Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Kebab’

( Sambungan dari  Suka Duka Muslim di Perancis (3)).

Berdasarkan perkiraan kasar, dari total penduduk Perancis yang berjumlah sekitar 65 juta jiwa, sebanyak 5 juta atau 8 persen di antaranya adalah Muslim. Data ini tidak akurat karena sejak tahun 1992 negri ini tidak pernah lagi mengadakan angket untuk menghitung jumlah Muslim di negrinya. Kelihatannya mereka tidak berani menerima kenyataan bahwa Islam terus berkembang pesat di Perancis.

Ini terlihat jelas dengan banyaknya majalah yang membahas keberadaan Muslim di negri tersebut. Mulanya saya terkejut sekaligus senang mendapati sejumlah majalah dengan cover tentang Islam. Namun setelah dipelajari ternyata tidak semua berkomentar positif. Sebagian bahkan menganggapnya sebagai ancaman! Muslim di negri produksi parfum terbesar di dunia ini memang tercatat sebagai yang terbesar di Eropa. Di Perancis sendiri agama Islam menempati posisi  ke dua setelah Kristen walaupun bedanya sangat jauh. Meskipun begitu tetap jauh diatas jumlah pemeluk Protestan dan Yahudi.

Mosque de Pau - France

Mosque de Pau - France

Namun demikian jumlah masjid yang ada di seluruh negri ini sangat jauh lebih sedikit dibanding pemeluknya. Begitu pula di Pau. Karena masjid hanya ada 1 maka umat Muslim terpaksa berdesak-desakan ketika harus melaksanakan shalat Jumat. Begitupun ketika shalat Ied. Karena pemerintah tidak memberi izin Muslim untuk melakukan kegiatan di lapangan terbuka sebagaimana yang diperintahkan maka umat terpaksa melaksanakannya di dalam masjid. Bila dilihat dari jumlah orang yang melaksanakan shalat Ied beberapa hari yang lalu, jumlah Muslim di Pau mungkin sekitar 1000-an.

Di dalam sejumlah masjid ini pula dari tahun ke tahun terutama di bulan Ramadhan,  sejumlah warga Perancis bersyahadat. Bahkan tahun ini dikabarkan sekitar 3.000 muslim Perancis merayakan Iedul Fitri dengan berumrah Ramadhan di Mekkah!

Mosque de Tarbes

Mosque de Tarbes

Ada pengalaman yang cukup menarik. Suatu hari di bulan Ramadhan kami pergi ke kota Tarbes, sekitar 1 jam perjalanan dari Pau bila melalui tol. Sebelumnya kami mendapat informasi bahwa di kota tersebut terdapat masjid yang lebih besar dari masjid di Pau. Singkat cerita kami shalat Magrib, Isya dan Tarawih setelah sebelumnya dipaksa pengurus  masjid agar berbuka ( dengan masakan Maroko yang menurut saya cukup lezat …nyamm..)  di  masjid Tarbes tersebut. Namun baru saja kami selesai mengucap salam, tiba-tiba seorang ibu setengah baya menghampiri, menyalami sembari mencium pipi kami berdua. Sebenarnya hal yang biasa saja.

 Yang tidak biasa adalah ketika ia bertanya apakah kami mengenal temannya seorang Indonesia yang menikah dengan seorang polisi Perancis. Nah.pertanyaannya, bagaimana ia  yakin bahwa  kami adalah orang Indonesia !. “ Dari busana yang dipakai anak perempuan kamu. Teman saya juga selalu memakai busana seperti itu ketika shalat “,  jawabnya.  Maksudnya mukena! Oo.. kami berduapun tertawa. Memang tidak ada di dunia ini muslimah yang memakai busana khusus ketika hendak shalat seperti mukena ini kecuali orang Indonesia , pikir saya geli.

 Dari pembicaraan tersebut akhirnya kami tahu ternyata ibu tadi adalah seorang Mualaf . Ia beserta suami, 3 anak perempuan dan 1 anak laki-laki2nya memeluk  Islam sejak beberapa tahun yang lalu. Allahuakbar…Ia menambahkan setiap  Ramadhan di kotanya hampir selalu ada saja orang  Perancis yang bersyahadat. Sekarang ketiga anak gadisnya bahkan mengenakkan jilbab. Saya komentar kepada anak perempuan saya “ Ternyata orang Perancis kalau memakai jilbab jadi mirip orang Arab de ya… cantik sekali ”. Begitu  pula kaum lelakinya, ketika mereka memanjangkan jenggotnya, sulit untuk membedakan bahwa mereka bukan orang  Arab.

 Di dalam bulan suci ini pula, tiba-tiba hampir di seluruh supermarket besar dan kecil di kota-kota Perancis dimana didalamnya terdapat Muslim, bermuncullan counter-counter daging halal. Yang juga mengejutkan di sekelilingnya berdiri pula  rak yang memuat Al-Quran lengkap dengan terjemahnya, hadis dan sejumlah buku tentang Rasulullah Muhammad saw dan  Islam. Dari sini tampak jelas bahwa kebutuhan beragama yang benar tidak mungkin dihambat apalagi dilarang.

 Suatu hari ketika sedang menunaikan shalat di masjid Pau, saya berbincang dengan beberapa remaja muslimah. Dari pembicaraan tersebut saya jadi tahu ternyata mereka menanggalkan jilbab hanya begitu memasuki area sekolah. Selebihnya seperti biasa kemana-mana mereka menutup auratnya dengan baik.…Subhanallah..     

 Cahaya Allah dan pertolongan-Nya makin terlihat benderang. Beberapa waktu lalu dikabarkan bahwa wali kota Creteil, kota yang terletak sebelah Tenggara Paris, setelah 15 tahun dinantikan, akhirnya memberikan izin pendirian masjid di kota tersebut. Creteil adalah kota berpenduduk Muslim terbanyak tidak saja di Perancis namun juga di Eropa , yaitu 20 % dari 88 ribu penduduknya. Maket yang disetujui tersebut dikabarkan bakal memiliki  81 buah menara serta  berdaya tampung 2500 jamaah ! Ini adalah  sebuah “ kebijakan pengecualian “ yang sangat menggembirakan. Hanya atas izin-Nya semua ini bisa terjadi. Allahuakbar …

Namun sebetulnya ini bukan satu-satunya “surprised” . Karena sejak tahun 2003 di Lille, sebuah kota beberapa  km Utara Paris, telah didirikan sebuah sekolah Islam setingkat SMA,  Lycée Averroès. Averroès adalah  nama seorang cendekiawan Arab Andalusia di abad 12, Abdul Walid Ibn Rousyid. Di sekolah ini sekitar 80 muslimah bebas mengenakan jilbab mereka tanpa sedikitpun rasa  khawatir diganggu.

Di Pau sendiri saat ini dapat kita temui sejumlah ‘ Boucherie Musulmane’ alias  toko daging halal dan banyak sekali restoran khusus “Kebab”, daging halal khas Timur Tengah dengan sangat mudah. Namun sungguh disayangkan kedai-kedai ini tetap menyuguhkan minuman keras dalam menu mereka. Tadinya saya pikir mungkin untuk memenuhi permintaan pengunjung. Karena banyak juga bule non Muslim yang menyukai hidangan ini. Selidik punya selidik, ternyata sejak ratusan tahun lalu, yaitu sejak masa Mudejar, Muslim Muallaf Spanyol yang memperkenalkan Islam ke Perancis, telah terbiasa meneruskan tradisi minum minuman keras  sekalipun  telah bersyahadat dan melaksanakan shalat! Sungguh patut disayangkan.

Padahal banyak diantara mualaf yang tertarik pada ajaran Islam justru karena adanya larangan mengkonsumsi minuman keras dan juga karena kewajiban muslimah menutup aurat dengan jilbabnya. Para perempuan mualaf  ini mengaku merasa muak dengan kebiasaan mereka di masa lalu yang suka mengumbar aurat dan nafsu seksual mereka tanpa batas dan aturan. Mereka yakin bahwa jilbab adalah bentuk rasa kasih sayang dan perhatian Sang Khalik terhadap hamba-hamba-Nya…. Alhamdulillah..

( Bersambung)

click here : https://vienmuhadi.com/2009/09/29/suka-duka-muslim-di-perancis-5/

 Wallahu’alam bi shawab.

 Pau – France, 21 September 2009.

Vien AM.

Read Full Post »