Senin 18 Juni 2018 sekitar 14.30 WITA, pesawat yang kami tumpangi selama sekitar 2 jam 20 menit, mendarat dengan aman di bandar udara internasional Komodo, Labuan Bajo. Di luar perkiraan, ternyata bandara di kota tersebut meskipun kecil, cukup bagus, modern dan bersih. Yang lebih menarik lagi adalah desain bandara yang menghadap landasan pesawat dimana foto-foto komodo dipajang secara mencolok hingga mampu mewakili “ Sang Komodo” sebagai tuan rumah.
Labuan Bajo adalah ibu kota kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan titik keberangkatan wisatawan menuju Taman Nasional Komodo yang saat ini sedang ramai-ramainya diserbu wisatawan lokal maupun mancanegara. Taman Nasional ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Dengan tujuan utama demi melindungi satwa Komodo yang jumlahnya sangat terbatas.
Taman Nasional Komodo terdiri dari 3 pulau besar yaitu pulau Komodo, pulau Rinca dan pulau Padar serta sekitar tiga- puluhan pulau kecil lainnya. Namun komodo hanya dapat ditemui di pulau Komodo, pulau Rinca dan pulau Gili Motang. Hanya di tiga pulau inilah komodo hidup secara bebas, tidak di tempat lain di belahan bumi manapun di dunia ini.
Tak heran bila pulau ini mempunyai daya tarik tersendiri, disamping keindahan dasar lautnya yang sejak lama sudah dikenal wisatawan mancanegara. Namun beberapa tahun belakangan ini wisatawan ke Taman Nasional Komodo, terutama wisatawan local, melonjak drastis. Ada apakah gerangan?? Ternyata penyebabnya adalah pulau Padar, yang keindahannya sungguh menakjubkan mata. Saya pertama kali melihat foto keindahan pulau Padar tahun 2017 lalu, berkat akun FB seorang teman.
Guide kami, pak Latief, menceritakan bahwa ia mendengar kabar tersebut justru dari wisatawan yang datang dari Jakarta. Maka ia dan beberapa teman sesama guide segera mencari lokasi yang dimaksud. Sejak itulah wisatawan lokal ke Komodo ramai berdatangan. Kini sejumlah agen perjalanan berlomba menawarkan paket liburan Taman Nasional Komodo dengan bermalam satu atau 2 malam di atas kapal.

Setelah cek-in hotel dan melihat-lihat pemandangan sekitar hotel kami berangkat menuju bukit Sylvia untuk menyaksikan sunset. Bukit yang nama aslinya bukit Cinta ini hanya berjarak sekitar setengah jam dari hotel. Nama Sylvia baru belakangan ini lebih popular dari nama aslinya karena adanya hotel bernama Sylvia di bukit tersebut. Menurut pak Latief, sebagian pulau yang ada wilayah tersebut telah dibeli dan dimiliki pihak asing. Miriiis …
Esok harinya, kami cek out hotel dan menuju pelabuhan untuk memulai perjalanan di atas kapal. Sebuah kapal berwarna putih ukuran sedang dengan 4 buah kamar tidur ber-AC, dan 3 ABK sudah siap menanti. Kapalpun segera berlabuh meninggalkan pelabuhan menuju pulau Rinca.


Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh menakjubkan. Birunya laut ditambah menyembulnya pulau-pulau kecil berbukit tak berpenghuni dengan ilalang kuning-kecoklatan akibat kekeringan justru menambah cantik dan uniknya pemandangan.
“ Kita mampir pulau Kelor dulu ya”, kata pak Latief. “ Disana kita bisa melihat pemandangan dari atas bukit”, sambungnya lagi.
Pada awal perjalanan, saya sudah berniat hanya akan naik ke bukit di pulau Padar saja, yang sudah jelas pemandangannya terbukti cantik. Maksudnya untuk menghemat tenaga supaya tidak terlalu lelah. Tapi anak-anak mendesak, meyakinkan saya harus naik karena pemandangan di bukit tersebut tidak kalah cantiknya dengan pulau Padar. Ditambah lagi ajakan pak Latief bahwa saya dan suami tidak perlu naik sampai ke tempat yang tertinggi.
“ Sampai pohon itu saja bapak dan ibu. Tidak sulit koq. Kalau naik bukit disini saja bisa, pulau Padar pasti lolos .. disana sudah dibuatkan tangga soalnya bu pak .. ”, tegasnya.
Hhmm .. hitung-hitung latihan deh, pikir saya. Maka jadilah kami menaikinya meskipun tetap tidak sampai puncak seperti anak-anak.

Masya Allah … Ternyata benar apa yang dikatakan anak-anak. Bumi Allah dimanapun berada memang benar-benar menakjubkan. Dari tempat kami berdiri, pulau Kelor yang imut itu terlihat begitu indah. Laut biru gradasi tosca dengan bingkai pasir putih nan lembut membentuk tanjung serta pulau dengan deretan bukit-bukit kecoklatan dengan kontur yang begitu mempesona sebagai latar belakang, sungguh tak mampu menyembunyikan betapa tingginya “selera” Sang Pencipta Allah Azza wa Jalla. Semua serba paas, sesuai ukuran, tidak berlebihan hingga sungguh indah di pandang mata. Allahu Akbar …
“ Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”.( Al-Hijr(15):19).
Puas menyaksikan pemandangan pulau Kelor, kamipun melanjutkan perjalanan ke pulau Rinca. Menurut pak Latief kalau ingin melihat hewan langka komodo sekaligus menikmati pemandangan alam, pulau Rinca lebih cantik dari pada pulau Komodo. Disamping itu karena bulan April hingga Agustus adalah musim kawin bagi komodo kecil kemungkinannya melihat binatang tersebut di pulau Komodo. Maklum pulau Komodo selain 2x lebih besar dari pulau Rinca juga lebih banyak pepohonannya, tidak seperti pulau Rinca yang merupakan savanna. Perjanjiannya kalau di pulau Rinca kita tidak bertemu kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m itu, baru kita akan ke pulau Komodo.
“ Ketika kawin komodo biasanya menyembunyikan diri. Mereka tidak suka dilihat”, kata pak Latief.
Masya Allah .. binatang saja rupanya pula malu. Betapa buruknya manusia yang tidak punya malu apalagi melakukan perbuatan intim di tempat terbuka, bukan dengan suami/istrinya pulak … Na’udzubillah min dzalik.
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam tibalah kami di pulau Rinca. Kapal merapat ke Loh Buaya yang merupakan gerbang menuju pulau tersebut. Perjalanan tidak terasa melelahkan karena selain pemandangan yang menakjubkan di kapal juga kita bisa santai menikmati makan siang hasil karya koki kapal yang lumayan enak. Apalagi sambalnya, kata suami dan anak-anak yang memang menyukai sambal.

Baru memasuki gerbang selamat datang di Loh Buaya kami sudah disambut seekor komodo ukuran sedang yang akan menyebrangi jalan setapak yang kami lewati. Tak urung terselip juga rasa takut di hati melihat binatang berkulit keras dan kasar tersebut. Apalagi kami belum bertemu ranger yang bakal mendampingi kami. Ranger adalah semacam pawang binatang dalam hal ini komodo, yang senantiasa mendamping tamu yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo.
“ Tenang bapak ibu mas mbak, saya pernah jadi ranger selama beberapa tahun koq sebelum jadi guide”, ujar guide asal pulau Komodo tersebut, menenangkan.
Dengan hati lebih tenang kamipun melanjutkan perjalanan. Ternyata kami memang beruntung. Tak lama setelah bertemu sang ranger dan di briefing, kami melihat lagi 2 ekor komodo dengan ukuran lebih besar sedang bersantai tak jauh dari tempat kami. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk secepatnya berfoto, dalam jarak aman tentunya. Dibawah pengawasan sang ranger pak Latief mengambil gambar kami, dan segera memperlihatkan hasil jepretannya. Kami semua tercengang dibuatnya karena hasilnya benar-benar di luar dugaan. Dalam foto tersebut komodo terlihat sangat dekat dengan kami. Bravo … 🙂 …
Selanjutnya, dalam perjalanan menuju bukit untuk menyaksikan panorama sekeliling pulau kami kembali melihat seekor komodo yang sedang berjalan pelan. Selain komodo kami juga melihat sejumlah monyet, rusa dan kerbau yang merupakan makanan komodo. Puncaknya, tidak jauh dari sarang telur komodo terlihat pemandangan langka yaitu sepasang komodo kawin. Menurut sang ranger kedua komodo tersebut sejak pagi hari sudah dalam posisi demikian.
“Itu belum kawin. Si pejantan dengan sabar menunggu hingga si betina siap”, jelasnya.
Allahu Akbar .. hewan berpenampilan kasar bahkan kanibal karena sewaktu-waktu bisa memakan daging saudaranya bahkan anak kandungnya sendiri ternyata bisa juga sabar mengendalikan syahwatnya. Bagaimana dengan manusia?? Selain nafsu syahwatnya komodo juga dikenal dapat mengendalikan nafsu makannya. Ia bisa tahan tidak makan hingga sebulan lamanya setelah malahap seekor kerbau yang ditungguinya 3 minggu setelah ia menggigitnya. Lidah komodo yang berfungsi sebagai indra peraba mengandung racun yang bekerja lumayan lama, yaitu sekitar 3 minggu.
Komodo pertama kali ditemukan pada tahun 1910 oleh pasukan Belanda, yang kemudian melaporkan temuan tersebut kepada letnan Steyn van Hens Broek. Letnan inilah yang kemudian menamai pulau dimana hewan tersebut pertama ditemukan dengan nama Komodo. Namun demikian penduduk setempat lebih sering menyebut binatang langka tersebut dengan nama Ora. Lucunya lagi penduduk setempat juga menyebut komodo dengan buaya darat … 🙂
Setelah puas menyaksikan sepasang komodo yang tidak juga bergeming itu, kamipun melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya tibalah kami di sebuah hamparan luas dimana berdiri sebuah pondok kayu untuk beristirahat. Dengan segera kami mendekatinya. Ternyata Masya Allah … Di depan sana terlihat pemandangan indah teluk yang dikelilingi bukit-bukit. Disanalah kapal kami bersandar, dan dari sana pulalah tadi kami masuk.
Sekitar pukul 4 sore kami meninggalkan Loh Buaya menuju pulau Padar. Hujan rintik2 mulai membasahi bumi. Sejak kami mendarat di Labuan Bajo kemarin mendung memang terus menyertai perjalanan kami. Tapi baru hari ini hujan turun. Niat kami untuk shalat Zuhur yang digabung dengan shalat Asar di dek atas kapal terpaksa diundur, menunggu hujan berhenti. Itupun setelah akhirnya terlaksana ternyata tidaklah mudah. Gelombang yang cukup besar membuat kami tidak mampu berdiri dengan stabil.
Namun kami tetap dapat merasakan nikmatnya shalat dalam situasi yang tidak biasa tersebut, di bawah langit di tengah luasnya laut nan biru mempesona. Allahu Akbar …Apalagi setelah itu guide kami muncul membawakan 2 piring besar pisang goreng coklat keju yang masih panas, yang dalam waktu sekejap langsung habiiiz … Nikmatnya …
Sayang keinginan untuk shalat dibawah gemerlap cahaya bintang, baik Isya maupun Subuh tidak terpenuhi. Kapal merapat di pantai pulau Padar tak lama setelah matahari terbenam, dalam keadaan langit tertutup awan. Ini berlanjut hingga waktu Subuh esok harinya. Akhirnya kami terpaksa shalat di dalam kamar, sendiri-sendiri pula, karena tempat yang tidak memungkinkan untuk shalat berjamaa’ah, sekalipun hanya untuk berdua.
Sementara untuk kamar mandi, airnya sangat terbatas meski sebenarnya ruangannya sendiri tidak terlalu kecil dan cukup bersih. Namun kami dapat memakluminya, namanya juga di atas kapal. Sayangnya lagi, saya tidak berhasil tidur nyenyak malam itu. Pasalnya adalah gelombang air laut yang terus mengombang-ambingkan kapal kami, juga kapal-kapal lain yang parkir di pantai tersebut. Walaupun sebenarnya hanya gelombang kecil, yang setiap kali ada kapal datang memarkir maka kapal kami ikut terayun, berpindah posisi sesuai arah angin.
“ Kalau jangkarnya lepas gimana yaa “, pikir saya, ngerii … Astaghfirullahaladzim … “Nikmatnya punya dan kenal Sang Pemilik”, batin saya sambil terus berdoa.
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. .. “.( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):45).
Bersambung.








Mereka juga telah mempersiapkan diri menyambut tamu-tamu Muslimin dari berbagai negara.

Di sebuah resto ramen, masakan khas Jepang, berlabel halal di Kyoto kami sempat berbincang dengan seorang pramuniaganya. Selidik punya selidik ternyata ia adalah seorang mahasiswa Indonesia yang bekerja paruh waktu.
Mahasiswa tersebut sempat bercerita tidak mengalami kesulitan untuk shalat di kampusnya. Yang juga surprised, resto dimana ia bekerja mau menjadikan sedikit pojoknya sebagai mushola ( prayer room). Meski sang pemilik ternyata bukan seorang Muslim. Sayangnya mahasiswa asal Majalengka tersebut keberatan untuk ikut berfoto bersama kami. Alhasil lagi-lagi foto hanya menampilkan gambar kami ber-4, mahasiswa yang juga keberatan memperkenalkan namanya tersebutlah yang memotret kami.














Beruntung pada bulan September yang baru lalu kami diberi kesempatan Allah swt untuk mengunjungi masjid tersebut. Dengan menumpang Shinkansen, kereta api super cepat yang ber-kecepatan rata-rata 320 km/jam, kami tiba di Kobe dari Osaka.

Di kota pelabuhan tersebut kami juga sempat melewati beberapa toko berlabel Halal. Meski kami harus sedikit menahan kecewa karena tidak berhasil menemukan kebab Turki kesukaan si bungsu.
Mendekati waktu Zuhur kami segera menuju masjid. Sebuah plang tanda arah ke masjid terlihat di persimpangan pasar yang lumayan padat tersebut. Lulu mengingatkan untuk memperhatikan tanda tersebut agar ketika pulang menuju tempat rendez-vous nanti tidak tersasar. Ia mengantar kami hingga gerbang masjid. Terlihat beberapa lelaki berteriak-teriak di tempat tersebut. Tadinya kami tidak begitu paham apa yang mereka teriakkan dan inginkan. Setelah kami dengarkan baik-baik ternyata mereka meneriakkan “ fii sabilillah fii sabilillah”, alias sedang meminta infak/sodaqoh.
Alhamdulillah sebelum keluar saya sempat membagikan dulu jilbab yang sengaja saya bawa dari tanah air kepada beberapa ibu yang ada di barisan belakang. Juga mukena berbordir cantik dari Padang yang tadi saya kenakan. Dengan bahasa isyarat saya katakan bahwa saya dari Indonesia dan hadiah saya berikan sebagai tanda ukhuwah. Mereka tampak terkejut tapi dengan senang mereka menerimanya. Sungguh bahagia hati ini melihat ekspresi dan tanggapan mereka.




















Seksi pertama merupakan yang paling besar. Ada sekitar 8.000 patung prajurit dan kuda Terracotta, namun hanya sekitar 2.000 patung yang dipamerkan. Hebatnya tiap patung tersebut mempunyai ekspresi wajah dan posisi kucir rambut yang berbeda-beda. Ada yang kucir kiri, ada yang kanan dan ada yang di tengah. Masing-masing memiliki arti dan maksud tersendiri.


Akan halnya kaisar Qin Shi Huang, ia adalah kaisar pendiri dinasti Qin. Ia menjadi kaisar ketika usianya baru 13 tahun. Pada usia 38 tahun sang kaisar muda berhasil mempersatukan Cina, yaitu pada tahun 221 SM. Qin selain dikenal sangat berjasa dalam membangun peradaban Cina, juga dikenal sebagai seorang kaisar yang kejam.














Setiba di terminal kereta yang mirip bandara tersebut guide kami telah menanti. Kami langsung menuju hotel untuk istirahat. Esoknya jam 9 pagi setelah sarapan di hotel kami menuju tembok tua kota Xian.










Lagi-lagi kami dibuat terpana. Restoran dengan tulisan HALAL besar
tersebut terlihat mewah dan bagus. Lokasinyapun sangat strategis yaitu di samping The Drum Bell yang merupakan salah satu ikon Xian. Dan yang tak kalah pentingnya adalah masakannya yang cukup lezat …. Masya Allah …
Selesai menikmati makan siang kami langsung menuju masjid. Sekali lagi berhubung masih ada waktu, kami menyempatkan diri untuk melihat-lihat kios-kios yang ada di sepanjang jalan menuju masjid, mengingatkan suasana pasar Seng seberang Masjidil Haram yang sekarang sudah tidak ada lagi itu. Aneka kerudung, tasbih dll bercampur dengan aneka pernak-pernik pajangan khas Cina.
