Leave a comment