Feeds:
Posts
Comments

Sambungan dari “ Suka Duka Muslim Di Perancis ( 9)”.

Selesai menunaikan shalat zuhur dan ashar yang dijama’, kami menuju Cannes, sebuah kota pantai yang dikenal karena ‘Palm D’Or’ nya, piala penghargaan film terbaik, kira-kira saingan piala Oscarlah… Festival film yang diselenggarakan setiap tahun di gedung Palais De Festival Cannes ini pertama kali diadakan pada tahun 1954. Cristine Hakim adalah satu-satunya aktris kita, kalau saya tidak salah, yang pernah mendapat kehormatan duduk sebagai dewan jurinya.        

Di pelataran gedung festival ini, kita dapat melihat cap tangan para artis kenamaan dunia seperti Tom Cruise, Isabella Roselinni, Michael Douglas, Sharon Stone, sutradara Roman Polanski bahkan bintang-bintang tua seperti Clint Eastwood, Julie Andrew dll.

Kami di Cannes ini bisa dibilang hanya numpang tidur. Karena esok paginya kami segera melanjutkan perjalanan menuju Italy dengan menyusuri pantai Mediterania yang amat cantik itu. Tujuan utama kami memang ingin melihat menara miring Pisa dari dekat. Namun sayang sekali, jauh-jauh kami menempuh perjalanan hampir 400 km ditambah lagi satu jam mobil tak bergerak sama sekali karena terjebak dalam kemacetan total, ternyata beberapa kilometer menjelang keluar tol, pintu tersebut ditutup !  Ternyata Pisa dikepung banjir besar…:-(

Dengan bantuan GPS ( Global Positioning System ), alat elektronik canggih pengidentifikasi jalanan yang biasa mendampingi kemanapun kami pergi ini, kami berusaha mencari alternative jalan lain. Namun tidak berhasil. Sementara hari telah mulai gelap. Maka kamipun memutuskan untuk langsung meneruskan perjalanan ke Florence yang hanya berjarak 60 km. Kami memang telah booking hotel di kota tersebut.

Menurut penjaga hotel di Florence yang kami temui malam itu, untuk menghindari banjir yang ternyata sering terjadi di Tuscany, propinsi dimana Pisa berada, jalan terbaik dan praktis mengunjungi menara Pisa adalah dengan menumpang kereta api.

Jarak antara lokasi menara dan stasiun kereta api sekitar 3 kilometer. Lumayan buat orang Indonesia yang jarang berjalan-kaki. Alhamdulillah hari tidak hujan walaupun cuaca dingin ( 3 derajat ) dan mataharipun malas menampakkan diri. Selama berjalan kali menuju lokasi kami tidak bersua dengan banyak turis. Sebaliknya kami malah berjumpa dengan dua orang mahasiswa Indonesia yang sedang  mengambil program S3 di kota tersebut. Menurut mereka, hal ini tidak biasa. Mungkin ya disebabkan oleh banjir tadi.

Menara Miring Pisa dan Kathedral di depannya

Menara Miring Pisa dan Kathedral di depannya

Lantai teratas menara Pisa

Lantai teratas menara Pisa

Menara miring Pisa ( Leaning Tower ) mulai dibangun pada tahun 1173. Namun baru selesai 2 abad kemudian. Menara ini miring bukan karena disengaja. Para arsitek berpendapat kemungkinan ia miring karena struktur tanahnya yang tidak stabil. Menara yang memiliki ketinggian 60 meter ini terdiri atas 8 lantai. Lantai teratas adalah teras terbuka. Teras ini dikelilingi tembok yang memiliki beberapa gapura dengan lonceng-lonceng di bawahnya.

Kathedral Florence

Kathedral Florence

Terus terang saya agak terkejut menyaksikan bentuk bagian tersebut. Bagian ini mengingatkan saya pada bagian dalam masjid Nabawi di Madinah dan juga ( bekas ) masjid  di Kordoba, Spanyol yang dibangun pada tahun 700. Begitu juga ketika saya memasuki bagian dalam gereja yang berada di seberang menara. Secara sepintas ada bagian-bagian tertentu yang mirip dengan ciri khas arsitektur Islam Arab. Begitu juga dengan gereja besar nan indah yang terdapat di Florence yang memiliki kemiripan dengan Masjid Kubah ( Dome Of The Rock) di Yerusalem,Palestina. Tampaknya garis-garis putih-hitam/hijau tua/merah di dinding marmer atau di atas gapura itulah yang memberi kesan tersebut. Saya yakin  ini pasti pengaruh seni Islam yang pada abad pertengahan memang sedang berada di puncak kejayaannya dan menjadi kiblat dunia. Bolehlah ikut berbangga hati .. J

Untuk memenuhi rasa penasaran saya, dalam hati saya berjanji akan mencari data di internet sekembalinya nanti. ( Dan inilah yang saya temukan…   http://www.persee.fr/web/revues/home/prescript/article/crai_0065-0536_1946_num_90_1_77932 . Menyusul tulisan saya : Menilik Jejak Islam Di Eropa (4): Tuscani – Italia).

Setelah puas menikmati menara miring dan beberapa bangunan bersejarah disekitarnya, kami kembali berjalan kaki menuju stasiun kereta api untuk kembali ke Florence dan meneruskan perjalanan ke Milano yang berjarak sekitar 300 km dari Florence.

Dew Kebab, Halal Food

Dew Kebab, Halal Food

Namun di perjalanan kami melihat sebuah kedai kebab halal ! Tanpa pikir panjang kami segera mampir. Kebetulan kami memang belum sempat makan siang. Sambil menunggu pesanan, kamipun berbincang-bincang. Bilal, begitu si empunya memperkenalkan namanya dengan bangga .. Allahuakbar !!. Dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah, Bilal warga negara Itali keturunan Yordania ini, bercerita bahwa umat Islam di Pisa cukup banyak. Ia juga memberitahu bahwa ada masjid yang tidak begitu jauh dari tempat tersebut. Sayang kami tidak sempat mengunjunginya.

Dengan bangga Bilal juga bercerita bahwa istrinya adalah seorang mualaf asli Italia… Subhanallah. Dalam menjalankan bisnis kebabnya, Bilal dibantu  temannya yang bernama Muhammad. Ia juga keturunan Yordania.

Tanpa terasa pesanan kamipun siap. Dua kebab daging, satu kebab ayam  plus satu botol besar air minum. Namun ketika suami saya hendak membayar, Bilal berkata : “ You are my brother. So the drink is free. Halal, Insya Allah”. Kamipun hanya dapat memandangnya  dengan penuh ketakjuban, tak kuasa berkata sepatah katapun.

Alangkah indahnya ikatan persaudaraan antara sesama Muslim dimanapun berada. Allahuakbar…         

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(QS.Al-Hujurat (49):13).     

Bersambung ke : “Suka Duka Muslim Di Perancis ( 11 ).

Wallahu’alam bishawab.

Pau-France, 11 Januari 2010.

Vien AM.     

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS.Al-Qashash(28):71-72). 

Rasanya ke dua ayat di atas benar-benar pas  untuk memulai laporan perjalanan kami kali ini. Betapa tidak. Jika pada musim panas yang biasanya berlangsung antara bulan Juli hingga Agustus matahari terbit sekitar pukul 5 pagi dan terbenam sekitar  pukul 22.30 maka pada musim dingin yang biasanya berlangsung antara bulan Desember hingga Februari matahari baru terbit pukul 8 lebih dan terbenam sebelum pukul 5 !  Hal ini lebih terasa  lagi ketika kita berpuasa, khususnya puasa Ramadhan. 

Lucunya, ketika bulan Ramadhan jatuh di musim panas, ada saja sejumlah orang yang meminta keringanan karena  puasa kita memang jauh lebih panjang dibanding puasa ditanah air. Namun ketika bulan Ramadhan jatuh di musim dingin yang berarti puasa menjadi jauh lebih pendek,  tak satupun yang memprotesnya ….:-) … 

Begitupun ketika kita berlibur. Di musim panas, selama hampir 17 jam lamanya kita bisa sepuas mungkin menikmati pemandangan di siang hari. Sebaliknya ketika musim dingin, waktu terasa begitu cepat berlalu. Rasanya belum puas kita menikmati pemandangan sembari berfoto-foto mengambil gambar kenangan .. tahu2 hari telah gelap. Inilah salah satu  bukti kekuasaan Allah swt yang tidak mungkin dapat diingkari. 

Perjalanan kami kali ini adalah perjalanan terpanjang yang kami lalui dengan menggunakan mobil pribadi, yaitu 3000 km bolak balik. Salah satu keuntungan  bepergian di Eropa memang melalui jalan darat, baik dengan mobil pribadi maupun mobil sewaan. Dengan cara ini dengan mudah kita dapat  mengunjungi berbagai kota di Eropa. Ini dimungkinkan karena adanya jaringan jalan/highway antar negara yang terkoordinir dengan baik. Disamping itu, dengan tidak adanya pengecekan di perbatasan setiap negara serta digunakannya satu mata uang Uni Eropa, yaitu Euro, menjadikan perjalanan sangat mudah, aman dan nyaman. 

Kota pertama yang kami kunjungi adalah Montpellier. Namun kami mampir dahulu ke kota abad pertengahan ( Cite Medieval), bernama Carcassonne yang terletak sekitar 350 km timur Pau. Kota tua yang dikelilingi benteng kuno ini ternyata menyimpan sejarah kelam kekejaman  pasukan Salib ( The Crusaders) dibawah perintah Paus Innocent III. Carcassonne ( termasuk Toulouse, Beziers dan Montpellier ) yang ketika itu berada dibawah kekuasaan raja Raimond-Roger Trencavel, pada tahun 1209 harus menerima hukuman berat karena sang raja dianggap terlalu permisif dan toleran terhadap pemeluk agama lain. Seluruh penduduk Beziers yang mayoritas Yahudi ini bahkan habis dibunuh. 

Gerbang utama Carcassonne

Gerbang utama Carcassonne

Carcassonne

Carcassonne

Tak sampai seratus tahun kemudian, Carcassonne masih harus menderita hebat akibat pandemi ‘ The Black Death’ yang sangat mematikan. Kemudian dalam ‘ Perang Seratus Tahun ‘antara pemeluk Kristen dan Protestan sekitar tahun 1560, pemeluk protestan kota tersebut habis dibantai musuh !!. Sungguh menyedihkan . Merinding bulu kuduk ini menyaksikan sejarah kota tua tersebut. Jadi rasanya pantas saja jika anak perempuan saya berkomentar : “ Banyak hantunya kali bu ya disini … “ .. Hiii… 

Place De La Comedie, Montpellier

Place De La Comedie, Montpellier

Selanjutnya kami menuju Montpellier. Kota ini adalah kota pelajar yang berubah menjadi kota turis ketika musim panas tiba. Seperti juga kota-kota besar Perancis lainnya, warga  rakyat Montpellier sibuk mempersiapkan diri ketika ‘Fete De La Musique ‘ pesta musik dan seni Perancis, yang biasa diadakan pada setiap tanggal 21 Juni tiba. Pesta musik gratis yang di adakan di semua tempat umum  ini, seperti di taman, teras dll ini biasanya terpusat di Place De La Comedie,  yang merupakan landmark kota.

Di kota ini berdiri sebuah universitas terkenal yang telah berdiri sejak abad 13, yaitu University of Montpellier. Ketika itu fakultas kedokterannya telah menjadi primadona. Ini adalah pengaruh dari kejayaan kerajaan Islam Granada di Spanyol. Tenaga pengajar universitas ini memang khusus didatangkan dari sejumlah perguruan tinggi Granada yang ketika itu sedang berada di puncak kejayaannya dan menjadi kiblat ilmu pengetahuan dan sains. Saat ini Universitas Montpellier telah terpecah menjadi 3 universitas, yaitu  Universitas Montpellier I ( sosial ), Montpellier II ( Sains dan Kedokteran ) dan Montpellier III Paul Valery  ( Seni dan Budaya ).

Katanya sih, banyak juga mahasiswa Indonesia yang menuntut di kota ini. Kami memang melihat sejumlah wajah Asia namun tidak yakin apakah mereka itu mahasiswa kita. Saya rasa mungkin mereka lebih memilih santai istirahat di apartemen mereka daripada berdingin-dingin di jalanan. Temperatur ketika itu memang dingin yaitu 3 derajat ! Bbbrr ..      

Esoknya, setelah menginap semalam di kota yang memiliki kecantikan campuran antara kuno dan modern ini kami melanjutkan perjalanan  ke Cannes. Namun kami menyempatkan diri dulu mencari masjid yang menurut internet ada beberapa. Tetapi ternyata tidak mudah menemukannya.

Setelah bolak-balik ‘ menyatroni’ sebuah gedung yang menurut Mr Google adalah sebuah masjid, akhirnya kami harus menyerah setelah seorang perempuan berjilbab yang kebetulan sedang menanti di halte bus menerangkan bahwa gedung tersebut bukan masjid. Kemudian ia memberi tahu lokasi masjid yang sebenarnya. Tetapi tetap saja kami tidak berhasil menemukannya. Apa boleh buat …Lanjut sajalah ke Cannes, begitu pikir kami ..

Namun Allah swt berkehendak lain. Disebuah perempatan jalan, jauh dari  yang diidentifikasikan muslimah tadi, kami melihat sejumlah orang bergamis dan beberapa perempuan berjilbab sedang berbondong-bondong meninggalkan suatu tempat.

Orang-orang itu dari masjid kali yah .. », teriak anak saya.

Belum sempat suami saya menjawab, tiba-tiba seorang perempuan tua berjilbab datang menghampiri kendaraan kami,  untuk mengemis !!  Kebetulan memang  sedang macet .. dapat dibayangkan .. betapa menyedihkannya melihat saudara kita seiman jauh-jauh di Perancis .. eh, mengemis .. L .. Tampaknya ia adalah satu dari sekian banyak korban perang yang datang dari negri-negri Muslim yang dilanda kekacauan seperti Afganistan, Irak, Chechnya,  Kosovo dll. ( Oya, kemarin kami juga berjumpa dengan seorang pengemis cilik, gadis berusia 8 tahun yang berasal dari Kosovo. Ia mengemis di depan restoran dimana kami makan. Dengan bahasa Perancis yang terbata-bata, ia bercerita bahwa ia datang bersama ibunya yang saat ini sedang sakit, sekitar 2 bulan yang lalu.)

masjid Montpellier - France

masjid Montpellier - France

Darinya kami tahu bahwa bangunan di perempatan tersebut adalah masjid ! Kamipun segera celingukan mencari apa yang disebutnya masjid tadi. Setelah berputar beberapa kali akhirnya kamipun menemukannya. Ya ampun .. masjid itu benar-benar sederhana sekali. Tanpa kubah apalagi menara .. Pantas kami tidak berhasil menemukannya. Padahal di kota tersebut katanya ada beberapa masjid ..

Tiba-tiba saya teringat ketika bulan lalu kami berjalan-jalan di sebuah kota kecil dekat Pau, namanya Mourenx. Ada beberapa teman Indonesia yang bekerja di kota ini. Katanya ada masjid di kota tersebut. Dari seorang perempuan berjilbab yang kami jumpai di telpon umum, kami diberitahu bahwa masjid hanya sekitar 1 km dari tempat kami berada. Namun nyatanya setelah hampir satu jam kami berputar-putar, kami tidak juga menemukannya. Yaah .. begitulah .. kami terlalu sok yakin bahwa namanya masjid pasti ada kubahnya ada menaranya  …  lupa bahwa kami adalah minoritas di negri yang katanya meng-agung-kan azas demokrasi ini. Nyatanya bahkan azanpun tidak boleh sampai terdengar hingga ke luar masjid !! … duuh, sedihnya …

Bersambung ke “ Suka Duka Muslim Di Perancis ( 10).

( Sambungan dari : Suka Duka Muslim Di Perancis (7).)  

Beberapa hari yang lalu seperti biasa saya ‘ surfing’ internet. Ternyata saya menemukan fakta bahwa pada awal abad 14 ( 1348 M) Eropa pernah dilanda pandemi penyakit  yang dikenal dengan nama “ The Black Death / Pest Noire ” yang membuat lebih dari 60 % penduduk Eropa meninggal dunia ! Ketika itu tak seorangpun dokter dengan ramuan obat-obatannya mampu mencegah penyakit menular yang mematikan ini. Tak satupun kota di Eropa yang mampu membendung penyebaran penyakit ini. Wabah ini dikabarkan terjadi setelah selama 7 tahun lamanya Eropa menderita kelaparan parah disebabkan musim dingin extra berkepanjangan selama tahunan ! Astaghfirullah Al- Adzim …

Click :  http://en.wikipedia.org/wiki/Black_Death ).

Berdasarkan beberapa sumber, epidemi inilah yang menjadi penyebab munculnya tindakan ‘Flagellant’, yaitu tindakan mencambuk diri sendiri dalam rangka menghapuskan dosa-dosa. Ini membuktikan betapa dasyatnya wabah penyakit tersebut hingga sebagian warganya merasa bahwa ini adalah kutukan Tuhan.

Belakangan, setelah berabad-abad lamanya misteri ini disembunyikan, dipastikan bahwa penyebab petaka tersebut adalah  tikus besar hitam. Penyakitnya adalah Pes paru-paru yang menyebabkan pembuluh darah korban menjadi hitam sebelum akhirnya pecah. Pertanyaannya siapa yang memberi izin tikus-tikus got tersebut agar menewaskan lebih separuh penduduk negri2 yang penduduknya kafir, yang membuat kerusakan di muka bumi, yang memprovokasi Perang Salib / The Crusaders / La Guerre Sainte   dan membantai Muslim di Yerusalem di abad 11, yang mengusir, menyiksa dan membantai Muslim Spanyol di akhir abad 13 ?? Inikah azab Allah swt ? Wallahu’alam …

Saat ini, 7 abad setelah peristiwa mengerikan tersebut berlalu, telah berubahkah masyarakat Eropa? Sudahkah mereka kembali ke jalan yang benar? Betulkah cara mereka memohon ampun dengan jalan mencambuk diri?? Saya berani bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tetap sesat malah mungkin lebih sesat lagi. Di negri Perancis ini perzinahan benar-benar telah meraja-lela bahkan sepertinya dianjurkan!! Menurut sebagian besar dari mereka hubungan seksual adalah bukti kasih sayang, hubungan seksual adalah sebuah kebutuhan alami yang harus dilaksanakan tanpa perlunya ikatan pernikahan !

Bukti paling dekat ada di sekolah anak saya. Ketika seorang murid yang baru berusia 15 tahun hamil ( tentu saja diluar nikah)  kemudian mengugurkan kandungannya, tak seorangpun merasa aneh apalagi terkejut. Ia tetap pergi ke sekolah  seperti biasa tanpa sedikitpun teguran dari pihak sekolah. Padahal itu terjadi di sekolah Kristen. Kritikan yang datang paling paling hanyalah pertanyaan mengapa bisa sampai hamil… Pakai alat kontrasepsi dong … Astaghfirullah ….

Adalah hal lazim bila kita berjalan-jalan ditaman, pusat perbelanjaan bahkan di sepanjang  jalan manapun kita menemui sepasang kekasih berpelukan erat dan berciuman.  Gadis-gadis muda dengan pakaian seronok alias extra ketat dan terbuka disana-sini. Acara tv dengan aneka  iklannya lebih mengerikan lagi.  Dengan santai setiap waktu mereka menampilkan tontonan gerakan menggoda dari sosok tubuh  perempuan seksi yang nyaris telanjang. Yang terparah biasanya iklan parfum. Ini masih ditambah lagi dengan diselipkannya gerakan yang mendorong imaginasi penonton ke arah hubungan seksual meski tidak terlalu terang-terangan.

Belum lagi sejumlah orang yang dengan bangga secara terus terang memproklamirkan hubungan sesama jenis alias Homosekual. Bahkan dengan alasan persamaan hak, mereka nekat menuntut di legalkannya perkawinan sesama jenis! Astaghfirullah .. Lupakah mereka akan azab yang pernah menimpa kaum Luth berabad-abad  lalu karena gemar melakukan perbuatan terkutuk tersebut??

Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda”.(QS.Al-Hijr (15):73-75).

Mungkinkah ini yang menyebabkan hati mereka menjadi membatu hingga dengan mudah mengikuti bisikan syaitan ? Kebencian terhadap kebenaran , kebencian yang sangat terhadap ajaran agama terutama Islam makin lama terlihat makin menjadi-jadi. Di Perancis ini hampir setiap hari terjadi perdebatan sengit yang intinya jelas, ingin agar ajaran yang dibawa Rasulullah saw ini tidak berkembang. Pelarangan jilbab dan burqa, dipersulitnya izin pendirian masjid, dipertanyakannya fungsi menara masjid, dilarangnya azan bahkan sikap ‘alergi‘ mereka terhadap bahasa Arab… lho ?? Ini semua dibungkus manis dengan paket slogan ‘Laicite’ yaitu bahwa negara tidak mengenal agama plus ‘Identitas Nasional Perancis / Identity National ‘ . ( Namun menurut saya, dengan adanya perdebatan terbuka ini, sebenarnya Sang Khalik justru sedang memuluskan jalannya dakwah Islam, agar Islam dikenal dengan lebih baik di Eropa ..  Allahu Akbar..).

Belum lagi bila kita berbicara mengenai keterlibatan pemerintah Perancis dalam mendukung kebijakan Amerika Serikat ( yang mendukung Yahudi ) untuk menekan dan memporak-porandakan negri-negri Islam seperti Palestina, Afganistan, Irak dll dengan dalih apapun. Tidakkah cukup semua itu untuk memancing kemurkaan-Nya? Harus dengan cara apa lagi menyadarkan mereka? Cuaca dingin mematikan ? Wabah penyakit ??

Perancis saat ini sedang panik terhadap sebuah fenomena lain penyakit flu, yaitu Grippe A alias Swine Flue alias Flu Babi atau H1N1. (Click :: http://sutikno.blog.uns.ac.id/2009/06/04/flu-babi-swine-influenza-h1n1-virus/ ).  Penyakit yang  disebabkan oleh virus yang cenderung senang berkeliaran di area sekitar tempat babi hidup ini berhasil membuat pemerintah Perancis kelabakan hingga mereka terpaksa membuat vaksin dan setengah memaksa warganya agar sudi di vaksin dengan vaksin berbiaya  mahal tersebut.

Hingga saat ini korban meninggal dinegri ini memang baru mencapai angka seratusan. Namun bila melihat kenyataan bahwa Perancis adalah negara pengembang ternak babi sekaligus pengkonsumsi babi terbesar di Eropa, walaupun dengan adanya vaksin, bisakah ia mengalahkan kekuatan-Nya? Bukankah Allah swt dengan tegas melarang kita, umat Islam agar tidak mengkonsumsi babi? Alangkah beruntungnya orang-orang yang mau mendengar dan memperhatikan ayat-ayat-Nya sekalipun tidak memahami hikmahnya.

Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu ”.(QS.Al-Midah(5):40).           

Wallahu’alam bishawab.

Pau-France, 16 Desember 2009.

Vien AM.

Keajaiban Salam

Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo


Assalamu'alaikum (awangpurba.blogspot.com)  dakwatuna.com – Cinta adalah sesuatu benih yang hidup dalam hati dan tumbuh muncul ke permukaan dalam bentuk ekspresi kongkret dan perilaku riil. Cinta memerlukan ekspresi tersendiri dan esensi syariat Salam dalam Islam lebih dari sekadar simbol formalitas verbal tetapi sebuah ekspresi tulus yang lahir dari perasaan cinta, kasih sayang, doa, harapan, suka cita, motivasi, kepedulian, perhatian, penghargaan dan ikatan batin yang tulus dalam berbagai bentuknya.

 Alice Gray memberikan tips mengawetkan hubungan romantis pasangan dalam bukunya List To Live By For Every Married Couple (2002) yaitu dengan memelihara komunikasi efektif melalui berbagai ekspresi perasaan, sukacita, dam keprihatinan yang terdalam. Menurutnya, pernikahan itu dibangun di atas ekspresi-ekspresi kecil penuh kasih sayang dengan menekankan pentingnya ucapan-ucapan selamat dalam berbagai pengalaman penting dan momentum berarti (munasabat) serta sebaliknya mengabadikan kartu ucapan selamat yang terkirim untuk pernikahan, ulang tahun, ulang tahun pernikahan ataupun ucapan spesial apapun merupakan hal yang bermanfaat sebagaimana saran Angela Dean Lund, konsultan kenangan-kenangan kreatif.

Salam merupakan salah satu bentuk pemberian motivasi yang sangat berarti dalam sebuah hubungan agar dapat meningkatkan semangat dalam vitalitas kehidupan fisik material maupun psikologis spiritual, maka karena cinta memerlukan motivasi yang intens dan kontinyu agar tercipta hubungan yang harmonis dan bergairah sepanjang musim, seperti diungkapkan oleh John Gray dalam Men are From Mars, Women are from Venus (1992) sehingga memerlukan manajemen salam dan seni memahami entry point serta titik-titik sensitif serta sentimentil untuk mengeratkan hati pasangan ataupun orang lain (ta’liful qulub). Namun demikian, patut disayangkan, banyak kalangan umat dan aktivis dakwah yang melewatkan dan menyiakan entry point ini membina dan mengeratkan hubungan dengan orang-orang dekatnya serta lingkungan pergaulannya sehingga tercipta hubungan yang loyal, bergairah dan indah.

Sebagai seorang muslim, adalah telah menjadi sebuah keharusan syar’i dan keniscayaan pergaulan untuk memahami manajemen salam dengan saling membudayakan salam secara positif dan efektif. Banyak sekali dalil syar’i, baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits yang menganjurkan agar kita selalu memberi salam kepada siapa pun termasuk yang kita belum kenal apalagi orang-orang dekat yang telah lama kita kenal. (QS.24:27)

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah Islam yang paling baik itu? beliau menjawab: Engkau memberi makan dan memberi (mengucapkan) salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang belum kamu kenal.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih )

Rasulullah SAW telah mewasiatkan kepada umat Islam untuk memelihara tujuh perkara yaitu; menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, mendoakan orang yang bersin, membantu yang lemah, menolong yang dizhalimi orang, memberi salam, mengabulkan permintaan seseorang (memohon dengan sumpah kepada Allah). (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Imam Ibnu Hibban (w.354 H.) dalam Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala menegaskan bahwa Islam sangat menganjurkan budaya Salam pada hubungan sosial secara umum, karena mengandung hikmah dapat mengikis rasa kebencian, kemarahan dan mencerahkan pergaulan sebagaimana riwayat hadits Nabi saw yang mengatakan bahwa Salam merupakan salah satu nama agung Allah yang dihamparkan di muka bumi, maka tebarkanlah Salam di antara kalian.

Manajemen salam secara baik akan melatih seseorang dapat mengoptimalkan upaya membudayakan salam yang merupakan salah satu cara untuk memperkuat persaudaraan khususnya antara sesama muslim, menambah perasaan saling cinta antar sesama orang beriman. Rasulullah SAW dalam sebuah hadits menegaskan bahwa tidak akan masuk surga sehingga orang telah beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai cara efektif untuk dapat saling mencintai adalah dengan menyebarkan salam. ( HR. Muslim )

Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People (1979) mengajarkan bagaimana cara memelihara dan mengeratkan hubungan sosial khususnya ikatan mahligai perkawinan di antara dengan saling memberi salam berupa ucapan selamat dan pujian yang ikhlas serta memberikan perhatian-perhatian pada hal-hal kecil yang menarik pasangan seperti ketika hari ulang tahun peristiwa pernikahan dan kelahiran.

Menghidupkan budaya salam secara kreatif dan inisiatif bagi pribadi pendamba keshalihan akan tumbuh secara mandiri karena keyakinan bahwa salam merupakan kebiasaan tersebut termasuk sebuah ibadah yang dapat menghantarkan kepada surga sebagaimana pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Hai manusia, sebarkanlah salam, berdermalah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan (silaturahim), shalat malamlah pada saat orang-orang sedang tidur lelap niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Tradisi Salam lahir dan hidup sepanjang sejarah hubungan manusia berlangsung sejak zaman Nabi Adam as. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT telah selesai menciptakan Adam as, maka Allah SWT memerintahkan kepada Adam as. untuk menemui dan memberi Salam kepada segolongan malaikat yang sedang duduk menunggu untuk kemudian Adam as diminta mendengarkan apa yang mereka ucapkan sebagai penghormatan kepadanya. Salam yang diucapkan para malaikat kepada Adam as. adalah salam hormat kepadamu dan salam hormat kepada keturunanmu (yang beriman). Maka Adam as berkata: “Assalamu’alaikum” dan mereka menjawab: “Assalamu’alaikum Warahmatullah”. ( HR. Bukhari )

Pada dasarnya, hukum memberi salam dan menjawabnya adalah berbeda. Memberi salam adalah sebuah sunnah yang dianjurkan sedangkan menjawabnya adalah wajib sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Abdil Barr bahwa para ulama sepakat tentang hal ini. Ketentuan syariat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan pemeliharaan hubungan dengan mengajarkan pentingnya menghargai ekspresi positif orang lain berupa ucapan selamat dengan cara membalasnya dengan ucapan salam senada atau lebih baik lagi sebagaimana hadits tentang permulaan salam di atas sehingga para ulama sepakat bahwa menambahkan kalimat dalam menjawab salam adalah sesuatu yang dianjurkan memberikan balasan salam yang lebih baik sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap inisiator salam. Firman Allah SWT : “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS. 4:86)

Kristine Carlson dalam Don’t Sweat the Small Stuff for Women (2001) mengkritik kebiasaan dan sikap sementara orang yang kurang arif dalam menerima salam berupa pujian dan kata selamat dengan berbagai respon negatif bahkan pasif, padahal kita dapat menyambutnya dengan ucapan “terima kasih”. Dalam hal ini sunnah Nabi saw lebih jauh mendorong kebiasaan positif dalam menyikapi ucapan salam dengan menjawabnya tidak sekadar “terima kasih” tetapi memberikan ucapan selamat kembali kepada penyampai dan orang yang mengucapkannya minimal setara bobot ucapannya.

Esensi prosedur salam dalam syariat Islam yang berupa tatacara memberi salam yaitu orang yang berkendaraan lebih dulu memberi salam kepada yang berjalan, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, jama’ah yang sedikit memberi salam kepada yang lebih banyak, yang muda memberi salam kepada yang lebih tua sebagaimana hadits dalam riwayat Muttafaq ‘Alaih mengajarkan kepribadian rendah hati dan peduli etika pergaulan dengan memahami posisi diri dan orang lain serta tanggap terhadap ekspresi menghargai orang lain sebagai point entry untuk dihargai dan media perekat hubungan sosial sehingga lahir keshalihan yang memancarkan akhlaq yang baik (khiyarukum ahasinukum akhlaqan).

Persoalan fiqih yang kadang mengganjal dalam manajemen salam adalah salam antar jenis yang bukan mahram. Bila kita perhatikan teks-teks dalil yang menganjurkan untuk menyebarkan salam pada dasarnya bersifat umum dan tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Artinya, jika ada seorang lelaki yang secara tulus ikhlas mengucapkan salam kepada seorang wanita, maka wanita itu sesuai dengan nash Al-Qur’an wajib membalasnya dengan jawaban yang lebih baik atau minimal yang serupa dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian hijab gender tidak bisa mengoyak ajaran dan doktrin Salam serta filosofisnya.

Dalam hadits shahih diriwayatkan bahwa Ummu Hani binti Abi Thalib berkata: “Saya mengunjungi Rasulullah pada tahun al-Fath (penaklukan kota Mekah), ketika itu beliau sedang mandi sementara Fatimah, putrinya, sedang menutupi tempat mandi beliau dengan tabir, lantas saya mengucapkan salam kepada beliau, lalu beliau bertanya, ‘siapa itu?’ saya menjawab, ‘Ummu Hani binti Abi Thalib’, kemudian beliau berkata, ‘selamat datang Ummu Hani’” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketika Rasulullah saw menyampaikan kepada istrinya Aisyah bahwa malaikat Jibril mengucapkan salam kepadanya, maka ‘Aisyah ra. menjawab salamnya dengan ucapan “wa’alaikum salam warahmatullah”.

Imam Ibnu Hajar meriwayatkan dalam Fathul Bari-nya hadits Asma’ binti Yazid yang mengatakan bahwa Nabi saw pernah melewati kami kaum wanita, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami. Imam Ahmad juga meriwayatkan dalam Musnad-nya bahwa ketika sahabat Mu’adz tiba di Yaman, ia didatangi seorang perempuan dengan dua belas anaknya seraya mengucapkan salam kepada Mu’adz.

Demikian yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya tentang memberi salam kepada kaum wanita atau sebaliknya meskipun terdapat sebagian ulama yang mensyaratkan kebolehan itu dengan kondisi ‘aman dari fitnah’ seperti Imam Al-Hulaimi dan Al-Mihlab. Dari sumber-sumber di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ulama zaman dahulu tidak mengharamkan mengucapkan salam kepada wanita, khususnya jika laki-laki itu berkunjung ke rumah si wanita untuk urusan tertentu yang syar’i, untuk mengobati, mengajar, dsb. Berbeda dengan wanita yang bertemu dengan laki-laki di jalan umum, maka si lelaki sebaiknya tidak mengucapkan salam kepada wanita, kecuali jika antara mereka ada hubungan yang kuat, seperti hubungan nasab, kekeluargaan, semenda, dll. Sedangkan alasan yang paling kuat yang dijadikan sandaran oleh golongan yang melarangnya adalah karena ‘takut fitnah’ yang sudah seyogyanya dijaga oleh setiap muslim semampu mungkin untuk menjaga kesucian agamanya dan kehormatannya. Hal itu, sebenarnya, pangkal tolaknya adalah hati nurani dan daya tahan iman seorang muslim itu sendiri, karena itu hendaklah ia bertanya pada dirinya sendiri.

Dalam persoalan kasus salam antar beda jenis yang bukan mahram beberapa hal yang perlu diperhatikan agar terjaga kemurniaan dan efektivitas positifnya adalah bahwa salam itu diucapkan ataupun disampaikan dalam kerangka birr wat taqwa (kebajikan dan ketakwaan), salam itu tepat waktu dan kondisi, salam itu dilandasi ketulusan ikhlas dan aman dari potensi fitnah.

Dalam konteks ini, pendapat kalangan yang mengatakan bahwa suara wanita itu aurat sehingga mutlak tidak boleh ada kontak komunikasi antar jenis adalah tidak relevan karena tidak adanya dalil khusus yang melandasi pelarangan tersebut dan tidak ada seorang pun ulama mu’tabar (eligible) yang berpendapat begitu. Bagaimana dikatakan suara wanita itu aurat, sedang Allah berfirman: “… apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir…” (Al-Ahzab:53).

Ini berarti bahwa mereka, para istri nabi, menjawab permintaan tersebut dari belakang tabir. Demikianlah yang biasa dilakukan Aisyah dan Ummul Mu’minin lainnya, menjawab pertanyaan, meminta sesuatu dan meriwayatkan hadits serta menceritakan sisi-sisi kehidupan Rasulullah, padahal semestinya aturan yang berlaku atas mereka lebih ketat dan lebih berat daripada wanita lainnya. Sebaliknya, banyak pula kaum wanita yang bertanya dan berbicara di majelis terbuka Nabi saw. Betapa banyaknya peristiwa sejarah yang tidak terhitung jumlahnya pada zaman Nabi saw dan sahabat, yang menunjukkan bahwa kaum wanita dapat dan biasa berbicara dengan kaum laki-laki, berdialog, berdiskusi, mengucapkan dan menjawab salam. Tidak seorang pun yang berkata kepada wanita, ‘diamlah, karena suaramu itu aurat’.

Seni memberi dan menjawab ucapan selamat dalam manajemen salam merupakan salah satu bentuk setoran efektif untuk bank emosi kita dalam kebiasaan proaktif untuk menarik simpati orang lain dan membina berbagai hubungan sebagaimana ditegaskan Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Efective Families (1999). Bahkan menurutnya sebagai media sinergi untuk mewujudkan sistem kekebalan keluarga perlu dihidupkan budaya kreatif ucapan selamat sebagai bagian implementasi lima cara mengekspresikan cinta yaitu; 1. berempati, 2. berbagi rasa, 3. meyakinkan dan motivasi, 4. berdoa, 5. berkorban.

Jangan pernah melewatkan satu kesempatan dari peristiwa apapun yang dialami oleh orang-orang yang kita kasihi atau kita kenali untuk memberikan salam yang dapat menyumbangkan rasa kebahagiaan dan motivasi pada mereka sebagai suatu pengikat batin yang dahsyat sekaligus amal yang sangat mulia sebagaimana sabda Nabi saw yang mengatakan bahwa sebaik-baik amal adalah memberikan rasa kebahagiaan pada hati orang lain. Sesuatu yang remeh dan kecil bukan sebagai alasan untuk kita lewatkan meskipun hanya menulis satu coretan kecil, satu baris pesan melalui SMS, satu kalimat telepon, satu, satu kartu ucapan selamat yang sederhana, kalau hal itu memang dapat memberikan kebahagiaan orang lain, bukankah Nabi saw melarang kita untuk meremehkan dan tidak menghiraukan hal-hal positif apapun sekalipun remeh dan kecil.

Dalam optimalisasi fungsi manajemen salam dan untuk mengetahui secara proaktif momentum yang tepat bagi ekspresi salam, agar menjadi salam yang efektif maka diperlukan proses pembelajaran, pengenalan dan saling memahami (tafahum) antar kekasih, sahabat dan relasi. Barbara De Angelis dalam The 100 Most Asked Questions About Love, Sex and Relationships menekankan pentingnya kerjasama dan keyakinan bersama bagaimana perasaan cinta diekspresikan secara benar sehingga dapat membahagiakan pasangan dan sahabat. Oleh karena itu kita perlu ‘ngeh’, ‘ngerti’ dan tahu (ta’aruf) hari-hari, momentum dan saat-saat yang tepat untuk memberikan ucapan dan ungkapan selamat kepada orang-orang sekitar kita. Dan kita harus arif dalam memilih kata, media dan cara penyampaian salam agar tidak mengurangi keberkahan dan efektivitas salam.

Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq Wal Hidayah

Diambil dari :  http://www.dakwatuna.com/2009/keajaiban-salam/

Mencoba Menguak Tabir Rezeki

“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman”.(QS.Az-Zumar(39):52).

Itu sebabnya dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendapati kenyataan bahwa tidak semua orang yang bekerja mati-matian bahkan sepanjang hidupnya pasti kaya raya. Sebaliknya tidak semua orang yang bekerja ‘normal-normal’ saja  hidupnya kekurangan. Dalam sebuah hadist dikatakan bahwa rezeki adalah satu dari empat hal pokok yang telah ditetapkan pada awal kehidupan setiap manusia.

Namun demikian ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha dan bekerja dalam rangka mencari rezeki. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra, Rasulullah saw bersabda : “ Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat dalam keadaan lapar, dan pulang dalam keadaan kenyang”.

Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim meriwayatkan dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya, Amr bin Umayah ra, ia berkata : “ Seseorang berkata kepada Rasulullah  saw :  ‘Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Ikatlah kemudian bertawakkallah”.

Berdasarkan kedua hadist diatas dapat disimpulkan bahwa rezeki walaupun telah ditetapkan namun tetap harus dicari, dijemput. Dengan bagaimana? Ya dengan bekerja mencari nafkah… Allah swt telah menyediakan kotak rezeki masing-masing. Kotak tersebut ada yang besar ada yang kecil. Ini adalah cobaan bagi kita agar dapat diketahui seberapa besar rasa syukur seseorang. Jadi besar atau kecilnya kotak rezeki seseorang bukanlah cermin kasih sayang-Nya.

Justru pada kenyataannya, seringkali seorang yang memiliki kotak rezeki besar malah lupa bersyukur. Lupa akan tugas dan kewajiban yang diberikan-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS.Adz-Zariyat(51):56).

Alkisah adalah Sa’labah dan istrinya. Mulanya mereka adalah sepasang hamba Allah yang sholeh dan sholehah. Mereka hidup sangat miskin hingga untuk shalatpun mereka  harus bergantian kain sarung demi menutup aurat mereka. Suatu hari, karena bosan hidup dalam kekurangan, Sa’labah merengek agar Rasulullah bersedia memohonkan doa kepada Allah swt agar mereka berdua diberi rezeki yang berlebih.

Pada mulanya Rasulullah enggan mengabulkan permintaan tersebut karena khawatir rezeki yang berlebih bakal memalingkan mereka. Namun karena terus didesak akhirnya Rasulullahpun mendoakan mereka. Dan dalam waktu tak lama doa Rasulullahpun dikabulkan-Nya.

Singkat kata Sa’labah memperoleh seekor kambing. Dan berkat ketekunan mereka berdua, kambing mereka makin hari makin banyak. Sebaliknya, karena makin sibuk maka makin sedikit pula waktu yang mereka sisihkan untuk beribadah, untuk mengingat-Nya. Shalat yang semula didirikan pada awal waktu, sedikit demi sedikit mulai bergeser. Puncaknya mereka bahkan menolak untuk membayar zakat ! Astaghfirullah … sayang sekali bukan?

Bagi sebagian orang, rezeki adalah identik dengan harta dan materi yang notabene terlihat secara kasat mata. Ini tidak salah namun sebenarnya rezeki tidak selalu demikian. Karena pada akhirnya sebenarnya rezeki terbesar itu adalah kesehatan.  Karenanya sebesar apapun harta dan materi yang kita miliki, tidak dapat dinikmati jika kita sakit. Ini terbukti dengan kenyataan bahwa ketika sakit kita akan berusaha memperoleh kembali kesehatan tersebut berapapun uang dan harta yang harus dikorbankan.

Disamping kesehatan, adalah kebahagiaan dan ketentraman hidup. Rezeki dalam bentuk inilah yang sering kali orang lupa. Betapa sering kita mendengar kisah orang kaya raya yang hidupnya tidak bahagia. Bila memungkinkan pasti orang seperti ini rela menukar berapapun banyak hartanya agar pasangan hidupnya, anak-anaknya atau teman-temannya kembali ke pangkuannya, memperhatikan serta mengasihi dan menyayanginya.

Yang juga kita sering lupa. Dengan sejumlah besar uang di tangan bila Allah menghendaki hujan untuk tidak turun ke bumi selama berbulan-bulan atau matahari tidak muncul selama berhari-hari atau sebaliknya matahari terus bersinar sepanjang 24 jam atau hujan salju lebat selama berminggu-minggu ….  Dalam keadaan seperti ini dapatkah tanaman menghasilkan buah-buahan, sayur-sayuran, padi-padian dan sebagainya? Mungkinkah kita tenang-tenang saja ketika sungai-sungai meluap dan membanjiri rumah kita? Lalu apa gunanya uang kita yang bergepok-gepok  itu..

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.  Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. (QS. Ibrahim (14):32-33).

Dengan kata lain, puncak tertinggi rezeki itu sesungguhnya adalah keimanan. Bagi orang-orang seperti ini, sebagaimana burung dalam hadist paling atas, baginya rezeki adalah ketika ia berangkat pagi dalam keadaan lapar namun pulang dalam keadaan kenyang! Subhanallah …

Abu Hurairah ra. mengatakan, Rasulullah saw bersabda, “Seorang hamba berkata, hartaku, hartaku, hartaku. Padahal hartanya yang sesungguhnya hanya tiga macam: apa yang dimakan lalu habis, apa yang yang dipakai lalu lusuh (rusak), dan apa yang disedekahkannya lalu tersimpan (untuk akhirat). Selain yang ketiga macam itu lenyap atau ditinggalkannya (warisan) bagi orang lain.” (HR. Muslim).

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…”. (QS.An-Nisa(4):9).

Namun dengan adanya ayat diatas ( juga sejumlah hadis yang senada) menandakan bahwa kita sebaiknya tidak  meninggalkan anak-anak kita dalam keadaan lemah alias kekurangan ( harta atau ilmu). Karena hal yang demikian cenderung membuat anak keturunan kita menjadi tergantung  kepada orang lain hingga  mudah diperalat dan akhirnya menjadi lupa akan Tuhannya.

Wallahu’alam bishawab.

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Pau-France, 22 Desember 2009.

Vien AM.

Pagi ini temperatur udara menunjuk pada angka minus 2 derajat! Bbbrrrr … rasa dingin terasa  menusuk hingga jauh ke dalam tulang sumsum tubuh. Tetapi ternyata ini masih lumayan karena  di sejumlah kota lain malah sampai minus 7!   Benar, ini memang musim dingin atau orang Perancis bilang ‘Hiver’. Namun demikian para pengamat berpendapat bahwa ini bukan fenomena biasa. Karena biasanya hanya kota–kota tertentu saja yang bertemperatur dibawah nol derajat. Entah, tanda apa pula ini …Kalau sudah begini pikir –pikir enak di tanah air, dengan catatan kalau tidak banjir, tidak macet  ( di musim hujan ) dan tidak ada kebakaran ( di musim kemarau).. Semoga saja cuaca dingin ini tidak menghalangi  aktifitas sehari-hari, amin..

‘Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya…….”.(QS.An-Nur(24):43).

Untuk itu ada beberapa hikmah yang patut dicatat. Yang pertama adalah reaksi cepat tanggap pemerintah dibantu para relawan yang jumlahnya cukup banyak. Begitu juga siaran televisi yang secara terus menerus mengingatkan pentingnya membekali diri ketika harus keluar rumah. Di musim dingin ini pemerintah menyiapkan sejumlah penampungan gratis lengkap dengan selimut dan makanan bagi ‘sans abri’, sebutan bagi mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap alias gelandangan. Jangan kaget, di Perancis ini banyak lho orang seperti ini  …  ( Saya baru saja mendengar kabar bahwa pagi tadi di depan gedung wali kota Bordeaux ditemukan sesosok tubuh lelaki berumur 35 tahunan yang membujur kaku karena mati kedinginan! Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ..)

Hebatmya lagi, dengan berkendaraan petugas yang khusus menangani hal ini ( Palang Merah Perancis) aktif menyisir jalanan untuk mencari mereka. Di pagi buta nan duingin itu para petugas dan relawan membangunkan, menyelimuti serta memberi minuman penghangat tubuh. Dan akhirnya membujuk mereka agar mau dibawa ke tempat penampungan . Ada pula petugas yang bertugas membagi-bagikan kantong plastik di depan pintu supermarket agar diisi barang belanjaan oleh konsumen ketika mereka selesai berbelanja. Barang-barang yang biasanya berupa makanan ini setelah terkumpul kemudian diberikan kepada orang kurang mampu yang membutuhkannya.

Demikian pula ketika musim panas tiba, para relawan aktif membagi-bagikan air minum botol gratis. Mereka bahkan memeriksa rumah dan apartemen untuk memastikan tidak ada penghuninya yang abai terhadap panas.  Karena tidak jarang ditemukan orang meninggal akibat ‘over heat’ alias kekeringan tanpa seorangpun tahu. Ini sering terjadi pada orang-orang tua yang hidup sendiri di apartemen yang rata-rata memang tidak berpendingi karena musim panas hanya terjadi tidak lebih dari 1 bulan.

Yang kedua. Dalam rangka mengantisipasi dinginnya  udara yang luar biasa ini, masyarakatpun mau tidak mau terpaksa mengkonsumsi listrik lebih untuk mengaktifkan alat pemanas mereka. Apa akibatnya? Ternyata sekalipun Perancis masuk dalam kelompok Negara maju, tahun ini mereka ‘keteteran’ menyediakan pasokan listrik bagi kebutuhan pokok warganya. Saat ini pemerintah khawatir akan kemungkinan putusnya aliran listrik karena beban yang terlalu berat. Sungguh sulit membayangkan bagaimana harus menghadapi cuaca sedingin ini tanpa pemanas udara.  Satu lagi bukti betapa kekuatan-Nya tak terkalahkan!

“ Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allahbaik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa » .(QS.Al-Fathir(35):44).

Yang ketiga. Sebagian besar orang Perancis adalah kafir. Ini mereka akui secara terus terang. Dan ini bukan ‘hanya’ karena  mereka menuhankan Yesus, salah satu uzul-azmi yang 5, yang Al-Quran menyebutnya Isa as.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)”.(QS. Al-Maidah(5): 73-75).

Sebagian bahkan menganggap tuhan itu tidak ada, bahwa agama hanya buatan manusia. Pendek kata mereka tidak peduli terhadap kehidupan akhirat. Yang patut dipikirkan hanya kehidupan saat ini, kehidupan dunia. Kalaupun mereka merayakan Natal, ini lebih disebabkan karena tradisi dan kebiasaan masa lalu orang-tua mereka.

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja“.(QS. Al-Jatsiyah(45):24).

Darisini dapat diambil kesimpulan bahwa sekalipun dalam hal kemanusiaan mereka patut mendapat acungan jempol, namun bila mereka kafir, Allah swt tidak menghitungnya sebagai amalan yang patut dibalas dengan kenikmatan surga.. Naudzu billah min dzalik …

Selanjutnya timbul pertanyaan, kalau begitu  mengapa Allah tidak menjatuhkan azab atau hukuman kepada orang-orang Barat yang jelas-jelas kafir terhadap ayat-ayat-Nya? Ada sebagian yang berpendapat bahwa siksa Allah akan diberikan di akhirat nanti. Tentu saja ini pasti, tidak ada sedikitpun keraguan. Namun di dunia ini benarkah Allah benar-benar membiarkan mereka begitu saja?

( Bersambung ke : Suka Duka Muslimdi Perancis  (8). )