Feeds:
Posts
Comments

Yaman membara. Serangan yang dillakukan koalisi Arab sejak 26 Maret 2015 lalu dilaporkan telah menelan banyak korban tewas. Serangan gabungan Negara-negara teluk dibawah pimpinan Arab Saudi ini dilakukan atas permintaan presiden resmi Yaman yang dikudeta kelompok Syiah Houthi Februari lalu. Disinyalir, Iran berada di belakang kelompok pemberontak tersebut. Ini menambah jumlah perang dan kerusuhan yang melanda Timur Tengah yang telah terlihat tanda-tandanya sejak 2010 lalu, yaitu Arab Spring.

Ketika itu para pimpinan tertinggi Negara-negara Arab seperti Tunisia, Libia, Mesir,  Suriah, Aljazair, Maroko, Irak, Sudan dll didemo rakyatnya karena dianggap telah menjalankan pemerintahan secara tidak demokratis alias otoriter. Akibatnya, secara serempak, pemberontakan dan kerusuhanpun melanda Negara-negara tersebut. Tampaknya ini adalah buah dari gembar-gembor Demokrasi ala Barat yang berhasil menarik simpati dunia Islam, karena Islam saat ini memang sedang mengalami masa keterpurukannya. Sayangnya, hingga detik ini, meski presiden telah diganti melalui cara demokrasi, perang saudara masih terus saja terjadi. Ada apakah gerangan ??

Mesir, contohnya. Presiden Husni Mubarak telah djatuhkan, pemilu  secara demokratis telah dijalankan, dengan Mohammad Mursi sebagai pemenangnya. Namun tak sampai setahun jendral Abdul Fattah al-Sisi dan kelompoknya meng-kudeta Mursi.  Bahkan resmi menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin yang merupakan pendukung kuat Mursi adalah organisasi teroris. Tak tanggung-tanggung ratusan anggota organisasi yang dibentuk Hassan al Banna pada tahun 1928 dengan tujuan agar umat Islam bersatu dibawah payung Al-Quran dan As-Sunnah, di-eksekusi mati, dan ribuan lainnya dijebloskan ke bui.

Demikian pula Libia. Padahal dulu, sebelum pemberontakan, dibawah presiden Muammar Ghadaffi, meski dikenal otoriter, Libia cukup maju dan makmur. Ini berkat dibangunnya sebuah sungai buatan sepanjang 2800 km, yang berhasil membuat padang tandus Libia menjadi lahan hijau yang menghasilkan buah dan sayur -sayuran.

Uztad Arifin Ilham melalui status FB-nya berkata, “Alhamdulillah, sudah tiga kali ke Libya, dan dua kali shalat berjamaah di lapangan Moratania dan Lapangan Tripoli. Shalat berjamaah yang dihadiri 873 ulama seluruh dunia dan rakyat Libia, dengan Imam langsung Muammar Ghadaffi, bacaan panjang hampir 100 ayat Al Baqarah, sebagian besar jamaah menangis, sebelumnya diawali dengan syahadat 456 muallaf dari suku2 Afrika, dakwah beliau selalu mengingatkan tentang ancaman zionis dan blok Barat, pemimpin Arab boneka AS, dan selamatkan Palestina…”.

Suriah dan Irak lebih parah lagi. Perang saudara antara sesama bangsa dan sesama Muslim, yaitu Sunni dan Syiah berkecamuk dengan dasyatnya. Presiden Suriah, Bashar al-Assad yang menganut Syiah Rafidhah, secara brutal membantai rakyatnya sendiri yang beraliran Sunni.

Seperti diketahui, Sunni dan Syiah sejak dulu memang tidak pernah dapat disatukan. Awalnya perbedaan hanya pada pendapat siapa yang berhak meneruskan kepemimpinan Islam paska wafatnya Rasulullah Muhammad saw. Namun demikian istilah Syiah baru muncul setelah terjadinya perseteruan antara keponakan Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, khalifah ketika itu. Kelompok yang mendukung Ali menamakan diri sebagai “Shi’at Ali”, atau pengikut Ali, yang di kemudian hari berkembang menjadi Syiah. Saat ini dilaporkan, anggota Syiah berjumlah sekitar 10-15% dari Muslim di dunia.

Dengan berkembangnya waktu, Syiah makin terpecah menjadi banyak sekali kelompok kecil-kecil. Namun sebagian ulama sepakat bahwa Syiah terpecah menjadi 3 kelompok besar. Diantara 3 kelompok tersebut, yang sesat dan perlu diperangi adalah kelompok Syiah Istna Asyariah ( Syiah 12 imam). Nama lain kelompok ini adalah Syiah Rafidhah/Syi’ah Ja’fariyyah/Syiah Imamiyyah. Mayoritas dari mereka saat ini berada di Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, India, Saudi Arabia, di beberapa daerah di Suriah dan beberapa daerah bekas Uni Sovyet.

Sedangkan Syiah yang lain bukan diperangi tapi cukup dibina dan disadarkan. Sayangnya, justru Syiah Rafidhah inilah yang terbesar, yang merupakan mayoritas dan terus berkembang pesat termasuk yang masuk ke Indonesia. Padahal kesesatannya dari hari ke hari makin menjadi-jadi, terakhir pada masa kekuasaan Ayatullah Khomeini di Iran pada tahun 1979.

Syiah sejak lama berkeyakinan bahwa Alquran yang ada sekarang ini telah dipalsukan. Karena ayat yang menyatakan bahwa Ali telah ditunjuk langsung oleh Allah swt untuk menggantikan Muhammad saw telah dihapuskan. Tentu saja ini adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Bukanlah Allah sendiri yang mengatakan bahwa melalui para malaikat Al-Quran akan terus dijaga dan dipelihara dengan sungguh-sungguh??  Bukankah sejak dahulu penghafal Al-Quran sudah ada, dan jumlahnyapun banyak sekali.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr(15):9).

Syiah juga berpendapat bahwa para imam maksum alias tidak mungkin berbuat kesalahan. Kedudukan mereka bahkan lebih tinggi dari para nabi dan malaikat. Mereka juga menuhankan Ali. Syiah mengenal kawin mut’ah, menyiksa diri pada hari Asyura, mengkafirkan para sahabat sejati dan istri nabi serta menjadikan cercaan terhadap mereka sebagai ibadah !.

Patut menjadi pertanyaan besar, siapa sebenarnya yang paling senang ketika Sunni dan Syiah berperang? Siapa musuh terbesar Islam kalau bukan Israel dan sekutunya yaitu Amerika Serikat.

Ya, jurang perbedaan antara Sunni dan Syiah memang sengaja dibuat makin lama makin jauh, dengan tujuan agar umat Islam lupa kepada musuh aslinya, yaitu Yahudi. Agar Zionis Israel bebas mengusir rakyat Palestina dari tanah airnya sendiri, dan membangun bait mereka di Yerusalem.

Tapi tindakan koalisi Arab menyerang Yaman juga bukan berarti salah. Karena Syiah di Yaman yang merupakan perpanjangan Syiah Iran adalah musuh dalam selimut kaum Muslimin, yang sewaktu-waktu bisa menusuk dari belakang. Keberhasilan Syiah merebut kekuasaan di Yaman sebagai tetangga terdekat Arab Saudi, sangat berpotensi membahayakan Mekah dan Madinah, 2 kota tersuci umat Islam.

Simak pengakuan sultan Salahuddin, khalifah yang berhasil merebut kembali  Masjid al-Aqsha di Jerusalem dari tangan pasukan Salib pada tahun 1187. Dari kisah tersebut kita juga akan tahu bahwa Syiah Rafidhah sudah ada sejak zaman tersebut.

“Ketika Shalahuddin al-Ayyubi memutuskan untuk menghancurkan kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-‘Ubaidiyyah di Mesir, ada yang bertanya:

Mengapa anda memerangi kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-‘Ubaidiyyah di Mesir, tapi membiarkan kaum Romawi Salibis (Kristen) menguasai Baitul Maqdis dan wilayah Palestina?

Beliau menjawab: “Aku tidak akan memerangi kaum Salibis lalu membiarkan ‘punggung’ku tersingkap di hadapan kaum Syiah!”

Maka beliau pun membasmi Daulah Syiah al-‘Ubaidiyah di Mesir, Maghrib dan Syam, lalu mengembalikan kebesaran Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni di negri-negri yang tadinya memang ber-mahzab Sunni tersebut.  Setelah itu, beliau pun memimpin penaklukan kembali Baitul Maqdis, membersihkan Masjid al-Aqsha dari kenistaan kaum Salibis dan mengembalikan Palestina ke pangkuan umat Islam”.

http://www.pkspiyungan.org/2015/03/kenapa-raja-salman-tidak-serang-israel.html

http://kisahmuslim.com/dendam-syiah-kepada-shalahuddin-al-ayyubi/.

Simak pula prilaku busuk kerajaan Syiah Shafawi ( di daerah Iran sekarang ) pada abad 13 yang bersekongkol dengan pasukan Salib demi menjatuhkan kerajaan Islam Turki Ottoman yang dulu pernah berjaya selama berabad-abad.  Kemudian memaksa dengan kekerasan rakyatnya yang ketika itu mayoritas Sunni untuk berpindah ke Syiah.

http://kisahmuslim.com/trilogi-kisah-iran-dan-daulah-shafawi-bersama-kristen-eropa-memerangi-turki-utsmani-23/

Kini, menjadi pertanyaan akankah raja Salman bin Abdul Aziz dari Arab Saudi, yang merupakan pimpinan operasi militer gabungan Dewan Kerja Sama Negara-Negara Arab Teluk (GCC) bertajuk “Aashifatul Hazm” (Badai Penghancur) mengikuti jejak pendahulunya ? Yaitu menaklukkan kembali Jerusalem dengan Masjidil Aqshanya setelah serangannya ke Yaman ? Sebuah mimpi besar bagi umat Islam yang sejak berdirinya Negara Israel di tanah Palestina terpaksa terus menyaksikan kebiadaban Zionis terhadap saudara-saudari kita di sana.

Berikut penegasan raja Salman dalam sambutannya pada pembukaan KTT Liga Arab ke-26 di Mesir, Sabtu (28/03/2015) yang baru lalu.

Sesungguhnya urusan Palestina tetap menjadi hal terpenting bagi kami, sebagaimana sikap Arab Saudi terhadap masalah ini ( penyerangan Syiah Yaman, red) dari dahulu untuk terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina dan berdirinya negara Palestina yang berdaulat serta menjadikan kota Al-Quds yang mulia sebagai ibu kotanya. Hal ini sejalan dengan keputusan Resolusi Legitimasi Internasional dan Inisiatif Perdamaian Arab tahun 2002, keputusan ini disambut hangat oleh dunia internasional tetapi Israel merasa tidak mengetahuinya”.

http://www.pkspiyungan.org/2015/03/raja-salman-palestina-dan-suriah-babak.html

Ya Allah kabulkanlah keinginan raja Salman dan satukan umat Islam dalam menghadapi Zionis Israel, agar dapat segera keluar dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan serta permainan licik musuh-musuh Islam, aamiin YRA.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya“.(QS.Ali Imran(3):54).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 8 April 2015.

Vien AM.

Rubrik Republika « Khazanah Mozaik” edisi 24 Maret 2015 memuat artikel dengan judul “Revolusi Budak Muslim di Brazil”. Miris hati ini membacanya. Betapa tidak, lebih dari 12 juta Muslimin dibawa dari Afrika menuju Amerika Utara dan Selatan, hanya untuk dipekerjakan sebagai budak ! Na’udzubillah min dzalik …

Tragedi pahit ini memang telah lama terjadi yaitu selama periode tahun 1500 hingga 1800-an. Padahal Islam yang datang pada abad 7 mengajarkan bahwa perbudakan adalah hal yang sangat bertentangan dengan HAM, oleh karena itu harus dihilangan, meski secara bertahap, karena perbudakan di jazirah Arab pada masa itu telah mendarah-daging dan menjadi kebutuhan yang sulit untuk dihindarkan.

Islam menghapuskan perbudakan dengan berbagai cara.  Diantaranya membebaskan budak bagi orang yang melanggar janji ( Al-Maidah ayat 89), orang yang men-zihar istrinya ( Al-Mujadil ayat 3), zakat untuk memerdekakan budak ( At-Taubah ayat 60) dan sebagainya.

Sebaliknya Allah swt memang menciptakan manusia tidak semua dalam ‘derajat’ yang sama, dengan tujuan agar bisa saling memanfaatkan, saling bekerja sama. Tapi itu bukan berarti perbudakan dibolehkan ! Coba bayangkan bila di dunia ini tidak ada satupun pekerja kasar seperti kuli bangunan, tukang sampah, sopir dll.  Semua orang kaya, tak satupun ada orang miskin. Bagaimana zakat akan berjalan ? Akan tetapi perbedaan itu hanya berlaku didunia, yang hanya sementara, karena di akhirat nanti perbedaan hanya ada karena takwa.

“ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Az-Zukhruf(45):32).

Perbudakan di Brazil baru lenyap pada tahun 1888. Ini berkat usaha dan kerja keras kaum Muslimin, baik dari para budak itu sendiri maupun  tokoh –tokoh Muslim yang ada di negri Samba tersebut. Perdagangan budak bermula di Brazil ketika Portugis berkuasa di sana. Para budak yang rata-rata beragama Islam itu dipekerjakan dengan semena-mena. Namun demikian mereka tidak mau mengorbankan agama dan keimanan mereka. Mereka menolak berpindah keyakinan mengikuti agama tuan mereka, yaitu Katolik.

