Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Pulang’ dan ‘Pergi’ adalah sepasang kata yang memiliki makna berlawanan. Kata ‘Pergi’ bermakna meninggalkan suatu tempat asal menuju suatu tempat sementara, misal pergi ke kantor, ke pasar, ke sekolah dsb. Sedangkan kata ‘Pulang’ bermakna meninggalkan suatu tempat sementara menuju tempat asal atau dengan kata lain ‘tempat kembali’, misal pulang ke rumah, pulang kampung. Bila dalam kehidupan sehari-hari, kita temui seseorang berkata bahwa ” Aku baru pulang dari kerja”, tentu secara otomatis kita membayangkan bahwa orang tersebut ketika pulang akan membawa nafkah (rezeki) karena pada umumnya bekerja adalah untuk mencari rezeki. Begitu pula ketika seorang ibu berkata, ” Ibu pulang dari pasar “, mestinya ia pulang membawa hasil belanjaan.

Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga `Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, (QS.Shaad(38):49-50).

Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.(QS.Ali IMraan(3):151).

Berdasarkan ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tempat kembali ada 2, yaitu surga dan neraka. Jadi sesungguhnya kita ini sedang bepergian ke alam dunia dan setiap yang pergi pasti akan kembali. Dan sebagaimana seorang ayah yang pulang kerja membawa uang (rezeki), seorang ibu pulang dari pasar membawa hasil belanjaan, maka seorang yang pulang dari duniapun membawa hasil pekerjaan yang dibebankan Tuannya, yaitu Allah SWT. Hasil inilah, dengan izin-Nya, yang akan menentukan tempat kembali kita, surga atau neraka.

Namun tidak seperti kehidupan keseharian di dunia, untuk pulang ke kampung akhirat ternyata tidaklah mudah. Ibnul Jauzy berkata bahwa kematian lebih pedih daripada sabetan pedang. Penderitaannya mencapai puncak sehingga hati dan seluruh anggota tubuhnya menjadi lemas. Ruhnya dicabut dari setiap nadi dan setiap anggota tubuhnya secara perlahan-lahan. Dimulai dari kedua telapak kakinya yang terasa dingin, betis, paha kemudian terus hingga ke kerongkongan.

“…..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):”Keluarkanlah nyawamu” ………..” (QS.Al-An’aam(6):93).

Berikut kisah Nabi Idris as. Beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan shalat sampai puluhan raka’at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris as yang sedemikian banyak tersebut naik ke langit setiap malam. Hal ini sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail.Maka bermohonlah ia kepada Allah SWT agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris as di dunia. Allah SWT, mengabulkan permohonan tersebut.

Maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris. Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu kerumahnya itu adalah Malaikat Izrail. Seperti tamu yang lain, Nabi Idris memperlakukan Malaikat Izrail dengan penuh hormat. Dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris mengajaknya makan bersama, namun di tolak. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris mengkhususkan waktunya “menghadap” Allah SWT sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

Singkat cerita, keesokan harinya setelah melewati beberapa perbincangan kecil, akhirnya Nabi Idris penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu.

Siapakah engkau sebenarnya?”, tanya Nabi Idris a.s.
Aku Malaikat Izrail“, jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

“Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku?“, selidik Nabi Idris as serius.
Tidak”, senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu“, jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.
Aku punya keinginan kepadamu”, tutur Nabi Idris as.
“Apa itu? Katakanlah !”, jawab Malaikat Izrail.
Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada
Allah SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku
kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku”
, pinta Nabi Idris as.
Tanpa seizin Allah, aku tak kuasa melakukannya“, tolak Malaikat Izrail.

Ternyata Allah SWT mengizinkan Malaikat Izrail untuk mengabulkan permintaan Nabi Idris tersebut. Maka dengan izin Allah, Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris. Tak lama setelah itu, sesuai janji-Nya, Allah SWT segera menghidupkannya kembali.

Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku?“, tanya Malaikat Izrail.
Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti”, jawab Nabi Idris as.
Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu”, jelas Malaikat
Izrail prihatin. Subhaanallah.

Bagaimana pula kita ini, yang jauh dari cara ibadah beliau?

Hakikat mati adalah terpisahnya antara jasad dan ruh. Dikatakan orang yang mati akan melihat apa yang tidak dilihatnya selagi masih hidup sebagaimana orang yang terbangun dari tidur yang melihat apa yang tidak bisa dilihatnya saat tidur. Manusia layaknya sedang tidur dan jika mereka mati barulah mereka sadar. Al-Ghazali berkata : “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”. Jasad akan hancur dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah seseorang memasuki liang kubur.

Sedangkan ruh tetap kekal. Ia dapat merasakan siksa maupun nikmat, sebagaimana manusia hidup dapat merasakan berbagai kesenangan dan kegembiraan tanpa tergantung kepada anggota tubuh karena sesungguhnya hatilah yang merasakan segala perasaan tersebut. Perumpamaannya seperti seorang yang bermimpi, baik mimpi buruk maupun mimpi menyenangkan. Dalam mimpi jasmani seseorang tidak terpengaruh oleh mimpinya, ia tetap berada ditempatnya semula. Namun tidak mustahil ruh dikembalikan lagi ke jasad saat berada di kubur dan juga tidak mustahil pula andaikan hal itu ditunda hingga hari berbangkit. Wallahua’lam.

Dari Abdullah Ash-Shan’any, dalam mimpi ia bertemu dan berkata-kata dengan Yazid bin Harun.Yazid berkata : “ Demi Allah yang tiada Illah selain Dia. Malaikat Munkar dan Nakir telah mendudukkan aku dan bertanya kepadaku, “ Siapakah Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?”. Kemudian ketika jawaban Yazid memuaskan kedua malaikat maka merekapun berkata: ” Tidurlah seperti tidurnya pengantin dan tidak ada yang mengagetkanmu setelah ini”.

Rasulullah bersabda : “Kubur itu salah satu dari taman-taman surga atau salah satu dari lubang-lubang neraka”.(HR Bukhari-Muslim).

Dari Abu Sa’id, Rasululah juga pernah bersabda : “Andaikan kalian banyak mengingat perusak kelezatan-kelezatan, tentu kalian akan sibuk mempersiapkan apa yang pernah kulihat. Maka perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan yaitu kematian. Tidaklah seorang hamba mendatangi kubur melainkan kubur itu berkata : “ Aku adalah rumah yang asing, aku adalah rumah yang sendirian, aku adalah rumah dari tanah, aku adalah rumah yang penuh ulat”.

Jika seorang hamba mukmin dikubur, maka kubur berkata, “ Selamat datang. Engkau adalah orang yang paling kucintai dari orang-orang yang mendatangiku. Jika pada hari ini engkau dibawa kesini, maka engkau akan melihat apa yang kuperbuat kepadamu”. Maka dia bisa bebas mengedarkan pandangannya dan dibukakan pintu-pintu menuju surga.

Jika hamba yang buruk atau kafir dikubur, maka kubur berkata kepadanya, “Tiada kuucapkan selamat datang kepadamu, karena engkau adalah orang yang paling kubenci diantara orang yang berjalan mendatangiku. Jika hari ini engkau datang kepadaku, maka engkau akan melihat apa yang kulakukan terhadapmu”. Maka ia dibaringkan dan tulang-tulang iganya berserakan”. (HR Tirmidzi).

Wallahu’alam bishawab.
Jakarta, 24/8/2007.
Vien AM.

Read Full Post »

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. (QS.Al-Ahzab(33):21).

Sungguh beruntung kita, kaum Muslimin, karena Allah SWT telah menganugerahkan kita suatu buku petunjuk, yaitu Kitabullah, Al-Quranul-Karim. Kitab ini adalah kumpulan wahyu yang diturunkan Allah SWT dengan perantaraan malaikat Jibril selama kurun waktu 23 tahun kepada nabi-Nya yang ummi, Muhammad SAW. Rasulullah ummi yaitu tidak mengenal dan tidak pernah belajar membaca dan menulis karena memang kondisi saat itu tidak begitu memerlukan kepandaian baca-tulis.

Namun demikian beliau adalah seorang yang amat bijaksana. Beliau adalah seorang yang dikenal luas sebagai seorang yang ber-akhlak mulia sejak jauh sebelum era kerasulan. Beliau adalah seorang yang amat bersahaja juga rendah hati. Sejak muda masyarakat sekitarnya telah sering menitipkan amanah kepada beliau karena mereka amat mempercayainya. Menurut Ibnu Hisyam, salah seorang penulis kitab-klasik Shirah Nabawiyah ternama yang termasuk orang pertama yang menulis sejarah kehidupan Rasulullah yang hidup pada sekitar tahun 1100 M, Ka’bah sebelum zaman Islam telah mengalami pemugaran selama 4 kali.

Pemugaran ke 4 terjadi ketika Rasulullah berusia 35 tahun. Pada mulanya pemugaran berjalan lancar, masing-masing kelompok kabilah bekerja menurut pembagian tugas yang telah disepakati bersama. Demikian pula Rasulullah, beliau turut bekerja membantu paman beliau, Al Abbas bin Abdul–Mutthalib. Namun setelah pemugaran sampai pada tahap peletakkan kembali batu Hajar Aswad terjadi perselisihan. Masing-masing kabilah merasa lebih berhak untuk melasanakan pekerjaan tersebut. Perselisihan berkembang menjadi pertikaian hingga nyaris terjadi pertumpahan darah. Hal ini terus memanas hingga berhari-hari. Beruntung akhirnya suasana mendingin setelah semua pihak mau berkumpul dan berembug. Diputuskan bahwa siapapun yang pertama kali memasuki pintu Ka’bah, dialah yang berhak memutuskan perkara.

Tak lama kemudian, dalam suasana tegang tampak Rasulullah berjalan menuju pintu Ka’bah. Serentak merekapun berucap : “ Nah, dialah Al-Amin (orang yang terpercaya), kita rela dan puas menerima keputusannya.!”. Kemudian setelah Rasulullah mengetahui duduk perkaranya, maka beliaupun meminta selembar kain, lalu setelah kain dihamparkan beliau meletakkan Hajar-Aswad ditengah-tengah kain tersebut. Kemudian beliau berujar :” Setiap kabilah hendaknya memegang pinggiran kain, lalu angkatlah bersama-sama!”. Setelah kain didekatkan ketempat penyimpanan Hajar-Aswad kemudian beliau mengangkat benda tersebut dan meletakkannya pada tempatnya. Dengan cara itu maka berakhirlah perselisihan dan semua pihak merasa puas.

Sifat amanah ini pula yang menjadi daya tarik utama bagi Khadijah ra, istri sekaligus orang pertama yang mengakui ke-rasulan Nabi Muhammad SAW. Ketika itu Khadijah sebagai seorang saudagar sedang memerlukan seseorang yang dapat dipercaya membawa barang dagangan untuk dibawa ke negeri Syam. Beliau memang telah lama mendengar bahwa ada seorang pemuda Mekah yang dijuluki Al-Amin. Demikian pula halnya dengan Abu Bakar As Sidik ra, sang Khulafaul Rashidin I. Sejak kecil Abu Bakar telah menjalin persahabatan dengan Muhammad kecil. Ia mengenalnya dengan amat baik.

Itulah sebabnya ketika sebagian besar orang Quraisy menyangsingkan kebenaran berita Rasulullah mengenai Isra’nya ke Yerusalem sekaligus Miraj’nya ke langit, Abu Bakar ra hanya berkomentar : “ Bahkan yang lebih dasyat dari itupun aku pasti mempercayainya “. Ini merupakan sebuah tanda bahwa sejak kecil Muhammad SAW tidak pernah berbohong. Keimanan yang demikian tingginya ini pulalah yang menyebabkan Abu Bakar ra mendapat kedudukan yang tinggi baik disisi Allah SWT maupun disisi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda bahwa Abu Bakar adalah satu diantara sepuluh sahabat yang dijanjikan surga oleh Allah SWT.

Akhlak mulia tersebut tidak berubah sedikitpun walaupun beliau kemudian menjadi seorang pemimpin agung yang memiliki pengikut amat banyak dari berbagai kalangan dan lapisan. Anas bin Malik RA berkata : Para sahabat yang akan berdiri menyambut kedatangan Rasululllah, tidak jadi berdiri ketika tahu bahwa Rasulullah tidak mau dihormati seperti itu”. Padahal bila beliau menghendaki apapun dapat beliau dapatkan.

“Demi Allah, wahai paman! sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini”.

Itulah yang diucapkan Muhammad Rasulullah ketika Abu Thalib, sang paman yang selama itu senantiasa melindunginya, menganjurkan agar beliau mau menghentikan syi’ar karena sang paman merasa tak mampu terus melindungi keponakan tercinta karena ia sendiri terus ditekan para pemuka Quraisy. Hal ini menunjukkan betapa kuat dan kokohnya pendirian dan ketakwaan beliau demi terus melanjutkan perintah Allah SWT.

Beliau juga adalah seorang yang mudah berkomunikasi dengan siapapun, senantiasa berlaku sopan, lemah-lembut, sabar dan tidak pernah marah walau disakiti. Namun wajah beliau akan berubah merah padam bila melihat atau mendengar kemungkaran atau hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina. Ali bin Abi Thalib RA berkata: “ Rasulullah tidak pernah marah untuk hal duniawi. Beliau marah karena kebenaran. Tidak seorangpun yang mengetahui kemarahannya. Kemarahannya terhadap sesuatu pasti mendatangkan kemenangan baginya.”

Beliau juga suka dan mau mendengar dan menghargai pendapat orang lain walaupun pendapat itu datang dari bawahannya. Demikian pula bila pendapat itu benar dan lebih baik dari pendapat beliau sendiri, beliau bersedia merubah dan mengikuti pendapat tersebut.

Aisyah RA berujar : Ahlak beliau (Rasulullah) adalah Al-Quran.” (HR Abu Dawud dan Muslim).

Yang juga tak kalah pentingnya adalah kecintaan Rasulullah yang begitu besar terhadap umatnya. Pada tahun ke 10 kenabian, Rasulullah pergi berdakwah menuju kota Thaif, sebuah kota di atas bukit tidak berapa jauh dari Mekah. Namun dakwah beliau tidak disambut dengan baik. Beliau bahkan dilempari batu sehingga Rasulullah terpaksa meninggalkan kota tersebut dengan rasa sedih yang amat sangat dan bersembunyi di suatu tempat di Qarn Al-Manazil, kurang lebih 10 km dari Mekah. Ketika itu datanglah malaikat Jibril dan mengabarkan bahwa Allah SWT telah mengutus malaikat gunung guna mengabulkan apa yang dikehendaki Rasulullah. “Wahai Muhammad, katakan apa yang kau mau. Jika engkau mau, akan aku timpakan kepada mereka Al-Akhsyabain ( yakni gunung Abu Qubais dan gunung Qu’ayqa’an)”.

Namun apa jawab Rasulullah ? “ Aku justru berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka anak keturunan mereka yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun”. Demikian pula ketika Rasulullah SAW tengah menghadapi sakratul maut 12 tahun kemudian. Beliau sempat bergumam: “ Ummahku…ummahku…ingatlah yang menyebabkan durhakanya umat Yahudi adalah kaum perempuannya ”. Hal ini menggambarkan betapa Rasulullah amat peduli dan senantiasa memikirkan kelanjutan nasib umatnya. Beliau begitu khawatir jikalau umatnya kelak tersesat padahal beliau sendiri tengah dalam keadaan sakit keras. Begitu besarnya rasa cinta, kasih dan tanggung-jawab beliau terhadap kita, umat Islam.

Berikut pendapat sejumlah orang besar Barat mengenai Rasulullah SAW :

1. Napoleon Bonaparte (Napoleon I), pendiri Empirium Perancis (1769-1821 M).

“ Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat…Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi… Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”…..

( hal 105 dari “Bonaparte et L’Islam oleh Cherfils).

2. Alphonso De Lamartine, sastrawan kenamaan Perancis (1790 – 1869 M).

“ Tidak ada orang selain dia yang dapat menyelesaikan revolusi besar dan kekal di dunia. Sebab dalam waktu dua abad setelah kemunculan Muhammad, Islam menguasai seluruh tanah Arabia, menaklukan Persia, Khurasan, Transoxsania, India Barat, Syria, Mesir, Abesinia, seluruh Afrika Utara yang dikenal pada waktu masa itu, pulau-pulau di Laut Tengah, Spanyol dan sebagian Perancis. Lelaki itu tidak hanya mampu menggerakkan empirium-empirium dan dinasti-dinasti; tetapi iapun sanggup menghimpun berjuta-juta manusia di sepertiga bagian dunia yang dikenal orang pada masa hidupnya……Atas dasar sebuah kitab yang setiap hurufnya menjadi ketentuan hukum ia menciptakan kebangsaan spiritual yang mempersatukan manusia dari berbagai ras dan bahasa. Ia meninggalkan kepada kita karateristik kebangsaan muslimin yang tidak dapat dihapus dan kebencian akan tuhan-tuhan palsu serta kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Esa lagi Ghaib…”.

( hal 276 – 277 dari “ Histoire de la Turqui “ jilid II oleh dirinya sendiri).

3. Goethe , filsuf Jerman. (1794 – 1832 M).

Muhammad membangunkan Persia yang sedang tidur, menginsyafkan Rumawi Timur ( Byzantium ) dan kaum Nasrani di negeri-negeri Timur, agar mereka tidak terus-menerus asyik berdebat dan berpecah-belah akibat filsafat shopites Yunani. Tidak dapat disangkal lagi bahwa para Nabi di dunia ini serupa dengan kekuatan-kekuatan raksasa yang terdapat di alam wujud, yaitu kekuatan-kekuatan yang senantiasa mendatangkan kebajikan bagi umat manusia seperti matahari, hujan dan angin yang menghidupkan tanah kemudian membuat tanah yang tandus dan gersang menjadi penuh dengan tanam-tanaman berwarna hijau. Manusia wajib mengakui kenabian mereka. Tanda-tanda yang membuktikan kebaikan mereka dapat kita lihat dari kenyataan bahwa mereka itu hidup dengan keyakinan, berjiwa tenang dan tentram, bersemangat dan bertekad kuat, tabah dan sabar menghadapi berbagai macam cobaan, tangguh menghadapi kebobrokan mental dan moral masyarakatnya yang pasti akan lenyap bila terus-menerus diberantas dan kehidupan mereka sehari-hari yang tidak putus beribadah dan berdoa…Jika semuanya itu yang diajarkan agama Islam kita semua adalah orang-orang Islam”. ( hal 38 dari “Hadhritul ‘Alamil-Islamiy” jilid I oleh Amir Syakib Arslan, dikutip dari pembicaraan antara Goethe dan sang penulis).

Melalui pribadi sempurna inilah Al-Quran diturunkan. Sebuah Kitab yang dijamin kesucian dan keasliannya, tidak ada perubahan sedikitpun dari awal diturunkannya hingga detik ini. Namun begitu, tidak sedikit pula orang yang memusuhi Rasulullah SAW. Terutama para Orientalis, mereka sebenarnya mau tak mau terpaksa harus mengakui kebesaran beliau. Tetapi harus dicermati, sebenarnya sebagian dari mereka ini tengah berusaha memberikan pemikiran tentang kebesaran Muhammad SAW sebagai manusia biasa, sebagai panglima perang, sebagai pemimpin namun tidak sebagai utusan Allah. Seringkali mukjizat yang dimiliki Rasulullah tidak ditonjolkan. Padahal sebagai seorang utusan Allah mukjizat adalah bukan sesuatu yang mustahil bahkan mutlak.

Qatadah meriwayatkan dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah SAW dan para sahabat membawa wadah air (dalam bepergiannya) lalu beliau meminta wadah tersebut yang didalamnya terisi air. Kemudian beliau meletakkan telapak tangannya didalam wadah tadi maka mengucurlah air diantara jari-jarinya sedangkan semua sahabat berwudhu dengan menggunakan air tersebut. Anas bertanya kepada Abu Hamzah ”Berapa para sahabat yang berwudhu (dengan menggunakan air yang memancar dari jari-jari Rasulullah itu) ?” Abu Hamzah menjawab ”Mereka yang berwudhu lebih kurang 300 orang ”.(HR Bukhari Muslim).

Disamping itu Rasulullah SAW juga diberi kelebihan dengan pandangan yang super tajam. Pandangannya dapat menembus batas langit dan bumi, termasuk apa yang terjadi di alam kubur. Ibnu Abbas meriwayatkan. Ketika Rasulullah berjalan bersama para sahabat melewati dua kuburan, tiba-tiba beliau berkata “Orang yang berada didalam kedua kubur ini tengah disiksa oleh Allah STW. Yang satu berjalan (dimuka bumi ini) dengan suka mengadu domba, adapun yang satu lagi tidak pernah menutupi dari air kencingnya (artinya, percikan dari air kencingnya itu sering kali mengenai tubuh atau pakaiannya, lalu dipakainya pakaian tersebut untuk melakukan shalat tanpa mencuci atau menggantinya terlebih dahulu)”.

Beliau juga mampu menembus pandangan jauh ke masa depan. Itulah sebabnya dalam perjalanan beliau menuju Sidratul Muntaha ketika Miraj’, beliau bertemu dan melihat para Rasul bahkan dapat berkomunikasi dengan Musa as di surga. Padahal ketika itu semua manusia termasuk para Rasul masih dalam penantian di alam kubur.

“ Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu”.(QS.Al-Haaqqah(69):40-47).

Maka sudah sepatutnya pulalah bila Allah SWT memerintahkan kita agar mengikuti sunnah Rasululullah sebagaimana tertuang dalam As-Sunnah atau Al-Hadis yaitu dengan mengikuti ucapan, prilaku dan keputusan yang ditetapkan beliau atas izin-Nya.

“ Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS.An-Nisa(4):64).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 8/2008.

Vien AM.

Ref. HMH Al Hamid Husaini, Riwayat Nabi Besar Muhammad saw.

Read Full Post »

Kekayaan Hati

Alkisah, pada masa kekhalifahan adalah seorang Khadi (Hakim Muslim ) yang selain alim dan shaleh juga kaya-raya. Suatu hari ketika ia sedang mengendarai keledainya di depan pasar, seorang Yahudi miskin menghentikannya. Si Yahudi menegurnya dengan mengatakan apakah Sang Khadi tidak pernah mendengar sabda Rasulullah sebagai berikut :” Dunia adalah bagaikan penjara bagi orang Muslim dan bagaikan surga bagi orang kafir”. Si Yahudi meneruskan perkataannya bahwa itu berarti Sang Khadi bukanlah orang yang mengikuti hadis tersebut karena kenyataannya Sang Khadilah yang kaya raya sedang dirinya sendiri miskin. Namun apa jawaban Sang Khadi? “ Hai Yahudi, ketahuilah maksud hadis tersebut ; bila aku dapat mempertahankan keimananku hingga akhir hayatku, maka hidupku yang seperti sekarang ini adalah bagaikan neraka dibandingkan hidupku di akhirat kelak. Sebaliknya engkau, bila sampai akhir hayatmu engkau tetap kafir dan tidak bertaubat maka ketahuilah, hidup yang sesukamu itu sekarang ini adalah bagaikan surga dibandingkan hidupmu kelak di akhirat.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“.(QS.Al-Fajr(89):15-16).

Ayat diatas menunjukkan bahwa kebanyakan manusia merasa bahwa kemuliaan dan kehinaan itu ditentukan oleh banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki seseorang. Mereka mengira kekayaan, pangkat, ketenaran, kesuksesan,jabatan maupun kecantikan adalah kemuliaan.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.(QS.Ali Imraa(3):14).

Padahal tidaklah demikian. Kehidupan duniawi ini hanyalah fatamorgana, begitu pula halnya dengan kekayaan dan kemiskinan harta benda, ia hanyalah cobaan dan ujian. Hidup yang sesungguhnya adalah di akhirat. Namun hanya sedikit manusia yang mau meyakini hal ini, yaitu orang-orang yang mau menggunakan dan membersihkan hatinya.

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”(QS.Al-Hajj(22):46).

Yaitu orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dengan selalu mengingat keberadaan-Nya dalam segala keadaan, dikala susah maupun dikala senang.

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”.(QS.Al-Anfaal(8:2-3).

“ (Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat”.(QS.Al-Anbiyaa(20:49).

Mereka ini menyadari bahwa hidup di dunia hanya sekejap mata dan suatu ketika ia harus mengembalikan apa yang dititipkan kepadanya baik harta maupun kesenangan kepada-Nya.. Rasulullah bersabda :”Setiap kesenangan di dunia pasti ada puncaknya”.

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.(QS.Yunus(10):12).

Itulah sifat buruk manusia, yaitu kefasikan. Sesungguhnya didalam hati mereka meyakini bahwa ada ‘kekuatan’ lain yang menguasai hidup mereka. Namun karena kesombongan dan keangkuhannya ia tidak mau mengakuinya. Dan pada saat ia tidak sanggup dan tidak berdaya barulah ia memohon pertolongan kepada ‘kekuatan’ itu yang segera akan ditinggalkannya begitu ia terlepas dari kesusahan. Namun demikian sesungguhnya disamping sifat jelek diatas Allah SWT membekali pula manusia dengan sifat baik, yaitu ketakwaan.

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.(QS.As-Syams(91):8-10).

Dan hanya hatilah yang dapat mengatur kedua sifat yang berlawanan ini, yaitu hati yang kaya.

Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan itu adalah dengan kekayaan jiwa”(HR Bukhari-Muslim).

Hati yang kaya adalah hati yang lapang, hati yang mudah memafkan segala kesalahan, hati yang tidak dengki ketika orang lain dalam kesenangan, hati yang tidak suka berbohong, hati yang tidak gemar berburuk sangka, hati yang dapat menjaga kesabaran ketika musibah menghampiri. Mereka yang memiliki hati yang seperti ini hidupnya akan tenang dan dengan demikian memudahkan masuknya iman dan hidayah.

Rasulullah bersabda : “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali silaturahmi dan dirikanlah shalat pada malam hari ketika manusia tertidur, niscaya kamu masuk surga dengan selamat.”

Namun untuk mengetahui benar tidaknya keimanan seseorang, Allah SWT berkehendak untuk menguji keimanan itu terlebih dahulu, apakah ia berdusta atau tidak.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.(QS.Al-Ankabuut(29):2-3).

Sebaliknya hati yang sempit adalah hati yang sombong, hati yang tidak peka terhadap lingkungan, hati yang buta. Hati yang seperti ini tidak sanggup melihat peringatan yang diberikan-Nya. Dan Allahpun berlepas diri dari orang-orang seperti ini. Orang-orang ini akan terus dimanjakan dengan segala kesenangan duniawi sesuai dengan yang diinginkannya,itulah istidraj. Hingga pada suatu waktu yang tidak diperkirakannya Allah menampakkan kekuasaan yang telah mereka abaikan dengan direnggutnya semua kesenangan itu dengan sekonyong-konyong. Dan itulah orang-orang yang merugi, tempat mereka kembali adalah neraka jahanam.

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” ..(QS.Al-An’am(6):44)

Sedangkan orang-orang yang memiliki kekayaan hati, surgalah tempat mereka kembali.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”.(QS.Al-Fajr(89):27-30).

Walahu’alam.

Jakarta, 13/3/2007

Vien AM.

Read Full Post »

Minggu, 25/5/2008 sekitar pukul 07.00 waktu Jeddah, pesawat dengan no penerbangan RJ 701 jurusan Amman dari Jeddah, Arab Saudi itu lepas landas. Setelah mengudara kurang lebih 2 jam lamanya, maka pesawatpun mendarat di lapangan terbang Queen Alia di Amman, Yordania. Dengan menggunakan bus resmi milik pemerintah Yordania yang dikemudikan oleh seorang sopir berseragam militer Yordania ( ?celana dan kemeja biru + pangkat di bahu) perjalanan langsung berlanjut. Bus melaju pasti menuju Yerusalem, yang diaku oleh Israel.

Setelah lolos dari pemeriksaan rutin di perbatasan oleh pihak pemerintah Yordania, bus terus berjalan mendekati ‘check point’ di Allenby Bridge. Menjelang memasuki daerah ini, kedua orang guide, baik guide lokal berkebangsaan Palestina maupun guide dari Travel tanah air, kembali mengingatkan untuk tidak memotret dan merekam daerah tersebut. Dari kejauhan terlihat banyak sekali gardu-gardu pos penjagaan bertiang tinggi lengkap dengan kamera pengintai dan senapan panjangnya. Dengan rasa was-was kami terus berdoa memohon kemudahan kepada Allah swt, semoga kami lolos dari pemeriksaan.

Bus berhenti sejenak di sebuah pos penjagaan. Dari balik pos tersebut tampak seraut wajah lumayan cantik namun dingin tak ber-ekspresi. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan terhadap pengemudi bus, bus berjalan kembali. Tak lama kemudian, kami tiba di tempat pemeriksaan. Terlihat beberapa orang sipil berkaca-mata gelap dengan menenteng senapan dan pistol di pinggang berjalan mondar-mandir. Di depan tempat tersebut digantungkan spanduk berukuran raksasa, mengumumkan sebuah nama Islami yang di’wanted’!

Kami semua harus turun dari bus, tak terkecuali semua barang bawaan termasuk air zam-zam!( kami melakukan perjalanan ini memang setelah ibadah umrah ). Dengan super teliti kami diperiksa satu persatu ( oleh petugas yang hampir kesemuanya perempuan yang memasang wajah angker !). Selanjutnya kami memasuki babak pemeriksaan surat-surat keimigrasian. Disini kami di uji kesabaran dalam menanti giliran pemeriksaan. Sebelumnya kami telah diingatkan, bahwa beberapa kemungkinan bisa terjadi. Pemeriksaan 1 jam, 2 jam, 3 jam atau lebih dan yang terparah bisa saja ditolak masuk!

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah ternyata kami hanya menghabiskan waktu 3 jam ditempat tersebut. Rupanya hanya orang-orang muda dan mereka yang mempunyai nama berbau Islam sajalah yang dihambat, mereka dianggap bermasalah. Mereka ini bolak balik di interogasi dengan berbagai pertanyaan. Tampaknya mereka ingin memastikan bahwa anak-anak muda tersebut tidak memiliki hubungan apapun dengan orang-orang yang mereka aggap teroris. Yaah begitulah bila orang suka menzalimi orang lain, bawaannya curiga teruus… dan akhirnya jadi Paranoid…

Kawasan Haram Asy-Syarif

Kawasan Haram Asy-Syarif

Setelah makan siang/sore di Jericho, sekitar pukul 4 kami memasuki Yerusalem Timur. Yerusalem adalah sebuah kota yang terletak di atas bukit Zaitun. Dan Masya Allah, dari kejauhan tampak jelas areal Haram as-Syarif yang selama ini hanya kami lihat fotonya saja. Dome Of the Rock / Qubbah As-Sakrah  dengan kubah emasnya dan Masjid Al- Aqsho’ yang berkubah kebiruan disebelah kirinya. Kawasan ini di kelilingi tembok kuno tinggi dan terletak lebih tinggi dari bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Kawasan ini sekaligus menjadi pemisah antara Yerusalem Barat dan Yerusalem Timur.

Perhatikan perbedaan antara Qubbah As-Sakrah dan Al- Aqsho’ karena saat ini sebagian besar Muslim tidak mengetahuinya dengan pasti.

(Click:  http://www.youtube.com/watch?v=_mQ6kYEfiXA&feature=player_embedded ).

Sebelum tahun 1967, yaitu pada peristiwa perang 6 hari / The Six Day War, sebelah barat dikuasai Israel dan sebelah timur dibawah otoritas Yordania. Sekarang secara illegal keduanya berada dibawah Israel karena berdasarkan sebuah resolusi internasional Israel seharusnya mundur dari daerah yang dijajahnya pada tahun 1967 tersebut. Ironisnya , dikabarkan bahwa pada tahun 1980 pemerintahan tersebut secara sepihak malah mengumumkan bahwa Yerusalem secara keseluruhan adalah ibu kota Israel ! Padahal rakyat Palestina sejak lama mendambakan Yerusalem Timur ini sebagai ibu kota wilayah mereka.

Kami baru memasuki kawasan Haram As-Syarif setelah ziarah ke makam Salman Al-Farisi, seorang sahabat yang banyak memberikan andil dalam sejarah Islam. Makam tersebut memang terletak tak begitu jauh dari kawasan Haram As-Syarif. Namun tampaknya, ada suatu hikmah yang ingin disampaikan sang guide. Salman Al-Farisi adalah orang Parsi (sekarang Irak, Iran dan sekitarnya). Sebagaimana penduduk daerah tersebut, mulanya Salman adalah seorang penganut Majusi, penyembah api. Melalui perjalanan panjang mencari sebuah kebenaran, akhirnya ia memeluk Islam.

Darinya Rasulullah menerima usulan dibangunnya parit pertahanan Madinah ketika orang-orang Quraisy yang bersekongkol dengan Yahudi Madinah serta beberapa suku lainnya berniat menyerang Madinah. (Itu sebabnya selain disebut Perang Ahzab (perang gabungan) perang ini dinamakan juga Perang Parit). Ketika itu banyak sahabat yang mempertanyakan kebijakan Rasulullah dalam menerima usulan yang dianggap datang dari orang asing (Parsi). Namun dengan bijaksana, Rasulullah menerangkan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara. Masing-masing tidak boleh merasa lebih dan berbeda. Inilah rupanya perasaan dan semangat yang ingin ditularkan sang guide, Mr Karim, ketika kami memasuki kawasan Al-Aqsho’ nanti.

Dome of the Rock dengan kubah emasnya

Peta Kota Tua Jerusalem Timur

Peta Kota Tua Jerusalem Timur

Maka sekitar pukul 5 sore, akhirnya kamipun memasuki kawasan ini. Kami masuk melalui satu-satunya pintu gerbang (dari 8 pintu yang dimiliki) yang dibuka untuk umum, yaitu The Lion’s Gate/St Stephen Gate. Itupun setelah melalui penjagaan ketat polisi Israel! Kami melaksanakan shalat tahiyatul masjid, lalu shalat Zuhur dan Ashar yang di jama’, di Qubbah As-Sakrah. Inilah kiblat pertama umat Islam sebelum Ka’bah di Makkah ditentukan sebagai kiblat seluruh umat Islam.

Mulut gua batu terbang

Mulut gua batu terapung

Bagian dalam kubah As-Sakrah sedang di renovasi

Bagian dalam kubah As-Sakrah yg sedang di renovasi

Tak tampak adanya jemaah ataupun pengunjung lain selain kami di dalam masjid ini. Disana kami melihat dengan mata kepala sendiri batu As-Sakrah, batu terapung di bawah kubah Emas yang diyakini sebagai tempat Mi’rajnya Rasulullah saw ke Sidratul Muntaha di langit. Dibawah batu tersebut terdapat sebuah tempat mirip gua yang tak seberapa luas. Dikabarkan didalam gua inilah Rasulullah beserta para nabi melaksanakan shalat sebelum Mi’raj. Didalam gua kami menjumpai sejumlah gadis remaja Palestina sedang belajar mengaji. Batu raksasa tersebut sebenarnya menyembul hingga ke lantai di atasnya, tepat di bawah kubah masjid. Sayang ketika itu sedang ada renovasi.

Bagian dalam Masjid Al-Aqsho

Bagian dalam Masjid Al-Aqsho

2008-05 Umrah_67

Bagian depan Al-Aqsho, berfoto dengan guide kami

kubah masjidil Aqsho

kubah masjidil Aqsho

Setelah itu, kami menuju Masjdil Al-Aqsho’. Masjid ini terletak di sebelah selatan As-Sakrah di dalam pelataran yang sama, jaraknya lebih kurang hanya sekitar 30 meter. Diantara keduanya terdapat pelataran dan taman dengan sebuah gapura serta kolam untuk berwudhu dengan kursi-kursi kecil terbuat dari batu. Masjid ini terlihat lebih terawat dari pada Qubbah As-Sakrah.

Kami melaksanakan shalat Magrib pada awal waktu secara berjamaah bersama imam masjid dan Muslim Palestina. Jumlah mereka cukup banyak demikian pula Muslimahnya. Dikabarkan pada setiap shalat jumat, Masjid ini dipenuhi oleh Muslimin hingga seluruh pelatarannya, sementara kaum Muslimah turut berjamaah di Qubbah As-Sakrah. Namun pada waktu-waktu tertentu, acapkali pihak otoritas Israel melarang warga Palestina yang berusia diantara 17-40 tahun untuk memasuki kedua masjid! Padahal rumah mereka hanya dibatasi tembok saja ….

Di malam hari, udara di pelataran yang dihiasi dengan lampu-lampu taman ini sangat sejuk. Tak tampak bahwa kota ini menyimpan berbagai permasalahan dan kekerasan. Begitu pula ketika pada pagi dan siang harinya kami pergi menuju Bethlehem, tidak terlihat adanya tanda-tanda tersebut. Rumah-rumah tertata apik dan asri dengan jalan-jalan besar beraspal mulus nan bersih. Mobil-mobil sedan mewah berbagai merk dari Jepang berseliweran. Yang mencolok mata, hanya adanya bendera-bendera Israel yang kelihatannya secara provokatif dipajang di hampir semua rumah sepanjang jalan yang dilalui. Rumah-rumah indah bertembok putih itu memang telah lama berganti penghuni. Mereka adalah para Yahudi penyerobot rumah si empunya tanah!

Sementara sebagian besar pemilik tanah, yaitu orang Palestina, terutama Muslim Palestina tinggal di lorong-lorong sempit di dalam tembok Yerusalem Timur. Bahkan yang menempati kamp-kamp pengungsi diluar tembok dikabarkan lebih menyedihkan lagi keadaannya… Bahkan untuk melaksanakan shalatpun mereka terpaksa melakukannya di jalanan.

Wilayah yang direbut Israel pada perang 6 hari di tahun1967 adalah kawasan Tepi Barat / West Bank yang berbatasan langsung dengan Yerusalem barat. Wilayah ini terdiri dari 28 kota dan perkampungan Palestina, diantaranya adalah Yerusalem Timur, Bethlehem, Yericho, Hebron dan Ramalah. Pemerintah Israel secara mencolok membangun banyak sekali checkpoint. Setiap kali melewati checkpoint, pihak militer Yahudi melakukan pemeriksaan terhadap semua orang terutama rakyat Palestina. Saat ini sekitar 250.000 rakyat Palestina tinggal di Yerusalem Timur. Mereka ini dikenai pajak dan dianggap sebagai penduduk walaupun mereka bukan warga negara Israel. Pemerintah Israel memperlakukan mereka dengan sangat berbeda. Air dan pasokan listrik yang merupakan kebutuhan utama sangat minim dan dibatasi pula.Walaupun tempat tinggal mereka sebenarnya berdekatan namun mereka sama sekali tidak bersentuhan.

Sejak tahun 2003 pemerintah Israel mulai membangun sejumlah tembok yang memisahkan pemukiman Palestina dari pemukiman Yahudi. ( click here : http://www.bethlehemassoc.org/sub_pages/TheWallinBethlehem.htm). Walaupun Mahkamah Internasional telah mengeluarkan perintah untuk menghentikan proyek yang dinilai melanggar HAM, Israel tetap meneruskannya dengan dalih bahwa tembok didirikan untuk melindungi warga Yahudi dari serangan bom bunuh diri warga Palestina. Namun sejatinya tembok-tembok tersebut telah memblokir penduduk Palestina dari kegiatan di dalam kota! Ini adalah salah satu cara Israel memperluas tanah jajahan mereka.

Dengan adanya pembatas ini, rakyat Palestina tidak dapat melaksanakan kegiatan sosial sehari-hari mereka dan pada akhirnya ekonomi merekapun berantakan. Untuk pergi bekerja, berusaha, bersekolah bahkan untuk berobatpun rakyat Palestina harus memutar puluhan km jauhnya. Saat ini tembok raksasa sepanjang hampir 400 km dari rencana 650 km telah berdiri tegak memisahkan Yerusalem Timur, dimana Masjid Al-Aqsho’ dan Masjid As-Saqroh berada didalamnya, dari Tepi Barat. Inilah cara Israel mencaplok Yerusalem Timur, areal Haram Asy-Syarif khususnya, yang memang menjadi target utamanya. Kepercayaan Yahudi mengatakan bahwa berdirinya kembali Bait Allah diatas areal ini akan mempercepat datangnya Sang Messiah, Al-Dajjal!

Banyak cara yang digunakan Israel untuk mengusir rakyat Palestina dari negrinya sendiri baik secara halus maupun kasar dengan secara sistimatis pula. Karim, guide kami, sebagai penduduk Bethlehem menceritakan bahwa keluarganya sejak puluhan tahun tidak mendapatkan hak meninggalkan kota mereka. Apalagi saat ini, setelah otorita Israel membangun tembok sepanjang 8 km mengelilingi Bethlehem, mereka makin terkurung di dalam kota. Hanya orang-orang berprofesi seperti dirinya, yaitu guide, yang masih mendapatkan kesempatan keluar kota. Itupun dengan izin otoritas Israel yang harus diperbarui setiap 3 bulan ! Bayangkan , bagaimana mereka harus mencukupi kebutuhan hidup mereka?

Yerusalem Timur

Yerusalem Timur

Otoritas Israel juga memberlakukan peraturan bahwa turis dilarang bermalam di Yerusalem Timur maupun Bethlehem. Dengan cara tersebut kedua kota ini tidak mendapatkan keuntungan dari kunjungan turis. Padahal jumlah turis di kota yang menjadi tempat suci ke tiga agama besar di dunia tersebut tidak terhitung banyaknya. Itu sebabnya kami hanya dapat mengunjungi Masjid Al Aqsho’ dan shalat didalamnya sekali saja. Padahal jauh-jauh kami datang karena shalat didalam masjid tersuci ketiga ini balasannya 500 kali lebih besar dari shalat di masjid lain! Yaah,nasib…. itu semua gara-gara Yerusalem tidak berada dibawah kekuasaan Muslim..

“Sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada sholat di masjid-masjid lainnya. Sholat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan sholat di Masjidil Aqsa lebih utama lima ratus kali lipat.” (HR Ahmad dari Abu Darda).

Catatan penting:

Selama dalam perjalanan kami dapati ratusan bahkan mungkin ribuan pohon yang kelihatannya baru ditanam.  Anehnya pohon-pohon tersebut dari jenis yang sama. Mengapa hanya satu jenis , pikir saya dalam hati. Pohon apakah itu? Jangan2 ….

” Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka, sehingga bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau pohon, kemudian batu dan pohon itu berkata:” Wahai Muslim , wahai hamba Allah, ini orang yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia”, kecuali pohon gharqad, karena sesungguhnya pohon itu adalah pohon Yahudi “. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ya Allah, semoga mereka salah tanam….  semoga itu bukan pohon Gharqad yang dimaksudkan-Nya…

Untuk itu secara serius mereka memasarkan penjualan pohon-pohon tersebut ke seluruh pelosok dunia melalui web berikut : http://www.treesfortheholyland.com/order/ dan memberikan sertifikat sebagai tanda terima-kasih mereka ! Hebat bukan ….

Kabar terakhir:

( 22/11/2009) Israel, tanpa peduli terhadap reaksi negatif dunia, mulai membangun 3000 bangunan tempat tinggal warga Yahudi di Yerusalem Timur. Dan demi tercapainya ambisi besar mereka untuk membangun kembali Bait Yahudi yang pernah ada ribuan tahun silam, kini sebuah terowongan telah berdiri di bawah kawasan Haram Asy-Syarif. Terowongan ini jelas sangat beresiko merusak fondasi bangunan diatasnya.

( Click here :

https://www.youtube.com/watch?v=hmb8PGgbx8g

http://www.metacafe.com/watch/411371/in_search_of_tunnels_under_the_dome_of_the_rock/

(4/3/2014)

– Pemerintah Israel mengusulkan secara resmi agar orang Yahudi diizinkan memasuki Al-Aqsho 3.5 jam/hari, dengan dijaga polisi Israel .

– Uni Eropa meski tidak secara resmi, mulai berpikir bahwa Israel selayaknya di boikot secara ekonomi karena pada dasarnya kedudukan mereka di tanah Palestina adalah illegal! Yaah, semoga saja bukan gertak sambal belaka …

– Pemerintah Israel mengatur seberapa keras azan di seluruh pelosok masjid di Yerusalem boleh berkumandang, dengan alasan agar tidak mengganggu ketenangan warga Yahudi yang belakangan makin memenuhi kota, mendesak pemukiman warga Palestina yang telah ribuan tahun menetap di kota tersebut.

Jakarta, 19/6/2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Kata Islam berasal dari akar kata Salima yang berarti selamat, damai, sentosa. Sedangkan Islam adalah berarti tunduk, patuh, berserah diri, menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah SWT, Sang Pemilik, Sang Pencipta Alam Semesta dan segala isinya, agar tercapai keselamatan dan kedamaian di muka bumi. Oleh karenanya perintah utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi dan Rasul kepada umat manusia sejak zaman nabi Adam as hingga Rasulullah Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman, tidak pernah berubah yaitu memurnikan ketundukkan, penyembahan dan penghambaan hanya kepada-Nya, tidak ada yang selain-Nya. Ini adalah ajaran Tauhid. Jadi sesungguhnya semua agama yang diturunkan melalui perantaraan para Nabi dan Rasul pada dasarnya adalah satu, yaitu Islam. Yang berbeda hanyalah syariat, cara penyembahan, yang sesuai dengan zaman dimana Sang Rasul diturunkan ditengah masyarakatnya.

Yang disebut Islam yang dikenal sekarang ini adalah agama Islam yang diturunkan melalui Rasulullah Muhammad SAW 14 abad silam dengan kitabnya Al-Qur’an. Didalam kitab ini diterangkan bahwa Muhammad SAW adalah nabi penutup yang diutus untuk seluruh umat yang ada di dunia ini. Allah SWT tidak akan mengutus lagi seorangpun Nabi maupun Rasul setelah itu. Artinya syariat yang dikehendaki dan diridhoi setelah adanya ajaran Muhammad SAW hingga akhir zaman nanti hanyalah ajaran yang dibawanya tersebut. Sedangkan ajaran dan syariat yang dibawa para Nabi dan Rasul terdahulu hanya berlaku untuk masa yang telah lalu dan umat tertentu pula.

Para Nabi dan Rasul ini mengajarkan bahwa dibalik kehidupan di dunia ini terdapat kehidupan akhirat. Semua kitab yang dibawa para utusan tersebut menerangkan hal ini dengan sangat jelas.

”dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.
(QS.Al-Baqarah(2):4-5).

Ironisnya, kehidupan akhirat ini jauh lebih kekal daripada kehidupan dunia. Dan kehidupan akhirat terbagi dua, yaitu surga dan neraka. Surga adalah kehidupan yang menyenangkan dan penuh kenikmatan sebaliknya neraka adalah kehidupan yang penuh kesengsaraan, penuh siksaan dan penderitaan. Celakanya lagi, kehidupan dunia inilah yang menentukan kehidupan akhirat nanti, tentu saja atas izin-Nya.

Maha Suci Allah, Ia tidak menginginkan hambanya masuk neraka. Sesungguhnya neraka dan siksaan yang ditunjukkannya hanyalah ancaman dan peringatan agar hamba-Nya berhati-hati dalam menjalani kehidupan dunianya, agar ia tidak tersesat dengan hanya mengikuti hawa nafsu serta menuruti godaan syaitan terkutuk. Untuk itulah Ia mengutus para Nabi dan Rasul lengkap dengan Kitab Petunjuknya. Dan untuk itu pula Allah SWT memerintahkan para utusan-Nya untuk memerangi hamba-hamba-Nya yang tersesat, bila mereka tidak mau dan tidak bisa didakwahi secara baik-baik. Itu semua demi keselamatan hamba yang dicintai-Nya dari siksa neraka yang sangat mengerikan!

Rasulullah SAW berdakwah di Makkah secara sembunyi-sembunyi 3 tahun lamanya. Setelah itu turun ayat agar beliau berdakwah secara terang-terangan. Namun ajakannya menuju kebaikan, menuju penyembahan Tauhid yang benar, tidak disambut dengan baik. Sebaliknya Rasulullah dan para sahabat malah diejek, dilecehkan dan dianiaya. Sejumlah sahabat seperti Sumayyah dan suaminya disiksa kemudian dibunuh. Siksaan demi siksaan terus ditingkatkan. Kaum musyrikin yang keras kepala tersebut bahkan melakukan pemboikotan. Selama 2 atau 3 tahun para sahabat hidup dalam kesulitan baik dalam hal makanan dan minuman maupun berinteraksi dengan dunia luar. Padahal mereka tidak berbuat kejahatan, mereka hanya ingin memurnikan penghambaan dan penyembahan kepada yang berhak. Bahkan Rasulullahpun tidak luput dari ancaman pembunuhan sehingga akhirnya kaum Muslimin terpaksa menuju Madinah meninggalkan kota kelahiran mereka, Makkah, kota dimana mereka mencari nafkah kehidupan.

Namun di kota baru tersebut, kaum Muslimin tetap tidak dapat hidup dengan tenang. Kali ini kaum Yahudi yang banyak menempati wilayah-wilayah tertentu di Madinah, ikut memusuhi kaum Muslimin. Mereka merasa benci dan dengki karena Sang Mesiah, utusan yang dijanjikan dalam kitab mereka, ternyata bukan datang dari kalangan mereka, melainkan dari bangsa Arab yang selama ini mereka lecehkan. Perjanjian Madinah yang isinya antara lain saling menghormati ajaran masing-masingpun mereka langgar. Orang-orang Yahudi ini malah memprovokasi penduduk Makkah dan sekitarnya agar mereka bersatu menyerang dan mengenyahkan ajaran Islam yang baru tumbuh tersebut. Akhirnya muncullah peperangan demi peperangan : Perang Badar, Perang Uhud, Perang Parit, Perang Khaibar dan sebagainya.

Perang yang mendapat izin dari-Nya mulanya memang hanya untuk mempertahankan diri. Kemudian setelah Islam berdiri tegak, perang diperintahkan dengan tujuan menghilangkan penyembahan terhadap berhala dan kembali ke ajaran Tauhid. Tetapi dengan syarat pihak yang akan diperangi harus didakwahi terlebih dahulu secara damai. Bila mereka menolak dan ingin tetap pada pendiriannya semula, mereka tidak boleh menghalangi apalagi mengganggu ajaran Islam. Jika ia berada di bawah kekuasaan pemerintahan Islam, orang-orang seperti itu tetap berhak mendapat hak perlindungan. Namun sebagai gantinya mereka harus membayar jiziah. (zakat bagi penduduk Muslimin). Tetapi bila mereka menolak apalagi mengganggu dan menghalangi ajaran Islam maka mereka wajib diperangi. Namun demikian perempuan, anak-anak, orang tua bahkan tanamanpun dilarang untuk dihancurkan kecuali karena sebab-sebab khusus.

” Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah”.(QS.Al-Anfal(8):39).

Tetapi harus diingat, perang dalam Islam bukan untuk kepentingan politik, kelompok, ras maupun golongan tertentu. Perang adalah pilihan terakhir demi tercapainya masyarakat yang adil, damai, tunduk dan patuh terhadap aturan Sang Pemilik Yang Tunggal. Jadi tujuan perang bukan untuk mencari korban dan asal membunuh saja. Hal ini jelas tercermin dari jumlah korban selama peperangan yang terjadi pada masa hidup Rasulullah. Tercatat selama 23 tahun itu telah terjadi kurang lebih 20 perang besar. Dr. Muhammad Imarah, seorang cendekiawan Muslim Mesir terkenal melakukan penelitian. Ternyata jumlah korban yang jatuh selama itu hanyalah 386 orang saja, baik dari pihak Muslim maupun pihak musuh. Bandingkan dengan perang saudara antara Katholik vs Protestan yang terjadi selama 30 tahun antara 1618-1648. Perang ini menelan korban jiwa 10 juta orang! Menurut Voltaire, seorang filsuf Perancis yang hidup antara tahun 1694-1778 jumlah tersebut sama dengan jumlah 40% penduduk Eropa Tengah pada abad pertengahan. Bandingkan juga dengan jumlah korban yang tewas paska lahirnya UU Indian Removal Act tahun 1830 yang menyebabkan 70.000 orang Indian tewas dan terusir dari tanah airnya sendiri. Atau bandingkan dengan jumlah korban bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945 yang jumlahnya mencapai ratusan ribu.

“Demi Allah, wahai paman! sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini”.

Itu yang diucapkan Rasulullah SAW ketika Abu Thalib, sang paman yang selama itu senantiasa melindunginya, menganjurkan agar beliau mau menghentikan syi’ar karena ia merasa tak mampu terus menerus melindungi keponakan tercintanya karena ia sendiri terus ditekan para pemuka Quraisy. Ajakan ini pulalah yang terus dikumandangkan para utusan Allah sejak dahulu kala, agar manusia terhindar dari siksa api neraka.

” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”.(QS.Asy-Syuara’(26):107-109).

Sayangnya, kebanyakan orang tidak mau lagi memikirkan Hari Akhirat. Kecintaan terhadap dunia yang berlebihan serta takut akan mati membuat pandangan dan pikiran menjadi picik dan sempit. Kebebasan berpendapat dan segala macam ideologi yang hanya sebatas pada kepentingan yang sifatnya duniawiyah dan hanya menguntungkan kelompok tertentu terus bermuncullan. Padahal hukum yang seperti ini akhirnya hanya akan memunculkan Hukum Rimba, siapa kuat dialah yang menang. Sungguh orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang merugi dan sangat patut di belas-kasihani.


Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 4/4/2008.
Vien AM.

Read Full Post »

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak pernah khusu’(tenang), doa yang yang tidak didengar dan dari nafsu yang tidak pernah puas”

Begitulah bunyi salah satu doa yang diajarkan Rasulullah dalam mencari ilmu. Namun ilmu yang bagaimanakah yang dimaksud Rasulullah tidak berguna itu? Mu’adz bin Jabal, salah seorang sahabat meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Pelajarilah ilmu, sebab mencari ilmu karena Allah adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya tasbih, mengkajinya adalah jihad dan mengajarkannya adalah sedekah. Dengan ilmu seorang hamba sampai pada kedudukan orang-orang baik dan tingkatan paling tinggi. Memikirkannya setara dengan berpuasa dan mengkajinya sama dengan menegakkan shalat. Dengannya Allah ditaati, disembah, di-Esa-kan dan ditakuti. Dengannya pula tali silaturahmi diikatkan. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Dengannya Allah mengangkat bangsa-bangsa lalu Dia menjadikan mereka pemimpin, penghulu dan pemberi petunjuk pada kebajikan karena ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan,cahaya dari kezaliman dan kekuatan tubuh dari kelemahan.” Dalam hadits lain Rasulullah bersabda :” Aku bertanya pada Jibril,’Apakah kepemimpinan itu?’ Jibril menjawab, ‘Akal”.

Dari kedua hadis diatas maka dapat disimpulkan bahwa ilmu yang bermanfaat yang dimaksud Rasulullah itu adalah ilmu yang dicari karena mengharap ridho Allah SWT dan yang disebabkannya seseorang menjadi bertambah dekat kepada-Nya. Al-Khalil bin Ahmad berkata, “Manusia itu ada empat: Pertama, yang tahu dan tahu bahwa ia tahu. Ia adalah alim, maka ikutilah. Kedua, yang tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tahu. Ia adalah orang yang tertidur, maka bangunkanlah. Ketiga, yang tidak tahu dan tahu bahwa ia tidak tahu. Ia adalah orang yang mencari bimbingan, maka ajarilah. Keempat, yang tidak tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Ia adalah orang bodoh, maka waspadailah.”. Sedangkan Al-Ghazali berkata, “Barangsiapa yang kehilangan ilmu, maka hatinya akan sakit dan mati. Ia tidak menyadarinya karena kesibukan dunia mematikan perasaannya. Jika kesibukan itu menampakkan kematian maka ia merasakan sakit yang pedih dan penyesalan yang tiada akhir.” Ucapannya itu dimaksudkan dalam menafsirkan hadis berikut : “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”.

” Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.(QS.Qaaf(50):22).

Saat ini ilmu pengetahuan telah berkembang dengan amat pesat. Berbagai cabang ilmupun banyak dipelajari orang. Kita bahkan dapat dengan mudah mengikuti perkembangan dunia hanya dengan duduk didepan televisi. Namun apakah dengan adanya berbagai penemuan itu hidup menjadi mudah, tenang dan damai? Bukankah salah satu tujuan memperdalam ilmu agar kwalitas hidup meningkat? Kenyataannya dimana-mana masih terlihat berbagai kasus mulai kelaparan, kemiskinan, bunuh diri hingga penyakit fisik seperti demam berdarah, kanker, AIDS, chikungunya, flue burung dan yang terbaru liptospirosis, maupun penyakit mental seperti penyimpangan prilaku seksual seperti pemerkosaan, pedofili dan homoseksual. Juga munculnya berbagai masalah dunia seperti peperangan, isu nuklir, pemanasan global, krisis energi hingga adanya perubahan iklim, rusaknya lapisan Ozon, naiknya permukaan laut yang semuanya itu sebagai akibat dari pencemaran udara disebabkan makin tingginya konsentrasi gas rumah kaca (CO2 gas buang baik dari kendaraan maupun pabrik), diexploitasinya perut bumi secara berlebihan dan juga musibah banjir yang disebabkan penebangan liar dan pembuangan sampah yang sembarangan kemudian juga ekonomi yang tidak berpihak kepada kaum lemah. Lalu dimanakah manfaat berbagai lmu mereka itu?

Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah bumi dan sebagai konsekwensinya ia harus mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya itu kepada Sang Pemberi mandat dan dengan demikian manusia juga sekaligus adalah hamba Allah. Sebagai khalifah bumi ia diberi kebebasan untuk mengelola dan memanfaatkan bumi agar hidupnya menjadi mudah dan tenang namun dengan syarat tidak merusak keseimbangan alamnya. Allahlah yang telah menetapkan segala hukum sebab-akibat yang ada di alam ini.

“………… dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS.Al-Fushilat(28):77).

Tampaknya inilah yang sedang terjadi saat ini. Alam menjadi murka karena manusia tidak lagi memegang amanah yang dipikulkan kepadanya yaitu untuk memelihara dan menjaga keseimbangan alam. Kerusakan terjadi karena ulah manusia. Maka atas izin-Nya akibatnya harus kita terima. Untuk itulah manusia harus berilmu. Dan hanya dengan akal dan keimanan sajalah manusia akan berhasil menggali ilmu yang menuju kebenaran. Manusia diberi kebebasan untuk memilih, kebahagiaan dunia saja, kebahagiaan akhirat saja atau yang paling tinggi derajatnya yaitu kebahagiaan dunia-akhirat. Ini yang paling disukai-Nya.

“………Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat……..”. (QS.Al-Mujadillah(58:11).

Salah satu sifat Allah SWT yang harus kita imani adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ar-Rahman atau Maha Pengasih ini diberikan-Nya kepada seluruh mahluk ciptaannya tanpa kecuali sedangkan Ar-Rahim atau Maha Penyayang hanya diperuntukkan bagi umatnya yang mau tunduk kepada perintah-Nya, yaitu kaum muslimin( kaum yang berserah–diri ). Hukum alam atau Sunatullah, yaitu kunci yang memperlihatkan hukum sebab-akibat atas aturan-aturan Allah SWT agar manusia dapat mengenal dan menaklukkan alam adalah salah satu nikmat dan bukti ke-ArRahman-anNya. Itulah sebabnya semua orang, baik muslim atau bukan, yang mau berusaha mencari ilmu berdasarkan hukum alam yang banyak tersebar di muka bumi ini, atas izin-Nya, akan mendapatkan kemudahan dan kesenangan dunia. Sebaliknya bagi ilmuwan muslim, kemudahan dan kebahagiaan dunia adalah ‘bonus’ karena tujuan utama seorang muslim adalah kebahagiaan akhirat. Karena seorang muslim menyadari bahwa dunia adalah jembatan menuju suatu tujuan, sedang tujuan adalah akhirat yang mempunyai dua ujung yaitu surga dan neraka.

“ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi ……”(QS.Al-Fushilat(28):77).

Al-Ghazali mengingatkan, seseorang hendaknya menuntut ilmu tidak hanya sekedar kebutuhan melainkan harus hingga tuntas, hingga sampai kepada hakekat atau inti ilmu tersebut. Karena hanya dengan inti ilmu inilah seseorang akan mencapai suatu tingkat penyingkapan akan rahasia dan kebesaran Sang Maha Pencipta, Allah azza wa jalla. Itulah keutamaan ilmu karena puncak ilmu adalah pengenalan Allah SWT. Dengan ilmu manusia dapat lebih merasakan sekaligus mengagumi kekuasaan dan kebesaran-Nya. Rasulullah bersabda:” Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia akan bertambah jauh dari Allah.”

Ilmu yang hanya dimaksudkan untuk memperoleh kekuasaan, harta dan pangkat tidak akan sampai kepada hakekat hidup yang sebenarnya. Menurut Al-Ghazali pengetahuan indrawi tunduk dibawah ilusi dan kesesatan. Sebagai contoh, ia mengemukakan betapa matahari dan bintang-bintang di langit terlihat begitu kecil, ia hanya bagaikan dinar dinar yang berserakan di atas hamparan kebiruan padahal sesungguhnya ia adalah benda raksasa di langit, bahwa apa yang diterima oleh mata adalah hanya bayangan terbalik, bagaimana fatamorgana telah menipu penglihatan. Bukankah penglihatan kita ini terbentur hanya sebatas dinding atau paling jauh hanya sebatas cakrawala? Demikian pula seluruh panca-indra kita, sesungguhnya ia hanya memiliki kemampuan yang amat sangat terbatas. Oleh sebab itu, masih menurut Al-Ghazali, pengetahuan indrawi patut diragukan kebenarannya.

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. ……(QS.An-Naml(27):88).

Bagaimana pula halnya dengan pengetahuan rasional berdasarkan akal? Seperti diketahui, sains berkembang melalui pengamatan, penelitian dan berbagai percobaan berdasarkan data yang ditangkap oleh pancaindera baik langsung maupun dengan bantuan alat deteksi karena manusia memang tidak memiliki kemampuan melihat yang ghaib. Namun karena sains telah sejak lama dikuasai oleh bangsa Barat yang sebagian besar Atheis, yang tidak mempercayai yang ghaib, yang tidak meyakini keberadaan Allah dan tidak menjadikan Al-Quran sebagai pegangan maka sains berkembang hanya sebatas akal mereka saja.

Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran”.(QS.An-Najm(53):28).

Padahal sebagai ganti atas keterbatasan indera dan akal manusia, Allah SWT telah memberikan kita hati. Dan hati yang senantiasa bersih akan selalu siap menerima cahaya ilahi. Dengan bantuan cahaya inilah manusia akan dibimbing untuk menemukan dan mengenal kebenaran yang hakiki. Namun hati perlu dirawat, ia bagaikan cermin yang harus selalu dibersihkan. Dengan apa ia harus dibersihkan? Tentu saja bukan dengan lap yang kotor karena hal tersebut hanya malah akan membuat cermin menjadi buram sehingga pantulan yang diberikanpun menjadi tidak sesuai dengan kebenaran. Itulah perumpamaan ilmu yang sesat. Namun sebaliknya bila sekarang ini ada temuan sains yang terlihat bertentangan dengan teks Al-Quran, sebenarnya ada dua kemungkinan. Yang pertama mungkin data atau informasi yang didapat para ilmuwan belum tepat, sedang yang kedua mungkin pemahaman kita terhadap Al-Quranlah yang kurang tepat. Karena tidak mungkin keduanya saling bertentangan. Karena Islam bukanlah sekedar agama yang menghubungkan antara manusia dengan Tuhannya sebagaimana kebanyakan agama, ia melainkan adalah nafas kehidupan yang memperlihatkan segala yang ada di alam semesta termasuk hubungan antar manusia dan hubungan antara manusia dengan alam. Islam adalah juga sains.

“ Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?(QS.Al-Anbiya(21):30).

“ (Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. “(QS.Al-Anbiya(21):104).

Kedua ayat diatas dalam dunia sains membuktikan akan kebenaran teori “Big Bang” dan “Big Crunch” yaitu awal penciptaan alam semesta dan kebalikannya yaitu akhir dari alam semesta atau kiamat. Itu semua terjadi atas kehendak Allah SWT, atas izin-Nya.

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira”.(QS.Ar-Rum(30):48).

Jadi sungguh menyesatkan bila selama ini berkembang teori yang mengatakan ‘karena hukum alam’ tanpa menyebut kata Allah SWT atau ‘secara kebetulan’ ataupun ‘dengan sendirinya’ seperti halnya dalam proses penciptaan alam semesta dan evolusi. Ini jelas sebuah penolakan terhadap keberadaan Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Alangkah congkaknya !

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS.Yaasin(36):77).

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa“. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.(QS.Al-Fushilat(41):11).

Itulah hukum alam atau sunatullah, ia tunduk-patuh kepada perintah-Nya. Ironisnya, ajaran tersebut beredar luas di berbagai buku IPA pegangan siswa SMP dan SMA di negeri yang mayoritas berpenduduk muslim! Maka sebaiknya kita sebagai orang tua harus selalu waspada dalam mengawasi pendidikan anak-anak kita yaitu dengan membekali mereka dengan Al-Quran dan As-Sunnah sedini mungkin sebagai bekal keimanan mereka. Sehingga ketika mereka dewasa kelak, apapun ilmu yang dipelajarinya akan memberinya manfaat, tidak malah menyesatkannya.

Rasulullah bersabda : “Manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah seorang alim yang Allah tidak memberikan manfaat pada ilmunya.”

Wallahu’alam.

Jakarta, 5/2/2007.
Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »