Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.(QS.Al Baqarah(2): 183)).

Bulan Ramadhan sebentar lagi akan tiba. Sebagian besar umat Islam tentunya telah menyadari kewajiban melaksanakan salah satu rukun Islam ini. Namun sudahkah puasa yang kita laksanakan tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya?

Tidak seperti ibadah-ibadah lain seperti shalat, zakat dll, puasa adalah satu-satunya ibadah yang tidak mungkin diketahui orang lain. Puasa adalah hubungan langsung dengan Tuhannya, karena hanya Dia dan orang yang bersangkutanlah yang mengetahui apakah ia berpuasa atau tidak.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. (QS. Qaaf(50):16))

Tiga macam tingkatan puasa .

Para ulama sepakat bahwa puasa terbagi atas 3 tingkatan, yaitu:

1.Puasa yang dibangun diatas pengertian menahan makan dan minum saja. Puasa semacam ini tidak akan mengakibatkan perubahan atau peningkatan spiritual, sebagaimana pernyataan sebuah hadits :

Banyak orang yang melakukan shaum (puasa) akan tetapi tidak ada hasil untuknya kecuali haus dan lapar saja”.

2.Puasa yang dibangun dengan pengertian dan pemahaman yang benar yaitu mengendalikan segala perbuatan yang bersifat keduniawian seperti menahan nafsu makan, minum,syahwat, amarah dan juga dari perbuatan dan perkataan kotor.

3.Puasa yang tidak hanya mengendalikan segala perbuatan keduniawian saja namun juga menahan hati dari mengingat  selain Allah.

Pengertian takwa.

Berdasarkan ayat Al-Baqarah 183 diatas, jelas dapat diketahui bahwa puasa yang dimaksud adalah puasa yang dapat mengakibatkan manusia menjadi  takwa. Lalu seperti apakah manusia yang takwa itu?

Manusia takwa adalah manusia yang menyerahkan dan menggantungkan dirinya kepada kehendak Allah swt. Manusia takwa adalah manusia yang tak  takut akan apapun kecuali kepada Allah swt, Tuhan yang telah menciptakannya.  Oleh karenanya manusia seperti ini menjadi  tegar dan berpendirian teguh.  Karena takut yang dimaksud disini adalah takut ditinggalkan oleh-Nya, takut tidak mendapatkan  perhatian dan kasih sayang-Nya.

Itu sebabnya pula manusia takwa ingin selalu membersihkan diri dari segala yang tidak disukai-Nya. Untuk itu ia rela menjauhi segala larangan dan mengerjakan segala perintah-Nya. Manusia yang takwa bersyukur atas nikmat yang diberikan dan bersabar atas musibah yang menimpanya. Dan itu dilaksanakan setelah berijtihad yaitu berupaya keras dan maksimal agar dapat mencapai apa yang diinginkannya sesuai dengan ketentuan-Nya.

“…….akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS.Al Baqarah(2):177)).

Sedangkan imbalan yang akan diberikan kepada orang-orang yang bertakwa ,

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya……” (QS. Ath Thalaaq(65):2,3)).

“…………Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS.Ath Thalaaq(65):4)).

Ciri-ciri orang takwa terlihat jelas dari prilakunya, mereka tidak berpenyakit hati (sombong, dengki, iri, riya dll), ber-akhlakul-khorimah atau mempunyai akhlak yang baik dan hidupnya senantiasa tenang dan tentram.

Sebagai kesimpulan agar puasa  mencapai takwa,  beberapa persyaratan selain menahan nafsu makan, minum dan syahwat maka harus dipenuhi hal-hal  a.l:

-Puasa karena iman.

-Meninggalkan ucapan dan perbuatan kotor, termasuk diantaranya adalah  meninggalkan ‘ghibah’( membicarakan kejelekan orang lain) dan menghindari pertengkaran.

-Melakukan ibadah-ibadah sunnah seperti dzikir, membaca Al-Quran, melaksanakan shalat-shalat sunnah ( shalat rawatib, tarawih/tahajud, dhuha dll).

– Memberi makan dan minum bagi orang yang berpuasa ketika waktu berbuka.

–  dll.

Sebagai tambahan, ada hadits mengatakan tidak diterima puasa orang yang tiga hari menjelang puasa (Ramadhan) tidak bertegur sapa dengan pasangannya (suami-istri) ataupun tetangga terdekatnya.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali Imran(3):102).

Wallahua’lam bish shawab.

Jakarta,22/9/2006

Vien AM.

Read Full Post »

Dapat kita saksikan betapa dari hari kehari makin  banyak saja manusia di penjuru dunia ini yang menyadari kebenaran ajaran Islam hingga akhrinya mereka kemudian bersyahadat. Subhanallah.. Maha benar  segala firman Allah. Ironisnya sejalan dengan itu justru ada sejumlah umat Islam yang meragukan keorisinilan tidak saja sejumlah hadis namun bahkan seluruh hadis. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah hadis teramat sangat banyak. Hadis-hadis tersebut bermacam-macam tingkatannya, ada yang kuat, lemah bahkan palsu.

“… Allah berfirman: “… Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-’Araf (7): 156-157)..

Yang dimaksud nabi yang ummi yang tertulis di dalam Taurat dan Injil itu adalah nabi Muhammad saw, rasul yang membawa Al-Quranul Karim. Kitab ini mengajak manusia kepada kebaikan, menunjukkan jalan yang benar dalam rangka menuju Tuhan Yang Satu yang menciptakan alam semesta dan segala isinya.

Namun untuk memahami kitab ini tidaklah mudah. Itu sebabnya  Allah swt mengutus rasulullah saw agar menjelaskan dan  mencontohkannya. Dengan demikian sudah semestinya beliaulah yang paling tahu dan memahami apa yang dikehendaki-Nya. Jadi alangkah beruntungnya manusia yang tidak saja hanya mengimani namun juga mau mengikuti dan mencontoh rasulullah  dalam mentaati perintah dan larangan-Nya. Inilah yang lazim dinamakan hadis. Segala sesuatu baik  perbuatan, perkataan maupun sikap yang disandarkan atas rasulullah Muhammad saw.

Sebenarnya penolakan terhadap hadis bukan hal baru. Ini telah diketahui dan disadari oleh para ulama dan pemikir Islam sejak lama. Apalagi ketika diketahui bahwa telah terjadi fitnah berkenaan dengan hadis. Itu sebabnya para ulama sepakat untuk menciptakan ilmu  khusus tentang  hadits. Dengan dasar pertimbangan ayat 6 surat Hujurat yang mengisyaratkan agar kita memeriksa dengan teliti orang fasik yang membawa kabar maka keluarlah buku panduan pertama yang disusun oleh Qadli Abu Muhammad Hasan bin Abdurrahman bin Khalad ar-Ramahumurzi ( wafat 360H).

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS.Al-Hujurat(49):6).

Ilmu ini mempunyai beberapa nama, antara lain Ilmu Mushthalah Hadits, Ilmu Dirayah Hadits, ’Ulum Al-Hadits atau juga Ushul Al-Hadits. Banyak yang dibahas dalam ilmu ini namun yang paling utama adalah mempelajari sejarah hidup atau riwayat perawi. Karena sebagaimana ayat diatas, sifat jujur perawi adalah hal utama yang wajib menjadi bahan pertimbangan sah tidaknya hadis, shoheh tidaknya hadis. Bila sang perawi dikenal suka berbohong oleh lingkungannya dengan sendirinya riwayat yang disampaikannyapun langsung dianggap lemah/mardhu’. Untuk itulah bepergian dari satu tempat ke tempat yang sering kali sangat jauh oleh seorang periwayat seperti yang dilakukan Bukhari, Muslim dll adalah bukan hal yang aneh.

Para periwayat ini pergi dari satu negri ke negri lain untuk mencari tahu berbagai hal mengenai keadaan seorang perawi ( orang yang mengatakan bahwa ia mendengar atau melihat apa yang dikatakan atau dikerjakan Rasulullah Muhammad saw), Diantaranya apakah ia dikenal jujur, tidak suka berbohong, tahun berapa ia lahir dan wafat, dimana ia hidup, kemana dan kepada siapa saja ia berguru, bagaimana hafalannya, apakah ia termasuk orang yang pelupa, bagaimana hubungannya dengan Rasulullah dan para sahabat dan lain sebagainya. Dari berbagai persyaratan inilah pada akhirnya seorang periwayat dapat memastikan kemungkinan shoheh tidak shohehnya suatu hadis.

Dengan kata lain, shoheh atau tidak shohehnya hadits itu bukan berdasarkan masuk atau tidak masuk akalnya berita  namun lebih disebabkan berdasarkan pertimbangan jujur atau tidaknya jujur seorang perawi. Karena pada intinya perawi hanyalah orang yang menyampaikan apa yang dikatakan atau dilihatnya atas apa yang dikatakan atau dikerjakan Rasulullah.

Setelah itu baru hadis dikelompokkan atas beberapa kategori.  Apakah hadis tersebut diceritakan lebih dari 10 perawi atau kurang (hadis Mutawatir atau hadis Ahad), apakah si perawi atau seluruh perawinya yang ada di setiap tingkatannya adalah orang yang betul-betul jujur dan  tidak bermasalah, apakah si perawi orang yang jujur namun kurang bagus hafalannya dsb.

Dari sinilah baru diputuskan apakah hadis tersebut dapat diterima atau harus ditolak atau malah hadis palsu! Jadi hadis-hadis tersebut tidak dibuang begitu saja. Cara meriwayatkannya sajalah yang harus memenuhi beberapa persyaratan. Hadis dhoif, misalnya, tetap boleh disampaikan selama tidak menyangkut aqidah, keharaman & kehalalan sesuatu serta harus dijelaskan bahwa hadis tersebut dhoif.

Disamping itu untuk menerapkan suatu hadits kita  harus ekstra waspada dan hati-hati. Begitupun untuk memahaminya, baik  secara maknawi/bahasa maupun secara istilah. Ditambah lagi dengan keterkaitannya antara hadist yang satu dengan hadist yang lain. Karena ada saja hadist yang sepintas tampak bertentangan padahal tidak demikian bila kita memahaminya. Oleh karenanya agar hadits tidak disalah artikan  diperlukan bantuan orang yang benar-benar memahaminya, termasuk juga keadaan dan situasi ketika Rasulullah mengatakan atau mengerjakannya. .

Jadi dapat dibayangkan betapa tidak mudahnya menetapkan tingkatan dan jenis suatu hadis. Diperlukan penelitian dan waktu yang tidak sedikit. Hebatnya standar tertinggi yang digunakan adalah sifat amanah! Sesungguhnya ini pula yang menjadi alasan utama mengapa Al-Quran dapat diterma penduduk Mekkah pada awalnya datangnya Islam.

Sang pembawa berita yaitu Rasulullah Muhammad saw adalah warga Mekkah yang dikenal jujur. Itu sebabnya ketika Rasulullah diperintah agar menyampaikanrisalah secara terang-terang, kalimat pertama yan gdiucapkan Rasul adalah : ” Wahai penduduk Mekkah, apakah kalian percaya sekiranya aku katakan bahwa di sebalik bukit ini ada sekumpulan musuh yang akan menyerang kalian?”. Tanpa ragu sedkitpun mereka menjawab spontan :“Sudah pasti kami akan percaya kerana kami belum pernah mendengar kau berkata  dusta !” .

Namun demikian ternyata apa yang pernah dikatakan Rasulullah bahwa umat ini akan  terpecah menjadi sejumlah golongan tidak dapat dihindarkan. Fitnah tetap tumbuh subur hingga detik ini. Bila kita tilik sedikit ke belakang, sebenarnya bibit fitnah dan perpecahan telah mulai terlihat bahkan ketika Rasulullah masih hidup di sekitar para sahabat.

Suatu ketika Rasulullah sedang membagi-bagikan ghonimah ( pampasan perang ). Tiba-tiba seorang diantara yang menyaksikan tindakan Rasul berteriak : ”Hai Rasul, berbuat adillah!” Tentu saja Rasul terperanjat mendengar terikan lancang orang tersebut. Namun dengan menahan kesabaran Rasul segera menjawab: ” Wahai Fulan, celakalah engkau, akulah orang yang paling takut akan murka Allah”. Jawaban tersebut adalah merupakan sebuah isyarat bahwa Rasul tidak akan berani berbuat tidak adil karena hal yang demikian pasti akan memancing kemurkaan-Nya. Namun orang tadi tetap saja melontarkan perkataan yang sama hingga tiga kali. Hingga akhirnya dengan berang Umar Bin Khatab ra yang memang dikenal memiliki temperamen keras berucap  : ” Wahai Rasullullah, biarkan aku penggal  kepala orang ini!”. Namun Rasul segera menjawab bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan.  Rasul bahkan mengingatkan bahwa pada suatu masa nanti akan banyak orang-orang seperti itu, artinya orang yang meragukan tindakan Rasulullah.

Tidak lama setelah Rasulullah wafat, hal tersebut memang terbukti. Golongan Khawarij yang diduga merupakan cikal bakal golongan Muktazillah dan golongan Ingkar Sunah adalah salah satunya.  Golongan Muktazilah adalah golongan yang tidak mau menerima  hadis  selama menurut mereka isi hadis tidak sesuai dengan akal dan ilmu pengetahuan. Sementara golongan Ingkar Sunnah yang baru lahir beberapa ratus tahun belakangan ini malah lebih parah lagi. Mereka menolak mengakui tak satupun hadis! Disamping itu ada pula golongan yang mengklaim diri sebagai golongan pengikut nabi Ibrahim as dengan alasan semua agama ( samawi) pada dasarnya adalah sama, Tauhid, yaitu meng-esakan Tuhan. Golongan ini pada akhirnya tidak mensyariatkan pengikutnya untuk mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah saw. Padahal pada Haji Wada Rasulullah berpesan : ” Aku tinggalkan pada kalian 2 perkara yang dengan itu kalian tidak akan tersesat, yaitu Al-Quran dan sunnahku”.

Hal ini masih ditambah lagi dengan adanya kaum Orientalis. Mereka ini sejak lama telah mempelajari Al-Quran dan hadis. Tujuan mereka satu, yaitu memecah belah umat Islam!. Mereka tahu betul bahwa telah terjadi perbedaan pendapat diantara umat. Mereka juga tahu bahwa hadis ada tingkatannya. Celah inilah yang mereka manfaatkan. Hadis lemah dan palsu yang menurut ilmu hadis harus dicantumkan bahwa ia hadis lemah mereka sebarkan tanpa keterangan apapun. Tidak cukup itu saja, bahkan hadis mutawatir dan hadis shohehpun mereka bahas isinya dan diadu dengan  akal dan pemikiran sains dan ilmu pengetahuan sehingga hadis terlihat tidak relevan dan tidak masuk akal. Maka jadilah orang yang cenderung selalu mengedepankan akal dan pikiran namun imannya kurang teguh lebih mempercayai pendapat dan pemikiran para Orientalis tersebut daripada pemikir-pemikir Muslim seperti Bukhari, Muslim dkk yang sejak lama telah diakui dan dijadikan standard pemikiran Islam di luar Al-Quran sejak ratusan tahun yang lalu. Ini yang disebut Perang Pemikiran atau Gazwl Fikri.

Sebagai contohnya adalah hadist mengenai kepergian dan perintah Rasulullah ke Sidratul Muntaha. Hadist ini adalah jelas hadist shoheh. Namun hingga kini ada sebagian umat yang meragukan keshohehan hadist tersebut karena dianggap tidak masuk akal. Sebagian  bersikukuh bahwa Allah swt sebagai Sang Pencipta mengapa harus mengadakan tawar menawar ketika memerintahkan shalat yang dalam hadist diceritakan bahwa awalnya adalah 50 kali sehari semalam. Mengapa tidak langsung 5 kali saja! Begitu pula dengan sejumlah hadits yang berkenaan dengan masalah keperempuanan. Isu yang amat rawan dan peka ini tidak luput dari sasaran empuk para orientalis dan sejumlah orang yang kurang teguh keimanannya.

Padahal bila kita berpikir lebih mendalam, justru hadis tersebut memberi hikmah bahwa Allah swt mengajarkan perlunya usaha manusia dalam mencari hidayah. Manusia diberi kesempatan dan keleluasaan untuk berpikir sebagaimana Allah melimpahkan ayat-ayat-Nya yang tersebar di muka bumi ini. Allah memberikan kunci dan tanda kekuasaan-Nya untuk dipelajari. Walaupun sesungguhnya Allah bisa berbuat sekehendak-Nya tanpa harus menggunakan aturan. Namun yang demikian tidak dilakukan-Nya. Allah berkehendak agar para hamba-Nya mau menggunakan pikirannya  sehingga manusia lebih dapat memahami ke-Cerdas-an-Nya lalu lebih banyak bersyukur. Disamping itu, Allah juga ingin memberitahukan bahwa karena kasih sayang-Nya jualah, shalat yang ’hanya’ 5 waktu itu setara dengan shalat 50 kali sehari yang dilakukan umat nabi Musa as.

Cara yang dipergunakan untuk memprovokasi agar umat mau mempertanyakan berbagai masalah baik Al-Quran dan hadits beragam. Dari yang halus, samar dan terselubung hingga yang vulgar, kasar dan terus terang. Buku-buku fiksi, tontonan seperti film dan video adalah contoh yang nyata ada di depan kita. Secara halus  dan tidak terasa pemikiran kita digiring dan diarahkan agar mau mempertanyakan kebenaran hadis sekalipun hadis tersebut shoheh bahkan juga ayat Al-Quranpun bisa dipertanyakan! Dengan cara mengaduk-ngaduk emosi kemanusiaan, keadilan dan atas nama hak azazi manusia tampaknya usaha ini berhasil dengan baik. Kita dibuat lupa dan terbuai tentang arti sebuah kebenaran sejati. Kita berhasil tertipu dan terpedaya akan standard yang dipergunakan. Bagi sebagian orang standard yang dilihat dari kacamata sesama manusia berhasil menyingkirkan standard kebenaran Sang Pencipta alam semesta. Sungguh ironis!

Itulah yang terjadi. Usaha menghilangkan syariat Muhammad saw sebagai pembawa risalah terakhir melalui kitab sucinya Al-Quranul Karim akan terus terjadi akibat ditolak sendiri oleh umatnya dengan berbagai alasan. Namun demikian kebesaran Allah dan kebenaran ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad saw serta kemuliaan Rasulnya tidak akan pernah berkurang sedikitpun walaupun seluruh manusia di muka bumi ini mengkhianatinya. Semoga kita bukan ternasuk orang yang dilaknati-Nya, amin.

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 28/6/2009.

Vien AM.

Sumber : Ilmu Hadits Praktis oleh DR. Mahmud Thahan.

Read Full Post »

Urgensi mematuhi Hadis.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”.(QS.At-Taubah(9):71)

Bila isi Al-Qur’an kita perhatikan lebih seksama, akan kita dapati bahwa perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya tidak hanya sekali dua kali saja. Meskipun sesungguhnya untuk menta’ati panggilan dan perintah tidak harus menunggu hingga berkali-kali.

Sepintas perintah ini tidak terlihat istimewa. Paling tidak ketika perintah taat kepada Allah disandingkan dengan perintah ketaatan kepada Rasul. Namun dalam kenyataannya terbukti saat ini banyak umat Islam yang tidak menjalankan perintah tersebut. Dalam arti, mereka merasa yakin bahwa taat hanya kepada Allah tanpa perlu mentaati hadis sudahlah lebih dari cukup!

Bila kita tengok sejarah sedikit ke belakang, hal ini sebenarnya bukan fenomena baru. Adalah kaum Khawarij. Kaum ini resmi tercatat sebagai golongan yang pertama kali menafi’kan perintah Rasulullah secara terang-terangan.

Cikal bakal mereka telah terlihat sejak jaman Rasulullah masih hidup. Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri. Ia menceritakan, suatu saat ketika Rasulullah sedang membagi-bagikan harta rampasan perang datang Dzul Khuwaisirah, seorang dari Bani Tamim. Ia berkata memprotes : “Wahai Rasulullah, berbuat adillah!” Rasulullah bersabda: “Celakalah engkau! Siapa lagi yang berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Benar-benar merugi jika aku tidak berbuat adil.”

Maka tak lama kemudian turunlah ayat berikut :

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman“(QS.Al-Anfaal(8):1).

Sementara itu Umar bin Al-Khathab yang memang dikenal sebagai sosok yang keras dan temperamenpun segera bereaksi : “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya!” Namun dengan sabar Rasulullah menjawab: “Biarkanlah ia, sesungguhnya ia akan mempunyai pengikut yang salah seorang dari kalian merasa bahwa shalat dan puasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan puasa mereka, mereka selalu membaca Al Qur’an namun tidaklah melewati kerongkongan mereka, .… …”.

Hadis di atas secara tidak langsung menerangkan bahwa suatu ketika nanti orang yang memprotes kebijaksanaan Rasul tersebut akan memiliki pengikut dengan ciri-ciri rajin shalat, puasa dan bahkan membaca Al-Quranul Karim. Namun sayang mereka tidak mau mematuhi perintah dan hukum yang dikeluarkan Rasulullah kecuali bila sesuai dengan kehendak mereka.

” Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim”.( QS. An-Nuur(24):48-50).

Mereka ini bahkan juga dengan sangat mudahnya mengkafirkan orang yang pandangannya tidak sama dengan pandangan golongan mereka. Kelompok semacam ini di kemudian hari semakin banyak terpecah, diantaranya yaitu  kelompok Ingkar Sunnah ( kaum yang tidak mau berpegang pada hadis ). Padahal Rasulullah bersabda yang juga dikuatkan dengan firman Allah bahwa umat Islam harus bersatu, saling tolong menolong, saling menutupi kesalahan serta kekurangan tiap kelompok yang mentaati Allah dan Rasul-Nya.

Hadis memang banyak baik jumlah maupun ragamnya. Hadis dengan isi/matan yang mirip seringkali pula lebih dari satu. Ada yang shoheh, hasan dan dha’if. Sepintas kadang orang awam merasa terjadi perbedaan. Banyak penyebabnya. Diantaranya adalah perbedaan cara pandang, tingkat kemampuan menganalisa hadis dan juga situasi serta kondisi dimana hadis terjadi. Perbedaan inilah yang dimaksud Rasulullah tidak boleh menjadi penyebab keretakan umat. Mustinya setiap terjadi perbedaan pandangan dalam menganalisa hadis harus dikembalikan kepada Al-Quran.

Sebaliknya bagi orang yang merasa cukup mentaati ayat Al-Quran saja tanpa perlu mentaati Rasul dan hadisnya, ini akan memancing kemurkaan Allah swt.

” Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (QS.An-Nisa’(4):80)

Para Rasul adalah manusia pilihan. Mereka maksum artinya bebas dari perbuatan dosa dan salah. Ini karena Allah swt memang senantiasa menjaga mereka dari bisikan dan gangguan syaitan. Bila suatu ketika mereka berbuat kesalahan Allah swt segera menegur mereka. Sebaliknya bila Allah swt tidak menegur apa yang diperbuat atau dikatakan para rasul berarti Allah ridho’. Berarti kita juga harus ridho’ dan mematuhi apa yang dicontohkan Rasul. Jadi jelas, ketaatan kita kepada Rasul adalah dalam rangka ketaatan kepada Sang Khalik. Bukan ketaatan yang membabi buta. Apalagi jika hingga mengkultuskan dan menjadikan Rasul seperti Tuhan sebagaimana ahli kitab menuhankan Isa as, tentu saja hal ini berdosa.

Berikut adalah ayat A-Quran yang berisi teguran kepada Rasulullah saw.

” Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi kecuali (dengan menyebut): “Insya-Allah“. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”.(QS.Al-Kahfi (18):23-24).

Ayat ini turun beberapa hari setelah Rasulullah bertemu dengan beberapa orang Yahudi yang datang kepada Rasul khusus untuk menanyakan persoalan seputar keberadaan para penghuni gua Al-Kahfi. Saat itu Rasul menjawab bahwa beliau akan menjawab pertanyaan mereka ” besok” tanpa mengatakan ” Insya Allah” dengan harapan dan keyakinan tentu Allah besok akan memberi jawaban. Walaupun ketika beliau mengatakan hal tersebut beliau tidak mempunyai maksud hendak mendahului kehendak-Nya.

Namun ternyata hingga beberapa hari kemudian Rasul tidak mendapat jawaban hingga orang-orang Yahudipun mulai mencemooh dan mentertawakan beliau. Dapat dibayangkan betapa risau dan sedihnya hati Rasulullah. Rasul segera bertobat dan memohon ampunan atas segala kesalahan dan khilaf. Maka turunlah ayat diatas.

Sebagai manusia biasa suatu ketika Rasul juga penah khilaf. Namun Allah segera menegur dengan turunnya ayat berikut :

” Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya ”.(QS. Abasa (80):1-2).

Ini terjadi ketika Rasul sedang menerangkan ajaran Islam yang diembannya kepada para pembesar Quraisy. Harapannya begitu besar agar para pembesar tersebut mau menerima dan memeluk Islam. Namun tiba-tiba datang seorang lelaki tuna netra menanyakan sesuatu tentang ajaran Islam kepada Rasul. Saat itulah Rasul merasa terganggu hingga tanpa terasa raut wajah beliau berubah menjadi masam. Maka Allahpun segera menegur melalui ayat diatas dan ayat-ayat yang mengikutinya sbb :

” Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran) sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,”( QS.Abasa(80):3-11)

Sesungguhnya teguran yang diberikan Allah swt kepada Rasulullah Muhammad saw adalah merupakan bukti bahwa Allah tidak saja hanya mencintai Rasul namun juga kepada umat-Nya. Karena dengan adanya teguran tersebut maka Rasulpun menjadi maksum. Maka dengan demikian tidak ada alasan bagi umat untuk tidak mempercayai apalagi tidak mau mentaatinya.

Sebagai bukti kecintaan Allah yang begitu besar kepada sang kekasih malah bukan saja kita dilarang menyakiti hati beliau bahkan mengeraskan suara lebih dari suara beliaupun dilarang!

„ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari”.(QS.Al-Hujurat(49):1-2)

” Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela`natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”. (QS.Al-Ahzab(33):57)

” Hai orang-orang yang beriman, ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya) dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata: “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.(QS.Al-Anfal(8):20-21)

Bagi orang yang mau berpikir, sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau mengimani hadis. Bukankah shalat baik gerakan, jumlah rakaat maupun jumlah shalat dalam seharipun hadislah yang menerangkannnya bukan ayat Al-Quran. Karena fungsi hadis memang melengkapi Al-Quran, menerangkan dan memerinci apa yang tidak diterangkan Al-Quran secara detil. Kita dilarang memilah dan memisahkan mana hadis yang kita sukai dan mana yang tidak kita sukai. Semua wajib diimani sepanjang para ulama salaf meyakininya sebagai hadis shahih ataupun hasan.  Dan yang lebih penting lagi, tentu saja selama isi hadits tidak bertentangan dengan ayat Al-Quran. Termasuk juga hadis yang menerangkan bahwa sebagian besar penghuni neraka kelak adalah perempuan karena mereka mengalami haid!

Mengapa demikian ?? Bukankah haid adalah fitrah perempuan ? Ya…namun ini tidak berarti bahwa ketika haid kaum perempuan dilarang berzikir mengingat kebesaran Allah, dilarang beramal ibadah dan mengerjakan berbagai amalan sosial lainnya yang dapat mendatangkan pahala dan meringankan dosa.. Haid bukanlah penghalang kaum hawa dari rahmat Allah. Ini adalah ujian dari-Nya disamping banyaknya hikmah yang ada didalamnya. Apalagi bila kaum hawa hanya sibuk menggunjing dan terus mempertanyakan keberadaan mereka sebagai perempuan yang merasa bahwa Sang Khalik tidak adil terhadap mereka. Mereka yang tidak kunjung puas terhadap berbagai ketentuan Allah seperti hak waris, ketaatan kepada suami, kebolehan suami berpoligami bila mampu, haid, melahirkan, menyusui, mendidik anak dsb. Inilah kesalahan kaum hawa terbesar yang harus segera diperbaiki bila tidak ingin menjadi penghuni neraka….

Na’udzu billah min dzalik.

Jakarta, April 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Apakah Neraka itu ?

Apakah neraka itu ?

Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”.(QS.Ali Imraan (3):151).

Neraka adalah tempat kembali orang-orang kafir, musyrik, munafik, orang-orang yang menyombongkan diri, pemimpin yang zhalim, para pezina, kaum homosekual dan lesbian, para pemakan riba dan harta anak yatim-piatu tanpa dasar yang benar, para pembunuh orang mukmin tanpa hak, para pelaku bunuh diri, orang-orang yang meninggalkan shalat, zakat dan puasa tanpa alasan yang dibenarkan agama, orang-orang yang durhaka terhadap kedua orang-tuanya serta orang-orang yang membiarkan dosa-dosa kecilnya bertumpuk tanpa berusaha untuk bertobat dan memperbaikinya.

” Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat”. (QS.Qaaf(50):24-26).

Dikatakan bahwa neraka mempunyai 7 buah pintu / tingkatan, yaitu neraka Jahanam, neraka Ladza, neraka Huthomah, neraka Sa’ir, neraka Saqor, neraka Jahim serta neraka Hawiyah.. Masing-masing pintu telah ditetapkan golongan penghuninya.

” Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka. (QS.Al-Hijr(15): 43-44).

Rasulullah bersabda : Seringan-ringan siksaan penghuni neraka adalah : Apabila seseorang yang memakai terompah dari bara api sehingga menyebabkan otaknya mendidih.( HR Bukhari – Muslim).

Allah swt telah berulang memperingatkan hamba-Nya, yaitu semua manusia tanpa kecuali bahwa siksa-Nya amatlah keras dan pedih. Dan janji Allah itu pasti akan terjadi karena Allah tidak mungkin menyalahi janji-Nya. Maka hari itu manusia yang tidak mau dan bahkan tidak memperdulikan peringatan yang diberikan melalui para Rasul akan menerima akibatnya. Bukan Allah yang berbuat zalim melainkan manusia itu sendiri.

” Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nissa’(4):56).

” Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa”. (QS.Al-Haqqoh(69):36-37).

“… Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): “Rasailah azab yang membakar ini”.(QS.Al-Hajj(22):19-22).

Sementara itu ada sebagian hamba yang berada diantara surga dan neraka. Dengan harap-harap cemas mereka menanti keputusan Yang Maha Kuasa atas nasib mereka. Mereka sangat berharap agar pintu surga dibukakan bagi mereka dan sebaliknya pintu neraka di tutup.

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A`raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga:” Salaamun `alaikum“. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). (QS.Al-A’raaf(7): 46).

Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata:Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu“. (QS.Al-A’raaf(7):47).

Kemudian terjadilah percakapan antara penghuni surga, penghuni neraka dan orang-orang yang masih dalam antrian sebagai berikut :

(Orang-orang di atas A`raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?(Kepada orang mu’min itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.(QS.Al-A’raaf(7):49).

Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga:Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”. (QS.Al-A’raaf(7):50-51).

Itulah yang terjadi pada hari peradilan. Hari dimana manusia harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dilakukannya, tidak ada kata menyesal bagi siapapun. Karena pintu-pintu pengampunan telah tertutup, layar telah diturunkan dan selesai sudah segalanya. Ini adalah akhir dari permainan, “The True Game” yang diciptakan-Nya. Na’udzu billah min dzalik..

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”(QS.Al-Mukminun(23):99-100).

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, Juli 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka”(QS.Yaasiin (36):51).

Ini adalah hari dimana sangkakala ditiup untuk kali kedua, yaitu hari berbangkit, hari dimana manusia kembali dihidupkan untuk mempertanggung-jawabkab apa yang telah mereka kerjakan semasa hidup di dunia. Ketika itu langit terbelah dan bumi memuntahkan segala apa yang dikandungnya termasuk mayat-mayat di dalam kubur sehingga bumipun menjadi kosong. Sedangkan tiupan pertama sebagai tanda berakhirnya hari atau hari Kiamat, suatu hari yang banyak didustakan oleh orang kafir, telah dilaksanakan sebelum itu.

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup dan diangkatlah bumi-bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya dengan sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. Dan terbelahlah langit karena pada hari itu langit menjadi lemah”. ( QS. Al-Haqqah(13-16)

Sebagaimana terjadinya penciptaan alam semesta (Big Bang) yang hanya memerlukan waktu yang hanya sekejap mata, begitu pula peristiwa penghancuran alam semesta (Big Crunch). Kedua ayat dibawah ini baru dapat dibuktikan kebenarannya 1400 tahun kemudian, yaitu dengan ditemukannya teori Big Bang dan Big Crunch berkat bantuan teleskop Hubble, pada tahun 1940-an.

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”.(QS.Al-Anbiya(21):30).

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya “. (QS.Al-Anbiya(21):104).

Bila pada tiupan pertama semua yang ada akan mati maka sebaliknya pada tiupan kedua semua manusia mulai dari umat zaman nabi Adam as hingga umat akhir zaman akan berbangkit dan dihimpun di padang Masyar. Rasulullah bersabda : ”Pada hari kiamat manusia dihimpun di atas tanah putih bersih seperti bulatan yang bening”.(HR Bukhary-Muslim).

Pada hari itu, semua orang keluar dari kuburnya, mereka terbangun dari tidur panjangnya. Tak ada pengecualian, baik yang sedang mengalami siksa kubur maupun yang sedang lelap tertidur bagaikan pengantin. Pada hari itu tidak ada sedikitpun yang dapat disembunyikan, tidak pula segala prasangka yang ada dalam hati.

Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka”.(QS.Al-‘Aadiyaat(100):9-11).

Bila kita berpikir secara duniawi, sungguh malu tak terkira akan menghantui semua perasaan manusia. Ketika di dunia Allah SWT berkenan menutupi keburukan-keburukan bisikan hati bagi siapa yang mau memohon dan bila Ia menghendaki dikabulkan-Nya permohonan tersebut. Namun pada Hari Perhitungan tidak seorangpun manusia perduli akan hal orang lain, masing-masing diselimuti rasa ketakutan dan rasa-rasa was-was akan nasib dirinya. Allah SWT memang membebaskan manusia untuk memilih jalannya namun Dia tidak lupa untuk menempatkan para malaikat untuk mengawasi dan mencatat amal perbuatan manusia di dunia.

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Infithaar(82):10-12).

Di alam inilah catatan-catatan tersebut akan dibuka dan diperiksa. Maka tibalah hari pengadilan dimana Allah SWT sebagai Hakim Yang Maha Adil akan memutuskan segala perkara dengan seadil-adilnya. Rasullah bersabda : “Pada hari kiamat manusia diadili dengan tiga kali pengadilan; dua kali berupa pengajuan pertanyaan dan penyampaian alasan dan yang ketiga lembaran-lembaran berhamburan lalu ada yang mengambil dengan tangan kanannya dan ada yang mengambil dengan tangan kirinya”. (HR Tramidzy, Ahnad dan Ibnu Majah).

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun . (QS.Al-Isra’(17):71).

Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini),”(QS.Al-Haaqqah(69:25).

Pada hari itu setiap manusia harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dilakukannya selama hidup didunia, tentang amalnya, tentang hartanya, dari mana ia mendapatkan dan bagaimana ia membelanjakan hartanya tersebut. Kemudian amal itu ditimbang bila amal kebaikannya berat maka dengan izin-Nya ia akan dimasukkan ke surga. Sedangkan bila ringan timbangan kebaikkannya maka masuklah ia ke neraka jahanam.

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah”.(QS.Al-Qaariah(101:6-9).

Wallahu’alam bishawab

Jakarta, 8/2008

Vien AM

Read Full Post »

Pintu-pintu Surga

Dari Sahl bin Sa’ad r.a, dari Nabi SAW bersabda: Di surga itu ada delapan pintu. Di antaranya ada satu pintu yang dinamakan ar-Rayyan, tidak bisa memasukinya kecuali orang-orang yang puasa.” (Muttafaqun ‘alaih).

“Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;  (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. (QS. Ar-Ra’d(13): 23-24).

Pintu surga dibedakan berdasarkan keistimewaan/kelebihan amal kebajikan tiap manusia. Ibnul Jauzi meriwayatkan bahwa ke delapan pintu surga yang disediakan bagi hamba-hamba yang takwa ini adalah pintu Shalat, pintu Puasa, pintu Zakat dan Sedekah, pintu Haji, pintu Umrah, pintu Jihad, pintu Silaturahim dan pintu Wudhu.

“ Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya.” [HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah]

“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”

Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.

Maka beliau pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.”[HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya [kepada para sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”. Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”. Maka Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”. Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.” Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” [HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, maka setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah SWT diberi ampunan, kecuali seorang laki-laki yang ada permusuhan di antaranya dan saudaranya. Dikatakan: berilah waktu kepada dua orang ini sampai keduanya berdamai. –tiga kali-.” (HR. Muslim).

Ibnu Majah dalam kitabnya Sunan An Majah meriwayatkan dari Abdullah bin Abdul Karim, dari Hisyam bin Khalid, dari Khalid bin Yazid bin Abu Malik, dari ayahnya, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “Pada malam aku di-israkan, aku melihat tulisan pada sebuah pintu surga, ‘Satu sedekah dibalas sepuluh kali lipat, dan satu piutang dibalas delapan belas kali lipat.’ Aku bertanya kepada Jibril, “Kenapa memberikan utang itu lebih utama daripada bersedekah?” Jibril menjawab, ‘Karena orang yang meminta itu bisa jadi ia sudah punya. Tetapi, orang yang mengajukan utang itu pasti karena sangat membutuhkan”.

Umar ibnul-Khaththab berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap orang di antara kalian yang setelah berwudhu dengan sempurna lalu membaca Asyhadu Anla Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Abduhu Wa Rasuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus rasul utusan-Nya), niscaya dibukakan untuknya kedelapan pintu surga. la bisa masuk dari pintu yang mana pun yang ia inginkan.“. ( HR Muslim).

Namun ada sebagian ulama yang berpendapat pintu surga lebih dari 8 bila ditambah dengan pintu tobat atau pintu Muhammad. Pintu yang terkenal dengan sebutan pintu Rahmat ini khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang pandai menahan amarah. Disamping itu ada pula ulama yang berpendapat akan adanya pintu Shalat Dhuha.

Diriwayatkan oleh al-Ajiri dalam kitabnya An-Nashihat alias Abul Hasan bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu bernama pintu Adh-Dhuha. Pada hari kiamat nanti ada malaikat yang menyeru, ‘Mana orang-orang yang tekun menunaikan shalat Dhuha? Inilah pintu kalian. Masukilah”.

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal ”. ( QS. Az-Zumar (39): 73-74).

Berdasarkan ayat di atas, sejumlah ulama berpendapat bahwa ada pintu lain disamping pintu-pintu yang telah disebutkan diatas. Pintu ini dinamakan pintu Takwa. Seperti namanya pintu ini diperuntukkan bagi hamba-hamba Allah yang takwa. Keistimewaan pintu ini dibanding pintu-pintu lain adalah siapapun yang diizinkan masuk melalui pintu tersebut, mereka bebas memilih tempat di mana saja mereka kehendaki. Tempat kediaman mereka ini adalah surga ’Adn sebagaimana yang diterangkan dalam surah Shaad ayat 49-50 diatas.

Abu Isa Tirmidzi meriwayatkan dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya bahwa Rasulullah bersabda, Luas pintu surga tempat masuk umatku adalah sejauh perjalanan pengendara kuda yang sangat bagus selama tiga hari. Kemudian mereka berdesak-desakan memasukinya sehingga hampir-hampir pundak mereka lepas.”

Sementara itu, surga memiliki beberapa tingkatan namun kenikmatan tertinggi yang dapat dirasakan di tempat ini adalah memandang Wajah Allah Azza wa Jalla, Sang Maha Pencipta, Sang Raja Dari Segala Raja. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah pernah ditanya seseorang : “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa memandang Rabb?”. Beliau menjawab: “Apakah ada yang menghalangi pandangan kalian terhadap rembulan pada malam purnama, ketika tidak terhalang awan?”. “Tidak”. Jawab orang itu. Beliau bersabda: “Begitu pula kalian memandang-Nya pada hari Kiamat”.

Ini adalah sebuah kehormatan maha besar karena bahkan para nabipun, ketika di dunia tidak memiliki kesanggupan memandang wajah Allah Azza wa Jalla.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS.Al-‘Araaf(7):143).

Kehormatan dan kesempatan ini hanya diperuntukkan orang-orang beriman yang yakin akan keberadaan-Nya, mengerjakan amal ibadah, melaksanakan perintah serta menjauhi segala larangan-Nya. Dan semua ini dikerjakan dalam rangka ketaatannya kepada Sang Khalik, hanya karena Sang Khalik, Allah swt, tidak ada sedikitpun rasa syirik yang menyelinap di dalam dada.

Namun sesungguhnya fenomena istimewa diatas telah diberikan di dunia khusus kepada umat Muhammad saw walaupun hanya 1 arah. Artinya Allah swt mendekati manusia tanpa manusia itu harus hancur sebagaimana hancur luluhnya gunung pada ayat 143 surat Al-Araf diatas. Yaitu ketika tamu-tamu Allah datang ke padang Arafah untuk melaksanakan ibadah haji. Rasulullah bersabda :“…Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, “Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu?”

 Sementara Imam Muslim meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu dari umatku masuk surga. Sebagian mereka saling berpegangan dengan sebagian yang lain. Yang pertama di antara mereka tidak mau masuk sebelum yang terakhir di antara mereka masuk. Wajah mereka seperti bentuk rembulan purnama.”

Semoga kita termasuk satu diantara yang tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu tersebut, amin ya robbal ’alamin.

Wallahu’alam bish shawab.

Jakarta, September 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »