Feeds:
Posts
Comments

Mengenal Al-Quranul Karim

Al-Quran adalah kitab suci milik  kaum Muslimin. Kitab ini berisi firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw melalui malaikat Jibril as. Kitab ini  merupakan panduan hidup yang memberitahukan manusia apa arti hidup, mengapa kita hidup, apa tujuannya, kemana kita akan pergi setelah mati, siapa yang menciptakan kita, bagaimana kita harus menghadapi hidup dan segala macam permasalahannya dan lain sebagainya.

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?” (QS.Al-Waqiyah(56):75-81).

Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : ”Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah saw  secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”. (22 tahun, 2 bulan 22 hari). Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah.

Ayat diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad saw sedikit demi sedikit berdasarkan situasi, seringkali turun sebagai jawaban atas suatu permasalahan dengan hikmah tertentu. Oleh sebab itu turunnya ayat tidak berurutan. Yang dimaksud ” tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” adalah Al-Quran yang berada di Lauh Mahfuz. Sedangkan Al-Quran yang ada di dunia, yang jumlahnya  tak terhitung banyaknya ini dapat disentuh oleh semua orang, baik Muslimin yang suci maupun yang tidak suci juga orang-orang Kafir.

Selanjutnya dengan petunjuk Jibril as, setiap ayat yang turun diletakkan dan diatur sesuai dengan Al-Quran yang berada di Lauh-Mahfuz. Jadi bukan atas kehendak Rasulullah saw. Adapun tentang adanya perbedaan jumlah ayat dalam Al-Quran, hal ini disebabkan adanya pengulangan. Hitungan 6236 ayat adalah hitungan tanpa memperhitungkan pengulangan ayat yang ada, sedangkan 6666 ayat adalah bila dihitung semua ayat-ayatnya.

Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab sesuai dengan utusan yang membawanya, yaitu Rasulullah Muhammad saw, sebagian di Makkah dan sebagian lainnya di Madinah. Ayat yang diturunkan di Makkah dinamakan ayat Makiyyah sedangkan yang diturunkan di Madinah disebut ayat Madaniyyah. Ayat Makiyyah biasanya pendek-pendek, menerangkan tentang aqidah dan keimanan  sedangkan ayat Madaniyyah panjang-panjang dan pada umumnya mengajarkan tentang hukum. Disamping itu ayat Al-Quran juga bisa dibagi  atas 2 macam kelompok, yaitu kelompok ayat Mutasyabihat dan ayat Muhkamat.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”(QS.Ali Imraan(3):7).

Dari ayat diatas kita ketahui bahwa ayat Mutasyabihat adalah rahasia Allah yang tidak mungkin dapat kita artikan secara pasti. Kita hanya diperintahkan untuk mengimaninya saja, tidak perlu mencari-cari maknanya. Contoh ayat ini diantaranya adalah : Alif Laam Miim, Alif Laam Raa,Yaasiin, Shot dan sebagainya.

Al-Quran terdiri atas  114 surat dan dibagi menjadi 30 juz / bagian. 19/30 bagiannya turun di Makkah. Surat pertama adalah surat Al-Fatihah yang berarti Pembukaan. Surat ini merupakan inti Al-Quran, ia adalah satu-satunya  surat yang wajib dibaca umat Islam ketika shalat. Sedang surat terakhir adalah surat An-Naas yang berarti Manusia.  Al-Quran  ini dijamin kesuciannya, ia tidak akan mengalami perubahan hingga akhir zaman. Kandungannyapun dijamin akan selalu sesuai pada segala zaman. Allah juga berjanji akan memudahkan siapa yang mau mengimaninya,  membacanya, menghafalkannya apalagi mengamalkannya.

Ali ra mengatakan :” Barangsiapa yang membaca Al-Quran dalam keadaan berdiri saat shalat, baginya setiap huruf 100 hasanah. Barangsiapa membacanya sambil duduk dalam shalat,  baginya setiap huruf 50 hasanah. Barangsiapa membacanya di luar shalat dalam keadaan berwudhu,  baginya setiap huruf 25 hasanah. Dan barangsiapa membacanya tanpa wudhu,  baginya setiap huruf 10 hasanah”.

Jadi sungguh beruntung orang yang mengerti betapa tinggi kedudukan membaca Al-Quran walaupun ia tidak faham. Karena hikmah yang paling utama adalah dalam rangka membersihkan dan menenangkan  hati. ( Baca juga :https://vienmuhadi.com/2009/10/20/why-do-we-read-quran-even-we-cant-understand-arabic/ ).

“ Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya”.QS. Az-Zumar (39): 23).

Apalagi bila kita memahami, meyakini dan kemudian mengamalkannya. Inilah yang  lebih utama.

“ Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka  dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.  Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.( QS. Al-Baqarah (2):2-5).

“ Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ”. (QS. Al-A’raf (7): 204).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 15/5/2008

Vien AM.

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.(QS. AL Hijr (15):9).

Firman Allah swt diatas direalisasikan melalui empat tahapan berikut :

I. Pada masa Rasulullah Muhammad saw.

Bangsa Arab pada masa-masa  turunnya Al-Qur’an walaupun sebagian besar masih buta huruf adalah bangsa yang sangat kuat daya ingatnya. Sejak dulu mereka  menyukai syair dan puisi. Oleh karenanya mereka sangat menghargai para pujangga dan penyair. Mereka juga terbiasa merekam peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka seperti peperangan, peristiwa alam dan sebagainya dalam bentuk syair-syair yang indah yang kemudian  dihafalnya. Masa haji adalah masa dimana banyak orang berdatangan untuk memamerkan kebolehan mereka bersyair. Pesertanyapun beragam, mereka datang dari segala penjuru tanah Arab.

Dengan cara ini pula Al-Qur’an mulanya dipelihara. Para sahabat akan  berlomba menghafal begitu ayat turun. Disamping itu, Rasulullah saw juga memerintahkan beberapa sahabat yang dapat menulis agar segera menuliskan ayat-ayat tersebut  ke atas ’kertas’. Kertas ( al-qirthas) yang ada saat itu tidaklah sama dengan kertas yang ada sekarang ini. Kertas yang  dimaksud pada masa itu adalah benda atau bahan yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk ditulis diatasnya, seperti kulit binatang, daun, batu yang tipis dan licin, tulang binatang dll.

Dengan petunjuk Jibril as, Rasulullah kemudian menerangkan sekaligus mengatur tertib urutan ayat-ayat yang turun tersebut. Untuk menghindari kesalahan Rasulullah melarang keras menuliskan  apa yang selain ayat Al-Qur’an. Rasulullah dengan jelas menerangkan dan memisahkan antara ayat Al-Qur’an, hadis Qudsi dan  hadis. Sekali setahun Jibril as melakukan pengecekan terhadap ayat-ayat yang telah diturunkan sekaligus mendengarkan kebenaran hafalan Rasulullah. Bahkan  pada tahun wafatnya Rasulullah pengecekan dilakukan 2 kali.  Hal yang sama dilakukan Rasulullah. Secara berkala beliau memeriksa hafalan dan apa yang telah ditulis para sahabat. Rasulullah menganjurkan agar ayat-ayat tersebut selalu dibaca, dihafal dan disunahkan membacanya ketika shalat kecuali surah Al-Fatihah yang wajib dibaca.

 Dengan cara seperti itu makin waktu makin banyak orang yang hafal ayat Al-Qur’an. Sebagai penghargaan dan untuk memotivasi mereka Rasulullah bersabda : ” Di akhirat nanti tinta para ulama akan ditimbang dengan darah syuhada ”. Allah  berfirman:” Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”. (QS. Al-Qalam (68):1).  Bahkan pada masa peperangan tawanan yang tidak mampu menebus dirinya dengan uang tetapi pandai baca – tulis, sebagai ganti mereka diwajibkan mengajar menulis dan membaca sepuluh orang Muslim. Disamping itu Rasullah juga sering mengirim  utusan dan sahabat untuk mengajarkan ayat-ayat Al-Quran ke tempat dimana ajaran Islam baru masuk.

Dengan demikian ketika Rasulullah wafat kurang lebih 12 tahun setelah hijrah, seluruh ayat-ayat Al-Qur’an telah selesai dituliskan oleh para sahabat. Bahkan telah dihafal oleh ribuan manusia.  Maka selesai pulalah tugas Rasulullah. Tidak ada lagi satupun ayat yang turun. Ajaran Islam  telah selesai dengan sempurna sesempurna kitabnya, Al-Quran.

II.Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra.

Tak lama sesudah wafatnya Rasulullah banyak orang Islam yang murtad, terutama di Nejed dan Yaman. Mereka bahkan menolak  kewajiban membayar zakat yang sebelumnya biasa mereka setorkan ke Madinah. Disamping itu banyak pula orang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi dan utusan Allah. Terlihat jelas bahwa keimanan dan pengetahuan mereka akan ajaran Islam masih sangat dangkal.

Hal ini dihadapi Abu Bakar sebagai khalifah pertama dengan tegas. Ia khawatir bila fenomena tersebut dibiarkan akan diikuti oleh yang lain. Setelah tidak dapat diperingatkan secara halus maka Abu Bakarpun mengirimkan pasukan untuk memerangi mereka. Terjadilah  perang yang dikenal dengan nama Perang Yamamah. Dalam perang ini 70 orang penghafal Al-Quran ikut gugur.

Oleh karenanya, Umar bin Khatab menjadi sangat khawatir. Ia lalu menganjurkan Abu Bakar agar mengumpulkan Qur’an yang ada di tangan para sahabat. Mulanya Abu Bakar menolak dengan dalih mengapa harus mengerjakan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah. Namun setelah terus didesak dengan berbagai alasan kebaikan akhirnya Abu Bakar menyetujuinya. Iapun segera memanggil Zaid bin Tsabit, seorang sahabat yang pada masa Rasulullah selalu ditugasi menulis wahyu yang turun. Mulanya ia juga menolak tetapi setelah diajukan alasannya maka iapun menyetujuinya pula.

Kemudian ia segera mengumpulkan seluruh ayat-ayat yang tertulis di daun, pelepah kurma, batu, tulang unta dll. Namun sekalipun ia hafal seluruh ayat secara berurutan sesuai ajaran Rasulullah ia tetap merasa perlu adanya saksi dalam pelaksanaan tugas suci dan berat tersebut. Iapun mencocokkan hafalannya dengan sahabat-sahabat kepercayaan yang baik hafalannya. Setelah itu dengan sangat hati-hati dan teliti disaksikan 2 orang saksi ia menyalin ulang kumpulan ayat-ayat tersebut dan mengikatnya menjadi satu menjadi sebuah mushaf.

Kemudian mushaf diserahkan dan disimpan Abu bakar hingga beliau meninggal. Selanjutnya mushaf disimpan Umar bin Khatab sebagai khalifah penerus Abu Bakar. Sesudah beliau juga wafat, mushaf disimpan di rumah Hafsah, putri Umar hingga tibanya masa Usman bin Affan membukukan Al-Qur’an.

III.Pada masa khalifah Usman bin Affan

Pada masa ini umat Islam telah tersebar ke berbagai penjuru, dari Armenia dan Azerbaijan di sebelah timur hingga Tripoli di barat, dari Yaman di sebelah selatan  hingga perbatasan sungai Yarmuk di Syria. Umat Islam dimanapun berada selalu tergantung pada ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka memang terus  menghafalnya dan banyak yang menyimpan naskah yang masih tertulis di atas daun-daunan dan sebagainya. Cara membaca merekapun beragam sesuai dengan daerah dan dialek masing-masing. Hal ini tidak terlepas dari pengamatan para sahabat yang pernah hidup bersama Rasulullah dan mendapatkan pengajaran langsung dari  beliau. Mereka khawatir bila keadaan seperti itu terus dibiarkan, akan mengakibatkan perselisihan dan perdebatan yang berkepanjangan hingga dapat merusak persatuan umat.

Oleh karenanya Usman bin Affan sebagai pemimpin dan penanggung-jawab umat, ia segera meminta Hafsah untuk memberikan mushaf yang disimpannya. Kemudian Usman membentuk panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdulrahman bin Harits bin Hisyam. Tugas mereka adalah membukukan Al-Quran berdasarkan mushaf yang disimpan sejak Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Sementara itu lembaran-lembaran, dedaunan dan segala yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an  harus dibakar.

Buku yang ditulis oleh panitia diatas ada 5 buah dan disebut Al-Mushaf. Buku-buku ini dikirim masing-masing ke Mekah, Syria, Basrah dan Kufah. Sedang satu  yang disimpan di Madinah dinamai Mushaf Al-Imam. Dengan mencontoh  ke 5 mushaf ini kemudian Al-Qur’an disalin, dicetak dan disebarkan ke seluruh pelosok negri di dunia ini.

IV.Pada masa sekarang.

Di Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, contohnya di Mesir, sekolah-sekolah Awaliyah mewajibkan murid-muridnya hafal Al-Quran bila ingin meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di Indonesia hal ini hanya berlaku di sekolah-sekolah tertentu,  pesantren dan madrasah. Pada peringatan Nuzulul-Quran dan 1 Muharam  umat Islam terbiasa mengadakan lomba membaca Al-Quran ( Tilawatil Qur’an). Ini juga adalah salah satu bentuk pemeliharaan Al-Qur’an. Sedangkan untuk menjaga kemurnian Al-Quran yang diterbitkan di Indonesia ataupun yang didatangkan dari luar negri, pemerintah cq Departemen Agama mempunyai panitia yang bertugas memeriksa Al-Qur’an yang akan dicetak dan diedarkan.

Walahu’alam bishshawab.

Jakarta, 15/5/2008

Vien AM.

Makna bacaan dalam shalat

Pada suatu malam lebih kurang satu tahun sebelum Hijrah, Rasulullah diberangkatkan dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Palestina untuk kemudian dibawa naik ke langit dengan menunggangi seekor Bouraq, ditemani malaikat Jibril.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS.Al-Isra(17):1).

Disanalah Rasulullah Muhammad SAW mendapat perintah untuk menjalankan shalat sehari 5 waktu.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah bersabda :”…Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa as. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam”. Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Akupun telah menguji dan mencoba Bani Israel”. Maka akupun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.” Lalu aku kembali kepada Musa seraya berkata, Tuhanku telah menghapus lima kali shalat”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa as hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat……”. Akupun turun hingga bertemu lagi dengan Musa as dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya”. (HR Muslim).

Jadi dapat disimpulkan betapa tinggi dan istimewanya kedudukan shalat dimata Allah SWT. Namun untuk mengerjakan perintah ini sesungguhnya diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang benar agar shalat tersebut diterima dan mendapatkan ridho’ Allah SWT.

Ibnu Mas’ud berkata : “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, “Pekerjaan apakah yang paling utama?. Beliau bersabda : “Shalat tepat waktu”. Saya bertanya, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda, “Berjihad dijalan Allah”. Saya bertanya, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda,”Berbuat baik kepada ibu-bapak”.

Ketika shalat, kita diwajibkan untuk membaca surah Al-Fatihah. Surat ini juga dinamai Ummul-Quran yang berarti ibu atau inti Quran. Membaca Al-Fatihah dalam shalat adalah rukun shalat. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :“Barangsiapa yang mendirikan shalat tanpa membaca Ummul-Quran maka shalatnya tidak sempurna”; “Tidaklah berpahala shalat yang didalamnya tidak dibaca Ummul-Quran”.

Allah bersabda :”Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung”. (QS.Al-hijr(15):87).

Surat yang dimaksud dalam ayat diatas ini adalah surat Al-Fatihah yang terdiri dari 7 ayat, yang wajib dibaca pada setiap rakaat oleh kaum Muslimin ketika shalat.

” Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS.Al-Faatihah(1):1-7).

Surat ini memiliki makna yang amat padat dan mendalam; suatu penghambaan yang dimulai dengan menyebut sifat utamanya, yaitu Pengasih dan Penyayang, pujian yang hanya milik-Nya, yang menguasai hari Pembalasan, yang hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan agar kita tidak tersesat, memohon hidayah dan bimbingan sebagaimana yang telah Ia berikan kepada para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh dan memohon agar kita terhindar dari jalan kebathilan, sebagaimana yang ditempuh kaum Yahudi yang dimurkai-Nya karena tidak memiliki amal dan banyak membunuh para nabi maupun kaum Nasrani yang tersesat karena tidak memiliki pengetahuan yang benar. Jadi sesungguhnya jalan yang dikendaki dan diridho’i-Nya adalah jalan yang berdasarkan pengetahuan yang benar beserta pengamalannya, bukan hanya salah satunya.

Jepang adalah suatu negara yang dikenal luas akan kedisiplinannya. Rupanya masyarakat negri matahari terbit ini sejak lama telah memiliki kebiasaan mengulang-ngulang kalimat tertentu seperti kalimat “ Aku juara! ” seratus kali dalam sehari. Teori ini disebut “Repetitive Magic Power’ yang terbukti mampu merealisasikan apa yang diucapkan tersebut dan menjadikannya motivasi untuk mencapai suatu cita-cita.

Begitu pula dengan shalat. Bacaan yang diulang-ulang yang dimengerti maknanya, apalagi bila dilaksanakan secara khusu’, teratur dan berkesinambungan pasti akan melahirkan manusia-manusia yang penuh ketakwaan. Jadi shalat sebenarnya adalah suatu pembinaan diri yang nantinya akan memberi keuntungan bagi pelakunya, yang dapat memberinya ketenangan batin, kedekatan akan Tuhannya.

Bacaan Syahadat dalam shalat, bacaan yang diucapkan minimal 9 kali dalam sehari dimaksudkan agar kita selalu ingat akan janji untuk hanya menyembah kepada-Nya dan mengakui Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.

Sedangkan makna dibalik ucapan “Allahu Akbar” yang mengawali sahnya shalat seseorang yang berarti “Allah Maha Besar” bila direnungkan dengan penuh kesadaran, sesungguhnya mengandung hikmah suatu penghambaan mutlak hanya kepada-Nya. Dialah yang Maha Besar, kita, manusia adalah kecil. Apapun yang terjadi pada diri kita ini sesungguhnya atas izin dan kehendak-Nya. Kita adalah kecil karena kita tidak memiliki kekuasaan maupun kekayaan apapun dibanding Dia. Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Ilmu yang kita miliki tidak ada artinya dengan apa yang dimiliki-Nya. Semua yang ada pada kita sesungguhnya hanya titipan-Nya yang pada saatnya nanti harus dikembalikan dan dipertanggung-jawabkan. Bahkan kitapun tidak memiliki kuasa untuk menolak ketika Ia memanggil kita untuk kembali kepada-Nya dimanapun dan dalam keadaan apapun kita berada. Maka dengan demikian sungguh hanya kepada-Nya kita patut menyembah, memohon bantuan dan berserah diri atas ketetapan-Nya.

Bacaan Allahu-Akbar ini terus kita ulang-ulang paling tidak 5 kali dalam satu rakaat atau berarti minimal 85 kali dalam sehari. Bacaan ini dibaca setiap kali kita merubah gerakan. Hal ini memberi makna bahwa dalam keadaan apapun seperti berdiri, duduk, berbaring, sujud maupun ruku’, ketika kita dalam keadaan susah maupun senang, sakit maupun sehat kita harus senantiasa mengingat kebesaran-Nya.

Demikian pula bacaan lain seperti do’a Iftitah yang dibaca setelah takbiratul Ikhram, sebagai berikut : “…Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS.Al-An’aam(6:162) yang diucapkan dalam shalat kita minimal 5 kali dalam sehari . Adakah kita benar-benar memahami makna ikrar, janji kita tersebut?

Setelah membaca do’a Iftitah, surat Al-fatihah dan salah satu surat ataupun ayat Al-Quran  kita rukuk sambil membaca bacaan yang mem-besar-kan nama-Nya. Begitu bangun dari rukuk kita membaca ” Sami’ Allahu liman hamidzah” yang artinya : Allah mendengar siapa yang memuji-Nya“.   Artinya kita diingatkan agar dalam shalat bersungguh-sungguhlah karena Ia mendengar kita! Ini harus benar-benar kita yakini.

Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud “.(QS. Asy-Syu’ara(26):217-219).

Berikutnya adalah do’a yang kita ucapkan ketika dalam posisi duduk diantara dua sujud yang diucapkan minimal 17 kali dalam sehari sebagai berikut “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah aku dan cukupilah aku dan tinggikanlah aku dan berilah rizki padaku dan tunjukilah aku jalan dan berilah aku sehat dan maafkanlah aku”.

Sadarkah kita bahwa sebenarnya rezeki, kesehatan, jabatan, kemuliaan maupun petunjuk yang ada pada kita ini adalah wujud atau buah dari permintaan dan permohonan yang setiap hari kita mintakan secara berulang kali, yang kemudian dikabulkan-Nya?

Selanjutnya adalah bersujud. Posisi menempelkan dahi, yang merupakan bagian paling bergengsi manusia, ke permukaan terendah di muka bumi ini yaitu, tanah adalah melambangkan tanda syukur kita sebagai mahluk yang sangat  kecil dan amat bergantung kepada Sang Pencipta Yang Maha Tinggi  diatas sana. Bacaan ‘” Subhana Robbiyal ‘Ala” yang berarti  ”  Segala Puji hanya milik Rob Yang Maha Tinggi “ ini jelas mengisyaratkan hal tersebut.

Shalat ditutup dengan membaca Tahiyatul-akhir, sementara Tahiyatul- awal diselipkan pada rakaat ke  2 untuk shalat-shalat  yang ber-rakaat lebih atau sama dengan  2. Bacaan ini berfungsi untuk mempertegas dan mengulang ikrar kita sebagai umat Islam, yaitu bacaan Syahadat.  Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat dilanjutkan dengan shalawat nabi, memohon kepada Allah agar  junjungan kita Muhammad saw mendapat tempat yang tinggi di sisi Allah sebagaimana nabi Ibrahim as.  Ini adalah bentuk kecintaan kita kepada sang Rasul yang telah berjasa mengajak manusia kepada jalan  yang benar, menjauhkan kita dari kesesatan dan kegelapan.

Begitulah shalat yang diajarkan Rasulullah sebagaimana dicontohkan malaikat Jibril as atas izin-Nya.

Dengan menyadari hal-hal diatas maka seharusnya shalat mampu mengubah prilaku dan cara berpikir seseorang.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Ankabuut(29):45).

Disamping itu penting untuk diingat, bahwa Rasulullah, seorang nabi kesayangan yang walau telah dijanjikan baginya surga, beliau tidak hanya menjalankan shalat wajib yang 5 waktu saja. Beliau banyak mengerjakan shalat sunnah seperti shalat rawatib, yaitu shalat sunah yang menyertai shalat wajib baik yang dilaksanakan sebelum maupun sesudah shalat wajib, shalat duha, shalat qiyamul lail, tahajud maupun shalat sunnah lainnya.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):45-46).

Wallahu’alam bishawwab.

Jakarta, 19 April 2007.

Vien AM.

Referensi :

  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Kumpulan Materi Hafalan dan terjemahnnya oleh KH As’ad Humam.
  • Kecerdasan Emosi dan Spiritual olah Ary Ginanjar Agustian.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. (QS.Al-Ahzab(33):21).

Sungguh beruntung kita, kaum Muslimin, karena Allah SWT telah menganugerahkan kita suatu buku petunjuk, yaitu Kitabullah, Al-Quranul-Karim. Kitab ini adalah kumpulan wahyu yang diturunkan Allah SWT dengan perantaraan malaikat Jibril selama kurun waktu 23 tahun kepada nabi-Nya yang ummi, Muhammad SAW. Rasulullah ummi yaitu tidak mengenal dan tidak pernah belajar membaca dan menulis karena memang kondisi saat itu tidak begitu memerlukan kepandaian baca-tulis.

Namun demikian beliau adalah seorang yang amat bijaksana. Beliau adalah seorang yang dikenal luas sebagai seorang yang ber-akhlak mulia sejak jauh sebelum era kerasulan. Beliau adalah seorang yang amat bersahaja juga rendah hati. Sejak muda masyarakat sekitarnya telah sering menitipkan amanah kepada beliau karena mereka amat mempercayainya. Menurut Ibnu Hisyam, salah seorang penulis kitab-klasik Shirah Nabawiyah ternama yang termasuk orang pertama yang menulis sejarah kehidupan Rasulullah yang hidup pada sekitar tahun 1100 M, Ka’bah sebelum zaman Islam telah mengalami pemugaran selama 4 kali.

Pemugaran ke 4 terjadi ketika Rasulullah berusia 35 tahun. Pada mulanya pemugaran berjalan lancar, masing-masing kelompok kabilah bekerja menurut pembagian tugas yang telah disepakati bersama. Demikian pula Rasulullah, beliau turut bekerja membantu paman beliau, Al Abbas bin Abdul–Mutthalib. Namun setelah pemugaran sampai pada tahap peletakkan kembali batu Hajar Aswad terjadi perselisihan. Masing-masing kabilah merasa lebih berhak untuk melasanakan pekerjaan tersebut. Perselisihan berkembang menjadi pertikaian hingga nyaris terjadi pertumpahan darah. Hal ini terus memanas hingga berhari-hari. Beruntung akhirnya suasana mendingin setelah semua pihak mau berkumpul dan berembug. Diputuskan bahwa siapapun yang pertama kali memasuki pintu Ka’bah, dialah yang berhak memutuskan perkara.

Tak lama kemudian, dalam suasana tegang tampak Rasulullah berjalan menuju pintu Ka’bah. Serentak merekapun berucap : “ Nah, dialah Al-Amin (orang yang terpercaya), kita rela dan puas menerima keputusannya.!”. Kemudian setelah Rasulullah mengetahui duduk perkaranya, maka beliaupun meminta selembar kain, lalu setelah kain dihamparkan beliau meletakkan Hajar-Aswad ditengah-tengah kain tersebut. Kemudian beliau berujar :” Setiap kabilah hendaknya memegang pinggiran kain, lalu angkatlah bersama-sama!”. Setelah kain didekatkan ketempat penyimpanan Hajar-Aswad kemudian beliau mengangkat benda tersebut dan meletakkannya pada tempatnya. Dengan cara itu maka berakhirlah perselisihan dan semua pihak merasa puas.

Sifat amanah ini pula yang menjadi daya tarik utama bagi Khadijah ra, istri sekaligus orang pertama yang mengakui ke-rasulan Nabi Muhammad SAW. Ketika itu Khadijah sebagai seorang saudagar sedang memerlukan seseorang yang dapat dipercaya membawa barang dagangan untuk dibawa ke negeri Syam. Beliau memang telah lama mendengar bahwa ada seorang pemuda Mekah yang dijuluki Al-Amin. Demikian pula halnya dengan Abu Bakar As Sidik ra, sang Khulafaul Rashidin I. Sejak kecil Abu Bakar telah menjalin persahabatan dengan Muhammad kecil. Ia mengenalnya dengan amat baik.

Itulah sebabnya ketika sebagian besar orang Quraisy menyangsingkan kebenaran berita Rasulullah mengenai Isra’nya ke Yerusalem sekaligus Miraj’nya ke langit, Abu Bakar ra hanya berkomentar : “ Bahkan yang lebih dasyat dari itupun aku pasti mempercayainya “. Ini merupakan sebuah tanda bahwa sejak kecil Muhammad SAW tidak pernah berbohong. Keimanan yang demikian tingginya ini pulalah yang menyebabkan Abu Bakar ra mendapat kedudukan yang tinggi baik disisi Allah SWT maupun disisi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda bahwa Abu Bakar adalah satu diantara sepuluh sahabat yang dijanjikan surga oleh Allah SWT.

Akhlak mulia tersebut tidak berubah sedikitpun walaupun beliau kemudian menjadi seorang pemimpin agung yang memiliki pengikut amat banyak dari berbagai kalangan dan lapisan. Anas bin Malik RA berkata : Para sahabat yang akan berdiri menyambut kedatangan Rasululllah, tidak jadi berdiri ketika tahu bahwa Rasulullah tidak mau dihormati seperti itu”. Padahal bila beliau menghendaki apapun dapat beliau dapatkan.

“Demi Allah, wahai paman! sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini”.

Itulah yang diucapkan Muhammad Rasulullah ketika Abu Thalib, sang paman yang selama itu senantiasa melindunginya, menganjurkan agar beliau mau menghentikan syi’ar karena sang paman merasa tak mampu terus melindungi keponakan tercinta karena ia sendiri terus ditekan para pemuka Quraisy. Hal ini menunjukkan betapa kuat dan kokohnya pendirian dan ketakwaan beliau demi terus melanjutkan perintah Allah SWT.

Beliau juga adalah seorang yang mudah berkomunikasi dengan siapapun, senantiasa berlaku sopan, lemah-lembut, sabar dan tidak pernah marah walau disakiti. Namun wajah beliau akan berubah merah padam bila melihat atau mendengar kemungkaran atau hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina. Ali bin Abi Thalib RA berkata: “ Rasulullah tidak pernah marah untuk hal duniawi. Beliau marah karena kebenaran. Tidak seorangpun yang mengetahui kemarahannya. Kemarahannya terhadap sesuatu pasti mendatangkan kemenangan baginya.”

Beliau juga suka dan mau mendengar dan menghargai pendapat orang lain walaupun pendapat itu datang dari bawahannya. Demikian pula bila pendapat itu benar dan lebih baik dari pendapat beliau sendiri, beliau bersedia merubah dan mengikuti pendapat tersebut.

Aisyah RA berujar : Ahlak beliau (Rasulullah) adalah Al-Quran.” (HR Abu Dawud dan Muslim).

Yang juga tak kalah pentingnya adalah kecintaan Rasulullah yang begitu besar terhadap umatnya. Pada tahun ke 10 kenabian, Rasulullah pergi berdakwah menuju kota Thaif, sebuah kota di atas bukit tidak berapa jauh dari Mekah. Namun dakwah beliau tidak disambut dengan baik. Beliau bahkan dilempari batu sehingga Rasulullah terpaksa meninggalkan kota tersebut dengan rasa sedih yang amat sangat dan bersembunyi di suatu tempat di Qarn Al-Manazil, kurang lebih 10 km dari Mekah. Ketika itu datanglah malaikat Jibril dan mengabarkan bahwa Allah SWT telah mengutus malaikat gunung guna mengabulkan apa yang dikehendaki Rasulullah. “Wahai Muhammad, katakan apa yang kau mau. Jika engkau mau, akan aku timpakan kepada mereka Al-Akhsyabain ( yakni gunung Abu Qubais dan gunung Qu’ayqa’an)”.

Namun apa jawab Rasulullah ? “ Aku justru berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka anak keturunan mereka yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun”. Demikian pula ketika Rasulullah SAW tengah menghadapi sakratul maut 12 tahun kemudian. Beliau sempat bergumam: “ Ummahku…ummahku…ingatlah yang menyebabkan durhakanya umat Yahudi adalah kaum perempuannya ”. Hal ini menggambarkan betapa Rasulullah amat peduli dan senantiasa memikirkan kelanjutan nasib umatnya. Beliau begitu khawatir jikalau umatnya kelak tersesat padahal beliau sendiri tengah dalam keadaan sakit keras. Begitu besarnya rasa cinta, kasih dan tanggung-jawab beliau terhadap kita, umat Islam.

Berikut pendapat sejumlah orang besar Barat mengenai Rasulullah SAW :

1. Napoleon Bonaparte (Napoleon I), pendiri Empirium Perancis (1769-1821 M).

“ Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat…Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi… Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”…..

( hal 105 dari “Bonaparte et L’Islam oleh Cherfils).

2. Alphonso De Lamartine, sastrawan kenamaan Perancis (1790 – 1869 M).

“ Tidak ada orang selain dia yang dapat menyelesaikan revolusi besar dan kekal di dunia. Sebab dalam waktu dua abad setelah kemunculan Muhammad, Islam menguasai seluruh tanah Arabia, menaklukan Persia, Khurasan, Transoxsania, India Barat, Syria, Mesir, Abesinia, seluruh Afrika Utara yang dikenal pada waktu masa itu, pulau-pulau di Laut Tengah, Spanyol dan sebagian Perancis. Lelaki itu tidak hanya mampu menggerakkan empirium-empirium dan dinasti-dinasti; tetapi iapun sanggup menghimpun berjuta-juta manusia di sepertiga bagian dunia yang dikenal orang pada masa hidupnya……Atas dasar sebuah kitab yang setiap hurufnya menjadi ketentuan hukum ia menciptakan kebangsaan spiritual yang mempersatukan manusia dari berbagai ras dan bahasa. Ia meninggalkan kepada kita karateristik kebangsaan muslimin yang tidak dapat dihapus dan kebencian akan tuhan-tuhan palsu serta kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Esa lagi Ghaib…”.

( hal 276 – 277 dari “ Histoire de la Turqui “ jilid II oleh dirinya sendiri).

3. Goethe , filsuf Jerman. (1794 – 1832 M).

Muhammad membangunkan Persia yang sedang tidur, menginsyafkan Rumawi Timur ( Byzantium ) dan kaum Nasrani di negeri-negeri Timur, agar mereka tidak terus-menerus asyik berdebat dan berpecah-belah akibat filsafat shopites Yunani. Tidak dapat disangkal lagi bahwa para Nabi di dunia ini serupa dengan kekuatan-kekuatan raksasa yang terdapat di alam wujud, yaitu kekuatan-kekuatan yang senantiasa mendatangkan kebajikan bagi umat manusia seperti matahari, hujan dan angin yang menghidupkan tanah kemudian membuat tanah yang tandus dan gersang menjadi penuh dengan tanam-tanaman berwarna hijau. Manusia wajib mengakui kenabian mereka. Tanda-tanda yang membuktikan kebaikan mereka dapat kita lihat dari kenyataan bahwa mereka itu hidup dengan keyakinan, berjiwa tenang dan tentram, bersemangat dan bertekad kuat, tabah dan sabar menghadapi berbagai macam cobaan, tangguh menghadapi kebobrokan mental dan moral masyarakatnya yang pasti akan lenyap bila terus-menerus diberantas dan kehidupan mereka sehari-hari yang tidak putus beribadah dan berdoa…Jika semuanya itu yang diajarkan agama Islam kita semua adalah orang-orang Islam”. ( hal 38 dari “Hadhritul ‘Alamil-Islamiy” jilid I oleh Amir Syakib Arslan, dikutip dari pembicaraan antara Goethe dan sang penulis).

Melalui pribadi sempurna inilah Al-Quran diturunkan. Sebuah Kitab yang dijamin kesucian dan keasliannya, tidak ada perubahan sedikitpun dari awal diturunkannya hingga detik ini. Namun begitu, tidak sedikit pula orang yang memusuhi Rasulullah SAW. Terutama para Orientalis, mereka sebenarnya mau tak mau terpaksa harus mengakui kebesaran beliau. Tetapi harus dicermati, sebenarnya sebagian dari mereka ini tengah berusaha memberikan pemikiran tentang kebesaran Muhammad SAW sebagai manusia biasa, sebagai panglima perang, sebagai pemimpin namun tidak sebagai utusan Allah. Seringkali mukjizat yang dimiliki Rasulullah tidak ditonjolkan. Padahal sebagai seorang utusan Allah mukjizat adalah bukan sesuatu yang mustahil bahkan mutlak.

Qatadah meriwayatkan dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah SAW dan para sahabat membawa wadah air (dalam bepergiannya) lalu beliau meminta wadah tersebut yang didalamnya terisi air. Kemudian beliau meletakkan telapak tangannya didalam wadah tadi maka mengucurlah air diantara jari-jarinya sedangkan semua sahabat berwudhu dengan menggunakan air tersebut. Anas bertanya kepada Abu Hamzah ”Berapa para sahabat yang berwudhu (dengan menggunakan air yang memancar dari jari-jari Rasulullah itu) ?” Abu Hamzah menjawab ”Mereka yang berwudhu lebih kurang 300 orang ”.(HR Bukhari Muslim).

Disamping itu Rasulullah SAW juga diberi kelebihan dengan pandangan yang super tajam. Pandangannya dapat menembus batas langit dan bumi, termasuk apa yang terjadi di alam kubur. Ibnu Abbas meriwayatkan. Ketika Rasulullah berjalan bersama para sahabat melewati dua kuburan, tiba-tiba beliau berkata “Orang yang berada didalam kedua kubur ini tengah disiksa oleh Allah STW. Yang satu berjalan (dimuka bumi ini) dengan suka mengadu domba, adapun yang satu lagi tidak pernah menutupi dari air kencingnya (artinya, percikan dari air kencingnya itu sering kali mengenai tubuh atau pakaiannya, lalu dipakainya pakaian tersebut untuk melakukan shalat tanpa mencuci atau menggantinya terlebih dahulu)”.

Beliau juga mampu menembus pandangan jauh ke masa depan. Itulah sebabnya dalam perjalanan beliau menuju Sidratul Muntaha ketika Miraj’, beliau bertemu dan melihat para Rasul bahkan dapat berkomunikasi dengan Musa as di surga. Padahal ketika itu semua manusia termasuk para Rasul masih dalam penantian di alam kubur.

“ Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu”.(QS.Al-Haaqqah(69):40-47).

Maka sudah sepatutnya pulalah bila Allah SWT memerintahkan kita agar mengikuti sunnah Rasululullah sebagaimana tertuang dalam As-Sunnah atau Al-Hadis yaitu dengan mengikuti ucapan, prilaku dan keputusan yang ditetapkan beliau atas izin-Nya.

“ Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS.An-Nisa(4):64).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 8/2008.

Vien AM.

Ref. HMH Al Hamid Husaini, Riwayat Nabi Besar Muhammad saw.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…………” ( Al Baqarah (2:256))

 

         Untuk menjadi seorang muslim, diwajibkan baginya untuk bersyahadat, yaitu dengan menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah. Dengan kata lain, iapun wajib mengakui dan mengimani bahwa sebagai utusan Allah beliau telah menerima wahyu (melalui malaikat Jibril). Itulah pintu gerbang masuk Islam. Dan sebagai konsekwensinya seorang muslim dituntut untuk menjalankan ajaran-ajaran Al-Quran dan hadis Rasulullah. Maka bila suatu ketika seorang yang mengaku muslim namun kemudian ia meragukan ke-otentisitas-an Al-Quran, dengan menyatakan bahwa Al-Quran bukanlah Kalamullah ataupun bila ia Kalamullah tetapi redaksinya Muhammad saw, masih dapatkah kita katakan bahwa ia seorang muslim? Bila yang menyatakan hal tersebut seorang orientalis mungkin kita masih dapat memakluminya, tetapi bagaimana bila hal itu keluar dari mulut seorang yang notabene tokoh Islam?

      

         “ Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keraguan-raguan terhadap Al-Quran, hingga datang kepada mereka saat(kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat”.(Al Hajj (22:55)

        

            Beberapa tahun belakangan ini muncul sebuah disiplin ilmu yang dimasukkan dalam kurikulum kampus berlabelkan Islam yaitu Hermeneutika. Ilmu ini sebetulnya bukanlah ilmu baru, terutama di negara-negara barat. Ilmu ini adalah teori yang mengajarkan bagaimana mengartikan atau menafsirkan suatu text atau pernyataan tertulis. Hal utama yang harus diperhatikan dalam Hermeneutika adalah latar belakang dan kepentingan si penulis, struktur bahasa dan hubungannya dengan keadaan sekarang.  Seorang hermeneut, orang yang mendalami hermeneutika, diwajibkan untuk kritis dalam mempelajari sebuah text. Di barat, sudah sejak lama ilmu ini diterapkan untuk mempelajari text-text Injil. Itulah salah satu sebab mengapa Injil mengalami beberapa kali revisi. Dan hal tersebut resmi disetujui Vatikan.

 

           Nah, saat ini sejumlah pemikir Islam yang telah mengecap dan memperdalam ilmu serta mengambil gelar doktoralnya di negara-negara barat, membawa ‘oleh-oleh’ ilmu Hermeneutika tersebut ke tanah air untuk diajarkan kepada para mahasiswanya di kampus-kampus Islam. Celakanya, ilmu tersebut digunakan untuk menafsirkan Al-quran! Padahal, sebagaimana dijelaskan diatas, untuk menerapkan ilmu tersebut, seseorang harus mengenal dan mengetahui cara berpikir si penulis. Sebaliknya, bukankah Al-Quran diturunkan kepada umat manusia agar dapat mengenal Sang Pencipta? Lebih jauh lagi, mereka bahkan meragukan ke-otentisitas-an Al-Quran dengan menyatakan keraguan atas  niat Ustman bin Affan dalam membukukan mushaf Al-Quran yang mereka anggap sebagai kepentingan politik kubu beliau ketika itu. Tentu saja hal itu tidaklah masuk akal. Ustman bin Affan adalah salah satu sahabat nabi yang dijanjikan surga, ahlaknya begitu terpuji. Bila hal itu memang benar, tentunya kekuatan-kekuatan politik sepeninggal Ustman akan berusaha membuat mushaf baru. Nyatanya hingga saat ini,lebih dari 1400 tahun setelah Al-Quran dibukukan, tidak pernah ada perubahan secuilpun dalam Al-Quran. Janji Allah untuk memelihara Al-Quran akan ke-otentisitas-annya memang terbukti. Tidak ada satupun bacaan di dunia ini yang dihafal oleh jutaan manusia dengan ejaan dan lafal yang tidak berubah sebagaimana  aslinya selama ribuan tahun.

  

 

        “Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Al Kitab(Al Quran) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas kemudian mereka dibakar di dalam api  (Al Mu’min (40:69-72))       

    

           Memang banyak ayat-ayat Al-Quran yang memerlukan penafsiran yang mendalam, yang mungkin dapat berkembang mengikuti zaman. Namun hal tersebut lebih disebabkan pemahaman atau pengetahuan yang waktu itu memang masih terbatas. Maka sebetulnya bukan Al-Quran yang mengikuti zaman, melainkan zamanlah yang akan membuktikan kebenaran Al-Quran apabila manusia mau belajar memahaminya atau menafsirkannya. Itulah sebetulnya tugas umat Islam, khususnya para cendekiawan muslim.

 

           Patut dicermati latar belakang seorang Abu Zayd, seorang hermeneut yang menjadi guru besar di Leiden, Belanda dan banyak menjadi panutan para kelompok liberalis di Indonesia. Nasr Hamid Abu Zayd adalah intelektual asal Mesir. Ia menyelesaikan pendidikannya hingga S3 di Universitas Kairo,Mesir jurusan sastra Arab dan sempat mengabdi sebagai dosen di almamaternya. Pada tahun 1978, ia memperoleh beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute of Middle Eastern Studies, University of Pennsylvania,Amerika Serikat. Sekembalinya ia menulis sejumlah buku yang dianggap bermasalah oleh pemerintah Mesir. Kemudian pada tahun 1992 ia mengajukan promosi untuk menjadi guru besar di Universitas Kairo namun ditolak. Ia dianggap tidak layak menjadi professor  karena buku-buku yang ditulisnya banyak yang melecehkan ajaran Islam. Ia kemudian protes dan membawanya ke pengadilan, namun kalah. Bahkan di sejumlah mesjid-mesjid besar para khatib menyatakan bahwa Abu Zayd telah murtad. Merasa tidak lagi diterima di negerinya, maka ia dan keluarganya pergi menuju Spanyol kemudian menetap di Belanda. Ironisnya di Negara tersebut ia justru disambut sebagai pahlawan dan langsung ditawari kursi professor prestisius di universitas di Leiden. Demikian pula perguruan-perguruan tinggi di Berlin dan Amerika Serikat tidak mau ketinggalan menawarkan jabatan-jabatan penting di kampus-kampus  mereka.

 

             Namun yang lebih aneh,di Indonesiapun ia diundang dan disambut meriah. Gagasan-gagasannya diadopsi dan dipropagandakan secara besar-besaran. Maka demikianlah, saat ini para pengikutnya yang kebanyakan  dari kalangan intelektual Islam, dengan dalih mengikuti perkembangan zaman, mereka mencoba mengutak-ngatik ayat-ayat Al-Quran untuk disesuaikan dengan selera dan kepentingan duniawi. Mereka melontarkan ide-ide bahwa semua agama sama atau pluralisme,sekulerisme dan liberalisme. Hal ini sungguh mengkhawatirkan dan akan dapat memberikan kesan bahwa yang diperlukan seseorang cukup hanya mengimani adanya Sang Pencipta tanpa kewajiban untuk melaksanakan apa yang telah dilakukan dan dicontohkan nabi kita Muhammad saw.

 

        “Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibu-kota itu seorang. Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka;  dan  tidak   pernah  (pula)   Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman”. (Al Qasas(28:59).

 

         Tidak cukupkah segala bencana alam yang menimpa negeri kita tercinta ini, sehingga kita harus menambah kerusakan-kerusakan moral seperti hal tersebut diatas?

 

Jakarta, 3/8/2006

Vien AM.  

       

Sumber: Hegemoni Kristen-Barat ( dalam studi Islam di perguruan tinggi ) oleh Adian Husaini.

Mengendalikan Emosi Amarah

Marah atau Amarah adalah salah satu emosi alamiah yang muncul ketika suatu keinginan / kebutuhan tidak terpenuhi karena adanya suatu hambatan. Emosi ini diperlukan agar seseorang terdorong untuk melawan dan berjuang mengatasi hambatan yang merintangi terpenuhinya kebutuhan / keinginan tersebut. Tingkat kemarahan seseorang dapat diukur berdasarkan tingkat kebutuhan yang terhambat dan tujuannya  dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Jika kemarahan itu terjadi pada saat adanya hambatan yang menghalangi tercapainya suatu tujuan utama kehidupan maka kemarahan tersebut adalah kemarahan yang mulia bahkan merupakan suatu keharusan.

 “ Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali ”.(QS.At-Tahriim(66):9).

 Kekerasan terhadap orang kafir maupun orang munafik disini timbul bukan karena tanpa sebab. Kaum Muslimin bersikap keras ( marah ) karena perlawanan dan permusuhan mereka terhadap Islam sehingga sulit bagi kaum Muslimin untuk menjalankan hukum Allah. Karena sesungguhnya kebenaran harus ditegakkan dan diperjuangkan. Sebaliknya kemarahan tidaklah harus dengan cara  menyakiti atau mencelakakan orang yang menyebabkan kemarahan tersebut. Rasulullah tidak pernah marah walau disakiti. Disaat beliau marah, bibirnya malah terkatup rapat  bukan mengeluarkan kata-kata yang meledak-ledak. Namun wajah beliau akan berubah menjadi merah padam bila melihat kemungkaran dan hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina. Ali bin Abi Thalib RA berkata: “ Rasulullah tidak pernah marah untuk hal duniawi. Beliau marah karena kebenaran. Tidak seorangpun yang mengetahui kemarahannya. Kemarahannya terhadap sesuatu pasti mendatangkan kemenangan baginya.”

 Alkisah dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib RA hampir memenggal leher lawannya. Tiba-tiba lawannya itu meludahi mukanya. Ali sangat marah. Pada saat itu, ia justru memacu kudanya pergi menjauh dan menyarungkan pedangnya. Ia tidak ingin membunuh lawan karena nafsu amarah. Karena membunuh  dalam peperangan adalah dalam rangka menjalankan perintah Allah untuk menegakkan  keadilan bukan melampiaskan rasa amarah. Sedangkan  kemarahan yang tidak beralasan, yaitu kemarahan yang tidak disebabkan oleh adanya hambatan yang mengancam  terpenuhinya kebutuhan yang mendasar adalah kemarahan yang tercela. 

 Dengan demikian emosi marah ( maupun emosi-emosi lain-lain seperti takut, sedih dan juga gembira ) sebetulnya sangat bermanfaat bagi kehidupan selama emosi itu seimbang dan muncul pada saat yang tepat. Al-Quran memerintahkan kita untuk menguasai segala macam bentuk emosi termasuk emosi marah. Emosi yang berlebihan akan mempercepat detak jantung seseorang. Hal ini disebabkan terjadinya kontraksi tekanan darah dalam organ tubuh  sehingga menyebabkan darah mengalir dengan lebih deras. Keadaan seperti ini bila dibiarkan terus-menerus, lama-kelamaan akan membahayakan jantung. Marah yang berlebihan juga dapat meningkatkan produksi hormon adrenalin yang  dapat menyebabkan timbulnya kekuatan yang besar. Kekuatan  inilah yang dikhawatirkan  dapat menyebabkan seseorang melakukan penyerangan fisik dan membahayakan orang yang membangkitkan amarahnya. Disamping itu seseorang pada saat mengalami emosi, produksi getah beningnya  akan berkurang drastis. Kondisi ini dapat mengakibatkan terganggunya proses pencernaan sehingga menyebabkan timbulnya berbagai penyakit lambung .

 “……dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS.Ali-Imraan(3):134).       

 Rasulullah menganjurkan kepada para sahabat untuk menahan marah dan  saling memaafkan. Seseorang yang dapat menguasai rasa marah akan menemukan nilai kehidupan tertinggi. Nilai kehidupan ini sepadan dengan “ jihad spiritual ”. Maka siapapun yang berhasil dalam jihad ini maka ia akan mampu menguasai diri dari nafsu syahwat dan segala godaan dunia yang mengepungnya.

Diriwayatkan dari Abu Ayyub, bahwa Rasulullah pernah bersabda :        “Tidak diperbolehkan bagi kaum Muslim mendiamkan ( saling cemberut ) saudaranya lebih dari tiga hari. Jika mereka bertemu, mereka saling berpaling. Padahal sebaik-baik dari mereka ialah yang memulai perdamaian dengan mengucap salam”. ( HR. Bukhari & Muslim)

 Abu Dzaarr RA meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda :” Jika salah seorang diantara kalian marah dan ia dalam posisi berdiri, maka hendaknya ia segera duduk, maka kemarahannya akan hilang. Namun jika kemarahan itu tidak reda, maka hendaknya ia berbaring”.  Rasulullah juga menganjurkan para sahabat agar berwudhu’ untuk mengendalikan emosi kemarahan. Diriwayatkan  dari Urwah bin Muhammad as-Sa’di RA, Rasulullah bersabda : “ Marah itu berasal dari setan, setan itu diciptakan dari api. Adapun api dapat dipadamkan dengan air, maka jika seseorang diantara kalian marah, hendaknya segera berwudhu’.” Hadis ini menguatkan kebenaran ilmu kedokteran yang menyatakan bahwa air dingin dapat meredakan tekanan darah karena emosi, sebagaimana air dapat meredakan ketegangan otot dan syaraf. Oleh karena itu, mandi dapat dijadikan penawar untuk mengobati penyakit kejiwaan.   Disamping itu, Rasulullah juga terbiasa menganjurkan para sahabat yang sedang dikuasai rasa amarah untuk mengalihkan perhatian pada aktifitas lain yang memungkinkan seseorang lupa akan rasa amarahnya  ataupun merasa lelah sehingga ia tidak lagi memiliki tenaga untuk melampiaskan kemarahannya.

 Seseorang yang dalam kondisi marah ( dan semua emosi yang menekan ) akan mengakibatkan daya pikir menjadi melemah. Oleh karena itulah Rasulullah melarang orang  dalam kondisi seperti itu untuk memutuskan suatu perkara ( hukum ). Dari Abu Bakar RA, ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda :  Janganlah seseorang diantara kalian menentukan suatu hukum pada kedua pihak yang sedang berselisih dalam keadaan marah”.  Begitu pula emosi cinta, ia dapat menyebabkan lemahnya daya pikir seseorang. Dari Abu Darda RA : “Kecintaanmu terhadap sesuatu dapat menyebabkan kamu buta dan tuli”.

 Al-Quran mengajarkan manusia untuk memaafkan kesalahan saudaranya yang berbuat kesalahan. Allah SWT menyayangi orang-orang yang demikian dan menjanjikan pahala yang besar sebagai imbalan bagi mereka.

 “………maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(QS.Al-Maidah(5):13).

 Namun bila seseorang bersikokoh ingin membalas, tidak diperkenankan membalas dengan yang lebih keras dari yang diterimanya dan Allah lebih menyayangi mereka yang menahan diri.

 “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.(QS.An-Nahl(16):126).

 Dan dengan memperbanyak berzikir mengingat Allah SWT hati akan menjadi tenang terlepas dari emosi amarah dan segala emosi yang tidak terkendali.

 “(yaitu)orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.(QS.Ar-Raad(13):28).

 Wallahu’alam.

Jakarta,3/4/2007.

Vien AM. 

Referensi :

   Psikologi dalam Perspektif Hadis dan  Jiwa Manusia dalam sorotan Al- Quran  oleh   DR.Muhammad ‘Utsman Najati.