Di kemudian hari, bersama orang-orang Muslim non budak, mereka bahkan berhasil membangun komunitas Islam yang kuat. Mereka berhasil membina rasa persatuan umat, sesuatu yang  teramat sangat langka di zaman sekarang ini. Rasa persaudaraan sesama Muslim lebih kuat ketimbang persaudaraan sesama bangsa dan negara. Hingga pada sekitar tahun 1800 an, mereka telah memiliki komunitas dengan ulama-ulama yang mumpuni, masjid, sekolah dan sejumlah kegiatan keagamaan. Komunitas ini berpusat di Negara bagian Bahia, Brazil bagian timur.

Pada saat itulah akhirnya mereka sadar dan memutuskan harus keluar dari perbudakan yang selama ratusan tahun telah menjerat mereka. Mereka bertekad akan memberontak dari pemerintahan , membebaskan para budak dan merebut kapal-kapal milik pemerintah agar dapat kembali ke tanah kelahiran mereka di Afrika.

Sayang, gara-gara pengkhianatan seorang budak, rencana pemberontakan yang telah disiapkan matang-matang tersebut berhasil diendus dan digagalkan pemerintah.  Akibatnya para pemimpin rencana pemberontakan tersebutpun ditangkapi dan dibunuh oleh pemerintah. Sejak itu kaum Muslimin di Bahia terpaksa hidup sembunyi-sembunyi. Seluruh kegiatan mereka diawasi dan ditekan pemerintah.  Namun demikian, hingga 20 tahun setelah peristiwa tersebut, kaum Muslimin tetap berkali-kali mencoba memberontak meski selalu gagal. Tapi hebatnya,  meski mereka gagal mencapai tujuan utama mereka, dakwah mereka cukup berhasil. Dari balik persembunyiannya, para ulama dan cendekiawan Muslim  berhasil meng-Islam-kan orang-orang Afrika yang berada di Bahia.

Hingga suatu hari, salah satu tokoh terkenal mereka,  Malam Bubakar, mendeklarasikan jihad melawan pemerintah. Melalui dokumen berbahasa Arab, ia menyeru agar seluruh umat Islam di negri tersebut bersatu dan melawan tuan-tuan mereka. Ia juga menetapkan 27 Ramadhan tahun tersebut sebagai hari puncak pemberontakan.

Namun sekali lagi usaha ini terpaksa gagal. Pemerintah mencium gelagat tersebut. Tak ayal lagi dalam pertempuran tidak seimbang,  300 budak dan mantan budak Muslim berkulit hitam harus menghadapi lebih dari 1000 tentara bersenjata lengkap yang dikerahkan gubernur Bahia. Malam Bubakar bahkan telah tertangkap dan kemudian diasingkan beberapa bulan sebelum jatuhnya hari  H.

Tetapi ternyata peristiwa yang menelan korban 100 budak Muslim itu tidaklah sia-sia belaka. Beberapa waktu setelah tragedi tersebut pemerintah memutuskan untuk mendeportasi mereka kembali ke tanah air. Bukan hasil terbaik  memang,  tetapi minimal harapan mereka untuk kembali menghirup udara kebebasan  mereka dapatkan, di tanah air mereka sendiri.

Kini, 200 tahun paska tragedi nahas tersebut, fenomena seperti itu masih saja terjadi.  Bukan perbudakan dalam arti seperti dulu memang. Namun saudara-saudari kita sesama Muslim di berbagai belahan bumi ini banyak yang masih tertindas. Muslim di Palestina, Suriah, Rohingnya, Cina bahkan di Negara-negara Barat yang mengaku menjunjung tinggi toleransi dan demokrasi seperti Perancis, masih saja tidak dapat bebas menjalankan ajaran agama mereka. Diantaranya adalah izin pendirian masjid yang sangat sulit, pelarangan jilbab, shalat yang sangat sulit dilaksanakan di tempat kerja dll. Bahkan tak jarang mereka dimusuhi dan dijadikan kambing hitam pada berbagai kerusuhan yang terjadi.

Ironisnya, di Indonesia yang mayoritas Muslimpun, ada beberapa daerah yang tidak mau memberikan hak-hak beribadah kaum Muslimin. Bahkan polwanpun baru hari ini ( 25/3/2015) mendapatkan haknya menggunakan jilbab ketika bertugas. Itupun baru sebatas pengesahan peraturannya belum penerapannya. Namun masih tetap lebih baik dibanding TNI yang belum ada pemikiran ke arah itu. Kabar terbaru, bandara Soekarno Hattapun telah dipasangi autogate yang tidak dapat dilewati orang-orang bernama Muhammmad atau Ali. Meski akhirnya  kemenag mengklarifikasi bahwa itu hanyalah kesalahan alat canggih yang baru dipasang saja.

Lucunya lagi, ketika ada kelompok-kelompok yang membantu saudara-saudari mereka yang tertindas, yang diperangi, yang dizalimi, dengan mengangkat senjata alias berjihad, seperti yang terjadi di Palestina atau Suriah, maka dengan lantang orang-orang yang tidak satu pemikiran, meski sama-sama Muslim berteriak lantang :“ Islam adalah rahmatan lilalamin”. Jadi tidak boleh umat Islam melawan, marah, apalagi sampai mengangkat senjata. Lebih parah lagi label « Teroris»pun disandangkan kepada mereka yang melawan “kebenaran” versi Barat.

Tampak nyata bahwa persatuan Islam  yang merupakan salah satu kekuatan Islam telah hilang lenyap ntah kemana. Umat Islam telah terpecah dan terkotak-kotak ke dalam kelompok-kelompok bangsa dan Negara hingga akhirnya tidak lagi mempedulikan penderitaan sesama Muslim,  terutama bila bukan sesama bangsa dan negaranya. Padahal Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dan berkasih-sayang, dalam ikatan takwa.( Al-Hujurat ayat 13). Tanpa sadar umat Islam sebenarnya telah termakan hasil karya perang pemikiran ( ghazwl fikiri) yang dilontarkan Barat. Persaudaraan Muslim, apalagi jihad membela sesama Muslim yang tertindas adalah kejahatan, terorisme.

Rasulullah saw. bersabda:  “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam”. (Shahih Muslim).

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran(3):103).

Lalu bagaimana kita masih berani mengatakan “Islam adalah rahmatan lilalamin” bila kaum Muslimin saja tidak bisa merasakan kedamaian?  Pembunuhan dan pembantaian terus saja terjadi. Lihatlah betapa menderitanya saudara-saudari kita di Palestina yang selama puluhan tahun hidup di bawah kezaliman penjajah Israel, rakyat Suriah yang terus dibantai oleh Syiah Rasyidah dibawah Basar Asad. Bukankah Allah swt berjanji bahwa Ia akan memberikan nikmat-Nya;  kemudahan dalam segala hal dan urusan, dengan catatan bila umat Islam mau bersatu dibawah hukum dan panji Islam?

Tak heran bila belakangan ini, ISIS dengan segala isu kontroversialnya, berhasil menjaring banyak simpati dan daya tarik tersendiri, dari sebagian umat Islam. Kita saksikan sendiri betapa umat Islam dari segala penjuru datang bergabung ke dalam ISIS yang jelas-jelas berperang dengan tidak mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah.

Rasulullah saw bersabda :“Apabila kalian mendapatkan Fulan maka bunuhlah dia, tapi jangan kalian bakar! Sesungguhnya tak ada yang boleh menyiksa dengan api kecuali Tuhan Penguasa api” (HR. Abudaud).

http://internasional.kompas.com/read/2015/03/18/11252901/Mantan.Anggota.ISIS.Beberkan.Alasan.Ia.Tinggalkan.Kelompok.Itu?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

ISIS sama sekali tidak mencerminkan Islam, dan bukan juga Islam. Tapi toh tetap saja banyak Muslim yang membela organisasi ini hingga Islam tampak garang, jahat dan keji. Sepak terjang ISIS jelas makin mencoreng citra Islam yang sudah tercoreng. Alih-alih membela saudara-saudari kita yang tertindas, justru Islamophobilah yang makin menjadi-jadi. Tidak ada pembelaan ISIS untuk saudara/saudari kita di Palestina. Bahkan kabar terakhir ( 7/4/2015) kamp pengungsi Palestina Yarmuk di Suriah selatan diserang ISIS hingga mengakibatkan tewasnya 100 warga yang berada di kamp tersebut, membuat HAMAS berang dan berjanji akan membalas perbuatan biadab tersebut.

Lalu siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan adanya ISIS ini ??? Siapakah dibalik gerakan berbau terorisme ini ?

http://sapujagat.co/pengakuan-hillary-clinton-isis-ciptaan-amerika-israel/

Sekali lagi, tampaknya, kita telah berhasil diperdaya, dengan amat mudahnya, oleh musuh-musuh Islam. Na’udzubillah min dzalik …

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran“.(QS. Al-Ashr(103):2-3).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Maret 2015.

Vien AM.

( Sambungan ” Legenda Yunani; Santorini, Athena dan Hikmahnya (3)“).

Tiba saatnya untuk kembali, dengan tanda tanya besar dan rasa penasaran karena tidak berhasil menemukan satupun restoran halal di pulau milik Yunani ini. Namun ternyata jawaban itu ada di Yunani daratan yang kami temukan esok harinya.

Kami tiba di Athena, ibu kota Yunani, setelah setengah jam terbang dari Santorini. Setelah cek in hotel dan meletakkan koper serta barang bawaan, kami segera keluar kembali untuk melihat-lihat suasana kota sekaligus mencari makan malam. Maklum kami hanya semalam menginap di kota tua ini. Jadi harus benar-benar memanfaat kesempatan ini.

Untuk itu kami sengaja memilih hotel yang dekat dengan pusat daya tarik utama kota ini. Itulah Parthenon.  Parthenon  adalah kuil, rumah milik dewi Athena, putri kesayangan Zeus, dewa tertinggi Yunani. Nama ibu kota Negara ini memang diambil dari nama dewi yang dikenal sebagai dewi pelindung kota di pada abad 5 SM. Parthenon sendiri berada di pelataran tertinggi kompleks reruntuhan kuno Acropolis.

Athena menjelang tengah malam masih sangat ramai. Mungkin karena malam itu adalah malam minggu. Dan mungkin karena kami berada di pusat turis. Dengan mudah kami menemukan lokasi yang dari kejauhanpun sudah terlihat itu. Apalagi dibantu penduduk setempat yang rata-rata ramah. Dengan bahasa Inggris yang lumayan baik, dengan senang hati mereka mau menjawab pertanyaan dan membantu menunjukkan jalan.

Restoran adalah tujuan pertama kami. Kami memasuki sebuah restoran cepat saji ala Mc Donald. Bingung juga kami melihat menu berbahasa Yunani dengan hurufnya yang tampak asing bagi kami. Alphabet Yunani adalah alphabet paling tua di dunia yang masih digunakan hingga saat ini.

Akhirnya kami hanya melihat dan menunjuk gambar. Pertanyaan kami hanya satu, apakah itu daging babi atau bukan. “No, it’s chicken”, katanya sambil lalu, setelah sempat bingung apa yang kami tanyakan. Tampaknya ia tidak begitu menguasai bahasa Inggris.

Karena hari telah larut malam, apa boleh buat, meski sempat ragu, kami habiskan juga sajian di hadapan kami tersebut. Bismillah … Semoga kami tidak salah. Setelah itu kami segera keluar dan menuju Parthenon yang terletak tidak begitu jauh dari tempat kami makan.

IMG_3237Beruntung kami sempat menyaksikan Parthenon di malam hari. Karena kuil yang terletak di atas bukit di tengah kota itu terlihat sangat megah ketika bermandikan cahaya lampu di malam hari. Namun tak lama kami berada di tempat tersebut. Selain memang tutup hari juga sudah terlalu larut malam. Sayangnya kami juga tidak berhasil mengambil gambar yang cukup bagus.

« Besok bangun pagi ya .. Kita naik ke kereta mini ke Parthenon, lihat Athena dari atas, okay ?”, kata suami mengingatkan.

Pada saat kami hendak kembali ke hotel itulah, tiba-tiba seseorang menegur kami “ Assalamualaykum .. Glad to see you wearing the hijab. But why does not your daughter?”. Kaget kami dibuatnya. Saya dan suami hanya tersenyum sambil memandang anak gadis kami yang wajahnya terlihat memerah, tidak menyangka bakal ditegur sedemikian rupa, di kota berpenduduk mayoritas Kristen pulak. Ia memang belum siap menutup auratnya dengan sempurna.

Akhirnya kamipun terlibat percakapan. Ternyata orang yang menegur kami tadi adalah seorang imigran Ajjazair. Ia makin semangat mengobrol mengetahui bahwa kami tinggal di Perancis. Maklum, Aljazair adalah negara bekas jajahan Perancis. Itu sebabnya banyak sekali imigran Negara Arab di ujung utara Afrika ini di kota-kota Perancis, beranak pinak dan membuat semarak Muslim di negri bekas pimpinan Zarkozy ini. Demikian pula lelaki ini, ia mempunyai beberapa sanak saudara yang tinggal di Perancis.

Darinya pula kami jadi tahu bahwa Muslim di negri ini kurang beruntung. Karena selain tidak memiliki satupun masjid, pemotongan daging halalpun tidak ada. Yunani yang katanya merupakan bapak demokrasi karena disinilah sejarah awal demokrasi muncul namun nyatanya tidak mengizinkan Muslim berkembang.

Konstitusi Yunani menyatakan bahwa setiap anggota masyarakat secara mutlak dijamin kebebasannya dalam beragama. Dan bahwa setiap orang yang tinggal di wilayah Yunani akan menikmati perlindungan penuh akan kepercayaan mereka. Namun nyatanya tidak ada satupun masjid yang dapat ditemukan di Athena. Karena pendirian tempat ibadah agama lain ditentang oleh kalangan Kristen fundamentalis. Bahkan kabarnya, setiap aktivitas yang berhubungan dengan pembangunan rumah ibadah resmi harus disetujui terlebih dahulu oleh Gereja Ortodoks. Sekedar informasi, mayoritas penduduk Yunani adalah Kristen Ortodoks Timur (94%).

Untuk itu, ternyata kami harus bersyukur. Perancis yang nyaris selama 4 tahun ditambah 3 tahun lagi yaitu dari tahun 2000 hingga 2003 telah menjadi tempat tinggal kami sementara, masih memiliki sejumlah masjid. Bahkan pemotongan daging halal resmipun sudah ada sejak beberapa tahun belakangan ini meski protes tetap saja ada.

“ Kami disini tidak punya pilihan. Yang bisa kami hindari hanya tidak mengkonsumsi babi saja. Yah, baca Bismillah sajalah ketika memakannya, apa boleh buat”, keluhnya sedih.

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (QS.Al-An’am(6):121).

“Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut asma’ Allah atasnya, maka makanlah dia.” (Riwayat Bukhari).

Selanjutnya ia bercerita. Suatu ketika datang satu rombongan turis dari Arab Saudi ke sekitar Parthenon. Tamu perempuan yang ada diantara mereka seperti biasa mengenakan abaya hitam lengkap dengan cadarnya. Menunjukkan jelas bahwa mereka adalah Muslim. Mereka mendatangi sebuah restoran untuk makan malam dan memesan menu ayam. Kebetulan hari memang telah sangat larut malam. Wajar bila ternyata restoran kehabisan stok yang diminta. Namun tampaknya pihak restoran tidak mau menolak rezeki.

Lalu apa yang mereka lakukan. Dicucinya bersih-bersih daging tersisa yang mereka punya. Lalu dimasaklah dengan bumbu-bumbu beraroma kuat dengan maksud agar hilang bau dan rasa khas daging tersebut.  Kemudian dihidangkannyalah masakan ‘ayam’ tersebut. Dan tanpa sedikitpun rasa curiga para tamupun melahap pesanan mereka.

“Tahukah anda, daging apa yang mereka masak?”, “Babiii”, begitu jawab si bapak Aljazair tersebut menjawab pertanyaannya sendiri tanpa menunggu jawaban kami.

Naúdzubillah min dzalik … Benar-benar keterlaluan. Pasti orang-orang restoran tersebut tahu persis bahwa tamu mereka adalah kaum Muslimin yang haram mengkonsumsi daging yang satu itu. Kami hanya bisa berdoa semoga makanan yang tadi kami santap benar-benar ayam.

Selanjutnya mengenai masjid. Ia menerangkan meski di Athena ini tidak ada satupun masjid namun beberapa komunitas Muslim tetap melaksanakan shalat berjamaah di tempat-tempat tertentu. Contohnya Muslimin Pakistan, yang banyak mendiami area yang tidak begitu jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Ia menunjuk ke suatu arah tertentu.

Rasulullah s.a.w. bersabda “Shalat jamaah lebih utama dua puluh tujuh kali dibanding shalat sendiri” (HR. Bukhari Muslim).

Utsman ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda “Barang siapa shalat Isya’ dengan berjamaah, maka ia seperti mendirikan shalat selama setengah malam, barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka ia laksana shalat semalam suntuk” .(H.R. Muslim).

Tampaknya kesadaran umat Islam untuk mendirikan shalat secara berjamaah di Yunani, Athena khususnya, tidak dapat ditekan begitu saja. Ini terbukti dengan adanya 100 an “masjid kecil” di kota ini. Tentu saja semua masjid temporer tersebut tidak memiliki izin resmi dari pemerintah. Tercatat di Yunani ini ada sekitar 500 ribu Muslim, 40 % diantaranya berdomisili di Athena.

Keinginan agar pemerintah merealisasikan janji menyediakan rumah ibadah khusus bagi mereka hingga detik ini belum juga tercapai. Bahkan pernah suatu ketika terjadi di akhir shalat Iedul Fitri yang diselenggerakan di lapangan sebuah universitas, sejumlah orang melempari mereka dengan telur dan yoghurt ! Astaghfirullah haladzim .. Ya Allah berilah saudara-saudari kami itu kesabaran yang benar-benar tebal, amiiin ..

“ Bangunan di belakang anda itu dulunya juga masjid”, katanya mengejutkan “Namun duluuuu sekali ya, ketika Yunani masih berada di bawah kekuasaan Turki Ottoman”, lanjutnya lagi.

Saya jadi teringat sebuah blog yang pernah saya baca sebelum keberangkatan kami. Blog ini menceritakan pengalaman bagaimana ia dan sejumlah temannya mencari alamat masjid yang mereka temukan di internet. Mereka kecele karena masjid yang dimaksud tersebut adalah bangunan di belakang kami yang sekarang sudah dijadikan museum.

Sebaliknya mereka juga beruntung. Karena Allah swt mempertemukan mereka dengan seseorang yang menunjukkan letak ‘masjid rahasia’, dimana mereka dapat shalat berjamaah dengan tenang. Tidak semua orang bisa menemukan apalagi memasuki masjid tersebut, namanya juga rahasia. “Masjid” tersebut kalau bisa dibilang masjid karena sebenarnya hanya bekas sebuah gudang yang sudah disulap, terletak di bawah tanah. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat membuka rolling door kios makanan halal dimana masjid rahasia tersebut tersembunyi. Allahuakbar !

( Baca : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/08/24/menjadi-marbot-di-masjid-bawah-tanah-di-athena-lawatan-ke-masjid-masjid-di-mancanegara-10-390724.html

( Bersambung  : https://vienmuhadi.com/2012/11/02/yunani-santorini-athena-dan-hikmahnya-tamat/ )

Urgensi Shalat

Dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “ Inti segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi).

Ibarat rumah, shalat adalah tiangnya. Tentu kita semua faham tanpa tiang tidak mungkin sebuah rumah atau bangunan bisa berdiri. Begitu pula dalam be-Islam, tanpa shalat sia-sialah ke-Islam-an seseorang. Inilah yang menjadi ciri seorang Muslim, yang  membedakannya dari yang lain. Itu sebabnya seorang Muslim wajib shalat apapun kondisinya, baik ia dalam keadaan sehat maupun sakit, bahkan dalam perang sekalipun.

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. …”. (QS. An-Nisa(4):102).

Maka dapat dibayangkan bila dalam keadaan perang saja shalat tetap wajib didirikan apalagi hanya karena kesibukan kantor atau dalam kemacetan lalu lintas, sesuatu yang sering menjadi alasan penduduk ibu kota yang memang selalu macet. Meski berkat Kebaikan, Kemurahan dan Kebijaksaan-Nya, ada keringanan yang diberikan kepada hamba yang begitu dicintaiNya itu. Dengan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, tentu saja.

Inti shalat sebenarnya adalah zikrillah yaitu mengingat Allah swt, Sang Pencipta Yang Satu. Itu sebabnya bila shalat tidak mampu mendatangkan “ingat” kita kepada-Nya,  akan sia-sialah shalat tersebut. Itulah shalat yang disebut shalat yang lalai, shalat yang dijalankan hanya karena kewajiban atau malah riya, alias pamer karena ingin dilihat orang lain.

Lalu bagaimana mungkin kita dapat mengisi suatu bangunan bila tiangnya saja rapuh atau bahkan tidak ada ?? Tanpa shalat bagaimana kita dapat mengisi rumah tangga kita dengan ketenangan, kebahagiaan dan lain sebagainya ? Karena itu hal pertama yang dihisab ketika kita meninggal nanti adalah shalat kita.

Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya buruk maka buruk pula seluruh amalnya”.(HR. Ath-Thabarani).

Shalat seharusnya dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana dalam ayat 45 surat Al-Ankabut berikut :  “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”.

Shalat yang didirikan karena Allah swt, karena takwa, yang karenanya kita ingat kepada-Nya, dijamin pasti akan mencegah perbuatan buruk. Bagaimana mungkin seseorang akan berbuat selingkuh, zina, membunuh, korupsi, meng-acuh-kan kedua orang-tua, tidak peduli kepada fakir miskin, membiarkan aurat terbuka,  dan perbuatan hina lainnya bila kita selalu ingat pada-Nya ? Bila kita yakin seyakinnya bahwa ada kehidupan lain selain di dunia, ada kehidupan setelah mati, ada surga ada neraka, ada dosa dan pahala ?

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS. Al-baqarah(2):45-46).

“ Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging apabila ia (segumpal daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya dan apabila ia (segumpal daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati”.

Disinilah pentingnya hati, dan juga ilmu sebagai pedoman agar shalat kita tidak lalai, tidak percuma, tidak sia-sia. Agar kita tidak terjebak kepada pemikiran sekuler yang belakangan makin diminati, yaitu tidak penting shalat, yang penting baik, tidak korupsi dll apapun agamanya. Padahal Allah sendiri yang mengatakan shalat adalah amalan terbaik manusia. Agar Allah swt tidak memasukkan kita ke dalam golongan orang yang fasik apalagi kafir. Nudzu’billah min dzalik.

“ … Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)”, (QS. Al-Ankabut (29):45).

 “Buhul/ikatan Islam akan terputus satu demi satu. Setiap kali putus satu buhul, manusia mulai perpegang pada tali berikutnya. Buhul yang pertama-kali putus adalah adalah hukum, dan yang terakhir adalah shalat“. (HR.Imam Ahmad).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 Maret 2015.

Vien AM.

13922864221265699102

Kisah Terry Holdbrooks, tentara Amerika yang masuk Islam saat bertugas di Guantanamo Bay (Gitmo) sebenarnya bukan berita baru karena dia jadi Mualaf akhir tahun 2003. Tapi karena Terry menerbitkan buku “Traitor?” tahun 2013 lalu, yang berisi pengalamannya saat bertugas di Gitmo, nama Terry kembali jadi sorotan berbagai media massa. Judul “Traitor?” sengaja dipakai Terry karena sebagian besar rekannya menuduh Terry sebagai traitor (pengkhianat). Terry menyangkal tuduhan itu dia bilang “saya berubah jadi Muslim tapi bukan pengkhianat!” Menurut Terry apa yang dia ceritakan tentang Guantanamo Bay adalah fakta, oleh karena itu Terry setuju jika pemerintah Amerika menutup saja penjara itu.

Setelah masuk Islam, ada ucapan Terry yang menarik tentang Muslim di Amerika, apakah yang diucapkan Terry? Sebelum membahas ucapannya itu, ada baiknya mengenal sekilas kehidupannya. Terry Holdbrooks lahir di Arizona, Amerika tahun 1983 sebagai anak tunggal yang kurang kasih sayang, karena orang tuanya adalah pasangan Junkies (pecandu narkoba) dan lebih suka tenggelam dalam kenikmatan dunianya sendiri daripada mengurus anak. Sejak umur 6 tahun, Terry sudah dititipkan pada kakek dan neneknya hingga lulus SMA dan sekolah ketrampilan lainnya.

Sejak remaja Terry sudah hidup liar. Alkohol, tatto, seks bebas dan musik keras adalah bagian dari hidupnya. Suatu hari Terry tertarik untuk masuk Militer, selain bosan dengan kemiskinan, dia pikir profesi tentara adalah sesuatu yang keren dan bisa menghasilkan uang. Terry lalu mendaftar, saat pendaftaran dia ditanya, “Apa motif kamu masuk militer?” Terry jawab, “Saya ingin bunuh orang dan dibayar.” Saat itu juga Terry ditolak. Tapi Terry tidak menyerah setelah kunjungan ke empat kali, Terry ikut test dan dia lulus.

1392286270706644135

Juni 2003 diusia 19 tahun, Terry ditugaskan di penjara Guantanamo Bay, sebelum berangkat para tentara itu diperlihatkan lagi video saat gedung WTC hancur. Saat itu sang komandan bilang bahwa para teroris ini tidak perlu dikasihani, mereka berbahaya, bukan manusia dan jangan berinteraksi dengan mereka. Dalam pikiran Terry, para tahanan Gitmo itu sangat berbahaya, berdarah dingin dan menyeramkan.

Begitu sampai di Gitmo. Apa yang dia lihat disana ternyata jauh berbeda dengan bayangannya selama ini. Sebagian besar para penghuni Gitmo seperti orang desa yang lugu dan tidak tahu apa-apa, ada juga beberapa yg bergelar doctor, koki, guru, supir taxi bahkan ada anak 12 tahun dan kakek 70 tahun yang akhirnya meninggal karena sakit paru-paru. Dia bingung, inikah para teroris itu?? Apalagi jika melihat penyiksaan diluar batas kemanusiaan yang dilakukan pada para tahanan hatinya semakin terguncang, dia pikir banyak tahanan yang tidak terlibat terorisme, jadi apa lagi info yang mau dikorek dari orang yang tidak bersalah ?

Tugas Terry di Gitmo adalah memeriksa tahanan secara berkala dan membawa mereka sesuai perintah atasan, biasanya keruang interogasi. Karena itu Terry tahu bagaimana kejamnya para tentara itu menyiksa mereka, tapi perilaku sebagian tahanan yang sabar, tabah, rajin shalat dan mengaji Quran membuat Terry heran, bahkan ada seorang tahanan yang tak pernah mengeluh dan selalu tersenyum, dia seorang koki (orang Maroko) yang kerja di Inggris tapi kena getahnya akibat peristiwa 9/11 dan jadi tahanan Gitmo, padahal dia bukan teroris.

13922863391469990593

Terry bertanya pada dia, “Kenapa kamu masih bisa tersenyum padahal kamu menghadapi hidup sangat berat disini? Jika Tuhanmu menyayangimu tentu DIA tidak akan membiarkanmu menderita seperti ini! Saya tidak mengerti kamu masih rajin berdoa sementara Tuhanmu tidak peduli sama kamu?”  tapi orang itu menjawab, “Tuhan sedang menguji keimanan saya terhadapNYA dan inilah bentuk ujian Tuhan pada saya. Disini saya bisa lebih rajin shalat, ngaji dan mendalami Islam” Terry semakin kagum padanya.

Sejak itu Terry diam-diam sering berdiskusi dengan para tahanan dan mulai mempelajari Islam di internet. Diantara sekian banyak tentara Amerika yang bertugas disana, hanya Terry yang mengasihani para tahanan hingga dia jadi penjaga favorit disana. Suatu malam dibulan Desember 2003, Terry pun masuk Islam dibimbing orang Maroko itu dan disaksikan beberapa tahanan disitu. Sejak masuk Islam, Terry sempat kesulitan untuk menyembunyikan hal itu pada semua rekannya apalagi jika harus shalat 5 waktu.

Juli 2004 Terry kembali ke Amerika dan menikah. Tapi sejak jauh dari Gitmo Terry balik lagi ke kebiasaan semula seperti minum alkohol, narkoba dll hingga pernikahannya kandas dan dia keluar dari Militer. Setelah cerai dari Istrinya tahun 2008, Terry kembali tersentuh hatinya. Ingatannya melayang saat dia bahagia di Gitmo bersama para tahanan. Sejak itu Terry bertekad untuk kembali kejalan yang benar. Dia rajin puasa sunat dan meninggalkan alkohol dan Narkoba.

13922834881318277996

Tahun 2009 Terry benar-benar bersih, sempat meneruskan kuliah dijurusan sosiologi hingga selesai dan rajin mengikuti kegiatan Islam dengan beberapa organisasi Islam di Amerika bahkan diundang umroh ke Mekah dan sudah menikah lagi dengan seorang perawat yang tak sengaja bertemu di mesjid. Lalu apa ucapan Terry yang patut kita renungkan?

Dia bilang begini, If the Prophet Muhammad were to come back to Earth today, he would find the best examples of Islam in the United States. American Muslims have a responsibility to live their faith so others can see a true example, not the perversions of the terrorists or the tyranny of corrupt governments in some majority-Muslim nations.” (*Terjemahan bebas: “Seandainya Nabi Muhammad kembali lagi kedunia, beliau akan melihat contoh Islam terbaik di Amerika. Karena para Muslim Amerika bertanggung jawab terhadap agamanya hingga bisa jadi contoh yang benar bagi orang lain, tidak seperti penyimpangan yang dilakukan para teroris atau para pemimpin dari pemerintahan yang korup di sebagian besar Negara Muslim”).

Apa yang diucapkan Terry itu ada benarnya, jika kita renungkan sebagian besar orang Indonesia beragama Islam tapi seperti apa perilakunya? Lalu seperti apa kelakuan orang yang disebut pemimpin dan ustadz disini? Entahlah hanya hati nurani yang bisa jujur menjawabnya…

Dicopy dari : http://sosok.kompasiana.com/2014/02/13/tentara-amerika-masuk-islam-setelah-melihat-perilaku-tahanan-guantanamo-631695.html

13922850621500166410

Sakit Dan Sakratul Maut (3).

( Sambungan dari Sakit-dan-sakratul-maut ).

Satu tahun tiga bulan sudah berlalu sejak bapak terjatuh dari tempat tidur dan mengalami kelumpuhan total. Operasi pemasangan pen di leher bagian belakang sudah dilakukan.  Masa-masa sulit dimana bapak sempat mengalami frustasi, sulit tidur dan sering mengigau,  masalah kulit yang lazim menghinggapi pasien yang banyak berbaring, seperti decubitus dan pemphigus yaitu kulit yang menggelembung berisi cairan mirip kulit yang  melepuh, sudah terlewati. Bahkan kepasrahan keluarga besar bila Allah swt menghendaki  memanggilnya, saking tidak teganya melihat beratnya cobaan bapak, suami, kakek kami tercintapun telah kami lalui.

Namun rupanya Allah berkehendak lain, hingga detik ini bapak masih bersama kami, Alhamdulillah. Malah belakangan ini terlihat adanya kemajuan, bapak sudah bisa menggerakkan ke dua tangannya meski cuma sekedar untuk menggaruk sendiri kepalanya yang gatal, memegang sendiri garpu kecil untuk memasukkan potongan buah atau kue ke mulut, membuka lembaran Alquran, dan terakhir mencari chanel gelombang radio untuk mendengarkan berita.  Subhanallah … Alhamdulillah … Itu semua tak lepas dari peran ibu yang rajin dan sabar menyemangati bapak agar mau melatih kedua tangannya, disamping izin-Nya, tentu saja …

Meski lumpuh, daya ingat bapak benar-benar luar biasa. Di perayaan hari ulang tahun ke 87 lalu, bapak dengan suara lantang, jernih dan lumayan kencang,  menceritakan berbagai hal di depan anak cucu dan cicitnya. Dengan penuh semangat bapak menerangkan beda umur bapak menurut hitungan kalender Masehi dan kalender Hijriyah. Selanjutnya bapak bercerita bagaimana bapak memimpin 60 orang anak buahnya melawan penjajahan Belanda, padahal usia bapak ketika itu baru 20 tahun.  Waktu itu bapak baru saja lulus dari Akademi Militer Magelang  yang sangat bergengsi itu.

Kisah tersebut mau tidak mau mengingatkan saya pada Usamah bin Zaid bin Haritsah, panglima perang yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah untuk menghadapi pasukan Romawi.  Terbukti bahwa usia 20 tahun bukanlah penghalang untuk memimpin suatu peperangan. Usamah ketika itu bahkan belum mencapai 20 tahun namun telah berhasil dengan cemerlang memenangkan peperangan yang dipimpinnya.

Alangkah terharunya kami melihat bapak yang demikian bersemangatnya apalagi bila mengingat hari-hari awal bapak jatuh sakit. Umur  memang benar-benar rahasia Sang Khalik. Tak ada satupun manusia di dunia  ini yang bisa memperkirakan kapan kita akan mati, berapa panjang umur kita nanti. Yang pasti setiap manusia, setiap yang bernyawa suatu ketika kelak pasti akan mati, itulah ketentuan Allah yang tak mungkin dipungkiri.

“ Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya)”. (QS. Al-Ghaffir(40):67).

Ayat diatas menerangkan dengan jelas bahwa pada umumnya, setelah seseorang dilahirkan ke dunia, ia akan melewati masa kanak-kanak, remaja, dewasa, tua  kemudian baru mati.  Namun ada juga yang meninggal sebelum melewati semua masa di atas. Tanpa kepastian apakah sebelum meninggal ia harus melewati masa sakit atau tidak.

Ibaratnya mobil, ketika mobil masih baru normalnya tidak ada masalah, semua baik-baik saja. Tetapi ketika mobil sudah mulai tua atau perawatannya kurang baik, mobil jadi sering merongrong, rusak disana-sini hingga harus masuk bengkel, diperbaiki atau mungkin juga hanya perlu diservis saja.

Begitu pula manusia. Meski masih muda bila ia tidak pandai menjaga kesehatan, sebagaimana Rasulullah mencontohkannya, tidak mustahil ia akan sering sakit, cepat lelah dan tidak fit hingga kwalitas hidupnya berkurang, persis seperti orang tua yang sakit-sakitan yang sudah mendekati ajal. Tapi ini bukan berarti bahwa yang muda dan sehat walafiat, tidak akan tiba-tiba meninggal.  Kita pasti tahu, tidak sedikit orang muda, yang dalam keadaan sehat tiba-tiba saja mengalami kecelakaan,  atau terkena serangan jantung hingga mendadak meninggal dunia.

Namun demikian tidak otomatis juga yang sudah tua, sakit keras, bakal segera diwafatkan-Nya.  Bahkan ada yang mengalami koma bertahun-tahun tapi tidak juga meninggal. Contohnya adalah yang terjadi terhadap mantan presiden Israel, Ariel Sharon. Ntah apa yang dirasakannya selama dalam kondisi mengenaskan tersebut. Mungkinkah Allah swt berkehendak membalas kekejian musuh terbesar umat Islam itu di dunia disamping di akhirat kelak? Wallahu’alam.

Yang pasti kita sering mendengar betapa banyaknya orang tua yang mengalami  kelumpuhan atau sakit keras, tapi tetap hidup, selama bertahun-tahun ke depan. Berikut beberapa kisahnya.

Suatu ketika teman saya bercerita tentang ibunya yang baru saja wafat. Selama lebih dari 10 tahun ibunya yang sudah sepuh itu mengalami kebutaan akibat penyakit darah tinggi yang dialaminya. Namun semangat hidupnya tidak pernah luntur.  Beliau tidak pernah mau menyusahkan orang lain. Beliau mampu berjalan sendiri di dalam rumah, tanpa bantuan apapun termasuk tongkat demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari.  Bahkan   berbekal daya ingatnya yang kuat beliau masih mampu membantu mengingat nomor2 telpon penting ketika anak cucu membutuhkannya.  Dan dengan bekal hafalan Alquran yang sejak kecil telah dikuasainya, beliau bisa mengatasi kebutaannya itu dengan melantunkan ayat-ayat suci tersebut . Subhanallah …

Kisah lain datang dari sepupu saya. Ibunya yang telah berusia di atas 70 tahun, sejak  3 tahun lalu menderita kelumpuhan. Namun dengan cobaan tersebut, kegemarannya membaca Alquran makin memuncak. Tiada harii tanpa bacaan Alquranul Karim. Tekad kuatnya untuk tidak mau merepotkan orang lain direalisasikan dengan membagikan seluruh simpanan beliau.  Alhasil ketika beliau wafat beberapa waktu lalu tidak ada kerepotan putrinya untuk membersihkan, membongkar apalagi membagikan segala macam tetek bengek simpanan almarhumah.

Tetapi ada juga kisah-kisah sedih dari beberapa rekan dan kenalan.  Misalnya seorang yang sudah sepuh, lumpuh lebih dari 7 tahun tetapi  tidak bisa berbagi dengan istri tercinta.  Ini dikarenakan istrinya itu telah meninggalkan Islam yang semula dianutnya.  Ini memang terjadi jauh sebelum kelumpuhan, namun ketika kemudian beliau mengalami cobaan lumpuh, beliau tetap memilih untuk menjauh dari istrinya itu meski mereka tidak resmi bercerai.

Ada juga kisah seorang yang telah lanjut usia, yang di waktu sakratul maut tetap menolak kematiannya. “ Mengapa aku harus mati lebih dulu, padahal si A si B jauh si C lebih tua dari aku. Aku tidak mau mati, tidak mauuu  … «  …  Astaghfirullahaladzim …

Atau kisah seorang sahabat yang tidak seiman dengan ibundanya tercinta. Sahabat saya  itu lahir dari pasangan ayah ibu yang beda agama. Ayahnya Islam sedangkan ibunya Nasrani. Ayahnya telah lama meninggal dunia. Ibunya meninggal beberapa minggu lalu dalam usia 76 tahun. Ketika saya dan beberapa teman datang bertakziah, kami menyaksikan betapa sedih dan pilu hati sahabat kami tersebut. Betapa tidak, ia harus berdiri di sisi peti ibunya tercinta sembari mendengarkan  pastor dan puluhan kenalan ibunya menyanyikan lagu-lagu kebaktian Kristen. Apalagi harus menghadapi keyakinan apa yang bakal dihadapi ibu di alam kubur dan akhirat sebentar lagi.

Ada juga cerita tentang salah seorang bude saya yang ketika sakratul maut dikelilingi sepupu-sepupunya yang non Muslim. Dengan nekad mereka bahkan membawa seorang pastor untuk « membimbing » bude kami tercinta tersebut melewati detik-detik terakhir beliau. Padahal mereka tahu bahwa bude kami tersebut seorang Muslim, bahkan sudah berhaji.  Bersyukur saudara-saudara Muslim beliau segera datang dan menyuruh mereka meninggalkan ruangan. Akhirnya berkat pertolongan Allah swt bude sayapun wafat dengan tenang, dengan mengucap kalimat “Laa ilaaha illAllah””.لا إله إلا الله محمد رسول الله

Sementara itu kemarin teman saya bercerita bahwa ibunya, usia 75 tahun, tiba-tiba tidak bisa membedakan mana waktu Subuh mana waktu Ashar. Lebih menyedihkan lagi, beliau juga tiba-tiba lupa jumlah rakaat shalat padahal selama ini beliau tidak pernah meninggalkan shalat. Selain itu beliau juga merasa tidak mampu berdiri untuk shalat dan mandi sendiri padahal menurut teman saya beliau tidak mengalami gangguan apapun.  Apakah ini hanya bentuk protes beliau untuk mencari perhatian putrinya mengingat putrinya itu dalah putri satu-satunya dan selama ini sangat sibuk dengan kegiatan sosialnya yang membludak ???

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”. (QS. An-Nahl(16):70).

Maha Allah dengan segala firman-Nya.

Semoga kita dapat mengambil hikmah atas segala yang terjadi di sekeliling kita. Sungguh beruntung orang yang mau mempersiapkan hari tuanya, yang terbiasa mendengarkan dan menghafal ayat-ayat suci Al-quran tanpa menunggu hari tua atau hari-hari sakitnya. Yang banyak berinfak, menjaga silaturahmi dan yang terpenting, mendidik putra-putrinya agar menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Yang kelak ketika kita sakit atau membutuhkan kasih sayang atau perhatian mau mengorbankan waktunya untuk kita, dan ketika kita wafat kelak senantiasa mau mendoakan kita.

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang laki-laki dalam rangka menasihatinya : “Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain) : masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, dan hidupmu sebelum matimu” ( HR. Bukhari Muslim).

Rasulullah Saw bersabda, “Tengoklah kuburan dan renungkanlah tentang kebangkitan setelah kematian! “. Nahjul Fashahah, hadis no. 331)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Februari 2015.

Vien AM.