Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Energi Al-Maidah 51(1).

Tekad para ulama untuk kembali ke jalan alias berunjuk rasa pada Jumat 4 November, bila pemerintah berkeras tidak juga memanggil Ahok dan menjadikannya tersangka, menjadi kenyataan. Unjuk rasa ini tetap konsisten dengan tujuannya yaitu Ahok harus segera diadili.

Uniknya karena unjuk rasa ini dipicu oleh adanya pelecehan terhadap ayat suci Al-Quran,  tak heran bila melalui pengajian/majlis taklim persiapan unjuk rasa berawal. Melalui grup-grup WA majlis taklim pengumpulan dana bermula. Tanpa adanya paksaan infak terkumpul dengan cepat. Karena umat Islam berkeyakinan membela agama adalah jihad yang sangat tinggi nilainya.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. ( Terjemah QS.Al-Anfal (8):60).

Jihad yang berasal dari kata Jahada yang bisa berarti bersungguh-sungguh, tidak selalu berarti perang secara fisik. Tapi juga bisa segala amal perbuatan yang dikerjakan secara sungguh-sungguh dan maksimal demi mencari ridho-Nya. Termasuk berinfak, itulah yang disebut berinfak di jalan Allah swt.

Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728H) mendefinisikan jihad dengan pernyataan, “Jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah”.

Beliau rahimahullah juga menyatakan, “Jihad hakikatnya adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal sholeh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan”.

demo411-2Itulah sebabnya dalam waktu singkat terkumpul uang yang kabarnya mencapai puluhan milyar rupiah. Dana inilah yang kemudian dipakai ibu-ibu sukarelawan untuk memasak makanan dan membeli minuman bagi mereka yang ber-unjuk rasa di hari Jumar, 4 November 2016.  Juga penyediaan akomodasi selama mereka berada di Jakarta, gratis. ( Dan ternyata masih bersisa hingga dapat digunakan untuk mengobati dan menyantuni mereka yang terluka akibat gas air mata di penghujung unjuk rasa. ). Jadi sungguh ngawur pernyataan bahwa dana unjuk rasa 411 berasal dari uang korupsi, apalagi bila dihubungkan dengan mantan presiden SBY, apa hubungannyaa?!??

http://beritahangat157.blogspot.com/2016/11/mengungkap-fakta-dana-terselubung-aksi.html

demo411-1Inilah energi Al-Maidah 51, sebuah energi raksasa yang berhasil menyedot 2.3 juta umat Islam di seluruh Indonesia untuk datang berkumpul di masjid Istiqal dan mengadakan long march hingga ke istana. Termasuk saya dan suami yang seumur hidup tidak pernah sekalipun ikut apa yang namanya unjuk rasa, padahal usia kami berdua sudah tidak lagi muda, melainkan sudah diatas setengah abad.

Jadi sungguh kami merasa begitu terhina ketika ada yang mengatakan bahwa orang yang ikut ber-unjuk rasa 4 November lalu adalah mereka yang ingin mencari perhatian, ingin masuk tv. Na’udzubillah min dzalik.( Lebih parah lagi, beberapa hari lalu dalam sebuah wawancara tv Australia, Ahok yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, secara sembarangan mengatakan bahwa pendemo dibayar 500 ribu oleh seseorang yang ia sebutkan Jokowi mengetahuinya. Pantaskah seorang pejabat mengatakan sesuatu yang tidak ada buktinya sama sekali ??!!? ).

https://nasional.tempo.co/read/news/2016/11/18/063821250/pernyataan-lengkap-ahok-kepada-tv-australia-soal-demo-rp-500-ribu

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut(29):69).

img-20161104-wa0005img-20161104-wa0006-1-1Keikut-sertaan kami berdua, dan sebagian besar kaum Muslimin pada aksi unjuk rasa damai beberapa hari lalu murni karena dorongan ingin membela ayat-ayat Allah yang telah dilecehkan. Memang ada sebagian Muslim yang dengan nyinyir mengatakan Islam tidak akan terhina atas perkataan Ahok di pulau Seribu 27 September lalu.

Memang tidak ! Namun ibaratnya seorang ibu yang sangat kita cintai dilecehkan orang, pantaskah seorang anak yang baik berdiam diri dan tidak membelanya ??? Persis seperti apa yang dikatakan Aa Gym, hanya orang yang mempunyai hati, yang benar-benar mencintai Al-Quran, yang menganggap bahwa Allah swt, rasulullah Muhammad saw dan kitab suci Al-Quran adalah yang paling patut dicintai dibanding apapun, yang akan merasakan sakitnya hati atas perkataan Ahok. Jadi sungguh tidak benar apa yang dikatakan Jokowi paska demo bahwa demo ditunggangi kepentingan politik.

http://www.tarbiyah.net/2016/11/apa-yang-menggerakkan-jutaan-orang-demo.html 

Itu pula sebabnya mengapa unjuk rasa atau demo besar-besaran tetap terjadi meski Jokowi beberapa hari sebelum hari H, menyempatkan diri menemui Prabowo Subiyanto, ex rival politiknya di pemilihan presiden lalu. Meski Jokowi mengatakan bahwa pertemuan tersebut hanya hal biasa, tidak ada hubungan dengan rencana demo 411.

http://www.warta.co/2016/10/pertemuan-prabowo-dan-presiden-jokowi_51.html

Sayangnya, setelah masuk Isya, demo damai ini ternodai. Yaitu ketika polisi menghujani pendemo dengan gas air mata dan peluru karet.  Anehnya, ketika kapolri memerintahkan agar polisi menghentikan tembakan, tidak ada yang mematuhi perintah tersebut!

http://www.aktual.com/tak-dengarkan-instruksi-kapolri-habib-rizieq-ada-komando-lain-kepolisian/

Namun demikian, karena tujuan demo memang bukan untuk mencari keributan, huru-hara apalagi kudeta, para pemimpin demo damai dibawah bendera GNPF-MUI ( Gerakan Nasional Pengawal Fatwa – MUI) baik Habib Riziek dari FPI maupun ustad Bahtiar Nasir dari AQL, juga ustad Arifin Ilham dari Az-Zikra dan Syeih Ali Jaber yang ikut terluka terkena tembakan gas air mata, memerintahkan jamaah/pendemo agar tetap diam di tempatnya, tidak lari apalagi membalas dengan perbuatan anarkis. Dan akhirnya untuk mundur agar tidak mengakibatkan korban lebih banyak lagi.

http://www.aktual.site/2016/11/video-bukti-demonstran-duduk-damai-ketika-tiba-tiba-dihujani-tembakan-gas-airmata.html

Meski kalaupun ada sebagian pendemo yang kesal, hal itu mudah dipahami. Karena mereka itu jauh-jauh datang dari luar kota bahkan ada yang dari luar Jawa, ingin agar Jokowi sebagai orang nomor 1 di republik ini, muncul menemui wakil mereka, untuk mendengar keluhan dan aspirasi mereka. Bukankah demikian tugas dan tanggung jawab seorang presiden?

Itu sebabnya demo yang seharusnya berakhir pada pukul 18.00 sesuai izin, berakhir molor. Apalagi mereka makin menyadari bahwa sang presiden ingin melindungi si penista. Maklum rakyat sudah hampir semua tahu kedekatan hubungan antar keduanya. Siapa yang tak tahu bahwa semua kasus yang menyangkut Ahok, seperti kasus RS Sumber Waras, Transjakarta, reklamasi pulau G, tak satupun yang berhasil dibawa ke pengadilan.

Namun rakyat masih memilih diam. Juga terhadap sikap Ahok yang sering menyakitkan umat Islam. Pelarangan takbir keliling, kebijaksanaannya tentang penjualan miras dan daging anjing, olok2 tentang jilbab, penggusuran masjid dll, adalah contohnya. Namun yang paling menyakitkan adalah jargon “ lebih baik kafir tapi baik daripada muslim tapi korupsi” yang tiba-tiba menjadi populer jelang pilkada.

Tetapi ternyata Allah swt  tidak ridho. Maka dibuat-Nya Ahok tergelincir melalui ayat 51 Al-Maidah lewat lisannya yang memang tak pernah bisa dikendalikannya itu.  Dan inilah yang terjadi. Tak satupun kaum Muslimin sejati yang mau menerima dan memaafkannya.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):54).

Ironisnya, besoknya Jokowi justru sibuk mendatangi ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Mengapa pak presiden harus sibuk mendatangi ormas-ormas tersebut sementara ketika 2 jutaan rakyat dengan susah payah mendatangi istana tidak dilayani??

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memimpin urusan manusia kemudian ia menutup pintunya bagi orang yang miskin atau bagi orang yang dizhalimi atau bagi orang yang mempunyai keperluan, maka Allah akan menutup pintu kasih sayangnya bagi orang tersebut”. (HR Ahmad).

Apa sebenarnya yang dicari pak presiden, bukankah MUI sebagai lembaga ke-Islam-an tertinggi dimana NU dan Muhammadiyah sudah terwakili di dalamnya, telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahok positif telah melecehkan ajaran Al-Quran? Jangan sampai gara-gara melindungi 1 orang kita jadi terpecah-belah. Tampaknya apa yang dikatakan pangdam RI Gatot Nurmantyo di acara ILC beberapa waktu lalu harus benar-benar kita perhatikan agar bangsa ini tidak dijadikan bulan-bulanan mereka yang tidak ingin Indonesia maju dan aman.

Yang pasti, harus dicatat bahwa demo 4 November yang baru saja berlalu itu sebuah demo yang sangat indah. Dengan jumlah peserta hingga diatas 2 juta, demo terbesar sepanjang sejarah, bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia, tentu tidak mudah untuk mengendalikan agar demo dapat berjalan rapi, aman dan teratur.

Bahkan dai kondang aa Gym dengan timnya, secara suka rela mau berpartisipasi pada bagian kebersihan. Beliau sama sekali tidak berorasi. Dengan modal sapu lidi, pengki dan kresek di tangan, mereka menyusuri area demo sepanjang masjid Istiqlal hingga depan istana Merdeka dari sampah makanan dan minuman gratis peserta demo. Uniknya lagi, sampah-sampah tersebut tidak sampai menunggu menggunung baru dibersihkan, tetapi merekalah yang berinisiatif berkeliling membawa kresek “ Sampah sampah” dan para pendemopun memasukkan sampah mereka ke kresek-kresek tersebut.

shalat411wudhu411Juga kisah bagaimana para pendemo membantu kelancaran pernikahan pasangan non Muslim di gereja Katedral yang memang terletak persis di depan masjid Istiqlal. Juga ketika masuk waktu Asar, para pendemo saling membantu menuangkan air mineral untuk berwudhu, bahkan antara petugas kemananan dan pendemo. Untuk kemudian shalat berjamaah, masya Allah !

injaktaman1injaktaman2Juga tentang taman, yang belakangan memang jadi isu sensitive sejak “Metrotipu” begitu para pendemo menyebut Metrotv, menjadikan head line “ taman rusak gara-gara perusuh”. Padahal itu hanyalah akal-akalan Metrotv yang sengaja men-shoot taman yang sengaja ditinggalkan rusak dan ceritanya akan dibersihkan relawan Ahok. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut para pendemo saling mengingatkan untuk tidak menginjak taman/rumput. Meski tidak di semua tempat, karena kami juga melihat mereka shalat di atas rumput, bukan taman memang.

Tapi dari semua pengalaman diatas, bagi saya pribadi yang paling berkesan adalah ketika kami berada persis di  perempatan air mancur BI.  Di tempat tersebut saking padatmya manusia, kami tidak bisa bergerak, maju maupun mundur. Dalam keadaan seperti itulah tiba-tiba ada sekelompok orang yang mulai bershalawat. Maka tanpa dikomando semua orang yang ada di sekitar kamipun ikut bershalawat. Masya Allah … nikmatnya ….

“ Ini demo atau umrah yaaa?” celetuk suami terheran-heran.

Sebelumnya ustad Andian Parlindungan, ustad yang membimbing kami umrah tahun lalu, sempat berkomentar “ Masya Allah .. serasa haji pindah ke Jakarta nih”.

Ya, kami merasakan hal yang sama. Siang itu, ba’da shalat Jumat di bilangan Kuningan tempat ustad Andian memberikan khutbah Jumat, kami langsung berangkat menuju Sarinah dan memarkir kendaraan di tempat tersebut. Dari situ kami berjalan kaki menuju istana, meski akhirnya tidak berhasil karena jalanan terlalu padat. Langkah kami terhenti di depan gedung MK yang jaraknya tinggal 600 meter dari istana.  Dari kami ber-tujuh, hanya ustad Andian dan istri yang terus berjuang menembus jalur ke istana.

Meski tak dapat dipungkiri di beberapa titik kami sempat menyaksikan ada kelompok yang ber-orasi dengan kata-kata keras, juga spanduk dengan tulisan keras seperti hukum bunuh dan yang semacamnya. Dan menurut saya tidak bisa disalahkan juga karena kalau meggunakan hukum syariah memang begitu. Itu sebabnya saya pikir apa yang dilakuan GNPF-MUI mengajukan tuntutan agar Ahok segera diadili sudah bagus. Ini sangat penting demi meredam tuntutan hukum syariah yang bisa jadi menyebabkan isu yang tidak menyenangkan.

Disamping itu, kami juga merasakan kebesaran Allah melalui udara yang begitu bersahabat. Bayangkan, berjalan kaki di Jakarta pada sekitar pukul 1 siang, tapi kami tidak merasakan panas sebagaimana biasanya. Payung dan kacamata hitam yang sudah saya siapkan dari rumah ternyata tidak perlu ke luar dari tas. Allahuakbar …

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/11/04/og4cwa383-bmkg-terjadi-perubahan-cuaca-mendadak-saat-demo-4-november  

Wallahu’ alam bish shawwab.

Jakarta, 11 November 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

Ahok Dan Toleransi Beragama

Kasus pelecehan ayat 51 surat Al-Maidah oleh Ahok, gubernur DKI yang menggantikan Jokowi karena Jokowi terpilih sebagai presiden, bergulir makin tak terkendali. Demo yang terjadi pada Jumat 14 Oktober di Jakarta dan 22 Oktober di kota-kota besar lainnya, dengan tujuan agar pemerintah segera mengadili Ahok, berbuntut panjang. Padahal demo yang diikuti ratusan ribu orang dari berbagai ormas, dengan Habib Riziek dari FPI sebagai pimpinan, berjalan damai.

Ironisnya lagi, MUI, yang beberapa hari sebelumnya mengeluarkan fatwa bahwa orang no 1 di DKI tersebut terbukti telah melecehkan Al-Quran dan ulama, justru di-bully. Demikian pula para ulama yang mayoritas memang sependapat dengan keputusan MUI.

Perbuatan Ahok jelas telah melanggar rambu-rambu toleransi. Apa maksudnya “ dibohongi (pake) Al-Maidah 51”, dengan atau tanpa kata pake”, yang isinya jelas-jelas melarang umat Islam memilih pemimpin kafir alias non Muslim sementara ia sendiri adalah si calon pemimpin kafir??? Ayat tersebut jelas merugikannya maka tak heran bila ia berkata demikian dengan tujuan agar kaum Muslimin mengabaikan ayat tersebut dan tetap memilihnya. Itu sudah teramat sangat jelas, tanpa perlu bantuan ahli bahasa awampun sudah dapat menangkapnya. Demi ambisi politiknya yang demikian menggebu dilanggarnyalah pembatas toleransi

Bila ia mengomentari ayat suci umat Islam tersebut di dalam gereja di depan para pemeluknya mungkin masih bisa ditrima. Tapi di depan pejabat negara dan warga sebuah pulau tak jauh dari daerah kekuasaannya, dengan mengenakan seragam kerja pula??

Untuk diingat, pelecehan terhadap Rasulullah dan ayat-ayat Allah sudah ada sejak zaman hidup Rasulullah, yaitu oleh orang-orang Yahudi dan musyrikin Mekah. Pengusiran perkampungan Yahudi bani Qainuqa di sekitar Madinah pada awal tahun 2 H yang akhirnya dilakukan Rasulullah, adalah buntut dari pelecehan terhadap seorang Muslimah.

https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/11/xvi-pengkhianatan-pertama-yahudi-dan-munculnya-tanda-tanda-kemunafikan/ .

https://almanhaj.or.id/3015-hukum-istihza-bid-din-memperolok-agama.html

“Jika mereka merusak sumpah (perjanjian damai)nya sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (Terjemah QS. At-Taubah [9]: 12)

Indonesia memang bukan negara Islam meski mayoritas penduduknya Muslim. Oleh sebab itu para ulama berusaha menahan diri untuk tidak menuntut Ahok secara hukum syariat. Namun sebagai negara hukum sudah sepantasnya bila kemudian kaum Muslimin berdemo menuntut agar pemerintah segera mengadili Ahok.

Tapi mengapa justru MUI, FPI dan para ulama yang jadi sasaran tembak? Bahkan orang yang merekam dan menyebarkan video rekaman peristiwa tersebut secara resmi telah diadukan ke kepolisian.

http://islamedia.id/din-syamsuddin-luar-biasa-hukum-negeri-kita-ini-yang-salah-itu-ahok-kok-malah-buni-yani-yang-mau-jadi-tersangka/

Anehnya lagi, hal tersebut juga dilakukan oleh orang yang mengaku Muslim. Padahal jangankan menyalahkan, membela dan sekedar mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan saja Allah melarangnya.

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu wahyu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya kalau kamu tetap duduk bersama mereka, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam neraka Jahanam.” (Terjemah QS. An-Nisa’ (4): 140)

Tampak jelas, Ahok secara sengaja atau tidak telah berhasil memecah-belah bangsa yang dibangun oleh darah para syuhada dengan susah payah ini. Demi mengejar ambisinya, koar-koarnya di awal agar tidak menggunakan isu SARA menjelang pilkada nyatanya justru dilanggarnya sendiri. Mungkinkah Ahok tidak menyadari akibat perbuatan busuknya itu ??? Adakah ia mempunyai tujuan dan maksud tertentu ???

Sebaiknya kita segera mengingat apa yang terjadi di sebagian negara di Timur Tengah, khususnya tragedi memilukan Suriah, yang telah memasuki tahun ke 5. Tragedi mengerikan ini diawali dengan adanya tuntutan rakyat terhadap pemerintahan Basar Assad yang dinilai tidak adil memperlakukan rakyatnya. Untuk diingat, Basar adalah penganut Syiah yang merupakan minoritas di tengah rakyatnya yang mayoritas Sunni.

Di Indonesia, Syiah baru belakangan ini saja berhasil menyusup ke tengah masyarakatnya yang mayoritas Sunni. Ini semua tak terlepas dari makin menguatnya pengaruh paham liberal dengan JILnya ( Jaringan Islam Liberal) yang terus merongrong aqidah umat Islam di bumi tercinta ini.

Nusron Wahid, contohnya, yang walaupun berlatar belakang NU, namun kenyataannya amat sangat membela Ahok. Dengan “ gagah” jurkam sekaligus ketua tim pemenangan Pilkada  Golkar untuk Ahok – Djarot ini berkata “ Yang paling tahu tentang apa yang disampaikan Ahok di Pulau Seribu, ya Ahok sendiri”.

Ia juga menyalahkan para ulama yang dianggapnya sok pintar dengan pernyataan “ “Yang namanya Alquran, yang paling sah untuk menafsirkan dan paling tahu tentang Alquran itu sendiri adalah Allah SWT dan Rasul SAW !” .

Pernyataan tersebut sungguh tidak sejalan dengan paham Liberal yang dianutnya selama ini, yaitu bahwa segala sesuatu harus sesuai dengan akal dan pikiran manusia. Bagaimana manusia harus menyikapi Al-Quran bila hanya Allah dan Rasulullah yang memahaminya. Lagi pula ayat yang di-lecehkan Ahok itu adalah ayat yang jelas, tidak perlu penafsiran khusus. Bahkan terjemah “teman setia” untuk kata “ awliya” yang dikeluarkan depag secara resmi beberapa tahun yang lalu, tidak menggugurkan keharaman memilih pemimpin kafir. Bayangkan bila teman setia saja dilarang, apa lagi pemimpin. Bukankah seorang pemimpin lebih bisa memaksakan kehendak dari pada teman setia ?? Anehnya lagi, bila hanya Allah dan Rasulullah  yang bisa memahami ayat-ayat-Nya, mengapa Ahok bisa, padahal meng-iman-inyapun tidak ???

Mungkin inilah yang Allah sering namakan “ menjual ayat” dan menukarnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Yaitu demi mensukseskan Ahok, agar tidak terjegal di pilkada apalagi gagal menjadi DKI1 maka diplintirnyalah ayat-ayat Allah, apapun resikonya.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):174).

https://rumaysho.com/14628-surat-al-maidah-ayat-51-jangan-memilih-pemimpin-non-muslim.html

Kembali kepada fenomena yang terjadi di Timur Tengah. Perpecahan dan perang saudara antar sesama Muslim, sudah pasti membuat umat ini lemah, yang akibatnya dengan mudah menjadi bulan-bulanan musuh-musuh Islam yang telah lama mengincar dan mengharapkan jatuhnya Islam. Lihat apa yang dilakukan pasukan Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Rusia dll di negri-negri Islam tersebut?? Apa kepentingan mereka ???

Sejarah membuktikan betapa semangat jihad kaum Muslimin di masa lalu sungguh tidak terkalahkan. Islam adalah rahmatan lil ‘alamiin tapi bukan berarti bisa dihina dan dilecehkan. Hukum Allah untuk ditegakkan bukan hanya untuk dibaca dan disimpan di hati. Dakwah dan ajakan untuk memeluk Islam, menyembah hanya kepada-Nya adalah demi menjalankan perintah-Nya, dan untuk kepentingan manusia sendiri, bukan untuk Nya.

Namun orang-orang yang berpenyakit hati tidak mau menerimanya, bahkan memusuhinya. Maka dicarilah strategi baru untuk mengalahkan Islam, yaitu melalui isu toleransi dan demokrasi yang berlebihan, liberalime bahwa semua agama adalah sama dan benar, dll. Syariat Islam seperti jihad membela agama dan  persaudaraan sesama muslim dicitrakan sebagai hal yang negative. Celakanya, semua itu dikemas sedemikian halusnya hingga kaum Muslimin tidak menyadarinya, hingga sedikit demi sedikit merasa malu dan merasa tidak percaya diri dengan ajarannya. Itulah yang dinamakan perang pemikiran atau Ghazwul Fikri.

Toleransi contohnya. Dengan kasat mata kita bisa menyaksikan bagaimana Barat memusuhi Islam. Bahkan calon presiden AS, Donald Trump terang-terangan tidak akan mengizinkan Islam berkembang di negaranya bila ia terpilih sebagai presiden nanti. Hak Muslim yang hidup di negara-negara yang katanya toleran itu juga tidak terpenuhi. Masjid terbatas, shalat, jilbab dipersulit dll. Demo anti Islam di negara-negara dimana Islam hanya minoritas hampir setiap hari terus berjalan. Belum lagi apa yang terjadi terhadap Muslim di Myanmar yang merupakan minoritas. Para perempuan yang diperkosa, rumah dijarah dan dibakar.

http://www.reuters.com/article/us-myanmar-rohingya-exclusive-idUSKCN12S0AP

Sebaliknya, di negara-negara mayoritas Islam demo anti agama di luar Islam hampir tidak pernah ada. Di Indonesia, gereja jumlahnya tak terhingga, orang memakai salib tidak ada yang mempermasalahkan, hari besar keagamaan libur, dll.

Ironisnya, kantor-kantor berita main stream termasuk di Indonesia, selalu memberitakan hal-hal buruk mengenai Islam, bahwa Islam adalah agama yang tidak toleran, radikal, teroris dll. Bahkan Muslim Palestina yang setiap hari ditindas Zionis Israel, di negaranya sendiri pula, tetap selalu disalahkan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya Allah meridhoi kamu tiga perkara dan membenci kamu tiga perkara ; Dia meridhoi kamu apabila kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu kepada-Nya, dan apabila kamu berpegang teguh kepada tali Allah semua dan kamu tidak berpecah-belah” [HR Muslim : 3236]

Dan beginilah akhirnya. Umat Muslim akhirnya terpecah belah, bahkan dalam hal memilih pemimpin padahal sangat jelas ayatnya.  Kini kita tinggal menanti, apakah para pemimpin republik ini mau mendengar seruan para ulama yang berpegang teguh pada Al-Quranul Karim dan As-Sunnah agar segera mengadili Ahok yang telah melanggar toleransi beragama, atau tetap mendiamkannya hingga kesabaran umat yang sudah memanas ini makin meluap tak terkendali. Yang  juga patut menjadi catatan, bila negri tercinta ini sampai mengalami nasib seperti Suriah, na’udzubillah min dzalik, bukan hanya umat Islam yang menderita, tapi juga umat agama lain. Sementara hidup di pengungsianpun bukan hal yang menjanjikan.

Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan” [HR Tirmidzi].

Dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya’ [HR Imam Malik].

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (awliya); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS.Al-Maidah (5):51).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. ( Terjemah QS.Al-Maidah (5):57).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 24 Oktober 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

“ Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja., … … ”. ( Terjemah QS. Al-Mumtahanah(60):4).

Keteguhan nabi Ibrahim dalam mempertahankan aqidah inilah yang membuat Allah swt menjadikannya sebagai keteladanan. Untuk itu pula nabi Ibrahim as disebut sebagai bapak tauhid. Juga sebagai bapak para nabi, karena semua nabi yang diutus setelah nabi Ibrahim as adalah keturunan dari kedua putra beliau, yaitu nabi Ismail as dan nabi Ishaq as. Dan ini semua tidak terlepas dari doa dan permohonan Ibrahim as yang kemudian dijabah Tuhannya, Allah Azza wa Jalla.

“ Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku”. ( Terjemah QS. Ibrahim(14):40).

“ Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya ( khalilullah)”. ( Terjemah QS. An-Nisa (4):125).

Maka tak salah bila Allah swt kemudian menjuluki bapak para nabi ini dengan gelar kekasih Allah ( khalilullah). Sedangkan yang dimaksud orang yang mengikuti agama Ibrahim yang lurus di ayat di atas adalah nabi Muhammad saw.

Kepasrahan dan ketaatan Ibrahim  kepada Tuhannya sungguh tak dapat diragukan lagi. Puncaknya adalah ketika Allah swt memerintahkannya agar menyembelih putra beliau satu-satunya ketika itu, yaitu nabi Ismail as.  Padahal telah lama Ibrahim merindukan hadirnya seorang anak. Dan baru ketika usia lanjut, yaitu 99 tahun, beliau mendapatkannya. Untuk itu Sang Khalik maka mengabadikan peristiwa fenomenal tersebut dalam surat Asf-Shaffat (37) ayat 102 berikut :

Maka tatkala anak itu ( Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Namun yang lebih mencengangkan lagi adalah jawaban sang putra tercinta yang menurut riwayat baru berusia sekitar 7 tahun ( ada yang berpendapat 13 tahun). Bagaimana mungkin anak seusia itu sudah mempunyai tingkat ketakwaan yang begitu tinggi?? Darimana ia mendapatkan keberanian dan kesabaran rela disembelih sang ayah yang bahkan pernah “membuangnya” ke gurun sahara yang tak berpenghuni ketika bayi dulu ??

Ia ( Ismail ) menjawab:

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Ada baiknya kita tengok sedikit ke belakang siapa sebenarnya Ibrahim, ayah yang begitu beruntung mendapat anugerah anak yang sangat patuh, berbakti kepada orang-tua sekaligus takut pada Tuhannya.

Nabi Ibrahim as di Kaldan.

Ibrahim sejak kecil telah terbiasa menjajakan berhala buatan ayahnya, Aazar. Ketika itu penduduk Kaldan, kota dimana beliau tinggal memang  dikenal sebagai penyembah berhala, termasuk bulan, bintang, matahari dll. Namun demikian Ibrahim tidak pernah percaya bahwa segala macam sesembahan tersebut mampu memberikan manfaat. Kegelisahan Ibrahim tersebut tercatat dengan apiknya pada ayat 75-79 surat Al-An’am, yang berakhir dengan penyerahan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla, Sang Pencipta sekaligus Pemilik alam semesta dan seluruh isinya.

Berangkat dari keyakinan tersebut maka Ibrahimpun mulai berani memprotes keyakinan ayahnya, dengan cara yang santun, tidak kasar, bahkan cenderung mengajak untuk berpikir. Dan ketika akhirnya ayahnya tetap menolak ajakannya bahkan mengancamnya, Ibrahim tetap mendoakannya. Ini mencerminkan betapa tingginya akhlak beliau. Berikut percakapan yang terekam dalam surat Maryam  ayat 46-48:

Berkata bapaknya:

“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”.

Berkata Ibrahim:

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo`a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo`a kepada Tuhanku”.

Ibrahim juga pernah dihukum bakar oleh raja Namrud karena berani memotong kepala berhala sesembahan raja dan penduduk Kaldan. Hal ini sengaja beliau lakukan untuk membuktikan bahwa berhala yang mereka sembah itu sama sekai tidak bermanfaat, yang bahkan untuk melindungi dirinya sendiri saja tidak mampu. Kisah menantang dan lucu ini diabadikan dalam surat Al-Anbiya ayat 52-66, diantaranya sebagai berikut :

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Mereka berkata:

“Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”.

Mereka berkata:

“Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”.

Mereka berkata:

“(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.

Mereka bertanya:

“Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Ibrahim menjawab:

“Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.

Nabi Ibrahim as berhijrah.

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. ( Terjemah QS. Al-Anbiyya (21):69.

Dengan rahmat Allah swt Ibrahim as dibebaskan dari panasnya kobaran api raja Namrud. Setelah itu Ibrahimpun pergi meninggalkan negri Kaldan dan tinggal selama beberapa tahun di Mesir sebelum akhirnya menetap di Palestina hingga akhir hayat beliau. Hijrah ini persis seperti yang dilakukan Rasulullah Muhammad saw yang pergi meninggalkan Makkah ke Madinah karena penduduk Mekkah semakin memusuhi nabi dan tidak mau menerima ajakan nabi untuk bertauhid, menyembah hanya kepada Allah swt, Sang Pencipta Yang Satu, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Dalam pengembaraan panjang tersebut Ibrahim as tetap menjalankan dakwah menuju Tuhannya. Hingga ketika Ibrahim mencapai usia senja Allah swt tidak juga menganugerahi seorangpun keturunan, Sarah, istri Ibrahim, meminta suaminya agar mau menikahi Hajar, budak pemberian raja ketika mereka tinggal di Mesir. Dan Allahpun mengabulkan keinginan pasangan tersebut. Tidak hanya dengan lahirnya Ismail dari rahim Hajar, namun juga menyusul Ishaq yang lahir dari rahim Sarah yang telah berusia tua.

“ Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do`a. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. ( Terjemah QS. Ibrahim (14):39-41).

Namun demikian untuk membuktikan ketakwaan keduanya, bapak maupun anak, Allah swt mengujinya lagi dengan cobaan yang maha berat, yaitu penyembelihan ! Meski akhirnya Allah berkenan mengganti sang anak yang telah pasrah sementara sang ayah dengan tegar siap melaksanakan perintah, dengan hewan sembelihan besar. Allahuakbar …

“ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. ( Terjemah QS. Asf-Shaffat(37):103-108).

Ibrahim as dan Ismail as membangun Ka’bah di Makkah.

Nabi Ibrahim as meski tetap tinggal di Palestina bersama Sarah dan putranya ishaq as namun secara berkala beliau datang mengunjungi Hajar dan Ismail di Mekah. Mekah, berkat sumber air zam-zam yang terus mengucur deras sejak peristiwa Hajar yang berlarian bolak-balik  7x demi mendapatkan air untuk putranya tercinta, tidak lagi sepi seperti ketika Ismail dan ibunya ditinggalkan Ibrahim beberapa tahun lalu.

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim : 37)

Ya doa nabi Ibrahim as diatas itulah tampaknya yang menjadi penyebab kota Mekah yang tadinya tandus dan tak berpenghuni berkembang menjadi kota yang subur, yang buah-buahannya menjadi sumber rezeki bagi penduduknya.  Di kota inilah Ismail tumbuh menjadi anak yang sholeh, yang senantiasa mendirikan shalat.

Ibrahim dan Ismail ini pulalah yang diberi kepercayaan Allah Azza wa Jalla agar meninggikan Ka’bah yang berdasarkan mayoritas pendapat ulama pertama kali dibangun oleh nabi Adam as. Inilah rumah ibadah tertua yang pernah ada di muka bumi.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. ( Terjemah QS.Al-Baqarah(2):127-128).

ka'bah1Dan untuk mengembalikan kesucian dan kemurnian ajaran Ibrahim as yang sepeninggal beliau telah diselewengkan selama ribuan tahun, Allahpun menurunkan rasulullah Muhammad saw dengan kitab suci Al-Quran sebagai pegangannya. Itu sebabnya hari ini bisa kita saksikan jutaan umat Islam setiap tahun berbondong-bondong pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji dengan berbagai rangkaiannya, seperti tawaf, sai, lempar jumrah, potong hewan kurban dll. Jadi ritual haji yang dilakukan umat Islam setiap bulan Dzulhijjah itu sebenarnya sudah ada sejak zaman nabi Ibrahim as. Begitupun perintah-perintah lain seperti shalat, zakat dll.

“ … … (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu ( Muhammad) menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”. ( Terjemah QS. Al-Hajj (22);78).

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS.Ali imran(3): 68).

Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda “ Para nabi diperlihatkan kepadaku. Aku melihat Musa as, ternyata ia seperti seorang laki laki dari Syanuah. Aku melihat Isa ibnu Maryam as, ternyata orang yang kulihat paling mirip dengannya adalah Urwah ibnu Mas’ud. Kemudian aku juga melihat Ibrahim as, ternyata orang yang kulihat paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini ( maksudnya, Rasulullah saw sendiri). (HR Tirmidzi, Muslim dan Ahmad).

Itulah skenario Allah swt  mengapa Ibrahim meninggalkan Ismail di lembah tandus Mekah ketika bayi dulu. Keyakinan bahwa Tuhannya tidak akan “mendzaliminya” membuatnya mantab meninggalkan istri dan putranya tercinta di lembah sepi tak berpenghuni tersebut. Dari alur Ismail inilah, satu-satunya keturunan Ibrahim menjadi nabi yaitu Muhammad saw, yang ditakdirkan sebagai nabi penutup guna meluruskan ajaran Ibrahim. Padahal dari jalur Ishaq banyak keturunan beliau yang menjadi nabi, diantaranya yaitu Musa as, Daud as dan Isa as. Sungguh betapa beruntungnya orang yang dberi hidayah agar mengenal Islam, memeluknya lalu mentaati serta mencontoh nabinya.

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk Islam. (Terjemah QS. Al Baqarah (2): 132)

Demikian pula perintah berkurban setahun sekali pada hari raya Haji dengan menyembelih kambing, sapi atau unta sungguh tidak ada artinya dibanding perintah Ibrahim as agar menyembelih putranya tercinta.

Ironisnya, Indonesia yang penduduknya mayoritas Islam, dan tercatat sebagai negara yang tiap tahun terbanyak mengirimkan jamaah haji, ternyata sebagian dari mereka tidak menunjukkan ke-Islam-annya dengan baik. Ini terbukti dari banyaknya kasus korupsi yang dilakukan oleh orang yang mengaku Islam bahkan sudah berhaji, prostitusi yang makin hari makin merajalela, berbagai kejahatan seperti pemerkosaan, narkoba, perjudian dll yang makin tak terbendung.

Menjadi pertanyaan besar, sudahkah para orang-tua mendidik anak-anaknya dengan baik, dengan men-tarbiyah diri sebagaimana yang dilakukan Ibrahim terhadap putranya ? Mengajarkan dengan santun pentingnya ber-tauhid, menggantungkan diri secara total kepada Allah Yang Esa ? Yakin bahwa rezeki itu telah diatur Sang Khalik hingga tidak perlu mengemis kepada sesama manusia ? Bahwa hidup hanyalah sementara dan akhirat adalah tujuan yang dengan demikian orientasi berpikirnya tidak melulu duniawi?

Pendek kata sudahkan kita menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai panduan hidup, secara kaffah, tidak setengah-setengah dan memilah-milah sesuai keinginan dan nafsu? Tak dapat dipungkiri lingkungan memang sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang. Apalagi di zaman dimana demokrasi ala Barat yang sudah kebablasan ini. Adalah tugas orang-tua untuk mencarikan lingkungan yang baik bagi anak-anaknya, yaitu lingkungan yang bersih dari kekufuran bukan sekedar bersih secara fisik.

Semoga Allah swt memberi kita kekuatan dan kemampuan untuk mengikuti rasulullah saw dalam mencontoh Ibrahim as sebagai panutan, aamiin Allahumma aamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 September 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. … … … … … … …“ (Terjemah QS. Al-Baqarah(2):183 – 184).

Beberapa hari tertentu yang dimaksud tersebut adalah 29 atau 30 hari penuh selama bulan Ramadhan. Ya, bulan Ramadhan yang merupakan bulan ke 9 dalam tahun Hijriyah memang bulan yang sangat istimewa. Pada bulan inilah tidak saja kitab suci umat Islam Al-Quranul Karim, namun juga kitab suci umat Yahudi yaitu Taurat maupun kitab suci umat Nasrani yaitu Injil, diturunkan.

Namun bedanya bila Taurat dan Injil diturunkan sekaligus maka Al-Quran diturunkan dalam 2 tahapan. Tahap pertama Allah swt menurunkannya secara langsung dari Lauh Mahfuz ke Baitul Izzah. Yang ke dua, dari Baitul Izzah kepada Rasulullah Muhammad  saw melalui malaikat Jibril as secara bertahap selama hampir 23 tahun, dan permulaannya diturunkan pada malam Lailatul Qadar, yaitu pada malam-malam di bulan Ramadhan.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadr (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. ( Terjemah QS. Al-Qadr (97):1-3).

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/nuzulul-qur-an.htm#.V2qfSbh96Uk

Jadi sungguh tidak aneh mengapa Allah swt memilih bulan Ramadhan sebagai bulan dimana umat Islam mengalami penggeblengan, fisik maupun mental, agar menjadi hamba-Nya yang takwa. Yang dengan demikian akan menambah limpahan cinta dan ridho Sang Khalik atas umat yang telah dilebihkannya atas umat yang lain itu.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.(Terjemah QS. Ali Imran (3):110).

Ayat diatas menjelaskan secara gamblang mengapa Allah swt menyebut kita, umat Islam, adalah umat terbaik. Yaitu karena Islam menyuruh kepada yang ma`ruf ( kebaikan) dan mencegah dari yang munkar ( kejahatan), selain beriman kepada-Nya, tentunya. Untuk itulah setiap tahun diadakan pelatihan dan penggemblengan diri, agar kita tidak lupa akan fitrah tersebut. Itulah Ramadhan, bulan penggemblengan.

Selama hari-hari bulan suci tersebut Allah swt  memerintahkan kita agar berpuasa menahan lapar dan haus serta hubungan badan antara suami dan istri, dimulai dari terbitnya fajar hingga tenggelam matahari. Selama satu bulan penuh itu pula di perintahkannya agar kita dapat menguasai segala macam emosi buruk kita, seperti marah, iri, dengki, bergunjing dll, termasuk mempertontonkan aurat. Allah swt juga memerintahkan agar kita memperbanyak perbuatan baik, seperti berinfak, membantu orang yang dalam kesulitan dll, disamping menjalankan shalat malam dan membaca kitab suci Al-Quran.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu,  sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu ditutup dan setan-setan dibelenggu”. ( HR.Bukhari, no. 1899. Muslim, no. 1079).

Agar suasana kondusif, karena Allah swt maklum bahwa godaan syaitan amatlah berat dan dasyat, maka dibelengguNya syaitan-syaitan terkutuk. Dan sebagai penyemangat dibukaNya pintu-pintu surga lebar-lebar serta ditutupNya rapat-rapat pintu-pintu neraka. Dengan kata lain bila pada bulan suci tersebut kita tidak dapat juga menguasai diri kita sendiri dari sifat2 syaitan terkutuk, sungguh alangkah meruginya kita.

Ibaratnya sekolah, bulan Ramadhan adalah ujian akhir sekolah. Dan agar para murid dapat melaksanakan ujian dengan baik, adalah kewajiban sekolah untuk meng-kondisikan suasana sekolah yang tenang, jauh dari hingar bingar yang berpotensi mengganggu konsentrasi murid.

Jadi sungguh aneh bila kemudian di negri yang katanya mayoritas Islam ini, ternyata ada pejabat tinggi, yang tidak mau memerintahkan warung makan agar menutup warungnya di siang hari. Alasannya demi menghormati mereka yang tidak berpuasa. Inikah toleransi kebablasan?

https://www.nahimunkar.com/kebijakan-nyeleneh-hormati-tidak-puasa-dikecam-ulama/

http://www.suara-islam.com/read/index/18606/Hormati-yang-Tidak-Puasa–Habib-Rizieq–Itu-Logika-Kaum-Zindiq

Ironisnya, tidak sedikit pula orang yang nyinyir berkomentar “ Masak diiming-imingi makanan gitu aja jadi pingin batal puasa. Justru itu tantangannya!”.

Kalau kita tinggal di negara dimana kita minoritas, di Eropa atau Amerika misalnya, masih bisa ditrima. Tapi ketika kita di rumah sendiri, sebagai mayoritas pula, apakah itu tidak aneh? Sementara Sang Khalik saja sebagai Penguasa Tertinggi telah memberikan keistimewaan bagi kita, dengan diberinya suasana kondusif …

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):119).

Ayat diatas ditujukan kepada kaum Muslimin yang hidup pada zaman Rasulullah saw dimana hidup pula di sekitar mereka orang-orang munafik. Orang-orang munafik itu layaknya musuh dalam selimut yang dari luar kelihatannya sama dengan kaum Muslimin pada umumnya. Namun sesungguhnya mereka tidak menyukai kaum Muslimin.

Tapi yang lebih ajaib lagi ketika ada pejabat gubernur yang memerintahkan agar sekolah tidak membuat aturan siswa perempuan wajib berjilbab di bulan Ramadhan. Apa urgensinya seorang non Muslim meski ia seorang gubernur, ikut repot dengan urusan yang tidak menjadi wewenangnya ?

Namun ya sudahlah, inilah ketetapanNya yang harus kita ambil hikmahnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Terjemah QS. Al-Maidah(5):51).

Ramadhan adalah bulan penggemblengan agar kita menjadi manusia yang takwa, yang ber-akhlak mulia. Bila ketika di bulan Ramadhan kita terbiasa menjaga emosi agar tidak suka berbohong, tidak mudah marah, tersinggung, jauh dari ghibah dll. Maka kebiasaan baik tersebut harus kita pertahankan walaupun Ramadhan telah usai.

Bila ketika Ramadhan murid-murid perempuan mengenakan jilbab karena adanya aturan sekolah. Maka usai Ramadhan tetap mengenakannya, karena memang itu adalah perintah-Nya.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami, … … “. (Terjemah QS. An-Nuur(24):31).

Bila ketika Ramadhan kita semua menantikan waktu datangnya Magrib, dengan tidak sabar, untuk berbuka. Maka seperti itu pula nantinya, di 11 bulan lainnya, kita semua juga menanti Magrib, bukan untuk berbuka, tapi untuk bersegera menjalankan shalat Magrib secara berjamaah, di masjid.

Bila ketika Ramadhan kita berbondong-bondong menuju masjid untuk shalat Taraweh, maka di bulan-bulan lain kita juga berbondong-bondong menuju masjid untuk shalat Isya berjamaah. Dan bila ketika Ramadhan kita bangun pagi sebelum waktu Subuh untuk sahur, maka di bulan-bulan lain kita bangun untuk shalat Tahajud dan bersiap menuju masjid untuk shalat Subuh berjamaah.

“Shalat berjamaah dibandingkan shalat sendiri lebih utama dua puluh lima (dalam riwayat lain: dua puluh tujuh derajat)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 645, 646 dan Muslim no. 649, 650)

Meski bagi Muslimah shalat jamaah di masjid, terutama shalat fardhu, tidaklah wajib. Karena shalat di rumah bagi mereka lebih baik. Sebaliknya shalat sunnah seperti Taraweh boleh dilakukan di masjid dengan syarat-syarat tertentu. Diantaranya yaitu atas izin suami, dan bila keadaan aman.

https://cahayawahyu.wordpress.com/religion/hukum-shalat-berjamaah-di-masjid-bagi-wanita-dari-berbagai-pendapat/

Jadi sungguh tepat ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum”, yang berarti semoga Allah menerima ( amalan) kami dan ( amalan) kalian. Bukan “ Minal Aizin wal Faidzin” yang selama ini lazim digunakan masyarakat Indonesia tanpa sadar bahwa itu bukan hal  yang diajarkan Rasulullah saw. Apalagi dengan tambahan ucapan “ maaf lahir dan bathin” seolah itu adalah terjemahan “ Minal Aizin wal Faidzin”.

Permintaan maaf dan saling memaafkan dalam Islam bisa dilakukan kapanpun tanpa menunggu hari Raya Lebaran/Iedu Fitri. Bahkan bila kita berbuat kesalahan sebaiknya segera meminta maaf, tidak menunda-nundanya.

Jubair bin Nufair berkata, “Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 16 Juni 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

Darurat Kristenisasi

Perkembangan Kristen terpesat di dunia ada di Indonesia. 140 persen selama lima tahun. dan pemurtadan besar-besaran Muslim ada di negara Muslim terbesar di dunia, itulah Indonesia. Dua juta pertahun murtad !” .

Pernyataan tersebut diucapkan Brigjen Pol (purn) Anton Tabah, anggota Komisi Hukum dan HAM Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, saat menghadiri soft launching Badan Koordinasi Penanggulangan Penodaan Agama (Bakorpa) di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (15/4/2016).

Menurut Anton presentase penduduk Muslim di negri kita tercinta saat ini mengalami penurunan drastis. Menurut data yang dilansir, Muslim Indonesia saat ini hanya tinggal 73 persen. Bandingkan dengan tahun 1950 yang sebanyak 99 persen, 89 persen paska lengsernya Suharto dan terus menurun  sejak adanya reformasi.

http://www.nugarislurus.com/2016/04/polemik-temuan-data-2-juta-muslimin-indonesia-murtad-setiap-tahun.html

Pakar Kristenisasi kenamaan, ustad Munzir Situmorang, menegaskan kabupaten Sukabumi, Cianjur,  Ciamis dan sekitarnya sejak beberapa tahun belakangan telah menjadi target kristenisasi para misionaris. Di kabupaten Cianjur, tak jauh dari tempat wisata Taman Bunga Cipanas, berdiri sebuah tempat wisata ziarah Kristen terbesar di Asia tenggara. Di tempat ini ratusan pasien setiap hari datang untuk berobat gratis untuk kemudian dimurtadkan.

Sedangkan untuk Sumatra, ustad Munzir mendapat informasi bahwa Lampung, Jambi, Bengkulu dan Palembang  adalah daerah yang masuk target pemurtadan. Bahkan Aceh yang selama ini dikenal dengan julukan Serambi Mekah dan Sumbar yang dikenal sebagai gudangnya para ulama, tak luput dari sasaran kristenisasi ! Naudzubillah min dzalik.

Ustad asli Medan ini juga mengingatkan betapa para pemuda Muslim di negri mayoritas Muslim ini amat sangat rentan di murtadkan. Keimanan yang tipis dan pengetahuan keislaman minim adalah penyebab utamanya.

“Berapa banyak lulusan S2 luar negri namun jadi imam shalat jenazah orang-tuanya saja tidak mampu. Bahkan tidak sedikit shalat Subuh saja terlewat. Ironisnya, orang-tuanya tidak menganggap sebagai masalah serius !”, keluh ustad Munzir.

“Jangankan shalat Subuh berjamaah, cobalah tengok sekeliling bapak-ibu sekalian, adakah anak muda di ruangan ini ???  “, tanyanya lagi, getir.

Kegelisahan ustad Munzir tampaknya sangat beralasan. Benteng keimanan terkuat adalah keluarga. Sekalipun miskin, iming-iming bantuan keuangan maupun pelayanan kesehatan gratis yang menjadi ujung tombak misionaris, tapi bila keimanan kuat tentu tak mudah pemurtadan terjadi. Ironisnya, pemurtadan tak jarang dilakukan oleh umat Islam sendiri !

Bahkan belakangan muncul pula ulama-ulama NU nyleneh yang kerap membuat pernyataan menyimpang, seperti yang diakukan Said Aqil Siraj, yang belakangan terindikasi beraliansi dengan Syiah. Terakhir ia menyatakan bahwa pemimpin kafir yang baik lebih utama dari pada seorang Muslim tapi dzalim. Untuk itu ia nekad mengajak dan mempromosikan Hari Tanoe kepada para santri suatu pesantren. Di tempat tersebut konglomerat non Muslim sekaligus politikus yang dikenal kerap berpindah dari satu partai ke partai lain tersebut, disambut bak seorang ulama besar. Para santri berebut bersalaman dan mencium tangannya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”. (Terjemah QS. Al-Maidah (5):51).

Ayat di atas menunjukkan bahwa dzalim menurut kriteria Allah swt adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jadi bagaimana mungkin seorang Said Aqil bisa mengatakan hal yang bertolak belakang. Anehnya ia bisa berhasil kembali terpilih sebagai ketua umum PBNU meski banyak tokoh NU menolaknya. Hingga akhirnya lahir NU garis lurus untuk menunjukkan bahwa ada NU yang tidak lurus alias melenceng.

Belum lagi tokoh-tokoh JIL ( Jaringan Islam Liberal) yang dengan ringannya suka menafsirkan ayat-ayat suci Al-Quran sesukanya tanpa mengacu hadist shoheh, dan seenaknya menyamakan semua agama adalah sama. Dengan lihainya mereka bertutur bahwa Injil maupun Al-Quran sama-sama diturunkan oleh  Sang Pencipta, Allah Azza wa Jala, Tuhannya semua orang, tanpa menerangkan terjadinya penyimpangan terhadap kitab yang dibawa nabi Isa as tersebut. Tentu bagi Muslim yang cetek ilmunya terdengar mengesankan, sekaligus menyesatkan!

Ini makin membuktikan bahwa JIL dan Syiah memang bukan Islam, dan sedang berusaha menghancurkan Islam dari dalam.

Menjadi pertanyaan besar, mungkinkah JIL dan Syiah adalah bagian dari “ The Grand Design New World Order Dajjal Si Mata Satu”?? Seperti juga penyebar isu Islam adalah teroris, penggagas ISIS yang jauh dari Islam dll, yang menjadi penyebab lahirnya Islamophobia akut. Ironisnya, korbannya bukan hanya non Muslim yang tidak pernah mengenal ajaran Islam tapi juga kaum Muslimin itu sendiri. Yaitu dengan munculnya rasa tidak percaya diri terhadap ke-Islam-annya … 😦

Ntahlah, yang pasti, Kristenisasi bukan isapan jempol belaka. Para misionaris tidak main-main dengan “ Gerakan Penuaian Jiwa dan Transformasi 2005-2020”, sebuah program kristenisasi yang terdiri atas W10/40  dan W4/14. W10/40 atau Window 10/40 adalah sebuah kode untuk kawasan yang terbentang dari 10 sampai 40 derajat Lintang Utara garis Khatulistiwa. Itulah negara-negara dari Afrika Barat sampai Asia Timur. Negara-negara  mayoritas berpenduduknya Muslim ini adalah sasaran misionaris untuk pemurtadan.

( Lihat   http://misi.sabda.org/tantangan-dari-jendela-1040 ).

Sedangkan W4/14 atau Window/14 adalah rentang anak usia 4 hingga 14 tahun yang disasar misionaris untuk   digarap menjadi ujung tombak Kristenisasi. Mengapa 4 hingga 14 ? Karena itu adalah usia rentan dimana anak mudah diiming-imingi “kesenangan sesaat”. Diantaranya melalui hiburan seperti game online, mainan boneka, permen dan aneka permainan lain. Apalagi dengan kondisi saat ini dimana kedua orang-tua sibuk bekerja mencari nafkah dan mengejar karir.

Mereka menargetkan kedua program tersebut sepanjang tahun 2005-2020. Dapat dibayangkan bila sekarang saja, yaitu tahun 2016, mereka telah berhasil memurtadkan 2 juta Muslim pertahun, dan membuat persentase Muslim merosot hingga menjadi 73 persen, bagaimana pada tahun 2020 nanti ???  Alangkah mengerikannya !! Sementara kita tahu di Barat masyarakat, sebagian besar ilmuwannya pula, justru berbondong-bondong memeluk Islam.

( Lihat http://www.renunganharian.net/23-sisipan/juli-2012/349-jendela-4-14.html ).

Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Junaidi Salat, pemeran film tahun 70-an “ Ali Topan anak jalanan” yang menikahi gadis Batak kemudian murtad dan kini menjadi pendeta. Dengan lancang ia mengatakan bahwa sebagian besar orang Islam itu bodoh hIngga dengan mudahnya bisa dimurtadkan.  Pendeta ini menyatakan bahwa gereja tempat ia berdakwah, ditargetkan menjadi gereja yang diisi seluruhnya oleh jamaah mantan Muslim.

“Mantan Muslim yang jadi jamaah saya awalnya hanya 5 orang, Sekarang sudah mencapai ratusan”, aku pendeta yang suka memalsukan ayat-ayat Quran itu, dengan bangga.

http://www.kabarmakkah.com/2016/04/inna-lillahi-pdt-junaedi-palsukan-ayat.html

https://www.youtube.com/watch?v=AOnFr1SJ1PM

Video diatas memperlihatkan bagaimana seorang murtad memurtadkan teman dan keluarganya sendiri tanpa dalil yang jelas. Naudzu’billah min dzalik …

Berikut adalah ayat 30 – 36 surat Maryam yang menunjukkan Isa as hanyalah seorang nabi seperti juga nabi Muhammad saw, nabi Musa as, nabi Ibrahim as dll.

Berkata Isa:

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya:

“Jadilah”, maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus”. 

Yang juga memprihatinkan adalah peran pemerintah yang terkesan tidak peduli terhadap fenomena ini. Salah satu contohnya adalah Fauzi Bowo. Mantan gubernur  DKI ini di akhir jabatannya malah meletakkan batu pertama pembangunan sebuah gereja raksasa seluas 6000m2 dengan kapasitas 6000 jamaah. Padahal penghuni area yang meliputi 5 kelurahan di Cipayung Jakarta Timur tersebut bukan mayoritas Kristen. Tentangan dari warga sekitar yang masih terus terjadi hingga detik ini sama sekali tidak digubris.

Bandingkan dengan apa yang terjadi di Papua ketika kaum Muslimin ingin membangun rumah ibadah meski hanya sekedar mushola, bukan masjid. Dengan beringas dengan celurit di tangan warga menghancurkan dan membakar mushola sederhana tersebut. Tidak hanya itu, bahkan Persekutuan Gereja resmi menolak adanya pembangungan masjid di Papua. Namun adakah media main stream yang menyoroti hal tersebut ? Dimana suara Komnas  HAM??

http://islamedia.id/komnas-ham-membisu-melihat-umat-islam-papua-dilarang-membangun-masjid/

Mungkin inilah saatnya para ulama dan pendakwah harus bersatu, menjauhkan perbedaan dan merekatkan persamaan. Bukan lagi saatnya mempermasalahkan perbedaan kecil apalagi hanya di cabang. Aqidah umat harus diperkuat. Dakwah harus dari segala arah, disesuaikan dengan yang didakwahi. Anak-anak muda sudah waktunya mendapat perhatian khusus, didakwahi dengan materi dan cara yang sesuai dengan perkembangan jiwa dan kebutuhan mereka. Merekalah yang kelak akan  meneruskan perjuangan dakwah yang makin lama makin berat.

Yang juga patut diingat, Islam bukan melulu agama langit yang mengabaikan kesejahteraan kehidupan dunia. Artinya zakat infak sedekah harus benar-benar mengena sasaran yaitu menghilangkan kemiskinan. Karena kemiskinan beresiko melunturkan keimanan. Oleh karenanya masjid harus dikembalikan fungsinya bukan sekedar sebagai tempat shalat tapi juga sebagai pelayanan bantuan rakyat miskin, baik untuk bantuan keuangan maupun kesehatan.

Kristenisasi lewat perut yaitu mereka yang miskin harta dan aqidah, layanan kesehatan dan anak-anak muda yang lemah iman memerlukan perlawanan dan persatuan dari seluruh komponen Islam. Islamphobia harus segera diatasi agar rasa tidak percaya diri kaum Muslimin yang imannya sejak awal memang sudah tipis tidak makin menjadi tipis bahkan pudar dan hilang.

Untuk itu diperlukan tokoh panutan demi mengembalikan rasa percaya diri mereka. Para ulama harus dapat meyakinkan umatnya perlunya mempelajari dan memperdalam ilmu agama, tidak hanya puas sebagai Islam terlahir. Pentingnya ber-akhlak mulia, menjaga silaturahmi, hormat kepada orang-tua dll.

Akhir kata, semoga Allah swt ridho menjaga kita dan keluarga kita dari fitnah akhir zaman yang sungguh mengerikan tersebut. Semoga Allah Azza wa Jalla memberi kita kekuatan dan kesabaran di tengah keterasingan  seperti terasingnya para sahabat 14 abad silam, aamiin Allahumma aamiin …

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 15 Mei 2016.

Vien AM.

 

Read Full Post »

Bagi seorang Muslim Hawqalah yaitu lafaz ‘ Laa hawla wa laa quwwata illa billah “ tentu bukan hal yang asing. Ucapan tersebut sering kali diucapkan secara spontan ketika seseorang dalam kesulitan, dalam keadaan tertekan atau bisa juga ketika seseorang terkagum-kagum menyaksikan keajaiban yang terjadi, yaitu suatu kejadian yang mustahil terjadi menurut pikiran manusia.

Namun demikian mungkin tidak semua Muslim menyadari betapa dasyatnya Hawqalah tersebut. Karena sesungguhnya kalimat ringkas ini sarat makna dan memiliki keutamaan yang luar biasa.

Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada ‘Abdullah bin Qois,

“Wahai ‘Abdullah bin Qois, katakanlah ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billah’, karena ia merupakan simpanan pahala berharga di surga” (HR. Bukhari no. 7386).

“ Laa hawla wa laa quwwata illa billah “ biasa diartikan dengan beberapa arti yang mirip satu sama lain. Sebagian ulama mengartikannya dengan “Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata-mata “. Sementara sebagian lain mengartikannya dengan “Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak keburukan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan selain dengan kuasa Allah.” Dan ada pula ulama yang menafsirkannya dengan “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah”.

Ibnu Mas’ud berkata,“Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.”

Imam Nawawi menyebutkan berbagai tafsiran di atas dalam Syarh Shahih Muslim dan beliau katakan, “Semua tafsiran tersebut hampir sama maknanya.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 26-27).

Lafaz “Laa haula wa laa quwwata illa billah” sesungguhnya adalah ungkapan penyerahan diri dalam segala urusan, khususnya sesuatu yang tidak kita sukai dan tidak diharapkan,  kepada Allah Azza wa Jalla sebagai Sang Pemilik. Tidak seorang hambapun mampu berbuat sesuatu bila Allah tidak berkehendak. Pun tidak kuasa menolak sekecil apapun bencana bila Allah menghendakinya.

Manfaat dan kelebihan memperbanyak Hawqalah diantaranya adalah :

  1. Sebagai simpanan kekayaan yang berlimpah di surga, dan pengaruhnya sangat menakjubkan.

Dari Abi Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: “Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu bacaan yang menjadi simpanan kekayaan di dalam syurga?”, Maka aku menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah”. Maka beliau menjawab: “Ucapkanlah Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah”

Suatu ketika Al Asyja’i melaporkan kepada Rasulullah saw bahwa anaknya yang bernama Auf telah ditawan oleh musuh. Maka Rasulullah berpesan kepadanya agar Al Asyja’i mengutus seseorang untuk menemui anaknya dan menyampaikan agar Auf memperbanyak membaca “La Haula wa La Quwwata Illa Billah”.

Maka setelah hal tersebut disampaikan dan Auf memperbanyak membaca “Laa Haula wa La Quwwata Illa Billah” terjadilah bermacam keajaiban. Betapa tidak, tali kulit yang mengikat tangan Auf tiba-tiba terlepas maka Auf pun kabur dengan menunggang onta milik musuh.

Bahkan saat Auf di kejar dan bertemu dengan musuhnya kembali dia dapat terlepas setelah membaca “La Haula wa La Quwwata Illa Billah.”

Orang tua Auf menceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullah saw. Maka Rasulullahpun mengijinkan Auf untuk mengambil onta yang telah dicurinya dari musuhnya tersebut. Setelah itu turunlah ayat Al-Qur’an:

“Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar,” ( Terjemah QS. Ath-Thalaq(65):2)

Rasulullah saw bersabda: “ Perbanyaklah membaca ‘La Haula wa La Quwwata Illa Billah’, karena sesungguhnya ia merupakan perbendaharaan dari perbendaharaan-perbendaharaan Surga. (HR.Ahmad)

  1. Penawar bagi segala penyakit dan penderitaan seperti rasa bimbang.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang mengucapkan Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah maka hal itu sebagai penawar baginya dari 99 penyakit dan yang termudah adalah rasa bimbang”. (HR. Tabrani).

Hubaib bin Salamah rahimmullah saat menghadapi musuh atau mengepung sebuah benteng sangat senang memperbanyakkan ucapan “ Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah “.

Diceritakan bahwa suatu hari ia mengepung sebuah benteng milik bangsa Romawi sehingga ia putus asa, lalu tentara kaum Muslimin membaca zikir tersebut sambil bertakbir, akhirnya benteng tersebut hancur.

Pengalaman luar biasa juga pernah diceritakan oleh Abu Khair, Ishaq Al Gharawi. Dia menceritakan bahwa mereka pernah diserang sebuah pasukan dengan delapan puluh ekor gajah. Akibatnya pasukan mereka, termasuk pasukan berkuda menjadi berantakan.

Peristiwa ini, ujar Abu Khair membuat Muhammad bin Qasum panik. Melihat kondisi ini dia kemudian membaca “La Haula wa La Quwwata Illa Billah” berkali-kali.

Tak lama kemudian tiba-tiba saja gajah-gajah tersebut berhamburan mencari sumber air. Para pawang mereka tak mampu mengendalikan tingkah aneh gajah-gajah peliharaan mereka itu. Ternyata Allah swt telah memberikan rasa panas dan haus yang amat sangat kepada para gajah ciptaan-Nya tersebut.

Akhirnya, para pasukan Ishaq Al Gharawi pun dapat melanjutkan perjalanan, bahkan dengan menaiki gajah yang sudah ditaklukkan tersebut.

  1. Pencegah bahaya, dan bahaya yang paling rendah adalah bahaya kemiskinan.

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan “ Kalimat Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah” mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan saat menanggung beban pekerjaan yang sulit dan keras, atau saat menghadap kepada raja dan orang yang ditakutkan, selain pengaruhnya yang efektif untuk menolak kemiskinan.

Makhul rahimahullah berkata: “ Barangsiapa yang yang mengatakan Laa Haula wa Laa Quwwata illa Billaah maka akan lenyap dari dirinya tujuh puluh pintu petaka, yang paling rendah adalah bencana kemiskinan”.

Tentang keutamaan kalimat ini, banyak hadits meriwayatkannya.

Nabi saw yang mulia bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah kalimat yang berasal dari bawah ‘Arsy dari pusaka surga? Katakanlah olehmu: Laa Haula wa La Quwwata Illa Billah”, niscaya Allah akan mengatakan, ‘hambaKu telah menyerahkan dirinya dan meminta perlindungan.”(HR Al-Hakim dari Abu Hurairah r.a)

“Perbanyaklah Al-Baaqiyaat Al-Shaalihaat, yaitu tasbih, tahlil, tahmid, takbir, dan laa haula wa laa quwwata illa billah.”(HR Ahmad, Ibn Hibban dan Al-Hakim dari Abu Sa’id r.a)

Begitu juga hadis dari Abu Musa ra, beliau berkata:

‘Rasulullah saw bersabda kepadaku: “Maukah aku tunjukkan salah satu perbendaharaan dari perbendaharaan syurga? Saya menjawab: “Mau ya Rasulullah”. Kemudian baginda bersabda: “La haula wala quwwata illa billah.”’

Imam a-Nawawi berkata: “La haula wa la quwwata illa billah”, itulah kalimat yang digunakan untuk menyerah diri dan menyatakan bahwa kita tidak mempunyai hak untuk memiliki sesuatu urusan. Ia kalimah yang menyatakan bahawa seseorang hamba tiada mempunyai daya upaya untuk menolak sesuatu kejahatan (kemudaratan) dan tiada mempunyai daya kekuatan untuk mendatangkan kebaikan kepada dirinya melainkan dengan kudrat iradat Allah subhnahu wa ta’ala juga.”

Itu sebabnya seorang mukmin yang senantiasa mengucapkan kalimat “La Haula wala Quwwata illa billah” berulang-ulang kali, menyerahkan segenap hatinya kepada Sang Khalik, insya Allah jiwanya akan tenang, tenteram, dan segala urusan kembali kepada Allah Ta’ala.

Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa mukjizat pertolongan Allah swt bukan hanya hak monopoli para nabi. Seperti ketika nabi Ibrahim as yang tetap bugar meski dibakar api oleh raja Namrud atau nabi Musa as yang dikejar musuh dan tersudut di tepi laut hingga Allah swt memberikan pertolongan-Nya dengan terbelahnya laut. Ataupun nabi Yunus as yang dalam keadaan putus asa terbuang dari kapal kemudian dimakan seekor ikan hiu tapi bisa tetap hidup.

HauqalahJuga ketika Rasulullah saw dikejar musuh hingga mulut gua bersama sahabat Abu Bakar as-Siddiq, tetapi musuh  tidak dapat melihatnya. Pertolongan Allah swt yang semacam itu juga diperuntukkan kaum Muslimin melalui Hawqallah yaitu lafaz “La haula wa la quwwata illa billah”. Secara lengkap kita juga dapat menambahkan lafaz ” alliyil adzim” yang berarti ” Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” di belakangnya.

Masya Allah … Sungguh, alangkah beruntungnya kita umat Islam.

Wallahu’ alam bish shawab.

Jakarta, 18 April 2016.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »