Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Urgensi mematuhi Hadis.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”.(QS.At-Taubah(9):71)

Bila isi Al-Qur’an kita perhatikan lebih seksama, akan kita dapati bahwa perintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya tidak hanya sekali dua kali saja. Meskipun sesungguhnya untuk menta’ati panggilan dan perintah tidak harus menunggu hingga berkali-kali.

Sepintas perintah ini tidak terlihat istimewa. Paling tidak ketika perintah taat kepada Allah disandingkan dengan perintah ketaatan kepada Rasul. Namun dalam kenyataannya terbukti saat ini banyak umat Islam yang tidak menjalankan perintah tersebut. Dalam arti, mereka merasa yakin bahwa taat hanya kepada Allah tanpa perlu mentaati hadis sudahlah lebih dari cukup!

Bila kita tengok sejarah sedikit ke belakang, hal ini sebenarnya bukan fenomena baru. Adalah kaum Khawarij. Kaum ini resmi tercatat sebagai golongan yang pertama kali menafi’kan perintah Rasulullah secara terang-terangan.

Cikal bakal mereka telah terlihat sejak jaman Rasulullah masih hidup. Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri. Ia menceritakan, suatu saat ketika Rasulullah sedang membagi-bagikan harta rampasan perang datang Dzul Khuwaisirah, seorang dari Bani Tamim. Ia berkata memprotes : “Wahai Rasulullah, berbuat adillah!” Rasulullah bersabda: “Celakalah engkau! Siapa lagi yang berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Benar-benar merugi jika aku tidak berbuat adil.”

Maka tak lama kemudian turunlah ayat berikut :

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman“(QS.Al-Anfaal(8):1).

Sementara itu Umar bin Al-Khathab yang memang dikenal sebagai sosok yang keras dan temperamenpun segera bereaksi : “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya!” Namun dengan sabar Rasulullah menjawab: “Biarkanlah ia, sesungguhnya ia akan mempunyai pengikut yang salah seorang dari kalian merasa bahwa shalat dan puasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan puasa mereka, mereka selalu membaca Al Qur’an namun tidaklah melewati kerongkongan mereka, .… …”.

Hadis di atas secara tidak langsung menerangkan bahwa suatu ketika nanti orang yang memprotes kebijaksanaan Rasul tersebut akan memiliki pengikut dengan ciri-ciri rajin shalat, puasa dan bahkan membaca Al-Quranul Karim. Namun sayang mereka tidak mau mematuhi perintah dan hukum yang dikeluarkan Rasulullah kecuali bila sesuai dengan kehendak mereka.

” Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim”.( QS. An-Nuur(24):48-50).

Mereka ini bahkan juga dengan sangat mudahnya mengkafirkan orang yang pandangannya tidak sama dengan pandangan golongan mereka. Kelompok semacam ini di kemudian hari semakin banyak terpecah, diantaranya yaitu  kelompok Ingkar Sunnah ( kaum yang tidak mau berpegang pada hadis ). Padahal Rasulullah bersabda yang juga dikuatkan dengan firman Allah bahwa umat Islam harus bersatu, saling tolong menolong, saling menutupi kesalahan serta kekurangan tiap kelompok yang mentaati Allah dan Rasul-Nya.

Hadis memang banyak baik jumlah maupun ragamnya. Hadis dengan isi/matan yang mirip seringkali pula lebih dari satu. Ada yang shoheh, hasan dan dha’if. Sepintas kadang orang awam merasa terjadi perbedaan. Banyak penyebabnya. Diantaranya adalah perbedaan cara pandang, tingkat kemampuan menganalisa hadis dan juga situasi serta kondisi dimana hadis terjadi. Perbedaan inilah yang dimaksud Rasulullah tidak boleh menjadi penyebab keretakan umat. Mustinya setiap terjadi perbedaan pandangan dalam menganalisa hadis harus dikembalikan kepada Al-Quran.

Sebaliknya bagi orang yang merasa cukup mentaati ayat Al-Quran saja tanpa perlu mentaati Rasul dan hadisnya, ini akan memancing kemurkaan Allah swt.

” Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (QS.An-Nisa’(4):80)

Para Rasul adalah manusia pilihan. Mereka maksum artinya bebas dari perbuatan dosa dan salah. Ini karena Allah swt memang senantiasa menjaga mereka dari bisikan dan gangguan syaitan. Bila suatu ketika mereka berbuat kesalahan Allah swt segera menegur mereka. Sebaliknya bila Allah swt tidak menegur apa yang diperbuat atau dikatakan para rasul berarti Allah ridho’. Berarti kita juga harus ridho’ dan mematuhi apa yang dicontohkan Rasul. Jadi jelas, ketaatan kita kepada Rasul adalah dalam rangka ketaatan kepada Sang Khalik. Bukan ketaatan yang membabi buta. Apalagi jika hingga mengkultuskan dan menjadikan Rasul seperti Tuhan sebagaimana ahli kitab menuhankan Isa as, tentu saja hal ini berdosa.

Berikut adalah ayat A-Quran yang berisi teguran kepada Rasulullah saw.

” Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi kecuali (dengan menyebut): “Insya-Allah“. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”.(QS.Al-Kahfi (18):23-24).

Ayat ini turun beberapa hari setelah Rasulullah bertemu dengan beberapa orang Yahudi yang datang kepada Rasul khusus untuk menanyakan persoalan seputar keberadaan para penghuni gua Al-Kahfi. Saat itu Rasul menjawab bahwa beliau akan menjawab pertanyaan mereka ” besok” tanpa mengatakan ” Insya Allah” dengan harapan dan keyakinan tentu Allah besok akan memberi jawaban. Walaupun ketika beliau mengatakan hal tersebut beliau tidak mempunyai maksud hendak mendahului kehendak-Nya.

Namun ternyata hingga beberapa hari kemudian Rasul tidak mendapat jawaban hingga orang-orang Yahudipun mulai mencemooh dan mentertawakan beliau. Dapat dibayangkan betapa risau dan sedihnya hati Rasulullah. Rasul segera bertobat dan memohon ampunan atas segala kesalahan dan khilaf. Maka turunlah ayat diatas.

Sebagai manusia biasa suatu ketika Rasul juga penah khilaf. Namun Allah segera menegur dengan turunnya ayat berikut :

” Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya ”.(QS. Abasa (80):1-2).

Ini terjadi ketika Rasul sedang menerangkan ajaran Islam yang diembannya kepada para pembesar Quraisy. Harapannya begitu besar agar para pembesar tersebut mau menerima dan memeluk Islam. Namun tiba-tiba datang seorang lelaki tuna netra menanyakan sesuatu tentang ajaran Islam kepada Rasul. Saat itulah Rasul merasa terganggu hingga tanpa terasa raut wajah beliau berubah menjadi masam. Maka Allahpun segera menegur melalui ayat diatas dan ayat-ayat yang mengikutinya sbb :

” Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran) sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,”( QS.Abasa(80):3-11)

Sesungguhnya teguran yang diberikan Allah swt kepada Rasulullah Muhammad saw adalah merupakan bukti bahwa Allah tidak saja hanya mencintai Rasul namun juga kepada umat-Nya. Karena dengan adanya teguran tersebut maka Rasulpun menjadi maksum. Maka dengan demikian tidak ada alasan bagi umat untuk tidak mempercayai apalagi tidak mau mentaatinya.

Sebagai bukti kecintaan Allah yang begitu besar kepada sang kekasih malah bukan saja kita dilarang menyakiti hati beliau bahkan mengeraskan suara lebih dari suara beliaupun dilarang!

„ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari”.(QS.Al-Hujurat(49):1-2)

” Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela`natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”. (QS.Al-Ahzab(33):57)

” Hai orang-orang yang beriman, ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya) dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata: “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.(QS.Al-Anfal(8):20-21)

Bagi orang yang mau berpikir, sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau mengimani hadis. Bukankah shalat baik gerakan, jumlah rakaat maupun jumlah shalat dalam seharipun hadislah yang menerangkannnya bukan ayat Al-Quran. Karena fungsi hadis memang melengkapi Al-Quran, menerangkan dan memerinci apa yang tidak diterangkan Al-Quran secara detil. Kita dilarang memilah dan memisahkan mana hadis yang kita sukai dan mana yang tidak kita sukai. Semua wajib diimani sepanjang para ulama salaf meyakininya sebagai hadis shahih ataupun hasan.  Dan yang lebih penting lagi, tentu saja selama isi hadits tidak bertentangan dengan ayat Al-Quran. Termasuk juga hadis yang menerangkan bahwa sebagian besar penghuni neraka kelak adalah perempuan karena mereka mengalami haid!

Mengapa demikian ?? Bukankah haid adalah fitrah perempuan ? Ya…namun ini tidak berarti bahwa ketika haid kaum perempuan dilarang berzikir mengingat kebesaran Allah, dilarang beramal ibadah dan mengerjakan berbagai amalan sosial lainnya yang dapat mendatangkan pahala dan meringankan dosa.. Haid bukanlah penghalang kaum hawa dari rahmat Allah. Ini adalah ujian dari-Nya disamping banyaknya hikmah yang ada didalamnya. Apalagi bila kaum hawa hanya sibuk menggunjing dan terus mempertanyakan keberadaan mereka sebagai perempuan yang merasa bahwa Sang Khalik tidak adil terhadap mereka. Mereka yang tidak kunjung puas terhadap berbagai ketentuan Allah seperti hak waris, ketaatan kepada suami, kebolehan suami berpoligami bila mampu, haid, melahirkan, menyusui, mendidik anak dsb. Inilah kesalahan kaum hawa terbesar yang harus segera diperbaiki bila tidak ingin menjadi penghuni neraka….

Na’udzu billah min dzalik.

Jakarta, April 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Apakah Neraka itu ?

Apakah neraka itu ?

Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”.(QS.Ali Imraan (3):151).

Neraka adalah tempat kembali orang-orang kafir, musyrik, munafik, orang-orang yang menyombongkan diri, pemimpin yang zhalim, para pezina, kaum homosekual dan lesbian, para pemakan riba dan harta anak yatim-piatu tanpa dasar yang benar, para pembunuh orang mukmin tanpa hak, para pelaku bunuh diri, orang-orang yang meninggalkan shalat, zakat dan puasa tanpa alasan yang dibenarkan agama, orang-orang yang durhaka terhadap kedua orang-tuanya serta orang-orang yang membiarkan dosa-dosa kecilnya bertumpuk tanpa berusaha untuk bertobat dan memperbaikinya.

” Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat”. (QS.Qaaf(50):24-26).

Dikatakan bahwa neraka mempunyai 7 buah pintu / tingkatan, yaitu neraka Jahanam, neraka Ladza, neraka Huthomah, neraka Sa’ir, neraka Saqor, neraka Jahim serta neraka Hawiyah.. Masing-masing pintu telah ditetapkan golongan penghuninya.

” Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka. (QS.Al-Hijr(15): 43-44).

Rasulullah bersabda : Seringan-ringan siksaan penghuni neraka adalah : Apabila seseorang yang memakai terompah dari bara api sehingga menyebabkan otaknya mendidih.( HR Bukhari – Muslim).

Allah swt telah berulang memperingatkan hamba-Nya, yaitu semua manusia tanpa kecuali bahwa siksa-Nya amatlah keras dan pedih. Dan janji Allah itu pasti akan terjadi karena Allah tidak mungkin menyalahi janji-Nya. Maka hari itu manusia yang tidak mau dan bahkan tidak memperdulikan peringatan yang diberikan melalui para Rasul akan menerima akibatnya. Bukan Allah yang berbuat zalim melainkan manusia itu sendiri.

” Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nissa’(4):56).

” Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa”. (QS.Al-Haqqoh(69):36-37).

“… Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): “Rasailah azab yang membakar ini”.(QS.Al-Hajj(22):19-22).

Sementara itu ada sebagian hamba yang berada diantara surga dan neraka. Dengan harap-harap cemas mereka menanti keputusan Yang Maha Kuasa atas nasib mereka. Mereka sangat berharap agar pintu surga dibukakan bagi mereka dan sebaliknya pintu neraka di tutup.

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A`raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga:” Salaamun `alaikum“. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). (QS.Al-A’raaf(7): 46).

Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata:Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu“. (QS.Al-A’raaf(7):47).

Kemudian terjadilah percakapan antara penghuni surga, penghuni neraka dan orang-orang yang masih dalam antrian sebagai berikut :

(Orang-orang di atas A`raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?(Kepada orang mu’min itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.(QS.Al-A’raaf(7):49).

Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga:Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”. (QS.Al-A’raaf(7):50-51).

Itulah yang terjadi pada hari peradilan. Hari dimana manusia harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dilakukannya, tidak ada kata menyesal bagi siapapun. Karena pintu-pintu pengampunan telah tertutup, layar telah diturunkan dan selesai sudah segalanya. Ini adalah akhir dari permainan, “The True Game” yang diciptakan-Nya. Na’udzu billah min dzalik..

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”(QS.Al-Mukminun(23):99-100).

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, Juli 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka”(QS.Yaasiin (36):51).

Ini adalah hari dimana sangkakala ditiup untuk kali kedua, yaitu hari berbangkit, hari dimana manusia kembali dihidupkan untuk mempertanggung-jawabkab apa yang telah mereka kerjakan semasa hidup di dunia. Ketika itu langit terbelah dan bumi memuntahkan segala apa yang dikandungnya termasuk mayat-mayat di dalam kubur sehingga bumipun menjadi kosong. Sedangkan tiupan pertama sebagai tanda berakhirnya hari atau hari Kiamat, suatu hari yang banyak didustakan oleh orang kafir, telah dilaksanakan sebelum itu.

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup dan diangkatlah bumi-bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya dengan sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. Dan terbelahlah langit karena pada hari itu langit menjadi lemah”. ( QS. Al-Haqqah(13-16)

Sebagaimana terjadinya penciptaan alam semesta (Big Bang) yang hanya memerlukan waktu yang hanya sekejap mata, begitu pula peristiwa penghancuran alam semesta (Big Crunch). Kedua ayat dibawah ini baru dapat dibuktikan kebenarannya 1400 tahun kemudian, yaitu dengan ditemukannya teori Big Bang dan Big Crunch berkat bantuan teleskop Hubble, pada tahun 1940-an.

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”.(QS.Al-Anbiya(21):30).

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya “. (QS.Al-Anbiya(21):104).

Bila pada tiupan pertama semua yang ada akan mati maka sebaliknya pada tiupan kedua semua manusia mulai dari umat zaman nabi Adam as hingga umat akhir zaman akan berbangkit dan dihimpun di padang Masyar. Rasulullah bersabda : ”Pada hari kiamat manusia dihimpun di atas tanah putih bersih seperti bulatan yang bening”.(HR Bukhary-Muslim).

Pada hari itu, semua orang keluar dari kuburnya, mereka terbangun dari tidur panjangnya. Tak ada pengecualian, baik yang sedang mengalami siksa kubur maupun yang sedang lelap tertidur bagaikan pengantin. Pada hari itu tidak ada sedikitpun yang dapat disembunyikan, tidak pula segala prasangka yang ada dalam hati.

Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka”.(QS.Al-‘Aadiyaat(100):9-11).

Bila kita berpikir secara duniawi, sungguh malu tak terkira akan menghantui semua perasaan manusia. Ketika di dunia Allah SWT berkenan menutupi keburukan-keburukan bisikan hati bagi siapa yang mau memohon dan bila Ia menghendaki dikabulkan-Nya permohonan tersebut. Namun pada Hari Perhitungan tidak seorangpun manusia perduli akan hal orang lain, masing-masing diselimuti rasa ketakutan dan rasa-rasa was-was akan nasib dirinya. Allah SWT memang membebaskan manusia untuk memilih jalannya namun Dia tidak lupa untuk menempatkan para malaikat untuk mengawasi dan mencatat amal perbuatan manusia di dunia.

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Infithaar(82):10-12).

Di alam inilah catatan-catatan tersebut akan dibuka dan diperiksa. Maka tibalah hari pengadilan dimana Allah SWT sebagai Hakim Yang Maha Adil akan memutuskan segala perkara dengan seadil-adilnya. Rasullah bersabda : “Pada hari kiamat manusia diadili dengan tiga kali pengadilan; dua kali berupa pengajuan pertanyaan dan penyampaian alasan dan yang ketiga lembaran-lembaran berhamburan lalu ada yang mengambil dengan tangan kanannya dan ada yang mengambil dengan tangan kirinya”. (HR Tramidzy, Ahnad dan Ibnu Majah).

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun . (QS.Al-Isra’(17):71).

Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini),”(QS.Al-Haaqqah(69:25).

Pada hari itu setiap manusia harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dilakukannya selama hidup didunia, tentang amalnya, tentang hartanya, dari mana ia mendapatkan dan bagaimana ia membelanjakan hartanya tersebut. Kemudian amal itu ditimbang bila amal kebaikannya berat maka dengan izin-Nya ia akan dimasukkan ke surga. Sedangkan bila ringan timbangan kebaikkannya maka masuklah ia ke neraka jahanam.

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah”.(QS.Al-Qaariah(101:6-9).

Wallahu’alam bishawab

Jakarta, 8/2008

Vien AM

Read Full Post »

Pintu-pintu Surga

Dari Sahl bin Sa’ad r.a, dari Nabi SAW bersabda: Di surga itu ada delapan pintu. Di antaranya ada satu pintu yang dinamakan ar-Rayyan, tidak bisa memasukinya kecuali orang-orang yang puasa.” (Muttafaqun ‘alaih).

“Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;  (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. (QS. Ar-Ra’d(13): 23-24).

Pintu surga dibedakan berdasarkan keistimewaan/kelebihan amal kebajikan tiap manusia. Ibnul Jauzi meriwayatkan bahwa ke delapan pintu surga yang disediakan bagi hamba-hamba yang takwa ini adalah pintu Shalat, pintu Puasa, pintu Zakat dan Sedekah, pintu Haji, pintu Umrah, pintu Jihad, pintu Silaturahim dan pintu Wudhu.

“ Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya.” [HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah]

“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”

Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.

Maka beliau pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.”[HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya [kepada para sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”. Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”. Maka Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”. Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.” Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” [HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, maka setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah SWT diberi ampunan, kecuali seorang laki-laki yang ada permusuhan di antaranya dan saudaranya. Dikatakan: berilah waktu kepada dua orang ini sampai keduanya berdamai. –tiga kali-.” (HR. Muslim).

Ibnu Majah dalam kitabnya Sunan An Majah meriwayatkan dari Abdullah bin Abdul Karim, dari Hisyam bin Khalid, dari Khalid bin Yazid bin Abu Malik, dari ayahnya, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “Pada malam aku di-israkan, aku melihat tulisan pada sebuah pintu surga, ‘Satu sedekah dibalas sepuluh kali lipat, dan satu piutang dibalas delapan belas kali lipat.’ Aku bertanya kepada Jibril, “Kenapa memberikan utang itu lebih utama daripada bersedekah?” Jibril menjawab, ‘Karena orang yang meminta itu bisa jadi ia sudah punya. Tetapi, orang yang mengajukan utang itu pasti karena sangat membutuhkan”.

Umar ibnul-Khaththab berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap orang di antara kalian yang setelah berwudhu dengan sempurna lalu membaca Asyhadu Anla Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Abduhu Wa Rasuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus rasul utusan-Nya), niscaya dibukakan untuknya kedelapan pintu surga. la bisa masuk dari pintu yang mana pun yang ia inginkan.“. ( HR Muslim).

Namun ada sebagian ulama yang berpendapat pintu surga lebih dari 8 bila ditambah dengan pintu tobat atau pintu Muhammad. Pintu yang terkenal dengan sebutan pintu Rahmat ini khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang pandai menahan amarah. Disamping itu ada pula ulama yang berpendapat akan adanya pintu Shalat Dhuha.

Diriwayatkan oleh al-Ajiri dalam kitabnya An-Nashihat alias Abul Hasan bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu bernama pintu Adh-Dhuha. Pada hari kiamat nanti ada malaikat yang menyeru, ‘Mana orang-orang yang tekun menunaikan shalat Dhuha? Inilah pintu kalian. Masukilah”.

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal ”. ( QS. Az-Zumar (39): 73-74).

Berdasarkan ayat di atas, sejumlah ulama berpendapat bahwa ada pintu lain disamping pintu-pintu yang telah disebutkan diatas. Pintu ini dinamakan pintu Takwa. Seperti namanya pintu ini diperuntukkan bagi hamba-hamba Allah yang takwa. Keistimewaan pintu ini dibanding pintu-pintu lain adalah siapapun yang diizinkan masuk melalui pintu tersebut, mereka bebas memilih tempat di mana saja mereka kehendaki. Tempat kediaman mereka ini adalah surga ’Adn sebagaimana yang diterangkan dalam surah Shaad ayat 49-50 diatas.

Abu Isa Tirmidzi meriwayatkan dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya bahwa Rasulullah bersabda, Luas pintu surga tempat masuk umatku adalah sejauh perjalanan pengendara kuda yang sangat bagus selama tiga hari. Kemudian mereka berdesak-desakan memasukinya sehingga hampir-hampir pundak mereka lepas.”

Sementara itu, surga memiliki beberapa tingkatan namun kenikmatan tertinggi yang dapat dirasakan di tempat ini adalah memandang Wajah Allah Azza wa Jalla, Sang Maha Pencipta, Sang Raja Dari Segala Raja. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah pernah ditanya seseorang : “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa memandang Rabb?”. Beliau menjawab: “Apakah ada yang menghalangi pandangan kalian terhadap rembulan pada malam purnama, ketika tidak terhalang awan?”. “Tidak”. Jawab orang itu. Beliau bersabda: “Begitu pula kalian memandang-Nya pada hari Kiamat”.

Ini adalah sebuah kehormatan maha besar karena bahkan para nabipun, ketika di dunia tidak memiliki kesanggupan memandang wajah Allah Azza wa Jalla.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS.Al-‘Araaf(7):143).

Kehormatan dan kesempatan ini hanya diperuntukkan orang-orang beriman yang yakin akan keberadaan-Nya, mengerjakan amal ibadah, melaksanakan perintah serta menjauhi segala larangan-Nya. Dan semua ini dikerjakan dalam rangka ketaatannya kepada Sang Khalik, hanya karena Sang Khalik, Allah swt, tidak ada sedikitpun rasa syirik yang menyelinap di dalam dada.

Namun sesungguhnya fenomena istimewa diatas telah diberikan di dunia khusus kepada umat Muhammad saw walaupun hanya 1 arah. Artinya Allah swt mendekati manusia tanpa manusia itu harus hancur sebagaimana hancur luluhnya gunung pada ayat 143 surat Al-Araf diatas. Yaitu ketika tamu-tamu Allah datang ke padang Arafah untuk melaksanakan ibadah haji. Rasulullah bersabda :“…Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, “Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu?”

 Sementara Imam Muslim meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu dari umatku masuk surga. Sebagian mereka saling berpegangan dengan sebagian yang lain. Yang pertama di antara mereka tidak mau masuk sebelum yang terakhir di antara mereka masuk. Wajah mereka seperti bentuk rembulan purnama.”

Semoga kita termasuk satu diantara yang tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu tersebut, amin ya robbal ’alamin.

Wallahu’alam bish shawab.

Jakarta, September 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Tak seorangpun mengetahui kapan persisnya Kiamat bakal terjadi.  Ayat Al-Quran hanya mengatakan bahwa hari yang maha dasyat tersebut terjadi secara tiba-tiba.

”Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba … ” (QS.Al-An’am(60:31).

Berikut beberapa ayat yang menunjukkan betapa mengerikannya keadaan hari akhir yang di dustakan keberadaannya oleh orang-orang kafir.

” Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan”. (Terjemah QS.Al-Qoriah(101):3-5).

”Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”,(Terjemah QS.Al-Zalzalah(99):1-3).

”Apabila langit terbelah dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh dan apabila bumi diratakan dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi  kosong”, (Terjemah QS.Al-Insyiqoq(84):1-4).

”Apabila langit terbelah dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan dan apabila lautan dijadikan meluap dan apabila kuburan-kuburan dibongkar”, (Terjemah QS.Al-Infithor(82):1-4)

”Apabila matahari digulung dan apabila bintang-bintang berjatuhan dan apabila gunung-gunung dihancurkan dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan) dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan dan apabila lautan dipanaskan dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)”,(Terjemah QS.At-Takwir(81):1-7).

”(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras”. (Terjemah QS.Al-Hajj(22):2).

”(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata:

“Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur lumat?” Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan“.

(Terjemah QS.An-Nazi’at(79):6-12).

”Ia bertanya: “Bilakah hari kiamat itu?” Maka apabila mata terbelalak (ketakutan) dan apabila bulan telah hilang cahayanya dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat lari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali”. (Terjemah QS.Al-Qiyamah(75):6-12).

Ketika suatu hari Rasulullah ditanya para sahabat kapankah hari yang sungguh mengerikan ini akan datang, Rasulullah menjawab bahwa Sang Khalik tidak memberinya ilmu tentang hal tersebut. Allah swt hanya memberi tahu tanda-tandanya saja.

“Nabi Saw. datang kepada kami, sementara kami tengah berbincang-bincang. Beliau bertanya, ‘Apa yang sedang kalian perbincangkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami sedang membicarakan masalah hari kiamat.’

Rasulullah Saw. berkata, ‘Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi hingga kalian –sebelumnya- melihat sepuluh tanda.’ Lalu beliau menyebut asap, Dajjal, binatang, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa Bin Maryam, Ya’juj, Ma’juj dan terjadi tiga kegelapan: kegelapan di timur, kegelapan di barat dan kegelapan di jazirah Arab. Dan akhir dari semua itu adalah keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat perhimpunannya.” (H.R.Muslim).

Hadist shohih diatas menyebutkan bahwa kedatangan Dajjal adalah merupakan salah satu tanda kedatangan Hari Kiamat. Namun tahukah kita sebenarnya apa, siapa dan bagaimanakah Dajjal itu ?

Al-Imam Al-Qurthubi ra dalam kitab At-Tadzkirah mengatakan bahwa lafadz Dajjal ( arti secara bahasa ) dipakai untuk sepuluh makna. Di antaranya: Kadzdzab (tukang dusta)dan Mumawwih (yang menipu manusia).

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ra mengatakan:“Dikatakan demikian karena dia adalah manusia yang paling besar penipuannya.”

Sementara itu Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ra mengatakan (Dajjal secara istilah):“Dajjal adalah Seorang laki-laki pendusta (penipu) yang keluar di akhir zaman mengaku sebagai Rabb/Tuhan”.

Para ulama berpendapat bahwa saat ini kita telah berada pada waktu yang teramat dekat dengan kedatangan Dajjal, si raja Yahudi terlaknat. Berbagai tanda telah menunjukkan hal tersebut. Dari hadits kita tahu bahwa Hari Kiamat datang didahului dengan beberapa tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar. ( Hadits diatas adalah hadits yang menunjukkan tanda-tanda besar ).  Dajjal, si Pembohong besar ini akan datang menjelajahi berbagai sudut dunia kecuali Makkah, Madinah, Al-Quds ( Yerusalem ) dan Tha’if bersama pasukannya yang berjumlah lebih dari 70.000 orang.

Dari Anas ra, Rasulullah bersabda : “Yang akan mengikuti Dajjal adalah Yahudi Ashbahan dan 70.000 dari mereka memakai pakaian yang tebal dan bergaris”.(HR. Muslim no. 5237 )

Hadis riwayat Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: ”Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan dajjal-dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh, semuanya mengaku bahwa ia adalah utusan Allah ”.(Shahih Muslim No.5205).

Kita telah menyaksikan sendiri kemunculan sejumlah dajjal kecil yang membawa keahlian sihirnya yang begitu mampu mempesona pandangan kita. Sejumlah nabi-nabi palsu juga telah berhasil memperdaya banyak orang. Akankah kita siap menghadapi fitnah, sihir serta kenikmatan palsu yang lebih besar lagi ? Apa yang harus kita persiapkan ?

Rasulullah memperingatkan para sahabat untuk tidak menganggap ringan kehebatan pengaruh si mata satu ini. Rasulullah bahkan berkata lebih baik mereka bersembunyi dari pada menghadapinya. Ini tidak ada hubungannya dengan sifat pengecut, munafik apalagi murtad. Kita tahu betapa kerasnya ayat-ayat tentang kewajiban jihad dalam rangka menegakkan kebenaran dan menghadapi kemungkaran. Dan para sahabat telah membuktikan kesetiaan, ketaatan dan ketakwaan mereka. Para sahabat adalah manusia yang dikenal kuat keimanannya. Lalu bagaimana dengan kita yang rata-rata jauh dari kwalitas keimanan mereka padahal kita hidup di masa yang rawan dan berbahaya tersebut?

Dari Abu Umamah ra, Rasululah bersabda : “ dan diantara fitnahnya ia membawa surga dan neraka. Nerakanya adalah surga sedangkan surganya adalah neraka. Barangsiapa duji dengan nerakanya hendaklah ia berlindung kepada Allah dan membaca pembukaan surah Al-Kahfi karena ia akan menjadi jernih dan dingin sebagaimana api Ibrahim yang dingin dan menyelamatkannya. Di antara fitnahnya yan lain ia melewati suatu perkampungan tetapi penduduknya membohonginya maka tidak ada binatang ternak mereka yang tersisa kecuali binasa. Ia juga melewati suatu perkampungan dan penduduknya mempercayainya lalu ia menyuruh langit untuk mernurunkan hujannya dan bumi menumbuhkan tanamannya maka turunlah hujan dan tumbuhlah tanamannya sehingga binatang ternak mereka pada waktu itu menjadi lebih gemuk dan banyak susunya”.(HR Ibnu Majah dan Hakim)

Allah swt sengaja membekali orang terlaknat ini dengan kehebatan yang begitu dasyat. Ini adalah merupakan cobaan terberat dan terbesar bagi orang-orang di akhir zaman yang cenderung sering  lupa dan lalai akan keberadaan-Nya. Hanya orang-orang dengan keimanan super tinggi serta senantiasa berpegang kepada tali-Nyalah yang bakal lolos dari cobaan dan petaka besar ini. Untuk itu Rasulullah mewanti-wanti kita, umat yang dicintainya, agar membaca 10 ayat pertama surat Al-Kahfi terutama setiap hari Jumat, disamping mengerjakan ibadah-ibadah lainnya tentunya.

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470).

Berikut terjemahan surat Al-Kahfi  ayat 1 – 10 :

1.Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;

2.sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,

3.mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.

4.Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak“.

5.Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.

6.Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).

7.Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

8.Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.

9.Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?

10.(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

Dalam rangka mengantisipasi fitnah Dajjal ini Rasulullah juga mengajarkan agar kita selalu membaca doa dibawah ini setiap kali kita usai membaca tahiyatul akhir sebelum mengucapkan salam :

”Allahumma inni a’udzubika min adzaabil jahannam wa min adzaabil qubur wa min fitnatil mahyaa wa mamaati wa min fitnatil masiihid Dajjal”.

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa ( neraka ) Jahanam dan dari siksa kubur dan dari fitnah hidup dan mati serta dari fitnah Dajjal ”. (HR Muslim).

Na’udzu billah min dzalik.

Jakarta, 15/2/2009

Vien AM.

Read Full Post »

Beberapa tahun belakangan ini muncul gagasan ‘ajaib’ tentang konsep keber-agama-an, yaitu Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme. Hal ini timbul disebabkan adanya rasa toleransi antar agama yang berlebihan. Dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, perbedaan adalah suatu hal yang biasa dan lumrah. Pada Zaman Rasullullah pun hal tersebut pernah terjadi yaitu pada awal periode Madinah. Pada saat itu kaum Muslimin hidup berdampingan dengan kaum musyrikin penyembah berhala, Yahudi dan Nasrani. Mereka menjalankan ibadahnya dengan caranya masing-masing.

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku“.(QS.Al-Kafirun(109):1-6).

Selama periode tersebut dakwah Islam memang terus berlangsung namun tanpa paksaan. Allah swt menghendaki semua manusia didunia ini tanpa kecuali berhak menerima peringatan dan kebenaran dari-Nya karena Islam bukan hanya merupakan hak istimewa dan monopoli bangsa Arab.

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.(QS.Ali-Imraan(3):138).

Sebaliknya bagi orang yang telah menerima Islam, mau tidak mau, terpaksa ataupu tidak, mereka harus menerima konsekwensinya. Allah menjamin keselamatan kaum Muslimin selama mereka taat dalam menjalankan hukum dan perintah-Nya.

“ Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Tagut* dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS.Al Baqarah (2):256).

Pengusiran terhadap kaum Yahudi akhirnya terjadi karena mereka terus-menerus merongrong dan bahkan tidak saja mengancam jiwa Muhammad saw namun juga kelangsungan ajaran agama yang masih berumur sangat muda tersebut.

Namun di Indonesia saat ini, toleransi antar agama tidak lagi sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Dialog antar agama kerap dilakukan para pemuka dan cendekiawan agama tetapi hasilnya baru sebatas menghindari perselisihan saja., tidak mencapai substansi yang mendasar. Hal ini terbukti dengan malah munculnya berbagai aliran atau isme seperti Pluralisme (Semua agama sama), Sekularisme (Agama dipisahkan dari kehidupan sehari-hari)dan Liberalisme (Kebebasan untuk menafsirkan ayat-ayat suci).

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS.Al Baqarah(2):208).

Padahal demi mencapai suatu kebenaran, perdebatan kadang memang harus terjadi. Yang diperlukan adalah kedewasaan, sikap untuk saling terbuka, sikap untuk mau menerima kenyataan bahwa sesuatu yang sudah terbiasa dan lama diyakini ‘benar’ belum tentu kebenarannya, kalau memang itu terbukti tidak benar. Suatu sikap lapang dada untuk menerima kesalahan dan kekhilafan dengan penuh kesadaran. Disamping itu yang benarpun tidak perlu merasa congkak dan arogan, karena yang dicari adalah kebenaran. Jadi bukan masalah kalah.menang ataupun mengalah.

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”.(QS.An-Nisaa(4):159).

Sebaliknya dengan mengambil sikap jalan tengah seperti menyamakan semua agama ataupun menyatakan bahwa semua agama adalah benar tentu berbahaya.

“ Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62).

Ayat inilah yang sering dijadikan pegangan bagi mereka yang bersiteguh bahwa semua agama adalah sama dan benar disisi Allah SWT. Padahal yang dimaksud ayat diatas adalah orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang mengimani seluruh rasul dan kitab termasuk Muhammad SAW dan Al-Quranul Karim. Atau bagi mereka yang hidup pada zaman sebelum Islam datang, tidak merubah-rubah kitab mereka yaitu Taurat ataupun Injil yang dibawa Musa AS dan Isa AS.

“ Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.(QS.Ali Imran(3):85).

Hal ini tentu akan berakibat sangat buruk karena pada akhirnya orang-orang seperti ini cenderung hanya mementingkan keimanan saja tanpa merasakan keharusan untuk melaksanakan kewajiban / syariat sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw.

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat……….”.(QS.Al-Baqarah(2):110)

“……Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(QS.An-Nisaa(4):103).

Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.(QS.Al-Maidah(5):5).

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.(QS.An-Nuur(24):52).

Dari Abu Hurairah ra, Rasululah bersabda: “Bangsa Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nasrani telah terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu”. Kemudian para sahabat pun bertanya: “Siapa mereka ya Rasulullah?”. Rasullah menjawab: “Mereka yang mengikutiku dan sahabat-sahabatku”.


Wallahu’alam bishawab.

Jakarta,2/10/2006.

Vien AM.

Referensi : – Hegemoni Kristen-Barat” (dalam studi Islam di perguruan tinggi) oleh Adian Husaini.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »