Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Shirah Nabawiyah’ Category

Ibnu Ishaq berkata, Setelah orang-orang berkumpul di sekitarnya, nabi saw sambil memegang kedua penyangga pintu Ka’bah mengucapkan khutbah kepada mereka,

“ Tiada Ilah kecuali Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah ( Allah) yang menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya ( Muhammad) dan mengalahkan musuh-musuh sendirian. Sesungguhnya segala macam balas dendam, harta dan darah semuanya berada di bawah kedua kakiku ini kecuali penjaga Ka’bah dan pemberi air minum kepada jamaah haji. Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya, Allah telah mencabut dari kalian kesombongan jahiliyah dan mengagungkan dengan keturunan. Semua orang berasal dari Adam dan Adam itu berasal dari tanah”. 

Rasulullah meneruskan sabdanya :

“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS.Al-Hujurat(49):13).

Selanjutnya nabi saw bertanya: “ Wahai kaum Quraisy! Menurut pendapat kalian, tindakan apakah yang hendak kuambil terhadap kalian?”

“ Tentu yang baik baik! Hai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia”, jawab mereka.

Rasulullah lalu bersabda,: “ Pergilah kalian semua, kalian bebas !”

Begitu pula sebagian orang yang mulanya telah dipastikan harus dibunuh pada awal penaklukkan Mekah. Sebagian lain terlanjur dibunuh dalam perlawanan dengan Khalid. Mereka yang bebas adalah Ikrimah bin Abu Jahal, Habbar bin al-Aswad, Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarah dan Hindun binti Uthbah, perempuan istri Abu Sufyan yang mengaduk-ngaduk isi perut Hamzah, paman Rasulullah. Padahal ketika itu Rasulullah begitu sedih dan marah mengetahui paman tercinta itu dianiaya dan bersumpah akan membalas perbuatan biadab tersebut. Di kemudian hari, orang-orang yang telah dibebaskan tersebut membuktikan bahwa mereka bisa menjadi Muslim yang baik.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Syuraih al-Adwi bahwa Nabi saw bersabda di dalam khutbahnya pada waktu fat-hu Makkah: “Sesungguhnya Makkah telah diharamkan oleh Allah, bukan manusia yang mengharamkannya, tidak boleh bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menumpahkan darah dan mencabut pohon di Makkah. Seandainya ada orang yang berdalih bahwa Rasulullah saw pernah melakukan peperangan di Makkah, maka katakanlah kepadanya: “Sesungguhnya Allah mengijinkan bagi Rasul-Nya tetapi tidak mengijinkan kepadanya (Nabi saw) hanya sebentar. Sekarang “keharaman“ telah kembali lagi sebagaimana sebelumnya. Hendaklah yang menyaksikan menyampaikan kepada yang tidak hadir“.

Kemudian Rasulullah membaiat kaum lelaki agar senantiasa mendengar dan taat  kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (QS.An-Nisa(4):80).

Setelah itu giliran kaum perempuan yang berbaiat. Rasulullah bersabda :

“Hendaklah kalian berbai‘at kepadaku untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Tidak akan mencuri, tidak akan berzina dan tidak akan membunuh anak-anak kalian. Juga tidak berbohong untuk menutup-nutupi apa yang ada di depan atau di belakang kalian:“ 

Kemudian Rasulullah saw berkata kepada Umar ra: “Bai‘atlah mereka”.

Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata: Adalah Nabi saw membai‘at kaum wanita secara lisan (saja) dengan ayat ini: “Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.“ Selanjutnya Aisyah ra menjelaskan: “Tangan Rasulullah saw tidak menyentuh tangan wanita sama sekali kecuali wanita yang telah halal baginya“. Muslim meriwayatkan hadits yang serupa dengan ini dari Aisyah ra.

Peristiwa pembaitan kaum perempuan diatas inilah yang kemudian menjadi dasar tidak perlunya jabat tangan antara kaum lelaki dan kaum perempuan kecuali muhrimnya. Banyak peristiwa menarik di seputar penaklukkan Mekah yang dapat dijadikan acuan dan dasar pertimbangan dalam Islam. Jabat tangan sebagaimana kasus diatas, pelarangan pertumpahan darah dan penebangan pohon di kota Mekah, pelarangan gambar dan berhala di masjid adalah diantaranya.

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Fadhalah bin Umair al-Laitsi bermaksud ingin membunuh Nabi saw pada saat beliau sedang thawaf di Ka‘bah di hari Fat-hu Makkah. Ketika Fadhalah mendekat tiba-tiba Rasulullah saw mengatakan: “Apakah ini Fadhalah?“ Ia menjawab: “Ya, saya Fadhalah wahai Rasulullah saw.“ Nabi saw bertanya: “Apa yang sedangkau pikirkan?“ Ia menjawab: “Tidak memikirkan apa-apa, aku sedang teringat Allah kok.“ Sambil tersenyum Rasulullah saw berkata: “Mohonlah ampun kepada Allah …“ Kemudian Nabi saw meletakkan tangannya di atas dadanya sehingga hatinya menjadi tenang. Fadhalah berkata: “Begitu beliau melepaskan tangan dari dadaku, aku merasa tak seorang pun yang lebih aku cintai daripada beliau.“

Begitulah Mekah, kota kelahiran Rasulullah dimana rumah suci tertua didunia berdiri, akhirnya kembali ke pelukan Islam, setelah berabad-abad lamanya diselewengkan. Tidak itu saja. Rasulullah Muhammad saw, atas izin Sang Pemilik, tidak hanya berhasil mengembalikan kedudukan kota yang tinggi namun juga berhasil mengajak seluruh penduduknya agar kembali menyembah hanya kepada Allah swt, Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Satu. Rasulullah berada di Mekkah selama 19 hari. Setelah itu beserta pasukannya beliau kembali ke Madinah.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 20 April 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

“ Siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, siapa saja yang menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan siapa saja yang memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman”.

Ya, itulah yang dikatakan Rasulullah kepada Abu Sufyan agar disampaikan kepada orang-orang Quraisy Mekah yang akan beliau masuki beberapa saat lagi. Ini adalah cara Rasulullah menghindari perang antar saudara. Rasulullah hendak menaklukkan Mekah dengan Ka’bahnya bukan karena nafsu perang melainkan demi meluruskan kembali ajaran Ibrahim yang berabad-abad lamanya telah diselewengkan.

Setelah Abu Sufyan dan 2 kawannya yang diserahi memata-matai kaum Muslimin tertangkap, Rasulullah segera meneruskan perjalanan menuju Mekah. Akan tetapi sebelum berangkat, beliau berpesan kepada Abbas bin Abdul Muthalib, paman yang dicintai sekaligus sahabat Abu Sufyan yang baru saja memeluk Islam, agar menahan sahabatnya itu di mulut lembah yang akan dilalui pasukan Muslim. Rasulullah memang bermaksud mempertontonkan kekuatan dan kebesaran pasukan tersebut kepada pemimpin Quraisy yang disegani masyarakatnya itu.

Maka pasukan demi pasukanpun berjalan melewati Abu Sufyan. Tercengang ia dibuatnya hingga ia merinding ketakutan.

“Abbas, siapakah mereka itu?”

“Mereka itu kabilah Sulaim”, jawab Abbas.

“Apa urusanku dengan kabilah Sulaim?!” komentar Abu Sufyan.

Kabilah lainpun lewat. Abu Sufyan bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama.

“Mereka kabilah Muzainah,” Abbas menjawab lagi.

“Apa urusanku dengan Kabilah Muzainah?!”

Begitulah seterusnya hingga setiap kabilah lewat. Terakhir, pasukan Rasulullah yang berwarna hijaupun melewatinya. Abu Sufyan menatap tanpa berkedip. Mereka semua dilindungi baju besi.

“Subhanallah, Abbas! Siapa mereka itu?”

“Itu Rasul bersama Muhajirin dan Anshar.”

“Tidak ada seorang pun yang mampu menghadapi kekuatan mereka. Demi Allah, hai Abu Fadhal, kemenakanmu kelak akan menjadi maharaja besar ….”.

Hai Abu Sufyan, itu bukan kerajaan, melainkan kenabian”, tukas Abbas.

Kalau begitu, alangkah mulianya, ungkap Abu Sufyan dengan yakin. Sekarang ia mulai mantap dengan status keislamannya.

Demikianlah Ibnu Sa’ad, Ibnu Ishaq, Ibnu Jurair juga Bukhari meriwayatkan kekaguman Abu Sufyan akan kebesaran Islam. Meski sebenarnya malam sebelum berikrarpun ia telah terkagum-kagum dengan pasukan Islam yang pada malam yang dingin itu sedang melaksanakan wudhu sebelum shalat.

Riwayat di atas juga mengandung hikmah bahwa apa yang disangka Abu Sufyan kerajaan itu tidak sama dengan kenabian. Nyaris 22 tahun lamanya Rasulullah berjuang menegakkan agama Islam,  bukan kerajaan. Jika hanya sekedar kekuasaan dan kerajaan sebenarnya Rasulullah dapat meraihnya tanpa perlu berhijrah ke Madinah. Para pemuka Quraisy sendirilah yang ketika itu menawarkannya kepada Rasulullah, saking gemasnya melihat kekerasan hati Rasulullah dalam berdakwah menuju Islam.

Selanjutnya Abbas berkata, : “ Selamatkanlah kaummu !”. Maka Abu Sufyanpun segera pergi ke Mekah sebelum Rasulullah dan pasukan Islam memasukinya. Dengan suara nyaring, ia berteriak : “Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian atasi. Karena itu barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman.”

Mendengar itu, istri Abu Sufyan, Hindun binti Uthbah, memarahinya “ Alangkah buruknya perbuatanmu sebagai pemimpin”. Abu Sufyan menegaskan “ Celakalah kalian kalau bertindak menuruti hawa nafsu. Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan yang tidak mungkin dapat kalian tandingi”.

Sementara orang-orang Quraisy mencemoohnya , “ Celakalah engkau, hai Abu Sufyan! Apa gunanya rumahmu bagi kami?”. Lalu Abu Sufyan menyahut : ” Barang siapa menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan barang siapa memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman”.

Menyadari bahwa pemimpin mereka tidak main-main, akhirnya merekapun berlarian, sebagian pulang ke rumah menutup pintu dan sebagian lain berlindung ke Masjidil Haram. Sementara itu Rasulullah telah makin mendekati Mekah. Beliau memasuki kota ini dari dataran tinggi Kida dan memerintahkan pasukan pimpinan Khalid bin Walid masuk melalui dataran rendah Kida.

Bukhari meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Qurrah, ia berkata, “ Aku pernah mendengar Abdullah bin Mughaffal berkata, ‘Aku melihat Rasulullah pada waktu Fath-Makkah berada diatas untanya seraya membaca surat Al-Fath berulang-ulang dengan bacaan yang merdu sekali. Sabda beliau, “ Seandainya orang-orang tidak berkerumun di sekitarku, niscaya aku akan membacanya berulang-ulang”.

“ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni`mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”.

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana supaya Dia memasukkan orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah”,(QS. Al-Fath(48):1-5).

Rasulullah berpesan kepada pasukannya agar menghindari sebanyak mungkin korban. Hanya 6 orang lelaki dan 4 perempuan yang beliau perintahkan agar dibunuh dimanapun mereka berada. Mereka itu adalah Ikrimah bin Abu Jahal, Habbar bin al-Aswad, Abdullah bin Sa’ad bin Abu Sarah, Muqis bin Dhahabah al-Laitsi, Huwairits bin Nuqaid dan Abdullah bin Hilal. Sedangkan yang perempuan adalah Hindun binti Uthbah, Sarah, Fartanai dan Qarinah. Ke 10 orang ini adalah orang-orang kejam yang sangat membenci Islam dan harus dihukum mati.

Maka dalam waktu yang relatife singkat, pasukan Islampun berhasil menaklukkan Mekah dan Ka’bahnya tanpa banyak perlawanan kecuali pasukan Khalid. Pasukan ini akhirnya menang setelah memakan korban 24 orang Quraisy. Jumlah yang teramat sedikit bagi hitungan perang dimana pasukan Islam mengirimkan 10 ribu orang pasukan. Itupun tampak bahwa Rasulullah tidak senang ketika melihat kilatan pedang di kejauhan. Namun ketika beliau mendapat penjelasan bahwa itu adalah pasukan Khalid yang membalas serangan musuh, beliaupun hanya berkomentar : “ Ketentuan Allah selalu baik”.

Rasulullah langsung menuju Ka’bah. Di sekitar tempat tersebut terdapat 360 berhala. Dengan mengucap “ Kebenaran telah tiba dan lenyaplah kebathilan.  Kebenaran telah tiba dan kebathilan tak akan kembali lagi”, Rasulullah mengayunkan pentungan dan menghancurkannya satu persatu. Demikian pula berhala-berhala yang ada di dalam Ka’bah, semua dikeluarkan sebelum Rasulullah memasukinya. Beliau bertakbir disudut-sudut Ka’bah kemudian keluar.

Ketika Rasulullah hendak mengembalikan kunci pintu Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah, Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah, memohon agar kunci rumah suci tersebut diserahkan kepadanya.  Namun atas perintah Allah swt melalui Jibril as, Rasulullah tetap menyerahkannya kepada Utsman. Rasulullah tidak memindahkan hak tersebut karena itu memang perintah Sang Khalik.

“ Terimalah kunci ini untuk selamanya. Bukan aku yang menyerahkan kepada kalian tetapi Allah menyerahkannya kepada kalian. Sesungguhnya tak seorangpun akan mencabutnya ( hak memegang kunci Ka’bah) kecuali orang yang zalim”.

Tak lama kemudian turun ayat yang tertera di kain penutup Ka’bah hingga saat ini :

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS.An-Nisa(4):58).

Utsman memang adalah pemegang kunci Ka’bah secara turun temurun sejak zaman nabi Ismail as. Ia keturunan bani Thalhah. Namun setelah ia wafat, kunci kini dipegang oleh keturunan anak bapaknya, yaitu bani Syaibah, hingga detik ini. Setelah itu Rasulullah thawaf kemudian memerintahkan Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan adzan shalat. Orang-orang kemudian berduyun-duyun masuk ke dalam agama Allah.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”.(QS.An-Nasr(110):1-3).

( Bersambung).

Read Full Post »

Dalam perjanjian Hudaibiyah disebutkan bahwa setiap kabilah dan bani Arab memiliki hak untuk memilih kepada siapa mereka berpihak, kepada Rasulullah atau kepada bani Quraisy. Maka bani Khuza’ahpun memilih untuk berdiri di pihak Rasulullah. Sementara bani Bakar memilih bani Quraisy sebagai pihak yang didukungnya.

Suatu hari di tahun 8 H ( 630 M), orang-orang bani Bakar yang memang memusuhi bani Khuza’ah meminta bantuan Quraisy untuk memerangi musuhnya itu. Tanpa berpikir panjang Quraisypun mengirim bantuannya. Dengan cara menyamar mereka berkomplot mengepung perkampungan bani Khuza’ah yang saat itu sedang tidur nyenyak. Orang-orang bani Khuza’ah sama sekali tidak mengira bahwa malam tersebut mereka akan diserang pada malam hari. Pada peristiwa nahas tersebut, 20 orang Khuza’ah terbunuh.

Keesokan harinya, segera Amr bin Salim al-Khuza’ah bersama 40 orang dari bani Khuza’ah, dengan mengendarari kudanya pergi menemui Rasulullah memohon bantuan.

“ Aku tidak akan ditolong jika aku tidak membantu sebagaimana aku menolong diriku sendiri”, begitu tanggapan Rasulullah begitu menerima pengaduan tersebut.

”Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti”.(QS.At-Taubah(9):12).

Pihak Quraisy sendiri menyesali perbuatan ceroboh tersebut. Segera mereka mengutus Abu Sufyan agar menemui Rasulullah guna meminta perpanjangan dan perbaruan genjatan senjata.  Namun Rasulullah tidak menanggapi permintaan tersebut. Maka Abu Sufyanpun menemui Abu Bakar. Abu Bakarpun menolak, «  Aku tidak bisa melakukannya ». Demikian pula Umar bin Khattab yang kemudian ditemuinya setelah mendengar jawaban Abu Bakar.

“ Apa? Aku harus membantumu menghadapi Rasulullah? Demi Allah, sekiranya aku tahu engkau berbuat kesalahan walau sebutir pasir, tentu engkau kuperangi ».

Akhirnya Abu Sufyan terpaksa pulang tanpa membawa hasil.

Sementara itu diam-diam Rasulullah menyiapkan penyerangan. Beliau berdoa : «  Ya Allah, tutuplah mata orang-orang Quraisy agar mereka tidak melihatku kecuali secara tiba-tiba”. ( HR. Ibnu Ishaq dan Ibnu Saa’d).

Rasulullah mengutus satuan pasukan sebanyak 80 orang menuju perkampungan antara Dzu Khasyab dan Dzul Marwah. Hal ini dilakukan untuk mengecoh Quraisy agar tidak mengetahui tujuan sebenarnya. Pada saat itulah Rasulullah tiba-tiba memerintahkan Ali bin Abi Thalib bersama dua sahabat lain untuk segera mengejar seorang perempuan yang berada di sebuah kebun bernama Khakh. Ali mendapat tugas untuk merampas surat yang dibawa perempuan berkuda tersebut.

«  Keluarkan surat yang kamu bawa ! », perintah Ali begitu ia berhasil menemukan perempuan yang dimaksud Rasul. Mulanya perempuan tersebut menyangkal bahwa ia membawa surat. Akan tetapi setelah Ali mengancamnya maka terpaksa ia mengeluarkan surat yang disembunyikan di balik gulungan rambutnya itu.

Setelah itu segera Ali kembali ke hadapan Rasulullah dan menyerahkan surat tersebut. Ternyata surat tersebut ditulis oleh Hatib bin Abi Balta’ah, seorang shahabat Muhajirin. Ia menujukkan surat tersebut kepada seorang Quraisy, mengabarkan bahwa Rasulullah saw sedang menuju Makkah untuk melakukan serangan mendadak. Dialah, Allah, Dzat Yang Maha Melihat, yang kemudian mewahyukan kepada Nabi-Nya tentang apa yang dilakukan Hatib.

Rasulullahpun segera memanggil Hatib dan meminta penjelasan tentang apa yang telah dilakukannya itu. “Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Demi Allah, aku orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah anak angkat di tengah Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku memiliki istri dan anak. Sementara tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Sementara orang-orang yang bersama anda memiliki kerabat yang bisa melindungi mereka. Oleh karena itu, aku ingin ada orang yang bisa melindungi kerabatku di sana”, begitu penjelasan Hatib.

Mendengar itu, sontak Umar bin Ibn-Khattab berkata :  “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta bersikap munafik.”

Namun dengan bijak, Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar … “.

Akan tetapi tak lama kemudian turun ayat yang isinya teguran kepada orang  yang suka membocorkan rahasia Rasulullah, seperti apa yang diperbuat Hatib.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus”.(QS.Al-Mumtahanah(60) :1).

Selanjutnya, pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke 8 H, dengan membawa 10 ribu Muslimin, Rasulullah meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Di lain pihak, meski orang-orang Quraisy belum mengetahui rencana Rasulullah, dengan gagalnya misi Abu Sufyan, mereka telah memperkirakan penyerangan tersebut. Untuk memastikan hal itu, maka mereka mengutus Abu Sufyan, Hakim bin Hizzam dan Badil bin Warqa untuk menyelidiki apa yang dilakukan kaum Muslimin.

Hingga di suatu tempat di sekitar Zhahran, mereka melihat obor api yang sangat besar. Sebelum mereka menyadari bahwa itu adalah rombongan kaum Muslimin dibawah pimpinan Rasulullah, para pengawal telah menangkap ketiganya. Maka keesokan harinya, ketiga orang Quraisy tersebutpun memeluk Islam.

Ibnu Ishaq berkata,: Diriwayatkan dari Abbas tentang rincian Islamnya Abu Sufyan, “ Keesokan harinya, aku bawa Abu Sufyan menghadap Rasulullah saw. Setelah melihatnya, Rasulullah berkata, “ Celaka engkau, wahai Abu Sufyan. Tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk mengetahui sesungguhnya tidak ada Ilah kecuali Allah ?” Abu Sufyan menyahut, “ Alangkah penyantunnya engkau, alangkah mulianya engkau dan alangkah baiknya engkau! Demi Allah, aku telah yakin seandainya ada Ilah selain Allah niscaya dia telah membelaku “. Nabi saw bertanya lagi, “  Tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk mengetahui bahwa aku adalah Rasul Allah?” Abu Sufyan menyahut, “ Sungguh engkau sangat penyantun, pemurah dan suka menyambung tali keluarga. Demi Allah, mengenai hal yang satu ini sampai sekarang di dalam diriku masih ada sesuatu yang mengganjal”. Abbas menukas,:  “ Celaka ! Masuk Islamlah dan bersaksilah tiada Ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah sebelum aku penggal lehermu”. Abu Sufyan kemudian mengucapkan syahadat dengan benar dan masuk Islam”.    .

Hadist diatas mencerminkan bahwa Abu Sufyan, dedengkot musuh Islam  itu, sesungguhnya mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah. Ia juga mengakui bahwa Muhammad, ponakannya itu, adalah orang yang patut menjadi panutan karena beliau adalah seorang yang baik hatinya, penyantun, pemurah dan suka menyambung tali silaturahmi. Namun demikian ia masih belum dapat mengakuinya sebagai utusan karena menurutnya ada sesuatu yang masih mengganjal meski ia sendiri tidak tahu apa ganjalan tersebut.

Itu sebabnya, Abbas yang merupakan sahabat karib Abu Sufyan, mendesaknya agar segera berikrar. Karena ia tahu bahwa ganjalan tersebut bukanlah hal utama. Islam memang mengajarkan bahwa untuk memeluk Islam ( tunduk ) seseorang tidak harus telah memiliki keimanan yang tinggi. Karena keimanan itu akan tumbuh dan berproses seiring dengan berjalannya waktu dan pengetahuan, atas izin-Nya.

“Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Hujurat(49):14).

Itu pula sebabnya, pada saat peperangan, seorang Mukmin tidak boleh menganggap Islamnya seseorang yang tadinya kafir di tengah pertempuran hanya sekedar rasa takut atau ingin mendapatkan rampasan perang meski dari luar tampaknya memang demikian.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mu’min” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan ni`mat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Nisa(4):94).

Abu Sufyan, sebagai orang Quraisy yang awalnya sangat membenci dan memusuhi Islam serta memeluk Islam karena ancaman Abbas membuktikan hal tersebut. Setelah penaklukkan Mekah, ia ikut berperang beberapa kali. Pada peristiwa pengepungan Tha’if ia kehilangan salah satu matanya.

Rasulullah saw kemudian bertanya, : “Yang manakah yang engkau lebih inginkan, sebuah mata di surga atau aku berdoa kepada Allah agar matamu dikembalikan sekarang?” . Ternyata Abu Sufyan lebih memilih sebuah mata di surga. Kemudian pada perang berikutnya, yaitu perang Yarmuk yang terjadi 6 tahun setelah penaklukkan Mekah, ia bahkan kehilangan matanya yang keduanya. Selama 14 tahun setelah peristiwa itu, Abu Sufyan tetap dalam keislamannya hingga akhir hayatnya.

Kembali ke peristiwa masuk Islamnya Abu Sufyan. Tak lama setelah Abu Sufyan bersyahadat,  Abbas yang adalah juga salah satu paman Rasul itu, berkata: Ya Rasul, Abu Sofyan adalah orang yang senang dengan kebanggaan. Karena itu berikan sesuatu kepadanya.”

“Ya. Aku sudah memikirkan hal itu. Untuk itu, siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman, siapa saja yang menutup pintu rumahnya, maka ia aman. Dan siapa saja yang memasuki Masjid al-Haram, maka ia aman.”

( Bersambung)

Read Full Post »

Mu’tah adalah sebuah desa yang terletak di perbatasan Syam. Desa tersebut sekarang ini bernama Kirk. Disinilah perang antara kaum Muslimin dan pasukan Syurabil bin Amr al-Ghassani, penguasa Bushra berlangsung.

Perang ini dilakukan sebagai balasan atas dibunuhnya seorang utusan Muslimin. Ketika itu Rasulullah mengutus Harits bin Umair al-Adzi bin Amr agar menyampaikan surat yang isinya mengajak memeluk Islam kepada pemimpin Bushra tersebut.

Seperti juga peraturan dunia politik saat ini, sejak dahulupun telah ada aturan bahwa seorang utusan negri lain tidak boleh dibunuh tanpa sebab yang jelas. Itu sebabnya Rasulullah sebagai pemimpin tertinggi Islam kemudian mengirim pasukan ke Bushra. Itupun setelah Rasulullah menunggu beberapa waktu. Dalam kesempatan tersebut beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang yang membawahi pasukan berjumlah 3.000 orang.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka Ja’far bin Abi Thalib menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka penlimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk memilih siapa pemimpinnya”.

Sementara itu Syurabilpun menyiapkan 100.000 pasukannya. Ini masih dibantu dengan pasukan Heraklius, raja Romawi, yang mengirimkan 100.000 tentaranya. Pasukan Islam tampak ragu melihat besarnya kekuatan musuh yang lebih dari 60 kali lipat itu. Selama dua malam mereka berhenti di suatu daerah untuk merundingkan apa yang seharusnya mereka lakukan.

Beberapa orang diantara mereka berpendapat “ Sebaiknya kita menulis surat kepada Rasulullah guna melaporkan kekuatan musuh. Mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang lebih besar atau memerintahkan sesuatu yang harus kita lakukan?”. Akan tetapi Abdullah bin Rawahah tidak sependapat. Ia berkomentar,

“Hai saudara-saudaraku, mengapa kalian tidak menyukai mati syahid yang menjadi tujuan kita berangkat ke medan perang ini ! Kita berperang tidak mengandalkan banyaknya jumlah pasukan atau besarnya kekuatan tetapi semata berdasarkan agama yang dikaruniakan Allah kepada kita. Karena itulah, marilah kita maju ! Tidak ada pilihan lain kecuali salah satu dari dua kebajikan : menang atau mati syahid”.

Dengan segera musnahlah rasa takut pasukan Islam dan terjadilah pertempuran sengit antara kedua pasukan tersebut. Dengan gagah berani pasukan Islam terus bertempur hingga akhirnya Zaid bin Haritsah harus syahid. Segera Ja’far bin Abi Thalib yang waktu itu baru berusia 30 tahun maju menggantikan Haritsah.

“ Alangkah dekatnya surga ! Harumnya semerbak dan segarnya minuman.

Kita hunjamkan siksa ke atas orang-orang Romawi yang kafir nun jauh nasabnya

Pastilah aku yang memeranginya”.

Namun iapun harus syahid setelah tangan kanannya disusul tangan kirinya  yang memegang panji pimpinan ditebas musuh. Mujahid gagah berani ini ditebas tubuhnya hingga terbelah dua dari belakang dalam keadaan sedang mengepit panji kepemimpinan dengan sisa kedua tangannya yang tersisa. ! Subhanallah ..

Selanjutnya majulah Abdullah bin Rawahah menggantikan kedudukan Ja’far. Semula ia agak kecut melihat kedua sahabatnya telah tewas sementara tubuhnya sendiri telah penuh luka. Ia juga mendengar kabar bahwa Syurabil telah menyelamatkan diri. Sementara Heraklius menambah lagi 200.000 pasukannya. Namun ketinggian imannya berkata lain. Sambil menerjunkan diri ke kancah pertempuran sengit ia melantunkan syair hingga iapun syahid.

“Wahai hati, kamu harus turun meskipun dengan senang hati ataupun dengan berat hati. Kamu telah hidup dengan ketenangan beberapa lama. Berpikirlah, pada hakikatnya, kamu berasal dari setetes air mani. Lihatlah orang-orang kafir telah menyerang orang-orang Islam. Apakah kamu tidak menyukai surga jika kamu tidak mati sekarang suatu saat nanti, akhirnya kamu akan mati juga”.

Setelah syahidnya ketiga panglima perang yang sebelumnya telah ditunjuk Rasulullah kaum Muslimin kemudian menyepakati Khalid bin Walid menjadi panglima perang.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas ra bahwa sebelum kaum Muslimin ( di Madinah) mendengar berita gugurnya tiga orang panglima mereka, Rasulullah saw bersabda “ Zaid memegang panji kemudian gugur. Panji diambil oleh Ja’far dan ia gugur. Panji itu diambil oleh Ibnu Rawahah dan iapun gugur …”. Saat itu, beliau meneteskan air mata seraya melanjutkan sabdanya , “ .. Akhirnya panji diambil oleh ‘Pedang Allah ( Khalid bin Walid ) dan akhirnya Allah mengaruniakan kemenangan bagi mereka ( kaum Muslimin)”.

Dibawah pimpinan Khalid, bekas panglima perang Quraisy yang dikenal sebagai ahli strategi nan tak terkalahkan ini, pasukan Muslim berhasil merubah keadaan. Begitu mendapat tanda bahwa ia ditunjuk sebagai panglima, Khalid langsung menyerbu pasukan musuh dengan gagah berani. Ia berhasil mengobarkan kembali semangat pasukannya hingga membuat musuh kocar kacir.

Namun begitu malam tiba dan pertempuran dihentikan ( ini adalah peraturan umum perang yang berlaku ketika itu ) Khalid langsung menyusun strategi baru. Dengan strateginya ia berhasil membuat pasukan musuh mundur. Ia mengubah posisi pasukan, yang tadinya di sayap kanan dipindahkan ke sayap kiri dan sebaliknya. Sementara pasukan yang di depan diputar sedemikian rupa dengan pasukan yang dibelakang.

Perubahan posisi yang menyerupai gelombang ini membuat pasukan musuh mengira bahwa pasukan Muslim mendapat tambahan pasukan. Mereka menjadi khawatir, bila dengan kekuatan yang jauh di bawah kekuatan mereka saja pasukan Muslim sulit untuk dikalahkan apalagi dengan adanya tambahan. Karena rasa takutnya itu akhirnya mereka memutuskan untuk mundur teratur tanpa menyadari bahwa sang panglima lebih senang lagi. Pasukan Khalid bin Walid tidak mengejar musuh yang mundur karena menyadari bahwa kekuatan mereka saat itu memang tidak mencukupi.

Maka pasukan Muslimpun kembali ke Madinah dengan  membawa pampasan yang ditinggalkan musuh begitu saja. Menjelang masuk kota, pasukan ini disambut oleh Rasulullah dan anak-anak  yang berhamburan menjemput mereka.

“ Ambillah anak-anak dan gendonglah mereka. Berikanlah kepadaku anak Ja’far!”, sabda Rasulullah.

Kemudian terdengar orang-orang meneriaki pasukan Khalid, “ Wahai orang-orang yang lari! Kalian lari dari jalan Allah”.

Akan tetapi Rasulullah segera menimpali “ Mereka tidak lari ( dari medan perang) tetapi mundur untuk menyerang balik, insya Allah”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 5 April 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Pada masa Rasulullah saw perang dibagi atas 2 jenis perang, yaitu Ghazwah dan Sariyah. Ghazwah adalah perang yang dipimpin langsung oleh Nabi saw sedangkan Sariyah adalah perang yang dipimpin oleh sahabat atas penunjukan Nabi saw.

Para ulama sirah menyepakati bahwa Sariyah dimulai pada tahun 7 H. Namun dlam shahihnya, Imam Bukhari menuturkan bahwa Sariyah baru dimulai pada tahun 9 H yaitu setelah di tanda-tanganinya Perjanjian Hudaibiyah pada bulan Dzulqa’idah tahun ke 6 H. Pengiriman pasukan kecil ke berbagai daerah sekitar Jazirah Arab dan dipimpin para sahabat ini bertujuan tidak lain hanya mengajak kepada Islam. Perang baru dilakukan bila mereka menolak.

Dengan kata lain, perang hanya boleh diterapkan setelah suatu masyarakat telah diberi kesempatan untuk mengenal ajaran Islam namun kemudian tetap menolak. Jadi perang dalam Islam bukan demi memuaskan nafsu keduniawian untuk memperoleh kemenangan apalagi kebesaran. Baik itu kebesaran perorangan maupun kelompok. Melainkan demi menegakkan hukum dan kehendak Allah swt sebagai pemilik alam semesta ini. Karena kebesaran itu hanya milik Sang Khalik, Al Malikul Kuddus, Allah Azza wa Jalla.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. …”.(QS.Al-Baqarah(2:30).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(QS.Adz-Dzariyat(51):56).

Itulah tujuan Allah swt menciptakan manusia di muka bumi ini. Manusia diberi hak untuk menggunakan dan mengolah apapun yang ada di bumi ini namun harus mempertanggung-jawabkannya. Kepada siapa ? Tentu saja kepada Sang Pemilik ! Jadi takut, tunduk dan patuh itu hanya kepada-Nya bukan kepada sesama manusia apapun bangsa, warna dan rasnya.

Perang seperti ini bukan hanya dikenal pada era Rasulullah. Namun juga seluruh utusan-Nya termasuk nabi Sulaiman as, nabi Allah sekaligus raja Yahudi yang memerintah pada tahun 970 SM. Al-Quran menceritakan bagaimana nabi ini menaklukkan kerajaan ratu Bilqis di Afrika yang  menjadikan matahari sebagai sesembahan disamping Allah swt.

“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, “.(QS.An-Naml(27):24).

“Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.(QS.An-Naml(27):37).

Perang dalam Islam adalah demi menegakkan kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran palsu. Bukan kebenaran dari sudut pandang manusia karena manusia mempunyai kepentingan dan kebutuhan. Baik itu kepentingan dan kebutuhan pribadi atau keluarga maupun kepentingan dan kebutuhan kelompok. Kebenaran hakiki adalah kebenaran dari Allah swt yang berdiri di luar lingkaran keduniawian.

Rasulullah baru menerapkan Sariyah setelah berdakwah 21 tahun lamanya (12 tahun di Makkah dan 9 tahun di Madinah ). Selama itu umat Islam berperang secara defensive karena diserang. Perang babak baru ini dijalankan setelah umat Islam mempunyai keimanan yang tinggi dan mempunyai cukup kekuatan material. Juga setelah Islam diakui secara resmi oleh Musryik Quraisy yang sebelumnya sangat anti Islam.

Pada periode ini Rasulullah mengirimkan beberapa surat kepada para raja dan pemimpin dunia agar meninggalkan agama kebathilan yang mereka anut dan kembali ke pelukan Islam, kembali ke fitrahnya.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Namun sebelum itu Rasulullah mendapat informasi bahwa para raja tidak mau membaca surat yang tidak distempel. Untuk keperluan itulah maka Rasulullahpun memerintahkan agar segera dibuatkan stempel khusus bagi Rasulullah. Stempel khusus milik Rasulullah tersebut adalah sebuah cincin yang terbuat dari perak dengan tiga kata terukir di atasnya. Tiga kata tersebut adalah : «  Muhammad Rasul Allah ». Dengan stempel itulah selanjutnya Rasulullah sebagai utusan Allah sekaligus pemimpin tertinggi umat Islam mengirim berbagai surat resmi.

Rasulullah mengirimkan surat untuk pertama kalinya pada tahun 9 H atau 631 M. Dalam satu yang hari yang sama itu Rasulullah, dengan bantuan sahabat terpercaya menulis 6 surat sekaligus. Surat-surat tersebut dibawa para sahabat pilihan yang tidak saja menguasai bahasa kaum yang akan didatanginya tetapi juga mengerti kultur dan kebiasaan mereka.

Berikut utusan-utusan tersebut.

1. Amr bin Umaiyyah adh-Dhamri.

Rasulullah mengutus Amr bin Umaiyah adh-Dhamri menemui Najasyi. Najasyi adalah raja negri Habasyah di benua Afrika. Raja yang nama aslinya  Ashhamah bin Abjar ini dikenal sebagai penganut Nasrani yang taat dan alim. Najasyi sebenarnya telah mendengar kabar bahkan pernah berhubungan dengan masalah ke-Islam-an beberapa tahun sebelum ini. Yaitu ketika Rasulullah mengizinkan beberapa sahabat untuk hijrah ke Habasyah.

Ketika itu Najasyi menerima keterangan Ja’far bin Abu Thalib yang berusaha disudutkan oleh orang-orang Quraisy agar dikembalikan ke Mekah.

(Baca:http://umatterbaik.wordpress.com/2008/11/08/raja-najasyi/).

Oleh karena itu ketika raja yang terkenal bijaksana ini menerima surat dari Rasulullah, ia langsung menyatakan ke-Islam-annya.

“ Seandainya aku bisa datang menemuinya ( Rasulullah saw) niscaya aku berangkat menemuinya”, begitu ucapnya.

Bahkan setelah itu dengan senang hati sang rajapun mengabulkan permintaan Rasulullah agar menjadi wakil dalam pernikahan Rasulullah dengan Ramlah binti Abi Sufyan yang ketika itu memang tinggal di Habasyah. Putri Abi Sufyan ini tinggal di negri Najasyi sejak hijrah pertama kaum Muslimin ke Habasyah. Dalam perantauan inilah suaminya kemudian murtad dan tak lama kemudian meninggal dunia. Rasulullah meminang Ramlah yang dikenal dengan sebutan Ummu Habibah ( ibunya Habibah) sebagai penghargaan atas kesabarannya dalam ber-Islam.

Sayangnya, tidak lama setelah memeluk Islam, raja Najasy ini wafat. Rasulullah kemudian menyelenggarkan shalat ghaib baginya. Ini adalah hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan Rasulullah.

2. Dahyah bin Khalifah al-Kalbi.

Rasulullah mengutus Dahyah kepada Heraklius, raja Romawi Timur ( Byzantium).  Heraklius memerintah kerajaan Nasrani ini selama 31 tahun yaitu dari tahun 610 M hingga 641 M. Dibawah pemerintahannya peperangan banyak terjadi. Diantara sekian banyak musuh, kerajaan Sasanid ( Persia) yang dikenal beragama Majusi ( penyembah api) adalah musuh yang paling sengit. Perang bebuyutan antara kedua kerajan besar ini telah berlangsung sejak tahun 602 M, jauh sebelum Heraklius menjadi raja.

Beberapa tahun sebelum Rasulullah mengirimkan utusan kepada raja ini, yaitu pada tahun 626 M, kerajaan Persia berhasil mengalahkan Romawi. Pada saat itulah turun ayat 2 hingga 6 surat Rum. Ayat ini menerangkan bahwa setelah kekalahan tersebut pasukan Romawi akan kembali menang. Ternyata terbukti benar, 2 tahun kemudian Romawi berhasil memaksa Persia bertekuk lutut hingga akhirnya kerajaan ini runtuh untuk selamanya. Padahal ketika itu Konsantinopel, ibu kota Romawi Timur, nyaris direbut Persia.

“Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). …”. QS.Ar-Rum(30:2-4).

Namun kemenangan ini hanya sesaat karena beberapa tahun kemudian yaitu pada tahun 634 M, 2 tahun setelah wafatnya Rasulullah, pasukan Islam dibawah khalifah Abu Bakar ra berhasil menaklukkan Persia yang baru saja direbut Romawi itu. Bahkan Syria, Palestina dan Mesir yang tadinya berada dibawah Romawipun jatuh ke tangan Muslim.

“ Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahu”’.(QS.Ar-Rum(30:4-6).

Dahyah menyampaikan surat Rasulullah kepada Heraklius melalui gubernur Bashra. Surat tersebut bunyinya adalah sebagai berikut :

“Dari Muhammad Rasul Allah kepada Heraklius raja Romawi. Keselamatan atas orang yang hidup mengikuti hidayah Ilahi. Amma ba’du. Anda kuajak supaya memeluk Islam. Peluklah Islam anda akan selamat dan Allah akan melimpahkam dua kali lipat imbalan pahala kepada Anda. Akan tetapi jika anda menolak, anda akan memikul dosa para petani ( rakyat). Dan «  Wahai Ahli Kitab, marilah kita bersatu kata, antara kalian dan kami bahwa kita tidak akan bersembah sujud selain kepada Allah dan bahwa kita tidak akan menjadikan siapapun diantara kita sendiri Tuhan-Tuhan selain Allah. Apabila mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka «  Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Mukmin ». ( HR Bukhari Muslim).

Usai membaca surat Rasulullah, Heraklius memerintahkan para menterinya agar mencari orang yang dapat dipercaya untuk memberikan informasi mengenai sifat-sifat Rasululah.  Kebetulan Abu Sufyan sedang berada di kota tersebut dalam rangka urusan dagangnya. Tak lama kemudian, dibantu seorang penterjemah, terjadilah percakapan antara keduanya.

Di kemudian hari, setelah memeluk Islam, Abu Sufyan mengisahkan tanggapan Heraklius atas percakapan tersebut.

“Aku bertanya kepadamu tentang silsilah keluarganya dan kau menjawab dia adalah keturunan bangsawan terhormat. Nabi-nabi terdahulu pun berasal dari keluarga terhormat di antara kaumnya.
Aku bertanya kepadamu apakah ada di antara keluarganya yang menjadi nabi, jawabannya tidak ada. Dari sini aku menyimpulkan bahwa orang ini memang tidak dipengaruhi oleh siapa pun dalam hal kenabian yang diikrarkannya dan tidak meniru siapa pun dalam keluarganya.

Aku bertanya kepadamu apakah ada keluarganya yang menjadi raja atau kaisar. Jawabannya tidak ada. Jika ada leluhurnya yang menjadi penguasa, aku beranggapan dia sedang berusaha mendapatkan kembali kekuasaan leluhurnya.

Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah berdusta dan ternyata menurutmu tidak pernah. Orang yang tidak pernah berdusta kepada sesamanya tentu tidak akan berdusta kepada Allah.
Aku bertanya kepadamu mengenai golongan orang-orang yang menjadi pengikutnya dan menurutmu pengikutnya adalah orang miskin dan hina. Demikian pula halnya dengan orang-orang terdahulu yang mendapat panggi
lan kenabian.

Aku bertanya kepadamu apakah jumlah pengikutnya bertambah atau berkurang. Jawabanmu, terus bertambah. Hal ini juga terjadi pada iman sampai keimanan itu lengkap. Aku bertanya kepadamu apakah ada pengikutnya yang meninggalkannya setelah menerima agamanya dan menurutmu tidak ada. Itulah yang terjadi jika keimanan sejati telah mengisi hati seseorang. Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah ingkar janji dan menurutmu tidak pernah. Sifat dapat dipercaya adalah ciri kerasulan sejati.

Aku bertanya kepadamu apakah engkau pernah berperang dengannya dan bagaimana hasilnya. Menurutmu engkau berperang dengannya, kadang engkau yang menang dan kadang dia yang menang dalam urusan duniawi. Para nabi tidak pernah selalu menang, tetapi mereka mampu mengatasi masa-masa sulit perjuangan, pengorbanan dan kerugiannya sampai akhirnya mereka memperoleh kemenangan.

Aku bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya, engkau menjawab dia memerintahkanmu untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, serta melarangmu untuk menyembah berhala, dan dia menyuruhmu shalat, bicara jujur, serta penuh perhatian. Jika apa yang kaukatakan itu benar, dia akan segera berkuasa di tempat aku memijakkan kakiku saat ini.

Aku tahu bahwa orang ini akan lahir, tetapi aku tidak tahu bahwa dia akan lahir dari kaummu (orang Arab). Jika aku tahu aku bisa mendekatinya, aku akan pergi menemuinya. Jika dia ada di sini, aku akan membasuh kedua kakinya dan agamanya akan menguasa tempat dua telapak kakiku!”

Selanjutnya, Heraklius berkata kepada Dihyah Al-Kalbi, “Sungguh, aku tahu bahwa sahabatmu itu seorang nabi yang akan diutus, yang kami tunggu-tunggu dan kami ketahui berita kedatangannya dalam kitab kami. Namun, aku takut orang-orang Romawi akan melakukan sesuatu kepadaku. Kalau bukan karena itu, aku akan mengikutinya!”

Untuk membuktikan perkataannya tersebut, Heraklius memerintahkan orang-orangnya untuk mengumumkan, “Sesungguhnya kaisar telah mengikuti Muhammad dan meninggalkan agama Nasrani!” Seluruh pasukannya dengan persenjataan lengkap serentak menyerbu ke dalam ruangan tempat Kaisar berada, lalu mengepungnya.

Kemudian Kaisar Romawi itu berkata, “Engkau telah melihat sendiri bagaimana bangsaku. Sungguh, aku takut kepada rakyatku!”

Heraklius membubarkan pasukannya dengan menyuruh pengawalnya mengumumkan berita, “Sesungguhnya kaisar lebih senang bersama kalian. Tadi ia sedang menguji kalian untuk mengetahui kesabaran kalian dalam agama kalian. Sekarang pergilah!”

Mendengar pengumuman tersebut, bubarlah pasukan yang hendak menyerang Kaisar tadi. Sang Kaisar pun menulis surat untuk Rasulullah saw yang berisi, “Sesungguhnya aku telah masuk Islam.” Kaisar juga menitipkan hadiah beberapa dinar kepada Rasulullah saw.

Ketika Dihyah menyampaikan pesan Raja Heraklius kepada Rasulullah saw, beliau berkata, “Musuh Allah itu dusta! Dia masih beragama Nasrani”. Rasulullah saw pun kemudian membagi-bagikan hadiah dari raja tadi kepada kaum muslimin.

3. Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi.

Abdullah diutus Rasulullah saw agar menyampaikan surat kepada Kisra, raja Persia. Surat tersebut berisi ajakan agar mau memeluk Islam. Kisra adalah sebutan atau gelar bagi para raja negri yang sekarang ini dinamakan Iran. Ketika itu penduduk negri mayoritas menganut kepercayaan Majusi ( penyembah api) dan penyembah berhala. Itu sebabnya Rasulullah mengajak mereka agar kembali ke jalan yang benar.

Namun belum juga surat selesai dibaca sang raja telah menyobek-sobeknya. Menanggapi pengaduan tersebut Rasulullah hanya berkata : “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya”.

Selanjutnya, dengan geram kemudian ia menulis surat kepada gubernur Yaman agar segera menangkap Rasulullah. Maka berangkatlah dua utusan ke Madinah. Rasulullah sendiri yang menyambut utusan gubernur Yaman tersebut. Dengan tersenyum Rasulullah bersabda : “ Kembalilah dulu hari ini. Besok saja kalian menghadapku karena aku ingin mengabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang aku inginkan”.

Keesokan harinya,kedua utusan tersebut menghadap kembali. “ Sampaikan kepada gubernur kalian bahwa Rabbku telah membunuh tuannya, Kisra, pada malam ini, tepatnya enam jam yang lalu”, sambut Rasulullah tenang.

Ibnu Sa’ad berkata, “ Yaitu pada malam selasa, 10 Jumadil ‘Ula tahun kesembilan. Allah menggerakkan Syirawaih, anak Kisra, untuk membunuhnya”. Akhirnya, kedua orang itu kembali menemui Badzan, sang gubernur, guna menyampaikan berita ini. Selanjutnya Badzan bersama anak buahnyapun masuk Islam.

4. Harits bin Umair al-Adzi.

Rasulullah mengutus Harits bin Umair al-Adzi kepada Syurabil bin Amr al-Ghassani, penguasa Bushra. Namun pemimpin ini menolak bahkan kemudian mengikat serta membunuh Harits. “ Tidak ada utusan Rasulullah saw yang dibunuh selain al-Harits bin Umair al-Adzi”.

Rasulullah juga mengutus beberapa utusan kepada para pemimpin Arab di berbagai wilayah. Diantara mereka ada yang menolak ada yang menerima. Tetapi sebagian besar menerima.  Khalid bin Walid, panglima Quraisy yang di kemudian hari mendapat julukan Saifullah al-Maslul ( pedang Allah yang terhunus) dan selalu menang dalam pertempuran adalah salah satu diantaranya.

Rasulullah begitu berbahagia melihat masuknya Khalid. Karena Khalid adalah seorang panglima perang yang amat disegani baik musuh maupun anak buahnya. Dengan masuknya Khalid ke jajaran Islam diharapkan ia mampu menarik sebanyak mungkin pengikut. Menurut riwayat ia masuk Islam bersamaan dengan Amr bin Ash, panglima perang yang di kemudian hari menaklukkan Baitul Maqdis dan Mesir dari cengkeraman Romawi.

( Youtube  Surat2 asli Rasulullah saw:

http://www.youtube.com/watch?v=JB5R1a4bSUM&NR=1&feature=fvwp ).

Paris, 4 April 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

“Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mu’min dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus”.(QS.Al-Fath(48):20).

Ayat di atas turun ketika Rasulullah dalam perjalanan pulang dari Hudaibiyah menuju Madinah, beberapa saat setelah ditanda-tanganinya perjanjian Hudaibiyah. Yang dimaksud harta rampasan perang yang banyak pada ayat di atas itu adalah kemenangan Muslimin pada perang Khaibar. Khaibar adalah kota terbesar Yahudi yang banyak memiliki benteng dan ladang-ladang kurma. Tanah kota tersebut memang dikenal amat subur, airnya berlimpah dan berbagai buah tumbuh dengan mudah di tanah ini. Kota yang merupakan  benteng utama Yahudi ini terletak sekitar 165 km utara Madinah arah Syam.

Janji Allah swt sendiri akan harta rampasan yang banyak itu adalah sebagai bentuk kasih sayang dan penghargaan-Nya akan kesabaran kaum Muslimin dalam menghadapi kebencian dan permusuhan musuh-musuh Islam seperti kaum Musryik Mekah dan Yahudi selama ini. Dan puncaknya adalah perang Hudaibiyah. ( Click  https://vienmuhadi.com/2011/03/07/xxi-perdamaian-hudaibiyah-dan-baitur-ridwan/ untuk baca Perjanjian Hudaibiyah ).

Mendengar janji tersebut, orang-orang Munafik Madinah yang selama ini tidak pernah ikut terlibat dalam peperangan Islam, tiba-tiba meminta izin untuk ikut berperang. Namun Rasulullah tidak mengabulkan permohonan tersebut. Rasulullah hanya mengizinkan berperang para sahabat yang pernah ikut berperang membela Islam dan tujuannya bukan untuk mencari harta rampasan saja.

Orang-orang Badwi yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: “Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu; mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah: “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami: demikian Allah telah menetapkan sebelumnya”; mereka akan mengatakan: “Sebenarnya kamu dengki kepada kami”. Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali. ”.(QS.Al-Fath(48):15).

Maka pada tahun 629 M, dengan membawa 1400 pasukan, mereka adalah para sahabat yang ikut dalam perjanjian Hudaibiyah, berangkatlah Rasulullah memimpin pasukannya memasuki Khaibar. Mereka berangkat dengan berjalan kaki dan berkuda. Ini adalah perang pertama kaum Muslimin yang terjadi setelah adanya perjanjian Hudaibiyah. Ini juga adalah perang pertama dimana kaum Muslimin datang menyerang terlebih dahulu. Karena sebelumnya pasukan Muslim hanya bertahan.

Rasulullah sengaja memilih jalur melalui Ar-Raji’, daerah antara perkampungan kaum Gathafan dan Khaibar. Kaum Gathafan adalah sekutu Yahudi yang selama ini selalu membantu Yahudi dalam memusuhi Islam. Dan kali inipun mereka sebenarnya memang telah berniat hendak membantu sekutunya itu. Namun nyatanya begitu mendengar kabar bahwa pasukan Rasulullah melewati perkampungan mereka, nyali merekapun jadi menciut. Akhirnya mereka membatalkan pertolongan mereka.

Dari Abu Muattib bin Amr ia berkata, ‘Ketika Rasulullah melihat Khaibar, beliau berkata kepada para sahabat –ketika itu aku bersama mereka–, ‘Berdirilah kalian!’. Rasulullah berkata, ‘Ya Allah, Rabb langit dan Rabb segala yang dinaunginya, Rabb bumi dan Rabb apa saja yang diangkutnya, Rabb setan dan apa saja yang dianutnya, Rabb angin dan Rabb apa saja yang diterbangkannya, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikan kampung ini, penduduknya, dan apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung diri kepadaMu dari keburukan kampung ini, penduduknya, dan yang ada di dalamnya. Majulah kalian dengan nama Allah!’ Doa tersebut selalu diucapkan beliau setiap kali beliau memasuki per-kampungan”.

Tidak mudah menaklukkan Khaibar. Kota benteng ini memiliki sistim pertahanan berlapis-lapis. Setiap benteng memiliki fungsi masing-masing. Perempuan dan anak-anak ditempatkan di sebuah benteng bernama  Watih. Harta benda disimpan di benteng Sulaim. Sementara persediaan makanan dan pasukan perang yang jumlahnya ribuan itu menempati benteng lain. Bahkan Yahudi Madinahpun melecehkan kemampuan pasukan Islam melumpuhkan Yahudi Khaibar. Namun bagi para sahabat kemenangan bukanlah banyak atau sedikitnya jumlah pasukan atau canggih tidaknya peralatan. Kemenangan adalah pertolongan Allah, Sang Penguasa Langit dan Bumi.

“Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Ali Imran(3):126).

“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.(QS.Al-Baqarah(2):249).

Mulanya Rasulullah menempatkan Abu Bakar ra sebagai pemegang panji. Namun pasukan ini tidak berhasil membobol pertahanan Yahudi. Kemudian Rasulullah mengutus Umar bin Khattab ra untuk menggantikan Abu Bakar. Tidak berhasil juga. Akhirnya Rasulullah memerintahkan Ali bin Abu Thalib ra  untuk keluar.

Dimana Ali?”, tanya Rasulullah ketika Ali tidak dilihatnya diantara para sahabat.

“ Wahai Rasulullah, Ali sedang sakit mata”, jawab para sahabat.

«  Panggil dia », perintah Rasulullah.

Setelah Ali tiba dengan mengucap doa, Rasulullah segera meniup mata Ali yang sedang sakit itu dengan kedua ludah beliau. Seketika itu sembuhlah mata Ali. Allahuakbar ..

Kemudian Rasulullah menyerahkan panji perang kepada Ali.

“ Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita ( Muslim) ?”, tanya Ali.

“ Kerjakanlah ! Tetapi jangan tergesa-gesa. Tunggu sampai engkau tiba di halaman mereka. Setelah itu, ajaklah mereka memeluk Islam dulu dan beritahukan kepada mereka kewajiban-kewajiban apa yang harus mereka lakukan terhadap Allah. Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada seorang diantara mereka melalui engkau, itu lebih baik daripada engkau memperoleh nikmat berupa unta merah », tegas Rasulullah.

( Unta merah bagi masyarakat Mekah ketika itu adalah suatu dambaan).

Begitulah prinsip perang dalam Islam. Perang bukan cara mendapatkan kemenangan dan kemegahan. Perang adalah hal terakhir yang dilakukan ketika orang tetap berkeras menolak menyembah Sang Khalik. Itupun bila mereka selalu menghalangi dan menghambat kemajuan Islam. Dan setelah dikalahpun tidak ada paksaan bagi mereka untuk berpindah agama selama mereka mau tunduk terhadap hukum Islam tentunya.

Semula pertempuran terjadi kurang seru karena pasukan Yahudi tidak mau keluar dari bentengnya. Mereka tetap bertahan didalam benteng-benteng kokohnya. Hingga akhirnya benteng demi benteng berhasil direbut pasukan Muslimin kecuali benteng Watih dan Sulaim yang merupakan benteng terakhir dan terkuat.  Maka merekapun terpaksa keluar dan perang satu lawan satupun tak dapat dihindarkan lagi.

Pertempuran berkecamuk hebat. Sepuluh hari lamanya benteng Watih dan Sulaim dikepung. Kedua benteng ini akhirnya jatuh setelah pasukan dibawah pimpinan Ali ini berhasil memotong saluran air ke dalam benteng. Penduduk Khaibar terpaksa menyerah dan berbondong-bondong keluar dari benteng pertahanan terakhir mereka. Dengan perasaan suka rela mereka menyerahkan seluruh harta benda yang mereka miliki termasuk ladang-ladang kurma yang luas, selama permohonan mereka untuk diampuni dikabulkan.

Rasulullah mengabulkan permohonan tersebut bahkan juga permohonan mereka agar diberi kesempatan untuk tetap menggarap dan mengelola ladang dan kebun-kebun tersebut dengan imbalan separuh dari hasil panen. “ Dengan syarat, kalau kami hendak mengusir kalian, kalian harus bersedia kami usir”, tegas Rasulullah.

Sungguh, betapa mulianya akhlak Rasulullah. Bandingkan dengan apa yang terjadi ketika Islam dikalahkan di Andalusia, Spanyol. Ketika itu kaum Muslimin dipaksa berpindah agama dan bila menolak mereka akan dibunuh atau diusir tanpa boleh membawa apapun. Begitu juga yang dilakukan pasukan Romawi ketika mereka mengalahkan musuh. Juga fenomena tanah Palestina di abad 21 ini. Kita dapat menyaksikan bagaimana keji dan tidak adilnya perlakuan zionis Israel terhadap kaum Muslimin di negri tersebut. Sungguh ironis ..  L

Selanjutnya kaum Yahudi tetap tinggal di Khaibar dan menggarap ladang tersebut. Rasulullah membebaskan mereka menjalankan kepercayaan dan hukum mereka sendiri. Mereka baru diusir dari tanah tersebut pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab. Itupun karena mereka berbuat kesalahan.

Usia perang, Rasulullah tinggal selama beberapa hari di Khaibar. Disinilah beliau menikahi seorang perempuan Yahudi bernama  Shafiyah binti Huyaiy bin Akhtab, seorang pemimpin Yahudi yang tertawan. Pembebasannya sebagai tawanan perang menjadi mahar perkawinannya. Ketika itu ia diberi dua pilihan ; dibebaskan kemudian diserahkan kembali kepada kaumnya atau dibebaskan kemudian menjadi isteri Rasulullah. Ternyata Safiyah memilih pilihan kedua yaitu, menjadi isteri Rasulullah.

Diceritakan bahwa Rasulullah melihat bekas kebiruan di pipi Shafiyah, “Apa ini?” Shafiyah menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

Shafiyah menceritakan bahwa sejak kecil ia telah mempelajari Taurat, kitab suci nenek moyangnya. Ia mendengar bahwa suatu ketika akan datang seorang Rasul. Itu sebabnya ia tidak ragu bahwa Muhammad adalah rasul yang diceritakan dalam kitab tersebut. Itu pula sebabnya ia ridho menjadi istri beliau meski ayah dan suaminya terbunuh dalam perang yang dipimpin Rasulullah itu.

Sementara dalam riwayat lain, diceritakan bahwa seorang perempuan Yahudi bernama Zainab binti Harith berusaha meracuni Rasulullah. Ia melakukan hal ini karena dendamnya terhadap kematian suaminya yang terbunuh dalam perang Khaibar. Perempuan ini mengirimkan sepotong daging domba yang telah dipoles dengan racun. Rasulullah sempat mencicipinya namun kemudian memuntahkannya kembali. Sebaliknya seorang sahabat bernama Bisyri bin Bara langsung menelannya hingga iapun meninggal dunia, terkena racun yang sebenarnya ditujukan kepada Rasulullah.

Dengan usainya perang Khaibar, setelah ghanimah dibagi-bagikan dengan adil dan semua merasa puas maka usai pula sejarah perlawanan Yahudi terhadap Islam. Pasukan Yahudi lain yang tinggal di Wadil Qura, tidak jauh dari Madinah, memang sempat melakukan pencegatan ketika rombongan Rasulullah melewati wilayah tersebut sepulang dari penaklukkan Khaibar. Namun pasukan Islam berhasil mematahkan serangan tersebut. Sebaliknya Yahudi Taima’ malah mengulurkan tawaran damai tanpa melalui peperangan.

Dalam sebuah riwayat diceritakan ; Suatu ketika dalam perjalanan dari Khaibar menuju Madinah, di salah satu akhir malamnya, Rasulullah bersabda, ‘Siapa orang yang siap menunggu Shubuh untuk kita sehingga kita bisa tidur?’. Bilal berkata, ‘Aku siap menunggu Shubuh untukmu, wahai Rasulullah’.

Maka Rasulullahpun berhenti. Demikian pula para sahabat, kemudian tidur. Sementara itu Bilal mengerjakan shalat beberapa raka’at. Usai shalat, ia bersandar pada untanya untuk menunggu waktu Shubuh, namun rasa kantuk menyerangnya dan ia pun tertidur.

Akibatnya tidak ada seorangpun yang membangunkan Rasulullah dan kaum muslimin melainkan sengatan sinar matahari. Beliau orang yang pertama kali bangun. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Apa yang engkau perbuat terhadap kita, hai Bilal?’ Bilal menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku tertidur sepertimu’. Rasulullah bersabda, ‘Engkau berkata benar’.

Rasulullah kemudian menuntun untanya tidak terlalu jauh kemudian menghentikannya. Beliau berwudhu diikuti kaum muslimin, lalu menyuruh Bilal mengumandangkan iqamah shalat dan mengerjakan shalat bersama kaum muslimin. Setelah salam, Rasulullah menghadap kepada para sahabat dan bersabda, ‘Jika kalian lupa shalat, shalatlah jika kalian telah ingat karena Allah swt berfirman, ‘Shalatlah karena ingat kepadaKu’.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 25 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. )”.(QS.Al-Fath(48):27).

Berdasarkan mimpi bahwa Rasulullah akan memasuki Masjidil Haram, maka pada suatu hari di bulan Dzulqa’idah tahun ke 6 H, Rasulullah mengumumkan keinginan beliau untuk  menunaikan ibadah umrah. Pengumuman ini langsung disambut antusias oleh sekitar 1400 sahabat Anshar dan Muhajirin.  Dengan mengenakan kain ihram serta membawa sejumlah binatang kurban ( al-hadyu) maka berangkatlah rombongan besar ini menuju Mekah yang ketika itu masih berada dibawah kekuasaan kaum Musryik Quraisy.

Setiba di Dzul Hulaifah, Rasulullah saw mengutus seseorang untuk mengintai keadaan kota Mekah. Rasulullah juga mengutus Ustman bin Affan ra pergi ke kota tersebut untuk mengabarkan kedatangan rombongan kepada kaum Muslimin yang ada di Mekah. Semula Rasulullah menginginkan  Umar bin Khattab ra yang melakukan tugas tersebut. Namun karena Umar mempunyai hubungan yang kurang baik dengan keluarga besarnya akhirnya Ustman yang diutus.

Sementara itu Rasulullah dan rombongan terus berjalan perlahan meneruskan perjalanan. Hingga di suatu tempat utusan pengintai tadi kembali dan melaporkan bahwa orang-orang Quraisy telah menyiapkan bala tentara untuk memerangi dan mencegah kaum Muslimin memasuki Mekah dan thawaf di Baitullah.

“ Bagaimana pendapat kalian”, tanya Rasulullah begitu menerima laporan tersebut.

“ Wahai Rasulullah, engkau keluar untuk maksud ziarah ke Baitullah bukan untuk membunuh atau memerangi seseorang. Berangkatlah terus ! Jika ada orang yang menghalangi, kita akan memeranginya”, jawab Abu Bakar ra.

Berangkatlah dengan nama Allah”, sambut Rasulullah.

Lalu Rasulullah dan rombonganpun melanjutkan perjalanan. Namun untuk menghalangi hal-hal yang tidak diinginkan Rasulullah menunjuk salah seorang sahabat yang menguasai jalan pintas yang tidak biasa digunakan umum agar memimpin didepan.

Maka jadilah rombongan ini menyusuri jalan terjal, naik-turun lereng-lereng berbatu tajam. Hingga di suatu tempat di sebuah jalan ke arah Hudaibiyah, unta Rasulullah tiba-tiba berhenti dan tidak mau berjalan. Para sahabat terperanjat. “ Si Qushwa mogok”, seru mereka.

Rasulullah saw menyahut, “ Ia tidak mogok. Ia tidak berwatak demikian. Ia dihentikan oleh Allah swt seperti dahulu Allah menghentikan pasukan gajah. Demi Allah jika mereka memintaku suatu langkah (persyaratan) yang akan menghormati Tanah Haram, pasti akan aku kabulkan”.

Selanjutnya Rasulullah mengarahkan untanya untuk mundur dan berhenti di ujung Hudaibiyah. Para sahabat kemudian turun dan minum serta berwudhu di sebuah parit yang tidak begitu banyak airnya hingga akhirnya kering sama sekali. Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa setelah mendengar pengaduan para sahabat bahwa mereka kehabisan air, Rasulullah kemudian menancapkan sebatang anak panah di parit tersebut. Maka tak lama kemudian paritpun terisi air kembali. Para sahabat lalu berebutan menggunakan sumber air tersebut untuk berbagai keperluan.

Dalam suasana demikian inilah tiba-tiba datang seorang utusan Quraisy. Ia menyatakan bahwa pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan untuk mengusir Rasulullah dan rombongan. Dengan tenang Rasulullah menjawab, “ Kami datang hanya untuk melaksanakan umrah. Sekalipun orang-orang Quraisy telah memutuskan untuk berperang, tetapi jika mereka suka, aku minta untuk menangguhkannya. Jika mereka enggan, demi Allah, aku siap memerangi mereka sampai orang-orang yang ada di belakangku tinggal sendirian. Dan Allah pasti akan menyelesaikan urusan-Nya”.

Utusan tersebut kemudian kembali ke kaumnya dan melaporkan apa yang dikatakan Rasulullah. Sementara itu Ustman bin Affan yang sebelumnya diutus ke Mekah tidak juga kunjung kembali. Berita yang sampai ke telinga Rasulullah, Ustman telah dibunuh oleh Quraisy !.

Maka Rasulpun bersabda “ Kami tidak akan tinggal diam hingga kami berhasil menumpas kaum Quraisy”.

Kemudian Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat dan mengajak mereka berbaiat. Berbait kepada Rasulullah untuk tidak lari meninggalkan medan perang. Baiat ini berlangsung di bawah sebuah pohon dan kemudian dikenal sebagai Baiat Ridwan. Dalam kesempatan itu, Rasulullah mengambil tangan para sahabat satu bersatu sambil berkata : «  Pembaitan ini untuk Ustman ».

Namun tak berapa lama kemudian ternyata Ustman kembali dalam keadaan aman. Rupanya beberapa orang Quraisy sempat menahannya beberapa hari tetapi kemudian melepaskannya kembali. Betapa leganya Rasulullah mengetahui hal tersebut.

Selanjutnya dengan utusan Quraisy yang melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah. Setelah berembug, mereka kembali mengutus seseorang untuk menemui Rasulullah. Di tempat ini, Urwah bin Mas’ud, utusan kedua Quraisy, mendapati betapa para sahabat menghormati sang pimpinan, Rasulullah Muhammad saw.

“ Wahai kaum. Demi Allah, aku pernah menjadi tamu para raja, kaisar, kisra dan najasi. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana penghormatan yang dilakukan oleh para pengikut Muhammad. Sesungguhnya, dia telah menawarkan suatu langkah yang baik buat kalian. Karena itu, terimalah!”, demikian ucap Urwah, melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah kepada para pembesar Quraisy.

Langkah selanjutnya, para pemuka Quraisy memutuskan mengutus Suhail bin Amr sebagai wakil mereka untuk membuat perjanjian dengan kaum Muslimin. Sementara Rasulullah menunjuk Ali bin Abu Thalib ra sebagai juri tulis perjanijian yang di kemudian hari dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah ini.

“ Silahkan”, kata Suhail, “ Tuliskan suatu perjanjian antara kami dan kalian”.

“ Tulislah Bismilahir rahmanir rahim”, sabda Rasulullah kepada Ali.

“ Demi Allah, kami tidak tahu apa itu ‘ar-Rahman’. Tulislah Bismikallahumma », tukas Suhail.

« Demi Allah, kami tidak mau menulis kecuali  Bismilahir rahmanir rahim”, kaum Muslimin berkata.

«Tulislah Bismikallahumma. Ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah », sabda Rasul lagi.

Mendengar ini Suhail sontak menolak, «  Demi Allah, seandainya kami mengakui bahwa engkau adalah Rasul Allah, niscaya kami tidak menahanmu untuk datang ke Baitullah dan memerangimu. Tulislah Muhammad bin Abdullah ».

Rasul kembali mengalah, «  Demi Allah, aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian mendustakanku ! Tulislah Muhammad bin Abdullah ».

Di dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa nabi saw memerintahkan Ali agar menghapuskannya lalu Ali berkata, «  Demi Allah, aku tidak akan menghapusnya ». Rasulullah lalu bersabda, «  Tunjukkan kepadaku mana tempatnya ». Ali lalu menunjukkan dan Rasulullahpun menghapusnya sendiri.

Selanjutnya Rasulullah bersabda kepada Suhail, «  Kalian harus membiarkan kami melaksanakan thawaf di Baitullah ». Namun Suhail menjawab, « Demi  Allah supaya orang-orang tidak mengatakan bahwa kami mendapat tekanan dari kalian … engkau boleh thawaf tahun depan namun tidak boleh membawa senjata kecuali pedang dalam sarungnya ».

Selanjutnya utusan Quraisy tersebut juga mensyaratkan bahwa jika ada anggota keluarga Quraisy yang masuk Islam kemudian lari dan meminta perlindungan Madinah, mereka harus dikembalikan kepada kaumnya. Sebaliknya bila ada kaum Muslimin yang lari dari Madinah dan meminta perlindungan Makkah, mereka tidak harus dikembalikan.

«  Subhanallah, bagaimana mungkin seseorang yang telah beriman akan dikembalikan kepada kaum Musyrikin ? », protes para sahabat. «  Apakah kita akan menulis butir ini, wahai Rasulullah ? »

« Ya, sesungguhnya siapa saja diantara kita yang pergi kepada mereka maka semoga Allah menjauhkannya dan barangsiapa diantara mereka datang kepada kita maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya », jawab Rasulullah saw.

Itulah sebagian dari isi perjanjian perdamaian Hudaibiyah. Perjanjian ini berlaku untuk 10 tahun. Selama itu tidak boleh terjadi peperangan antara ke dua belah pihak. Masing-masing pihak boleh memilih dan mempunyai sekutu. Maka suku Khuza’ahpun mengumumkan persekutuannya dengan kaum Muslimin. Sedangkan bani Bakar memilih bersekutu dengan kaum Quraisy.

Dalam perjanjian Hudaibiyah tersebut juga dituliskan bahwa ketika kaum Muslimin berthawaf tahun depan nanti, kaum Musyrikin tidak diperbolehkan mengganggu. Mereka akan pergi ke lereng-lereng gunung,menyaksikan dari kejauhan.

Namun demikian, sebagian besar sahabat tetap merasa kecewa terhadap isi perjanjian yang dianggap merendahkan umat Islam yang dirasa mulai menguat itu. Umar bin Khattab ra adalah satu diantaranya.

“ Bukankah engkau Nabi Allah?” tanya Umar.

“ Ya, benar”, jawab Rasul.

“ Bukankah orang-orang kita yang terbunuh akan masuk surga dan orang-orang yang mereka bunuh akan masuk neraka?” tanya Umar lagi.

“ Ya, benar”, jawab Rasul tenang.

«  Lalu, mengapa kita menyetujui agama kita direndahkan ? », tanya Umar bertambah penasaran.

“Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia pasti akan membelaku”, jawab Rasul sabar.

«  Bukankah engkau telah menjanjikan bahwa kita akan datang ke Baitullah untuk melakukan thawaf ? », cecar Umar.

« Ya, benar. Tetapi apakah aku mengatakan bahwa engkau akan datang ke sana tahun ini ? Engkau pasti akan datang dan thawaf di Baitullah », tegas Rasul.

Umar tetap bimbang. Maka iapun mendatangi Abu Bakar ra. Namun Abu Bakar menjawab pertanyaan Umar persis seperti apa yang dikatakan Rasulullah.

Rasulullah tidak akan menyalahi perintah Rabbnya dan Allahpun tidak akan membiarkannya”, jawab Abu Bakar.

Tak lama kemudian Rasulullah memanggil Umar dan membacakan ayat yang baru saja diturunkan-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni`mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”.(QS.Al-Fath(48):1-3).

Ya, perjanjian Hudaibiyah sebenarnya adalah sebuah kemenangan besar bagi umat Islam. Ini adalah pengakuan pertama Quraisy terhadap keberadaan kaum Muslimin. Allah, Yang Maha Cerdas dan Maha Teliti  yang menuntun Rasulullah agar bertindak demikian. Ini adalah cara Allah mempersiapkan pembukaan pintu Mekah agar Islam dapat masuk tanpa perang, secara damai dan merasuk ke dalam hati sanubari semua penduduk Mekah yang lama dalam keadaan kesyirikannya.

Di kemudian hari Umar berkata, “ Aku terus berpuasa, shalat, bersedekah dan membebaskan budak ( sebagai karafat) dari apa yang pernah aku lakukan karena takut akan ucapan yang pernah aku lontarkan pada hari itu”.

Namun demikian kekecewaan sebagian besar sahabat yang belum dapat menerima bahwa perjanjiian tersebut sebenarnya adalah kemenangan tetap masih terlihat. Karena ketika Rasulullah memerintahkan agar mereka bercukur dan menyembelih hewan kurban yang mereka bawa sebagai tanda selesainya umrah, tidak mereka indahkan.

Akhirnya Rasulullah, atas usul Ummu Salamah, umirul Mukminin yang ketika itu menyertai Rasulullah,  tanpa banyak kata, langsung bercukur dan menyembelih kurban yang dibawanya. Maka para sahabatpun, tanpa kecuali, langsung mengikuti apa yang diperbuat Rasulullah. ( Baca juga : https://vienmuhadi.com/2009/03/16/keteladanan-rasulullah-saw-dalam-memperlakukan-perempuan/ ).

Setahun kemudian yaitu pada bulan Dzulqai’dah tahun ke 7 H, Allah swt memenuhi janji-Nya. Rasulullah beserta 2000 umat Islam memasuki Mekah dan melaksanakan umrah.  Seluruh sahabat yang ikut dalam perjanjian Hudaibiyah tak satupun yang tertinggal kecuali yang wafat dalam perang Khaibar sekembali dari perjanjian tersebut.

” Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang hari ini menyaksikan kekuatan yang datang dari hadirat-Nya”, begitu bunyi doa Rasulullah ketika tawaf sambil mengangkat tangan kanannya.  Kemudian mencium hajar aswad lalu berjalan cepat sambil mengelilingi Ka’bah.

Sebelumnya Rasulullah dan para sahabat memang sempat khawatir bahwa kedatangan mereka kali inipun akan tetap dihalangi orang-orang Quraisy. Namun Allah swt segera menurunkan ayat-ayat yang isinya  mengizinkan Rasulullah memerangi orang-orang tersebut meski di tanah Mekah sekalipun. Karena menghalangi seseorang menjalankan ibadah sama dengan menyebar fitnah.

” Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.(QS.Al-Baqarah(2):191-192).

Dan atas tekad kuat kaum Muslimin, Allah swt memberikan ridho-Nya hingga Rasulullah dan para sahabat dapat menjalankan ibadah tersebut tanpa hambatan. Tampak bahwa Allah telah memasukkan rasa gentar dan takut kepada orang-orang Quraisy untuk mengganggu kedatangan kaum Muslimin.

(Bersambung)

Paris, 7 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »