Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” ( QS. Al-Baqarah ( 2) : 183)

Berpuasa dalam arti sekedar menahan makan dan minum di bulan Ramadhan bagi sebagian Muslim  mungkin tidak seberapa berat.  Apalagi bagi yang tinggal di negri2 dimana mayoritas penduduknya Muslim. Belum lagi ditambah dengan adanya tempat2 yang menjual aneka jajan pasar spesial Ramadhan alias tajil yang tiba2 bermunculan bak jamur yang tumbuh di musim hujan.  Nyammm..…

Namun masalahnya apakah puasa yang kita lakukan tersebut sudah sesuai dengan yang dimaksudkan-Nya?  Puasa yang bagaimanakah yang dimaksud dapat menyebabkan seseorang mencapai takwa itu?

Banyak difinisi yang dapat diberikan kepada kata Takwa. Namun dengan satu kata yang paling pendek  tapi pas mungkin adalah Pasrah.  Mudah ? Selintas mungkin  mudah. Tetapi benarkah demikian?  Mari kita merenung sebentar.

Terus terang saya selalu terkesan pada salah satu jenis permainan yang kerap diadakan pada kegiatan ‘Outbond’. Permainan ini biasanya dilakukan secara beramai-ramai.  Setiap tim terdiri  dari 3 orang yang berdiri berjajar.  Dua orang yang di pinggir berdiri menghadap yang di tengah sementara yang tengah berdiri menghadap ke arah depan. Dengan demikian bahu si tengah berada didepan kedua temannya. Setelah semua tim siap, panitia memberi tanda permainan dimulai. Segera salah satu dari dua orang yang berdiri di pinggir mulai mendorong bahu teman yang berada di depannya  ke arah teman yang satu lagi. Selanjutnya teman tersebut harus  menahan tubuh teman yang didorong tadi agar  jangan sampai terjatuh dan kembali mendorongnya ke arah teman yang tadi mendorongnya. Demikian seterusnya hingga waktu beberapa menit yang diberikan panitia habis.

Memang hanya sebuah permainan sederhana. Namun apa yang dituntut dari si tengah sebenarnya mencerminkan sebuah kepasrahan. Ia harus mau  mengikuti irama dorongan kedua temannya, tidak boleh kaku  apalagi menahan diri agar tidak jatuh. Ia harus mampu mengendurkan perasaan tegangnya. Sementara yang dituntut dari kedua orang teman yang saling dorong  adalah kekuatan untuk menahan dan mendorong si tengah. Bila tim ingin menang disinilah kuncinya. Si tengah harus pasrah kepada kedua temannya. Yakin bahwa ia tidak akan dijahili. Yakin bahwa kedua temannya itu cukup kuat untuk mendorong dan menerima dirinya yang  sewaktu-waktu bisa jatuh. Yakin bahwa temannya tidak akan mendorong dirinya terlalu keras hingga teman yang satu lagi tidak sanggup menahan bobot tubuhnya apalagi bila ia merasa gemuk dan berat!

( Saya sendiri terus terang kalau harus menjadi yang berdiri di tengah, saya  lebih memilh menutup mata alias merem dari pada menanggung perasaan takut terjatuh. Itupun tentu saja setelah saya yakin bahwa ke dua orang teman saya bakal mampu menahan beban tubuh saya.  Namun tetap saja dengan perasaan was-was … )

Nah, kepasrahan total yang seperti inilah yang dimaksud dengan pasrah kepada-Nya . Pasrah kepada kehendak dan kekuatan Sang Pencipta. Yakin pada kekuatan, kasih sayang dan kesetiaan-Nya hingga akhirnya sepenuhnya kita rela dan mau menggantungkan diri kepada-Nya tanpa sedikitpun rasa khawatir dan was-was bahwa Dia akan meninggalkan, mengabaikan apalagi melukai kita. Keyakinan inilah yang mula-mula  harus kita bangun. Namun demikian bagaimana mungkin kita dapat meyakini semua itu bila bahkan mengenal-Nyapun tidak ?!?

Ada beberapa cara dan tahapan untuk mengenal Sang Khalik. Diantaranya yaitu dengan mengenali ciptaan-Nya. Ini bisa kita lakukan  dengan banyak berpikir mengenai alam semesta . Bagi yang kebetulan menyukai tanaman mungkin berpikir  bagaimana tanaman yang sudah hampir mati ; layu dan kering tapi keesokkan harinya ternyata bisa hidup dantumbuh kembali adalah contoh yang tepat. Bagi para petani, penjual buah, bunga dan siapa saja yang menyukai keduanya, seharusnya mulai berpikir bagaimana buah-buahan atau bunga-bungaan bisa begitu banyak ragam, warna, bentuk bahkan juga rasanya. Sementara semua orang dapat saja mulai memperhatikan dan berpikir bagaimana matahari, bumi dan bulan dapat berjalan/berputar  dengan begitu teraturnya  tanpa harus  bertabrakan. Mengapa pula burung-burung bahkan yang baru lahirpun tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa terbang. Mengapa air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, dari mana angin datang  dll .

Dapat pula kita memikirkan diri dan tubuh kita sendiri. Mengapa tanpa disuruh  mata dapat berkedip, gigi dapat tumbuh, kulit dapat membedakan rasa rasa  panas dan  dingin. Bagaimana pula darah, jantung dan seluruh organ tubuh kita ini tidak pernah merasa lelah menjalankan fungsi dan tugas masing-masing. Hidung tanpa diperintah secara otomatis senantiasa menghirup dan mencari oksigen. Pernahkah  terlintas dalam pikiran  bagaimana bila suatu ketika pasokan oksigen di muka bumi habis ?!?

Tahap berikutnya  adalah mencoba memahami Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, yaitu  Asmaul-Husna. Dan selanjutnya adalah membaca, memahami serta mengkaji  Al-Quranul Karim. Cobalah bandingkan ayat-ayat dalam kitab suci ini dengan apa yang terjadi di hadapan kita tadi.

“  Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman “.( QS. An-Nahl ( 16):79)).

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”.(QS. Ibrahim ( 14:33)).

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.(QS. Al-Mukminun ( 23):12-14)

Dengan banyak merenung dan memikirkan hubungan antara keduanya, dengan izin-Nya banyak hikmah yang dapat kita ambil. Dengan cara ini kita akan mengenal-Nya dengan lebih baik lagi. Namun demikian, tidak semua ayat Al-Quran  dapat dengan mudah kita pahami. Perlu adanya bimbingan ahlinya ( Alim Ulama seperi Uztad, uztadzah). Akan lebih baik bila uztad/uztadzah lebih dari satu selain agar masukan lebih bervariasi juga agar tidak terjebak ke dalam aliran sesat yang belakangan ini makin menjamur. Disamping itu mengkaji Al-Quran secara  berkelompok juga baik. Gunanya adalah  agar ada yang mengingatkan  ketika kita sedang lalai, lupa atau malas.

Satu hal penting yang harus diingat. Akal dan pikiran manusia itu terbatas. Walaupun dengan bantuan ahlinya sekalipun tidak semua ayat dapat kita pahami maknanya dengan benar. Memahami suatu ayat ada tahapannya. Pertama adalah dengan memahami hubungan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain. Kedua dengan memahami cara turunnya ayat ; bagaimana  suasana dan keadaan ketika ayat datang. Inilah salah satu kegunaan mempelajari  Sirah Nabawiyah, sejarah kehidupan Rasulullah saw, yaitu untuk mengetahui Asbabun Nuzul, asal mula turunnya  ayat . Berikutnya adalah dari penuturan para sahabat yang hidup pada zaman Rasulullah. Terakhir baru dari segi bahasanya.

Dengan kata lain , jangan pernah merasa bahwa ayat tidak sesuai dengan pikiran dan akal manusia.  Hingga tingkatan tertentu manusia memang memiliki kemampuan untuk mengikuti pikiran-Nya. Namun tidak setelah itu. Ini yang menjadi penyebab utama mengapa para orientalis dan orang-orang tertentu tidak mampu meraih hidayah-Nya. Kesombongan bahwa akal dan pikirannya adalah yang paling benar  serta hati yang kotor karena tujuan mempelajari ayat-ayat Al-Quran tidak dalam rangka mencari kebenaran dan mencari ridho’ Nya ; mungkin kebencian, materi ataupun  ketenaran dll, sangat berpotensi memancing kemurkaan-Nya.

Sebaliknya membaca Al-Quran ( bukan hanya terjemahan saja) secara tartil ( benar, teratur dan tidak terburu-buru) sekalipun tidak mengerti , selama dalam rangka mencari ridho’Nya, dapat membersihkan hati. Dengan jauhnya hati dari prasangka buruk, dengan izin-Nya, Allah swt akan  memberikan petunjuk dan hidayah-Nya. Di atas dasar hati yang bersih inilah, perlahan keimanan akan tumbuh dengan subur bagai menabur benih tanaman unggul di atas tanah yang gembur dan disirami dengan air yang bersih secara teratur.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.(QS.Ibrahim (14):24-25)

Setelah kita mengenal Sang Khalik langkah selanjutnya adalah memenuhi  perintah dan larangan-Nya. Ayat-ayat Al-Quran, diperinci dan dicontohkan pelaksanaannya oleh Rasulullah saw sebagai sang penyampai adalah panutan terbaik yang tidak dapat disangkal  lagi kebenarannya. Dengan modal inilah kita seharusnya mengarungi kehidupan.  Disiplin, jujur,  kerja keras serta tak kenal putus asa, berbuat baik kepada sesama, saling membantu dalam kebaikan seperti memberi makanan kepada orang yang kelaparan, memberikan bantuan kepada yang memerlukan, memberikan nasehat bagi yang kesusahan dll akan mendatangkan kemudahan dalam hidup ini.

“ Rasulullah bersabda : “  Sesungguhnya aku ini diutus untuk menyempurnakan akhlak”.”

Dengan berbuat dan bertindak segala sesuatu atas nama takwa kepada-Nya maka Allah akan mencintai kita. Sebagai balasannya Ia pun akan membuka hati hamba-hamba-Nya yang lain agar merekapun  mencintai kita! Subhanallah…

Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw bersabda:
Jikalau Allah Ta’ala itu mencintai seseorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan memberitahu bahwa Allah mencintai si Fulan, maka  ” Cintailah si Fulan itu “. Jibril lalu mencintainya, kemudian ia mengundang seluruh penghuni langit dan memberitahu bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah si Fulan itu. Para penghuni langit pun lalu mencintainya. Setelah itu diletakkanlah kecintaan padanya di kalangan penghuni bumi”. ( HR. Muttafaq ‘alaih)

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. (QS. Al-Lukman (31):22)

Kembali kepada ‘game outbond’ di awal tulisan,  bila kedua orang yang bertugas mendorong dan menahan beban si tengah tentunya hanya mampu    ‘ menjalankan tugas’ selama beberapa menit saja, tidak demikian dengan-Nya.  Selama hidup kita Ia selalu siap menjaga dan menemani kita tanpa sedikitpun rasa lelah, ngantuk dan bosan.  Ia bagaikan tali super kokoh yang mengikat diri kita selama kita tidak melepasnya.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.(QS.Al-Baqarah ( 2): 255).

Wallahu’alam bishawab.

Pau-France, September 2009/ 19 Ramadhan 1430 H.

Vien AM.

Catatan : Hukum Puasa, Click : http://rohiminalasror.com/fiqih/fiqih.html

Read Full Post »

Anak adalah buah hati. Anak adalah penghibur dalam suatu keluarga idaman. Mereka adalah penyemarak keluarga yang dapat menambah kebahagiaan dan keceriaan sebuah keluarga. Islam mengajarkan pentingnya hubungan yang sangat baik dan mesra antara ayah, ibu dan anak. Islam  mengajarkan betapa pentingnya menyayangi anak dan memperlihatkan kasih sayang tersebut.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : ” Rasulullah saw mencium Hasan bin Ali dan disisinya ada Al Aqro bin Habis At-Tamimi sedang duduk. Lalu Al Aqro berkata : ” Sesungguhnya aku mempunyai 10 anak. Aku tidak mencium salah seorangpun dari mereka”. Lalu Rasulullah memperhatikan Aqro kemudian berkata: Barangsiapa tidak menyayangi tidak akan disayangi.”

Anaklah yang diharapkan kedua orang-tuanya dapat meneruskan keturunan, mewarisi kekayaan dan harta sekaligus mengurus berbagai urusan kekeluargaan dan urusan-urusan penting lainnya. Mereka adalah tumpuan keluarga. Mereka adalah kebanggaan apalagi bila anak-anak ini kelak menjadi orang yang sukses, yang mampu menjaga nama baik orang-tuanya. Hal ini tidak dapat disangkal.

Ironisnya, anak juga dapat menjadi musuh dan lawan, yaitu ketika mereka tidak mau lagi mendengar dan tidak mau menerima nasihat ke dua orang-tuanya. Al-Quran dengan tegas melarang  anak berkata kasar apalagi membentak keduanya. Bahkan  berkata “ ah”  sajapun Allah SWT melarangnya terutama letika keduanya telah lanjut usia.

” ……. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia ”. (QS.Al-Isra’(17):23).

Namun demikian tidak seorangpun di dunia ini yang pernah membayangkan kehilangan orang-tua terutama ketika anak masih belia. Menjadi yatim apalagi piatu ketika seseorang masih begitu membutuhkan perhatian, bimbingan serta kasih-sayang dari kedua orang-tua adalah hal yang sungguh menyakitkan. Itu sebabnya Islam mengajarkan agar kita mau menyantuni anak-anak yatim.

Anas bin Malik ra berkata: Sebaik-baik rumah adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang diperlakukan secara baik dan sejelek-jelek rumah adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang disia-siakan. Hamba Allah yang paling dicintai Allah adalah orang yang memperlakukan anak yatim  dan janda dengan baik”.

Tidak seperti hubungan antara suami-istri yang bisa saja tidak kekal dan abadi, hubungan antara anak dan kedua orang-tuanya mustahil terputus. Itu sebabnya Islam melarang adopsi atau mengangkat anak, dalam arti mengakui anak sebagai anak sendiri/ kandung. Memelihara anak yatim/ piatu dan memperlakukannya seperti anak sendiri apalagi di rumah sendiri  memang sangat mulia namun bukan mengakuinya sebagai anak kandung.

Hak dan kewajiban manusia selaku anak (kandung) maupun selaku orangtua dan ibu yang pernah melahirkan seorang anak tidak pernah mungkin bisa dicabut.. Bahkan menurut hukum Islam, anak perempuan ketika menikah memerlukan kehadiran ayah kandung sebagai walinya. Demikan pula dalam hal waris. Kedudukan anak angkat dan anak kandung tidaklah  sama.

Dalam dunia kesehatan modern, pelarangan adopsi dengan menghilangkan asal usul keluarga aslinya, terbukti sangat penting. Ini terkait ketika anak adopsi akan melakukan pernikahan. Karena perkawinan incest / perkawinan antar anggota keluarga yang memiliki hubungan darah yang dekat dapat mengakibatkan penyakit / cacat seumur hidup. Ini bisa saja terjadi diantaranya karena ketidak tahuan bahwa calon pasangan pengantin tersebut mungkin sebenarnya bersaudara. Karena salah satu diantara mereka   adalah anak adopsi yang tidak diketahui asal-usul kedua orang-tuanya.

…….  Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu”.(QS.AlAhzab(33):5).

Tampaknya ini adalah salah satu sebab mengapa orang Arab selalu mencantumkan ”bin/binti ” mereka. Bin/binti menunjukkan nama bapak, kakek dan moyang mereka. Dengan demikian seseorang dapat mengetahui dengan pasti garis keturunannya. Ini adalah hal yang amat jarang ditemukan di negri kita. Penggunaan bin/binti di negri tersebut tidak dapat disamakan dengan penggunaan nama keluarga seperti halnya beberapa suku di Indonesia, sepeti Siregar, Tamin, Malaiholo dsb. Karena anak perempuan Arab tetap menggunakan binti bapaknya walaupun ia telah menikah. Ia tidak berganti nama dengan nama suami atau keluarga suami.

” Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya;…….  Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab (33):4)

Ayat diatas menunjukkan bahwa seorang manusia tidak mungkin mampu memperlakukan anak angkat sama persis dengan anak kandungnya. Secara materi hal ini mungkin saja terjadi namun secara hati adalah sesuatu yang mustahil. Allah swt sebagai Sang Pencipa telah memperkirakan hal tersebut. Ini adalah penyebab lain mengapa seseorang dilarang mengakui anak angkat sebagai anaknya sendiri. Walaupun tentu saja hal ini baru akan terasa bila seorang yang mengangkat anak angkat suatu ketika dianugerahi anak kandung. Allahuakbar …Maha benar segala firman-Nya.

Tentu dapat kita bayangkan bagaimana sakitnya perasaan hati seorang anak yang merasa dibedakan dengan saudaranya sendiri. Akan berbeda halnya bila sejak awal ia memang telah mengetahui bahwa ia adalah anak angkat.

Berikut adalah apa yang dialami Rasulullah sehubungan dengan permasalahan anak angkat dan kaitannya.

Zaid bin Haritsah adalah seorang anak yang sejak kecil telah menjadi tawanan. Suatu hari ia dibeli oleh  Hakim bin Hizam untuk diberikan kepada saudarinya, Khadijah binti Khuwailid. Selanjutnya Zaid diberikan Khadijah kepada Rasulullah saw sesudah Khadijah menikah dengan beliau. Selanjutnya kita mengetahui betapa Zaid berkembang menjadi seorang pemuda yang bukan hanya sholeh namun juga  tawakkal. Karenanya ia menjadi kesayangan Rasulullah saw hingga para sahabat sering menyebutnya  dengan nama Zaid bin Muhammad. Hal yang ketika itu adalah hal biasa.

Bertahun-tahun kemudian,  bapak kandung Zaid mengetahui bahwa anaknya berada dalam pemeliharaan Rasulullah. Maka iapun segera mendatangi beliau dengan maksud meminta anaknya kembali. Tetapi Rasulullah saw menyuruh Zaid sendiri yang membuat keputusan. Ternyata Zaid lebih senang memilih Rasulullah  sebagai ayahnya  daripada ayah kandungnya  sendiri. Tak lama kemudian turun  ayat 5 surat Al-Ahzab diatas. Maka sejak itupun Zaid dipanggil dengan nama Zaid bin Haritsah. Haritsah adalah nama ayah kandung Zaid.

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi ”.(QS. Al-Ahzab (33):37)

Ayat diatas adalah ayat yang menerangkan bahwa bila mau seseorang dibolehkan menikahi mantan istri anak angkatnya setelah keduanya ( mantan pasangan suami istri ) telah menyelesaikan segala urusannya, yaitu resmi bercerai dan tidak ada lagi hal yang menghambat urusan perceraian mereka. Karena sebelumnya hal tersebut adalah sesuatu yang tabu.

Ini yang terjadi pada Zaid dan istrinya, Zaenab binti Jahsy. Pernikahan pasangan ini sangatlah rapuh. Zainab terus menerus mengeluh bahwa latar belakang diri dan suaminya terlalu jauh hingga ia merasa Zaid tidak akan mampu membahagiakannya. Zaid tidak tahan diperlakukan demikian. Beberapa kali ia meminta Rasulullah sebagai ayahnya agar beliau bersedia mengizikannya menceraikan istrinya itu. Namun beliau menasehati keduanya agar bersabar dan tetap mempertahankan perkawinan mereka.

Hingga suatu ketika akhirnya keduanya tidak tahan lagi dan sepakat untuk berpisah secara baik-baik. Dalam tradisi Arab jahiliyah sudah menjadi kebiasaan bahwa bekas istri anak angkat tidak boleh dinikahi ayah anak angkat yang bersangkutan. Namun dengan turunnya ayat 37 surat Al-Ahzab diatas Allah swt  membatalkan larangan tersebut. Rasulullah Muhammad saw diperintah agar mengawini Zainab binti Jahsy, mantan istri Zaid, anak angkat beliau. Dalam beberapa riwayat dikisahkan, salah satu Umirul Mukminin ini sangat bangga akan kelebihan tersebut.

Wallahu’alam bishawab.

Semoga bermanfaat.

Pau-France, 23 Agustus 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

”Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?” (QS.As-Sajdah(32):27)

Air sebagai sumber penting kehidupan pasti semua orang tahu dan meyakininya . Namun air sebagai sumber kekuatan raksasa mungkin sebagian orang kurang meyakininya. Kecuali mungkin bagi orang yang dengan mata kepala sendiri pernah menyaksikannya. Saya sendiri terus terang baru sekali ini benar-benar terperangah menyaksikan siaran televisi  baru-baru ini, bagaimana sebuah gedung bertingkat tinggi di Cina dengan begitu mudahnya terseret air sungai. Peristiwa nahas ini terjadi beberapa hari yang lalu ketika badai menghantam negri Tirai Bambu tersebut. Astaghfirullah…

Adalah Grotte de Betharam, sebuah gua raksasa di pegunungan Pyrene, Perancis Selatan. Gua ini terletak hanya beberapa km dari kota suci umat Nasrani, Lourdes. Menurut sebuah sumber, gua  ini adalah  gua terbesar di Eropa setelah gua Postojna ( sepanjang 21.5 km) di Slovenia, sebuah Negara bekas jajahan Rusia yang terletak di antara Asia Tengah dan Eropa Timur. Gua yang membentang sepanjang 12 km ini terdiri atas  5 lantai, dimana masing-masing lantainya  terbentuk pada masa yang berbeda. Seperti layaknya sebuah bangunan bertingkat buatan manusia, lantai-lantai gua tersebut ‘dikisahkan’ memiliki fungsi dan nama masing-masing oleh si pengelola gua. Ada ruang pertemuan, ruang lonceng, ruang kolom, ruang lilin dll.

grotte de betharam3Namun yang pasti,  kelima lantai tersebut memang dipenuhi oleh stalagmite dan  stalaktit dengan aneka bentuk, warna dan ukuran  yang dapat membuat orang yang melihatnya berimaginasi  sesuai bayangannya masing-masing. Seperti atap yang dipenuhi bermacam ukiran dan ornamen yang sangat mengesankan, tirai dengan rendanya yang mewah di setiap ruangnya, berbagai bentuk patung dengan pilar-pilar raksasanya. Bahkan didalamnya ada kolam yang dapat kita lalui dengan kapal. Sungguh sebuah temuan luar biasa. Dan hebatnya lagi  semua itu alami bukan buatan!

Perancis memang dikenal sebagai salah satu negara Eropa yang  memiliki banyak sekali gua alami. Dalam hal ini Indonesia juga mungkin tidak kalah. Namun bedanya, Perancis super serius menangani kekayaan alam  tersebut. Tanda-tanda kebesaran Allah itu di teliti, dirawat dan dijaga dengan sangat baik hingga akhirnya mampu mendatangkan devisa negara. Gua menjadi salah satu daya tarik wisata mancanegara yang tidak hanya bersifat hiburan namun juga pengetahuan bahkan hikmah yang sangat banyak bagi yang mau memikirkannya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.(QS. Ali Imran (3):190-191)

Grottes de betharam1grotte de betharam2Gua diberi penerangan yang cukup, tanpa harus merusak apa yang ada didalamnya. Inilah salah satu penyebab mengapa para tamu dilarang memotret dengan menggunakan blitz. Bahkan untuk menarik wisatawan, sebagian pengelola ada yang memadukan antara cahaya dan musik. Disamping itu untuk memudahkan wisatawan dalam mengarungi gua bertemperatur sekitar 13 derajat celcius yang luas, berlekak lekuk serta naik turun, sebagian pengelola menyediakan  kereta api mini. Untuk memikat tamu, di gua Betharam, beberapa meter sebelum keluar gua, kereta api bahkan difungsikan layaknya mini roller coaster di Dufan. Dengan demikian para tamu dapat sedikit ’refreshing’ dengan berteriak kencang-kencang sambil memperhatikan pantulan suaranya. ketika kereta api turun mendadak sebelum akhirnya berhenti. Gua Postojna di Slovenia bahkan dikabarkan memiliki ruang pertunjukan musik dengan daya tampung 10.000 pengunjung! Dan yang tak kalah penting adalah adanya pemandu yang dibekali pengetahuan yang cukuptentang sejarah gua dan asal usulnya.

Gua Betharam tersembunyi didalam sebuah bukit. Dari luar orang sama sekali tidak akan mengira bahwa di dalam bukit tersebut terdapat ‘ bangunan’ raksasa yang amat indah. Gua ini ditemukan pada tahun 1880 namun baru dibuka untuk umum pada tahun 1903. Ribuan tahun yang lalu, gua ini awalnya adalah sebuah sungai di dalam tanah/bukit. Akibat pengikisan tanah oleh air sungai yang terjadi terus menerus maka terbentuklah lekak lekuk dan bebatuan sungai. Melalui proses yang sangat panjang akhirnya terbentuklah gua ini.

Pont d'Espagne(1), Pyrene

Pont d’Espagne(1), Pyrene

Sementara dengan bantuan karbon yang memenuhi ruang gua yang gelap karena terlindung dari sinar matahari, tetes air yang mengandung kapur  akhirnya membentuk stalakmit dan stalaktit yang mengandung kristal. Lama kelamaan stalakmit dan stalaktit  inipun membentuk  kolom-kolom dan pilar marmer raksasa berukir dengan bermacam bentuk dan warna yang sungguh memukau. Dengan kata lain, dapat dikatakan, airlah  si tokoh cerdas arsitek gua itu! Tentu saja atas izin-Nya.

“ Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai”.( QS. Ibrahim(14):32).

Selanjutnya adalah air terjun Pont D’Espagne, masih di pegununganPyrene. Air terjun yang  tidak jauh dari lokasi ski ketika musim salju tiba ini termasuk didalam kawasan Taman Nasional Pyrene dan termasuk bagian dari kota Cauterets yang hanya beberapa kilometer jauhnya dari Spanyol.  Air terjun ini terletak di ketinggian 1498 m di atas permukaan laut. Dari tempat ini dengan menggunakan cable car kita menyaksikan danau Gaube yang tampaknya merupakan sumber air terjun tersebut. Subhanallah…rasanya belum pernah saya menyaksikan sebuah kawasan yang mempunyai air terjun sebanyak di tempat ini.

Pont d'Espagne(3), Pyrene

Pont d’Espagne(3), Pyrene

Selama pendakian yang sama, di sungai yang sama, kami berkali-kali bertemu air terjun.Ada yang besar ada yang kecil. Semuanya mempesona. Sungai berkelak kelok menembus hutan nan rindang, membelah bebatuan yang merintanginya, bercabang membentuk beberapa aliran sungai dan kemudian terjun bebas ketika harus melampaui tebing. Setelah air jatuh ke atas bebatuan atau danau, air ada yang kembali bersatu, ada yang kembali membelah bebatuan dan ada yang bercabang demi menghindari batu-batu keras hingga terbentuklah aliran baru. Demikian seterusnya hingga air akhirnya sampai ke dataran rendah.

Pont d'Espagne(2), Pyrene

Pont d’Espagne(2), Pyrene

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan ”.( QS. Al-Baqarah (2): 74).

Begitulah Allah swt melalui ayat-ayat-Nya memberikan batu sebagai perumpamaan berbagai jenis hati manusia. Manusia takwa perumpamaannya adalah seperti batu yang dapat dibelah oleh air hingga keluar darinya mata air yang sejuk dan indah dipandang mata. Manusia seperti ini hatinya baik dan lembut. Ia mudah mengerti dan mensyukuri nikmat-Nya. Ia mudah merasakan penderitaan orang lain dan selalu ingin meringankan beban orang yang menderita. Semua itu dilakukannya semata karena rasa takut yang sangat akan Tuhannya. Sementara orang yang keras kepala perumpamaannya seperti batu yang amat sangat keras. Ia sulit menerima kebenaran dan cenderung selalu ingin  membantah walaupun tahu ia salah. Astaghfirullah….

Pont d'Espagne(4), Pyrene

Pont d’Espagne(4), Pyrene

Kami terus berjalan mendaki sambil berdecak penuh kekaguman, memuji kebesaran-Nya. Hingga akhirnya kami tiba di puncaknya dan menemukan sumber mata airnya. Air itu memancar deras dari balik tumpukan bebatuan raksasa yang bertengger di puncak gunung dengan gagah perkasa!  Subhanalah..Allahu akbar..sungguh betapa cantiknya ciptaan-Mu Ya Allah …

” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya”.(QS.Ar-Ruum(30):24)

Tidak cukup berhenti disitu saja. Berkat sulfur panas yang dikandung airnya, sejak 200 tahun yang lalu kawasan ini telah dikenal sebagai tempat yang memiliki  spa air panas alam yang berfungsi sebagai tempat perawatan bagi penderita gangguan pernafasan dan rematik. Para bourgeois; bangsawan dan orang-orang terkenal Perancis, seperti Victor Hugo dll tercatat  sebagai tamu yang sering mengunjungi tempat ini sebagai tempat peristirahatan istimewa.

Ladang kambing Gourette, Pyrene

Ladang kambing Gourette, Pyrene

Tiba-tiba saya teringat ketika minggu lalu kami mendaki sebuah gunung di Gouerret, Pyrene. Tujuan kami ketika itu adalah ingin melihat danau yang ada di puncak namun karena sudah terlalu sore, danau tertutup kabut. Terpaksa kami membatalkan rencana tersebut.  Dalam perjalanan kembali itulah kami melalui ladang dimana sejumlah sapi dan kambing digembalakan. Terbayang bagaimana dahulu sebagian nabi termasuk nabi Muhammad saw mengembalakan kambing. Suasana yang tenang di ladang perbukitan yang sejuk, berbaring memandang langit sambil menjaga ternak yang sedang merumput  memang sangat memungkinkan seseorang berpikir akan penciptaan alam semesta.

Setelah puas menikmati keindahan air terjun dan sekitarnya kamipun kembali turun ke kota dan pulang ke rumah dengan penuh kenangan. Malam itu sayapun tertidur pulas dengan mimpi indah diiringi alunan suara percikan air sungai yang lembut di telinga. Tak terbayangkan bagaimanakah indahnya surga-Mu bila sungai–sungai di dunia saja sudah mampu membikin seseorang mabuk kepayang….Ya Allah, jadikanlah aku dan keluargaku golongan hamba-Mu yang kelak masuk ke dalam surga-Mu, amin.

”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya”. (QS. Al-Ankabuut(29):58-59).

Seolah tak ingin kehilangan kenangan manis tersebut, beberapa hari kemudian saya kembali mengajak anak-anak menikmati sungai yang mengalir tak jauh dari apartemen dimana kami tinggal. Itulah Gave de Pau. Gave yang berarti anak sungai ini ternyata di musim panas cukup ramai dikunjungi orang yang ingin berolah raga Rafting.

Walallahu’alam bishawab.

Semoga Bermanfaat.

Pau, 10 Agustus 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Manusia adalah mahluk yang paling pandai diantara semua mahluk yang pernah ada di bumi ini. Dengan akalnya ia berusaha agar kehidupannya menjadi aman, tenang, mudah dan menyenangkan. Berbeda dengan mahluk lain yang cenderung hanya mengandalkan apa yang ada  dan tersedia di muka bumi ini tanpa harus mengolahnya terlebih dahulu, maka manusia justru sebaliknya. Ia selalu ingin dan berusaha agar apa yang ada diolahnya sehingga dapat memberikan hasil yang lebih optimal dan lebih berkwalitas. Dengan ambisinya ini manusia selalu ingin maju dan tidak pernah merasa puas atas segala apa yang telah diperolehnya. Dan dengan ambisinya ini pulalah manusia berhasil memanfaatkan kekuatan alam. Disamping itu, manusia juga mempunyai rasa keingin-tahuan yang sangat tinggi. Dengan menggunakan akalnya ia cenderung gemar memikirkan keadaan diri dan keadaan sekitarnya. Mengapa ia ada dan hidup di dunia ini, mengapa  manusia harus mati, kemana dan bagaimana  pula setelah terjadinya kematian, akankah semuanya berakhir begitu saja. Bila demikian apakah apa yang telah diusahakannya selama ia hidup menjadi sia-sia dan tidak memberikan manfaat? Bagaimana pula dengan kehidupan mahluk lain dan juga alam semesta ini, apakah ia terjadi dengan sendirinya ataukah ada kekuasaan yang menciptakan semua ini?

 Selain itu, manusia juga sering bertanya-tanya mengapa tidak semua yang diusahakannya dapat memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkannya. Berdasarkan pengalamannya, ia menyadari bahwa akal dan kepandaian bukanlah segalanya. Emosi atau keadaan hati juga dapat memberikan  pengaruh yang tidak sedikit bagi berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan atau usaha. Meskipun begitu ia tetap  dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak dapat diterima hanya melalui akal saja walaupun emosi seseorang sedang dalam keadaan prima. Ia dapat merasakan ada ‘kekuatan lain’ yang berkuasa atas dirinya yang tidak sanggup dan tidak mungkin dilawannya.

 Dari sinilah kemudian tampak bahwa sesungguhnya disamping akal, manusia juga mempunyai hati /qolbu. Dan hanya dengan qolbunya inilah ia dapat melihat ‘kekuatan lain’ tersebut. Itulah mata hati. Sebagaimana akal yang dapat diasah dan dipertajam, demikian pula hati . Jadi untuk membentuk manusia yang berkualitas, tidaklah cukup dengan hanya mengandalkan intelektual semata tetapi juga harus didukung oleh suatu kecerdasan emosi.

Dari Abu Bakar RA, Rasulullah bersabda :  “Janganlah seseorang diantara kalian menentukan suatu hukum pada kedua pihak yang sedang berselisih dalam keadaan marah”.  Dari Abu Darda RA : “Kecintaanmu terhadap sesuatu dapat menyebabkan kamu buta dan tuli”.

Namun kecerdasan emosi tersebut harus pula didasari oleh kesadaran akan kebenaran sejati yang didorong oleh kekuatan dan  kesadaran untuk merasakan, mendengar dan melihat ‘kekuatan lain’ yang tersembunyi, kekuatan  yang paling berhak menentukan berhasil tidaknya usaha seseorang. Faktor inilah yang disebut SQ (Spiritual Qotien) atau kecerdasan spiritual. Dengan adanya keseimbangan antara ketiga faktor diatas inilah  akan terbentuk suatu pribadi yang tegar, pribadi yang memiliki pandangan yang tidak sempit yang tidak hanya tertuju kepada kepuasan duniawi namun juga memiliki dimensi keakhiratan yang penuh ketakwaan, yang pandai bersyukur dan sabar menghadapi segala tantangan. Sikap inilah  yang nantinya akan melahirkan sikap pantang berputus asa. 

Berdasarkan hasil survey di AS pada tahun 1918 tentang IQ(Intellectual Qotien), ternyata ditemukan semakin tinggi IQ seseorang  semakin  menurun kecerdasan emosi atau  EQ  (Emotional Qotien). Beberapa puluh tahun terakhir ini, banyak ditemukan kasus depresi di kalangan yang notabene berpendidikan tinggi yang semakin tahun semakin memarah hingga mengakibatkan kasus bunuh diri. Mereka pada umumnya adalah orang-orang yang memiliki IQ relatif tinggi namun memiliki masalah sosial, diantaranya tersumbatnya komunikasi baik dilingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Mereka ini rupanya hanya disibukkan terhadap pengasahan terhadap IQ melulu hingga melupakan pentingnya peran EQ sehingga tidak sanggup menata emosi dan mengatasinya.

Ironisnya, orang-orang seperti ini tidak hanya membahayakan dirinya sendiri namun juga membahayakan diri banyak orang, seperti peristiwa yang baru saja terjadi pada bulan April 2007 di Amerika Serikat dimana seorang mahasiswa menembaki puluhan rekan mahasiswa dan dosen universitas dimana ia kuliah sebelum akhirnya ia menembak dirinya sendiri.Tidak dapat dipungkiri, setinggi apapun pendidikan  seseorang, kemungkinan suatu kegagalan selalu ada. Terdapat suatu faktor ‘x’ atau ‘luck’ yang tidak dapat diikuti oleh akal manusia. Disinilah berperan faktor spiritual. Hanya faktor inilah sebenarnya yang dapat mengatasi kekecewaan seseorang. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju seperti AS, Jepang dan Eropa Barat tetapi juga di negara-negara berkembang. 

Namun sebaliknya kenyataan lainpun berbicara bahwa ternyata kasus depresi ini lebih disebabkan akibat tidak matangnya kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. Hal ini tercermin dari bervariasinya korban depresi, mulai dari kalangan bawah sampai kalangan tinggi, mulai dari yang memiliki IQ rendah sampai yang memiliki IQ tinggi, dari yang tidak memiliki pendidikan hingga yang berpendidikan tinggi. Dari sini tampak nyata bahwa  ketidak-seimbangan antara IQ, EQ dan SQ dapat berakibat fatal.

          “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman”. (QS Az Zumar(39):52).

Tokoh Pendidik Barat sekaligus Ilmuwan dan pengarang buku kenamaan, Danah Zahar maupun Ian Marshall misalnya yang memiliki minat yang tinggi terhadap masalah SQ, dalam karya ilmiahnya menyatakan adanya ‘God Spot’ atau apa yang biasa disebut suara hati atau mata hati pada otak manusia. Berdasarkan penelitian mereka ‘God Spot’ ini terletak diantara jaringan syaraf otak yang berfungsi sebagai pusat spiritual manusia. Pada ‘God Spot’ inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam. Namun sayangnya temuan mereka ini baru sebatas pada apa yang nyata ada pada otak manusia. Sesuatu yang menunjukkan akan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang berfungsi menyimpan dan mempersatukan segala pengalaman hidup manusia dan sekaligus memberinya makna. Tetapi belum sampai pada tingkat ke-Ilahian. Jalaludin Rumi seorang tokoh  sufi besar Islam, mengatakan : ”Matahati punya kemampuan 70x lebih besar untuk melihat daripada dua indra penglihatan.”

Saat ini, dimana isu ‘Global Warming’ atau Pemanasan Global telah menjadi topik pembicaraan yang  hangat, maka tampaknya sudah tiba saat yang tidak mungkin lagi dipungkiri bahwa dunia dan segala isinya harus menyerah pada ‘kekuatan ghaib’.  Bahkan dengan ilmu yang demikian canggih, penemuan demi penemuan terus berlanjut,  kekuatan  nuklir yang terus dikembangkan namun dalam kenyataannya tidak seorangpun saat ini dapat mengantisipasi apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Tampaknya bumi sedang menuju kehancurannya. Perubahan musim yang tidak beraturan, peningkatan  suhu udara dan berbagai perkiraan menakutkan seperti mencairnya gugusan salju di berbagai belahan  dunia, merupakan petunjuk akan hal tersebut. Bencana demi bencana yang terus bersusulan seolah enggan untuk berhenti menyapa. Maka siapakah sesungguhnya Sang “Kekuatan Ghaib “ tersebut ?

 “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran,penglihatan dan hati.Amat sedikitlah kamu bersyukur.Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang-biakkan kamu di bumi ini dan kepadaNyalah kamu akan dihimpun.Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan Dialah yang(mengatur) pertukaran malam dan siang.Maka apakah kamu tidak memahaminya?”.(QS Al Mu’minun (23) :78-80)

Manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, suatu zat yang mustahil sama dengan ciptaannya. Pada umumnya semua manusia menyadari bahwa ia hidup di dunia ini pada suatu waktu yang amat terbatas. Pada saatnya nanti setiap diri akan kembali dan harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dikerjakannya selama hidup di dunia. Ketika manusia menyadari akan kenyataan ini, ia akan lebih tenang sekaligus waspada karena ia mengetahui dengan pasti apa tujuan hidupnya. Ia akan mempersiapkan dirinya dengan mencari bekal di dunia berdasarkan tuntunan-Nya dengan mengharap ridho Allah SWT.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.  (QS.Al-Qashas(28:77).    

Apabila telah ditunaikan sembahyang,maka bertebaranlah kamu dimuka bumi;dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Al Jumu’ah 62):10).

Dengan demikian, manusia yang menyadari akan hakekat hidupnya sebagai makhluk Allah, cara berpikirnya tidaklah hanya  semata mengejar kebahagiaan dunia, kepuasan material, kepuasan yang hanya sesaat. Dengan bimbingan hati nurani atau ‘God Spot’ manusia akan berhasil menjadi seorang khalifah sesuai dengan fitrahnya. Karena sesungguhnya dengan meningkatnya kecerdasan spiritual maka kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektualnyapun akan makin meningkat. Karena Al-Quran memang mengajarkan keseimbangan  diantara ketiga kecerdasan tersebut.

“Bacalah dengan (menyebut)nama Tuhanmu Yang menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,Yang mengajar(manusia) dengan perantaraan kalam.Dia mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(QS Al ‘Alaq(96):1-5) .  

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….”.(QS.Al-Mujadillah(58):11).

 Wallahu’alam bishawab.

 Jakarta, 15/4/2007

Vien AM

Dari :  Prolog “Perjalanan Sang Khalifah 1 ” oleh Sylvia Nurhadi.

Referensi :

– Kecerdasan Emosi dan Spiritual oleh Ary Ginanjar Agustian.

– Jiwa Manusia dalam sorotan Al-Quran  oleh  DR.Muhammad ‘Utsman Najati.

Read Full Post »

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS.An-Nisaa(4):3).

Ayat inilah yang sering dijadikan pegangan bagi orang-orang yang menerapkan poligami. Padahal ayat ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang bila diperhatikan lebih seksama akan memberikan pengertian lain. Bunyi ayat tersebut adalah sebagai berikut :

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”.(QS.An-Nisaa(4):2).

Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud serta At-Turmuzy meriwayatkan bahwa Urwah ibn Zubair bertanya kepada Aisyah ra mengenai ayat tersebut diatas. Aisyah menjawab bahwa ayat tersebut berkaitan dengan anak yatim yang berada dalam pengawasan seorang wali, dimana hartanya bergabung dengan sang wali. Kemudian karena tertarik akan kecantikan dan terutama karena hartanya, sang wali bermaksud mengawininya dengan tujuan agar ia dapat menguasai hartanya. Ia juga bermaksud tidak memberikan mahar yang sesuai. Aisyah kemudian melanjutkan penjelasannya bahwa setelah itu beberapa sahabat bertanya kepada rasulullah saw mengenai perempuan. Maka turunlah ayat 127 surat An-Nisaa sebagai berikut :

“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Qur’an (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya”.

Pada waktu ayat ini diturunkan, dalam tradisi Arab Jahiliah, para wali anak yatim sering mengawini anak asuhnya disebabkan tertarik akan harta dan kecantikannya, namun bila si anak yatim tidak cantik ia menghalangi lelaki lain mengawini mereka karena khawatir harta mereka terlepas dari tangan para wali. Karena itulah Allah berfirman “jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya)”,( kamu dalam ayat ini maksudnya ditujukan kepada para wali anak yatim),” maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat….”

Begitulah penjelasan Aisyah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ayat 3 tersebut diatas bukanlah anjuran untuk berpoligami. Pada kenyataannya poligami telah dikenal dan dipraktekan berbagai lapisan masyarakat di berbagai penjuru dunia, baik dunia Barat maupun Timur, sejak dahulu kala dengan jumlah yang tak terbatas pula. Bahkan sebagian para nabi sebelum rasulullahpun seperti Ibrahim as, Musa as dan Daud as juga berpoligami.

Jadi bukan agama Islam yang mengajarkan hal tersebut.. Islam memang membolehkan namun hanya sebagai jalan keluar bagi yang memerlukannya, tergantung situasi dan kondisi, apakah lebih banyak manfaat atau mudharatnya. Itupun dengan syarat yang tidak mudah dan membatasinya tidak lebih dari 4.  Seorang suami sekaligus ayah dalam Islam wajib bertanggung jawab terhadap perbuatan dan kebutuhan semua istri dan anak yang dimilikinya, secara adil.

Namun, bila ditelaah lebih lanjut, ”jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja,… . Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”, menunjukkan bahwa dengan tidak berpoligami adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Karena dengan begitu, seorang suami tidak perlu merasa ada kekhawatiran berbuat tidak adil terhadap istri maupun anaknya.

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.An-Nisaa(4):129).

Dengan demikian jelas Poligami bukanlah sunah apalagi wajib. Namun bila alasannya ingin meneladani rasulullah, perlu diingat bahwa beliau lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Pada saat poligami adalah suatu hal yang lumrah di tanah Arab, dimana kebanyakan laki-laki beristri hingga lebih dari 10, rasulullah lebih memilih untuk bermonogami bersama istri tercinta, Siti Khadijjah ra, selama lebih kurang 25 tahun, hingga akhir hayat sang istri.

Padahal usia rasulullah saat menikah baru 25 tahun, usia dimana dorongan syahwat seorang laki-laki sedang tinggi-tingginya, sementara Siti Khadijjah sendiri telah berusia 40 tahun. Dan kalaupun rasulullah memang menghendakinya, beliau dapat dengan mudah menikah lagi dengan banyak perempuan tanpa melanggar adat dan tradisi yang berlaku pada masa itu. Kemudian kurang-lebih 2 tahun setelah wafatnya Siti Khadijjah, rasulullah menikah lagi, yaitu pada periode Madinah, periode yang penuh peperangan.

Jadi sungguh mustahil bila ada yang berpendapat bahwa rasulullah berpoligami demi mengejar kesenangan duniawi belaka. Perlu diingat, bahwa semua perempuan yang menjadi istri rasulullah adalah janda, kecuali Aisyah ra, dan kesemuanya adalah untuk tujuan menyukseskan dakwah dan membantu menyelamatkan dan mengangkat derajat perempuan-perempuan yang kehilangan suami. Dan sebagian bukanlah perempuan-perempuan yang dikenal memiliki daya tarik yang memikat.

Berikut istri-istri rasulullah dan latar belakang mengapa rasulullah mengawininya.

1.Siti Khadijjah binti Khuwailid ra. Ia adalah seorang saudagar perempuan kaya-raya yang dikenal berahlak mulia dan terhormat. Ia mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang jujur dan berahlak mulia, oleh sebab itu ia mempercayakan perniagaannya dibawa oleh pemuda tersebut. Nabi saw menerima wahyu pertama 15 tahun setelah perkawinannya dengan Khadujjah ra. Dialah orang pertama yang membenarkan, mendukung dan mempertaruhkan seluruh kekayaannya demi kelancaran dakwah Islam. Ia terus mendampingi rasulullah sebagai satu-satunya istri hingga wafatnya pada usia 65 tahun.

2. Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Ia satu-satunya istri rasulullah yang ketika dinikahi masih gadis. Abu Bakarlah yang membujuk rasulullah agar mau mengawini putrinya tersebut, karena ia tidak tega melihat rasulullah terus bersedih hati ditinggal wafat Siti Khadijjah.

3. Siti Saudah binti Zam’ah ra. Ia seorang janda berumur yang ditinggal wafat suaminya ketika mereka hijrah ke Habasyah(Ethiopia) guna menghindari serangan kaum musyrik. Ia terpaksa kembali ke Mekah sambil menanggung beban kehidupan anak-anaknya dengan resiko dipaksa murtad oleh kaumnya. Rasulullah menikahinya dalam keadaan demikian.

4. Hind binti Abi Umayyah atau Ummu Salamah ra. Juga seorang janda berumur. Suaminya luka parah dalam perang Uhud kemudian gugur tak lama kemudian. Rasulullah menikahinya sebagai penghormatan atas jasa suaminya dan demi menanggung anak-anaknya.

5. Ramlah binti Abu Sufyan ra atau Ummu Habibah. Ia meninggalkan orang-tuanya dan berhijrah ke Habasyah bersama suaminya. Namun sampai ditujuan, sang suami murtad dan menceraikannya. Untuk menghiburnya, rasulullah menikahinya sekaligus dengan harapan dapat menjalin hubungan dengan ayahnya yang waktu itu salah satu tokoh utama kaum musyrik Mekah.

6. Juwairiyah binti Al-Harits ra. Ia seorang putri kepala suku yang tertawan dalam salah satu peperangan. Keluarganya datang untuk memohon kebebasannya. Namun dalam pertemuan tersebut ternyata mereka tertarik kepada Islam dan kemudian memeluknya, demikian juga Juwairiyah. Sebagai penghormatan rasulullah menikahinya sambil berharap seluruh anggota sukunya memeluk Islam. Ternyata harapan tersebut terlaksana.

7. Hafsah binti Umar Ibnul Khatab ra. Ayahnya sangat bersedih hati ketika suami Hafsah wafat. Ia ‘menawarkan’ agar Abu Bakar mau menikahinya, namun tidak ada jawaban. Demikian juga ketika Umar kembali ‘menawarkan’ kepada Usman bin Affan. Ketika kemudian ia mengadukan kesedihan ini kepada rasulullah, beliau menghiburnya dengan menikahi putrinya itu sekaligus sebagai penghargaan beliau atas sang ayah.

8.Shaffiyah binti Huyaiy ra. Ia seorang perempuan Yahudi yang tertawan dalam perang dan dijadikan hamba sahaya oleh salah seorang pasukan muslimin yang menawannya. Kemudan ia memohon kepada rasulullah agar dimerdekakan. Rasulullah mengajukan 2 pilihan ; dimerdekakan dan dipulangkan kepada keluarganya atau dimerdekakan dan tetap tinggal bersama kaum muslimin. Ternyata ia memilih tinggal dan malah memeluk Islam.  Sebagai penghargaan rasulullah menikahinya.

9. Zainab binti jahsyi ra. Ia sepupu rasulullah dan beliau menikahkannya dengan Zaid ibn Haritsah, bekas anak angkat dan budak beliau. Rumah tangga mereka tidak bahagia sehingga mereka bercerai dan sebagai penanggung jawab perkawinan yang gagal tersebut , rasulullah menikahinya atas perintah Allah.(lihat QS Al-Ahzab (33):37). Ayat ini sekaligus merupakan perintah Allah swt untuk membatalkan adat Arab Jahiliyah yang menganggap anak angkat sebagai anak kandung sehingga tidak boleh mengawini bekas istri mereka.

10. Zainab binti Khuzaimah  ra. Ia seorang janda, suaminya gugur dalam perang Uhud dan tidak seorangpun dari kaum muslimin setelah itu mau menikahinya. Kemudian rasulullah menikahinya.

11. Maryah Al-Qibthiyyah ra. Ia seorang hamba sahaya, hadiah dari penguasa Mesir, Muqauqis. Setelah dimerdekakan dan masuk Islam, rasulullah menikahinya. Ia adalah satu-satunya istri rasulullah diluar Khadijjah yang dikarunia anak walaupun kemudian meninggal ketika masih bayi.

(Lihat QS.Al-Ahzab(33):50 mengenai kekhususan rasulullah dalam masalah perkawinan.)

Namun demikian sebagai Sang Pencipta, Allah swt paham betul, bahwa sebagian mahlukNya, terutama laki-laki, memiliki dorongan syahwat yang begitu tinggi. Hal ini terbukti dengan banyaknya penyelewengan dan perzinahan yang terjadi walau hampir semua agama besar melaknatnya. Bahkan Islam mengancamnya dengan 100 hukuman cambuk yang harus disaksikan. Dan sesungguhnya pihak perempuanlah yang mula-mula menjadi korban. Dialah yang harus menanggung akibatnya. Akan terlahir banyak anak tanpa ayah yang bertanggung-jawab. Lalu siapa yang harus bertanggung-jawab mendidik dan membesarkan anak-anak tersebut? Hal penting lain yang perlu diingat, bukankah ada hadis yang mengatakan bahwa di akhir zaman nanti jumlah perempuan akan lebih banyak dari lelaki? Bila Al-Quran melarang poligami secara mutlak, dapatkah kita bayangkan bagaimana nasib anak-cucu perempuan kita nanti? Akankah mereka itu selamanya tidak akan menikah? Bila demikian lalu siapa yang akan mengayomi mereka?? Bukankah Al-Quran adalah sebuah kitab yang berlaku sepanjang zaman? Pasti ada hikmah dibalik semua peraturanNya. Wallahu’alam bishawab.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Jakarta, 18 /12/2006 . Vien  AM. Sumber: – Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir oleh M. Nasib Ar-Rifa’i. – Tafsir Al-Misbah oleh M.Quraish Shihab. – Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw oleh HMH Al Hamid Al Husaini.

Read Full Post »

Ibnul Jauzy menulis bahwa kematian itu lebih pedih daripada sabetan pedang. Orang yang disabet pedang tentu akan berteriak dan melolong mengemis pertolongan dengan sisa-sisa tenaganya. Tetapi orang yang meninggal dunia tidak bisa berteriak lagi karena pedihnya rasa sakit yang dialaminya. Penderitaannya mencapai puncak sehingga hati dan seluruh anggota tubuhnya menjadi lemas. Ruhnya dicabut dari setiap nadi dan setiap anggota tubuhnya secara perlahan-lahan. Pada awal mula dua telapak kakinya terasa dingin, betis, paha lalu terus hingga ke kerongkongan.

“…..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):”Keluarkanlah nyawamu” ………..” (QS.Al-An’aam(6):93).

Pada saat itu pandangan matanya kepada dunia dan keluarga terputus dan pintu taubat sudah ditutup baginya. Rasulullah bersabda: ” Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selagi dia belum sekarat”. (HR Tirmidzy).

Berikut kisah Nabi Idris as. Beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan shalat sampai puluhan raka’at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris as yang sedemikian banyak tersebut naik ke langit setiap malam. Hal ini sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail.

Maka bermohonlah ia kepada Allah SWT agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris as di dunia. Allah SWT, mengabulkan permohonan tersebut. Maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.

“Assalamu’alaikum, yaa Nabi Allah“, sapa Malaikat Izrail.
Wa’alaikum salam wa rahmatullah“, jawab Nabi Idris a.s.

Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail. Seperti tamu yang lain, Nabi Idris as memperlakukan Malaikat Izrail dengan penuh hormat. Dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris as mengajaknya makan bersama, namun di tolak. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris as mengkhususkan waktunya “menghadap” Allah sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

Singkat cerita, keesokan harinya setelah melewati beberapa perbincangan kecil, akhirnya Nabi Idris penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu.

Siapakah engkau sebenarnya?“, tanya Nabi Idris a.s.
Aku Malaikat Izrail”, jawab Malaikat Izrail.
Nabi Idris as terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku?”, selidik Nabi Idris as serius.
Tidak“, senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu”, jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.
Aku punya keinginan kepadamu“, tutur Nabi Idris as.
“Apa itu? Katakanlah !”, jawab Malaikat Izrail.
“Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Allah SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku“, pinta Nabi Idris as.
Tanpa seizin Allah, aku tak kuasa melakukannya“, tolak Malaikat Izrail.

Pada saat itu pula Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris as. Maka dengan izin Allah, Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris as. Sesudah itu beliaupun wafat. Tak lama kemudian sesuai janji-Nya, Allah SWT segera menghidupkan kembali Nabi Idris as.

Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku?”, tanya Malaikat Izrail.
Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti”, jawab Nabi Idris as.
“Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu”, jelas Malaikat Izrail. Subhaanallah.

Bagaimana pula kita ini, yang jauh dari cara ibadah beliau? Hakikat mati adalah terpisahnya antara jasad dan ruh. Dikatakan orang yang mati akan melihat apa yang tidak dilihatnya selagi masih hidup sebagaimana orang yang terbangun dari tidur yang melihat apa yang tidak bisa dilihatnya saat tidur. Manusia layaknya sedang tidur dan jika mereka mati barulah mereka sadar.

Al-Ghazali berkata : “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki”.(QS.Ali Imraan(3):169).

Ketika seseorang mati, jasadnya akan dikuburkan sebagaimana diperlihatkan kepada Qabil, putra Adam as, bagaimana burung gagak menguburkan bangkai. Kemudian jasad itu sendiri akan hancur dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sedangkan ruh tetap kekal. Ia dapat merasakan siksa maupun nikmat, sebagaimana manusia hidup dapat merasakan berbagai kesenangan dan kegembiraan tanpa tergantung kepada anggota tubuh karena sesungguhnya hatilah yang merasakan segala perasaan tersebut.

Perumpamaannya seperti seorang yang bermimpi, baik mimpi buruk maupun mimpi menyenangkan. Dalam mimpi jasmani seseorang tidak terpengaruh oleh mimpinya, ia tetap berada ditempatnya semula. Namun tidak mustahil jika ruh itu dikembalikan lagi ke jasad saat berada di kubur dan juga tidak mustahil andaikan hal itu ditunda hingga hari berbangkit. Wallahua’lam.

Dari Abdullah Ash-Shan’any, dalam mimpi ia bertemu dan berkata-kata dengan Yazid bin Harun.Yazid berkata : “ Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia. Malaikat Munkar dan Nakir telah mendudukkan aku dan bertanya kepadaku, “ Siapakah Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?”. Kemudian ketika jawaban Yazid memuaskan kedua malaikat maka merekapun berkata: ” Tidurlah seperti tidurnya pengantin dan tidak ada yang mengagetkanmu setelah ini”.

Rasulullah bersabda : “Kubur itu salah satu dari taman-taman surga atau salah satu dari lubang-lubang neraka”.(HR Bukhary-Muslim).

Dari Abu Sa’id, Rasululah juga pernah bersabda : “Andaikan kalian banyak mengingat perusak kelezatan-kelezatan, tentu kalian akan sibuk mempersiapkan apa yang pernah kulihat. Maka perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan yaitu kematian. Tidaklah seorang hamba mendatangi kubur melainkan kubur itu berkata : “ Aku adalah rumah yang asing, aku adalah rumah yang sendirian, aku adalah rumah dari tanah, aku adalah rumah yang penuh ulat”.

Jika seorang hamba mukmin dikubur, maka kubur berkata, “ Selamat datang. Engkau adalah orang yang paling kucintai dari orang-orang yang mendatangiku. Jika pada hari ini engkau dibawa kesini, maka engkau akan melihat apa yang kuperbuatkepadamu”. Maka dia bisa bebas mengedarkan pandangannya dan dibukakan pintu-pintu menuju surga. Jika hamba yang buruk atau kafir dikubur, maka kubur berkata kepadanya, “Tiada kuucapkan selamat datang kepadamu, karena engkau adalah orang yang paling kubenci diantara orang yang berjalan mendatangiku. Jika hari ini engkau datang kepadaku, maka engkau akan melihat apa yang kulakukan terhadapmu”. Maka ia dibaringkan dan tulang-tulang iganya berserakan”. (HR Tirmidzy).

Wallahu’alam bishawab.
Jakarta, Mei 2009
Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »