Feeds:
Posts
Comments

3. Lembut dan santun.

Dikisahkan, di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata, “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Hari demi hari pengemis Yahudi itu mencela Rasulullah. Kejadian itu terus berlangsung di pojok Pasar Madinah. Sebagai Nabi yang diberi wahyu, Rasulullah tentu tahu apa yang dilakukan pengemis Yahudi buta itu.

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu. Saat Rasulullah menyuapinya, si pengemis Yahudi itu tetap berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW menyuapi pengemis Yahudi itu hingga menjelang beliau wafat.

Setelah kewafatan Rasulullah, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat Nabi, Abu Bakar RA berkunjung ke rumah putrinya Aisyah RA yang juga istri Rasulullah.

Beliau bertanya kepada putrinya, “Anakku, adakah sunnah kekasihku (Nabi Muhammad) yang belum aku kerjakan?”.

Aisyah menjawab ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abu Bakar.

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana,” kata Aisyah.

Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?“. Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa“.

“Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku, tangan ini tidak susah memegang dan mulut ini tidak susah untuk mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu dengan mulutnya. Setelah itu ia berikan padaku,” kata pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar, ia pun menangis sedih dan kemudian berkata, “ Benarkah demikian? “Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia”.

Pengemis Yahudi buta itu akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar.

4. Biasa Bermusyawarah dalam mengambil keputusan.

– Pada awal hijrahnya Rasulullah dan para sahabat dari Makkah ke Madinah di tahun 622 M, umat Islam belum mengenal apa yang kini dinamakan “adzan”. Ketika itu para sahabat berkumpul di masjid Nabawi di awal waktu tanpa adanya seruan khusus.

Hingga suatu hari di tahun ke 2 Hijriyah, Rasulullah saw meminta para sahabat agar memberikan masukan cara terbaik panggilan untuk shalat. Para sahabatpun berlomba memberikan usul dan pendapat. Ada yang mengusulkan meniup terompet, tetapi beliau membencinya karena itu tradisi Yahudi. Ada yang mengusulkan lonceng, tetapi beliau juga tidak menyukainya karena itu tradisi Nasrani.

Sementara itu seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid bin Tsa`labah bin Abdi Rabbih, saudara Balharits bin Al-Khazraj, bermimpi tentang suatu seruan. Iapun segera mendatangi Rasulullah saw untuk menceritakan mimpinya itu. Maka iapun menceritakannya.

Selesai sahabat tersebut menceritakan hal tersebut, Rasulullah saw bersabda:

Sungguh ini adalah mimpi yang benar insya Allah, berdirilah engkau, ajarkan Bilal  bacaan tersebut agar dia mengumandangkannya karena suaranya lebih merdu darimu“.

Ketika Bilal ra mengumandangkan adzan tersebut, Umar bin Khattab ra segera keluar dan menuju Rasulullah saw. Sambil menarik sarungnya, ia berkata:

“Wahai Rasulullah, Demi yang mengutusmu dengan kebenaran! Sungguh aku telah bermimpi seperti yang ia ucapkan.

Rasulullah saw bersabda:

“Segala puji hanya bagi Allah, ini semakin kuat” (HR. Tirmidzi no.189).

– Pada tahun 5 Hijriyah terjadi perang yang dikenal dengan nama perang Khandaq ( Ahzab) atau perang Parit. Perang ini terjadi oleh karena adanya hasutan beberapa pemimpin Yahudi bani Nadhir kepada Quraisy Mekah agar mereka bersama-sama menyerang Madinah dan menghancurkan Islam.

Orang-orang Yahudi ini berusaha meyakinkan bahwa ajaran Quraisy lebih baik dari pada ajaran Islam yang sialnya dipercaya oleh tokoh-tokoh Quraisy yang memang merasa dirugikan dengan ajaran Islam. Orang-orang Yahudi tersebut juga membujuk suku Gathafan, bani Fuzarah dan bani Murrah untuk bersengkokol memusuhi Islam. Maka berangkatlah sepuluh ribu pasukan Ahzab yang berarti pasukan gabungan tersebut menuju Madinah.

Di Madinah begitu mendengar kabar bahwa Madinah akan diserang, Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat untuk membicarakan strategi apa yang akan digunakan menghadapi pasukan tersebut.

Salman Al-Farisi, seorang sahabat asal Persia, mengusulkan strategi yang sebelumnya tidak dikenal bangsa Arab. Strategi tersebut adalah dengan menggali parit sekeliling Madinah untuk melindungi kota dari serangan musuh.

Rasulullah menerima usulan tersebut meski ada sejumlah sahabat, dengan berbagai dalih, meragukannya. Diantaranya Salman bukan asli orang Arab, ia baru memeluk Islam pada periode Madinah dll. Namun Rasulullah menerima usulan tersebut tentu bukan tanpa dasar dan perhitungan. Pasukan musuh ketika itu tidak hanya lebih banyak, yaitu 3x lebih jumlah pasukan Muslimin. Peralatan perang mereka juga lebih lengkap dan pasukannya lebih terlatih. Dengan demikian strategi defensive (bertahan) pasti lebih baik dari strategi offensif (menyerang). 

Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah”. (HR at-Tirmidzi).

Dan ternyata benar. Pasukan sekutu pimpinan Abu Sufyan tiba di Madinah dan langsung terkejut ketika melihat parit yang mengelilingi kota tersebut. Pasukan yang mengandalkan kavaleri (prajurit berkuda) tersebut tidak bisa berbuat banyak menghadapi parit di hadapan mereka.

Meski Madinah di kepung selama 27 hari pasukan musuh tidak bisa menembus parit Madinah. Kekalahan tokoh Quraisy, Amr bin Wadd yang konon setara dengan 100 orang, melawan Ali bin Abi Thalib ra, membuat patah semangat pasukan Quraisy. Akhirnya pasukan sekutu tersebut kembali ke Mekkah dengan tangan hampa.

( Bersambung)

Bagi kaum Muslimin, dimanapun dan sampai kapanpun, tidak ada keteladanan yang lebih baik dan lebih tepat selain Rasulullah Muhammad saw. Nabiyullah yang selama hidupnya berjuang sekuat tenaga menyampaikan ajaran Islam berdasarkan Al-Quranul Karim,  hingga selamatlah kita dari kekafiran.   Apalagi Allah swt dengan secara jelas telah menyatakan ha tersebut melalui ayat-ayat berikut :

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( QS. Al-Ahzab(33):21).

Dan sesungguhnya kamu ( Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. ( Terjemah QS. Al-Qalam (58):4-5).

Setidaknya ada 4 sifat Rasul yang wajib dijadikan keteladanan. Yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fathonah.  

1. Siddiq (benar/jujur).

Siddiq yaitu jujur atau benar. Sifat sidiq ini tersirat dalam kehidupan sehari-hari beliau sebagai seorang pedagang pada masa sebelum kerasulan. Al-Qur’an Karim menegaskan berbohong adalah sifat mustahil yang dimiliki semua utusan-Nya. Berbekal sifat inilah penduduk Mekah mencintai beliau meski hanya sebatas manusia bukan sebagai utusan-Nya. Dan di kemudian hari sebagai keteladan bagi para sahabat sekaligus disegani para lawan.

2. Amanah (terpercaya/tidak khianat).

Sifat nabi Muhammad SAW yang kedua yang perlu kita tiru ialah sifat amanah. Amanah artinya dapat dipercaya. Nabi Muhammad memiliki julukan sebagai Al-Amin yang artinya dapat dipercaya. Penduduk Mekah memberikan julukan tersebut kepada Rasulullah jauh sebelum masa kerasulan. Melalui sifat tersebut terbangunlah kepercayaan yang kuat.

3. Tabligh(menyampaikan).

Selanjutnya adalah tabligh yang artinya adalah menyampaikan. Sifat tabligh dalam diri Nabi Muhammad SAW tercermin pada bagaimana beliau SAW menyampaikan firman Allah SWT kepada penduduk Quraisy, yang kemudian berlanjut ke seluruh jazirah Arab. Firman Allah SWT yang pada masa khalifah Umar bin Khattab kemudian dibukukan dalam kitab suci Al-Quranul itu kini telah tersebar ke seluruh pelosok dunia tanpa sedikitpun perubahan di dalamnya.  

4. Fathonah (cerdas).

Fathonah atau cerdas. Nabi Muhammad memiliki sifat fathonah maksudnya ialah seseorang yang dapat menggunakan kecerdasannya. Nabi Muhammad memaksimalkan kemampuan intelektualnya untuk melakukan berbagai urusan, mulai berdagang, berkomunikasi, berdakwah, berdiplomasi hingga berperang dsbnya.

Namun demikian ada beberapa sifat lain dari Rasulullah yang tak kalah penting dan menariknya. Berikut beberapa contohnya :

1. Tidak suka menyakiti hati.

– Suatu hari datang seorang lelaki miskin dari desa membawa semangkuk penuh buah anggur sebagai hadiah untuk Nabi Muhammad SAW.  Dengan penuh percaya diri dan suka cita ia berkata, “Wahai Rasulullah, terimalah hadiah kecil ini dariku.”

Rasulullah tersenyum dan menerima pemberian tersebut. Dan sebagai penghargaan beliau langsung memakan anggur tersebut dihadapan si pemberi. Namun tak seperti biasanya, Rasulullah mengambil dan memakannya satu persatu hingga habis tuntas tanpa menawarkan kepada sahabat yang duduk bersamanya.

Setiap selesai memakan 1 buah anggur beliau selalu tersenyum sambil memandang si pemberi. Betapa senang dan bahagianya lelaki tersebut menyaksikan pemandangan tersebut. Ia merasa begitu tersanjung. Setelah puas melihat mangkuknya telah kosong iapun berpamitan pulang  dengan hati yang berbunga-bunga.

Giliran para sahabat yang penuh keheranan menyaksikan hal tersebut, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, tidak seperti biasa, anda tidak menawarkan kami (menyantap anggur) itu bersamamu. Ada apakah gerangan?”

Rasulullah SAW tersenyum penuh arti lalu berkata: “Tidakkah kalian lihat betapa bahagianya ia dengan mangkuk (anggur) itu? Ketahuilah ketika aku memakannya, anggur itu terasa asam. Maka aku khawatir apabila aku membaginya kepada kalian, maka kalian akan menampakkan reaksi sesuatu yang akan merusak kebahagiaannya”.

Para sahabat terdiam sambil mengangguk-anggukan kepala penuh rasa hormat.  

– Tidak dapat dipungkiri bahwa para sahabat dan semua istri Rasulullah saw mengetahui bahwa Rasulullah memiliki rasa cinta dan sayang yang lebih terhadap Aisyah ra daripada istri-istri yang lain diluar Khadijah ra. Namun demikian Rasulullah tidak suka memperlihatkannya secara terang-terangan.

Alkisah, suatu hari Aisyah yang memang masih sangat muda, ingin agar Rasulullah menyatakan kelebihan cinta tersebut di hadapan istri-istri beliau yang lain. Aisyah memohon agar Rasulullah mengumpulkan mereka semua dan mengatakan bahwa hanya dirinya yang menerima uang sebesar 1 dinar sebagai ungkapan rasa cinta yang lebih besar. Rasulullahpun mengabulkan permintaan tersebut.

Para Umirul Mukmininpun dikumpulkan. Kemudian Rasululullah meminta agar mereka yang pagi ini menerima pemberian uang 1 dinar dari Rasulullah mengacungkan jarinya. Maka dengan penuh rasa bangga Aisyah segera mengangkat tangannya.

Namun apa yang terjadi?

Ketika Aisyah menengok ke kiri dan ke kanan ternyata semua istri Rasulpun mengangkat jari tangannya sambil tersenyum simpul penuh arti!

2. Sabar.

– Suatu hari Rasulullah memutuskan untuk pergi ke Thoif, suatu kota kecil berhawa sejuk tidak jauh dari Mekkah tempat para pemuka Quraisy berlibur. Ini dilakukan Rasulullah dengan harapan dalam suasana sejuk mereka mau menerima dakwah Islam.

Tapi siapa nyana Rasulullah justru mendapat perlakuan kasar. Beliau dilempari batu hingga terpaksa harus berlari mencari tempat berlindung. Melihat itu malaikat gunungpun tak trima dan menawarkan bila Rasulullah mengizinkan ia akan menimpakan gunung yang ada di dekat mereka. Tentu dengan izin Allah swt.

Namun apa jawaban Rasul?

“Aku bahkan menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukannya  dengan sesuatupun”.

Sungguh benar apa yang dikatakan Aisyah,  “Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an”. (HR Ahmad).

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (Terjemah QS. Ali Imran(3):200).

( Bersambung)

Pada suatu pagi di dataran tinggi Skotlandia, beberapa mobil mulai berdatangan ke parkiran A890 di sebuah hutan di Glen Caron. Prakiraan cuaca mengatakan hari itu akan hujan, tetapi matahari menyembul sejenak ketika sekelompok pendaki bersiap-siap untuk menempuh perjalanan menanjak sejauh 10 kilometer di Gleann Fhiodhaig, Wester Ross, Skotlandia.

Pemandangan seperti ini dapat ditemukan di ratusan parkiran mobil di seluruh Skotlandia setiap akhir pekan. Bedanya, kelompok yang terdiri dari 20 pendaki ini adalah peziarah. Mereka hendak mengunjungi makam seorang aristokrat dari zaman Ratu Victoria.

Mereka datang dari Edinburgh, Liverpool, Leicester, dan tempat-tempat lain yang lebih jauh untuk memberi penghormatan pada Lady Evelyn Cobbold – orang yang dianggap sebagai perempuan mualaf pertama yang lahir di Inggris dan melakukan ibadah haji ke Mekah.

Kegiatan keagamaan itu diselenggarakan oleh The Convert Muslim Foundation, yayasan berbasis di Britania Raya yang memberikan sokongan bagi orang-orang yang baru masuk Islam. Yayasan tersebut didirikan oleh Batool Al-Toma, seorang mualaf dari Irlandia. Perempuan itulah yang mengundang para mualaf untuk mendaki gunung.

“Sejak saya mendengar tentang Lady Evelyn, saya tertarik pada ceritanya. Dia wanita tangguh yang tidak membiarkan dirinya diremehkan hanya karena dia perempuan,” kata Al-Toma.

Tidak lama setelah mereka berjalan, hujan mulai turun. Topi dan tudung tahan air pun menutupi kepala dan hijab. Seiring angin dan hujan menerpa, para peziarah merenungkan perjalanan terakhir Lady Evelyn di lembah itu menuju tempat peristirahatan terakhirnya.

Ia meninggal pada Januari 1963 pada musim dingin yang lebih dingin dari biasanya dan dikubur di lereng bukit terpencil di perkebunan Glencarron miliknya. Dalam pemakamannya, seorang peniup bagpipe yang “gemetaran karena kedinginan” memainkan MacCrimmon’s Lament (lagu ratapan Skotlandia untuk orang yang meninggal dunia). Kemudian seorang Imam dari Woking, Surrey melakukan ritual penguburan, menurut kesaksian yang dipublikasikan di situs web Masjid Inverness.

Kaitan dengan Woking itu masih ada. Seorang perwakilan dari masjid di kota tersebut ikut serta dalam ziarah ke kuburan Lady Evelyn hampir 60 tahun kemudian.

Lahir di Edinburgh pada akhir 1800-an, Lady Evelyn menghabiskan masa kecilnya di Skotlandia dan Afrika Utara. Di Afrika, ia pertama kali mengenal Islam, berkunjung ke masjid bersama kawan-kawannya dari Aljazair. Lady Evelyn menikah dengan John Cobbold pada 1891 setelah bertemu saat melancong di Kairo.

“Tanpa disadari, dalam hati saya sudah sedikit Muslim,” tulisnya di kemudian hari.

Tidak ada yang tahu pasti kapan perempuan itu mulai memeluk Islam. Namun pertemuan kebetulan dengan Paus saat ia berkunjung ke Roma tampaknya menguatkan keyakinannya.

“Ketika Yang Mulia tiba-tiba berbicara kepada saya dengan bertanya apakah saya seorang Katolik, saya terkejut sejenak kemudian menjawab bahwa saya Muslim,” ujarnya.

“Entah apa yang merasuki saya, saya sama sekali tidak tahu karena saya sudah bertahun-tahun tidak memikirkan Islam.”

Di Timur Tengah, Lady Evelyn dikenal dengan nama Lady Zainab oleh kawan-kawan Arabnya. Ia punya akses luas dan pernah menulis tentang “pengaruh dominan perempuan di budaya Muslim”.

Pada usia 65 tahun, ia menunaikan haji ke Mekah, perempuan Inggris pertama yang melakukan ibadah ini.

Salah seorang Mualaf yang berziarah ke makam Lady Zainab adalah Yvonne Ridley, yang tinggal di perbatasan Skotlandia. Ridley masuk Islam setelah bekerja sebagai jurnalis di Afghanistan dan ditangkap oleh Taliban pada 2001.

“Keputusan saya untuk masuk Islam dipicu, dengan banyak cara, oleh penangkapan dan penahanan saya oleh Taliban. Pengalaman itu mengarahkan saya pada jalan yang awalnya sekadar kegiatan akademik namun menuntun saya pada perjalanan spiritual,” ujarnya.

Dalam memoarnya, In the Hands of the Taliban, Ridley mengatakan ia kagum dengan sikap hormat dan kesopanan yang ditunjukkan para pria Taliban kepadanya. Selama penahanannya ia berjanji akan mempelajari Al-Quran dan melakukannya setelah ia dilepaskan.

Ridley belajar tentang Lady Evelyn dari Al-Toma ketika mereka di Turki. “Saya mulai membaca lebih banyak tentang perempuan Skotlandia yang luar biasa ini, kemudian Batool dan saya memutuskan kami akan mengajak sekelompok mualaf untuk berziarah ke makamnya,” kata Ridley.

Setelah tiga jam pendakian dalam cuaca dingin dan basah, para peziarah beristirahat sejenak sementara pemandu mereka, Ismail Hewitt, yang mengenakan kilt, berjalan lebih jauh untuk mencari tempat peristirahatan terakhir Lady Evelyn.

Semangat mereka bangkit ketika ia melambai dari kejauhan, memberi sinyal bahwa tempatnya sudah kelihatan, tidak jauh di atas bukit. Kelompok mualaf itu berjalan ke sana kemudian berkumpul dan berlutut di sekeliling batu nisannya.

Satu per satu dari mereka memberi penghormatan sebelum berdoa bersama. Momen ini sungguh mengharukan dan beberapa orang bahkan sampai menangis. Al-Toma menutup upacara tersebut dengan membacakan cuplikan dari buku yang ditulis Lady Evelyn tentang perjalanan hajinya ke Mekah.

“Apakah yang terjadi dalam beberapa hari ke belakang selain minat, keajaiban, dan keindahan yang tak ada habisnya. Bagi saya, sebuah dunia baru yang menakjubkan telah terungkap.”

Setelah berjalan kembali ke jalanan, para peziarah diundang ke masjid di Iverness untuk makan bersama dan merenungkan perjalanan yang baru mereka lakukan. Ridley berkata ia merasa letih sehabis perjalanan, namun doa bersama di makam Lady Evelyn “menggetarkan jiwa”.

“Ada seekor rusa yang muncul di bukit di atas kuburannya, yang cukup simbolis dan menggugah,” ujarnya.

“Inilah perempuan yang hatinya berada di Highlands, tapi juga sangat mendalami Islam.”

Al-Toma setuju bahwa Lady Evelyn adalah contoh bagaimana para mualaf dapat tetap mempertahankan identitas dan budayanya.

“Dia adalah mualaf yang sangat penting di sini,” imbuhnya.

“Saya senang membaca bukunya dan melakukan perjalanan ini karena saya mengagumi keberaniannya dan jiwa petualangnya. Dia seorang perintis sejati.”

Jakarta, 20 Juli 2022.

Vien AM.

Diambil dari : https://www.bbc.com/indonesia/majalah-61809297

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam terkemuka yang banyak memberikan sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia digelari Hujjatul Islam berkat kemampuan daya ingatnya yang luar biasa dan bijak dalam berhujjah/argumentasi.

Al-Ghazali dikenal sebagai ulama yang sangat kuat beribadah, wara’, zuhud dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan serta kemegahan. Dan itu semua ia lakukan demi mencari ridha Allah SWT.

Al-Ghazali banyak menulis buku dalam berbagai bidang seperti tasawuf, filsafat dan logika. Diantaranya yang paling menonjol adalah Ihya Ulumuddin yang berarti Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama. Kitab ini membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nafs) yang membahas perihal penyakit hati, pengobatan dan bagaimana cara mengasahnya.

Patut diketahui ulama yang lahir di kota Tus, Khurasan pada 450 H/1059 M ini hidup pada masa kemunduran pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah yang memerintah sejak abad 8 di wilayah bekas kekuasaan Persia tersebut. Pada masa itu penyakit hati dan kemerosotan ahlak sedang menjangkiti banyak umat Islam. Dalam pemerintahanpun terjadi berbagai konflik internal yang berlangsung berkepanjangan  tiada henti.  

Al-Ghazali sendiri mengalami 2 fase kehidupan. Yang pertama adalah fase dimana ia sangat semangat menekuni ilmu hingga akhirnya mencapai puncak kesuksesan dengan diangkatnya sebagai penasehat kerajaan sekaligus pengajar di Perguruan Nizamiyah yang sangat bergengsi. Kehidupannya saat itu diliputi ketenaran dan kekayaan.

Sedangkan fase kedua adalah fase dimana ia mulai jenuh dengan segala kemewahan yang didapatnya. Al-Ghazali mengalami perubahan drastis dalam kehidupannya setelah mempelajari ilmu tasawuf. Ia meninggalkan seluruh kehidupan mewahnya dan mengembara demi mencari ketenangan dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Pada tahap inilah ia banyak menulis kitab termasuk kitab tasawuf Ihya Ulumuddin.

Dalam kitabnya tersebut, Al-Ghazali salah satunya mengutip perkataan Khalil bin Ahmad, seorang ulama ahli Bahasa dan sastra Arab  yang hidup pada abad 7, bahwa manusia terbagi atas 4 golongan berdasarkan tahu dan tidak tahunya seseorang.Yang pertama yaitu, Tahu dan Ia Tahu, 2.  Tahu tapi Ia Tidak Tahu, 3. Tidak Tahu tapi Ia Tahu, 4. Tidak Tahu dan Ia Tidak Tahu.

1.Tahu Ia Tahu.

Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu/berilmu, dan Tahu kalau ia Tahu). Yaitu seorang yang Tahu (berilmu), dan ia Tahu kalau dirinya Tahu (berilmu). Inilah yang disebut Al-‘Alim yang artinya adalah Mengetahui.

Al-‘Alim adalah golongan manusia terbaik. Manusia yang memiliki kemapanan ilmu dan ia tahu persis hal tersebut. Maka ia gunakan ilmunya semaksimal mungkin agar benar-benar bermanfaat tidak hanya bagi dirinya tapi juga orang sekitarnya, bahkan bagi seluruh umat manusia. Manusia jenis ini adalah manusia unggul. Manusia yang sukses dunia dan akhirat.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):190-191)

Pada masa kejayaan Islam orang-orang seperti ini banyak jumlahnya. Salah satunya adalah Ibnu Sina, sang bapak kedokteran modern” yang ilmunya tidak lagi diragukan. Hebatnya ia mengawali ilmunya dengan banyak mempelajari ilmu ke-Islam-an. Bahkan pada usia 10 tahun ia telah menjadi penghafal Al-Qur’an. Pada masa itu ilmu memang belum terbagi-bagi dan terkotak-kotak seperti saat ini. Tak heran pada masa itu tak sedikit ilmuwan yang menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus. Baik ilmu pengetahuan umum, sains maupun agama ( Islam).    

Orang seperti ini sudah seharusnya kita ikuti dan teladani. Apalagi bagi golongan awam yang masih butuh banyak ilmu. 

2. Tahu tapi Ia Tidak Tahu.

Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu).

Yang dimaksud dalam golongan ini adalah orang yang berilmu namun sayang ilmunya tidak sampai pada hakekat, yaitu tidak hingga mengenal Tuhan Yang Menciptakannya. Tidak jarang kita menemukan orang jenis ini. Al-Ghazali menyebutnya bagaikan orang yang tertidur.

Untuk itu adalah tugas kita untuk membangunkannya agar ilmunya berguna dunia maupun akhirat sebagaimana manusia golongan pertama. Karena pada dasarnya ilmu itu milik Allah swt dan dari Allah swt. Dengan bekal ilmunya itu seharusnya ia mengenal Sang Pemilik Ilmu.   

3. Tidak tahu tapi Tahu kalau Ia Tidak Tahu.

Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang tidak tahu (tidak atau belum berilmu), tapi tahu alias sadar diri bahwa ia tidak tahu).

Ini masih tergolong baik. Sebab meski tidak berilmu tapi menyadari kekurangannya hingga mau  memperbaiki dan berusaha untuk menuntut ilmu agar dapat mengejar ketertinggalannya. Maka dengan demikian tidak tertutup kemungkinan golongan ini naik menjadi golongan manusia tingkat pertama, yaitu Tahu dan Ia Tahu.

4. Tidak Tahu tapi Tidak Tahu kalau Tidak Tahu.

Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang Tidak Tahu (tidak berilmu), dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu).

Ini adalah golongan manusia terburuk. Al-Ghazali bahkan menyebutnya manusia dungu. Mereka adalah manusia yang merasa ber-ilmu, merasa tahu dan benar padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa. Repotnya manusia seperti ini sulit disadarkan. Orang seperti ini tidak perlu diajak berdebat karena percuma hanya membuang waktu dan tenaga. Cukup kita doakan saja semoga Allah swt memberinya hidayah. Semoga Allah azza wa jala menjauhkan kita dari sifat-sifat buruk tersebut, aamiin yaa robbal ‘alaamiin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Juli 2022.

Vien AM.

Siapa yang tak kenal legenda Malin Kundang. Cerita rakyat dari tanah Minangkabau ini diceritakan secara turun temurun  hingga kadang orang mengira peristiwa tersebut nyata terjadi.

Padahal cerita tersebut kabarnya dibuat oleh masyarakat Minang yang sejak dulu dikenal senang merantau agar agar perantau tidak lupa dengan tanah kelahiran mereka sebagaimana seorang anak yang lupa kepada ibunya hingga menjadikannya anak durhaka.

Legenda Malin Kundang menggambarkan seorang anak bernama Malin Kundang yang hidup berdua dengan ibunya di perkampungan nelayan yang miskin. Mereka berdua saling menyayangi. Hingga suatu hari ketika Malin telah cukup dewasa ingin berlayar  mencari pengalaman. 

Awalnya sang ibu tidak mengizinkannya. Namun karena kuatnya tekad Malin akhirnya dengan berat hati ibunyapun mengizinkannya. Di kemudian hari ternyata Malin melupakan ibunya yang makin hari makin renta. Padahal hampir setiap hari ibunya selalu menunggu kepulangan anak semata mayangnya tersebut.

Hingga suatu hari setelah bertahun-tahun lewat, ibunya mendapat kabar bahwa putranya telah menjadi orang yang sukses, kaya raya dan telah mempersunting seorang perempuan kaya raya nan cantik jelita. Pasangan tersebut sedang berlabuh menuju kota dimana sang ibu tinggal. 

Dengan suka cita iapun segera menyambutnya. Namun apa lacur ternyata Malin tidak mau mengakui ibunya. Ia malu terhadap istrinya melihat penampilan ibunya yang sangat jelas memperlihatkan kemiskinannya. Ia bahkan tega menghardik dan menuduh ibu kandung sendiri sebagai perempuan gila.

Sungguh sakit hati ibu Malin Kundang. Hingga akhirat ia berdoa bila laki-laki muda tersebut benar-benar putranya Allah swt bersedia mengganjarnya. Maka tak lama setelah itu kapal yang ditumpangi pasangan muda tersebut dihempas ombak besar. Keesokan harinya orang melihat sebuah batu mirip orang sedang berjongkok memohon ampun. Itulah akhir kisah Malin Kundang, anak yang durhaka.

Untuk diingat masyarakat Minangkabau adalah masyarakat Islam yang taat pada agamanya. Kisah yang mereka buat bukan sekedar mengingatkan perantau supaya tidak lupa dengan tanah kelahiran mereka. Namun lebih dalam lagi yaitu mengingatkan bahwa durhaka terhadap orang-tua adalah dosa besar. Betapa banyak ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan agar berbuat baik kepada ke dua orang-tua.

Yang bahkan mengucapkan perkataan “Ah” sebagai kata penolakan saja dilarang-Nya. Apalagi mengucapkan kata yang dapat menyakitkan hati keduanya. Ibu yang telah mengandungnya dengan susah payah selama 9 bulan 10 hari, melahirkan dan menyusuinya. Kemudian bersama ayah yang tak kalah pengorbanannya menghabiskan seluruh waktu dan tenaga untuk bekerja menafkahi keluarga, merawat, mendidik dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

“Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Terjemah QS. Al-Isra (17):23).

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Terjemah QS. Lukman (31):14).

Begitu pula hadist. Diantaranya hadist berikut. Imam Bukhari dan Imam Muslim serta sejumlah perawi hadits lainnya mengabarkan hadits dari Abu Bakar RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

Maukah aku ceritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar, yaitu tiga perkara? Kami menjawab, Ya, Rasulullah. Rasulullah berkata: Menyekutukan Allah, dan mendurhakai dua orang tua. Rasulullah sedang bersandar lalu duduk, maka berkata Rasulullah: Tidak mengatakan kebohongan dan kesaksian palsu”.

Durhaka terhadap kedua orangtua hanya 1 tingkat dibawah dosa syirik dan kekafiran. Karena pada dasarnya sama yaitu sombong dan tidak tahu ber-terimakasih. Orang yang tidak bisa ber-terimakasih terutama kepada kedua orangtuanya dapat dipastikan tidak akan bisa mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Azza wa Jala.

Padahal kasih sayang Allah swt jauh lebih besar dibanding kasih sayang orangtua. Kalau bukan karena kasih sayangNya mana  mungkin orang bisa hidup di dunia ini. Siapa yang menyediakan udara segar, air bersih dan sinar matahari yang sangat diperlukan manusia, gratis tanpa harus membayar sepeserpun ? Pernahkah kita memikirkan ayat 71 dan 72 surat Al-Qashash berikut ?

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Belum lagi aneka binatang yang dagingnya dapat dimakan dan mengenyangkan perut, beragam macam buah-buahan dan sayur-sayuran yang mampu memanjakan lidah kita.         

Yang juga perlu diingat, jangan pernah merasa mampu membalas jasa kebaikan kedua orang-tua karena hingga mati sekalipun  tidak mungkin kita mampu membalasnya, meski bisa saja orang- tua berbuat kesalahan karena bagaimanapun mereka adalah manusia biasa. Apalagi tehadap segala nikmat yang telah diberikan Allah swt. Segala perbuatan baik termasuk shalat sehari semalam dan puasa seumur hidup, zakat infak sedekah sebesar apapun tidak mungkin kita bisa menebusnya.

Dasyatnya lagi, bila pepatah Barat mengatakan “Life begins at 40” maka ternyata Islam 15 abad lalu telah menyatakan hal yang sama meski dengan maksud yang berbeda, yaitu bahwa pada usia 40 biasanya manusia akan mengalami puncak kesadaran spiritualnya sebagaimana ayat 15 surat Al-Ahqof berikut,

” … sehingga dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”

Surga adalah milik-Nya yang dapat kita masuki hanya karena rahmat-Nya bukan sekedar amal ibadah kita. Sebanyak apapun kebaikan tapi kufur terhadapNya, tidak mengakuiNya sebagai satu-satuya Zat yang disembah maka hanguslah segalanya. Kesyirikan dan kekafiran adalah dosa terbesar dalam kacamata Islam yang tidak akan diampuniNya.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):48).

Namun sebagian ulama mengatakan dosa syirik masih mungkin diampuni bila sempat bertaubat sebelum kematian menjemput. Taubat yang dimaksud adalah taubat nasuha sebagaimana ayat 8 surat At-Tahrim berikut:

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Sementara untuk menebus dosa dan kesalahan terhadap kedua orangtua yang telah meninggal adalah dengan menziarahi makam keduanya serta mendoakannya.

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya sekali setiap Jumat, maka niscaya Allah SWT menghapus dosanya. Dan ia pun dinilai sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya.” (HR. Al-Hakim).

Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh seseorang yang durhaka ketika kedua orang tuanya wafat, lalu ia mendoakan keduanya selepas keduanya berpulang, maka niscaya Allah SWT akan mencatatnya sebagai anak yang berbakti.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Juni 2022.

Vien AM.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

Wanita itu dinikahi karena empat hal yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya.Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung”.

Hadist diatas menunjukkan kecenderungan manusia dalam memilih pasangan hidup, yaitu karena kekayaan/harta, keturunan, kecantikan dan terakhir agamanya. Islam tidak menafikkan   kecenderungan tersebut. Akan tetapi memperingatkan tidak mendahulukan bahkan menomor belakangkan pilihan berdasarkan agama sudah pasti akan merugikan diri sendiri.

Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka dan janganlah pula menikahi wanita karena harta-harta mereka, karena bisa jadi hartanya menjadikan mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya, seorang wanita budak berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama dari mereka.” (HR Ibnu Majah). 

Agama yang dimaksud pada hadist di atas sudah barang tentu adalah Islam karena menikah dengan penganut selain Islam haram hukumnya sebagaimana ayat 221 surat Al-Baqarah berikut :

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.

Pernikahan adalah menyatukan seorang lelaki dan seorang perempuan dalam ikatan pernikahan, yang tidak jarang berbeda latar latar belakang, kebiasaan, budaya dan pendidikan, yang hampir dapat dipastikan memerlukan usaha untuk menyerasikannya agar di kemudian hari tidak timbul permasalahan. Bahkan sering kali bukan cuma yang bersangkutan tapi juga keluarga besar yang bersangkutan. Jadi tidak perlu lagi menambah permasalahan beda keyakinan dan agama.

Pernikahan dalam Islam adalah hal yang sangat sakral. Ia tidak sekedar menyatukan sepasang lelaki dan perempuan dalam sebuah ikatan. Lebih lagi menyatukannya dibawah kesaksian Tuhannya, yaitu Allah Aza wa Jala.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hati-hati terhadap perempuan. Kamu mengambilnya dengan amanat Allah dan menghalalkan untuk menggaulinya dengan kalimat Allah.

Dengan demkian jelas tujuan pernikahan adalah dunia dan akhirat. Tak salah bila doa yang ditujukan bagi sepasang pengantin Muslim adalah “Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah”. Inilah sebaik-baik doa. Doa ini berdasarkan ayat berikut,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram ( sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah)  dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”  (Terjemah QS. Ar-Rum(30):21).

Kata sakinah dari akar kata sakakan – yaskunu, memiliki arti kedamaian, ketenangan, ketentraman, dan keamanan. Bisa juga diartikan dengan kata senang berdasarkan ayat berikut,

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang (sakina) kepadanya.” (Terjemah QS. Al-A’raf(7):189).

Sedangkan mawaddah yang berasal dari kata wadda -yawaddu, diartikan sebagai rasa sayang atau cinta yang membara/ menggebu. Adanya hasrat dan nafsu yang merupakan kodrat manusia ini ketika dibingkai indah dalam sebuah ikatan pernikahan akan melahirkan energi positif. Energi dasyat yang sangat penting dalam perjalanan panjang pernikahan.

Suami maupun istri sebaiknya dapat saling menyenangkan dan memuaskan pasangannya hingga tercipta rasa saling memiliki dan menyayangi. Ikatan yang demikian inilah yang dapat menambah kuatnya ikatan dan keharmonisan rumah tangga. Baik antar suami dan istri maupun dengan anak-anak yang merupakan titipan dari-Nya.

Patut diingat salah satu perintah Islam untuk menikah adalah demi perkembang-biakkan manusia di muka bumi ini. Ucapan ijab kabul  “Saya nikahkan dan saya kawinkan” yang lazim diucapkan wali calon pengantin perempuan dan dijawab “Saya terima nikah dan kawinnya” oleh calon pengantin lelaki dalam suatu upacara pernikahan (akad nikah) menegaskan hal tersebut.  

Itu pula sebabnya Allah swt melaknat hubungan sesama jenis yang sangat berbahaya bagi  perkembang-biakan manusia.

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”. ( Terjemah QS. A-Araf(7):81).  

Sementara kata rahmah dari akar kata rahima – yarhamu, diartikan sebagai kasih, ampunan, rahmat, rezeki, dan karunia dari Allah SWT. Sebuah keluarga yang penuh rahmah akan saling memahami dan saling perhatian. Rahmah tidak akan terwujud jika pasangan saling menyakiti satu sama lain.

Dengan demikian doa sakinah, mawaddah wa rahmah dapat diartikan “Semoga menjadi keluarga yang tenang, tentram, damai, penuh cinta dan kasih sayang dibawah lindungan Allah SWT”. Atau singkatnya ” Semoga menjadi keluarga bahagia di dunia maupun di akhirat”.

Namun doa juga harus dibarengi usaha. Antara lain suami sebagai kepala keluarga, agar bekerja maksimal mencari nafkah yang baik dan halal. Sekaligus sebagai imam, nakhoda dalam shalat maupun kehidupan sehari-hari, agar dapat membimbing dan mencontohkan kesholehan kepada istri dan anak-anaknya. Demikian juga istri dan anak yang mempunyai kewajiban dan hak masing-masing.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang sholehah, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). … … ”. (Terjemah QS. An-Nisa(4):34)

Akhir kata, keluarga adalah satuan terkecil masyarakat. Maka ketika keluarga yang baik (sakinah mawaddah wa rahmah) terbentuk akan terbentuk pula bangsa/masyarakat baik. Dan bila keluarga tidak baik, maka akan lahir pula bangsa/masyarakat yang tidak baik.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juni 2022.

Vien AM.