Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2009

Keajaiban Salam

Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo


Assalamu'alaikum (awangpurba.blogspot.com)  dakwatuna.com – Cinta adalah sesuatu benih yang hidup dalam hati dan tumbuh muncul ke permukaan dalam bentuk ekspresi kongkret dan perilaku riil. Cinta memerlukan ekspresi tersendiri dan esensi syariat Salam dalam Islam lebih dari sekadar simbol formalitas verbal tetapi sebuah ekspresi tulus yang lahir dari perasaan cinta, kasih sayang, doa, harapan, suka cita, motivasi, kepedulian, perhatian, penghargaan dan ikatan batin yang tulus dalam berbagai bentuknya.

 Alice Gray memberikan tips mengawetkan hubungan romantis pasangan dalam bukunya List To Live By For Every Married Couple (2002) yaitu dengan memelihara komunikasi efektif melalui berbagai ekspresi perasaan, sukacita, dam keprihatinan yang terdalam. Menurutnya, pernikahan itu dibangun di atas ekspresi-ekspresi kecil penuh kasih sayang dengan menekankan pentingnya ucapan-ucapan selamat dalam berbagai pengalaman penting dan momentum berarti (munasabat) serta sebaliknya mengabadikan kartu ucapan selamat yang terkirim untuk pernikahan, ulang tahun, ulang tahun pernikahan ataupun ucapan spesial apapun merupakan hal yang bermanfaat sebagaimana saran Angela Dean Lund, konsultan kenangan-kenangan kreatif.

Salam merupakan salah satu bentuk pemberian motivasi yang sangat berarti dalam sebuah hubungan agar dapat meningkatkan semangat dalam vitalitas kehidupan fisik material maupun psikologis spiritual, maka karena cinta memerlukan motivasi yang intens dan kontinyu agar tercipta hubungan yang harmonis dan bergairah sepanjang musim, seperti diungkapkan oleh John Gray dalam Men are From Mars, Women are from Venus (1992) sehingga memerlukan manajemen salam dan seni memahami entry point serta titik-titik sensitif serta sentimentil untuk mengeratkan hati pasangan ataupun orang lain (ta’liful qulub). Namun demikian, patut disayangkan, banyak kalangan umat dan aktivis dakwah yang melewatkan dan menyiakan entry point ini membina dan mengeratkan hubungan dengan orang-orang dekatnya serta lingkungan pergaulannya sehingga tercipta hubungan yang loyal, bergairah dan indah.

Sebagai seorang muslim, adalah telah menjadi sebuah keharusan syar’i dan keniscayaan pergaulan untuk memahami manajemen salam dengan saling membudayakan salam secara positif dan efektif. Banyak sekali dalil syar’i, baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits yang menganjurkan agar kita selalu memberi salam kepada siapa pun termasuk yang kita belum kenal apalagi orang-orang dekat yang telah lama kita kenal. (QS.24:27)

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah Islam yang paling baik itu? beliau menjawab: Engkau memberi makan dan memberi (mengucapkan) salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang belum kamu kenal.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih )

Rasulullah SAW telah mewasiatkan kepada umat Islam untuk memelihara tujuh perkara yaitu; menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, mendoakan orang yang bersin, membantu yang lemah, menolong yang dizhalimi orang, memberi salam, mengabulkan permintaan seseorang (memohon dengan sumpah kepada Allah). (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Imam Ibnu Hibban (w.354 H.) dalam Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala menegaskan bahwa Islam sangat menganjurkan budaya Salam pada hubungan sosial secara umum, karena mengandung hikmah dapat mengikis rasa kebencian, kemarahan dan mencerahkan pergaulan sebagaimana riwayat hadits Nabi saw yang mengatakan bahwa Salam merupakan salah satu nama agung Allah yang dihamparkan di muka bumi, maka tebarkanlah Salam di antara kalian.

Manajemen salam secara baik akan melatih seseorang dapat mengoptimalkan upaya membudayakan salam yang merupakan salah satu cara untuk memperkuat persaudaraan khususnya antara sesama muslim, menambah perasaan saling cinta antar sesama orang beriman. Rasulullah SAW dalam sebuah hadits menegaskan bahwa tidak akan masuk surga sehingga orang telah beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai cara efektif untuk dapat saling mencintai adalah dengan menyebarkan salam. ( HR. Muslim )

Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People (1979) mengajarkan bagaimana cara memelihara dan mengeratkan hubungan sosial khususnya ikatan mahligai perkawinan di antara dengan saling memberi salam berupa ucapan selamat dan pujian yang ikhlas serta memberikan perhatian-perhatian pada hal-hal kecil yang menarik pasangan seperti ketika hari ulang tahun peristiwa pernikahan dan kelahiran.

Menghidupkan budaya salam secara kreatif dan inisiatif bagi pribadi pendamba keshalihan akan tumbuh secara mandiri karena keyakinan bahwa salam merupakan kebiasaan tersebut termasuk sebuah ibadah yang dapat menghantarkan kepada surga sebagaimana pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Hai manusia, sebarkanlah salam, berdermalah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan (silaturahim), shalat malamlah pada saat orang-orang sedang tidur lelap niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Tradisi Salam lahir dan hidup sepanjang sejarah hubungan manusia berlangsung sejak zaman Nabi Adam as. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT telah selesai menciptakan Adam as, maka Allah SWT memerintahkan kepada Adam as. untuk menemui dan memberi Salam kepada segolongan malaikat yang sedang duduk menunggu untuk kemudian Adam as diminta mendengarkan apa yang mereka ucapkan sebagai penghormatan kepadanya. Salam yang diucapkan para malaikat kepada Adam as. adalah salam hormat kepadamu dan salam hormat kepada keturunanmu (yang beriman). Maka Adam as berkata: “Assalamu’alaikum” dan mereka menjawab: “Assalamu’alaikum Warahmatullah”. ( HR. Bukhari )

Pada dasarnya, hukum memberi salam dan menjawabnya adalah berbeda. Memberi salam adalah sebuah sunnah yang dianjurkan sedangkan menjawabnya adalah wajib sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Abdil Barr bahwa para ulama sepakat tentang hal ini. Ketentuan syariat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan pemeliharaan hubungan dengan mengajarkan pentingnya menghargai ekspresi positif orang lain berupa ucapan selamat dengan cara membalasnya dengan ucapan salam senada atau lebih baik lagi sebagaimana hadits tentang permulaan salam di atas sehingga para ulama sepakat bahwa menambahkan kalimat dalam menjawab salam adalah sesuatu yang dianjurkan memberikan balasan salam yang lebih baik sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap inisiator salam. Firman Allah SWT : “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS. 4:86)

Kristine Carlson dalam Don’t Sweat the Small Stuff for Women (2001) mengkritik kebiasaan dan sikap sementara orang yang kurang arif dalam menerima salam berupa pujian dan kata selamat dengan berbagai respon negatif bahkan pasif, padahal kita dapat menyambutnya dengan ucapan “terima kasih”. Dalam hal ini sunnah Nabi saw lebih jauh mendorong kebiasaan positif dalam menyikapi ucapan salam dengan menjawabnya tidak sekadar “terima kasih” tetapi memberikan ucapan selamat kembali kepada penyampai dan orang yang mengucapkannya minimal setara bobot ucapannya.

Esensi prosedur salam dalam syariat Islam yang berupa tatacara memberi salam yaitu orang yang berkendaraan lebih dulu memberi salam kepada yang berjalan, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, jama’ah yang sedikit memberi salam kepada yang lebih banyak, yang muda memberi salam kepada yang lebih tua sebagaimana hadits dalam riwayat Muttafaq ‘Alaih mengajarkan kepribadian rendah hati dan peduli etika pergaulan dengan memahami posisi diri dan orang lain serta tanggap terhadap ekspresi menghargai orang lain sebagai point entry untuk dihargai dan media perekat hubungan sosial sehingga lahir keshalihan yang memancarkan akhlaq yang baik (khiyarukum ahasinukum akhlaqan).

Persoalan fiqih yang kadang mengganjal dalam manajemen salam adalah salam antar jenis yang bukan mahram. Bila kita perhatikan teks-teks dalil yang menganjurkan untuk menyebarkan salam pada dasarnya bersifat umum dan tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Artinya, jika ada seorang lelaki yang secara tulus ikhlas mengucapkan salam kepada seorang wanita, maka wanita itu sesuai dengan nash Al-Qur’an wajib membalasnya dengan jawaban yang lebih baik atau minimal yang serupa dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian hijab gender tidak bisa mengoyak ajaran dan doktrin Salam serta filosofisnya.

Dalam hadits shahih diriwayatkan bahwa Ummu Hani binti Abi Thalib berkata: “Saya mengunjungi Rasulullah pada tahun al-Fath (penaklukan kota Mekah), ketika itu beliau sedang mandi sementara Fatimah, putrinya, sedang menutupi tempat mandi beliau dengan tabir, lantas saya mengucapkan salam kepada beliau, lalu beliau bertanya, ‘siapa itu?’ saya menjawab, ‘Ummu Hani binti Abi Thalib’, kemudian beliau berkata, ‘selamat datang Ummu Hani’” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketika Rasulullah saw menyampaikan kepada istrinya Aisyah bahwa malaikat Jibril mengucapkan salam kepadanya, maka ‘Aisyah ra. menjawab salamnya dengan ucapan “wa’alaikum salam warahmatullah”.

Imam Ibnu Hajar meriwayatkan dalam Fathul Bari-nya hadits Asma’ binti Yazid yang mengatakan bahwa Nabi saw pernah melewati kami kaum wanita, lalu beliau mengucapkan salam kepada kami. Imam Ahmad juga meriwayatkan dalam Musnad-nya bahwa ketika sahabat Mu’adz tiba di Yaman, ia didatangi seorang perempuan dengan dua belas anaknya seraya mengucapkan salam kepada Mu’adz.

Demikian yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya tentang memberi salam kepada kaum wanita atau sebaliknya meskipun terdapat sebagian ulama yang mensyaratkan kebolehan itu dengan kondisi ‘aman dari fitnah’ seperti Imam Al-Hulaimi dan Al-Mihlab. Dari sumber-sumber di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ulama zaman dahulu tidak mengharamkan mengucapkan salam kepada wanita, khususnya jika laki-laki itu berkunjung ke rumah si wanita untuk urusan tertentu yang syar’i, untuk mengobati, mengajar, dsb. Berbeda dengan wanita yang bertemu dengan laki-laki di jalan umum, maka si lelaki sebaiknya tidak mengucapkan salam kepada wanita, kecuali jika antara mereka ada hubungan yang kuat, seperti hubungan nasab, kekeluargaan, semenda, dll. Sedangkan alasan yang paling kuat yang dijadikan sandaran oleh golongan yang melarangnya adalah karena ‘takut fitnah’ yang sudah seyogyanya dijaga oleh setiap muslim semampu mungkin untuk menjaga kesucian agamanya dan kehormatannya. Hal itu, sebenarnya, pangkal tolaknya adalah hati nurani dan daya tahan iman seorang muslim itu sendiri, karena itu hendaklah ia bertanya pada dirinya sendiri.

Dalam persoalan kasus salam antar beda jenis yang bukan mahram beberapa hal yang perlu diperhatikan agar terjaga kemurniaan dan efektivitas positifnya adalah bahwa salam itu diucapkan ataupun disampaikan dalam kerangka birr wat taqwa (kebajikan dan ketakwaan), salam itu tepat waktu dan kondisi, salam itu dilandasi ketulusan ikhlas dan aman dari potensi fitnah.

Dalam konteks ini, pendapat kalangan yang mengatakan bahwa suara wanita itu aurat sehingga mutlak tidak boleh ada kontak komunikasi antar jenis adalah tidak relevan karena tidak adanya dalil khusus yang melandasi pelarangan tersebut dan tidak ada seorang pun ulama mu’tabar (eligible) yang berpendapat begitu. Bagaimana dikatakan suara wanita itu aurat, sedang Allah berfirman: “… apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir…” (Al-Ahzab:53).

Ini berarti bahwa mereka, para istri nabi, menjawab permintaan tersebut dari belakang tabir. Demikianlah yang biasa dilakukan Aisyah dan Ummul Mu’minin lainnya, menjawab pertanyaan, meminta sesuatu dan meriwayatkan hadits serta menceritakan sisi-sisi kehidupan Rasulullah, padahal semestinya aturan yang berlaku atas mereka lebih ketat dan lebih berat daripada wanita lainnya. Sebaliknya, banyak pula kaum wanita yang bertanya dan berbicara di majelis terbuka Nabi saw. Betapa banyaknya peristiwa sejarah yang tidak terhitung jumlahnya pada zaman Nabi saw dan sahabat, yang menunjukkan bahwa kaum wanita dapat dan biasa berbicara dengan kaum laki-laki, berdialog, berdiskusi, mengucapkan dan menjawab salam. Tidak seorang pun yang berkata kepada wanita, ‘diamlah, karena suaramu itu aurat’.

Seni memberi dan menjawab ucapan selamat dalam manajemen salam merupakan salah satu bentuk setoran efektif untuk bank emosi kita dalam kebiasaan proaktif untuk menarik simpati orang lain dan membina berbagai hubungan sebagaimana ditegaskan Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Efective Families (1999). Bahkan menurutnya sebagai media sinergi untuk mewujudkan sistem kekebalan keluarga perlu dihidupkan budaya kreatif ucapan selamat sebagai bagian implementasi lima cara mengekspresikan cinta yaitu; 1. berempati, 2. berbagi rasa, 3. meyakinkan dan motivasi, 4. berdoa, 5. berkorban.

Jangan pernah melewatkan satu kesempatan dari peristiwa apapun yang dialami oleh orang-orang yang kita kasihi atau kita kenali untuk memberikan salam yang dapat menyumbangkan rasa kebahagiaan dan motivasi pada mereka sebagai suatu pengikat batin yang dahsyat sekaligus amal yang sangat mulia sebagaimana sabda Nabi saw yang mengatakan bahwa sebaik-baik amal adalah memberikan rasa kebahagiaan pada hati orang lain. Sesuatu yang remeh dan kecil bukan sebagai alasan untuk kita lewatkan meskipun hanya menulis satu coretan kecil, satu baris pesan melalui SMS, satu kalimat telepon, satu, satu kartu ucapan selamat yang sederhana, kalau hal itu memang dapat memberikan kebahagiaan orang lain, bukankah Nabi saw melarang kita untuk meremehkan dan tidak menghiraukan hal-hal positif apapun sekalipun remeh dan kecil.

Dalam optimalisasi fungsi manajemen salam dan untuk mengetahui secara proaktif momentum yang tepat bagi ekspresi salam, agar menjadi salam yang efektif maka diperlukan proses pembelajaran, pengenalan dan saling memahami (tafahum) antar kekasih, sahabat dan relasi. Barbara De Angelis dalam The 100 Most Asked Questions About Love, Sex and Relationships menekankan pentingnya kerjasama dan keyakinan bersama bagaimana perasaan cinta diekspresikan secara benar sehingga dapat membahagiakan pasangan dan sahabat. Oleh karena itu kita perlu ‘ngeh’, ‘ngerti’ dan tahu (ta’aruf) hari-hari, momentum dan saat-saat yang tepat untuk memberikan ucapan dan ungkapan selamat kepada orang-orang sekitar kita. Dan kita harus arif dalam memilih kata, media dan cara penyampaian salam agar tidak mengurangi keberkahan dan efektivitas salam.

Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq Wal Hidayah

Diambil dari :  http://www.dakwatuna.com/2009/keajaiban-salam/

Read Full Post »

“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman”.(QS.Az-Zumar(39):52).

Itu sebabnya dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendapati kenyataan bahwa tidak semua orang yang bekerja mati-matian bahkan sepanjang hidupnya pasti kaya raya. Sebaliknya tidak semua orang yang bekerja ‘normal-normal’ saja  hidupnya kekurangan. Dalam sebuah hadist dikatakan bahwa rezeki adalah satu dari empat hal pokok yang telah ditetapkan pada awal kehidupan setiap manusia.

Namun demikian ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha dan bekerja dalam rangka mencari rezeki. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra, Rasulullah saw bersabda : “ Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat dalam keadaan lapar, dan pulang dalam keadaan kenyang”.

Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim meriwayatkan dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya, Amr bin Umayah ra, ia berkata : “ Seseorang berkata kepada Rasulullah  saw :  ‘Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Ikatlah kemudian bertawakkallah”.

Berdasarkan kedua hadist diatas dapat disimpulkan bahwa rezeki walaupun telah ditetapkan namun tetap harus dicari, dijemput. Dengan bagaimana? Ya dengan bekerja mencari nafkah… Allah swt telah menyediakan kotak rezeki masing-masing. Kotak tersebut ada yang besar ada yang kecil. Ini adalah cobaan bagi kita agar dapat diketahui seberapa besar rasa syukur seseorang. Jadi besar atau kecilnya kotak rezeki seseorang bukanlah cermin kasih sayang-Nya.

Justru pada kenyataannya, seringkali seorang yang memiliki kotak rezeki besar malah lupa bersyukur. Lupa akan tugas dan kewajiban yang diberikan-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS.Adz-Zariyat(51):56).

Alkisah adalah Sa’labah dan istrinya. Mulanya mereka adalah sepasang hamba Allah yang sholeh dan sholehah. Mereka hidup sangat miskin hingga untuk shalatpun mereka  harus bergantian kain sarung demi menutup aurat mereka. Suatu hari, karena bosan hidup dalam kekurangan, Sa’labah merengek agar Rasulullah bersedia memohonkan doa kepada Allah swt agar mereka berdua diberi rezeki yang berlebih.

Pada mulanya Rasulullah enggan mengabulkan permintaan tersebut karena khawatir rezeki yang berlebih bakal memalingkan mereka. Namun karena terus didesak akhirnya Rasulullahpun mendoakan mereka. Dan dalam waktu tak lama doa Rasulullahpun dikabulkan-Nya.

Singkat kata Sa’labah memperoleh seekor kambing. Dan berkat ketekunan mereka berdua, kambing mereka makin hari makin banyak. Sebaliknya, karena makin sibuk maka makin sedikit pula waktu yang mereka sisihkan untuk beribadah, untuk mengingat-Nya. Shalat yang semula didirikan pada awal waktu, sedikit demi sedikit mulai bergeser. Puncaknya mereka bahkan menolak untuk membayar zakat ! Astaghfirullah … sayang sekali bukan?

Bagi sebagian orang, rezeki adalah identik dengan harta dan materi yang notabene terlihat secara kasat mata. Ini tidak salah namun sebenarnya rezeki tidak selalu demikian. Karena pada akhirnya sebenarnya rezeki terbesar itu adalah kesehatan.  Karenanya sebesar apapun harta dan materi yang kita miliki, tidak dapat dinikmati jika kita sakit. Ini terbukti dengan kenyataan bahwa ketika sakit kita akan berusaha memperoleh kembali kesehatan tersebut berapapun uang dan harta yang harus dikorbankan.

Disamping kesehatan, adalah kebahagiaan dan ketentraman hidup. Rezeki dalam bentuk inilah yang sering kali orang lupa. Betapa sering kita mendengar kisah orang kaya raya yang hidupnya tidak bahagia. Bila memungkinkan pasti orang seperti ini rela menukar berapapun banyak hartanya agar pasangan hidupnya, anak-anaknya atau teman-temannya kembali ke pangkuannya, memperhatikan serta mengasihi dan menyayanginya.

Yang juga kita sering lupa. Dengan sejumlah besar uang di tangan bila Allah menghendaki hujan untuk tidak turun ke bumi selama berbulan-bulan atau matahari tidak muncul selama berhari-hari atau sebaliknya matahari terus bersinar sepanjang 24 jam atau hujan salju lebat selama berminggu-minggu ….  Dalam keadaan seperti ini dapatkah tanaman menghasilkan buah-buahan, sayur-sayuran, padi-padian dan sebagainya? Mungkinkah kita tenang-tenang saja ketika sungai-sungai meluap dan membanjiri rumah kita? Lalu apa gunanya uang kita yang bergepok-gepok  itu..

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.  Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. (QS. Ibrahim (14):32-33).

Dengan kata lain, puncak tertinggi rezeki itu sesungguhnya adalah keimanan. Bagi orang-orang seperti ini, sebagaimana burung dalam hadist paling atas, baginya rezeki adalah ketika ia berangkat pagi dalam keadaan lapar namun pulang dalam keadaan kenyang! Subhanallah …

Abu Hurairah ra. mengatakan, Rasulullah saw bersabda, “Seorang hamba berkata, hartaku, hartaku, hartaku. Padahal hartanya yang sesungguhnya hanya tiga macam: apa yang dimakan lalu habis, apa yang yang dipakai lalu lusuh (rusak), dan apa yang disedekahkannya lalu tersimpan (untuk akhirat). Selain yang ketiga macam itu lenyap atau ditinggalkannya (warisan) bagi orang lain.” (HR. Muslim).

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…”. (QS.An-Nisa(4):9).

Namun dengan adanya ayat diatas ( juga sejumlah hadis yang senada) menandakan bahwa kita sebaiknya tidak  meninggalkan anak-anak kita dalam keadaan lemah alias kekurangan ( harta atau ilmu). Karena hal yang demikian cenderung membuat anak keturunan kita menjadi tergantung  kepada orang lain hingga  mudah diperalat dan akhirnya menjadi lupa akan Tuhannya.

Wallahu’alam bishawab.

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Pau-France, 22 Desember 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Pagi ini temperatur udara menunjuk pada angka minus 2 derajat! Bbbrrrr … rasa dingin terasa  menusuk hingga jauh ke dalam tulang sumsum tubuh. Tetapi ternyata ini masih lumayan karena  di sejumlah kota lain malah sampai minus 7!   Benar, ini memang musim dingin atau orang Perancis bilang ‘Hiver’. Namun demikian para pengamat berpendapat bahwa ini bukan fenomena biasa. Karena biasanya hanya kota–kota tertentu saja yang bertemperatur dibawah nol derajat. Entah, tanda apa pula ini …Kalau sudah begini pikir –pikir enak di tanah air, dengan catatan kalau tidak banjir, tidak macet  ( di musim hujan ) dan tidak ada kebakaran ( di musim kemarau).. Semoga saja cuaca dingin ini tidak menghalangi  aktifitas sehari-hari, amin..

‘Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya…….”.(QS.An-Nur(24):43).

Untuk itu ada beberapa hikmah yang patut dicatat. Yang pertama adalah reaksi cepat tanggap pemerintah dibantu para relawan yang jumlahnya cukup banyak. Begitu juga siaran televisi yang secara terus menerus mengingatkan pentingnya membekali diri ketika harus keluar rumah. Di musim dingin ini pemerintah menyiapkan sejumlah penampungan gratis lengkap dengan selimut dan makanan bagi ‘sans abri’, sebutan bagi mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap alias gelandangan. Jangan kaget, di Perancis ini banyak lho orang seperti ini  …  ( Saya baru saja mendengar kabar bahwa pagi tadi di depan gedung wali kota Bordeaux ditemukan sesosok tubuh lelaki berumur 35 tahunan yang membujur kaku karena mati kedinginan! Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ..)

Hebatmya lagi, dengan berkendaraan petugas yang khusus menangani hal ini ( Palang Merah Perancis) aktif menyisir jalanan untuk mencari mereka. Di pagi buta nan duingin itu para petugas dan relawan membangunkan, menyelimuti serta memberi minuman penghangat tubuh. Dan akhirnya membujuk mereka agar mau dibawa ke tempat penampungan . Ada pula petugas yang bertugas membagi-bagikan kantong plastik di depan pintu supermarket agar diisi barang belanjaan oleh konsumen ketika mereka selesai berbelanja. Barang-barang yang biasanya berupa makanan ini setelah terkumpul kemudian diberikan kepada orang kurang mampu yang membutuhkannya.

Demikian pula ketika musim panas tiba, para relawan aktif membagi-bagikan air minum botol gratis. Mereka bahkan memeriksa rumah dan apartemen untuk memastikan tidak ada penghuninya yang abai terhadap panas.  Karena tidak jarang ditemukan orang meninggal akibat ‘over heat’ alias kekeringan tanpa seorangpun tahu. Ini sering terjadi pada orang-orang tua yang hidup sendiri di apartemen yang rata-rata memang tidak berpendingi karena musim panas hanya terjadi tidak lebih dari 1 bulan.

Yang kedua. Dalam rangka mengantisipasi dinginnya  udara yang luar biasa ini, masyarakatpun mau tidak mau terpaksa mengkonsumsi listrik lebih untuk mengaktifkan alat pemanas mereka. Apa akibatnya? Ternyata sekalipun Perancis masuk dalam kelompok Negara maju, tahun ini mereka ‘keteteran’ menyediakan pasokan listrik bagi kebutuhan pokok warganya. Saat ini pemerintah khawatir akan kemungkinan putusnya aliran listrik karena beban yang terlalu berat. Sungguh sulit membayangkan bagaimana harus menghadapi cuaca sedingin ini tanpa pemanas udara.  Satu lagi bukti betapa kekuatan-Nya tak terkalahkan!

“ Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allahbaik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa » .(QS.Al-Fathir(35):44).

Yang ketiga. Sebagian besar orang Perancis adalah kafir. Ini mereka akui secara terus terang. Dan ini bukan ‘hanya’ karena  mereka menuhankan Yesus, salah satu uzul-azmi yang 5, yang Al-Quran menyebutnya Isa as.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)”.(QS. Al-Maidah(5): 73-75).

Sebagian bahkan menganggap tuhan itu tidak ada, bahwa agama hanya buatan manusia. Pendek kata mereka tidak peduli terhadap kehidupan akhirat. Yang patut dipikirkan hanya kehidupan saat ini, kehidupan dunia. Kalaupun mereka merayakan Natal, ini lebih disebabkan karena tradisi dan kebiasaan masa lalu orang-tua mereka.

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja“.(QS. Al-Jatsiyah(45):24).

Darisini dapat diambil kesimpulan bahwa sekalipun dalam hal kemanusiaan mereka patut mendapat acungan jempol, namun bila mereka kafir, Allah swt tidak menghitungnya sebagai amalan yang patut dibalas dengan kenikmatan surga.. Naudzu billah min dzalik …

Selanjutnya timbul pertanyaan, kalau begitu  mengapa Allah tidak menjatuhkan azab atau hukuman kepada orang-orang Barat yang jelas-jelas kafir terhadap ayat-ayat-Nya? Ada sebagian yang berpendapat bahwa siksa Allah akan diberikan di akhirat nanti. Tentu saja ini pasti, tidak ada sedikitpun keraguan. Namun di dunia ini benarkah Allah benar-benar membiarkan mereka begitu saja?

( Bersambung ke : Suka Duka Muslimdi Perancis  (8). )

Read Full Post »

Belum genap 4 bulan kami menetap di Pau, Perancis Selatan namun kembali kami telah dapat memetik satu lagi hikmahnya, Alhamdulillah… Terima kasih, Ya Allah..

Ini berkaitan dengan sistim pendidikan setingkat SMA, orang Perancis menyebutnya Lycee.  9 tahun yang lalu ketika kami untuk pertama kali menetap di Perancis ( Paris), kami memang tidak begitu merasakan hal ini. Mungkin selain karena si sulung ketika itu bersekolah di internasional school, kesadaran kami sebagai orang –tua juga belum begitu tinggi.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya …………”.(QS.Al-Baqarah (2):286).

Kali ini adalah si bungsu yang berusia 15 tahun. Karena di Pau tidak ada internasional school untuk tingkat SMA, akhirnya kami memutuskan menyekolahkan anak gadis kami tersebut ke sekolah Kristen dengan harapan minimum ia mendapatkan pelajaran akhlaknya. Ada beberapa point yang ingin saya ‘share’ disini, dari sudut positif maupun sudut negatifnya.

Pertama, masalah mutu pendidikan.

Di tanah air, adalah aib bila murid / anak sampai tidak naik kelas. Hampir bisa dipastikan yang harus menanggung malu tidak saja si anak namun juga orang tua, guru bahkan bisa jadi sekolahnya. Saya yakin itu sebabnya sebagian anak menjadi tidak merasa bersalah alias ‘biasa-biasa’ saja ketika ia ‘nyontek’  ketika diadakan tes atau ulangan. Karena targetnya memang jelas, jangan sampai tinggal kelas !!

Nah disini perbedaannya. Di Perancis, tidak naik kelas bukan aib. Karena targetnya adalah anak harus menguasai pelajaran yang diberikan sekolah. Jadi bila murid memang belum menguasai, mengulang atau tinggal kelas tidak masalah. Itu sebabnya ketika anak lulus SMA, ia sudah memiliki bekal cukup memadai hingga ia dapat langsung bekerja. Tentu saja bila si anak tidak ingin meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dengan demikian ia tidak merasa rendah diri.  Disamping itu, pendapatannyapun memang mencukupi. Ini karena peran pemerintah yang serius mengurus rakyatnya. Standar gaji minimum yang memadai dan  jaminan kesehatan adalah salah satu contohnya.    

Jelas ini sangat islami, amat sesuai dengan nilai dan ajaran Islam. Karena pada akhirnya  orang Perancis tidak suka membeda-bedakan antara si kaya dan si miskin, sarjana atau bukan,  bos atau sopir bahkan tukang sampah sekalipun. Mereka saling menghargai. Mereka sama-sama menyadari bahwa mereka saling membutuhkan.

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS.Az- Zukhruf(43):32).

Yang Kedua, sikap memusuhi Muslim.

Ini adalah sudut negative yang sungguh menyakitkan. Mulanya saya tidak menyadari hal ini karena sikap ini bukan sikap pribadi melainkan justru sikap pemerintah !! Tentu kita tidak lupa bahwa Perancis, bersembunyi dibalik jargonnya yang ‘laic’ yaitu tidak berpihak kepada agama apapun, adalah negara yang pertama kali secara terang-terangan melarang pemakaian  jilbab di seluruh instansi negrinya. Ini terjadi pada tahun 2004 lalu.

Secara pribadi, saya sebagai muslimah berjilbab, memang tidak begitu merasakan dampak negatifnya. Saya baru benar-benar merasakan permusuhan  ketika baru-baru ini anak saya mendapat tugas sekolah.  Tugas tersebut adalah membaca, mempelajari serta membuat resume sebuah novel yang setelah saja ikut pelajari isinya ternyata memberi kesan buruk Islam. Hebatnya lagi, novel tersebut  mendapat penghargaan khusus dari pemerintah dan menjadi salah satu bacaan wajib murid SMA!! Astaghfirullah …

Dapat dibayangkan bagaimana orang Perancis memandang Muslim bila sejak remaja telah dicekoki pandangan dan pikiran buruk dan keliru seperti itu. Ini adalah bagian dari Perang Pemikiran (Al-Gawzl Fikri) yang amat menakutkan.Apa yang dapat kita perbuat ? Ini bukan hanya tugas berat saudara-saudari kita muslim/muslimah Perancis ataupun saudara-saudari kita yang menetap di negri yang memusuhi Islam. Namun juga tugas seluruh muslim/muslimah diseluruh belahan bumi ini.

Islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta. Dengan masih banyaknya orang atau negara yang memusuhi Islam berarti ajaran Rasulullah saw saat ini belum sepenuhnya mencapai sasaran. Padahal para sahabat di masa lalu dengan susah payah telah berhasil menyebarkan Islam ke hampir separuh dunia. Seluruh jazirah Arab, Asia Tengah, Asia Kecil, Afrika Utara, Spanyol, Portugal, sebagian Perancis Selatan, sebagian Italia Selatan, sebagian Yugoslavia, sebagian Rusia Selatan ( Kazhastan, Uzbekistan ) hingga sebagian barat Cina dan Negri kita Indonesia telah menerima ajaran Islam.  Bahkan sebetulnya sebagian daratan Amerika yang dulunya milik suku Indianpun pernah dijajagi para sahabat. Saat itu Islam berada di puncak kejayaannya. Sains, seni dan filsafat berkembang dengan amat pesat. Sebaliknya barat berada dalam kegelapan. Terbalik dengan sekarang.

Saat ini dunia Islam memang sedang mengalami kemunduran. Namun ini tidak berarti kita tidak mampu berbuat banyak. Kita hidup ditengah era komunikasi yang super canggih meskipun tehnologi tersebut bukan milik kita. Ini harus kita manfaatkan sebaik mungkin ; buku, telpon, sms,  chatting, Internet ( web, blog, Facebook, Indoface, MSN dll). Janji Allah pasti benar. Atas kehendak dan izin-Nya, di akhir zaman ini Islam bakal tersebar ke seluruh permukaan bumi, dengan atau tanpa partisipasi kita.

Adalah Marseille, sebuah kota pelabuhan terbesar di Eropa setelah Roterdam di Belanda. Setelah sekian lama menanti akhirnya kota dimana hidup sekitar 20 % Muslim ini dijanjikan bakal memiliki sebuah masjid dengan kapasitas 3000 jamaah lengkap dengan menaranya yang memiliki ketinggian 25m. Masjid ini diperkirakan akan siap menyelenggarakan shalat Ied Fitri pada pertengahan tahun depan, Alhamdulillah …

Namun belakangan, dengan ditanda-tanganinya sebuah referendum di Swis, yang isinya larangan bagi umat Islam untuk mendirikan menara masjid di negara tersebut, Muslim Marseillepun mulai was-was terhadap dampaknya. Akankah pemerintah Perancis latah mengikuti jejak Swis?

Sementara itu di Swedia, para imigran yang sebagian besar adalah Muslim terpaksa harus mengurut dada karena dipersalahkan menjadi penyebab berbagai kerusuhan dan kemunduran ekonomi di negara Skandinavia tersebut. Padahal mereka telah cukup lama menetap, bekerja dan berkarya di negri ini. Bahkan banyak yang telah beranak-cucu. 

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”. (QS.Ali Imran (3): 119).

Mengapa semua ini bisa terjadi? Disamping sifat iri dan benci kaum kafir terhadap ajaran Islam sebagaimana ayat diatas, tidak ada salahnya bila kita berkaca diri.

Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi. Tanpa bermaksud menjelek-jelekan saudara sendiri, saya sering melihat sekelompok anak muda Arab yang bergerombol sambil berteriak-teriak. Bahkan tidak jarang mereka ini dalam keadaan mabuk. Suami saya  juga bercerita bahwa beberapa temannya ( Muslim Indonesia dan beberapa bule non Muslim ) bahwa mobil mereka sering dilempari botol kosong minuman keras ketika malam hari mereka melewati perumahan Arab di seputar masjid !!

Begitu pula di Marseille yang sebagian besar warganya penggemar fanatik sepakbola. Tidak jarang mereka berbuat kerusuhan ketika tim kesayangan mereka yang datang dari Aljazair ( Muslim) kalah dalam pertandingan. Persis seperti para penggemar bola di Indonesia yang doyan berbuat keributan. Sungguh memalukan …           

Bagaimana ini ? Bukankah Islam mengajarkan bahwa akhlak dan budi pekerti adalah cerminan Muslim? Bahwa Islam adalah agama yang santun ?

 “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” (HR Muslim dari Abu Hurairoh).   

“Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan ahlak yang mulia”.

“Tidaklah Aku utus engkau wahai Muhammad kecuali sebagai rakhmat seluruh alam.” “Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) memiliki akhlak yang agung.”

Tampaknya umat Islam saat ini banyak yang lupa akan ayat dan hadis di atas. Padahal Muslim itu seharusnya layaknya pohon yang dapat memberikan manfaat yang banyak bagi orang lain, bukan malah kebencian dan ketakutan. Umat Islam jumlahnya memang banyak tetapi seperti buih di lautan. Artinya tidak bermanfaat.

“ Suatu waktu kelak umat Islam akan diperebutkan oleh umat-umat lainnya sebagaimana orang-orang yang rakus sedang memperebutkan suatu hidangan. Apakah kita waktu itu sedikit jumlahnya wahai Rasulullah? (ujar seorang sahabat). Tidak, jawab beliau, Bahkan kamu waktu itu banyak sekali, tapi hanya ibarat buih di pantai saja”

Rasulullah saw telah memperingatkan hal ini, tinggal kita yang memilih ; menjadi buih yang pantas dibuang begitu saja atau menjadi inti yang penuh manfaat ? Cahaya Allah, dengan atau tanpa partisipasi kita tetap akan terus bersinar. Kitalah yang membutuhkan-Nya.

Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.(QS. As-Shaf (61): 8).

Wallahu’alam bishawab.

Semoga bermanfaat.

Pau – France, 2 Desember 2009.

Vien AM.

Catatan penting :

Masjid di seluruh Perancis tidak diizinkan untuk mengumandangkan azan. Namun berkat teknologi, atas izin-Nya, umat Islam tetap dapat mendengar panggilan shalat tersebut melalui komputer di rumah atau dikantor serta hp mereka. Subhanallah …

Read Full Post »