Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

( Sambungan ).

Penduduk Irlandia saat ini memang mayoritas Kristen Katolik. Namun dulunya mereka adalah pemeluk agama pagan alias penyembah dewa-dewa, agama warisan nenek moyang mereka, yaitu bangsa Celtes. Nama Irlandia sendiri berasal dari kata Eire atau Eiru yang dalam bahasa Irlandia, adalah nama dewi menantu dewa Ogma, salah satu dewa yang disembah orang Celtes.

Odille, guide kami, menerangkan bahwa agama Kristen masuk ke negara pulau ini pada abad 5 melalui santo Patrik. Ajaran ini dengan mudah masuk dan berkembang berkat kelihaian santo tersebut menggabungkannya dengan kepercayaan pagan, yang juga merupakan kepercayaan Romawi pada abad tersebut.

Menurut legenda, santo Patrik ini pulalah yang memberi inspirasi bangsa Irlandia untuk menggunakan shamrock ( clover), sejenis semanggi yang mempunyai tiga helai daun, sebagai lambang Negara. Ketiga helai daun tersebut menunjukkan keyakinan Kristen tentang konsep tritunggal, ‘tiga pribadi dalam satu Allah’ yang bertentangan dengan keyakinan Arianisme yang populer pada masa itu.

“Arianisme adalah sebuah pandangan kristologis yang dianut oleh para pengikut Arius, seorang presbiter Kristen yang hidup dan mengajar di Alexandria, Mesir, pada awal abad ke-4. Arius mengajarkan bahwa berbeda dengan Allah Bapa, Allah Anak tidak sama-sama kekal dengan Sang Bapa. Ia mengajarkan bahwa Yesus sebelum menjelma adalah makhluk ilahi, namun ia diciptakan oleh Sang Bapa pada suatu saat tertentu — dan oleh karenanya statusnya lebih rendah daripada Sang Bapa. Sebelum penciptaan-Nya itu, Sang Putra tidak ada. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kadang-kadang dikatakan bahwa kaum Arian percaya bahwa Yesus, dalam konteks ini, adalah suatu “makhluk”. Kata yang digunakan dalam pengertian aslinya adalah “makhluk ciptaan.”

Konflik antara Arianisme dan keyakinan Trinitarian adalah konfrontasi doktriner besar pertama dalam gereja setelah agama Kristen dilegalisasikan oleh Kaisar Konstantin I. Kontroversi tentang Arianisme ini meluas hingga sebagian besar dari abad ke-4 dan melibatkan sebagian terbesar anggota gereja, orang-orang percaya yang sederhana dan para biarawan, serta para uskup dan kaisar. Sementara Arianisme memang selama beberapa dasawarsa mendominasi di kalangan keluarga kaisar, kaum bangsawan kekaisaran dan para rohaniwan yang lebih tinggi kedudukannya, pada akhirnya Trinitarianismelah yang menang secara teologis dan politik pada akhir abad ke-4. dan sejak saat itu telah menjadi doktrin yang praktis tidak tertandingi di semua cabang utama gereja Timur dan Barat. Arianisme, yang diajarkan oleh misionaris Arian Ulfilas kepada suku-suku Jermanik, memang bertahan selama beberapa abad di antara sejumlah suku Jermanik di Eropa barat, khususnya suku-suku Goth dan Longobard tetapi sejak itu tidak memainkan peranan teologis yang penting lagi.”

(tulisan bercetak miring dalam tanda kutip diatas adalah copy paste dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Arianisme .

Baca juga : http://id.wikipedia.org/wiki/Konsili_Nicea_ tentang perjanjian Nicea yang dilakukan di Nicaea ( sekarang Iznik, Turki) pada tahun 325 M oleh kaisar Romawi Konstantin I).

Yang juga penting untuk diketahui, kerajaan Romawi yang pada abad 5 merupakan kekuatan terbesar di dunia adalah penganut pagan, seperti umumnya penduduk dunia saat itu. Dewa matahari adalah dewa tertinggi yang mereka sembah. Kaisar Konstantin I, kaisar Romawi Timur ketika itu, menjadi gusar sekaligus panik ketika mengetahui bahwa ternyata sebagian besar rakyatnya mulai tertarik pada ajaran yang dibawa nabi Isa as.

Padahal ajaran tersebut datang pada awal-awal abad 1. Artinya ada jeda beberapa ratus tahun antara datangnya ajaran dan mulai tersebarnya ajaran Monotheisme itu. Hal yang sangat berlawanan dengan ajaran pagan yang menyembah banyak dewa. Maka demi mencegah perpecahan rakyat yang mungkin terjadi, sang kaisarpun segera menggabungkan kedua kepercayaan tersebut, Kristen dan pagan. Bagaimana caranya ?

Dari beberapa sumber, termasuk juga Odille, dikatakan bahwa nabi Isa as atau Yesus di identikkan dengan dewa matahari. Itu sebabnya dalam penggambaran orang-orang suci Kristen selalu terlihat lingkaran bersinar di belakang kepala. Tanggal 25 Desember, hari di saat mana matahari berada pada titik terjauh dari katulistiwa ( The Winter Saltice ) sekaligus hari lahir dewa matahari ditetapkan sebagai hari lahir Yesus. Sun day atau hari matahari yang dianggap hari suci bagi pagan ditetapkan sebagai hari suci Kristen.

« Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara ».(QS.An-Nisa(4) :171).

Salib Celtic

Salib Celtic

Begitulah akhirnya pada tahun 325 M dibawah perjanjian Nicea yang ditanda tangani kaisar Konstantin I, Kristen menjadi agama resmi Romawi. Dan tersebar ke Eropa termasuk Irlandia. Bahkan rakyat Irlandia hingga beberapa tahun belakangan masih tercatat sebagai rakyat yang sangat religius dibanding Negara Eropa lainnya. Meski tidak dapat dipungkiri percampurannya dengan ajaran pagan lebih terlihat kental dari pada Negara Eropa yang lain.

Agak kaget juga saya mendengar penjelasan Odille yang dengan jujur dan tegas berani mengatakan semua itu di depan tamu-tamu Perancisnya yang kemungkinan besar beragama Kristen. Ingin rasanya saya melihat reaksi dan air muka mereka. Namun mustahil karena penjelasan tersebut di berikan guide cantik kami itu di dalam bus. Dan lagi penjelasan tersebut diberikan secara sebagian-sebagian dalam beberapa hari sesuai keadaan dan kondisi hingga tidak terkesan membosankan apalagi mendikte.

 
Cliffden

Cliffden

Westport

Westport

Tralee

Tralee

IMG_1109

Galway

Setiap malam kami memang menginap di kota yang berbeda. Berangkat pukul 8.30 dan masuk hotel berikutnya sekitar pukul 7 malam kemudian keluar lagi untuk makan malam bersama. Begitulah ritual kami selama 8 hari. … 🙂

“ Orang Perancis kan rata-rata atheis”, bisik suami saya mengingatkan. Saya jadi teringat, Pauline, teman sekaligus guru saya bahasa Inggris di Paris pernah mengatakan bahwa sejak tahun 80-an anak muda Irlandia banyak yang mengikuti jejak saudara-saudara mereka di daratan Eropa, yaitu tidak mempercayai adanya Tuhan alias atheis. Pauline, perempuan setengah baya warga Irlandia yang taat pada agamanya, Kriten Katolik itu menceritakan kondisi tersebut dengan nada sedih campur kecewa.

Janji Sang Khalik terbukti benar, tipu daya manusia tidak mungkin dapat mengalahkan-Nya.

“ Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(QS.Ali Imran(3):54).

“ Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya ‘.(QS.Al-An’am(6):123).

Di era modern seperti sekarang ini informasi memang tidak mungkin dapat dibendung. Dengan hanya duduk manis di depan komputer atau bahkan hanya dengan modal HP seseorang dapat surfing kemanapun ia suka untuk mendapatkan berbagai informasi. Dunia maya yang penuh misteri dapat dijelajahinya. Bahkan ayat-ayat suci Al-Quran dan hadist berikut penjelasannya dapat dengan mudah di acces. Meski tentu saja mempelajari keduanya tanpa bimbingan sama sekali sangat berbahaya, karena Al-Quran memang bukan bacaan biasa yang dapat ditafsirkan sesuka orang yang membacanya.

Dari pengalaman selama 8 hari di Irlandia, saya juga jadi tahu bahwa rakyat Irlandia ternyata sangat menyukai sesuatu yang bersifat mistis. Mereka beranggapan bahwa beberapa batu-batuan memiliki kekuatan tertentu. Ini terbukti dengan banyaknya batu-batu berwarna tertentu dengan macam-macam bentuk seperti kalung, cincin, bros dll yang dijual di semua toko di kota-kota yang kami kunjungi. Disitu dicantumkan dengan jelas bahwa tiap warna batu mempunyai sifat dan keberuntungannya masing-masing.

Hal ini membuat saya teringat akan kisah bagaimana orang-orang Quraisy dahulu suka membawa-bawa batu pemujaan ketika mereka bepergian, dengan harapan membawa keselamatan dan kesuksesan perdagangan mereka. Suatu hal yang menjadi penyebab  utama diutusnya rasulullah Muhammad saw agar mengingatkan mereka bahwa hal tersebut adalah hal yang keliru. Ini adalah termasuk dosa syirik, dosa besar yang tak terampuni.

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar “.(QS.An-Nisa (4): 48).

Hikmah lain yang juga patut untuk dicatat adalah pengalaman 2 orang teman sebagai berikut.

“ Vin, coba dong fromage-nya”, bujuk Monique, seorang warga Perancis asal Vietnam yang bersuamikan orang asli Perancis, sambil menyodorkan keju ke hadapan saya. “ Dulu saya anti sama yang namanya keju, tapi saya sekarang suka sekali. Dulu saya tidak pernah minum wine, sekarang tidak ketemu wine sehari rasanya garing mulut ini”, ujarnya sambil tersenyum. Lebih dari separuh hidup perempuan berambut pendek ini memang dilewatkannya di Perancis. Ia meninggalkan tanah airnya ketika ia baru berumur 5 tahun dimana kemudian ia diadopsi oleh keluarga Perancis.

Sementara Tandar, seorang gadis budha asli Myanmar bercerita : ” Di negri kami, makan tidak boleh sambil berbicara, makan harus perlahan-lahan, makanan di dalam piring tidak boleh habis sampai licin”. “ Disini, saya makan selalu diolok-olok karena lambat. Orang selalu mengajak saya bicara dan diprotes kalau makanan di piring bersisa”. “ Akibatnya, ketika saya pulang kampung, saya dipelototi keluarga besar saya karena saya makan cepat sampai piringnya licin dan sambil berbicara pula”. Ia sudah 3 tahun bekerja di Paris dan akan selesai penugasan akhir tahun ini. “ Gawat nih”, katanya sambil tertawa lebar.

Penyesuaian diri memang sangat diperlukan. Selama hal itu tidak bertentangan dengan akidah dan mempunyai nilai positif, mengapa tidak .. Yang berbahaya kalau sampai mengganggu akidah. Tidak ringan memang perjuangan hidup di negri yang berbeda kultur dan kepercayaan , batin saya.

Suatu hari Odille menceritakan bahwa rakyat Irlandia, pada umumnya sangat menyukai taruhan, diantaranya yaitu balapan anjing atau greyhound. Untuk itulah maka kami diajak menyaksikan balapan yang cukup bergengsi ini. Balapan diadakan di stadion khusus di kota Tralee. Di luar dugaan kami, saya dan suami, ternyata stadion tersebut merangkap sebagai restoran. Jadi sambil menikmati hidangan, pelayan datang berkeliling mencatat anjing mana yang kita jagokan sekaligus membayar taruhannya. Na’udzubilah min dzalik ..Tak urung, terbersit rasa malu di hati ini .. Meski tiap taruhan minimum hanya perlu membayar 2 euro sekali putaran tetap saja ini dilarang dalam Islam.

“ Kalian tidak ikut taruhan ?”, tanya Nicole, teman kami semeja, teman satu grup tur. Dengan sopan dan sedikit tersenyum saya hanya menjawab : “ Non, c’est pas bien”, maksudnya itu tidak baik. Kontan wajah perempuan setengah baya tersebut langsung memerah, malu. “ Iya sih, tapi ini kan hanya main-main. Cuma 2 euro koq. Dan lagi sebenarnya baru 2x ini saya ikut. Sebelumnya pernah sekali menemani anak lelaki saya, bertahun-tahun yang lalu”, katanya berusaha membela diri. Kami hanya tersenyum menanggapinya.

Namun yang juga tak kalah mengagetkan, ternyata peristiwa ini sekaligus untuk merayakan hari terakhir para gadis yang akan menikah keesokan harinya. Kami berdua sempat terhenyak melihat sejumlah miss Tralee membopong-bopong organ vital tubuh lelaki yang tidak pantas di perlihatkan di muka umum, ke atas podium. Padahal disitu banyak anak-anak menyaksikan peristiwa tersebut. Merupakan tradisi, mereka beralasan. Astaghfirullahaladzim, kami hanya bisa mengelus dada.

Saya bergidik ngeri, tidakkah kebiasaan dan tradisi buruk seperti diatas ditambah lagi dengan hobby meminum minuman beralkohol, mempercayai kekuatan batu-batuan, penyembahan tuhan yang tidak tepat alias kesyirikan dll, akan memancing kemurkaan Sang khalik ?? Bukankah mereka orang-orang beragama ?

Dalam hati saya berpikir, ternyata beragama saja tanpa mempertanyakan apakah agama dan Tuhan yang disembah itu sudah benar dan tepat, tidaklah cukup. Allah swt, Tuhan seluruh alam semesta yang Satu, yang tidak lazim beranak dan diperanakkan, telah mengutus sejumlah rasul untuk mengingatkan dan mengajak kepada penyembahan yang benar. Namun bila ternyata manusia tidak mau mendengar ajakan tersebut ?? Bahkan mendustakannya …

Tidakkah mereka memahami bagaimana Sang Khalik mengazab kaum yang demikian, melalui berbagai bencana seperti gempa, angin puyuh dll .. Tidakkah mereka memperhatikan apa yang terjadi pada penduduk kota Pompei di Italia yang sungguh mengenaskan itu … Berlindung dibalik sains dan pengetahuan alam, orang-orang pandai selalu berdalih bahwa bencana alam adalah memang fenomena alam yang sudah seharusnya demikian. Tidakkah mereka mengetahui bahwa tanpa izin dan ridho Sang Pemilik semua itu tidak akan terjadi ??

Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan”, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.(QS. Al-A’raf(7): 94-96).

Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pengajaran?” (QS.At-Taubah(9):126).

IMG_0885Padahal begitu banyak nikmat yang telah dilimpahkan kepada rakyat Irlandia. Kecantikan alam yang begitu mempesona, ikan salmon yang hanya bisa ditemui di lautan Atlantik dan lautan Pasifik dengan cara hidupnya yang menakjubkan itu, domba dan sapi yang begitu mudah hidup dan berkembang hingga daging, susu dan bulunya dapat mereka manfaatkan.fb1

Oya, kami sempat dibawa ke peternakan lho, untuk menyaksikan peternak domba mencukur bulu dombanya. Juga ke tempat penggembala domba lain untuk menyaksikan bagaimana ia melatih 2 ekor anjingnya dalam membantu menggembalakan 1300 domba miliknya !.

“ Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa) nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)”.(QS. An-Nahl (16):80).

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya”.(QS. An-Nahl(16):66).

Mungkin inilah saat yang tepat bagi kaum Muslimin untuk memberikan informasi yang benar tentang Sang Khalik, tuhan semesta alam yang mustinya harus disembah seluruh manusia tanpa perlu merasa congkak dan sombong karena kita lebih dahulu tahu dari mereka. Bahkan Allah swt berjanji mengganjar pahala 2 x lipat bagi ahli kitab yang mau kembali ke jalan yang benar, sebagaimana yang diterima raja Habasyah yang memeluk Islam setelah mendengar surat Maryam dibacakan oleh Ja’far bin Abi Thalib, salah satu sahabat yang ketika itu hijrah ke negrinya.

“ Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan” .(QS.Al-Qashash(28):54).

Jadi mungkin tidak berlebihan jika saya berharap semoga Allah swt menghitung perjalanan kami berdua ke Irlandia ini sebagai amal ibadah. Paling tidak, semoga keberadaan kami diantara 15 anggota grup kecil ini dapat sedikit memberikan gambaran mengenai Islam. Tentang apa itu makanan halal, bagaimana puasa, apa itu ijtihaj dll. Karena memang selama perjalanan tersebut ada saja teman yang menanyakan hal-hal tersebut. Bahkan juga ada yang bertanya tentang perempuan bekerja dalam Islam, tentang hubungan madu dan akhir zaman. Meski sebenarnya, dengan berjilbab saja tanpa peru berkata banyak, seorang Muslimah bisa dianggap berdakwah.

“Wow, kamu mencuci sepatu kamu? Debu banget yaa !», komentar Lawrence, seorang teman seperjalanan ketika melihat saya sedang mengelap sepatu saya sebagai bagian dari wudhu, di toilet perempuan.

“ Bukan, ini persiapan untuk shalat”, jawab saya.
Kamu mau shalat dimana?” tanyanya lagi.
Ya di bus saja. Karena hari ini perjalanan sangat padat, kalau harus menunggu sampai kami masuk hotel, seperti yang biasa kami lakukan, g akan keburu », jawab saya lagi.

“ Saya dengar, Al-Quran berkata bahwa kalau madu sudah sulit ditemukan di muka bumi ini, artinya itulah tanda akhir zaman, betul g ?”, begitu tanya Caroline, perempuan asli Perancis asal Lille, utara Perancis yang tampaknya seorang pecinta madu itu.

“ Wah, kalau Al-Quran rasanya g pernah dengar tuh, mungkin hadist. Yang pasti saya tahu, salah satu tanda akhir zaman itu bila homoseksual makin merajalale di muka bumi, seperti sekarang ini », jawab saya, yakin.

“Oh, soalnya homoseksual membuat terhentinya perkembangan manusia sih ya .. “, katanya lagi, juga yakin.

Wallahu’alam bish shawwab.
Jakarta, 1 Juni 2012.
Vien AM.

Read Full Post »

( Sambungan ).

Selama 8 hari di Irlandia, kami menggunakan mini bus yang dikemudikan oleh seorang sopir bule, asli Irlandia. Sementara guide kami, adalah seorang gadis Perancis yang telah 7 tahun tinggal di negri tersebut. Guide bernama Odille ini, benar-benar seorang guide yang luar biasa. Pengetahuan dan cara menyampaikan pengetahuannya tersebut patut mendapat acungan jempol. Selama perjalanan, gadis yang fasih berbahasa Inggris ini, dalam bahasa Perancis menceritakan berbagai hal, mulai dari sejarah resmi Irlandia, masuknya Kristen ke Irlandia lengkap dengan berbagai legendanya, hal-hal teknis seperti cara pembentukan bog atau tanah rawa atau tourbieres dalam bahasa Perancis, yang banyak dijumpai di negri ini, hingga mengajarkan lagu daerah yang populer di Irlandia, « Molly Mallone ». Molly Mallone adalah tokoh legendaris gadis penjaja buah-buahan yang mewakili penderitaan rakyat Irlandia.

Molley Mallone

Molley Mallone

IMG_0639

Athlone

Perjalanan dimulai dari ibu kota Irlandia, Dublin, di sisi timur, dan berakhir di Cork, kota ke 2 terbesar setelah Dublin, di barat daya. Dari Dublin kami menuju bagian tengah negri, Co. Westmeath, dan menginap di kota Athlone. Dalam perjalanan tersebut, situs penting yang kami kunjungi adalah biara kuno (monastere) Clonmacnoise, yang terletak di tepi sungai Shanon. Shanon adalah sungai terbesar yang membelah Irlandia. Dengan menaiki kapal kayu traditional, kami menyusuri sungai selama kurang lebih 1 jam hingga kami tiba di Athlone, dimana kami kemudian bermalam.

Biara kuno Clonmacnoise, sebenarnya hanya tinggal reruntuhan. Biara yang dibangun pada tahun 545 M oleh Santo Kieran de Clonmacnoise, adalah merupakan biara tertua di Irlandia. Kieran sendiri yang dianggap sebagai rasul/utusan Tuhan oleh umat Kristen Irlandia, meninggal dunia 6 tahun setelah ia membangun biara tersebut, dalam usia tidak lebih dari 30 tahun, karena penyakit pes.

Dari Athlone kami menuju Achille island, di barat laut. Dari pulau ini kami mulai menyusuri tepi barat Irlandia yang berbatasan langsung dengan samudra Atlantik, ke barat daya negri, untuk akhirnya berakhir di Cork dan kembali terbang ke Paris.

Cliff of Moher

Cliff of Moher

Bagian barat daya Irlandia khususnya Dingle dengan pantainya yang dinamakan Inche, adalah bagian terindah negri ini. Cliff of Moher, tebing cantik yang terkenal itu salah satunya.

Bayangkan saja, bus berjalan menyusuri jalan berliku yang diapit oleh laut biru dengan gunung-gunung kecil yang menyembul di antara birunya laut, di sisi kanan, dan jajaran dataran lumayan tinggi di sisi kiri, yang dipenuhi domba dan sapi yang dipelihara para peternak. Deretan gunung-gunung tersebut layaknya pasak atau paku yang ditancapkan agar bumi tetap kokoh berdiri pada tempatnya dan tidak mudah goyah.  Subhanallah .. betapa indahnya ciptaan-Mu ya Allah … Allahuakbar …

Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. …. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” .(QS.Ar-Raad(13):3).

“ Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?” ,(QS.An-Nabaa’(78):6-7).

Ironisnya, dalam salah satu kunjungan wisata yang diprogramkan oleh biro perjalanan kami itu, ville fantome atau dalam bahasa Indonesianya kota hantu, dijadikan salah satu obyek wisata. Kota yang telah menjadi reruntuhan batu tersebut terletak di dataran tinggi dengan pemandangannya yang sungguh indah, yaitu laut berpantai dan berbukit.

Sejarah Irlandia memang sangat tragis. Negri yang pernah dijajah selama ratusan tahun oleh Inggris ini pernah beberapa kali menderita kelaparan hebat. Yang terparah adalah antara tahun 1845 -1849. Kentang yang menjadi makanan pokok mereka diserang hama hingga sama sekali tidak dapat dikonsumsi. Padahal penjajah mereka, Inggris, sama sekali tidak mau perduli. Bahkan bantuan sultan Ottoman, Abdul Meshid, sebesar 10.000 pound bagi rakyat Irlandiapun diprotes oleh ratu Victoria, ratu Inggris ketika itu. Ia hanya menyetujui 1/10 nya dan menambahkan 2000 pound lagi dari negrinya.

Akibatnya 5 juta penduduk Irlandia mati kelaparan. Sementara jutaan lainnya terpaksa mengungsi ke luar negri diantaranya ke Canada, Inggris dan Amerika Serikat. Sedangkan orang-orang tahanan, pemerintah kolonial mengirim mereka ke Australia bila mereka bersedia membayar biaya perjalanannya, yang tentu saja sangat tinggi.

Selama periode itu pula, rakyat Irlandia dipaksa bekerja di tanah yang direbut orang-orang Inggris bila mereka ingin mendapat upah, 1 penny per hari. Jumlah yang sama sekali tidak ada artinya. Namun karena frustasi, tidak tahu apa yang harus dikerjakan, mereka tetap mengerjakannya. Meski pekerjaan itu hanyalah menumpuk batu-batu, tanpa tujuan apapun.

Tumpukan bebatuan tanpa bentuk yang jelas tersebut hingga saat ini dapat kita saksikan di seluruh penjuru negri, terutama di bagian tengah Irlandia, yang memang merupakan wilayah termiskin. Kabarnya, pemerintah Inggris pernah meminta agar peninggalan yang menyisakan citra buruk negrinya itu dihancurkan, tetapi rakyat Irlandia menolak karena mereka ingin menjadikannya kenangan, kenangan yang sangat menyakitkan hati. Malah di suatu lokasi di tepi jalan raya ( saya tidak begitu ingat dimana tepatnya) mereka mendirikan ornamen patung yang memperlihatkan seorang anak kecil sedang mengetuk pintu rumah seorang kaya karena kedua orang tuanya meninggal kelaparan.

Irlandia ( selatan) yang mayoritas beragama Katolik itu, baru berhasil memerdekakan diri dari penjajahan pada tahun 1948, setelah perjuangan yang sangat alot. Namun dibanding dengan negara kita tercinta, Indonesia yang merdeka 3 tahun lebih awal dari negri ini, Irlandia termasuk cepat dalam mengejar ketertinggalannya. Dalam kurun waktu kurang dari 35 tahun, Irlandia telah mengalami kemajuan pesat., terlebih setelah menjadi bagian dari Uni Eropa pada tahun 2000. Meski sejak tahun 2009, dengan adanya krisis ekonomi yang melanda seluruh Eropa, negri ini dilaporkan menjadi negri yang paling menderita dalam menghadapi krisis tersebut.

Sekedar informasi tambahan, tanah Irlandia bukanlah tanah yang subur. Hampir seluruh negri adalah tanah rawa yang membentuk lapisan gambut. Lapisan ini tertutup lapisan vegetasi yang telah melapuk, yang tidak jarang bisa mencapai ketebalan hingga 5 meter. Tanah ini sangat sulit untuk ditanami tanaman.

Pada salah satu kunjugan ke museum arkeologi di Dublin pada hari ke 2, kami sempat melihat sejumlah mumi yang bisa awet hingga hari ini karena tersimpan di bawah tanah jenis tersebut. Mumi-mumi yang ditemukan pada tahun 2003 lalu dan diperkirakan sebagai manusia yang hidup 2300 tahun lampau itu kemungkinan adalah korban sesembahan bagi tuhan agama pagan yang menjadi agama nenek moyang mereka.

Tiba-tiba saja saya bergidik, teringat mumi firaun, raja Mesir, yang ditemukan utuh padahal usianya telah ribuan tahun.

“ Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya)”.(QS.An-Naziat(79:21-26) .

“ Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”.(QS.Yunus(10):92).

Ayat 92 surat Yunus diatas adalah firman Allah swt yang menunjukkan bahwa ditemukannya jasad firaun yang tenggelam di laut Merah ketika ia beserta pasukannya sedang mengejar nabi Musa as adalah atas izin Sang Khalik agar menjadi pelajaran berharga bagi umat yang datang kemudian, yaitu kita. Diantaranya yaitu jangan menyembah tuhan yang salah apalagi mengaku-ngaku sebagai tuhan, Naudzubillah min dzalik.

Croagh Patrick Mountain

Croagh Patrick Mountain

Westport

Westport

Patut menjadi catatan, adalah gunung bernama Croagh Patrick. Gunung ini terletak 8 km dari kota pelabuhan Westport di Co. Mayo ( Co adalah singkatan County, kurang lebih propinsi). Gunung ini terkenal karena sejak lama telah menjadi tempat ziarah umat Kristen manca Negara. Dengan bertelanjang kaki para peziarah mendaki gunung berketinggian 764 meter tersebut. Hal ini untuk mengikuti jejak santo Patrik, orang suci yang sering dianggap sebagai santo pelindung Irlandia sekaligus nabi, yang pada abad 5 pernah bertapa selama 40 hari di puncak gunung tersebut. Meski sebenarnya beberapa sumber menyebutkan bahwa ritual ini telah terjadi jauh sebelum kedatangan sang santo. Jadi sebenarnya ini hanyalah kelanjutan ritual paganisme yang dianut nenek moyang bangsa mereka, bangsa Celtes.

Untuk mengenang jasa santo Patrik yang dianggap telah memperkenalkan ajaran Kristen Celtik maka tanggal 17 Maret yang merupakan tanggal meninggalnya santo tersebut, diperingati sebagai hari besar resmi Irlandia. Malah belakangan, hari yang dikenal dengan nama St Patrick day ini diperingati oleh seluruh umat Kriten dunia. Hal ini dikarenakan baru pada abad 17 saja sang santo dikanonisasi.

Sebelumnya, selama seribu tahun pertama kedatangan Kristen, kanonisasi ( diakui sebagai orang suci dan berhak mendapat sejumlah penghormatan) hanya berhak dilakukan oleh keuskupan, tak lama setelah yang bersangkutan wafat. Dengan kata lain, santo Patrik sebenarnya tidak pernah secara resmi dikanonisasi oleh seorang Paus. Namun demikian ia tetap dihormati oleh umat Kristen seluruh dunia.

( Bersambung)

Jakarta, 29 Mei 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Senin 30 April 2012 pukul 10.25 pagi, saya dan suami menjadi bagian dari grup kecil wisatawan dari Paris – Perancis yang terbang menuju Dublin – Irlandia selama 1.5 jam. Beda waktu antara Perancis dan Irlandia adalah 1 jam, Irlandia lebih awal. Grup perjalanan dimana kali ini kami bergabung  adalah grup perjalanan khusus bagi karyawan perusahaan dimana suami bekerja, tetapi agen perjalannya sendiri adalah swasta.  Meski demikian, sebagian besar dari mereka, sebelum ini,  tidak saling mengenal, karena perusahaan raksasa Perancis ini memang  mempunyai pegawai hingga belasan ribu orang. Grup ini terdiri atas 15 orang.  Pegawai diizinkan membawa pasangan masing-masing. Itu sebabnya saya berada di sini, Alhamdulillah .. Dan yang juga tak kalah penting, ongkos perjalanannyapun istimewa. Perusahaan memberikan potongan yang cukup signifikan.

Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman (55):13).

Dublin_day1_098

Sungai Liffey – Dublin

Dublin_day1_120Irlandia adalah sebuah negara pulau yang terletak di sebelah barat Inggris. Negara dengan ibu kota Dublin ini selama 8 abad berada di bawah kekuasaan Inggris sebelum akhirnya memerdekan diri pada tahun  1948. Sementara Irlandia bagian utara yang mencakup 1/6 bagian dari pulau, dengan Belfast sebagai ibu kotanya, tetap berada di bawah kekuasaan Inggris. Hingga detik ini negara kerajaan di bawah ratu Elizabeth II ini masih harus kewalahan menghadapi perlawawan rakyat Irlandia utara.

Dibanding Negara-negara tetangganya di Eropa, Irlandia yang sejak tahun 2000 masuk menjadi bagian Uni Eropa, tampak tertinggal. Bahkan wajahDublin, kota dimana sungai Liffey membaginya menjadi 2 bagian, Dublin utara dan Dublin selatan, tampak tua dan kuyu. Yang terlihat mencolok dari kota ini adalah bentuk pintu rumahnya. Rumah, apartemen bahkan hotel-hotelnya memiliki kemiripan bentuk pintu yang diberi warna-warna mencolok, seperti merah, kuning, hijau dan biru. Sementara toko-tokonya, temboklah yang dicat war-warni. Ini kesan pertama yang tertangkap di semua kota yang kami kunjungi.

Di Dublin, kami mengunjungi Trinity College – universitas tertua di negri ini,  the Old Jameson – tempat penyulingan wisky dan braseri Guinness – tempat pembuatan bir hitam Guiness. Ke 3 tempat ini kabarnya adalah merupakan daya tarik utama wisatawan mancanegara ke Irlandia. Irlandia memang dikenal dengan wiski ( Irish whisky) dan bir Guinessnya. Tampaknya wiski dan bir bagi masyarakat negri ini ibarat nafas dalam kehidupan. Betapa tidak, ke2 jenis minuman beralkohol ( khamar) yang bagi umat Islam terlarang ini, bagi mereka adalah mutlak keberadaannya.

Dublin_day1_054Di setiap sudut kota, baik kota besar maupun kota kecil, bar-bar bertebaran menawarkan keduanya. Di tempat inilah berkumpul penduduk untuk sekedar bersilaturahmi, membicarakan berbagai macam masalah. Anehnya, beberapa sumber mengatakan, bahwa wiski dan alkohol di negri ini bukan penyebab utama kerusuhan dan keributan sebagaimana biasanya terjadi ditempat lain. Alasannya, alkohol yang dikandungnya sangat sedikit .

« Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya“. … Demikian ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, »(QS. Al-Baqarah (2) :219).

Apapun alasannya, bagi kita, turis Muslim, hal ini agak merepotkan. Ini pengalaman kami. Pada hari pertama kunjungan, rombongan makan siang di sebuah bar ( bar di sana adalah resto biasa yang tidak hanya untuk minum minuman keras). Tidak banyak pilihan makanan. Daging halal, tentu saja kami tidak berharap banyak. Inilah kekurangan bepergian dengan tur asing, ke negri minoritas muslim pula.  Pilihan kami tinggal makanan laut, binatang yang tidak perlu disembelih ketika kita hendak mengkonsumsinya.

“ Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya. Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-Anám(6):118-119).

Ayat diatas memang memberikan kita keringanan yaitu boleh memakannya bila terpaksa. Namun karena saat itu kami masih mempunyai pilihan maka kami tidak/belum ingin menggunakan keringanan tersebut, dengan mengkonsumsi ayam atau daging yang tidak halal, misalnya. Bukan babi, tentunya.

Ketika itu, satu-satunya makanan laut yang tersedia hanya fish n chips, makanan favorit asal Inggris, yang juga menjadi makanan favorit Irlandia, Australia, New Zealand, Canada dan Afrika selatan. Ke 5 negara tersebut memang bekas koloni Inggris. Di kemudian hari, nyaris selama 8 hari tur tersebut, makanan inilah yang selalu menjadi menu utama kami semua. Alhamdulillah … 🙂

Yang menjadi masalah, tepung yang menjadi baham campuran utama penggoreng ikan, ternyata dicampur dengan wiski ! Ealah … 😦  .. Untung, akhirnya pihak resto mau mengerti keberatan kami hingga bersedia mengganti masakan tersebut dengan masakan yang bebas alkohol, setelah kami memintanya, tentu saja. Alhamdulillah .. Tetapi jangan lupa, saking sukanya dengan wiski, teh dan kopi merekapun dicampur dengan wiski lho, begitu pula permennya. Irish coffee, yang merupakan minuman khas Irlandia yang terkenal di dunia itu, mengandung wiski.

Yang menggembirakan, sejak kejadian di hari pertama itu, ada saja anggota grup yang sengaja mendekati kami untuk berbincang seputar hukum Islam. Diantaranya adalah seorang perempuan setengah baya berdarah Iran. Mulanya kami tidak mengira kalau ia seorang Muslim. Apalagi melihat wajah suaminya yang asli bule, seorang dokter asli Canada, yang ternyata adalah suami keduanya. Mereka baru menikah 5 tahun yang lalu. Kebetulan ulang tahun perkawinan mereka jatuh pada salah satu hari tur kami ini.

Dari perbincangan tersebut kami jadi tahu bahwa ia hijrah ke Paris dari Teheran, Iran, pada era kejatuhan Syah Reza Pahlevi di tahun 1979. Kami membahas banyak mengenai hukum Islam diantaranya tentang makanan halal, jilbab dan kedudukan perempuan dalam Islam.

Tu n’est pas une bonne musulman, alors “, demikian komentar suaminya di tengah-tengah percakapan, sambil memandang tajam istrinya.  Arti kalimat diatas kurang lebih adalah « kalau begitu kamu bukan Muslim yang baik dong ». Dari situlah kami baru tahu kalau perempuan bernama Choleh ( agak aneh ya, biasanya kalau di negri kita, Shaleh ini nama laki-laki) ini adalah seorang Muslimah. « Saya Syiah », akunya.

Malah ketika kami menceritakan alasan mengapa anak perempuan kami yang berusia 18 tahun memilih kembali ke tanah air karena sulit menjaga shalat, dengan nada pahit ia berkomentar : « Betapa  menyakitkannya hal tersebut ». Pandangannya terlihat menerawang jauh. Saya yakin, pasti ia teringat saat-saat pertama dulu ia pindah ke negri ini.

Saya hanya berharap semoga sekarang ia bisa menjalankan agama dengan lebih baik meski penampilannya yang terbuka disana-sini tidak mencerminkan hal tersebut. Bahkan sekali-sekali ia terlihat mau mencicipi bir yang ditawarkan sang suami tercinta yang tampaknya seorang penikmat bir hitam Guiness .. 😦   Minimal lega hati ini mendengar pengakuannya bahwa perkawinannya dengan pak dokter bule itu secara Islam.

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.(QS.Al-Baqarah (2):221).

Perlu dicatat, salah satu hal menarik mengapa kami ingin berkunjung ke Irlandia adalah karena adanya info bahwa beberapa tahun belakangan, Muslim di negri terujung barat Eropa ini berkembang cukup pesat. Foto masjid dengan bentuk unik yang saya temukan di internet sebelum keberangkatan kami, membuat kami makin mantab menjelajahi negri yang terkenal memiliki keindahan alam ini.

Sengaja kami mencatat alamat masjid dan cara bagaimana mencapainya. Alhamdulillah, di sore hari pertama tur itu, dengan menumpangi bus umum kami berhasil menemukannya. Kami sempat bertemu dan berbincang dengan 2 mahasiswi asal Malaysia yang kebetulan berada dalam satu bus dengan tujuan sama. Dari keduanya kami mengetahui bahwa Muslim banyak didapati di  Dublin ini. Bahkan di Griffith College, perguruan tinggi dimana mereka menuntut ilmu, Muslim bisa dibilang mendominasi kampus tersebut, sebagian besar mahasiswa asal Malaysia .. Subhanallah …

Masjid Dublin dibangun pada tahun 1983 oleh mahasiswa Muslim Dublin yang merasakan perlunya rumah ibadah bagi mereka, karena tak satupun masjid ada di kota ini. Dengan berpatungan membeli rumah penduduk yang terletak di sebelah kampus ( Griffith College) merekapun kemudian sedikit merenovasinya hingga layak menjadi tempat shalat. Di kantin masjid inilah berkumpul tidak saja mahasiswa Muslim kampus tersebut namun juga mahasiswa non Muslim hingga kerap terjadi dialog antar keduanya.

Hingga pada tahun 1996 akhirnya dibangun masjid terbesar di Dublin karena masjid kampus tidak lagi mampu menampung membludaknya jamaah. Sayang kami tidak sempat mengunjunginya karena info tersebut baru kami terima sore itu.  Seorang Muslim asal Pakistan yang menceritakan hak tersebut. Kami bertemu dengannya ketika kami sedang mengantri bus kembali dari masjid.

Dublin bukan rumah kami, umat Muslim pendatang. Maka dengan berlaku sopan dan tahu diri, tidak menjelek-jelekan agama mereka dan memojokannya, insya Allah justru membuka hati tuan rumah untuk mengenal Islam dan menerima kami dengan lebih baik ”, terangnya. Alangkah indahnya, teduh hati ini mendengarnya  …

“ Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. Al-Anám(6):108).

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

( Bersambung)

Paris, 20 Mei 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Randonnée dimulai dari Lac de Bious-Artiques yang terletak di kaki gunung Pic du Midi d’Ossau. Danau ini merupakan bendungan air dari sejumlah air sungai yang mengalir dari gunung Pic du d’Ossau.  Airnya yang berwarna biru dan terlihat sangat bersih dan jernih ini juga merupakan sumber air yang bakal diolah agar menjadi air siap minum atau orang Perancis menyebutnya eau potable.

Subhanallah .. Maha benar Allah atas segala firman-Nya. Perhatikanlah ayat berikut :

« Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? » (QS.Al-Waqiyah(56):68-70).

Meski sejumlah kendaraan pribadi terlihat diparkiran namun kami tidak melihat banyak tamu di tempat tersebut. Mungkin mereka sudah berada di atas sana. Di depan gerbang terpampang beberapa pengumuman. Diantaranya larangan membuang sampah dan memetik tanaman. Tidak jauh dari tempat tersebut terlihat tiga tong sampah besar dan WC umum.

Sandy mengingatkan bahwa setelah itu tidak ada lagi toilet. Maka saya memutuskan untuk buang air terlebih dahulu. Sepintas saya membaca tulisan di depan pintu wc “ wc non chimique » tanpa berusaha memahami maksudnya. Namun setelahnya, saya bingung mencari alat penyiramnya.

Ah, menyesal kenapa tadi g tanya Sandy dulu, pikir saya. Yang saya temukan hanyalah keterangan bahwa untuk menyiram wc cukup hanya dengan menginjak kuat-kuat pedal yang ada di bawah wc, sebanyak 7 kali. Saya kembali bengong, karena tetap tidak ada air yang keluar. Ternyata inilah yang dimaksud wc non chimique. Kotoran tidak disiram dengan air melainkan dengan udara. Tujuannya agar tidak mengotori lingkungan, terutama saluran air dalam tanah ! Wah, benar-benar mereka pintar sekali menjaga alam ciptaan Allah ini. Mestinya kita nih, umat Islam yang berpikiran begitu ..  😦

Singkat cerita, sambil berbincang santai, kamipun mendaki jalanan setapak pegunungan. Sekali-sekali kami berpapasan dengan sesama pendaki atau penjaga hutan yang berkeliling menaiki kendaraan khusus.  Sandy mengingatkan untuk selalu menyapa ramah “ Bonjour” kepada mereka. Itu etika disini, lanjut nya bangga.

Udara cukup bersahabat, tidak terlalu dingin untuk ukuran musim gugur di bulan Oktober ini. Sementara sinar matahari yang cerah menerangi alam pegunungan yang tampak bersih dari segala kotoran itu. Tak secuilpun sampah tampak di antara rontokan daun-daun kering yang berguguran. Warna-warni dedaunan di pepohonan:  hijau, kuning, merah, orange sungguh menakjubkan mata dan hati. Belum lagi  gemericik suara air sungai, burung-burung yang bernyanyi serta suara lonceng kalung sapi di kejauhan .. Masya Allah .. alangkah merdunya …

“ Mana nih, puncak gunungnya udah kelihatan, belum ”, tanya saya kepada Sandy..” Si “, jawabnya sambil menunjuk puncak gunung Pic du Midi yang mempunyai ketinggian 2885 m itu. “ Il nous survey, toujours”, tambahnya sambil tertawa.

Memang benar jawabannya, puncak gunung batu tersebut terlihat dari manapun kami berada, seolah terus mengawasi orang-orang yang berada di bawahnya.

Tak lama kemudian kami memasuki kawasan hutan, menjauh dari aliran sungai. Ini lokasi tersulit karena jalanan terus mendaki. Dengan bantuan akar-akar pohon yang membentuk tangga alami kami terus melanjutkan perjalanan. Saya mulai kehabisan nafas. Sebentar-sebentar kami terpaksa berhenti, duduk di bebatuan besar atau akar pohon sambil minum .. dan tentu saja, mengambil gambar ! 

“ haha .. kamu curang yaa ”, komentar Sandy tertawa terbahak-bahak. “ Kamu berlagak kagum melihat keindahan hutan padahal sebenarnya kamu kecapean”. Ia bahkan menghitung setiap jepretan yang saya lakukan. Saya hanya tertawa menanggapi ejekannya itu. Saya memang teler tapi sungguh mati saya benar-benar mengagumi keindahan hutan tersebut.

Dan berhubung tak kuat menahan lapar jika harus menunggu sampai di tempat terbuka baru makan, akhirya kamipun membuka bekal makanan kami di tengah hutan tersebut. Kami makan di atas batu besar di bawah rindangnya hutan. Hemm, nikmat juga .. Beberapa pengunjung tersenyum melihat kami makan di tempat yang tidak lazim tersebut. Biasanya mereka makan sambil berjemur di bawah matahari.

Setelah agak kenyang kami kembali meneruskan perjalanan. Ternyata tak sampai setengah jam kemudian kami telah keluar dari hutan dimana matahari tampak cerah menerangi alam sekitar. Terlihat beberapa orang sedang menyantap bekal makan siang mereka. Oh, pantas mereka tersenyum melihat kami makan di dalam hutan tadi.

“ Courage Vivin .. danau udah deket tuh .. di balik bukit itu”, terdengar Sandy menyemangati. Di kejauhan tampak jalanan meliuk menyusuri ladang berbukit yang  terhampar luas di hadapan kami. Beberapa orang terlihat sedang menaiki bukit kecil tersebut. Pada musim panas biasanya para penggembala menggembalakan ternak mereka di tempat ini. Saat ini tak terlihat satupun sapi atau domba. Ternak-ternak tersebut telah dipindahkan ke ladang di dataran rendah yang lebih hangat. Dalam hati saya berkata “ Hebat juga, sapi dan domba bisa naik turun gunung seperti ini”.

Namun saya lebih kagum lagi dengan sejumlah orang setengah umur yang mendaki gunung. Bahkan kami berpapasan dengan seorang kakek yang mendaki dengan dibantu tongkat yang menyangga salah satu kakinya. Ia berjalan bersama istrinya yang juga sudah setengah umur. Sandy kembali meledek saya “ Ayo jangan  kalah sama mereka”.

Di saksikan untaian pegunungan cantik yang mengepung kami, dengan susah payah saya berusaha menjejeri Sandy. Hingga akhirnya tibalah kami di dataran landai. Sebuah danau nan cantik jelita menanti di ujung sana. Airnya yang biru jernih memantulkan bayangan deretan pegunungan yang mengelilinginya. Masya Allah … Sungguh indah ciptaan-Mu ..

“ Lihat itu “, tunjuk Sandy sambil menunjuk puncak gunung Pic du Midi d’Ossau yang ada di belakang kami. “ Comme je dit, il nous survey, non?”. Katanya dengan mata berbinar, menandakan kekagumannya pada gunung tersebut.

«  Kalau saya akan bilang «  Allahu Akbar », jawab saya tak kalah kagumnya. «  Dialah yang menciptakan semua ini ».  «  Yaaa, betul sih. Tapi tetep aja gunung itu yang paling terlihat berkuasa kan”, katanya lagi setelah sempat terdiam sejenak.

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa`at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”.(QS.As-Sajadah(32):4).

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main”.(QS.Al-Anbiyya(21):16).

“Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.”(QS.Al-Ahqof(46):3).

Saya tertawa. “ Kamu bilang, gunung itu mengawasi kita. Betul. Tapi itu kan selama kita ada di sekitar sini. Kalau Allah, dia mengawasi kita dimanapun kita berada. Bahkan Dia tahu apa yang ada dalam hati kita”, terus saya. Sandy hanya manggut-manggut saja. 

“Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan”.(QS.Al-An’am(6):3).

Setelah puas berfoto-foto dan menikmati indahnya pemandangan kamipun kembali turun.  Saya memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan. Karena sebenarnya di balik bukit berikutnya masih ada dua danau lagi. Tapi saya menyerah. Selain lelah hari juga sudah menjelang sore. Saya pikir Sandy harus menjemput putrinya. Meski berkali-kali ia mengatakan telah meminta orang tuanya agar menjemput putrinya itu.

Di saat saya sedang berpikir, mempertimbangkan apakah saya shalat di tempat ini atau di rumah saja, tiba-tiba Sandy bertanya “ Kamu mau shalat dulu?”. Saya tidak kaget, karena ia memang tahu kalau saya sebagai Muslim mempunyai kewajiban mendirikan shalat. Bahkan jika kami ( saya, suami dan putri kami) berkunjung ke rumahnya ia selalu menawarkan kamarnya untuk kami shalati.

Akhirnya saya memutuskan untuk shalat dulu. Kami mencari tempat yang agak teduh dan ada air bersih. Di tepi sebuah sungai kecil kami berhenti. Dengan air yang lumayan dingin tersebut saya mengambil wudhu.

“ Kamu tahu kemana kiblatnya?” tanya Sandy lagi.

“ Kemana sajalah, namanya juga di perjalanan. Allah maklum koq”, jawab saya diplomatis.

Kemudian ia menunjuk ke arah puncak gunung yang terlihat ada diatas kami.

Enak saja”, jawab saya sambil tersenyum. Segera ia mengeluarkan hpnya dan mencari kompas di dalamnya. “ Lihat ini saja. Nah, cari tuh kemana kiblatnya”. Saya jadi tersipu. Iya ya .. kenapa tidak terpikir sejak tadi ..  😦

“ haha .. apa kata saya”, begitu komentarnya begitu kompas ternyata menunjukkan bahwa kiblat ke arah puncak gunung. “ Kebetulan, tahuuu ..” , omel saya lagi.

Sayapun kemudian menggelar sajadah kecil yang sengaja dibawa dari rumah lalu shalat, Zuhur dan Ashar yang digabung. Sementara Sandy meneruskan makan siangnya tidak jauh dari tempat saya shalat.

Selesai shalat, saya menghampirinya dan ikut meneruskan makan yang tadi belum habis. “ Tadi kamu shalat yang ke berapa?, tanyanya. “ Kedua dan ketiga. Boleh digabung karena kita sedang dalam perjalanan”, jawab saya.

Tak lama kemudian ia bertanya lagi “ Kenapa orang Islam g boleh makan babi? Karena kotor ya?”. Saya berpikir sebentar sebelum menjawab. Saya teringat kata-kata suami saya yang mengatakan bahwa beberapa temannya sering menanyakan hal yang sama. Namun belakangan mereka mengatakan bahwa babi sekarang sudah bersih dan bebas cacing pita. “ Jadi boleh dimakan dong …” 

Setelah memutar otak sejenak, akhirnya saya menjawab, Bismillah, ” Bagi orang beriman, tidak selamanya larangan Allah itu ada alasannya. Namun belakangan ini, para saintis menemukan fakta bahwa tabi’at babi itu buruk. Dalam keadaan terpaksa ia tega memakan anaknya sendiri. Ia juga biseksual. Pasti kamu setuju bahwa itu perbuatan amoral kan? Selain itu ternyata DNA babi mirip manusia. Akibatnya, kalau kita mengkonsumsi dagingnya, ini akan menjadi sumber berbagai penyakit. Ini yang paling berbahaya”.

Sandy hanya manggut-mangut lalu menyambung“ Tapi menurut saya, babi memang binatang yang paling kotor dan jorok.  Yang saya tahu, sapi dan kuda tidak pernah mau makan di tempat ia membuang kotorannya. Sementara babi .. ia tidak peduli”, katanya sambil menyeringai, tanda jijik.

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging bab — karena sesungguhnya semua itu kotor — atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.Al-An’am(6):145).

Saya hanya mengangkat bahu. Sering saya berharap agar sahabat Perancis saya ini mendapat hidayah dari Allah swt. Suatu kali saya pernah menghadiahinya Al-Quran. Namun ya hanya sebatas itu. Saya tidak pernah tahu apakah kitab mukjizat tersebut dibacanya  atau tidak. Putrinya yang juga sahabat putri kami, dulu juga termasuk yang sering membela putri kami bila ada orang melecehkan Islam. Yaah, semoga saja hidayah itu datang  … Tapi bila mereka tidak mencarinya ?? Wallahu’alam ..

Perjalanan mengesankan ini akhirnya selesai. Tepat pukul 18.30 Sandy mengantarkan saya kembali ke hotel dimana saya menginap. Beberapa hari kemudian kami ( saya dan suami) kembali ke Paris.

Laporan perjalanan ini tampaknya akan menjadi penutup sementara blog ini, insya Allah. Insya Allah Lusa saya dan suami akan berangkat memenuhi panggilan-Nya ke tanah suci.

Merupakan suatu keberkahan bagi kami sehingga diberi-Nya kami berdua kesempatan kedua untuk menemui-Nya di padang Arafah tanpa harus menzalimi saudara-saudara di tanah air yang belum berkesempatan melakukan kewajiban ini. Berangkat haji melalui Eropa, khususnya Paris, memang tidak perlu mengantri karena kwotanya berlebih. Jadi silahkan, siapa yang benar-benar berniat melaksanakan haji demi kecintaan dan ketaatan pada-Nya, berangkat dari Eropa tampaknya patut dipertimbangkan.

Akhir kata, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan dan khilaf kami. Semoga dengan demikian Sang Khalik juga ridho menerima taubat dan permohonan maaf kami, amiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 26 Oktober 2011.

Vien AM.

Lihat : http://www.randonnee-passion.com/ossau.htm

Read Full Post »

Randonnée atau hiking bagi kebanyakan masyarakat Perancis adalah olah raga yang digemari hampir semua lapisan umur, terutama pada musim panas. Jadi jangan heran, bila sekali waktu mendapat kesempatan hiking di negri ini, kita bakal sering jumpa dengan orang yang tidak lagi muda. Walaupun mungkin bukan track-track yang sulit.

Saya pikir, orang Perancis ( atau mungkin kebanyakan orang Barat ya ?) suka hiking mungkin karena fasilitasnya tersedia. Selain juga mungkin karena kesadaran mereka agar menjaga kesehatan sudah tinggi. Dan hiking termasuk olah raga yang murah meriah, terutama buat yang tinggal tidak jauh dari pegunungan. Selain itu kebanyakan orang Barat adalah orang yang sangat menghargai dan mengagumi keindahan alam.

Itu yang saya alami selama 1 tahun lebih tinggal di negri ini. 2 kali sudah saya mencoba ikut hiking. Padahal sebelumnya, selama di tanah air, hampir tidak pernah saya melakukannya.

Sungguh saya merasa sangat beruntung karena di usia yang sudah tidak lagi muda ini masih mendapat kesempatan menikmati keindahan ciptaan-Nya melalui kegiatan yang menyehatkan tubuh ini. Alhamdulillah. Sementara hampir setiap week-end kami bisa berjalan-jalan ke pegunungan. Kebetulan kami memang tinggal di Pau, kota kecil di kaki pegunungan Pyrenee, pegunungan ke 2 terkenal di Eropa.

Pegunungan sepanjang 430 km ini adalah  pembatas antara Perancis di bagian selatan dengan Spanyol di utara. Rangkaian pegunungan yang di musim dingin menjadi tujuan olah raga ski ini dibagi atas 3 bagian, yaitu Pyrenee Atlantik, Pyrenee Sentral dan Pyrenee Oriental. Pegunungan cantik ini membujur dari lautan Atlantik di sebelah barat hingga laut Mediterania di timur. Tercatat sebanyak 48 puncak gunungnya memiliki ketinggian lebih dari 3000 meter. Sementara lebih dari 30 lainnya berketinggian sekitar 2000 meter.

Ketika kami masih tinggal di Pau inilah, kami pernah berencana randonnee ke Pic du Midi d’Ossau ( 2885 m), salah satu puncak gunung di jajaran pegunungan Pyrenee Atlantik. Namun rencana tersebut tidak kesampaian hingga kami pindah ke Paris. Maka begitu saya mendapat kabar bahwa suami mendapat tugas ke Pau selama 5 hari, segera saya mengontak teman saya yang dulu pernah mengajak kami randonnee.

Teman tersebut adalah orang asli Perancis, namanya Sandy. Kami berkenalan dengannya karena putrinya adalah sahabat putri kami satu-satunya ketika ia bersekolah di Pau. Tentu saja Sandy sangat senang mendengar ajakan saya itu. Sayang, seorang teman yang dulu pernah berniat pergi bersama kami sudah pulang ke Indonesia. Sementara teman yang satu lagi tidak dapat meninggalkan kegiatan rutinnya. Singkat cerita, pergilah kami berdua ke Pic du Midi d’Ossau pada pukul 9.30 waktu setempat.

Perjalanan dengan kendaraan pribadi yang dikemudikan sendiri oleh Sandy ini bergerak menuju arah kota Laruns. Awalnya kami agak kecewa karena hari tampak mendung, awan terlihat menutupi sinar matahari. Bahkan tak berapa lama kemudian hujanpun mulai turun.

“ Gimana nih, kita terusin g ya ..”, tanya saya. “ Coba aja dulu .. belum tentu di atas sana hujan koq karena bisa jadi awan malah ada di bawah kita ..”, jawab Sandy yang sudah sering sekali hiking itu.

Ternyata perkiraannya benar. Tak sampai setengah jam kemudian, setelah kami memasuki daerah pegunungan, matahari mulai menampakkan dirinya. Alhamdulillah.  Meski saking asiknya kami ngobrol ‘ngalor ngidul’ kami sempat salah jalan. Akibatnya kami terpaksa kehilangan sekitar setengah jam perjalanan karena terpaksa mengambil jalan agak berputar.

Dari percakapan ‘ngalor ngidul’ tadi ada satu yang rasanya patut untuk dicatat dan di share di sini. Obrolan tersebut mengenai sistim pendidikan di Perancis. Sahabat saya ini mempunyai 2 putri. Yang sulung seumur dengan anak gadis saya, yaitu 17 tahun. Sedangkan yang kecil berumur 13 tahun. Namanya Cloue.

Gadis kecil ini sejak usia dini memang sangat mencintai kuda. Saking cintanya orang-tuanya menyewakan seekor kuda betina untuknya. Suatu hal yang biasa karena harga kuda mahal sekali. Setiap minggu Cloue datang ke tempat pelatihan kuda dimana ia menyewa dan menitipkan kudanya itu. Tahun lalu mereka berhasil memaksa kami ( saya dan suami) untuk datang melihat acara pelantikan Cloue sebagai penuntun kuda.

Awalnya terus terang, kami agak ragu untuk datang. Karena teman saya itu menyebutnya acara le Baptême atau bahasa Indonesianya baptis, yang kami pikir tentu saja acara yang berbau keagamaan. Namun setelah diberi tahu apa yang dimaksud baptême maka demi menjaga silaturahmi, kamipun menyanggupinya untuk hadir.

Menurut Sandy, le Baptême dalam bahasa Perancis adalah istilah yang dipakai untuk pengukuhan pertama atas sebuah peristiwa besar dalam hidup. Sementara istilah baptis pada umumnya agama Nasrani adalah peristiwa pembersihan dosa anak yang baru lahir. Karena menurut keyakinan agama ini setiap anak yang baru lahir telah menanggung dosa.

Jadi terbalik dengan keyakinan ajaran Islam yang menyatakan bahwa semua anak yang baru lahir adalah bersih alias tidak menanggung dosa apapun.  Ia sebersih kain putih tanpa sedikitpun noda di atasnya.

“Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (suci dan bersih) maka kedua ibu-bapanyalah yang menjadikannya berperangai dengan perangai Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Beruntung Sandy dan keluarganya mau menerima dan menghargai pendapat kami. Dengan halus kami katakan bahwa kami tidak mau dan tidak ingin mencampur adukkan antara persahabatan dengan keimanan. Bila itu acara keagamaan dengan sangat menyesal kami tidak dapat hadir. Alhamdulillah ia dapat mengerti.

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”.(QS.Al-Kafirun(109):1-6).

Baptême sehubungan dengan kuda yang dimaksud Sandy ternyata adalah pengukuhan Cloue dalam rangka keberhasilannya menuntun kuda. Ah, aya-aya wae .. J .. Meski ternyata tidak hanya itu. Karena akhirnya mereka berhasil memaksa kami berdua untuk menunggang kuda dengan dituntun sang putri tercinta. Padahal sungguh mati, saya ini penakutnya bukan main .. Olala … 😦 …

Nah, berhubungan dengan hobby putrinya ini, Sandy bercerita bahwa sejak awal tahun ajaran yang baru lalu, Cloue keluar dari sekolah normal demi mengejar cita-citanya sebagai pelatih kuda professional ! “ Wow “, itulah reaksi pertama saya. “ Mungkin ya .. ?”, tanya saya keheranan.

Pikiran saya tiba-tiba melayang ke obrolan anak perempuan saya tahun lalu. Ketika itu ia bercerita bahwa beberapa teman Perancisnya tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan resmi hingga ke perguruan tinggi. Salah satu ada yang mengatakan bahwa ia bercita-cita menjadi seorang ahli dalam memelihara ikan di aquarium !

Saya juga teringat kepada seorang yang pernah menjadi pemandu arung jeram kami sekeluarga di sebuah kota kecil di Spanyol yang bercita-cita menjadikan profesi pemandu arung jeram sebagai profesi profesional. Begitu juga cerita seorang pensiunan yang menjadikan pelatih ski sebagai profesi barunya.

Bagi saya ini benar-benar menarik. Mengapa tidak? Pengalaman kita di tanah air, hampir semua orang tua memaksa anaknya agar masuk perguruan tinggi dan kuliah. Tujuannya, rata-rata, agar dapat bekeja dengan imbalan gaji tinggi. Namun pada kenyataannya, benarkah hal ini terjadi ?

Yang saya tahu, di negri kita banyak sarjana yang menganggur. Ironisnya lagi, banyak yang akhirnya ‘hanya’ menjadi guru atau ‘uztad’ yang sering kali disejajarkan dengan guru mengaji, karena terpaksa. … 😦 .. Padahal profesi guru apalagi uztad adalah profesi terhormat ! Nah, dapat dibayangkan, kalau para pendidik menjalankan pekerjaan mengajar karena terpaksa, bagaimana mutu dan mental mereka, baik sang pengajar maupun murid itu sendiri ?

Menariknya lagi. Dari obrolan ‘ngalor ngidul’tadi, saya jadi tahu bahwa gaji atau pendapatan profesi para pelatih itu, baik pelatih kuda maupun ski dll itu tidaklah ‘wah’. Karena, masih menurut Sandy, bukan itu yang mereka kejar. Bagi mereka, uang bukanlah segalanya.

Saya benar-benar terpana dan hanya bisa manggut-manggut saja mendengar penjelasannya. Pada akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa bekerja itu tidak melulu hanya untuk mencari uang yang banyak saja. Faktor kepuasan dan rasa berbagi ( menyayangi dan memelihara kuda atau ikan, menjadi dokter bedah yang bukan tergiur karena pendapatannya yang ‘wow’ melainkan karena rasa kemanusiaan, misalnya) juga faktor yang tak kalah pentingnya.

Subhanallah .. saya pikir ini sangatlah islami. Kalau saja bangsa Indonesia sebagai umat Muslim terbesar di dunia mempunyai cara berpikir seperti ini, tentu Islam yang mempunyai ciri ‘Rahmatan lil ‘Alamin’ itu pasti akan terasa sekali dampaknya bagi alam semesta ini. Alangkah indahnya bukan ? Tidak ada yang namanya perbedaan tingkat dalam kedudukan, kekayaan, kehormatan, pendidilkan dll kecuali semuanya itu adalah ujian dari Allah swt.

« Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ».(QS.Al-An’am(6) :165).

Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Kendaraan terus melaju, menembus keindahan alam yang sungguh menakjubkan. Bila dari jalan tol saja deretan pegunungan Pyrene sudah mampu membuat kita terkagum-kagum, apalagi  bila kita melalui jalan non tol seperti yang kami lalui saat ini. Sungguh betapa cantiknya ciptaan-Mu Ya Allah … Masya Allah …

Dari kejauhan jalanan terlihat mulai mengecil, mendaki serta meliuk. Pepohonan di musim semi dengan warnanya yang mulai menguning membuat makin indahnya pemandangan. Sekitar pukul 12.30 siang kamipun tiba di tepi danau bernama Lac de Bious-Artiques yang terletak di kaki gunung Pic du Midi d’Ossau. Ini adalah tempat pemberhentian resmi terakhir para tamu yang ingin mendaki gunung tersebut.

“ Ini sih g masuk itungan danau yang dicari turis. Kalau mau dihitung juga judulnya danau nomer nol ”, jawab Sandy tertawa atas kekaguman saya terhadap danau yang diapit pegunungan tersebut. Belakangan saya baru ngeh bahwa maksud Sandy diluar hitungan itu karena orang tidak perlu mendaki untuk mencapai dan menikmati danau cantik tersebut.

“ Heuh .. tiwas g saya potret banyak-banyak ”, sesal saya kemudian. Meski saya pikir mungkin itu cara Sandy saja agar kami segera mendaki gunung dan melihat danau yang menjadi tujuan utama kami, bukan malah terkagum-kagum dan lama berhenti lama di tempat tersebut 🙂

( Bersambung).

Read Full Post »

Malam itu kami santap malam di restoran hotel. Dari tempat duduk kami di resto pemandangan gunung yang fantastis tidak terlihat meski sebenarnya gunung Bromo dan gunung Batok berdiri kokoh persis di depan kami. Yang terlihat hanya kegelapan malam yang gulita. Udara di luar sangat dingin, mungkin sekitar 10 derajat Celcius.

Saat itulah kami baru terpikir bahwa udara di pagi hari, esok menjelang subuh pasti akan lebih dingin lagi. Setelah bertukar pikiran, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa jaket saja ke hotel. Paling tidak untuk saya dan suami. Menyewa? Ya, menyewa .. Tadinya kami juga ragu, masak jaket saja menyewa. Lalu bagaimana dong?

Mau membeli tidak mungkin. Karena selain di sekitar hotel tidak ada yang jual, juga mubazir. Di rumah, jaket kan sudah banyak. Demikian pula topi wool dan sarung tangan. Beruntung, akhirnya kami di beri tahu bahwa pihak hotel telah meng-antisipasi kemungkinan tersebut. Maka jadilah kami berempat berama-ramai menyewa jaket, yang Alhamdulillah cukup bersih.

Selanjutnya kami segera masuk kamar dan berusaha untuk istirahat, tidur. Rencananya, pukul 3.00 esok pagi, kami akan di bangunkan pihak hotel untuk melihat tujuan utama para tamu Park National Tengger Bromo Semeru ini, yaitu sun rise atau le lever du soleil alias matahari terbit.

Pukul 3.30 kami keluar kamar. Berr … angin dingin langsung menyergap wajah dan tubuh kami. “ Untung, kita nyewa jaket bu ya”, begitu komentar anak gadis kami. Serentak kami mengangguk, meng-iya-kanya. Tapi ternyata kami agak terlambat. Deretan jeep yang ketika kami bangun tadi masih diparkir di pelataran hotel, ternyata saat kami keluar kamar tinggal dua saja. Yang lain telah berangkat. Kamipun segera memasuki jeep.

Jeep 4×4 berwarna orange yang dikemudikan penduduk asli Tengger inipun langsung tancap gas, menembus kegelapan malam. Kami melewati sejumlah turis, kebanyakan turis asing, yang memilih berjalan kaki. Beberapa kali pak sopir terlihat mengoper kopling agar laju jeep tidak terhambat jalanan berpasir yang cukup menanjak itu.

Setengah jam kemudian mobil berhenti. Belasan jeep sewaan dengan berbagai warna telah lebih dahulu diparkir di tempat tersebut. Selanjutnya bersama puluhan turis lainnya kami berjalan mendaki gunung. Uniknya, sejumlah kuda dengan dituntun empunya, ikut berdesakan bersama kami. Rupanya ini adalah salah satu pendapatan masyarakat setempat, yaitu menyewakan kuda.

Tidak nyaman sebenarnya. Mereka terus menerus mengikuti dan membujuk para tamu agar mau menaiki kudanya. Sementara kami harus jalan berhati-hati di tengah kegelapan karena kotoran kuda yang berserakan di jalanan ! Sungguh patut disayangkan ..

Sebaliknya, begitu saya mendongakkan  kepala ke langit .. Subhanallah .. bulan beserta berjuta-juta bintang dengan cahayanya yang cemerlang menghiasi langit yang terbuka lebar.  Bintang-bintang tersebut terlihat begitu dekat seakan dapat digapai dengan mudahnya.

Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya”. (QS.Al-Furqon(25):61)

Setelah berpikir sejenak, “ Alangkah ruginya bila hanya harus memandang pasir bercampur kotoran sementara di atas sana jutaan bintang nan cantik jelita berkedip memamerkan keindahannya yang sungguh mempesona”, akhirnya saya memutuskan untuk menaiki kuda saja. Maka dengan demikian sayapun bebas memandang ciptaan-Nya itu, meski dengan kedua tangan tegang memegang tali kendali kuda dan hati was-was karena sungguh mati saya adalah seorang pengecut yang takut naik kuda. Allahuakbar .. J

Tidak berapa lama kemudian, kami tiba di tujuan. Sebuah tangga menanti di ujung jalan. Sayapun turun dari kuda. Bersama yang lain kami menaiki anak tangga untuk menuju pelataran gunung Pananjakan. Langit mulai terlihat memerah menandakan bahwa fajar telah muncul.

“ Waktu shalat subuh mulai terbit fajar sampai terbitnya matahari. Jika matahari telah terbit maka hentikanlah shalat karena ia terbit di antara kedua tanduk setan.” ( HR Muslim).

Maka begitu kami sampai di pelataran, kami segera mencari tempat yang agak bersih dan datar. Setelah menggelar sajadah kamipun mendirikan shalat shubuh berjamaah. Sebelum berangkat suami memang telah mengingatkan agar mengambil wudhu terlebih dahulu. Usai shalat, seorang anak muda menghampiri kami untuk meminjam sajadah. Alhamdulillah ..

Sementara seorang anak muda lain bertanya-tanya karena ia tidak mempunyai wudhu. Apa boleh buat, karena kami tidak melihat adanya air, suamipun menganjurkan untuk tayamum saja. Semburat merah makin terang tanda matahari akan segera terbit. Artinya waktu subuh sudah nyaris habis.

Kami segera mencari posisi terbaik untuk menyambut terbitnya lampu alami terbesar ciptaan-Nya itu. Pemandangan sungguh menakjubkan. Rasanya kita seperti berada di awang-awang karena ke dua gunung tersebut ( Bromo dan Batok ) terlihat di bawah kita, secara utuh, bahkan dengan gunung Semeru sebagai latar belakangnya.

Namun tenyata ini bukan tempat yang terbaik. Sebelum Bromo mengeluarkan asap tebalnya pada November lalu, jeep dapat di parkir hingga puncak gunung Pananjakan, atau biasa dinamakan Pananjakan 1. Pada saat kami mengunjungi kompleks pegunungan ini, jeep hanya boleh mendaki hingga di Pananjakan 2.

Setelah puas memandangi matahari yang muncul sedikit demi sedikit dan memberikan pesona dan semburat merahnya yang begitu indah kepada pemandangan di sekitarnya kamipun kembali turun.  Sungguh .. betapa indahnya ciptaan-Mu, Ya Allah ..

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS.Ali Imran (3):190-191).

Selanjutnya kami menuju tempat dimana jeep tadi diparkir. Dari sini jeep melaju turun dan  selanjutnya mengarungi lautan pasir seluas 5.250 hektar. Sebuah pemandangan yang  spektakuler terhampar di depan mata.

Bila tadi kita melihat pemandangan Bromo dan sekitarnya dengan lautan pasirnya dari atas gunung Pananjakan maka sekarang kita berada di lautan pasir itu sendiri. Sepanjang mata memandang hanya gunung-gunung pasir yang terlihat mengepung kami. Kami turun dari jeep kemudian melanjutkannya dengan berjalan kaki menuju kawah Bromo.

Sama dengan ketika berada di Pananjakan, di lautan ini, sejumlah kuda dengan empunya juga terus membuntuti kami. Namun kali ini hanya anak perempuan kami yang berminat menunggang kuda karena memang ia menyukainya. Dengan bebas iapun berkuda melilingi lautan pasir hingga sampai ke tangga yang menuju kawah..

Tangga ini memiliki 150 anak tangga. Sebenarnya tangga ini tidak begitu terjal. Namun sekali lagi karena dampak letusan terakhir, tangga jadi penuh oleh pasir. Akibatnya agak sulit dinaiki. Alhamdulillah kami berhasil menaikinya. Maka tibalah kami di mulut kawah yang masih tetap mengeluarkan asap itu, meski tidak banyak.

Kami tidak berani berlama-lama menikmati kawah. Karena selain harus bergantian dengan tamu lain, mulut kawah tidak diberi pagar atau jaring pengaman. Padahal tempatnya sempit, jadi agak berbahaya.

Tak lama kemudian, setelah mandi dan sarapan di hotel, kami meninggalkan lokasi dan langsung menuju kota Malang. Tujuan kami adalah Jawa Timur Parc. Tempat hiburan yang relative baru ini cukup mengesankan, terutama kebun binatangnya. Selain koleksinya lumayan lengkap, cara penataannya juga bagus.

Sayang di akhir kunjungan, ada ‘oleh-oleh’ yang cukup mengganggu. Awalnya anak lelaki kami yang memperhatikan bahwa salah satu koleksi binatang buas, semacam anak macan, yang terlihat terus gelisah, dari siang hingga siang kembali. Kebetulan kami memang menginap di hotel di dalam zoo tersebut.

Demikian pula ketika malam tiba. Berkali-kali kami mendengar lenguhan suara gajah yang kedengarannya seperti kesakitan. Puncaknya, adalah panther yang dipajang di ruang kaca ruang makan hotel.

Rasanya sungguh ironis, raja hutan yang dikenal gagah, garang dan ditakuti seluruh penghuni hutan, koq hanya menjadi hiasan tamu resto. Kedua panther tersebut hanya bisa mondar mandir di dalam ruang kaca sempit tanpa mampu berbuat sesuatu.

“ Kalau emang mau bikin zoo kayak begini, kayaknya binatangnya jangan lama-lama dikurung kali yaa .. waktunya dibatasi, gantian sama yang lain, dilepas dihutan  .. mungkin g yaa ?”, begitu komentar anak kami.

Tiba-tiba saya jadi teringat kepada salah satu ayat tentang kerusakan bumi. Apakah ini namanya bukan memasung sifat dan keperkasaan salah satu mahluk Allah? Yang juga berarti merusak ciptaan-Nya, meski mungkin tanpa disadari ?

“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”(QS.Al-Baqarah(2):11).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 20 Oktober 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »