Pada tanggal 16 November 2016 Bareskrim ( Badan Reserse Kriminal Polri ) akhirnya menetapkan Ahok sebagai tersangka. Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok itu ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus penistaan agama. Ia dinilai melanggar Pasal 156a KUHP dan Pasal 28 Ayat (1) UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Langkah Bareskrim ini tentunya tak terlepas dari demo Aksi Bela Islam II yang diselenggarakan pada 4 November lalu dan diikuti jutaan umat Islam. Mengapa demikian? Karena penetapan menjadi tersangka ini tergolong lambat bila dibanding mereka yang juga diduga menista agama.
Politikus Permadi, seniman Arswendo Atmowiloto dan penulis H. B. Jassin adalah contohnya. Begitu mereka diadukan telah menistakan agama polisi langsung mengamankan mereka sebelum ditetapkan sebagai tersangka. Sementara Ahok, sejak kejadian di pulau Seribu pada tanggal 27 September hingga 4 November belum juga ditanggapi. Jadi wajar bila akhirnya umat Islampun marah dan jengkel.
Apa hal itu karena Ahok adalah gubernur petahana sekaligus calon gubernur PDIP? Jadi aneh juga sebenarnya pernyataan polisi juga presiden yang menuduh demo ditunggangi muatan politik. Tidakkah itu terbalik ??
Anehnya lagi, pasal yang digunakan untuk menjadikan Ahok tersangka, mengapa pasal tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, bukannya pasal tentang penistaan agama ??? Hingga akhirnya justru Buni Yani, yang dijadikan tersangka dengan pasal yang sama dengan Ahok. Yang pastinya akan membuat orang berpikir dua kali bila ingin melaporkan kejahatan, meski mempunyai bukti kuat rekaman video. Ironisnya, begitu dijadikan tersangka Buni Yanipun langsung ditahan, kalau saja tidak ada protes dari masyarakat.
Disamping itu keberadaan media sosial yang tidak sedikit memamerkan foto-foto kedekatan kapolri dengan Ahok maupun Teman Ahok membuat masyarakat makin pesimis proses hukum bakal berjalan sesuai harapan. Meski sebaiknya masyarakat lebih waspada dan hati-hati menyikapinya karena berita hoax dan foto-foto editan makin meraja-lela hingga sulit dibedakan mana yang asli mana yang palsu.
Dalam rangka meng-antsipasi hal tersebut maka GNPF-MUI kembali berniat menggelar demo Aksi Bela Islam III. Rencana awal demo ini akan dilaksanakan di sepanjang jalan Thamrin-Sudirman, dengan tema gelar sajadah alias shalat Jumat. Tidak ada orasi, yang ada hanya zikir, membaca Al-Quran dan tausiyah oleh para ulama, sambil menunggu waktu shalat Jumat. Oleh sebab itu demo Aksi Belas Islam III ini disebut demo super damai, bukan hanya damai lagi.
Namun rupanya polisi tidak mengizinkan jalan protocol digunakan untuk shalat karena menganggu kepentingan umum. Dan hasilnya setelah beberapa kali mengadakan pertemuan, terakhir kunjungan kapolri Jenderal Tito Karnavian ke kantor pusat MUI pada Senin 28 November, disepakati demo akan dilangsungkan di Monas, masjid Istiqlal dan sekitarnya, dengan kawalan resmi aparat keamanan. Allahu Akbar !
Pertemuan yang dihadiri wakil GNPF – MUI Habib Riziek, Ustad Bahtiar Nasir, ustad Zaitun serta Aa Gym ini dibuka oleh ketua MUI Ma’ruf Amin dengan menyebutnya sebagai Yaumun Rahman atau pertemuan kasih sayang. Ma’ruf Amin juga menerangkan bahwa paska 211 akan diadakan rujuk nasional yang bertujuan untuk memperbaiki hubungan polisi ( pemerintah) dengan MUI ( umat Islam) yang sempat terganggu dengan adanya kasus penistaan tersebut. Yang paling menyakitkan adalah pernyataan polisi ( dan presiden ) bahwa para pendemo 411 adalah teroris !
Dalam pertemuan tersebut Habib Riziek, ketua GNPF-MUI sekaligus FPI dengan legowo menerangkan alasan mengapa mereka memilih Thamrin Sudirman sebagai lokasi awal. Menurut beliau, berdasarkan pengalaman demo 411 lalu, masjid Istiqlal tidak mampu memuat peserta demo yang mencapai 2.3 juta itu. Puncaknya adalah ketika mereka harus berdesak-desakan keluar masjid hingga akhirnya banyak yang jatuh pingsan. Sementara akses ambulance yang dibutuhkan untuk membantu mereka yang membutuhkan sangatlah sulit.
“Jadi bukannya kami keras kepala, ngotot ingin memaksakan kehendak”, jelas Habib Riziek.
Habib juga menegaskan, perjuangan GNPF – MUI tetap satu yaitu agar fatwa MUI bahwa Ahok telah menistakan agama ditindak lanjuti pada jalur yang benar. Demi utuhnya NKRI, tidak boleh satupun orang baik rakyat biasa apalagi pejabat melecehkan agama yang ada di negri tercinta ini. Baik itu agama minoritas apalagi agama mayoritas.
Sementara ustad Bahtiar Nasir dengan santai mempersilahkan peserta demo untuk datang lebih awal di Istiqlal agar bisa shalat Subuh berjamaah. “Semoga demo 212 ini menjadi awal momentum pembiasaan diri shalat Subuh berjamaah sebagaimana mestinya”. Masya Allah.
“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)
Hal ini mengingatkan Turki yang saat ini mulai menampakkan kembali cahayanya. Masjid mulai dipenuhi jamaah shalat Subuh. Tidak hanya itu pemimpin Turki, Sultan Erdogan, telah berhasil membawa negaranya menjadi negara yang tidak lagi bergantung kepada Barat. Pembangunan dan ekonomi negri yang dulu dikenal sebagai kerajaan Islam Ottoman ini mengalami kemajuan pesat.
Membuktikan bahwa menjadi negara sekuler tidak menjamin kemajuan sebuah negara. Bosnia adalah contoh lain negara berpenduduk mayoritas Muslim yang mengalami keterpurukan karena rakyatnya meninggalkan syariat dan memilih untuk sekuler.
Dalam pertemuan tersebut kapolri juga menegaskan bahwa larangan bus mengangkut peserta demo akan dihapuskan. Meski di lapangan, ratusan umat Islam dari Ciamis sejak Selasa 29 November telah terlanjur menuju ibu kota, dengan berjalan kaki …
Singkat kata demo super damai 212 Aksi Bela Islam III telah disetujui polisi. Kapolri bahkan berjanji akan membantu penyelenggaraannya seperti mendirikan mimbar shalat, penyediaan toilet, air wudhu, ambulance dll. Allahu Akbar …
Terima-kasih ya Allah, semoga pelaksanaan Aksi Bela Islam III besok benar-benar lancar dan aman, dan yang terpenting tujuannya tercapai, aamiin ya robbal ‘aalamiin …
Berikut video lengkap pertemuan Senin 28/10/2106 di kantor MUI.
Yang juga harus diingat, janji Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang bersabar dan senantiasa mendirikan shalat, adalah pasti. Allah swt tidak akan mengecewakan doa hamba-hamba yang sholeh. Apalagi doa orang yang terdzalimi. Tengoklah apa yang terjadi di tanah Palestina, yang selama puluhan tahun diduduki dan direbut Zionis. Yang selama puluhan tahun menyiksa rakyat Palestina dengan begitu kejam dan sadisnya.
Kebakaran hebat hingga hari ke 6 tidak juga surut. Api tidak hanya melahap hutan tapi juga perumahan bahkan gudang senjata Israel yang menjadi andalan untuk menindas rakyat Palestina. Kebakaran hebat ini terjadi hanya selang beberapa hari setelah Zionis Israel melarang azan dikumandangkan di Masjidil Aqsho dan menetapkan denda 200 dollar pada setiap kali azan di semua masjid seantero negri pendudukan tersebut. Kebakaran ini juga mengakibatkan ribuan warga terpaksa diungsikan ke tempat yang lebih aman.
“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya”. (QS. Terjemah QS. Al-An’am (6):123).
Semoga kejadian diatas dapat makin mempertebal keimanan kaum Muslimin, membuat kaum Munafikun berhenti mengolok-olok dan melecehkan ayat-ayat suci Al-Quran, serta kaum Kafirun berpikir 2 x bila ingin menyiksa kaum Muslimin dmanapun berada, aamiin …
Wallahu’ alam bish shawwab.
Jakarta, 1 Desember 2016.
Vien AM.
Itulah sebabnya dalam waktu singkat terkumpul uang yang kabarnya mencapai puluhan milyar rupiah. Dana inilah yang kemudian dipakai ibu-ibu sukarelawan untuk memasak makanan dan membeli minuman bagi mereka yang ber-unjuk rasa di hari Jumar, 4 November 2016. Juga penyediaan akomodasi selama mereka berada di Jakarta, gratis. ( Dan ternyata masih bersisa hingga dapat digunakan untuk mengobati dan menyantuni mereka yang terluka akibat gas air mata di penghujung unjuk rasa. ). Jadi sungguh ngawur pernyataan bahwa dana unjuk rasa 411 berasal dari uang korupsi, apalagi bila dihubungkan dengan mantan presiden SBY, apa hubungannyaa?!??
Inilah energi Al-Maidah 51, sebuah energi raksasa yang berhasil menyedot 2.3 juta umat Islam di seluruh Indonesia untuk datang berkumpul di masjid Istiqal dan mengadakan long march hingga ke istana. Termasuk saya dan suami yang seumur hidup tidak pernah sekalipun ikut apa yang namanya unjuk rasa, padahal usia kami berdua sudah tidak lagi muda, melainkan sudah diatas setengah abad.
Keikut-sertaan kami berdua, dan sebagian besar kaum Muslimin pada aksi unjuk rasa damai beberapa hari lalu murni karena dorongan ingin membela ayat-ayat Allah yang telah dilecehkan. Memang ada sebagian Muslim yang dengan nyinyir mengatakan Islam tidak akan terhina atas perkataan Ahok di pulau Seribu 27 September lalu.
Juga kisah bagaimana para pendemo membantu kelancaran pernikahan pasangan non Muslim di gereja Katedral yang memang terletak persis di depan masjid Istiqlal. Juga ketika masuk waktu Asar, para pendemo saling membantu menuangkan air mineral untuk berwudhu, bahkan antara petugas kemananan dan pendemo. Untuk kemudian shalat berjamaah, masya Allah !
Juga tentang taman, yang belakangan memang jadi isu sensitive sejak “Metrotipu” begitu para pendemo menyebut Metrotv, menjadikan head line “ taman rusak gara-gara perusuh”. Padahal itu hanyalah akal-akalan Metrotv yang sengaja men-shoot taman yang sengaja ditinggalkan rusak dan ceritanya akan dibersihkan relawan Ahok. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut para pendemo saling mengingatkan untuk tidak menginjak taman/rumput. Meski tidak di semua tempat, karena kami juga melihat mereka shalat di atas rumput, bukan taman memang.
Siang itu bertepatan dengan hari Jumat. Di sebuah masjid di Kota Alma-Ata (Almaty), Kazakhstan, keramaian masih tampak, padahal waktu shalat Jumat telah berlalu. Di salah satu sudut bangunan masjid, seorang pria paruh baya tampak duduk bersila dikelilingi oleh para jamaah.
Dilaporkan seluruh warga yang jumlahnya 332 kecuali satu orang, yaitu salah satu istri kepala desa, ditambah 19 orang tamu dari luar desa menjadi korban. Mereka tertimbun di dalam tanah tanpa berhasil di evakuasi, hingga saat ini, karena sangat sulit ditemukan. Istri Rana, sang ketua desa, lolos dari musibah karena sedang tidak berada di lokasi ketika musibah terjadi. Di desa tersebut kini berdiri sebuah prasasti yang menunjukkan peristiwa tragis tersebut.
Kedua, Allah swt telah memberi peringatan dengan berbagai bencana yang tidak sedikit. Seperti badai Matthew yang baru kemarin menerjang Haiti dan menelan korban 283 jiwa serta menghancurkan 80% bangunan di sebuah kota utamanya. Saat ini AS bahkan sedang dalam status siaga menghadapi badai yang sedang bergerak menuju ke negara dimana Donald Trump, calon presiden yang sangat memusuhi Islam itu, berada. Kita tahu betapa bencinya ia terhadap kaum Muslimin.