Feeds:
Posts
Comments

Archive for January 12th, 2012

Sabtu, 5 November 2011 / 9 Zulhijjah 1433H.

Akhirnya tibalah hari yang dinanti-nantikan itu. Itulah hari Arafah, hari yang ditunggu seluruh umat Islam sedunia baik yang sedang berhaji maupun yang tidak. Bagi yang sedang mengerjakan haji, inilah puncaknya.  Sedangkan bagi yang tidak berhaji, puasa pada hari tersebut adalah keutamaan.

“Tidak ada satu hari yang lebih banyak Allah memerdekakan hamba dari neraka pada hari itu daripada hari  Arafah. Dan sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Dia membanggakan mereka (para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah) kepada para malaikat. Dia berfirman, ‘Apa keinginan mereka (akan Ku kabulkan)?‘” (HR. Muslim).

“Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim).

Segera setelah menyelesaikan shalat subuh, kami diberangkatkan menuju padang Arafah, yang letaknya sekitar 14 km dari Mina. Kami memasuki perkemahan yang masih sepi ini dalam keadaan masih agak gelap. Udarapun masih terasa sejuk. Karena masih sepi kami bahkan dapat memilih 2 diantara kemah yang disediakan bagi kami, jamaah perempuan Meridianis, grup bimbingan haji dimana kami bergabung.

“ Jangan berdesakan. Kita akan berada di dalam tenda ini hingga magrib. Siang nanti udara bakal panas menyengat. Kita mendapat jatah 2 kemah. Silahkan pindah ke kemah sebelah”, begitu pembimbing kami mengarahkan.

Tenda di tempat ini agak berbeda dengan tenda di Mina. Tenda di Arafah tidak sebesar di Mina. Bagian dalamnya berwarna merah tua dengan motif bunga abstrak mirip batik. Begitupun karpetnya. Karpet berwarna merah tua ini jauh lebih bagus dan lebih empuk daripada karpet di Mina. Saya merasa nyaman begitu melihatnya. Semoga saya bisa berdzikir dengan khusuk, batin saya, penuh harap.

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya,nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.”

Tidak ada doa khusus pada hari Arafah ini. Yang dianjurkan hanyalah memperbanyak dzikir dan doa, sedapat dan sesuka kita saja. Karena shalat dan membaca kitab suci Al-Quran adalah bagian dari dzikir atau mengingat Sang Khalik maka ini juga baik kita lakukan. Terutama pada posisi sujud. Karena sujud adalah posisi penyerahan diri tertinggi seorang hamba kepada Sang Pemilik Yang Maha Agung.

Pada hari Arafah, Allah Azza wa Jalla datang mendekati para hamba yang hari itu datang dari segala penjuru dunia untuk memenuhi panggilan-Nya, dengan segala kerendahan hati, tanpa atribut keduniaan apapun. Pada hari itu, dengan hanya 2 carik kain ihram putih sederhana para hamba datang, sebagaimana ia akan kembali suatu hari nanti.

Hari Arafah adalah hari yang benar-benar sangat istimewa. Karena pada hari-hari dan keadaan biasa adalah mustahil Sang Khalik bisa mendekati mahluk ciptaan-Nya. Ini dapat dibuktikan pada kisah nabi Musa as yang diabadikan pada ayat  143 surat Al-Araf berikut,

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman“.(QS.Al-Araf(7):143).

Ya, bahkan gunungpun hancur luluh begitu Sang Khalik menampakkan diri padanya. Tak sanggup ia menghadapi kebesaran dan keagungan Tuhannya. Allahuakbar ! Namun tidak demikian dengan kita, para jamaah haji, tamu Sang Khalik, yang pada hari itu berkumpul di padang luas nan gersang bernama Arafah dimana di dalamnya berdiri tegak Jabal Rahmah. ( Menurut berbagai sumber Jabal Rahmah adalah tempat dimana nabi Adam as dan Siti Hawa bertemu untuk pertama kalinya sejak turun ke bumi. Wallahu’alam).

Pada hari itu, dengan iradah-Nya, Allah swt tidak hanya ‘menyulap’ diri-Nya agar tidak membuat kita jatuh pingsan atau hancur sebagaimana gunung pada kisah nabi Musa as di atas namun juga mendekat demi untuk mendengar dan mengabulkan doa para tamu istimewa tadi. Yang bila ibadah kita diridhoi-Nya, diterima-Nya, maka bakal bersihlah ia sebagaimana bersihnya bayi yang baru dilahirkan ke dunia.

Alangkah tingginya penghargaan yang diberikan-Nya bukan? Subhanallah .. Maka dapat dibayangkan, betapa ruginya orang yang dengan sengaja tidak mau menemui panggilan-Nya padahal ia tidak punya halangan. Sengaja atau tidak sengaja, Ia mengetahuinya. Karena Ia mengetahui  apa yang dibisikkan hati.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”. (QS.Qof(50):16-17).

Menjelang zuhur, tanpa terasa tanah haram yang memiliki luas hanya 10.4 km ini sudah dipadati paling tidak 3 juta jamaah dari seluruh penjuru dunia,   221 ribu diantaranya adalah jamaah yang datang dari Indonesia. Para jamaaah akan berada di tempat ini hingga magrib nanti. Dan zuhur adalah batas terakhir jamaah masuk Arafah. Jika tidak maka bakal sia-sia hajinya. Pada tenggang waktu itulah biasanya setiap kelompok dibawah bimbingan uztadz masing-masing akan bermunajat, memanjatkan doa kepada Allah swt.

Ini mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah saw pada hari Arafah, 9 Zulhijjah 10 H, dihadapan hampir 124.000 umat Islam yang berkumpul untuk melaksanakan haji Wada bersama Rasulullah saw. Berikut sebagian isi kutbah yang penuh makna tersebut,

“Wahai manusia sekalian, dengarkanlah perkataanku ini, karena aku tidak mengetahui apakah aku dapat menjumpaimu lagi setelah tahun ini di tempat wukuf ini. »

… … …

“ Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya syeitan itu telah putus asa untuk dapat disembah oleh manusia di negeri ini, akan tetapi syetan itu masih terus berusaha (untuk menganggu kamu) dengan cara yang lain. Syetan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu hendaklah kamu menjaga agama kamu dengan baik.”

… …

“Wahai manusia, takutlah Allah dalam memperlakukan kaum wanita, karena kalian mengambil mereka sebagai amanat Allah dan kehormatan mereka dihalalkan bagi kalian dengan nama Allah. Sesungguhnya kalian mempunyai hak atas para istri kalian dan mereka pun mempunyai hak atas kalian”.

… …

“ Aku tinggalkan sesuatu bagi kamu sekalian. Jika kamu berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Kitab Allah (Al Quran) dan sunnah nabi-Nya (Al-Hadits)”.

… …

( Untuk baca lengkap isi kutbah Rasulullah saw, clik:

https://vienmuhadi.wordpress.com/2011/04/29/xxviii-haji-wada-khutbah-rasulullah-dan-tanda-sempurnanya-islam/  ).

Saya sendiri memulai hari agung ini dengan mencoba mengingat masa kecil saya. Mencoba mengingat apa yang telah saya perbuat dan apa yang telah saya dapat, sejak saya remaja, muda hingga dewasa dan mencapai usia setengah abad ini. Ya Allah begitu banyak nikmat yang telah Kau berikan pada hamba ini. Nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat masa kecil, nikmat berkeluarga, nikmat harta benda, nikmat ilmu, pengalaman dan yang terbesar adalah nikmat mengenal-Mu.

Ya, ternyata nikmat terbesar yang harus dan patut disyukuri seorang hamba adalah nikmat mengenal Tuhannya. Tuhan yang menciptakan diri dan seluruh alam semesta ini. Karena hanya dengan mengenal-Nya diri ini akan menjadi tenang seberapapun besar cobaan, baik cobaan senang maupun susah, kaya atau miskin, sehat maupun sakit.

Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman(55):13).

Namun seberapa besarkah rasa syukur hamba terhadap segala nikmat yang tak terhingga ini? Seberapa jauh hamba melangkah hingga berani melanggar dan tak acuh terhadap peringatan-Mu ? Terhadap ayat-ayat-Mu ?? Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah ini.  Ampuni dan maafkanlah segala kesalahan baik  yang disengaja maupun yang tidak disengaja, maafkanlah segala kekhilafan, ketidak- tahuan dan kezaliman diri ini.

“ … … “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“.(QS.Al-Baqarah(2):286).

Menjelang ashar, pembimbing kami memulai tausiyah sekaligus memimpin jamaah memohon doa bersama. Rasanya tak cukup waktu ini untuk memanfaatkan waktu yang makin sempit ini. Menjelang magrib, usai tausiyah, saya segera keluar dari tenda. Bersama suami, kami mencari tempat yang agak tenang untuk kembali memohon ampunan-Nya.

Dengan berdiri menghadap arah Kiblat, kedua belah tangan diangkat, kami bermunajat kepada Sang Pemilik agar amal ibadah kami selama ini diterima-Nya. Dijadikan mabrur haji kami. Dijadikan-Nya anak-anak kami, anak yang sholeh dan sholehah serta keluarga kami keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Tak lupa kami memohon agar umat Islam di seluruh dunia ini bersatu dan mampu menjadi khalifah di muka bumi dengan menegakkan kalimat Tauhid, tentunya dengan menjadikan Rasulullah saw sebagai panutan.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al-Ahzab(33):21).

Setelah matahari terbenam, dengan penuh khidmat, semua jamaah meninggalkan padang Arafah. Padang ini akan kembali sepi, tanpa tenda-tenda dan tamu-tamu Allah,  hingga musim haji tahun depan. Kecuali jamaah umrah yang biasanya datang untuk mengunjungi Jabal Rahmah.

Dengan menaiki bus, jamaah menuju kembali ke Mina namun mampir dulu di Muzdalifah untuk mabit semalam atau minimal hingga melewati tengah malam. Jarak Arafah – Muzdalifah sebenarnya hanya sekitar 11 km. Namun dengan begitu banyaknya bus yang menuju titik yang sama, perjalanan bisa memakan waktu 2 jam, bahkan bisa lebih.

( Bersambung).

Jakarta, 12 Januari 2012.

Vien AM.

Read Full Post »