Feeds:
Posts
Comments

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.(QS.An-Nisa(4):48).

Syirik adalah perbuatan men-dua-kan atau lebih Allah. Mengakui keberadaan-Nya dan  mengakui kekuasaan serta kehebatan-Nya, bahkan bisa jadi juga melaksanakan perintah-perintah-Nya, namun sebaliknya juga mengakui dan meminta pertolongan kekuatan lain. Itulah syirik. .

Allah swt sungguh amat membenci perbuatan tersebut, ini adalah perbuatan khianat. Bagaimana mungkin seorang hamba yang diciptakan-Nya, dengan penuh kasih sayang, bisa mendua-kan Nya, padahal ia tahu bahwa Dialah yang memberinya semua fasilitas hidup !

Mari kita perhatikan percakapan kaum Musyirikin Mekah yang diabadikan dalam surat Al-Mukminun ayat 84-90 berikut :

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”

Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang besar?”

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”

Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab) -Nya, jika kamu mengetahui?”

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?”

Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta”.

Ya, untuk itulah Rasulullah Muhammad saw diutus ke muka bumi, ke tanah Mekah, khususnya. Karena penduduk Mekah, yaitu orang-orang Quraisy, telah men-dua-kan Nya, padahal mereka mengakuiNya.

Kesyirikan bisa terjadi karena adanya budaya takhayul, yaitu percaya kepada yang ghaib, namun secara tidak benar. Dalam Islam, percaya kepada yang ghaib adalah bagian dari rukun Iman. Tetapi ada pedomannya, bukan sembarang percaya begitu saja. Sang Khalik Allah swt, para malaikat, bangsa jin dan hari Kiamat adalah sesuatu yang ghaib, yang tidak terlihat oleh pandangan mata telanjang.

Namun dengan menggunakan petunjuk Al-Quran, sunnah Rasulullah dan ayat-ayat Allah yang bertebaran di muka bumi, kita, manusia, dapat ‘melihat’ dan merasakannya. Perputaran matahari dan bulan, langit dan bumi, siang dan malam, panas, angin dan hujan, tubuh manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, semua itu adalah bukti keberadaan Allah Azza wa Jalla.

Artinya, percaya pada yang ghaib itu ada petunjuknya. Bukan percaya sim salabim ala penyihir yang telah dirasuki ilmu jin yang dilaklanati-Nya. Seandainyapun, ada mukjizat atau ilmu ghaib tanpa teori dan dasar pemikiran yang jelas, itu bisa terjadi karena izin-Nya.

Tidak ada perantara dalam Islam, setiap hamba dapat “berkomunikasi langsung” dengan Tuhannya, melalui doa, kapanpun dan dimanapun, untuk memohon ampunan atau bantuan. Tidak perlu orang lain, uztad sekalipun, apalagi alat-alat khusus, seperti bebatuan, jimat, mantra dll. Jangan lupa, shalat pada hakekatnya adalah juga doa.

“Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdo`a kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.” (QS.Al-An’am(6):63-64).

Disamping itu, dampak kesyirikan sangatlah berbahaya. Ia bisa membawa kepada kekafiran. Ini yang terjadi pada umat Nasrani. Berikut adalah firman-Nya :

 “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.(QS.Al-Maidah(5):73).

Ironisnya, sebagian umat Islam hingga detik ini masih banyak yang bergelimang dalam kesyirikan. Berobat ke dukun dengan mantra-mantra yang sarat kesyirikan, menyelenggarakan berbagai upacara seperti memasang kepala kerbau di jembatan baru dengan alasan agar bebas dari bahaya, memasang sesajen, mandi kembang dll adalah contohnya.

Padahal bersihnya Islam dari segala ketakhayulan dan segala sesuatu yang mistis inilah yang membuat Napoleon Bonaparte, sang kaisar legendaris Perancis, tertarik kepada ajaran yang dibawa Rasulullah saw ribuan tahun silam itu. Ini adalah berkat kedekatannya dengan Mesir yang pernah dikunjunginya. Karena bagi rata-rata orang Barat ketakhayulan dan mistis identik dengan kemunduran dan keterbelakangan. Itu yang dimaksud dengan ‘incredible”oleh Bonaparte pada kalimat dibawah ini.

He( Bonaparte)  also said to Gourgaud in 1817,  “I like the Mohammedan religion best. It has fewer incredible things in it than ours.”,  and that “the Mohammedan religion is the finest of all”.

Gourgaud adalah salah satu jendral kepercayaan Napoleon.  Kutipan diatas diambil dari Wikipedia. Sekedar catatan, banyak orang Barat yang menjadi atheis alias kafir karena menganggap agama mereka tidak masuk akal serta sarat dengan takhayul dan mistis. Bagi mereka, Tuhan memiliki anak itu adalah janggal. Demikian pula Sinterklas, tokoh pujaan anak-anak yang datang membawa hadiah bagi anak yang berprilaku baik setiap malam Natal.

“Madame, croyez- vous en  Pere Noel?”, artinya « Percayakah ibu dengan Sinterklas », dalam bahasa Perancis.

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan seperti di atas itu. Ini dilontarkan oleh anak-anak bule Perancis usia 10-11 tahun dengan mimik aneh, dengan harapan mendapat jawaban yang telah mereka miliki sendiri, yaitu tidak percaya.

Jadi alangkah ironisnya, bila kita, umat Islam, yang telah diajarkan agar menjauhi segala macam kesyirikan ternyata malah berkutat di dalam kubang kehinaan tersebut. Naudzu’billah min dzalik.

Meski untuk beriman kepada Allah dan segala yang ghaib itu tidak hanya sekedar masuk akal atau tidak.  Pada tahap tertentu manusia memang masih bisa menggunakan akalnya, namun selanjutnya  akal kitalah yang tidak mampu mencapai ilmu-Nya. Itu sebabnya kebanyakan orang Barat yang ‘kembali ke fitrah’ berasal dari lingkungan cendekiawan.

Patut menjadi catatan, Islam mencapai zaman keemasan ketika sains menyelimuti kehidupan sebagian besar umat. Pada masa inilah lahir ilmuwan-ilmuwan Muslim yang di kemudian hari menjadi panutan Barat. Ibnu Sina, sang dokter Muslim, adalah salah satu contohnya. Orang Barat menyebutnya Avicenna. Sebaliknya Islam mengalami kemunduran ketika budaya takhayul meraja-lela di dunia Islam.

“Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa`at?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ”.(QS.Al-Maidah(5):76).

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 10 Maret 2014.

Vien AM.

Urgensi Dakwah dalam Islam.

Kata “dakwah” berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti: panggilan, ajakan, dan seruan. Kata ini berasal dari kata kerja : دعا ( da’a),  يدعو  (yad’u).

« Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti ». (QS.Al-Baqarah(2) :171).

«  Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti ». (QS.Ali Imran(3) :193).

Dakwah adalah ajakan agar manusia mau beriman kepada Sang Khalik, Allah swt, mengakui bahwa Ia-lah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, taat kepada-Nya, melaksanaka segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan itu semua dilaksanakan dengan mencontoh apa yang telah dilakukan Rasulullah Muhammad saw.

Pada masa hidup Rasuluh saw, dakwah terbagi atas 2 jenis, yaitu dakwah secara rahasia/tersembunyi ( Sirriyatud Dakwah) dan dakwah secara terang-terangan ( Jahriyatud Dakwah). Dakwah secara rahasia terpaksa dilakukan karena penganut Islam pada waktu masih sedikit sekali dan pula dimusuhi. Dakwah ini hanya berlangsung 3 tahun, setelah itu turun perintah agar Rasulullah berdakwah secara terang-terangan.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”.  (QS.Al-Hijir [15]: 94).

Dakwah atau ajakan kepada Tauhid sebenarnya terjadi tidak hanya di zaman hidup nabi saw, namun pada semua nabi Allah, yaitu sejak nabi Adam as hingga nabi Isa as. Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya para nabi dan rasul itu diutus untuk menyembah hanya kepada Allah swt, Azza wa Jalla, Tuhan Yang Satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Hanya saja syariatnya yaitu hukum atau aturannya berbeda-beda, sesuai dengan kitab yang diturunkan kepada nabi-Nya. Dalam hal ini, Islam, tentu saja merujuk kepada Al-Quran dan hadist.

Uniknya, dakwah bukanlah monopoli para nabi. Perintah ini juga berlaku untuk semua manusia. Namun tentu saja sesuai kemampuan dan kapabilitas masing-masing.

Jadi sungguh tidak benar jika ada yang berpendapat bahwa orang Islam itu yang penting baik prilakunya dan menjalankan ibadah pribadinya, seperti shalat, puasa, zakat dan  pergi haji. Akan tetapi tidak sedikitpun terbersit di dalam hatinya untuk berdakwah.

Coba bayangkan bila Rasulullah dan para sahabat dulu tidak berdakwah. Mungkinkah Islam bisa berkembang seperti sekarang ini ? Mungkinkah penduduk Mekah yang waktu itu mayoritas kafir memeluk Islam, membolehkan sanak keluarganya shalat, bahkan mengizinkan Ka’bah yang sejak dulu memang pusat ibadah haji ala pagan itu dikembalikan ke fungsinya yang sebenarnya yaitu haji yang bersih dari segala ritual kesyirikan ??

Islam adalah way of life, cara pandang hidup, bukan sekedar ajaran budi pekerti dan sejumlah aturan pribadi yang memisahkan antara kehidupan pribadi dengan kehidupan bermasyarakat. Islam adalah sebuah pandangan apa itu hidup dan kehidupan, yang memiliki ikatan erat antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan manusia lainnya serta antara manusia dengan alam sekitarnya.

Oleh karena itu hukum Islam sangat dibutuhkan agar umat Islam bisa beribadah dengan baik, agar ada hukum yang bisa dijadikan pakem sekaligus payung untuk berlindung. Kehidupan masyarakat negara Madinah yang dibentuk Rasulullah begitu Islam memiliki kekuatan dan sumber daya manusia adalah contoh masyarakat Islam yang paling baik. Itu pula sebabnya kita harus saling mengajak, dalam kebaikan, dan saling mengingatkan untuk menjauhi kejahatan.

« Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung ». (QS.Ali Imran(3) :104).

Uniknya lagi, segala aktifitas kehidupan, bila disandarkan kepada Sang Khalik, nilainya adalah ibadah. Karenanya berdakwah bukan hanya memberikan tausiyah sebagaimana yang biasa diberikan para pendakwah seperti uztad/uztadzah. Namun juga pemberian contoh keteladanan, seperti kedisiplinan, menjaga silaturahim, menghormati orang-tua atau yang lebih tua,  menjaga kebersihan diri dan lingkungan, dll. Itu semua bisa bernilai dakwah.

Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika dengan tangan tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya; dan jika dengan lisan tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya; dan ini adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Bahkan bagi para Muslimah  yang tinggal di negri minoritas Muslim, dengan berhijab saja bisa menjadi dakwah dan mempunyai nilai tersendiri. Apalagi bila bisa mengerjakan shalat atau membaca Al-Quranul Karim di tempat umum, tentu akan lebih baik lagi.

Jadi dakwah itu tergantung situasi dan lingkungan yang didakwahi ( mad’u).  Selain dengan contoh dan keteladanan, dakwah bisa juga dilakukan melalui  tulisan di blog, ataupun ‘status’ di jejaring sosial, seperti FB misalnya.

Itu sebabnya untuk berdakwah tidak harus menunggu hingga sepintar atau  sesholeh para dai dan ulama kenamaan.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Februari 2014.

Vien AM.

Rasanya tak ada di dunia ini orang yang tidak senang  dipuji, baik secara langsung maupun tidak. Yang berbeda mungkin hanya tanggapannya, ada yang bersyukur, ada yang biasa-biasa saja, ada yang senang, ada yang bangga dan ada pula overacting. Meski pujian tidak jarang hanya basa-basi, bahkan bisa jadi dengan maksud tertentu. Yang terakhir ini mungkin ditujukan bagi orang yang memang gila hormat dan pujian.

Pujian adalah cerminan dari perhatian yang diberikan kepada seseorang, bisa karena prestasi, bisa juga karena kelebihan yang dimiliki orang yang bersangkutan. Kelebihan tersebut bisa berupa  kesuksesan,  kepintaran, kesholehan,  kekayaan , kecantikan/ ketampanan,  dan lain sebagainya.

Dalam dunia pendidikan, reward and punishment atau pujian dan hukuman adalah hal biasa. Pujian dan penghargaan diberikan kepada mereka yang berbuat baik, yang berhasil meraih prestasi misalnya. Sedangkan hukuman diberikan kepada yang berbuat salah, melanggar aturan, contohnya.

Dengan kata lain, penghargaan diberikan sebagai ungkapan rasa senang dan bangga atas perbuatan baik dan prestasi anak.  Sedang hukuman diberikan dengan tujuan untuk menuntun dan memperbaiki kesalahan, bukan untuk menjatuhkan apalagi tujuan balas dendam. Jadi reward and punishment adalah alat untuk mendidik agar anak didik mau berusaha memperbaiki kelakuan, sikap  dan prestasinya.

Secara umum, Allah swt mencontohkan hal ini dengan adanya pahala dan dosa.

“ … …,  maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. … ” , (QS Al-Maidah (5):48).

Ini untuk memotivasi manusia agar mau berbuat baik. Karena pada dasarnya manusia itu senang berlomba. Meski sayangnya, tidak jarang manusia itu senang berlomba dalam segala hal, baik dalam hal kebaikan maupun hal keburukan.

Dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa ada orang yang memuji temannya yang ada disamping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Celakalah engkau, kau telah menggorok leher saudaramu. Kau telah meggorok leher saudaramu!”.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ada orang yang memuji saudaranya dengan sangat berlebihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Kalian telah mematahkan punggung saudara kalian (kalian telah membinasakannya).” [HR. Bukhari Muslim ).

Ya pujian adalah ibarat pedang bermata dua, yang dapat menjadi sarana ketakwaan kepada Allah di satu sisi,  dan dapat menjadi alat masuknya bisikan syaithan, di sisi sebaliknya. Oleh karenanya Islam mengatur adab dam tata cara memuji ini, bagaimana agar pujian tidak menjadi bumerang , agar pujian tidak menyebabkan seseorang menjadi besar kepala dan lalai.

Pujian terbagi menjadi 2, yaitu pujian yang tercela dan pujian yang diperbolehkan. Pujian yang tercela, adalah pujian yang berlebihan dan pujian yang dapat menyebabkan orang yang dipuji merasa bangga diri (‘ujub). Sedangkan pujian yang dibolehkan adalah yang hanya sekedarnya, tulus dan membuat yang dipuji bertambah dekat kepada Sang Khalik.

Harus kita ingat bahwa pujian hanyalah milik Allah Azza wa Jalla. Kebaikan dan kelebihan seorang hamba tidak ada apa-apanya dibanding dengan-Nya. Dan lagi kelebihan seorang hamba sejatinya adalah pemberian dan berkat izin-Nya. Apalagi bila kelebihan tersebut adalah kelebihan yang sifatnyas fisik, kecantikan misalnya. “Udah dari sononya”, kata orang Betawi.

Ironisnya, kelebihan semacam ini makin hari makin sirna, ditelan umur dan waktu. Kecantikan dan ketampanan seseorang jelas tidak abadi. Cobalah bayangkan seorang perempuan yang diwaktu mudanya cantik rupawan. Bandingkan dengan ketika ia berusia 70 tahunan, ketika giginya sudah mulai tanggal alias ompong. Atau lelaki yang ketika muda tampan dan gagah, bandingkan setelah ia berusia lanjut, giginya ompong, perutnya buncit dan kepalanyapun botak.

“ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,  Maha Pemurah lagi Maha Penyayang » (QS. Al-Fatihah(1) : 2-3).

Bicara soal gigi, suatu hari saya pernah mengantar seorang kerabat yang sudah sepuh ke tukang gigi, untuk memperbaiki gigi palsunya yang patah beberapa minggu sebelumnya. Kerabat saya tersebut mengeluh bahwa ia merasa lidahnya lebih panjang dari sebelumnya. Selain itu ia juga merasa tidak dapat berkata-kata secara jelas, alias pelo. Padahal ia tidak sakit alias sehat-sehat saja.

Usut punya usut, ternyata pangkal semuanya adalah karena gigi. Menurut tukang gigi tersebut, yang menyebabkan ibu tersebut merasa lidahnya memanjang, karena selama beberapa minggu ia tidak memakai gigi palsunya. Akibatnya lidah menjadi tidak terkontrol, dan ‘lari ‘kesana-kemari, keluar dari ‘pagar’gigi yang selama ini membatasinya. Demikian juga kata-kata yang tidak jelas dan mendesis, itu semua diakibatkan karena alpanya gigi ! Subhanallah …

“ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya ».(QS.At-Tiin(95):4).

Imam Al Ghazali berkata: “Apabila kalian membenci atas dirimu hendaklah kalian alihkan untuk memuji kepada Allah swt. Karena orang yang memuji Allah itu adalah orang yang dekat dengan Allah. Orang yang berlebihan memuji manusia adalah yang lupa bahwa Allah bersifat Maha Tinggi lagi terpuji.”

Lagi pula, dibalik kelebihan dan kesholehan seorang hamba, pasti ada kejelekan dan kekurangannya, meski mungkin hanya dirinya yang mengetahui hal tersebut. Oleh karenanya, ketika kita sedang dipuji, dianjurkan agar segera istighfar, meyakini  bahwa Allah swt sedang menutupi kejelekan dan kekurangannya tersebut. Dan membaca doa yang artinya adalah sebagai berikut :

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku sendiri daripada mereka yang memujiku”.

“Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka duga, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan sebab perkataan mereka” (HR. Al-Baihaqi).

Sebaliknya bagi yang suka memuji, bila ia benar-benar mencintai saudaranya, tahanlah pujian tersebut, karena pada umumnya manusia itu memiliki sifat-sifat lemah, seperti munafik, ujub, lupa diri, dan sifat-sifat buruk lainnya.

Disamping itu bila memang kita ingin memujinya, lakukan itu dengan ikhlas, dengan tujuan untuk memotivasi, dan agar ia mensyukuri kelebihan tersebut. Yang dengan demikian dapat lebih mendekatkan diri pada-Nya.

“ … … Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. … … “. (QS. Al Maidah(5): 2).

Fenomena puji memuji yang belakangan ini menjadi trend adalah pemberian ‘jempol’di dunia maya, FaceBook, contohnya. Jempol diberikan kepada status atau foto yang diunggah sesama anggota FB, sebagai bentuk perhatian, apresiasi atau sekedar ‘sudah dibaca”.  Atau bisa juga hanya basa-basi. Padahal tidak jarang status atau foto yang dipajang itu tidak Islami. Tidak jelas sebenarnya atas dasar apa jempol tersebut diacungkan.

Lebih parah lagi apa yang terjadi saat ini. Yaitu pujian yang sifatnya membela seseorang secara berlebihan, tidak peduli orang yang dipuji dan dibelanya itu salah atau benar. Ini adalah contoh pujian yang sama sekali tidak islami, karena sifatnya sangat emosional, dan sudah mengarah kepada pendewaan.

“ Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR. Muslim).

Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiallahu anhu dia berkata:

 “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.” (HR. Muslim).

Mungkin sudah saatnya  kita harus introspeksi, memilah-milah mana yang patut mendapat pujian, mana yang tidak. Jangan sembarang mengangkat jempol, memuji dan mengeluarkan pendapat, karena semua itu ada pertanggung-jawabannya, baik di dunia apalagi di akhirat nanti.

“ pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS.An-Nuur(24) :24).

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk fisik kalian dan harta kalian. Melainkan Dia melihat kepada hati kalian”. (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 20 Februari 2014.

Vien AM.

Al-Quran dan GPS.

GPS yang merupakan singkatan dari Global Positioning System  belakangan ini makin saja digemari dan dicari  orang. Paling tidak  itulah yang terjadi di Eropa dan Amerika. Di Negara-negara maju kedua benua tersebut GPS hampir wajib dimiliki semua orang dari berbagai kalangan. Dari kendaran pribadi hingga taxipun memilikinya. Di Indonesia, Jakarta khususnya, sebagai barometer ibu kota negara, memang belum begitu popular, ntah mengapa. ( Harap maklum tulisan ini dibuat pada awal 2014, jauh sebelum kendaraan online ada seperti saat ini ).

GPS adalah alat canggih pemandu jalan dengan bantuan navigasi satelite. Dengan alat bantu ini kita dapat menemukan alamat seseorang dengan mudah. Kita tinggal memasukkan alamat tujuan, kemudian sang peralatan canggih tadi dalam hitungan detik akan menunjukkan lokasi yang kita tuju. Kemudian secara otomatis, GPS  akan memperlihatkan jalan mana yang harus ditempuh agar sampai tujuan yang diinginkan. Dengan demikian kita tidak perlu lagi khawatir tersesat.

Malah bila kita mau membayar lebih, kita bisa mendapatkan aplikasi yang lebih canggih. Yaitu yang bisa menunjukkan jalan-jalan mana yang bebas hambatan, seperti macet, banjir dsbnya. Dapat dipastikan, ditanggung  laku keras bila dijual di Jakarta yang hari-hari ini sedang sering dilanda musibah banjir.

Bicara soal kemacetan di ibukota, jangankan di musim hujan yang rawan banjir, di musim kemaraupun Jakarta tidak pernah tidak macet. Orang bilang bukan Jakarta kalau tidak macet. Bahkan di hari Lebaran, yang di tahun-tahun lalu jalanan agak sepi, tidak lagi demikian belakangan ini.

Kemacetan di Jakarta nampaknya sudah mencapai titik sangat mengkhawatirkan. Seorang pemerhati sosial di Jakarta, beberapa tahun lalu pernah menyatakan bila masalah kemacetan di ibukota tidak segera dibenahi,  pada tahun 2014, yaitu tahun ini, Jakarta akan stuck, alias macet total. Menurutnya, semua kendaraan akan mengalami kemacetan begitu keluar dari garasi rumah masing-masing.

Macet memang benar-benar menyebalkan. Selain membuang waktu, tenaga dan bahan bakar juga membuat polusi udara Jakarta yang sudah sumpek menjadi semakin sumpek saja. Ironisnya, macet sering kali hanya gara-gara angkot yang ‘ngetem’seenaknya sendiri menutup jalanan.  Membuat ingin rasanya bisa terbang ke atas, dan melihat ke bawah, apa sebenarnya yang menjadi penyebab macet.

Kalau sudah begini, GPS versi yang bisa merekam kemacetan tadi pastinya bisa menjadi solusi terbaik. Walaupun kalau penyebab kemacetan baru saja terjadi, ketika kendaraan kita sudah di depan mata, GPS pun tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berputar arah, dan GPS kita setting ulang.

Nah, seperti itulah pada dasarnya kita suci kita, Al-Quranul Karim. Kitab ini adalah petunjuk kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Ia adalah cahaya dalam kegelapan, yang dengannya hidup tidak akan tersesat.

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.(QS. Ali Imran(3):138).

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”(QS. Al-Baqarah(2):2).

al-quranul-karim-660x330Namun dari kedua ayat diatas saja, jelas bahwa ayat-ayat Al-Quran adalah petunjuk hanya bagi orang yang takwa. Artinya bagi orang yang tidak meyakini bahwa dunia hanya kehidupan sementara, dan bahwa Allah bukanlah satu-satunya pencipta, ayat-ayat suci tersebut tidak memberi manfaat apa-apa, apalagi petunjuk.

Persis seperti orang yang tidak percaya dengan kemampuan GPS. Karena betapapun canggihnya alat pemandu jalan ini bila kita tidak mempercayainya tentu sama aja bo’ong,  alias sama sekali tidak ada manfaatnya.

Mengapa orang bisa tidak percaya pada GPS? Banyak penyebabnya. Diantaranya mungkin tidak mengenal GPS, tidak tahu cara penggunaannya, GPS sering error, atau memang tidak ingin percaya saja !.

Bagaimana dengan Al-Quran? Mengapa orang bisa tidak percaya dengannya? Bisa jadi sama dengan keempat alasan diatas. Yaitu tidak kenal Al-Quran, tidak tahu apa dan bagaimana Al-Quran itu, akibatnya Al-Quran dianggap sering error dan terakhir, memang tidak ingin percaya kepada Al-Quran.

Bagi kita, umat Islam di Indonesia, alasan pertama, yaitu tidak kenal dalam arti tidak pernah mendengar apa itu Al-Quran mungkin agak aneh, yang ada mungkin tidak tahu persis apa dan bagaimana Al-Quran itu. Dan akibatnya bisa fatal, yaitu ayat-ayat Al-Quran bisa dianggap menyalahi janji, karena tidak sesuai harapan.

Memahami Al-Quran tentu saja tidak semudah memahami GPS. Al-Quran adalah firman Sang Khalik yang diturunkan kepada Rasulullah saw melalui malaikat Jibril as. Untuk mempelajarinya tentu saja tidak mudah. Diperlukan tidak saja waktu dan tenaga untuk berpikir dan mengkajinya, namun terlebih keimanan dan keyakinan yang tinggi. Yang sayangnya, hanya dengan izin-Nya saja ini bisa terjadi.

… … Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Maidah(5):51).

“… … Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.  ”. (QS. Al-Maidah(5):67).

“ … … Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Maidah(5):108).

Uniknya lagi, memahami Al-Quran tidak boleh dan dan tidak bisa sesuka hati dan akal manusia yang memang sangat terbatas. Melainkan harus sesuai dengan apa yang dipahami dan dicontohkan Rasulullah saw. Itulah sunnah Rasul atau hadist.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):21).

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”. ( Terjemah QS. An-Nisa (4):13).

Sebaliknya bagi orang yang memang tidak ingin mempercayainya tentu lebih jelas lagi. Kelihatannya ini berlaku dalam segala hal. Saya benar-benar merasakan hal ini. Ada suatu waktu dimana saya sangat membenci GPS. Saya benar-benar tidak ingin mempercayainya, tanpa alasan yang jelas. Mungkin juga, karena dengan adanya GPS, hobby dan kemampuan saya melihat peta jadi terabaikan. Akibatnya, apapun petunjuk GPS selalu salah, padahal menurut suami saya benar ! Aneh bukan … Mungkin inilah yang dinamakan seudzon, atau buruk sangka  …

Allah berfirman dalam hadits Qudsi, yang artinya : “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Bila ia berprasangka buruk, maka keburukan akan menimpanya”.

Jadi bila kita memang berniat ingin menggunakan Al-Quran sebagaimana GPS memandu kendaraan kita, maka yakinilah bahwa ia pasti benar.

“ Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah”.(QS.Thaahaa(20):2-6).

Yang tak kalah menarik, setiap GPS pasti memiliki kemampuan zoom-in dan zoom-out. Zoom-in berguna untuk melihat jalan di depan kita sepanjang beberapa puluh meter ke depan, sedangkan zoom-out berfungsi untuk melihat posisi kendaraan kita terhadap lokasi tujuan. Keduanya tentu saja sangat dibutuhkan dan sangat membantu kita dalam menjalankan kendaraan supaya tidak tersesat. Bukankah tidak jarang terjadi, ketika kita hanya fokus memperhatikan zoom-in, lupa memperlihatkan zom-out, kita berputar-putar di tempat yang sama jauh dari tujuan, hingga tidak sampai-sampai tujuan.

Demikian pula Al-Quranul Karim. Di dalam kitab ini kedua fungsi tersebut sudah tercakup. Perumpamaan zoom-in adalah seperti kehidupan di siang hari, dimana pandangan kita hanya terbatas pada kehidupan duniawi. Sedangkan zoom-out ibaratnya malam hari, dimana langit nan luas dengan taburan milyaran bintangnya dapat kita awasi. Hal yang mustahil bisa kita lihat di siang hari.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS.; Ali Imran(3):190-191).

Itu sebabnya orang yang hanya sibuk dengan kehidupan duniawi di akhir hayatnya, ketika sakratul maut, terkejut mendapati di hadapannya menganga kehidupan akhirat yang selama ini dilupakannya … Na’udzubillah min dzalik …

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah !!“. ( Terjemah QS. An-Naba(78):40).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 Februari 2014.

Vien AM.

Baby Blue dan Fenomenanya.

Dari Samurah bin Jundab dia berkata:Rasulullah bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata:Rasulullah bersabda:“ Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]

Dari Abu Buraidah r.a.: “Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya”. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Alhamdulillah hari ini, acara akikah cucu pertama kami berjalan lancar, tepat seminggu setelah kelahiran sang buah hati tercinta. Kurban seekor kambing yang telah dimasak menjadi  gule dan sate kambing telah disalurkan ke sebuah yayasan yatim piatu tidak jauh dari rumah. Demikian pula sedekah seberat minimal rambut sang jabang bayi. Tak lupa sebuah nama yang indah disertakan agar bayi perempuan tersebut dapat didoakan beramai-ramai oleh anak-anak yatim dan pengurusnya.

Sebelumnya, begitu bayi dilahirkan, ayahnya telah meng-azan-kannya di telinga sebelah kanan. Sebagian ulama berpendapat, ditambah di-iqamah-kan di telinga sebelah kiri.

Diriwayatkan dari Rafi’, ia berkata: “Aku melihat sendiri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengazankan Al-Hassan bin Ali pada telinganya ketika ia baru dilahirkan oleh Fatimah.”(HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Azan diperdengarkan kepada sang jabang bayi agar ia terus teringat janji yang telah diucapkannya sebelum ia dilahirkan ke muka bumi ini. Janji dan persaksian bahwa Allah azza wa jalla adalah Tuhannya, Tuhan yang harus disembah selama hidupnya di dunia yang fana ini.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (QS.Al-A’raf(7):172).

Setelah itu bayi di-tahnik, yaitu mengoleskan buah kurma yang sudah dilembutkan ke mulut bayi. Tujuannya adalah agar bayi mudah merasakan manisnya air susu ibu serta membuat bayi kuat menghisap air susu tersebut. Sayang info mengenai tahnik ini baru kami ketahui belakangan, jadi kami baru mempraktekkannya pada saat acara akikah.

Selamat ya Nin”, terdengar salah satu tante mengucapkan selamat kepada menantu perempuan saya. « Baby Blue g ? », tanyanya lagi.

Menantu saya menggeleng sementara saya hanya bengong, berusaha mengingat-ingat baby blue itu apa. Beruntung sebelum saya menemukan jawabannya, adik saya yang kebetulan mendengar pertanyaan tersebut langsung ikut nimbrung pembicaraan.

“ Aku denger katanya Brooke Shield juga gitu. Katanya dia sampai jadi benci dan mau melukai bayinya », ceritanya seru.

Dari pembicaraan itu akhirnya saya tahu ternyata Baby Blue adalah istilah untuk ibu yang baru melahirkan bayinya dan stress berat menghadapi sulit dan repotnya merawat bayi yang baru dilahirkannya.

Saya jadi teringat ucapan perawat di kamar sebelah menantu saya “ Istirahat saja dulu bu, nanti kalau bayinya sudah lahir bakal susah tidur ibu ». Saya langsung tertawa mendengar itu dan berkata kepada mantu dan anak saya yang saat itu sedang menanti persalinan, « Bener banget tuuh, emang enaak”, canda saya.

Kerepotan dan kesulitan merawat bayi memang bukan rahasia lagi. Saya yakin setiap pasangan suami istri, minimal si ibu yang pernah melahirkan bayi, pasti pernah mengalami hal ini. Bagi pasangan muda yang baru saja menikah dan belum begitu siap menerima kehadiran anggota baru di lingkungannya, kehadiran bayi pasti terasa sangat melelahkan.

Dapat dibayangkan, si ibu, yang selama ini merasa tenang-tenang saja, makan tidur nyenyak, didampingi suami tercinta, dalam suasana bulan madu, dimana suami 100 persen adalah miliknya dan senantiasa memperhatikannya, tiba-tiba harus ‘direcoki’ kehadiran bayi. Bayi yang memerlukan air susu ibu, kehangatan ayah-ibu, kasih sayang dan perhatian penuh ke dua orang-tuanya.

Sebaliknya, bayi yang selama kurang lebih 9 bulan berada tenang tertidur di dalam kehangatan perut ibu, tanpa harus merasa kelaparan dan kedinginan, tiba-tiba harus keluar, tanpa sehelaipun pakaian menyelimuti tubuh mungilnya. Kemana ia harus mencari perlindungan kalau bukan ibu kandungnya.

Bayi adalah mahluk kecil, lemah, tak berdaya. Ia belum bisa apa-apa. Ia tidak bisa mengatakan keinginan dan perasaannya, bahwa ia haus, kedinginan, kepanasan, kesakitan dan tidak nyaman posisinya, atau bahkan sekedar kesepian, ingin dibelai. Satu-satunya komunikasi yang ia tahu hanya menangis !

Jadi pantas saja bila seorang ibu muda yang baru pertama kali melahirkan dan merawat sendiri bayi mengalami stress. Saya memang tidak tahu persis kategori apa  yang dinamakan Baby Blue itu. Ada yang mengatakan ketika si ibu sampai harus menangis terus menerus, depresi dan bahkan sampai tingkat membenci bayi yang dilahirkannya sendiri. .

“ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”

Artinya: “ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”

Semua muslim pasti hafal bacaan doa di atas, doa sapu jagad, orang sering bilang. Tadinya saya sempat bertanya-tanya mengapa doa tersebut menyebut ‘sewaktu aku masih kecil” bukan “ sejak aku masih kecil”. Bukankah orang-tua menyayangi kita tidak hanya ketika kita masih kecil, namun sejak kecil hingga kita dewasa?

Ternyata fenomena “Baby Blue” adalah jawaban yang paling tepat. Subhanallah Allahuakbar … Rupanya merawat bayi adalah ujian terbesar bagi pasangan pengantin.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua ( orang-tua) dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Israa(17):24).

Buktinya yaitu tadi, ayat dan doa yang diajarkan Rasulullah diatas. Allah swt akan memberilkan kasih sayangNya kepada kita sebagaimana kita menyayangi anak kita ketika masih kecil. Jadi balasan kasih sayang dan kesabaran kita terhadap anak kita yang masih kecil itu sungguh tak terhingga, Allah sendiri yang akan membalasnya.

Oleh karenanya, jika sebagian orang memberi nasehat agar jangan membiarkan seorang ibu seorang diri merawat bayinya, perlunya partisipasi sang suami dan segala macam refreshing bagi sang ibu, maka iming2 pahala dari-Nya dalam bentuk kasih sayangNya, mustinya sudah lebih dari cukup. Karena dengan menggantungkan diri hanya pada Sang Khalik kita tidak akan pernah kecewa. Sementara mengharap bantuan orang lain meski suami sendiri sering kali tidak sesuai harapan. Sebab suami juga harus bekerja dan pulang kerja juga tentu sudah lelah.

Yang juga harus dicatat, selain memberikan kasih sayang dan merawat anak dengan baik, mengingatkan anak akan Tuhannya dengan cara mengajarkan shalat, mengenal huruf-huruf Al-Quran dll adalah juga bagian yang sangat penting, paling penting malah. Guyonan ala mama Dedeh, uztazah yang sedang naik daun, tentang anak yang susah dibangunkan shalat Subuh rasanya sangat mengena.

“ Bayi dari sononye Subuh udah bangun, emak babenya yang ogah bangun, cep cep tidur lagi yee … , jadi ya sale sendiri kalo sekarang Subuh tuh anak suse bangun !”, begitu katanya. J

Nabi saw bersabda, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, lalu bapak ibunya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi. ” (HR.Bukhari Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 14 Januari 2014.

Vien AM.

Sakit dan Sakratul Maut (2).

Hari ini hari ke 25 bapak dirawat di RS, dengan perkembangan kesehatan yang tidak begitu berarti. Tangan dan kaki bapak tetap lemah, belum juga bisa digerakkan. Namun Alhamdulillah, daya ingat, daya pikir dan komunikasi tetap lancar. Meski timbul masalah lain, yaitu punggung yang mulai lecet-lecet karena terlalu lama berbaring di tempat tidur.

Luka seperti ini biasa disebut Decubitus. Padahal kami, putra-puti yang merawatnya, sudah berupaya merubah posisi tidur bapak, ke kanan dan ke kiri, tiap 2 jam sekali. Ini sesuai anjuran suster di RS. Luka ini disebabkan terganggunya sirkulasi darah yang tidak/kurang lancar pada bagian-bagian  tertentu, karena tertindih, tidak bergerak atau berada di suatu posisi yang sama terlalu lama.

Luka lecet biasanya terjadi di punggung sekitar tulang belakang, tulang ekor, paha, siku dan tumit. Dan bila dibiarkan lama kelamaan bisa menjadi infeksi, menjadi busuk dan bernanah ( gangrene), yang tidak hanya merusak jaringan kulit namun juga jaringan syaraf. Bahkan pada penderita Diabetes Melitus, bagian tersebut bisa jadi harus diamputasi !

Fenomena ini mengingatkan saya pada ayat Al-Quran tentang penghuni gua Kahfi, Ashabul Kafhi berikut :

“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka”.(QS. Al-Kahfi(18):18).

Ini adalah kisah tentang beberapa pemuda beriman dan seekor anjingnya, yang ‘ditidurkan’ Tuhannya selama 300 tahun ditambah 9 tahun, di dalam sebuah gua.  Allah swt menidurkan mereka dengan tujuan selain menyelamatkan mereka dari kejaran orang-orang yang memusuhi mereka, juga sebagai tanda untuk menunjukkan kebesaran-Nya.

Tidur selama 309 tahun, bagi orang awam, tentu hal yang amat sangat mustahil.  Namun tidak bagi Sang Khalik, dengan “ Kun Fayakun”, “Jadi, maka jadilah”. Akan tetapi Allah swt, Yang Maha Kuasa ( Al-Maliik), Yang Maha Pintar ( Ar-Rosyiid),  Yang Maha Bijaksana ( Al-Hakiim) tampaknya tidak ingin manusia, sebagai hamba ciptaan-Nya yang paling pandai itu, hanya seperti  robot, yang hanya pasrah, diam, apatis, menanti keputusan-Nya.

Untuk itu diciptakan manusia itu berakal, agar ia dapat berusaha, memikirkan kebesaran Allah, mengagumi betapa hebat dan dasyatnya ilmu Allah. Maka ‘mantera’ “Kun Fayakun”yang maha dasyat itupun disimpan-Nya, digunakan hanya sekali-sekali.dan sebagai gantinya, dibuat dan diperlihatkan-Nya langkah-langkah sains agar manusia dapat ‘mengikuti’ dan “memahami” ilmu-Nya, meski itupun hanya secuil, ibarat setetes air hujan di lautan nan luas.  

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Lukman(31):27).

Ayat 18 surat Al-Kafi diatas hanyalah salah satunya. Ayat tersebut menerangkan bagaimana Allah swt membalik-balikkan badan para pemuda Asbabul-Kahfi, dengan hikmah tertentu. Yaitu agar tubuh mereka tidak kaku, rusak dan terserang Decubitus !   Dan hikmah tersebut baru kita ketahui belakangan ini saja. Padahal Al-Quran telah turun 14 abad lebih yang lampau.

Lebih hebat lagi, ternyata ayat 18 surat Al-Kahfi diatas, tidak hanya berhenti disitu, tidak hanya sekedar  membalik-balikkan posisi tubuh, namun juga membalikkan posisi tubuh kearah datangnya sinar matahari.  Mengapa ?

Saya jadi teringat, Dr mengatakan bahwa bapak kekurangan kalsium, maklum orang yang sudah sepuh atau perempuan yang sudah menopause biasanya memang begitu. Ini yang menyebabkan keroposnya tulang, atau osteoporosis. Itu sebabnya bapak mendapat infus kalsium extra. Namun tambahan tersebut tetap tidak mencukupi. Maka Dr pun memutuskan bahwa bapak perlu ‘dijemur’ agar mendapatkan extra sinar matahari pagi. Ternyata kalsium yang merupakan unsur penting bagi pembentukan dan penguatan tulang dan gigi, tanpa bantuan sinar matahari yang mengandung vitamin D itu, tidak ada artinya.  Subhanallah …

Intinya, kita sebagai manusia tidak boleh pasrah sebelum berusaha keras. Islam mengajarkan, bahwa hasil akhir itu bukanlah tujuan utama. Karena hasil itu sudah ditetapkan oleh-Nya, sebagai takdir.  Demikian pula kematian.

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya)”. (QS. Al-Mukmin(40):67).

Proses atau jalan untuk mendapatkan hasil itulah yang lebih utama. Itulah tawakkal. Simak kisah berikut ini.

Seseorang berkata kepada Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam, “Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?” Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan Al Albani dalam Shohih Jami’ush Shoghir). Dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin Umayah RadhiyAllahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rosululloh!! Apakah aku ikat dahulu unta tungganganku lalu aku berTawakkal kepada Allah, ataukah aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’, Beliau menjawab, ‘Ikatlah untamu lalu bertawakkallah kepada Allah.”

Saat ini kami keluarga besar, sedang dalam proses memikirkan apakah sebaiknya bapak jadi meneruskan rencana operasi sebagaimana yang dianjurkan tim Dokter atau tidak.  Keraguan kembali muncul belakangan ini karena kami melihat kenyataan bahwa kondisi bapak tidak begitu fit untuk segera di operasi. Padahal kami berkejaran dengan waktu, yaitu keburu keringnya syaraf sebagaimana alasan awal tim Dokter lebih 3 minggu yang lalu, mengapa bapak sebaiknya segera di operasi.

Akhirnya sebagian dari kamipun menginginkan agar bapak berobat alternative saja, sebagian berpendapat tetap operasi Dokter dengan second opinion, dan sebagian lain berobat ke Dokter yang memiliki keahlian pengobatan  ke-timur-an, seperti akunpuntur, refleksi dll.

Sementara itu yang cukup mengejutkan, bapak beberapa kali bercerita bahwa bapak merasa sering ada yang suka memijat kaki dan tangan bapak, tanpa bapak bisa melihat siapa yang melakukan hal itu ! Tak urung merinding juga bulu kuduk ini, adakah ini pertolongan Allah yang mengutus pasukan malaikat-Nya sebagaimana Dia pernah mengutus para malaikat membolak-balikkan para pemuda penghuni gua Kahfi? Agar syaraf bapak tidak mengering ??  Semoga saja, Allahuakbar …

Yang juga patut diambil sebagai pelajaran, bapak yang sejak muda selalu hidup disiplin, menjaga kebersihan dan kesehatan, dengan makan tidak berlebihan, cukup olah raga ringan, mengkonsumsi vitamin, tidur tidak terlalu larut dan bangun di waktu subuh dll, tanpa merujuk kepada cara hidup sehat Rasulullah saw mungkin adalah kekurangan beliau.

Madu memang sudah termasuk dalam daftar cara hidup sehat bapak, namun tidak yang lain. Seperti mengkonsumsi Habatussauda (jintan hitam), minyak zaitun atau berbekam secara rutin, misalnya. Mungkin ini saat yang tepat bagi kita untuk mau memulai mempelajari dan mempraktekkan bagaimana Rasulullah saw menjaga kesehatan dan mengatur waktu, termasuk waktu malam yang sarat diisi dengan bermunajat kepada-Nya.

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (QS.Al-Muzzammil(73):1-4).

Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah aku melewati satu dari langit-langit yang ada melainkan para malaikat mengatakan: ‘Hai Muhammad, perintahkan ummatmu untuk berbekam, karena sebaik-baik sarana yang kalian pergunakan untuk berobat adalah bekam, al-kist, dan syuniz semacam tumbuh-tumbuhan’.”

Dari Aisyah R.A bahwasanya ia mendengar Nabi SAW bersabda; ” Sesungguhnya Habbatus Sauda’ ini merupakan obat bagi setiap penyakit, kecuali saam. Aku bertanya, “Apakah saam itu?”. Beliau menjawab, “Kematian.” (HR. Bukhori).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 31 Desember 2013.

Vien AM.