Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Tak seorangpun mengetahui kapan persisnya Kiamat bakal terjadi.  Ayat Al-Quran hanya mengatakan bahwa hari yang maha dasyat tersebut terjadi secara tiba-tiba.

”Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba … ” (QS.Al-An’am(60:31).

Berikut beberapa ayat yang menunjukkan betapa mengerikannya keadaan hari akhir yang di dustakan keberadaannya oleh orang-orang kafir.

” Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan”. (Terjemah QS.Al-Qoriah(101):3-5).

”Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”,(Terjemah QS.Al-Zalzalah(99):1-3).

”Apabila langit terbelah dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh dan apabila bumi diratakan dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi  kosong”, (Terjemah QS.Al-Insyiqoq(84):1-4).

”Apabila langit terbelah dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan dan apabila lautan dijadikan meluap dan apabila kuburan-kuburan dibongkar”, (Terjemah QS.Al-Infithor(82):1-4)

”Apabila matahari digulung dan apabila bintang-bintang berjatuhan dan apabila gunung-gunung dihancurkan dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan) dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan dan apabila lautan dipanaskan dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)”,(Terjemah QS.At-Takwir(81):1-7).

”(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras”. (Terjemah QS.Al-Hajj(22):2).

”(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata:

“Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur lumat?” Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan“.

(Terjemah QS.An-Nazi’at(79):6-12).

”Ia bertanya: “Bilakah hari kiamat itu?” Maka apabila mata terbelalak (ketakutan) dan apabila bulan telah hilang cahayanya dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat lari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali”. (Terjemah QS.Al-Qiyamah(75):6-12).

Ketika suatu hari Rasulullah ditanya para sahabat kapankah hari yang sungguh mengerikan ini akan datang, Rasulullah menjawab bahwa Sang Khalik tidak memberinya ilmu tentang hal tersebut. Allah swt hanya memberi tahu tanda-tandanya saja.

“Nabi Saw. datang kepada kami, sementara kami tengah berbincang-bincang. Beliau bertanya, ‘Apa yang sedang kalian perbincangkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami sedang membicarakan masalah hari kiamat.’

Rasulullah Saw. berkata, ‘Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi hingga kalian –sebelumnya- melihat sepuluh tanda.’ Lalu beliau menyebut asap, Dajjal, binatang, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa Bin Maryam, Ya’juj, Ma’juj dan terjadi tiga kegelapan: kegelapan di timur, kegelapan di barat dan kegelapan di jazirah Arab. Dan akhir dari semua itu adalah keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat perhimpunannya.” (H.R.Muslim).

Hadist shohih diatas menyebutkan bahwa kedatangan Dajjal adalah merupakan salah satu tanda kedatangan Hari Kiamat. Namun tahukah kita sebenarnya apa, siapa dan bagaimanakah Dajjal itu ?

Al-Imam Al-Qurthubi ra dalam kitab At-Tadzkirah mengatakan bahwa lafadz Dajjal ( arti secara bahasa ) dipakai untuk sepuluh makna. Di antaranya: Kadzdzab (tukang dusta)dan Mumawwih (yang menipu manusia).

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ra mengatakan:“Dikatakan demikian karena dia adalah manusia yang paling besar penipuannya.”

Sementara itu Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ra mengatakan (Dajjal secara istilah):“Dajjal adalah Seorang laki-laki pendusta (penipu) yang keluar di akhir zaman mengaku sebagai Rabb/Tuhan”.

Para ulama berpendapat bahwa saat ini kita telah berada pada waktu yang teramat dekat dengan kedatangan Dajjal, si raja Yahudi terlaknat. Berbagai tanda telah menunjukkan hal tersebut. Dari hadits kita tahu bahwa Hari Kiamat datang didahului dengan beberapa tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar. ( Hadits diatas adalah hadits yang menunjukkan tanda-tanda besar ).  Dajjal, si Pembohong besar ini akan datang menjelajahi berbagai sudut dunia kecuali Makkah, Madinah, Al-Quds ( Yerusalem ) dan Tha’if bersama pasukannya yang berjumlah lebih dari 70.000 orang.

Dari Anas ra, Rasulullah bersabda : “Yang akan mengikuti Dajjal adalah Yahudi Ashbahan dan 70.000 dari mereka memakai pakaian yang tebal dan bergaris”.(HR. Muslim no. 5237 )

Hadis riwayat Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: ”Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan dajjal-dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh, semuanya mengaku bahwa ia adalah utusan Allah ”.(Shahih Muslim No.5205).

Kita telah menyaksikan sendiri kemunculan sejumlah dajjal kecil yang membawa keahlian sihirnya yang begitu mampu mempesona pandangan kita. Sejumlah nabi-nabi palsu juga telah berhasil memperdaya banyak orang. Akankah kita siap menghadapi fitnah, sihir serta kenikmatan palsu yang lebih besar lagi ? Apa yang harus kita persiapkan ?

Rasulullah memperingatkan para sahabat untuk tidak menganggap ringan kehebatan pengaruh si mata satu ini. Rasulullah bahkan berkata lebih baik mereka bersembunyi dari pada menghadapinya. Ini tidak ada hubungannya dengan sifat pengecut, munafik apalagi murtad. Kita tahu betapa kerasnya ayat-ayat tentang kewajiban jihad dalam rangka menegakkan kebenaran dan menghadapi kemungkaran. Dan para sahabat telah membuktikan kesetiaan, ketaatan dan ketakwaan mereka. Para sahabat adalah manusia yang dikenal kuat keimanannya. Lalu bagaimana dengan kita yang rata-rata jauh dari kwalitas keimanan mereka padahal kita hidup di masa yang rawan dan berbahaya tersebut?

Dari Abu Umamah ra, Rasululah bersabda : “ dan diantara fitnahnya ia membawa surga dan neraka. Nerakanya adalah surga sedangkan surganya adalah neraka. Barangsiapa duji dengan nerakanya hendaklah ia berlindung kepada Allah dan membaca pembukaan surah Al-Kahfi karena ia akan menjadi jernih dan dingin sebagaimana api Ibrahim yang dingin dan menyelamatkannya. Di antara fitnahnya yan lain ia melewati suatu perkampungan tetapi penduduknya membohonginya maka tidak ada binatang ternak mereka yang tersisa kecuali binasa. Ia juga melewati suatu perkampungan dan penduduknya mempercayainya lalu ia menyuruh langit untuk mernurunkan hujannya dan bumi menumbuhkan tanamannya maka turunlah hujan dan tumbuhlah tanamannya sehingga binatang ternak mereka pada waktu itu menjadi lebih gemuk dan banyak susunya”.(HR Ibnu Majah dan Hakim)

Allah swt sengaja membekali orang terlaknat ini dengan kehebatan yang begitu dasyat. Ini adalah merupakan cobaan terberat dan terbesar bagi orang-orang di akhir zaman yang cenderung sering  lupa dan lalai akan keberadaan-Nya. Hanya orang-orang dengan keimanan super tinggi serta senantiasa berpegang kepada tali-Nyalah yang bakal lolos dari cobaan dan petaka besar ini. Untuk itu Rasulullah mewanti-wanti kita, umat yang dicintainya, agar membaca 10 ayat pertama surat Al-Kahfi terutama setiap hari Jumat, disamping mengerjakan ibadah-ibadah lainnya tentunya.

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470).

Berikut terjemahan surat Al-Kahfi  ayat 1 – 10 :

1.Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;

2.sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,

3.mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.

4.Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak“.

5.Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.

6.Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).

7.Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

8.Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.

9.Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?

10.(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

Dalam rangka mengantisipasi fitnah Dajjal ini Rasulullah juga mengajarkan agar kita selalu membaca doa dibawah ini setiap kali kita usai membaca tahiyatul akhir sebelum mengucapkan salam :

”Allahumma inni a’udzubika min adzaabil jahannam wa min adzaabil qubur wa min fitnatil mahyaa wa mamaati wa min fitnatil masiihid Dajjal”.

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa ( neraka ) Jahanam dan dari siksa kubur dan dari fitnah hidup dan mati serta dari fitnah Dajjal ”. (HR Muslim).

Na’udzu billah min dzalik.

Jakarta, 15/2/2009

Vien AM.

Read Full Post »

Beberapa tahun belakangan ini muncul gagasan ‘ajaib’ tentang konsep keber-agama-an, yaitu Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme. Hal ini timbul disebabkan adanya rasa toleransi antar agama yang berlebihan. Dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, perbedaan adalah suatu hal yang biasa dan lumrah. Pada Zaman Rasullullah pun hal tersebut pernah terjadi yaitu pada awal periode Madinah. Pada saat itu kaum Muslimin hidup berdampingan dengan kaum musyrikin penyembah berhala, Yahudi dan Nasrani. Mereka menjalankan ibadahnya dengan caranya masing-masing.

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku“.(QS.Al-Kafirun(109):1-6).

Selama periode tersebut dakwah Islam memang terus berlangsung namun tanpa paksaan. Allah swt menghendaki semua manusia didunia ini tanpa kecuali berhak menerima peringatan dan kebenaran dari-Nya karena Islam bukan hanya merupakan hak istimewa dan monopoli bangsa Arab.

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.(QS.Ali-Imraan(3):138).

Sebaliknya bagi orang yang telah menerima Islam, mau tidak mau, terpaksa ataupu tidak, mereka harus menerima konsekwensinya. Allah menjamin keselamatan kaum Muslimin selama mereka taat dalam menjalankan hukum dan perintah-Nya.

“ Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Tagut* dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS.Al Baqarah (2):256).

Pengusiran terhadap kaum Yahudi akhirnya terjadi karena mereka terus-menerus merongrong dan bahkan tidak saja mengancam jiwa Muhammad saw namun juga kelangsungan ajaran agama yang masih berumur sangat muda tersebut.

Namun di Indonesia saat ini, toleransi antar agama tidak lagi sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Dialog antar agama kerap dilakukan para pemuka dan cendekiawan agama tetapi hasilnya baru sebatas menghindari perselisihan saja., tidak mencapai substansi yang mendasar. Hal ini terbukti dengan malah munculnya berbagai aliran atau isme seperti Pluralisme (Semua agama sama), Sekularisme (Agama dipisahkan dari kehidupan sehari-hari)dan Liberalisme (Kebebasan untuk menafsirkan ayat-ayat suci).

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS.Al Baqarah(2):208).

Padahal demi mencapai suatu kebenaran, perdebatan kadang memang harus terjadi. Yang diperlukan adalah kedewasaan, sikap untuk saling terbuka, sikap untuk mau menerima kenyataan bahwa sesuatu yang sudah terbiasa dan lama diyakini ‘benar’ belum tentu kebenarannya, kalau memang itu terbukti tidak benar. Suatu sikap lapang dada untuk menerima kesalahan dan kekhilafan dengan penuh kesadaran. Disamping itu yang benarpun tidak perlu merasa congkak dan arogan, karena yang dicari adalah kebenaran. Jadi bukan masalah kalah.menang ataupun mengalah.

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”.(QS.An-Nisaa(4):159).

Sebaliknya dengan mengambil sikap jalan tengah seperti menyamakan semua agama ataupun menyatakan bahwa semua agama adalah benar tentu berbahaya.

“ Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62).

Ayat inilah yang sering dijadikan pegangan bagi mereka yang bersiteguh bahwa semua agama adalah sama dan benar disisi Allah SWT. Padahal yang dimaksud ayat diatas adalah orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang mengimani seluruh rasul dan kitab termasuk Muhammad SAW dan Al-Quranul Karim. Atau bagi mereka yang hidup pada zaman sebelum Islam datang, tidak merubah-rubah kitab mereka yaitu Taurat ataupun Injil yang dibawa Musa AS dan Isa AS.

“ Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.(QS.Ali Imran(3):85).

Hal ini tentu akan berakibat sangat buruk karena pada akhirnya orang-orang seperti ini cenderung hanya mementingkan keimanan saja tanpa merasakan keharusan untuk melaksanakan kewajiban / syariat sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw.

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat……….”.(QS.Al-Baqarah(2):110)

“……Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(QS.An-Nisaa(4):103).

Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.(QS.Al-Maidah(5):5).

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.(QS.An-Nuur(24):52).

Dari Abu Hurairah ra, Rasululah bersabda: “Bangsa Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nasrani telah terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu”. Kemudian para sahabat pun bertanya: “Siapa mereka ya Rasulullah?”. Rasullah menjawab: “Mereka yang mengikutiku dan sahabat-sahabatku”.


Wallahu’alam bishawab.

Jakarta,2/10/2006.

Vien AM.

Referensi : – Hegemoni Kristen-Barat” (dalam studi Islam di perguruan tinggi) oleh Adian Husaini.

Read Full Post »

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata (Al-‘Aalimul Ghoib wa Syahaadah) , Dia-lah Yang Maha Pemurah (Ar-Rohmaan) lagi Maha Penyayang (Ar-Rohiim). Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja (Al-Maalik), Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera (As-Salam) , Yang Mengaruniakan keamanan (Al-Mu’min), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa(Al-Azis), Yang Maha Kuasa (Al-Jabbaar), Yang Memiliki segala keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan (Al-Khaaliq), Yang Mengadakan (Al-Baari’), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushawwir), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.Al-Hasyr(59):22-24).

Ilmu Pengetahuan dan Sains menyatakan bahwa cahaya Matahari adalah sumber kehidupan bagi manusia, binatang dan tumbuhan yang ada di dunia ini. Tanpanya berbagai bakteri dan virus akan bebas menyerang dan mengancam kehidupan. Tidak ada keraguan didalamnya, setiap orang mengetahui dan meyakini hal tersebut. Cahaya matahari ini dipancarkan setiap hari dimulai sejak terbitnya hingga terbenamnya. Di pagi dan siang hari inilah manusia dan segala hewan serta tumbuhan memanfaatkan keberadaan matahari dan sinarnya secara maksimal.

Tumbuhan memanfaatkan cahaya matahari agar terjadi proses pembentukan hijau daun yang berfungsi sebagai dapur umumnya. Demikian pula manusia. Pada waktu itu manusia tidak hanya pergi bekerja mencari nafkah. Namun yang terpenting manusia tanpa disadari sesungguhnya sedang menyempurnakan proses perkembangan hidupnya. Pada saat itu dengan bantuan cahaya matahari, sel-sel manusia atas izin-Nya bekerja menyempurnakan perkembangan tubuhnya, tulang dan sendi adalah diantaranya. Betapa banyak penyakit yang disebabkan oleh kekurangan cahaya matahari.

Sebaliknya terus menerus dibawah sorotan cahaya matahari yang terik juga berbahaya bagi kesehatan. Cahaya matahari dapat dihindari, dapat terhalang dan dihalangi oleh sesuatu. Ketika matahari sedang terik-teriknya kita bisa menggunakan bantuan payung atau topi untuk melindungi diri kita. Cahaya matahari juga bisa terhalang oleh bangunan-bangunan tinggi di kota ataupun terhalang oleh gunung-gunung. Bahkan di kutub terutama kutub selatan, orang jarang sekali menerima cahaya matahari.

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(QS.An-Nuur(24):35).

Namun tidak demikian dengan cahaya Allah. Cahaya Allah berlapis-lapis dan kekal. Cahaya ini menembus hingga ke segenap penjuru dan sudut jagat raya. Bumi, bulan, bintang, langit dan seluruh galaksi yang jumlahnya diperkirakan mencapai milyaran ini semuanya menerima cahaya Allah. Sebaliknya benda-benda kecil yang tersembunyi seperti semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam di dalam gua di hutan rimba belantara ketika malam gelap gulitapun dapat ditembusnya. Demikian pula hati manusia. Oleh sebab itulah Allah mengetahui apa yang berada dibalik hati manusia dan apa yang dibisikkannya. Itulah Allah SWT, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Menyaksikan, Yang Maha Tinggi.

Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “. (QS.Ali Imran(3):29).

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS.Al-An’am (6):59).

Di bawah kekuatan Maha Dasyat inilah diatur dan ditata-Nya seluruh jagat raya ini hingga sedemikian rupa. Semua benda-benda ini tunduk patuh terhadap kemauan-Nya. Semua bertasbih dengan caranya masing-masing. Inilah kerajaan Allah, Yang Maha Cerdas, Yang Maha Agung, Yang Maha Mulia, Yang Maha Memiliki, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Pemelihara, Yang Ghaib, Yang Maha Benar.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.(QS.Al-Isra’(17):44).

Cahaya Allah ini begitu sempurna dan indah. Namun sebagaimana sifat cahaya yang menyilaukan, bila cahaya matahari saja manusia tak sanggup menatapnya apalagi menatap Sang Maha Pemilik Cahaya. Inilah yang terjadi terhadap Nabi Musa as ketika ia memohon Allah SWT agar diizinkan menatap-Nya.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS.Al-‘Araaf(7):143).

Allah, Dialah Yang Maha Bercahaya, Yang Maha Indah, Sang Pemancar Kasih Sayang, Sang Pembawa Kebaikan, Yang Maha Sabar, Yang Memberi Rezeki, Yang Maha Menentukan. Allah, Dialah yang menunjuki manusia cahaya kepada jalan yang lurus, jalan yang benar. Sesungguhnya mengenal dan menyembah hanya kepada-Nya adalah fitrah manusia namun bila hati manusia kotor maka cahaya-Nya tidak menampakkan diri, tertutup oleh kotoran yang menyelimutinya. Namun bila manusia mau bertobat dan membersihkan diri maka Dia akan mengampuni dan memaafkannya. Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Yang Maha Pemaaf, Yang Maha Memberi Petunjuk, Yang Maha Pemberi Taubat.

”Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS.Al-Ikhlas(112):1-4).

Tiada kecintaan yang lebih dalam, lebih murni dan lebih suci daripada kecintaan terhadap Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Bukan hanya karena Dia telah memberikan segalanya kepada mahluknya namun terlebih karena Dialah kita menjadi ada. Dia yang memberi kehidupan hingga dengan demikian kitapun berkesempatan mengenal-Nya. Dia yang membuat kita mengenal dan mengetahui arti sebuah kehidupan, Dia yang mengajari segala kebaikan, kelembutan dan kasih sayang. Dia yang mengajari arti sebuah kesabaran sekaligus ketegasan serta kedisiplinan. Dia yang tidak pernah bosan merahmati mahluknya, membimbing serta menunjuki jalan yang benar, jalan yang lurus.

Rasulullah bersabda bahwa kenikmatan tertinggi di surga adalah kenikmatan memandang Wajah Allah Azza wa Jalla, Sang Maha Pencipta, Sang Raja Dari Segala Raja. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah pernah ditanya seseorang : “ Wahai Rasulullah, apakah kita bisa memandang Rabb?”. Beliau menjawab : “ Apakah ada yang menghalangi pandangan kalian terhadap rembulan pada malam purnama, ketika tidak terhalang awan?”. “Tidak”. Jawab orang itu. Beliau bersabda : “ Begitu pula kalian memandang-Nya pada hari Kiamat”.

Dia yang dengan setia setiap waktu dan senantiasa mau menyediakan waktu-Nya untuk mendengar keluh kesah apapun dan dalam keadaan bagaimanapun hamba-Nya yang datang mengadu. Dan Dia yang selalu siap memberikan maaf-Nya betapapun besar kesalahan dan kotornya jiwa ini. Dia Yang Memiliki 99 nama yang disebut dan sejumlah nama yang tersembunyi. Hanya kepada-Mu lah semua mahluk kembali. Maka kembalikanlah kami kelak ke tempat kembali yang mulia, disisi-Mu Ya Allah, disisi kekasih-Mu Muhammad SAW, disisi para Rasul, disisi para hamba-Mu yang taqwa, Yang Memuliakan-Mu, Yang Meng-Agungkan Mu.Ya Allah kabulkanlah permohonan kami ini, amin Ya Robbal ’Alamin.

Sabda Rasulullah : “Allah SWT memiliki sembilan puluh sembilan nama – seratus kurang satu – tidaklah menghafalnya kecuali akan dimasukkan kedalam surga, Allah itu ganjil (tunggal ) dan menyukai yang ganjil”. (HR Bukhori –Muslim).

Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang banyak kesedihan atau gundah gulana lalu berdo’a : “Yaa Allah sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, ubun-ubunku ada pada tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku atasku, ketentuan-Mu adil untukku, aku memohon kepada-Mu dengan semua nama-Mu yang engkau namakan kepada-Mu atau yang telah engkau ajarkan kepada seseorang dari mahluk-Mu atau yang telah Engkau turunkan didalam kitab-Mu atau nama yang Engkau rahasiakan didalam ilmu ghaib-Mu, jadikanlah Al-Quran sebagai pelipur lara hatiku dan cahaya dadaku dan penghapus kesedihan dan kerisauanku”, maka pastilah Allah SWT akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya dan diberikannya jalan keluar”. (HR Ahmad).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Desember 2007.

Vien AM.

Read Full Post »

Dari Irbadh bin Sariyah ra, ia berkata :” Pada suatu hari setelah shalat Subuh Rasulullah saw menasehati kami dengan suatu nasehat yang membuat kami menangis dan sedih. Lalu ada seorang yang berkata: “ Ya, Rasulullah ini adalah pesan perpisahan, lalu apa yang anda wasiyatkan kepada kami ? Rasulullah menjawab :”Aku wasiyatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah swt dan selalu mendengar dan taat (kepada pemimpin) meskipun pemimpin itu seorang budak Habasyi. Maka barangsiapa yang hidup (panjang umur) akan melihat banyak ihtilaf (perbedaan), maka berhati-hatilah terhadap hal-hal yang baru (bid’ah), karena sesungguhnya bid’ah itu sesat. Maka barangsiapa diantara kalian yang menjumpai masa itu maka berpegang-teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’Arrosyidiyin, peganglah erat-erat dan jangan sampai lepas”.

Hadis diatas menunjukkan bahwa perbedaan diantarasesama umat Islam memang tidakdapat dihindarkan. Namun perbedaan yang beresiko memunculkan perpecahanapalagi yang tidak sesuai lagi dengan sunnah Rasulullah dan apa yang telah dicontohkan para Khulafa’Arrasyidin ( Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra)harus dihindari. Perpecahan ini bahkan sesungguhnya telah mulai terlihat begituRasulullah memasuki hari-hari akhirnya.

“Sesungguhnya akan ada tiga puluh orang pendusta di tengah umatku. Mereka semua mengaku nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.”

Hadits ini diriwayatkan lebih dari satu orang diantaranya adalah Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Bukhari-Muslim juga meriwayatkannya walaupundengan redaksi berbeda.

Pada masa akhir kerasulan, di Yaman muncul seorang yang mengaku bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu untuk meneruskan ajaran Rasulullah. Namun tak lama kemudian nabi palsu tersebut segera ditangkap dan diadili. Kemudian muncul lagi dari Bani Asad, seorang bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal. Pada tahun 9 H, dia datang bersama kaumnya kepada Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Ketika Rasulullah sakit keras, ia memproklamirkan dirinya sebagai nabi. Thulaihah dan pasukannya pernah beberapa kali bertempur dengan kaum Muslimin namun selalu kalah. Kemudian bersama istrinya, ia melarikan diri ke Syam. Beruntung di tempat tersebut ia mendapatkan hidayah dan kembali ke pangkuan Islam. Thulaihah mati syahid dalam Perang Nahawand tahun 21 H.

Nabi palsu yang paling sering disebut-sebut namanya adalah Musailimah bin Tsumamah bin Habib Al-Kadzdzab, seorang laki-laki dari Yamamah. Ia berhasil mendapat pendukung yang banyak hingga dikhawatirkan membahayakan ajaran dan aqidah Islam. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, orang tersebut memberontak dan menolak perintah zakat hingga Abu Bakar terpaksa mengirim pasukan untuk memeranginya. Dalam peperangan ini pihak Muslim kehilangan banyak sekali penghafal Al-Quran. Ini yang menyebabkan Umar bin Khattab menyarankan Abu Bakar agar segera memerintahkan para sahabat mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang kemudian pada masa Ustman bin Affan dibukukan hingga seperti sekarang ini.

Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi, juga ada nabi palsu bernama Al-Harits bin Said Al-Kadzdzab. Dulunya, ia adalah seorang zuhud yang ahli ibadah. Namun sayang, ia tergelincir dari jalan Allah dan mengikuti jalan setan. Ia didatangi iblis dan diberi ‘wahyu.’ Ia bisa membuat keajaiban2 laksana mukjizat seorang nabi. Saat musim panas, ia datangkan buah-buahan yang hanya ada pada musim dingin. Dan ketika musim dingin, ia datangkan buah-buahan musim panas. Sehingga, banyak orang yang terpesona dan mengikuti kesesatannya. Akhirnya ia ditangkap dan oleh Khalifah Abdul Malik disuruh bertaubat. Sejumlah ulama didatangkan untuk menyadarkannya. Namun peringatantersebut tidak diindahkannya hingga khalifah terpaksa membunuhnya. Hal ini dilakukan agar menjadi peringatan bagi yang lain karena dapat merusak aqidah dan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40)

Namun hingga detik ini masih saja ada orang yang datang dan mengaku sebagai nabi. Mirza Gulam Ahmad adalah satu diantaranya. Ia mengaku sebagai nabi baru setelah Rasulullah sawdan mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi. Ia mendirikan sebuah sekte aliran sesat bernama Ahmadiyah pada tahun 1889.Ia lahir di India pada tahun1835 dan meninggal pada1908 di Lahore. Ia menafsirkan dan menambah-nambahi ayat Al-Quran hingga sesuai dengan keinginan dan kemauannya. Ahmadiyah sendiri masuk ke Indonesia pada tahun 1922. Sekte ini memiliki kitab sucinya sendiri, yaitu “Tazkirah” yang kesuciannya mereka anggap sama dengan Al-Quran! Ia juga menyatakan bahwa ada tanah suci selain Makkah dan Madinah, yaitu Qadyani dan Rabwah di India. Sesungguhnya sekte ini awalnya dibentuk sebagai taktik politik Inggris dalam rangka menaklukkan rakyat India ketika itu. Tujuanutamanya adalah memberantas dan membekukan ajaran jihad yang dilakukan rakyat Muslim India untuk melawan penjajahan di negrinya.

Disamping Ahmadiyah, beberapa aliran sesat sebenarnya juga telah ada sejak lama. Khowarij, Syi’ah dan sejumlah aliran yang bernuansa sufistik adalah diantaranya. Khowarij adalah sebuah pemikiranyang sudah ada sejak Rasulullah saw masih hidup. Suatu ketika Rasululah membagi ghonimah (harta rampasan perang). Dalam pembagian tersebut ada yang mendapat bagian banyak ada pula yang sedikit, tentunya dengan kebijakan Rasul. Kemudian muncullah seseorang yang bernama Dzulkhuwaishiroh. Ia tidak terima dengan pembagian yang dilakukan Rasul. Ia berkata “Berbuat adillah wahai Muhammad, karena sesungguhnya ini adalah pembagian yang tidak ikhlas!”

Maka Nabi bersabda, “Celaka engkau, siapa lagi yang bisa berbuat adil jika saya saja sudah (dikatakan) tidak adil. Sungguh celaka dan rugi saya jika saya tidak bisa berbuat adil.” Tatkala itu Umar Bin Khattab ra meminta izin pada Nabi untuk memenggal leher orang tersebut. Namun Rasul bersabda, “Biarkan dia. Sesungguhnya dia mempunyai pengikut yang menganggap kecil sholat kalian dibanding sholat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka (Mereka adalah ahli ibadah, -ed). Mereka membaca Alqur’an tetapi tidak sampai tenggorokan mereka. Mereka telah keluar dari batas-batas agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya.” (HR. Bukhori – Muslim ).

Aliran ini memiliki sifat khas cenderung mudah meng-kafir-kan saudaranya serta suka memberontak terhadap pemerintahan yang dinilainya dzalim. Jadi aliran memiliki sifat meledak-ledak.

Syiah terpecah menjadi beberapa kelompok yang saling bertentangan. Ada yang berpendapat Syi’ah terpecah hingga menjadi 70 kelompok namun ada yang berpendapat hingga 300 kelompok. Diantara kelompok yang terbesaradalah Az-Zaidiyyah. Hanya kelompok ini yang memiliki pemahaman sedikit mendekati Ahlu sunnah wa jamaah. Namun pada dasarnya, Syi’ah hanya mengakui ahlu bait (keluarga Rasulullah) sebagai pemimpin Islam dan Ali bin Abi Thalib adalah penerus kenabian. Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi Yaman adalah orang yang paling sering dituding sebagai penyebar aliran ini. Ialah yang menyebar fitnah bahwa para sahabat, antara lainUmar bin Khattab, Ustman bin Affan, Aisyah ra amirul mukminin adalah orang-orang yang sesat. Oleh karenanya kaum Syi’ah merasa bahwa Al-Quran yang ada saat ini tidak lagi asli karena dikumpulkan dan dibukukan pada masa pemerintahan mereka. Kaum Syi’ah juga hanya mempercayai hadis yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib.

Aliran-aliran bersifat sufisme beragam jenisnya. Ciri aliran ini sangat berlebihan dalam memikirkan kesucian jiwa/bathin. Ajaran ini sejatinya lebih mendekati ajaran Budhisme dari pada ajaran Islam. Pendapat umum mengatakan bahwa Sufisme berasal dari kata Suf, bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan para pengikut Sufisme di abad 9 M. Dasar pemikiran aliran ini adalah pembersihan jiwa dan kesederhanaan hidup dalam rangka menjauhi kemewahan duniawi menuju ke-zuhud-an. Ekstrimnya, menurut ajaran ini manusia dapat mencapai suatu tingkatan hingga menyatu dengan Tuhannya! Padahal Islam dengan jelas mengajarkan bahwa manusia adalah hanya hamba Allah yang sangat kecil dan hina. Islam juga mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Sebagai khalifah, manusia bahkan dituntut untuk mengelola, memelihara dan memimpin bumi dan isinya agar terbentuk masyarakat yang adil danmakmur.

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung ”.(QS.Al-Jumuah(62):10).

Penyimpangan dan perpecahan terus terjadi hingga detik ini. Syariah Islam terus dicoba diguncang dengan berbagi isu. Belakangan ini muncul pula ucapan dari seorang pengamat intelejen di sebuah pertemuan di kota Semarang, Jawa Tengah. Tanpa disertai bukti, ia menyatakanbahwa zakat di Indonesia digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme. Jelas ini adalah fitnah. Setelah jihad yang sekarang ini seolah telah menjadi momok menakutkan bahkan bagi telinga Muslim sekalipun, kali ini zakatpun tampaknya dicoba untuk diobok-obok. Padahal ayat tentang zakat jelas peruntukannya. Kembali hal ini membuktikan betapa syaitan begitu telah mampu menghalangi seluruh jalan menuju kebenaran. Hanya keimanan dan terus belajar mendalami serta mengkaji ayat-ayat Al-Quran dan sunah Rasulullah serta mempelajari shirah nabawiyah sajalah yang dapat menyelamatkan seseorang dari godaan dan bisikan syaitan dari jenis iblis dan manusia.

Wallahu’alam bishawab

Jakarta, Oktober 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Mengenal Al-Quranul Karim

Al-Quran adalah kitab suci milik  kaum Muslimin. Kitab ini berisi firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw melalui malaikat Jibril as. Kitab ini  merupakan panduan hidup yang memberitahukan manusia apa arti hidup, mengapa kita hidup, apa tujuannya, kemana kita akan pergi setelah mati, siapa yang menciptakan kita, bagaimana kita harus menghadapi hidup dan segala macam permasalahannya dan lain sebagainya.

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?” (QS.Al-Waqiyah(56):75-81).

Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : ”Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah saw  secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”. (22 tahun, 2 bulan 22 hari). Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah.

Ayat diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad saw sedikit demi sedikit berdasarkan situasi, seringkali turun sebagai jawaban atas suatu permasalahan dengan hikmah tertentu. Oleh sebab itu turunnya ayat tidak berurutan. Yang dimaksud ” tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” adalah Al-Quran yang berada di Lauh Mahfuz. Sedangkan Al-Quran yang ada di dunia, yang jumlahnya  tak terhitung banyaknya ini dapat disentuh oleh semua orang, baik Muslimin yang suci maupun yang tidak suci juga orang-orang Kafir.

Selanjutnya dengan petunjuk Jibril as, setiap ayat yang turun diletakkan dan diatur sesuai dengan Al-Quran yang berada di Lauh-Mahfuz. Jadi bukan atas kehendak Rasulullah saw. Adapun tentang adanya perbedaan jumlah ayat dalam Al-Quran, hal ini disebabkan adanya pengulangan. Hitungan 6236 ayat adalah hitungan tanpa memperhitungkan pengulangan ayat yang ada, sedangkan 6666 ayat adalah bila dihitung semua ayat-ayatnya.

Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab sesuai dengan utusan yang membawanya, yaitu Rasulullah Muhammad saw, sebagian di Makkah dan sebagian lainnya di Madinah. Ayat yang diturunkan di Makkah dinamakan ayat Makiyyah sedangkan yang diturunkan di Madinah disebut ayat Madaniyyah. Ayat Makiyyah biasanya pendek-pendek, menerangkan tentang aqidah dan keimanan  sedangkan ayat Madaniyyah panjang-panjang dan pada umumnya mengajarkan tentang hukum. Disamping itu ayat Al-Quran juga bisa dibagi  atas 2 macam kelompok, yaitu kelompok ayat Mutasyabihat dan ayat Muhkamat.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”(QS.Ali Imraan(3):7).

Dari ayat diatas kita ketahui bahwa ayat Mutasyabihat adalah rahasia Allah yang tidak mungkin dapat kita artikan secara pasti. Kita hanya diperintahkan untuk mengimaninya saja, tidak perlu mencari-cari maknanya. Contoh ayat ini diantaranya adalah : Alif Laam Miim, Alif Laam Raa,Yaasiin, Shot dan sebagainya.

Al-Quran terdiri atas  114 surat dan dibagi menjadi 30 juz / bagian. 19/30 bagiannya turun di Makkah. Surat pertama adalah surat Al-Fatihah yang berarti Pembukaan. Surat ini merupakan inti Al-Quran, ia adalah satu-satunya  surat yang wajib dibaca umat Islam ketika shalat. Sedang surat terakhir adalah surat An-Naas yang berarti Manusia.  Al-Quran  ini dijamin kesuciannya, ia tidak akan mengalami perubahan hingga akhir zaman. Kandungannyapun dijamin akan selalu sesuai pada segala zaman. Allah juga berjanji akan memudahkan siapa yang mau mengimaninya,  membacanya, menghafalkannya apalagi mengamalkannya.

Ali ra mengatakan :” Barangsiapa yang membaca Al-Quran dalam keadaan berdiri saat shalat, baginya setiap huruf 100 hasanah. Barangsiapa membacanya sambil duduk dalam shalat,  baginya setiap huruf 50 hasanah. Barangsiapa membacanya di luar shalat dalam keadaan berwudhu,  baginya setiap huruf 25 hasanah. Dan barangsiapa membacanya tanpa wudhu,  baginya setiap huruf 10 hasanah”.

Jadi sungguh beruntung orang yang mengerti betapa tinggi kedudukan membaca Al-Quran walaupun ia tidak faham. Karena hikmah yang paling utama adalah dalam rangka membersihkan dan menenangkan  hati. ( Baca juga :https://vienmuhadi.com/2009/10/20/why-do-we-read-quran-even-we-cant-understand-arabic/ ).

“ Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya”.QS. Az-Zumar (39): 23).

Apalagi bila kita memahami, meyakini dan kemudian mengamalkannya. Inilah yang  lebih utama.

“ Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka  dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.  Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.( QS. Al-Baqarah (2):2-5).

“ Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ”. (QS. Al-A’raf (7): 204).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, 15/5/2008

Vien AM.

Read Full Post »

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.(QS. AL Hijr (15):9).

Firman Allah swt diatas direalisasikan melalui empat tahapan berikut :

I. Pada masa Rasulullah Muhammad saw.

Bangsa Arab pada masa-masa  turunnya Al-Qur’an walaupun sebagian besar masih buta huruf adalah bangsa yang sangat kuat daya ingatnya. Sejak dulu mereka  menyukai syair dan puisi. Oleh karenanya mereka sangat menghargai para pujangga dan penyair. Mereka juga terbiasa merekam peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka seperti peperangan, peristiwa alam dan sebagainya dalam bentuk syair-syair yang indah yang kemudian  dihafalnya. Masa haji adalah masa dimana banyak orang berdatangan untuk memamerkan kebolehan mereka bersyair. Pesertanyapun beragam, mereka datang dari segala penjuru tanah Arab.

Dengan cara ini pula Al-Qur’an mulanya dipelihara. Para sahabat akan  berlomba menghafal begitu ayat turun. Disamping itu, Rasulullah saw juga memerintahkan beberapa sahabat yang dapat menulis agar segera menuliskan ayat-ayat tersebut  ke atas ’kertas’. Kertas ( al-qirthas) yang ada saat itu tidaklah sama dengan kertas yang ada sekarang ini. Kertas yang  dimaksud pada masa itu adalah benda atau bahan yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk ditulis diatasnya, seperti kulit binatang, daun, batu yang tipis dan licin, tulang binatang dll.

Dengan petunjuk Jibril as, Rasulullah kemudian menerangkan sekaligus mengatur tertib urutan ayat-ayat yang turun tersebut. Untuk menghindari kesalahan Rasulullah melarang keras menuliskan  apa yang selain ayat Al-Qur’an. Rasulullah dengan jelas menerangkan dan memisahkan antara ayat Al-Qur’an, hadis Qudsi dan  hadis. Sekali setahun Jibril as melakukan pengecekan terhadap ayat-ayat yang telah diturunkan sekaligus mendengarkan kebenaran hafalan Rasulullah. Bahkan  pada tahun wafatnya Rasulullah pengecekan dilakukan 2 kali.  Hal yang sama dilakukan Rasulullah. Secara berkala beliau memeriksa hafalan dan apa yang telah ditulis para sahabat. Rasulullah menganjurkan agar ayat-ayat tersebut selalu dibaca, dihafal dan disunahkan membacanya ketika shalat kecuali surah Al-Fatihah yang wajib dibaca.

 Dengan cara seperti itu makin waktu makin banyak orang yang hafal ayat Al-Qur’an. Sebagai penghargaan dan untuk memotivasi mereka Rasulullah bersabda : ” Di akhirat nanti tinta para ulama akan ditimbang dengan darah syuhada ”. Allah  berfirman:” Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”. (QS. Al-Qalam (68):1).  Bahkan pada masa peperangan tawanan yang tidak mampu menebus dirinya dengan uang tetapi pandai baca – tulis, sebagai ganti mereka diwajibkan mengajar menulis dan membaca sepuluh orang Muslim. Disamping itu Rasullah juga sering mengirim  utusan dan sahabat untuk mengajarkan ayat-ayat Al-Quran ke tempat dimana ajaran Islam baru masuk.

Dengan demikian ketika Rasulullah wafat kurang lebih 12 tahun setelah hijrah, seluruh ayat-ayat Al-Qur’an telah selesai dituliskan oleh para sahabat. Bahkan telah dihafal oleh ribuan manusia.  Maka selesai pulalah tugas Rasulullah. Tidak ada lagi satupun ayat yang turun. Ajaran Islam  telah selesai dengan sempurna sesempurna kitabnya, Al-Quran.

II.Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra.

Tak lama sesudah wafatnya Rasulullah banyak orang Islam yang murtad, terutama di Nejed dan Yaman. Mereka bahkan menolak  kewajiban membayar zakat yang sebelumnya biasa mereka setorkan ke Madinah. Disamping itu banyak pula orang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi dan utusan Allah. Terlihat jelas bahwa keimanan dan pengetahuan mereka akan ajaran Islam masih sangat dangkal.

Hal ini dihadapi Abu Bakar sebagai khalifah pertama dengan tegas. Ia khawatir bila fenomena tersebut dibiarkan akan diikuti oleh yang lain. Setelah tidak dapat diperingatkan secara halus maka Abu Bakarpun mengirimkan pasukan untuk memerangi mereka. Terjadilah  perang yang dikenal dengan nama Perang Yamamah. Dalam perang ini 70 orang penghafal Al-Quran ikut gugur.

Oleh karenanya, Umar bin Khatab menjadi sangat khawatir. Ia lalu menganjurkan Abu Bakar agar mengumpulkan Qur’an yang ada di tangan para sahabat. Mulanya Abu Bakar menolak dengan dalih mengapa harus mengerjakan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah. Namun setelah terus didesak dengan berbagai alasan kebaikan akhirnya Abu Bakar menyetujuinya. Iapun segera memanggil Zaid bin Tsabit, seorang sahabat yang pada masa Rasulullah selalu ditugasi menulis wahyu yang turun. Mulanya ia juga menolak tetapi setelah diajukan alasannya maka iapun menyetujuinya pula.

Kemudian ia segera mengumpulkan seluruh ayat-ayat yang tertulis di daun, pelepah kurma, batu, tulang unta dll. Namun sekalipun ia hafal seluruh ayat secara berurutan sesuai ajaran Rasulullah ia tetap merasa perlu adanya saksi dalam pelaksanaan tugas suci dan berat tersebut. Iapun mencocokkan hafalannya dengan sahabat-sahabat kepercayaan yang baik hafalannya. Setelah itu dengan sangat hati-hati dan teliti disaksikan 2 orang saksi ia menyalin ulang kumpulan ayat-ayat tersebut dan mengikatnya menjadi satu menjadi sebuah mushaf.

Kemudian mushaf diserahkan dan disimpan Abu bakar hingga beliau meninggal. Selanjutnya mushaf disimpan Umar bin Khatab sebagai khalifah penerus Abu Bakar. Sesudah beliau juga wafat, mushaf disimpan di rumah Hafsah, putri Umar hingga tibanya masa Usman bin Affan membukukan Al-Qur’an.

III.Pada masa khalifah Usman bin Affan

Pada masa ini umat Islam telah tersebar ke berbagai penjuru, dari Armenia dan Azerbaijan di sebelah timur hingga Tripoli di barat, dari Yaman di sebelah selatan  hingga perbatasan sungai Yarmuk di Syria. Umat Islam dimanapun berada selalu tergantung pada ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka memang terus  menghafalnya dan banyak yang menyimpan naskah yang masih tertulis di atas daun-daunan dan sebagainya. Cara membaca merekapun beragam sesuai dengan daerah dan dialek masing-masing. Hal ini tidak terlepas dari pengamatan para sahabat yang pernah hidup bersama Rasulullah dan mendapatkan pengajaran langsung dari  beliau. Mereka khawatir bila keadaan seperti itu terus dibiarkan, akan mengakibatkan perselisihan dan perdebatan yang berkepanjangan hingga dapat merusak persatuan umat.

Oleh karenanya Usman bin Affan sebagai pemimpin dan penanggung-jawab umat, ia segera meminta Hafsah untuk memberikan mushaf yang disimpannya. Kemudian Usman membentuk panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash dan Abdulrahman bin Harits bin Hisyam. Tugas mereka adalah membukukan Al-Quran berdasarkan mushaf yang disimpan sejak Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Sementara itu lembaran-lembaran, dedaunan dan segala yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an  harus dibakar.

Buku yang ditulis oleh panitia diatas ada 5 buah dan disebut Al-Mushaf. Buku-buku ini dikirim masing-masing ke Mekah, Syria, Basrah dan Kufah. Sedang satu  yang disimpan di Madinah dinamai Mushaf Al-Imam. Dengan mencontoh  ke 5 mushaf ini kemudian Al-Qur’an disalin, dicetak dan disebarkan ke seluruh pelosok negri di dunia ini.

IV.Pada masa sekarang.

Di Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, contohnya di Mesir, sekolah-sekolah Awaliyah mewajibkan murid-muridnya hafal Al-Quran bila ingin meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di Indonesia hal ini hanya berlaku di sekolah-sekolah tertentu,  pesantren dan madrasah. Pada peringatan Nuzulul-Quran dan 1 Muharam  umat Islam terbiasa mengadakan lomba membaca Al-Quran ( Tilawatil Qur’an). Ini juga adalah salah satu bentuk pemeliharaan Al-Qur’an. Sedangkan untuk menjaga kemurnian Al-Quran yang diterbitkan di Indonesia ataupun yang didatangkan dari luar negri, pemerintah cq Departemen Agama mempunyai panitia yang bertugas memeriksa Al-Qur’an yang akan dicetak dan diedarkan.

Walahu’alam bishshawab.

Jakarta, 15/5/2008

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »