Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2018

Ber-husnuzhan atau berbaik sangka kepada Allah swt adalah perbuatan yang sangat tinggi nilai ibadahnya. Baik sangka kepada Sang Pencipta, terutama ketika terjadi musibah atau hal-hal yang tidak kita sukai, tidak hanya membuat hati menjadi tenang, namun juga mendatangkan pahala yang tak terkira dari-Nya. Allah swt sangat mencintai orang yang berbaik sangka pada-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu dikeramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. Bukhari  dan Muslim).

Kasih sayang Allah swt jauh lebih besar dari kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.  Oleh karena itu tidak mungkin Allah swt men-dzalimi hamba-Nya. Dia akan mengabulkan doa dan permintaan orang yang memintanya. Masalahnya banyak orang yang berdoa dan meminta sesuatu yang dianggapnya baik dan bakal menyenangkannya. Padahal Dia mengetahui apa yang paling baik bagi hamba-Nya. Ia memperkenankan doa melalui apa yang Ia anggap patut untuk kita, dengan cara-Nya.

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Terjemah QS. Ghofir(40): 60).

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam; ‘Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan (doanya).’ (HR. Tirmizi).

Berikut kisah khalifah Umar bin Khattab ra yang suatu ketika pernah kecewa karena tawarannya kepada khalifah Abu Bakar ra maupun khalifah Ustman bin Affan untuk menikahi putrinya, Hafsah, ditolak dengan alasan yang tidak begitu jelas.

“Hafsah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman sedangkan Ustman akan menikahi wanita yang lebih baik daripada Hafsah (yaitu putri beliau Ummu Kultsum)”, begitu jawaban Rasulullah ketika Umar mengadu hal yang merisaukannya itu.

Dan ternyata laki-laki yang dimaksud Rasulullah lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman tak lain dan tak bukan adalah Rasulullah sendiri. Betapa bahagianya Umar mendengar jawaban tersebut. Dikemudian hari Umar mengungkapkan penyesalannya atas buruk sangkanya pada Allah swt.

Sementara itu beberapa waktu sebelum turunnya surat Al-Kautsar, orang-orang Quraisy mengejek dan mentertawakan nasib yang menimpa rasulullah. Pasalnya adalah putra-putri yang dimiliki rasulullah. Allah swt menganugerahi rasulullah 4 putri dan 2 putra dari rahim satu-satunya istri Rasulullah ketika itu, yaitu Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha. Dan seorang putra yang lahir dari Maria al-Qibtiyah. Malangnya ketiga putra rasulullah tersebut wafat sebelum usia mereka mencapai 2 tahun. Padahal ketika itu putra laki-laki adalah lambang kehormatan. Sedangkan anak perempuan adalah aib dan lambang kehinaan.

https://kisahmuslim.com/4279-mengenal-putra-dan-putri-rasulullah.html

Dengan turunnya surat Al-Kautsar, Allah swt menerangkan bahwa keyakinan orang-orang Quraisy tersebut tidak benar. Barang siapa bersikukuh dengan pendirian jahiliyah tersebut maka terputuslah ia dari rahmat Allah swt.

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.( Terjemah QS. Al-Kautsar(108):3).

Turunnya surat tersebut juga merupakan hiburan tersendiri bagi rasulullah. Banyak hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut. Diantaranya contoh kesabaran rasulullah dalam menghadapi wafatnya anggota keluarga, tidak hanya 3 putra tapi juga ke 4 putrinya yang tidak berumur panjang. Wafatnya putra-putra rasulullah juga bisa diambil hikmahnya agar di kemudian hari orang tidak mengkultuskan mereka. Karena sebagaimana kita ketahui Hasan dan Husein bin Ali bin Abu Thalib yang “hanya” cucu saja telah dikultuskan orang-orang Syiah.

Demikian pula dengan adanya ayat warisan 2:1 untuk anak laki-laki. Tidak sepatutnya kita berburuk sangka pada Sang Khalik. Ia Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Laki-laki bertanggung-jawab terhadap istri, anak-anak dan kedua orang-tuanya. Bahkan saudarinya bila saudarinya tersebut belum menikah. Jadi harta yang 2 bagian tersebut harus dibagikan kepada mereka.

Sementara perempuan hanya bertanggung-jawab pada dirinya sendiri. Jadi bagian yang hanya 1 itu tidak perlu dibagi kepada siapapun, bahkan bisa dan boleh ia habiskan sendiri.

Namun demikian tidak sedikit ketentuan Allah yang tidak dapat kita ikuti melalui akal dan pikiran kita. Oleh sebab itu agar kita tidak sakit hati dan putus asa ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita, lebih baik kita pasrahkan segalanya pada-Nya. Tidak perlu kita menerka-nerka apa yang tidak kita miliki ilmunya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. … … “.(Terjemah QS.Al-Baqarah (2):286).

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Terjemah QS.Al-Baqarah(2:216).

Itulah yang terjadi terhadap Shalahuddin al Ayyubi, pahlawan besar sang penakluk Yerusalem pada tahun 1187M. Shalahudin seperti layaknya anak muda pada masanya sangat mencintai dunia sepak bola. Sedikitpun tidak pernah terlintas dalam pikirannya suatu ketika ia harus berperang apalagi menjadi pemimpin perang dalam suatu perang besar yang menjadi titik balik kebesaran Islam. Meskipun Shalahuddin tidak membencinya, karena sebenarnya ayah dan bahkan pamannya waktu itu adalah seorang panglima perang.

http://manfaatputih.blogspot.co.id/2013/08/sejarah-singkat-salahuddin-al-ayyubi.html

Namun demikian ber-husnuzhan itu tidak lantas kita bisa bertindak semau kita. Husnuzhan harus diiringi dengan perbuatan yang sesuai dengan syariat, sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya dan mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah saw.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Telah jelas perbedaan antara husnuzhan dan ghurur (terpedaya diri sendiri). Berprasangka baik mendorong lahirnya amal, menganjurkan, membantu dan menuntun untuk melakukannya. Inilah sikap yang benar. Tapi kalau mengajak kepada pengangguran dan bergelimang dalam kemaksiatan, maka itu adalah ghurur (terpedaya diri sendiri). Berprasangka baik itu adalah pengharapan (raja), barangsiapa pengharapannya membawa kepada ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, maka itu adalah pengharapan yang benar. Dan barangsiapa yang keengganannya beramal dianggap sebagai sikap berharap, dan sikap berharapnya berarti enggan beramal atau meremehkan, maka itu termasuk terpedaya.‘ (Al-Jawab Al-Kafi, hal. 24)

Syekh ShAleh Al-Fauzan hafizahullah berkata: “Prasangka yang baik kepada Allah harus disertai meninggalkan kemaksiatan. Kalau tidak, maka itu termasuk sikap merasa aman dari azab Allah. Jadi, prasangka baik kepada Allah harus disertai dengan melakukan sebab datangnya kebaikan dan sebab meninggalkan kejelekan, itulah pengharapan yang terpuji. Sedangkan prasangka baik kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dan melakukan yang diharamkan, maka itu adalah pengharapan yang tercela. Ini termasuk sifat merasa aman dari makar Allah.”

Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata, Aku mendengar Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tiga hari sebelum wafat bersabda: “Janganlah salah satu di antara kalian meninggal dunia kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim, 2877)

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 29 Januari 2018.

Vien AM.

Advertisements

Read Full Post »

Kisah ini adalah kisah nyata seorang mualaf keturunan Tionghoa yang diuji keimanannya oleh Allah Azza wa Jalla dengan ujian yang maha berat. Kisah ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 2006 oleh Retno ( nama samaran), seorang mahasiswi arsitektur sebuah universitas, atas izin yang bersangkutan. Sengaja saya menuliskannya kembali dalam versi lebih ringkas agar tidak terlalu bertele-tele. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya, terutama bagi yang lahir sebagai Muslim tapi sering kali kurang mensyukuri nikmat ke-Islam-an tersebut. Na’uzubillah bin dzalik …

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):214).

                                                            **********

masjid-jami-pontianakSuatu hari Retno mendapat tugas dari kampus untuk mendampingi seorang mahasiswi arsitektur sebuah universitas di Australia yang ingin membuat penelitian terhadap masjid tertua di sebuah kota di Kalimantan Barat. Masjid kuno ber-arsitektur Melayu tersebut memang sering kedatangan tamu mancanegara.

Setiba di masjid, mereka disambut seorang pak tua yang telat bertahun-tahun bertugas sebagai penjaga masjid. Ialah yang biasanya menerangkan sejarah masjid kepada tamu-tamu yang datang. Tugas Retno adalah menterjemahkan apa yang dikatakan pak tua kepada tamunya.

Tapi ntah mengapa tamunya itu tampak kurang puas dengan hasil terjemahan Retno. Retno sempat panik melihat reaksi tamunya. Dalam keadaan seperti itulah ia melihat seorang ibu muda berpenampilan amat sangat sederhana yang sejak awal hanya duduk dan memperhatikan mereka, tiba-tiba datang mendekat. Tanpa disangka, ibu muda dengan jilbab menutupi sebagian wajah dan matanya yang sipit itu menawarkan diri untuk membantunya.

Dan tak lama kemudian ibu tersebut sudah asik menerangkan sejarah masjid dalam Bahasa Inggris yang sangat fasih. Retno tentu saja lega mendengarnya. Tapi ia tetap penasaran siapa sebenarnya perempuan tersebut. Apalagi ketika ia mendengar pengakuan bahwa ibu muda tersebut pernah kuliah di negri tamunya itu, yaitu Australia.

Alhasil, usai kunjungan Retno mengatakan akan kembali menemui sang ibu muda, yang memperkenalkan diri dengan nama Mawar tersebut. Beberapa hari kemudian Retno datang memenuhi janjinya.

                                                                     **********

Mawar adalah seorang gadis yang keturunan Tionghoa yang hidup dalam kemewahan. Ia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Kedua orang-tuanya adalah pengusaha super sukses yang saking kaya rayanya sering khawatir bila mereka meninggal tak ada yang dapat menjaga kekayaan dan meneruskan usaha mereka. Itu sebabnya ketika mereka bepergian bersama dengan menggunakan pesawat terbang, mereka memilih untuk terbang secara terpisah. Dengan tujuan bila terjadi musibah tidak semua mengalaminya.

Mawar melewati pendidikan dasar hingga SMA di kota kelahirannya dengan penuh kebahagiaan. Ia bersekolah di sekolah swasta bergengsi yang murid-muridnya kebanyakan anak pejabat dan pengusaha kaya. Namun demikian Mawar bergaul dengan siapa saja tanpa melihat latar belakang mereka.

Hal paling berkesan pada masa sekolah menurut Mawar adalah pelajaran agama Islam meski ia seorang non Muslim. Kebetulan sekolahnya memberikan murid kebebasan untuk mengikuti pelajaran agama yang bukan agamanya sendiri. Ia sangat menikmati pelajaran tersebut. Ia bahkan selalu mencatat apa yang didengarnya dengan rapi. Pernah suatu hari ia ketakutan karena ibu guru agamanya tiba-tiba datang mendekatinya.  Ketika itu ia sedang mencatat tata cara pelaksaan haji. Namun ternyata ibu gurunya tersebut hanya tersenyum sambil berkata :” Semoga suatu hari nanti kamu bisa berhaji bersama ibumu”. Maka sejak hubungan keduanya menjadi sangat akrab, layaknya ibu dan anak.

Ketertarikan Mawar terhadap Islam tidak hanya sebatas di sekolah. Di rumah, ketika ia sendirian, karena kedua kakak lelakinya sekolah di luar negri, sementara kedua orang tuanya lebih sering di Jakarta mengurus usaha mereka yang makin hari makin maju saja, Mawar sering mendengarkan lantunan bacaan Al-Quran yang disiarkan di televisi. Ia juga sering merasa sendu ketika mendengar suara adzan dikumandangkan.

Bahkan memasuki usia remaja ketika teman-teman sebayanya sibuk berpacaran, ia selalu membayangkan kekasihnya adalah seorang asli pribumi Muslim yang taat beragama. Bayangan lelaki dengan wajah yang basah karena air wudhu selalu membuatnya terkesan.

Lulus SMA, Mawar melanjutkan sekolah ke Australia, kemudian ke Amerika Serikat menyusul kakak-kakaknya. Setelah 5 tahun berlalu Mawar kembali ke kota kelahiran dengan membawa predikat master dalam bidang ekonomi dan keuangan. Iapun lalu bekerja di perusahaan milik orang-tuanya, dengan gaji standard yang tidak seberapa. Namun di luar itu, secara rutin ia masih menerima jatah bulanan dari orang-tuanya yang besarya 20 x lipat gajinya.

Sebagai gadis dewasa pertengahan 20 tahun-an, dengan penampilan menarik, tinggi, kulit putih lazimnya gadis Tionghoa, ditambah kekayaan yang tak terkira, tak heran bila banyak lelaki mengincarnya. Namun impian masa remajanya yaitu pemuda pribumi Muslim yang taat, tidak dapat terhapus begitu saja. Itu sebabnya Mawar bertahan untuk tetap melajang.

Hingga suatu hari, datang seorang pemuda sesuai impiannya, di perusahaan tempat ia bekerja. Pemuda tersebut berasal dari Jawa, Fariz namanya. Mawar tidak bisa menipu hatinya bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Apalagi ketika suatu hari, ketika keduanya harus berada dalam satu mobil karena urusan pekerjaan, ia melihat Fariz minta izin mampir sebentar di masjid untuk shalat.  Beberapa kali ia berusaha menarik perhatian pemuda yang terlihat cuwek tersebut.

Singkat cerita keduanya menjadi dekat. Setahun berlalu namun tak pernah sekalipun Fariz menyatakan cintanya terhadap Mawar. Mawar dapat memakluminya, karena mereka memang berlainan status, etnis dan agama.

Hingga suatu hari Fariz mengajaknya bertemu di suatu tempat. Disanalah ia menyatakan cintanya. Mawar tentu saja langsung menyambutnya. Ia bahkan berjanji akan memeluk Islam, karena sejak lama ia sudah tertarik dengan ajaran tersebut. Fariz menangis haru mendengar hal tersebut, dan berjanji akan mengajarinya tentang Islam. Mawar makin yakin bahwa pemuda tersebut adalah calon suaminya, soul matenya.

Secara diam-diam akhirnya merekapun berpacaran. Di kantor mereka berusaha menutupi hubungan tersebut. Sedikit demi sedikit Fariz mengajari Mawar shalat dan menghafal bacaan-bacaan pendek.  Satu hal yang sangat dikagumi Mawar, dengan sopan, Fariz selalu menolak ajakan Mawar untuk bermesraan. “Sabarlah, semua ada waktunya”, begitu Fariz selalu berujar.

Hingga pada suatu hari tiba-tiba ayahnya mendatangi meja kerja Mawar. Padahal selama ini bila ada keperluan Mawarlah yang dipanggil datang ke ruang kerja ayahnya, yang merangkap sebagai boss sekaligus  owner perusahaan.

Awalnya ayahnya hanya berbasa-basi menanyakan pekerjaan Mawar. Namun lama kelamaan ayahnya berusaha mengorek hubungan rahasianya dengan sang pujaan hati yang rupanya sudah mulai terendus di lingkungan kantornya. Mawar tak kuasa menjawab pertanyaan ayahnya. Ia tidak sanggup untuk berbohong, sebaliknya bila ia mengakuinya, ia khawatir Fariz akan kehilangan pekerjaan. Akhirnya ia hanya menangis. Maka tanpa berkata sepatah katapun ayahnya meninggalkannya.

Keesokan harinya Mawar mendapati meja kerja Fariz kosong. Teman-temannya mengatakan bahwa Fariz dipindahkan ke Jawa. Mawar sangat terpukul tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Seminggu kemudian Fariz menelponnya, mengatakan bahwa ia telah dipindahkan. Dengan sedih, pemuda tersebut menceritakan bahwa nyaris semua orang di kantor menggunjingkannya memacari Mawar karena mengincar kekayaan sang ayah yang tak lain boss mereka.  Fariz bersumpah bahwa hal tersebut tidak benar, ia benar-benar mencintai Mawar. Itu sebabnya Fariz memutuskan keluar dari perusahaan, dan berjanji akan mencari pekerjaaan di kota kelahiran Mawar agar tetap dapat berhubungan dengannya.

Fariz tidak memungkiri janjinya. Atas kehendak Allah swt, tiga bulan kemudian ia mendapat pekerjaan di kota tersebut. Maka jalinan asmara keduanya kembali berlanjut, kali ini secara terang-terangan. Karena sekarang Fariz merasa tidak perlu khawatir kehilangan pekerjaan. Namun rupanya kedua orang-tua Mawar tidak dapat menerima hal tersebut. Mereka merasa curiga bahwa anak gadis mereka tidak hanya sekedar jatuh cinta kepada Fariz, namun juga kepada Islam ! Hal yang sama sekali tidak dapat mereka terima.

Dengan berbagai cara mereka membujuk putrinya itu agar mau meninggalkan Fariz. Hingga akhirnya mereka benar-benar murka dan kehabisan kesabaran ketika Mawar menjawab dengan tegar bahwa ia sudah cukup dewasa dan bisa memilih mana yang terbaik baginya. Mawarpun mulai dikucilkan, ia tidak diajak bicara bahkan tidak diajak makan bersama keluarga. Ia baru dipanggil pembantu untuk makan setelah semua anggota keluarga selesai makan dan meninggalkan tempat, dengan lauk pauk sisa seadanya tanpa pembantu boleh menambahnya. Sakit hati Mawar menjalaninya namun ia tetap teguh pada pendiriannya. Ia malah makin semangat mempelajari Islam.

Berkali-kali kedua-orang tua Mawar mengingatkan bahwa kalau tidak karena jerih payah mereka Mawar tidak mungkin bisa hidup enak seperti sekarang ini, dimana semua fasilitas kenikmatan bisa ia dapatkan. Hampir setiap hari Mawar bersitegang dengan kedua orang-tuanya. Dan semua itu tidak lepas dari pengamatan Fariz. Akhirnya Fariz menganjurkan Mawar agar berbicara baik-baik dan menerangkan keinginannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka menuduh putrinya itu telah terkena guna-guna.

Mereka bahkan akhirnya menantang Mawar untuk meninggalkan semua fasilitas yang mereka berikan kalau ia tetap berkeras pada pendiriannya. Mawar menyadari bahwa cepat atau lambat ia memang harus memilih salah satu darinya. Akhirnya iapun menyerahkan semua pemberian orang-tuanya termasuk semua tabungan dan perhiasannya. Sayang ia lupa menyelamatkan ijazah kuliah, sementara kedua orang-tua yang dikasihinya itu justru sengaja menahan ijazah tersebut. Tapi tekad Mawar sudah bulat, ia tidak mau kembali.

Selanjutnya Mawar tinggal di kosan dekat kantornya. Namun tak lama kemudian setelah gajinya tak diberikan perusahaan, pertahanan Mawarpun jebol. Ia mengadu kepada Fariz yang selama ini selalu memintanya untuk sabar dan taat kepada orang-tua. Gadis itu memohon kepada Fariz selaku satu-satunya pelindungnya, agar mau membimbingnya memeluk Islam dan segera menikahinya.

Mawarpun bersyahadat di masjid di kotanya, dan karena kebetulan Fariz akan dipindahkan ke kota kelahirannya di Jawa, merekapun pindah ke Jawa dan menikah di hadapan keluarga besar Fariz.

Empat tahun berlalu. Pasangan muda tersebut telah dikarunia seorang anak lelaki berusia tiga tahun. Selama itu Mawar hidup bahagia sebagai ibu rumah tangga yang senantiasa berusaha berbakti dan menyenangkan suami. Fariz sempat beberapa kali menyuruh Mawar menghubungi kedua orang-tuanya untuk bersilaturahmi. Namun mereka tidak menanggapinya. Hingga suatu hari Allah swt berkehendak lain. Fariz terkena Demam Berdarah dan meninggal dunia.

Mawar sangat terpukul dan berusaha terus bertahan. Namun akhirnya ia tidak tahan melihat semua hal yang mengingatkannya pada sang suami tercinta. Rumah dan motor yang dibeli Fariz beberapa saat sebelum meninggal dijualnya. Selama beberapa bulan ia mengungsi ke rumah mertuanya.  Namun akhirnya Mawar memutuskan bahwa ia harus mandiri. Bersama anaknya ia terbang kembali ke kota kelahirannya.

Di kota tersebut Mawar berusaha memulai babak baru kehidupannya. Ia mengontrak rumah dan membuka warung kecil-kecilan di bagian depan rumahnya. Namun itupun tak lama karena kemudian usahanya bangkrut. Akhirnya ia benar-benar tidak punya uang sepeserpun. Sempat terpikir untuk kembali ke  rumah orang-tuanya namun cepat dibatalkannya karena tidak ingin jadi bahan ejekan.

“Kadangkala aku sering bertanya pada Allah, apakah karena aku mualaf sehingga Allah kurang percaya dengan keimananku, sehingga perlu mengujinya dengan ujian yang amat berat?”, bisik Mawar,  lirih.

Dalam keadaan setengah putus-asa tiba-tiba Mawar teringat masjid tempat ia dulu berikrar. Disana dulu aku memulai jalan hidupku, seandainya harus berakhir, aku ingin pula mengakhirinya di tempat mulai tersebut, begitu pikir Mawar. Segera iapun menuju masjid tersebut lalu shalat dan memohon pertolongan kepada Allah swt. Ia menangis sesenggukan memikirkan nasib anaknya yang terlunta-lunta. Rupanya tangisan tersebut didengar sang imam masjid yang dulu membimbingnya berikrar. Setelah bercerita panjang lebarnya pak imam menawarkan sebuah bekas gudang berukuran 2×2 m yang ada di samping masjid untuk ia tempati.

Mawar sangat berterima-kasih atas kebaikan imam tersebut. Sebagai imbalannya dengan ikhlas setiap hari Mawar membantu pak tua yang menjaga masjid tersebut dengan membersihkan halaman dan kaca-kaca jendela masjid. Mawar bersyukur hidupmya sekarang tenang. Ketika hatinya gundah dengan mudah ia bisa masuk masjid, shalat lalu mengadukan nasibnya kepada Sang Khalik.

Ia juga sering diminta istri pak imam membantu pekerjaan rumah tangga dengan sedikit imbalan. Anaknya bahkan tanpa terasa sudah sekolah di yayasan masjid tersebut tanpa sedikitpun ditarik iuran. Hal tersebut berlangsung selama kurang lebih 2 tahun.

Hingga suatu hari datang dua orang yang sangat dikenalnya. Mereka adalah pengacara keluarga sekaligus perusahaan orang-tuanya. Rupanya selama ini ayah dan ibunya tahu bahwa Mawar tinggal di masjid tersebut.

Mereka datang dengan membawa sebuah amplop besar berisi surat-surat berharga termasuk buku bank, ijazah kuliah, dan semua miliknya yang dulu ia kembalikan kepada orang-tuanya. Mawar sempat terkejut dan merasa bahagia karena akhirnya mereka mau menerimanya kembali.

“ Tapi dengan satu syarat”, kata tante Grace, lirih.

“ Kedua orang-tuamu menghendaki kau kembali ke keyakinan keluargamu”, sambung om Albert dengan suara bergetar, melihat tante Grace tidak sanggup meneruskan kata-katanya sendiri. Air mata nyaris keluar dari ujung kelopak matanya.

Mawar terhenyak. Ternyata perkiraannya salah. Mereka masih seperti dulu. Dengan sopan Mawar menjawab bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil. Tante Grace dan om Albert segera meminta maaf atas ketidak-nyamanan tersebut. Mawar mengerti mereka hanya menjalankan tugas. Keduanyapun lalu pamit.

Namun tak lama setelah itu mereka kembali lagi. Mawar mengira mereka masih ingin berusaha membujuknya.

“ Maafkan kami Mawar. Hanya ini yang dapat kami lakukan. Semoga bisa cukup membantumu”,    ujar tante Grace sambil menyerahkan foto copy ijazah masternya.

Alangkah leganya Mawar mendengar itu. “ Alhamdulillah”, bisiknya.

Mawar merasa sedang dimanjakan oleh Tuhannya yang selama ini telah mengujinya dengan ujian yang maha berat. Ia dapat merasakan betapa “tangan” tersebut sedang menuntunnya menuju jalan yang terang. Allahu Akbar ….

Mawar segera mengucapkan trima-kasih yang tak terhingga kepada keduanya. Ia tahu bahwa mereka sedang mempertaruhkan pekerjaan mereka. Pasti orang-tuanya bakal marah besar kalau sampai tahu apa yang telah mereka lakukan.

                                                        *********

 “Bu Mawar, kebetulan rektorat tempat saya kuliah sedang membutuhkan beberapa tenaga honorer. Cobalah membuat surat lamaran dengan melampirkan ijazah ibu. Saya akan sampaikan sendiri ke bagian administrasi. Saya yakin dengan latar pendidikan ibu pasti ibu akan ditrima bekerja di sana”, ujar Retno, beberapa hari setelah ia berhasil mengorek Mawar agar membuka rahasia dan menceritakan kisah perjalanannya. Gadis itu tersentuh untuk segera menolong Mawar keluar dari kesulitan hidupnya.

Mawar benar-benar bersyukur atas jalan terang yang diberikan padanya. Ia yakin bahwa itu adalah pertolongan Allah swt atas kesabarannya selama ini.

Dan benar saja, setelah melalui beberapa prosedur Mawarpun ditrima bekerja. Bahkan tidak sampai satu tahun Mawar telah diangkat sebagai pegawai tetap. Ia juga sering diminta untuk membantu menterjemahkan  litelatur2 asing untuk dipergunakan para mahasiswa.

Tak lama setelah bekerja Mawar pamitan kepada pak imam yang telah berbaik hati mau menampungnya di masjid. Sebelum meninggalkan masjid ia sempatkan shalat di dalamnya, lalu memandangi kamar yang selama 2 tahun ditinggalinya itu. Selanjutnya Mawar membawa putranya pindah ke rumah kontrakan. Di waktu luang ia ajak putranya berkeliling kota dengan motor yang dibelinya. Tak jarang ia melewati depan rumah orang-tuanya dengan harapan suatu hari nanti mereka mau membuka hati untuknya, atau minimal mau menerima putranya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…. “. (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):286).

Saat ini bu Mawar mungkin telah berusia 46 atau 47 tahun. Semoga Allah swt senantiasa melindunginya dan semoga bu Mawar mampu istiqamah menjalani kehidupannya hingga akhir hayatnya nanti, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Sebuah pelajaran yang amat sangat berharga, betapa kekayaan dan kesuksesan bukanlah apa-apa dibanding dengan nilai sebuah keimanan. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, aamiin …

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Januari 2018.

Vien AM.

Disarikan dari : https://menyentuhhati.com/2016/02/12/kisah-nyata-paling-sedih-dari-wanita-mualaf-keturunan-china/comment-page-1/

Read Full Post »