Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Laicite’

Pagi ini temperatur udara menunjuk pada angka minus 2 derajat! Bbbrrrr … rasa dingin terasa  menusuk hingga jauh ke dalam tulang sumsum tubuh. Tetapi ternyata ini masih lumayan karena  di sejumlah kota lain malah sampai minus 7!   Benar, ini memang musim dingin atau orang Perancis bilang ‘Hiver’. Namun demikian para pengamat berpendapat bahwa ini bukan fenomena biasa. Karena biasanya hanya kota–kota tertentu saja yang bertemperatur dibawah nol derajat. Entah, tanda apa pula ini …Kalau sudah begini pikir –pikir enak di tanah air, dengan catatan kalau tidak banjir, tidak macet  ( di musim hujan ) dan tidak ada kebakaran ( di musim kemarau).. Semoga saja cuaca dingin ini tidak menghalangi  aktifitas sehari-hari, amin..

‘Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya…….”.(QS.An-Nur(24):43).

Untuk itu ada beberapa hikmah yang patut dicatat. Yang pertama adalah reaksi cepat tanggap pemerintah dibantu para relawan yang jumlahnya cukup banyak. Begitu juga siaran televisi yang secara terus menerus mengingatkan pentingnya membekali diri ketika harus keluar rumah. Di musim dingin ini pemerintah menyiapkan sejumlah penampungan gratis lengkap dengan selimut dan makanan bagi ‘sans abri’, sebutan bagi mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap alias gelandangan. Jangan kaget, di Perancis ini banyak lho orang seperti ini  …  ( Saya baru saja mendengar kabar bahwa pagi tadi di depan gedung wali kota Bordeaux ditemukan sesosok tubuh lelaki berumur 35 tahunan yang membujur kaku karena mati kedinginan! Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ..)

Hebatmya lagi, dengan berkendaraan petugas yang khusus menangani hal ini ( Palang Merah Perancis) aktif menyisir jalanan untuk mencari mereka. Di pagi buta nan duingin itu para petugas dan relawan membangunkan, menyelimuti serta memberi minuman penghangat tubuh. Dan akhirnya membujuk mereka agar mau dibawa ke tempat penampungan . Ada pula petugas yang bertugas membagi-bagikan kantong plastik di depan pintu supermarket agar diisi barang belanjaan oleh konsumen ketika mereka selesai berbelanja. Barang-barang yang biasanya berupa makanan ini setelah terkumpul kemudian diberikan kepada orang kurang mampu yang membutuhkannya.

Demikian pula ketika musim panas tiba, para relawan aktif membagi-bagikan air minum botol gratis. Mereka bahkan memeriksa rumah dan apartemen untuk memastikan tidak ada penghuninya yang abai terhadap panas.  Karena tidak jarang ditemukan orang meninggal akibat ‘over heat’ alias kekeringan tanpa seorangpun tahu. Ini sering terjadi pada orang-orang tua yang hidup sendiri di apartemen yang rata-rata memang tidak berpendingi karena musim panas hanya terjadi tidak lebih dari 1 bulan.

Yang kedua. Dalam rangka mengantisipasi dinginnya  udara yang luar biasa ini, masyarakatpun mau tidak mau terpaksa mengkonsumsi listrik lebih untuk mengaktifkan alat pemanas mereka. Apa akibatnya? Ternyata sekalipun Perancis masuk dalam kelompok Negara maju, tahun ini mereka ‘keteteran’ menyediakan pasokan listrik bagi kebutuhan pokok warganya. Saat ini pemerintah khawatir akan kemungkinan putusnya aliran listrik karena beban yang terlalu berat. Sungguh sulit membayangkan bagaimana harus menghadapi cuaca sedingin ini tanpa pemanas udara.  Satu lagi bukti betapa kekuatan-Nya tak terkalahkan!

“ Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allahbaik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa » .(QS.Al-Fathir(35):44).

Yang ketiga. Sebagian besar orang Perancis adalah kafir. Ini mereka akui secara terus terang. Dan ini bukan ‘hanya’ karena  mereka menuhankan Yesus, salah satu uzul-azmi yang 5, yang Al-Quran menyebutnya Isa as.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)”.(QS. Al-Maidah(5): 73-75).

Sebagian bahkan menganggap tuhan itu tidak ada, bahwa agama hanya buatan manusia. Pendek kata mereka tidak peduli terhadap kehidupan akhirat. Yang patut dipikirkan hanya kehidupan saat ini, kehidupan dunia. Kalaupun mereka merayakan Natal, ini lebih disebabkan karena tradisi dan kebiasaan masa lalu orang-tua mereka.

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja“.(QS. Al-Jatsiyah(45):24).

Darisini dapat diambil kesimpulan bahwa sekalipun dalam hal kemanusiaan mereka patut mendapat acungan jempol, namun bila mereka kafir, Allah swt tidak menghitungnya sebagai amalan yang patut dibalas dengan kenikmatan surga.. Naudzu billah min dzalik …

Selanjutnya timbul pertanyaan, kalau begitu  mengapa Allah tidak menjatuhkan azab atau hukuman kepada orang-orang Barat yang jelas-jelas kafir terhadap ayat-ayat-Nya? Ada sebagian yang berpendapat bahwa siksa Allah akan diberikan di akhirat nanti. Tentu saja ini pasti, tidak ada sedikitpun keraguan. Namun di dunia ini benarkah Allah benar-benar membiarkan mereka begitu saja?

( Bersambung ke : Suka Duka Muslimdi Perancis  (8). )

Read Full Post »

( Sambungan dari  Suka Duka Muslim di Perancis (3)).

Berdasarkan perkiraan kasar, dari total penduduk Perancis yang berjumlah sekitar 65 juta jiwa, sebanyak 5 juta atau 8 persen di antaranya adalah Muslim. Data ini tidak akurat karena sejak tahun 1992 negri ini tidak pernah lagi mengadakan angket untuk menghitung jumlah Muslim di negrinya. Kelihatannya mereka tidak berani menerima kenyataan bahwa Islam terus berkembang pesat di Perancis.

Ini terlihat jelas dengan banyaknya majalah yang membahas keberadaan Muslim di negri tersebut. Mulanya saya terkejut sekaligus senang mendapati sejumlah majalah dengan cover tentang Islam. Namun setelah dipelajari ternyata tidak semua berkomentar positif. Sebagian bahkan menganggapnya sebagai ancaman! Muslim di negri produksi parfum terbesar di dunia ini memang tercatat sebagai yang terbesar di Eropa. Di Perancis sendiri agama Islam menempati posisi  ke dua setelah Kristen walaupun bedanya sangat jauh. Meskipun begitu tetap jauh diatas jumlah pemeluk Protestan dan Yahudi.

Mosque de Pau - France

Mosque de Pau - France

Namun demikian jumlah masjid yang ada di seluruh negri ini sangat jauh lebih sedikit dibanding pemeluknya. Begitu pula di Pau. Karena masjid hanya ada 1 maka umat Muslim terpaksa berdesak-desakan ketika harus melaksanakan shalat Jumat. Begitupun ketika shalat Ied. Karena pemerintah tidak memberi izin Muslim untuk melakukan kegiatan di lapangan terbuka sebagaimana yang diperintahkan maka umat terpaksa melaksanakannya di dalam masjid. Bila dilihat dari jumlah orang yang melaksanakan shalat Ied beberapa hari yang lalu, jumlah Muslim di Pau mungkin sekitar 1000-an.

Di dalam sejumlah masjid ini pula dari tahun ke tahun terutama di bulan Ramadhan,  sejumlah warga Perancis bersyahadat. Bahkan tahun ini dikabarkan sekitar 3.000 muslim Perancis merayakan Iedul Fitri dengan berumrah Ramadhan di Mekkah!

Mosque de Tarbes

Mosque de Tarbes

Ada pengalaman yang cukup menarik. Suatu hari di bulan Ramadhan kami pergi ke kota Tarbes, sekitar 1 jam perjalanan dari Pau bila melalui tol. Sebelumnya kami mendapat informasi bahwa di kota tersebut terdapat masjid yang lebih besar dari masjid di Pau. Singkat cerita kami shalat Magrib, Isya dan Tarawih setelah sebelumnya dipaksa pengurus  masjid agar berbuka ( dengan masakan Maroko yang menurut saya cukup lezat …nyamm..)  di  masjid Tarbes tersebut. Namun baru saja kami selesai mengucap salam, tiba-tiba seorang ibu setengah baya menghampiri, menyalami sembari mencium pipi kami berdua. Sebenarnya hal yang biasa saja.

 Yang tidak biasa adalah ketika ia bertanya apakah kami mengenal temannya seorang Indonesia yang menikah dengan seorang polisi Perancis. Nah.pertanyaannya, bagaimana ia  yakin bahwa  kami adalah orang Indonesia !. “ Dari busana yang dipakai anak perempuan kamu. Teman saya juga selalu memakai busana seperti itu ketika shalat “,  jawabnya.  Maksudnya mukena! Oo.. kami berduapun tertawa. Memang tidak ada di dunia ini muslimah yang memakai busana khusus ketika hendak shalat seperti mukena ini kecuali orang Indonesia , pikir saya geli.

 Dari pembicaraan tersebut akhirnya kami tahu ternyata ibu tadi adalah seorang Mualaf . Ia beserta suami, 3 anak perempuan dan 1 anak laki-laki2nya memeluk  Islam sejak beberapa tahun yang lalu. Allahuakbar…Ia menambahkan setiap  Ramadhan di kotanya hampir selalu ada saja orang  Perancis yang bersyahadat. Sekarang ketiga anak gadisnya bahkan mengenakkan jilbab. Saya komentar kepada anak perempuan saya “ Ternyata orang Perancis kalau memakai jilbab jadi mirip orang Arab de ya… cantik sekali ”. Begitu  pula kaum lelakinya, ketika mereka memanjangkan jenggotnya, sulit untuk membedakan bahwa mereka bukan orang  Arab.

 Di dalam bulan suci ini pula, tiba-tiba hampir di seluruh supermarket besar dan kecil di kota-kota Perancis dimana didalamnya terdapat Muslim, bermuncullan counter-counter daging halal. Yang juga mengejutkan di sekelilingnya berdiri pula  rak yang memuat Al-Quran lengkap dengan terjemahnya, hadis dan sejumlah buku tentang Rasulullah Muhammad saw dan  Islam. Dari sini tampak jelas bahwa kebutuhan beragama yang benar tidak mungkin dihambat apalagi dilarang.

 Suatu hari ketika sedang menunaikan shalat di masjid Pau, saya berbincang dengan beberapa remaja muslimah. Dari pembicaraan tersebut saya jadi tahu ternyata mereka menanggalkan jilbab hanya begitu memasuki area sekolah. Selebihnya seperti biasa kemana-mana mereka menutup auratnya dengan baik.…Subhanallah..     

 Cahaya Allah dan pertolongan-Nya makin terlihat benderang. Beberapa waktu lalu dikabarkan bahwa wali kota Creteil, kota yang terletak sebelah Tenggara Paris, setelah 15 tahun dinantikan, akhirnya memberikan izin pendirian masjid di kota tersebut. Creteil adalah kota berpenduduk Muslim terbanyak tidak saja di Perancis namun juga di Eropa , yaitu 20 % dari 88 ribu penduduknya. Maket yang disetujui tersebut dikabarkan bakal memiliki  81 buah menara serta  berdaya tampung 2500 jamaah ! Ini adalah  sebuah “ kebijakan pengecualian “ yang sangat menggembirakan. Hanya atas izin-Nya semua ini bisa terjadi. Allahuakbar …

Namun sebetulnya ini bukan satu-satunya “surprised” . Karena sejak tahun 2003 di Lille, sebuah kota beberapa  km Utara Paris, telah didirikan sebuah sekolah Islam setingkat SMA,  Lycée Averroès. Averroès adalah  nama seorang cendekiawan Arab Andalusia di abad 12, Abdul Walid Ibn Rousyid. Di sekolah ini sekitar 80 muslimah bebas mengenakan jilbab mereka tanpa sedikitpun rasa  khawatir diganggu.

Di Pau sendiri saat ini dapat kita temui sejumlah ‘ Boucherie Musulmane’ alias  toko daging halal dan banyak sekali restoran khusus “Kebab”, daging halal khas Timur Tengah dengan sangat mudah. Namun sungguh disayangkan kedai-kedai ini tetap menyuguhkan minuman keras dalam menu mereka. Tadinya saya pikir mungkin untuk memenuhi permintaan pengunjung. Karena banyak juga bule non Muslim yang menyukai hidangan ini. Selidik punya selidik, ternyata sejak ratusan tahun lalu, yaitu sejak masa Mudejar, Muslim Muallaf Spanyol yang memperkenalkan Islam ke Perancis, telah terbiasa meneruskan tradisi minum minuman keras  sekalipun  telah bersyahadat dan melaksanakan shalat! Sungguh patut disayangkan.

Padahal banyak diantara mualaf yang tertarik pada ajaran Islam justru karena adanya larangan mengkonsumsi minuman keras dan juga karena kewajiban muslimah menutup aurat dengan jilbabnya. Para perempuan mualaf  ini mengaku merasa muak dengan kebiasaan mereka di masa lalu yang suka mengumbar aurat dan nafsu seksual mereka tanpa batas dan aturan. Mereka yakin bahwa jilbab adalah bentuk rasa kasih sayang dan perhatian Sang Khalik terhadap hamba-hamba-Nya…. Alhamdulillah..

( Bersambung)

click here : https://vienmuhadi.com/2009/09/29/suka-duka-muslim-di-perancis-5/

 Wallahu’alam bi shawab.

 Pau – France, 21 September 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Pau adalah ibu kota salah satu propinsi/departemen di Perancis yang dinamakan  Pyrene Atlantik. Kota ini terletak di kaki pegunungan Pirenea yang menjadi batas negara Perancis di selatan dengan Spanyol. Di kota ini terdapat beberapa lokasi stasiun ski. Pirenea memang merupakan pegunungan ke 2 di Eropa setelah Alpen yang menjadi sasaran liburan warga Eropa baik ketika musim dingin untuk bermain ski maupun untuk berbagai jenis olah raga di musim panas.     

jalanan di pusat kota

jalanan di pusat kota

Selain sebagai tempat singgah menuju Pirenea, Pau juga dikenal sebagai kota pelajar. Di kota ini berdiri Universite de Pau dimana tercatat sekitar 19000 mahasiswa menimba ilmu di dalamnya. Berkat penemuan sumber minyak dan gas pada tahun 1949 di Lacq, beberapa km utara Pau, saat ini berdiri sebuah lembaga penelitian dan pengembangan minyak dan gas yang terbesar di Perancis. Untuk kepentingan itulah secara berkala lembaga ini mendatangkan sejumlah tenaga ahli / expatriate dari berbagai negara  termasuk Indonesia.

Berkat letak geografisnya yang penuh tanjakan dan kelokan Pau juga dikenal oleh para penggemar olahraga sepeda. Bahkan sejak tahun 1930 kota ini telah ditunjuk menjadi salah satu tempat, etape dalam seri Tour de France, lomba balap sepeda paling terkenal di Perancis yang diikuti sejumlah negara  besar dunia. Namun jauh sebelum itu sebenarnya Pau secara rutin telah menjadi tuan rumah balap mobil yang terkenal hingga saat ini, yaitu Grand Prix Formula. Balapan ini pertama kali diselenggarkan di Pau pada tahun 1901.

Saat ini tercatat lebih dari 270 ribu orang menempati Pau. Warga menyebut diri mereka dengan sebutan Palois. Mereka sangat bangga dengan kotanya diantaranya  karena kota ini telah melahirkan 2 orang besar Perancis.

Yang pertama adalah Jean Baptiste Jules Bernadotte. Ia mengawali karir panjangnya sebagai tentara Perancis. Beberapa tahun kemudian oleh Napoleon I  ia diangkat menjadi Marshall / kepala polisi. Pengabdiannya untuk negara berakhir ketika ia menjadi raja Swedia dan Norwegia ! Kejadian langka ini terjadi pada tahun 1818. Uniknya, ia dipilih dan diangkat oleh rakyat Swedia dan Norwegia bukan karena hasil perebutan kekuasaan atau peperangan. Ia dipilih karena rakyat  menganggapnya sebagai diplomat sekaligus tentara yang adil, baik budi dan simpatik bahkan terhadap tawanan  yang waktu itu ditaklukannya. Disamping itu, raja Swedia ketika itu memang sedang putus asa karena kedua putra mahkotanya meninggal dalam usia sangat muda. Bernadotte yang di Swedia dikenal dengan nama Karl XIV Johan,  tetap menjadi raja hingga akhir hayatnya.

Chateau de Pau

Chateau de Pau

Yang kedua  adalah raja Henry IV. Ia dilahirkan di Chateau de Pau, sebuah kastil cantik yang semula adalah benteng yang dimaksudkan untuk melindungi kota dari serbuan musuh. Dari dalam benteng ini, Gave De Pau, sungai yang mengaliri kota, terlihat jelas. Benteng ini didirikan pada abad 11. Bila dilihat dari sejarah dan bentuk menaranya yang bergaya Mudejar, kelihatannya benteng ini adalah peninggalan Islam yang pada abad 7 hingga abad 14  pernah menguasai Spanyol dan Perancis bagian selatan.

Sebelum diangkat menjadi raja Perancis pada tahun 1598 – 1610, Henry IV adalah seorang raja Navarre, yang menguasai Aragon, Spanyol bagian utara. Ia adalah raja Perancis pertama yang menanda-tangani perjanjian kesepakatan toleransi antara pemeluk Katolik dan Protestan. Dibawah perjanjian inilah pemeluk Protestan akhirnya bebas menjalankan keyakinannya setelah sebelumnya dimusuhi dan dikucilkan. Meski untuk itu sang raja sendiri terpaksa harus berpindah keyakinan, dari Protestan menjadi Katolik. Ironisnya lagi, di akhir hayatnya ia juga harus meninggal di tangan seorang penganut fanatik salah satu pemeluk agama tersebut.

Seperti diketahui negri ini selama ratusan tahun ( sejak tahun 1562 – 1787 ) walaupun tidak secara terus menerus pernah dilanda krisis brutal perang antar kedua pemeluk agama yang memiliki akar yang sama yaitu, Kristen. Pembantaian pemeluk Protestan oleh pemeluk Katolik pada tahun 1572 yang ketika itu menjadi agama resmi kerajaan yang dikenal dengan nama Le Massacre de la Saint Barthelemy adalah contohnya.

Diperparah lagi dengan adanya campur tangan Inggris yang mendukung pemeluk Protestan dan Spanyol yang mendukung pemeluk Katolik, Perancis menjadi ajang pertempuran berdarah yang sungguh memilukan. Selama 200 tahun  walaupun telah berkali-kali ditanda-tangani kesepakatan toleransi antar keduanya, perang tetap tidak dapat dihentikan. Bahkan ketika di bawah raja Louis XIV pada tahun 1681, para penganut Protestan dibawah ancaman senjata dipaksa berpindah menganut Katolik.  Hasilnya, dalam  waktu 4 tahun pemeluk Protestan di negri tersebut hanya tinggal 15 % saja karena sebagian besar terpaksa melarikan diri dari negrinya sendiri ke berbagai negara tetangga bahkan hingga ke Amerika Utara dan Afrika Selatan. Di kemudian hari peristiwa ini dikenal dengan nama Dragonnade.

Sejak itu pula Perancis mengalami kemorosotan tidak saja moral namun juga ekonomi.  Karena sebagian besar pemeluk Protestan ketika itu adalah para pemegang perekonomian  yang dikenal handal. Akibatnya kelaparan merajalela dimana-mana sementara gereja dan keluarga kerajaan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi sibuk dengan urusannya masing-masing. Bahkan di kediaman resmi raja Louis XVI dan permaisuri Marie Antoinette di istana Versailles makin sering diadakan pesta-pesta yang  menghamburkan banyak sekali uang. Ini  yang akhirnya memicu lahirnya Revolusi Perancis di tahun 1789 yang cenderung tidak menginginkan adanya pengaruh dan kekuasaan agama dalam pemerintahan. Ini pulalah awal lahirnya konsep Laicite atau Sekulerisasi. Menurut konsep ini kebebasan beragama dijamin namun tidak untuk diperlihatkan kepada umum. Pada dasarnya konsep ini berpegang bahwa agama adalah urusan pribadi.

Inilah yang menjadi pegangan  mengapa sejak Maret 2004 simbol-simbol agama termasuk jilbab dilarang di negri ini meskipun hanya sebatas didalam lingkungan gedung pemerintahan termasuk sekolah negri. Meskipun pada kenyataannya sekolah swastapun melarang penggunaan jilbab. Bahkan dikabarkan sejumlah politikus belakangan ini telah mengajukan permohonan agar pemakaian jilbab di tempat-tempat  umum seperti di jalanan juga dilarang!

Namun lucunya, ketika dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi di Kairo Juni 2009 lalu, Barrack Obama,  Presiden Amerika Serikat, menyarankan bahwa sebaiknya Barat tidak perlu terlalu khawatir terhadap keberadaan Muslim, termasuk tidak perlu ikut mengatur busana apa yang pantas dikenakan seorang Muslimah, Sarkozy segera bereaksi bahwa negri  yang dipimpinnya  itu memberi kebebasan warganya untuk berbusana apa saja. “ Perancis adalah Negara Demokrasi , seorang Muslimah tidak dilarang memakai jilbab selama bukan karena dipaksa” , begitu tambahnya. Namun dengan catatan bahwa prinsip negrinya  adalah ‘Laicite’. Maksudnya …??    

 Tiba-tiba saya teringat ketika beberapa  tahun yang lalu saya menyaksikan acara televisi Perancis  tentang pengakuan seorang perempuan Afganistan dan Iran yang menceritakan bahwa perempuan di negrinya akan ditangkap pihak penguasa bila ketahuan berjalan-jalan ditempat umum tanpa memakai  Burqa ataupun Jilbab. Saya terkesiap..Rupanya para perempuan  tersebut menutup aurat mereka karena terpaksa bukan karena keyakinannya… Astaghfirullah..   

Saat itu kedua perempuan tersebut tampil di layar televisi  tanpa menutup auratnya. Mereka telah merubah penampilan layaknya perempuan Barat. Namun foto mereka ketika masih memakai Burqa dan Jilbal tentu saja tidak lupa  ditampilkan.    

Ya Allah, Ya Robbi …bila yang bersangkutan  saja merasa seperti itu dan kemudian bahkan  membuat pernyataan terbuka di hadapan non Muslim yang notabene memang tidak menyukai ajaran Islam, apa yang dapat kita katakan …Benar-benar memalukan  …..

 ( Bersambung ke Suka Duka Muslim di Perancis (4))

click here : https://vienmuhadi.com/2009/09/22/suka-duka-muslim-di-perancis-4/

Pau-France, 21 September 2009.

Vien AM.

Read Full Post »