Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan apabila telah memenuhi syarat – syarat yang telah ditentukan oleh agama, dan disalurkan kepada orang–orang yang telah ditentukan pula, yaitu delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 :

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk  budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .”

Zakat dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna :

Pertama, zakat bermakna At-Thohuru, yang artinya membersihkan atau mensucikan. Makna ini menegaskan bahwa  orang yang selalu menunaikan zakat karena Allah dan bukan karena ingin dipuji manusia, Allah akan membersihkan dan mensucikan baik hartanya maupun jiwanya. Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 103:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan  dan mensucikan  mereka  dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu  ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Kedua, zakat bermakna Al-Barakatu, yang artinya berkah. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu membayar zakat, hartanya akan selalu dilimpahkan keberkahan oleh Allah SWT, kemudian keberkahan harta ini akan berdampak kepada keberkahan hidup. Keberkahan ini lahir karena harta yang kita gunakan adalah harta yang suci dan bersih, sebab harta kita telah dibersihkan dari kotoran dengan menunaikan zakat yang hakekatnya zakat itu sendiri berfungsi  untuk membersihkan dan mensucikan harta.

Ketiga, zakat bermakna An-Numuw, yang artinya tumbuh dan berkembang. Makna ini menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya (dengan izin Allah) akan selalu terus tumbuh dan berkembang. Hal ini disebabkan oleh kesucian dan keberkahan harta yang telah ditunaikan kewajiban zakatnya. Tentu kita tidak pernah mendengar orang yang selalu menunaikan zakat dengan ikhlas karena Allah, kemudian banyak mengalami masalah dalam harta dan usahanya, baik itu kebangkrutan, kehancuran, kerugian usaha, dan lain sebagainya. Tentu kita tidak pernah mendengar hal seperti itu, yang ada bahkan sebaliknya.

Selama beraktivitas di Lembaga Amil Zakat, sampai saat ini penulis belum menemukan orang –orang yang rutin menunaikan zakat kemudian berhenti dari menunaikan zakat disebabkan usahanya bangkrut atau ekonominya bermasalah, bahkan yang ada adalah orang–orang yang selalu menunaikan zakat, jumlah nominal zakat yang dikeluarkannya dari waktu ke waktu semakin bertambah besar, itulah bukti bahwa zakat sebenarnya tidak mengurangi harta kita, bahkan sebaliknya. Memang secara logika manusia, dengan membayar zakat maka harta kita akan berkurang, misalnya jika kita mempunyai penghasilan Rp. 2.000.000,- maka zakat yang kita keluarkan adalah 2,5 % dari Rp. 2.000.000,- yaitu Rp 50.000,-. Jika kita melihat menurut logika manusia, harta yang pada mulanya berjumlah Rp.2.000.000,- kemudian dikeluarkan Rp. 50.000,- maka harta kita menjadi Rp. 1.950.000,-  yang berarti jumlah harta kita berkurang. Tapi, menurut ilmu Allah yang Maha Pemberi rizki, zakat yang kita keluarkan tidak mengurangi harta kita, bahkan menambah harta kita dengan berlipat ganda.  Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 39 :

“Dan sesuatu riba  yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka  itulah orang-orang yang melipat gandakan .”

Dalam ayat ini Allah berfirman tentang zakat yang sebelumnya didahului dengan firman tentang riba. Dengan ayat ini Allah Maha Pemberi Rizki menegaskan bahwa riba tidak akan pernah melipat gandakan harta manusia, yang sebenarnya dapat melipat gandakannya adalah dengan menunaikan zakat.

Keempat, zakat bermakna As-Sholahu, yang artinya beres atau keberesan, yaitu bahwa orang orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya akan selalu beres dan jauh dari masalah. Orang yang dalam hartanya selalu ditimpa musibah atau  masalah, misalnya kebangkrutan, kecurian, kerampokan, hilang, dan lain sebagainya boleh jadi karena mereka selalu melalaikan zakat yang merupakan kewajiban mereka dan hak fakir miskin beserta golongan lainnya yang telah Allah sebutkan dalam Al – Qur’an.

Pau – France, 15/02/2010.

Vien AM.

Sumber : http://www.rumahzakat.org/dinamycrzicontent.php?parent=SZ&id=68

Read Full Post »

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(QS. AL Hijr (15):9).

Ayat inilah yang menjadi acuan bahwa Al-Quran yang merupakan pegangan dan  panduan hidup Muslim diseluruh dunia adalah otentik. Tidak ada perubahan apalagi unsur-unsur otak atik dan campur tangan manusia di dalamnya. Tidak juga Rasulullah saw. Ia persis sama dengan ketika diturunkan pertama kali. Dan atas izin-Nya pula, manusia dilibatkan dalam masalah pemeliharaannya.

( lihat https://vienmuhadi.com/2009/02/01/cara-pemeliharaan-al-qur%e2%80%99an/ )

Hanya orang yang mempunyai penyakit hati  sajalah yang beranggapan bahwa kitab suci yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw  melalui malaikat Jibril as 1400 tahun lalu itu telah mengalami penyimpangan (distorsi).

Sejarah mencatat betapa musuh-musuh Islam, baik para orientalis maupun munafikun, begitu bernafsu untuk merusak dan mencari celah agar umat ini terpecah belah dan kembali kepada kekufuran. Berbagai cara mereka coba. Al-Quran dianggap mengalami perubahan, hadis dipertentangkan dan dipertanyakan kebenarannya (meski hadis shoheh sekalipun), kalimat dua syahadat dianggap sama dengan menuhankan Rasulullah saw ! dsb ..

Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri. Ia menceritakan, suatu saat ketika Rasulullah sedang membagi-bagikan harta rampasan perang datang Dzul Khuwaisirah, seorang dari Bani Tamim. Ia berkata memprotes : “Wahai Rasulullah, berbuat adillah!” Rasulullah bersabda: “Celakalah engkau! Siapa lagi yang berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Benar-benar merugi jika aku tidak berbuat adil.”

Maka tak lama kemudian turunlah ayat berikut :

Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah”. (QS. At-Taubah(9):58).

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman“(QS.Al-Anfaal(8):1).

Sementara itu Umar bin Khathab yang memang dikenal sebagai sosok yang keras dan temperamenpun segera bereaksi : “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya!” Namun dengan sabar Rasulullah menjawab: “Biarkanlah ia, sesungguhnya ia akan mempunyai pengikut yang salah seorang dari kalian merasa bahwa shalat dan puasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan puasa mereka, mereka selalu membaca Al Qur’an namun tidaklah melewati kerongkongan mereka, .… …”.

Hadis di atas secara tidak langsung menerangkan bahwa suatu ketika nanti orang yang memprotes kebijaksanaan Rasul tersebut akan memiliki pengikut dengan ciri-ciri rajin shalat, puasa dan bahkan membaca Al-Quranul Karim. Namun sayang mereka tidak mau mematuhi perintah dan hukum yang dikeluarkan Rasulullah kecuali bila sesuai dengan kehendak dan kepentingan mereka.

” Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim”.( QS. An-Nuur(24):48-50).

Penolakan tersebut ( dari kaum yang notebene Muslim untuk berhukum kepada Rasulullah ) masih terus terjadi hingga saat ini. Bahkan rasul-rasul palsupun terus saja  bermunculan …. Ironisnya, ada saja orang yang mau mempercayai dan mengikutinya.

Adalah Rasyad Khalifa, seorang ilmuwan Mesir warga negara Amerika Serikat. Ia lahir pada tahun 1935. Ia pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1959, menuntut ilmu dan berpindah kewarga-negaraan. Di negri inilah ia  mendirikan USI (United Submitters International), sebuah kelompok yang mengaku Islam namun tidak mau mengakui hadis ( Ingkar Sunnah). Ia bahkan  menuduh bahwa hadis dan sunnah  adalah buatan musuh-musuh Muhammad saw. ( Yang dimaksud musuh olehnya adalah para sahabat Rasulullah). Kelompok ini sengaja menggunakan nama Submitter sebagai ganti kata Muslim untuk menghindari ’bau’ Arab.

Ini semua berawal pada tahun1968. Rasyad yang mempunya minat yang tinggi terhadap Matematika dan segala yang berhubungan dengan ilmu hitung-menghitung, dengan bantuan komputer mulai meneliti Al-Quran secara detil. Akhirnya pada tahun 1974 ia mengumumkan temuannya bahwa angka 19 adalah bilangan yang menjadi kunci proteksi ke-otentikan Al-Quran. Ia menyebutnya  Al-Quran Interlocking System. Bagi para peneliti dan penggemar matematika adalah bukan rahasia bahwa angka 19 adalah bilangan prima istimewa yang menjadi primadona matematika karena sifatnya yang istimewa.

Angka ini sering digunakan sebagai kunci utama berbagai rahasia penting. (Pentagon juga dikabarkan menggunakan angka ini sebagai kunci informasi rahasia mereka ).  Selanjutnya dengan gencar ia mempublikasikan temuan ajaibnya ini. Ia menulis sejumlah buku tentang kehebatan dan mukjizat Al-Quran dengan dasar  angka 19 ini. Menurutnya hitungan-hitungan dengan dasar angka inilah yang menyebabkan Al-Quran tidak dapat dipalsukan.

Namun sayang, temuannya ini justru membuatnya besar kepala. Mustinya temuan angka 19 ini menjadikannya lebih beriman, tunduk serta patuh kepada-Nya. Tetapi nyatanya ia malah melangkah semakin jauh.  Ayat-ayat Mutasyabihat seperti Aliflamim, Shod, Nun dsb yang selama ini tidak berani ditakwilkan oleh para ulama salaf ( terdahulu ) karena Allah swt melarangnya, mulai diotak-atiknya.

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”. ( QS. Ali Imran (3):7).

Akibatnya ia menemukan hal-hal yang tak diduganya, yang tidak cocok dengan temuan dan teori  yang telah terlanjur diumumkannya. Iapun mulai mencari-cari kecocokan. Ironisnya, ia justru menyimpulkan  bahwa Al-Quranlah yang salah !! Ayat 128-129 surat At-Taubah yang pada masa awal pembukuan khalifah Abu Bakar pernah mengalami sedikit permasalah dijadikannya kambing hitam.

Padahal masalah tersebut hanya terjadi sebentar saja dan telah dituntaskan dengan baik. Zaid  bin Tsabit, sebagai ketua panitia pembukuan Al-Quran  ketika itu memang tidak dapat menemukan ayat tersebut secara tertulis. Padahal ia dan sejumlah sahabat hafal betul ayat ini. Rasulullahpun tidak pernah mencelanya. Artinya kedua ayat tersebut memang bagian dari Al-Quranul Karim.  Namun demikian karena ketelitiannya ia menunda menuliskannya.

Ia baru menuliskannya setelah seorang sahabat, Abi Khuzaimah Al-Anshari datang membawa bukti tertulis bahwa ia mencatat ayat tersebut. Namun para orientalis dan musuh-musuh Islam yang tidak ingin melihat Islam maju dan berkembang sengaja terus mempermasalahkan hal ini. Tujuannya jelas agar terjadi perpecahan dan keraguan dikalangan umat Islam. Dan ini benar-benar terjadi pada umat yang kurang keimanannya, termasuk Rasyad Khalifa.

Lebih jauh lagi, ia bahkan mengaku bahwa dirinya adalah Rasul !! Bersembunyi dibalik sains dan ’akal’ ia memilah-milah ayat-ayat Al-Quran yang sesuai dengan tujuan dan keinginannya. Ditafsirkannya sedemikan rupa agar tampak cocok dengan pemikirannya. Pengertian ’Nabi ’ dan ’Rasul’ diutak-atik dan dibolak balik. Ayat-ayat yang kelihatannya ’adil’ seperti ’ tidak membeda-bedakan rasul ’(Al-Baqarah 284), ’ Islam, Yahudi dan Kristen semua masuk surga’ ( Al-Baqarah ayat 62), agama Ibrahim ( Ali Imran ayat 95) dan yang semacamnya terus didengungkan dengan tujuan agar dapat menarik sebanyak mungkin pengikut. Inilah yang disebut ’Liberalisasi’.

Dengan sembrono ia berani menuduh bahwa umat Islam sekarang ini telah berbuat syirik, karena telah  menuhankan nabi Muhammad saw sebagaimana orang Nasrani menuhankan Isa as ! Lebih lanjut ia mengatakan, syahadat adalah buktinya ….. Karenanya ia mengajarkan pengikutnya untuk tidak membaca shalawat nabi ketika shalat  ..  ??!!?

Rasyad berpendapat bahwa agama yang benar adalah kembali ke ajaran nabi Ibrahim as. Ini memang benar bila kita hidup di zaman beliau. Kelihatannya ia lupa bahwa ajaran Ibrahim telah diselewengkan sejak ribuan tahun yang lalu. Itu sebabnya Allah swt mengirim para rasul ke dunia ini.

Saat ini, ketika Allah swt telah mengirim Rasulullah Muhammad saw untuk menyempurnakan ajaran, ketika kebenaran telah sampai kepada kita .. mengapa kita harus mencari sesuatu yang telah lama hilang ( jarak hidup antara Ibrahim as dan Rasulullah Muhammad saw adalah 4000 tahun-an)  … bagaimana kita bisa yakin bahwa shalat, puasa dan  haji kita seperti yang diajarkan nabi Ibrahim as ?

Sementara Rasulullah, ( yang menerima kitab suci Al-Quran dan telah dengan susah payah menyampaikannya kepada kita) dengan jelas telah mencontohkannya melalui hadis dan sunnah yang juga disampaikan kepada kita melalui kerja keras para sahabat yang telah terbukti ketaatan dan ketakwaannnya. Rasanya tidak mungkin mereka ini bersekongkol mendustakan Allah dan Rasul-Nya.

(lihat :  https://vienmuhadi.com/2009/06/30/hadis-dan-perang-pemikiran/ )

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. (QS.Al-‘Araf (7):158).

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir“.(QS.Ali Imran (5):31-32).

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ”.(QS. Al-Ahzab(33):21).

Bahkan sesungguhnya ketika para pengikut Rasul palsu ini lebih memilih cara ibadah nabi Ibrahim as dibanding Rasullah saw, berarti mereka telah membeda-bedakan rasul. Walaupun sebenarnya yang dimaksud ’membeda-bedakan rasul ’pada ayat 284 surat Al-Baqarah adalah hanya mau mengakui sebagian rasul saja. Karena para ahli kitab tidak mau mengakui kerasulan Muhammad saw.  Dan lagi Allah swt dengan jelas memerintahkan kita untuk selalu bershalawat kepada beliau.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “. ( QS. Al-Ahzab(33):56).

Sedangkan yang dimaksud ayat 62 surat Al-Baqarah dengan semua pemeluk agama ( baik Yahudi maupun Nasrani ) masuk surga adalah semua para pengikut setia rasul ketika kitab mereka ( Yahudi dan Nasrani) belum diselewengkan seperti sekarang ini.

Intinya, janganlah kita berlaku seperti orang-orang Yahudi yang mencari-cari berbagai alasan ketika Allah memerintahkan sesuatu ( surat Al-Baqarah ayat  67-71) atau seperti orang-orang munafik yang menolak berpindah kiblat dari Masjidil Aqsho ke Masjidil Haram ( surat Al-Baqarahayat 142). Sebaliknya keteladanan nabi Ibrahim as dalam mematuhi perintah Allah swt agar menyembelih putra satu-satunya, nabi Ismail as sangatlah baik untuk dipatuhi.

Kepatuhan dalam menjalankan perintah dan larangan-Nya inilah yang terpenting. Bukan akal apalagi akal yang telah dibungkus hawa nafsu. Karena kita ini hanya manusia, mahkluk sekaligus hamba Allah yang sungguh amat kecil di mata-Nya. Kebenaran yang hakiki hanyalah milik-Nya. Karena Ia tidak memiliki kepentingan apapun terhadap kita. Sementara kebenaran di mata kita amat relatif, tergantung dari sudut dan kepentingan mana kita memandangnya.

Temuan angka 19 atau temuan sains apapun sebenarnya sunatullah. Dengan cara ini Yang Maha Kuasa berkehendak agar manusia ikut berpikir ;  merenungi ke-Hebat-an-Nya, ke-Pandai-an-Nya, ke-Kuasa-an-Nya. Ini adalah cobaan berat bagi manusia. Karena bila Ia berkehendak lain tanpa harus mengikuti ‘teori sains’ yang telah diperlihatkan sebelumnya, bisa saja terjadi.. ” Kun Fayakun” ..  Apalagi sehubungan dengan ayat-ayat  Mutasyabihat. Bukankah Allah swt dengan jelas telah melarang untuk mentakwilkannya ??

Janji Allah pasti benar. Inilah akibatnya. Bisikan syaitan akhirnya berhasil mempengaruhi, Rasyad Khalifa, sang ilmuwan penemu ’ mukjizat 19 ’. Ia ingin dianggap sebagai rasul. Rasul palsu ini mati dibunuh pada tahun 1990. Ironisnya lagi, sebelumnya ia pernah dipanggil pengadilan Amerika Serikat karena kasus pelecehan seksual terhadap gadis berumur 16 tahun. … Astaghfirullah hal Adzim ..

” Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada SEMBILAN BELAS (malaikat penjaga).Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah KAMI MENJADIKAN BILANGAN mereka itu melainkan untuk jadi COBAAN BAGI ORANG-ORANG KAFIR, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mu’min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia”.(QS.Al-Mudatsir(74):27-31).

Semoga Allah swt senantiasa melindungi kita dari segala macam fitnah, amiin ….

Wallahu’alambishawab.

Semoga bermanfaat.

Pau-France, 20 Januari 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman”.(QS.Az-Zumar(39):52).

Itu sebabnya dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendapati kenyataan bahwa tidak semua orang yang bekerja mati-matian bahkan sepanjang hidupnya pasti kaya raya. Sebaliknya tidak semua orang yang bekerja ‘normal-normal’ saja  hidupnya kekurangan. Dalam sebuah hadist dikatakan bahwa rezeki adalah satu dari empat hal pokok yang telah ditetapkan pada awal kehidupan setiap manusia.

Namun demikian ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha dan bekerja dalam rangka mencari rezeki. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra, Rasulullah saw bersabda : “ Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat dalam keadaan lapar, dan pulang dalam keadaan kenyang”.

Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim meriwayatkan dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya, Amr bin Umayah ra, ia berkata : “ Seseorang berkata kepada Rasulullah  saw :  ‘Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Ikatlah kemudian bertawakkallah”.

Berdasarkan kedua hadist diatas dapat disimpulkan bahwa rezeki walaupun telah ditetapkan namun tetap harus dicari, dijemput. Dengan bagaimana? Ya dengan bekerja mencari nafkah… Allah swt telah menyediakan kotak rezeki masing-masing. Kotak tersebut ada yang besar ada yang kecil. Ini adalah cobaan bagi kita agar dapat diketahui seberapa besar rasa syukur seseorang. Jadi besar atau kecilnya kotak rezeki seseorang bukanlah cermin kasih sayang-Nya.

Justru pada kenyataannya, seringkali seorang yang memiliki kotak rezeki besar malah lupa bersyukur. Lupa akan tugas dan kewajiban yang diberikan-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS.Adz-Zariyat(51):56).

Alkisah adalah Sa’labah dan istrinya. Mulanya mereka adalah sepasang hamba Allah yang sholeh dan sholehah. Mereka hidup sangat miskin hingga untuk shalatpun mereka  harus bergantian kain sarung demi menutup aurat mereka. Suatu hari, karena bosan hidup dalam kekurangan, Sa’labah merengek agar Rasulullah bersedia memohonkan doa kepada Allah swt agar mereka berdua diberi rezeki yang berlebih.

Pada mulanya Rasulullah enggan mengabulkan permintaan tersebut karena khawatir rezeki yang berlebih bakal memalingkan mereka. Namun karena terus didesak akhirnya Rasulullahpun mendoakan mereka. Dan dalam waktu tak lama doa Rasulullahpun dikabulkan-Nya.

Singkat kata Sa’labah memperoleh seekor kambing. Dan berkat ketekunan mereka berdua, kambing mereka makin hari makin banyak. Sebaliknya, karena makin sibuk maka makin sedikit pula waktu yang mereka sisihkan untuk beribadah, untuk mengingat-Nya. Shalat yang semula didirikan pada awal waktu, sedikit demi sedikit mulai bergeser. Puncaknya mereka bahkan menolak untuk membayar zakat ! Astaghfirullah … sayang sekali bukan?

Bagi sebagian orang, rezeki adalah identik dengan harta dan materi yang notabene terlihat secara kasat mata. Ini tidak salah namun sebenarnya rezeki tidak selalu demikian. Karena pada akhirnya sebenarnya rezeki terbesar itu adalah kesehatan.  Karenanya sebesar apapun harta dan materi yang kita miliki, tidak dapat dinikmati jika kita sakit. Ini terbukti dengan kenyataan bahwa ketika sakit kita akan berusaha memperoleh kembali kesehatan tersebut berapapun uang dan harta yang harus dikorbankan.

Disamping kesehatan, adalah kebahagiaan dan ketentraman hidup. Rezeki dalam bentuk inilah yang sering kali orang lupa. Betapa sering kita mendengar kisah orang kaya raya yang hidupnya tidak bahagia. Bila memungkinkan pasti orang seperti ini rela menukar berapapun banyak hartanya agar pasangan hidupnya, anak-anaknya atau teman-temannya kembali ke pangkuannya, memperhatikan serta mengasihi dan menyayanginya.

Yang juga kita sering lupa. Dengan sejumlah besar uang di tangan bila Allah menghendaki hujan untuk tidak turun ke bumi selama berbulan-bulan atau matahari tidak muncul selama berhari-hari atau sebaliknya matahari terus bersinar sepanjang 24 jam atau hujan salju lebat selama berminggu-minggu ….  Dalam keadaan seperti ini dapatkah tanaman menghasilkan buah-buahan, sayur-sayuran, padi-padian dan sebagainya? Mungkinkah kita tenang-tenang saja ketika sungai-sungai meluap dan membanjiri rumah kita? Lalu apa gunanya uang kita yang bergepok-gepok  itu..

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.  Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”. (QS. Ibrahim (14):32-33).

Dengan kata lain, puncak tertinggi rezeki itu sesungguhnya adalah keimanan. Bagi orang-orang seperti ini, sebagaimana burung dalam hadist paling atas, baginya rezeki adalah ketika ia berangkat pagi dalam keadaan lapar namun pulang dalam keadaan kenyang! Subhanallah …

Abu Hurairah ra. mengatakan, Rasulullah saw bersabda, “Seorang hamba berkata, hartaku, hartaku, hartaku. Padahal hartanya yang sesungguhnya hanya tiga macam: apa yang dimakan lalu habis, apa yang yang dipakai lalu lusuh (rusak), dan apa yang disedekahkannya lalu tersimpan (untuk akhirat). Selain yang ketiga macam itu lenyap atau ditinggalkannya (warisan) bagi orang lain.” (HR. Muslim).

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…”. (QS.An-Nisa(4):9).

Namun dengan adanya ayat diatas ( juga sejumlah hadis yang senada) menandakan bahwa kita sebaiknya tidak  meninggalkan anak-anak kita dalam keadaan lemah alias kekurangan ( harta atau ilmu). Karena hal yang demikian cenderung membuat anak keturunan kita menjadi tergantung  kepada orang lain hingga  mudah diperalat dan akhirnya menjadi lupa akan Tuhannya.

Wallahu’alam bishawab.

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Pau-France, 22 Desember 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

Salah satu ciri orang beriman adalah mempercayai yang ghaib, diantaranya yaitu dengan meyakini adanya Hari Kiamat dan adanya Surga serta Neraka. Surga dan Neraka  adalah  dua tempat kembali bagi seluruh manusia yang pernah ada di dunia ini, sejak manusia pertama Adam as hingga manusia terakhir yang bakal dilahirkan kelak. Baik itu manusia biasa maupun para utusan Allah. Ini adalah ketentuan Sang Khalik,  Allah Azza Wa Jalla  yang tidak mungkin dielakkan.

Dimulai dengan terjadinya Hari Kiamat yang ditandai dengan terdengarnya bunyi sangkakala yang ditiup oleh malaikat  Israfil.

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (QS.Az-Zumar(39):68-70).

Pada hari itu Allah swt membagi hamba-Nya atas 3 golongan yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Golongan itu adalah :

1. Golongan orang yang paling dahulu beriman atau golongan Asyabiqun.

2. Golongan kanan atau golongan Al-Maimanah.

3. Golongan kiri atau golongan Al-Masy’amah yang merupakan golongan terburuk.

Golongan Al-Masy’amah adalah golongan para calon penghuni neraka sedangkan dua kelompok sebelumnya adalah golongan para calon penghuni surga. Golongan Asyabiqun lebih tinggi kedudukannya dibanding golongan Al-Maimanah. Mereka adalah orang-orang yang sangat dekat dengan-Nya. Oleh karenanya mereka masuk ke surga lebih awal  dan tempatnyapun didekatkan kepada-Nya. Itulah surga kenikmatan. ( Al-Jannatin Na’im). Para rasul dan nabi termasuk kedalam golongan ini.

Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan  dan kamu menjadi tiga golongan .Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. . Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga)”. ( QS. Al-Waqiyah ( 56): 1-9).

Namun mengapa Sang Khalik membagi calon penghuni surga atas 2 kelompok? Atas dasar dan kriteria yang bagaimanakah  Ia membuat pengelompokkan tersebut? Dapatkah kita, manusia mengetahui hal ini?

Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga keni`matan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. ( QS. Al-Waqiyah ( 56): 10-14)

Yang dimaksud dengan orang yang paling dahulu beriman adalah orang yang bersegera, yang tidak menunda-nunda mengimani apa yang dibawa seorang utusan Allah kepadanya. Biasanya mereka adalah para sahabat setia rasul-rasul dan nabi-nabi. Mereka adalah orang-orang terdekat rasul dan nabi yang hidup pada zamannya, mulai yang hidup pada zaman Adam as hingga yang hidup pada zaman Rasulullah Muhammad saw. Mereka adalah pengikut pertama sekaligus pelindung dan penolong rasul dan nabi mereka. Mereka ini mengabdikan seluruh hidupnya demi tegaknya agama.

Golongan orang yang paling dahulu beriman ini dibagi lagi atas 2 kelompok.

1. Orang-orang yang terdahulu, yaitu orang yang hidup pada zaman nabi pertama, Adam as ratusan ribu tahun yang lalu hingga yang hidup pada zaman sebelum turunnya kenabian Muhammad saw,  sekitar 1500 tahun silam.

2. Orang-orang yang kemudian. Mereka adalah orang-orang yang hidup pada saat Rasulullah saw telah menerima wahyu hingga orang terakhir di akhir zaman nanti.  Kita, umat Islam termasuk di dalam kelompok ini.

Ayat 14 surat Al-Waqiyah diatas menerangkan bahwa jumlah orang dari kelompok orang-orang terdahulu yang masuk surga adalah besar. Sementara dari kelompok orang yang kemudian kecil. Mengapa demikian ? Karena jumlah orang terdahulu memang jauh lebih banyak daripada jumlah orang yang kemudian. Mereka banyak karena rentang waktu dari zaman nabi Adam as hingga nabi Isa as teramat sangat panjang. Sementara orang-orang yang kemudian hanya yang hidup di masa Rasulullah saw telah menerima wahyu hingga terjadinya hari Kiamat. Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa jarak antara hidup beliau dengan Hari Akhir hanya antara dua jari beliau?

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar “. (QS.At-Taubah(9):100).

Tak dapat disangkal lagi, bagian kecil dari golongan yang terdahulu beriman, yang dijanjikan baginya surga tersebut adalah para sahabat yang hidup semasa dengan Rasulullah saw, yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshar serta yang mengikuti dan mencontoh mereka dengan baik. Mereka adalah para sahabat seperti Abu Bakar ra, Umar Bin Khattab ra, Ustman Bin Affan ra, Ali Bin Thalib ra, Bilal dll. Mereka adalah termasuk diantara sepuluh sahabat yang namanya disebut Rasulullah sebagai calon penghuni surga. Tempat mereka sungguh mulia yaitu disisi para rasul dan nabi. Sedangkan dari sisi para sahabat di zaman Isa as adalah orang-orang Harawiyyin, yaitu para sahabat setia dan penolong Isa as. Orang Hawariyyin ini hidup sezaman dengan Isa as.

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”.(QS.Ali Imran (3):52).

Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS. Ali Maidah (5):69).

Bagaimana dengan kita, umat Islam yang hidup jauh dari masa hidup Rasululah dan para sahabat? Adakah tempat bagi kita di surga ?

“ Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan”. ( QS. Al-Waqiyah ( 56): 90-91).

Ya, golongan kanan. Kelihatannya dengan izin-Nya kita bisa masuk ke dalam kelompok ini. Jumlah orang yang masuk surga dari kelompok ini juga ada dua, sejumlah besar dari golongan orang-orang terdahulu dan sejumlah besar pula dari golongan orang yang kemudian.

“ (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian”.( QS. Al-Waqiyah ( 56): 38-40).

Namun yakinkah kita akan hal ini karena Rasulullah pernah bersabda :

“Sesungguhnya tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu dari umatku masuk surga. Sebagian mereka saling berpegangan dengan sebagian yang lain. Yang pertama di antara mereka tidak mau masuk sebelum yang terakhir di antara mereka masuk. Wajah mereka seperti bentuk rembulan purnama.”.

Hadist ini diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad oleh Imam Muslim. Semoga bukan hadist shoheh. Atau semoga saja yang dimaksud 70.000 atau 700.000 oleh Rasulullah itu adalah umat beliau yang dari kelompok orang-orang yang terdahulu beriman. Karena 70 ribu atau 700 ribu adalah jumlah yang teramat sangat sedikit sekali apalagi dibanding jumlah orang yang ada sekarang ini. Bukankah kita  sering mendengar bahwa orang yang bersyahadat dijamin masuk surga ? Betulkah semudah itu ? Cukupkah mengucapkan syahadat tanpa mengerjakan amal kebaikan ??

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”. (QS.Al-Bayyinah(98):7-8).

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung“. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan”. (QS.Ali Imran(3):23-24).

Ayat diatas menerangkan prilaku orang-orang Yahudi yang merasa yakin bahwa mereka hanya akan disentuh api neraka sedikit saja dan pasti Allah akan mengampuni dosa-dosa  serta memasukkan mereka ke dalam surga. Padahal mereka tidak memegang hukum yang telah ditetapkan-Nya dengan baik! Berpegang pada ayat tersebut, apakah sudah cukup aman orang yang telah bersyahadat namun tidak mengamalkan ajaran-ajaran dan hukum-hukum Al-Quran serta tidak menta’ati dan menjadikan nabinya sebagai panutan dan contoh keteladanan? Bagaimana bila ternyata sesungguhnya Allah malah memasukannya kedalam golongan kiri ?

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”. Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya dan adalah kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami kematian.(QS. Al-Muddatstsir (74):42-47).

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan”. (QS.An-Nisa(4):14).

Bahkan sesungguhnya orang yang pernah merasakan keimanan kemudian mendustakannya kembali adalah lebih buruk dari orang kafir. Tempat mereka kembali adalah di dasar neraka. Mereka adalah orang -orang Munafik.

Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti”. (QS.Al-Munafikun(63):3).

Atau bisa jadi karena kita terlalu meremehkan dosa-dosa kecil dan tidak segera bertaubat hingga akhirnya menumpuk dan menjadi kebiasaan.

Semoga kita bukan satupun diantara yang lengah ataupun menyepelekan keimanan dan hidayah-Nya, amin.

kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat la`nat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam la`nat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh “.(QS.Al-Baqarah(2):160-162).

Wallahu’alam bishawwab.

Pau- France , 7 Oktober 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya”.(QS.At-Taubah(9):73).

Jihad dengan jiwa adalah berperang di jalan Allah demi membela kebenaran yang hakiki, kebenaran sejati yang bukan berdasarkan pemikiran dan hawa nafsu manusia semata. Dialah yang Maha Mengetahui, Dialah Sang Pencipta segala yang ada di alam semesta ini, Dialah Sang Pemilik. Dengan demikian memang hanya Dialah Sang Kebenaran, Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Satu.

Allah SWT menyuruh manusia agar bersabar terhadap segala urusan. Sabar adalah ibadah dan Allah menyukai mahluknya yang memiliki kesabaran yang tinggi. Dan tidak seperti ibadah-ibadah lain yang memiliki ganjaran yang terbatas yaitu hingga 700 kali lipat, tidak demikian dengan sabar.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS.Al-Baqarah(2):261).

Allah SWT tidak membatasi pahala orang yang bersabar karena sesungguhnya sabar adalah hakikat ibadah, yaitu inti dari ketundukkan, kepatuhan dan kepasrahan.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS.Az-Zumar(39):10).

Kesabaran dalam Islam tidak mengenal batas. Namun sabar yang bagaimanakah itu? Difinisi sabar dalam Islam yaitu menahan diri sesuai dengan tuntutan akal dan tuntutan syariah. Islam mengajarkan sebuah kedisiplinan yang tinggi. Islam bukan untuk dipermainkan. Siapa yang tidak mau menegakkan kebenaran dan keadilan berarti ia memusuhi Allah. Disinilah keimanan kita ditantang.

“Barangsiapa diantaramu yang melihat kejelekan maka rubahlah dengan tangannya. Maka jika tidak sanggup maka rubahlah dengan perkataanya. Dan jika tidak sanggup rubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman”.(HR Bukhari-Muslim).

Allah SWT tidak menurunkan ayat jihad dengan jiwa pada awal diturunkannya Al-Quran. Padahal ketika itu Islam begitu dimusuhi dan ditentang. Namun Allah memerintahkan untuk tetap bersabar karena perang dalam Islam bukan ditujukan demi memenuhi nafsu amarah belaka. Sebaliknya perintah Allah untuk berperang dan memerangi orang-orang kafir baru ada setelah Rasulullah berdakwah lebih dari 12 tahun. Hal tersebut dikarenakan umat Islam tidak dapat bebas menjalankan perintah Allah SWT untuk beramal-ibadah dengan tenang. Karena dalam menjalankan ajarannya umat Islam memerlukan adanya sistim dan prinsip-prinsip Islam agar hak dan kewajiban mereka terlindungi dengan baik. Apalagi bila mereka sampai terusir dari tempat tinggalnya sendiri hanya dikarenakan mereka ingin menegakkan kalimat Tauhid maka satu-satunya jalan hanyalah melawan dan berperang.

”Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”…..(QS.Al-Hajj(22):39-40).

Rasulullah SAW berdakwah di Makkah secara sembunyi-sembunyi 3 tahun lamanya. Setelah itu turun ayat agar beliau berdakwah secara terang-terangan. Namun ajakannya menuju kebaikan, menuju penyembahan Tauhid yang benar, tidak disambut dengan baik. Sebaliknya Rasulullah dan para sahabat malah diejek, dilecehkan dan dianiaya. Sejumlah sahabat seperti Sumayyah dan suaminya disiksa kemudian dibunuh. Siksaan demi siksaan terus ditingkatkan. Kaum musyrikin yang keras kepala tersebut bahkan melakukan pemboikotan. Selama 2 atau 3 tahun para sahabat hidup dalam kesulitan baik dalam hal makanan dan minuman maupun berinteraksi dengan dunia luar.  Padahal mereka tidak berbuat kejahatan, mereka hanya ingin memurnikan penghambaan dan penyembahan kepada yang berhak.  Bahkan Rasulullahpun tidak luput dari ancaman pembunuhan sehingga akhirnya kaum Muslimin terpaksa menuju Madinah meninggalkan kota kelahiran mereka, Makkah, kota dimana mereka mencari nafkah kehidupan selama ini, meninggalkan sanak saudara, harta dan semua yang dicintai dan dimiliki.

Namun di kota baru tersebut, kaum Muslimin tetap tidak dapat hidup dengan  tenang. Kali ini kaum Yahudi yang banyak menempati wilayah-wilayah tertentu di Madinah, ikut memusuhi kaum Muslimin. Mereka merasa benci dan dengki karena Sang Mesiah, utusan yang dijanjikan dalam kitab mereka, ternyata bukan datang dari kalangan mereka, melainkan dari bangsa Arab yang selama ini mereka lecehkan. ‘ Perjanjian Madinah ‘ yang isinya antara lain saling menghormati ajaran masing-masingpun mereka langgar. Orang-orang Yahudi ini malah memprovokasi penduduk Makkah dan sekitarnya agar mereka bersatu menyerang dan mengenyahkan ajaran Islam yang baru tumbuh tersebut. Akhirnya muncullah peperangan demi peperangan : Perang Badar, Perang Uhud,  Perang Parit, Perang Khaibar dan sebagainya.

“ Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti”.(QS.At-Taubah(9):12).

Perang yang mendapat izin dari-Nya mulanya memang hanya untuk mempertahankan diri.  Kemudian setelah Islam  berdiri tegak, perang diperintahkan dengan tujuan untuk menghilangkan penyembahan terhadap berhala dan kembali ke ajaran Tauhid. Kecuali bila kaum atau bangsa tersebut memiliki perjanjian damai dan mereka tidak melanggar perjanjian tersebut.. Yang demikian ini, selain harus diberi kesempatan untuk mengenal ajaran Islam dengan baik mereka juga harus dilindungi.

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. ”.(QS.At-Taubah(9):6).

Namun bila mereka melanggar perjanjian, mereka harus diperangi. Islam adalah ajaran yang tegas. Demi keadilan hukum harus ditegakkan. Setelah takluk dan berada di bawah kekuasaan pemerintahan Islam, sebagai jaminan perlindungan mereka wajib membayar jiziah. Ini adalah sebuah kewajiban sebagaimana  penduduk Muslim wajib membayar uang zakat. Dan sebagai gantinya, kaum dzimmi, sebutan bagi non Muslim pembayar jiziah, hak hidup, harta dan agama mereka dilindungi oleh penguasa.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk ”.(QS.At-Taubah(9):29).

Sementara bagi kaum atau bangsa yang tidak memiliki ikatan perjanjian apapun bila setelah didakwahi secara baik-baik tetap menolak dan tetap pada pendirian semula, apalagi bila mereka mengganggu dan menghalangi ajaran Islam maka mereka wajib diperangi. Namun demikian perempuan, anak-anak, orang tua bahkan tanamanpun sekalipun dilarang untuk dihancurkan kecuali karena sebab-sebab khusus. Jadi perang dalam Islam bukan untuk kepentingan pribadi, kelompok, ras maupun  golongan tertentu apalagi politik. Perang dalam Islam juga bukan untuk melampiaskan hawa nafsu, kemarahan dan yang semacamnya. Perang adalah demi ketaatan dalam menjalankan perintah-Nya. Perang adalah pilihan terakhir demi tercapainya masyarakat yang adil, damai, tunduk dan patuh terhadap aturan Sang Pemilik Yang Tunggal. Upah dan imbalan yang diharapkanpun bukan upah duniawi!

” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”.(QS.Asy-Syuara’(26):107-109).

Demikianlah  yang dikatakan semua Rasul dan Nabi-Nya.

Bila kita perhatikan suasana di Timur Tengah saat ini, akan terlihat nyata betapa kaum kafir telah mempermainkan, melecehkan bahkan telah sampai pada tahap penganiayaan terhadap saudara-saudara kita seiman. Rakyat Palestina telah terusir dari kampung halamannya. Mereka ditindas dan diperlakukan secara tidak adil di kampung halaman mereka sendiri. Maka wajib hukumnya bagi umat Muslim dimanapun berada untuk membela hak dan keimanan mereka. Jiwa mereka terancam, bahkan demi melaksanakan kewajiban segala perintah dan larangan-Nya.

“Kamu akan melihat kepada orang-orang Mukmin itu dalam hal kasih-sayang diantara mereka, dalam kecintaan dan belas kasihan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasa sakit maka akan menjalarlah kesakitan itu pada anggota tubuh yang lain dengan menyebabkan tidak dapat tidur dan merasakan demam.”(HR Bukhari).

Jalan bagi mereka tiada kata selain berjihad dengan jiwa yaitu berperang. Musuh mereka dalam hal ini adalah musuh yang nyata, yaitan dalam bentuk manusia. Mereka adalah orang-orang kafir yang berusaha menyesatkan manusia dari menyembah hanya kepada-Nya. Dan kita sebagai saudara seiman, wajib untuk membantu dengan segala upaya karena sesama mukmin adalah saudara. Dalam jihad menghadapi orang kafir Allah SWT menghendaki agar kaum mukmin bersatu, saling membantu dan saling menasehati.

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS.Al-Hujurat (49):10).

Namun  sayang  pada  kenyataannya, kaum  kafir  telah  berhasil meng-adu domba sesama  mukmin.   Tampak  nyata  bahwa Zionis Israel, dibidani para    Freemansori    yang    bersembunyi    dibalik   pemerintahan  Amerika  Serikat,  telah  berhasil  memaksakan  kemauan mereka dengan menolak  pemerintahan resmi Palestina yang nyata-nyata dimenangkan secara demokrasi hingga menimbulkan perpecahan didalam negri tersebut. Bahkan mereka telah berhasil memaksakan boikot ekonomi terhadap negeri yang telah menjadi  sedemikian  sempit ini.  Dengan kekuatan  mereka   dibidang  penyiaran baik  penyiaran  melalui media   cetak  maupun media  elektronik,  mereka berhasil  secara  sepihak memaksakan   opini  mereka    ke pihak   lain. Termasuk juga peristiwa Holocaust, yaitu peristwa pembantaian bangsa Yahudi secara besar-besaran oleh pihak Jerman di masa lalu yang menghebohkan itu.

Bila diperhatikan, di Barat saat ini orang dapat dengan mudah melontarkan kritik terhadap apapun bahkan terhadap Yesus sekalipun. Namun tidak bila terhadap Holocaust maupun segala yang berhubungan dengan kebijaksanaan Israel, Zionisme Yahudi khususnya. Hal tersebut terbukti nyata ketika beberapa waktu yang lalu Presiden Iran, Ahmadinejad, menyelenggarakan konferensi pers membahas tentang kebohongan Holocaust. Sontak pihak Baratpun bereaksi keras, mereka mengancam dengan menjatuhkan hukuman berat bagi para nara sumber yang turut berpartisipasi dalam konferensi tersebut. Sesuatu yang sungguh mengherankan!

Doktor Frederick Toben, cendekiawan Australia asal Jerman, menyatakan bahwa peristiwa Holocaust adalah suatu peristiwa yang terlalu dibesar-besarkan. Menurutnya hal tersebut sengaja dilakukan sebagai alasan dan jalan untuk lebih memudahkan pihak Yahudi agar dapat membentuk negara dan kerajaan yang mereka cita-citakan di atas tanah yang lebih dari ribuan tahun telah menjadi tempat tinggal bangsa Palestina. Dengan alasan itulah Zionis berhasil mendoktrin orang Yahudi di seluruh dunia untuk ’kembali’ berkumpul di tanah yang mereka klaim sebagai tanah leluhur. Maka dengan izin dan restu PBB yang sangat pro Barat, sekarang ini Yahudi berhasil mendirikan negara Israel. Bahkan hingga detik ini dengan cara semena-mena negara ini terus berupaya memperluas wilayah kekuasaannya tanpa mau menghormati perjanjian internasional yang telah disepakati bersama.

Selain Toben tercatat puluhan ilmuwan dan cendekiawan yang sepakat dengan apa yang dikatakan Toben meski terpaksa menerima berbagai ancaman. Mereka itu diantaranya adalah David Irving dari Inggris,  Germar Rudolf  kimiawan asal Jerman, Louis Marshalko dari Hungaria penulis buku “The World Conquerers”, dan Norman G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis buku “The Holocaust Industry”.

Demikian pula keadaan negara-negara Muslim seperti Irak dan Afganistan yang telah dijajah dan diduduki oleh orang-orang kafir dengan berbagai alasannya. Allah SWT telah berulang-kali mengingatkan bahwa orang-orang kafir itu ingin menyesatkan diri orang mukmin dengan cara yang tidak kita sadari. Islam mengajarkan suatu ketegasan bila kita ingin menang dan ingin dihargai. Kita harus melawan dan menunjukkan jati diri sebagai pasukan Allah demi menumpas kemungkaran.

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka”. (QS.An-Ni’sa(4):89-90).

Dan pahala bagi orang yang berperang karena membela agama Allah adalah pahala yang besar baik di dunia maupun di akhirat nanti. Orang-orang ini adalah orang-orang yang bertakwa, yang berperang karena mengharap ridho’-Nya, yang pantang menyerah, yang bersabar sambil senantiasa berdoa agar Allah SWT mengampuni segala kesalahan atas dosa dan tindakan yang berlebihan dalam berperang serta memohon agar teguh dalam berpendirian.

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka, sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do`a mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”.(QS.Ali-Imraan (3):146-148).

 Sedangkan balasan bagi mereka yang mati syahid (dalam berperang) adalah kenikmatan di akhirat bersama para nabi. Semuanya itu disebabkan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

 “Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.(QS.An-Nisa (4):69).

Disamping itu cobalah kita perhatikan  jumlah korban dalam sejarah peperangan Islam.  Selama hampir 23 tahun itu tercatat telah terjadi kurang lebih 20 perang besar dibawah kepemimpinan Rasulullah saw. Berdasarkan penelitian yang dilakukan seorang sejarahwan Dr. Muhammad Imarah ternyata jumlah korban yang jatuh selama itu hanyalah 386 orang saja, baik dari pihak Muslim maupun pihak musuh. Bandingkan dengan perang saudara antara Katholik vs Protestan yang terjadi selama 30 tahun antara 1618-1648. Perang ini menelan korban jiwa 10 juta orang! Menurut Voltaire (1694-1778), seorang filsuf Perancis, jumlah tersebut sama dengan jumlah 40% penduduk Eropa Tengah pada abad pertengahan.

Bandingkan juga dengan  jumlah korban suku Indian yang tewas paska lahirnya UU Indian Removal Act tahun 1830 yang menyebabkan 70.000 orang Indian tewas dan terusir dari tempat tinggalnya sendiri. Atau bandingkan dengan jumlah korban bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945 oleh pihak Amerika Serikat pimpinan Presiden F.D.Rosevelt. yang katanya menjunjung tinggi nilai HAM. Dalam waktu hitungan sekian menit peristiwa biadab ini menelan korban tewas 140 ribu penduduk tak berdosa Hirosima dan 70 ribu penduduk Nagasaki. Belum lagi korban cacat akibat radiasi kimianya yang berdampak.benar-benar berbahaya.

Jadi jelas, jihad fisik dalam Islam bukan bentuk pemaksaan agar seseorang mau memeluk agama yang lurus ini, sebagaimana sering dituduhkan bahwa Islam adalah agama pedang. Allah SWT memang memerintahkan agar umat Islam berdakwah, yaitu menyadarkan kembali ingatan mahluknya yang lupa, mengajak sekaligus mengajarkan agar seluruh manusia kembali ke jalan yang benar, yaitu menyembah hanya kepada-Nya sebagaimana yang diajarkan Islam melalui Rasulullah SAW dan para Rasul pendahulunya sebelum diselewengkan. Karena yang demikian itu selain akan membebaskan manusia dari api neraka kelak, juga akan memancing ridho Allah agar bumi dan seluruh isinya tetap terjaga dalam keamanan, kemakmuran dan kestabilannya sebagaimana bergulirnya sistim alam semesta yang selalu dalam ketaatan dan kepatuhannya. Tidak ada paksaan dalam hal ini karena manusia memang diperbolehkan memilih, takwa atau durhaka.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui…”. (QS.Al-Baqarah (2): 256).

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. Asf-Shaff(61):4).

Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan bila seseorang telah memilih dan menentukan jalan hidupnya ia wajib mengikuti dan mematuhi aturan hukum jalan yang dipilihnya itu, terpaksa ataupun tidak terpaksa!

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Juli 2007.

Vien AM.

Read Full Post »

Peran agama dalam kehidupan.

Marilah kita merenung sejenak. Sesungguhnya siapakah kita ini? Mengapa dan atas kehendak siapakah sehingga kita ini lahir di dunia?Siapakah yang berkuasa menentukan dari ayah dan ibu mana kita lahir? Kemudian pada saatnya nanti, siapa pula yang berkuasa mencabut nyawa kita? Sanggupkah kita menghindarinya?

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…………..”. (QS.Ali Imran(3) :145).

Tidak ada keraguan, Dia yang telah menciptakan tentu kepada-Nya pulalah kita dikembalikan. Dialah, Sang Pencipta yang Satu, Dia pula yang kuasa menciptakan bumi dan langit dan apa yang ada diantara keduanya.

Maka dengan keyakinan yang demikian, tidak ada sesuatupun yang berhak kita takuti. Hanya kepada-Nya lah kita mengabdi dan hanya Dialah yang sanggup menolong kita keluar dari berbagai kesulitan dan permasalahan bila Dia menghendaki. Hidup kita akan bebas dan merdeka dari segala macam kebiasaan, budaya&tradisi, peraturan bahkan doktrin sekalipun yang dibuat dan dikendaki oleh sekelompok manusia. Karena manusia mempunyai kepentingan, tidaklah demikian dengan Nya.

Dialah yang telah mengutus seluruh Rasul dan nabi ke bumi, dari  Adam hingga  Muhammad saw, termasuk diantaranya Ibrahim, Musa, Daud , Sulaiman  dan juga Isa  as. Rasul yang datang kemudian, selalu membenarkan Rasul yang sebelumnya dan apa yang dibawanya. Para rasul tersebut diutus untuk mengajarkan hakekat dan makna hidup ini, apa tujuan manusia diciptakan, siapa yang menciptakannya, bagaimana menjalani dan mengisi hidup ini, apa hak dan tanggung jawabnya. Juga dijelaskan  kejadian yang lalu dan  yang akan datang.

Hingga kemudian Dia mengutus Muhammad saw untuk menyempurnakan ajaranNya, ajaran yang sebetulnya sama dengan ajaran para rasul terdahulu, menyeru agar manusia mau berpikir dan kembali ke fitrah sekaligus menceritakan segala penyimpangan yang terjadi sepeninggal para rasul.

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah ………Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, ……… (QS.An-Nisaa(4):171).

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.(QS.Al-Maidah(5):72).

Dia juga mengingatkan apa yang telah terjadi dialam ruh , alam sebelum manusia dilahiran ke bumi.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,(QS.Al Araf(7):172).

Karenanya sungguh mustahil bila agama-agama yang dibawa para rasul tersebut saling bertentangan.

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini,adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka(masing-masing).Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.” ( QS.Al Mu’minuun (23):53-54).

Yang berbeda, hanyalah cara beribadah atau syariatnya.

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

Kita, umat Islam sebagai umat rasul penutup, berkewajiban menyampaikan apa yang tertulis dalam kitab suci kita, Al Quran, secara keseluruhan tidak sebagian-sebagian.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS.Al Baqarah(2):208).

Wallahua’lam bi shawab.

Jakarta,26/9/2006.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »