Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2009

Dapat kita saksikan betapa dari hari kehari makin  banyak saja manusia di penjuru dunia ini yang menyadari kebenaran ajaran Islam hingga akhrinya mereka kemudian bersyahadat. Subhanallah.. Maha benar  segala firman Allah. Ironisnya sejalan dengan itu justru ada sejumlah umat Islam yang meragukan keorisinilan tidak saja sejumlah hadis namun bahkan seluruh hadis. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah hadis teramat sangat banyak. Hadis-hadis tersebut bermacam-macam tingkatannya, ada yang kuat, lemah bahkan palsu.

“… Allah berfirman: “… Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-’Araf (7): 156-157)..

Yang dimaksud nabi yang ummi yang tertulis di dalam Taurat dan Injil itu adalah nabi Muhammad saw, rasul yang membawa Al-Quranul Karim. Kitab ini mengajak manusia kepada kebaikan, menunjukkan jalan yang benar dalam rangka menuju Tuhan Yang Satu yang menciptakan alam semesta dan segala isinya.

Namun untuk memahami kitab ini tidaklah mudah. Itu sebabnya  Allah swt mengutus rasulullah saw agar menjelaskan dan  mencontohkannya. Dengan demikian sudah semestinya beliaulah yang paling tahu dan memahami apa yang dikehendaki-Nya. Jadi alangkah beruntungnya manusia yang tidak saja hanya mengimani namun juga mau mengikuti dan mencontoh rasulullah  dalam mentaati perintah dan larangan-Nya. Inilah yang lazim dinamakan hadis. Segala sesuatu baik  perbuatan, perkataan maupun sikap yang disandarkan atas rasulullah Muhammad saw.

Sebenarnya penolakan terhadap hadis bukan hal baru. Ini telah diketahui dan disadari oleh para ulama dan pemikir Islam sejak lama. Apalagi ketika diketahui bahwa telah terjadi fitnah berkenaan dengan hadis. Itu sebabnya para ulama sepakat untuk menciptakan ilmu  khusus tentang  hadits. Dengan dasar pertimbangan ayat 6 surat Hujurat yang mengisyaratkan agar kita memeriksa dengan teliti orang fasik yang membawa kabar maka keluarlah buku panduan pertama yang disusun oleh Qadli Abu Muhammad Hasan bin Abdurrahman bin Khalad ar-Ramahumurzi ( wafat 360H).

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS.Al-Hujurat(49):6).

Ilmu ini mempunyai beberapa nama, antara lain Ilmu Mushthalah Hadits, Ilmu Dirayah Hadits, ’Ulum Al-Hadits atau juga Ushul Al-Hadits. Banyak yang dibahas dalam ilmu ini namun yang paling utama adalah mempelajari sejarah hidup atau riwayat perawi. Karena sebagaimana ayat diatas, sifat jujur perawi adalah hal utama yang wajib menjadi bahan pertimbangan sah tidaknya hadis, shoheh tidaknya hadis. Bila sang perawi dikenal suka berbohong oleh lingkungannya dengan sendirinya riwayat yang disampaikannyapun langsung dianggap lemah/mardhu’. Untuk itulah bepergian dari satu tempat ke tempat yang sering kali sangat jauh oleh seorang periwayat seperti yang dilakukan Bukhari, Muslim dll adalah bukan hal yang aneh.

Para periwayat ini pergi dari satu negri ke negri lain untuk mencari tahu berbagai hal mengenai keadaan seorang perawi ( orang yang mengatakan bahwa ia mendengar atau melihat apa yang dikatakan atau dikerjakan Rasulullah Muhammad saw), Diantaranya apakah ia dikenal jujur, tidak suka berbohong, tahun berapa ia lahir dan wafat, dimana ia hidup, kemana dan kepada siapa saja ia berguru, bagaimana hafalannya, apakah ia termasuk orang yang pelupa, bagaimana hubungannya dengan Rasulullah dan para sahabat dan lain sebagainya. Dari berbagai persyaratan inilah pada akhirnya seorang periwayat dapat memastikan kemungkinan shoheh tidak shohehnya suatu hadis.

Dengan kata lain, shoheh atau tidak shohehnya hadits itu bukan berdasarkan masuk atau tidak masuk akalnya berita  namun lebih disebabkan berdasarkan pertimbangan jujur atau tidaknya jujur seorang perawi. Karena pada intinya perawi hanyalah orang yang menyampaikan apa yang dikatakan atau dilihatnya atas apa yang dikatakan atau dikerjakan Rasulullah.

Setelah itu baru hadis dikelompokkan atas beberapa kategori.  Apakah hadis tersebut diceritakan lebih dari 10 perawi atau kurang ( hadis Mutawatir atau hadis Ahad), apakah si perawi atau seluruh perawinya yang ada di setiap tingkatannya adalah orang yang betul-betul jujur dan  tidak bermasalah, apakah si perawi orang yang jujur namun kurang bagus hafalannya dsb.

Dari sinilah baru diputuskan apakah hadis tersebut dapat diterima atau harus ditolak atau malah hadis palsu! Jadi hadis-hadis tersebut tidak dibuang begitu saja. Cara meriwayatkannya sajalah yang harus memenuhi beberapa persyaratan. Hadis dhoif, misalnya, tetap boleh disampaikan selama tidak menyangkut aqidah, keharaman & kehalalan sesuatu serta harus dijelaskan bahwa hadis tersebut dhoif.

Disamping itu untuk menerapkan suatu hadits kita  harus ekstra waspada dan hati-hati. Begitupun untuk memahaminya, bisa secara maknawi bisa pula secara bahasa. Oleh karenanya agar hadits tidak disalah artikan  diperlukan bantuan orang yang benar-benar memahami keadaan ketika Rasulullah mengatakan atau mengerjakan sesuatu tersebut.

Jadi dapat dibayangkan betapa tidak mudahnya menetapkan tingkatan dan jenis suatu hadis. Diperlukan penelitian dan waktu yang tidak sedikit. Hebatnya standar tertinggi yang digunakan adalah sifat amanah! Sesungguhnya ini pula yang menjadi alasan utama mengapa Al-Quran dapat diterma penduduk Mekkah pada awalnya datangnya Islam.

Sang pembawa berita yaitu Rasulullah Muhammad saw adalah warga Mekkah yang dikenal jujur. Itu sebabnya ketika Rasulullah diperintah agar menyampaikanrisalah secara terang-terang, kalimat pertama yan gdiucapkan Rasul adalah : ” Wahai penduduk Mekkah, apakah kalian percaya sekiranya aku katakan bahwa di sebalik bukit ini ada sekumpulan musuh yang akan menyerang kalian?”. Tanpa ragu sedkitpun mereka menjawab spontan :“Sudah pasti kami akan percaya kerana kami belum pernah mendengar kau berkata  dusta !” .

Namun demikian ternyata apa yang pernah dikatakan Rasulullah bahwa umat ini akan  terpecah menjadi sejumlah golongan tidak dapat dihindarkan. Fitnah tetap tumbuh subur hingga detik ini. Bila kita tilik sedikit ke belakang, sebenarnya bibit fitnah dan perpecahan telah mulai terlihat bahkan ketika Rasulullah masih hidup di sekitar para sahabat.

Suatu ketika Rasulullah sedang membagi-bagikan ghonimah ( pampasan perang ). Tiba-tiba seorang diantara yang menyaksikan tindakan Rasul berteriak : ”Hai Rasul, berbuat adillah!” Tentu saja Rasul terperanjat mendengar terikan lancang orang tersebut. Namun dengan menahan kesabaran Rasul segera menjawab: ” Wahai Fulan, celakalah engkau, akulah orang yang paling takut akan murka Allah”. Jawaban tersebut adalah merupakan sebuah isyarat bahwa Rasul tidak akan berani berbuat tidak adil karena hal yang demikian pasti akan memancing kemurkaan-Nya. Namun orang tadi tetap saja melontarkan perkataan yang sama hingga tiga kali. Hingga akhirnya dengan berang Umar Bin Khatab ra yang memang dikenal memiliki temperamen keras berucap  : ” Wahai Rasullullah, biarkan aku penggal  kepala orang ini!”. Namun Rasul segera menjawab bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan.  Rasul bahkan mengingatkan bahwa pada suatu masa nanti akan banyak orang-orang seperti itu, artinya orang yang meragukan tindakan Rasulullah.

Tidak lama setelah Rasulullah wafat, hal tersebut memang terbukti. Golongan Khawarij yang diduga merupakan cikal bakal golongan Muktazillah dan golongan Ingkar Sunah adalah salah satunya.  Golongan Muktazilah adalah golongan yang tidak mau menerima  hadis  selama menurut mereka isi hadis tidak sesuai dengan akal dan ilmu pengetahuan. Sementara golongan Ingkar Sunnah yang baru lahir beberapa ratus tahun belakangan ini malah lebih parah lagi. Mereka menolak mengakui tak satupun hadis! Disamping itu ada pula golongan yang mengklaim diri sebagai golongan pengikut nabi Ibrahim as dengan alasan semua agama ( samawi) pada dasarnya adalah sama, Tauhid, yaitu meng-esakan Tuhan. Golongan ini pada akhirnya tidak mensyariatkan pengikutnya untuk mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah saw. Padahal pada Haji Wada Rasulullah berpesan : ” Aku tinggalkan pada kalian 2 perkara yang dengan itu kalian tidak akan tersesat, yaitu Al-Quran dan sunnahku”.

Hal ini masih ditambah lagi dengan adanya kaum Orientalis. Mereka ini sejak lama telah mempelajari Al-Quran dan hadis. Tujuan mereka satu, yaitu memecah belah umat Islam!. Mereka tahu betul bahwa telah terjadi perbedaan pendapat diantara umat. Mereka juga tahu bahwa hadis ada tingkatannya. Celah inilah yang mereka manfaatkan. Hadis lemah dan palsu yang menurut ilmu hadis harus dicantumkan bahwa ia hadis lemah mereka sebarkan tanpa keterangan apapun. Tidak cukup itu saja, bahkan hadis mutawatir dan hadis shohehpun mereka bahas isinya dan diadu dengan  akal dan pemikiran sains dan ilmu pengetahuan sehingga hadis terlihat tidak relevan dan tidak masuk akal. Maka jadilah orang yang cenderung selalu mengedepankan akal dan pikiran namun imannya kurang teguh lebih mempercayai pendapat dan pemikiran para Orientalis tersebut daripada pemikir-pemikir Muslim seperti Bukhari, Muslim dkk yang sejak lama telah diakui dan dijadikan standard pemikiran Islam di luar Al-Quran sejak ratusan tahun yang lalu. Ini yang disebut Perang Pemikiran atau Gazwl Fikri.

Sebagai contohnya adalah hadist mengenai kepergian dan perintah Rasulullah ke Sidratul Muntaha. Hadist ini adalah jelas hadist shoheh. Namun hingga kini ada sebagian umat yang meragukan keshohehan hadist tersebut karena dianggap tidak masuk akal. Sebagian  bersikukuh bahwa Allah swt sebagai Sang Pencipta mengapa harus mengadakan tawar menawar ketika memerintahkan shalat yang dalam hadist diceritakan bahwa awalnya adalah 50 kali sehari semalam. Mengapa tidak langsung 5 kali saja! Begitu pula dengan sejumlah hadits yang berkenaan dengan masalah keperempuanan. Isu yang amat rawan dan peka ini tidak luput dari sasaran empuk para orientalis dan sejumlah orang yang kurang teguh keimanannya.

Padahal bila kita berpikir lebih mendalam, justru hadis tersebut memberi hikmah bahwa Allah swt mengajarkan perlunya usaha manusia dalam mencari hidayah. Manusia diberi kesempatan dan keleluasaan untuk berpikir sebagaimana Allah melimpahkan ayat-ayat-Nya yang tersebar di muka bumi ini. Allah memberikan kunci dan tanda kekuasaan-Nya untuk dipelajari. Walaupun sesungguhnya Allah bisa berbuat sekehendak-Nya tanpa harus menggunakan aturan. Namun yang demikian tidak dilakukan-Nya. Allah berkehendak agar para hamba-Nya mau menggunakan pikirannya  sehingga manusia lebih dapat memahami ke-Cerdas-an-Nya lalu lebih banyak bersyukur. Disamping itu, Allah juga ingin memberitahukan bahwa karena kasih sayang-Nya jualah, shalat yang ’hanya’ 5 waktu itu setara dengan shalat 50 kali sehari yang dilakukan umat nabi Musa as.

Cara yang dipergunakan untuk memprovokasi agar umat mau mempertanyakan berbagai masalah baik Al-Quran dan hadits beragam. Dari yang halus, samar dan terselubung hingga yang vulgar, kasar dan terus terang. Buku-buku fiksi, tontonan seperti film dan video adalah contoh yang nyata ada di depan kita. Secara halus  dan tidak terasa pemikiran kita digiring dan diarahkan agar mau mempertanyakan kebenaran hadis sekalipun hadis tersebut shoheh bahkan juga ayat Al-Quranpun bisa dipertanyakan! Dengan cara mengaduk-ngaduk emosi kemanusiaan, keadilan dan atas nama hak azazi manusia tampaknya usaha ini berhasil dengan baik. Kita dibuat lupa dan terbuai tentang arti sebuah kebenaran sejati. Kita berhasil tertipu dan terpedaya akan standard yang dipergunakan. Bagi sebagian orang standard yang dilihat dari kacamata sesama manusia berhasil menyingkirkan standard kebenaran Sang Pencipta alam semesta. Sungguh ironis!

Itulah yang terjadi. Usaha menghilangkan syariat Muhammad saw sebagai pembawa risalah terakhir melalui kitab sucinya Al-Quranul Karim akan terus terjadi akibat ditolak sendiri oleh umatnya dengan berbagai alasan. Namun demikian kebesaran Allah dan kebenaran ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad saw serta kemuliaan Rasulnya tidak akan pernah berkurang sedikitpun walaupun seluruh manusia di muka bumi ini mengkhianatinya. Semoga kita bukan ternasuk orang yang dilaknati-Nya, amin.

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, 28/6/2009.

Vien AM.

Sumber : Ilmu Hadits Praktis oleh DR. Mahmud Thahan.

Read Full Post »

Peristiwa yang memilukan dan nyaris menampar wajah umat islam ini terjadi pada tahun 1164 M atau 557 H, sebagaimana telah dicatat oleh sejarawan Ali Hafidz dalam kitab Fusul min Tarikhi AL-Madinah Al Munawaroh. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa hampir dapat dipastikan bahwa sebagian besar orang yang berziarah ke masjid Nabawi pasti tak pernah lupa untuk menghampiri makam Rasulullah yang diapit oleh makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Mereka berbondong-bondong menuju makam sang nabi Fenomenal itu. Untuk sekedar melihat atau berdoa.

Peristiwa ini dilatar belakangi oleh kondisi umat islam pada masa dinasti Abbasiyah di Baghdad dimana kondisi umat Islam yang semakin melemah dan berdiri beberapa kerajaan Islam di beberapa daerah. Tentunya hal ini tak di sia-siakan begitu saja oleh orang-orang nasrani yang merasa kesempatan emas mencoreng wajah umat Islam dan membuat umat Islam jatuh ada di depan mata. Karena ternyata diketahui diam-diam mereka telah menyusun rencana untuk mencuri jasad Nabi Muhammad. Setelah terjadi kesepakatan oleh para penguasa Eropa, mereka pun mengutus dua orang nasrani untuk menjalankan misi keji itu.

Misi itu mereka laksanakan bertepatan dengan musim haji. Dimana pada musim itu banyak jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah haji. Kedua orang nasrani ini menyamar sebagai jamaah haji dari Andalusia yang memakai pakaian khas Maroko. Kedua spionase itu ditugaskan melakukan pengintaian awal kemungkinan untuk mencari kesempatan mencuri jasad Nabi SAW. Setelah melakukan kajian lapangan, keduanya memberanikan diri untuk menyewa sebuah penginapan yang lokasinya dekat dengan makam Rasulullah. Mereka membuat lubang dari dalam kamarnya menuju makam Rasulullah.

Belum sampai pada akhir penggalian, rencara tersebut telah digagalkan oleh Allah melalui seorang hamba yang akhirnya mengetahui rencana busuk itu. Sultan Nuruddin Mahmud bin Zanki, adalah seorang hamba sekaligus penguasa Islam kala itu yang mendapatkan petunjuk melalui mimpi akan ancaman terhadap makam Rasulullah.

Sultan mengaku bermimpi bertemu dengan Rasulullah sambil menunjuk dua orang lelaki berambut pirang dan berujar: “ Wahai Mahmud, selamatkan jasadku dari maksud jahat kedua orang ini.” Sultan terbangun dalam keadaan gelisah lalu beliau melaksanakan sholat malam dan kembali tidur. Namun, Sultan Mahmud kembali bermimpi berjumpa Rasulullah hingga tiga kali dalam semalam.

Malam itu juga Sultan segera mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan dari Damaskus ke Madinah yang memakan waktu 16 hari, dengan mengendarai kuda bersama 20 pengawal serta banyak sekali harta yang diangkut oleh puluhan kuda. Sesampainya di Madinah, sultan langsung menuju Masjid Nabawi untuk melakukan sholat di Raudhah dan berziarah ke makam Nabi SAW. Sultan bertafakur dan termenung dalam waktu yang cukup lama di depan makam Nabi SAW.

Lalu menteri Jamaluddin menanyakan sesuatu, “Apakah Baginda Sultan mengenal wajah kedua lelaki itu? “Iya”, jawab Sultan Mahmud. Maka tidak lama kemudian menteri Jamaludin mengumpulkan seluruh penduduk Madinah dan membagikan hadiah berupa bahan makanan sambil mencermati wajah orang yang ada dalam mimpinya. Namun sultan tidak mendapati orang yang ada di dalam mimpi itu diantara penduduk Madinah yang datang mengambil jatah makanan. Lalu menteri Jamaluddin menanyakan kepada penduduk yang masih ada di sekitar Masjid Nabawi. “Apakah diantara kalian masih ada yang belum mendapat hadiah dari Sultan?”

Tidak ada, seluruh penduduk Madinah telah mendapat hadiah dari Sultan, kecuali dua orang dari Maroko tersebut yang belum mengambil jatah sedikitpun. ” Keduanya orang saleh yang selalu berjamaah di Masjid Nabawi.” ujar seorang penduduk.

Kemudian Sultan memerintahkan agar kedua orang itu dipanggil. Dan alangkah terkejutnya sultan, melihat bahwa kedua orang itu adalah yang ia lihat dalam mimpinya. Setelah ditanya, mereka mengaku sebagai jamaah dari Andalusia Spanyol. Meski sultan sudah mendesak bertanya tentang kegiatan mereka di Madinah. Mereka tetap tidak mau mengaku. Sehingga sultan meninggalkan kedua lelaki itu dalam keadaan penjagaan yang ketat.

Kemudian sultan bersama menteri dan pengawalnya pergi menuju ke penginapan kedua orang tersebut. Sesampainya di rumah itu yang di temuinya adalah tumpukan harta, sejumlah buku dalam rak dan dua buah mushaf al-Qur’an. Lalu sultan berkeliling ke kamar sebelah. Saat itu Allah memberikan ilham, sultan Mahmud tiba-tiba berinisiatif membuka tikar yang menghampar di lantai kamar tersebut. Masya Allah, Subhanallah, ditemukan sebuah papan yang di dalamnya menganga sebuah lorong panjang, dan setelah diikuti ternyata lorong itu menuju ke makam Nabi Muhammad.

Seketika itu juga, sultan segera menghampiri kedua lelaki berambut pirang tersebut dan memukulnya dengan keras. Setelah bukti ditemukan, mereka mengaku diutus oleh raja Nasrani di Eropa untuk mencuri jasad Nabi SAW. Pada pagi harinya, keduanya dijatuhi hukum penggal di dekat pintu timur makam Nabi SAW. Kemudian sultan Mahmud memerintahkan penggalian parit di sekitar makam Rasulullah dan mengisinya dengan timah. Setelah pembangunan selesai, sultan Mahmud dan rombongan pulang ke negeri Syam untuk kembali memimpin kerajaannya.

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Juni 2009.

Vien AM.

Sumber : http://indonesiabreakingnewsonline.blogspot.com/2008/07/pencurian-jasad-nabi-muhammad-saw.html

Read Full Post »

Manusia adalah mahluk yang paling pandai diantara semua mahluk yang pernah ada di bumi ini. Dengan akalnya ia berusaha agar kehidupannya menjadi aman, tenang, mudah dan menyenangkan. Berbeda dengan mahluk lain yang cenderung hanya mengandalkan apa yang ada  dan tersedia di muka bumi ini tanpa harus mengolahnya terlebih dahulu, maka manusia justru sebaliknya. Ia selalu ingin dan berusaha agar apa yang ada diolahnya sehingga dapat memberikan hasil yang lebih optimal dan lebih berkwalitas. Dengan ambisinya ini manusia selalu ingin maju dan tidak pernah merasa puas atas segala apa yang telah diperolehnya. Dan dengan ambisinya ini pulalah manusia berhasil memanfaatkan kekuatan alam. Disamping itu, manusia juga mempunyai rasa keingin-tahuan yang sangat tinggi. Dengan menggunakan akalnya ia cenderung gemar memikirkan keadaan diri dan keadaan sekitarnya. Mengapa ia ada dan hidup di dunia ini, mengapa  manusia harus mati, kemana dan bagaimana  pula setelah terjadinya kematian, akankah semuanya berakhir begitu saja. Bila demikian apakah apa yang telah diusahakannya selama ia hidup menjadi sia-sia dan tidak memberikan manfaat? Bagaimana pula dengan kehidupan mahluk lain dan juga alam semesta ini, apakah ia terjadi dengan sendirinya ataukah ada kekuasaan yang menciptakan semua ini?

 Selain itu, manusia juga sering bertanya-tanya mengapa tidak semua yang diusahakannya dapat memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkannya. Berdasarkan pengalamannya, ia menyadari bahwa akal dan kepandaian bukanlah segalanya. Emosi atau keadaan hati juga dapat memberikan  pengaruh yang tidak sedikit bagi berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan atau usaha. Meskipun begitu ia tetap  dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak dapat diterima hanya melalui akal saja walaupun emosi seseorang sedang dalam keadaan prima. Ia dapat merasakan ada ‘kekuatan lain’ yang berkuasa atas dirinya yang tidak sanggup dan tidak mungkin dilawannya.

 Dari sinilah kemudian tampak bahwa sesungguhnya disamping akal, manusia juga mempunyai hati /qolbu. Dan hanya dengan qolbunya inilah ia dapat melihat ‘kekuatan lain’ tersebut. Itulah mata hati. Sebagaimana akal yang dapat diasah dan dipertajam, demikian pula hati . Jadi untuk membentuk manusia yang berkualitas, tidaklah cukup dengan hanya mengandalkan intelektual semata tetapi juga harus didukung oleh suatu kecerdasan emosi.

Dari Abu Bakar RA, Rasulullah bersabda :  “Janganlah seseorang diantara kalian menentukan suatu hukum pada kedua pihak yang sedang berselisih dalam keadaan marah”.  Dari Abu Darda RA : “Kecintaanmu terhadap sesuatu dapat menyebabkan kamu buta dan tuli”.

Namun kecerdasan emosi tersebut harus pula didasari oleh kesadaran akan kebenaran sejati yang didorong oleh kekuatan dan  kesadaran untuk merasakan, mendengar dan melihat ‘kekuatan lain’ yang tersembunyi, kekuatan  yang paling berhak menentukan berhasil tidaknya usaha seseorang. Faktor inilah yang disebut SQ (Spiritual Qotien) atau kecerdasan spiritual. Dengan adanya keseimbangan antara ketiga faktor diatas inilah  akan terbentuk suatu pribadi yang tegar, pribadi yang memiliki pandangan yang tidak sempit yang tidak hanya tertuju kepada kepuasan duniawi namun juga memiliki dimensi keakhiratan yang penuh ketakwaan, yang pandai bersyukur dan sabar menghadapi segala tantangan. Sikap inilah  yang nantinya akan melahirkan sikap pantang berputus asa. 

Berdasarkan hasil survey di AS pada tahun 1918 tentang IQ(Intellectual Qotien), ternyata ditemukan semakin tinggi IQ seseorang  semakin  menurun kecerdasan emosi atau  EQ  (Emotional Qotien). Beberapa puluh tahun terakhir ini, banyak ditemukan kasus depresi di kalangan yang notabene berpendidikan tinggi yang semakin tahun semakin memarah hingga mengakibatkan kasus bunuh diri. Mereka pada umumnya adalah orang-orang yang memiliki IQ relatif tinggi namun memiliki masalah sosial, diantaranya tersumbatnya komunikasi baik dilingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Mereka ini rupanya hanya disibukkan terhadap pengasahan terhadap IQ melulu hingga melupakan pentingnya peran EQ sehingga tidak sanggup menata emosi dan mengatasinya.

Ironisnya, orang-orang seperti ini tidak hanya membahayakan dirinya sendiri namun juga membahayakan diri banyak orang, seperti peristiwa yang baru saja terjadi pada bulan April 2007 di Amerika Serikat dimana seorang mahasiswa menembaki puluhan rekan mahasiswa dan dosen universitas dimana ia kuliah sebelum akhirnya ia menembak dirinya sendiri.Tidak dapat dipungkiri, setinggi apapun pendidikan  seseorang, kemungkinan suatu kegagalan selalu ada. Terdapat suatu faktor ‘x’ atau ‘luck’ yang tidak dapat diikuti oleh akal manusia. Disinilah berperan faktor spiritual. Hanya faktor inilah sebenarnya yang dapat mengatasi kekecewaan seseorang. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju seperti AS, Jepang dan Eropa Barat tetapi juga di negara-negara berkembang. 

Namun sebaliknya kenyataan lainpun berbicara bahwa ternyata kasus depresi ini lebih disebabkan akibat tidak matangnya kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. Hal ini tercermin dari bervariasinya korban depresi, mulai dari kalangan bawah sampai kalangan tinggi, mulai dari yang memiliki IQ rendah sampai yang memiliki IQ tinggi, dari yang tidak memiliki pendidikan hingga yang berpendidikan tinggi. Dari sini tampak nyata bahwa  ketidak-seimbangan antara IQ, EQ dan SQ dapat berakibat fatal.

          “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman”. (QS Az Zumar(39):52).

Tokoh Pendidik Barat sekaligus Ilmuwan dan pengarang buku kenamaan, Danah Zahar maupun Ian Marshall misalnya yang memiliki minat yang tinggi terhadap masalah SQ, dalam karya ilmiahnya menyatakan adanya ‘God Spot’ atau apa yang biasa disebut suara hati atau mata hati pada otak manusia. Berdasarkan penelitian mereka ‘God Spot’ ini terletak diantara jaringan syaraf otak yang berfungsi sebagai pusat spiritual manusia. Pada ‘God Spot’ inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam. Namun sayangnya temuan mereka ini baru sebatas pada apa yang nyata ada pada otak manusia. Sesuatu yang menunjukkan akan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang berfungsi menyimpan dan mempersatukan segala pengalaman hidup manusia dan sekaligus memberinya makna. Tetapi belum sampai pada tingkat ke-Ilahian. Jalaludin Rumi seorang tokoh  sufi besar Islam, mengatakan : ”Matahati punya kemampuan 70x lebih besar untuk melihat daripada dua indra penglihatan.”

Saat ini, dimana isu ‘Global Warming’ atau Pemanasan Global telah menjadi topik pembicaraan yang  hangat, maka tampaknya sudah tiba saat yang tidak mungkin lagi dipungkiri bahwa dunia dan segala isinya harus menyerah pada ‘kekuatan ghaib’.  Bahkan dengan ilmu yang demikian canggih, penemuan demi penemuan terus berlanjut,  kekuatan  nuklir yang terus dikembangkan namun dalam kenyataannya tidak seorangpun saat ini dapat mengantisipasi apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Tampaknya bumi sedang menuju kehancurannya. Perubahan musim yang tidak beraturan, peningkatan  suhu udara dan berbagai perkiraan menakutkan seperti mencairnya gugusan salju di berbagai belahan  dunia, merupakan petunjuk akan hal tersebut. Bencana demi bencana yang terus bersusulan seolah enggan untuk berhenti menyapa. Maka siapakah sesungguhnya Sang “Kekuatan Ghaib “ tersebut ?

 “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran,penglihatan dan hati.Amat sedikitlah kamu bersyukur.Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang-biakkan kamu di bumi ini dan kepadaNyalah kamu akan dihimpun.Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan Dialah yang(mengatur) pertukaran malam dan siang.Maka apakah kamu tidak memahaminya?”.(QS Al Mu’minun (23) :78-80)

Manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, suatu zat yang mustahil sama dengan ciptaannya. Pada umumnya semua manusia menyadari bahwa ia hidup di dunia ini pada suatu waktu yang amat terbatas. Pada saatnya nanti setiap diri akan kembali dan harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dikerjakannya selama hidup di dunia. Ketika manusia menyadari akan kenyataan ini, ia akan lebih tenang sekaligus waspada karena ia mengetahui dengan pasti apa tujuan hidupnya. Ia akan mempersiapkan dirinya dengan mencari bekal di dunia berdasarkan tuntunan-Nya dengan mengharap ridho Allah SWT.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.  (QS.Al-Qashas(28:77).    

Apabila telah ditunaikan sembahyang,maka bertebaranlah kamu dimuka bumi;dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Al Jumu’ah 62):10).

Dengan demikian, manusia yang menyadari akan hakekat hidupnya sebagai makhluk Allah, cara berpikirnya tidaklah hanya  semata mengejar kebahagiaan dunia, kepuasan material, kepuasan yang hanya sesaat. Dengan bimbingan hati nurani atau ‘God Spot’ manusia akan berhasil menjadi seorang khalifah sesuai dengan fitrahnya. Karena sesungguhnya dengan meningkatnya kecerdasan spiritual maka kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektualnyapun akan makin meningkat. Karena Al-Quran memang mengajarkan keseimbangan  diantara ketiga kecerdasan tersebut.

“Bacalah dengan (menyebut)nama Tuhanmu Yang menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,Yang mengajar(manusia) dengan perantaraan kalam.Dia mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(QS Al ‘Alaq(96):1-5) .  

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….”.(QS.Al-Mujadillah(58):11).

 Wallahu’alam bishawab.

 Jakarta, 15/4/2007

Vien AM

Dari :  Prolog “Perjalanan Sang Khalifah 1 ” oleh Sylvia Nurhadi.

Referensi :

– Kecerdasan Emosi dan Spiritual oleh Ary Ginanjar Agustian.

– Jiwa Manusia dalam sorotan Al-Quran  oleh  DR.Muhammad ‘Utsman Najati.

Read Full Post »

Oleh : Chusnul Bakhriansyah

Dalam pengertiannya, Bank adalah sebuah lembaga yang memiliki tiga fungsi utama, yaitu sebagai tempat menyimpan uang, tempat meminjam uang, dan tempat pelayanan jasa keuangan. Sedangkan, Bank Syariah adalah sebuah lembaga yang memiliki tiga peran tersebut akan tetapi mengindahkan aturan-aturan dan hukum-hukum Allah yang diberlakukan untuk manusia. Jadi, jika kita melihat secara teknis tidak terlalu berbeda antara bank konvensional dengan bank syariah. Akan tetapi, jika kita melihat lebih dalam lagi mengenai bank syariah akan terlihat jelas bahwa terdapat perbedaan yang mendasar yang membuat bank syariah memberikan dampak yang lebih baik bagi umat Islam pada khususnya dan seluruh alam pada umumnya.

Yang pertama marilah kita mengkaji tentang perbedaan struktur organisasi antara bank konvensional dengan bank syariah. Bank adalah sebuah organisasi yang berorientasikan profit, tidak terkecuali bank syariah. Dalam struktur organisasi bank konvensional, terdapat rapat umum pemegang saham sebagai keputusan tertinggi, dewan komisaris, dewan direksi, dan para pegawai. Dalam struktur ini, segala kegiatan operasional yang dilakukan oleh dewan direksi diawasi oleh dewan komisaris sebagai perwakilan dari para pemegang saham. Jadi, pengawasan kegiatan operasional bank diawasi hanya oleh dewan direksi. Tidak terlalu berbeda dengan bank konventional, struktur organisasi bank syariah juga memuat hal diatas. Akan tetapi, yang harus digaris bawahi disini selain memuat hal yang sama dengan bank konventioal, bank syariah memiliki dewan pengawas syariah, yang kedudukannya sejajar dengan dewan komisaris. Jadi, pengawasan kegiatan operasional perusahaan menjadi lebih baik karena pengawasan dilakukan oleh dua pengawas. Seperti kata pepatah dua lebih baik daripada satu.

Sekarang, mari kita membahas perbedaan dalam segi pembiayaan. Seperti yang kita ketahui semua, mengajukan permintaan pembiayaan pada bank konvensional sangat mudah pada era sekarang ini. Kita hanya tinggal mengajukan pinjaman, lalu menyelesaikan syarat-syarat yang diharuskan. Lalu, bagaimana dengan bank syariah? Pada bank syariah, syarat-syarat yang ditetapkan hampir sama dengan yang dimiliki oleh bank konvensional. Akan tetapi, bank syariah lebih unggul dalam satu hal. Bank syariah tidak akan pernah mengucurkan dana pinjamannya kepada bisnis yang dapat membawa kemaslahatan seperti bisnis kasino, pembuatan bir, rokok, dan lainnya. Jadi, sekali lagi bank syariah sudah selangkah lebih maju karena harta yang kita simpan tidak disalurkan untuk hal maksiat dan negara akan semakin maju karena pembiayaan yang diberikan akan digunakan untuk hal yang membangun bukan menghancurkan moral bangsa.

Lalu, bagaimana dengan return yang diterima dari investasi yang telah dilakukan pada bank syariah? Pada bank syariah, return yang akan diterima adalah bagi hasil (profit sharing) dari keuntungan yang didapatkan bank. Maksudnya adalah keuntungan yang didapatkan oleh bank melalui investasi yang mereka lakukan menggunakan dana yang terdapat pada bank tersebut dibagi kepada nasabahnya sesuai dengan jumlah investasi mereka pada bank tersebut dan kesepakatan awal persentase pembagian keuntungan. Berbeda dengan system return yang diberikan oleh bank konvensional yaitu dengan memberikan bunga. Perbedaan ini seperti terlihat bahwa nasabah akan rugi jika menyimpan pada bank syariah dibandingkan jika menyimpan uangnya pada bank konvensional disebabkan return yang pasti dari bank konvensional. Akan tetapi, jika kita menilik lebih jauh lagi, sebenarnya sistem yang digunakan pada bank syariah memberikan pengetahuan kepada kita mengenai bagaimana sebenarnya kondisi bank tempat menyimpan uang. Mengapa? Karena dengan pengembalian yang semakin besar menunjukkan bahwa semakin baik kinerja bank tersebut dan semakin kecil pengembalian membuat kita dapat berhati-hati karena kita mengetahui bahwa kinerja bank tersebut menurun, sehingga itu dapat membuat kita untuk berjaga-jaga mengenai uang yang berada di bank tersebut. Sedangkan, nasabah tidak akan pernah mengetahui lebih dahulu bagaimana kinerja bank tersebut, karena return yang diterima selalu konstan. Ini membuat para nasabah tidak bisa berjaga-jaga mengenai keselamatan uang yang mereka simpan di bank konvensional. Ini membuktikan bahwa bank syariah lebih transparan mengenai performa kegiatan operasionalnya kepada nasabah dinadingkan dengan bank konvensional yang membuat nasabah dapat berhati-hati lebih awal. Inilah salah satu penyebab mengapa pada tahun 1998, bank syariah tidak termasuk bank yang dilikuidasi dan tetap bertahan sampai sekarang.

Yang terakhir setelah kita mengetahui sistem return yang diberikan, marilah kita mencoba menghitung besarnya pengembalian dari bank syariah dan bank konvensional. Karena pada bank kovensional tolok ukur pengembalian melalui bunga, maka yang menjadi perhatian kita adalah berapa persentase bunga yang diberikan oleh bank dan jumlah uang yang disimpan. Sedangkan, pada bank syariah karena yang menjadi tolok ukur pengembalian adalah bagi hasil, maka yang menjadi perhatian adalah persentase pembagian bagi hasil, jumlah uang yang disimpan, jumlah uang yang diinvestasikan oleh bank, dan jumlah keuntungan yang diterima oleh bank.

 

 

Bank Syariah

Bank Konvensional

Jumlah uang yang didepositkan

Rp. 20.000.000,00

Rp. 20.000.000,00

Bunga bank konvensional

 

6%

Bagi hasil

55% nasabah; 45% bank

 

Jumlah uang yang diinvestasikan oleh bank

Rp. 2 Miliar

 

Jumlah keuntungan yang diterima bank

Rp. 250.000.000,00

 

Perhitungan

55% x 20.000.000/2.000.000.000 x 250.000.000

6% x 20.000.000

Hasil

Rp. 1.375.000,00

Rp. 1.200.000,00

 Disini terlihat bahwa semakin baik kinerja bank syariah maka akan semakin besar jumlah bagi hasil yang akan diterima oleh nasabah.

Jadi, mengapa harus memilih bank syariah? Sekarang seharusnya kita semakin melirik bank syariah karena lebih memiliki pengawasan yang ketat, pembiayaannya hanya kepada bisnis yang membangun moral bangsa, dan sistem return yang dapat menjadi early warning bagi para nasabah.

Sumber: Modul Kajian Ekonomi Islam FSI FEUI

 http://mifsifeui.wordpress.com/2008/06/29/mengapa-harus-bank-syariah/

Read Full Post »

Menjelang masa kampanye pilpres dan capres yang akan dimulai awal Juni ini, isu ekonomi kerakyatan tiba-tiba menjadi hal yang krusial. Masing-masing pasangan sibuk meyakinkan rakyat bahwa mereka adalah pengusung panji ekonomi yang berpihak kepada rakyat kecil dan ditanggung bakal berhasil mengeluarkan rakyat dari keterpurukan mereka. Tentu saja ini iming-iming yang amat mengena di hati rakyat negri yang memang mayoritasnya hidup dibawah garis kemiskinan.

Meski demikian sebenarnya belum ada satupun pihak pasangan yang secara ideal mampu mendifinisikan apa yang dimaksud dengan ekonomi kerakyatan ini. Mereka baru bisa memberikan janji bahwa mereka akan memberikan perhatian dan pembelaan terhadap kepentingan ekonomi rakyat banyak terutama rakyat kelas menengah kebawah. Contohnya yaitu pemberian akses permodalan kepada UKM serta subsidi untuk petani dan nelayan miskin.

Contoh diatas kelihatannya memang menarik. Namun bagaimana dengan kenyataannya? Adakah bukti atau contoh bahwa jalan tersebut mampu membuat rakyat keluar dari kemiskinan? Karena harus diakui bukti inilah yang ditunggu masyarakat.

Grameen Bank adalah sebuah bank di Bangladesh yang bisnis utamanya memberikan kredit mikro kepada masyarakat sehingga membuka kesempatan  pada kelompok miskin untk mengakses sumber permodalan. Namun ternyata terobosan yang sangat menjanjikan ini tidak dapat berjalan mulus. Mengapa? Tetapi mengapa pula Bangladesh yang dijadikan contoh bukannya negara-negara Barat misalnya?

Jawabannya karena Bangladesh lebih mendekati kondisi negri kita sementara negara-negara Barat telah maju dan mapan. Meski kita juga tahu bahwa hingga kinipun bahkan negri semaju Amerika Serikat belum sepenuhnya mampu keluar dari krisis ekonomi yang melanda mereka akibat kredit perumahan yang macet beberapa waktu yang lalu.

Menurut Akhyar Adnan ( 2007) dan MA Mannan ( 2007) penyebabnya adalah adanya bunga bank. Faktor ini yang menyebabkan nasabah bukan saja tidak dapat menikmati hasil pinjaman namun malah terpaksa menjual asetnya demi melunasi hutang yang sebetulnya awalnya tidak seberapa besar.  Fakta ini menunjukkan bahwa semangat pro rakyat miskin saja tidaklah cukup bila tidak diimbangi dengan penggunaan instrumen yang tepat dan effektif.

Indonesia adalah negri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Ajaran Islam telah jelas-jelas melarang umatnya mengambil kelebihan pinjaman atau bunga bank. Al-Quran menyebut dengan riba.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. ( QS. Al-Baqarah(2): 275)

Banyak hikmah yang dapat diambil dengan dilarangnya riba selain dengan terbukti gagalnya mengangkat kemakmuran  rakyat miskin seperti contoh diatas. Riba menyebabkan uang dan kekayaan hanya berputar di kalangan tertentu saja.  Berdasarkan penelitian, dilaporkan bahwa total belanja masyarakat untuk kosmetika, es krim dan makanan hewan peliharaan seperti kucing dan anjing di Eropa dan AS masih jauh lebih besar dari pengeluaran untuk pendidikan, kesehatan dan sanitasi air di negara berkembang, seperti Indonesia ini!

Ayat diatas juga menjelaskan bahwa riba menyebabkan orang yang memakannya seperti orang  yang kemasukan syaitan dan berprilaku seperti orang gila. Tanda-tanda orang gila adalah lemah, tidak berdaya dan tidak stabil. Ini yang akan terjadi pada negri yang ekonominya jauh dari nilai-nilai-Nya. Diantaranya tergantung pada bantuan negri lain hingga akibatnya mudah didikte dan dijajah minimal secara pemikiran.

Karenanya tidak ada lagi alasan mengapa Indonesia harus tidak menerapkan Ekonomi Syariah. Sistim ini sama sekali tidak membuat susah non muslim. Bahkan Allah swt menjanjikan kemaslahatan dan manfaat bagi semua rakyat baik muslim maupun non muslim bila sistim ini diterapkan dengan baik.

Menjadi tantangan besar, adakah pasangan capres dan cawapres yang berani menjadikan Ekonomi Ssyariah sebagai dasar kebijakan ekonomi negara?

Wallahu a’lam bi shawab.

Jakarta, 4 Juni 2009.

Vien AM.

Disarikan dari Republika, 31 Mei 2009 kolom Refleksi ” Membela Ekonomi Rakyat ” oleh Prof Dr KH Didin Hafidhuddin

Read Full Post »