Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

”Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?” (QS.As-Sajdah(32):27)

Air sebagai sumber penting kehidupan pasti semua orang tahu dan meyakininya . Namun air sebagai sumber kekuatan raksasa mungkin sebagian orang kurang meyakininya. Kecuali mungkin bagi orang yang dengan mata kepala sendiri pernah menyaksikannya. Saya sendiri terus terang baru sekali ini benar-benar terperangah menyaksikan siaran televisi  baru-baru ini, bagaimana sebuah gedung bertingkat tinggi di Cina dengan begitu mudahnya terseret air sungai. Peristiwa nahas ini terjadi beberapa hari yang lalu ketika badai menghantam negri Tirai Bambu tersebut. Astaghfirullah…

Adalah Grotte de Betharam, sebuah gua raksasa di pegunungan Pyrene, Perancis Selatan. Gua ini terletak hanya beberapa km dari kota suci umat Nasrani, Lourdes. Menurut sebuah sumber, gua  ini adalah  gua terbesar di Eropa setelah gua Postojna ( sepanjang 21.5 km) di Slovenia, sebuah Negara bekas jajahan Rusia yang terletak di antara Asia Tengah dan Eropa Timur. Gua yang membentang sepanjang 12 km ini terdiri atas  5 lantai, dimana masing-masing lantainya  terbentuk pada masa yang berbeda. Seperti layaknya sebuah bangunan bertingkat buatan manusia, lantai-lantai gua tersebut ‘dikisahkan’ memiliki fungsi dan nama masing-masing oleh si pengelola gua. Ada ruang pertemuan, ruang lonceng, ruang kolom, ruang lilin dll.

grotte de betharam3Namun yang pasti,  kelima lantai tersebut memang dipenuhi oleh stalagmite dan  stalaktit dengan aneka bentuk, warna dan ukuran  yang dapat membuat orang yang melihatnya berimaginasi  sesuai bayangannya masing-masing. Seperti atap yang dipenuhi bermacam ukiran dan ornamen yang sangat mengesankan, tirai dengan rendanya yang mewah di setiap ruangnya, berbagai bentuk patung dengan pilar-pilar raksasanya. Bahkan didalamnya ada kolam yang dapat kita lalui dengan kapal. Sungguh sebuah temuan luar biasa. Dan hebatnya lagi  semua itu alami bukan buatan!

Perancis memang dikenal sebagai salah satu negara Eropa yang  memiliki banyak sekali gua alami. Dalam hal ini Indonesia juga mungkin tidak kalah. Namun bedanya, Perancis super serius menangani kekayaan alam  tersebut. Tanda-tanda kebesaran Allah itu di teliti, dirawat dan dijaga dengan sangat baik hingga akhirnya mampu mendatangkan devisa negara. Gua menjadi salah satu daya tarik wisata mancanegara yang tidak hanya bersifat hiburan namun juga pengetahuan bahkan hikmah yang sangat banyak bagi yang mau memikirkannya.

” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.(QS. Ali Imran (3):190-191)

Grottes de betharam1grotte de betharam2Gua diberi penerangan yang cukup, tanpa harus merusak apa yang ada didalamnya. Inilah salah satu penyebab mengapa para tamu dilarang memotret dengan menggunakan blitz. Bahkan untuk menarik wisatawan, sebagian pengelola ada yang memadukan antara cahaya dan musik. Disamping itu untuk memudahkan wisatawan dalam mengarungi gua bertemperatur sekitar 13 derajat celcius yang luas, berlekak lekuk serta naik turun, sebagian pengelola menyediakan  kereta api mini. Untuk memikat tamu, di gua Betharam, beberapa meter sebelum keluar gua, kereta api bahkan difungsikan layaknya mini roller coaster di Dufan. Dengan demikian para tamu dapat sedikit ’refreshing’ dengan berteriak kencang-kencang sambil memperhatikan pantulan suaranya. ketika kereta api turun mendadak sebelum akhirnya berhenti. Gua Postojna di Slovenia bahkan dikabarkan memiliki ruang pertunjukan musik dengan daya tampung 10.000 pengunjung! Dan yang tak kalah penting adalah adanya pemandu yang dibekali pengetahuan yang cukuptentang sejarah gua dan asal usulnya.

Gua Betharam tersembunyi didalam sebuah bukit. Dari luar orang sama sekali tidak akan mengira bahwa di dalam bukit tersebut terdapat ‘ bangunan’ raksasa yang amat indah. Gua ini ditemukan pada tahun 1880 namun baru dibuka untuk umum pada tahun 1903. Ribuan tahun yang lalu, gua ini awalnya adalah sebuah sungai di dalam tanah/bukit. Akibat pengikisan tanah oleh air sungai yang terjadi terus menerus maka terbentuklah lekak lekuk dan bebatuan sungai. Melalui proses yang sangat panjang akhirnya terbentuklah gua ini.

Pont d'Espagne(1), Pyrene

Pont d’Espagne(1), Pyrene

Sementara dengan bantuan karbon yang memenuhi ruang gua yang gelap karena terlindung dari sinar matahari, tetes air yang mengandung kapur  akhirnya membentuk stalakmit dan stalaktit yang mengandung kristal. Lama kelamaan stalakmit dan stalaktit  inipun membentuk  kolom-kolom dan pilar marmer raksasa berukir dengan bermacam bentuk dan warna yang sungguh memukau. Dengan kata lain, dapat dikatakan, airlah  si tokoh cerdas arsitek gua itu! Tentu saja atas izin-Nya.

“ Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai”.( QS. Ibrahim(14):32).

Selanjutnya adalah air terjun Pont D’Espagne, masih di pegununganPyrene. Air terjun yang  tidak jauh dari lokasi ski ketika musim salju tiba ini termasuk didalam kawasan Taman Nasional Pyrene dan termasuk bagian dari kota Cauterets yang hanya beberapa kilometer jauhnya dari Spanyol.  Air terjun ini terletak di ketinggian 1498 m di atas permukaan laut. Dari tempat ini dengan menggunakan cable car kita menyaksikan danau Gaube yang tampaknya merupakan sumber air terjun tersebut. Subhanallah…rasanya belum pernah saya menyaksikan sebuah kawasan yang mempunyai air terjun sebanyak di tempat ini.

Pont d'Espagne(3), Pyrene

Pont d’Espagne(3), Pyrene

Selama pendakian yang sama, di sungai yang sama, kami berkali-kali bertemu air terjun.Ada yang besar ada yang kecil. Semuanya mempesona. Sungai berkelak kelok menembus hutan nan rindang, membelah bebatuan yang merintanginya, bercabang membentuk beberapa aliran sungai dan kemudian terjun bebas ketika harus melampaui tebing. Setelah air jatuh ke atas bebatuan atau danau, air ada yang kembali bersatu, ada yang kembali membelah bebatuan dan ada yang bercabang demi menghindari batu-batu keras hingga terbentuklah aliran baru. Demikian seterusnya hingga air akhirnya sampai ke dataran rendah.

Pont d'Espagne(2), Pyrene

Pont d’Espagne(2), Pyrene

” Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan ”.( QS. Al-Baqarah (2): 74).

Begitulah Allah swt melalui ayat-ayat-Nya memberikan batu sebagai perumpamaan berbagai jenis hati manusia. Manusia takwa perumpamaannya adalah seperti batu yang dapat dibelah oleh air hingga keluar darinya mata air yang sejuk dan indah dipandang mata. Manusia seperti ini hatinya baik dan lembut. Ia mudah mengerti dan mensyukuri nikmat-Nya. Ia mudah merasakan penderitaan orang lain dan selalu ingin meringankan beban orang yang menderita. Semua itu dilakukannya semata karena rasa takut yang sangat akan Tuhannya. Sementara orang yang keras kepala perumpamaannya seperti batu yang amat sangat keras. Ia sulit menerima kebenaran dan cenderung selalu ingin  membantah walaupun tahu ia salah. Astaghfirullah….

Pont d'Espagne(4), Pyrene

Pont d’Espagne(4), Pyrene

Kami terus berjalan mendaki sambil berdecak penuh kekaguman, memuji kebesaran-Nya. Hingga akhirnya kami tiba di puncaknya dan menemukan sumber mata airnya. Air itu memancar deras dari balik tumpukan bebatuan raksasa yang bertengger di puncak gunung dengan gagah perkasa!  Subhanalah..Allahu akbar..sungguh betapa cantiknya ciptaan-Mu Ya Allah …

” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya”.(QS.Ar-Ruum(30):24)

Tidak cukup berhenti disitu saja. Berkat sulfur panas yang dikandung airnya, sejak 200 tahun yang lalu kawasan ini telah dikenal sebagai tempat yang memiliki  spa air panas alam yang berfungsi sebagai tempat perawatan bagi penderita gangguan pernafasan dan rematik. Para bourgeois; bangsawan dan orang-orang terkenal Perancis, seperti Victor Hugo dll tercatat  sebagai tamu yang sering mengunjungi tempat ini sebagai tempat peristirahatan istimewa.

Ladang kambing Gourette, Pyrene

Ladang kambing Gourette, Pyrene

Tiba-tiba saya teringat ketika minggu lalu kami mendaki sebuah gunung di Gouerret, Pyrene. Tujuan kami ketika itu adalah ingin melihat danau yang ada di puncak namun karena sudah terlalu sore, danau tertutup kabut. Terpaksa kami membatalkan rencana tersebut.  Dalam perjalanan kembali itulah kami melalui ladang dimana sejumlah sapi dan kambing digembalakan. Terbayang bagaimana dahulu sebagian nabi termasuk nabi Muhammad saw mengembalakan kambing. Suasana yang tenang di ladang perbukitan yang sejuk, berbaring memandang langit sambil menjaga ternak yang sedang merumput  memang sangat memungkinkan seseorang berpikir akan penciptaan alam semesta.

Setelah puas menikmati keindahan air terjun dan sekitarnya kamipun kembali turun ke kota dan pulang ke rumah dengan penuh kenangan. Malam itu sayapun tertidur pulas dengan mimpi indah diiringi alunan suara percikan air sungai yang lembut di telinga. Tak terbayangkan bagaimanakah indahnya surga-Mu bila sungai–sungai di dunia saja sudah mampu membikin seseorang mabuk kepayang….Ya Allah, jadikanlah aku dan keluargaku golongan hamba-Mu yang kelak masuk ke dalam surga-Mu, amin.

”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya”. (QS. Al-Ankabuut(29):58-59).

Seolah tak ingin kehilangan kenangan manis tersebut, beberapa hari kemudian saya kembali mengajak anak-anak menikmati sungai yang mengalir tak jauh dari apartemen dimana kami tinggal. Itulah Gave de Pau. Gave yang berarti anak sungai ini ternyata di musim panas cukup ramai dikunjungi orang yang ingin berolah raga Rafting.

Walallahu’alam bishawab.

Semoga Bermanfaat.

Pau, 10 Agustus 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Manusia adalah mahluk yang paling pandai diantara semua mahluk yang pernah ada di bumi ini. Dengan akalnya ia berusaha agar kehidupannya menjadi aman, tenang, mudah dan menyenangkan. Berbeda dengan mahluk lain yang cenderung hanya mengandalkan apa yang ada  dan tersedia di muka bumi ini tanpa harus mengolahnya terlebih dahulu, maka manusia justru sebaliknya. Ia selalu ingin dan berusaha agar apa yang ada diolahnya sehingga dapat memberikan hasil yang lebih optimal dan lebih berkwalitas. Dengan ambisinya ini manusia selalu ingin maju dan tidak pernah merasa puas atas segala apa yang telah diperolehnya. Dan dengan ambisinya ini pulalah manusia berhasil memanfaatkan kekuatan alam. Disamping itu, manusia juga mempunyai rasa keingin-tahuan yang sangat tinggi. Dengan menggunakan akalnya ia cenderung gemar memikirkan keadaan diri dan keadaan sekitarnya. Mengapa ia ada dan hidup di dunia ini, mengapa  manusia harus mati, kemana dan bagaimana  pula setelah terjadinya kematian, akankah semuanya berakhir begitu saja. Bila demikian apakah apa yang telah diusahakannya selama ia hidup menjadi sia-sia dan tidak memberikan manfaat? Bagaimana pula dengan kehidupan mahluk lain dan juga alam semesta ini, apakah ia terjadi dengan sendirinya ataukah ada kekuasaan yang menciptakan semua ini?

 Selain itu, manusia juga sering bertanya-tanya mengapa tidak semua yang diusahakannya dapat memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkannya. Berdasarkan pengalamannya, ia menyadari bahwa akal dan kepandaian bukanlah segalanya. Emosi atau keadaan hati juga dapat memberikan  pengaruh yang tidak sedikit bagi berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan atau usaha. Meskipun begitu ia tetap  dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak dapat diterima hanya melalui akal saja walaupun emosi seseorang sedang dalam keadaan prima. Ia dapat merasakan ada ‘kekuatan lain’ yang berkuasa atas dirinya yang tidak sanggup dan tidak mungkin dilawannya.

 Dari sinilah kemudian tampak bahwa sesungguhnya disamping akal, manusia juga mempunyai hati /qolbu. Dan hanya dengan qolbunya inilah ia dapat melihat ‘kekuatan lain’ tersebut. Itulah mata hati. Sebagaimana akal yang dapat diasah dan dipertajam, demikian pula hati . Jadi untuk membentuk manusia yang berkualitas, tidaklah cukup dengan hanya mengandalkan intelektual semata tetapi juga harus didukung oleh suatu kecerdasan emosi.

Dari Abu Bakar RA, Rasulullah bersabda :  “Janganlah seseorang diantara kalian menentukan suatu hukum pada kedua pihak yang sedang berselisih dalam keadaan marah”.  Dari Abu Darda RA : “Kecintaanmu terhadap sesuatu dapat menyebabkan kamu buta dan tuli”.

Namun kecerdasan emosi tersebut harus pula didasari oleh kesadaran akan kebenaran sejati yang didorong oleh kekuatan dan  kesadaran untuk merasakan, mendengar dan melihat ‘kekuatan lain’ yang tersembunyi, kekuatan  yang paling berhak menentukan berhasil tidaknya usaha seseorang. Faktor inilah yang disebut SQ (Spiritual Qotien) atau kecerdasan spiritual. Dengan adanya keseimbangan antara ketiga faktor diatas inilah  akan terbentuk suatu pribadi yang tegar, pribadi yang memiliki pandangan yang tidak sempit yang tidak hanya tertuju kepada kepuasan duniawi namun juga memiliki dimensi keakhiratan yang penuh ketakwaan, yang pandai bersyukur dan sabar menghadapi segala tantangan. Sikap inilah  yang nantinya akan melahirkan sikap pantang berputus asa. 

Berdasarkan hasil survey di AS pada tahun 1918 tentang IQ(Intellectual Qotien), ternyata ditemukan semakin tinggi IQ seseorang  semakin  menurun kecerdasan emosi atau  EQ  (Emotional Qotien). Beberapa puluh tahun terakhir ini, banyak ditemukan kasus depresi di kalangan yang notabene berpendidikan tinggi yang semakin tahun semakin memarah hingga mengakibatkan kasus bunuh diri. Mereka pada umumnya adalah orang-orang yang memiliki IQ relatif tinggi namun memiliki masalah sosial, diantaranya tersumbatnya komunikasi baik dilingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Mereka ini rupanya hanya disibukkan terhadap pengasahan terhadap IQ melulu hingga melupakan pentingnya peran EQ sehingga tidak sanggup menata emosi dan mengatasinya.

Ironisnya, orang-orang seperti ini tidak hanya membahayakan dirinya sendiri namun juga membahayakan diri banyak orang, seperti peristiwa yang baru saja terjadi pada bulan April 2007 di Amerika Serikat dimana seorang mahasiswa menembaki puluhan rekan mahasiswa dan dosen universitas dimana ia kuliah sebelum akhirnya ia menembak dirinya sendiri.Tidak dapat dipungkiri, setinggi apapun pendidikan  seseorang, kemungkinan suatu kegagalan selalu ada. Terdapat suatu faktor ‘x’ atau ‘luck’ yang tidak dapat diikuti oleh akal manusia. Disinilah berperan faktor spiritual. Hanya faktor inilah sebenarnya yang dapat mengatasi kekecewaan seseorang. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju seperti AS, Jepang dan Eropa Barat tetapi juga di negara-negara berkembang. 

Namun sebaliknya kenyataan lainpun berbicara bahwa ternyata kasus depresi ini lebih disebabkan akibat tidak matangnya kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. Hal ini tercermin dari bervariasinya korban depresi, mulai dari kalangan bawah sampai kalangan tinggi, mulai dari yang memiliki IQ rendah sampai yang memiliki IQ tinggi, dari yang tidak memiliki pendidikan hingga yang berpendidikan tinggi. Dari sini tampak nyata bahwa  ketidak-seimbangan antara IQ, EQ dan SQ dapat berakibat fatal.

          “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman”. (QS Az Zumar(39):52).

Tokoh Pendidik Barat sekaligus Ilmuwan dan pengarang buku kenamaan, Danah Zahar maupun Ian Marshall misalnya yang memiliki minat yang tinggi terhadap masalah SQ, dalam karya ilmiahnya menyatakan adanya ‘God Spot’ atau apa yang biasa disebut suara hati atau mata hati pada otak manusia. Berdasarkan penelitian mereka ‘God Spot’ ini terletak diantara jaringan syaraf otak yang berfungsi sebagai pusat spiritual manusia. Pada ‘God Spot’ inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam. Namun sayangnya temuan mereka ini baru sebatas pada apa yang nyata ada pada otak manusia. Sesuatu yang menunjukkan akan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang berfungsi menyimpan dan mempersatukan segala pengalaman hidup manusia dan sekaligus memberinya makna. Tetapi belum sampai pada tingkat ke-Ilahian. Jalaludin Rumi seorang tokoh  sufi besar Islam, mengatakan : ”Matahati punya kemampuan 70x lebih besar untuk melihat daripada dua indra penglihatan.”

Saat ini, dimana isu ‘Global Warming’ atau Pemanasan Global telah menjadi topik pembicaraan yang  hangat, maka tampaknya sudah tiba saat yang tidak mungkin lagi dipungkiri bahwa dunia dan segala isinya harus menyerah pada ‘kekuatan ghaib’.  Bahkan dengan ilmu yang demikian canggih, penemuan demi penemuan terus berlanjut,  kekuatan  nuklir yang terus dikembangkan namun dalam kenyataannya tidak seorangpun saat ini dapat mengantisipasi apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Tampaknya bumi sedang menuju kehancurannya. Perubahan musim yang tidak beraturan, peningkatan  suhu udara dan berbagai perkiraan menakutkan seperti mencairnya gugusan salju di berbagai belahan  dunia, merupakan petunjuk akan hal tersebut. Bencana demi bencana yang terus bersusulan seolah enggan untuk berhenti menyapa. Maka siapakah sesungguhnya Sang “Kekuatan Ghaib “ tersebut ?

 “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran,penglihatan dan hati.Amat sedikitlah kamu bersyukur.Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang-biakkan kamu di bumi ini dan kepadaNyalah kamu akan dihimpun.Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan Dialah yang(mengatur) pertukaran malam dan siang.Maka apakah kamu tidak memahaminya?”.(QS Al Mu’minun (23) :78-80)

Manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, suatu zat yang mustahil sama dengan ciptaannya. Pada umumnya semua manusia menyadari bahwa ia hidup di dunia ini pada suatu waktu yang amat terbatas. Pada saatnya nanti setiap diri akan kembali dan harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dikerjakannya selama hidup di dunia. Ketika manusia menyadari akan kenyataan ini, ia akan lebih tenang sekaligus waspada karena ia mengetahui dengan pasti apa tujuan hidupnya. Ia akan mempersiapkan dirinya dengan mencari bekal di dunia berdasarkan tuntunan-Nya dengan mengharap ridho Allah SWT.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.  (QS.Al-Qashas(28:77).    

“ Apabila telah ditunaikan sembahyang,maka bertebaranlah kamu dimuka bumi;dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Al Jumu’ah 62):10).

Dengan demikian, manusia yang menyadari akan hakekat hidupnya sebagai makhluk Allah, cara berpikirnya tidaklah hanya  semata mengejar kebahagiaan dunia, kepuasan material, kepuasan yang hanya sesaat. Dengan bimbingan hati nurani atau ‘God Spot’ manusia akan berhasil menjadi seorang khalifah sesuai dengan fitrahnya. Karena sesungguhnya dengan meningkatnya kecerdasan spiritual maka kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektualnyapun akan makin meningkat. Karena Al-Quran memang mengajarkan keseimbangan  diantara ketiga kecerdasan tersebut.

“Bacalah dengan (menyebut)nama Tuhanmu Yang menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,Yang mengajar(manusia) dengan perantaraan kalam.Dia mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(QS Al ‘Alaq(96):1-5) .  

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….”.(QS.Al-Mujadillah(58):11).

 Wallahu’alam bishawab.

 Jakarta, 15/4/2007

Vien AM

Dari :  Prolog “Perjalanan Sang Khalifah 1 ” oleh Sylvia Nurhadi.

Referensi :

– Kecerdasan Emosi dan Spiritual oleh Ary Ginanjar Agustian.

– Jiwa Manusia dalam sorotan Al-Quran  oleh  DR.Muhammad ‘Utsman Najati.

Read Full Post »

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS.An-Nisaa(4):3).

Ayat inilah yang sering dijadikan pegangan bagi orang-orang yang menerapkan poligami. Padahal ayat ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang bila diperhatikan lebih seksama akan memberikan pengertian lain. Bunyi ayat tersebut adalah sebagai berikut :

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”.(QS.An-Nisaa(4):2).

Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud serta At-Turmuzy meriwayatkan bahwa Urwah ibn Zubair bertanya kepada Aisyah ra mengenai ayat tersebut diatas. Aisyah menjawab bahwa ayat tersebut berkaitan dengan anak yatim yang berada dalam pengawasan seorang wali, dimana hartanya bergabung dengan sang wali. Kemudian karena tertarik akan kecantikan dan terutama karena hartanya, sang wali bermaksud mengawininya dengan tujuan agar ia dapat menguasai hartanya. Ia juga bermaksud tidak memberikan mahar yang sesuai. Aisyah kemudian melanjutkan penjelasannya bahwa setelah itu beberapa sahabat bertanya kepada rasulullah saw mengenai perempuan. Maka turunlah ayat 127 surat An-Nisaa sebagai berikut :

“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Qur’an (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya”.

Pada waktu ayat ini diturunkan, dalam tradisi Arab Jahiliah, para wali anak yatim sering mengawini anak asuhnya disebabkan tertarik akan harta dan kecantikannya, namun bila si anak yatim tidak cantik ia menghalangi lelaki lain mengawini mereka karena khawatir harta mereka terlepas dari tangan para wali. Karena itulah Allah berfirman “jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya)”,( kamu dalam ayat ini maksudnya ditujukan kepada para wali anak yatim),” maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat….”

Begitulah penjelasan Aisyah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ayat 3 tersebut diatas bukanlah anjuran untuk berpoligami. Pada kenyataannya poligami telah dikenal dan dipraktekan berbagai lapisan masyarakat di berbagai penjuru dunia, baik dunia Barat maupun Timur, sejak dahulu kala dengan jumlah yang tak terbatas pula. Bahkan sebagian para nabi sebelum rasulullahpun seperti Ibrahim as, Musa as dan Daud as juga berpoligami.

Jadi bukan agama Islam yang mengajarkan hal tersebut.. Islam memang membolehkan namun hanya sebagai jalan keluar bagi yang memerlukannya, tergantung situasi dan kondisi, apakah lebih banyak manfaat atau mudharatnya. Itupun dengan syarat yang tidak mudah dan membatasinya tidak lebih dari 4.  Seorang suami sekaligus ayah dalam Islam wajib bertanggung jawab terhadap perbuatan dan kebutuhan semua istri dan anak yang dimilikinya, secara adil.

Namun, bila ditelaah lebih lanjut, ”jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja,… . Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”, menunjukkan bahwa dengan tidak berpoligami adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Karena dengan begitu, seorang suami tidak perlu merasa ada kekhawatiran berbuat tidak adil terhadap istri maupun anaknya.

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.An-Nisaa(4):129).

Dengan demikian jelas Poligami bukanlah sunah apalagi wajib. Namun bila alasannya ingin meneladani rasulullah, perlu diingat bahwa beliau lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Pada saat poligami adalah suatu hal yang lumrah di tanah Arab, dimana kebanyakan laki-laki beristri hingga lebih dari 10, rasulullah lebih memilih untuk bermonogami bersama istri tercinta, Siti Khadijjah ra, selama lebih kurang 25 tahun, hingga akhir hayat sang istri.

Padahal usia rasulullah saat menikah baru 25 tahun, usia dimana dorongan syahwat seorang laki-laki sedang tinggi-tingginya, sementara Siti Khadijjah sendiri telah berusia 40 tahun. Dan kalaupun rasulullah memang menghendakinya, beliau dapat dengan mudah menikah lagi dengan banyak perempuan tanpa melanggar adat dan tradisi yang berlaku pada masa itu. Kemudian kurang-lebih 2 tahun setelah wafatnya Siti Khadijjah, rasulullah menikah lagi, yaitu pada periode Madinah, periode yang penuh peperangan.

Jadi sungguh mustahil bila ada yang berpendapat bahwa rasulullah berpoligami demi mengejar kesenangan duniawi belaka. Perlu diingat, bahwa semua perempuan yang menjadi istri rasulullah adalah janda, kecuali Aisyah ra, dan kesemuanya adalah untuk tujuan menyukseskan dakwah dan membantu menyelamatkan dan mengangkat derajat perempuan-perempuan yang kehilangan suami. Dan sebagian bukanlah perempuan-perempuan yang dikenal memiliki daya tarik yang memikat.

Berikut istri-istri rasulullah dan latar belakang mengapa rasulullah mengawininya.

1.Siti Khadijjah binti Khuwailid ra. Ia adalah seorang saudagar perempuan kaya-raya yang dikenal berahlak mulia dan terhormat. Ia mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang jujur dan berahlak mulia, oleh sebab itu ia mempercayakan perniagaannya dibawa oleh pemuda tersebut. Nabi saw menerima wahyu pertama 15 tahun setelah perkawinannya dengan Khadujjah ra. Dialah orang pertama yang membenarkan, mendukung dan mempertaruhkan seluruh kekayaannya demi kelancaran dakwah Islam. Ia terus mendampingi rasulullah sebagai satu-satunya istri hingga wafatnya pada usia 65 tahun.

2. Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Ia satu-satunya istri rasulullah yang ketika dinikahi masih gadis. Abu Bakarlah yang membujuk rasulullah agar mau mengawini putrinya tersebut, karena ia tidak tega melihat rasulullah terus bersedih hati ditinggal wafat Siti Khadijjah.

3. Siti Saudah binti Zam’ah ra. Ia seorang janda berumur yang ditinggal wafat suaminya ketika mereka hijrah ke Habasyah(Ethiopia) guna menghindari serangan kaum musyrik. Ia terpaksa kembali ke Mekah sambil menanggung beban kehidupan anak-anaknya dengan resiko dipaksa murtad oleh kaumnya. Rasulullah menikahinya dalam keadaan demikian.

4. Hind binti Abi Umayyah atau Ummu Salamah ra. Juga seorang janda berumur. Suaminya luka parah dalam perang Uhud kemudian gugur tak lama kemudian. Rasulullah menikahinya sebagai penghormatan atas jasa suaminya dan demi menanggung anak-anaknya.

5. Ramlah binti Abu Sufyan ra atau Ummu Habibah. Ia meninggalkan orang-tuanya dan berhijrah ke Habasyah bersama suaminya. Namun sampai ditujuan, sang suami murtad dan menceraikannya. Untuk menghiburnya, rasulullah menikahinya sekaligus dengan harapan dapat menjalin hubungan dengan ayahnya yang waktu itu salah satu tokoh utama kaum musyrik Mekah.

6. Juwairiyah binti Al-Harits ra. Ia seorang putri kepala suku yang tertawan dalam salah satu peperangan. Keluarganya datang untuk memohon kebebasannya. Namun dalam pertemuan tersebut ternyata mereka tertarik kepada Islam dan kemudian memeluknya, demikian juga Juwairiyah. Sebagai penghormatan rasulullah menikahinya sambil berharap seluruh anggota sukunya memeluk Islam. Ternyata harapan tersebut terlaksana.

7. Hafsah binti Umar Ibnul Khatab ra. Ayahnya sangat bersedih hati ketika suami Hafsah wafat. Ia ‘menawarkan’ agar Abu Bakar mau menikahinya, namun tidak ada jawaban. Demikian juga ketika Umar kembali ‘menawarkan’ kepada Usman bin Affan. Ketika kemudian ia mengadukan kesedihan ini kepada rasulullah, beliau menghiburnya dengan menikahi putrinya itu sekaligus sebagai penghargaan beliau atas sang ayah.

8.Shaffiyah binti Huyaiy ra. Ia seorang perempuan Yahudi yang tertawan dalam perang dan dijadikan hamba sahaya oleh salah seorang pasukan muslimin yang menawannya. Kemudan ia memohon kepada rasulullah agar dimerdekakan. Rasulullah mengajukan 2 pilihan ; dimerdekakan dan dipulangkan kepada keluarganya atau dimerdekakan dan tetap tinggal bersama kaum muslimin. Ternyata ia memilih tinggal dan malah memeluk Islam.  Sebagai penghargaan rasulullah menikahinya.

9. Zainab binti jahsyi ra. Ia sepupu rasulullah dan beliau menikahkannya dengan Zaid ibn Haritsah, bekas anak angkat dan budak beliau. Rumah tangga mereka tidak bahagia sehingga mereka bercerai dan sebagai penanggung jawab perkawinan yang gagal tersebut , rasulullah menikahinya atas perintah Allah.(lihat QS Al-Ahzab (33):37). Ayat ini sekaligus merupakan perintah Allah swt untuk membatalkan adat Arab Jahiliyah yang menganggap anak angkat sebagai anak kandung sehingga tidak boleh mengawini bekas istri mereka.

10. Zainab binti Khuzaimah  ra. Ia seorang janda, suaminya gugur dalam perang Uhud dan tidak seorangpun dari kaum muslimin setelah itu mau menikahinya. Kemudian rasulullah menikahinya.

11. Maryah Al-Qibthiyyah ra. Ia seorang hamba sahaya, hadiah dari penguasa Mesir, Muqauqis. Setelah dimerdekakan dan masuk Islam, rasulullah menikahinya. Ia adalah satu-satunya istri rasulullah diluar Khadijjah yang dikarunia anak walaupun kemudian meninggal ketika masih bayi.

(Lihat QS.Al-Ahzab(33):50 mengenai kekhususan rasulullah dalam masalah perkawinan.)

Namun demikian sebagai Sang Pencipta, Allah swt paham betul, bahwa sebagian mahlukNya, terutama laki-laki, memiliki dorongan syahwat yang begitu tinggi. Hal ini terbukti dengan banyaknya penyelewengan dan perzinahan yang terjadi walau hampir semua agama besar melaknatnya. Bahkan Islam mengancamnya dengan 100 hukuman cambuk yang harus disaksikan. Dan sesungguhnya pihak perempuanlah yang mula-mula menjadi korban. Dialah yang harus menanggung akibatnya. Akan terlahir banyak anak tanpa ayah yang bertanggung-jawab. Lalu siapa yang harus bertanggung-jawab mendidik dan membesarkan anak-anak tersebut? Hal penting lain yang perlu diingat, bukankah ada hadis yang mengatakan bahwa di akhir zaman nanti jumlah perempuan akan lebih banyak dari lelaki? Bila Al-Quran melarang poligami secara mutlak, dapatkah kita bayangkan bagaimana nasib anak-cucu perempuan kita nanti? Akankah mereka itu selamanya tidak akan menikah? Bila demikian lalu siapa yang akan mengayomi mereka?? Bukankah Al-Quran adalah sebuah kitab yang berlaku sepanjang zaman? Pasti ada hikmah dibalik semua peraturanNya. Wallahu’alam bishawab.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Jakarta, 18 /12/2006 . Vien  AM. Sumber: – Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir oleh M. Nasib Ar-Rifa’i. – Tafsir Al-Misbah oleh M.Quraish Shihab. – Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw oleh HMH Al Hamid Al Husaini.

Read Full Post »

Ibnul Jauzy menulis bahwa kematian itu lebih pedih daripada sabetan pedang. Orang yang disabet pedang tentu akan berteriak dan melolong mengemis pertolongan dengan sisa-sisa tenaganya. Tetapi orang yang meninggal dunia tidak bisa berteriak lagi karena pedihnya rasa sakit yang dialaminya. Penderitaannya mencapai puncak sehingga hati dan seluruh anggota tubuhnya menjadi lemas. Ruhnya dicabut dari setiap nadi dan setiap anggota tubuhnya secara perlahan-lahan. Pada awal mula dua telapak kakinya terasa dingin, betis, paha lalu terus hingga ke kerongkongan.

“…..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):”Keluarkanlah nyawamu” ………..” (QS.Al-An’aam(6):93).

Pada saat itu pandangan matanya kepada dunia dan keluarga terputus dan pintu taubat sudah ditutup baginya. Rasulullah bersabda: ” Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selagi dia belum sekarat”. (HR Tirmidzy).

Berikut kisah Nabi Idris as. Beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan shalat sampai puluhan raka’at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris as yang sedemikian banyak tersebut naik ke langit setiap malam. Hal ini sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail.

Maka bermohonlah ia kepada Allah SWT agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris as di dunia. Allah SWT, mengabulkan permohonan tersebut. Maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.

“Assalamu’alaikum, yaa Nabi Allah“, sapa Malaikat Izrail.
“Wa’alaikum salam wa rahmatullah“, jawab Nabi Idris a.s.

Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail. Seperti tamu yang lain, Nabi Idris as memperlakukan Malaikat Izrail dengan penuh hormat. Dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris as mengajaknya makan bersama, namun di tolak. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris as mengkhususkan waktunya “menghadap” Allah sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

Singkat cerita, keesokan harinya setelah melewati beberapa perbincangan kecil, akhirnya Nabi Idris penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu.

” Siapakah engkau sebenarnya?“, tanya Nabi Idris a.s.
“Aku Malaikat Izrail”, jawab Malaikat Izrail.
Nabi Idris as terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

“Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku?”, selidik Nabi Idris as serius.
“Tidak“, senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
“Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu”, jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.
“Aku punya keinginan kepadamu“, tutur Nabi Idris as.
“Apa itu? Katakanlah !”, jawab Malaikat Izrail.
“Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Allah SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku“, pinta Nabi Idris as.
“Tanpa seizin Allah, aku tak kuasa melakukannya“, tolak Malaikat Izrail.

Pada saat itu pula Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris as. Maka dengan izin Allah, Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris as. Sesudah itu beliaupun wafat. Tak lama kemudian sesuai janji-Nya, Allah SWT segera menghidupkan kembali Nabi Idris as.

“Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku?”, tanya Malaikat Izrail.
“Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti”, jawab Nabi Idris as.
“Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu”, jelas Malaikat Izrail. Subhaanallah.

Bagaimana pula kita ini, yang jauh dari cara ibadah beliau? Hakikat mati adalah terpisahnya antara jasad dan ruh. Dikatakan orang yang mati akan melihat apa yang tidak dilihatnya selagi masih hidup sebagaimana orang yang terbangun dari tidur yang melihat apa yang tidak bisa dilihatnya saat tidur. Manusia layaknya sedang tidur dan jika mereka mati barulah mereka sadar.

Al-Ghazali berkata : “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki”.(QS.Ali Imraan(3):169).

Ketika seseorang mati, jasadnya akan dikuburkan sebagaimana diperlihatkan kepada Qabil, putra Adam as, bagaimana burung gagak menguburkan bangkai. Kemudian jasad itu sendiri akan hancur dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sedangkan ruh tetap kekal. Ia dapat merasakan siksa maupun nikmat, sebagaimana manusia hidup dapat merasakan berbagai kesenangan dan kegembiraan tanpa tergantung kepada anggota tubuh karena sesungguhnya hatilah yang merasakan segala perasaan tersebut.

Perumpamaannya seperti seorang yang bermimpi, baik mimpi buruk maupun mimpi menyenangkan. Dalam mimpi jasmani seseorang tidak terpengaruh oleh mimpinya, ia tetap berada ditempatnya semula. Namun tidak mustahil jika ruh itu dikembalikan lagi ke jasad saat berada di kubur dan juga tidak mustahil andaikan hal itu ditunda hingga hari berbangkit. Wallahua’lam.

Dari Abdullah Ash-Shan’any, dalam mimpi ia bertemu dan berkata-kata dengan Yazid bin Harun.Yazid berkata : “ Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia. Malaikat Munkar dan Nakir telah mendudukkan aku dan bertanya kepadaku, “ Siapakah Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?”. Kemudian ketika jawaban Yazid memuaskan kedua malaikat maka merekapun berkata: ” Tidurlah seperti tidurnya pengantin dan tidak ada yang mengagetkanmu setelah ini”.

Rasulullah bersabda : “Kubur itu salah satu dari taman-taman surga atau salah satu dari lubang-lubang neraka”.(HR Bukhary-Muslim).

Dari Abu Sa’id, Rasululah juga pernah bersabda : “Andaikan kalian banyak mengingat perusak kelezatan-kelezatan, tentu kalian akan sibuk mempersiapkan apa yang pernah kulihat. Maka perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan yaitu kematian. Tidaklah seorang hamba mendatangi kubur melainkan kubur itu berkata : “ Aku adalah rumah yang asing, aku adalah rumah yang sendirian, aku adalah rumah dari tanah, aku adalah rumah yang penuh ulat”.

Jika seorang hamba mukmin dikubur, maka kubur berkata, “ Selamat datang. Engkau adalah orang yang paling kucintai dari orang-orang yang mendatangiku. Jika pada hari ini engkau dibawa kesini, maka engkau akan melihat apa yang kuperbuatkepadamu”. Maka dia bisa bebas mengedarkan pandangannya dan dibukakan pintu-pintu menuju surga. Jika hamba yang buruk atau kafir dikubur, maka kubur berkata kepadanya, “Tiada kuucapkan selamat datang kepadamu, karena engkau adalah orang yang paling kubenci diantara orang yang berjalan mendatangiku. Jika hari ini engkau datang kepadaku, maka engkau akan melihat apa yang kulakukan terhadapmu”. Maka ia dibaringkan dan tulang-tulang iganya berserakan”. (HR Tirmidzy).

Wallahu’alam bishawab.
Jakarta, Mei 2009
Vien AM.

Read Full Post »

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.Ali Imraan (3):190-191)

Kata mukjizat lazimnya diartikan sebagai suatu keajaiban ataupun kejadian luar biasa yang sangat sulit diterima oleh akal sehat dalam keadaan normal. Dalam pengertian agama mukjizat biasa diberikan Allah SWT kepada para nabi dan rasul sebagai bukti suatu ke-Rasulan agar ia dapat diterima masyarakatnya. Namun mukjizat yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW agak berbeda. Mukjizat terbesar nabi penutup ini justru terletak pada kitab suci Al-Quran itu sendiri.

Bila mukjizat para pendahulu biasanya dapat langsung dirasakan pada saat itu juga, tidak demikian dengan Al-Quran. Keajaiban Al-Quran justru terasa semakin lama semakin mengagumkan, mencengangkan sekaligus menggetarkan, sesuai dengan makin berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Oleh sebab itulah umat Islam dituntut dari waktu ke waktu untuk belajar dan terus belajar, mempelajari dan memperhatikan segala apa yang telah diciptakan-Nya.

“………Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat……..”. (QS.Al-Mujadillah(58:11).

Begitu berlimpahnya ayat-ayat berserakan di alam semesta ini bila manusia mau memperhatikan dan mempelajarinya. Hal ini tak lain agar manusia dapat mengenal Sang Pencipta, Allah Azza wa jalla. Berbeda dengan manusia yang cenderung ‘pelit’ baik dalam hal harta maupun ilmunya, Allah SWT berkehendak agar manusia dapat ikut memahami  dan mempelajari sebagian kecil dari ilmu-Nya, bagaimana caranya Ia  menciptakan alam semesta, bagaimana Ia menghamparkan bumi dan isinya, bagaimana Ia menciptakan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, mengapa pula bisa terjadi berbagai  kejadian alam seperti hujan, angin, petir, badai dan sebagainya. Allah SWT sengaja memperlihatkan proses tersebut tahapan demi tahapan selain untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya juga agar mempermudah manusia mempelajarinya dan agar manusia mau mensyukurinya.

“ Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”(QS.Al-Jatsiyah(45):13).

Padahal bila Ia berkehendak cukup hanya mengatakan “KUN FAYAKUN” maka terjadilah semuanya.

“……Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.”(QS.Ali Imraan(3:47).

Maka bila demikian halnya tak satupun manusia akan mempunyai kesempatan untuk mengetahui sedikitpun rahasia-Nya. Manusia bakal bagaikan robot-robot yang patuh dan tunduk tanpa kemauan apapun.  Ia hanya dapat pasrah. Dan dengan demikian tentu semua manusia tanpa usaha akan masuk surga tanpa  proses secuilpun. Alangkah tidak dinamisnya hidup ini dan bila demikian tentu  tidak akan diperlukan adanya khalifah di bumi ini.

Namun syukurlah  karena  Allah SWT tidak menghendaki yang demikian. Dunia adalah permainan yang amat menarik dan dinamis. Allah SWT menantang manusia untuk berlomba menuju kemenangan. Dan sebagai imbalan Ia menyediakan surga bagi para pemenang dan neraka bagi para pecundang. Siapa saja yang mampu memecahkan teka-teki tersebut, baik muslim ataupun bukan, ia akan menguasai dunia, alam akan ditaklukan atas kehendak-Nya, ia akan mendapatkan manfaat yang banyak darinya, dengan satu syarat tidak boleh merusak alam tersebut.

“………… dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS.Al-Fushilat(28):77).

Dan sebagai petunjuk Ia sebarkan ayat-ayat di segala penjuru alam semesta, itulah  Sunatullah. Bila ia melanggar aturan tersebut  ia akan merasakan akibatnya, itulah hukum sebab-akibat, aksi-reaksi. Manusia adalah pemeran utama sedangkan mahluk-mahluk lain seperti hewan, tumbuhan, gunung, sungai, bebatuan dan lain-lain adalah pemeran pembantu.

Mereka tidak mempunyai kehendak apapun, selain tunduk dan patuh pada aturan-Nya, semua prilakunya persis sesuai skenario Sang Sutradara. Allah SWT memerintahkan air untuk selalu tertarik ke pusat bumi sebaliknya  gas menjauh dari pusat bumi, bulan berputar mengelilingi bumi, bumi berputar mengelilingi matahari sambil berotasi terhadap dirinya sendiri demikian pula seluruh tatanan tata surya dan semua mahluk yang ada di alam semesta ini.

“ Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan dukhan(asap), lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.(QS.Al-Fushilat(41):11).

Gravitasi hanyalah salah satu aturan main ciptaan-Nya agar manusia dapat ikut memahami permainan namun bila sekali-sekali Ia tidak ingin mengikuti aturan main tersebut, itu adalah hakNya. Tak satupun mahluk yang dapat mencegahnya. Sebaliknya, Allah SWT amat menyayangi mahluknya yang mau menggunakan hatinya untuk memahami, telinganya untuk mendengar,matanya untuk melihat dan  akalnya untuk berpikir.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia,mereka mempunyai hati,tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata(tetapi)tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah)…….” (QS.Al-Araf (7):179).

Ilmu Pengetahuan, Tehnologi dan  Sains saat ini berkembang dengan amat sangat pesatnya. Sebagai seorang muslim sudah semestinya bila kita terus memantau perkembangan ini dengan seksama dan membandingkan berbagai temuan tersebut dengan apa yang telah disiratkan dalam Al-Quran.   Pada tahun 1940-an dengan  bantuan teleskop raksasa “Hubble”, muncul teori “Big Bang” dan “Big Crunch” yaitu awal  penciptaan alam semesta dan kebalikannya yaitu akhir dari alam semesta. Mereka berkesimpulan bahwa alam semesta ini bermula dari “singularitas”,”kenihilan” yang kemudian berdentum’ (‘Big Bang’) sehingga menjadi luas dan terus semakin luas dan mengembang sebelum akhirnya kembali mengkerut (‘Big Crunch’).

“ Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”(QS.Al-Anbiya(21):30). “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya”. (QS. Adz-Zaariyat (51) :47).

“ (Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya……”.(QS.Al-Anbiya(21):104).

Dan bukankah  dari ilmu pengetahuan kita tahu bahwa hujan adalah suatu proses berkesinambungan antara awan, angin dan  fenomena alam lainnya?

“ Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus,………?” (QS.As-Sajdah(31):27).

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira”.(QS.Ar-Rum(30):48).

Bila kita mau memperhatikan ayat-ayat suci Al-Quran sungguh banyak sekali ayat-ayat yang sesuai dengan penemuan sains akhir-akhir ini. Allah SWT tidaklah menciptakan alam semesta ini dengan sembarangan. “ Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (QS. Al-Hijr(15):21).

“ Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yaasiin (36) :40).

Para ilmuwan saat ini menyadari bahwa alam semesta tercipta berdasarkan aturan-aturan dan rumus-rumus yang amat sangat rumit namun akurat, bahkan sarat dengan perhitungan matematis.

” Demi langit yang mempunyai jalan-jalan ” (QS. Adz-Dzariyat(51):7).

Pernahkah kita terpikir apa yang dimaksud dengan jalan-jalan dilangit ?

Manusia pada zaman dahulu mungkin tidak dapat membayangkan hal ini bahkan memikirkannyapun mungkin tidak. Namun sekarang ini di zaman yang serba canggih, di zaman dimana hampir semua orang dapat menikmati fasilitas telekomunikasi serba modern seperti radio, televisi, komputer dan juga aneka telepon genggam hal tersebut menjadi mengejutkan. Bukankah berbagai jenis gelombang radio yang mampu memberikan frekwensi tertentu untuk memberikan informasinya melalui berbagai fasilitas modern dan canggih itu berjalan melalui udara di atas kita? Itukah maksud langit yang mempunyai jalan-jalan itu? Wallahu’alam.

“ Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan………”.(QS. An-Naml(27):88).

“ Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?”. (QS. An-Naba’(78):6-7).

Belakangan ini Sains membuktikan bahwa terjadi pergeseran lempeng kerak bumi 5-12cm pertahun dan disimpulkan bahwa dalam sejuta tahun pergeseran tersebut berpotensi memindahkan sebuah benua 50-120 km!!. Para ahli geologi juga mengatakan bahwa gunung-gunung sebenarnya dapat dikatakan memiliki “kaki” yang tertanam kuat didalam lapisan Astenosfer yg membuat kedudukan suatu benua/daratan mantap.

Sejarah mencatat, bahwa bumi yang ada sekarang ini tidaklah sama dengan bumi pada masa awal pembentukan 12 milyar tahun yang lalu. Diperkirakan 300 juta tahun yang lalu, di bumi ini hanya ada satu daratan yang amat luas, “Pangea” yang terletak di lautan  yang juga amat luas ”Panthalasea”. Kemudian 150 juta tahun kemudian daratan luas ini pecah menjadi “Gondwana” yang terdiri atas Antartika,Australia, Amerika Selatan serta Afrika dan “ Laurasia” yang terdiri dari Asia, Eropa dan Amerika Utara. Baru 50 juta kemudian  keduanya terpisah hingga akhirnya seperti yang tampak sekarang ini. Jadi begitulah agaknya cara gunung “berjalan”, ia tidak diam di tempat namun bergerak walaupun secara perlahan. Bagaimana pula dengan ayat berikut?

“  Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi……. .”(QS. AtThariq(65):12).

Sejak kapankah manusia mengetahui bahwa bumi mempunyai tujuh lapisan atmosfer? Lapisan Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, Ionosfer, Eksosfer dan Magnetosfer. Tepat tujuh lapis!

Dan pernahkah kita terpikir mengapa sungai yang bermuara kelaut airnya tidak asin sebagaimana air laut? Mengapa keduanya tidak menyatu dan bercampur, padahal tidak ada dinding pembatas diantara keduanya?

“ Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”(QS.Al-Furqan(25):53).

Tidak hanya itu. Pada tahun 1948, gambar-gambar satelit memperlihatkan dengan jelas adanya batas-batas air di laut Tengah yang panas lagi sangat asin dan di samudra Atlantik yang temperatur airnya relatif lebih dingin serta kadar garamnya lebih rendah dari laut Tengah. Batas-batas juga terlihat di antara Laut Merah dan Teluk Aden. Bagaimana pula akibatnya  bila air yang diturunkan dari langit atau air  yang kita ambil dari dalam tanah untuk kita minum itu asin?

“ Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (QS.Al-Waqiyah(56):68-70).

Apa yang dikatakan sains tentang gosokan-gosokan  yang dapat menimbulkan percikan api?

Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dari gosokan-gosokan kayu).Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?”(QS.Al-Waqiyah(56):71-72).

Pertanyaannya dari mana nabi Muhammad SAW yang hidup lebih dari 14 abad yang lalu itu mengetahui semua ini? Padahal kenyataan membuktikan diperlukan waktu berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun bagi para ilmuwan untuk mengetahui suatu rahasia alam walaupun dengan alat yang canggih sekalipun.

Namun sebaliknya bila sekarang ini ada temuan sains yang terlihat bertentangan dengan teks Al-Quran, sebenarnya ada dua kemungkinan. Yang pertama mungkin data atau informasi yang didapat para ilmuwan belum tepat, sedang yang kedua mungkin pemahaman kita terhadap Al-Quranlah yang kurang tepat. Tidak mungkin keduanya saling bertentangan. Karena dengan makin majunya tehnologi, pengetahuan juga makin berkembang, maka akibatnya penafsiran terhadap Al-Quranpun juga dapat berkembang, terutama dalam hal yang berkaitan dengan ilmu ke-alam semestaan.

“ Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar…….” (QS. Al-Fushilat(41):53).

Walahu’alam.

Jakarta, 26/2/2007

Vien AM.

Referensi :

– Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Alam oleh Prof.Achmad Baiquni, MSc.PhD.

Read Full Post »

Jebolnya situyang dibangun pada tahun 1933 oleh penjajah BelandaMaret 2009 lalu telah meninggalkan bekas luka dan duka yang begitu mendalam. Korban meninggal tak kurang dari 100 jiwa serta puluhan lain yang dikabarkan belum juga ditemukan hampir seminggu setelah kejadian menambahkesedihan.

Banyak hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa memilukan yang mungkin bisa dihindarkan bila saja pemerintah lebih seriusdalam mengawasi situ yang beberapa kali dilaporkan telah mengalami gangguan ini.

Berkaca dari beberapa dialogsebelum terjadinya peristiwa nahas. Suatu ketika anak saya yang bungsu, pernah bertanya : “ Mengapa ibu tidak meminta pengurus masjid untuk mengganti warna cat kubah masjid? “ . Pertanyaanini muncul sebagai reaksi ketika saya berkomentar bahwa warna kubah masjid yang dimaksud tidak bagus. Anak saya berkata demikian karena ia penah tahu bahwa kami ikut menyumbangpembangunan masjid tersebut.

Kali lain, saya menyaksikan kedua orang tua saya yang sedang berdebat ringan soal politik. Terlintas kata extrimis, fundamentalis dan yang sejenismya. Ibu terlihat khawatir mendengar kata-kata tersebut. Rupanya ayah sedang menerangkan keberadaan partai-partai Islam yang ingin mendirikan negara Islam.

Selintas tiba-tiba saya teringat seorang pemandu acara TV “ Kursi Panas” yang dengan nada khawatir mengajukan pertanyaan seputar kebijaksanaan hukum Islam sekiranya partai Islam memenangkan Pemilu.

Kembali ke peristiwa Situ Gintung. Saya mendapatinformasi bahwa korbansaat inilebih khawatir akan masa depan mereka daripada sekedar bantuan baju-baju bekas, selimut, makanan dan lain2. Walaupun tentu saja mereka tetap membutuhkan barang2 tersebut.Intinya mereka butuh tempat tinggal permanen untuk menggantikan tempat mereka yang sudah rata dengan tanah.

Dalam hal ini pemerintahlahyang harus turun tangan. Ketika saya bertanya kepada suami saya dari mana pemerintah mendapat uangnya. Dengan enteng suami saya menjawab: “ Ya dari hutanglah … dari mana lagi ?”

Saya termenung. Rentetan pertanyaan dan permasalahan diatas cukup mengganggu pikiran saya. Saya bukan seorang yang tertarik dengan dunia politik. Bukan juga simpatisan apagi kader sebuah partai tertentu. Saya hanya seorang warga negara biasa, seorang ibu, seorang hamba Allah yang alhamdulillah diberi hidayah untuk banyak mensyukuri nikmat dengan cukup rajin mempelajari dan memperdalam ajaran Islam.

Lama saya berpikir. Rasanya Islam mempunyai jawaban yang pas untuk menyelesaikan semua pertanyaan diatas. Betapa banyak ayat Al-Quran dan hadis yang mendorong agar umat berzakat dan bersedekah. Karena zakat dan sedekah mampu memperpendek jarak antara si miskin dan si kaya. Karena dengan berzakat dan bersedekah akan timbul rasa perduli dan saling menyayangi. Betapa banyak ayat dan hadis yang memerintahkan umat untuk tunduk dan setia kepada pemimpin. Shalat berjamaah adalah cermin ketundukan dan kekompakan umat dalam mengikuti imamnya. Berapa banyak pula ayat dan hadis yang menyuruh para pemimpinuntuk berlaku adil, jujur dan amanah.

Dan yang tak kalah penting Islam ternyata mengajarkanumatnya untuk tidak terlibat dengan hutang piutang dimana terdapat unsur yang tidak jelas. Pamrih dan balas jasa adalah contohnya. Apalagi hutang yang dikaitkan dengan pemikiran yang bertujuan dan berpotensi menjauhkan umat dari-Nya….Naudzu’billah min dzalik.

Dari sini saya kemudian dapat menjawab pertanyaan anak saya tentang warna cat kubah masjid yang kebetulan tidak cocok dengan selera saya,kekhawatiran ibudan sang pembawa acara tentang hukum Islam dan yang terpenting penyelesaian untuk para korban Situ Gintung.

Namun tentu saja ini baru sebatas teori. Bagaimana aplikasinya?Saya yakin, Allah swt menurunkan hujan lebat di pagi buta beberapa minggu sebelum hari pencoblosan ( atau hari pen’contreng’an ??)dengan hikmah tertentu. Allahswt ingin menuntun kita agar berpikir adakah partai yang benar-benar mau menegakkan syariat Islam? Pemimpin yang rela menjadikan Al-Quran dan hadis sebagai pegangan dan rujukan?

Ada kesalahan mendasar dalam memahami hukum Islam termasuk umat Islam sendiri. Hukum penggal kepala, potong tangan danrajamadalah hal yang selalu ditonjolkan dalam hukum ajaran ini. Padahal hukum ini diterapkan hanya ketika hukum yang lain telah berjalan dengan baik. Ketika para pemimpin tidak lagi korupsi, ketika para pemimpin mau membela dan memperjuangkan hak si miskin serta membela hak si kaya, ketika keadilan dan kemakmuran telah dapat dirasakan semua lapisan masyrakat. Itupun dengan pertimbangan yang tidak mudah. Karena tujuan hukum tersebut demi kebaikan semua pihak. Hukumini berlaku tidak saja bagi masyarakat kecil namun lebih lagi bagi penguasa.

Sebaliknya hal-hal positif yang jumlahnya amat banyak tidak dipikirkan. Sistim ekonomi syariah yang bertujuan tidak merugikansiapapun karena dasarnya adalah saling tolong menolong, pelarangan perzinahan dan mabuk-mabukan yang jelas-jelas penting bagi keamanan diri dan masyarakat, pemakaian jilbabyang bertujuan menaikkan martabat dan harga diri kaum perempuan hingga jauh dari pelecehan.

Zakat, Infak dan Sedekah yang dikelola pemerintah adalah bertujuan agar bantuan merata sampai ke semua lapisan tidak hanya berputar di satu tempat. Bantuan yang seperti ini jauh lebih effektif dibanding dengan bantuan yang sifatnya sendiri-sendiri dan relatif tidak berarti secara umum. Islam mengajarkan untuk memberi kail bukan ikannya, cangkul bukan hasil cangkulannya.

Dengan adanya dana ini pula pemerintah tidak perlu berhutang dan bergantung kepada pihak dan negara lain. Apalagi hutang yang menyebabkan pemerintah menjadi tidak mandiri dalam menentukankebijaksanaan.

Namun Islam juga mengingatkan bahwa tangan di atas adalah jauh terhormat daripada tangan di bawah. Hal inilah yang akan memotivasi generasi muda agar lebih gigih bekerja dan berkarya. Dengan adanya pendidikan yang seperti ini pula dapat dipastikan peminta-minta dan pengangguran di jalanan akan menjadi malu untuk mengemis dan meminta.

Yang juga sering dilupakan, hukum Islam ini tidak berlaku bagi umat non muslim. Bahkan mereka ini diizinkan memberlakukan sendiri hukum agamanya dengan catatan tidak merubah-rubah hukum tersebut sesuai keinginan dan nafsu mereka.

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan Imam Ahmad dan Muslim, disampaikanbahwa suatu ketika Rasulullah saw melewati sekelompok orang Yahudi yang sedang menghukum seseorang. Orang tersebut dihukum jemur dan dipukuli. Lalu Rasulullah memanggil mereka dan bertanya, ‘‘Apakah demikian hukuman terhadap orang yang berzina yang kalian dapat dalam kitab kalian?” Mereka menjawab ,”Ya.”

Rasulullah kemudian memanggil seorang ulama mereka dan bersabda, ”Aku bersumpah atas nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah demikian kamu dapati hukuman kepada orang yang berzina di dalam kitabmu?”

Ulama (Yahudi) itu menjawab, ”Tidak. Demi Allah jika engkau tidak bersumpah lebih dahulu niscaya tidak akan kuterangkan. Hukuman bagi orang yang berzina di dalam kitab kami adalah dirajam (dilempari batu sampai mati). Namun, karena banyak di antara pembesar-pembesar kami yang melakukan zina, maka kami biarkan, dan apabila seorang berzina kami tegakkan hukum sesuai dengan kitab. Kemudian kami berkumpul dan mengubah hukum tersebut dengan menetapkan hukum yang ringan dilaksanakan, bagi yang hina maupun pembesar yaitu menjemur dan memukulinya.’‘

Rasulullah lalu bersabda, ”Ya Allah, sesungguhnya aku yang pertama menghidupkan perintah-Mu setelah dihapuskan oleh mereka.” Selanjutnya Rasulullah menetapkan hukum rajam, dan dirajamlah Yahudi pezina itu.

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, April 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »