Feeds:
Posts
Comments

Archive for January 21st, 2012

Minggu, 6 November 2011 / 10 Zulhijjah 1433H.

Usai subuh, saya segera merebahkan diri yang benar-benar penat ini ke atas matras lipat yang sekarang rasanya bagaikan kasur Dunlopillo ternyaman di dunia. Lega rasanya hati ini telah melewati bagian yang menurut saya tersulit yaitu mabit di Muzdalifah.

Namun baru saja saya mau memejamkan mata, saya melihat seraut wajah Abdul Rahim, jamaah Maroko suami Fousia, bule asli Perancis yang tidur di sisi kiri saya, muncul di sudut pintu tenda. Ia minta dipanggilkan istrinya yang juga sedang bersiap-siap tidur.

“ Ton marie. Il est la”, bisik saya kepada Fousia, memberitahukan bahwa suaminya memanggilnya. Fousiapun keluar menemui suaminya. Tak lama kemudian ia  kembali dan mengatakan bahwa mereka akan melempar jumrah pagi ini juga dan akan langsung menuju Mekah untuk Tawaf dan Sai. Ia menambahkan bahwa suami saya kelihatannya juga ingin ikut bergabung bila saya setuju.

Benar saja, tak lama kemudian suami saya muncul dan menyatakan keinginannya. “ Tanggung. Kita gabung aja yuk, supaya cepet beres, setelah itu baru istirahat”, ajak suami saya.

Maka berangkatlah kami ber-9 menuju Jamarat. Selain kami berdua, Abdul Rahim, Fousia, mertua Fousia dan seorang jamaah lelaki, ikut bersama kami 3 orang ibu yang menempati matras di sebelah kiri Fousia. Hari pertama melempar jumrah yaitu pada 10 Zulhijjah afdolnya adalah setelah matahari terbit. Jadi tidak heran ketika kami mendapati jutaan jamaah membentuk gelombang putih dari segenap penjuru Mina muncul mendekati Jamarat. Subhanallah .. hanya itu yang bisa keluar dari mulut ini.

Jarak dari tenda kami di Mina ke Jamarat sekitar 3.5 km. Jarak yang lumayan jauh untuk berjalan kaki. Tetapi karena jalanan amat ramai jarak tersebut tidak terasa jauh. Dan lagi karena seluruh  jalanan menuju ke tempat tersebut sangat lebar maka kepadatannya tidak membuat jamaah sampai harus merasa berdesak-desakan.

Bangunan jamarat saat ini benar-benar jauh berbeda dengan jamarat 11 tahun lalu. Tampak bahwa raja Abdullah yang saat ini memerintah Arab Saudi sangat memperhatikan kepentingan tamu-tamu Allah yang datang ke negrinya baik untuk berumrah apalagi berhaji.

Jamarat dibangun atas kerja sama arsitek lokal dan luar negri yang dikenal berpengalaman dalam pembangunan gedung bertaraf internasional seperti gedung olimpiade. Jamarat yang kabar pembangunannya menelan biaya sekitar Rp 11 triliun adalah sebuah bangunan megah berlantai 5 yang terdiri atas 3 bangunan setengah lingkaran yang saling berhubungan. Ke 3 bangunan ini dihubungkan oleh jembatan pada setiap lantainya. Sejumlah escalator melengkapi bangunan tersebut. Sementara 10 tangga naik dan 12 tangga keluar disiapkan sebagai tangga darurat.

Di dalam ke 3 bangunan inilah berdiri tegak jumrah Aqabah, jumrah Wustho dan jumrah Ula, dengan jarak masing-masing sekitar 300-an meter.  Namun ke 3 jumrah tersebut sekarang bukan lagi berbentuk tugu sederhana. Bangunan berbentuk pipih (elips) dengan panjang masing-masing 30 meter dan tinggi mencapai 10 meter telah menggantikan ke 3 tugu tersebut. Hingga dengan demikian rasanya tidak mungkin lagi seorang jamaah gagal melempar batu.

Jamarat dipersiapkan untuk menampung 500 ribu jamaah/ jam. Dengan demikian dalam waktu 6 jam, 3 juta jamaah diperkirakan dapat menuntaskan ritual melempar jumrah. Ritual yang telah berumur ribuan tahun ini adalah ritual warisan nabi Ibrahim as dalam rangka mengusir godaan syaitan yang ketika itu menganggu nabi Ibrahim as agar membatalkan perintah Sang Khalik untuk menyembelih putra satu-satunya tercinta, nabi Ismail as.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “ Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”,

Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

(QS.Ash-Shaffat(37):102-107).

Pelemparan jumrah dengan batu kerikil sebanyak 7 x ( 7 batu) untuk setiap tugu, yang dilakukan jamaah haji sejak disyariatkannya kepada umat Islam 7 abad silam adalah lambang perlawanan umat  Islam terhadap perbuatan dan sifat-sifat syaitan terkutuk. Sifat buruk yang ada di dalam hati manusia inilah yang harus dienyahkan.

Ironisnya, masih banyak orang yang menyangka bahwa jamarat itulah syaitan yang harus dilempari sehingga tak heran bila ada saja orang yang penuh nafsu melempari jamarat tersebut. Bukan hanya dengan batu kerikil saja sebagaimana  yang dianjurkan tapi batu-batu besar bahkan sandalpun ikut melayang. Saya benar-benar menyaksikan dengan kepala sendiri bagaimana sebuah sandal putih melayang.

Pada hari pertama hari Tasyrik ini, hanya jumrah Aqabah, jumrah terbesar yang dilempar batu. Dengan mengucap “ Bismillahiallahuakbar” seperti yang dicontohkan Rasulullah saw saya memulai pelemparan. Saya niatkan ini untuk membuang sifat egois saya. Selanjutnya berturut-turut hingga 7 x saya lemparkan batu ke arah jamarat tersebut dengan niat membuang sifat-sifat jelek, sifat yang hanya berhak dimiliki syaitan.   Ya Allah hilangkan dari hamba ini sifat-sifat dan kebiasaan syaitan terkutuk ini. Jangan biarkan ia datang dan bercokol lagi pada hamba-Mu yang lemah ini. Hanya kepada-Mu aku berlindung.

Berikut rekaman tentang Jamarah yang diambil dari youtube : http://www.youtube.com/watch?v=Hk1mrxWSBPI&feature=related

Selesai pelemparan jumrah, disunnahkan untuk segera menjauh dari tempat terkutuk itu, menghadap kiblat untuk berdoa kemudian meninggalkan tempat. Dengan selesainya jumrah Aqabah ini maka tahalul awalpun atau tahalul kecil sudah dapat mulai dilakukan. Bagi jamaah lelaki mencukur rambut hingga tuntas alias botak adalah yang paling afdol. Sementara bagi jamaah perempuan menggunting ujung rambut beberapa helai sudahlah mencukupi.

Dengan dilakukannya tahalul kecil berarti larangan-larangan ihrampun usai sudah kecuali hubungan suami istri yang harus menunggu hingga dilaksanakannya tahalul besar. Tahalul besar baru akan terjadi setelah jamaah melaksanakan tawaf ifadah dan sa’i.

Rencananya kami akan melaksanakan semua itu hari ini juga. Itu yang menjadi kesepakatan kami ber-9. Namun untuk memudahkan tawaf dan sai’ kami akan mampir di pondokan di Aziziyah terlebih dahulu. Para bapak ingin melepas ihram sebelum tawaf dan sa’i. Kebetulan pondokan kami memang terletak antara Mina dan Mekkah.

Jarak Mina–Makkah Al-Mukaramah sebenarnya hanya 7 kilometer. Pada keadaan normal dalam waktu 10 menit mustinya sudah sampai. Itu kalau kita menggunakan bus. Namun pada musim haji seperti ini bisa 4 jam-an baru sampai tujuan! Dan berjalan kaki biasanya malah lebih cepat dari naik bus.

Perhitungan kami karena pondokan terletak di perbatasan Mina dalam 1 jam kami akan sampai di pondokan, salin kemudian langsung ke Masjidil Haram. Tapi ternyata, tidak ada satupun diantara kami ber-9 yang hafal jalan !

Jalan ke luar dari Jamarat  begitu banyak. Semua jurusan padat jamaah dengan tujuan masing-masing yang berbeda-beda. Sebagian diantara kami memang bisa berbahasa Arab karena mereka memang keturunan Maroko meski ternyata bahasa Arab Maroko dengan bahasa Arab Saudi tidak persis sama. Akibatnya walaupun sudah bertanya-tanya tetap saja kami tersasar-sasar. Patokan kami saat itu pokoknya jurusan Makkah Al Mukarammah.

Untung akhirnya kami sampai juga meski harus makan waktu 3 jam ! Alhamdulillah .. Kami tiba di pondokan sekitar pukul 10 pagi. Rupanya kami mengambil jalan berputar. Mestinya dari Mina melewati pondokan Aziziyah baru Makkah. Ini terbalik. Kami memasuki pondokan Aziziyah setelah tersesat di jalanan Makkah yang benar-benar padat oleh bus, kendaraan umum lain, sepeda motor dan kendaraan pribadi yang terjebak kemacetan parah dan ratusan jamaah yang lalu lalang, menyelinap di antara kendaraan-kendaraan tersebut.

Wuih, benar-benar pengalaman yang membutuhkan extra kesabaran. Apalagi bila mengingat ketegangan-ketegangan yang terjadi di antara kami. Ada yang terus menerus mengeluh lelah, mengomel, menyalahkan dan berbagai kekesalan lainnya. Oya, bahkan salah satu bapak menghilang ntah kemana, hingga ketika kami sampai di pondokan rombongan tinggal 8 orang. Ya Allah semoga Kau maafkan kami semuanya …

Setelah berembug akhirnya kami sepakat untuk mengurungkan niat awal kami untuk tawaf dan sai demi menuntaskan haji kami hari itu. Kami semua terlalu lelah dan ingin istirahat terlebih dahulu. Apalagi mengingat hari ini adalah hari pertama  Tasyrik yang pasti bakal super padat. Sementara sebelum waktu Magrib kami sudah harus berada di Mina kembali. Terlalu besar resikonya. Yaah apa boleh buat .. masih ada esok hari, insya Allah.

Berdua dengan Abdul Rahim, suami saya memanfaatkan waktu luang tersebut untuk mencukur habis rambut mereka sebagai bagian dari tahalul awal. Yang ternyata untuk itupun juga harus antri hingga menjelang zuhur suami saya baru masuk kamar, mandi dan istirahat sebentar. Kami sepakat akan pulang ke Mina sekitar 14.30. Sengaja agak awal demi mengantisipasi tersesat lagi seperti pagi tadi … 😦  …

Walaupun ngaret dari rencana, ba’da ashar, sekitar pukul 15.30, ber-8 kami berangkat meninggalkan pondokan. Tak sampai 15 menit kemudian kami telah berada di Mina karena ternyata pondokan benar-benar terletak di perbatasan Mina, di seberang terowongan menjelang Jamarat.

mina

mina

Kami berjalan santai sambil menikmati pemandangan Mina dari atas jembatan. Ribuan tenda putih dengan kuncupnya yang khas memadati area yang dikelilingi bukit-bukit itu. Tak ada sejengkalpun tanah kosong juga di lembah sempit diantara bukit-bukit kecuali terisi tenda. Kalau bukan tenda putih resmi milik pemerintah ya tenda-tenda kecil milik pribadi. Takjub rasanya hati ini. Saksikanlah ya Allah betapa hamba-hamba-Mu memenuhi panggilan-Mu. Allahuakbar.

Tanpa terasa kami terpisah dari rombongan. Ketika saya menengok ke belakang terlihat teman-teman tengah berbelok menuruni jembatan yang jumlahnya banyak sekali itu. Yang kalau tidak mempunyai patokan yang jelas pasti akan mudah tersesat. Mereka melambai-lambaikan tangan mengajak  kami berdua agar mengikuti mereka. Padahal saya yakin seyakin-yakinnya bahwa jalur yang kami berdua tempuh saat itu adalah jalur yang benar untuk kembali ke perkemahan.

Saya yakin hal tersebut berkat berkibarnya bendera merah putih yang dipasang berselang-seling dengan bendera  Malaysia sepanjang jembatan menuju Jamarat. Bahkan suara pembimbing kita dalam bahasa Indonesia yang berkali-kali mengingatkan agar jamaah Indonesia berhati-hati ketika melempar jumrah dan agar melindungi jamaah yang sudah sepuh tadi pagipun masih terngiang-ngiang jelas di telinga ini. Karena sebuah kompleks besar perkemahan jamaah Indonesia memang berdiri di depan jalan yang kami lalui. Perkemahan ini kalau dari Jamarat terletak sebelum terowongan yang menuju perkemahan kami. Bahagia rasanya melihat sang merah putih dan  mendengar bahasa kita terdengar di tanah suci ini. Jamaah Indonesia seperti biasa memang menempati no 1 jamaah terbanyak. Subhanallah …

Ironisnya, ntah bagaimana, koq kami semua tidak bertukar mencatat no hp. Akibatnya suami saya terpaksa menghampiri mereka dan berusaha meyakinkan bahwa jalur yang benar adalah jalur yang kami pilih. Paling tidak itulah jalur yang tadi pagi dilalui. Ntah kalau ada jalur lain yang kami tidak tahu. Sayang mereka tidak percaya dan yakin mereka yang benar … 😦   Maka demi menghindari perbantahan berkepanjangan yang memang dilarang ketika berhaji, akhirnya kami sepakat untuk berpisah dan memilih jalur yang diyakini masing-masing. Apa boleh buat …

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. … … “.(QS.Al-Baqarah(2);197).

Singkat cerita. Beberapa saat setelah Magrib, ketika saya memasuki tenda, saya disambut muka masam ke- 3 ibu tadi. Saya tidak melihat Fousia sementara  mertuanya sudah tertidur pulas di atas matrasnya. Ke 3 nya mengomeli Fousia karena ternyata mereka tadi sempat tersesat dan ia dianggap yang paling bertanggung-jawab.  Saya hanya diam saja.

Namun kemudian mereka tersadar bahwa saya kembali lebih sore lagi dari mereka. “ Kamu tersesat juga ?”, tanya salah satu ibu. “ Tidak”, jawab saya ringan. “ Kalau begitu kenapa kamu baru sampai?”, selidiknya lebih jauh. “ Kami mampir dulu untuk melihat-lihat dan membeli oleh-oleh. Kami juga berhenti sebentar untuk menikmati pop mie yang banyak dijual di depan perkemahan Indonesia”, jawab saya sambil menunjukkan tas plastik berisi  oleh-oleh yang saya beli. Terbayang pasti di sepanjang jalan tadi Fousia diomeli ke 3 ibu tersebut, pikir saya.

Tak lama kemudian Fousia masuk tanpa menoleh kepada mereka dan sedikit tersenyum kepada saya meski tanpa mengucapkan  kata sepatahpun. Saya hanya mengelus dada, berharap kejadian ini tidak merusak silaturahim apalagi sampai merusak haji kami. Na’udzubillah min dzalik …

Saya segera keluar lagi  untuk wudhu dan shalat Magrib. Sebentar lagi azan Isya akan dikumandangkan.  Sepanjang di Mina kami mendirikan shalat dengan di qashar kecuali Subuh dan Magrib, tentu saja, tanpa men-jama’nya. Begitulah yang dicontohkan Rasulullah saw.

 ( Bersambung).

Jakarta, 21 Januari 2012.

Vien AM.

Read Full Post »