Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Menilik Jejak Islam Di Eropa’ Category

( Sambungan dari  : “ Menilik Jejak Islam Di Eropa (5) “) .

Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan antara ilmu duniawi dan ilmu akhirat.  atau apa yang sekarang popular disebut Sekularisme. Inilah yang menjadi dasar pesatnya perkembangan ilmu dan sains di dunia Islam pada abad pertengahan. Ridho Allah swt sebagai Sang Pemilik adalah kata kunci.

“Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat “. (QS.An-Nisa'(4):134).

Al-Khawarizmi (783M – 850M), Al-Kindi (801M – 873M), Al-Battani ( 855M – 923M), Ar-Razi/Rhazes (865M – 932M), Ibnu Haitam / Alhacen (965M – 1039M), Al-Biruni (973M – 1050M), Ibnu Sina/Avicenna (980 M – 1037M) dan Al-Jazari (1136 M -1206M) dari Persia, Ibnu Khaldun (732M – 808M) dari Tunisia, Al-Zarqali/Arzachel (1029M – 1087M) dan Ibnu Rusdy/Averroes (1126M – 1198M) dari Andalusia  adalah contoh dari sekian banyak ilmuwan Muslim yang hidup di masa kejayaan Islam.

Mereka ini bukan hanya menguasai ilmu yang sifatnya duniawi seperti  kedokteran, fisika, kimia, matematika, ekonomi, astronomi, seni dll namun juga ilmu ukhrowi. Bahkan mereka ini juga tidak hanya menguasai satu atau dua bidang ilmu saja. Ibnu Sina misalnya, ia adalah dokter sekaligus ahli filsafat dan matematikus. Mereka adalah para ilmuwan, penemu sekaligus alim ulama handal yang membawa dunia Islam menuju puncak kejayaannya. Andalusia adalah salah satu bukti zaman kejayaan tersebut.

Dari Andalusia inilah ilmu pengetahuan masuk ke Eropa. Namun berbeda dengan ilmuwan Muslim yang selalu mencantumkan nama penemu dan buku yang dijadikan pegangan mereka ( bila itu terjemahan, biasanya berasal dari ilmuwan Yunani kenamaan seperti  Socrates yang hidup pada 428BC – 348 BC atau  Plato pada 470 BC -399 BC) tidak demikian dengan ilmuwan barat. Dengan penuh kecurangan mereka mengakui buku-buku terjemahan mereka atas namanya sendiri ….

Dan tampaknya kecurangan ini terus berlanjut hingga saat ini, diantaranya  yaitu dengan dihilangkannya/ manipulasi sejarah kota-kota lama yang dulu pernah berada dibawah kekuasaan Islam. Contohnya ya di Toledo ini.

Semula saya begitu bersemangat ketika mendapat informasi bahwa peninggalan Islam di Toledo termasuk cukup banyak. Mr Google mengatakan bahwa dengan masih dijaganya keberadaan masjid sebagai peninggalan sejarah Islam di Eropa maka Toledo dapat disebut sebagai satu-satunya kota Eropa yang masih menyisakan toleransi keberagamaan.

Tapi brosur yang sengaja saya beli di hotel tempat kami menginap  tidak begitu banyak menyebut peranan Islam dalam membentuk kota dan masyarakat  kota benteng ini. Hal ini membuat saya makin bernafsu untuk membuktikan kebenaran pernyataan Mr Google, sumber data internet yang mustinya  dapat dipercaya.

Maka setelah sarapan, kamipun berjalan menyusuri jalan-jalan batu sempit yang berkelak kelok menanjak. Bangunan-bangunan tua model abad pertengahan mendominasi kota. Sebagian besar bangunan tersebut saat ini adalah gereja atau museum. Kami menjumpai ada lebih dari dua atau tiga bekas sinagog yang terlihat terawat dengan baik. Pengunjungnya membludak hingga harus mengantri bila ingin melihat keadaan di dalamnya.  Tampaknya mereka adalah para peziarah Yahudi dan Kristen.

 

Alcazar

Alcazar

 

 

Zocodover

Zocodover

 

Obyek wisata yang menjadi primadona seperti biasa adalah Katedral. Katedral dan Alcazar ( aslinya dari bahasa Arab berarti benteng atau istana, saat ini adalah Musium Militer ) adalah dua bangunan yang menjadi simbol kota Toledo.  Begitu juga Zocodover ( dari bahasa Arab Suk Al-Dawab) yaitu Pasar Al Dawab. (Memandang Katedral agak lama, ada sedikit keraguan dan harapan, mungkinkah gereja besar ini tadinya adalah masjid?  Tidak ada data yang saya peroleh … )

Disamping itu yang juga menarik perhatian para turis adalah gerbang-gerbang kota dan jembatan-jembatan lama. Sebagai kota benteng Toledo mempunya beberapa pintu gerbang. Gerbang utama diberi nama The Alfonso VI Gate. Dulunya nama gerbang ini adalah Bab Shagra yang dalam bahasa Arab adalah Gerbang Sagra. Ada lagi gerbang yang disebut The Sol Gate. Gerbang ini dibangun kembali pada abad 14 dengan gaya Mudejar. Sementara itu  Puerte de Bisagra atau Gerbang Bisagra aslinya juga peninggalan Islam.

Kami terus berjalan mengikuti arah panduan peta untuk menemukan masjid sebagaimana tertulis di brosur. Kami bolak balik di sekitar suatu lokasi bernama “ Mezquita de Tornerias”. Mezquita dalam bahasa Spanyol artinya adalah masjid. Namun tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa itu adalah bangunan masjid. Yang tampak hanya sebuah bangunan kecil di sudut jalan dengan pintu tertutup rapat. Setelah secara seksama  mengamati tulisan kecil di salah satu dindingnya barulah kami sadar  bahwa ini hanyalah lokasi bekas masjid kecil yang sekarang dijadikan tempat pameran … L .. Olala ..

Suami dan anak saya terlihat mulai bosan namun saya tetap penasaran.  “ Ada satu lagi masjid menurut peta ini. Tanggung nih .. kita kesana sebentar ya ..”, rengek saya. “ Palingan g ada apa-apanya bu “, jawab anak saya ogah-ogahan namun tetap mau menuruti keinginan ibunya yang keras kepala ini. Terima-kasih anakku sayang ya … Alhamdulillah …

 

Mezquita Del Cristo De La Luz

 

 

Mezquita Del Cristo De La Luz

Mezquita Del Cristo De La Luz

 

Beberapa menit kemudian kamipun tiba di tujuan. Benar dugaan anak saya. Masjid tersebut ternyata benar-benar hanya peninggalan sejarah. Masjid yang diberi nama begitu cantik “ Mezquita Del Cristo De La Luz” itu hanyalah bangunan kosong yang ditinggalkan begitu saja.

Bangunan tidak seberapa besar ini seperti bangunan yang belum selesai dibangun. Walaupun sebetulnya keindahannya masih tampak jelas. Dari luar terlihat sejumlah pilar dan tangga yang tak terawat.. “ Ini namanya basa basi .. sekedar syarat pokoknya ada peninggalan yang dipertahankan. Lebih parah lagi kayaknya malah sengaja mau ngecilin peran Islam “, begitu komentar suami saya, pahit.  Yaaah … menyedihkan  sekali …

373 tahun bukanlah waktu yang pendek. Ini hampir sama dengan masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia. Selama ratusan tahun itu rakyat Indonesia hidup menderita dan sangat tertekan. Kebodohan, kemiskinan dan kehinaan terjadi di seluruh pelosok negri.

Lain halnya dengan keberadaan Islam di suatu negri. Ekspansi Islam ke Eropa atau kemanapun bukanlah bentuk penjajahan. Ketika Islam mendatangi suatu negri, kejayaan dan kemegahan selalu terjadi. Masyarakat yang tadinya hidup tidak teratur, selalu berpindah-pindah,  liar  dan tidak mengenal Tuhan segera berubah menjadi masyarakat madani, masyarakat yang berperadaban tinggi ( civilized society). Ini terbukti dengan lahirnya para ilmuwan, buku-buku pengetahuan, perguruan-perguruan tinggi, sistim pengairan, kota yang teratur, aman dan tentram.

Masyarakat Islam dimanapun berada selalu memprioritaskan keberadaan sebuah masjid. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pusat ibadah shalat  namun juga sebagai sarana berkumpul, bertukar pikiran dan pendapat. Apalagi dikota sebesar Toledo yang merupakan salah satu dari 5 ibu kota propinsi Al-Andalusia. ( 4 kota di luar Toledo itu adalah Kordoba, Merida, Zaragoza dan Narbonnne yang sekarang berada di wilayah Perancis Selatan). Keberadaan Grand Mosque atau Masjid Agung adalah sebuah keharusan. Dimanakah gerangan itu sekarang ? Mengapa bahkan lokasi bekasnyapun tidak terindentifikasi ?

Padahal bila mau jujur sebenarnya peninggalan-peninggalan tersebut begitu kasat mata. Menara,  gapura dengan lengkung khasnya juga tembok-temboknya yang melindungi kota dari serangan musuh bukankah itu peninggalan Islam ? Yang memang mungkin saja bercampur dengan peninggalan Romawi dan Wisigoth yang berkuasa sebelumnya.

Demikian pula jendela-jendela rumah dengan teralisnya yang khas. Teralis  saat ini berfungsi lebih untuk pengamanan. Namun menurut adab Islam masa lalu, teralis berfungsi untuk melindungi kaum perempuan dari pandangan luar. Dengan demikian ia dapat melihat keluar jendela tanpa terlihat dari luar!

( Bersambung)

PF.

 

 

Katedral 1

Katedral 1

 

 

Katedral 2

Katedral 2

 

Hari ini, 4 November 2010, 6 bulan setelah artikel ini ditulis, tanpa sengaja saya menemukan sebuah website yang mengatakan bahwa Katedral Toledo tadinya adalah Masjid … Allahuakbar ..  Akhirya muncul juga bukti tertulis itu… Subhanallah..

Click: http://en.wikipedia.org/wiki/Church_of_San_Sebasti%C3%A1n,_Toledo

Read Full Post »

Pasukan Islam di bawah pimpinan Tarik bin Ziyad memulai penaklukkan semenanjung Iberia ( Spanyol, Portugal dan Perancis Selatan) pada tahun 711 M.  Ia masuk melalui selat Jibraltar. Jibraltar berasal dari kata Jabal Tarik atau Gunung Tarik. Tarik diambil dari nama sang panglima. Kata gunung digunakan karena di selat dimana pasukan Tarik memasuki semenanjung ini berdiri sebuah gunung.

Sementara kota Toledo yang merupakan ibu kota Wisigoth ketika itu ditaklukkan hanya setahun setelah itu, yaitu tahun 712 M. Padahal kota ini terletak jauh di tengah daratan Spanyol. Dapat dibayangkan bagaimana cepatnya pasukan Tarik ini bergerak. Toledo berada di bawah wilayah kekuasaan kerajaan Kordoba selama 373 tahun, yaitu hingga tahun 1085 M.

Para ilmuwan Barat saat ini mengakui bahwa peninggalan Islam di Toledo termasuk yang paling banyak, disamping Saragossa, Sevilla dan Kordoba sendiri yang merupakan ibu kota kerajaan.. Wilayah kerajaan ini mencakup lebih dari  2/3 bagian  Spanyol dan Portugal sekarang ini, termasuk didalamnya adalah Madrid, ibu kota Spanyol.

Toledo terletak sekitar 70 km selatan Madrid. Sedangkan jarak Madrid – Saragossa hampir 400 km. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam. Sekitar pukul 4 sore kami tiba di Madrid. Awalnya kota ini tidak masuk dalam daftar kota yang bakal kami kunjungi. Karena kami telah mengunjunginya beberapa tahun yang lalu. Namun karena anak gadis kami bersikukuh ingin mengunjunginya dengan alasan dulu masih kecil jadi lupa, akhirnya kami mengalah. Dan lagi kami pikir kan memang tidak menyimpang. Jadilah kami singgah sebentar.

Sebagai ibu kota salah satu negara Eropa, harus diakui Madrid memang kota yang cantik. Saya pikir tak kalah dengan Paris. Bahkan boulevard alias jalan rayanya mungkin lebih banyak dan lebih lebar dari kota Paris. Di hampir semua bundaran, air mancur dengan bunga-bungaan di sekelilingnya tampak menambah indahnya  gedung-gedung yang mengepungnya.

Stadion Matador

Stadion Matador

Setelah berkeliling kota sebentar, kami menuju stadion Matador. Arsitektur stadion adu banteng ini sangat mirip dengan bangunan ala Mudejar. Dinding bata merah dengan ukiran daun-daunan lengkap dengan menaranya. Namun ini bukan peninggalan Islam. Ini adalah bangunan baru. Tampak jelas bahwa gaya Mudejar hingga saat ini masih tetap disukai rakyat Spanyol.

Setelah puas ber-foto ria, saya mengusulkan untuk mampir ke Islamic Centre Cultural Madrid dimana di dalamnya terdapat masjid dan sekolah dasar. Kalau saya tidak salah letak Pusat kajian Islam ini tidak terlalu jauh dari stadion ini. Sayangnya kami  tidak ingat persis lokasinya.

Beruntung, di sebuah bangku taman di sekitar stadion saya melihat seorang muslimah ( tercermin dari jilbabnya) sedang membaca buku. Segera saya menghampirinya. Dari raut wajahnya saya perkirakan ia seorang asli Spanyol.

Assalaamu’alaykum. Do you speak English”, begitu saya menyapanya.

“ Wa alaykum salam .. No ..”, jawabnya tersenyum sambil menggeleng.

“ French ?”, tanya saya lagi. “ Oui, un peu “, jawabnya. Alhamdulillah …

Maka begitu tahu bahwa saya ingin mengetahui alamat masjid, ia segera bangkit dari duduknya, memegang bahu saya dengan akrab dan menunjukkan lokasi masjid yang saya maksud. Ternyata saya tidak salah. Pusat kajian Islam tersebut tidak begitu jauh bahkan atapnyapun terlihat dari tempat kami berdiri. Setelah berbincang sebentar kamipun berpisah. Menurutnya jumlah Muslim di Madrid lumayan banyak. Alhamdulillah ..

“ Cantik bu ya .. ramah lagi .. ”, komentar anak saya tak lama setelah kami berpisah. “ Yaah, coba tadi foto dulu bu .. balik lagi aja bu “, sambungnya lagi.

“ Emm ..”, jawab saya ragu. “ Males ah de’  ..  lagian g enak ah .. abis udah jauh”, jawab saya setengah menyesal.

Tak lama kemudian kami telah berada di dalam mobil lagi. Ternyata tidak terlalu mudah menuju masjid dengan bekal melihat atapnya saja. Karena walaupun kelihatannya dekat tetapi harus berputar-putar. Masjid terletak di tepi jalan raya yang sangat lebar dan ramai. Setelah berkali-kali salah jalan akhirnya kami sampai juga. Tepat waktu magrib pula … Subhanallah ..

Namun sungguh patut amat disesalkan. Jamaah benar-benar hanya sedikit sekali bahkan di bagian perempuan hanya kami berdua plus dua orang lain lagi !! Demikian pula di bagian laki-laki, menurut suami saya hanya 1 shaf saja … Sungguh tidak seimbang dengan masjidnya. Masjid yang menjadi bagian dari Pusat Budaya Islam ini lumayan besar dan bagus. Menurut seorang jamaah yang ditemui suami, kemungkinan ini dikarenakan lokasi masjid yang tidak berada di lingkungan pemukiman Muslim … Yaah, sayang sekali ..

Usai makan malam setelah puas melihat keramaian Madrid di malam hari, kami melanjutkan perjalanan utama yang sempat tertunda, yaitu Toledo. Menjelang tengah malam kami memasuki kota benteng yang terletak diatas bukit ini.

Kota ini bak istana boneka abad pertengahan dengan kisah 1001 malamnya. Jalanan sempit dari batu yang berkelak-kelok, naik turun, acap kali beratap di atasnya dan buntu dibeberapa tempat seperti layaknya labirin. Bangunannya yang terbuat dari dinding bata merah dengan lengkungan khasnya. Ini adalah ciri khas  kota-kota Islam masa lalu. Ditambah lagi dengan adanya lampu dinding temaram yang menerangi gapura, kubah dan menara-menaranya, kita benar-benar serasa diajak memasuki negri dongeng yang menakjubkan.

Esoknya kita berjalan-jalan mengelilingi kota. Letak kota ini sangat strategis. Selain berada di atas bukit kota ini dikelilingi sungai. Sebuah benteng kuno dengan beberapa pintu gerbangnya tampak dengan gagah melindungi penghuninya dari serangan musuh.

Sejarah mencatat bahwa sepanjang 373 tahun Toledo berada di bawah Islam, kehidupan beragama antara pemeluk Nasrani,Yahudi dan Islam berjalan secara harmonis. Toleransi antara ketiga agama samawi ini terbukti jelas dengan diizinkan berdirinya rumah ibadah masing-masing. Ilmu, sains, seni dan budaya berkembang pesat. Orang-orang Eropa yang ketika itu masih berada di masa kegelapan berdatangan untuk menuntut ilmu di berbagai universitas Islam di kota-kota kerajaan yang beribu kota di Kordoba ini.

Karena bahasa Arab kemudian menjadi bahasa utama kerajaan maka para pendatang kulit putih inipun harus mempelajari bahasa Arab. Ironisnya setelah berhasil mengecap dan menguasai berbagai ilmu mereka pulang ke negrinya masing-masing, menerjemahkan buku-buku besar karya ilmuwan-ilmuwan Muslim dan mengakuinya sebagai karya sendiri !!

( Bersambung )

Read Full Post »

Perjalanan kami kali ini tampaknya bakal menjadi penutup laporan ‘ Menilik Jejak Islam di Spanyol’. April tanggal 22 tahun 2010, adalah liburan terakhir kami selama berada di Pau. Zaragosa yang terletak tidak lebih dari 300 km selatan Pau menjadi tujuan kami. Rute kami adalah Zaragoza, Toledo, Salamanca dan Burgos. Keempatnya berada di wilayah Spanyol. Di dua kota terakhir saya tidak yakin apakah jejak Islam masih dapat ditemui ..semoga saja ada kejutan yang menggembirakan, amiin ..

Sekitar pukul 12 siang, dengan kendaran pribadi kami bertiga berangkat meninggalkan Pau. Perjalanan cukup lancar. Kami melewati deretan pegunungan Pirenea yang selalu membuat saya berdecak kagum walaupun telah berkali-kali melewati pegunungan yang menjadi pembatas antara Perancis dan Spanyol ini. April adalah musim semi. Udara terasa cukup hangat, yaitu sekitar 20 derajat celcius. Stasiun-stasiun ski yang banyak ditemui di sepanjang perjalanan telah ditutup sejak 2 minggu lalu. Namun sisa-sisa salju di puncak pegunungan masih terlihat di sana-sini,  menambah kecantikan Pirenea.

Tak sampai satu jam kemudian kami telah berada di wilayah Spanyol. Tidak ada tanda perbatasan yang mencolok selain papan selamat datang di Spanyol dengan menggunakan bahasa Spanyol. Sejumlah kecil polisi patroli  dan pegawai imigrasi terlihat menghentikan dan memeriksa satu, dua  kendaraan yang mungkin mencurigakan. Kami terus melaju dengan kecepatan maksimum 130 km/jam. Ini adalah kecepatan maksimum standard Eropa di jalan toll.

Memasuki jam ke dua, jalan mulai berkelak-kelok. Anehnya tidak seperti biasanya suami mulai mengantuk. Karena tidak tega akhirnya saya menawarkan menggantikannya menyetir. Saya sendiri terus terang sebenarnya kurang merasa percaya diri bila harus menyetir di jalan pegunungan. Beruntung, seperti biasa suami hanya butuh beberapa menit untuk menghilangkan kantuknya.

Kamipun berpindah posisi. Sambil menyetir saya tidak bisa melepaskan mata saya dari keindahan pemandangan pegunungan di kiri kanan saya. Namun baru beberapa menit berlalu, menjelang memasuki sebuah terowongan,,terlihat petugas patroli lalu lintas bermotor berjaga-jaga di jalanan. Laju kendaraan mulai melambat dan akhirnya berhenti sama sekali. Sepuluh menit berlalu tanpa ada tanda apapun. Antrian panjang mobilpun tak dapat dihindari. Suami terbangun.

Beberapa menit kemudian suami turun dari mobil dan menanyakan apa yang terjadi kepada petugas yang mondar mandir di sekitar kami. Masalahnya sang petugas tidak bisa berbahasa Inggris sementara  suami tidak bisa berbahasa Spanyol. Waalaahh .. repotnya .. L

Suamipun mencoba mendekati pengendara mobil di belakang kami. Idemm .. Namun dengan bahasa isyarat  akhirnya kami tahu  bahwa ternyata kami harus menanti sekitar 1 jam-an karena sedang ada proses peledakan bom untuk kebutuhan pembangunan terowongan baru !! Olala .. padahal kami belum makan siang, perut telah mulai keroncongan. Akhirnya kamipun memutuskan untuk berbalik dan mencari resto seadanya.

Singkat cerita, setelah menemukan sebuah resto di pinggir jalan dan sempat pusing, bertanya kiri-kanan bertanya apa kata daging babi dalam bahasa Spanyol karena pelayan resto tidak berbahasa Inggris maupun Perancis, akhirnya kami meneruskan perjalanan lagi. Tidak ada kemacetan, berarti peledakan sudah selesai dan terowongan sudah bisa dilalui kembali. Alhamdulillah ..

Di tengah perjalanan yang berliku, tiba-tiba pandangan saya membentur pada sebuah bangunan terbengkalai yang dipahat di atas bukit batu yang curam. Wah, bangunan abad pertengahan nih, pikir saya.  Peninggalan Islamkah? Wallahu’alam.

Menjelang sore kami memasuki Saragossa. Kami langsung menuju ke pusat kota. Sebuah pelataran luas dengan kubah-kubah besar cantik berlapis keramik warna-warni dan menaranya terasa mendominasi pemandangan kota. Harus diakui, memang indah sekali. Namun ini gereja besar alias basilik. Bukan ini yang saya cari. Saya sedang berusaha mencari jejak Islam di negri yang selama 8 abad pernah dikuasai Islam ini.

Saya perhatikan bentuk gereja secara detil. Patung yang berserakan menghiasi bangunan jelas bukan peninggalan Islam karena Islam jelas-jelas melarangnya. Bagaimana dengan menaranya?  Apakah hanya kuncup dan belnya saja yang merupakan penambahan di kemudian hari? Entahlah .. dari pada menebak-nebak kemudia salah, saya pikir lebih baik mencari sesuatu yang jelas sajalah.

La Seo 3La SeoLa Seo 2

La Seo

La Seo

Maka pandangan sayapun beralih ke tempat lain. Sebuah gereja ( lagi-lagi gereja .. ) di seberang pelataran menarik perhatian. Di papan tertulis bahwa ini adalah bangunan Mudejar, sebutan bagi Muslim Spanyol pada masa pemerintahan Kristen di  Spanyol. Di beberapa bagian kecil dinding ternyata masih terlihat sisa-sisa gaya arsitektur Islam, yaitu mozaik bercorak dedauan dan bunga geometris warna-warni. Ini adalah khas gaya Mudejar.Katedral El Salvador yang juga dikenal dengan nama La Seo ini ternyata tadinya adalah masjid. Setelah Saragossa ditaklukkan pada tahun 1118 oleh pasukan Kristen dibawah raja Alphonso I, ia memerintahkan agar masjid diubah menjadi gereja hingga seperti sekarang ini.

Di sepanjang perjalanan kami juga  melihat sebuah museum yang tadinya adalah bangunan milik Muslim dan beberapa peninggalan Islam lainnya.

Esoknya kami menuju Aljafería Palace. ( Oya, kami sempat mengalami sedikitmasalah. Ban mobil kempes. Beruntung seorang pengendara yang baik hati,dengan bahasa isyarat, menunjukkan kepada kami bengkel tambal ban terdekat.  Di bawah guyuran air hujan yang lumayan deras,  suamipun memasang ban serep. Setelah itu kami berputar menuju bengkel yang dimaksud.  Alhamdulillah beres ).

Aljaferia Palace 1

Al-Jaferia Palace

Al-Jaferia Palace

Aljafeira Palace adalah bekas istana kediaman dinasti bani Hud, salah satu taifa, kerajaan kecil Islam, yang berkuasa di Saragossa. Istana ini dibangun pada pertengahan abad 11.  Tampaknya tak terlalu lama dinasti ini dapat menikmati istananya yang megah ini karena sejak tahun 1131 , istana menjadi tempat tinggal resmi raja Kristen Spanyol dan keluarganya …  😦  .

Sayang sekali kami tidak dapat masuk karena hari itu sedang berlangsung acara kenegaraan. Sebagian bangunan tersebut saat ini memang berfungsi sebagai gedung pemerintahan.

Berikut youtube tentang istana ini.

http://www.youtube.com/watch?v=K2E5lXCHP8A&feature=related

Setengah  kecewa terpaksa kami meninggalkan lokasi. Tujuan kami selanjutnya  adalah Toledo, bekas ibu kota lama. Namun sebelumnya kami bermaksud untuk  mampir ke masjid dahulu. Beberapa hari sebelum keberangkatan saya memang sengaja surfing di dunia maya untuk mencari alamat masjid dikota- kota yang bakal kami lalui. Saya menemukan dua alamat masjid di Saragossa ini.

Dengan bantuan GPS ( Global Positioning  System )  plus bekal  alamat inilah kami berusaha menemukan masjid yang dimaksud. Di sudut sebuah jalan mobil terpaksa berhenti karena kendaraan tidak dapat masuk. Ditemani anak gadis saya, saya turun sementara suami menunggu di dalam mobil. Berdua kami berjalan perlahan mencari nomor sesuai yang  tertera di alamat yang saya pegang.  Tidak ada tanda-tanda bahwa ada masjid di sekitar lokasi. Terus terang saya memang tidak berharap muluk walaupun berdasarkan foto yang saya dapati di internet, masjid tersebut cukup bagus.

Namun toh akhirnya saya harus tetap kecewa. Karena bahkan nomor bangunannyapun tidak berhasil kami temukan. Mau bertanya tidak ada orang. Kalaupun ada dengan bahasa apa … Tapi saya yakin bila saja ada indikasi adanya seorang muslim disana, misalnya dengan adanya perempuan berjilbab, dengan bahasa tarzan pasti bisa.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang ” (QS. Al-Ahzab (33): 59).

Namun apa mau dikata  … akhirnya kami menyerah dan terus meninggalkan Saragossa menuju Toledo.

( Bersambung ).

Read Full Post »

( Sambungan dari Menilik Jejak Islam Di Eropa (2) – Andalusia ).

IMG_3361IMG_3451Keesokannya kami menuju Ronda. Terus terang sebelum ini tidak pernah terlintas di benak bahwa ada kota bernama Ronda di dunia ini. Sungguh tidak rugi kami berkesempatan mengunjungi kota ini. Ronda adalah sebuah kota yang lain dari pada yang lain. Kota ini dibangun diatas bebatuan tinggi di atas jurang nan terjal. Pemandangannya sungguh memukau sekaligus mencengangkan. Subhanalllah ..

Pada abad ke 8, Ronda adalah provinsi ke 21 dari kekhalifahan Kordoba. Setelah terpecahnya kekhalifahan menjadi kerajaan-kerajaan kecil Islam ( taifa ) pada tahun 1030, Ronda berada dibawah kekuasaan kerajaan Granada. Kota ini jatuh ke tangan kerajaan Kristen hanya beberapa tahun sebelum kejatuhan Granada yaitu pada tahun 1485 M.

Taman Gantung Ronda

Taman Gantung Ronda

Setelah puas memandangi keindahan kota dari atas jembatan, kami menyusuri jalan setapak berbatu menuju La Casa Del Rey Moro. Ini adalah tempat tinggal raja Moor ( Hispanik Muslim). Dari luar kediaman yang dibangun diatas bebatuan curam ini tampak tidak terlalu istimewa. Namun setelah masuk ke dalam dan melihat taman gantung dengan air mancurnya disana sini ternyata pemandangannya sungguh menakjubkan.

IMG_3503Namun yang lebih menakjubkan lagi adalah adanya pintu kecil di balik taman tersebut. Pintu sederhana yang menyerupai pintu gua ini terdiri atas  365 anak tangga yang curam dan berkelak kelok. Tangga yang dalam bahasa Inggris diberi nama The Miria Stairway ini menuju ke dasar lembah yang berujung ke sebuah danau kecil dimana tebing-tebing tinggi mengepungnya. Danau yang airnya berwarna biru jernih ini  terhubung langsung ke sungai Guadalevin.

Bekas kediaman keluarga raja Abu Malik ini kini memang kosong dan tidak ditinggali lagi namun kita tetap bisa menikmati perjalanan menuruni gua buatan yang dibangun di dalam tebing  bebatuan sempit tersebut. Bangunan istimewa ini dulunya selain digunakan sebagai gua rahasia dimana penghuninya sewaktu-waktu dapat dengan mudah menyelamatkan diri dengan  menaiki kapal kecil yang selalu siap menunggu di pinggir danau, juga merupakan tempat penyimpanan rahasia senjata militer kerajaan. Dari sini pula sistim pengaturan air kota diatur. Sebuah  bangunan yang sungguh patut mendapat acungan jempol …

Ironisnya, justru bangunan inilah yang menjadi penyebab utama kejatuhan Ronda. Selama bertahun-tahun rakyat Ronda dengan keras mempertahankan kota mereka padahal kota-kota di sekitarnya telah jatuh. Namun ketika akhirnya La Casa jatuh dan pihak musuh memotong  pasokan air ke dalam kota wargapun terperangah. Tanpa air tidak mungkin mereka bertahan.  Tidak ada pilihan bagi penduduk selain menyerah.  Maka  jatuhlah Ronda untuk selamanya. ( Tiba-tiba terbesit di benak ini, inikah maksud busuk  pemerintah pendudukan Israel membatasi pasokan air bersih bagi warga Palestina di Tepi Barat ?? Astaghfirullah…. )

Tidak berapa jauh dari La Casa berdiri reruntuhan bangunan pemandian ala Arab ( Bain Arab )yang tampaknya dulu merupakan tempat pusat kebugaran. Pemandian semacam ini dapat ditemui tidak hanya di kota-kota besar namun juga hampir di semua kota kecil di Andalusia. Pemandian umum ini biasanya tertutup dan dihiasi dengan kubah-kubah indah yang diberi penerangan. Pemandian ini dipisahkan antara bagian lelaki dan perempuan.

Benteng Ronda

Benteng Ronda

Seperti kota-kota Islam lainnya,  Ronda juga mempunyai tembok pertahanan kota atau benteng ( Alcazaba). Hingga kini benteng tersebut masih berdiri walaupun disana sini telah rusak. Gereja utama yang ada di kota ini sama dengan nasib kota-kota Andalusia lain adalah bekas masjid agung yang telah direnovasi.

jalanan samping gereja Jerez

jalanan samping gereja Jerez

gereja Jerez

gereja Jerez

Esok siangnya kami menuju Jeres di sebelah barat. Di kota ini kami kembali menemui benteng tua dan masjid agung  yang telah direnovasi menjadi gereja. Dari sini tampak bahwa kehidupan umat Muslim tidak pernah jauh dari kegiatan masjid. Masjid agung di semua kota Andalusia selalu berada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk dimana di sekitarnya terdapat pasar, pusat kegiatan bisnis yang tidak henti-hentinya berdenyut kecuali pada waktu-waktu shalat. Allahu Akbar …

Selanjutnya kami beristirahat di Marbella, sebuah kota pantai di pesisir laut Mediterania yang cukup ramai. Namun sebelumnya kami sempat mampir ke kota San Roque, sebuah kota yang terletak di perbatasan Gibraltar di ujung selat yang memisahkan Eropa dari benua Afrika. . Dari sini gunung karang raksasa yang menjadi lambang kebanggaan Gibraltar jelas terlihat. Sayang ketika itu matahari telah  masuk keperaduannya sementara kamera kamipun telah ‘lowbat’. Akibatnya kami tidak bisa merekam gambar gunung tersebut … apa boleh buat ..

salah satu pintu gereja Malaga

salah satu pintu gereja Malaga

Pintu utama benteng Malaga

Pintu utama benteng Malaga

Gereja Malaga

Gereja Malaga

Kunjungan terakhir adalah Malaga. Sebenarnya banyak yang dapat dikunjungi di kota ini. Namun karena waktu yang amat terbatas hanya sedikit yang dapat kami nikmati.  Seperti yang sudah diperkirakan,  di Malaga ini terdapat benteng besar kuno peninggalan Islam ( Alcazaba) dan masjid agung yang telah direnovasi  total menjadi gereja yang amat cantik dan megah  Sayang ternyata kami datang tepat pada hari dimana benteng selalu tutup yaitu  hari Senin. L. Terpaksa kami hanya puas melihat dari luar dan di kejauhan pula.

IMG_3856

Benteng Malaga dari kejauhann

Benteng megah Malaga terletak tinggi di atas bukit. Benteng ini dibangun pada abad 11 untuk melindungi istana raja Nasrid yang memerintah pada akhir zaman keemasan Islam di Granada. Peninggalan istana khas arsitektur Islam ini tampak masih dirawat dengan baik. Dari ketinggian ini, kota  Malaga yang saat ini merupakan salah satu kota pelabuhan Mediteranian terbesar dan terpenting di Spanyol terlihat jelas. Karena letaknya yang strategis, pelabuhan Malaga banyak dikunjungi wisatawan yang datang dengan kapal pesiar ( Croisiere ).

Di luar sejarah peradabannya yang menarik, berkat pembangunannya yang pesat kota metropolis ini memang pantas untuk dikunjungi. Malaga adalah gabungan antara kota tua yang sarat dengan jalan-jalan sempit berbatu serta berliku khas kota Islam masa lalu, bangunan bergaya campuran Gothic, Mudejar, Renaissance, Baroque dan Neoclassical yang relatife baru serta areal pedestrian luas yang dipenuhi butik-butik terkenal dunia. Kami bahkan sempat tersesat di areal ini padahal hotel kami sebetulnya tidak jauh dari tempat tersebut.

Salah satu peninggalan peradaban Islam yang pantas dibanggakan adalah masalah air. Sebagaimana kita ketahui kehidupan umat Islam hampir tidak pernah terlepas dari air. Karena sebelum shalat kita  wajib berwudhu. Nah, bagi yang sering bepergian dan harus menginap di hotel tentu tahu bahwa toilet di hotel  biasanya hanya menyediakan tissue. Namun tidak demikian di Andalusia. Semua hotel yang kami kunjungi selalu memiliki  closet dengan fasilitas air pembasuh.

Jangan lupa aquaduct ( sistim saluran air, biasanya yang terbayang di benak umum adalah aquaduct romawi yaitu saluran air yang dibangun di atas tembok besar kuno yang mengelilingi kota) di masa kejayaan Islam 10 abad yang lalupun  telah menjadi bagian penting dari kehidupan Muslim dan selalu mendapat perhatian khusus. Contohnya ya The Miria Stairway di atas tadi. Juga General Life yaitu taman luas indah nan asri yang terdapat di perbukitan istana Alhambra di Granada.

General Life, Alhambra

General Life, Alhambra

General Life, Alhambra

General Life, Alhambra

Di dalam taman ini banyak sekali dijumpai kolam-kolam dengan air mancur di sana sini. Bahkan sejumlah arsitek taman terkemuka dunia mengakui bahwa taman istana Versailles di Perancis dan juga taman-taman di istana Inggris terinsiprasi oleh General Life. Sebaliknya terlihat jelas bahwa para pemimpin dan raja-raja Islam di masa lalu membangun taman-taman indah dengan kolam-kolamnya, air mancur dan sungai yang gemericik suaranya serta tanaman yang beraneka ragam buah dan bunganya karena terinspirasi ayat-ayat  Al-Quran.

Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka)”.( QS. Ar-rad (13): 35).

Peninggalan lama di luar Islam yang menjadi ciri khas kota-kota di Andalusia dan Spanyol pada umumnya adalah Plaza de Torro yaitu gelanggang pertunjukkan Matador. Pertarungan dimana anak muda ditantang untuk dapat menaklukkan banteng dengan hanya bermodalkan secarik kain berwarna merah darah atau sering juga berwarna merah muda ini hingga kini masih dipertandingkan dan dapat disaksikan di beberapa kota yang memiliki stadion untuk itu. Walaupun sejak beberapa tahun belakangan sering diprotes para anggota klub pecinta lingkungan hidup karena dianggap mempermainkan mahkluk hidup lain (banteng ) selain juga karena kerap memakan korban luka-luka parah bahkan meninggal.

Wallahu’alam bi shawab.

Semoga bermanfaat.

Pau – France, 10 November 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Bila orang Perancis biasa menyapa dengan kata “Bonjour”  maka “Ola” adalah sapaan yang akrab terdengar di telinga ketika kita pergi mengunjungi  kota-kota di Spanyol. Namun demikian warga Andalusia, wilayah Spanyol yang terletak diujung selatan semenanjung Iberia ini, meng-klaim bahwa mereka adalah warga Spanyol yang paling ramah dan hangat dibanding saudara-saudara  mereka yang tinggal di wilayah lain. Dan ini memang terbukti. Karena selama kurang lebih satu minggu kami berada di Andalusia, mulai dari penjaga pintu tol, resepsionis hotel hingga orang-orang yang kami temui dan tanyai ketika kami tersesat atau membutuhkan informasi, tanggapan dan sambutan mereka selalu baik dan ramah.

Perjalanan ke Andalusia yang dikenal dengan peninggalan dan sejarah Islamnya yang sangat kental ini, dimulai dari Pau- Perancis Selatan, dimana kami tinggal untuk sementara. Tujuan utama adalah kota Malaga. Berhubung  tidak ada penerbangan langsung dari Pau maka dengan mengendarai kendaraan pribadi kami melaju  ke Bilbao – Spanyol, sekitar 250 km ke arah barat Pau. Setelah menitipkan kendaraan di airport,   kamipun terbang menuju Malaga selama 1 jam 20 menit. Pesawat take off pada pukul 9 malam. Ini adalah satu-satunya penerbangan Bilbao – Malaga. Apa boleh buat kami harus merelakan satu malam untuk istirahat di hotel sebelum memulai perjalanan panjang.

Esoknya dengan kendaraan sewaan yang kami ambil di airport Malaga, kami menuju Granada. Jarak Granada – Malaga sebenarnya hanya sekitar 120 km. Namun karena jalan yang kami pilih bukan autoroute  maupun jalan toll karena kami ingin melihat keindahan kota-kota sepanjang pantai yang bakal kami lalui maka diperlukan waktu hampir 3 jam untuk sampai ke tujuan.

Granada adalah sebuah kota sarat sejarah. Wilayah ini selama 8 abad lamanya berada dibawah kekuasaan kerajaan Islam, yaitu sejak tahun 749 M – 1492M. Setelah kerajaan yang tadinya bersatu kemudian terpecah-pecah Granada adalah merupakan kerajaan kecil  Islam di Eropa yang terakhir kali jatuh. Kota ini berkembang pesat dibawah pemerintahan dinasti Almoravid dan Almohad yang memerintah antara tahun 1090 M – 1238 M.

Adalah Abdul Rahman ad-Dakhil bin Muawiyah, raja terakhir bani Umayyah yang pada masa akhir kejatuhannya berhasil lari dari kejaran bani Abbasiyyah. Tujuannya adalah semenanjung Iberia yang ketika itu telah ditaklukan oleh panglima Muawiyah, Thariq bin Ziyad . Dengan menyeberangi selat yang memisahkan antara benua Afrika dan benua Eropa, bersama panglima besar Musa bin Nushair, Thariq berhasil mengalahkan raja Ludzrig dari kerajaan Wisigoth, pada tahun 710 M. Selat tersebut dikemudian hari dikenal dengan nama selat Jibraltar. ( Berasal dari kata Jabar dalam bahasa Arab berarti gunung dan Thariq. Di selat tersebut memang berdiri sebuah gunung karang ).

Abdul Rahman menjadi raja Andalusia dengan menjadikan Cordoba sebagai ibu kota kerajaajannya pada tahun 755 M. Kerajaan Andalusia makin lama makin berkembang hingga akhirnya pada tahun 976 M meliputi seluruh semenanjung Iberia. ( Saat ini adalah wilayah yang meliputi Spanyol dan Portugal).

Namun tidak sampai seratus tahun kemudian karena rajanya yang lemah Andalusia terpecah-pecah menjadi lebih dari 20 kerajaan kecil yang terpencar-pencar ( taifa atau muluk thawaif’ ) hingga sedikit demi sedikit  jatuh  ke tangan raja Kristen Spanyol. Ini dikarenakan kerajaan-kerajaan tersebut selalu bertikai, saling fitnah dan selalu dalam peperangan antar mereka sendiri. Meskipun secara ekonomi, sains dan peradaban mereka maju pesat.

Kelihatannya mereka lupa pada hadits tentang pentingnya kesatuan, persaudaraan dan silaturahmi. Padahal dalam shalat berjamaah yang dipimpin oleh seorang imam dan hukumnya setengah wajib bagi kaum lelaki ini terutama ketika Isya dan Subuh tersirat hikmah betapa pentingnya persatuan dan kesatuan pimpinan.

Abdullah bin Umar RA mengatakan, Rasulullah SAW bersabda: “Orang muslim adalah saudara bagi saudaranya yang lain, tidak berbuat zalim kepadanya dan tidak menghinakannya. Barang siapa peduli pada kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan kesusahannya pada hari kiamat kelak. Dan barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat kelak “.. ( Hadits Riwayat Mutafakkun ‘Alaih).

Yang dimaksud Andalusia saat ini adalah provinsi paling selatan Spanyol yang meliputi kota-kota seperti Malaga, Granada, Cordoba, Sevilla, Ronda, Almeira, Marbella  dll. Napak tilas dimulai dari istana Alhambra yang dalam bahasa Arab berarti Istana Merah.

Salah satu gerbang Alhambra, Granada

Salah satu gerbang Alhambra, Granada

Alhambra20Alhambra8Istana yang dibangun pada sekitar tahun 1240 M ketika Granada berada dibawah pemerintahan  dinasti Nasrid ini terletak di ketinggian di sebelah Timur Laut kota. Dengan tembok tuanya  yang terbuat dari bata merah lengkap dengan 27 buah menara pengawasnya yang tinggi menjulang, istana kelihatan sangat mencolok. Selain sebagai pembatas, tembok sepanjang 1,4 km ini berfungsi sebagai benteng pertahanan ( Alcazaba ) pusat pemerintahan. Dari sinilah segala kebijaksaan kerajaan diambil.

Kecantikan istana yang kental dengan nilai seni Islam yang amat tinggi ini terlihat begitu kita memasuki pintu gerbangnya. Makin kedalam kecantikan tersebut semakin memukau. Kaligrafi yang sungguh menakjubkan dengan detil gambar bunga dan dedaunan diantara huruf-hurufnya ini tampak menghiasi seluruh permukaan dinding dan langit-langitnya.

Alhambra9Alhambra6Alhambra12Alhambra13Alhambra14Bahkan beberapa ruang menampilkan seni yang teramat tinggi. Kaligrafi berwarna biru muda dan putih yang dibuat di langit-langit yang tinggi sedemikian rupa hingga menyerupai sarang lebah yang bertingkat-tingkat. Ukirannya begitu halus dan detil.

Alhambra4Alhambra5Alhambra11Tak syak lagi, pasti dibutuhkan tidak saja ketelitian dan seni yang tinggi namun juga perhitungan matematis yang akurat. Yang lebih menakjubkan lagi di setiap dinding selalu dibuat kaligrafi yang berbunyi “ La illaha illa Allah”, bisa vertikal bisa  juga horizontal. Hebatnya lagi, ukiran-ukiran tersebut masih jelas dan nyata terbaca padahal umurnya telah dari 700 tahun !! Subhanallah ….

Albaycin dari jendela Alhambra

Albaycin dari jendela Alhambra

pasar GranadaSetelah puas menikmati keindahan istana, keesokan harinya kami mengunjungi Kathedral dan Albaycin. Keduanya terletak tidak jauh dari Alhambra. Albaycin adalah kawasan pemukiman Granada tertua dimana umat Islam dulu bertempat tinggal. Ini adalah satu-satunya pemukiman yang tetap terjaga hingga saat ini. Disini pula kini berdiri satu diantara dua masjid di Granada yang kembali berdiri setelah ratusan tahun lamanya dilarang. Sementara gereja raksasa Kathedral Granada dibangun dilokasi bekas masjid raya yang terletak ditengah-tengah pemukiman. Bahkan mihrabnyapun hingga detik ini masih bertahan didalam gereja tersebut. Karena ketika itu masjid berubah fungsi begitu kerajaan jatuh ke tangan Kristen tanpa mereka perlu merubah apa yang ada di dalamnya.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan saudara-saudara kita yang hidup di masa tersebut. Bagaimana dengan perasaan tertekan  mereka terpaksa merelakan masjid yang biasa mereka pergunakan untuk shalat sehari-hari tiba-tiba dijadikan rumah ibadah agama lain. ( Dalam hati saya bertanya-tanya  inikah nasib yang bakal dialami masjid Aqsho dan Masjid Kubah Batu di Yerusalem bila kita terus saja diam membisu ketika pihak Israel dengan diam-diam terus merangsek kedalam kedua masjid agung tersebut ?? Astaghfirullah … ).

Tidak cukup itu saja, umat Islam Granada ini bahkan dipaksa meninggalkan ajaran Islam dan berganti agama bila mereka ingin bertahan hidup dan tinggal di kota kelahiran  mereka. ( click   “ https://vienmuhadi.com/2009/08/21/menilik-jejak-islam-yang-hilang-di-eropa-1-%e2%80%93-aragon/ “  untuk mengetahui sejarah Andalusia yang lebih lengkap). Maka sejak saat itulah musnah sikap toleransi dan saling menghargai antar agama yang telah susah payah dibangun umat Islam di Spanyol. Saat ini dapat kita buktikan dengan adanya perbandingan jumlah gereja dan masjid yang ada di Indonesia yang mayoritas Muslim dan Negara-negara Barat yang mayoritas Kristen.

IMG_3234Namun demikian kesedihan hati ini sedikit terobati ketika kami melewati sebuah toko kecil yang dimiliki oleh seorang Muslimah ( awalnya terlihat dari jilbabnya). Dari percakapan ala tarzan inilah , karena ia hanya bisa sedikit berbahasa Inggris, akhirnya kami tahu bahwa jumlah Muslim di Granada saat ini cukup banyak. Bahkan kami juga sempat mendengar alunan ayat suci Al-Quran yang keluar dari salah satu toko souvenir yang berada di sepanjang jalan menuju Alhambra. Alhamdulillah….

Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir “. (QS. Al-Anfal(8):18).

( Bersambung, ke  “ Menilik Jejak Islam Di Eropa (3) – Andalusia , click di sini).

Wallahu’alam bi shawab.

Semoga bermanfaat.

Pau – France, 10 November 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Adalah Aragon, sebuah propinsi paling utara Spanyol yang berbatasan langsung dengan Perancis. Di sejumlah tempat di propinsi ini ternyata masih tercecer kenangan sejarah Islam. Beruntung saya yang kebetulan mendapat kesempatan tinggal di Pau, sebuah kota di Perancis Selatan, atas izin-Nya, berhasil merekam keberadaan kota-kota tersebut.

Torla, Alquezar dan Ainsa. Ketiga kota ini masuk kedalam wilayah propinsi Aragon. Walaupun baru hanya tiga kota ini yang berhasil saya kunjungi namun jejak Islam sudah tampak di wajah ketiganya. Selama abad 13, 14 dan 15 bangunan dan menara khas gaya Mudejar memang tetap dipertahankan di hampir seluruh pelosok Spanyol.

Tujuan pertama kami adalah kota kecil bernama Torla. Kota ini berada di salah satu puncak gunung pegunungan Pirenia Spanyol yang berjarak hanya sekitar beberapa puluh km dari perbatasan Perancis. Lokasinya berada di kawasan Taman Nasional yang dilindungi Negara dan merupakan warisan dunia yang dilindungi.

Menurut saya pribadi, pegunungan yang memiliki lebih dari 30 puncak gunung ini bermuka dua. Bagian yang menghadap Perancis kelihatan lebih hijau, subur dan teduh sementara sisi yang menghadap Spanyol terlihat kering, gersang dan panas. Batu-batu cadas besar yang menghiasi pegunungan ini terlihat gagah dan angker, mengingatkan suasana perjalanan dari Mekah ke Madinah ketika pergi haji atau umrah. Ketika itu temperatur mencapai 38 derajat Celcius!! Saya membayangkan tentu pasukan Muslim Arab yang dahulu berjihad menaklukkan negri ini demi tersebarnya Islam amat bersyukur mendapati kesamaan suasana dan cuaca daerah ini dengan negri asal mereka yang jaraknya ratusan km itu. Allahuakbar…

tora - Sepanyol

Tora , Aragon – Spanyol

Kota Torla berada di sisi kiri jalan menuju Taman Nasional. Puncak gunungnya yang berwarna putih kapur menjadi latar belakang pemandangan kota tua ini. Sementara menara gereja dengan salibnya yang dipasang di ujungnya terlihat mendominasi kota tersebut. Namun demikian warna Islam tetap terlihat melalui bentuk dan tata cara pengaturan kotanya. Bahkan menara gereja terlihat bahwa dulunya adalah menara dimana muazin mengumandangkan azan. Saya membayangkan suatu ketika dulu, ratusan tahun yang lalu mustinya penduduk kota ini, di jam-jam seperti ini sedang berduyun-duyun berjalan menuju masjid yang sudah berubaha menjadi gereja tersebut demi memenuhi panggilan azan untuk shalat, mengagungkan nama-Nya…Subhanallah..

Sore harinya kami bermaksud langsung bertolak ke Alquezar. Namun karena perjalanan dari Torla ke Alquezar adalah jalan pegunungan yang jaraknya lumayan jauh maka kami memutuskan menginap di salah satu kota yang kami lalui. Kota tersebut adalah Ainsa.

Mulanya saya tidak begitu peduli dengan nama tersebut. Yang ada dalam benak saya hanya ” Aneh juga nama kota ini” . Namun ketika suami saya berkomentar ” Jangan-jangan dulunya nama kota ini An-Nisa ya..”.An-Nisa dalam bahasa Arab berarti perempuan. Ya..siapa tahu….” Cari informasi ah..”, jawab saya ketika itu.

Namun karena malam telah tiba, kami tidak sempat memperhatikan apalagi mencari informasi seputar kota Ainsa ini. Kami langsung mencari hotel, makan dan istirahat, tidur..Walau begitu selintas saya sempat melihat adanya semacam bangunan di atas bukit..mungkin benteng, yang diberi lampu penerangan cukup mencolok.

Belakangan saya baru tahu, ternyata tempat tersebut adalah landmark Ainsa, namanya La Plaza Mayor. Tempat ini diabadikan diberbagai macam suvenirnya, seperti asbak, gelas, hiasan dinding dsb. La Plaza Mayor adalah bekas benteng kuno yang dibangun kembali oleh raja Philip II pada tahun 1515-1516 untuk melindungi kota dari serangan musuh. Tak ayal lagi, benteng ini dulunya pasti milik Islam. Merekalah yang membangunnya ratusan tahun sebelum pembangunannya kembali.

Dari Ainsa, kami menuju Alquezar. Perjalanan sungguh menegangkan. Kendaraan berjalan menyusuri jalanan kecil yang meliuk-liuk tajam diatas bukit dengan jurang-jurangnya yang sangat dalam dan berbatu besar nan tajam. Beberapa kali saya terpaksa memejamkan mata sambil terus berdoa saking takutnya. Kurang lebih 2 jam kemudian akhirnya kamipun tiba di tujuan.

Alquezar,Spanyol

Alquezar, Aragon – Spanyol

Alquezar, sebuah nama berbau Arab yang dalam bahasa Spanyol berarti benteng, sama dengan bahasa aslinya, adalah sebuah istana tua berbenteng yang berdiri di atas bukit di pegunungan ‘ Sierra Guarra’, Aragon. Istana ini dibangun oleh Jalaf ibn Rasid pada awal abad ke 9 dan sekaligus berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi ibu kota Barbastro yang terletak beberapa km dari Alquezar dari ancaman kerajaan Kristen Sobrarbe. Istana ini jatuh pada tahun 1069 M dibawah raja Sancho I yang kemudian menjadikannya sebagai tempat pertahanannya.

Jalanan di dalam kota Alquezar

Bangunan dan rumah-rumah tuanya yang terbuat dari batu bata merah, jalan-jalannya yang kecil meliuk dan menanjak serta pintu kota dan benteng lengkap dengan gemboknya. Semua ini adalah bangunan khas gaya Mudejar yang sengaja dipertahankan dan menjadi kebanggaan penduduk setempat hingga kini. Ini jelas terlihat karena mereka memang menuliskannya di papan yang dipasang di depan pintu masuk kota untuk menarik perhatian pengunjungnya. Namun demikian saat ini tak ada satupun peninggalan Islam yang tertinggal di dalam kota benteng  ini.

Ingatan sayapun melayang  jauh ke belakang, ke beberapa  ratus tahun yang telah silam.

Pada tahun 711 M, Jabal ibn Tariq, seorang komandan bani Umayah tiba di semenanjung Iberia ( Spanyol-Portugal) melalui selat Gibraltar. ( Nama ini berasal dari kata Jabal Tarik dengan pengucapan lidah barat). Setahun kemudian daratan yang semula berada dibawah kekuasaan kerajaan Kristen Visigothic ini jatuh ke tangan dinasti Umayah. Ketika itu sebagian besar daratan Eropa masih berada didalam kegelapan. Mereka masih hidup terbelakang dan belum mengenal peradaban.

Dari semenanjung inilah sedikit demi sedikit pasukan Umayah berhasil memperluas kekuasaan hingga mencapai sebagian besar wilayah Pay Basque di pegunungan Pirenia-Perancis hingga 200 tahun lamanya. Mereka bahkan hampir menguasai pedalaman Perancis bila saja pada pertempuran di Poitier pada tahun 733 M tidak berhasil dikalahkan pasukan Perancis dibawah raja Frank Charles Martel.

Sementara itu pada tahun 755 M dinasti Umayah di Syam jatuh ke tangan dinasti Abbasiyah yang beraliran Syiah. Abdul Rahman ad-Dakhil, penguasa terakhir dinasti Umayyah berhasil lolos dari kejaran Abbasiyah dan menyelamatkan diri ke Spanyol. Di negri ini ia berhasil mempertahankan satu-satunya kekuasaan dinasti Umayah yang tertinggal dan mendirikan kerajaan Andalusia yang lepas dari kekuasaan pusat Abasiyah.

Dibawah kekuasaan Abdul Rahman an-Nashir, yang berkuasa antara tahun 912-961, Andalusia mencapai kejayaan pada segala bidang kehidupan. Kerajaan ini secara mutlak menguasai seluruh semenanjung Iberia selama 275 tahun, yaitu hingga tahun 1030 M. Sayang setelah itu ia terpecah menjadi lebih dari 20 ‘ muluk thawaif’ atau kerajaan-kerajaan kecil yang lemah dan menyebar diseluruh Iberia. Yang terkenal diantaranya adalah kerajaan Seville ( 1056-1147) dan Granada ( 1237-1492) sebelum akhirnya benar-benar lenyap setelah ditaklukkan kerajaan Kristen dibawah raja Castilla, Ferdinand II. Kerajaan-kerajaan kecil Islam ini jatuh disebabkan tidak adanya persatuan di dalam tubuh mereka.

Kamu akan melihat kepada orang-orang Mukmin itu dalam hal kasih-sayang diantara mereka, dalam kecintaan dan belas kasihan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasa sakit maka akan menjalarlah kesakitan itu pada anggota tubuh yang lain dengan menyebabkan tidak dapat tidur dan merasakan demam”. (HR Bukhari).

Jadi pihak Kristen sebenarnya hanya memanfaatkan kelemahan tersebut. Orang Spanyol menamakan peristiwa kemenangan mereka itu ‘Reconquista’ yang berarti Penaklukan Kembali. Namun berbeda dengan ketika pasukan Islam berhasil menaklukkan Spanyol dan sekitarnya. Ketika itu penguasa Muslim memberikan 2 pilihan kepada penduduk yang dikalahkannya ; memeluk Islam atau membayar jiziyah ( semacam zakat yang khusus dikenakan kepada non Muslim/kaum dzimmi). Tetapi ketika penguasa Kristen mengalahkan Islam, sebagian besar penduduknya dibantai. Antisemitisme ( budaya membenci orang Yahudi), pengusiran dan pembantaian Muslim adalah hal yang biasa terjadi pada era tersebut.

Padahal selama 700 tahun kekhalifahan Islam berkuasa, kekhalifahan ini berhasil memperkenalkan tidak saja sains, seni, budaya dan ekonomi namun juga toleransi beragama yang sangat tinggi ke dalam kehidupan negri di ujung selatan Eropa tersebut. Pemeluk ketiga agama samawi yang mendominasi negri tersebut, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi hidup harmonis dan saling menghargai.

Demikian pula sains dan ilmu pengetahuan yang pada masa keemasan kerajaan Andalusia telah mencapai kejayaan mengalami kemunduran. Keduanya bahkan dianggap menentang dan menjatuhkan wibawa gereja di mata umum. Gereja dan para pemimpin agama ( Kristen ) terus berupaya memaksa rakyat agar menjadikan mereka sebagai pimpinan tertinggi yang harus ditaati secara mutlak. Pada zaman ini pula Perang Salib mulai diperkenalkan. Gereja berhasil memprovokasi timbulnya kebencian dan rasa permusuhan yang dalam terhadap Islam.

Akhirnya budaya tahayulpun berkembang pesat menggantikan ilmu pengetahuan dan sains. Kehidupan negri Kristen ini kembali mundur ke belakang. Sementara itu di belahan dunia lain yang tetap dikuasai Islam, yaitu Mamaluk dan kemudian kekhalifahan Otoman yang berpusat di Istambul sedang mengalami kebesaran dan kejayaannya. Itu sebabnya banyak orang Eropa berdatangan ke kota-kota Islam untuk menimba berbagai ilmu pengetahuan. Pada era ini pula muncul para orientalis, yaitu orang-orang Kristen dan Yahudi yang datang ke Yerusalem dan kota-kota besar Islam lainnya untuk belajar tentang Islam dan tradisi Arab namun sayangnya dengan tujuan untuk menjatuhkan dan mengalahkan Islam.

Perlu menjadi catatan, kejatuhan terakhir kerajaan Islam Granada pada 1492 M sebenarnya lebih disebabkan oleh raja terakhirnya, Abu Abdullah Muhammad bin Ali, yang kurang memperhatikan salah satu ayat penting dalam Al-Quran. Suatu ketika ia menggabungkan pasukannya kedalam pasukan raja Ferdinand II untuk berperang melawan musuh. Namun apa lacur setelah gabungan pasukan ini menang, Ferdinand berbalik menyerang dan merebut kekuasaan sang raja. Seluruh kekayaannya dirampas hingga ia terpaksa pergi meninggalkan istananya menuju Afrika dan hidup terlunta-lunta dalam kemiskinan.

Dibawah raja Ferdinand II dan istrinya ratu Isabelle inilah kaum Muslimin dan Yahudi mengalami pengusiran secara besar-besaran.

« Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” .(QS.An-Nisa(4):138-139).

Di kemudian hari dunia menyebut penduduk asli Andalusia yang memeluk Islam pada era ketika Muslim berkuasa dengan sebutan Moor / Muladi / Muwallad. Sementara mereka yang tetap ingin memeluk Kristen, agama lama mereka disebut dengan panggilan Mozarab. Kemudian pada era ketika Kristen berkuasa, orang-orang Islam yang tidak mau memeluk Kristen disebut sebagai kaum Mudejar. Kaum ini dikenal sebagai kaum terpelajar. Sayang mereka hanya dapat bertahan beberapa tahun di negri ini sebelum akhirnya diusir dan terpaksa harus meninggalkan tanah Iberia untuk selama-lamanya.

Namun demikian, atas izin-Nya, peninggalan kejayaannya hingga detik ini tidak berhasil begitu saja dihapuskan. Andalusia dengan istana ‘Alhambra’-nya yang megah di Granada, Cordoba dengan ‘ Mezquita’-nya dan Sevilla dengan berbagai bangunannya adalah sebagian contohnya.

Pandangan saya kembali ke tebing-tebing  tinggi yang mengitari Alquezar. Saat ini disamping karena sejarahnya, Alquezar menarik banyak pengunjung karena geografisnya. Istana ini dikelilingi oleh tebing-tebing kapur tinggi yang sangat digandrungi pencinta alam untuk berolah raga ‘canyoning’, seperti memanjat canyon, terjun, renang serta menjelajahi sungai Ebro yang mengalir diantara jurang-jurang tingginya yang sempit. Pemandangan didalam celah tebing tersebut memang sungguh menakjubkan.

Wallahu’alam bishawab.
Semoga bermanfaat.
Pau-France, 21 Agustus 2009.

Vien AM.

Referensi :

“ L’Islam en Europe” oleh Herscher.
“ Sejarah Islam” oleh Ahmad al-Usairy
http://en.wikipedia.org/wiki/Umayyad_conquest_of_Hispania
http://www.xmission.com/~dderhak/index/moors.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Mudejar
http://es.wikipedia.org/wiki/Torla Torla

Read Full Post »

« Newer Posts