Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Meningkatkan Rasa Syukur

by Lutfi S Fauzan on Thursday, October 7, 2010 at 12:51am

Tidak diragukan lagi, untuk meraih sukses kita perlu meningkatkan rasa syukur kita terhadap nikmat yang Allah berikan kepada kita. Bagaimana tidak, kita sudah belajar bagaimana manfaat syukur yang luar biasa dalam kehidupan kita. Namun, yang menjadi pertanyaan, kenapa masih banyak orang yang tidak atau kurang bersyukur? Atau ada juga orang yang merasa sudah bersyukur, tetapi dia merasa tidak ada tambahan nikmat sesuai dengan janji Allah. Padahal janji Allah tidak mungkin salah. Artinya cara bersyukur kita yang salah, kita merasa bersyukur padahal kita belum bersyukur.

Tiga Kesalahan Dalam Bersyukur

Jika kita bersyukur, nikmat kita akan ditambah oleh Allah. Mungkin, kita sudah hafal ayat Al Quran yang menjelaskan hal ini:

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu (QS Ibrahim:7)

Lalu, mengapa ada orang yang merasa sudah bersyukur tetapi merasa tidak mendapatkan nikmat tambahan? Karena janji Allah tidak mungkin salah, artinya ada yang salah dengan diri kita. Ada tiga kemungkinan:

  • Pertama: cara kita bersyukur yang salah.
  • Kedua: kita kurang peka terhadap nikmat yang sebenarnya sudah Allah berikan kepada kita.
  • Ketiga: Allah memberikan nikmat lain yang terbaik bagi kita, tapi kita tidak menyadarinya.

Pada artikel kali ini, saya akan fokus menyoroti tentang point kedua dan ketiga. Dengan dua penyebab itu, kita akan kurang bersyukur. Jika kita kurang bersyukur, maka wajar jika nikmat tidak kunjung datang. Kita harus terus meningkatkan rasa syukur kita terhadap nikmat Allah. Insya Allah, poin pertama, cara bersyukur akan dibahas pada artikel lain.

Bagaimana cara meningkatkan rasa syukur?

1.Luangkan waktu untuk merenungkan nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita.

Nikmat itu sangat banyak, bahkan tidak akan terhitung. Lalu mengapa banyak orang yang merasa tidak mendapatkan nikmat? Karena mereka kurang memberikan perhatian terhadap nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan. Allah mengulang-ngulang ayat “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” dalam surah ar Rahmaan, dimana salah satu hikmahnya adalah agar kita lebih memperhatikan nikmat-nikmat. Saat kita memberikan perhatian terhadap nikmat, kita akan melihat, kita akanngeh, bahwa nikmat Allah yang kita terima sangat banyak.

2.Berprasangka baiklah kepada Allah.

Banyak nikmat yang tidak terlihat bagi kita. Kita sering menganggap bahwa nikmat itu harus dalam bentuk materi, padahal lebih luas dari itu. Seringkali kita menganggap bahwa nikmat itu adalah sebuah pemberian, padahal bisa saja Allah sudah menghindarkan kita dari suatu musibah yang asalnya akan menimpa kita. Mungkin tidak ada yang bertambah pada diri kita, tetapi terhindar dari musibah bukankan sebuah nikmat yang besar? Renungkanlah…

3.Setelah kita mengetahui bahwa nikmat Allah begitu banyaknya, maka langkah selanjutnya ialah memasukan pengetahuan ini ke dalam hati. Agar melekat dengan diri kita sehingga rasa syukur kita akan bertambah. Caranya ialah terus menerus mengingat nikmat dalam berbagai kesempatan. Semakin sering kita mengingat nikmat, akan semakin tertancap dalam hati, maka rasa syukur pun akan meningkat.

Jadi cara meningkatkan rasa syukur diawali dengan pengetahuan akan nikmat yang telah kita terima. Namun tidak cukup hanya pengetahuan saja, karena banyak orang yang tahu tetapi kurang bersyukur. Pengetahuan akan nikmat ini harus tertanam dalam hati kita.

Kita sudah mengetahui bagaimana cara meningkatkan rasa syukur. Muda-mudahan dengan meningkat rasa syukur, nikmat kita akan bertambah.

Read Full Post »

Sedikit Tidur, itu Lebih Baik

Oleh : Ir. Abdeldaem Al Kaheel

Tidur selama delapan jam setiap hari atau hampir setiap hari, sudah lama dianggap sebagai rentang waktu tidur yang ideal sebagai waktu yang diperlukan oleh tubuh manusia.Tetapi penelitian baru mengatakan, bila tidur selama itu jika dilakukan setiap hari atau hampir setiap hari, justru lebih dapat mempersingkat masa hidup. Sebuah studi yang dilakukan atas lebih dari satu juta orang yang tidur delapan jam atau lebih dalam sehari menunjukkan mereka meninggal di usia yang lebih muda dari rekan-rekan mereka yang tidur dengan jam yang lebih sedikit.

Sebagaimana tidur empat jam setiap hari atau hampir setiap hari, juga kemungkinannya untuk meninggal lebih cepat. Tapi mereka yang tidur enam jam sehari, menurut penelitian dapat hidup lebih lama. Para Ilmuwan di University of California mengatakan, studi ini menunjukkan hubungan antar jarak waktu tidur dan tingkat kematian yang tinggi. Namun, tim peneliti belum berhasil mendapat jawaban di balik hubungan ini.

Profesor Jim Horne dari Sleep Research Centre di University of Loughborough mengatakan, bahwa mereka yang berpendapat tidur lama, itu tidak benar. Kami dapat mengkorfirmasi bahwa tidur enam atau tujuh jam satu hari sudah cukup lama. Jarak waktu atau jam tidur yang dibutuhkan oleh tubuh adalah jika Anda dalam kondisi terjaga lalu merasa ingin untuk tidur di siang hari.

Lagi-lagi, kita ucapkan Subhanallah. Al Qur’an telah diturunkan di tengah masa, di mana banyak sekali utopi yang menyebutkan bahwa tidur dalam waktu lama itulah yang paling baik. Sampai datang penelitian di abad 21 yang menegaskan bahwa waktu tidur yang pendek itulah yang lebih baik bagi manusia. Bukankah ini seperti yang telah ditegaskan dalam Al Qur’an di banyak ayat-ayatnya saat menerangkan tentang salah satu kebiasaan orang-orang yang bertakwa :

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS Adz-Szariyat : 17-18)

Seperti itu juga ALLah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk tidak banyak tidur, dan mengganti apa yang telah dikurangi dari waktu tidur di malam, pada waktu siang. ALLah swt berfirman :

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih bereksan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).” (QS Al Muzzamil : 1-7)

Dalam ayat ini dijelaskan perintah untuk tidak banyak tidur di waktu malam, dan menggantikannya di waktu siang. Ini juga menegaskan apa yang telah ditemukan para peneliti saat sekarang. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa serangan jantung umumnya datang setelah pagi hari sampai terbitnya matahari. Kita jadi mengerti kenapa Nabi yang mulia itu melewati waktu paginya hingga matahari terbit, dengan berdzikir, bertsbih dan tilawah Al Qur’an.

Ada lagi penelitian lain yang menjelaskan bahwa bangun di tengah malam itu bermanfaat bagi kesehatan, khususnya bagi jantung. Tidur yang panjang akan merusak dan membahayakan jantung. Jantung terkadang kekurangan oksigen akibat tidur yang terlalu lama, dan karenanya para ilmuwan mengatakan : “Bangun di malam hari, meski hanya satu kali, itu bermanfaat bagi jantung untuk memasok oksigen yang memadai dan untuk menghindari kematian mendadak.

Subhanallah. Ini juga telah dikonfirmasikan oleh Al Qur’an dan Rasulullah saw, ketika ia bangun di malam hari untuk tafakkur terhadap penciptaan ALLah swt, dan melakukan shalat malam.

Tidur di Siang Hari, Sama Pentingnya dengan Tidur di Malam Hari

Para peneliti mengatakan tidur siang hari sebentar — yang disebut dalam Islam dengan istilah qailulah — itu sangat berguna, sama seperti tidur di malam hari. Mereka mengatakan, bahwa dari perspektif perbaikan sikap dan perilaku, tidur siang berguna, sama sebagaimana tidur malam, terkait dengan fungsi kognitif seesorang. Sebuah tim peneliti dari Universitas Lubech, Jerman, melakukan tes diagnostik pada 52 sukarelawan. Para sukarelawan diminta untuk tidur dalam rentang waktu tertentu, tanpa membedakan waktu siang atau malam. Dan hasilnya, kondisi mereka sama dan tidak berbeda.

Di sini kita diingatkan kembali ingat dengan apa yang disampaikan oleh Al Qur’anul Karim, untuk tidur di malam hari dan siang hari. Bahkan tidur siang sebentar itu tidak kalah pentingnya sebagaimana tidur malam.

“Dan di antara ayat-ayat-Nya tidur di malam hari dan siang hari.”

Ini adalah tanda keajaiban Al Qur’an sebagai Kitab yang diturunk an dari ALLah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Karena informasi ini baru bagi para ilmuwan, bahkan mereka tidak tahu pentingnya tidaur siang kecuali di abad kedua puluh satu. Sedangkan Al Qur’an telah menekankan pentingnya tidur malam dan siang, sebagai suatu keajaiban dan tanda kekuasaan ALLah, sejak empat belas abad lalu!

Subhanallah. Apakah setalah semua fakta ini masih ada yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah karangan manusia?

Memori Otak Lemah, Saat Seseorang Baru Saja Bangun Tidur

Para ilmuwan Universitas Harvard melakukan penelitian terkait hubungan antara memori ingatan dan tidur. Mereka menggunakan alat scan resonansi MRI fungsional magnet, hingga mereka mendapati adanya aktivitas otak di kawasan yang spesifik. Kemudian aktivitas itu bergerak ke wilayah kedua dan begitulah seterusnya bahwa otak melakukan penataan informasi, berkoordinasi, dan menyimpan informasi sehingga mudah diambil kembali setelah seseorang bangun dari tidur. Namun studi selanjutnya menunjukkan bahwa fokus otak seseorang ada pada tahap minimum ketika ia baru saja bangun tidur. Dibutuhkan waktu antara 15-30 menit untuk dapat mengembalikan kemampuan pikiran. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar seseorang segera setalah bangun tidur melakukan beberapa latihan ringan untuk memulihkan aktivitas otak.

Di sini, kita juga bisa memahami mengapa Nabi saw banyak mengingat ALLah langsung setelah bangun dari tidur. Beliau kemudian berwudhu, berdo’a, lalu shalat. Jadi beliau menggunakan bagian waktunya setelah tidur untuk berdo’a dan berdzikir, sebelum melakukan aktivitas lain atau menentukan keputusan. Jika ktia kaji pandangan para ilmuwan dewasa ini, mereka menegaskan bahwa memori manusia berada pada posisi terendah setelah baru saja bangun dari tidur.

Para peneliti memperingatkan dokter yang berjaga malam, juga petugas pemadam kebakaran dan pekerja di malam hari yang pekerjaannya membutuhkan pengambilan keputusan penting setelah bangun. Disarankan mereka untuk tidak mengambil keputusan atau tidak mengambil tindakan apapaun sampai setelah seperempat jam setelah bangun tidur.

Itu sebabnya ALLah berfirman :

“ALLAh memegang jiwa (seseorang) pada saat kematiannya dan jiwa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur, maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) ALLah bagi kaum yang berpikir.” (QS Az-Zumar : 42)

Ayat ini menjelaskan tentang pentingnya tidur dan kaitan antara tidur dengan mati. Karena itu, kita harus perhatikan kondisi tidur kita, dengan berdzikir kepada ALLah swt sebelum tidur dan setelah bangun dari tidur. Bercermin pada apa yang dilakukan Rasulullah saw.

Apa Pelajaran yang Kita Petik dari Studi ini?

1. Jangan terlalu banyak tidur, dan bangunlah di saat shalat Subuh. Ini akan menambah kekuatan jantung dan meningkatkan kesehatan serta menambah kegairahan untuk beraktivitas. Gantilah sebagian kekurangan tidur kita di waktu malam dengan tidur sejenaj di waktu siang.

2. Manfaatkan waktu tidur kita dengan mendengarkan tilawah AL Qur’an murattal. Otak akan bekerja menyimpan ayat-ayat yang dibacakan itu saat kita tidur. Ini adalah salah satu cara untuk membantu kita menghafal Kitabullah. Saya menerapkan cara ini dan saya telah mampu menghafal Al Qur’an tanpa kesulitan yang berarti. Alhamdulillah.

3. Hal pertama yang harus dilakukan setelah bangun langsung adalah berdo’a sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw,

“Segala puji bagi ALLah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nyalah kami dikumpulkan.”

Lalu berwudhulah, shalat sekitar 15 menit minimal. Aktivitas seperti ini akan menambah kemampuan kita untuk bisa tepat mengambil keputusan penting dalam hidup.

Akhirnya, saya memohon kepada ALLah swt agar mengokohkan ktia di atas kebenaran ini. Menjadikan seluruh kemukjizatan ini sebagai sarana yang bisa meyakinkan hati siapapun yang ragu terhadap hakikat Islam. Agar mereka mengetahui kemuliaan agama ini. Agar mereka tahu kasih sayang yang telah dibawa Rasulullah saw.

Saya tutup artikel ini, dengan firman ALLah swt,

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagaian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS Ar-Rum : 23).

Read Full Post »

“ … …  Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir”. (QS.Ali Imran (3): (140-141).

Dari ayat diatas saja paling tidak ada 6 alasan yang dapat ditarik mengapa Sang Khalik mempergilirkan manusia pada masa kejayaan dan kehancurannya. Namun sebelum kita memulai membahas hal tersebut di atas ada baiknya kita samakan dahulukan persepsi kita tentang apa itu kejayaan dan apa itu kehancuran.

Sebagian orang menganggap bahwa kejayaan itu identik dengan kesuksesan atau kemenangan yang sifatnya materialistis atau kebendaan.  Menurut kelompok ini ciri kesuksesan seseorang terlihat secara kasat mata dengan banyak dan besarnya  harta yang dimiliki orang yang sukses tersebut. Orang-orang yang berpikir seperti ini biasanya juga memotivasi anak cucunya dengan kesuksesan yang sifatnya materialistis. Berdasarkan pandangan ini mereka menganggap uang dan harta adalah segalanya. Karena dengan uang segalanya dapat diperoleh.

Sebaliknya, masih menurut pendapat kelompok diatas, orang yang tak mampu mengumpulkan  uang dan harta yang menumpuk, berarti ia gagal dalam hidup. Itulah kehancuran.

Namun pandangan yang  lazim disebut dengan Teori Materialistik ini di belakang hari ternyata banyak melahirkan masalah. Karena nyatanya tidak semua hal dapat dibeli dengan uang. Contohnya antara lain kebahagiaan dan ketenangan hidup. Celakanya lagi, justru seperti inilah pendapat  sebagian besar orang yang merasa dirinya orang modern.

Mereka bahkan secara sembrono telah menilai Tuhannya dengan pandangan yang salah.

“ Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.(QS.Al-Fajr(89):15-16).

Mereka mengira bahwa uang ,harta, kesuksesan, kekuasaan dan kesenangan hidupnya itu sebuah pertanda bahwa Tuhannya mencintainya, memuliakannya serta melebihkannya dari yang lain. Sebaliknya ketika usaha mereka tidak berhasil mengeruk hasil yang melimpah berarti Tuhan telah meninggalkannya. Bagi mereka kemiskinan dan  kesusahan adalah hinaan.

Betulkah pendapat tersebut menurut Islam? Islam tidak perah mengajarkan hal ini. Uang, harta, kekuasaan dan kesuksesan hanyalah cobaan hidup. Begitu pula kemiskinan, kekurangan dan kesusahan hidup. Karena  hak meluaskan dan menyempitkan rezeki adalah semata milik-Nya.

“ Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman”.(QS.Ar-Rum(30):37).

“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” .(QS.Al-Baqarah (2):155-156).

Yang dituntut dari Sang Khalik hanyalah pengakuan bahwa Dia-lah Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan.  Pengakuan ini harus pula dibarengi dengan ketakwaan, sabar dalam menghadapi musibah dan bersyukur ketika dalam kesenangan.

Jadi, kembali  kepada surat Ali Imran ayat 140-141 di awal bahasan ini, Allah swt menerangkan  bahwa ada 6 alasan mengapa Allah mempergilirkan kejayaan dan kejatuhan seseorang atau suatu kelompok. Walaupun ayat tersebut menurut para mufasir diturunkan sehubungan dengan kemenangan yang diperoleh kaum Muslimin ketika Perang Badar dan kekalahan mereka ketika terjadi Perang Uhud.

“ Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. … … “. (QS.Ali Imran (3): (140).

Enam alasan  mengapa Allah mempergilirkan kejayaan dan kejatuhan yang dimaksud ayat tersebut adalah :

  1. Agar manusia dapat merasakan kemenangan disamping kekalahan.
  2. Agar supaya Allah dapat membedakan mana orang yang beriman dan mana yang kafir.
  3. Agar orang yang beriman mendapat kesempatan untuk membuktikan ketakwaannya, antara lain yaitu dengan gugur sebagai syuhada. (*).
  4. Agar manusia mengerti bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim.
  5. Cara Allah membersihkan dosa-dosa orang-orang yang gugur sebagai syuhada. (*).
  6. Sebagai jalan untuk membinasakan orang-orang yang kafir.

Melalui ayat diatas pula dapat disimpulkan bahwa perputaran antara kejayaan dan kejatuhan yang ditetapkan oleh-Nya itu tidak hanya berlaku bagi kaum Materialistis saja namun juga berlaku bagi semua lapisan masyarakat dan juga dalam keadaan perang.

“ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya “.(QS.Ali Imran (3): (142-143).

Wallahu’alam bishshawab.

Jakarta, 25 Juli 2010.

Vien AM.

(*) Syuhada adalah orang beriman yang gugur dalam perang/jihad. Namun jihad dapat pula berarti: 1. berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam; 2. memerangi hawa nafsu; 3. mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam; 4. Memberantas yang batil dan menegakkan yang hak.

Read Full Post »

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.(QS. Al-‘Araf(7):56).

Bila kita perhatikan ayat yang berisi larangan agar tidak berbuat  kerusakan di muka bumi tidaklah sedikit. Walaupun tentu saja ini tidak berarti bahwa bahwa bila ayat yang berisi perintah atau larangan hanya sedikit maka kita tidak perlu memperhatikan ayat tersebut !

Masalahnya tahukah kita sebenarnya apa dan yang bagaimanakah yang dimaksudkan kerusakan itu …

Seperti kita ketahui Allah swt menciptakan manusia dengan tujuan yang jelas yaitu, agar ia menjadi khalifah di bumi ini. Manusia di beri tugas agar memelihara, menjaga serta mengelola bumi ini. Artinya demi kelangsungan, kepentingan serta kenyamanan kita sebagai manusia,  Allah swt sebagai pemilik tunggal bumi ( dan seluruh alam semesta ) mengizinkan kita mendaya gunakan bumi dan seluruh isinya secara maksimal. Ini adalah sifat utama-Nya, yaitu Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih. Dengan syarat tidak merusak keseimbangannya.

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. ( QS.Al-Baqarah(2):205).

Mengapa ? Karena Allah swt telah menciptakan bumi dan alam semesta ini dengan penuh perhitungan, dengan ketelitian super tinggi, dengan keseimbangan yang benar-benar mengagumkan.

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, (QS.Qaaf(50):6-7).

Perputaran matahari, bumi dan bulan dengan gravitasi dan sentrifugalnya, perkisaran angin, struktur dan sifat tanah, gunung, air, udara dll itu semua adalah sunatullah, hukum alam yang diciptakan-Nya dengan sengaja dan dengan maksud tertentu pula. Demikian pula proses penciptaan manusia, sebab dan akibat timbulnya suatu penyakit dll. Ia sengaja tidak menyembunyikan aturan tersebut kepada manusia. Walaupun sebenarnya Ia  bisa berbuat sekehendak-Nya tanpa perlu aturan.

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. QS.Al-Baqarah(2):117).

Namun Ia berkehendak agar manusia memahaminya. Tidak hanya pasrah begitu saja. Itu sebabnya aturan-aturan tersebut dapat dilihat, diikuti, dipahami, dipelajari dan diserap hikmahnya, terutama bagi orang-orang yang mau berpikir.

Dengan bekal inilah manusia mustinya berjalan. Ada aturan yang harus kita patuhi. Tidak boleh kita misalnya  membuka lahan dengan cara membakarnya secara sembarangan, menebang pepohonan seenaknya, membuang sampah tidak pada tempatnya, menggunakan air dan mengexploitasi bumi secara berlebihan dan tanpa ilmu pula.

Kita dapat melihat dan merasakan sendiri  apa akibatnya bila kita tidak mematuhi aturan alias merusaknya. Banjir, kebakaran hutan, naiknya permukaan dasar laut,  krisis energi, rusaknya lapisan Ozon, pemanasan global adalah beberapa diantara contohnya. Belum lagi berbagai jenis penyakit yang saat ini makin banyak saja ragamnya. Adab menjaga kebersihan seperti yang dicontohkan Rasululah saw, seperti mencuci tangan sebelum makan, bersiwak ( menggosok gigi ) setiap habis makan bahkan mandi junubpun sesungguhnya merupakan bagian dari menghindari berbagai penyakit. Jadi sebenarnya kita sendirilah yang menderita dan rugi bila kita berbuat kerusakan.

Ini adalah kerusakan jenis pertama. Berikutnya adalah kerusakan moral. Allah menciptakan manusia dalam keadaan jiwa yang bersih. Manusia adalah mahluk bermoral yang menjunjung tinggi kejujuran,  adab dan sopan santun serta tata krama pergaulan. Manusia diciptakan untuk saling  menghargai, saling menyayangi, saling mengingatkan serta menjaga silaturahmi.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal……”(QS. Al-Hujuraat (49):13).

Seperti juga halnya dengan dengan kerusakan pertama, akibat dari kerusakan kedua ini juga kita sendiri yang harus menanggungnya.  Dimulai dari hal-hal kecil yang kelihatannya sepele seperti menyapa dengan sapaan yang baik ketika berjumpa kenalan, menjenguk teman sakit, mengunjungi orang-tua, berlaku jujur ketika sedang ujian alias tidak menyontek, bersedekah hingga hal-hal serius seperti menutup aurat, menjaga pergaulan dan pandangan.

Bila semua ini kita abaikan bukan tidak mungkin musibah dan kesengsaraan akan menghampiri kita. Karena dengan tidak menjaga silaturahmi akan beresiko dikucilkan dan dibenci teman dan kerabat. Akibat tidak jujur alias berbuat curang bisnis bisa terhambat. Dengan kurang bersedekah maka doa dan restu dari orang ‘kecil’pun tidak muncul. Karena pergaulan bebas maka beberapa resiko terpaksa  harus ditanggung. Mulai dikeluarkan dari sekolah karena hamil di luar nikah, cercaan hingga terkena Aids.

Yang terakhir, dan inilah yang paling penting yaitu menghindari penyakit sombong. Sombong ?? Ya .. sombong terhadap-Nya. Yaitu merasa diri tidak memerlukan-Nya, tidak mentaati-Nya bahkan mengakui-Nyapun enggan. Atau bisa juga karena menyekutukan-Nya. Ironisnya, justru kasus inilah yang terbanyak.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)“.( QS. Ar-Ruum(30) : 41-42).

Penyakit sombong seperti ini adalah penyakit  yang paling berbahaya. Karena akibatnya tidak saja harus ditanggung di dunia namun lebih parah lagi di akhirat nanti. Ini adalah dosa terbesar dan terberat yang nyaris tidak ada ampunan kecuali sempat  bertobat. Dengan catatan bukan tobat yang dilakukan menjelang ajal. Tobat yang seperti ini tidak akan diterima-Nya. Dan balasannya adalah neraka jahanam untuk selamanya. Astaghfirullah …

Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. ((QS.Al-Baqarah(2):206).

Adapun balasannya di dunia adalah tergantung Sang Khalik. Bisa segera diberikan bisa ditangguhkan bisa juga di’total’ di akhir nanti. Itu sebabnya seringkali kita menyaksikan  orang kafir yang menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, tidak berbuat  kerusakan terhadap lingkungan dan dirinya sendiri namun mereka tetap aman dari segala penyakit dan kesusahan. Ini adalah hak yang pantas mereka terima berkat sifat Ar-Rahman-Nya.

Namun bisa jadi ini adalah Istidraj, yaitu cobaan kesehatan, kesenangan, kekayaan dan kemegahan dari-Nya. Bagi orang-orang tertentu cobaan dalam bentuk seperti ini terasa lebih berat daripada cobaan yang sifatnya kesusahan dan kesengsaraan. Biasanya mereka tidak menyadari bahaya penyakit ini. Sebaliknya mereka merasa telah berbuat baik dan benar. Padahal sebenarnya mereka tengah menuju lembah nestapa yang benar-benar hina!

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” ( QS.Al-Baqarah(2):11).

Orang-orang seperti ini pada umumnya merasa bahwa akal adalah diatas segalanya. Ilmu yang mereka miliki dianggap sudah lebih dari cukup. Padahal manusia adalah mahluk yang sangat terbatas ilmunya. Mereka hanya mampu melihat hal-hal yang nyata saja. Tidak yang ghaib. Karena untuk melihat yang ghaib diperlukan ilmu yang lain. Yaitu keimanan. Hanya melalui Al-Quranul Karim dibantu dengan contoh Rasulullah saw sajalah kita bakal mampu melihat yang ghaib ini.

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.( QS.Al-Araf(7):158).

Dewasa ini dapat kita lihat secara kasat mata bahwa kerusakan telah terjadi dimana-mana dan dengan begitu parahnya pula. Baik kerusakan jenis pertama, jenis kedua maupun jenis ketiga. Kerusakan lingkungan, kerusakan moral, kekafiran serta kemunafikan makin meraja-lela. Ajaran Islam terpecah-pecah, umat terkotak-kotak dan terbelah. Persaudaraan Islampun hancur.

Sementara perbuatan homoseksual yang jelas-jelas melanggar fitrah menjamur dimana-mana. Bahkan dengan dalih kebebasan berpendapat dan demokrasi sejumlah negara dengan sembrono berani merestui pernikahan sesama jenis ini. Astaghfirullah .. Tampaknya mereka tidak mampu mengambil hikmah kejadian yang terjadi berad-abad lalu berikut ini :

Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. Luth berdo`a: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”.(QS. Al-Ankabuut) ( 29):28-30).

“... Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.(QS.Al-Baqarah(2):26-27).

….. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar “.(QS. Al-Anfaal(8):73).

Dari Abi Sa’id Al-Khudlari-radliallahu ‘anhu- dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : “ Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lidahnya, jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah (dengan hati) selemah-lemah iman ” (HR.Muslim).

Wallahu’alam bishawwab.

Pau – France, 13 April 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

«  Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka « .( QS. Ali Imran (3):190-191).

IMG_1274Allah swt menciptakan langit, bumi dan segala apa yang ada diantaranya dengan maksud yang jelas. Sistim peredaran  matahari dan bulan di tempat edarnya masing-masing, silih bergantinya siang dan malam, perputaran bumi di porosnya dengan kemiringan yang tertentu sambil mengitari matahari, berputarnya bulan mengelilingi bumi  adalah untuk keperluan dan kebutuhan manusia yang diciptakan-Nya.

« Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya) dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran « .(QS.An-Nahl(16) :12-13).

Tujuh bulan tinggal di Perancis, ayat-ayat Allah di atas terasa lebih lagi berkesan. Pemicunya adalah jadwal shalat yang selalu berubah! Di Indonesia waktu shalat bisa dikatakan hampir selalu sama. Subuh sekitar pukul 4.30 – 5.00 WIB, Zuhur pukul 12.00 WIB, Asar pukul 15.00 -15.30 WIB, Magrib pukul 17.50 – 18.00 WIB dan Isya pukul 19.00-19.30 WIB.

Tidak demikian halnya di kota tempat kami tinggal ini. Waktu masuknya shalat hampir setiap hari berubah. Untuk itu setiap keluarga Muslim wajib mempunyai jadwal waktu shalat. Apalagi dengan dilarangnya kumandang azan di seluruh pelosok negri kafir ini.

Shalat adalah perbuatan yang pertama dihisab. Inilah tiang agama. Uniknya, shalat yang wajib dikerjakan 5 kali sehari ini tidak boleh dikerjakan di sembarang waktu. Tidak sah shalat orang yang mengerjakannya diluar waktu yang telah ditetapkan.

“ Rasulullah saw bersabda : “ Waktu zhuhur adalah bila matahari telah tergelincir sampai bayang-bayang seseorang itu sama dengan badannya, yakni sebelum datang waktu ashar. Dan waktu ashar adalah sampai matahari belum lagi kuning cahayanya. Dan waktu shalat magrib selama syafak awan merah belum lagi lenyap. Dan waktu shalat isya sampai tengah malam kedua ,sedang waktu shalat subuh mulai terbit fajar sampai terbitnya matahari. Jika matahari telah terbit maka hentikanlah shalat karena ia terbit di antara kedua tanduk setan.” ( HR Muslim).

Hadis diatas mempertegas betapa umat Islam ini wajib menguasai sains terutama yang berkaitan dengan pergerakan matahari ; tentang jatuhnya bayang-bayang, cahaya,  warna cahaya dll. Apa sebenarnya hikmah dibalik ini semua?

«  Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui ».(QS.Al-An’am (6) : 96).

Ayat diatas memiliki beberapa kandungan. Yang pertama menyatakan bahwa Allah menyingsingkan  pagi ( menerbitkan matahari ). Yang kedua Allah menjadikan malam ( terbenamnya matahari ) sebagai waktu yang tepat untuk beristirahat ( tidur). Dan yang ketiga bahwa Allah menjadikan matahari dan bulan untuk menjadi dasar perhitungan.  Perhitungan apakah itu ? Bermacam-macam, diantaranya yaitu tadi, perhitungan untuk menentukan waktu shalat.

Tampaknya Allah swt tidak ingin umat Islam acuh terhadap pergerakan matahari. Di Indonesia hal ini tidak begitu terasa karena Indonesia berada di garis khatulistiwa, garis imaginasi yang vertikal terhadap poros rotasi bumi, dimana matahari selalu tepat berada di atas kepala. Itu sebabnya waktu zuhur selalu pukul 12 lewat sedikit. Karena matahari tergelincir tepat pada pukul 12 siang.

Lain halnya dengan Perancis dan negara-negara yang terletak dibelahan bumi utara dan belahan bumi selatan.  Letak matahari di permukaan bumi di tempat ini tidak selalu sama. Tergantung sudut yang terbentuk antara keduanya.

Yang paling menarik untuk saya pribadi adalah waktu subuh dan magrib. Keadaan subuh dan magrib adalah keadaan yang bertolak belakang. Subuh adalah ketika sinar matahari mulai menampakkan diri hingga sebelum matahari itu sendiri muncul dari permukaan bumi. Ini berarti langit pada saat itu berwarna kemerahan, akibat sinar matahari . “ Waktu shalat subuh adalah mulai terbit fajar sampai terbitnya matahari « .

Sementara magrib adalah ketika matahari beranjak ‘masuk’ ke dalam bumi hingga matahari itu sendiri masuk ke dalam bumi. Sama dengan waktu subuh, berarti langit pada saat itu berwarna kemerahan. « waktu shalat magrib selama syafak awan merah belum lagi lenyap “.

Berikut adalah jadwal waktu shalat di Perancis secara umum .

Nama Musim Subuh Zuhur Asar Magrib Isya
Musim Panas( Juni – Agustus ) 03.45-05.40 13.52-18.13 18.14-22.02 22.03-23.45 23.46-03.44
Musim Gugur  (*)( September – November) 05.41-07.00 13.50-17.38 17.39-20.39 20.40-21.51 21.52-05.40
Musim Dingin( Desember – Februari ) 06.55-08.16 12.39-14.42 14.43-17.00 17.01-18.16 18.17-06.54
Musim Semi (*)(Maret – Mei ) 06.17-07.32 13.56-17.28 17.29-20.17 20.18-21.27 21.28-06.16

( http://www.uoif-online.com/v3/spip.php?article571 )

Tanda (*) menunjukkan bahwa pada musim tersebut terjadi penyesuaian waktu terhadap keadaan sebenarnya. ( posisi matahari). Ini yang biasa disebut ‘Day Light Saving’. Di Perancis biasanya diberlakukan pada minggu terakhir pada hari Sabtu tengah malam. Pada musim gugur penyesuaian terjadi pada bulan Oktober. Jam dimundurkan 1 jam. Sedangkan pada musim Semi terjadi pada bulan Maret. Jam dimajukan 1 jam.

Kenyataan diatas sekali lagi membuktikan bahwa manusia itu sebenarnya tidak mampu melawan kehendak alam, kehendak-Nya. Penentuan waktu, penentuan jam dll hanyalah bentuk usaha manusia dalam rangka mengikuti sunah-Nya. Allahu akbar ..

Dari jadwal di atas terlihat jelas bahwa matahari itu bergerak. Namun dari sains dan ilmu pengetahuan kita mengetahui bahwa bukan matahari yang  bergerak melainkan bumilah yang berjalan ; berputar mengelilingi matahari sambil berotasi dengan kecepatan tertentu.

(baca lengkap click: http://vienmuhadisbooks.wordpress.com/2009/10/06/bab-iii-persiapan-bumi-sebagai-cikal-bakal-tempat-tinggal-manusia/ di posting pada bab V buku “Perjalanan Sang Khalifah 1–The True Game “,

click:  http://vienmuhadisbooks.wordpress.com/category/perjalanan-sang-khalifah-1-the-true-game/ )

Disamping itu sains juga mengatakan bahwa bumi  berputar dengan kemiringan yang juga tertentu. Ditambah dengan jarak antara bumi dan matahari yang tertentu maka terjadinya musim panas dan musim dingin. Pada musim panas  terlihat bahwa siang hari jauh lebih panjang dari malam hari ( sekitar 17 jam). Sementara pada musim dingin siang hari jauh lebih pendek dari malam hari ( sekitar 9 jam).  Maka sungguh alangkah tepatnya ayat berikut ini ….

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. AL-Qashash (28) :71-72).

Sungguh benar apa yang dikatakan-Nya bahwa tidak sia-sia apa yang diciptakan-Nya itu. Dengan perhitungan dan ketelian yang maha tinggi Allah swt menciptakan alam semesta ini dengan penuh hikmah. Dan sungguh beruntung kita, umat Islam diwajibkan melaksanakan shalat pada waktu-waktu yang ditentukan-Nya tersebut, yaitu dengan cara mengamati pergerakan matahari. Rupanya Ia ingin kita   menjadi saksi ke-Maha -Cerdasan-Nya. Ini adalah sebuah kehormnatan yang tidak boleh kita sia-siakan.  Allahu Akbar … Allahu Rasyid ..

Tono Saksono Ph D, dari CIS ( Center for Islamic Studies), dalam bukunya « Mengungkap Rahasia Simfoni Dzikir Jagat Raya « , mengatakan bahwa manusia itu sebenarnya sedang menjadi bagian dari simphoni zikir jagat raya. Bersama dengan seluruh alam semesta ; langit, bumi, matahari, bulan, bintang, burung-burung, gunung dsb umat Islam diseluruh dunia ber-zikir dan bertasbih ; mengingat-Nya, memuji-Nya,  mengagungkan-Nya, menyembah-Nya, bersujud kepada-Nya meski itu dengan caranya masing-masing. Manusia dengan shalatnya yang minimal 5 waktu.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS.Al-Isra’(17):44).

Dan dengan makin tersebarnya ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia, di belahan bumi manapun sekarang ini, setiap waktu dan setiap saat, selalu ada saja sejumlah manusia yang shalat ; bersujud  mengagungkan-Nya. …… Subhanallah ..

Berdasarkan kajian jadwal waktu shalat di 403 kota dari 203 negara di dunia dimana didalamnya  terdapat  masyarakat  muslim (baik mayoritas maupun minoritas) ditarik  kesimpulan bahwa :

1.   Setidaknya ¼ bagian  waktu  dalam 1 hari, atau sekitar  6 jam dalam  1 hari 1 malam ada  sebagian  penduduk  bumi  yang melaksanakan  shalat  subuh, zuhur, ashar, magrib dan isya dalam waktu yang bersamaan secara serentak. Hal ini disimpulkan  dengan  asumsi  shalat  dilakukan  pada awal waktu, yaitu begitu azan dikumandangkan karena memang begitulah keutamaan shalat.

2.  Selama 24 jam penuh di bumi ini selalu ada kelompok masyarakat  muslim yang sedang  melaksanakan shalat wajib secara  berkesinambungan. Apalagi bila  shalat  dilaksanakan secara berjamaah karena shalat berjamaah memang sangat ditekankan.  Ini disimpulkan  karena  walaupun keutamaan  shalat adalah pada awal waktu namun tidak mustahil dengan berbagai alasan ada sekelompok muslim yang melakukannya tidak  secara  demikian.

Mungkin tidak terlalu berlebihan bila dibuat perumpamaan bahwa bumi itu adalah ibarat perahu kecil berkecepatan extra tinggi yang mengarungi samudra nan luas. Umat Islam yang taat mengerjakan shalat wajib 5 waktu adalah penumpang  yang menyadari bahwa perahu kencang yang ditumpanginya itu  sewaktu-waktu dapat tenggelam. Karena selain mengetahui dengan pasti arah, tujuan dan siapa nakhoda kapalnya ia juga senantiasa awas, menyimak keadaan kapal yang ditumpanginya dan keadaan sekitarnya. Untuk itu ia memilih duduk dipinggir perahu bukan di tengah perahu.

Sementara orang yang yang tidak mengerjakan shalat adalah penumpang yang lalai. Ia memilih duduk di tengah perahu dan merasa menumpangi kapal pesiar mewah raksasa yang aman namun tanpa mengetahui arah, tujuan, siapa nakhodanya serta tidak pernah memperhatikan keadaan sekitarnya. Akibatnya ia tidak pernah tahu bahwa kapal dalam keadaan oleng dan bahkan tidak menyadari bahwa bahkan sang nakhoda tidak peduli terhadap nasibnya !! Astaghfirullah haladzim …

Wallahu’alam bishshawab.

Pau – France, 28 March 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Suatu ketika hiduplah seorang laki-laki Yahudi bernama  Qorun. Riwayat menceritakan bahwa ia adalah sepupu nabi Musa as. Ia adalah seorang yang beruntung karena Allah swt menganugerahinya ilmu dan harta yang tak terkira banyaknya. Dengan ilmu dan hartanya itu ia menjadi dikenal banyak orang dan menjadi buah bibir. Banyak orang yang menjadikannya  idola dan panutan. Bahkan para orang tua sering menasehati anak-anaknya agar bekerja keras dan rajin menuntut ilmu seperti Qorun. Yang demikian dimaksudkan  agar anak-anak kelak dapat menjadi sukses dan sekaya raya Qarun.

Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar“.(QS.Al-Qashash(28):79).

Sayangnya karunia Allah yang begitu besar ini malah menjadikan Qorun takabur. Ia hidup bermegah-megahan dan dengan bangga ia berkata : “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (QS.Al-Qashash(28):78).

Qorun begitu yakin bahwa apa yang dicapainya itu memang sudah semestinya. Ini adalah buah dari  kerja kerasnya menuntut ilmu selama bertahun-tahun. Jadi ini adalah haknya!

Para alim ulama yang hidup di sekelilingnyapun mengingatkannya agar  segera bertaubat. Mereka berkata : “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”.(QS.Al-Qashash(28):80).

Namun tampaknya Qorun telah terlalu silau dengan hartanya yang melimpah ruah itu. Yang bahkan kunci-kunci gudang dimana ia menyimpan hartanya itu saking beratnya harus dipikul sejumlah ‘bodydguard’ yang kuat.

 “ … dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat…. “.(QS.Al-Qashash(28):76).

Syaitanlah  yang membisiki Qorun supaya ia tidak mendengar nasihat para alim ulama. Ia bahkan menganggap para alim ulama itu iri dan dengki terhadap kesuksesannya.

Maka Kami benamkanlah Qorun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)” .(QS.Al-Qashash(28):81).

Melihat malapetaka yang menimpa Qorun beserta seluruh harta bendanya itu, pendudukpun terkesiap. Mereka segera menyadari kesalahan yang dilakukan Qorun. Dan apa yang telah dikatakan para alim ulama itu adalah yang benar.

“Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qorun itu. berkata: “Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (ni`mat Allah)”. (QS.Al-Qashash(28): 82).

Itulah kisah Qorun dan hartanya yang dibenamkan Sang Khalik karena ia takabur dan tidak memanfaatkan hartanya dijalan yang benar. Maka jadilah hingga saat ini kata  “ harta karun “ sebagai kata umum yang digunakan untuk menyebut harta yang terpendam. ( Karun dari kata Qorun). Saat ini jejak peninggalan istana Qorun dan danau tempat ditenggelamkan hartanya  bisa ditemui di Al Fayoum, Mesir, yang hanya berjarak sekitar 90 km dari Kairo.

 ( http://misteridisekitar.blogspot.com/2015/07/misteri-dan-kisah-dibalik-danau-qorun.html )

Ironisnya mungkin hanya sedikit orang yang mengetahui asal usul kata ini. Padahal Allah swt sengaja mengabadikan kisah harta Qorun  kedalam ayat-ayat Al-Quran agar menjadi peringatan bagi orang yang hanya mengejar kesuksesan dunia tanpa mengingat akhirat. Bukannya malah menjadikan harta buruan seperti yang umum terjadi saat ini. Bahkan game atau permainan dengan nama Harta Karunpun  sering kita jumpai, bukan ? Apakah ini namanya bukan menantang-Nya?  Astaghfirullahaladzim ..

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan “. (QS.Al-Qashash(28): 77).

Semoga Allah swt ridho memasukkan kita ke dalam golongan orang yang pandai mengambil hikmah suatu peristiwa, amiin …

Pau – France, 16 Maret 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »