Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak pernah khusu’(tenang), doa yang yang tidak didengar dan dari nafsu yang tidak pernah puas”

Begitulah bunyi salah satu doa yang diajarkan Rasulullah dalam mencari ilmu. Namun ilmu yang bagaimanakah yang dimaksud Rasulullah tidak berguna itu? Mu’adz bin Jabal, salah seorang sahabat meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Pelajarilah ilmu, sebab mencari ilmu karena Allah adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya tasbih, mengkajinya adalah jihad dan mengajarkannya adalah sedekah. Dengan ilmu seorang hamba sampai pada kedudukan orang-orang baik dan tingkatan paling tinggi. Memikirkannya setara dengan berpuasa dan mengkajinya sama dengan menegakkan shalat. Dengannya Allah ditaati, disembah, di-Esa-kan dan ditakuti. Dengannya pula tali silaturahmi diikatkan. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Dengannya Allah mengangkat bangsa-bangsa lalu Dia menjadikan mereka pemimpin, penghulu dan pemberi petunjuk pada kebajikan karena ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan,cahaya dari kezaliman dan kekuatan tubuh dari kelemahan.” Dalam hadits lain Rasulullah bersabda :” Aku bertanya pada Jibril,’Apakah kepemimpinan itu?’ Jibril menjawab, ‘Akal”.

Dari kedua hadis diatas maka dapat disimpulkan bahwa ilmu yang bermanfaat yang dimaksud Rasulullah itu adalah ilmu yang dicari karena mengharap ridho Allah SWT dan yang disebabkannya seseorang menjadi bertambah dekat kepada-Nya. Al-Khalil bin Ahmad berkata, “Manusia itu ada empat: Pertama, yang tahu dan tahu bahwa ia tahu. Ia adalah alim, maka ikutilah. Kedua, yang tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tahu. Ia adalah orang yang tertidur, maka bangunkanlah. Ketiga, yang tidak tahu dan tahu bahwa ia tidak tahu. Ia adalah orang yang mencari bimbingan, maka ajarilah. Keempat, yang tidak tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Ia adalah orang bodoh, maka waspadailah.”. Sedangkan Al-Ghazali berkata, “Barangsiapa yang kehilangan ilmu, maka hatinya akan sakit dan mati. Ia tidak menyadarinya karena kesibukan dunia mematikan perasaannya. Jika kesibukan itu menampakkan kematian maka ia merasakan sakit yang pedih dan penyesalan yang tiada akhir.” Ucapannya itu dimaksudkan dalam menafsirkan hadis berikut : “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”.

” Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.(QS.Qaaf(50):22).

Saat ini ilmu pengetahuan telah berkembang dengan amat pesat. Berbagai cabang ilmupun banyak dipelajari orang. Kita bahkan dapat dengan mudah mengikuti perkembangan dunia hanya dengan duduk didepan televisi. Namun apakah dengan adanya berbagai penemuan itu hidup menjadi mudah, tenang dan damai? Bukankah salah satu tujuan memperdalam ilmu agar kwalitas hidup meningkat? Kenyataannya dimana-mana masih terlihat berbagai kasus mulai kelaparan, kemiskinan, bunuh diri hingga penyakit fisik seperti demam berdarah, kanker, AIDS, chikungunya, flue burung dan yang terbaru liptospirosis, maupun penyakit mental seperti penyimpangan prilaku seksual seperti pemerkosaan, pedofili dan homoseksual. Juga munculnya berbagai masalah dunia seperti peperangan, isu nuklir, pemanasan global, krisis energi hingga adanya perubahan iklim, rusaknya lapisan Ozon, naiknya permukaan laut yang semuanya itu sebagai akibat dari pencemaran udara disebabkan makin tingginya konsentrasi gas rumah kaca (CO2 gas buang baik dari kendaraan maupun pabrik), diexploitasinya perut bumi secara berlebihan dan juga musibah banjir yang disebabkan penebangan liar dan pembuangan sampah yang sembarangan kemudian juga ekonomi yang tidak berpihak kepada kaum lemah. Lalu dimanakah manfaat berbagai lmu mereka itu?

Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah bumi dan sebagai konsekwensinya ia harus mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya itu kepada Sang Pemberi mandat dan dengan demikian manusia juga sekaligus adalah hamba Allah. Sebagai khalifah bumi ia diberi kebebasan untuk mengelola dan memanfaatkan bumi agar hidupnya menjadi mudah dan tenang namun dengan syarat tidak merusak keseimbangan alamnya. Allahlah yang telah menetapkan segala hukum sebab-akibat yang ada di alam ini.

“………… dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS.Al-Fushilat(28):77).

Tampaknya inilah yang sedang terjadi saat ini. Alam menjadi murka karena manusia tidak lagi memegang amanah yang dipikulkan kepadanya yaitu untuk memelihara dan menjaga keseimbangan alam. Kerusakan terjadi karena ulah manusia. Maka atas izin-Nya akibatnya harus kita terima. Untuk itulah manusia harus berilmu. Dan hanya dengan akal dan keimanan sajalah manusia akan berhasil menggali ilmu yang menuju kebenaran. Manusia diberi kebebasan untuk memilih, kebahagiaan dunia saja, kebahagiaan akhirat saja atau yang paling tinggi derajatnya yaitu kebahagiaan dunia-akhirat. Ini yang paling disukai-Nya.

“………Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat……..”. (QS.Al-Mujadillah(58:11).

Salah satu sifat Allah SWT yang harus kita imani adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ar-Rahman atau Maha Pengasih ini diberikan-Nya kepada seluruh mahluk ciptaannya tanpa kecuali sedangkan Ar-Rahim atau Maha Penyayang hanya diperuntukkan bagi umatnya yang mau tunduk kepada perintah-Nya, yaitu kaum muslimin( kaum yang berserah–diri ). Hukum alam atau Sunatullah, yaitu kunci yang memperlihatkan hukum sebab-akibat atas aturan-aturan Allah SWT agar manusia dapat mengenal dan menaklukkan alam adalah salah satu nikmat dan bukti ke-ArRahman-anNya. Itulah sebabnya semua orang, baik muslim atau bukan, yang mau berusaha mencari ilmu berdasarkan hukum alam yang banyak tersebar di muka bumi ini, atas izin-Nya, akan mendapatkan kemudahan dan kesenangan dunia. Sebaliknya bagi ilmuwan muslim, kemudahan dan kebahagiaan dunia adalah ‘bonus’ karena tujuan utama seorang muslim adalah kebahagiaan akhirat. Karena seorang muslim menyadari bahwa dunia adalah jembatan menuju suatu tujuan, sedang tujuan adalah akhirat yang mempunyai dua ujung yaitu surga dan neraka.

“ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi ……”(QS.Al-Fushilat(28):77).

Al-Ghazali mengingatkan, seseorang hendaknya menuntut ilmu tidak hanya sekedar kebutuhan melainkan harus hingga tuntas, hingga sampai kepada hakekat atau inti ilmu tersebut. Karena hanya dengan inti ilmu inilah seseorang akan mencapai suatu tingkat penyingkapan akan rahasia dan kebesaran Sang Maha Pencipta, Allah azza wa jalla. Itulah keutamaan ilmu karena puncak ilmu adalah pengenalan Allah SWT. Dengan ilmu manusia dapat lebih merasakan sekaligus mengagumi kekuasaan dan kebesaran-Nya. Rasulullah bersabda:” Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia akan bertambah jauh dari Allah.”

Ilmu yang hanya dimaksudkan untuk memperoleh kekuasaan, harta dan pangkat tidak akan sampai kepada hakekat hidup yang sebenarnya. Menurut Al-Ghazali pengetahuan indrawi tunduk dibawah ilusi dan kesesatan. Sebagai contoh, ia mengemukakan betapa matahari dan bintang-bintang di langit terlihat begitu kecil, ia hanya bagaikan dinar dinar yang berserakan di atas hamparan kebiruan padahal sesungguhnya ia adalah benda raksasa di langit, bahwa apa yang diterima oleh mata adalah hanya bayangan terbalik, bagaimana fatamorgana telah menipu penglihatan. Bukankah penglihatan kita ini terbentur hanya sebatas dinding atau paling jauh hanya sebatas cakrawala? Demikian pula seluruh panca-indra kita, sesungguhnya ia hanya memiliki kemampuan yang amat sangat terbatas. Oleh sebab itu, masih menurut Al-Ghazali, pengetahuan indrawi patut diragukan kebenarannya.

“ Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. ……(QS.An-Naml(27):88).

Bagaimana pula halnya dengan pengetahuan rasional berdasarkan akal? Seperti diketahui, sains berkembang melalui pengamatan, penelitian dan berbagai percobaan berdasarkan data yang ditangkap oleh pancaindera baik langsung maupun dengan bantuan alat deteksi karena manusia memang tidak memiliki kemampuan melihat yang ghaib. Namun karena sains telah sejak lama dikuasai oleh bangsa Barat yang sebagian besar Atheis, yang tidak mempercayai yang ghaib, yang tidak meyakini keberadaan Allah dan tidak menjadikan Al-Quran sebagai pegangan maka sains berkembang hanya sebatas akal mereka saja.

“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran”.(QS.An-Najm(53):28).

Padahal sebagai ganti atas keterbatasan indera dan akal manusia, Allah SWT telah memberikan kita hati. Dan hati yang senantiasa bersih akan selalu siap menerima cahaya ilahi. Dengan bantuan cahaya inilah manusia akan dibimbing untuk menemukan dan mengenal kebenaran yang hakiki. Namun hati perlu dirawat, ia bagaikan cermin yang harus selalu dibersihkan. Dengan apa ia harus dibersihkan? Tentu saja bukan dengan lap yang kotor karena hal tersebut hanya malah akan membuat cermin menjadi buram sehingga pantulan yang diberikanpun menjadi tidak sesuai dengan kebenaran. Itulah perumpamaan ilmu yang sesat. Namun sebaliknya bila sekarang ini ada temuan sains yang terlihat bertentangan dengan teks Al-Quran, sebenarnya ada dua kemungkinan. Yang pertama mungkin data atau informasi yang didapat para ilmuwan belum tepat, sedang yang kedua mungkin pemahaman kita terhadap Al-Quranlah yang kurang tepat. Karena tidak mungkin keduanya saling bertentangan. Karena Islam bukanlah sekedar agama yang menghubungkan antara manusia dengan Tuhannya sebagaimana kebanyakan agama, ia melainkan adalah nafas kehidupan yang memperlihatkan segala yang ada di alam semesta termasuk hubungan antar manusia dan hubungan antara manusia dengan alam. Islam adalah juga sains.

“ Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?(QS.Al-Anbiya(21):30).

“ (Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. “(QS.Al-Anbiya(21):104).

Kedua ayat diatas dalam dunia sains membuktikan akan kebenaran teori “Big Bang” dan “Big Crunch” yaitu awal penciptaan alam semesta dan kebalikannya yaitu akhir dari alam semesta atau kiamat. Itu semua terjadi atas kehendak Allah SWT, atas izin-Nya.

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira”.(QS.Ar-Rum(30):48).

Jadi sungguh menyesatkan bila selama ini berkembang teori yang mengatakan ‘karena hukum alam’ tanpa menyebut kata Allah SWT atau ‘secara kebetulan’ ataupun ‘dengan sendirinya’ seperti halnya dalam proses penciptaan alam semesta dan evolusi. Ini jelas sebuah penolakan terhadap keberadaan Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Alangkah congkaknya !

“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS.Yaasin(36):77).

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa“. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.(QS.Al-Fushilat(41):11).

Itulah hukum alam atau sunatullah, ia tunduk-patuh kepada perintah-Nya. Ironisnya, ajaran tersebut beredar luas di berbagai buku IPA pegangan siswa SMP dan SMA di negeri yang mayoritas berpenduduk muslim! Maka sebaiknya kita sebagai orang tua harus selalu waspada dalam mengawasi pendidikan anak-anak kita yaitu dengan membekali mereka dengan Al-Quran dan As-Sunnah sedini mungkin sebagai bekal keimanan mereka. Sehingga ketika mereka dewasa kelak, apapun ilmu yang dipelajarinya akan memberinya manfaat, tidak malah menyesatkannya.

Rasulullah bersabda : “Manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah seorang alim yang Allah tidak memberikan manfaat pada ilmunya.”

Wallahu’alam.

Jakarta, 5/2/2007.
Vien AM.

Read Full Post »

Perempuan2 Tangguh

Siapakah mereka itu? Ibu2 kitakah, para istri, anak2 perempuan kita, kakak2 kita atau adik2 kita atau teman2 perempuan kitakah? Semuanya bisa jadi akan tetapi perempuan yang bagaimanakah mereka itu? Biasanya bila orang menyebut kata perempuan maka yang ada di benak dan langsung terbayang adalah sosok seorang yang rapuh, sosok lemah, sosok yang mempunyai perasaan amat peka dan sensitive atas segala sesuatu, yang mudah dipermainkan oleh perasaan takut& khawatir dan yang tak jarang pula dianggap remeh oleh lawan jenisnya, yaitu kaum lelaki. Tetapi benarkah semua itu?

Bila demikian, marilah kita bayangkan sejenak ibu-ibu kita, ibu yang telah melahirkan kita ke dunia ini yang hanya dengan perantaraannyalah Sang Maha Pencipta mempercayakan kelahiran seorang manusia, semua manusia kecuali tentu saja manusia pertama yang langsung diciptakanNya dengan ‘Kun Fayakun’ maka jadilah ia, yaitu nabi Adam as.

Untuk sementara sisihkan dahulu bayangan ibu yang telah beranjak senja. Bayangkanlah ibu ketika beliau masih muda, ketika beliau mengandung dan harus menanggung beban dalam rahimnya selama lebih-kurang 9 bulan, dan kemudian bayangkanlah perjuangannya untuk melahirkan anak-anaknya. Kemudian disusuinya selama 2 tahun, dipelihara, dididik dan dibesarkannya dengan penuh kesabaran dan kasih-sayang tanpa mengharap imbalan sedikitpun. Ibu yang tak mengenal lelah, siang dan malam bekerja di rumah demi menjaga keutuhan keluarganya. Bahkan tak jarang pula ibu yang terpaksa bekerja keras di luar rumah membanting tulang untuk membantu sang suami mencari nafkah. Maka mungkinkah kita katakan bahwa mereka itu mahluk yang lemah?

Maka untuk itu pulalah, sebagai imbalan atas jerih payahnya, Allah berfirman :

“Dan telah Kami perintahkan kepada manusia(berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” .  (QS.Luqman( 31):14)

Perempuan tangguh juga adalah mereka yang berpendirian teguh,yang kuat tekadnya untuk mempertahankan keyakinan dan agamanya. Ia tidak mudah terpengaruh oleh apapun dan siapapun walau lingkungan disekitar menentangnya. Perempuan yang mau dan mampu menggunakan akalnya untuk berpikir apakah hakekat hidup ini, apakah tujuan hidup ini, mengapa ia hidup, siapa yang menghidupkannya, kepada apa dan siapa ia harus mempertanggung-jawabkan hidup ini. Yang kemudian untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ia mau mencari jawabnya. Perempuan yang dengan penuh keridhoan mau menerima ketetapan-Nya secara kaffah, tidak memilah-milah dan memisah-misahkan ayat2 mana yang disukainya dan mana yang tidak disukainya. Semua diyakininya.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syeitan. Sesungguhnya syeitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS.Al-Baqarah( 2):208).

Mereka yang mau berpikir, mengapa hanya kaumnya saja yang diberi kemampuan untuk melahirkan dan yang kemudian dapat menerima kodratnya sebagai perempuan. Maka dengan demikian ia tahu persis apa yang menjadi hak dan tanggung-jawabnya sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu maupun sebagai anak perempuan. Sebagai istri misalnya, ia akan berani mengingatkan sang suami untuk terus berada di jalan yang benar tetapi dilain pihak tetap dapat menghormatinya sebagai kepala keluarga.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka(adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh(mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.At Taubah( 9):71)

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain(perempuan), dan karena mereka(laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS.An Nisaa’( 4):34).

“Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf”.(QS.Al Baqarah( 2):233)

Rasullullah saw bersabda :“Dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah,dinar yang kamu nafkahkan untuk budak,dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin dan dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.  “Yang lebih besar pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu”.

Perempuan_perempuan seperti inilah yang kelak akan mencetak manusia-manusia berkwalitas, manusia-manusia bermoral yang akan mampu memimpin sebuah bangsa besar. Mereka itu bagaikan bibit unggul yang akan menghasilkan benih-benih yang unggul pula. Rasullullah bersabda: “ Pilihlah untuk benih-benih kalian, karena sesungguhnya keturunan itu direncanakan”. Karena sesungguhnya perkawinan bukanlah sekedar pemenuhan keinginan biologis & penyaluran dorongan hawa nafsu semata akan tetapi jauh lebih mulia. Rasullullah juga menambahkan :”Barangsiapa ingin bertemu dengan Allah dalam keadaan suci & mensucikan maka hendaklah ia mengawini wanita yang menjaga kehormatannya”.

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya”.(QS.An Nuur( 24):33).

Tampaknya pepatah yang berbunyi “ Maju-mundurnya sebuah bangsa tergantung kaum perempuannya” ataupun “ Surga dibawah telapak kaki ibu” tidaklah keliru.

Selain itu karena kehidupan dunia adalah bagaikan ladang untuk mencari amal-shaleh yang kemudian hasilnya akan dibawa kelak ke akhirat, maka perempuan-perempuan tangguh adalah juga mereka yang mau menuntut ilmu yang bermanfaat dan yang kemudian diamalkannya untuk kebaikan umat. Rasullulah menegaskan, tiga hal yang tidak terputus pahalanya dan terus mengalir bagi manusia walaupun ia telah tiada, yaitu : amal-shalehnya, ilmunya yang terus diamalkan untuk kebaikan umat dan doa anak yang shaleh.

Allah berfirman : ”Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun”.(QS.An-Nisaa’( 4):124)

Ada banyak perempuan tangguh yang patut dijadikan suri teladan, empat diantaranya adalah:

1.Siti Khadijah ra, istri Rasullullah saw, Ummul Mukminin.

Beliau adalah seorang perempuan kaya-raya bangsa Quraisy yang termasuk elite masyarakat Arab saat itu. Beliau adalah seorang perempuan yang cerdas yangmenguasai ilmu perniagaan dengan sangat baik.Beliau adalah seorang saudagar perempuan yang sukses yang sangat dihormati dan amat dikenal. Beliaulah orang yang pertama beriman dan langsung mempercayai kerasulan Muhammad saw disaat yang lain masih mengingkari dan mencemoohnya. Bahkan jauh sebelum kerasulan beliau telah amat menghormati suaminya itu walaupun usia Rasullullah jauh lebih muda dari beliau sendiri. Beliau rela mengorbankan jiwa dan hartanya untuk dakwah Rasullullah.

2.Siti Maryam, ibunda Isa as.

Beliaulah satu-satunya perempuan di dunia ini yang atas kehendak dan mukzizat-Nya mengandung tanpa sedikitpun sentuhan lelaki. Beliau adalah seorang putri keluarga Imran,keluarga yang amat shaleh. Ketika ibunya dikabarkan akan melahirkan seorang bayi padahal usianya telah amat tua, maka beliau dinazarkan untuk menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Beliau dibesarkan dibawah pemeliharaan Zakaria as. Beliau menerima cobaan Allah untuk mengandung bayinya itu dengan pasrah dan berserah-diri.

3. Asiya, istri Firaun.

Beliau adalah istri Firaun,seorang raja Mesir yang menganggap dirinya Tuhan,seorang yang amat mengingkari Tuhannya. Tetapi Asiya dibawah kekuasaan suami yang zalim tetap bertahan menjadi hamba Allah yang shaleh.

4. Sumayyah, seorang budak yang hidup di zaman Rasulullah saw.

Bersama suami dan anaknya, Ammar, beliau termasuk orang-orang awal yang beriman dan mengakui kerasulan Muhammad saw. Beliau adalah perempuan yang berasal dari keluarga miskin. Beliau dan keluarganya disiksa oleh kaum musyrikin Mekah saat itu karena mempertahankan keimanannya tersebut. Beliau akhirnya ditikam bagian bawah perutnya dengan tombak oleh Abu Jahal hingga rahimnya koyak dan tewas saat itu juga. Beliaulah orang pertama yang mati syahid dalam Islam.

Ke-empat perempuan shalehah ini telah dijanjikan surga sebagai imbalan atas ketakwaan mereka.

Wallahu ‘alam bish shawab.

Paris, 20 januari 2009.
Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts