Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Catatan Perjalanan’ Category

( Sambungan dari  : “ Menilik Jejak Islam Di Eropa (5) “) .

Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan antara ilmu duniawi dan ilmu akhirat.  atau apa yang sekarang popular disebut Sekularisme. Inilah yang menjadi dasar pesatnya perkembangan ilmu dan sains di dunia Islam pada abad pertengahan. Ridho Allah swt sebagai Sang Pemilik adalah kata kunci.

“Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat “. (QS.An-Nisa'(4):134).

Al-Khawarizmi (783M – 850M), Al-Kindi (801M – 873M), Al-Battani ( 855M – 923M), Ar-Razi/Rhazes (865M – 932M), Ibnu Haitam / Alhacen (965M – 1039M), Al-Biruni (973M – 1050M), Ibnu Sina/Avicenna (980 M – 1037M) dan Al-Jazari (1136 M -1206M) dari Persia, Ibnu Khaldun (732M – 808M) dari Tunisia, Al-Zarqali/Arzachel (1029M – 1087M) dan Ibnu Rusdy/Averroes (1126M – 1198M) dari Andalusia  adalah contoh dari sekian banyak ilmuwan Muslim yang hidup di masa kejayaan Islam.

Mereka ini bukan hanya menguasai ilmu yang sifatnya duniawi seperti  kedokteran, fisika, kimia, matematika, ekonomi, astronomi, seni dll namun juga ilmu ukhrowi. Bahkan mereka ini juga tidak hanya menguasai satu atau dua bidang ilmu saja. Ibnu Sina misalnya, ia adalah dokter sekaligus ahli filsafat dan matematikus. Mereka adalah para ilmuwan, penemu sekaligus alim ulama handal yang membawa dunia Islam menuju puncak kejayaannya. Andalusia adalah salah satu bukti zaman kejayaan tersebut.

Dari Andalusia inilah ilmu pengetahuan masuk ke Eropa. Namun berbeda dengan ilmuwan Muslim yang selalu mencantumkan nama penemu dan buku yang dijadikan pegangan mereka ( bila itu terjemahan, biasanya berasal dari ilmuwan Yunani kenamaan seperti  Socrates yang hidup pada 428BC – 348 BC atau  Plato pada 470 BC -399 BC) tidak demikian dengan ilmuwan barat. Dengan penuh kecurangan mereka mengakui buku-buku terjemahan mereka atas namanya sendiri ….

Dan tampaknya kecurangan ini terus berlanjut hingga saat ini, diantaranya  yaitu dengan dihilangkannya/ manipulasi sejarah kota-kota lama yang dulu pernah berada dibawah kekuasaan Islam. Contohnya ya di Toledo ini.

Semula saya begitu bersemangat ketika mendapat informasi bahwa peninggalan Islam di Toledo termasuk cukup banyak. Mr Google mengatakan bahwa dengan masih dijaganya keberadaan masjid sebagai peninggalan sejarah Islam di Eropa maka Toledo dapat disebut sebagai satu-satunya kota Eropa yang masih menyisakan toleransi keberagamaan.

Tapi brosur yang sengaja saya beli di hotel tempat kami menginap  tidak begitu banyak menyebut peranan Islam dalam membentuk kota dan masyarakat  kota benteng ini. Hal ini membuat saya makin bernafsu untuk membuktikan kebenaran pernyataan Mr Google, sumber data internet yang mustinya  dapat dipercaya.

Maka setelah sarapan, kamipun berjalan menyusuri jalan-jalan batu sempit yang berkelak kelok menanjak. Bangunan-bangunan tua model abad pertengahan mendominasi kota. Sebagian besar bangunan tersebut saat ini adalah gereja atau museum. Kami menjumpai ada lebih dari dua atau tiga bekas sinagog yang terlihat terawat dengan baik. Pengunjungnya membludak hingga harus mengantri bila ingin melihat keadaan di dalamnya.  Tampaknya mereka adalah para peziarah Yahudi dan Kristen.

 

Alcazar

Alcazar

 

 

Zocodover

Zocodover

 

Obyek wisata yang menjadi primadona seperti biasa adalah Katedral. Katedral dan Alcazar ( aslinya dari bahasa Arab berarti benteng atau istana, saat ini adalah Musium Militer ) adalah dua bangunan yang menjadi simbol kota Toledo.  Begitu juga Zocodover ( dari bahasa Arab Suk Al-Dawab) yaitu Pasar Al Dawab. (Memandang Katedral agak lama, ada sedikit keraguan dan harapan, mungkinkah gereja besar ini tadinya adalah masjid?  Tidak ada data yang saya peroleh … )

Disamping itu yang juga menarik perhatian para turis adalah gerbang-gerbang kota dan jembatan-jembatan lama. Sebagai kota benteng Toledo mempunya beberapa pintu gerbang. Gerbang utama diberi nama The Alfonso VI Gate. Dulunya nama gerbang ini adalah Bab Shagra yang dalam bahasa Arab adalah Gerbang Sagra. Ada lagi gerbang yang disebut The Sol Gate. Gerbang ini dibangun kembali pada abad 14 dengan gaya Mudejar. Sementara itu  Puerte de Bisagra atau Gerbang Bisagra aslinya juga peninggalan Islam.

Kami terus berjalan mengikuti arah panduan peta untuk menemukan masjid sebagaimana tertulis di brosur. Kami bolak balik di sekitar suatu lokasi bernama “ Mezquita de Tornerias”. Mezquita dalam bahasa Spanyol artinya adalah masjid. Namun tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa itu adalah bangunan masjid. Yang tampak hanya sebuah bangunan kecil di sudut jalan dengan pintu tertutup rapat. Setelah secara seksama  mengamati tulisan kecil di salah satu dindingnya barulah kami sadar  bahwa ini hanyalah lokasi bekas masjid kecil yang sekarang dijadikan tempat pameran … L .. Olala ..

Suami dan anak saya terlihat mulai bosan namun saya tetap penasaran.  “ Ada satu lagi masjid menurut peta ini. Tanggung nih .. kita kesana sebentar ya ..”, rengek saya. “ Palingan g ada apa-apanya bu “, jawab anak saya ogah-ogahan namun tetap mau menuruti keinginan ibunya yang keras kepala ini. Terima-kasih anakku sayang ya … Alhamdulillah …

 

Mezquita Del Cristo De La Luz

 

 

Mezquita Del Cristo De La Luz

Mezquita Del Cristo De La Luz

 

Beberapa menit kemudian kamipun tiba di tujuan. Benar dugaan anak saya. Masjid tersebut ternyata benar-benar hanya peninggalan sejarah. Masjid yang diberi nama begitu cantik “ Mezquita Del Cristo De La Luz” itu hanyalah bangunan kosong yang ditinggalkan begitu saja.

Bangunan tidak seberapa besar ini seperti bangunan yang belum selesai dibangun. Walaupun sebetulnya keindahannya masih tampak jelas. Dari luar terlihat sejumlah pilar dan tangga yang tak terawat.. “ Ini namanya basa basi .. sekedar syarat pokoknya ada peninggalan yang dipertahankan. Lebih parah lagi kayaknya malah sengaja mau ngecilin peran Islam “, begitu komentar suami saya, pahit.  Yaaah … menyedihkan  sekali …

373 tahun bukanlah waktu yang pendek. Ini hampir sama dengan masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia. Selama ratusan tahun itu rakyat Indonesia hidup menderita dan sangat tertekan. Kebodohan, kemiskinan dan kehinaan terjadi di seluruh pelosok negri.

Lain halnya dengan keberadaan Islam di suatu negri. Ekspansi Islam ke Eropa atau kemanapun bukanlah bentuk penjajahan. Ketika Islam mendatangi suatu negri, kejayaan dan kemegahan selalu terjadi. Masyarakat yang tadinya hidup tidak teratur, selalu berpindah-pindah,  liar  dan tidak mengenal Tuhan segera berubah menjadi masyarakat madani, masyarakat yang berperadaban tinggi ( civilized society). Ini terbukti dengan lahirnya para ilmuwan, buku-buku pengetahuan, perguruan-perguruan tinggi, sistim pengairan, kota yang teratur, aman dan tentram.

Masyarakat Islam dimanapun berada selalu memprioritaskan keberadaan sebuah masjid. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pusat ibadah shalat  namun juga sebagai sarana berkumpul, bertukar pikiran dan pendapat. Apalagi dikota sebesar Toledo yang merupakan salah satu dari 5 ibu kota propinsi Al-Andalusia. ( 4 kota di luar Toledo itu adalah Kordoba, Merida, Zaragoza dan Narbonnne yang sekarang berada di wilayah Perancis Selatan). Keberadaan Grand Mosque atau Masjid Agung adalah sebuah keharusan. Dimanakah gerangan itu sekarang ? Mengapa bahkan lokasi bekasnyapun tidak terindentifikasi ?

Padahal bila mau jujur sebenarnya peninggalan-peninggalan tersebut begitu kasat mata. Menara,  gapura dengan lengkung khasnya juga tembok-temboknya yang melindungi kota dari serangan musuh bukankah itu peninggalan Islam ? Yang memang mungkin saja bercampur dengan peninggalan Romawi dan Wisigoth yang berkuasa sebelumnya.

Demikian pula jendela-jendela rumah dengan teralisnya yang khas. Teralis  saat ini berfungsi lebih untuk pengamanan. Namun menurut adab Islam masa lalu, teralis berfungsi untuk melindungi kaum perempuan dari pandangan luar. Dengan demikian ia dapat melihat keluar jendela tanpa terlihat dari luar!

( Bersambung)

PF.

 

 

Katedral 1

Katedral 1

 

 

Katedral 2

Katedral 2

 

Hari ini, 4 November 2010, 6 bulan setelah artikel ini ditulis, tanpa sengaja saya menemukan sebuah website yang mengatakan bahwa Katedral Toledo tadinya adalah Masjid … Allahuakbar ..  Akhirya muncul juga bukti tertulis itu… Subhanallah..

Click: http://en.wikipedia.org/wiki/Church_of_San_Sebasti%C3%A1n,_Toledo

Read Full Post »

Pasukan Islam di bawah pimpinan Tarik bin Ziyad memulai penaklukkan semenanjung Iberia ( Spanyol, Portugal dan Perancis Selatan) pada tahun 711 M.  Ia masuk melalui selat Jibraltar. Jibraltar berasal dari kata Jabal Tarik atau Gunung Tarik. Tarik diambil dari nama sang panglima. Kata gunung digunakan karena di selat dimana pasukan Tarik memasuki semenanjung ini berdiri sebuah gunung.

Sementara kota Toledo yang merupakan ibu kota Wisigoth ketika itu ditaklukkan hanya setahun setelah itu, yaitu tahun 712 M. Padahal kota ini terletak jauh di tengah daratan Spanyol. Dapat dibayangkan bagaimana cepatnya pasukan Tarik ini bergerak. Toledo berada di bawah wilayah kekuasaan kerajaan Kordoba selama 373 tahun, yaitu hingga tahun 1085 M.

Para ilmuwan Barat saat ini mengakui bahwa peninggalan Islam di Toledo termasuk yang paling banyak, disamping Saragossa, Sevilla dan Kordoba sendiri yang merupakan ibu kota kerajaan.. Wilayah kerajaan ini mencakup lebih dari  2/3 bagian  Spanyol dan Portugal sekarang ini, termasuk didalamnya adalah Madrid, ibu kota Spanyol.

Toledo terletak sekitar 70 km selatan Madrid. Sedangkan jarak Madrid – Saragossa hampir 400 km. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam. Sekitar pukul 4 sore kami tiba di Madrid. Awalnya kota ini tidak masuk dalam daftar kota yang bakal kami kunjungi. Karena kami telah mengunjunginya beberapa tahun yang lalu. Namun karena anak gadis kami bersikukuh ingin mengunjunginya dengan alasan dulu masih kecil jadi lupa, akhirnya kami mengalah. Dan lagi kami pikir kan memang tidak menyimpang. Jadilah kami singgah sebentar.

Sebagai ibu kota salah satu negara Eropa, harus diakui Madrid memang kota yang cantik. Saya pikir tak kalah dengan Paris. Bahkan boulevard alias jalan rayanya mungkin lebih banyak dan lebih lebar dari kota Paris. Di hampir semua bundaran, air mancur dengan bunga-bungaan di sekelilingnya tampak menambah indahnya  gedung-gedung yang mengepungnya.

Stadion Matador

Stadion Matador

Setelah berkeliling kota sebentar, kami menuju stadion Matador. Arsitektur stadion adu banteng ini sangat mirip dengan bangunan ala Mudejar. Dinding bata merah dengan ukiran daun-daunan lengkap dengan menaranya. Namun ini bukan peninggalan Islam. Ini adalah bangunan baru. Tampak jelas bahwa gaya Mudejar hingga saat ini masih tetap disukai rakyat Spanyol.

Setelah puas ber-foto ria, saya mengusulkan untuk mampir ke Islamic Centre Cultural Madrid dimana di dalamnya terdapat masjid dan sekolah dasar. Kalau saya tidak salah letak Pusat kajian Islam ini tidak terlalu jauh dari stadion ini. Sayangnya kami  tidak ingat persis lokasinya.

Beruntung, di sebuah bangku taman di sekitar stadion saya melihat seorang muslimah ( tercermin dari jilbabnya) sedang membaca buku. Segera saya menghampirinya. Dari raut wajahnya saya perkirakan ia seorang asli Spanyol.

Assalaamu’alaykum. Do you speak English”, begitu saya menyapanya.

“ Wa alaykum salam .. No ..”, jawabnya tersenyum sambil menggeleng.

“ French ?”, tanya saya lagi. “ Oui, un peu “, jawabnya. Alhamdulillah …

Maka begitu tahu bahwa saya ingin mengetahui alamat masjid, ia segera bangkit dari duduknya, memegang bahu saya dengan akrab dan menunjukkan lokasi masjid yang saya maksud. Ternyata saya tidak salah. Pusat kajian Islam tersebut tidak begitu jauh bahkan atapnyapun terlihat dari tempat kami berdiri. Setelah berbincang sebentar kamipun berpisah. Menurutnya jumlah Muslim di Madrid lumayan banyak. Alhamdulillah ..

“ Cantik bu ya .. ramah lagi .. ”, komentar anak saya tak lama setelah kami berpisah. “ Yaah, coba tadi foto dulu bu .. balik lagi aja bu “, sambungnya lagi.

“ Emm ..”, jawab saya ragu. “ Males ah de’  ..  lagian g enak ah .. abis udah jauh”, jawab saya setengah menyesal.

Tak lama kemudian kami telah berada di dalam mobil lagi. Ternyata tidak terlalu mudah menuju masjid dengan bekal melihat atapnya saja. Karena walaupun kelihatannya dekat tetapi harus berputar-putar. Masjid terletak di tepi jalan raya yang sangat lebar dan ramai. Setelah berkali-kali salah jalan akhirnya kami sampai juga. Tepat waktu magrib pula … Subhanallah ..

Namun sungguh patut amat disesalkan. Jamaah benar-benar hanya sedikit sekali bahkan di bagian perempuan hanya kami berdua plus dua orang lain lagi !! Demikian pula di bagian laki-laki, menurut suami saya hanya 1 shaf saja … Sungguh tidak seimbang dengan masjidnya. Masjid yang menjadi bagian dari Pusat Budaya Islam ini lumayan besar dan bagus. Menurut seorang jamaah yang ditemui suami, kemungkinan ini dikarenakan lokasi masjid yang tidak berada di lingkungan pemukiman Muslim … Yaah, sayang sekali ..

Usai makan malam setelah puas melihat keramaian Madrid di malam hari, kami melanjutkan perjalanan utama yang sempat tertunda, yaitu Toledo. Menjelang tengah malam kami memasuki kota benteng yang terletak diatas bukit ini.

Kota ini bak istana boneka abad pertengahan dengan kisah 1001 malamnya. Jalanan sempit dari batu yang berkelak-kelok, naik turun, acap kali beratap di atasnya dan buntu dibeberapa tempat seperti layaknya labirin. Bangunannya yang terbuat dari dinding bata merah dengan lengkungan khasnya. Ini adalah ciri khas  kota-kota Islam masa lalu. Ditambah lagi dengan adanya lampu dinding temaram yang menerangi gapura, kubah dan menara-menaranya, kita benar-benar serasa diajak memasuki negri dongeng yang menakjubkan.

Esoknya kita berjalan-jalan mengelilingi kota. Letak kota ini sangat strategis. Selain berada di atas bukit kota ini dikelilingi sungai. Sebuah benteng kuno dengan beberapa pintu gerbangnya tampak dengan gagah melindungi penghuninya dari serangan musuh.

Sejarah mencatat bahwa sepanjang 373 tahun Toledo berada di bawah Islam, kehidupan beragama antara pemeluk Nasrani,Yahudi dan Islam berjalan secara harmonis. Toleransi antara ketiga agama samawi ini terbukti jelas dengan diizinkan berdirinya rumah ibadah masing-masing. Ilmu, sains, seni dan budaya berkembang pesat. Orang-orang Eropa yang ketika itu masih berada di masa kegelapan berdatangan untuk menuntut ilmu di berbagai universitas Islam di kota-kota kerajaan yang beribu kota di Kordoba ini.

Karena bahasa Arab kemudian menjadi bahasa utama kerajaan maka para pendatang kulit putih inipun harus mempelajari bahasa Arab. Ironisnya setelah berhasil mengecap dan menguasai berbagai ilmu mereka pulang ke negrinya masing-masing, menerjemahkan buku-buku besar karya ilmuwan-ilmuwan Muslim dan mengakuinya sebagai karya sendiri !!

( Bersambung )

Read Full Post »

Perjalanan kami kali ini tampaknya bakal menjadi penutup laporan ‘ Menilik Jejak Islam di Spanyol’. April tanggal 22 tahun 2010, adalah liburan terakhir kami selama berada di Pau. Zaragosa yang terletak tidak lebih dari 300 km selatan Pau menjadi tujuan kami. Rute kami adalah Zaragoza, Toledo, Salamanca dan Burgos. Keempatnya berada di wilayah Spanyol. Di dua kota terakhir saya tidak yakin apakah jejak Islam masih dapat ditemui ..semoga saja ada kejutan yang menggembirakan, amiin ..

Sekitar pukul 12 siang, dengan kendaran pribadi kami bertiga berangkat meninggalkan Pau. Perjalanan cukup lancar. Kami melewati deretan pegunungan Pirenea yang selalu membuat saya berdecak kagum walaupun telah berkali-kali melewati pegunungan yang menjadi pembatas antara Perancis dan Spanyol ini. April adalah musim semi. Udara terasa cukup hangat, yaitu sekitar 20 derajat celcius. Stasiun-stasiun ski yang banyak ditemui di sepanjang perjalanan telah ditutup sejak 2 minggu lalu. Namun sisa-sisa salju di puncak pegunungan masih terlihat di sana-sini,  menambah kecantikan Pirenea.

Tak sampai satu jam kemudian kami telah berada di wilayah Spanyol. Tidak ada tanda perbatasan yang mencolok selain papan selamat datang di Spanyol dengan menggunakan bahasa Spanyol. Sejumlah kecil polisi patroli  dan pegawai imigrasi terlihat menghentikan dan memeriksa satu, dua  kendaraan yang mungkin mencurigakan. Kami terus melaju dengan kecepatan maksimum 130 km/jam. Ini adalah kecepatan maksimum standard Eropa di jalan toll.

Memasuki jam ke dua, jalan mulai berkelak-kelok. Anehnya tidak seperti biasanya suami mulai mengantuk. Karena tidak tega akhirnya saya menawarkan menggantikannya menyetir. Saya sendiri terus terang sebenarnya kurang merasa percaya diri bila harus menyetir di jalan pegunungan. Beruntung, seperti biasa suami hanya butuh beberapa menit untuk menghilangkan kantuknya.

Kamipun berpindah posisi. Sambil menyetir saya tidak bisa melepaskan mata saya dari keindahan pemandangan pegunungan di kiri kanan saya. Namun baru beberapa menit berlalu, menjelang memasuki sebuah terowongan,,terlihat petugas patroli lalu lintas bermotor berjaga-jaga di jalanan. Laju kendaraan mulai melambat dan akhirnya berhenti sama sekali. Sepuluh menit berlalu tanpa ada tanda apapun. Antrian panjang mobilpun tak dapat dihindari. Suami terbangun.

Beberapa menit kemudian suami turun dari mobil dan menanyakan apa yang terjadi kepada petugas yang mondar mandir di sekitar kami. Masalahnya sang petugas tidak bisa berbahasa Inggris sementara  suami tidak bisa berbahasa Spanyol. Waalaahh .. repotnya .. L

Suamipun mencoba mendekati pengendara mobil di belakang kami. Idemm .. Namun dengan bahasa isyarat  akhirnya kami tahu  bahwa ternyata kami harus menanti sekitar 1 jam-an karena sedang ada proses peledakan bom untuk kebutuhan pembangunan terowongan baru !! Olala .. padahal kami belum makan siang, perut telah mulai keroncongan. Akhirnya kamipun memutuskan untuk berbalik dan mencari resto seadanya.

Singkat cerita, setelah menemukan sebuah resto di pinggir jalan dan sempat pusing, bertanya kiri-kanan bertanya apa kata daging babi dalam bahasa Spanyol karena pelayan resto tidak berbahasa Inggris maupun Perancis, akhirnya kami meneruskan perjalanan lagi. Tidak ada kemacetan, berarti peledakan sudah selesai dan terowongan sudah bisa dilalui kembali. Alhamdulillah ..

Di tengah perjalanan yang berliku, tiba-tiba pandangan saya membentur pada sebuah bangunan terbengkalai yang dipahat di atas bukit batu yang curam. Wah, bangunan abad pertengahan nih, pikir saya.  Peninggalan Islamkah? Wallahu’alam.

Menjelang sore kami memasuki Saragossa. Kami langsung menuju ke pusat kota. Sebuah pelataran luas dengan kubah-kubah besar cantik berlapis keramik warna-warni dan menaranya terasa mendominasi pemandangan kota. Harus diakui, memang indah sekali. Namun ini gereja besar alias basilik. Bukan ini yang saya cari. Saya sedang berusaha mencari jejak Islam di negri yang selama 8 abad pernah dikuasai Islam ini.

Saya perhatikan bentuk gereja secara detil. Patung yang berserakan menghiasi bangunan jelas bukan peninggalan Islam karena Islam jelas-jelas melarangnya. Bagaimana dengan menaranya?  Apakah hanya kuncup dan belnya saja yang merupakan penambahan di kemudian hari? Entahlah .. dari pada menebak-nebak kemudia salah, saya pikir lebih baik mencari sesuatu yang jelas sajalah.

La Seo 3La SeoLa Seo 2

La Seo

La Seo

Maka pandangan sayapun beralih ke tempat lain. Sebuah gereja ( lagi-lagi gereja .. ) di seberang pelataran menarik perhatian. Di papan tertulis bahwa ini adalah bangunan Mudejar, sebutan bagi Muslim Spanyol pada masa pemerintahan Kristen di  Spanyol. Di beberapa bagian kecil dinding ternyata masih terlihat sisa-sisa gaya arsitektur Islam, yaitu mozaik bercorak dedauan dan bunga geometris warna-warni. Ini adalah khas gaya Mudejar.Katedral El Salvador yang juga dikenal dengan nama La Seo ini ternyata tadinya adalah masjid. Setelah Saragossa ditaklukkan pada tahun 1118 oleh pasukan Kristen dibawah raja Alphonso I, ia memerintahkan agar masjid diubah menjadi gereja hingga seperti sekarang ini.

Di sepanjang perjalanan kami juga  melihat sebuah museum yang tadinya adalah bangunan milik Muslim dan beberapa peninggalan Islam lainnya.

Esoknya kami menuju Aljafería Palace. ( Oya, kami sempat mengalami sedikitmasalah. Ban mobil kempes. Beruntung seorang pengendara yang baik hati,dengan bahasa isyarat, menunjukkan kepada kami bengkel tambal ban terdekat.  Di bawah guyuran air hujan yang lumayan deras,  suamipun memasang ban serep. Setelah itu kami berputar menuju bengkel yang dimaksud.  Alhamdulillah beres ).

Aljaferia Palace 1

Al-Jaferia Palace

Al-Jaferia Palace

Aljafeira Palace adalah bekas istana kediaman dinasti bani Hud, salah satu taifa, kerajaan kecil Islam, yang berkuasa di Saragossa. Istana ini dibangun pada pertengahan abad 11.  Tampaknya tak terlalu lama dinasti ini dapat menikmati istananya yang megah ini karena sejak tahun 1131 , istana menjadi tempat tinggal resmi raja Kristen Spanyol dan keluarganya …  😦  .

Sayang sekali kami tidak dapat masuk karena hari itu sedang berlangsung acara kenegaraan. Sebagian bangunan tersebut saat ini memang berfungsi sebagai gedung pemerintahan.

Berikut youtube tentang istana ini.

http://www.youtube.com/watch?v=K2E5lXCHP8A&feature=related

Setengah  kecewa terpaksa kami meninggalkan lokasi. Tujuan kami selanjutnya  adalah Toledo, bekas ibu kota lama. Namun sebelumnya kami bermaksud untuk  mampir ke masjid dahulu. Beberapa hari sebelum keberangkatan saya memang sengaja surfing di dunia maya untuk mencari alamat masjid dikota- kota yang bakal kami lalui. Saya menemukan dua alamat masjid di Saragossa ini.

Dengan bantuan GPS ( Global Positioning  System )  plus bekal  alamat inilah kami berusaha menemukan masjid yang dimaksud. Di sudut sebuah jalan mobil terpaksa berhenti karena kendaraan tidak dapat masuk. Ditemani anak gadis saya, saya turun sementara suami menunggu di dalam mobil. Berdua kami berjalan perlahan mencari nomor sesuai yang  tertera di alamat yang saya pegang.  Tidak ada tanda-tanda bahwa ada masjid di sekitar lokasi. Terus terang saya memang tidak berharap muluk walaupun berdasarkan foto yang saya dapati di internet, masjid tersebut cukup bagus.

Namun toh akhirnya saya harus tetap kecewa. Karena bahkan nomor bangunannyapun tidak berhasil kami temukan. Mau bertanya tidak ada orang. Kalaupun ada dengan bahasa apa … Tapi saya yakin bila saja ada indikasi adanya seorang muslim disana, misalnya dengan adanya perempuan berjilbab, dengan bahasa tarzan pasti bisa.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang ” (QS. Al-Ahzab (33): 59).

Namun apa mau dikata  … akhirnya kami menyerah dan terus meninggalkan Saragossa menuju Toledo.

Bersambung ke : https://vienmuhadi.com/2010/05/24/menilik-jejak-islam-di-eropa-5-toledo-1/

Read Full Post »

Dune atau dalam bahasa Indonesianya ‘bukit pasir‘ yang terbayang dalam benak kita biasanya adalah gurun pasir sahara di Arabia atau Afrika yang extra panas di ujung sana. Namun dune yang kami temui beberapa hari lalu benar-benar jauh berbeda dari bayangan tersebut. La Dune du Pyla adalah bukit pasir yang terletak sekitar 60 km barat daya Bordeaux, Perancis barat. Ini adalah dune  terbesar di Eropa. Bukit ini membujur sepanjang 3 km di pesisir pantai Gasconne, lautan Atlantik dengan ketinggian sekitar 117 meter, lebar 500 meter serta terdiri atas sekitar 60 juta meter kubik pasir putih.

Pasir yang membentuk bukit ini adalah pasir yang semula berada di pantai Gasconne.  Namun karena kekuatan angin dan arus air pantai yang amat kencang pasir terdorong hingga membentur hutan kecil yang ada di belakangnya. Dan sedikit demi sedikit menumpuk hingga terbentuklah bukit pasir seperti yang kami saksikan sore itu. Subhanallah ..

« Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, » (QS.As-Shad (38) :36).

« Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan sekuat-kuatnya, » (QS.Adz-Zariyat (51):1).

« Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), ….. »(QS.Al-Qamar (54):34).

Ya, Kami yang dimaksud ayat diatas adalah Dia, Allah  swt, Sang Penguasa Tunggal yang memiliki langit, bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya. Dialah  yang memerintahkan pasukannya yang teramat taat dan setia  yaitu para malaikat agar angin berhembus kemanapun, menerbangkan dan mengangkat apapun yang dikehendaki-Nya. Jangankan debu-debu lembut dipinggir pantai bahkan batu-batu besar dan tajam sekalipun seperti yang menimpa kaum Luth ataupun kota Pompei di Italia adalah hal yang amat sangat mudah bagi-Nya. Allahuakbar ..

Sore hari itu ketika kami sedang berusaha mendaki bukit, tiba-tiba angin yang lumayan dingin datang bertiup cukup kencang. Temperatur berkisar sekitar 12 derajat Celcius. Saya terpaksa membatalkan keinginan untuk memandang keindahan pemandangan lautan Atlantik yang terdapat di balik bukit tersebut karena khawatir terjatuh oleh angin. Padahal bila cuaca cerah kita bisa menyaksikan  rantai pegunungan Pyrene yang sedang bersalju itu dari kejauhan. Menurut seorang penjual toko souvenir yang berada disana pada musim panas sebenarnya disediakan tangga kayu menuju bukit.

Bordeaux

Bordeaux

 Mosque de Bordeaux

Mosque de Bordeaux

Dengan berat hati akhirnya kamipun meninggalkan tempat dan langsung menuju kota Bordeaux. Esoknya, karena hari itu adalah hari Jumat kamipun menyempatkan diri mencari masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Bertolak belakang dengan keadaan kota  yang besar, ramai dan cantik, masjid yang kami jumpai hanyalah sebuah bangunan apartemen tua yang bediri disela-sela hunian tua pula.

Namun demikian jumlah jamaah cukup mengejutkan hati. Ternyata bangunan 4 lantai yang bertangga sempit tersebut sesak dijejali para hamba yang hendak mengagungkan-Nya. Alhamdulillah …

Setelah puas berjalan-jalan melihat kota dimana deretan panjang bangunan tua nan antik dan cantik menghisasi tepi sungai Garonne, kamipun kembali ke hotel. Esok sebelum kembali ke Pau, kami masih ingin mencoba mengunjungi Dune du Pyla yang tertunda kemarin.

Dune du Pyla 1

Dune du Pyla 1

Dune du Pyla2

Rupanya Sang Khalik amat mengetahui keinginan hamba ini. Setelah beberapa kali kecewa karena sejumlah pintu menuju lokasi ditutup, kami akhirnya berhasil menemukan jalan menuju pantai. Dari sinilah kami akhirnya dapat mendaki bukit walaupun bukan dari lokasi terbaiknya. Karena ternyata di lokasi tersebut tersedia sejumlah tempat wisata yang sayangnya hanya dibuka di musim panas saja. Perkemahan lengkap dengan sarananya, berbagai permainan pantai dan taman bermain anak-anak hingga olah raga layang gantung  tersedia disini.

Subhanallah .. sungguh cantik pemandangannya  .. laut biru kehijauan nan luas diselingi bukit-bukit pasir putih  kecil memanjang di sana sini terbentang di hadapan mata kami. Kami bahkan sempat memandang dan mengikuti terbenamnya matahari ke balik laut. Betapa indahnya alam ciptaan-Mu Ya Allah .. Subhanallah  .. terima kasih Ya Allah  ..

Namun esok paginya ketika kami telah tiba kembali di rumah terdengar kabar bahwa semalam badai Xynthia telah memporak-porandakan pantai barat Perancis. Termasuk sekitar wilayah Bordeaux dimana terdapat Dune du Pyla yang diterjang angin berkekuatan antara 120 – 140 km perjam! Badai ini mengakibatkan angin puyuh, gelombang laut setinggi 8 meter, hujan deras dan banjir dimana-mana. Korban sejumlah  50-an  orang yang kebanyakan sedang tidur nyenyakpun berjatuhan. Angin juga berhasil melumpuhkan tenaga listrik negara maju ini hingga jutaan orang terpaksa melewati malam di musim dingin tersebut dalam kegelapan. Astaghfirullah ..

Pada saat yang sama kami juga mendengar berita terjadinya gempa berkekuatan 8.8 skala richter menyerang Santiago, ibu kota Chili di Amerika Selatan. Gempa dasyat ini disusul dengan terjadinya gelombang tsunami yang berdampak hingga ke Jepang yang letaknya  ribuan kilometer dari Chili. Korban mencapai 700 orang lebih, ironisnya lebih dari separuhnya justru  akibat tsunami yang datang belakangan tanpa terduga.

Jadi pada saat yang sama baik lautan Atlantik di barat maupun lautan Pasifik di timur telah merasakan kekuatan raksasa yang mengakibatkan bencana besar. Siapa yang kuasa mendatangkan ini semua ?

“ Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya “.(QS. Ar-Raad(13):41).

Tampak jelas bumi, rumah yang dihuni milyaran manusia sejak ribuan tahun lalu ini telah mulai goyah dan rentan, renta dimakan usia. Rasanya sudah bukan waktunya lagi manusia cukup hanya mempercayai bahwa bumi akan hancur, bahwa kiamat pasti akan datang, bahwa Sang Penguasa alam semesta itu ada … namun tetap berkeras kepala tidak mau menjalankan perintah dan larangan-Nya. Na’udzubillah min dzalik …

Sekali lagi syukur yang dalam kami panjatkan kepada Allah swt  yang telah mengantarkan kami kembali ke rumah dalam keadaan selamat. Semalam kami memang merasa khawatir terhadap angin kencang yang bertiup. Suara angin yang terjebak di sekitar bangunan apartemen dimana kami tinggal terdengar berderu keras seolah ingin menerbangkan kami. Saking khawatirnya bahkan anak perempuan kami yang telah berusia 15 tahunpun pindah tidur sekamar dengan kami.

Begitu pula malam sebelumnya ketika masih di Bordeaux. Kertas –kertas berterbangan, tong sampah terguling, tiang lampu lalu lintas dan tiang papan reklame bergoyang-goyang. Ini  masih ditambah lagi dengan hujan es batu kecil ( grele) yang datang secara tiba-tiba walaupun hanya beberapa menit.

Cap Ferret

Cap Ferret

Sama halnya dengan ketika kami dalam perjalanan menuju Cap Ferret, sekitar 30 km utara Bordeaux. Hujan angin terus mengiringi perjalanan kami. Namun tidak percuma   kami tetap berkeras meneruskan perjalanan karena di tempat ini kami juga berhasil melihat ‘hasil karya angin’ ciptaan-Nya. Yaitu deretan pulau pasir putih ditengah laut biru kehijauan. Rupanya bukit pasir memang terbentuk di sepanjang garis pantai Gascone di lautan Atlantik ini.

Itulah angin, sebuah kekuatan maha dasyat yang bergerak atas izin dan kehendak-Nya kemanapun ia mau. Menggiring pasir pantai dan membentuknya menjadi bukit pasir, membawa air hujan dan menumbuhkan tanam-tanaman hingga menjadi berkah namun juga sekaligus menghancurkan apa yang menghalanginya. Allahuakbar ..

«  dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya ».(QS.Al-Jaatsiyah(45) :5-6).

Wallahu’alam bishawwab.

Pau- France, 2 Maret 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

 ( Sambungan dari :  Suka Duka Muslim Di Perancis (11).)

Kami tiba di Marseilles, kota pelabuhan terbesar Perancis dan terbesar ke 4 di Eropa, pukul 8 malam lebih. Saat itu hujan sedang turun. Setelah cek in dan menurunkan barang, kami keluar lagi untuk mencari makan malam. Karena ingin segera melihat keadaan kota, kami memutuskan untuk makan di restoran cepat saji. Namun ternyata kami sedikit terlambat. Resto hanya buka hingga pukul 9 karena ini adalah malam tahun baru. Mereka hanya melayani ‘drive thru’. Apa boleh buat … berhubung lapar ditengah hujan rintik-rintik kamipun menyantap makan malam di dalam mobil sambil menyaksikan sejumlah muda mudi yang juga kecele ..” Apa g beku ya .. dinginnya kayak gini koq pake baju njeblak semua ..”, begitu komentar suami melihat anak-anak muda yang ber-celana pendek jeans atau rok mini yang terbuka disana-sini … Bbrr ..      

Selesai makan, kami berputar-putar keliling kota.Tampaknya tidak ada pesta ataupun persiapan khusus menyambut tahun baru. Memasuki ‘vieux port’ kota tua di sepanjang pelabuhan kapal kecil baru terasa ada sedikit  keramaian. Jalanan sempit  yang naik turun ini dipenuhi anak-anak muda. Berkali-kali kami terpaksa berputar karena tidak bisa lewat.

Hingga detik-detik terakhir, pesta kembang api yang sangat diharapkan anak-anak tidak juga muncul. Yang ada yaitu tadi .. anak-anak muda yang bergerombol, minum-minum,  bersalaman, berpelukan, berciuman .. Sedihnya, dari raut wajahnya kelihatannya  kebanyakan anak-anak muda tersebut adalah keturunan Arab ..

Dalam hati saya berharap, “ Semoga ini bukan cerminan wajah Muslimin .. “. Terus terang saya sering mendengar keluhan warga Perancis yang merasa terganggu akan kelakuan buruk anak-anak muda keturunan Arab yang suka berbuat keributan. Sedih dan malu rasanya ..

Dari Abu Syuraih r.a. bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, “Demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman; demi Allah, seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa itu, Ya Rasulallah?” Jawab Nabi, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Bukhari)

vieux port, Marseille

vieux port, Marseille

Esok paginya kami kembali berjalan-jalan dan melihat kota. Marseilles yang merupakan kota terpadat kedua di Perancis ini secara geografis sangat menarik. Terletak di tepi laut Mediterania dengan latar belakang pegunungan walaupun tidak begitu tinggi. Sayang sekali selama kami berada disini cuaca tidak begitu bagus. Selain hujan anginnyapun besar. Akibatnya tidak ada foto yang cukup bagus untuk dimuat di blog ini .. 😦  

Umat Islam di kota ini cukup banyak, yaitu sekitar 250 ribu atau hampir 30 persen dari total jumlah penduduk Marseilles. Namun menurut catatan imam besar Marseilles, hanya 40 ribu yang ‘pratiquants’, istilah umum Perancis bagi orang yang mempraktekkan ajaran agama. Dibanding saudara-saudaranya yang tinggal di kota-kota dimana muslim banyak ditemui, muslim Marseilles termasuk kurang beruntung. Paris, Lyon, Toulouse dan Lille mempunyai masjid besar bahkan di empat kota tersebut terdapat sekolah Islam setingkat SMA / Lycee. 

Namun beberapa waktu yang lalu ( November 2009), setelah menanti selama puluhan tahun, akhirnya pemerintah memberi izin pembangunan masjid besar Marseilles… Allahuakbar.. Masjid dengan menara setinggi 25 m dan mengandalkan sinar lampu semacam soclay sebagai ganti azan ( pemerintah melarang panggilan azan terdengar keluar masjid !!) ini bakal mampu menampung lebih dari 3000 jamaah. Dan diperkirakan siap menyelenggarakan shalat Idul Fitri 2011.

Sayangnya ada desas desus bahwa proyek ini sebenarnya hanya bersifat politis. Biaya pembangunan masjid amat sangat besar sementara dana yang diberikan ( termasuk bantuan dari Negara-negara Arab ) tidak seberapa karena pemerintah memang membatasinya …L

masjid Marseilles

masjid Marseilles

Kebetulan hari ini adalah hari Jumat.  Dengan bantuan GPS dan alamat masjid yang sebelumnya memang telah kami siapkan, maka kamipun berbaur bersama jamaah  Marseilles dalam rangka menegakkan shalat Jumat di sebuah masjid yang lumayan kecil L …  semoga suatu waktu kelak kami berkesempatan shalat di Grand Mosque de Marseilles .. Insya Allah ..       

Pau- France, 18 Januari 2010.

Vien AM.    

Read Full Post »

Sambungan dari “ Suka Duka Muslim Di Perancis (10)”.

Dengan menumpang kereta api kami kembali ke Florence. Sesampainya kami segera mengambil mobil yang diparkir di parkir tertutup stasiun (dengan biaya 16 euro untuk 5 jam atau 240 ribu ! padahal biaya kereta api hanya 5 euro per orang sekali jalan .. mahalan parkirnya ya ..  ) kemudian kami langsung berangkat menuju Milan yang terletak 250 km di barat laut Florence.  

Kami memotong barisan pegunungan Apennis yang membujur sepanjang Italia sepanjang 1000 km. Pegunungan ini terbagi atas tiga kelompok, yaitu pegunungan Apennis Utara, Apennis Tengah dan Apennis Selatan. Di pegunungan Apennis Selatan inilah terdapat  gunung Vesuvius yang pada tahun 79 M meletus. Letusan yang diawali dengan kebakaran hebat selama 6 hari 7 malam dan gempa hebat ini telah mengubur kota Pompei dan sekitarnya. Bahkan penduduknyapun terkubur dalam keadaan hidup-hidup ! Astaghfirullah ..   

Padahal gunung ini tingginya hanya 1281 meter. Namun akibatnya sungguh mengerikan. Jenazah dengan berbagai posisi bergelimpangan dimana-mana. Jenazah yang tertutup debu letusan tersebut utuh hingga saat ini ! Kemungkinan besar mereka meninggal dalam keadaan menderita  luar biasa karena tenggorokan mereka tampak masih disesaki debu. Letusan dasyat ini terjadi hanya beberapa tahun setelah peristiwa ‘penyaliban’ Isa as yang disusul dengan pembantaian pengikut setianya. Masyarakat Pompei (Romawi / Yahudi) ketika itu adalah para penyembah berhala dan dewa-dewi. Mungkinkah ini salah satu azab Allah terhadap penduduk (bani Israel) yang tidak mau mengakui kenabian Isa as dan mendustakannya? Wallahu’alam.

( Youtube Pompei , click : http://www.youtube.com/watch?v=gmwylbF3-CA&feature=related )

52.  Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.

53. Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”.

54. Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

55. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.

56. Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong. (QS. Ali Imran (3):52-56).  

Pemandangan selama perjalanan ini sebenarnya indah. Sayang hari telah sore menjelang gelap. Disamping itu cuaca sangat dingin ( 2 derajat !) dan anginpun amat  kencang bertiup. Saya berkali-kali terpaksa mengingatkan suami agar jangan melaju terlalu kencang dan berhati-hati. Sepanjang perjalanan menaiki dan menuruni pegunungan tersebut kami tak hentinya terus berzikir kepada-Nya : “ Ya Allah mudahkanlah  perjalanan kami “.  

Kami tiba di Milan sekitar pukul 9 malam, dengan selamat. Alhamdulillah. Setelah makan malam di resto Yunani di sebelah hotel,  kami keluar lagi dengan mengendarai mobil untuk melihat-lihat pusat kota. Tujuan kami  adalah Kathedral Milan, orang Italia menyebutnya ‘Duomo di Milano’  yang terletak di Piazza del Duomo.  

Milan yang saya tahu adalah salah satu pusat mode dunia. Namun kotanya sendiri ternyata kurang begitu cantik. Jalanannya selain sempit juga agak gelap. Ini masih ditambah lagi dengan jalur trem yang saling tumpah tindih dengan jalanan mobil. Padahal jalanannya bukan jalan aspal melainkan jalan kuda yang sama sekali tidak mulus.   

Duomo di Milano

Duomo di Milano

Setelah berputar-putar karena bingung ( begitu juga sang GPS alias Global Positioning System yang selalu setia memandu kami ) akhirnya secara tidak sengaja kami tiba di pelataran gereja yang menjadi land mark kota itu. Bangunan tersebut begitu besar dan megah. Kami sampai terbengong-bengong melihatnya. Saking bengongnya kami tidak memperhatikan suasana sekitar. Suami sempat berkomentar  : “ Koq g ada mobil lain ya .. “. Namun saya dan anak-anak tidak menanggapi dengan serius. Saya malah menganjurkan anak-anak untuk segera turun dan berfoto ria ..

Tetapi belum sempat mobil diparkir dengan baik, sebuah mobil polisi, ntah dari mana munculnya, tiba-tiba sudah berada disisi mobil kami. Suami saya yang masih belum menyadari keadaan berusaha menyingkir memberinya jalan. Eh .. mobil polisi tersebut malah mepet mobil kami .. layaknya mobil penjahat mau kabur itu lho .. Ya ampun, ada apa ini .. pikir kami ..  

Dengan memasang wajah galak, kedua polisi tersebut turun dan menghampiri mobil kami. Kemudian dengan berbahasa Perancis yang tidak begitu lancar ( mungkin karena melihat plat mobil kami ) mereka mengatakan bahwa kami telah melanggar peraturan. Ternyata jalanan tersebut hanya untuk pejalan kaki !! Astaghfirullah … Koq kita bisa ngga llihat tanda larangannya ya .. Terpaksa uang 38 euro atau kira-kira setara dengan 500 ribu rupiahpun  terpaksalah  melayang …   Tapi jangan salah, ini legal lho .. bukan sogokan seperti yang lazim yang terjadi di negri kita tercinta. Untung tidak masuk pengadilan, begitu kami menghibur diri …  

Esoknya, kami kembali ke tempat ini lagi…( tentu saja kali ini mobil di parkir di tempat yang semestinya. ..   ..meski ternyata tidak mudah mencari parkir ditempat ini ) ..  

Pelataran ramai dipadati turis, tidak seperti kemarin malam yang lenggang. Padahal udara dingin dan agak mendung. Gereja yang mulai dibangun pada tahun 1386 dan baru rampung secara keseluruhan pada tahun 1805 ini memang harus diakui keindahan dan kemegahannya. Gaya campuran antara Ghotique, Baroque, Néoclassique  dan Neogothique, sesuai zaman ketika dibangunnya, jelas sekali tampak disana. Di gereja raksasa ini pulalah Napoleon Bonaparte melantik raja Italia pada tahun 1805.  

Duomo di Milan ternyata adalah salah satu katedral tertinggi di dunia. Luas Kathedral ini 11700 m2, memiliki 136 menara (  yang tertinggi mencapai 108 meter) dan 3400 patung. Dengan biaya 10 euro, pengunjung dapat memasuki dan menaiki menara melalui lift atau tangga berjalan yang tersedia.  

Piazza Duomo di Milano
Piazza Duomo di Milano

Kami tidak menyempatkan diri masuk selain memang tidak tertarik juga karena waktunya hanya sedikit. Kami hanya berjalan-jalan di mall artistik di yang terletak disamping kathedral dimana sejumlah butik terkenal ada di dalamnya. Di tempat ini kami menjumpai sejumlah keramaian. Ada kelompok musisi yang memainkan musik, ada pula panggung dimana dari atasnya menjulur setangkai batang pohon (artificial). Dari tangkai tersebut menjulur  daun dan buahnya  

Mulanya kami tidak begitu ‘ngeh’ apa maksudnya. Kami hanya heran melihat barisan  panjang orang yang mengantri ingin berpose di bawah juntaian daun tersebut. Dengan berbagai gaya orang-orang tersebut berfoto. Ada yang sedang menggigit buahnya, ada yang hanya memegang daunnya.  

Ketika sepasang suami-istri naik dan berpose dengan gaya sedang menggigit buah tersebut, barulah saya sadar apa maksudnya. Tak syak lagi, ini adalah penggambaran kisah nabi Adam as dan Siti Hawa ketika berada di surga. Astaghfirullah hal Adzim  .. Wong Allah swt murka atas kelalaian keduanya koq orang malah berebut bergaya dan berfoto seperti itu. Benar-benar menantang …… keterlaluan ..

Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk“.  (QS.Toha (20):121-122)

Tak lama kemudian kami sudah berada didalam mobil. Marseilles yang berjarak 521 km adalah kota tujuan terakhir untuk menutup akhir tahun 2009. Ini adalah jarak terpanjang yang bakal kami tempuh dalam liburan kali ini. Namun demikian kami tetap ingin mengunjungi masjid Milan dan ingin melaksanakan shalat Zuhur dan Asar di dalamnya. Menurut internet masjid ini mempunyai madrasah dan forum kajian rutin yang membahas berbagai materi, dari aqidah hingga permasalahan sehari-hari yang dihadapi kaum Muslimin di kota ini.    

masjid Milan

masjid Milan

 Alhamdulillah tanpa kesulitan kami berhasil mencapai tempat tersebut. Masjid terletak diluar kota, didekat auto road. Memiliki tanda yang cukup jelas dan menara lumayan tinggi. Kami disambut oleh seseorang yang kelihatannya adalah penjaga masjid. Dalam bahasa Italia ia menunjukkan letak ruang shalat, tempat wudhu dan juga letak madrasah. Karena kesulitan bahasa, kami tidak dapat berbincang banyak .. sayang sekali ..    

 

( Bersambung ke : Suka Duka Muslim Di Perancis (12).)  

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »