Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

Buat saya pribadi, pengalaman paling menyedihkan ketika kita di negri minoritas Muslim adalah ketika Lebaran. Lebaran atau Idul Fitri adalah hari kemenangan setelah sebulan lamanya kita berpuasa, mengendalikan hawa nafsu. Makan minum dan hubungan suami-istri adalah diantara yang harus dijaga, meski hanya ketika siang hari saja.

Pada hari kemenangan ini Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk mendirikan shalat Ied sebanyak 2 rakaat, sebaiknya di lapangan terbuka. Di tanah air biasanya ritual ini diteruskan dengan acara silaturahmi. Bermaaf-maafan, ‘sungkeman’, berbincang dan ‘guyon’  melepas rindu sambil menyantap ketupat lebaran beserta kelengkapannya adalah sebuah kesempatan indah yang rasanya sulit untuk ditinggalkan begitu saja.

Bahkan tidak jarang, Lebaran adalah momen langka dimana seluruh anggota keluarga besar bisa berkumpul. Kakek, nenek, bapak, ibu, paman, bibi, anak, ponakan, cucu semua berbaur menjadi satu. Ini yang menjadi penyebab mengapa ‘tradisi’ pulkam alias pulang kampung menjadi suatu ‘keharusan’.

Meski beberapa kali para ulama mengingatkan bahwa acara kumpul-kumpul tersebut bukan bagian dari syariat tapi tetap saja ritual tersebut berjalan lancar tiap tahunnya.  Setiap menjelang lebaran kita bisa menyaksikan betapa berjuta-juta orang Indonesia rela bermacet-macet ria demi menjalani acara tahunan pulkam ini. Tidak hanya dari dan ke daerah namun juga yang tinggal jauh di negri seberangpun tak mau ketinggalan momen istimewa ini.

Nah, buat kita-kita yang dengan berbagai alasan tidak pulkam nih … Tidak bisa dipungkiri, bagaimanapun ada semacam perasaan ‘terlupakan’ .. L .. Itu sebabnya sebisa mungkin biasanya mereka-mereka ini berusaha menemukan suasana penggantinya. Kedutaan Besar biasanya adalah tempat berlabuhnya.

Begitu juga kami. Saya dan keluarga sempat mengalami hal ini beberapa kali. Beruntung kami tinggal di kota dimana kedutaan negri kita tercinta berkedudukan. Itulah Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI di Paris, Perancis.

Dua minggu sekali pihak KBRI mengadakan acara buka puasa bersama. Ta’jil seperti kolak, es cendol dll adalah menu yang bisa dibilang selalu hadir. Sementara shalat taraweh hanya diadakan pada setiap malam minggu. Namun bila mau kita dapat pergi ke Mosquee de Paris. Masjid terbesar di Paris ini menyelenggarakan shalat taraweh setiap hari. Juga beberapa masjid kecil di sekitar kota tersebut. Sayangnya, tausiyah diberikan dalam bahasa Arab. Harap maklum, sebagian besar jamaah masjid-masjid tersebut memang orang Arab atau keturunan Arab.

Beruntung KBRI menyelenggarakan shalat Ied. Meski shalat hanya diadakan di dalam ruang aula yang letaknya di bawah tanah. Sementara shalat yang diizinkan oleh pemerintah setempat hanya yang diselenggarakan di dalam lingkungan masjid, tidak di lapangan terbuka.

Yang menjadi masalah adalah anak-anak sekolah. Di negri paman Sarkozy ini tidak ada yang namanya libur Idul Fitri. Padahal negri yang mengaku diri berazaskan demokrasi dan ‘laic’ alias sekuler ini secara resmi merayakan sejumlah hari besar keagamaan termasuk beberapa hari besar Yahudi, tentu saja di luar hari-hari besar Kristen. Namun nyatanya tak satupun hari besar Islam yang diberi tempat dan penghormatan yang layak, meski jumlah Muslim jauh lebih banyak daripada penganut Yahudi. Akibatnya, anak-anak , juga para karyawan Muslim terpaksa harus meminta izin atau kalau perlu terpaksa bolos ketika akan mendirikan shalat Ied, shalat hari kemenangan yang hanya setahun sekali diselenggarakan itu.

Beruntung tahun ini, kami sekeluarga diberi keleluasaan untuk menekuni Ramadhan di tanah air. Alhamdulillah kami dapat mendirikan shalat taraweh di masjid setiap hari, kalau mau. Tetapi tak urung ternyata ada sedikit kekecewaan menyelinap di hati ini.

Di kampung halaman yang dirindukan ini, dimana sebagian besar penduduk adalah Muslim, shalat taraweh ternyata malah tidak seindah di negri non Muslim. Mengapa bisa begitu?

Pertama, brisik.

Ya, brisik. Di masjid Paris, nyaris tidak ada seorangpun berani berbicara bahkan berbisik-bisikpun tidak ketika tausiyah sedang diberikan. Semua orang terlihat memperhatikan dengan seksama apa yang dikatakan sang uztad. Malah, begitu nama Muhammad Rasulullah disebut, langsung gumaman shalawat terdengar khidmat diucapkan. Subhanallah .. Betapa indahnya …

Bagi saya, shalat di masjid–masjid Paris laksana shalat di tanah suci. Ini bukan hanya karena imamnya fasih berbahasa Arab namun juga suasananya. Benar-benar khusuk !  Dalam hati saya berpikir, apa ini karena mereka memahami bahasanya? Oh, alangkah beruntungnya kalau saja saya dapat memahami bahasa Arab. Bukankah kitab suci kitapun berbahasa Arab? Bukankah Rasulullah dan para sahabat yang membela mati-matian Islam juga orang Arab? Bahkan shalatpun haram membaca terjemahannya meski kita tidak paham, bukan ?

Yang juga membuat saya heran, kenapa di tanah air, orang, terutama para ibu, sering mengajak anak-anaknya yang masih kecil ke masjid tanpa mengajarkan mereka terlebih dahulu adab dan sopan santun di masjid. Anak-anak berteriak-teriak, bermain kejar-kejar bahkan diatas sajadah kita ! Ya Allah ..

Tentu saja ini tidak terjadi di semua masjid. Namun fenomena ini ada dan yang jelas ini saya alami sendiri.

Yang kedua, shaf-shaf yang kosong dan berjarak.

“ Sebaik-baik shaf pria adalah shaf terdepan dan seburuk-buruk shaf adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf perempuan adalah shaf terakhir dan seburuk-buruk shaf perempuan adalah yang terdepan”. 

Hadits diatas berlaku ketika tempat shalat antara kaum lelaki dan kaum perempuan tidak terdapat tirai pembatas. Jika ada, shaf terbaik kaum perempuan sama dengan kaum lelaki, yaitu shaf terdepan.

Namun meski setiap kali sebelum shalat dimulai imam mengumumkan agar barisan dirapikan, tetap saja para perempuan tidak bergeming dari kedudukan awalnya. Seolah pengumumam tersebut hanya berlaku untuk kaum lelaki. Beberapa kali saya mencoba mengingatkan untuk merapatkan shaf, nihil hasilnya. Dengan sajadahnya masing-masing yang berlebar kurang lebih 60 cm malah mungkin lebih, masing-masing bertahan di tempatnya yang satu sama lain berjauhan.

Sedihnya lagi, ini juga terjadi ketika shalat Ied. Shaf kosong tidak segera diisi. Jamaah yang baru datang lebih memilih tempat terdekat yang dicapai atau tempat teduh daripada jauh-jauh harus menyelinap dan mengisi shaf kosong. Meski seringkali dengan alasan shaf telah terisi tumpukan sandal jamaah.

” Yaah .. emang sandal ikut shalat apa? Kenapa bukannya bawa tas plastik atau menyembunyikannya  dibawah sajadah aja sih?”, pikir saya kesal.

Sungguh terbalik dengan apa yang terjadi di masjid Paris. Di sana, bahkan untuk duduk miring pada tahiyat akhirpun hampir mustahil. Bahu kami saling bersentuhan, persis seperti yang dianjurkan syariat. Tak ada sedikitpun lowongan bagi syaitan untuk menyelinap diantara kami dan mengganggu shalat kami.

Yang terakhir, salam yang mendahului imam.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat. Selesai shalat beliau menghadap kepada kami dan berkata : “Wahai sekalian manusia, aku adalah imam kalian. Janganlah kalian mendahului aku ketika ruku’, sujud, berdiri, dan salam. Karena aku dapat melihat kalian di hadapanku maupun di belakangku.” 

Hadits diatas jelas mengajarkan kita untuk tidak mendahului gerakan imam. Namun sering saya jumpai ‘tetangga’ saya sudah menoleh ke kiri sebelum imam selesai mengucap salam.  Padahal di masjid Paris, salam ini mampu membuat saya merinding haru. Secara serempak makmum mengucap salam agak keras sambil menoleh ke kanan dan kiri begitu imam usai mengucap salamnya yang kedua, bukan yang pertama. Dan karena salam diucapkan dengan agak keras saya merasa bahwa saya sungguh-sungguh didoakan ‘tetangga’ dengan ikhlas bukan sekedar ritual.

Yaah, begitulah .. dibalik sebuah kesusahan pasti ada juga hikmahnya.

“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS.Al-Insirah(94):6).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Agustus 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

What does mean “’ the highest power outside this universe”?, bisik salah seorang peserta ” English Conversation Class” yang saya ikuti setiap hari Selasa. Ia bertanya maksud baris terakhir tulisan saya hari itu kepada seorang peserta lain yang kebetulan duduk di sebelahnya. Keduanya adalah orang Perancis.

Setengah ragu, yang ditanya kemudian menatap saya ” Maksud kamu Tuhan kan?”.  ” Tepat sekali ”, jawab saya tegas, membuat wajah peserta yang bertanya  tadi, mengkerutkan kedua alisnya, tanda heran dan bingung.

Sayapun kemudian menoleh dan bertanya kepada peserta lain yang duduk disebelah saya, juga orang Perancis, ” Kamu pemeluk Nasrani? Kamu percaya pada Tuhan kan ?”. ” Ya”, jawabnya perlahan, seakan tidak terlalu yakin … atau tidak PD ??

Itu baru salah satu contoh betapa mayoritas orang Perancis ( atau orang Barat) adalah Atheis alias kafir atau tidak mempercayai adanya Tuhan. Bagi mereka   percaya akan beradaan Tuhan, adalah lambang kemunduran dan kebodohan, lambang ke-takhayul-an. Kehidupan, dalam pandangan mereka, ya di dunia ini. Kehidupan itu hanyalah dimulai dari lahirnya seorang bayi dan diakhiri dengan matinya seseorang. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada itu istilah kebangkitan dalam kamus mereka. Kehidupan akhirat bagi mereka adalah hal yang sungguh mustahil dan tidak masuk akal.

Mulanya saya heran juga koq ada ya orang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Namun begitulah kenyataannya. Sungguh, persis seperti apa yang dikatakan orang-orang kafir sejak dahulu. Dalam hati saya bertanya-tanya, bagaimana perasaan mereka jika mereka membaca ayat-ayat dibawah ini? Akankah hati mereka tersentuh dan menyadari kesalahan mereka ?

”Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan“.(QS.Al-An’am(6):29).

”Dan mereka selalu mengatakan: “Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? Apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?”(QS.Al-Waqiyah(56):47-48).

Hati ini bertambah miris, ketika suatu saat, seorang diantara peserta, secara bercanda mengatakan bahwa temannya itu ’kuno’ karena tidak setuju pada kehidupan dan perkawinan Homoseksual … Astaghfirullahaladzim  …

Dalam hati saya hanya bisa berkata ” Alangkah malangnya orang-orang ini. Merasa pintar, modern dan maju .. Namun nyatanya akalnya tidak sampai pada yang ghaib ”…

Pantas saja, Barat sering protes terhadap kebijaksanaan negara-negara Islam yang menerapkan hukum Islam, tentunya. Lhah, cara berpikirnya saja memang berbeda. Persis seperti ketika kita menghadapi anak kecil, yang dunianya memang hanya bermain.

” Wis .. sing waras ngalah ae ”, itu canda sehari-hari suami saya bila kami menemui orang keras kepala yang suka mempertahankan pendapat yang salah. Artinya kurang lebih , orang gila tidak usah ditanggapi …

Kali lain, yaitu pada kelas percakapan bahasa Perancis, saya menulis tentang latar belakang berdirinya Indonesia. Bersama, terutama  dari sudut bahasanya, kami mengoreksi tulisan tersebut. Tiba pada suatu bagian, dimana saya menerangkan bahwa landasan utama Indonesia adalah Ketuhanan Yang Esa.

” Aneh … bagaimana mungkin sebuah negara koq memaksa rakyatnya untuk percaya pada adanya Tuhan .. mengapa pula harus satu … Apakah itu berarti bahwa orang yang tidak percaya pada Tuhan tidak berhak hidup di negara kamu?”, tanya seorang peserta dari Italia, terheran-heran.

Belum juga saya sempat menjawab pertanyaan tersebut saking terkejutnya, seorang peserta lain, kali ini orang Perancis, menimpali :

”Lucunya lagi, orang di negara kamu harus mencantumkan agamanya di dalam KTP-nya, iya kan”.

” Bagi kami, yang aneh justru kalian .. bagaimana mungkin kalian melarang orang untuk mempercayai adanya Tuhan, bagaimana mungkin kalian melarang orang shalat di tempat umum, melarang perempuan-perempuan Muslim mengenakan jilbab ?”, balas saya berusaha menahan emosi.

” Itu hal yang berbeda. Ketahuilah bahwa Perancis adalah negara laic ( sekuler). Negri kami berprinsip bahwa agama adalah hak pribadi. Jangan dicampur adukkan dengan kehidupan bermasyarakat. Itu sebabnya di depan umum, orang tidak boleh memperlihatkan kepercayaannya”, jelas si Parisienne, sebutan bagi orang Paris, sok bijaksana.

”Dan lagi, ingat tulisan kamu minggu lalu tentang masalah kebenaran? Bagaimana mungkin kamu memaksakan ’kebenaran’ kamu adalah ’kebenaran’ bagi semua orang? Semua orang kan punya ’kebenaran’ masing-masing”, serang si orang Italia lagi.

… Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi (tanpa) mengindahkan kebenaran dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan)”. (QS.Al-Mukmin(40):74-75)

Minggu lalu saya memang sempat mengutip surat Al-Ashr dalam tulisan saya. Dan memang ia sempat merasa terganggu dengan maksud ’kebenaran’ dalam ayat tersebut.

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.Al-Ashr(103):1-3).

Astaghfirullah … berat nian ujian ini … kalau saja saat itu ada sesama Muslim yang sama-sama ’care’ terhadap Islam .. tentu akan lebih mudah menghadapi ’kroyokan’ orang-orang kafir ini …   Apa boleh buat .. Bismillah ..

” Justru itu”, jawab saya berusaha tegar. ” Karena setiap orang merasa mempunyai ’kebenaran’ masing-masing maka ’kebenaran’ mana sebenarnya yang paling benar. Ya tentu saja ’kebenaran’ Dia yang mempunyai alam semesta ini, Dia yang menciptakan kita semua ini. Dialah pasti yang paling benar”.

” Nah, kamu berbicara soal agama itu”, potong si Perancis.

Haaah?!?!?  … saya langsung terdiam, tidak menyangka bahwa ia memotong pembicaraan dengan kalimat seperti itu. Saya tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Yaaah .. sayang sekali .. ternyata jam ’terbang’ saya benar-benar sedikit sekali. Dengan penguasaan bahasa asing yang masih terbatas sungguh sulit untuk berbicara dan membahas masalah agama, dalam hal ini Islam. Saya benar-benar merasa kecewa tidak mampu meneruskan perdebatan tersebut.

Padahal bila saja bisa sedikit menahan emosi, seharusnya itu bukan kendala besar. Bukankah itu justru bukti betapa antara agama dan arus kehidupan sehari-hari tidaklah mungkin dipisahkan ?? … L

Ironisnya, 2 minggu setelah pembicaraan diatas, saya belum tergerak untuk kembali menghadiri klas percakapan berbahasa Perancis tersebut. Saya masih merasa malas dan rasanya rasa kesal bercampur putus asa masih bercokol dalam hati ini. Meski, kebetulan saya memang masih sibuk dengan urusan lain hingga saya masih mempunyai alasan untuk tidak hadir.

Pertanyaan saya ” Sanggupkah saya meneruskan dakwah ini” ? Ya, Allah bantulah hamba ini untuk menata emosi dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi disamping juga kemampuan untuk berkomunikasi dan berdebat dalam bahasa asing yang tidak gampang ini …

Terngiang ditelinga ini, kata-kata Yusuf Qurdhowi, cendekiawan Muslim Mesir ternama itu, ” Adalah wajib hukumnya bagi seorang Muslim yang tinggal di negri kafir untuk mendakwahkan Islam. Bila tidak, itu sama dengan menganiaya diri sendiri”.

Ya Allah, berat niaaan .. 😦 ..

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 6 juni 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Palermo saat ini adalah kota yang amat padat. Kemacetan terlihat dimana-mana. Seperti juga di Jakarta, ‘pak ogah’ tampaknya sudah membudaya di kota ini. Tanpa bantuan mereka rasanya mustahil mendapatkan tempat parkir. Setelah dorong sana dorong sini akhirya kami dapat memarkir mobil tak jauh dari lokasi yang strategis, yaitu di depan taman luas antara Katedral Palermo, Royal palace dan kapel Palatin.

Ketiga bangunan tua sarat sejarah ini terlihat kotor dan kurang terawat kecuali katedralnya. Katedral ini dibangun pada tahun 1185 M diatas bekas bangunan masjid yang tadinya juga dibangun di bekas basilika ( bangunan umum Romawi) pada abad 9. Hingga saat ini sisa-sisa arsitektur Arab Normandia masih terlihat kental di ketiga bangunan tersebut.

Namun seperti juga umumnya gereja di seluruh dunia, lukisan dan patunglah yang menjadi daya tarik utama. Lukisan dan patung-patung ini adalah lukisan Tuhan mereka, Yesus alias nabi Isa as, para orang suci umat Nasrani seperti Maria, ibunda Yesus dan patung-patung malaikat lengkap dengan sayapnya. Jujur saja, sebenarnya lukisan dan patung-patung tersebut sungguh indah dan mirip sekali dengan manusia betulan. Yang saking miripnya kesannya sering kali menjadi ‘seram’. Yang juga patut disesalkan, mengapa lukisan dan patung yang seringkali terlihat kurang santun karena tidak berpakaian lengkap itu bisa dipajang di dalam tempat ibadah ya … 😦

Setelah puas melihat-lihat bagian luar katedral kami meneruskan perjalanan ke Monreal yang jaraknya tak sampai 10 km dari tempat ini. Sayangnya, ternyata kami tiba di katedral yang lagi-lagi bekas masjid ini persis jam istirahat … 😦  Apa boleh buat .. bersama para turis lain yang juga ‘kecele’ kami terpaksa menanti selama 1.5 jam di bawah hujan yang cukup lebat. Beruntung, di sekitar katedral banyak terdapat restoran. Rupanya tempat ini memang menjadi pusat wisata.

Kami masuk ke sebuah resto special pizza, makanan khas andalan Italia yang terkenal itu. Karena pelayan tidak bisa berbahasa Inggris sementara kamipun tidak bisa berbahasa Italia akhirya dengan bantuan salah seorang tamu yang bisa berbicara Perancis,  kamipun memesan pizza sayuran yang relative aman, daripada salah pesan pizza yang mengandung unsur babi … Walaupun ternyata rasanya ‘nano’nano’ .. J ..

Tepat pukul 14.30 kami telah mengantri didepan katedral. Sepasang patung berhadapan yang sedang membawa pedang menyambut kami di depan pintu masuknya. Patung tersebut terlihat aneh dan seram karena kepalanya tertutup. Sementara di seberang satu lagi sebuah patung terlihat sedang ‘menatap’ kearah para pengunjung. Tiba-tiba saya teringat apa yang diperintahkan Rasulullah kepada para sahabat begitu memasuki Ka’bah pada saat penaklukkan Mekah,yaitu menurunkan patung-patung yang menghiasi dinding-dindingnya. Ka’bah dan juga masjid adalah rumah ibadah. Sang Khalik tidak ridho dengan keberadaan segala patung dan berhala di bait-Nya. Penyembahan hanya murni milik-Nya. Tidak ada satupun sekutu bagi-Nya.

“ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”.(QS.An-Nisa(4):116).

Itulah inti ajaran Islam, agama milik Allah swt, Tuhan Yang Tunggal, Yang Tiada Beranak dan Diperanakkan, Tuhan semesta Alam yang memiliki langit, bumi dan segala yang ada diantara keduanya. Para nabi sejak nabi Adam as hingga nabi Ibrahim as, nabi Musa as, nabi Isa as (Yesus) hingga nabi terakhir, Rasulullah Muhammad saw diutus dalam rangka menegakkan penyembahan hanya kepada-Nya, semata.

Namun dalam perjalanannya, ntah mengapa, bisikan syaitan ternyata lebih kuat dan indah dalam penglihatan dan pendengaran orang-orang yang berlebihan dalam mencintai kehidupan dunianya. Tuhan yang satu dirasa kurang memuaskan hingga mereka mencari sesembahan lain.   Mereka berdalih bahwa penyembahan kepada yang selain Allah itu adalah dalam rangka untuk  mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada-Nya!

“ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”……. ”.(QS.Az-Zumar(39):3).

Kami terus melangkah masuk ke dalam katedral yang dibangun pada pertengahan abad 12 oleh raja Norman, Wiliam II. Namun demikian pengaruh gaya arsitektur Islam Fatimiyah dan Moor yang ketika itu sedang naik daun tidak dapat dihilangkan begitu saja. Lantai dan dinding mozaik, lekuk dan pilar dengan gambar alam seperti bunga-bungaan dan dedaunan khas arsitektur Islam terlihat menjadi dasar dan latar belakang pemandangan.

Sementara gambar-gambar Yesus dengan ukuran raksasa, bunda  Maria, para malaikat dengan sayapnya, orang-orang suci Nasrani dan rangkaian kejadian yang tertulis dalam kitab Injil terlihat mendominasi dinding dan langit-langit katedral. Dengan warnanya yang kuning keemasan mencolok mata sungguh tidak mungkin bagi para pengunjung untuk menghindarinya.

Dalam hati saya berpikir, “ kalau masjid seperti ini bagaimana bisa konsentrasi ?”. Dalam sebuah hadits yang pernah saya baca, dikatakan bahwa bila masjid diperindah sedemikian rupa dengan warna-warna kuning, itu adalah awal tanda kiamat.

Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu melarang menghiasi masjid dan memperindahnya, karena yang demikian itu dapat mengganggu shalat seseorang. Dan ketika beliau memerintahkan merehab Masjid Nabawi, beliau berkata, “Lindungilah manusia dari hujan, dan janganlah engkau beri warna merah atau kuning karena akan memfitnah (mengganggu) manusia”[HR.Bukhari].

Kami terus jalan berkeliling sambil mencari-cari bekas letak mihrab, tanpa hasil. Setelah puas kami lalu menuju ke bagian atas katedral melalui tangga sempit berkelok untuk melihat taman yang memang di’declare’ sebagai taman a la Islam.

Sore harinya, kami meneruskan perjalanan ke Catanya melaui Cefalu dan Edna.  Kami tiba di kota terbesar kedua Sisilia ini lewat tengah malam. Anehnya, di tengah remang dan kusamnya kota yang kurang penerangan ini keramaian orang masih terlihat dimana-mana. Sebagian besar muda-mudi yang tampaknya penduduk setempat itu berkumpul di bar-bar yang kami perhatikan banyak sekali bertebaran. Demikian pula esok malamnya. Padahal ini bukan week-end lho .. .

Saking penasarannya, besok malamnya saya tanyakan keanehan tersebut kepada seorang pelayan restoran dimana kami bersantap. Kebetulan sang pelayan parlente yang mengenakan jas hitam rapi itu bisa berbahasa Inggris dengan bagus sekali.

“ Why there are a lot of young people in this late night? Is tomorrow a holiday? I think they are not tourists, do they?”

Ia menjawab bahwa hal tersebut memang telah menjadi tradisi muda-mudi kotanya. Kongkow sambil minum-minum di bar setiap hari walaupun bukan hari libur adalah hal biasa. Dengan sedikit rasa sesal pria setengah baya yang doyan ngobrol ini mengeluh “ Jumlah bar di kota ini sudah kelewatan banyaknya. Ini yang menyebabkan para pelajar selalu berkeliaran siang dan malam”.

“ Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu”.(QS.Al-Maidah(5):91).

Sejarah Catanya ternyata sama kelamnya dengan kebiasaan penduduknya yang doyan minum minuman beralkohol. Kota ini sering dilanda gempa dan tertimpa letusan gunung Etna yang berdiri tak jauh dari kota. Beberapa kali kota ini harus mengalami penataan ulang karena hancur, rata dengan tanah. Itu sebabnya bangunan di Catanya didominasi bangunan berwarna hitam dan putih  yang terbuat dari lava dan berbagai material muntahan gunung.

Ironisnya, hingga detik ini penduduk kota tetap menjadikan orang-orang suci agama mereka sebagai sesembahan. Perayaan yang dilakukan tiap bulan Februari ini menjadi daya tarik tidak saja penduduk lokal namun juga penduduk kota Sisilia dan Italia lainnya.

Taormina, Mesina – 28/10/2010.

Pagi itu kami menyusuri pantai timur Sisilia. Taormina dan Messina adalah kota tujuan terakhir perjananan 5 hari kami selama berada di pulau tersebut. Subhanallah .. letak geografis kota kecil Taormina sungguh menakjubkan. Kota wisata ini berada di atas bukit dengan pemandangan laut dan gunung yang mengelilinginya. Di puncak perbukitan inilah berdiri teater Yunani kuno ‘ Teatro Greco’.  Teater ini diperkirakan dibangun pada masa kekuasaan Romawi pada abad 7 SM diatas  bekas reruntuhan teater Yunani. Arsiktektur Romawi memang banyak dipengaruhi budaya Yunani. Pada masa itu baik kerajaan Romawi maupun Yunani telah menjadikan pertarungan antara manusia (biasanya residivis) dengan binatang buas sebagai tontonan dan hiburan masyarakat.

IMG_4705IMG_4707Teater yunani dengan latar belakang menakjubkan tersebut ternyata telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para seniman dan pelukis di masa lalu. Lukisan tersebut kini dapat kita saksikan di dalam musee Louvre Paris. Namun yang lebih surprising, koleksi berharga tersebut disimpan dan dipajang di bagian koleksi Islam musium  bergengsi tersebut. Divisi Islam ini adalah divisi terbaru yang menjadi bagian dari musium, yang baru dibuka pada September 2012 lalu.

Kekejaman yang dijadikan hiburan ini tiba-tiba mengingatkan saya pada diri nabi Ibrahim as. Yaitu ketika raja yang berkuasa ketika itu memerintahkan para pembantunya agar membakar sang utusan. Ini disebabkan Ibrahim as dituduh telah ‘menganiaya’ Tuhan mereka. Kisah ini diabadikan dalam ayat 58-68 surat Al-Anbiya sebagai berikut :

“ Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”.

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”.

Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.

Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)” kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”.

Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa`at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”

Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”.

Saat ini teater Taormina masih digunakan namun hanya sebagai tempat pertunjukkan musik dan drama. Setelah puas menikmati keindahan alam dari teater ini kamipun melanjutkan perjalanan ke ujung utara pulau yaitu Messina. Waktu kami tidak banyak.

Tujuan utama kami adalah  gereja  Annunziata dei Catalani. Gereja ini ternyata tidak lagi digunakan. Bekas masjid ini dikabarkan sebagai satu diantara sedikit bangunan penting yang bebas dari keganasan gempa 1906. Itu sebabnya saat ini bangunan tidak dipakai dan dipagari dengan pagar besi. Alhamdulillah .. maka dengan demikian kami masih bisa melihat sisa-sisa jejak Islam di kota tua ini.

Esok paginya, setelah berkeliling sebentar melihat Catanya yang tidak sempat kami jelajahi, kamipun terbang meninggalkan Sisilia. Ibrah terpenting yang dapat kami ambil, «  Islam telah datang ke bagian paling selatan Italia untuk memperingatkan bahwa manusia  diperintahkan untuk memurnikan penyembahan, yaitu hanya kepada Allah swt, yang tidak beranak. Namun tampaknya penduduk negri ini terlalu angkuh untuk mengakui kebenaran Islam. Mereka malah lebih memilih mempercayai kitab lain yang jelas-jelas telah dimanipulasi sejak berabad-abad yang lalu … Sayang sekali … »

« Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya ».(QS.Ali Imran(3) :19)

«  Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?”(QS. AtTaubah(9):30).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 12 Januari 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Senin, 24/10/2010, 17.30 waktu Sisilia. Pesawat EasyJet yang kami tumpangi mendarat di bandara  Boccadifalco, Palermo – Sisilia. Setelah mengambil bagasi dan mengambil kunci mobil sewaan kami segera menuju pelataran parkir bandara. Kami sempat agak lama  celingukan mencari tempat ini karena selain tanda pengumuman tidak jelas bertanyapun sulit. Maklum, kami berdua tidak paham bahasa Italia sementara penduduk setempat tidak berbahasa Inggris .. 😦

Namun baru beberapa detik merasa lega setelah menemukan lokasi mobil sewaan kami kembali tersentak kaget. GPS ( Global Positioning System), sang pemandu jalan elektronik yang selama ini setia menemani kemanapun kami pergi ternyata tidak berhasil menangkap signal. Dengan segera kamipun memutuskan untuk menyewa alat canggih tersebut. Tetapi ternyata juga habis ! Terpaksalah dengan bantuan peta kecil seadanya plus GPS HP yang kurang begitu saya kenal, kamipun memulai perjalanan di pulaunya para Mafioso ini.

Jarak dari bandara yang diapit pegunungan kecil berbatu dan pantai laut Tirenia ke pusat kota sekitar 25 km. Melalui jalan tol yang lumayan gelap akhirnya kami sampai juga di hotel dengan selamat ..  Alhamdulillah.

Setelah check in kami keluar lagi untuk mencari makan malam sambil melihat suasana sekitar hotel. Ketika masih di dalam pesawat, suami pernah berkata sepintas bahwa beberapa teman Perancisnya yang keturunan Italia mengatakan bahwa Sisilia walaupun merupakan bagian dari Italia tapi tidak menunjukkan ke-Italian-nya. Namun yang pasti kesan pertama yang  saya tangkap Palermo itu gelap, agak kotor dan lumayan kumuh.

Padahal Ibn Hawqal, seorang ahli geografi kenamaan yang telah berhasil membuat peta bumi menyatakan kekagumannya yang begitu tinggi terhadap kota ini. Ia bahkan berani membandingkannya dengan Baghdad yang ketika itu menjadi pusat daya tarik dunia. Ilmuwan Muslim kelahiran Turki ini mengunjungi Palermo pada tahun 950M dalam rangka lawatannya ke seluruh negri guna memperbaiki peta yang digunakan umum ketika itu.

Dalam buku “ The History of Arabs”  karya Philip Khuri Hitti, Ibn Hawqal yang juga seorang saudagar ini menceritakan bahwa Palermo memiliki istana yang sangat indah di pusat kota. Istana yang berdampingan dengan masjid besar yang juga tak kalah indahnya ini berdiri di atas bekas Katedral Romawi. Di kota ini berdiri tak kurang dari 300 masjid, madrasah ( sekolah), pemandian, taman dll. Ia juga melaporkan adanya universitas bernama Balerm.

Namun tentu saja kami belum dapat membuktikan itu semua karena hari telah larut malam. Rencananya kami baru akan keliling Palermo esok lusa. Besok kami akan mengunjungi beberapa kota yang berada di sebelah barat kota ini.

Palermo, 25/10/2010.

Wuih, kalah Jakarta  .. Muacetnya bukan main. Ternyata kota tua ini padat penduduk. Untuk menuju jalan ke luar kota saja butuh waktu hampir 2 jam ! Itupun setelah menempuh jalan berputar menghindari kemacetan. Akibatnya kunjungan ke Monreal, kota kecil barat daya Palermo yang jaraknya tak lebih dari 10 km dari Palermo itu terpaksa harus di jadwal ulang.

Teater Segesta

Teater Segesta

Kami langsung menuju ke Segesta dan Selinunte yang berada di tengah dan selatan Sisilia. Di kedua kota di atas bukit ini, seperti juga di banyak tempat di Sisilia ini, kami menyaksikan reruntuhan peninggalan Romawi yang dibangun sekitar abad 5 hingga 3 sebelum Masehi, berupa temple (kuil kuno) dan teater Romawi. Kompleks reruntuhan ini amat mirip dengan kompleks reruntuhan yang banyak dijumpai di Roma maupun di Yunani. Sejarah Sisilia memang unik.

Pulau berbentuk menyerupai segi tiga seluas 25.708 km persegi ini terletak di selatan Italia daratan yang bentuknya seperti sepatu boot. Pulau terbesar di laut Mediterania ini terletak  di sebelah timur laut Tunisia di Afrika Utara. Meskipun Sisilia saat ini berada di bawah wilayah kekuasaanItalia, pulau ini memiliki kultur khas yang berbeda dengan wilayah-wilayah Italia lain pada umumnya.

Tampak bahwa pengaruh beberapa peradaban besar seperti Romawi, Byzantium, Islam dan Spanyol yang pernah menguasai Sisilia tidak bisa dihapuskan begitu saja. Pada masa Romawi dan Byzantium inilah kuil-kuil dan teater-teater Romawi dibangun. Kuil yang berdiri di Segesta dan Selinunte dibangun pada abad yang sama yaitu, pada abad 5 SM. Kuil-kuil di  Selinunte adalah kuil Yunani yang dipersembahkan kepada dewa Hera. Sedangkan teater di Segesta dibangun 2 abad setelah itu.

Kuil Selinunte

Kuil Selinunte

Pada masa lalu, kuil Yunani dan Romawi yang hampir selalu dibangun di atas bukit ini adalah tempat ibadah para kaum pagan ( penyembah berhala). Di tempat inilah biasanya diadakan ritual persembahan korban bagi para dewa. Korban pada umumnya adalah remaja perempuan.  Ironisnya,  sejarah ritual ini ternyata sebenarnya berkaca dari kisah penyembelihan nabi Ibrahim as terhadap putranya, Ismail as !

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka)”.(QS.An-Nisa(4):49-50).

Ibnu ‘Abbas menjelaskan bahwa kedua ayat diatas diturunkan berkenaan dengan kebiasaan kaum Yahudi yang menyuruh anak-anak mereka untuk memimpin ibadah mereka dan mempersembahkan kurban-kurban mereka . Mereka mengira bahwa dengan demikian mereka tidak mempunyai dosa-dosa. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Fenomena yang kurang lebih sama dengan para Musrykin Mekah sebelum datangnya Islam. Dengan dalih demi mendekatkan diri kepada Sang Khalik, mereka melakukan semua ini. Karena sebenarnya mereka ini pada dasarnya mengakui Tuhan Semesta Alam Yang Satu yaitu, Allah swt.

… … Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.  … … “. (QS.Az-Zmar(39):3).

Kemudian karena bujukan syaitan dan nafsu ingin menguasai manusia lain, orang-orang ini menciptakan Tuhan-tuhan sendiri sesuai dengan kehendaknya.   Maka jadilah Zeus, Yupiter, Shiwa, Latta, Uzza, Manna dsbnya sebagai tuhan yang mereka sembah. Dewa-dewa ini masing-masing mereka gambarkan memiliki kekuasaannya sendiri-sendiri.

Ironisnya lagi, ternyata penyembahan dan ritual pengurbanan cara barbar ini masih ‘eksis’ hingga detik ini. Bagi penggemar novel-novel karya Dan Brown seperti The Da Vinci Code, The Lost Symbol pasti kata Freemason, Illluminaty dll bukanlah sesuatu yang asing.  Dengan berani penulis kelahiran Amerika Serikat ini membeberkan bahwa organisasi-organisasi elit dunia yang masih mempraktekkan ritual mengerikan ini benar-benar ada di dunia nyata!   Na’udzubillah min dzalik ..

Hal lain yang juga menarik, di Segesta, tak berapa jauh dari teaternya, terpampang sebuah papan keterangan yang menerangkan bahwa di lokasi tersebut dulunya berdiri sebuah  masjid. Masjid tersebut memang kecil namun tetap saja cukup membuat hati senang. Apalagi ketika mengetahui bahwa mihrab masjidnya juga diberi tanda.

Setelah puas melihat kedua kota tersebut, kami kembali ke Palermo. Namun sebelumnya kami sempatkan mampir dulu ke Monreal yang tadi pagi tertunda. Kota ini berdiri di atas bukit. Pemandangan menuju ke tempat tersebut sungguh cantik. Lampu-lampu kota berkedip-kedip dibawah sana. Sementara matahari yang mulai menyembunyikan dirinya ke balik laut menambah indahnya pemandangan.

Setelah melalui jalanan yang berkelak-kelok akhirnya kami tiba di tujuan, Duomo ( Cathedral ) de Monreale. Inilah salah satu tujuan utama wisatawan ke Sisilia. Kami menyadari bahwa kami tak mungkin mengunjungi bekas masjid yang dikabarkan masih banyak menyimpan sisa-sisa ke-Islaman-nya ini. Malam itu kami hanya berkeliling dan melihat-lihat dari luar saja.

Palermo, Monreal, Cefalu- 26/10/2010.

Di tengan kepadatan lalu lintas Palermo, akhirnya sampai juga kami ke tujuan utama kota ini. Selama perjalanan dari hotel ke tempat tersebut kami sempat menangkap sisa nafas Islam berserakan dimana-mana. Bangunan-bangunan tuanya meski kotor dan terkesan kurang dirawat  masih menyisakan ‘bau’ arsitektur Arab-Muslim. Ternyata sejarah memang mencatat bahwa raja-raja Katolik Normandi yang menguasai Sisilia tak lama setelah mengalahkan kerajaan Islam pada tahun 1071 berhasil mempertahankan budaya toleransi yang diwariskan kerajaan Muslim tersebut. Selama jangka waktu tertentu, umat Islam dan Yahudi tetap diizinkan melaksanakan kegiatan di tempat ibadah masing-masing meski dengan catatan tunduk kepada peraturan penguasa. Begitu pula dengan bangunan-bangunannya. Masing-masing saling terpengaruh dan dipengaruhi kultur agama dan budaya lain.

Sebelum Islam berkuasa di Sisilia, pulau ini menjadi bagian dari Byzantium di bawah raja Justinian I. Bahasa Yunani adalah bahasa resmi mereka. Pada tahun 652, di masa kejayaan kalifah Ustman bin Affan, pulau ini sempat dikuasai  walaupun hanya dalam waktu singkat karena pasukan Arab tersebut kemudian meninggalkannya. Selanjutnya, sejak sekitar tahun 700-an, setelah pasukan Islam dibawah kekhalifahan Umayah berhasil menaklukkan Afrika Utara, pasukan ini beberapa kali mencoba menguasai Sisilia. Namun selalu gagal.

Pada tahun 826 M, Euphemius, seorang laksamana Byzantium berontak dan kemudian menjadi penguasa di Siracus, salah satu kota penting di Sisilia. Karena khawatir akan diserang Byzantium, ia memohon bantuan Ziyadat Allah, emir Aghlabid dari Tunisia agar menaklukkan Sisilia. Maka Ziyadatpun mengutus Asad ibn-Furat, seorang kadi ( hakim ) yang pernah menjadi murid Imam Malik untuk memenuhi permohonan tersebut.

Setahun kemudian, sang panglima senior yang ketika itu usianya telah mencapai 60 tahun itupun  berhasil melaksanakan misinya dengan sukses besar. Ia berangkat dengan membawa 10.000 pasukan infanteri, 700 kavaleri dan 100 kapal. Sejak itulah dimulai dominasi Islam, yaitu Emirat Sisilia, selama 200 tahun. Sayangnya, Asad sendiri tidak lama menikmati kejayaan tersebut. Ia gugur di pertempuran.

Sementara Euphemius dibunuh satu tahun kemudian oleh seorang penjaga kerajaannya sendiri  di Enna, sebuah kota di kaki gunung Etna, salah satu gunung berapi berbahaya di dunia. Menurut mitos Yunani kuno, di gunung inilah, monster Typhon, dipenjarakan oleh Zeus, dewa langit dan petir yang disembah oleh bangsaYunani kuno. Zeus bagi mereka adalah King of Gods alias Tuhan langit dan bumi !

Sebenarnya inilah yang menjadi latar belakang penaklukkan pasukan Islam. Islam mengajarkan bahwa penyembahan hanya kepada Allah swt, Tuhan seluruh alam semesta. Penduduk Sisilia, sebagaimana umumnya orang-orang Byzantium adalah penyembah berhala ( kaum Pagan). Inilah agama warisan Yunani kuno yang mempercayai dewa-dewa seperti Zeus, Hera, Athena, Apollo dll.

“… … Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila`nati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untukku) dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka … … “.(QS.An-Nisa(4):116-119).

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan”. QS.Al-Anfal(8):39).

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. “.(QS.An-Nisa(4):76).

Penaklukkan Sisilia dalam rangka menegakkan kalimat Tauhid tidaklah semudah membalikkan tangan. Selama bertahun-tahun para hamba pilihan Allah itu harus bertempur sengit, berjihad mendirikan semangat baru “ Allahuakbar La illaha illa Allah wa ashadu an Muhammad Rasulullah “ , Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.

Palermo baru berhasil ditaklukkan 4 tahun kemudian yaitu pada tahun 831. Penaklukkan alot ini terjadi setelah didatangkannya bantuan mujahidin sebanyak 30.000 pasukan dari Afrika dan Andalusia. Setelah itu Palermopun dijadikan ibu kota Emirat Sisilia dengan nama “ Al-Madinah” yang berarti “ The City”  atau kota. Sementara Taormina baru jatuh pada tahun 902 dan seluruh pulau akhirnya takluk pada tahun 965. Allahuakbar ..

Dibawah kekuasaan Islam inilah Sisilia mengalami kejayaan dan kemegahan. Islam tidak saja mengajarkan pentingnya tunduk kepada Sang Khalik namun juga mengajarkan bagaimana caranya memanfaatkan alam yang merupakan berkah dari-Nya. Dengan izin-Nya, maka jeruk, pistachio ( sejenis kacang) dan tebu yang diperkenalkan ke daerah tersebut menjadi sumber kekayaan Sisilia. Ini semua berkat sistim pengairan yang diajarkan kepada mereka.

( Bersambung)

Paris, 4 Januari 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”.

Kata-kata ini terus terngiang di telinga dan semoga tak akan terlupakan … selamanya, Insya Allah. Kata-kata ini lebih terasa lagi ‘adem’ dan berkesan karena yang mengatakannya adalah orang yang tinggal di lingkungan kafir. Orang itu adalah petugas medis, warga Perancis keturunan Maroko yang telah lama menetap di negri pemilik menara Eiffel yang terkenal itu.

Ceritanya begini. Suatu hari dokter yang memeriksa saya merujuk agar saya menjalani pemeriksaan tulang. Maka sesuai dengan ‘rendez-vous’ yang saya peroleh, sayapun pergi ke laboratorium yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari apartemen dimana kami tinggal itu. Namun ntah mengapa saat itu tak terpikirkan sama sekali bahwa petugas medis bisa jadi seorang laki-laki, yang berarti bukan muhrim dan tidak berhak melihat aurat perempuan.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS.An-Nur(24):31).

Dan sialnya, itulah yang terjadi. Saya baru sadar setelah petugas tersebut menerangkan prosedur yang harus dijalani. Apa boleh buat … terlanjur. Di Perancis ini memang ada aturan, walaupun tidak tertulis, bahwa dokter atau petugas medis maupun pasien sama-sama tidak berhak memilih-milih dokter atau pasien menurut jenis kelamin. Bisa-bisa kita malah dituduh homo atau lesbian ! Na’udzu billah min dzalik ..

Singkat cerita, di tengah pemeriksaan sang petugas menanyakan apakah saya seorang Muslim. Ketika saya mengiyakan iapun menyambung bahwa ia juga Muslim. Alhamdulillah .. Maka dengan rasa bersalah saya menanyakan apakah di laboratorium itu tidak ada petugas perempuan. “ Ada”, jawabnya tegas.“ Yaah ..”, hanya itu yang bisa saya katakan. Sesal kemudian tidak ada gunanya ..:-(( … Pantas tadi ketika ia menerangkan prosedur pemeriksaan wajahnya sedikit mencerminkan keraguan.

Tidak perlu terlalu khawatir .. saya yakin, jika tujuannya untuk kebaikan dan kesehatan Allah swt pasti mau memahami dan memaafkan”, katanya berusaha menghibur. Saya tidak tahu harus menjawab apa. “ Salah sendiri tadi g tanya dulu .. minimal usahalah”, pikir saya benar-benar menyesal.

Selesai pemeriksaan, kami sedikit berbincang tentang Islam di negri ini. Ketika saya menceritakan bahwa anak saya menemui kesulitan dalam menjalankan shalat di sekolah, ia menjawab bahwa iapun dulu begitu. Shalat harus sembunyi-sembunyi. Shalat Jumat malah hampir tidak mungkin. Sekarang, tidak saja shalat Zuhur dan Ashar,  shalat Jumatpun tidak pernah ketinggalan.  “Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”, katanya mantap sambil tersenyum kecil seolah menyindir saya yang lalai karena tidak mencari petugas medis perempuan … L . “ Ya Allah, Ya robbi, semoga Engkau mengampuni hamba-Mu  yang lalai ini”.

Saya jadi teringat suami saya. Ia bercerita bahwa tim kerjanya di kantor terbiasa mengadakan meeting setiap Jumat ba’da makan siang. Suatu hari,  setelah tiga kali berturut-turut ia selalu absen, akhirnya salah seorang dari timnya menegur. “ Saya kan sudah katakan bahwa setiap Jumat siang saya pasti tidak berada di kantor. Saya punya kewajiban untuk menunaikan ajaran agama saya yang tidak mungkin ditinggalkan”. Maka sejak saat itu meetingpun dipindahkan ke hari lain. Subhanallah .. Sekali lagi terbukti : “Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”.

… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar … “. (QS.Ath-Thalak(65):2-3).

Demikian juga pengalaman anak-anak saya. Ketika anak perempuan saya baru masuk ke sekolah barunya, para orang-tua menganjurkan anak-anaknya agar shalat di dalam bus saja (bus antar jemput sekolah) bila shalat di sekolah tidak memungkinkan. Waktu musim panas memang tidak masalah karena anak-anak tiba di rumah waktu ashar masih ada. Tetapi di musim dingin tidak mungkin. Karena mereka ( yang usia SMA) pulang sekolah waktu ashar sudah habis. Namun ternyata beberapa minggu kemudian anak saya melaporkan bahwa ia bisa shalat zuhur dan ashar di perpustakaan walaupun hanya dengan duduk …  😦

Padahal sebenarnya beberapa hari yang lalu, begitu melihat ada kesempatan, saya menawarkan untuk mengirim email kepada kepala sekolah supaya menyediakan ruangan kecil yang bersih dan tenang, agar anak-anak bisa menjalankan shalat di dalamnya. Namun anak saya keberatan. “ Udah mending kali bu kita shalat didiemin aja .. ntar malah dilarang gimana .. “, begitu katanya ragu. Akhirnya sayapun membatalkan niat tersebut. Dengan alasan laic ( sekuler) sekolah ( baca pemerintah Perancis) memang melarang adanya kegiatan keagamaan di lingkungan umum termasuk sekolah. Yaah .. apa mau dikata ..

Sebaliknya anak lelaki saya yang sedang menuntut ilmu di benua Kanguru melaporkan bahwa selama kuliah ia bisa menjalankan shalat tanpa kesulitan berarti. Ia dapat mencari dan memanfaatkan ruangan-ruangan kampus yang jarang dipakai. Alhamdulillah ..

Namun saya pikir mungkin masalahnya agak berbeda. Anak perempuan perlu keberanian lebih dibanding anak laki. Karena anak perempuan  harus menutup auratnya dengan sempurna. Orang Indonesia biasanya memakai mukena.

Lain lagi halnya dengan pengakuan seorang teman yang tinggal di salah satu kota Perancis. Teman saya ini berniat mengikuti kegiatan masak memasak yang diselenggarakan seorang temannya yang non Muslim. Wajar bila kemudian ia ragu dengan kehalalan daging yang digunakan untuk memasak.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah …”.(QS.Al-Baqarah(2):173).

Namun ia juga ragu bagaimana sebaiknya bersikap. Antara keinginan yang menggebu karena teman saya ini doyan sekali masak dan rasa takut kepada-Nya, mendorongnya mengadukan keresahan tersebut dengan berkirim email kepada saya. Belum sempat saya membalas email tersebut, ia mengabarkan bahwa setelah bermunajat kepada Sang Khalik, ia membulatkan tekad untuk langsung meminta temannya itu agar menggunakan daging halal. Anehnya, tanpa banyak tanya, sang ‘chef’ yang biasanya sulit diajak kompromi itu menyetujuinya! Subhanallah .. ( Saya mendapat kabar bahwa hanya beberapa hari sebelum peristiwa tersebut teman saya itu mulai menutup auratnya dengan baik alias berjilbab .. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya .. )

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.(QS.Al-Baqarah(2):186).

Bicara soal makanan halal. Pagi tadi saya baru menerima info tentang website yang memuat daftar resto halal di seluruh dunia. Menurut web bernama Zabihah ini (http://www.zabihah.com/ ) Perancis adalah negara no 1 di Eropa yang mempunyai retoran halal (165 ). Peringkat 2 diduduki Jerman ( 154) dan peringkat 3 adalah Spanyol (108).

Web ini juga mencamtumkan daftar masjid di seluruh dunia lengkap dengan alamat dan petanya ! Allahuakbar … Tampaknya sudah tidak ada lagi alasan bagi Muslim yang bepergian ke luar negri untuk tidak shalat di masjid dan makan di restoran yang tidak menyajikan masakan halal. Walaupun seringkali, berdasarkan pengalaman, tidak mudah menemukan alamat masjid meski dengan pertolongan GPS sekalipun.  Karena kebanyakan masjid-masjid tersebut ( khususnya di Perancis) hanyalah masjid kecil yang letaknya betul-betul terpencil dan sulit dicapai …:-((

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 15 Desember 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Abu Jahal pernah berkata, “Kami tidak pernah mendustakan engkau dan engkau bukanlah seorang pendusta. Namun, kami mendustakan apa yang engkau bawa“.

Pengakuan Abu Jahal terhadap kerasulan Muhammad pun diungkapkan Abu Dzar Al-Ghifari. Saat itu Abu Dzar belum memeluk Islam dan ia pun menjadi sahabat dekat Abu Jahal. Keduanya dipersatukan dalam kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Setiap kali Abu Dzar datang ke kota Mekah, ia selalu membawa barang-barang dagangan yang akan ia jual melalui perantaraan Abu Jahal.

Alkisah diceritakan bahwa terjadi sesuatu di luar kebiasaan. Suatu ketika Abu Dzar datang ke Mekah tanpa membawa barang dagangan satu pun, termasuk uang perniagaan. Hal ini tentu saja membuat Abu Jahal heran. la pun bertanya kepada Abu Dzar, “Apakah kau membawa barang dagangan, hai sahabatku?”

Abu Dzar menjawab, “Seperti yang kaulihat, aku tidak membawa apa pun.

Apakah engkau membawa uang?” tanya Abu Jahal kembali.

“Tidak juga,” jawab Abu Dzar singkat.

Melihat ada sesuatu yang tidak biasa pada sahabatnya, Abu Jahal kembali bertanya, “Ada apa denganmu? Apa yang membuatmu datang jauh-jauh ke Mekah tanpa membawa barang dagangan atau uang? Adakah tujuanmu yang lain?”

Melihat kerisauan sahabatnya, Abu Dzar mencoba menenangkannya dengan menjawab, “Sahabatku Abu Jahal, kali ini kedatanganku bukan untuk mengadu untung dalam perdagangan.”

“Lantas untuk apa?” tanya Abu Jahal yang makin penasaran.

Aku ingin bertemu dengan kemenakanmu.”

Jawaban Abu Dzar makin membingungkan Abu Jahal. Abu Jahal pun kembali bertanya, “Kemenakanku? Siapakah yang kaumaksud?”

“Muhammad,” jawab Abu Dzar singkat.

“Muhammad?” ulang Abu Jahal untuk meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.

“Ya. Kudengar dari beberapa sahabatku bahwa Muhammad, kemenakanmu itu telah diangkat menjadi seorang rasul. Engkau harus bangga mempunyai kemenakan semulia itu, sahabatku!” jelas Abu Dzar panjang lebar. Ia tidak tahu bahwa sang paman tidak menyukai risalah yang dibawa kemenakannya, Muhammad.

Abu Jahal yang tidak ingin Islam memengaruhi sahabatnya segera mencegah Abu Dzar untuk bertemu Rasulullah saw dan berkata, “Sahabatku, dengarkanlah aku jika kau ingin selamat, jangan kautemui dia! Sekali-kali jangan pernah kau menemui kemenakanku itu!”

“Mengapa kau berkata seperti itu?” tanya Abu Dzar Al-Ghifari heran.

Abu Jahal menjelaskan, “Kautahu, Muhammad itu sangat menarik. Ia sangat memesona. Sekali berjumpa dengannya, aku jamin kaupasti akan benar-benar terpikat dengannya. Wajahnya bersih, perkataannya berisi mutiara indah dan selalu benar. Perilakunya sangat lembut dan sopan membacakan wahyu. Semua kalimatnya menyentuh jiwa.”

Tentu saja jawaban Abu Jahal sangat berlawanan dengan sarannya untuk tidak menemui Rasulullah saw. Di satu sisi ia melarang Abu Dzar untuk bertemu kemenakannya, tetapi di sisi lain ia memberikan alasan yang baik-baik tentang Rasulullah saw.

Abu Dzar mengungkap keheranannya seraya berkata, “Aku tidak mengerti, tetapi apa itu berarti kau yakin dia seorang rasul?”

Abu Jahal langsung mengiyakan. Katanya, “Jelas. Mustahil rasanya jika ia bukan seorang rasul. Ia baik kepada semua orang tua dan muda, begitu pula budi pekerti dan akhlaknya sangat mulia. Satu hal lagi yang perlu kauketahui, ia sangat tabah menghadapi apa pun yang terjadi padanya. Ia mempunyai daya tarik yang hebat sekali.”

“Aku tidak habis mengerti terhadapmu, Abu Jahal sahabatku,” tandas Abu Dzar, “kaubilang bahwa kauyakin kemenakanmu itu adalah seorang rasul.”

“Yakin betul. Aku tidak pernah meragukannya sedikit pun,” tegas Abu Jahal.

“Apakah kaupercaya bahwa ia benar?” tanya Abu Dzar kembali.

“Lebih dari sekadar percaya,” Jawab Abu Jahal.

“Tapi engkau melarangku untuk menemuinya …,” tanya Abu Dzar masih dengan keheranan.

Abu Jahal menjawab “Begitulah ….”

“Lalu, apakah engkau mengikuti ajaran agamanya?”

Abu Jahal tersentak dengan pertanyaan sang sahabat. “Ulangi sekali lagi pertanyaanmu …,” pinta Abu Jahal.

“Apakah engkau mengikuti agamanya menjadi pemeluk Islam?” Abu Dzar kembali mengulangi pertanyaannya seperti permintaan Abu Jahal.

Tidak bisa mengelak, Abu Jahal berkilah, “Sahabatku, sampai kapan pun aku tetap Abu Jahal. Aku bukanlah orang gila. Aku masih waras. Berapa pun kaubayar aku, aku tidak akan menjadi pengikut Muhammad!”

Abu Jahal melanjutkan, “Meskipun aku yakin bahwa Muhammad itu benar, aku tetap akan melawan Muhammad sampai kapan pun. Sampai titik darah penghabisanku.”

“Apa sebabnya?” tanya Abu Dzar.

Kautahu sahabatku, jika aku menjadi pengikut kemenakanku sendiri, kedudukan dan wibawaku akan hancur. Akan kuletakan di mana mukaku di hadapan bangsa Quraisy?”

Abu Dzar menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya akan pemikiran sahabatnya, ” Pendirianmu keliru, sahabatku.”

“Aku tahu aku memang keliru,” ujar Abu Jahal.

Abu Dzar mengingatkan sahabatnya, “Kelak, engkau akan dikalahkan oleh kekeliruanmu.”

Baik, biar saja aku kalah. Bahkan, aku tahu diakhirat kelak akan dimasukkan ke dalamneraka jahanam. Namun, aku tidak mau dikalahkan Muhammad di dunia walaupun di akhirat sana aku pasti dikalahkan,” jawab Abu Jahal sambil berlalu meninggalkan Abu Dzar yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Abu Jahal tetap dalam pendiriannya. Ketika Perang Badar berlangsung, ia ditanya oleh Akhnas bin Syariq, “Hai, Abu Jahal! Di sini hanya kita berdua dan tidak ada orang lain, ceritakanlah tentang diri Muhammad, apakah benar dia itu orang yang jujur atau pendusta?”

Demi Tuhan! Sesungguhnya Muhammad itu adalah orang yang benar dan tidak pernah berdusta!

=========== =============== ================= ============

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 12 Desember 2010.

Vien AM.

Diambil dari :

http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/pengakuan-abu-jahal.html#comment-form

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »