Feeds:
Posts
Comments

ILMU geografi di dunia Islam mulai berkembang pada masa era kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Ketika itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid mendorong para sarjana Muslim menerjemahkan naskah-naskah kuno dari Yunani ke dalam bahasa Arab.

Diantara buku yang diterjemahkan adalah Alemagest dan Geographia. Kedua buku ini membahas tentang ilmu geografi. Dari sinilah kemudian banyak pelajar yang mempelajari ilmu tersebut sehingga dalam waktu yang tidak lama lahir para pakar geografi.

Ketertarikan kaum Muslimin terhadap geografi diawali dengan kegandrungannya kepada astronomi. Dari ilmu inilah kemudian membawa mereka menggeluti ilmu bumi. Peta yang dibuat bangsa Yunani dan Romawi menarik minat pelajar Muslim untuk mempelajarinya.islam_Geografi1a-2y7rplb1urriikdptycfls

Bangsa Yunani adalah bangsa yang pertama dikenal secara aktif menjelajahi geografi. Beberapa tokoh Yunani yang berjasa mengeksplorasi geografi sebagai ilmu dan filosofi antara lain; Thales dari Miletus, Herodotus, Eratosthenes, Hipparchus, Aristotle, Dicaearchus dari Messana, Strabo, dan Ptolemy. Sedang bangsa Romawi turut memberi sumbangan pada pemetaan setelah mereka banyak menjelajahi negeri dan menambahkan teknik baru. Salah satu tekniknya adalah periplus, deskripsi pada pelabuhan, dan daratan sepanjang garis pantai yang bisa dilihat pelaut di lepas pantai.

Namun para sarjana Muslim tidak hanya menerjemahkan dan mempelajari karya-karya Yunani tetapi juga mengkombinasikannya dengan pengetahuan yang telah berkembang di pusat kebudayaan di Mesir, India, dan Persia.

Inilah yang membuat ilmu geografi di tangan kaum Muslimin maju pesat. Demikian pula ilmu-ilmu yang berhubungan dengan geografi seperti perpetaan dan kosmografi mengalami kemajuan yang besar. Dari sinilah kemudian muncul istilah mil untuk mengukur jarak. Sedangkan orang Yunani menggunakan istilah stadion.

Dalam hal ini seorang sarjana Barat seperti Gustave Le Bon dalam bukunya Arabs Civilizationhal 468 mengatakan bahwa meski geografi sebagai ilmu pengetahuan dimulai sebelum Islam, namun kontribusi umat Islam sangatlah besar. “Meski kaum Muslimin belajar geografi kepada ilmuwan Yunani seperti Ptolemy, namun ilmu mereka melampaui guru mereka,” jelas Gustave.

Sederet geografer Muslim telah banyak memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu bumi. Al-Kindi diakui begitu berjasa sebagai geografer pertama yang memperkenalkan percobaan ke dalam ilmu bumi. Sedangkan, Al-Biruni didapuk sebagai ‘bapak geodesi’ yang banyak memberi kontribusi terhadap geografi dan juga geologi.

John J O’Connor dan Edmund F Robertson menuliskan pengakuannya terhadap kontribusi Al-Biruni dalam MacTutor History of Mathematics. Menurut mereka, ‘’Al-Biruni telah menyumbangkan kontribusi penting bagi pengembangan geografi dan geodesi. Dialah yang memperkenalkan teknik pengukuran bumi dan jaraknya dengan menggunakan triangulation.’’

Al-Biruni-lah yang menemukan radius bumi mencapai 6.339,6 km. Hingga abad ke-16 M, Barat belum mampu mengukur radius bumi seperti yang dilakukan Al-Biruni.Bapak sejarah sains, George Sarton, juga mengakui kontribusi sarjana Muslim dalam pengembangan geografi dan geologi.

‘’Kita menemukan dalam tulisannya metedo penelitian kimia, sebuah teori tentang pembentukan besi.’’

Salah satu kekhasan yang dikembangkan geografer Muslim adalah munculnya bio-geografi. Hal itu didorong oleh banyaknya orang Arab di era kekhalifahan yangtertarik untuk mendistribusi dan mengklasifikasi tanaman, binatang, dan evolusi kehidupan. Para sarjana Muslim mencoba menganalisis beragam jenis tanaman.

Dukungan Penguasa

Geliat mempelajari ilmu geografi semakin besar ketika Khalifah Al-Mam’un, penerus Harul Al-Rasyid memerintahkan para geografer Muslim untuk mengukur kembali jarak bumi. Untuk mendukung proyek tersebut, Al-Ma’mun juga membiayai semua perjalanan yang dilakukan dalam menjelajahi dunia.

Tentu saja dukungan ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para sarjana islam. Apalagi mereka melakukan ekespedisi juga dalam rangka menyebarkan dakwah Islam.

Tak pelak umat Islam pun mulai mengarungi lautan dan menjelajah daratan untuk menyebarkan agama Allah Subhanahu Wata’ala. Seiring meluasnya ekspansi dan ekspedisi rute-rute perjalanan melalui darat dan laut pun mulai bertambah. Tak heran, jika sejak abad ke-8 M, kawasan Mediterania telah menjadi jalur utama umat Islam.

Atas upaya dan kerja keras para geografer Muslim, akhirnya apa yang diharapkan Al-Ma’mun bisa terwujud. Para sarjana Muslim mampu menghitung volume dan keliling bumi. Berbekal keberhasilan itu, Khalifah Al-Ma’mun memerintahkan untuk menciptakan peta bumi yang besar. Adalah Musa Al-Khawarizmi bersama 70 geografer lainnya mampu membuat peta globe pertama pada tahun 830 M.

Khawarizmi juga berhasil menulis kitab geografi yang berjudul Surah Al- Ard (Morfologi Bumi) sebuah koreksi terhadap karya Ptolemaeus. Kitab itu menjadi landasan ilmiah bagi geografi Muslim tradisional.

Pada abad yang sama, Al-Kindi juga menulis sebuah buku bertajuk ‘Keterangan tentang Bumi yang Berpenghuni’.

Sejak saat itu, geografi pun berkembang pesat. Sejumlah geografer Muslim berhasil melakukan terobosan dan penemuan penting.
Di awal abad ke-10 M, secara khusus, Abu Zayd Al-Balkhi yang berasal dari Balkh mendirikan sekolah di kota Baghdadyang secara khusus mengkaji dan membuat peta bumi.

Di abad ke-11 M, seorang geografer termasyhur dari Spanyol, Abu Ubaid Al- Bakri berhasil menulis kitab di bidang geografi, yakni Mu’jam Al-Ista’jam (EksiklopediGeografi) dan Al-Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan).

Buku pertama berisi nama-nama tempat di Jazirah Arab. Sedangkan yang kedua berisi pemetaan geografis dunia Arab zaman dahulu.

Pada abad ke-12, geografer Muslim, Al-Idrisi berhasil membuat peta dunia. Al-Idrisi yang lahir pada tahun 1100 di Ceuta Spanyol itu juga menulis kitab geografi berjudul Kitab Nazhah Al- Muslak fi Ikhtira Al-Falak (Tempat Orang yang Rindu MenembusCakrawala). Kitab ini begitu berpengaruh sehingga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Geographia Nubiensis.

Seabad kemudian, dua geografer Muslim yakni, Qutubuddin Asy-Syirazi (1236 M -1311 M) dan Yaqut Ar-Rumi (1179 M -1229 M) berhasil melakukan terobosan baru. Qutubuddin mampu membuat peta Laut Putih/Laut Tengah yang dihadiahkan kepada Raja Persia.

Sedangkan, Yaqut berhasil menulis enam jilid ensiklopedi bertajuk Mu’jam Al-Buldan(Ensiklopedi Negeri-negeri).

MuljanAlBuldan

Penjelajah Muslim asal Maroko, Ibnu Battuta di abad ke-14 M memberi sumbangan dalam menemukan rute perjalanan baru. Hampir selama 30 tahun, Ibnu Battuta menjelajahi daratan dan mengarungi lautan untuk berkeliling dunia. Penjelajah Muslim lainnya yang mampu mengubah rute perjalanan laut adalah Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok. Dia melakukan ekspedisi sebanyak tujuh kali mulai daritahun 1405 hingga 1433 M.Dengan menguasai geografi, di era keemasan umat Islam mampu menggenggam dunia.

Tak pelak, Islam banyak memberi kontribusi bagi pengembangan geografi. Sumbangan dunia Islam meliputi pengetahuan klimatologi (termasuk angin munson), morfologi, proses geologi, sistem mata pencaharian, organisasi kemasyarakatann, mobilitas penduduk, serta koreksi akan kesalahan yang tertulis pada buku yang ditulis ptolomeus.

Karya-karya sarjana Muslim seperti Al-Biruni, Ibnu Sina, Ai Istakhiri, Al Idrisi, Ibn Khaldun dan Ibn Batuta telah menjadi dasar pemicu kembalinya perkembangan ilmu pengetahuan. Bukan hanya geografi namun juga dalam berbagai ilmu lain. Karena demikian besar jasanya dalam geografi dan Kartografi, Al-Idrisi diangkat diangkat sebagai penasihat dan pengajar di istana raja Sicilia, Roger II (1154), dan akhir-akhir ini namanya (Idrisi) diabadikan untuk nama perangkat lunak yang dikembangkan Universitas Clark di Worcester (Amerika Serikat) untuk alat bantu analsisis geografi, citra digital, kartografi, dan sistem informasi geografis.*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Dicopy dari :

https://www.hidayatullah.com/spesial/ragam/read/2014/12/29/35914/sumbangan-islam-pada-ilmu-geografi.html

Sebuah video ceramah UAS ( Ustad Abdul Somad) di sebuah masjid di Pekanbaru 3 tahun silam tiba-tiba menjadi viral. Ini disebabkan sejumlah mahasiswa yang mengaku wakil dari sebuah organisasi mahasiswa Kristen melaporkan UAS kepada pihak kepolisian atas tuduhan penistaan agama, dengan video tersebut sebagai alat bukti. Ada apakah gerangan, mengapa setelah 3 tahun berlalu baru dilaporkan??

Rupanya video tersebut berisi jawaban UAS tentang salib yang ditanyakan seorang jamaah. Yaitu bahwa salib adalah jin kafir. Persis seperti ayat 73 surat Al-Maidah berikut:

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Tidak ada yang salah apa yang dikatakan ustad asal Riau yang meraih gelar Lc di universitas Al-Azhar Cairo dan master di bidang hadist di sebuah universitas Rabbat Maroko tersebut. Laporan penistaan agama yang dituduhkan kepadanya sama sekali tak berdasar. Apalagi bila kemudian ada yang menyamakan hal tersebut dengan apa yang dilakukan Ahok.

Seperti yang kita ketahui, mantan wakil gubernur DKI era Jokowi yang kemudian menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi RI1 tersebut telah divonis bersalah dan masuk bui karena penistaan agama. Ketika itu ia mengatakan bahwa umat Islam telah dibohongi ayat 51 surat Al-Maidah berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

UAS, walau bagaimanapun adalah seorang uztad/ulama yang tugasnya adalah berdakwah, mengajak dan mengajarkan keyakinan agamanya yaitu Islam. Termasuk juga menjawab pertanyaan jamaah yang mungkin masih ragu dengan agamanya, atau ingin membandingkannya dengan ajaran agama lain.

Selain itu UAS berceramah di dalam masjid, rumah ibadah umat Islam, bukan di tempat umum, bukan di depan umat agama lain. Anehnya lagi peristiwa tersebut terjadi 3 tahun yang lalu. Mengapa baru sekarang dipermasalahkan??

Sememtara Ahok adalah seorang pejabat umum, pemimpin daerah khusus ibu kota yang mayoritas penduduknya Muslim. Ia berbicara di depan anak buahnya yang agama dan keyakinannya beragam, di tempat umum pula, bukan di rumah ibadahnya.

Namun itulah skenario Sang Pencipta. Bila paska hebohnya kasus Ahok ayat 51 surat Al-Maidah menjadi populer, maka kini giliran ayat 73 surat Al-Maidah yang tiba-tiba dengan mudahnya di posting orang. Padahal ayat ini jauh lebih sensitif dari ayat 51 Al-Maidah.

Ayat ini dengan tegas menyebut kafir orang yang mengatakan Allah adalah satu dari Tuhan yang tiga. Padahal sebelumnya tidak banyak orang yang berani terang-terangan menyatakan ayat tersebut. Tuduhan intoleransi yang selama ini sering dialamatkan kepada kaum Muslimin jelas sesuatu yang mengada-ada.

Sejarah mencatat betapa non Muslim yang menempati negara mayoritas Muslim hampir selalu bebas menjalankan ajaran mereka. Sebaliknya Muslim yang bertempat tinggal di negara minoritas Muslim nyaris selalu sulit menjalankan ajaran agamanya.

Perancis contohnya, Hari Raya Iedul Fitri yang merupakan hari terbesar umat Islam tidak tercatat di kalender mereka. Apalagi hari-hari besar lainnya. Sementara di Indonesia hari-hari besar semua agama tercatat dengan baik di kalender, bahkan sebagai penghormatan hari-hari tersebut tercatat sebagai tanggal merah, alias diliburkan.

Tak heran paska pelaporan UAS jumlah orang yang bersyahadat malah meningkat. Ini mengingatkan prediksi Rasululah saw bahwa di akhir zaman nanti akan banyak pengikut nabi Isa as yang menyadari kesalahan dan kekhilafan mereka bahwa nabi Isa as atau Yesus adalah anak Tuhan.

“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya dan Kami jadikan Dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail.” (Terjemah QS.Az-Zukhruf (43):59).

Sebaliknya umat Islam yang tampaknya banyak jumlahnya itu ternyata hanya bagaikan buih yang tidak berguna bagi kemajuan Islam. Mereka berprilaku bagai musuh dalam selimut yang suka mengolok-ngolok, menghina dan memojokkan ulama bahkan ajarannya sendiri.

Na’udzubillah min dzalik … Semoga kita dan keluarga yang kita cintai bukan termasuk golongan buih seperti dimaksud hadist berikut :

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Disamping itu mungkin itu adalah peringatan Allah swt agar umat berdakwah secara total dan terbuka, tidak memilah dan memilih ayat sesuai selera dan keinginan sendiri. Jangan dengan dalih toleransi, HAM dll kita menjadi kecil dan lemah. Padahal yang demikian justru kita makin diinjak dan pertolongan Allah pun menjauh.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (Terjemah QS.Al-Hijir [15]: 94).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Agustus 2019.

Vien AM.

Umat Islam memiliki dua hari besar yaitu Hari Raya Iedul Fitri dan Hari Raya Haji atau Hari Raya Iedul Adha. Hari Raya  Iedul Fitri jatuh pada 1 Syawal, 1 hari setelah usainya bulan suci Ramadhan. Sementara Hari Raya Iedul Adha jatuh pada 10 Dzulhijjah, 1 hari setelah jamaah haji wukuf di Arafah.

Untuk merayakan hari raya tersebut Allah swt mengharamkan umat Islam berpuasa di hari tersebut. Bahkan hingga 3 hari setelah Iedul Adha Allah masih mengharamkannya. Itulah yang di sebut hari-hari Tasryk atau hari makan minum yang jatuh pada 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Dan tidak seperti di Indonesia, umat Islam di Timur Tengah pada umumnya merayakan Iedul Adha jauh lebih meriah daripada Iedul Fitri.

Hari-hari Tasyriq adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim no. 1141).

“Tidak diberi keringanan di hari Tasyriq untuk berpuasa kecuali jika tidak didapati hewan hadyu.” (HR. Bukhari no. 1998).

Hari Raya Iedul Adha juga dinamakan sebagai Hari Raya Kurban. Karena pada hari tersebut umat Islam disunahkan untuk memotong hewan kurban. Hari istimewa tersebut sejatinya adalah untuk mengenang peristiwa nabi Ibrahim as yang diperintah Tuhannya untuk menyembelih nabi Ismail as, putra satu-satunya ketika itu.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia (Ismail)  menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“.(Terjemah QS. Ash-Shaffaat(37):102).

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyembelih sendiri hewan kurbannya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (11/8/2019). (Foto: iNews.id/Irfan Ma'ruf)

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyembelih sendiri hewan kurbannya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (11/8/2019). (Foto: iNews.id/Irfan Ma’ruf)

Jadi syariat penyembelihan hewan kurban adalah syariat Islam yang juga merupakan syariat para nabi yang telah lama dikerjakan. Yang tampaknya telah dilupakan oleh umat pengikut nabi-nabi lain. Karena nyatanya hari ini hanya umat pengikut nabi Muhammad saw yang masih menjalankannya.

Namun beberapa tahun belakangan ini ada sejumlah tokoh yang mengaku Muslim tapi getol mempermasalahkan syariat tersebut. Diantaranya adalah Ulil Abshor si dedengkot JIL ( Jaringan Islam Liberal). Melalui cuitannya ia menyarankan agar syariat kurban diganti dengan pembagian uang untuk dana pendidikan dan yang semacamnya.

https://www.portal-islam.id/2019/08/tokoh-liberal-ulil-sarankan-hewan.html

Fenomena penolakan terhadap berbagai syariat Islam, dengan bermacam  alasan, sejak beberapa tahun ini memang makin saja santer. Mulai dari berhaji yang biayanya sangat tinggi dengan alasan rakyat lebih membutuhkan uang untuk biaya hidup, kurban yang dianggap sebagai “hari pembantaian”, jilbab, nikah beda agama, poligami hingga hukum potong tangan dll yang dianggap tidak manusiawi dan bertentangan dengan HAM dan Demokrasi.

Padahal syariat adalah hukum yang sengaja diturunkan Sang Pencipta agar manusia dapat hidup di dunia ini dengan tenang. Syariat tersebut disampaikan rasulullah Muhammad saw lebih 15 abad yang lalu, jauh dari ilmu pengetahuan dan Sains yang saat ini telah berkembang pesat.

Namun ternyata para ilmuwan dewasa ini telah berani membuktikan bahwa syariat-syariat tersebut sesuai dengan temuan mereka. Pemotongan kurban misalnya. Barat selama ini menerapkan cara pemingsanan hewan sebelum dipotong, dengan tujuan agar hewan tidak merasa sakit ketika disembelih. Sementara syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis.

Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh (dalam qishah,-pent) maka berbuat ihsanlah dalam cara membunuh dan jika kalian menyembelih maka berbuat ihsanlah dalam cara menyembelih, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan parangnya dan menyenangkan sembelihannya”. {HR. Muslim}.

Untuk menjawab pertanyaan “Manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit untuk hewan ketika disembelih?”, dua staf ahli peternakan dari Hannover University, Jerman, yaitu Prof.Dr. Schultz dan koleganya Dr. Hazim, melakukan sebuah penelitian ilmiah.

Mereka menggunakan microchip Electro-Encephalograph (EEG) dan Electro Cardiograph (ECG) yang dipasang pada pada permukaan otak kecil sapi. EEG digunakan untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Sedangkan ECG untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.

Di luar dugaan, rekaman EEG ternyata menunjukkan bahwa cara yang dilakukan secara Islam tidak sedikitpun meninggalkan rasa sakit pada hewan sembelihan.  Sedangkan rekaman ECG menunjukkan adanya aktivitas luar biasa jantung yang memompa keluar darah sebanyak mungkin dari seluruh anggota tubuh hewan bersangkutan.

Dan dengan terpompanya darah sebanyak mungkin keluar dari tubuh hewan adalah merupakan syarat penting standard healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP). Hebatnya lagi, selain sehat ternyata daging juga jauh lebih empuk dibanding cara pemingsanan yang dianut Barat.

https://www.islampos.com/ketika-barat-terkejut-dengan-cara-islam-sembelih-hewan-kurban-44740/

Screenshot_2019-08-11-04-57-31Jadi sungguh aneh ketika ada orang yang mengaku Muslim tapi hobby mempertanyakan, mengolok-olok bahkan menolak syariat Islam yang jelas-jelas adalah perintah Allah Azza wa Jala. Dengan kata lain menolak syariat sama saja dengan menantang-Nya. Na’udzubillah min dzalik …

Sebaliknya tak heran ketika banyak ilmuwan Barat yang kemudian memeluk Islam setelah mengetahui syariat Islam ternyata sesuai dengan ilmu pengetahuan dan Sains. Meski tak selamanya syariat dapat dibuktikan dengan hal tersebut. Apalah arti ilmu dan kepintaran manusia dibanding Penciptanya???

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”.( Terjemah QS. An-Nuur(24):52).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Agustus 2019.

Vien AM.

Jalan Kebenaran.

DSC04132Adalah hal yang sangat wajar bila seorang pemeluk agama meyakini bahwa agamanya adalah yang terbaik, yang paling benar. Dan bahwa keyakinannya itu akan menjaminnya masuk surga, dan menghindarkannya dari pedihnya siksa api neraka. Keyakinan inilah tentunya yang membuat seseorang sudi memeluk suatu agama tertentu.  Dan ini berlaku bagi seluruh agama, tidak hanya Islam, tapi juga Yahudi maupun Nasrani.

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani“. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):111).

Keyakinan inilah yang membuat mereka berani mencemooh dan mentertawakan kaum Muslimin yang mereka anggap sesat. Mereka yakin berada di jalan kebenaran sementara umat Islam berada di jalan kesesatan sebagaimana yang diceritakan ayat 29-32 surat Al-Muthafifin berikut :

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, ( Terjemah QS. (83):29-32).

Pertanyaannya benarkah prasangkaan mereka itu ?? Yang pasti semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Namun ketika prinsip dasar tentang ke-Tuhan-annya saja rancu, tidak jelas bahkan salah, bagaimana mungkin orang bisa begitu yakin bahwa agamanya itu benar …

Kebenaran sejati adalah milik Sang Pencipta. Tuhan pencipta manusia, langit, bumi dan segala isinya. Tuhan yang mustahil menyerupai apapun yang diciptakannya. Tuhan yang tidak beranak maupun diperanakkan. Tuhan yang tidak mempunyai kepentingan apapun terhadap segala ciptaannya.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. ( Terjemah QS.Al-Baqarah (2):255).

Kebenaran berdasarkan akal manusia yang merupakan mahluk ciptaan tentu relative, sangat beragam dan pasti sangat rapuh. Oleh karenanya untuk mengetahui dan meyakini kebenaran suatu agama tidak ada jalan lain kecuali dengan memahami isi kitab sucinya, siapa pembawanya, bukan dari sikap pemeluk agamanya yang bisa saja salah memahami ajarannya.

Agama Nasrani dan Yahudi yang merupakan agama samawi pada dasarnya sama dengan agama Islam, yaitu mengimani Tuhan Yang Satu, Allah swt. Namun seiring dengan berjalan waktu agama yang dibawa nabi Isa as dan nabi Musa as melalui malaikat Jibril as sebagai perantara tersebut, mengalami berbagai penyelewengan yang parah.

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. … “. ( Terjemah QS. Al-Maidah (5):73).

Sebaliknya aneh bin ajaib ketika ada pemeluk suatu agama namun meyakini bahwa semua agama adalah sama, semua benar, dan bahwa semua orang bisa masuk surga, asalkan baik. Sepintas kelihatannya mungkin benar, bahkan terkesan sangat bijak dan penuh toleransi.

Tapi bila dipikir lebih jauh, baik itu menurut siapa?? Menurut sesama manusia? Manusia yang mana?? Bukankah antar suku saja kriteria sebuah kebaikan tidak selalu sama ?? Apalagi penduduk bumi yang jumlahnya milyaran dengan jutaan suku, etnis dan kultur yang berbeda-beda. Lagi pula kalau semua agama adalah sama tidak perlu orang memilih satu agama. Ikuti saja semua peraturan agama yang pastinya akan membuat kewalahan dirinya sendiri. Mungkinkah???

Lebih mengerikan lagi, bila orang itu adalah seorang pemeluk agama Islam, yang mengaku Islam tapi suka mengejek dan mentertawakan saudaranya sesama Muslim, sangat bisa jadi Allah Azza wa Jala memasukkan yang bersangkutan sebagai golongan orang Munafik.  Padahal orang Munafik itu derajatnya lebih rendah dari orang Kafir. Tempatnya adalah di kerak neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali. Na’udzubillah min dzalik …

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. ( Terjemah QS. An-Nisa(4):145).

Bersyukurlah kita yang telah Allah Azza wa Jala pilihkan Islam sebagai agama kita. Biarlah orang-orang kafir mencemooh dan mentertawakan kita di dunia ini. Tidak perlu kita berkecil hati, sakit hati apalagi marah. Karena pada akhirnya merekalah yang akan kecewa dan menyesali perbuatan mereka.

“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang ( orang-orang kafir, yang diganjar). Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Terjemah QS. Al-Muthafifin(83):34-36).

Pada kelanjutan ayat 111 Al-Baqarah di awal tulisan, Allah swt berfirman :

“ Demikian itu (hanya) angan-angan mereka ( Nasrani dan Yahudi) yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.

Dilanjutkan dengan :

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah(2):132).

Namun demikian kita tetap tidak boleh lengah dan terbuai dengan janji surga dan ampunan-Nya yang seluas langit dan bumi dengan ke-Islam-an kita. Karena modal iman dan Islam saja tidak cukup untuk meraih semua itu. Diperlukan juga amal ibadah. Hebatnya lagi bukan hanya ibadah shalat, puasa yang bernilai ukhrowi namun juga segala amal kebaikan kepada sesama manusia seperti zakat, infak, menolong orang yang dalam kesusahan, silaturahmi, sabar dll sebagainya.

Jangan sampai Allah swt memasukkan kita sebagai golongan yang sama dengan orang yang dimurkai-Nya yaitu kaum Yahudi karena  berilmu tapi tidak beramal. Atau kaum Nasrani yang sesat karena beramal tapi tanpa ilmu yang benar, sebagaimana firman Allah swt di ayat 6 dan 7 Al-Fatihah yang selalu kita baca setiap shalat.

“Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Agustus 2019.

Vien AM.

mualaf-_140820144457-124REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA.

“Aku bagai lahir kembali, bebas dari segala sesuatu. Segala dosa yang menjerat dan semua hal yang telah terjadi di dalam hidupku, tak penting lagi,” ucap Alicia, tepat sehari setelah ia memeluk Islam.

Berjilbab rapi, wajahnya cerah bak mentari terbit. Senyumnya pun mengembang laksana bunga mekar di pagi hari. Melihat binar wajahnya, tak akan ada yang menyangka bahwa ia memiliki sederet catatan hitam dalam hidupnya.

Alicia Brown, wanita asal Texas, AS, tersebut menemukan cahaya hidayah setelah bertahun-tahun kekacauan melanda hidupnya. Ia terjerumus dalam kubangan dosa. Alkohol, narkoba, hingga seks bebas menjadi teman hidupnya. Mengapa ia lakukan semua itu? Alicia memang ingin merusak hidup yang sangat ia benci. Ia sangat membenci dirinya, membenci segala sesuatu di sekitarnya.

Dunia gelap membelenggu Alicia setelah musibah melanda keluarganya. Orang tuan Alicia bercerai. Saat itu, usianya baru 10 tahun. Terpaksa, Alicia tinggal dengan ayah yang sangat membencinya dan sangat ia benci. Caci-maki menjadi kalimat rutin yang ia dengar dari sang ayah setiap hari selama enam tahun.

“Ayah sangat kejam kepadaku dan adik laki-lakiku. Dia tak terlalu kejam pada adik perempuanku, tapi dia benar-benar kejam padaku, sangat kejam. Mungkin karena aku mengingatkannya pada ibuku,” tutur Alicia.

Di usia 16 tahun, Alicia pindah ke rumah kakek neneknya. Namun terlambat, karena didikan kejam sang ayah, saat itu Alicia telah benar-benar diselimuti kebencian. Ia pun mulai merusak hidupnya dengan kesenangan semu. Ia memulai gaya hidup merusak diri.

“Aku membenci diriku dan semua yang ada di sekitarku.  Aku ingin melakukan apapun yang bisa untuk menyakiti diri sendiri. Aku coba narkoba, alkoho, dan seks bebas.”

Setahun dengan gaya hidup itu, Alicia tak merasa batinnya terpuaskan. Ketika usianya 17 tahun, ia tinggal dengan sang ibu. Alicia sempat berpikir, tinggal dengan ibu mungkin bisa membuatnya berbenah diri. Tapi rupanya, Alicia telah terjatuh sangat dalam pada jerat dunia hitam. Ia tak bisa lepas bahkan terus memburuk dari hari ke hari.

Di sekolah menengah atas, ia bertemu dengan seorang pria. Ia lalu tinggal bersama pria itu selama bertahun-tahun tanpa ikatan pernikahan. Lagi-lagi Alicia berharap itu menjadi kehidupan baru yang membentangkannya kesempatan untuk berubah. Celakanya, pasangan Alicia pun memiliki kebiasaan sama. Ia peminum dan pecandu.

Masalah pun kian rumit ketika Alicia hamil. “Awalnya, itu tak terlalu masalah. Setidaknya, kami memiliki seseorang untuk saling dimiliki. Tapi, saat bayiku lahir, ketika itulah pacarku dan ayahnya benar-benar menjadi pecandu berat,” kisahnya.

Hari demi hari, keuangan keluarga ini kian menipis digerogoti alkohol dan narkoba. Beruntung, kehadiran si jabang bayi membuat Alicia tersadar bahwa ia harus menghentikan kecanduannya demi tumbuh kembang sang buah hati. Sementara, kekasihnya tak mau peduli. Dia tetap saja menjadi pecandu narkoba. Karena kesal, Alicia pun meninggalkan kekasihnya yang juga ayah biologis putrinya.

Hari-hari pertemuan Alicia dengan hidayah Islam kian dekat. Hal itu bermula ketika putri kecilnya divonis menderita sindroma Guillain-Barre, suatu kelainan berupa sistem kekebalan tubuh yang menyerang saraf pusat. Akibatnya, penderita mengalami pelemahan otot dan tak mampu bergerak.  Tak pelak, anaknya harus dirawat di rumah sakit.

Saat di rumah sakit menemani putrinya itulah, Alicia berkenalan dengan beberapa Muslimin, salah satunya bernama Hayat. Dari Hayat, ia mulai mengenal agama Islam. Alicia pun banyak mengajukan pertanyaan tentang Islam pada kenalan barunya ini.

Ketika kondisi putrinya membaik dan boleh dirawat di rumah, Alicia tetap menjaga kontak dengan Hayat. Jelas sekali, Alicia mulai tertarik dengan Islam. Ia pun menyadari bahwa banyak orang mendapat informasi yang salah tentang Islam. “Aku pikir banyak orang mengira bahwa itu (Islam) seperti agama Hindu. Aku pun tadinya berpikir, Islam merupakan agamanya orang Timur Tengah.”

Alicia memang buta sama sekali tentang Islam. Sejak kecil ia dibesarkan di tengah keluarga yang jauh dari agama. Meski mengaku sebagai Kristen, keluarga Alicia sangat jarang ke gereja. “Mereka Kristen Baptis, tapi kami tipe keluarga yang tidak pergi ke gereja secara teratur,” ujarnya.

Sejak bertemu Hayat, Alicia baru mengetahui bahwa Islam berasal dari akar yang sama dengan agama yang dianutnya. Namun, berangkat dari perenungan dan diskusi panjangnya dengan beberapa Muslimin, Alicia mulai mendapat kejelasan arah yang harus ia tuju. Ya, arah yang jelas itu adalah Islam.

NamunAlicia tak serta-merta berislam. Alicia sangat takut karena selama ini ia meyakini bahwa mengatakan Yesus bukan anak Allah merupakan sebuah penghujatan. Sementara, penghujatan merupakan dosa tak terampuni. “Artinya, Anda akan masuk neraka,” tuturnya.

Diakui Alicia, selama ini pun ia telah bergelimang dosa. Hanya saja, dalam keyakinannya, itu bukan dosa yang tak terampuni. Dicekam kebingungan dan ketakutan, Alicia setiap malam senantiasa menengadahkan tangan, berdoa meminta petunjuk. “Ya Allah, tolong beri petunjuk. Petunjuk yang jelas untuk mengetahui bahwa inilah jalan yang harus hamba tuju.’”

Suatu hari, Alicia bertemu ibunda Hayat, Hana. Ia membacakan ayat Alquran. Alicia tak ingat ayat apa yang dibaca saat itu. Yang pasti, di ayat tersebut Yesus berkata, “Saya bukan anak Tuhan.”  Kemudian, di akhir ayat, kata Alicia, disebutkan, “Untuk setiap pencari petunjuk, terdapat petunjuk dari dirinya sendiri. Bagiku ini sungguh luar biasa. Aku pun menangis karena merasa ini merupakan petunjuk untukku.”

Setelah mendapat petunjuk yang jelas dari ayat Alquran itu, Alicia tak ragu lagi untuk memeluk Islam. Jalan hidup baru sebagai Muslimah pun terbentang.

Islam membuka lembaran hidup baru bagi Alicia. Ia benar-benar meninggalkan dunia hitamnya, bertaubat, dan memperbaiki diri. Tak pernah ia merasakan kebahagiaan, kecuali setelah memeluk Islam. “Aku benar-benar merasakan kasih dan dukungan.”

Selama ini, Alicia hidup dalam suramnya dunia. Ia yang sebelumnya senantiasa berselimut dosa, kini merasakan iman yang begitu menyegarkan. Belenggu ketakutan dan kecemasan pun serta-merta lenyap. Ia bagai terlahir kembali.

“Aku benar-benar merasa jauh lebih baik. Aku merasa beban berat telah diangkat. Aku pun bisa bernapas lebih lega dari sebelumnya,” ungkapnya.

Jika sebelum berislam teman setianya adalah alkohol, narkoba, dan seks bebas, kini Alicia hanya bersandar kepada Allah. Alquranlah yang menjadi teman setianya sehari-hari. Ia sangat suka membaca Alquran. Baginya, kitab suci umat Islam ini sangat memesona.

“Alquran terasa begitu asli dan mudah dipahami,” katanya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 Juli 2019.

Vien AM.

Dicopas dari:

https://khazanah.republika.co.id/berita/plf63x313/alicia-brown-temukan-hidayah-di-rumah-sakit

Indonesia adalah negara yang kaya raya. Selain sumber daya alam yang melimpah seperti minyak, gas dan lain lain, sumber daya manusianyapun tak terkira banyaknya. Indonesia saat ini tercatat sebagai  Negara no 4 terbanyak penduduk di dunia. Dan sebagai negara Muslim terbesar di dunia dengan jumlah lebih dari 87% Muslim, sekitar 237 juta orang, kekayaan zakat, infak, sodaqoh dan wakaf di Indonesia patut diperhitungkan. Zakat sebesar 2.5 % yang merupakan kewajiban kaum Muslimin yang bila dikumpulkan dan dikelola dengan baik dan difungsikan secara maksimal tidak perlu lagi bangsa ini mengemis pinjaman ke negara lain.

Sementara wakaf yang selama ini hanya dianggap sebagai tanah wakaf untuk masjid, sebenarnya bisa digunakan untuk mendirikan fasilitas umum yang lebih besar manfaatnya untuk masyarakat luas. Saat ini Dompet Dhuafa, salah satu lembaga Amil Zakat milik masyarakat, telah membangun sarana pro dhuafa yang mencakup pendidikan seperti Sekolah Smart Ekselensia, Masjid Al-Madinah, dan RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa dan masih banyak lagi sarana serta aset wakaf Dompet Dhuafa.

Kekayaan yang terlalu jomplang dan hanya menumpuk di suatu kelompok sudah pasti akan menciptakan kesenjangan sosial yang berpotensi memicu kebencian, iri, dengki dll. Itu sebabnya ZIS ( Zakat, Infak, Sodaqoh) amat sangat diperlukan, tidak hanya sebagai hubungan dengan Tuhannya, tapi juga sebagai hubungan baik sesama manusia. Harus diingat semua perintah dan larangan Allah swt dapat dipastikan berguna baik kita sendiri, baik di dunia apalagi di akhirat nanti.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah QS.Al-Baqarah (2): 261)

Sejarah mencatat kejayaan selama 8 abad yang pernah dicapai Islam adalah karena pemimpin yang takut pada Tuhannya dan menjadikan ulama sebagai penasehat. Maka Sang Khalikpun ridho menurunkan berkah-Nya. Keberhasilan tidak hanya  yang bersifat ukhrowi (ke-akhirat-an) namun juga duniawi. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi maju dan rakyat senantiasa berlomba dalam kebaikan. Kebalikan dari Barat yang ketika itu masih berada di dalam era kegelapan. Era tersebut telah berakhir sejak kejatuhan kekhalifahan Islam Turki Ustmaniyah/Ottoman pada tahun 1924. Era tersebut adalah era ke 3 yaitu era Mulkan Adlon (kerajaan yang menggigit) yang kemudian memasuki era ke 4 yang dinamakan era Mulkan Jabariyyah (kerajaan diktator).

Sejak itulah Islam mengalami keterpurukan. Penguasa negara tidak lagi peduli kepada ajaran Islam meskipun penduduknya mayoritas Islam. Mereka ini bahkan takluk dan sangat takut kepada Barat. Hukum Islam diabaikan, ulama tidak hanya tidak dihargai tapi bahkan di dzalimi. Huru-hara dan kejahatan dimana-mana, maksiat merajalela, nyanyi-nyanyian serta alat musik bahkan perzinaan, khamr dan riba menjadi hal yang lazim.

Tak ayal Islamphobia dan label terorispun dengan mudahnya disandangkan kepada umat Islam. Belum lagi hilangnya persaudaraan Islam yang merupakan kekuatan yang sangat ditakuti musuh-musuh Islam. Isu toleransi dan demokrasi yang sejatinya sesuatu yang baik dan sah-sah saja dijadikan alat sebagai alat adu domba untuk memecah persaudaaran tersebut.

Kita juga jauh tertinggal dalam segala hal dibanding Barat yang telah berhasil belajar dari keberhasilan Islam di masa lalu, dan membalikkan keadaan. Ketertinggalan tersebut juga termasuk dalam hal akhlak seperti kedisiplin, kebersihan dll.

Namun sejak  terjadinya Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016  yang berlangsung rapi, bersih, tertib dan aman, perlahan umat mulai menyadari kekurangan-kekurangan tersebut. Umat mulai merasakan pentingnya menerapkan isi Al-Quran dan hadist dalam kehidupan sehari-hari, perlunya persatuan dan persaudaraan, serta mandiri tidak tergantung kepada pihak lain.

Adakah ini pertanda kebangkitan umat yang telah diprediksi sebagai tanda datangnya akhir zaman, masa kembalinya kejayaan khilafah yang sangat ditakuti pemegang kekuasaan saat ini?? Apalagi semua tanda-tanda kecil datangnya hari Kiamat telah bermunculan hari demi hari. Gempa yang terus bermunculan susul menyusul di seantero jagad adalah salah satunya. Dan ini akan terus terjadi hingga  puncaknya munculah tanda-tanda kiamat besar, seperti Dajjal, Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan Ya’juj Ma’juj.

Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin al-Yaman r.a, berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Masa kenabian itu berada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Setelah itu, masa kerajaan yang sombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam,”(H.R Ahmad).

Hadist diatas menunjukan bahwa Akhir Zaman akan melalui 5 masa, yaitu:

1.Masa kenabian.

2.Masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khulafahur Rasyidin)

3.Masa kerajaan yang menggigit (Mulkan Adlon)

4.Masa kerajaan diktator (Mulkan Jabariyyah)

5.Masa kembali pada Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah

http://faseakhirzaman.blogspot.com/2016/09/5-fase-akhir-zaman-berdasarkan-hadist.html

Tanda-tanda kebangkitan Islam tidak hanya terasa di negri kita tercinta Indonesia. Hukum-hukum Islam mulai diterapkan di beberapa negara, bahkan yang bukan mayoritas Islam. Termasuk juga perbankan syariah yang mulai merambah Barat.

Berikut jawaban Rasulullah Muhammad SAW  atas pertanyaan khalifah Umar bin Khattab yang bermaksud mewakafkan tanahnya di Khaibar. “Jika engkau suka tahanlah pangkalnya dan sedekahkan hasilnya”. Ini menyiratkan, harta yang diwakafkan itu perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga hasilnya dapat menyejahterakan orang yang membutuhkan.

Di Amerika Serikat misalnya, Muslim di negara tersebut telah berhasil mengembangkan wakaf yang ada secara produktif. Awalnya mereka memang mengandalkan bantuan dana dari negara-negara Timur Tengah. Namun sejak tahun 1990 terutama setelah Perang Teluk yang menghabiskan dana yang tidak sedikit, mereka mulai mandiri. Sementara di Indonesia wakaf yang jumlahnya cukup banyak itu, belakangan ini mulai dikelola secara produktif.

Demikian pula halnya dengan dana haji yang sempat heboh karena akan digunakan pemerintah untuk keperluan infrastuktur. Umat dijamin sebetulnya tidak akan keberatan dana tersebut digunakan untuk kepentingan umum tidak hanya kepentingan khusus umat Islam seperti masjid atau pondok pesantren misalnya. Tapi juga sekolah, rumah sakit bahkan jalanan, perumahan, apartemen, pertokoan dll sebagainya. Yang dengan demikian tidak perlu lagi negara ini berhutang kepada pihak atau negara lain hingga menyebabkan kita berhutang budi, atau terpaksa menggadaikan asset negara. Dengan syarat pemerintah benar-benar menunjukkan keberpihakan pada umat, tidak semena-mena terhadap ulama dan rakyat kecil yang mayoritas Islam itu. Dan tentu saja tidak mengganggu jadwal keberangkatan para pemilik tabungan haji.

Memang tidak semudah membalik tangan, perjuangan masih panjang dan berliku. Fitnah Dajjal dan kekejaman Ya’juj Ma’juj yang dalam hadist digambarkan sebagai suatu bangsa bermata sipit berhidung pesek harus kita hadapi.

https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/12/19/156703/bangsa-bermata-sipit-dan-tanda-akhir-zaman.html

Indonesia memiliki sejumlah permasalahan serius seperti kesenjangan sosial, kemiskinan, rendahnya mutu pendidikan, keterbelakangan, korupsi yang merajalela, dan pengelolaan sumber daya alam yang buruk. Berdasarkan data Global Wealth Report tahun 2016, Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai negara paling timpang di dunia, dimana 1 persen orang terkaya menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Di dalam urusan membaca pun Indonesia menempati posisi buncit. Dari 61 negara yang disurvei oleh Central Connecticut State University di New Britain dari tahun 2003 sampai 2014, Indonesia menempati posisi ke-60 atau nomer dua dari belakang terkait dengan minat baca masyarakat. Dalam hal korupsi, Indonesia menempati urutan ke-90 dari 176 negara yang disurvei oleh Transparancy International dalam data Indeks Persepsi Korupsi.

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. ( Terjemah QS. Al-Hasyr(59:7).

Namun kita harus optimis, dengan adanya kesadaran persatuan persaudaraan Islam, pentingnya menerapkan ajaran Islam serta tidak mau lagi tergantung kepada pihak lain, adalah merupakan kunci awal menuju kembalinya kejayaan Islam, Islam yang rahmatan lilalamiiin, yang mengayomi semua rakyatnya apapun agama, kepercayaan, ras dan sukunya, dengan izin dan ridho Allah swt.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juni 2019.

Vien AM.