Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2022

Siapa yang tak kenal legenda Malin Kundang. Cerita rakyat dari tanah Minangkabau ini diceritakan secara turun temurun  hingga kadang orang mengira peristiwa tersebut nyata terjadi.

Padahal cerita tersebut kabarnya dibuat oleh masyarakat Minang yang sejak dulu dikenal senang merantau agar agar perantau tidak lupa dengan tanah kelahiran mereka sebagaimana seorang anak yang lupa kepada ibunya hingga menjadikannya anak durhaka.

Legenda Malin Kundang menggambarkan seorang anak bernama Malin Kundang yang hidup berdua dengan ibunya di perkampungan nelayan yang miskin. Mereka berdua saling menyayangi. Hingga suatu hari ketika Malin telah cukup dewasa ingin berlayar  mencari pengalaman. 

Awalnya sang ibu tidak mengizinkannya. Namun karena kuatnya tekad Malin akhirnya dengan berat hati ibunyapun mengizinkannya. Di kemudian hari ternyata Malin melupakan ibunya yang makin hari makin renta. Padahal hampir setiap hari ibunya selalu menunggu kepulangan anak semata mayangnya tersebut.

Hingga suatu hari setelah bertahun-tahun lewat, ibunya mendapat kabar bahwa putranya telah menjadi orang yang sukses, kaya raya dan telah mempersunting seorang perempuan kaya raya nan cantik jelita. Pasangan tersebut sedang berlabuh menuju kota dimana sang ibu tinggal. 

Dengan suka cita iapun segera menyambutnya. Namun apa lacur ternyata Malin tidak mau mengakui ibunya. Ia malu terhadap istrinya melihat penampilan ibunya yang sangat jelas memperlihatkan kemiskinannya. Ia bahkan tega menghardik dan menuduh ibu kandung sendiri sebagai perempuan gila.

Sungguh sakit hati ibu Malin Kundang. Hingga akhirat ia berdoa bila laki-laki muda tersebut benar-benar putranya Allah swt bersedia mengganjarnya. Maka tak lama setelah itu kapal yang ditumpangi pasangan muda tersebut dihempas ombak besar. Keesokan harinya orang melihat sebuah batu mirip orang sedang berjongkok memohon ampun. Itulah akhir kisah Malin Kundang, anak yang durhaka.

Untuk diingat masyarakat Minangkabau adalah masyarakat Islam yang taat pada agamanya. Kisah yang mereka buat bukan sekedar mengingatkan perantau supaya tidak lupa dengan tanah kelahiran mereka. Namun lebih dalam lagi yaitu mengingatkan bahwa durhaka terhadap orang-tua adalah dosa besar. Betapa banyak ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan agar berbuat baik kepada ke dua orang-tua.

Yang bahkan mengucapkan perkataan “Ah” sebagai kata penolakan saja dilarang-Nya. Apalagi mengucapkan kata yang dapat menyakitkan hati keduanya. Ibu yang telah melahirkan dan menyusui, bersama ayah yang tak kalah sayangnya menghabiskan seluruh waktu dan tenaga untuk bekerja menafkahi keluarga.  

“Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Terjemah QS. Al-Isra (17):23).

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Terjemah QS. Lukman (31):14).

Begitu pula hadist. Diantaranya hadist berikut. Imam Bukhari dan Imam Muslim serta sejumlah perawi hadits lainnya mengabarkan hadits dari Abu Bakar RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

Maukah aku ceritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar, yaitu tiga perkara? Kami menjawab, Ya, Rasulullah. Rasulullah berkata: Menyekutukan Allah, dan mendurhakai dua orang tua. Rasulullah sedang bersandar lalu duduk, maka berkata Rasulullah: Tidak mengatakan kebohongan dan kesaksian palsu”.

Durhaka terhadap kedua orangtua hanya 1 tingkat dibawah dosa syirik dan kekafiran. Karena pada dasarnya sama yaitu sombong dan tidak tahu ber-terimakasih. Orang yang tidak bisa ber-terimakasih terutama kepada kedua orangtuanya dapat dipastikan tidak akan bisa mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Azza wa Jala.

Padahal kasih sayang Allah swt jauh lebih besar dibanding kasih sayang orangtua. Kalau bukan karena kasih sayangNya mana  mungkin orang bisa hidup di dunia ini. Siapa yang menyediakan udara segar, air bersih dan sinar matahari yang sangat diperlukan manusia, gratis tanpa harus membayar sepeserpun ? Pernahkah kita memikirkan ayat 71 dan 72 surat Al-Qashash berikut ?

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Belum lagi aneka binatang yang dagingnya dapat dimakan dan mengenyangkan perut, beragam macam buah-buahan dan sayur-sayuran yang mampu memanjakan lidah kita.         

Yang juga perlu diingat, jangan pernah merasa mampu membalas jasa kebaikan kedua orang-tua karena hingga mati sekalipun  tidak mungkin kita mampu membalasnya. Apalagi tehadap segala nikmat yang telah diberikan Allah swt. Segala perbuatan baik termasuk shalat sehari semalam dan puasa seumur hidup, zakat infak sedekah sebesar apapun tidak mungkin kita bisa menebusnya.

Surga adalah milik-Nya yang dapat kita masuki hanya karena rahmat-Nya bukan sekedar amal ibadah kita. Sebanyak apapun kebaikan tapi kufur terhadapNya, tidak mengakuiNya sebagai satu-satuya Zat yang disembah maka hanguslah segalanya. Kesyirikan dan kekafiran adalah dosa terbesar dalam kacamata Islam yang tidak akan diampuniNya.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):48).

Namun sebagian ulama mengatakan dosa syirik masih mungkin diampuni bila sempat bertaubat sebelum kematian menjemput. Taubat yang dimaksud adalah taubat nasuha sebagaimana ayat 8 surat At-Tahrim berikut:

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Sementara untuk menebus dosa dan kesalahan terhadap kedua orangtua yang telah meninggal adalah dengan menziarahi makam keduanya serta mendoakannya.

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya sekali setiap Jumat, maka niscaya Allah SWT menghapus dosanya. Dan ia pun dinilai sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya.” (HR. Al-Hakim).

Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh seseorang yang durhaka ketika kedua orang tuanya wafat, lalu ia mendoakan keduanya selepas keduanya berpulang, maka niscaya Allah SWT akan mencatatnya sebagai anak yang berbakti.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Juni 2022.

Vien AM.

Read Full Post »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

Wanita itu dinikahi karena empat hal yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya.Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung”.

Hadist diatas menunjukkan kecenderungan manusia dalam memilih pasangan hidup, yaitu karena kekayaan/harta, keturunan, kecantikan dan terakhir agamanya. Islam tidak menafikkan   kecenderungan tersebut. Akan tetapi memperingatkan tidak mendahulukan bahkan menomor belakangkan pilihan berdasarkan agama sudah pasti akan merugikan diri sendiri.

Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka dan janganlah pula menikahi wanita karena harta-harta mereka, karena bisa jadi hartanya menjadikan mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya, seorang wanita budak berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama dari mereka.” (HR Ibnu Majah). 

Agama yang dimaksud pada hadist di atas sudah barang tentu adalah Islam karena menikah dengan penganut selain Islam haram hukumnya sebagaimana ayat 221 surat Al-Baqarah berikut :

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.

Pernikahan adalah menyatukan seorang lelaki dan seorang perempuan dalam ikatan pernikahan, yang tidak jarang berbeda latar latar belakang, kebiasaan, budaya dan pendidikan, yang hampir dapat dipastikan memerlukan usaha untuk menyerasikannya agar di kemudian hari tidak timbul permasalahan. Bahkan sering kali bukan cuma yang bersangkutan tapi juga keluarga besar yang bersangkutan. Jadi tidak perlu lagi menambah permasalahan beda keyakinan dan agama.

Pernikahan dalam Islam adalah hal yang sangat sakral. Ia tidak sekedar menyatukan sepasang lelaki dan perempuan dalam sebuah ikatan. Lebih lagi menyatukannya dibawah kesaksian Tuhannya, yaitu Allah Aza wa Jala.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hati-hati terhadap perempuan. Kamu mengambilnya dengan amanat Allah dan menghalalkan untuk menggaulinya dengan kalimat Allah.

Dengan demkian jelas tujuan pernikahan adalah dunia dan akhirat. Tak salah bila doa yang ditujukan bagi sepasang pengantin Muslim adalah “Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah”. Inilah sebaik-baik doa. Doa ini berdasarkan ayat berikut,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram ( sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah)  dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”  (Terjemah QS. Ar-Rum(30):21).

Kata sakinah dari akar kata sakakan – yaskunu, memiliki arti kedamaian, ketenangan, ketentraman, dan keamanan. Bisa juga diartikan dengan kata senang berdasarkan ayat berikut,

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang (sakina) kepadanya.” (Terjemah QS. Al-A’raf(7):189).

Sedangkan mawaddah yang berasal dari kata wadda -yawaddu, diartikan sebagai rasa sayang atau cinta yang membara/ menggebu. Adanya hasrat dan nafsu yang merupakan kodrat manusia ini ketika dibingkai indah dalam sebuah ikatan pernikahan akan melahirkan energi positif. Energi dasyat yang sangat penting dalam perjalanan panjang pernikahan.

Suami maupun istri sebaiknya dapat saling menyenangkan dan memuaskan pasangannya hingga tercipta rasa saling memiliki dan menyayangi. Ikatan yang demikian inilah yang dapat menambah kuatnya ikatan dan keharmonisan rumah tangga. Baik antar suami dan istri maupun dengan anak-anak yang merupakan titipan dari-Nya.

Patut diingat salah satu perintah Islam untuk menikah adalah demi perkembang-biakkan manusia di muka bumi ini. Ucapan ijab kabul  “Saya nikahkan dan saya kawinkan” yang lazim diucapkan wali calon pengantin perempuan dan dijawab “Saya terima nikah dan kawinnya” oleh calon pengantin lelaki dalam suatu upacara pernikahan (akad nikah) menegaskan hal tersebut.  

Itu pula sebabnya Allah swt melaknat hubungan sesama jenis yang sangat berbahaya bagi  perkembang-biakan manusia.

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”. ( Terjemah QS. A-Araf(7):81).  

Sementara kata rahmah dari akar kata rahima – yarhamu, diartikan sebagai kasih, ampunan, rahmat, rezeki, dan karunia dari Allah SWT. Sebuah keluarga yang penuh rahmah akan saling memahami dan saling perhatian. Rahmah tidak akan terwujud jika pasangan saling menyakiti satu sama lain.

Dengan demikian doa sakinah, mawaddah wa rahmah dapat diartikan “Semoga menjadi keluarga yang tenang, tentram, damai, penuh cinta dan kasih sayang dibawah lindungan Allah SWT”. Atau singkatnya ” Semoga menjadi keluarga bahagia di dunia maupun di akhirat”.

Namun doa juga harus dibarengi usaha. Antara lain suami sebagai kepala keluarga, agar bekerja maksimal mencari nafkah yang baik dan halal. Sekaligus sebagai imam, nakhoda dalam shalat maupun kehidupan sehari-hari, agar dapat membimbing dan mencontohkan kesholehan kepada istri dan anak-anaknya. Demikian juga istri dan anak yang mempunyai kewajiban dan hak masing-masing.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang sholehah, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). … … ”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):34)

Akhir kata, keluarga adalah satuan terkecil masyarakat. Maka ketika keluarga yang baik (sakinah mawaddah wa rahmah) terbentuk akan terbentuk pula bangsa/masyarakat baik. Dan bila keluarga tidak baik, maka akan lahir pula bangsa/masyarakat yang tidak baik.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juni 2022.

Vien AM.

Read Full Post »