Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Suka Duka Muslim di Perancis’ Category

Tepat dua belas tahun yang lalu, saya dan ke tiga anak kami ikut mendampingi suami tugas di Paris, Perancis. Si sulung ketika itu berusia 14 tahun, yang kedua 11 tahun dan si bontot, satu-satunya anak perempuan kami, berusia 6 tahun. Mereka bersekolah di sekolah international Perancis.

Secara umum, setidaknya dalam pandangan kami ketika itu, ketiganya tidak mengalami masalah serius baik dalam masalah pelajaran di sekolah maupun pergaulan.

Namun memasuki tahun ke tiga, ketika si sulung memasuki usia 17 tahun, saya perhatikan bahwa ada kegelisahan dalam dirinya. Selama ini, hampir setiap hari libur, bila tidak acara keluarga, ia sering ‘hang out’ bersama teman-teman sekolahnya. Ia mempunyai 2 sahabat, yang satu orang Austria, yang satu lagi, campuran Amerika -Perancis. Kami sekeluarga mengenal baik keduanya. Beberapa kali mereka sempat makan bersama kami di rumah.

Hingga suatu hari libur,  anak kami tersebut tidak mau ke luar rumah. “ G jalan sama Philip n Jonas, mas? Tumben …”, tanya saya. “ G ah, males”, jawabnya pendek.

Tetapi beberapa lama kemudian, terdengar ia berbicara sendiri, dengan nada jengkel « Sebel .. enak banget temen-temen pada jalan .. « .

Lhoh, kaget juga saya mendengar keluhan tersebut.

Ibu kan g ngelarang mas pergi, kalau mas pingin jalan-jalan, ya jalan aja  .. yang penting ati-ati jaga diri ”.

“Nah itu dia .. Nggi sebel .. sekarang mereka pada suka ke bar, minum bir .. masak Nggi cuma minum jus ? kan g lucu ..”, lanjutnya lagi, kesal.

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.(QS.Al-Maidah(5):91).

Astaghfirullahaladzim .. Rupanya itulah masalahnya.

Puji syukur hanya pada-Mu, Ya Allah  .. Karena tahun ajaran berikutnya, ketika saya dan suami, meski dengan berat hati, mengusulkan anak sulung kami tersebut untuk melanjutkan SMA nya di tanah air, ia mau menerima usulan tersebut.

“Enak banget sekolah di sini, lagi jalan rame-rame, kalo waktunya shalat pada saling ngingetin”, begitu komentarnya ketika beberapa bulan kemudian saya tanyakan bagaimana keadaannya. Alhamdulillah, lega nian hati ini. Meski berat berpisah dengannya namun yakin ini pasti lebih baik dari pada tetap bersama kami tapi pergaulannya beresiko tinggi.

Pengalaman 9 tahun silam ini ternyata terulang lagi tahun yang lalu. Bedanya, kali ini menimpa si  bontot.  Pada tahun 2009 suami kembali mendapat tugas ke Perancis. Namun kali ini ke Pau, kota kecil di Perancis Selatan, beberapa puluh kilometer dari perbatasan Spanyol. Dan hanya si bontot yang turut bersama kami.  Kedua kakaknya tidak ikut karena si sulung sedang menyelesaikan program S2nya di Australia, sementara si tengah juga sudah kuliah di perguruan tinggi negri  di Jakarta.

Karena sekolah international di kota kecil ini relatif masih baru, hingga belum membuka kelas untuk murid seusia anak perempuan kami, akhirnya ia kami masukkan ke sekolah lokal terbaik yang disarankan perusahaan. Sayangnya, sekolah tersebut ternyata sekolah kristen,  yang bahkan kepala sekolahnyapun seorang pendeta.

Setelah bertahan satu tahun dengan segala ke-tidak-nyaman-annya, termasuk program sekolah dengan pengantar bahasa Perancis yang sangat complicated tata bahasanya itu, berkat usaha gigih suami untuk dipindahkan ke kantor pusat, akhirnya kamipun pindah ke Paris. Tentu saja atas izin Allah swt. Meski sebenarnya beberapa kenalan Perancis suami mengingatkan bahwa pergaulan remaja di ibu kota akan lebih menyulitkan anak dari pada di Pau.

Singkat cerita, masuklah ia ke sekolah bertaraf international, sekolah yang sama dengan kakak-kakaknya dulu. Tahun pertama berjalan relatif lancar. Namun tahun berikutnya, ketika putri kami memasuki usia 17 tahun, timbullah masalah yang sama yang dihadapi putra sulung kami sembilan tahun lalu.

« Aduh bu, Dilla dipaksa-paksa untuk trima botol minuman alkohol yang disodorin temen-temen. Yaudah, akhirnya Dilla trima aja .. tapi trus dilla kasihin lagi ke temen lain”, begitu critanya seru, sepulang sekolah pada hari ulang tahunnya ke 17.

Hari-hari berikutnya, anak gadis kami tersebut mulai sering mengadukan hal-hal yang tidak disukainya. Ajakan teman-temannya untuk bermalam minggu di diskotek, merokok dll. Bahkan sahabatnya, seorang gadis Korea yang jago dance itu, mulai dikeluhkannya. Menurutnya, hobby dance sahabatnya itu agak tersendat karena rasa sungkannya terhadap dirinya. Ini membuatnya sedikit merasa tidak nyaman.

Pengalaman yang cukup menarik. Ibu Noa, begitu nama sahabatnya itu, tidak suka cara pergaulan barat. Ia adalah penganut Kristen yang taat, yang setiap Minggu selalu ke gereja. Noa bercerita, tahun lalu ia merayakan ulang tahunnya di gereja bersama keluarga. Sementara anak saya sendiri juga termasuk anak yang taat menjalankan agama. Biasanya Noa inilah yang melindungi anak saya ketika ia harus shalat secara diam-diam di sekolah. Harap maklum, di sekolah ada peraturan untuk tidak memperlihatkan keagamaan seseorang termasuk shalat ini. Sekuler atau dalam bahasa Perancis, laicite yaitu memisahkan kehidupan duniawi dengan kehidupan keberagamaan adalah alasannya.

Inilah salah satu penyebab mengapa ibu Noa begitu menyayangi Dilla, putri kami. Ia berharap dengan landasan keagamaan yang kuat, pertemanan putrinya dengan putri kami, dapat menjauhkan putrinya itu dari pergaulan bebas remaja yang tidak disukainya. Termasuk dance itu tadi. Oleh karenanya dapat dibayangkan, betapa marah dan kecewanya sang ibu melihat penampilan dance putrinya yang begitu wow di acara sekolah yang dihadiri orang tua murid. Rupanya secara diam-diam Noa tetap melatih bakat tarinya.

“Dilla jadi g enak deh bu .. Kayaknya ibunya Noa ikut marah sama Dilla”, keluhnya sepulang acara tersebut.

Hingga akhirnya datanglah suatu hari yang saya khawatirkan. Anak gadis kami mulai berpikir untuk melanjutkan sekolah di tanah air saja tanpa harus menunggu kami, orang tuanya, selesai tugas.

“ Nanti kalau Dilla kebawa temen-temen gimana .. emang ayah ibu mau .. “, tantangnya setengah bercanda.

Sebenarnya kami ingin ia sabar menghadapi tantangan tersebut. Namun sebagai orang tua, kami juga memahami jiwa mudanya yang suka mencoba-coba. Ini yang kami khawatirkan. Kalau yang bersangkutan saja sudah ragu apalagi kami. Ia juga menambahkan betapa parahnya pacaran di lingkungan sekolahnya. Berpelukan, berpangku-pangkuan dan berciuman di sekolah bahkan di depan gurupun, bagi mereka bukan masalah !

“Pokoknya ngga banget deh bu .. risih lihatnya juga “, begitu ia berkomentar. Bergidik rasanya bulu kuduk ini.

Saya pikir, biar sampai berbusa mulut ini mengingatkan bahwa berpacaran itu tidak ada dalam kamus Islam, tapi bila realita yang dihadapinya tidak mendukung, bagaimana mampu ia menghadapinya?

Tiba-tiba saya teringat cerita salah satu adik saya yang pernah lama tinggal di Jerman dan Belanda. Ia bercerita bahwa di Belanda, perbuatan zina di depan umum adalah hal biasa. Ia pernah, secara tidak sengaja, dengan mata kepala sendiri menyaksikan sepasang manusia, kalau masih bisa dikatakan manusia, melakukan adegan seks di taman, di saksikan dan ditepuki sejumlah penonton !! . “ Mau muntah mb aku rasanya. “

“ Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.(QS.Al-Isra(17):32)

Selain ayat diatas saya juga menasehati apa dampak negatifnya pacaran. Diantaranya yaitu, tidak sucinya lagi hati kita bagi pasangan yang ditakdirkan Allah swt bagi kita kelak. Berpacaran, ibaratnya adalah mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Berarti sama dengan mencuri, yang hukumnya jelas, haram.

Berpacaran dengan seseorang yang di kemudian hari ternyata bukan jodoh kita, juga bisa berpotensi menjadi duri berbahaya dalam perkawinan kelak. Masalahnya kita tidak pernah tahu siapakah jodoh kita nanti. Belum lagi bila pacaran sampai harus berdua-dua-an di tempat sepi.

Singkat cerita, akhirnya kami terpaksa merelakan si bontot pulang ke tanah air. « Tenang aja bu, di sini gampang mau shalat .. hampir semua temen sekolah shalat, di sekolah ada masjid, di mall-mall juga ada musholla .. », persis komentar si sulung beberapa tahun lalu.

Hati saya lebih tenang lagi, ketika suatu hari suami bercerita bahwa ia mendengar kabar bahwa pemerintah Perancis belakangan ini menggalakkan sekolah agar membagi-bagikan kondom secara gratis kepada lyceen, bahasa Perancis untuk murid SMA ! Na’udzubillah min dzalik … Untung anak kami sudah tidak bersekolah lagi di kota penuh kemaksiatan ini  … Hiii …

Pertanyaannya, dimana lalu perbedaan manusia sebagai mahluk yang tertinggi derajatnya karena diberi-Nya akal agar mampu mengendalikan nafsunya dengan, maaf, binatang yang bergerak hanya berdasarkan nafsu belaka  … Astaghfirulllah hal adzim …

Semakin jelas bahwa musuh orang beriman itu adalah hisbusyaitan  alias bisikan syaitan, iblis dengan pasukannya yang terdiri atas jin dan manusia jahat, yang suka berbuat kerusakan, yang tidak mau tunduk pada perintah Sang Pencipta dan cenderung selalu melawan nilai-nilai umum kebaikan  …

Harapan saya, semoga Allah swt memberi kami kesabaran dalam menjalani cobaan ini. Kekuatan kepada putri ABG kami dalam menghadapi kehidupannya tanpa kedua orang-tuanya meski di negri sendiri. Karena meski mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, bisikan syaitan itu tetap dasyat.

“Kapan nih Dilla mau pake jilbab”, pertanyaan yang sering saya lontarkan dan mungkin merupakan pertanyaan yang paling membuatnya BT alias Butuh Teman, istilah remaja untuk menunjukkan perasaan sebal mereka.

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang“.(QS. Al-Ahzab(33):59).

“ G jaminan lho bu, anak yang pake jilbab itu g pacaran”, jawabnya sedikit sinis, tahu persis arah pembicaraan saya.

“Tapi tenang aja bu, Dilla ngerti koq .. insya Allah suatu hari nanti pake, tapi g sekarang, Dilla belum siap bu“, tambahnya buru-buru sambil tersenyum, berusaha meredakan kekhawatiran ibunya.

“Amiin, asal masih dikasih  umur aja de“, jawab saya’penuh arti, berharap Allah swt menyelipkan rasa takut pada hatinya hingga ia mau bersegera melaksanakan niat baiknya itu.

Oiya bu, mas Ian pernah bilang, kebanyakan laki-laki itu bangsat, betul g sih?”, tanyanya, polos.

Ups, kaget saya. Saya memang pernah meminta tolong kakaknya agar menasehati satu-satunya adik perempuannya itu untuk tidak berpacaran. Namun tentu saja saya tidak pernah menyuruhnya berkata  demikian.

Pernah suatu hari, ketika sedang menonton TV, anak lelaki kedua saya tersebut berkomentar: “Woi, pahe tuh”. “Ya jangan dipelototin dong mas“, nasehat saya. “Siapa suruh di buka-buka kayak gitu”, katanya lagi sambil membuang muka, jengah.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat“.(QS.An-Nuur(24):30).

Menurut adik saya, yang kebetulan menjadi guru sebuah SMP Islam di Tangerang, sebagian muridnya berpacaran meski mereka berjilbab. Sulit melarang anak-anak untuk menjauhi hal yang satu ini. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari, anak-anak disuguhi acara TV yang merupakan hiburan utama keluarga dengan film dan sinetron percintaan remaja,  lagu lengkap dengan klip videonya yang seronok. Belum lagi toko-toko buku yang rak-raknya selalu dipenuhi oleh novel-novel percintaan remaja.

Ya Allah, berilah kesadaran bagi pemimpin negri ini agar mau bertanggung-jawab terhadap perkembangan mental para remaja yang merupakan generasi penerus bangsa.

Akhir kata, kalau boleh saya mengambil kesimpulan, usia remaja, khususnya 17 tahun, adalah benar-benar usia yang sangat rawan, terutama bagi mereka yang tinggal di barat, paling tidak di Perancis ini. Oleh karenanya, secara pribadi, saya berani katakan jangan mengirim anak kita untuk mengambil S1 di barat, tanpa pengawasan orang-tua, apalagi bila keimanan masih tipis.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 13 Maret 2012.

Vien AM.

Read Full Post »

Buat saya pribadi, pengalaman paling menyedihkan ketika kita di negri minoritas Muslim adalah ketika Lebaran. Lebaran atau Idul Fitri adalah hari kemenangan setelah sebulan lamanya kita berpuasa, mengendalikan hawa nafsu. Makan minum dan seks adalah diantara yang harus dijaga, meski hanya ketika siang hari saja.

Pada hari kemenangan ini Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk mendirikan shalat Ied sebanyak 2 rakaat, sebaiknya di lapangan terbuka. Di tanah air biasanya ritual ini diteruskan dengan acara silaturahmi. Bermaaf-maafan, ‘sungkeman’, berbincang dan ‘guyon’  melepas rindu sambil menyantap ketupat lebaran beserta kelengkapannya adalah sebuah kesempatan indah yang rasanya sulit untuk ditinggalkan begitu saja.

Bahkan tidak jarang, Lebaran adalah momen langka dimana seluruh anggota keluarga besar bisa berkumpul. Kakek, nenek, bapak, ibu, paman, bibi, anak, ponakan, cucu semua berbaur menjadi satu. Ini yang menjadi penyebab mengapa ‘tradisi’ pulkam alias pulang kampung menjadi suatu ‘keharusan’.

Meski beberapa kali para ulama mengingatkan bahwa acara kumpul-kumpul tersebut bukan bagian dari syariat tapi tetap saja ritual tersebut berjalan lancar tiap tahunnya.  Setiap menjelang lebaran kita bisa menyaksikan betapa berjuta-juta orang Indonesia rela bermacet-macet ria demi menjalani acara tahunan pulkam ini. Tidak hanya dari dan ke daerah namun juga yang tinggal jauh di negri seberangpun tak mau ketinggalan momen istimewa ini.

Nah, buat kita-kita yang dengan berbagai alasan tidak pulkam nih … Tidak bisa dipungkiri, bagaimanapun ada semacam perasaan ‘terlupakan’ .. L .. Itu sebabnya sebisa mungkin biasanya mereka-mereka ini berusaha menemukan suasana penggantinya. Kedutaan Besar biasanya adalah tempat berlabuhnya.

Begitu juga kami. Saya dan keluarga sempat mengalami hal ini beberapa kali. Beruntung kami tinggal di kota dimana kedutaan negri kita tercinta berkedudukan. Itulah Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI di Paris, Perancis.

Dua minggu sekali pihak KBRI mengadakan acara buka puasa bersama. Ta’jil seperti kolak, es cendol dll adalah menu yang bisa dibilang selalu hadir. Sementara shalat taraweh hanya diadakan pada setiap malam minggu. Namun bila mau kita dapat pergi ke Mosquee de Paris. Masjid terbesar di Paris ini menyelenggarakan shalat taraweh setiap hari. Juga beberapa masjid kecil di sekitar kota tersebut. Sayangnya, tausiyah diberikan dalam bahasa Arab. Harap maklum, sebagian besar jamaah masjid-masjid tersebut memang orang Arab atau keturunan Arab.

Beruntung KBRI menyelenggarakan shalat Ied. Meski shalat hanya diadakan di dalam ruang aula yang letaknya di bawah tanah. Sementara shalat yang diizinkan oleh pemerintah setempat hanya yang diselenggarakan di dalam lingkungan masjid, tidak di lapangan terbuka.

Yang menjadi masalah adalah anak-anak sekolah. Di negri paman Sarkozy ini tidak ada yang namanya libur Idul Fitri. Padahal negri yang mengaku diri berazaskan demokrasi dan ‘laic’ alias sekuler ini secara resmi merayakan sejumlah hari besar keagamaan termasuk beberapa hari besar Yahudi, tentu saja di luar hari-hari besar Kristen. Namun nyatanya tak satupun hari besar Islam yang diberi tempat dan penghormatan yang layak, meski jumlah Muslim jauh lebih banyak daripada penganut Yahudi. Akibatnya, anak-anak , juga para karyawan Muslim terpaksa harus meminta izin atau kalau perlu terpaksa bolos ketika akan mendirikan shalat Ied, shalat hari kemenangan yang hanya setahun sekali diselenggarakan itu.

Beruntung tahun ini, kami sekeluarga diberi keleluasaan untuk menekuni Ramadhan di tanah air. Alhamdulillah kami dapat mendirikan shalat taraweh di masjid setiap hari, kalau mau. Tetapi tak urung ternyata ada sedikit kekecewaan menyelinap di hati ini.

Di kampung halaman yang dirindukan ini, dimana sebagian besar penduduk adalah Muslim, shalat taraweh ternyata malah tidak seindah di negri non Muslim. Mengapa bisa begitu?

Pertama, brisik.

Ya, brisik. Di masjid Paris, nyaris tidak ada seorangpun berani berbicara bahkan berbisik-bisikpun tidak ketika tausiyah sedang diberikan. Semua orang terlihat memperhatikan dengan seksama apa yang dikatakan sang uztad. Malah, begitu nama Muhammad Rasulullah disebut, langsung gumaman shalawat terdengar khidmat diucapkan. Subhanallah .. Betapa indahnya …

Bagi saya, shalat di masjid–masjid Paris laksana shalat di tanah suci. Ini bukan hanya karena imamnya fasih berbahasa Arab namun juga suasananya. Benar-benar khusuk !  Dalam hati saya berpikir, apa ini karena mereka memahami bahasanya? Oh, alangkah beruntungnya kalau saja saya dapat memahami bahasa Arab. Bukankah kitab suci kitapun berbahasa Arab? Bukankah Rasulullah dan para sahabat yang membela mati-matian Islam juga orang Arab? Bahkan shalatpun haram membaca terjemahannya meski kita tidak paham, bukan ?

Yang juga membuat saya heran, kenapa di tanah air, orang, terutama para ibu, sering mengajak anak-anaknya yang masih kecil ke masjid tanpa mengajarkan mereka terlebih dahulu adab dan sopan santun di masjid. Anak-anak berteriak-teriak, bermain kejar-kejar bahkan diatas sajadah kita ! Ya Allah ..

Tentu saja ini tidak terjadi di semua masjid. Namun fenomena ini ada dan yang jelas ini saya alami sendiri.

Yang kedua, shaf-shaf yang kosong dan berjarak.

“ Sebaik-baik shaf pria adalah shaf terdepan dan seburuk-buruk shaf adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shaf perempuan adalah shaf terakhir dan seburuk-buruk shaf perempuan adalah yang terdepan”. 

Hadits diatas berlaku ketika tempat shalat antara kaum lelaki dan kaum perempuan tidak terdapat tirai pembatas. Jika ada, shaf terbaik kaum perempuan sama dengan kaum lelaki, yaitu shaf terdepan.

Namun meski setiap kali sebelum shalat dimulai imam mengumumkan agar barisan dirapikan, tetap saja para perempuan tidak bergeming dari kedudukan awalnya. Seolah pengumumam tersebut hanya berlaku untuk kaum lelaki. Beberapa kali saya mencoba mengingatkan untuk merapatkan shaf, nihil hasilnya. Dengan sajadahnya masing-masing yang berlebar kurang lebih 60 cm malah mungkin lebih, masing-masing bertahan di tempatnya yang satu sama lain berjauhan.

Sedihnya lagi, ini juga terjadi ketika shalat Ied. Shaf kosong tidak segera diisi. Jamaah yang baru datang lebih memilih tempat terdekat yang dicapai atau tempat teduh daripada jauh-jauh harus menyelinap dan mengisi shaf kosong. Meski seringkali dengan alasan shaf telah terisi tumpukan sandal jamaah.

” Yaah .. emang sandal ikut shalat apa? Kenapa bukannya bawa tas plastik atau menyembunyikannya  dibawah sajadah aja sih?”, pikir saya kesal.

Sungguh terbalik dengan apa yang terjadi di masjid Paris. Di sana, bahkan untuk duduk miring pada tahiyat akhirpun hampir mustahil. Bahu kami saling bersentuhan, persis seperti yang dianjurkan syariat. Tak ada sedikitpun lowongan bagi syaitan untuk menyelinap diantara kami dan mengganggu shalat kami.

Yang terakhir, salam yang mendahului imam.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat. Selesai shalat beliau menghadap kepada kami dan berkata : “Wahai sekalian manusia, aku adalah imam kalian. Janganlah kalian mendahului aku ketika ruku’, sujud, berdiri, dan salam. Karena aku dapat melihat kalian di hadapanku maupun di belakangku.” 

Hadits diatas jelas mengajarkan kita untuk tidak mendahului gerakan imam. Namun sering saya jumpai ‘tetangga’ saya sudah menoleh ke kiri sebelum imam selesai mengucap salam.  Padahal di masjid Paris, salam ini mampu membuat saya merinding haru. Secara serempak makmum mengucap salam agak keras sambil menoleh ke kanan dan kiri begitu imam usai mengucap salamnya yang kedua, bukan yang pertama. Dan karena salam diucapkan dengan agak keras saya merasa bahwa saya sungguh-sungguh didoakan ‘tetangga’ dengan ikhlas bukan sekedar ritual.

Yaah, begitulah .. dibalik sebuah kesusahan pasti ada juga hikmahnya.

“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS.Al-Insirah(94):6).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Agustus 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

What does mean “’ the highest power outside this universe”?, bisik salah seorang peserta ” English Conversation Class” yang saya ikuti setiap hari Selasa. Ia bertanya maksud baris terakhir tulisan saya hari itu kepada seorang peserta lain yang kebetulan duduk di sebelahnya. Keduanya adalah orang Perancis.

Setengah ragu, yang ditanya kemudian menatap saya ” Maksud kamu Tuhan kan?”.  ” Tepat sekali ”, jawab saya tegas, membuat wajah peserta yang bertanya  tadi, mengkerutkan kedua alisnya, tanda heran dan bingung.

Sayapun kemudian menoleh dan bertanya kepada peserta lain yang duduk disebelah saya, juga orang Perancis, ” Kamu pemeluk Nasrani? Kamu percaya pada Tuhan kan ?”. ” Ya”, jawabnya perlahan, seakan tidak terlalu yakin … atau tidak PD ??

Itu baru salah satu contoh betapa mayoritas orang Perancis ( atau orang Barat) adalah Atheis alias kafir atau tidak mempercayai adanya Tuhan. Bagi mereka   percaya akan beradaan Tuhan, adalah lambang kemunduran dan kebodohan, lambang ke-takhayul-an. Kehidupan, dalam pandangan mereka, ya di dunia ini. Kehidupan itu hanyalah dimulai dari lahirnya seorang bayi dan diakhiri dengan matinya seseorang. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada itu istilah kebangkitan dalam kamus mereka. Kehidupan akhirat bagi mereka adalah hal yang sungguh mustahil dan tidak masuk akal.

Mulanya saya heran juga koq ada ya orang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Namun begitulah kenyataannya. Sungguh, persis seperti apa yang dikatakan orang-orang kafir sejak dahulu. Dalam hati saya bertanya-tanya, bagaimana perasaan mereka jika mereka membaca ayat-ayat dibawah ini? Akankah hati mereka tersentuh dan menyadari kesalahan mereka ?

”Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan“.(QS.Al-An’am(6):29).

”Dan mereka selalu mengatakan: “Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? Apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?”(QS.Al-Waqiyah(56):47-48).

Hati ini bertambah miris, ketika suatu saat, seorang diantara peserta, secara bercanda mengatakan bahwa temannya itu ’kuno’ karena tidak setuju pada kehidupan dan perkawinan Homoseksual … Astaghfirullahaladzim  …

Dalam hati saya hanya bisa berkata ” Alangkah malangnya orang-orang ini. Merasa pintar, modern dan maju .. Namun nyatanya akalnya tidak sampai pada yang ghaib ”…

Pantas saja, Barat sering protes terhadap kebijaksanaan negara-negara Islam yang menerapkan hukum Islam, tentunya. Lhah, cara berpikirnya saja memang berbeda. Persis seperti ketika kita menghadapi anak kecil, yang dunianya memang hanya bermain.

” Wis .. sing waras ngalah ae ”, itu canda sehari-hari suami saya bila kami menemui orang keras kepala yang suka mempertahankan pendapat yang salah. Artinya kurang lebih , orang gila tidak usah ditanggapi …

Kali lain, yaitu pada kelas percakapan bahasa Perancis, saya menulis tentang latar belakang berdirinya Indonesia. Bersama, terutama  dari sudut bahasanya, kami mengoreksi tulisan tersebut. Tiba pada suatu bagian, dimana saya menerangkan bahwa landasan utama Indonesia adalah Ketuhanan Yang Esa.

” Aneh … bagaimana mungkin sebuah negara koq memaksa rakyatnya untuk percaya pada adanya Tuhan .. mengapa pula harus satu … Apakah itu berarti bahwa orang yang tidak percaya pada Tuhan tidak berhak hidup di negara kamu?”, tanya seorang peserta dari Italia, terheran-heran.

Belum juga saya sempat menjawab pertanyaan tersebut saking terkejutnya, seorang peserta lain, kali ini orang Perancis, menimpali :

”Lucunya lagi, orang di negara kamu harus mencantumkan agamanya di dalam KTP-nya, iya kan”.

” Bagi kami, yang aneh justru kalian .. bagaimana mungkin kalian melarang orang untuk mempercayai adanya Tuhan, bagaimana mungkin kalian melarang orang shalat di tempat umum, melarang perempuan-perempuan Muslim mengenakan jilbab ?”, balas saya berusaha menahan emosi.

” Itu hal yang berbeda. Ketahuilah bahwa Perancis adalah negara laic ( sekuler). Negri kami berprinsip bahwa agama adalah hak pribadi. Jangan dicampur adukkan dengan kehidupan bermasyarakat. Itu sebabnya di depan umum, orang tidak boleh memperlihatkan kepercayaannya”, jelas si Parisienne, sebutan bagi orang Paris, sok bijaksana.

”Dan lagi, ingat tulisan kamu minggu lalu tentang masalah kebenaran? Bagaimana mungkin kamu memaksakan ’kebenaran’ kamu adalah ’kebenaran’ bagi semua orang? Semua orang kan punya ’kebenaran’ masing-masing”, serang si orang Italia lagi.

… Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi (tanpa) mengindahkan kebenaran dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan)”. (QS.Al-Mukmin(40):74-75)

Minggu lalu saya memang sempat mengutip surat Al-Ashr dalam tulisan saya. Dan memang ia sempat merasa terganggu dengan maksud ’kebenaran’ dalam ayat tersebut.

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.Al-Ashr(103):1-3).

Astaghfirullah … berat nian ujian ini … kalau saja saat itu ada sesama Muslim yang sama-sama ’care’ terhadap Islam .. tentu akan lebih mudah menghadapi ’kroyokan’ orang-orang kafir ini …   Apa boleh buat .. Bismillah ..

” Justru itu”, jawab saya berusaha tegar. ” Karena setiap orang merasa mempunyai ’kebenaran’ masing-masing maka ’kebenaran’ mana sebenarnya yang paling benar. Ya tentu saja ’kebenaran’ Dia yang mempunyai alam semesta ini, Dia yang menciptakan kita semua ini. Dialah pasti yang paling benar”.

” Nah, kamu berbicara soal agama itu”, potong si Perancis.

Haaah?!?!?  … saya langsung terdiam, tidak menyangka bahwa ia memotong pembicaraan dengan kalimat seperti itu. Saya tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Yaaah .. sayang sekali .. ternyata jam ’terbang’ saya benar-benar sedikit sekali. Dengan penguasaan bahasa asing yang masih terbatas sungguh sulit untuk berbicara dan membahas masalah agama, dalam hal ini Islam. Saya benar-benar merasa kecewa tidak mampu meneruskan perdebatan tersebut.

Padahal bila saja bisa sedikit menahan emosi, seharusnya itu bukan kendala besar. Bukankah itu justru bukti betapa antara agama dan arus kehidupan sehari-hari tidaklah mungkin dipisahkan ?? … L

Ironisnya, 2 minggu setelah pembicaraan diatas, saya belum tergerak untuk kembali menghadiri klas percakapan berbahasa Perancis tersebut. Saya masih merasa malas dan rasanya rasa kesal bercampur putus asa masih bercokol dalam hati ini. Meski, kebetulan saya memang masih sibuk dengan urusan lain hingga saya masih mempunyai alasan untuk tidak hadir.

Pertanyaan saya ” Sanggupkah saya meneruskan dakwah ini” ? Ya, Allah bantulah hamba ini untuk menata emosi dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi disamping juga kemampuan untuk berkomunikasi dan berdebat dalam bahasa asing yang tidak gampang ini …

Terngiang ditelinga ini, kata-kata Yusuf Qurdhowi, cendekiawan Muslim Mesir ternama itu, ” Adalah wajib hukumnya bagi seorang Muslim yang tinggal di negri kafir untuk mendakwahkan Islam. Bila tidak, itu sama dengan menganiaya diri sendiri”.

Ya Allah, berat niaaan .. 😦 ..

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 6 juni 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”.

Kata-kata ini terus terngiang di telinga dan semoga tak akan terlupakan … selamanya, Insya Allah. Kata-kata ini lebih terasa lagi ‘adem’ dan berkesan karena yang mengatakannya adalah orang yang tinggal di lingkungan kafir. Orang itu adalah petugas medis, warga Perancis keturunan Maroko yang telah lama menetap di negri pemilik menara Eiffel yang terkenal itu.

Ceritanya begini. Suatu hari dokter yang memeriksa saya merujuk agar saya menjalani pemeriksaan tulang. Maka sesuai dengan ‘rendez-vous’ yang saya peroleh, sayapun pergi ke laboratorium yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari apartemen dimana kami tinggal itu. Namun ntah mengapa saat itu tak terpikirkan sama sekali bahwa petugas medis bisa jadi seorang laki-laki, yang berarti bukan muhrim dan tidak berhak melihat aurat perempuan.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS.An-Nur(24):31).

Dan sialnya, itulah yang terjadi. Saya baru sadar setelah petugas tersebut menerangkan prosedur yang harus dijalani. Apa boleh buat … terlanjur. Di Perancis ini memang ada aturan, walaupun tidak tertulis, bahwa dokter atau petugas medis maupun pasien sama-sama tidak berhak memilih-milih dokter atau pasien menurut jenis kelamin. Bisa-bisa kita malah dituduh homo atau lesbian ! Na’udzu billah min dzalik ..

Singkat cerita, di tengah pemeriksaan sang petugas menanyakan apakah saya seorang Muslim. Ketika saya mengiyakan iapun menyambung bahwa ia juga Muslim. Alhamdulillah .. Maka dengan rasa bersalah saya menanyakan apakah di laboratorium itu tidak ada petugas perempuan. “ Ada”, jawabnya tegas.“ Yaah ..”, hanya itu yang bisa saya katakan. Sesal kemudian tidak ada gunanya ..:-(( … Pantas tadi ketika ia menerangkan prosedur pemeriksaan wajahnya sedikit mencerminkan keraguan.

Tidak perlu terlalu khawatir .. saya yakin, jika tujuannya untuk kebaikan dan kesehatan Allah swt pasti mau memahami dan memaafkan”, katanya berusaha menghibur. Saya tidak tahu harus menjawab apa. “ Salah sendiri tadi g tanya dulu .. minimal usahalah”, pikir saya benar-benar menyesal.

Selesai pemeriksaan, kami sedikit berbincang tentang Islam di negri ini. Ketika saya menceritakan bahwa anak saya menemui kesulitan dalam menjalankan shalat di sekolah, ia menjawab bahwa iapun dulu begitu. Shalat harus sembunyi-sembunyi. Shalat Jumat malah hampir tidak mungkin. Sekarang, tidak saja shalat Zuhur dan Ashar,  shalat Jumatpun tidak pernah ketinggalan.  “Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”, katanya mantap sambil tersenyum kecil seolah menyindir saya yang lalai karena tidak mencari petugas medis perempuan … L . “ Ya Allah, Ya robbi, semoga Engkau mengampuni hamba-Mu  yang lalai ini”.

Saya jadi teringat suami saya. Ia bercerita bahwa tim kerjanya di kantor terbiasa mengadakan meeting setiap Jumat ba’da makan siang. Suatu hari,  setelah tiga kali berturut-turut ia selalu absen, akhirnya salah seorang dari timnya menegur. “ Saya kan sudah katakan bahwa setiap Jumat siang saya pasti tidak berada di kantor. Saya punya kewajiban untuk menunaikan ajaran agama saya yang tidak mungkin ditinggalkan”. Maka sejak saat itu meetingpun dipindahkan ke hari lain. Subhanallah .. Sekali lagi terbukti : “Jika kita mau mencari dan berusaha pasti Allah swt memberi jalan keluar”.

… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar … “. (QS.Ath-Thalak(65):2-3).

Demikian juga pengalaman anak-anak saya. Ketika anak perempuan saya baru masuk ke sekolah barunya, para orang-tua menganjurkan anak-anaknya agar shalat di dalam bus saja (bus antar jemput sekolah) bila shalat di sekolah tidak memungkinkan. Waktu musim panas memang tidak masalah karena anak-anak tiba di rumah waktu ashar masih ada. Tetapi di musim dingin tidak mungkin. Karena mereka ( yang usia SMA) pulang sekolah waktu ashar sudah habis. Namun ternyata beberapa minggu kemudian anak saya melaporkan bahwa ia bisa shalat zuhur dan ashar di perpustakaan walaupun hanya dengan duduk …  😦

Padahal sebenarnya beberapa hari yang lalu, begitu melihat ada kesempatan, saya menawarkan untuk mengirim email kepada kepala sekolah supaya menyediakan ruangan kecil yang bersih dan tenang, agar anak-anak bisa menjalankan shalat di dalamnya. Namun anak saya keberatan. “ Udah mending kali bu kita shalat didiemin aja .. ntar malah dilarang gimana .. “, begitu katanya ragu. Akhirnya sayapun membatalkan niat tersebut. Dengan alasan laic ( sekuler) sekolah ( baca pemerintah Perancis) memang melarang adanya kegiatan keagamaan di lingkungan umum termasuk sekolah. Yaah .. apa mau dikata ..

Sebaliknya anak lelaki saya yang sedang menuntut ilmu di benua Kanguru melaporkan bahwa selama kuliah ia bisa menjalankan shalat tanpa kesulitan berarti. Ia dapat mencari dan memanfaatkan ruangan-ruangan kampus yang jarang dipakai. Alhamdulillah ..

Namun saya pikir mungkin masalahnya agak berbeda. Anak perempuan perlu keberanian lebih dibanding anak laki. Karena anak perempuan  harus menutup auratnya dengan sempurna. Orang Indonesia biasanya memakai mukena.

Lain lagi halnya dengan pengakuan seorang teman yang tinggal di salah satu kota Perancis. Teman saya ini berniat mengikuti kegiatan masak memasak yang diselenggarakan seorang temannya yang non Muslim. Wajar bila kemudian ia ragu dengan kehalalan daging yang digunakan untuk memasak.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah …”.(QS.Al-Baqarah(2):173).

Namun ia juga ragu bagaimana sebaiknya bersikap. Antara keinginan yang menggebu karena teman saya ini doyan sekali masak dan rasa takut kepada-Nya, mendorongnya mengadukan keresahan tersebut dengan berkirim email kepada saya. Belum sempat saya membalas email tersebut, ia mengabarkan bahwa setelah bermunajat kepada Sang Khalik, ia membulatkan tekad untuk langsung meminta temannya itu agar menggunakan daging halal. Anehnya, tanpa banyak tanya, sang ‘chef’ yang biasanya sulit diajak kompromi itu menyetujuinya! Subhanallah .. ( Saya mendapat kabar bahwa hanya beberapa hari sebelum peristiwa tersebut teman saya itu mulai menutup auratnya dengan baik alias berjilbab .. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya .. )

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.(QS.Al-Baqarah(2):186).

Bicara soal makanan halal. Pagi tadi saya baru menerima info tentang website yang memuat daftar resto halal di seluruh dunia. Menurut web bernama Zabihah ini (http://www.zabihah.com/ ) Perancis adalah negara no 1 di Eropa yang mempunyai retoran halal (165 ). Peringkat 2 diduduki Jerman ( 154) dan peringkat 3 adalah Spanyol (108).

Web ini juga mencamtumkan daftar masjid di seluruh dunia lengkap dengan alamat dan petanya ! Allahuakbar … Tampaknya sudah tidak ada lagi alasan bagi Muslim yang bepergian ke luar negri untuk tidak shalat di masjid dan makan di restoran yang tidak menyajikan masakan halal. Walaupun seringkali, berdasarkan pengalaman, tidak mudah menemukan alamat masjid meski dengan pertolongan GPS sekalipun.  Karena kebanyakan masjid-masjid tersebut ( khususnya di Perancis) hanyalah masjid kecil yang letaknya betul-betul terpencil dan sulit dicapai …:-((

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 15 Desember 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Banyak hal menarik terjadi pada hari-hari terakhir kami di Pau. Sebenarnya sudah sejak agak lama saya punya keluhan di punggung, di sekitar tulang belikat. Orang sering menyebutnya syaraf kejepit. Demikian pula yang dikatakan dokter Perancis beberapa tahun yang lalu. Sudah berulang kali saya menjalani beberapa terapi namun hingga kini keluhan tersebut tidak juga sembuh secara tuntas. Hingga suatu hari dokter yang menangani saya merujuk agar pergi menemui seorang Kinetherapi.

Kalau di tanah air, Kinetherapi kurang lebih adalah seorang ‘tukang urut’. Tapi jangan salah, bila tukang urut di negri kita biasanya turun temurun maka di Perancis ini mereka harus kuliah dulu selama 3 tahun ! Itu sebabnya seorang dokter bisa merujuk mereka sebagai partner kerja.   Hebat ya .. J ..

Tapi bukan ini lho yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini. Kinetherapeuse ( sebutan untuk ‘ tukang urut’ perempuan ) saya adalah seorang perempuan bule asli Perancis yang berusia sekitar 30 tahunan. Badannya tinggi besar dan penampilannyapun tomboy alias kelaki-lakian. Harus diakui ia menguasai ilmunya dengan baik. Ia memulai perawatan dengan mencatat keluhan saya. Setelah itu baru ia memulai pengobatan / mengurut.

Ketika ia mengurut itulah kemudian saya katakan bahwa saya sering duduk lama keasyikan di depan komputer. Ia menerangkan posisi duduk yang seperti itu kemungkinan besar bisa menjadi penyebab keluhan saya. Ia lalu menanyakan apa yang saya kerjakan. Setelah saya menerangkan bahwa saya mempunyai blog yang isinya tentang ajaran Islam akhirnya pembicaraanpun mengarah pada masalah keagamaan.

Ia bercerita bahwa dulu ia adalah seorang Kristen pratiquant. ( Pratiquant adalah sebutan bagi orang yang menjalankan ajaran agama, agama apapun ). Ayahnya adalah seorang pendeta Kristen. Setiap hari Minggu ia bersama teman-teman dan saudara-saudaranya selalu pergi ke gereja dan berdoa. Namun menginjak usia SMA ia mulai meragukan kebenaran ajarannya tersebut. Sejak itu ia jarang ke gereja. Bahkan kini ia tidak pernah pergi lagi ke tempat tersebut. Meski demikian ia berkata bahwa ia tetap yakin bahwa Tuhan itu ada. Tapi ya hanya sebatas itu saja. ( Harap dicatat, sebagian besar orang Perancis saat ini adalah Atheis alias tidak percaya akan adanya Tuhan alias kafir ).

Saya menjalani perawatan hingga 6 kali pertemuan. Dan hampir pada setiap pertemuan tersebut kami selalu membahas hal-hal yang berhubungan dengan Islam. Menurutnya sebagian orang Perancis sebenarnya tidak percaya bahwa Islam adalah agama yang menyebarkan kekerasan dan terorisme.  Ia bahkan ikut prihatin mengapa pemerintahnya harus seperti orang kebakaran jenggot dengan cara berpakaian Muslimah. “ Negri kami adalah negri demokrasi yang menjunjung tinggi nilai kebebasan. Saya tidak mengerti mengapa sekarang mereka sibuk memikirkan penampilan Muslim ”, begitu ujarnya setengah kecewa.

Pada pertemuan terakhir, setelah cukup lama bimbang, akhirnya saya menghadiahinya sebuah Al-Quran dengan terjemahan bahasa Perancis yang saya beli di sebuah toko buku di dekat rumah. ( Saya cukup surprised ternyata toko buku terbesar di Perancis tersebut menjual sejumlah buku tentang Islam,termasuk Al-Quran dan hadits. Hal yang tidak mungkin saya temui beberapa tahun yang lalu). Sungguh puas hati ini mengetahui bahwa ia benar-benar gembira menerima hadiah tersebut. “ Kalau anda ada waktu lowong dibaca ya”, demikian saya berpesan.

Namun ternyata itu bukan hari terakhir kami bertemu karena dokter merujuk agar saya meneruskan perawatan satu putaran lagi supaya keluhan saya tuntas. Tetapi berhubung sang kine sedang cuti jadi saya dirawat oleh koleganya. Padahal dalam hati saya ingin mendengar komentarnya … L

Pada pertemuan ke 5 sesi kedua akhirnya saya bertemu lagi dengannya. Namun demikian saya berusaha untuk bersabar dan menunggu ia yang memulai pembicaraan. Setelah menunggu beberapa waktu dengan hati berdebar, tiba-tiba ia menanyakan “ Ayat tentang hijab di Al-Quran ada di surat mana ya?”, tanyanya mengagetkan.

“ Mengapa anda  menanyakan hal tersebut, bukannya hal lain?”, tanya saya penasaran. “ Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja”, jawabnya tenang. Untung kebetulan saya hafal letak ayat tersebut, Alhamdulillah …

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.(QS.Al-Ahzab (33):59).

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya … … ”.(QS.An-Nuur(24):31).

Selanjutnya ia bercerita tentang temannya,seorang Muslimah keturunan Maroko yang baru saja menikah. “ Asyik juga menghadiri pernikahan dimana tamu laki-laki dan perempuan dipisahkan. Kita, tamu-tamu perempuan berpesta sambil menari-nari tanpa seorangpun lelaki di dalamnya ”, ceritanya seru. Saya hanya manggut-manggut karena memang tidak pernah menghadiri acara walimah yang sangat Islami itu.

Ia juga bercerita bahwa ketika ia liburan kemarin ia dan kakak lelakinya sempat berbincang lama dengan kenalan orang-tuanya, seorang Muslim Aljazair, tentang Al-Quran !  Dengan tersenyum ia mengatakan entah mengapa ia sekarang jadi suka berbicara mengenai Islam.

Di akhir pertemuan saya memberinya referensi tentang surat Maryam yang bercerita tentang ibunda nabi Isa as. Dengan semangat ia langsung mencatat di buku kecil miliknya. Saya sering mendengar bahwa surat ini sering menjadi penyebab kembalinya pemeluk Nasrani ke Islam. Allahuakbar ..

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Saya hanya berharap semoga Allah swt mencatat dakwah saya ini apapun hasilnya. Pesan saya padanya kali ini :”  Sempatkan untuk membacanya “, bukan “ Bacalah kalau ada waktu “.

( Click untukmendengarkan surat Maryam : http://www.youtube.com/watch?v=T5aIi3OqOJU )

Pengalaman mengesankan lain adalah ketika seorang teman menelpon dan sambil tersenyum menanyakan apakah saya ingin ikut terlibat dalam proyek akhirat dengannya. Tentu saja saya jawab cepat : “ Mau banget dong .. apa tuh Ndah ?“.

Teman saya itu kemudian mengatakan bahwa ada teman bulenya yang tiba-tiba menelpon dan minta diajari cara shalat. Subhanallah .. Sayapun segera mencari buku cara shalat dalam bahasa Perancis. Alhamdulillah tanpa kesulitan saya segera mendapatkannya, lagi-lagi di Fnac, toko buku terbesar di Perancis dimana sebelumnya saya membeli Al-Quran untuk sang Kine beberapa minggu yang lalu. Tapi di kota yang berbeda. Karena hari itu kebetulan kami memang sedang bepergian ke luar kota. Saya benar-benar puas karena buku panduan shalat tersebut bergambar dan berwarna pula. Lengkap dengan cara wudhu, bacaan doa dalam bahasa Arab dan cara bacanya plus artinya dalam bahasa Perancis.

Singkat kata,pada hari yang telah ditentukan kami berduapun menuju ke rumah teman bule tersebut. Selidik punya selidik ternyata bule tersebut sudah memeluk Islam sejak 8 tahun yang lalu. Ironisnya, suaminya yang seorang Muslim asal Aljazair itu tidak pernah mengajarkannya cara shalat. Bahkan masih menurutnya, suaminya itu tidak pernah mengerjakan shalat ! Astaghfirullah .. Yang juga menyedihkan, di apartemen tempatnya tinggal itu sebenarnya ada sejumlah warga keturunan Maroko Muslim dan Muslimah namun ia tidak yakin apakah mereka menjalankan shalat atau tidak .. L

Tiba-tiba saya jadi teringat pengalaman beberapa minggu yang lalu. Ketika itu saya bersama suami, anak dan beberapa teman sedang bepergian ke suatu kota tidak jauh dari tempat tinggal kami. Salah satu dari mereka adalah keluarga Perancis, sahabat baik anak perempuan saya.

Ketika kami sedang berjalan sambil asyik bercengkerama, dua anak muda berwajah Arab menghampiri kami. Keduanya menyapa ramah dengan ucapan “ Assalamualykum”. Belum sempat kami menjawab tiba-tiba salah satu dari mereka berkata : ” Indonesia, Malaysia ? Selamat Pagi “.

Tentu saja kami terkejut dibuatnya. Ternyata mereka adalah warga Perancis keturunan Aljazair yang telah lama mukim di kota tersebut. Keduanya pernah tinggal dan bekerja di Indonesia dan Malaysia selama beberapa tahun. Akhirnya kamipun terlibat percakapan cukup hangat.

Namun sayang kelihatannya telah terjadi kesalah pahaman. Anak perempuan saya diam-diam mencolek saya hingga beberapa kali. Ia berbisik : “ Bu, jangan dilayani .. orang itu kurang ajar. Dia gangguin kita, cewek-cewek ..”. Haah .. tersentak saya dibuatnya.

Tiba-tiba saya tersadar akan maksud pertanyaan anak muda tersebut “ Kamu dah kahwin ?” .. “ Kamu ? .. Kamu ?” sambil bergantian menunjuk ke arah anak-anak perempuan kami. Ketika ia bertambah nekat hendak mencolek Emily, teman bule anak kami, suami saya langsung mendampratnya. “ Hei .. jaga sikap kamu sebagai Muslim .. Jangan bikin malu !! “.

Anak muda tersebut berusaha membela diri sambil terus memandang kurang ajar ke arah gadis yang mulai pucat ketakutan itu. Kami segera meninggalkan anak muda tersebut sementara suami saya terus berusaha menasehatinya. Beruntung temannya segera menyadari kelakuan buruk temannya itu dan mengajaknya pergi menjauh.

Selanjutnya orang tua Emily bercerita bahwa ini bukan kali pertama mereka diganggu oleh anak-anak muda berparas Arab seperti kedua orang tadi. Dengan penuh penyesalan mereka mengaku bahwa sebagian besar orang Perancis memang mengganggap orang Muslim ( dari wajah Arabnya) adalah orang yang mempunyai kebisaan buruk .. Astaghfirullah .. sedihnya hati ini. Menurut mereka kalau tadi itu yang menegur ayah Emily pasti bakal panjang urusannya .. L.

Sebenarnya kami telah berulang kali mengatakan kepada kenalan dan teman-teman non Muslim agar jangan menilai sebuah agama dari prilaku orang-orangnya. Islam memang lahir ditanah Arab bahkan Al-Quranpun  berbahasa Arab. Namun ini bukan jaminan bahwa orang Arab adalah orang yang alim dan patut dijadikan sebagai contoh keteladanan umat Islam.

Belum juga kami berhasil menghapus image buruk Islam .. eh, selang beberapa bulan kemudian terjadi hal yang lebih memalukan lagi. Kali ini kejadiannya di tanah air, negri kita, Indonesia tercinta.

Suatu hari di bulan Agustus, Emily beserta ayah, ibu dan adiknya berlibur ke Indonesia; Bali dan Sulawesi. Tentu saja kami senang dan dengan bangga memamerkan keindahan alam dan keramah-tamahan bangsa kita.

Namun apa lacur, baru beberapa hari berlalu, mereka telah menelpon kami dan dengan suara panik meminta tolong agar mencarikan penerbangan pulang ke Perancis secepat mungkin. Ya Allah , apa yang terjadi, pikir kami ikut prihatin.

Selidik punya selidik, akhirnya mereka mengaku bahwa mereka telah ‘dipalak’ dan ‘dikerjai’  penduduk setempat. Bahkan di Sulawesi tengah, selama perjalanan 8 jam (dari Luwuk ke Ampana; tujuan mereka adalah kepulauan Togian) mereka diteror dengan iring-iringan 3 kendaraan yang terus membuntuti taxi yang mereka sewa !

Yaah .. apa mau dikata .. mengapa umat Islam ini ( bagaimanapun saya merasa bahwa Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim ini mustinya bisa menjadi teladan Muslim ) tidak bisa menjaga prilaku Islami mereka.

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”. (QS.Asy Syu’araa (28):183).

“Tetangga itu ada tiga macam; di antara mereka itu ada yang mempunyai tiga hak, di antaranya lagi ada yang mempunyai dua hak dan di antaranya lagi ada yang hanya mempunyai satu hak. Tetangga yang mempunyai tiga hak adalah tetanggamu yang masih kerabat dan muslim; tetangga yang mempu-nyai dua hak adalah tetanggamu yang muslim; dan tetanggamu yang hanya mempunyai satu hak adalah tetanggamu yang dzimmi (non-muslim)”. (Tanbihul Ghafilin)

“Tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman. Mereka bertanya: siapakah itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” . (HR Bukhari).

Wallahu’alam bish shawab.

Paris, 12 Oktober 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

 ( Sambungan dari :  Suka Duka Muslim Di Perancis (11).)

Kami tiba di Marseilles, kota pelabuhan terbesar Perancis dan terbesar ke 4 di Eropa, pukul 8 malam lebih. Saat itu hujan sedang turun. Setelah cek in dan menurunkan barang, kami keluar lagi untuk mencari makan malam. Karena ingin segera melihat keadaan kota, kami memutuskan untuk makan di restoran cepat saji. Namun ternyata kami sedikit terlambat. Resto hanya buka hingga pukul 9 karena ini adalah malam tahun baru. Mereka hanya melayani ‘drive thru’. Apa boleh buat … berhubung lapar ditengah hujan rintik-rintik kamipun menyantap makan malam di dalam mobil sambil menyaksikan sejumlah muda mudi yang juga kecele ..” Apa g beku ya .. dinginnya kayak gini koq pake baju njeblak semua ..”, begitu komentar suami melihat anak-anak muda yang ber-celana pendek jeans atau rok mini yang terbuka disana-sini … Bbrr ..      

Selesai makan, kami berputar-putar keliling kota.Tampaknya tidak ada pesta ataupun persiapan khusus menyambut tahun baru. Memasuki ‘vieux port’ kota tua di sepanjang pelabuhan kapal kecil baru terasa ada sedikit  keramaian. Jalanan sempit  yang naik turun ini dipenuhi anak-anak muda. Berkali-kali kami terpaksa berputar karena tidak bisa lewat.

Hingga detik-detik terakhir, pesta kembang api yang sangat diharapkan anak-anak tidak juga muncul. Yang ada yaitu tadi .. anak-anak muda yang bergerombol, minum-minum,  bersalaman, berpelukan, berciuman .. Sedihnya, dari raut wajahnya kelihatannya  kebanyakan anak-anak muda tersebut adalah keturunan Arab ..

Dalam hati saya berharap, “ Semoga ini bukan cerminan wajah Muslimin .. “. Terus terang saya sering mendengar keluhan warga Perancis yang merasa terganggu akan kelakuan buruk anak-anak muda keturunan Arab yang suka berbuat keributan. Sedih dan malu rasanya ..

Dari Abu Syuraih r.a. bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, “Demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa itu, Ya Rasulallah?” Jawab Nabi, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Bukhari)

vieux port, Marseille

vieux port, Marseille

Esok paginya kami kembali berjalan-jalan dan melihat kota. Marseilles yang merupakan kota terpadat kedua di Perancis ini secara geografis sangat menarik. Terletak di tepi laut Mediterania dengan latar belakang pegunungan walaupun tidak begitu tinggi. Sayang sekali selama kami berada disini cuaca tidak begitu bagus. Selain hujan anginnyapun besar. Akibatnya tidak ada foto yang cukup bagus untuk dimuat di blog ini .. 😦  

Umat Islam di kota ini cukup banyak, yaitu sekitar 250 ribu atau hampir 30 persen dari total jumlah penduduk Marseilles. Namun menurut catatan imam besar Marseilles, hanya 40 ribu yang ‘pratiquants’, istilah umum Perancis bagi orang yang mempraktekkan ajaran agama. Dibanding saudara-saudaranya yang tinggal di kota-kota dimana muslim banyak ditemui, muslim Marseilles termasuk kurang beruntung. Paris, Lyon, Toulouse dan Lille mempunyai masjid besar bahkan di empat kota tersebut terdapat sekolah Islam setingkat SMA / Lycee. 

Namun beberapa waktu yang lalu ( November 2009), setelah menanti selama puluhan tahun, akhirnya pemerintah memberi izin pembangunan masjid besar Marseilles… Allahuakbar.. Masjid dengan menara setinggi 25 m dan mengandalkan sinar lampu semacam soclay sebagai ganti azan ( pemerintah melarang panggilan azan terdengar keluar masjid !!) ini bakal mampu menampung lebih dari 3000 jamaah. Dan diperkirakan siap menyelenggarakan shalat Idul Fitri 2011.

Sayangnya ada desas desus bahwa proyek ini sebenarnya hanya bersifat politis. Biaya pembangunan masjid amat sangat besar sementara dana yang diberikan ( termasuk bantuan dari Negara-negara Arab ) tidak seberapa karena pemerintah memang membatasinya …L

masjid Marseilles

masjid Marseilles

Kebetulan hari ini adalah hari Jumat.  Dengan bantuan GPS dan alamat masjid yang sebelumnya memang telah kami siapkan, maka kamipun berbaur bersama jamaah  Marseilles dalam rangka menegakkan shalat Jumat di sebuah masjid yang lumayan kecil L …  semoga suatu waktu kelak kami berkesempatan shalat di Grand Mosque de Marseilles .. Insya Allah ..       

Pau- France, 18 Januari 2010.

Vien AM.    

Read Full Post »

Sambungan dari “ Suka Duka Muslim Di Perancis (10)”.

Dengan menumpang kereta api kami kembali ke Florence. Sesampainya kami segera mengambil mobil yang diparkir di parkir tertutup stasiun (dengan biaya 16 euro untuk 5 jam atau 240 ribu ! padahal biaya kereta api hanya 5 euro per orang sekali jalan .. mahalan parkirnya ya ..  ) kemudian kami langsung berangkat menuju Milan yang terletak 250 km di barat laut Florence.  

Kami memotong barisan pegunungan Apennis yang membujur sepanjang Italia sepanjang 1000 km. Pegunungan ini terbagi atas tiga kelompok, yaitu pegunungan Apennis Utara, Apennis Tengah dan Apennis Selatan. Di pegunungan Apennis Selatan inilah terdapat  gunung Vesuvius yang pada tahun 79 M meletus. Letusan yang diawali dengan kebakaran hebat selama 6 hari 7 malam dan gempa hebat ini telah mengubur kota Pompei dan sekitarnya. Bahkan penduduknyapun terkubur dalam keadaan hidup-hidup ! Astaghfirullah ..   

Padahal gunung ini tingginya hanya 1281 meter. Namun akibatnya sungguh mengerikan. Jenazah dengan berbagai posisi bergelimpangan dimana-mana. Jenazah yang tertutup debu letusan tersebut utuh hingga saat ini ! Kemungkinan besar mereka meninggal dalam keadaan menderita  luar biasa karena tenggorokan mereka tampak masih disesaki debu. Letusan dasyat ini terjadi hanya beberapa tahun setelah peristiwa ‘penyaliban’ Isa as yang disusul dengan pembantaian pengikut setianya. Masyarakat Pompei (Romawi / Yahudi) ketika itu adalah para penyembah berhala dan dewa-dewi. Mungkinkah ini salah satu azab Allah terhadap penduduk (bani Israel) yang tidak mau mengakui kenabian Isa as dan mendustakannya? Wallahu’alam.

( Youtube Pompei , click : http://www.youtube.com/watch?v=gmwylbF3-CA&feature=related )

52.  Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.

53. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.

54. Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

55. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.

56. Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong. (QS. Ali Imran (3):52-56).  

Pemandangan selama perjalanan ini sebenarnya indah. Sayang hari telah sore menjelang gelap. Disamping itu cuaca sangat dingin ( 2 derajat !) dan anginpun amat  kencang bertiup. Saya berkali-kali terpaksa mengingatkan suami agar jangan melaju terlalu kencang dan berhati-hati. Sepanjang perjalanan menaiki dan menuruni pegunungan tersebut kami tak hentinya terus berzikir kepada-Nya : “ Ya Allah mudahkanlah  perjalanan kami “.  

Kami tiba di Milan sekitar pukul 9 malam, dengan selamat. Alhamdulillah. Setelah makan malam di resto Yunani di sebelah hotel,  kami keluar lagi dengan mengendarai mobil untuk melihat-lihat pusat kota. Tujuan kami  adalah Kathedral Milan, orang Italia menyebutnya ‘Duomo di Milano’  yang terletak di Piazza del Duomo.  

Milan yang saya tahu adalah salah satu pusat mode dunia. Namun kotanya sendiri ternyata kurang begitu cantik. Jalanannya selain sempit juga agak gelap. Ini masih ditambah lagi dengan jalur trem yang saling tumpah tindih dengan jalanan mobil. Padahal jalanannya bukan jalan aspal melainkan jalan kuda yang sama sekali tidak mulus.   

Duomo di Milano

Duomo di Milano

Setelah berputar-putar karena bingung ( begitu juga sang GPS alias Global Positioning System yang selalu setia memandu kami ) akhirnya secara tidak sengaja kami tiba di pelataran gereja yang menjadi land mark kota itu. Bangunan tersebut begitu besar dan megah. Kami sampai terbengong-bengong melihatnya. Saking bengongnya kami tidak memperhatikan suasana sekitar. Suami sempat berkomentar  : “ Koq g ada mobil lain ya .. “. Namun saya dan anak-anak tidak menanggapi dengan serius. Saya malah menganjurkan anak-anak untuk segera turun dan berfoto ria ..

Tetapi belum sempat mobil diparkir dengan baik, sebuah mobil polisi, ntah dari mana munculnya, tiba-tiba sudah berada disisi mobil kami. Suami saya yang masih belum menyadari keadaan berusaha menyingkir memberinya jalan. Eh .. mobil polisi tersebut malah mepet mobil kami .. layaknya mobil penjahat mau kabur itu lho .. Ya ampun, ada apa ini .. pikir kami ..  

Dengan memasang wajah galak, kedua polisi tersebut turun dan menghampiri mobil kami. Kemudian dengan berbahasa Perancis yang tidak begitu lancar ( mungkin karena melihat plat mobil kami ) mereka mengatakan bahwa kami telah melanggar peraturan. Ternyata jalanan tersebut hanya untuk pejalan kaki !! Astaghfirullah … Koq kita bisa ngga llihat tanda larangannya ya .. Terpaksa uang 38 euro atau kira-kira setara dengan 500 ribu rupiahpun  terpaksalah  melayang …   Tapi jangan salah, ini legal lho .. bukan sogokan seperti yang lazim yang terjadi di negri kita tercinta. Untung tidak masuk pengadilan, begitu kami menghibur diri …  

Esoknya, kami kembali ke tempat ini lagi…( tentu saja kali ini mobil di parkir di tempat yang semestinya. ..   ..meski ternyata tidak mudah mencari parkir ditempat ini ) ..  

Pelataran ramai dipadati turis, tidak seperti kemarin malam yang lenggang. Padahal udara dingin dan agak mendung. Gereja yang mulai dibangun pada tahun 1386 dan baru rampung secara keseluruhan pada tahun 1805 ini memang harus diakui keindahan dan kemegahannya. Gaya campuran antara Ghotique, Baroque, Néoclassique  dan Neogothique, sesuai zaman ketika dibangunnya, jelas sekali tampak disana. Di gereja raksasa ini pulalah Napoleon Bonaparte melantik raja Italia pada tahun 1805.  

Duomo di Milan ternyata adalah salah satu katedral tertinggi di dunia. Luas Kathedral ini 11700 m2, memiliki 136 menara (  yang tertinggi mencapai 108 meter) dan 3400 patung. Dengan biaya 10 euro, pengunjung dapat memasuki dan menaiki menara melalui lift atau tangga berjalan yang tersedia.  

Piazza Duomo di Milano
Piazza Duomo di Milano

Kami tidak menyempatkan diri masuk selain memang tidak tertarik juga karena waktunya hanya sedikit. Kami hanya berjalan-jalan di mall artistik di yang terletak disamping kathedral dimana sejumlah butik terkenal ada di dalamnya. Di tempat ini kami menjumpai sejumlah keramaian. Ada kelompok musisi yang memainkan musik, ada pula panggung dimana dari atasnya menjulur setangkai batang pohon (artificial). Dari tangkai tersebut menjulur  daun dan buahnya  

Mulanya kami tidak begitu ‘ngeh’ apa maksudnya. Kami hanya heran melihat barisan  panjang orang yang mengantri ingin berpose di bawah juntaian daun tersebut. Dengan berbagai gaya orang-orang tersebut berfoto. Ada yang sedang menggigit buahnya, ada yang hanya memegang daunnya.  

Ketika sepasang suami-istri naik dan berpose dengan gaya sedang menggigit buah tersebut, barulah saya sadar apa maksudnya. Tak syak lagi, ini adalah penggambaran kisah nabi Adam as dan Siti Hawa ketika berada di surga. Astaghfirullah hal Adzim  .. Wong Allah swt murka atas kelalaian keduanya koq orang malah berebut bergaya dan berfoto seperti itu. Benar-benar menantang …… keterlaluan ..

Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk“.  (QS.Toha (20):121-122)

Tak lama kemudian kami sudah berada didalam mobil. Marseilles yang berjarak 521 km adalah kota tujuan terakhir untuk menutup akhir tahun 2009. Ini adalah jarak terpanjang yang bakal kami tempuh dalam liburan kali ini. Namun demikian kami tetap ingin mengunjungi masjid Milan dan ingin melaksanakan shalat Zuhur dan Asar di dalamnya. Menurut internet masjid ini mempunyai madrasah dan forum kajian rutin yang membahas berbagai materi, dari aqidah hingga permasalahan sehari-hari yang dihadapi kaum Muslimin di kota ini.    

masjid Milan

masjid Milan

 Alhamdulillah tanpa kesulitan kami berhasil mencapai tempat tersebut. Masjid terletak diluar kota, didekat auto road. Memiliki tanda yang cukup jelas dan menara lumayan tinggi. Kami disambut oleh seseorang yang kelihatannya adalah penjaga masjid. Dalam bahasa Italia ia menunjukkan letak ruang shalat, tempat wudhu dan juga letak madrasah. Karena kesulitan bahasa, kami tidak dapat berbincang banyak .. sayang sekali ..    

 

( Bersambung ke : Suka Duka Muslim Di Perancis (12).)  

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »