Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Mengungkap Rahasia Simfoni Dzikir Jagat Raya’

«  Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka « .( QS. Ali Imran (3):190-191).

IMG_1274Allah swt menciptakan langit, bumi dan segala apa yang ada diantaranya dengan maksud yang jelas. Sistim peredaran  matahari dan bulan di tempat edarnya masing-masing, silih bergantinya siang dan malam, perputaran bumi di porosnya dengan kemiringan yang tertentu sambil mengitari matahari, berputarnya bulan mengelilingi bumi  adalah untuk keperluan dan kebutuhan manusia yang diciptakan-Nya.

« Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya) dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran « .(QS.An-Nahl(16) :12-13).

Tujuh bulan tinggal di Perancis, ayat-ayat Allah di atas terasa lebih lagi berkesan. Pemicunya adalah jadwal shalat yang selalu berubah! Di Indonesia waktu shalat bisa dikatakan hampir selalu sama. Subuh sekitar pukul 4.30 – 5.00 WIB, Zuhur pukul 12.00 WIB, Asar pukul 15.00 -15.30 WIB, Magrib pukul 17.50 – 18.00 WIB dan Isya pukul 19.00-19.30 WIB.

Tidak demikian halnya di kota tempat kami tinggal ini. Waktu masuknya shalat hampir setiap hari berubah. Untuk itu setiap keluarga Muslim wajib mempunyai jadwal waktu shalat. Apalagi dengan dilarangnya kumandang azan di seluruh pelosok negri kafir ini.

Shalat adalah perbuatan yang pertama dihisab. Inilah tiang agama. Uniknya, shalat yang wajib dikerjakan 5 kali sehari ini tidak boleh dikerjakan di sembarang waktu. Tidak sah shalat orang yang mengerjakannya diluar waktu yang telah ditetapkan.

“ Rasulullah saw bersabda : “ Waktu zhuhur adalah bila matahari telah tergelincir sampai bayang-bayang seseorang itu sama dengan badannya, yakni sebelum datang waktu ashar. Dan waktu ashar adalah sampai matahari belum lagi kuning cahayanya. Dan waktu shalat magrib selama syafak awan merah belum lagi lenyap. Dan waktu shalat isya sampai tengah malam kedua ,sedang waktu shalat subuh mulai terbit fajar sampai terbitnya matahari. Jika matahari telah terbit maka hentikanlah shalat karena ia terbit di antara kedua tanduk setan.” ( HR Muslim).

Hadis diatas mempertegas betapa umat Islam ini wajib menguasai sains terutama yang berkaitan dengan pergerakan matahari ; tentang jatuhnya bayang-bayang, cahaya,  warna cahaya dll. Apa sebenarnya hikmah dibalik ini semua?

«  Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui ».(QS.Al-An’am (6) : 96).

Ayat diatas memiliki beberapa kandungan. Yang pertama menyatakan bahwa Allah menyingsingkan  pagi ( menerbitkan matahari ). Yang kedua Allah menjadikan malam ( terbenamnya matahari ) sebagai waktu yang tepat untuk beristirahat ( tidur). Dan yang ketiga bahwa Allah menjadikan matahari dan bulan untuk menjadi dasar perhitungan.  Perhitungan apakah itu ? Bermacam-macam, diantaranya yaitu tadi, perhitungan untuk menentukan waktu shalat.

Tampaknya Allah swt tidak ingin umat Islam acuh terhadap pergerakan matahari. Di Indonesia hal ini tidak begitu terasa karena Indonesia berada di garis khatulistiwa, garis imaginasi yang vertikal terhadap poros rotasi bumi, dimana matahari selalu tepat berada di atas kepala. Itu sebabnya waktu zuhur selalu pukul 12 lewat sedikit. Karena matahari tergelincir tepat pada pukul 12 siang.

Lain halnya dengan Perancis dan negara-negara yang terletak dibelahan bumi utara dan belahan bumi selatan.  Letak matahari di permukaan bumi di tempat ini tidak selalu sama. Tergantung sudut yang terbentuk antara keduanya.

Yang paling menarik untuk saya pribadi adalah waktu subuh dan magrib. Keadaan subuh dan magrib adalah keadaan yang bertolak belakang. Subuh adalah ketika sinar matahari mulai menampakkan diri hingga sebelum matahari itu sendiri muncul dari permukaan bumi. Ini berarti langit pada saat itu berwarna kemerahan, akibat sinar matahari . “ Waktu shalat subuh adalah mulai terbit fajar sampai terbitnya matahari « .

Sementara magrib adalah ketika matahari beranjak ‘masuk’ ke dalam bumi hingga matahari itu sendiri masuk ke dalam bumi. Sama dengan waktu subuh, berarti langit pada saat itu berwarna kemerahan. « waktu shalat magrib selama syafak awan merah belum lagi lenyap “.

Berikut adalah jadwal waktu shalat di Perancis secara umum .

Nama Musim Subuh Zuhur Asar Magrib Isya
Musim Panas( Juni – Agustus ) 03.45-05.40 13.52-18.13 18.14-22.02 22.03-23.45 23.46-03.44
Musim Gugur  (*)( September – November) 05.41-07.00 13.50-17.38 17.39-20.39 20.40-21.51 21.52-05.40
Musim Dingin( Desember – Februari ) 06.55-08.16 12.39-14.42 14.43-17.00 17.01-18.16 18.17-06.54
Musim Semi (*)(Maret – Mei ) 06.17-07.32 13.56-17.28 17.29-20.17 20.18-21.27 21.28-06.16

( http://www.uoif-online.com/v3/spip.php?article571 )

Tanda (*) menunjukkan bahwa pada musim tersebut terjadi penyesuaian waktu terhadap keadaan sebenarnya. ( posisi matahari). Ini yang biasa disebut ‘Day Light Saving’. Di Perancis biasanya diberlakukan pada minggu terakhir pada hari Sabtu tengah malam. Pada musim gugur penyesuaian terjadi pada bulan Oktober. Jam dimundurkan 1 jam. Sedangkan pada musim Semi terjadi pada bulan Maret. Jam dimajukan 1 jam.

Kenyataan diatas sekali lagi membuktikan bahwa manusia itu sebenarnya tidak mampu melawan kehendak alam, kehendak-Nya. Penentuan waktu, penentuan jam dll hanyalah bentuk usaha manusia dalam rangka mengikuti sunah-Nya. Allahu akbar ..

Dari jadwal di atas terlihat jelas bahwa matahari itu bergerak. Namun dari sains dan ilmu pengetahuan kita mengetahui bahwa bukan matahari yang  bergerak melainkan bumilah yang berjalan ; berputar mengelilingi matahari sambil berotasi dengan kecepatan tertentu.

(baca lengkap click: http://vienmuhadisbooks.wordpress.com/2009/10/06/bab-iii-persiapan-bumi-sebagai-cikal-bakal-tempat-tinggal-manusia/ di posting pada bab V buku “Perjalanan Sang Khalifah 1–The True Game “,

click:  http://vienmuhadisbooks.wordpress.com/category/perjalanan-sang-khalifah-1-the-true-game/ )

Disamping itu sains juga mengatakan bahwa bumi  berputar dengan kemiringan yang juga tertentu. Ditambah dengan jarak antara bumi dan matahari yang tertentu maka terjadinya musim panas dan musim dingin. Pada musim panas  terlihat bahwa siang hari jauh lebih panjang dari malam hari ( sekitar 17 jam). Sementara pada musim dingin siang hari jauh lebih pendek dari malam hari ( sekitar 9 jam).  Maka sungguh alangkah tepatnya ayat berikut ini ….

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. AL-Qashash (28) :71-72).

Sungguh benar apa yang dikatakan-Nya bahwa tidak sia-sia apa yang diciptakan-Nya itu. Dengan perhitungan dan ketelian yang maha tinggi Allah swt menciptakan alam semesta ini dengan penuh hikmah. Dan sungguh beruntung kita, umat Islam diwajibkan melaksanakan shalat pada waktu-waktu yang ditentukan-Nya tersebut, yaitu dengan cara mengamati pergerakan matahari. Rupanya Ia ingin kita   menjadi saksi ke-Maha -Cerdasan-Nya. Ini adalah sebuah kehormnatan yang tidak boleh kita sia-siakan.  Allahu Akbar … Allahu Rasyid ..

Tono Saksono Ph D, dari CIS ( Center for Islamic Studies), dalam bukunya « Mengungkap Rahasia Simfoni Dzikir Jagat Raya « , mengatakan bahwa manusia itu sebenarnya sedang menjadi bagian dari simphoni zikir jagat raya. Bersama dengan seluruh alam semesta ; langit, bumi, matahari, bulan, bintang, burung-burung, gunung dsb umat Islam diseluruh dunia ber-zikir dan bertasbih ; mengingat-Nya, memuji-Nya,  mengagungkan-Nya, menyembah-Nya, bersujud kepada-Nya meski itu dengan caranya masing-masing. Manusia dengan shalatnya yang minimal 5 waktu.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS.Al-Isra’(17):44).

Dan dengan makin tersebarnya ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia, di belahan bumi manapun sekarang ini, setiap waktu dan setiap saat, selalu ada saja sejumlah manusia yang shalat ; bersujud  mengagungkan-Nya. …… Subhanallah ..

Berdasarkan kajian jadwal waktu shalat di 403 kota dari 203 negara di dunia dimana didalamnya  terdapat  masyarakat  muslim (baik mayoritas maupun minoritas) ditarik  kesimpulan bahwa :

1.   Setidaknya ¼ bagian  waktu  dalam 1 hari, atau sekitar  6 jam dalam  1 hari 1 malam ada  sebagian  penduduk  bumi  yang melaksanakan  shalat  subuh, zuhur, ashar, magrib dan isya dalam waktu yang bersamaan secara serentak. Hal ini disimpulkan  dengan  asumsi  shalat  dilakukan  pada awal waktu, yaitu begitu azan dikumandangkan karena memang begitulah keutamaan shalat.

2.  Selama 24 jam penuh di bumi ini selalu ada kelompok masyarakat  muslim yang sedang  melaksanakan shalat wajib secara  berkesinambungan. Apalagi bila  shalat  dilaksanakan secara berjamaah karena shalat berjamaah memang sangat ditekankan.  Ini disimpulkan  karena  walaupun keutamaan  shalat adalah pada awal waktu namun tidak mustahil dengan berbagai alasan ada sekelompok muslim yang melakukannya tidak  secara  demikian.

Mungkin tidak terlalu berlebihan bila dibuat perumpamaan bahwa bumi itu adalah ibarat perahu kecil berkecepatan extra tinggi yang mengarungi samudra nan luas. Umat Islam yang taat mengerjakan shalat wajib 5 waktu adalah penumpang  yang menyadari bahwa perahu kencang yang ditumpanginya itu  sewaktu-waktu dapat tenggelam. Karena selain mengetahui dengan pasti arah, tujuan dan siapa nakhoda kapalnya ia juga senantiasa awas, menyimak keadaan kapal yang ditumpanginya dan keadaan sekitarnya. Untuk itu ia memilih duduk dipinggir perahu bukan di tengah perahu.

Sementara orang yang yang tidak mengerjakan shalat adalah penumpang yang lalai. Ia memilih duduk di tengah perahu dan merasa menumpangi kapal pesiar mewah raksasa yang aman namun tanpa mengetahui arah, tujuan, siapa nakhodanya serta tidak pernah memperhatikan keadaan sekitarnya. Akibatnya ia tidak pernah tahu bahwa kapal dalam keadaan oleng dan bahkan tidak menyadari bahwa bahkan sang nakhoda tidak peduli terhadap nasibnya !! Astaghfirullah haladzim …

Wallahu’alam bishshawab.

Pau – France, 28 March 2010.

Vien AM.

Read Full Post »