Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Menilik Jejak Islam Di Eropa’ Category

( Sambungan dari  : “ Menilik Jejak Islam Di Eropa (6) “) .

Kita tinggalkan Toledo dengan sejumlah hikmahnya …

Tujuan kami berikutnya adalah Salamanca dan Burgos yang terletak di bagian barat laut dan utara Spanyol. Saya tidak yakin apakah masih ada jejak Islam yang tertinggal didua kota ini. Jujur saja sebenarnya dua kota ini kami jadikan tujuan karena jarak Toledo – Pau terlalu jauh bila harus ditempuh tanpa bermalam. Sebenarnya Burgos saja cukup. Namun berhubung beberapa teman mengatakan bahwa Salamanca adalah kota yang cukup cantik, maka kamipun memutuskan untuk singgah semalam disana.

Salamanca terletak sekitar 190 km barat laut Toledo. Kota ini hanya 80 km dari perbatasan Portugal. Sedangkan Burgos terletak sekitar 200 km sebelah utara Salamanca.

Seperti halnya kota-kota lain di Spanyol Salamanca selama beberapa ratus tahun berada di bawah kekuasaan Islam setelah sebelumnya dikuasai Romawi dan kemudian Wisigoth. Musa bin Nusair, gubernur propinsi bagian Afrika Utara inilah yang bersama Tarik bin Ziyad menaklukkan kota ini pada tahun 712 M. Musa sendiri dikabarkan bahwa ayahnya dulu adalah seorang pemeluk Yahudi mantan budak yang kemudian masuk Islam pada masa Muawiyah, gubernur pertama Syria, pendiri dinasti Umayah.

Selanjutnya Salamanca dan kota-kota yang ditaklukan Musa dan Tarik berada di bawah pemerintahan kekhalifahan Umayah yang berpusat di Damaskus. Ini terjadi pada masa khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Yang menjadi salah satu kunci mengapa semenanjung ini begitu mudah ditaklukkan pasukan Islam adalah karena pemerintahan Wisigoth ketika itu tidak berlaku adil terhadap rakyatnya terutama dalam hal toleransi beragama.

Contohnya adalah pemeluk Yahudi yang merupakan mayoritas penduduk negri tersebut. Mereka dipaksa berpindah ke agama Kristen, agama para penguasa. Mereka yang menolak dibunuh atau disiksa secara brutal. Itu sebabnya ketika pasukan Musa dan Tarik datang rakyat Spanyol menyambut mereka dengan senang hati. Apalagi ketika mengetahui bahwa   Islam tidak pernah memaksa warganya untuk berpindah agama. Bahkan orang-orang Yahudi yang tadinya hidup paling menderitapun diberi kebebasan, perlakuan dan kesempatan yang sama dengan warga lain.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.(QS. Al-Baqarah(2):256).

Pada tahun 750 M kekhalifahan Umayah yang berdiri pada tahun 661 M digulingkan oleh bani Abbasiyah. Salamancapun berpindah menjadi bagian dari kerajaan Kordoba yang didirikan pada tahun 756 M oleh Abdul Rahman I. ia adalah raja terakhir Umayah yang berhasil melarikan diri dari kejaran bani Abbasiyah.

Namun kekuasaan Islam di kota ini sedikit demi sedikit berkurang sejak tahun 939 M hingga akhirnya hilang sama sekali begitu raja Kristen Alphonso VI berhasil menaklukan Toledo pada tahun 1085 M.

University of Salamanca

University of Salamanca

Salamanca saat ini adalah kota pelajar. Di kota ini terdapat universitas tertua di Eropa, yaitu  Universitas of Salamanca yang berdiri pada tahun 1218 M. Universitas ini juga merupakan universitas ke 5 tertua di barat.  Namun dibanding dengan kota-kota Islam lainnya pendirian pusat ilmu ini tergolong ketinggalan jauh. Karena universitas di kota-kota Islam telah berkembang pesat sejak tahun 700-an.

Kami memasuki Salamanca pada hari Jum’at tengah malam. Dari kejauhan puncak menara katedral yang terletak di ketinggian dengan lampu-lampunya yang terang benderang terlihat mendominasi kota. Tujuan kami adalah hotel yang telah kami booking beberapa hari sebelumnya. GPS di mobil mengarahkan kami untuk mendekati lokasi tersebut. Kota terlihat sangat sepi. Tampaknya kota tua ini telah terlelap dalam tidurnya. “ Tentu saja sudah tengah malam”, pikir saya ketika itu.

Namun ternyata saya salah duga. Karena makin mendekati hotel yang tampaknya terletak di pusat kota kehidupan makin terlihat semarak. Sekumpulan pemuda pemudi terlihat lalu-lalang. Ada yang duduk-duduk bergerombol di jalanan. Ada yang berdua-duan duduk di restoran. Sebagian terlihat mabuk. Aneh juga. Ini kan tengah malam.

Ada pertandingan sepak bola kali ya.. ”, terka suami saya tak kalah heran.

Begitu sampai di hotel kami menanyakan hal tersebut kepada resepsionis. Ternyata itu hal biasa. Mereka adalah para pelajar dan mahasiswa yang merupakan mayoritas penduduk Salamanca. Itulah yang mereka lakukan setiap malam Sabtu. Kongkow-kongkow, makan, minum dan ngobrol di kafe yang banyak tersebar di kota ini. Dan tentu saja mabuk-mabukan .. Olala ..

Wah , serem juga ya kalau punya anak kuliah di kota ini “, begitu suami saya berkomentar. Tampak sekali kehidupan mereka begitu bebas. Ya .. memang mengerikan sekali ..

Esok paginya kami berjalan-jalan keliling kota. Sungguh aneh .. kali ini kota seperti kota mati !  “ Palingan masih pada tidur  .. kan kemarin pada begadang sampai pagi “, kali ini putri kami yang berkomentar.

Tetapi ketika kami mendekati lokasi sekitar katedral, keadaan sedikit lebih ramai. Sejumlah restoran terlihat mulai bersiap-siap menata kursi-kursi di jalanan. Para turis lokal bercampur dengan warga setempat berdatangan meramaikan suasana. Sementara di depan katedral  terlihat sebuah kereta mini turis. Kamipun memutuskan menggunakan kereta tersebut untuk berkeliling kota.

Plaza Mayor, tempat berkumpulnya warga

Plaza Mayor, tempat berkumpulnya warga

Namun karena kereta baru akan berangkat 2 jam lagi maka kami memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat pemandangan sekitar katedral. Diantara sejumlah bangunan tua yang kami lihat seperti Old Katedral, New Katedral, gereja-gereja tua, universitas, plaza mayor dll tak sedikitpun tercatat adanya tanda-tanda peninggalan Islam di kota tua ini.

Mungkinkah selama 250 tahun lebih Islam tidak memberikan sumbangsihnya ke kota ini? Entahlah .. yang jelas kejadian tersebut memang telah berlalu hampir 1000 tahun yang lalu .. jadi kalaupun ada pasti pemerintahan baru telah merubah fungsinya … masuk akal..

Oya, ada sedikit kejutan. Ketika itu kami sedang berjalan-jalan melihat toko-toko suvenir  yang banyak berjejer di sepanjang jalan.  Tiba-tiba kami melihat sebuah toko yang memajang patung Garuda raksasa secara mencolok. Karena penasaran kamipun mendekatinya. Ternyata benar, patung tersebut berasal dari Indonesia. Lumayan .. ada sedikit rasa bangga nama negri kita ternyata cukup dikenal … 🙂

Singkat cerita, setelah makan siang dan berkeliling kota dengan kereta mini kamipun kembali meneruskan perjalanan, yaitu ke Burgos. Kami menginap di kota ini satu malam. Seperti biasa Katedral yang terletak di pusat keramaian kota menjadi pusat tempat berkumpulnya warga dan turis,baik turis lokal maupun turis asing.

Menurut saya Burgos lebih cantik dan lebih asri dari Salamanca. Apalagi dengan adanya Rio Arlanzon, sungai yang membelah kota. Rio dalam bahasa Spanyol artinya adalah sungai. Sejumlah jembatan tampak menghubungkan bagian kota lama dan bagian baru kota ini.

Menurut sejarah Burgos awalnya adalah kota militer yang didirikan pihak Kristen Spanyol dalam rangka mencegah perluasan kekuasaan Islam yang makin hari makin luas saja. Kota ini didirikan pada tahun 884 M. Bekas benteng tersebut masih dipertahankan dan menjadi salah satu obyek wisata. Benteng ini terletak strategis di atas bukit.

Saat ini Burgos menjadi kota tempat persinggahan para pezirah Kristen yang akan melaksanakan  ziarah ke Saint Jacques de Compostelle. Kota yang terletak di ujung barat Spanyol ini  dinobatkan sebagai satu dari tiga kota tersuci umat Kristen ( disamping Yerusalem dan Vatikan). Lucunya ketetapan ini baru dikeluarkan dewan gereja ribuan tahun setelah di-‘salib’nya Isa as yang mereka tuhankan, yaitu sejak kejatuhan Al-Andalusia secara keseluruhan ditahun 1492M.

Spanyol secara umum saat ini memang terlihat ‘paling Kristen’ dibanding kota-kota Eropa lainnya. Namun anehnya, beberapa hari yang lalu saya menerima kabar yang cukup mengejutkan.

Seorang perempuan Inggris berusia 28 tahun dengan suka rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk memodali program ‘Atheismesisasi’. Ia dikabarkan memesan slogan raksasa bertuliskan kurang lebih begini “ Tampaknya Tuhan itu tidak ada. Mari kita nikmati kehidupan duniawi dengan sebebas-bebasnya  !! “.

Slogan ini rencananya akan ditempelkan di sepuluh bus turis merah London yang terkenal itu. Namun ternyata rencana ini diprotes warga termasuk para pengemudi bus yang bersangkutan. Surutkah keinginan gadis yang meragukan keberadaan Tuhan ini?

Sama sekali tidak … Karena tak lama kemudian tersiar kabar bahwa sejumlah bus di Barcelona, Spanyol menempelkan slogan pesanan gadis tersebut .. Na’udzubillah min dzalik ..

Tampaknya Spanyol dengan gereja-gereja cantik nan megahnya bakal mengalami nasib sama dengan  gereja-gereja lain di seluruh penjuru Eropa, yaitu ditinggalkan umatnya dan hanya menjadi lambang kebanggaan kota …

Wallahu’alam bi shawab.

Pau – France, 31 Mei 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

( Sambungan dari  : “ Menilik Jejak Islam Di Eropa (5) “) .

Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan antara ilmu duniawi dan ilmu akhirat.  atau apa yang sekarang popular disebut Sekularisme. Inilah yang menjadi dasar pesatnya perkembangan ilmu dan sains di dunia Islam pada abad pertengahan. Ridho Allah swt sebagai Sang Pemilik adalah kata kunci.

“Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat “. (QS.An-Nisa'(4):134).

Al-Khawarizmi (783M – 850M), Al-Kindi (801M – 873M), Al-Battani ( 855M – 923M), Ar-Razi/Rhazes (865M – 932M), Ibnu Haitam / Alhacen (965M – 1039M), Al-Biruni (973M – 1050M), Ibnu Sina/Avicenna (980 M – 1037M) dan Al-Jazari (1136 M -1206M) dari Persia, Ibnu Khaldun (732M – 808M) dari Tunisia, Al-Zarqali/Arzachel (1029M – 1087M) dan Ibnu Rusdy/Averroes (1126M – 1198M) dari Andalusia  adalah contoh dari sekian banyak ilmuwan Muslim yang hidup di masa kejayaan Islam.

Mereka ini bukan hanya menguasai ilmu yang sifatnya duniawi seperti  kedokteran, fisika, kimia, matematika, ekonomi, astronomi, seni dll namun juga ilmu ukhrowi. Bahkan mereka ini juga tidak hanya menguasai satu atau dua bidang ilmu saja. Ibnu Sina misalnya, ia adalah dokter sekaligus ahli filsafat dan matematikus. Mereka adalah para ilmuwan, penemu sekaligus alim ulama handal yang membawa dunia Islam menuju puncak kejayaannya. Andalusia adalah salah satu bukti zaman kejayaan tersebut.

Dari Andalusia inilah ilmu pengetahuan masuk ke Eropa. Namun berbeda dengan ilmuwan Muslim yang selalu mencantumkan nama penemu dan buku yang dijadikan pegangan mereka ( bila itu terjemahan, biasanya berasal dari ilmuwan Yunani kenamaan seperti  Socrates yang hidup pada 428BC – 348 BC atau  Plato pada 470 BC -399 BC) tidak demikian dengan ilmuwan barat. Dengan penuh kecurangan mereka mengakui buku-buku terjemahan mereka atas namanya sendiri ….

Dan tampaknya kecurangan ini terus berlanjut hingga saat ini, diantaranya  yaitu dengan dihilangkannya/ manipulasi sejarah kota-kota lama yang dulu pernah berada dibawah kekuasaan Islam. Contohnya ya di Toledo ini.

Semula saya begitu bersemangat ketika mendapat informasi bahwa peninggalan Islam di Toledo termasuk cukup banyak. Mr Google mengatakan bahwa dengan masih dijaganya keberadaan masjid sebagai peninggalan sejarah Islam di Eropa maka Toledo dapat disebut sebagai satu-satunya kota Eropa yang masih menyisakan toleransi keberagamaan.

Tapi brosur yang sengaja saya beli di hotel tempat kami menginap  tidak begitu banyak menyebut peranan Islam dalam membentuk kota dan masyarakat  kota benteng ini. Hal ini membuat saya makin bernafsu untuk membuktikan kebenaran pernyataan Mr Google, sumber data internet yang mustinya  dapat dipercaya.

Maka setelah sarapan, kamipun berjalan menyusuri jalan-jalan batu sempit yang berkelak kelok menanjak. Bangunan-bangunan tua model abad pertengahan mendominasi kota. Sebagian besar bangunan tersebut saat ini adalah gereja atau museum. Kami menjumpai ada lebih dari dua atau tiga bekas sinagog yang terlihat terawat dengan baik. Pengunjungnya membludak hingga harus mengantri bila ingin melihat keadaan di dalamnya.  Tampaknya mereka adalah para peziarah Yahudi dan Kristen.

 

Alcazar

Alcazar

 

 

Zocodover

Zocodover

 

Obyek wisata yang menjadi primadona seperti biasa adalah Katedral. Katedral dan Alcazar ( aslinya dari bahasa Arab berarti benteng atau istana, saat ini adalah Musium Militer ) adalah dua bangunan yang menjadi simbol kota Toledo.  Begitu juga Zocodover ( dari bahasa Arab Suk Al-Dawab) yaitu Pasar Al Dawab. (Memandang Katedral agak lama, ada sedikit keraguan dan harapan, mungkinkah gereja besar ini tadinya adalah masjid?  Tidak ada data yang saya peroleh … )

Disamping itu yang juga menarik perhatian para turis adalah gerbang-gerbang kota dan jembatan-jembatan lama. Sebagai kota benteng Toledo mempunya beberapa pintu gerbang. Gerbang utama diberi nama The Alfonso VI Gate. Dulunya nama gerbang ini adalah Bab Shagra yang dalam bahasa Arab adalah Gerbang Sagra. Ada lagi gerbang yang disebut The Sol Gate. Gerbang ini dibangun kembali pada abad 14 dengan gaya Mudejar. Sementara itu  Puerte de Bisagra atau Gerbang Bisagra aslinya juga peninggalan Islam.

Kami terus berjalan mengikuti arah panduan peta untuk menemukan masjid sebagaimana tertulis di brosur. Kami bolak balik di sekitar suatu lokasi bernama “ Mezquita de Tornerias”. Mezquita dalam bahasa Spanyol artinya adalah masjid. Namun tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa itu adalah bangunan masjid. Yang tampak hanya sebuah bangunan kecil di sudut jalan dengan pintu tertutup rapat. Setelah secara seksama  mengamati tulisan kecil di salah satu dindingnya barulah kami sadar  bahwa ini hanyalah lokasi bekas masjid kecil yang sekarang dijadikan tempat pameran … L .. Olala ..

Suami dan anak saya terlihat mulai bosan namun saya tetap penasaran.  “ Ada satu lagi masjid menurut peta ini. Tanggung nih .. kita kesana sebentar ya ..”, rengek saya. “ Palingan g ada apa-apanya bu “, jawab anak saya ogah-ogahan namun tetap mau menuruti keinginan ibunya yang keras kepala ini. Terima-kasih anakku sayang ya … Alhamdulillah …

 

Mezquita Del Cristo De La Luz

 

 

Mezquita Del Cristo De La Luz

Mezquita Del Cristo De La Luz

 

Beberapa menit kemudian kamipun tiba di tujuan. Benar dugaan anak saya. Masjid tersebut ternyata benar-benar hanya peninggalan sejarah. Masjid yang diberi nama begitu cantik “ Mezquita Del Cristo De La Luz” itu hanyalah bangunan kosong yang ditinggalkan begitu saja.

Bangunan tidak seberapa besar ini seperti bangunan yang belum selesai dibangun. Walaupun sebetulnya keindahannya masih tampak jelas. Dari luar terlihat sejumlah pilar dan tangga yang tak terawat.. “ Ini namanya basa basi .. sekedar syarat pokoknya ada peninggalan yang dipertahankan. Lebih parah lagi kayaknya malah sengaja mau ngecilin peran Islam “, begitu komentar suami saya, pahit.  Yaaah … menyedihkan  sekali …

373 tahun bukanlah waktu yang pendek. Ini hampir sama dengan masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia. Selama ratusan tahun itu rakyat Indonesia hidup menderita dan sangat tertekan. Kebodohan, kemiskinan dan kehinaan terjadi di seluruh pelosok negri.

Lain halnya dengan keberadaan Islam di suatu negri. Ekspansi Islam ke Eropa atau kemanapun bukanlah bentuk penjajahan. Ketika Islam mendatangi suatu negri, kejayaan dan kemegahan selalu terjadi. Masyarakat yang tadinya hidup tidak teratur, selalu berpindah-pindah,  liar  dan tidak mengenal Tuhan segera berubah menjadi masyarakat madani, masyarakat yang berperadaban tinggi ( civilized society). Ini terbukti dengan lahirnya para ilmuwan, buku-buku pengetahuan, perguruan-perguruan tinggi, sistim pengairan, kota yang teratur, aman dan tentram.

Masyarakat Islam dimanapun berada selalu memprioritaskan keberadaan sebuah masjid. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pusat ibadah shalat  namun juga sebagai sarana berkumpul, bertukar pikiran dan pendapat. Apalagi dikota sebesar Toledo yang merupakan salah satu dari 5 ibu kota propinsi Al-Andalusia. ( 4 kota di luar Toledo itu adalah Kordoba, Merida, Zaragoza dan Narbonnne yang sekarang berada di wilayah Perancis Selatan). Keberadaan Grand Mosque atau Masjid Agung adalah sebuah keharusan. Dimanakah gerangan itu sekarang ? Mengapa bahkan lokasi bekasnyapun tidak terindentifikasi ?

Padahal bila mau jujur sebenarnya peninggalan-peninggalan tersebut begitu kasat mata. Menara,  gapura dengan lengkung khasnya juga tembok-temboknya yang melindungi kota dari serangan musuh bukankah itu peninggalan Islam ? Yang memang mungkin saja bercampur dengan peninggalan Romawi dan Wisigoth yang berkuasa sebelumnya.

Demikian pula jendela-jendela rumah dengan teralisnya yang khas. Teralis  saat ini berfungsi lebih untuk pengamanan. Namun menurut adab Islam masa lalu, teralis berfungsi untuk melindungi kaum perempuan dari pandangan luar. Dengan demikian ia dapat melihat keluar jendela tanpa terlihat dari luar!

( Bersambung)

PF.

 

 

Katedral 1

Katedral 1

 

 

Katedral 2

Katedral 2

 

Hari ini, 4 November 2010, 6 bulan setelah artikel ini ditulis, tanpa sengaja saya menemukan sebuah website yang mengatakan bahwa Katedral Toledo tadinya adalah Masjid … Allahuakbar ..  Akhirya muncul juga bukti tertulis itu… Subhanallah..

Click: http://en.wikipedia.org/wiki/Church_of_San_Sebasti%C3%A1n,_Toledo

Read Full Post »

Pasukan Islam di bawah pimpinan Tarik bin Ziyad memulai penaklukkan semenanjung Iberia ( Spanyol, Portugal dan Perancis Selatan) pada tahun 711 M.  Ia masuk melalui selat Jibraltar. Jibraltar berasal dari kata Jabal Tarik atau Gunung Tarik. Tarik diambil dari nama sang panglima. Kata gunung digunakan karena di selat dimana pasukan Tarik memasuki semenanjung ini berdiri sebuah gunung.

Sementara kota Toledo yang merupakan ibu kota Wisigoth ketika itu ditaklukkan hanya setahun setelah itu, yaitu tahun 712 M. Padahal kota ini terletak jauh di tengah daratan Spanyol. Dapat dibayangkan bagaimana cepatnya pasukan Tarik ini bergerak. Toledo berada di bawah wilayah kekuasaan kerajaan Kordoba selama 373 tahun, yaitu hingga tahun 1085 M.

Para ilmuwan Barat saat ini mengakui bahwa peninggalan Islam di Toledo termasuk yang paling banyak, disamping Saragossa, Sevilla dan Kordoba sendiri yang merupakan ibu kota kerajaan.. Wilayah kerajaan ini mencakup lebih dari  2/3 bagian  Spanyol dan Portugal sekarang ini, termasuk didalamnya adalah Madrid, ibu kota Spanyol.

Toledo terletak sekitar 70 km selatan Madrid. Sedangkan jarak Madrid – Saragossa hampir 400 km. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam. Sekitar pukul 4 sore kami tiba di Madrid. Awalnya kota ini tidak masuk dalam daftar kota yang bakal kami kunjungi. Karena kami telah mengunjunginya beberapa tahun yang lalu. Namun karena anak gadis kami bersikukuh ingin mengunjunginya dengan alasan dulu masih kecil jadi lupa, akhirnya kami mengalah. Dan lagi kami pikir kan memang tidak menyimpang. Jadilah kami singgah sebentar.

Sebagai ibu kota salah satu negara Eropa, harus diakui Madrid memang kota yang cantik. Saya pikir tak kalah dengan Paris. Bahkan boulevard alias jalan rayanya mungkin lebih banyak dan lebih lebar dari kota Paris. Di hampir semua bundaran, air mancur dengan bunga-bungaan di sekelilingnya tampak menambah indahnya  gedung-gedung yang mengepungnya.

Stadion Matador

Stadion Matador

Setelah berkeliling kota sebentar, kami menuju stadion Matador. Arsitektur stadion adu banteng ini sangat mirip dengan bangunan ala Mudejar. Dinding bata merah dengan ukiran daun-daunan lengkap dengan menaranya. Namun ini bukan peninggalan Islam. Ini adalah bangunan baru. Tampak jelas bahwa gaya Mudejar hingga saat ini masih tetap disukai rakyat Spanyol.

Setelah puas ber-foto ria, saya mengusulkan untuk mampir ke Islamic Centre Cultural Madrid dimana di dalamnya terdapat masjid dan sekolah dasar. Kalau saya tidak salah letak Pusat kajian Islam ini tidak terlalu jauh dari stadion ini. Sayangnya kami  tidak ingat persis lokasinya.

Beruntung, di sebuah bangku taman di sekitar stadion saya melihat seorang muslimah ( tercermin dari jilbabnya) sedang membaca buku. Segera saya menghampirinya. Dari raut wajahnya saya perkirakan ia seorang asli Spanyol.

Assalaamu’alaykum. Do you speak English”, begitu saya menyapanya.

“ Wa alaykum salam .. No ..”, jawabnya tersenyum sambil menggeleng.

“ French ?”, tanya saya lagi. “ Oui, un peu “, jawabnya. Alhamdulillah …

Maka begitu tahu bahwa saya ingin mengetahui alamat masjid, ia segera bangkit dari duduknya, memegang bahu saya dengan akrab dan menunjukkan lokasi masjid yang saya maksud. Ternyata saya tidak salah. Pusat kajian Islam tersebut tidak begitu jauh bahkan atapnyapun terlihat dari tempat kami berdiri. Setelah berbincang sebentar kamipun berpisah. Menurutnya jumlah Muslim di Madrid lumayan banyak. Alhamdulillah ..

“ Cantik bu ya .. ramah lagi .. ”, komentar anak saya tak lama setelah kami berpisah. “ Yaah, coba tadi foto dulu bu .. balik lagi aja bu “, sambungnya lagi.

“ Emm ..”, jawab saya ragu. “ Males ah de’  ..  lagian g enak ah .. abis udah jauh”, jawab saya setengah menyesal.

Tak lama kemudian kami telah berada di dalam mobil lagi. Ternyata tidak terlalu mudah menuju masjid dengan bekal melihat atapnya saja. Karena walaupun kelihatannya dekat tetapi harus berputar-putar. Masjid terletak di tepi jalan raya yang sangat lebar dan ramai. Setelah berkali-kali salah jalan akhirnya kami sampai juga. Tepat waktu magrib pula … Subhanallah ..

Namun sungguh patut amat disesalkan. Jamaah benar-benar hanya sedikit sekali bahkan di bagian perempuan hanya kami berdua plus dua orang lain lagi !! Demikian pula di bagian laki-laki, menurut suami saya hanya 1 shaf saja … Sungguh tidak seimbang dengan masjidnya. Masjid yang menjadi bagian dari Pusat Budaya Islam ini lumayan besar dan bagus. Menurut seorang jamaah yang ditemui suami, kemungkinan ini dikarenakan lokasi masjid yang tidak berada di lingkungan pemukiman Muslim … Yaah, sayang sekali ..

Usai makan malam setelah puas melihat keramaian Madrid di malam hari, kami melanjutkan perjalanan utama yang sempat tertunda, yaitu Toledo. Menjelang tengah malam kami memasuki kota benteng yang terletak diatas bukit ini.

Kota ini bak istana boneka abad pertengahan dengan kisah 1001 malamnya. Jalanan sempit dari batu yang berkelak-kelok, naik turun, acap kali beratap di atasnya dan buntu dibeberapa tempat seperti layaknya labirin. Bangunannya yang terbuat dari dinding bata merah dengan lengkungan khasnya. Ini adalah ciri khas  kota-kota Islam masa lalu. Ditambah lagi dengan adanya lampu dinding temaram yang menerangi gapura, kubah dan menara-menaranya, kita benar-benar serasa diajak memasuki negri dongeng yang menakjubkan.

Esoknya kita berjalan-jalan mengelilingi kota. Letak kota ini sangat strategis. Selain berada di atas bukit kota ini dikelilingi sungai. Sebuah benteng kuno dengan beberapa pintu gerbangnya tampak dengan gagah melindungi penghuninya dari serangan musuh.

Sejarah mencatat bahwa sepanjang 373 tahun Toledo berada di bawah Islam, kehidupan beragama antara pemeluk Nasrani,Yahudi dan Islam berjalan secara harmonis. Toleransi antara ketiga agama samawi ini terbukti jelas dengan diizinkan berdirinya rumah ibadah masing-masing. Ilmu, sains, seni dan budaya berkembang pesat. Orang-orang Eropa yang ketika itu masih berada di masa kegelapan berdatangan untuk menuntut ilmu di berbagai universitas Islam di kota-kota kerajaan yang beribu kota di Kordoba ini.

Karena bahasa Arab kemudian menjadi bahasa utama kerajaan maka para pendatang kulit putih inipun harus mempelajari bahasa Arab. Ironisnya setelah berhasil mengecap dan menguasai berbagai ilmu mereka pulang ke negrinya masing-masing, menerjemahkan buku-buku besar karya ilmuwan-ilmuwan Muslim dan mengakuinya sebagai karya sendiri !!

( Bersambung )

Read Full Post »

Perjalanan kami kali ini tampaknya bakal menjadi penutup laporan ‘ Menilik Jejak Islam di Spanyol’. April tanggal 22 tahun 2010, adalah liburan terakhir kami selama berada di Pau. Zaragosa yang terletak tidak lebih dari 300 km selatan Pau menjadi tujuan kami. Rute kami adalah Zaragoza, Toledo, Salamanca dan Burgos. Keempatnya berada di wilayah Spanyol. Di dua kota terakhir saya tidak yakin apakah jejak Islam masih dapat ditemui ..semoga saja ada kejutan yang menggembirakan, amiin ..

Sekitar pukul 12 siang, dengan kendaran pribadi kami bertiga berangkat meninggalkan Pau. Perjalanan cukup lancar. Kami melewati deretan pegunungan Pirenea yang selalu membuat saya berdecak kagum walaupun telah berkali-kali melewati pegunungan yang menjadi pembatas antara Perancis dan Spanyol ini. April adalah musim semi. Udara terasa cukup hangat, yaitu sekitar 20 derajat celcius. Stasiun-stasiun ski yang banyak ditemui di sepanjang perjalanan telah ditutup sejak 2 minggu lalu. Namun sisa-sisa salju di puncak pegunungan masih terlihat di sana-sini,  menambah kecantikan Pirenea.

Tak sampai satu jam kemudian kami telah berada di wilayah Spanyol. Tidak ada tanda perbatasan yang mencolok selain papan selamat datang di Spanyol dengan menggunakan bahasa Spanyol. Sejumlah kecil polisi patroli  dan pegawai imigrasi terlihat menghentikan dan memeriksa satu, dua  kendaraan yang mungkin mencurigakan. Kami terus melaju dengan kecepatan maksimum 130 km/jam. Ini adalah kecepatan maksimum standard Eropa di jalan toll.

Memasuki jam ke dua, jalan mulai berkelak-kelok. Anehnya tidak seperti biasanya suami mulai mengantuk. Karena tidak tega akhirnya saya menawarkan menggantikannya menyetir. Saya sendiri terus terang sebenarnya kurang merasa percaya diri bila harus menyetir di jalan pegunungan. Beruntung, seperti biasa suami hanya butuh beberapa menit untuk menghilangkan kantuknya.

Kamipun berpindah posisi. Sambil menyetir saya tidak bisa melepaskan mata saya dari keindahan pemandangan pegunungan di kiri kanan saya. Namun baru beberapa menit berlalu, menjelang memasuki sebuah terowongan,,terlihat petugas patroli lalu lintas bermotor berjaga-jaga di jalanan. Laju kendaraan mulai melambat dan akhirnya berhenti sama sekali. Sepuluh menit berlalu tanpa ada tanda apapun. Antrian panjang mobilpun tak dapat dihindari. Suami terbangun.

Beberapa menit kemudian suami turun dari mobil dan menanyakan apa yang terjadi kepada petugas yang mondar mandir di sekitar kami. Masalahnya sang petugas tidak bisa berbahasa Inggris sementara  suami tidak bisa berbahasa Spanyol. Waalaahh .. repotnya .. L

Suamipun mencoba mendekati pengendara mobil di belakang kami. Idemm .. Namun dengan bahasa isyarat  akhirnya kami tahu  bahwa ternyata kami harus menanti sekitar 1 jam-an karena sedang ada proses peledakan bom untuk kebutuhan pembangunan terowongan baru !! Olala .. padahal kami belum makan siang, perut telah mulai keroncongan. Akhirnya kamipun memutuskan untuk berbalik dan mencari resto seadanya.

Singkat cerita, setelah menemukan sebuah resto di pinggir jalan dan sempat pusing, bertanya kiri-kanan bertanya apa kata daging babi dalam bahasa Spanyol karena pelayan resto tidak berbahasa Inggris maupun Perancis, akhirnya kami meneruskan perjalanan lagi. Tidak ada kemacetan, berarti peledakan sudah selesai dan terowongan sudah bisa dilalui kembali. Alhamdulillah ..

Di tengah perjalanan yang berliku, tiba-tiba pandangan saya membentur pada sebuah bangunan terbengkalai yang dipahat di atas bukit batu yang curam. Wah, bangunan abad pertengahan nih, pikir saya.  Peninggalan Islamkah? Wallahu’alam.

Menjelang sore kami memasuki Saragossa. Kami langsung menuju ke pusat kota. Sebuah pelataran luas dengan kubah-kubah besar cantik berlapis keramik warna-warni dan menaranya terasa mendominasi pemandangan kota. Harus diakui, memang indah sekali. Namun ini gereja besar alias basilik. Bukan ini yang saya cari. Saya sedang berusaha mencari jejak Islam di negri yang selama 8 abad pernah dikuasai Islam ini.

Saya perhatikan bentuk gereja secara detil. Patung yang berserakan menghiasi bangunan jelas bukan peninggalan Islam karena Islam jelas-jelas melarangnya. Bagaimana dengan menaranya?  Apakah hanya kuncup dan belnya saja yang merupakan penambahan di kemudian hari? Entahlah .. dari pada menebak-nebak kemudia salah, saya pikir lebih baik mencari sesuatu yang jelas sajalah.

La Seo 3La SeoLa Seo 2

La Seo

La Seo

Maka pandangan sayapun beralih ke tempat lain. Sebuah gereja ( lagi-lagi gereja .. ) di seberang pelataran menarik perhatian. Di papan tertulis bahwa ini adalah bangunan Mudejar, sebutan bagi Muslim Spanyol pada masa pemerintahan Kristen di  Spanyol. Di beberapa bagian kecil dinding ternyata masih terlihat sisa-sisa gaya arsitektur Islam, yaitu mozaik bercorak dedauan dan bunga geometris warna-warni. Ini adalah khas gaya Mudejar.Katedral El Salvador yang juga dikenal dengan nama La Seo ini ternyata tadinya adalah masjid. Setelah Saragossa ditaklukkan pada tahun 1118 oleh pasukan Kristen dibawah raja Alphonso I, ia memerintahkan agar masjid diubah menjadi gereja hingga seperti sekarang ini.

Di sepanjang perjalanan kami juga  melihat sebuah museum yang tadinya adalah bangunan milik Muslim dan beberapa peninggalan Islam lainnya.

Esoknya kami menuju Aljafería Palace. ( Oya, kami sempat mengalami sedikitmasalah. Ban mobil kempes. Beruntung seorang pengendara yang baik hati,dengan bahasa isyarat, menunjukkan kepada kami bengkel tambal ban terdekat.  Di bawah guyuran air hujan yang lumayan deras,  suamipun memasang ban serep. Setelah itu kami berputar menuju bengkel yang dimaksud.  Alhamdulillah beres ).

Aljaferia Palace 1

Al-Jaferia Palace

Al-Jaferia Palace

Aljafeira Palace adalah bekas istana kediaman dinasti bani Hud, salah satu taifa, kerajaan kecil Islam, yang berkuasa di Saragossa. Istana ini dibangun pada pertengahan abad 11.  Tampaknya tak terlalu lama dinasti ini dapat menikmati istananya yang megah ini karena sejak tahun 1131 , istana menjadi tempat tinggal resmi raja Kristen Spanyol dan keluarganya …  😦  .

Sayang sekali kami tidak dapat masuk karena hari itu sedang berlangsung acara kenegaraan. Sebagian bangunan tersebut saat ini memang berfungsi sebagai gedung pemerintahan.

Berikut youtube tentang istana ini.

http://www.youtube.com/watch?v=K2E5lXCHP8A&feature=related

Setengah  kecewa terpaksa kami meninggalkan lokasi. Tujuan kami selanjutnya  adalah Toledo, bekas ibu kota lama. Namun sebelumnya kami bermaksud untuk  mampir ke masjid dahulu. Beberapa hari sebelum keberangkatan saya memang sengaja surfing di dunia maya untuk mencari alamat masjid dikota- kota yang bakal kami lalui. Saya menemukan dua alamat masjid di Saragossa ini.

Dengan bantuan GPS ( Global Positioning  System )  plus bekal  alamat inilah kami berusaha menemukan masjid yang dimaksud. Di sudut sebuah jalan mobil terpaksa berhenti karena kendaraan tidak dapat masuk. Ditemani anak gadis saya, saya turun sementara suami menunggu di dalam mobil. Berdua kami berjalan perlahan mencari nomor sesuai yang  tertera di alamat yang saya pegang.  Tidak ada tanda-tanda bahwa ada masjid di sekitar lokasi. Terus terang saya memang tidak berharap muluk walaupun berdasarkan foto yang saya dapati di internet, masjid tersebut cukup bagus.

Namun toh akhirnya saya harus tetap kecewa. Karena bahkan nomor bangunannyapun tidak berhasil kami temukan. Mau bertanya tidak ada orang. Kalaupun ada dengan bahasa apa … Tapi saya yakin bila saja ada indikasi adanya seorang muslim disana, misalnya dengan adanya perempuan berjilbab, dengan bahasa tarzan pasti bisa.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang ” (QS. Al-Ahzab (33): 59).

Namun apa mau dikata  … akhirnya kami menyerah dan terus meninggalkan Saragossa menuju Toledo.

Bersambung ke : https://vienmuhadi.com/2010/05/24/menilik-jejak-islam-di-eropa-5-toledo-1/

Read Full Post »

( Sambungan dari Menilik Jejak Islam Di Eropa (2) – Andalusia ).

IMG_3361IMG_3451Keesokannya kami menuju Ronda. Terus terang sebelum ini tidak pernah terlintas di benak bahwa ada kota bernama Ronda di dunia ini. Sungguh tidak rugi kami berkesempatan mengunjungi kota ini. Ronda adalah sebuah kota yang lain dari pada yang lain. Kota ini dibangun diatas bebatuan tinggi di atas jurang nan terjal. Pemandangannya sungguh memukau sekaligus mencengangkan. Subhanalllah ..

Pada abad ke 8, Ronda adalah provinsi ke 21 dari kekhalifahan Kordoba. Setelah terpecahnya kekhalifahan menjadi kerajaan-kerajaan kecil Islam ( taifa ) pada tahun 1030, Ronda berada dibawah kekuasaan kerajaan Granada. Kota ini jatuh ke tangan kerajaan Kristen hanya beberapa tahun sebelum kejatuhan Granada yaitu pada tahun 1485 M.

Taman Gantung Ronda

Taman Gantung Ronda

Setelah puas memandangi keindahan kota dari atas jembatan, kami menyusuri jalan setapak berbatu menuju La Casa Del Rey Moro. Ini adalah tempat tinggal raja Moor ( Hispanik Muslim). Dari luar kediaman yang dibangun diatas bebatuan curam ini tampak tidak terlalu istimewa. Namun setelah masuk ke dalam dan melihat taman gantung dengan air mancurnya disana sini ternyata pemandangannya sungguh menakjubkan.

IMG_3503Namun yang lebih menakjubkan lagi adalah adanya pintu kecil di balik taman tersebut. Pintu sederhana yang menyerupai pintu gua ini terdiri atas  365 anak tangga yang curam dan berkelak kelok. Tangga yang dalam bahasa Inggris diberi nama The Miria Stairway ini menuju ke dasar lembah yang berujung ke sebuah danau kecil dimana tebing-tebing tinggi mengepungnya. Danau yang airnya berwarna biru jernih ini  terhubung langsung ke sungai Guadalevin.

Bekas kediaman keluarga raja Abu Malik ini kini memang kosong dan tidak ditinggali lagi namun kita tetap bisa menikmati perjalanan menuruni gua buatan yang dibangun di dalam tebing  bebatuan sempit tersebut. Bangunan istimewa ini dulunya selain digunakan sebagai gua rahasia dimana penghuninya sewaktu-waktu dapat dengan mudah menyelamatkan diri dengan  menaiki kapal kecil yang selalu siap menunggu di pinggir danau, juga merupakan tempat penyimpanan rahasia senjata militer kerajaan. Dari sini pula sistim pengaturan air kota diatur. Sebuah  bangunan yang sungguh patut mendapat acungan jempol …

Ironisnya, justru bangunan inilah yang menjadi penyebab utama kejatuhan Ronda. Selama bertahun-tahun rakyat Ronda dengan keras mempertahankan kota mereka padahal kota-kota di sekitarnya telah jatuh. Namun ketika akhirnya La Casa jatuh dan pihak musuh memotong  pasokan air ke dalam kota wargapun terperangah. Tanpa air tidak mungkin mereka bertahan.  Tidak ada pilihan bagi penduduk selain menyerah.  Maka  jatuhlah Ronda untuk selamanya. ( Tiba-tiba terbesit di benak ini, inikah maksud busuk  pemerintah pendudukan Israel membatasi pasokan air bersih bagi warga Palestina di Tepi Barat ?? Astaghfirullah…. )

Tidak berapa jauh dari La Casa berdiri reruntuhan bangunan pemandian ala Arab ( Bain Arab )yang tampaknya dulu merupakan tempat pusat kebugaran. Pemandian semacam ini dapat ditemui tidak hanya di kota-kota besar namun juga hampir di semua kota kecil di Andalusia. Pemandian umum ini biasanya tertutup dan dihiasi dengan kubah-kubah indah yang diberi penerangan. Pemandian ini dipisahkan antara bagian lelaki dan perempuan.

Benteng Ronda

Benteng Ronda

Seperti kota-kota Islam lainnya,  Ronda juga mempunyai tembok pertahanan kota atau benteng ( Alcazaba). Hingga kini benteng tersebut masih berdiri walaupun disana sini telah rusak. Gereja utama yang ada di kota ini sama dengan nasib kota-kota Andalusia lain adalah bekas masjid agung yang telah direnovasi.

jalanan samping gereja Jerez

jalanan samping gereja Jerez

gereja Jerez

gereja Jerez

Esok siangnya kami menuju Jeres di sebelah barat. Di kota ini kami kembali menemui benteng tua dan masjid agung  yang telah direnovasi menjadi gereja. Dari sini tampak bahwa kehidupan umat Muslim tidak pernah jauh dari kegiatan masjid. Masjid agung di semua kota Andalusia selalu berada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk dimana di sekitarnya terdapat pasar, pusat kegiatan bisnis yang tidak henti-hentinya berdenyut kecuali pada waktu-waktu shalat. Allahu Akbar …

Selanjutnya kami beristirahat di Marbella, sebuah kota pantai di pesisir laut Mediterania yang cukup ramai. Namun sebelumnya kami sempat mampir ke kota San Roque, sebuah kota yang terletak di perbatasan Gibraltar di ujung selat yang memisahkan Eropa dari benua Afrika. . Dari sini gunung karang raksasa yang menjadi lambang kebanggaan Gibraltar jelas terlihat. Sayang ketika itu matahari telah  masuk keperaduannya sementara kamera kamipun telah ‘lowbat’. Akibatnya kami tidak bisa merekam gambar gunung tersebut … apa boleh buat ..

salah satu pintu gereja Malaga

salah satu pintu gereja Malaga

Pintu utama benteng Malaga

Pintu utama benteng Malaga

Gereja Malaga

Gereja Malaga

Kunjungan terakhir adalah Malaga. Sebenarnya banyak yang dapat dikunjungi di kota ini. Namun karena waktu yang amat terbatas hanya sedikit yang dapat kami nikmati.  Seperti yang sudah diperkirakan,  di Malaga ini terdapat benteng besar kuno peninggalan Islam ( Alcazaba) dan masjid agung yang telah direnovasi  total menjadi gereja yang amat cantik dan megah  Sayang ternyata kami datang tepat pada hari dimana benteng selalu tutup yaitu  hari Senin. L. Terpaksa kami hanya puas melihat dari luar dan di kejauhan pula.

IMG_3856

Benteng Malaga dari kejauhann

Benteng megah Malaga terletak tinggi di atas bukit. Benteng ini dibangun pada abad 11 untuk melindungi istana raja Nasrid yang memerintah pada akhir zaman keemasan Islam di Granada. Peninggalan istana khas arsitektur Islam ini tampak masih dirawat dengan baik. Dari ketinggian ini, kota  Malaga yang saat ini merupakan salah satu kota pelabuhan Mediteranian terbesar dan terpenting di Spanyol terlihat jelas. Karena letaknya yang strategis, pelabuhan Malaga banyak dikunjungi wisatawan yang datang dengan kapal pesiar ( Croisiere ).

Di luar sejarah peradabannya yang menarik, berkat pembangunannya yang pesat kota metropolis ini memang pantas untuk dikunjungi. Malaga adalah gabungan antara kota tua yang sarat dengan jalan-jalan sempit berbatu serta berliku khas kota Islam masa lalu, bangunan bergaya campuran Gothic, Mudejar, Renaissance, Baroque dan Neoclassical yang relatife baru serta areal pedestrian luas yang dipenuhi butik-butik terkenal dunia. Kami bahkan sempat tersesat di areal ini padahal hotel kami sebetulnya tidak jauh dari tempat tersebut.

Salah satu peninggalan peradaban Islam yang pantas dibanggakan adalah masalah air. Sebagaimana kita ketahui kehidupan umat Islam hampir tidak pernah terlepas dari air. Karena sebelum shalat kita  wajib berwudhu. Nah, bagi yang sering bepergian dan harus menginap di hotel tentu tahu bahwa toilet di hotel  biasanya hanya menyediakan tissue. Namun tidak demikian di Andalusia. Semua hotel yang kami kunjungi selalu memiliki  closet dengan fasilitas air pembasuh.

Jangan lupa aquaduct ( sistim saluran air, biasanya yang terbayang di benak umum adalah aquaduct romawi yaitu saluran air yang dibangun di atas tembok besar kuno yang mengelilingi kota) di masa kejayaan Islam 10 abad yang lalupun  telah menjadi bagian penting dari kehidupan Muslim dan selalu mendapat perhatian khusus. Contohnya ya The Miria Stairway di atas tadi. Juga General Life yaitu taman luas indah nan asri yang terdapat di perbukitan istana Alhambra di Granada.

General Life, Alhambra

General Life, Alhambra

General Life, Alhambra

General Life, Alhambra

Di dalam taman ini banyak sekali dijumpai kolam-kolam dengan air mancur di sana sini. Bahkan sejumlah arsitek taman terkemuka dunia mengakui bahwa taman istana Versailles di Perancis dan juga taman-taman di istana Inggris terinsiprasi oleh General Life. Sebaliknya terlihat jelas bahwa para pemimpin dan raja-raja Islam di masa lalu membangun taman-taman indah dengan kolam-kolamnya, air mancur dan sungai yang gemericik suaranya serta tanaman yang beraneka ragam buah dan bunganya karena terinspirasi ayat-ayat  Al-Quran.

Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka)”.( QS. Ar-rad (13): 35).

Peninggalan lama di luar Islam yang menjadi ciri khas kota-kota di Andalusia dan Spanyol pada umumnya adalah Plaza de Torro yaitu gelanggang pertunjukkan Matador. Pertarungan dimana anak muda ditantang untuk dapat menaklukkan banteng dengan hanya bermodalkan secarik kain berwarna merah darah atau sering juga berwarna merah muda ini hingga kini masih dipertandingkan dan dapat disaksikan di beberapa kota yang memiliki stadion untuk itu. Walaupun sejak beberapa tahun belakangan sering diprotes para anggota klub pecinta lingkungan hidup karena dianggap mempermainkan mahkluk hidup lain (banteng ) selain juga karena kerap memakan korban luka-luka parah bahkan meninggal.

Bersambung : https://vienmuhadi.com/2010/05/17/menilik-jejak-islam-di-eropa-4-zaragoza/

Wallahu’alam bi shawab.

Semoga bermanfaat.

Pau – France, 10 November 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Bila orang Perancis biasa menyapa dengan kata “Bonjour”  maka “Ola” adalah sapaan yang akrab terdengar di telinga ketika kita pergi mengunjungi  kota-kota di Spanyol. Namun demikian warga Andalusia, wilayah Spanyol yang terletak diujung selatan semenanjung Iberia ini, meng-klaim bahwa mereka adalah warga Spanyol yang paling ramah dan hangat dibanding saudara-saudara  mereka yang tinggal di wilayah lain. Dan ini memang terbukti. Karena selama kurang lebih satu minggu kami berada di Andalusia, mulai dari penjaga pintu tol, resepsionis hotel hingga orang-orang yang kami temui dan tanyai ketika kami tersesat atau membutuhkan informasi, tanggapan dan sambutan mereka selalu baik dan ramah.

Perjalanan ke Andalusia yang dikenal dengan peninggalan dan sejarah Islamnya yang sangat kental ini, dimulai dari Pau- Perancis Selatan, dimana kami tinggal untuk sementara. Tujuan utama adalah kota Malaga. Berhubung  tidak ada penerbangan langsung dari Pau maka dengan mengendarai kendaraan pribadi kami melaju  ke Bilbao – Spanyol, sekitar 250 km ke arah barat Pau. Setelah menitipkan kendaraan di airport,   kamipun terbang menuju Malaga selama 1 jam 20 menit. Pesawat take off pada pukul 9 malam. Ini adalah satu-satunya penerbangan Bilbao – Malaga. Apa boleh buat kami harus merelakan satu malam untuk istirahat di hotel sebelum memulai perjalanan panjang.

Esoknya dengan kendaraan sewaan yang kami ambil di airport Malaga, kami menuju Granada. Jarak Granada – Malaga sebenarnya hanya sekitar 120 km. Namun karena jalan yang kami pilih bukan autoroute  maupun jalan toll karena kami ingin melihat keindahan kota-kota sepanjang pantai yang bakal kami lalui maka diperlukan waktu hampir 3 jam untuk sampai ke tujuan.

Granada adalah sebuah kota sarat sejarah. Wilayah ini selama 8 abad lamanya berada dibawah kekuasaan kerajaan Islam, yaitu sejak tahun 749 M – 1492M. Setelah kerajaan yang tadinya bersatu kemudian terpecah-pecah Granada adalah merupakan kerajaan kecil  Islam di Eropa yang terakhir kali jatuh. Kota ini berkembang pesat dibawah pemerintahan dinasti Almoravid dan Almohad yang memerintah antara tahun 1090 M – 1238 M.

Adalah Abdul Rahman ad-Dakhil bin Muawiyah, raja terakhir bani Umayyah yang pada masa akhir kejatuhannya berhasil lari dari kejaran bani Abbasiyyah. Tujuannya adalah semenanjung Iberia yang ketika itu telah ditaklukan oleh panglima Muawiyah, Thariq bin Ziyad . Dengan menyeberangi selat yang memisahkan antara benua Afrika dan benua Eropa, bersama panglima besar Musa bin Nushair, Thariq berhasil mengalahkan raja Ludzrig dari kerajaan Wisigoth, pada tahun 710 M. Selat tersebut dikemudian hari dikenal dengan nama selat Jibraltar. ( Berasal dari kata Jabar dalam bahasa Arab berarti gunung dan Thariq. Di selat tersebut memang berdiri sebuah gunung karang ).

Abdul Rahman menjadi raja Andalusia dengan menjadikan Cordoba sebagai ibu kota kerajaajannya pada tahun 755 M. Kerajaan Andalusia makin lama makin berkembang hingga akhirnya pada tahun 976 M meliputi seluruh semenanjung Iberia. ( Saat ini adalah wilayah yang meliputi Spanyol dan Portugal).

Namun tidak sampai seratus tahun kemudian karena rajanya yang lemah Andalusia terpecah-pecah menjadi lebih dari 20 kerajaan kecil yang terpencar-pencar ( taifa atau muluk thawaif’ ) hingga sedikit demi sedikit  jatuh  ke tangan raja Kristen Spanyol. Ini dikarenakan kerajaan-kerajaan tersebut selalu bertikai, saling fitnah dan selalu dalam peperangan antar mereka sendiri. Meskipun secara ekonomi, sains dan peradaban mereka maju pesat.

Kelihatannya mereka lupa pada hadits tentang pentingnya kesatuan, persaudaraan dan silaturahmi. Padahal dalam shalat berjamaah yang dipimpin oleh seorang imam dan hukumnya fardhu ‘ain bagi kaum lelaki ini terutama ketika Isya dan Subuh tersirat hikmah betapa pentingnya persatuan dan kesatuan pimpinan.

Abdullah bin Umar RA mengatakan, Rasulullah SAW bersabda: “Orang muslim adalah saudara bagi saudaranya yang lain, tidak berbuat zalim kepadanya dan tidak menghinakannya. Barang siapa peduli pada kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan kesusahannya pada hari kiamat kelak. Dan barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat kelak “.. ( Hadits Riwayat Mutafakkun ‘Alaih).

Yang dimaksud Andalusia saat ini adalah provinsi paling selatan Spanyol yang meliputi kota-kota seperti Malaga, Granada, Cordoba, Sevilla, Ronda, Almeira, Marbella  dll. Napak tilas dimulai dari istana Alhambra yang dalam bahasa Arab berarti Istana Merah.

Salah satu gerbang Alhambra, Granada

Salah satu gerbang Alhambra, Granada

Alhambra20Alhambra8Istana yang dibangun pada sekitar tahun 1240 M ketika Granada berada dibawah pemerintahan  dinasti Nasrid ini terletak di ketinggian di sebelah Timur Laut kota. Dengan tembok tuanya  yang terbuat dari bata merah lengkap dengan 27 buah menara pengawasnya yang tinggi menjulang, istana kelihatan sangat mencolok. Selain sebagai pembatas, tembok sepanjang 1,4 km ini berfungsi sebagai benteng pertahanan ( Alcazaba ) pusat pemerintahan. Dari sinilah segala kebijaksaan kerajaan diambil.

Kecantikan istana yang kental dengan nilai seni Islam yang amat tinggi ini terlihat begitu kita memasuki pintu gerbangnya. Makin kedalam kecantikan tersebut semakin memukau. Kaligrafi yang sungguh menakjubkan dengan detil gambar bunga dan dedaunan diantara huruf-hurufnya ini tampak menghiasi seluruh permukaan dinding dan langit-langitnya.

Alhambra9Alhambra6Alhambra12Alhambra13Alhambra14Bahkan beberapa ruang menampilkan seni yang teramat tinggi. Kaligrafi berwarna biru muda dan putih yang dibuat di langit-langit yang tinggi sedemikian rupa hingga menyerupai sarang lebah yang bertingkat-tingkat. Ukirannya begitu halus dan detil.

Alhambra4Alhambra5Alhambra11Tak syak lagi, pasti dibutuhkan tidak saja ketelitian dan seni yang tinggi namun juga perhitungan matematis yang akurat. Yang lebih menakjubkan lagi di setiap dinding selalu dibuat kaligrafi yang berbunyi “ La illaha illa Allah”, bisa vertikal bisa  juga horizontal. Hebatnya lagi, ukiran-ukiran tersebut masih jelas dan nyata terbaca padahal umurnya telah dari 700 tahun !! Subhanallah ….

Albaycin dari jendela Alhambra

Albaycin dari jendela Alhambra

pasar GranadaSetelah puas menikmati keindahan istana, keesokan harinya kami mengunjungi Kathedral dan Albaycin. Keduanya terletak tidak jauh dari Alhambra. Albaycin adalah kawasan pemukiman Granada tertua dimana umat Islam dulu bertempat tinggal. Ini adalah satu-satunya pemukiman yang tetap terjaga hingga saat ini. Disini pula kini berdiri satu diantara dua masjid di Granada yang kembali berdiri setelah ratusan tahun lamanya dilarang. Sementara gereja raksasa Kathedral Granada dibangun dilokasi bekas masjid raya yang terletak ditengah-tengah pemukiman. Bahkan mihrabnyapun hingga detik ini masih bertahan didalam gereja tersebut. Karena ketika itu masjid berubah fungsi begitu kerajaan jatuh ke tangan Kristen tanpa mereka perlu merubah apa yang ada di dalamnya.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan saudara-saudara kita yang hidup di masa tersebut. Bagaimana dengan perasaan tertekan  mereka terpaksa merelakan masjid yang biasa mereka pergunakan untuk shalat sehari-hari tiba-tiba dijadikan rumah ibadah agama lain. ( Dalam hati saya bertanya-tanya  inikah nasib yang bakal dialami masjid Aqsho dan Masjid Kubah Batu di Yerusalem bila kita terus saja diam membisu ketika pihak Israel dengan diam-diam terus merangsek kedalam kedua masjid agung tersebut ?? Astaghfirullah … ).

Tidak cukup itu saja, umat Islam Granada ini bahkan dipaksa meninggalkan ajaran Islam dan berganti agama bila mereka ingin bertahan hidup dan tinggal di kota kelahiran  mereka. ( click   “ https://vienmuhadi.com/2009/08/21/menilik-jejak-islam-yang-hilang-di-eropa-1-%e2%80%93-aragon/ “  untuk mengetahui sejarah Andalusia yang lebih lengkap). Maka sejak saat itulah musnah sikap toleransi dan saling menghargai antar agama yang telah susah payah dibangun umat Islam di Spanyol. Saat ini dapat kita buktikan dengan adanya perbandingan jumlah gereja dan masjid yang ada di Indonesia yang mayoritas Muslim dan Negara-negara Barat yang mayoritas Kristen.

IMG_3234Namun demikian kesedihan hati ini sedikit terobati ketika kami melewati sebuah toko kecil yang dimiliki oleh seorang Muslimah ( awalnya terlihat dari jilbabnya). Dari percakapan ala tarzan inilah , karena ia hanya bisa sedikit berbahasa Inggris, akhirnya kami tahu bahwa jumlah Muslim di Granada saat ini cukup banyak. Bahkan kami juga sempat mendengar alunan ayat suci Al-Quran yang keluar dari salah satu toko souvenir yang berada di sepanjang jalan menuju Alhambra. Alhamdulillah….

Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir “. (QS. Al-Anfal(8):18).

( Bersambung, ke  “ Menilik Jejak Islam Di Eropa (3) – Andalusia ( Ronda) , click di sini).

Wallahu’alam bi shawab.

Semoga bermanfaat.

Pau – France, 10 November 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »