Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Manusia adalah mahluk yang paling pandai diantara semua mahluk yang pernah ada di bumi ini. Dengan akalnya ia berusaha agar kehidupannya menjadi aman, tenang, mudah dan menyenangkan. Berbeda dengan mahluk lain yang cenderung hanya mengandalkan apa yang ada  dan tersedia di muka bumi ini tanpa harus mengolahnya terlebih dahulu, maka manusia justru sebaliknya. Ia selalu ingin dan berusaha agar apa yang ada diolahnya sehingga dapat memberikan hasil yang lebih optimal dan lebih berkwalitas. Dengan ambisinya ini manusia selalu ingin maju dan tidak pernah merasa puas atas segala apa yang telah diperolehnya. Dan dengan ambisinya ini pulalah manusia berhasil memanfaatkan kekuatan alam. Disamping itu, manusia juga mempunyai rasa keingin-tahuan yang sangat tinggi. Dengan menggunakan akalnya ia cenderung gemar memikirkan keadaan diri dan keadaan sekitarnya. Mengapa ia ada dan hidup di dunia ini, mengapa  manusia harus mati, kemana dan bagaimana  pula setelah terjadinya kematian, akankah semuanya berakhir begitu saja. Bila demikian apakah apa yang telah diusahakannya selama ia hidup menjadi sia-sia dan tidak memberikan manfaat? Bagaimana pula dengan kehidupan mahluk lain dan juga alam semesta ini, apakah ia terjadi dengan sendirinya ataukah ada kekuasaan yang menciptakan semua ini?

 Selain itu, manusia juga sering bertanya-tanya mengapa tidak semua yang diusahakannya dapat memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkannya. Berdasarkan pengalamannya, ia menyadari bahwa akal dan kepandaian bukanlah segalanya. Emosi atau keadaan hati juga dapat memberikan  pengaruh yang tidak sedikit bagi berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan atau usaha. Meskipun begitu ia tetap  dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak dapat diterima hanya melalui akal saja walaupun emosi seseorang sedang dalam keadaan prima. Ia dapat merasakan ada ‘kekuatan lain’ yang berkuasa atas dirinya yang tidak sanggup dan tidak mungkin dilawannya.

 Dari sinilah kemudian tampak bahwa sesungguhnya disamping akal, manusia juga mempunyai hati /qolbu. Dan hanya dengan qolbunya inilah ia dapat melihat ‘kekuatan lain’ tersebut. Itulah mata hati. Sebagaimana akal yang dapat diasah dan dipertajam, demikian pula hati . Jadi untuk membentuk manusia yang berkualitas, tidaklah cukup dengan hanya mengandalkan intelektual semata tetapi juga harus didukung oleh suatu kecerdasan emosi.

Dari Abu Bakar RA, Rasulullah bersabda :  “Janganlah seseorang diantara kalian menentukan suatu hukum pada kedua pihak yang sedang berselisih dalam keadaan marah”.  Dari Abu Darda RA : “Kecintaanmu terhadap sesuatu dapat menyebabkan kamu buta dan tuli”.

Namun kecerdasan emosi tersebut harus pula didasari oleh kesadaran akan kebenaran sejati yang didorong oleh kekuatan dan  kesadaran untuk merasakan, mendengar dan melihat ‘kekuatan lain’ yang tersembunyi, kekuatan  yang paling berhak menentukan berhasil tidaknya usaha seseorang. Faktor inilah yang disebut SQ (Spiritual Qotien) atau kecerdasan spiritual. Dengan adanya keseimbangan antara ketiga faktor diatas inilah  akan terbentuk suatu pribadi yang tegar, pribadi yang memiliki pandangan yang tidak sempit yang tidak hanya tertuju kepada kepuasan duniawi namun juga memiliki dimensi keakhiratan yang penuh ketakwaan, yang pandai bersyukur dan sabar menghadapi segala tantangan. Sikap inilah  yang nantinya akan melahirkan sikap pantang berputus asa. 

Berdasarkan hasil survey di AS pada tahun 1918 tentang IQ(Intellectual Qotien), ternyata ditemukan semakin tinggi IQ seseorang  semakin  menurun kecerdasan emosi atau  EQ  (Emotional Qotien). Beberapa puluh tahun terakhir ini, banyak ditemukan kasus depresi di kalangan yang notabene berpendidikan tinggi yang semakin tahun semakin memarah hingga mengakibatkan kasus bunuh diri. Mereka pada umumnya adalah orang-orang yang memiliki IQ relatif tinggi namun memiliki masalah sosial, diantaranya tersumbatnya komunikasi baik dilingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Mereka ini rupanya hanya disibukkan terhadap pengasahan terhadap IQ melulu hingga melupakan pentingnya peran EQ sehingga tidak sanggup menata emosi dan mengatasinya.

Ironisnya, orang-orang seperti ini tidak hanya membahayakan dirinya sendiri namun juga membahayakan diri banyak orang, seperti peristiwa yang baru saja terjadi pada bulan April 2007 di Amerika Serikat dimana seorang mahasiswa menembaki puluhan rekan mahasiswa dan dosen universitas dimana ia kuliah sebelum akhirnya ia menembak dirinya sendiri.Tidak dapat dipungkiri, setinggi apapun pendidikan  seseorang, kemungkinan suatu kegagalan selalu ada. Terdapat suatu faktor ‘x’ atau ‘luck’ yang tidak dapat diikuti oleh akal manusia. Disinilah berperan faktor spiritual. Hanya faktor inilah sebenarnya yang dapat mengatasi kekecewaan seseorang. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju seperti AS, Jepang dan Eropa Barat tetapi juga di negara-negara berkembang. 

Namun sebaliknya kenyataan lainpun berbicara bahwa ternyata kasus depresi ini lebih disebabkan akibat tidak matangnya kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. Hal ini tercermin dari bervariasinya korban depresi, mulai dari kalangan bawah sampai kalangan tinggi, mulai dari yang memiliki IQ rendah sampai yang memiliki IQ tinggi, dari yang tidak memiliki pendidikan hingga yang berpendidikan tinggi. Dari sini tampak nyata bahwa  ketidak-seimbangan antara IQ, EQ dan SQ dapat berakibat fatal.

          “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman”. (QS Az Zumar(39):52).

Tokoh Pendidik Barat sekaligus Ilmuwan dan pengarang buku kenamaan, Danah Zahar maupun Ian Marshall misalnya yang memiliki minat yang tinggi terhadap masalah SQ, dalam karya ilmiahnya menyatakan adanya ‘God Spot’ atau apa yang biasa disebut suara hati atau mata hati pada otak manusia. Berdasarkan penelitian mereka ‘God Spot’ ini terletak diantara jaringan syaraf otak yang berfungsi sebagai pusat spiritual manusia. Pada ‘God Spot’ inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam. Namun sayangnya temuan mereka ini baru sebatas pada apa yang nyata ada pada otak manusia. Sesuatu yang menunjukkan akan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang berfungsi menyimpan dan mempersatukan segala pengalaman hidup manusia dan sekaligus memberinya makna. Tetapi belum sampai pada tingkat ke-Ilahian. Jalaludin Rumi seorang tokoh  sufi besar Islam, mengatakan : ”Matahati punya kemampuan 70x lebih besar untuk melihat daripada dua indra penglihatan.”

Saat ini, dimana isu ‘Global Warming’ atau Pemanasan Global telah menjadi topik pembicaraan yang  hangat, maka tampaknya sudah tiba saat yang tidak mungkin lagi dipungkiri bahwa dunia dan segala isinya harus menyerah pada ‘kekuatan ghaib’.  Bahkan dengan ilmu yang demikian canggih, penemuan demi penemuan terus berlanjut,  kekuatan  nuklir yang terus dikembangkan namun dalam kenyataannya tidak seorangpun saat ini dapat mengantisipasi apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Tampaknya bumi sedang menuju kehancurannya. Perubahan musim yang tidak beraturan, peningkatan  suhu udara dan berbagai perkiraan menakutkan seperti mencairnya gugusan salju di berbagai belahan  dunia, merupakan petunjuk akan hal tersebut. Bencana demi bencana yang terus bersusulan seolah enggan untuk berhenti menyapa. Maka siapakah sesungguhnya Sang “Kekuatan Ghaib “ tersebut ?

 “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran,penglihatan dan hati.Amat sedikitlah kamu bersyukur.Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang-biakkan kamu di bumi ini dan kepadaNyalah kamu akan dihimpun.Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan Dialah yang(mengatur) pertukaran malam dan siang.Maka apakah kamu tidak memahaminya?”.(QS Al Mu’minun (23) :78-80)

Manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, suatu zat yang mustahil sama dengan ciptaannya. Pada umumnya semua manusia menyadari bahwa ia hidup di dunia ini pada suatu waktu yang amat terbatas. Pada saatnya nanti setiap diri akan kembali dan harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dikerjakannya selama hidup di dunia. Ketika manusia menyadari akan kenyataan ini, ia akan lebih tenang sekaligus waspada karena ia mengetahui dengan pasti apa tujuan hidupnya. Ia akan mempersiapkan dirinya dengan mencari bekal di dunia berdasarkan tuntunan-Nya dengan mengharap ridho Allah SWT.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.  (QS.Al-Qashas(28:77).    

Apabila telah ditunaikan sembahyang,maka bertebaranlah kamu dimuka bumi;dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Al Jumu’ah 62):10).

Dengan demikian, manusia yang menyadari akan hakekat hidupnya sebagai makhluk Allah, cara berpikirnya tidaklah hanya  semata mengejar kebahagiaan dunia, kepuasan material, kepuasan yang hanya sesaat. Dengan bimbingan hati nurani atau ‘God Spot’ manusia akan berhasil menjadi seorang khalifah sesuai dengan fitrahnya. Karena sesungguhnya dengan meningkatnya kecerdasan spiritual maka kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektualnyapun akan makin meningkat. Karena Al-Quran memang mengajarkan keseimbangan  diantara ketiga kecerdasan tersebut.

“Bacalah dengan (menyebut)nama Tuhanmu Yang menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,Yang mengajar(manusia) dengan perantaraan kalam.Dia mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(QS Al ‘Alaq(96):1-5) .  

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….”.(QS.Al-Mujadillah(58):11).

 Wallahu’alam bishawab.

 Jakarta, 15/4/2007

Vien AM

Dari :  Prolog “Perjalanan Sang Khalifah 1 ” oleh Sylvia Nurhadi.

Referensi :

– Kecerdasan Emosi dan Spiritual oleh Ary Ginanjar Agustian.

– Jiwa Manusia dalam sorotan Al-Quran  oleh  DR.Muhammad ‘Utsman Najati.

Read Full Post »

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS.An-Nisaa(4):3).

Ayat inilah yang sering dijadikan pegangan bagi orang-orang yang menerapkan poligami. Padahal ayat ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang bila diperhatikan lebih seksama akan memberikan pengertian lain. Bunyi ayat tersebut adalah sebagai berikut :

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”.(QS.An-Nisaa(4):2).

Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud serta At-Turmuzy meriwayatkan bahwa Urwah ibn Zubair bertanya kepada Aisyah ra mengenai ayat tersebut diatas. Aisyah menjawab bahwa ayat tersebut berkaitan dengan anak yatim yang berada dalam pengawasan seorang wali, dimana hartanya bergabung dengan sang wali. Kemudian karena tertarik akan kecantikan dan terutama karena hartanya, sang wali bermaksud mengawininya dengan tujuan agar ia dapat menguasai hartanya. Ia juga bermaksud tidak memberikan mahar yang sesuai. Aisyah kemudian melanjutkan penjelasannya bahwa setelah itu beberapa sahabat bertanya kepada rasulullah saw mengenai perempuan. Maka turunlah ayat 127 surat An-Nisaa sebagai berikut :

“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Qur’an (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya”.

Pada waktu ayat ini diturunkan, dalam tradisi Arab Jahiliah, para wali anak yatim sering mengawini anak asuhnya disebabkan tertarik akan harta dan kecantikannya, namun bila si anak yatim tidak cantik ia menghalangi lelaki lain mengawini mereka karena khawatir harta mereka terlepas dari tangan para wali. Karena itulah Allah berfirman “jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya)”,( kamu dalam ayat ini maksudnya ditujukan kepada para wali anak yatim),” maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat….”

Begitulah penjelasan Aisyah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ayat 3 tersebut diatas bukanlah anjuran untuk berpoligami. Pada kenyataannya poligami telah dikenal dan dipraktekan berbagai lapisan masyarakat di berbagai penjuru dunia, baik dunia Barat maupun Timur, sejak dahulu kala dengan jumlah yang tak terbatas pula. Bahkan sebagian para nabi sebelum rasulullahpun seperti Ibrahim as, Musa as dan Daud as juga berpoligami.

Jadi bukan agama Islam yang mengajarkan hal tersebut.. Islam memang membolehkan namun hanya sebagai jalan keluar bagi yang memerlukannya, tergantung situasi dan kondisi, apakah lebih banyak manfaat atau mudharatnya. Itupun dengan syarat yang tidak mudah dan membatasinya tidak lebih dari 4.  Seorang suami sekaligus ayah dalam Islam wajib bertanggung jawab terhadap perbuatan dan kebutuhan semua istri dan anak yang dimilikinya, secara adil.

Namun, bila ditelaah lebih lanjut, ”jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja,… . Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”, menunjukkan bahwa dengan tidak berpoligami adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Karena dengan begitu, seorang suami tidak perlu merasa ada kekhawatiran berbuat tidak adil terhadap istri maupun anaknya.

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.An-Nisaa(4):129).

Dengan demikian jelas Poligami bukanlah sunah apalagi wajib. Namun bila alasannya ingin meneladani rasulullah, perlu diingat bahwa beliau lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Pada saat poligami adalah suatu hal yang lumrah di tanah Arab, dimana kebanyakan laki-laki beristri hingga lebih dari 10, rasulullah lebih memilih untuk bermonogami bersama istri tercinta, Siti Khadijjah ra, selama lebih kurang 25 tahun, hingga akhir hayat sang istri.

Padahal usia rasulullah saat menikah baru 25 tahun, usia dimana dorongan syahwat seorang laki-laki sedang tinggi-tingginya, sementara Siti Khadijjah sendiri telah berusia 40 tahun. Dan kalaupun rasulullah memang menghendakinya, beliau dapat dengan mudah menikah lagi dengan banyak perempuan tanpa melanggar adat dan tradisi yang berlaku pada masa itu. Kemudian kurang-lebih 2 tahun setelah wafatnya Siti Khadijjah, rasulullah menikah lagi, yaitu pada periode Madinah, periode yang penuh peperangan.

Jadi sungguh mustahil bila ada yang berpendapat bahwa rasulullah berpoligami demi mengejar kesenangan duniawi belaka. Perlu diingat, bahwa semua perempuan yang menjadi istri rasulullah adalah janda, kecuali Aisyah ra, dan kesemuanya adalah untuk tujuan menyukseskan dakwah dan membantu menyelamatkan dan mengangkat derajat perempuan-perempuan yang kehilangan suami. Dan sebagian bukanlah perempuan-perempuan yang dikenal memiliki daya tarik yang memikat.

Berikut istri-istri rasulullah dan latar belakang mengapa rasulullah mengawininya.

1.Siti Khadijjah binti Khuwailid ra. Ia adalah seorang saudagar perempuan kaya-raya yang dikenal berahlak mulia dan terhormat. Ia mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang jujur dan berahlak mulia, oleh sebab itu ia mempercayakan perniagaannya dibawa oleh pemuda tersebut. Nabi saw menerima wahyu pertama 15 tahun setelah perkawinannya dengan Khadujjah ra. Dialah orang pertama yang membenarkan, mendukung dan mempertaruhkan seluruh kekayaannya demi kelancaran dakwah Islam. Ia terus mendampingi rasulullah sebagai satu-satunya istri hingga wafatnya pada usia 65 tahun.

2. Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Ia satu-satunya istri rasulullah yang ketika dinikahi masih gadis. Abu Bakarlah yang membujuk rasulullah agar mau mengawini putrinya tersebut, karena ia tidak tega melihat rasulullah terus bersedih hati ditinggal wafat Siti Khadijjah.

3. Siti Saudah binti Zam’ah ra. Ia seorang janda berumur yang ditinggal wafat suaminya ketika mereka hijrah ke Habasyah(Ethiopia) guna menghindari serangan kaum musyrik. Ia terpaksa kembali ke Mekah sambil menanggung beban kehidupan anak-anaknya dengan resiko dipaksa murtad oleh kaumnya. Rasulullah menikahinya dalam keadaan demikian.

4. Hind binti Abi Umayyah atau Ummu Salamah ra. Juga seorang janda berumur. Suaminya luka parah dalam perang Uhud kemudian gugur tak lama kemudian. Rasulullah menikahinya sebagai penghormatan atas jasa suaminya dan demi menanggung anak-anaknya.

5. Ramlah binti Abu Sufyan ra atau Ummu Habibah. Ia meninggalkan orang-tuanya dan berhijrah ke Habasyah bersama suaminya. Namun sampai ditujuan, sang suami murtad dan menceraikannya. Untuk menghiburnya, rasulullah menikahinya sekaligus dengan harapan dapat menjalin hubungan dengan ayahnya yang waktu itu salah satu tokoh utama kaum musyrik Mekah.

6. Juwairiyah binti Al-Harits ra. Ia seorang putri kepala suku yang tertawan dalam salah satu peperangan. Keluarganya datang untuk memohon kebebasannya. Namun dalam pertemuan tersebut ternyata mereka tertarik kepada Islam dan kemudian memeluknya, demikian juga Juwairiyah. Sebagai penghormatan rasulullah menikahinya sambil berharap seluruh anggota sukunya memeluk Islam. Ternyata harapan tersebut terlaksana.

7. Hafsah binti Umar Ibnul Khatab ra. Ayahnya sangat bersedih hati ketika suami Hafsah wafat. Ia ‘menawarkan’ agar Abu Bakar mau menikahinya, namun tidak ada jawaban. Demikian juga ketika Umar kembali ‘menawarkan’ kepada Usman bin Affan. Ketika kemudian ia mengadukan kesedihan ini kepada rasulullah, beliau menghiburnya dengan menikahi putrinya itu sekaligus sebagai penghargaan beliau atas sang ayah.

8.Shaffiyah binti Huyaiy ra. Ia seorang perempuan Yahudi yang tertawan dalam perang dan dijadikan hamba sahaya oleh salah seorang pasukan muslimin yang menawannya. Kemudan ia memohon kepada rasulullah agar dimerdekakan. Rasulullah mengajukan 2 pilihan ; dimerdekakan dan dipulangkan kepada keluarganya atau dimerdekakan dan tetap tinggal bersama kaum muslimin. Ternyata ia memilih tinggal dan malah memeluk Islam.  Sebagai penghargaan rasulullah menikahinya.

9. Zainab binti jahsyi ra. Ia sepupu rasulullah dan beliau menikahkannya dengan Zaid ibn Haritsah, bekas anak angkat dan budak beliau. Rumah tangga mereka tidak bahagia sehingga mereka bercerai dan sebagai penanggung jawab perkawinan yang gagal tersebut , rasulullah menikahinya atas perintah Allah.(lihat QS Al-Ahzab (33):37). Ayat ini sekaligus merupakan perintah Allah swt untuk membatalkan adat Arab Jahiliyah yang menganggap anak angkat sebagai anak kandung sehingga tidak boleh mengawini bekas istri mereka.

10. Zainab binti Khuzaimah  ra. Ia seorang janda, suaminya gugur dalam perang Uhud dan tidak seorangpun dari kaum muslimin setelah itu mau menikahinya. Kemudian rasulullah menikahinya.

11. Maryah Al-Qibthiyyah ra. Ia seorang hamba sahaya, hadiah dari penguasa Mesir, Muqauqis. Setelah dimerdekakan dan masuk Islam, rasulullah menikahinya. Ia adalah satu-satunya istri rasulullah diluar Khadijjah yang dikarunia anak walaupun kemudian meninggal ketika masih bayi.

(Lihat QS.Al-Ahzab(33):50 mengenai kekhususan rasulullah dalam masalah perkawinan.)

Namun demikian sebagai Sang Pencipta, Allah swt paham betul, bahwa sebagian mahlukNya, terutama laki-laki, memiliki dorongan syahwat yang begitu tinggi. Hal ini terbukti dengan banyaknya penyelewengan dan perzinahan yang terjadi walau hampir semua agama besar melaknatnya. Bahkan Islam mengancamnya dengan 100 hukuman cambuk yang harus disaksikan. Dan sesungguhnya pihak perempuanlah yang mula-mula menjadi korban. Dialah yang harus menanggung akibatnya. Akan terlahir banyak anak tanpa ayah yang bertanggung-jawab. Lalu siapa yang harus bertanggung-jawab mendidik dan membesarkan anak-anak tersebut? Hal penting lain yang perlu diingat, bukankah ada hadis yang mengatakan bahwa di akhir zaman nanti jumlah perempuan akan lebih banyak dari lelaki? Bila Al-Quran melarang poligami secara mutlak, dapatkah kita bayangkan bagaimana nasib anak-cucu perempuan kita nanti? Akankah mereka itu selamanya tidak akan menikah? Bila demikian lalu siapa yang akan mengayomi mereka?? Bukankah Al-Quran adalah sebuah kitab yang berlaku sepanjang zaman? Pasti ada hikmah dibalik semua peraturanNya. Wallahu’alam bishawab.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Jakarta, 18 /12/2006 . Vien  AM. Sumber: – Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir oleh M. Nasib Ar-Rifa’i. – Tafsir Al-Misbah oleh M.Quraish Shihab. – Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw oleh HMH Al Hamid Al Husaini.

Read Full Post »

Ibnul Jauzy menulis bahwa kematian itu lebih pedih daripada sabetan pedang. Orang yang disabet pedang tentu akan berteriak dan melolong mengemis pertolongan dengan sisa-sisa tenaganya. Tetapi orang yang meninggal dunia tidak bisa berteriak lagi karena pedihnya rasa sakit yang dialaminya. Penderitaannya mencapai puncak sehingga hati dan seluruh anggota tubuhnya menjadi lemas. Ruhnya dicabut dari setiap nadi dan setiap anggota tubuhnya secara perlahan-lahan. Pada awal mula dua telapak kakinya terasa dingin, betis, paha lalu terus hingga ke kerongkongan.

“…..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):”Keluarkanlah nyawamu” ………..” (QS.Al-An’aam(6):93).

Pada saat itu pandangan matanya kepada dunia dan keluarga terputus dan pintu taubat sudah ditutup baginya. Rasulullah bersabda: ” Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selagi dia belum sekarat”. (HR Tirmidzy).

Berikut kisah Nabi Idris as. Beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan shalat sampai puluhan raka’at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris as yang sedemikian banyak tersebut naik ke langit setiap malam. Hal ini sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail.

Maka bermohonlah ia kepada Allah SWT agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris as di dunia. Allah SWT, mengabulkan permohonan tersebut. Maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.

“Assalamu’alaikum, yaa Nabi Allah“, sapa Malaikat Izrail.
Wa’alaikum salam wa rahmatullah“, jawab Nabi Idris a.s.

Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail. Seperti tamu yang lain, Nabi Idris as memperlakukan Malaikat Izrail dengan penuh hormat. Dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris as mengajaknya makan bersama, namun di tolak. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris as mengkhususkan waktunya “menghadap” Allah sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

Singkat cerita, keesokan harinya setelah melewati beberapa perbincangan kecil, akhirnya Nabi Idris penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu.

Siapakah engkau sebenarnya?“, tanya Nabi Idris a.s.
Aku Malaikat Izrail”, jawab Malaikat Izrail.
Nabi Idris as terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku?”, selidik Nabi Idris as serius.
Tidak“, senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu”, jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.
Aku punya keinginan kepadamu“, tutur Nabi Idris as.
“Apa itu? Katakanlah !”, jawab Malaikat Izrail.
“Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Allah SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku“, pinta Nabi Idris as.
Tanpa seizin Allah, aku tak kuasa melakukannya“, tolak Malaikat Izrail.

Pada saat itu pula Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris as. Maka dengan izin Allah, Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris as. Sesudah itu beliaupun wafat. Tak lama kemudian sesuai janji-Nya, Allah SWT segera menghidupkan kembali Nabi Idris as.

Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku?”, tanya Malaikat Izrail.
Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti”, jawab Nabi Idris as.
“Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu”, jelas Malaikat Izrail. Subhaanallah.

Bagaimana pula kita ini, yang jauh dari cara ibadah beliau? Hakikat mati adalah terpisahnya antara jasad dan ruh. Dikatakan orang yang mati akan melihat apa yang tidak dilihatnya selagi masih hidup sebagaimana orang yang terbangun dari tidur yang melihat apa yang tidak bisa dilihatnya saat tidur. Manusia layaknya sedang tidur dan jika mereka mati barulah mereka sadar.

Al-Ghazali berkata : “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki”.(QS.Ali Imraan(3):169).

Ketika seseorang mati, jasadnya akan dikuburkan sebagaimana diperlihatkan kepada Qabil, putra Adam as, bagaimana burung gagak menguburkan bangkai. Kemudian jasad itu sendiri akan hancur dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sedangkan ruh tetap kekal. Ia dapat merasakan siksa maupun nikmat, sebagaimana manusia hidup dapat merasakan berbagai kesenangan dan kegembiraan tanpa tergantung kepada anggota tubuh karena sesungguhnya hatilah yang merasakan segala perasaan tersebut.

Perumpamaannya seperti seorang yang bermimpi, baik mimpi buruk maupun mimpi menyenangkan. Dalam mimpi jasmani seseorang tidak terpengaruh oleh mimpinya, ia tetap berada ditempatnya semula. Namun tidak mustahil jika ruh itu dikembalikan lagi ke jasad saat berada di kubur dan juga tidak mustahil andaikan hal itu ditunda hingga hari berbangkit. Wallahua’lam.

Dari Abdullah Ash-Shan’any, dalam mimpi ia bertemu dan berkata-kata dengan Yazid bin Harun.Yazid berkata : “ Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia. Malaikat Munkar dan Nakir telah mendudukkan aku dan bertanya kepadaku, “ Siapakah Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?”. Kemudian ketika jawaban Yazid memuaskan kedua malaikat maka merekapun berkata: ” Tidurlah seperti tidurnya pengantin dan tidak ada yang mengagetkanmu setelah ini”.

Rasulullah bersabda : “Kubur itu salah satu dari taman-taman surga atau salah satu dari lubang-lubang neraka”.(HR Bukhary-Muslim).

Dari Abu Sa’id, Rasululah juga pernah bersabda : “Andaikan kalian banyak mengingat perusak kelezatan-kelezatan, tentu kalian akan sibuk mempersiapkan apa yang pernah kulihat. Maka perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan yaitu kematian. Tidaklah seorang hamba mendatangi kubur melainkan kubur itu berkata : “ Aku adalah rumah yang asing, aku adalah rumah yang sendirian, aku adalah rumah dari tanah, aku adalah rumah yang penuh ulat”.

Jika seorang hamba mukmin dikubur, maka kubur berkata, “ Selamat datang. Engkau adalah orang yang paling kucintai dari orang-orang yang mendatangiku. Jika pada hari ini engkau dibawa kesini, maka engkau akan melihat apa yang kuperbuatkepadamu”. Maka dia bisa bebas mengedarkan pandangannya dan dibukakan pintu-pintu menuju surga. Jika hamba yang buruk atau kafir dikubur, maka kubur berkata kepadanya, “Tiada kuucapkan selamat datang kepadamu, karena engkau adalah orang yang paling kubenci diantara orang yang berjalan mendatangiku. Jika hari ini engkau datang kepadaku, maka engkau akan melihat apa yang kulakukan terhadapmu”. Maka ia dibaringkan dan tulang-tulang iganya berserakan”. (HR Tirmidzy).

Wallahu’alam bishawab.
Jakarta, Mei 2009
Vien AM.

Read Full Post »

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.Ali Imraan (3):190-191)

Kata mukjizat lazimnya diartikan sebagai suatu keajaiban ataupun kejadian luar biasa yang sangat sulit diterima oleh akal sehat dalam keadaan normal. Dalam pengertian agama mukjizat biasa diberikan Allah SWT kepada para nabi dan rasul sebagai bukti suatu ke-Rasulan agar ia dapat diterima masyarakatnya. Namun mukjizat yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW agak berbeda. Mukjizat terbesar nabi penutup ini justru terletak pada kitab suci Al-Quran itu sendiri.

Bila mukjizat para pendahulu biasanya dapat langsung dirasakan pada saat itu juga, tidak demikian dengan Al-Quran. Keajaiban Al-Quran justru terasa semakin lama semakin mengagumkan, mencengangkan sekaligus menggetarkan, sesuai dengan makin berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Oleh sebab itulah umat Islam dituntut dari waktu ke waktu untuk belajar dan terus belajar, mempelajari dan memperhatikan segala apa yang telah diciptakan-Nya.

“………Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat……..”. (QS.Al-Mujadillah(58:11).

Begitu berlimpahnya ayat-ayat berserakan di alam semesta ini bila manusia mau memperhatikan dan mempelajarinya. Hal ini tak lain agar manusia dapat mengenal Sang Pencipta, Allah Azza wa jalla. Berbeda dengan manusia yang cenderung ‘pelit’ baik dalam hal harta maupun ilmunya, Allah SWT berkehendak agar manusia dapat ikut memahami  dan mempelajari sebagian kecil dari ilmu-Nya, bagaimana caranya Ia  menciptakan alam semesta, bagaimana Ia menghamparkan bumi dan isinya, bagaimana Ia menciptakan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, mengapa pula bisa terjadi berbagai  kejadian alam seperti hujan, angin, petir, badai dan sebagainya. Allah SWT sengaja memperlihatkan proses tersebut tahapan demi tahapan selain untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya juga agar mempermudah manusia mempelajarinya dan agar manusia mau mensyukurinya.

“ Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”(QS.Al-Jatsiyah(45):13).

Padahal bila Ia berkehendak cukup hanya mengatakan “KUN FAYAKUN” maka terjadilah semuanya.

“……Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.”(QS.Ali Imraan(3:47).

Maka bila demikian halnya tak satupun manusia akan mempunyai kesempatan untuk mengetahui sedikitpun rahasia-Nya. Manusia bakal bagaikan robot-robot yang patuh dan tunduk tanpa kemauan apapun.  Ia hanya dapat pasrah. Dan dengan demikian tentu semua manusia tanpa usaha akan masuk surga tanpa  proses secuilpun. Alangkah tidak dinamisnya hidup ini dan bila demikian tentu  tidak akan diperlukan adanya khalifah di bumi ini.

Namun syukurlah  karena  Allah SWT tidak menghendaki yang demikian. Dunia adalah permainan yang amat menarik dan dinamis. Allah SWT menantang manusia untuk berlomba menuju kemenangan. Dan sebagai imbalan Ia menyediakan surga bagi para pemenang dan neraka bagi para pecundang. Siapa saja yang mampu memecahkan teka-teki tersebut, baik muslim ataupun bukan, ia akan menguasai dunia, alam akan ditaklukan atas kehendak-Nya, ia akan mendapatkan manfaat yang banyak darinya, dengan satu syarat tidak boleh merusak alam tersebut.

“………… dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS.Al-Fushilat(28):77).

Dan sebagai petunjuk Ia sebarkan ayat-ayat di segala penjuru alam semesta, itulah  Sunatullah. Bila ia melanggar aturan tersebut  ia akan merasakan akibatnya, itulah hukum sebab-akibat, aksi-reaksi. Manusia adalah pemeran utama sedangkan mahluk-mahluk lain seperti hewan, tumbuhan, gunung, sungai, bebatuan dan lain-lain adalah pemeran pembantu.

Mereka tidak mempunyai kehendak apapun, selain tunduk dan patuh pada aturan-Nya, semua prilakunya persis sesuai skenario Sang Sutradara. Allah SWT memerintahkan air untuk selalu tertarik ke pusat bumi sebaliknya  gas menjauh dari pusat bumi, bulan berputar mengelilingi bumi, bumi berputar mengelilingi matahari sambil berotasi terhadap dirinya sendiri demikian pula seluruh tatanan tata surya dan semua mahluk yang ada di alam semesta ini.

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan dukhan(asap), lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.(QS.Al-Fushilat(41):11).

Gravitasi hanyalah salah satu aturan main ciptaan-Nya agar manusia dapat ikut memahami permainan namun bila sekali-sekali Ia tidak ingin mengikuti aturan main tersebut, itu adalah hakNya. Tak satupun mahluk yang dapat mencegahnya. Sebaliknya, Allah SWT amat menyayangi mahluknya yang mau menggunakan hatinya untuk memahami, telinganya untuk mendengar,matanya untuk melihat dan  akalnya untuk berpikir.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia,mereka mempunyai hati,tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata(tetapi)tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah)…….” (QS.Al-Araf (7):179).

Ilmu Pengetahuan, Tehnologi dan  Sains saat ini berkembang dengan amat sangat pesatnya. Sebagai seorang muslim sudah semestinya bila kita terus memantau perkembangan ini dengan seksama dan membandingkan berbagai temuan tersebut dengan apa yang telah disiratkan dalam Al-Quran.   Pada tahun 1940-an dengan  bantuan teleskop raksasa “Hubble”, muncul teori “Big Bang” dan “Big Crunch” yaitu awal  penciptaan alam semesta dan kebalikannya yaitu akhir dari alam semesta. Mereka berkesimpulan bahwa alam semesta ini bermula dari “singularitas”,”kenihilan” yang kemudian berdentum’ (‘Big Bang’) sehingga menjadi luas dan terus semakin luas dan mengembang sebelum akhirnya kembali mengkerut (‘Big Crunch’).

“ Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”(QS.Al-Anbiya(21):30). “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya”. (QS. Adz-Zaariyat (51) :47).

“ (Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya……”.(QS.Al-Anbiya(21):104).

Dan bukankah  dari ilmu pengetahuan kita tahu bahwa hujan adalah suatu proses berkesinambungan antara awan, angin dan  fenomena alam lainnya?

“ Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus,………?” (QS.As-Sajdah(31):27).

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira”.(QS.Ar-Rum(30):48).

Bila kita mau memperhatikan ayat-ayat suci Al-Quran sungguh banyak sekali ayat-ayat yang sesuai dengan penemuan sains akhir-akhir ini. Allah SWT tidaklah menciptakan alam semesta ini dengan sembarangan. “ Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (QS. Al-Hijr(15):21).

“ Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yaasiin (36) :40).

Para ilmuwan saat ini menyadari bahwa alam semesta tercipta berdasarkan aturan-aturan dan rumus-rumus yang amat sangat rumit namun akurat, bahkan sarat dengan perhitungan matematis.

Demi langit yang mempunyai jalan-jalan ” (QS. Adz-Dzariyat(51):7).

Pernahkah kita terpikir apa yang dimaksud dengan jalan-jalan dilangit ?

Manusia pada zaman dahulu mungkin tidak dapat membayangkan hal ini bahkan memikirkannyapun mungkin tidak. Namun sekarang ini di zaman yang serba canggih, di zaman dimana hampir semua orang dapat menikmati fasilitas telekomunikasi serba modern seperti radio, televisi, komputer dan juga aneka telepon genggam hal tersebut menjadi mengejutkan. Bukankah berbagai jenis gelombang radio yang mampu memberikan frekwensi tertentu untuk memberikan informasinya melalui berbagai fasilitas modern dan canggih itu berjalan melalui udara di atas kita? Itukah maksud langit yang mempunyai jalan-jalan itu? Wallahu’alam.

“ Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan………”.(QS. An-Naml(27):88).

“ Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?”. (QS. An-Naba’(78):6-7).

Belakangan ini Sains membuktikan bahwa terjadi pergeseran lempeng kerak bumi 5-12cm pertahun dan disimpulkan bahwa dalam sejuta tahun pergeseran tersebut berpotensi memindahkan sebuah benua 50-120 km!!. Para ahli geologi juga mengatakan bahwa gunung-gunung sebenarnya dapat dikatakan memiliki “kaki” yang tertanam kuat didalam lapisan Astenosfer yg membuat kedudukan suatu benua/daratan mantap.

Sejarah mencatat, bahwa bumi yang ada sekarang ini tidaklah sama dengan bumi pada masa awal pembentukan 12 milyar tahun yang lalu. Diperkirakan 300 juta tahun yang lalu, di bumi ini hanya ada satu daratan yang amat luas, “Pangea” yang terletak di lautan  yang juga amat luas ”Panthalasea”. Kemudian 150 juta tahun kemudian daratan luas ini pecah menjadi “Gondwana” yang terdiri atas Antartika,Australia, Amerika Selatan serta Afrika dan “ Laurasia” yang terdiri dari Asia, Eropa dan Amerika Utara. Baru 50 juta kemudian  keduanya terpisah hingga akhirnya seperti yang tampak sekarang ini. Jadi begitulah agaknya cara gunung “berjalan”, ia tidak diam di tempat namun bergerak walaupun secara perlahan. Bagaimana pula dengan ayat berikut?

“  Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi……. .”(QS. AtThariq(65):12).

Sejak kapankah manusia mengetahui bahwa bumi mempunyai tujuh lapisan atmosfer? Lapisan Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, Ionosfer, Eksosfer dan Magnetosfer. Tepat tujuh lapis!

Dan pernahkah kita terpikir mengapa sungai yang bermuara kelaut airnya tidak asin sebagaimana air laut? Mengapa keduanya tidak menyatu dan bercampur, padahal tidak ada dinding pembatas diantara keduanya?

“ Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”(QS.Al-Furqan(25):53).

Tidak hanya itu. Pada tahun 1948, gambar-gambar satelit memperlihatkan dengan jelas adanya batas-batas air di laut Tengah yang panas lagi sangat asin dan di samudra Atlantik yang temperatur airnya relatif lebih dingin serta kadar garamnya lebih rendah dari laut Tengah. Batas-batas juga terlihat di antara Laut Merah dan Teluk Aden. Bagaimana pula akibatnya  bila air yang diturunkan dari langit atau air  yang kita ambil dari dalam tanah untuk kita minum itu asin?

“ Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (QS.Al-Waqiyah(56):68-70).

Apa yang dikatakan sains tentang gosokan-gosokan  yang dapat menimbulkan percikan api?

Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dari gosokan-gosokan kayu).Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?”(QS.Al-Waqiyah(56):71-72).

Pertanyaannya dari mana nabi Muhammad SAW yang hidup lebih dari 14 abad yang lalu itu mengetahui semua ini? Padahal kenyataan membuktikan diperlukan waktu berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun bagi para ilmuwan untuk mengetahui suatu rahasia alam walaupun dengan alat yang canggih sekalipun.

Namun sebaliknya bila sekarang ini ada temuan sains yang terlihat bertentangan dengan teks Al-Quran, sebenarnya ada dua kemungkinan. Yang pertama mungkin data atau informasi yang didapat para ilmuwan belum tepat, sedang yang kedua mungkin pemahaman kita terhadap Al-Quranlah yang kurang tepat. Tidak mungkin keduanya saling bertentangan. Karena dengan makin majunya tehnologi, pengetahuan juga makin berkembang, maka akibatnya penafsiran terhadap Al-Quranpun juga dapat berkembang, terutama dalam hal yang berkaitan dengan ilmu ke-alam semestaan.

“ Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar…….” (QS. Al-Fushilat(41):53).

Walahu’alam.

Jakarta, 26/2/2007

Vien AM.

Referensi :

– Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Alam oleh Prof.Achmad Baiquni, MSc.PhD.

Read Full Post »

Jebolnya situyang dibangun pada tahun 1933 oleh penjajah BelandaMaret 2009 lalu telah meninggalkan bekas luka dan duka yang begitu mendalam. Korban meninggal tak kurang dari 100 jiwa serta puluhan lain yang dikabarkan belum juga ditemukan hampir seminggu setelah kejadian menambahkesedihan.

Banyak hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa memilukan yang mungkin bisa dihindarkan bila saja pemerintah lebih seriusdalam mengawasi situ yang beberapa kali dilaporkan telah mengalami gangguan ini.

Berkaca dari beberapa dialogsebelum terjadinya peristiwa nahas. Suatu ketika anak saya yang bungsu, pernah bertanya : “ Mengapa ibu tidak meminta pengurus masjid untuk mengganti warna cat kubah masjid? “ . Pertanyaanini muncul sebagai reaksi ketika saya berkomentar bahwa warna kubah masjid yang dimaksud tidak bagus. Anak saya berkata demikian karena ia penah tahu bahwa kami ikut menyumbangpembangunan masjid tersebut.

Kali lain, saya menyaksikan kedua orang tua saya yang sedang berdebat ringan soal politik. Terlintas kata extrimis, fundamentalis dan yang sejenismya. Ibu terlihat khawatir mendengar kata-kata tersebut. Rupanya ayah sedang menerangkan keberadaan partai-partai Islam yang ingin mendirikan negara Islam.

Selintas tiba-tiba saya teringat seorang pemandu acara TV “ Kursi Panas” yang dengan nada khawatir mengajukan pertanyaan seputar kebijaksanaan hukum Islam sekiranya partai Islam memenangkan Pemilu.

Kembali ke peristiwa Situ Gintung. Saya mendapatinformasi bahwa korbansaat inilebih khawatir akan masa depan mereka daripada sekedar bantuan baju-baju bekas, selimut, makanan dan lain2. Walaupun tentu saja mereka tetap membutuhkan barang2 tersebut.Intinya mereka butuh tempat tinggal permanen untuk menggantikan tempat mereka yang sudah rata dengan tanah.

Dalam hal ini pemerintahlahyang harus turun tangan. Ketika saya bertanya kepada suami saya dari mana pemerintah mendapat uangnya. Dengan enteng suami saya menjawab: “ Ya dari hutanglah … dari mana lagi ?”

Saya termenung. Rentetan pertanyaan dan permasalahan diatas cukup mengganggu pikiran saya. Saya bukan seorang yang tertarik dengan dunia politik. Bukan juga simpatisan apagi kader sebuah partai tertentu. Saya hanya seorang warga negara biasa, seorang ibu, seorang hamba Allah yang alhamdulillah diberi hidayah untuk banyak mensyukuri nikmat dengan cukup rajin mempelajari dan memperdalam ajaran Islam.

Lama saya berpikir. Rasanya Islam mempunyai jawaban yang pas untuk menyelesaikan semua pertanyaan diatas. Betapa banyak ayat Al-Quran dan hadis yang mendorong agar umat berzakat dan bersedekah. Karena zakat dan sedekah mampu memperpendek jarak antara si miskin dan si kaya. Karena dengan berzakat dan bersedekah akan timbul rasa perduli dan saling menyayangi. Betapa banyak ayat dan hadis yang memerintahkan umat untuk tunduk dan setia kepada pemimpin. Shalat berjamaah adalah cermin ketundukan dan kekompakan umat dalam mengikuti imamnya. Berapa banyak pula ayat dan hadis yang menyuruh para pemimpinuntuk berlaku adil, jujur dan amanah.

Dan yang tak kalah penting Islam ternyata mengajarkanumatnya untuk tidak terlibat dengan hutang piutang dimana terdapat unsur yang tidak jelas. Pamrih dan balas jasa adalah contohnya. Apalagi hutang yang dikaitkan dengan pemikiran yang bertujuan dan berpotensi menjauhkan umat dari-Nya….Naudzu’billah min dzalik.

Dari sini saya kemudian dapat menjawab pertanyaan anak saya tentang warna cat kubah masjid yang kebetulan tidak cocok dengan selera saya,kekhawatiran ibudan sang pembawa acara tentang hukum Islam dan yang terpenting penyelesaian untuk para korban Situ Gintung.

Namun tentu saja ini baru sebatas teori. Bagaimana aplikasinya?Saya yakin, Allah swt menurunkan hujan lebat di pagi buta beberapa minggu sebelum hari pencoblosan ( atau hari pen’contreng’an ??)dengan hikmah tertentu. Allahswt ingin menuntun kita agar berpikir adakah partai yang benar-benar mau menegakkan syariat Islam? Pemimpin yang rela menjadikan Al-Quran dan hadis sebagai pegangan dan rujukan?

Ada kesalahan mendasar dalam memahami hukum Islam termasuk umat Islam sendiri. Hukum penggal kepala, potong tangan danrajamadalah hal yang selalu ditonjolkan dalam hukum ajaran ini. Padahal hukum ini diterapkan hanya ketika hukum yang lain telah berjalan dengan baik. Ketika para pemimpin tidak lagi korupsi, ketika para pemimpin mau membela dan memperjuangkan hak si miskin serta membela hak si kaya, ketika keadilan dan kemakmuran telah dapat dirasakan semua lapisan masyrakat. Itupun dengan pertimbangan yang tidak mudah. Karena tujuan hukum tersebut demi kebaikan semua pihak. Hukumini berlaku tidak saja bagi masyarakat kecil namun lebih lagi bagi penguasa.

Sebaliknya hal-hal positif yang jumlahnya amat banyak tidak dipikirkan. Sistim ekonomi syariah yang bertujuan tidak merugikansiapapun karena dasarnya adalah saling tolong menolong, pelarangan perzinahan dan mabuk-mabukan yang jelas-jelas penting bagi keamanan diri dan masyarakat, pemakaian jilbabyang bertujuan menaikkan martabat dan harga diri kaum perempuan hingga jauh dari pelecehan.

Zakat, Infak dan Sedekah yang dikelola pemerintah adalah bertujuan agar bantuan merata sampai ke semua lapisan tidak hanya berputar di satu tempat. Bantuan yang seperti ini jauh lebih effektif dibanding dengan bantuan yang sifatnya sendiri-sendiri dan relatif tidak berarti secara umum. Islam mengajarkan untuk memberi kail bukan ikannya, cangkul bukan hasil cangkulannya.

Dengan adanya dana ini pula pemerintah tidak perlu berhutang dan bergantung kepada pihak dan negara lain. Apalagi hutang yang menyebabkan pemerintah menjadi tidak mandiri dalam menentukankebijaksanaan.

Namun Islam juga mengingatkan bahwa tangan di atas adalah jauh terhormat daripada tangan di bawah. Hal inilah yang akan memotivasi generasi muda agar lebih gigih bekerja dan berkarya. Dengan adanya pendidikan yang seperti ini pula dapat dipastikan peminta-minta dan pengangguran di jalanan akan menjadi malu untuk mengemis dan meminta.

Yang juga sering dilupakan, hukum Islam ini tidak berlaku bagi umat non muslim. Bahkan mereka ini diizinkan memberlakukan sendiri hukum agamanya dengan catatan tidak merubah-rubah hukum tersebut sesuai keinginan dan nafsu mereka.

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan Imam Ahmad dan Muslim, disampaikanbahwa suatu ketika Rasulullah saw melewati sekelompok orang Yahudi yang sedang menghukum seseorang. Orang tersebut dihukum jemur dan dipukuli. Lalu Rasulullah memanggil mereka dan bertanya, ‘‘Apakah demikian hukuman terhadap orang yang berzina yang kalian dapat dalam kitab kalian?” Mereka menjawab ,”Ya.”

Rasulullah kemudian memanggil seorang ulama mereka dan bersabda, ”Aku bersumpah atas nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah demikian kamu dapati hukuman kepada orang yang berzina di dalam kitabmu?”

Ulama (Yahudi) itu menjawab, ”Tidak. Demi Allah jika engkau tidak bersumpah lebih dahulu niscaya tidak akan kuterangkan. Hukuman bagi orang yang berzina di dalam kitab kami adalah dirajam (dilempari batu sampai mati). Namun, karena banyak di antara pembesar-pembesar kami yang melakukan zina, maka kami biarkan, dan apabila seorang berzina kami tegakkan hukum sesuai dengan kitab. Kemudian kami berkumpul dan mengubah hukum tersebut dengan menetapkan hukum yang ringan dilaksanakan, bagi yang hina maupun pembesar yaitu menjemur dan memukulinya.’

Rasulullah lalu bersabda, ”Ya Allah, sesungguhnya aku yang pertama menghidupkan perintah-Mu setelah dihapuskan oleh mereka.” Selanjutnya Rasulullah menetapkan hukum rajam, dan dirajamlah Yahudi pezina itu.

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, April 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Jihad Psikis / Spiritual.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka”. (QS.Al-Hujuraat(49:15).

Kata Jihad sering kali diartikan sebagai perang bersenjata menghadapi musuh secara terbuka di medan perang. Padahal bila kita perhatikan ayat-ayat Al-Quran sebenarnya tidak selalu demikian. Jihad juga dapat diartikan membelanjakan dan mengorbankan harta di jalan Allah sebagai perang melawan keserakahan. Zakat dan infak adalah contoh dari jihad dengan harta. Disamping itu, Islam mengenal jihad melawan hawa nafsu. Berbagai hawa nafsu seperti nafsu syahwat, nafsu amarah, sombong, dengki dan iri hati, bermalas-malas, makan berlebihan dan juga nafsu untuk selalu melawan perintah Allah adalah beberapa contoh nafsu yang harus diperangi, harus dikendalikan. Inilah yang dimaksud dengan jihad spiritual atau jihad psikis. Pada intinya dalam jihad spiritual yang harus dilawan adalah bisikan syaitan karena memang dialah yang ingin agar Allah memurkai kita, agar kita menemaninya ke neraka kelak.

 

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS.Al-Ankabuut(29):45).

Dan hanya dengan berpegang kepada tali Allah sajalah kita akan mampu melawan bisikan tersebut, yaitu dengan jalan membaca dan memahami Al-Quran dan kemudian mengamalkannya, diantaranya yaitu dengan shalat yang dikerjakan dengan hati yang bersih.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya………”. (QS.Az-Zumar(39):23).

Berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dilakukan belakangan ini ternyata terbukti bahwa babi adalah binatang yang lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Berbagai penyakit dibawanya, diantaranya kolera babi dan keguguran nanah yang dapat menyebabkan gangguan pada persendian. Penelitian ilmiah modern di Cina dan Swedia menyatakan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan usus besar. Bahkan beberapa ilmuwan mengemukakan kecurigaan mereka bahwa ada kemungkinan daging babi adalah penyebab berbagai penyakit misterius seperti SARS/flue burung.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Al-Baqarah(2):173).

Dan bila kita amati cara kehidupan babi dibanding binatang lain sebenarnya sungguh buruk. Binatang ini suka memakan segala kotoran termasuk kotoran manusia dan kotorannya sendiri. Bahkan dalam keadaan tertekan iapun tega memakan daging anaknya sendiri! Binatang ini juga diketahui suka melakukan hubungan sesama jenis alias homosex/lesbian dan tidak seperti binatang lain yang cenderung “sangat pencemburu”, babi tidak merasa keberatan bila betinanya diganggu jantan lain. Selain itu lemak babi adalah lemak yang paling tinggi kolesterolnya dibanding lemak binatang lain demikian pula darahnya, uric acid atau asam uratnya paling tinggi. Patut diketahui, sejak zaman nabi Musa as babi telah diharamkan untuk dikosumsi. (Imamat 11: 7-8). Demikian pula dengan masalah khamar.

 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan ta`atlah kamu kepada Allah dan ta`atlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah”. (QS.Al-Maidah(5):90-92).

Pemakaian khamar (alkohol) dan berjudi disamping melalaikan manusia dari mengingat Allah sebetulnya juga memberikan kerugian yang banyak baik bagi sang pelaku maupun bagi orang disekitarnya. Itu sebabnya Allah SWT berfirman untuk menghindarinya agar kita beruntung. Dan Allah SWT juga mengingatkan kita agar supaya berhati-hati menghadapinya. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mendengar berbagai keributan dan juga kecelakaan kendaraan yang disebabkan oleh para pemabuk. Mereka adalah para peminum segala macam alkohol yang memabukkan, yang membuat mereka kehilangan keseimbangan dan akal sehat. Berbagai kejahatan mulai pertengkaran, perselisihan, perselingkuhan hingga pembunuhan diawali oleh pengaruh alkohol. Jadi sungguh dampak pemakaian zat ini sebenarnya sudah demikian parah dan merisaukan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Di sejumlah negara Barat yang notabene terbiasa mengkonsumsi alkohol, belakangan ini mulai mengawasi para pengendara kendaraannya dalam hal pemakaian alkohol.

 

Allah berfirman: “……… Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.(QS.Thaa-haa(20):123-124).

Allah SWT juga memperingatkan kita untuk selalu menggunakan hukum yang telah ditetapkannya. Syaitan akan senantiasa membisikkan manusia agar terus mengikuti kemauan hawa nafsunya, nafsu yang tidak didasarkan atas hukum Allah. Sesungguhnya syaitan telah masuk jauh kedalam hati orang-orang yang tidak menjadikan Al-Quran itu sebagai pegangan hidupnya. Mereka adalah sekutu iblis dari jenis syaitan manusia. Mereka ingin agar senantiasa menjadi pemimpin bagi orang-orang mukmin yang lemah. Berbagai cara akan digunakannya untuk menggiring orang-orang mukmin yang lemah ini agar dapat menemani mereka di neraka kelak. Inilah jihad yang amat sangat berat, jihad spiritual, kecuali bagi orang-orang mukmin yang berpegang kuat pada hukum-hukum Sang Maha Kuasa, Sang Maha Pencipta yang telah menjadikan manusia dan seluruh alam semesta.

 

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka……”.(QS.Al-Maidah(5):49-51).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Juni 2008.

Vien AM

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »