Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2011

Pada masa Rasulullah saw perang dibagi atas 2 jenis perang, yaitu Ghazwah dan Sariyah. Ghazwah adalah perang yang dipimpin langsung oleh Nabi saw sedangkan Sariyah adalah perang yang dipimpin oleh sahabat atas penunjukan Nabi saw.

Para ulama sirah menyepakati bahwa Sariyah dimulai pada tahun 7 H. Namun dlam shahihnya, Imam Bukhari menuturkan bahwa Sariyah baru dimulai pada tahun 9 H yaitu setelah di tanda-tanganinya Perjanjian Hudaibiyah pada bulan Dzulqa’idah tahun ke 6 H. Pengiriman pasukan kecil ke berbagai daerah sekitar Jazirah Arab dan dipimpin para sahabat ini bertujuan tidak lain hanya mengajak kepada Islam. Perang baru dilakukan bila mereka menolak.

Dengan kata lain, perang hanya boleh diterapkan setelah suatu masyarakat telah diberi kesempatan untuk mengenal ajaran Islam namun kemudian tetap menolak. Jadi perang dalam Islam bukan demi memuaskan nafsu keduniawian untuk memperoleh kemenangan apalagi kebesaran. Baik itu kebesaran perorangan maupun kelompok. Melainkan demi menegakkan hukum dan kehendak Allah swt sebagai pemilik alam semesta ini. Karena kebesaran itu hanya milik Sang Khalik, Al Malikul Kuddus, Allah Azza wa Jalla.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. …”.(QS.Al-Baqarah(2:30).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(QS.Adz-Dzariyat(51):56).

Itulah tujuan Allah swt menciptakan manusia di muka bumi ini. Manusia diberi hak untuk menggunakan dan mengolah apapun yang ada di bumi ini namun harus mempertanggung-jawabkannya. Kepada siapa ? Tentu saja kepada Sang Pemilik ! Jadi takut, tunduk dan patuh itu hanya kepada-Nya bukan kepada sesama manusia apapun bangsa, warna dan rasnya.

Perang seperti ini bukan hanya dikenal pada era Rasulullah. Namun juga seluruh utusan-Nya termasuk nabi Sulaiman as, nabi Allah sekaligus raja Yahudi yang memerintah pada tahun 970 SM. Al-Quran menceritakan bagaimana nabi ini menaklukkan kerajaan ratu Bilqis di Afrika yang  menjadikan matahari sebagai sesembahan disamping Allah swt.

“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, “.(QS.An-Naml(27):24).

“Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.(QS.An-Naml(27):37).

Perang dalam Islam adalah demi menegakkan kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran palsu. Bukan kebenaran dari sudut pandang manusia karena manusia mempunyai kepentingan dan kebutuhan. Baik itu kepentingan dan kebutuhan pribadi atau keluarga maupun kepentingan dan kebutuhan kelompok. Kebenaran hakiki adalah kebenaran dari Allah swt yang berdiri di luar lingkaran keduniawian.

Rasulullah baru menerapkan Sariyah setelah berdakwah 21 tahun lamanya (12 tahun di Makkah dan 9 tahun di Madinah ). Selama itu umat Islam berperang secara defensive karena diserang. Perang babak baru ini dijalankan setelah umat Islam mempunyai keimanan yang tinggi dan mempunyai cukup kekuatan material. Juga setelah Islam diakui secara resmi oleh Musryik Quraisy yang sebelumnya sangat anti Islam.

Pada periode ini Rasulullah mengirimkan beberapa surat kepada para raja dan pemimpin dunia agar meninggalkan agama kebathilan yang mereka anut dan kembali ke pelukan Islam, kembali ke fitrahnya.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Namun sebelum itu Rasulullah mendapat informasi bahwa para raja tidak mau membaca surat yang tidak distempel. Untuk keperluan itulah maka Rasulullahpun memerintahkan agar segera dibuatkan stempel khusus bagi Rasulullah. Stempel khusus milik Rasulullah tersebut adalah sebuah cincin yang terbuat dari perak dengan tiga kata terukir di atasnya. Tiga kata tersebut adalah : «  Muhammad Rasul Allah ». Dengan stempel itulah selanjutnya Rasulullah sebagai utusan Allah sekaligus pemimpin tertinggi umat Islam mengirim berbagai surat resmi.

Rasulullah mengirimkan surat untuk pertama kalinya pada tahun 9 H atau 631 M. Dalam satu yang hari yang sama itu Rasulullah, dengan bantuan sahabat terpercaya menulis 6 surat sekaligus. Surat-surat tersebut dibawa para sahabat pilihan yang tidak saja menguasai bahasa kaum yang akan didatanginya tetapi juga mengerti kultur dan kebiasaan mereka.

Berikut utusan-utusan tersebut.

1. Amr bin Umaiyyah adh-Dhamri.

Rasulullah mengutus Amr bin Umaiyah adh-Dhamri menemui Najasyi. Najasyi adalah raja negri Habasyah di benua Afrika. Raja yang nama aslinya  Ashhamah bin Abjar ini dikenal sebagai penganut Nasrani yang taat dan alim. Najasyi sebenarnya telah mendengar kabar bahkan pernah berhubungan dengan masalah ke-Islam-an beberapa tahun sebelum ini. Yaitu ketika Rasulullah mengizinkan beberapa sahabat untuk hijrah ke Habasyah.

Ketika itu Najasyi menerima keterangan Ja’far bin Abu Thalib yang berusaha disudutkan oleh orang-orang Quraisy agar dikembalikan ke Mekah.

(Baca:http://umatterbaik.wordpress.com/2008/11/08/raja-najasyi/).

Oleh karena itu ketika raja yang terkenal bijaksana ini menerima surat dari Rasulullah, ia langsung menyatakan ke-Islam-annya.

“ Seandainya aku bisa datang menemuinya ( Rasulullah saw) niscaya aku berangkat menemuinya”, begitu ucapnya.

Bahkan setelah itu dengan senang hati sang rajapun mengabulkan permintaan Rasulullah agar menjadi wakil dalam pernikahan Rasulullah dengan Ramlah binti Abi Sufyan yang ketika itu memang tinggal di Habasyah. Putri Abi Sufyan ini tinggal di negri Najasyi sejak hijrah pertama kaum Muslimin ke Habasyah. Dalam perantauan inilah suaminya kemudian murtad dan tak lama kemudian meninggal dunia. Rasulullah meminang Ramlah yang dikenal dengan sebutan Ummu Habibah ( ibunya Habibah) sebagai penghargaan atas kesabarannya dalam ber-Islam.

Sayangnya, tidak lama setelah memeluk Islam, raja Najasy ini wafat. Rasulullah kemudian menyelenggarkan shalat ghaib baginya. Ini adalah hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan Rasulullah.

2. Dahyah bin Khalifah al-Kalbi.

Rasulullah mengutus Dahyah kepada Heraklius, raja Romawi Timur ( Byzantium).  Heraklius memerintah kerajaan Nasrani ini selama 31 tahun yaitu dari tahun 610 M hingga 641 M. Dibawah pemerintahannya peperangan banyak terjadi. Diantara sekian banyak musuh, kerajaan Sasanid ( Persia) yang dikenal beragama Majusi ( penyembah api) adalah musuh yang paling sengit. Perang bebuyutan antara kedua kerajan besar ini telah berlangsung sejak tahun 602 M, jauh sebelum Heraklius menjadi raja.

Beberapa tahun sebelum Rasulullah mengirimkan utusan kepada raja ini, yaitu pada tahun 626 M, kerajaan Persia berhasil mengalahkan Romawi. Pada saat itulah turun ayat 2 hingga 6 surat Rum. Ayat ini menerangkan bahwa setelah kekalahan tersebut pasukan Romawi akan kembali menang. Ternyata terbukti benar, 2 tahun kemudian Romawi berhasil memaksa Persia bertekuk lutut hingga akhirnya kerajaan ini runtuh untuk selamanya. Padahal ketika itu Konsantinopel, ibu kota Romawi Timur, nyaris direbut Persia.

“Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). …”. QS.Ar-Rum(30:2-4).

Namun kemenangan ini hanya sesaat karena beberapa tahun kemudian yaitu pada tahun 634 M, 2 tahun setelah wafatnya Rasulullah, pasukan Islam dibawah khalifah Abu Bakar ra berhasil menaklukkan Persia yang baru saja direbut Romawi itu. Bahkan Syria, Palestina dan Mesir yang tadinya berada dibawah Romawipun jatuh ke tangan Muslim.

“ Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahu”’.(QS.Ar-Rum(30:4-6).

Dahyah menyampaikan surat Rasulullah kepada Heraklius melalui gubernur Bashra. Surat tersebut bunyinya adalah sebagai berikut :

“Dari Muhammad Rasul Allah kepada Heraklius raja Romawi. Keselamatan atas orang yang hidup mengikuti hidayah Ilahi. Amma ba’du. Anda kuajak supaya memeluk Islam. Peluklah Islam anda akan selamat dan Allah akan melimpahkam dua kali lipat imbalan pahala kepada Anda. Akan tetapi jika anda menolak, anda akan memikul dosa para petani ( rakyat). Dan «  Wahai Ahli Kitab, marilah kita bersatu kata, antara kalian dan kami bahwa kita tidak akan bersembah sujud selain kepada Allah dan bahwa kita tidak akan menjadikan siapapun diantara kita sendiri Tuhan-Tuhan selain Allah. Apabila mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka «  Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Mukmin ». ( HR Bukhari Muslim).

Usai membaca surat Rasulullah, Heraklius memerintahkan para menterinya agar mencari orang yang dapat dipercaya untuk memberikan informasi mengenai sifat-sifat Rasululah.  Kebetulan Abu Sufyan sedang berada di kota tersebut dalam rangka urusan dagangnya. Tak lama kemudian, dibantu seorang penterjemah, terjadilah percakapan antara keduanya.

Di kemudian hari, setelah memeluk Islam, Abu Sufyan mengisahkan tanggapan Heraklius atas percakapan tersebut.

“Aku bertanya kepadamu tentang silsilah keluarganya dan kau menjawab dia adalah keturunan bangsawan terhormat. Nabi-nabi terdahulu pun berasal dari keluarga terhormat di antara kaumnya.
Aku bertanya kepadamu apakah ada di antara keluarganya yang menjadi nabi, jawabannya tidak ada. Dari sini aku menyimpulkan bahwa orang ini memang tidak dipengaruhi oleh siapa pun dalam hal kenabian yang diikrarkannya dan tidak meniru siapa pun dalam keluarganya.

Aku bertanya kepadamu apakah ada keluarganya yang menjadi raja atau kaisar. Jawabannya tidak ada. Jika ada leluhurnya yang menjadi penguasa, aku beranggapan dia sedang berusaha mendapatkan kembali kekuasaan leluhurnya.

Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah berdusta dan ternyata menurutmu tidak pernah. Orang yang tidak pernah berdusta kepada sesamanya tentu tidak akan berdusta kepada Allah.
Aku bertanya kepadamu mengenai golongan orang-orang yang menjadi pengikutnya dan menurutmu pengikutnya adalah orang miskin dan hina. Demikian pula halnya dengan orang-orang terdahulu yang mendapat panggi
lan kenabian.

Aku bertanya kepadamu apakah jumlah pengikutnya bertambah atau berkurang. Jawabanmu, terus bertambah. Hal ini juga terjadi pada iman sampai keimanan itu lengkap. Aku bertanya kepadamu apakah ada pengikutnya yang meninggalkannya setelah menerima agamanya dan menurutmu tidak ada. Itulah yang terjadi jika keimanan sejati telah mengisi hati seseorang. Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah ingkar janji dan menurutmu tidak pernah. Sifat dapat dipercaya adalah ciri kerasulan sejati.

Aku bertanya kepadamu apakah engkau pernah berperang dengannya dan bagaimana hasilnya. Menurutmu engkau berperang dengannya, kadang engkau yang menang dan kadang dia yang menang dalam urusan duniawi. Para nabi tidak pernah selalu menang, tetapi mereka mampu mengatasi masa-masa sulit perjuangan, pengorbanan dan kerugiannya sampai akhirnya mereka memperoleh kemenangan.

Aku bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya, engkau menjawab dia memerintahkanmu untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, serta melarangmu untuk menyembah berhala, dan dia menyuruhmu shalat, bicara jujur, serta penuh perhatian. Jika apa yang kaukatakan itu benar, dia akan segera berkuasa di tempat aku memijakkan kakiku saat ini.

Aku tahu bahwa orang ini akan lahir, tetapi aku tidak tahu bahwa dia akan lahir dari kaummu (orang Arab). Jika aku tahu aku bisa mendekatinya, aku akan pergi menemuinya. Jika dia ada di sini, aku akan membasuh kedua kakinya dan agamanya akan menguasa tempat dua telapak kakiku!”

Selanjutnya, Heraklius berkata kepada Dihyah Al-Kalbi, “Sungguh, aku tahu bahwa sahabatmu itu seorang nabi yang akan diutus, yang kami tunggu-tunggu dan kami ketahui berita kedatangannya dalam kitab kami. Namun, aku takut orang-orang Romawi akan melakukan sesuatu kepadaku. Kalau bukan karena itu, aku akan mengikutinya!”

Untuk membuktikan perkataannya tersebut, Heraklius memerintahkan orang-orangnya untuk mengumumkan, “Sesungguhnya kaisar telah mengikuti Muhammad dan meninggalkan agama Nasrani!” Seluruh pasukannya dengan persenjataan lengkap serentak menyerbu ke dalam ruangan tempat Kaisar berada, lalu mengepungnya.

Kemudian Kaisar Romawi itu berkata, “Engkau telah melihat sendiri bagaimana bangsaku. Sungguh, aku takut kepada rakyatku!”

Heraklius membubarkan pasukannya dengan menyuruh pengawalnya mengumumkan berita, “Sesungguhnya kaisar lebih senang bersama kalian. Tadi ia sedang menguji kalian untuk mengetahui kesabaran kalian dalam agama kalian. Sekarang pergilah!”

Mendengar pengumuman tersebut, bubarlah pasukan yang hendak menyerang Kaisar tadi. Sang Kaisar pun menulis surat untuk Rasulullah saw yang berisi, “Sesungguhnya aku telah masuk Islam.” Kaisar juga menitipkan hadiah beberapa dinar kepada Rasulullah saw.

Ketika Dihyah menyampaikan pesan Raja Heraklius kepada Rasulullah saw, beliau berkata, “Musuh Allah itu dusta! Dia masih beragama Nasrani”. Rasulullah saw pun kemudian membagi-bagikan hadiah dari raja tadi kepada kaum muslimin.

3. Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi.

Abdullah diutus Rasulullah saw agar menyampaikan surat kepada Kisra, raja Persia. Surat tersebut berisi ajakan agar mau memeluk Islam. Kisra adalah sebutan atau gelar bagi para raja negri yang sekarang ini dinamakan Iran. Ketika itu penduduk negri mayoritas menganut kepercayaan Majusi ( penyembah api) dan penyembah berhala. Itu sebabnya Rasulullah mengajak mereka agar kembali ke jalan yang benar.

Namun belum juga surat selesai dibaca sang raja telah menyobek-sobeknya. Menanggapi pengaduan tersebut Rasulullah hanya berkata : “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya”.

Selanjutnya, dengan geram kemudian ia menulis surat kepada gubernur Yaman agar segera menangkap Rasulullah. Maka berangkatlah dua utusan ke Madinah. Rasulullah sendiri yang menyambut utusan gubernur Yaman tersebut. Dengan tersenyum Rasulullah bersabda : “ Kembalilah dulu hari ini. Besok saja kalian menghadapku karena aku ingin mengabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang aku inginkan”.

Keesokan harinya,kedua utusan tersebut menghadap kembali. “ Sampaikan kepada gubernur kalian bahwa Rabbku telah membunuh tuannya, Kisra, pada malam ini, tepatnya enam jam yang lalu”, sambut Rasulullah tenang.

Ibnu Sa’ad berkata, “ Yaitu pada malam selasa, 10 Jumadil ‘Ula tahun kesembilan. Allah menggerakkan Syirawaih, anak Kisra, untuk membunuhnya”. Akhirnya, kedua orang itu kembali menemui Badzan, sang gubernur, guna menyampaikan berita ini. Selanjutnya Badzan bersama anak buahnyapun masuk Islam.

4. Harits bin Umair al-Adzi.

Rasulullah mengutus Harits bin Umair al-Adzi kepada Syurabil bin Amr al-Ghassani, penguasa Bushra. Namun pemimpin ini menolak bahkan kemudian mengikat serta membunuh Harits. “ Tidak ada utusan Rasulullah saw yang dibunuh selain al-Harits bin Umair al-Adzi”.

Rasulullah juga mengutus beberapa utusan kepada para pemimpin Arab di berbagai wilayah. Diantara mereka ada yang menolak ada yang menerima. Tetapi sebagian besar menerima.  Khalid bin Walid, panglima Quraisy yang di kemudian hari mendapat julukan Saifullah al-Maslul ( pedang Allah yang terhunus) dan selalu menang dalam pertempuran adalah salah satu diantaranya.

Rasulullah begitu berbahagia melihat masuknya Khalid. Karena Khalid adalah seorang panglima perang yang amat disegani baik musuh maupun anak buahnya. Dengan masuknya Khalid ke jajaran Islam diharapkan ia mampu menarik sebanyak mungkin pengikut. Menurut riwayat ia masuk Islam bersamaan dengan Amr bin Ash, panglima perang yang di kemudian hari menaklukkan Baitul Maqdis dan Mesir dari cengkeraman Romawi.

( Youtube  Surat2 asli Rasulullah saw:

http://www.youtube.com/watch?v=JB5R1a4bSUM&NR=1&feature=fvwp ).

Paris, 4 April 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

“Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mu’min dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus”.(QS.Al-Fath(48):20).

Ayat di atas turun ketika Rasulullah dalam perjalanan pulang dari Hudaibiyah menuju Madinah, beberapa saat setelah ditanda-tanganinya perjanjian Hudaibiyah. Yang dimaksud harta rampasan perang yang banyak pada ayat di atas itu adalah kemenangan Muslimin pada perang Khaibar. Khaibar adalah kota terbesar Yahudi yang banyak memiliki benteng dan ladang-ladang kurma. Tanah kota tersebut memang dikenal amat subur, airnya berlimpah dan berbagai buah tumbuh dengan mudah di tanah ini. Kota yang merupakan  benteng utama Yahudi ini terletak sekitar 165 km utara Madinah arah Syam.

Janji Allah swt sendiri akan harta rampasan yang banyak itu adalah sebagai bentuk kasih sayang dan penghargaan-Nya akan kesabaran kaum Muslimin dalam menghadapi kebencian dan permusuhan musuh-musuh Islam seperti kaum Musryik Mekah dan Yahudi selama ini. Dan puncaknya adalah perang Hudaibiyah. ( Click  https://vienmuhadi.com/2011/03/07/xxi-perdamaian-hudaibiyah-dan-baitur-ridwan/ untuk baca Perjanjian Hudaibiyah ).

Mendengar janji tersebut, orang-orang Munafik Madinah yang selama ini tidak pernah ikut terlibat dalam peperangan Islam, tiba-tiba meminta izin untuk ikut berperang. Namun Rasulullah tidak mengabulkan permohonan tersebut. Rasulullah hanya mengizinkan berperang para sahabat yang pernah ikut berperang membela Islam dan tujuannya bukan untuk mencari harta rampasan saja.

Orang-orang Badwi yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: “Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu; mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah: “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami: demikian Allah telah menetapkan sebelumnya”; mereka akan mengatakan: “Sebenarnya kamu dengki kepada kami”. Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali. ”.(QS.Al-Fath(48):15).

Maka pada tahun 629 M, dengan membawa 1400 pasukan, mereka adalah para sahabat yang ikut dalam perjanjian Hudaibiyah, berangkatlah Rasulullah memimpin pasukannya memasuki Khaibar. Mereka berangkat dengan berjalan kaki dan berkuda. Ini adalah perang pertama kaum Muslimin yang terjadi setelah adanya perjanjian Hudaibiyah. Ini juga adalah perang pertama dimana kaum Muslimin datang menyerang terlebih dahulu. Karena sebelumnya pasukan Muslim hanya bertahan.

Rasulullah sengaja memilih jalur melalui Ar-Raji’, daerah antara perkampungan kaum Gathafan dan Khaibar. Kaum Gathafan adalah sekutu Yahudi yang selama ini selalu membantu Yahudi dalam memusuhi Islam. Dan kali inipun mereka sebenarnya memang telah berniat hendak membantu sekutunya itu. Namun nyatanya begitu mendengar kabar bahwa pasukan Rasulullah melewati perkampungan mereka, nyali merekapun jadi menciut. Akhirnya mereka membatalkan pertolongan mereka.

Dari Abu Muattib bin Amr ia berkata, ‘Ketika Rasulullah melihat Khaibar, beliau berkata kepada para sahabat –ketika itu aku bersama mereka–, ‘Berdirilah kalian!’. Rasulullah berkata, ‘Ya Allah, Rabb langit dan Rabb segala yang dinaunginya, Rabb bumi dan Rabb apa saja yang diangkutnya, Rabb setan dan apa saja yang dianutnya, Rabb angin dan Rabb apa saja yang diterbangkannya, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikan kampung ini, penduduknya, dan apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung diri kepadaMu dari keburukan kampung ini, penduduknya, dan yang ada di dalamnya. Majulah kalian dengan nama Allah!’ Doa tersebut selalu diucapkan beliau setiap kali beliau memasuki per-kampungan”.

Tidak mudah menaklukkan Khaibar. Kota benteng ini memiliki sistim pertahanan berlapis-lapis. Setiap benteng memiliki fungsi masing-masing. Perempuan dan anak-anak ditempatkan di sebuah benteng bernama  Watih. Harta benda disimpan di benteng Sulaim. Sementara persediaan makanan dan pasukan perang yang jumlahnya ribuan itu menempati benteng lain. Bahkan Yahudi Madinahpun melecehkan kemampuan pasukan Islam melumpuhkan Yahudi Khaibar. Namun bagi para sahabat kemenangan bukanlah banyak atau sedikitnya jumlah pasukan atau canggih tidaknya peralatan. Kemenangan adalah pertolongan Allah, Sang Penguasa Langit dan Bumi.

“Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Ali Imran(3):126).

“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.(QS.Al-Baqarah(2):249).

Mulanya Rasulullah menempatkan Abu Bakar ra sebagai pemegang panji. Namun pasukan ini tidak berhasil membobol pertahanan Yahudi. Kemudian Rasulullah mengutus Umar bin Khattab ra untuk menggantikan Abu Bakar. Tidak berhasil juga. Akhirnya Rasulullah memerintahkan Ali bin Abu Thalib ra  untuk keluar.

Dimana Ali?”, tanya Rasulullah ketika Ali tidak dilihatnya diantara para sahabat.

“ Wahai Rasulullah, Ali sedang sakit mata”, jawab para sahabat.

«  Panggil dia », perintah Rasulullah.

Setelah Ali tiba dengan mengucap doa, Rasulullah segera meniup mata Ali yang sedang sakit itu dengan kedua ludah beliau. Seketika itu sembuhlah mata Ali. Allahuakbar ..

Kemudian Rasulullah menyerahkan panji perang kepada Ali.

“ Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita ( Muslim) ?”, tanya Ali.

“ Kerjakanlah ! Tetapi jangan tergesa-gesa. Tunggu sampai engkau tiba di halaman mereka. Setelah itu, ajaklah mereka memeluk Islam dulu dan beritahukan kepada mereka kewajiban-kewajiban apa yang harus mereka lakukan terhadap Allah. Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada seorang diantara mereka melalui engkau, itu lebih baik daripada engkau memperoleh nikmat berupa unta merah », tegas Rasulullah.

( Unta merah bagi masyarakat Mekah ketika itu adalah suatu dambaan).

Begitulah prinsip perang dalam Islam. Perang bukan cara mendapatkan kemenangan dan kemegahan. Perang adalah hal terakhir yang dilakukan ketika orang tetap berkeras menolak menyembah Sang Khalik. Itupun bila mereka selalu menghalangi dan menghambat kemajuan Islam. Dan setelah dikalahpun tidak ada paksaan bagi mereka untuk berpindah agama selama mereka mau tunduk terhadap hukum Islam tentunya.

Semula pertempuran terjadi kurang seru karena pasukan Yahudi tidak mau keluar dari bentengnya. Mereka tetap bertahan didalam benteng-benteng kokohnya. Hingga akhirnya benteng demi benteng berhasil direbut pasukan Muslimin kecuali benteng Watih dan Sulaim yang merupakan benteng terakhir dan terkuat.  Maka merekapun terpaksa keluar dan perang satu lawan satupun tak dapat dihindarkan lagi.

Pertempuran berkecamuk hebat. Sepuluh hari lamanya benteng Watih dan Sulaim dikepung. Kedua benteng ini akhirnya jatuh setelah pasukan dibawah pimpinan Ali ini berhasil memotong saluran air ke dalam benteng. Penduduk Khaibar terpaksa menyerah dan berbondong-bondong keluar dari benteng pertahanan terakhir mereka. Dengan perasaan suka rela mereka menyerahkan seluruh harta benda yang mereka miliki termasuk ladang-ladang kurma yang luas, selama permohonan mereka untuk diampuni dikabulkan.

Rasulullah mengabulkan permohonan tersebut bahkan juga permohonan mereka agar diberi kesempatan untuk tetap menggarap dan mengelola ladang dan kebun-kebun tersebut dengan imbalan separuh dari hasil panen. “ Dengan syarat, kalau kami hendak mengusir kalian, kalian harus bersedia kami usir”, tegas Rasulullah.

Sungguh, betapa mulianya akhlak Rasulullah. Bandingkan dengan apa yang terjadi ketika Islam dikalahkan di Andalusia, Spanyol. Ketika itu kaum Muslimin dipaksa berpindah agama dan bila menolak mereka akan dibunuh atau diusir tanpa boleh membawa apapun. Begitu juga yang dilakukan pasukan Romawi ketika mereka mengalahkan musuh. Juga fenomena tanah Palestina di abad 21 ini. Kita dapat menyaksikan bagaimana keji dan tidak adilnya perlakuan zionis Israel terhadap kaum Muslimin di negri tersebut. Sungguh ironis ..  L

Selanjutnya kaum Yahudi tetap tinggal di Khaibar dan menggarap ladang tersebut. Rasulullah membebaskan mereka menjalankan kepercayaan dan hukum mereka sendiri. Mereka baru diusir dari tanah tersebut pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab. Itupun karena mereka berbuat kesalahan.

Usia perang, Rasulullah tinggal selama beberapa hari di Khaibar. Disinilah beliau menikahi seorang perempuan Yahudi bernama  Shafiyah binti Huyaiy bin Akhtab, seorang pemimpin Yahudi yang tertawan. Pembebasannya sebagai tawanan perang menjadi mahar perkawinannya. Ketika itu ia diberi dua pilihan ; dibebaskan kemudian diserahkan kembali kepada kaumnya atau dibebaskan kemudian menjadi isteri Rasulullah. Ternyata Safiyah memilih pilihan kedua yaitu, menjadi isteri Rasulullah.

Diceritakan bahwa Rasulullah melihat bekas kebiruan di pipi Shafiyah, “Apa ini?” Shafiyah menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

Shafiyah menceritakan bahwa sejak kecil ia telah mempelajari Taurat, kitab suci nenek moyangnya. Ia mendengar bahwa suatu ketika akan datang seorang Rasul. Itu sebabnya ia tidak ragu bahwa Muhammad adalah rasul yang diceritakan dalam kitab tersebut. Itu pula sebabnya ia ridho menjadi istri beliau meski ayah dan suaminya terbunuh dalam perang yang dipimpin Rasulullah itu.

Sementara dalam riwayat lain, diceritakan bahwa seorang perempuan Yahudi bernama Zainab binti Harith berusaha meracuni Rasulullah. Ia melakukan hal ini karena dendamnya terhadap kematian suaminya yang terbunuh dalam perang Khaibar. Perempuan ini mengirimkan sepotong daging domba yang telah dipoles dengan racun. Rasulullah sempat mencicipinya namun kemudian memuntahkannya kembali. Sebaliknya seorang sahabat bernama Bisyri bin Bara langsung menelannya hingga iapun meninggal dunia, terkena racun yang sebenarnya ditujukan kepada Rasulullah.

Dengan usainya perang Khaibar, setelah ghanimah dibagi-bagikan dengan adil dan semua merasa puas maka usai pula sejarah perlawanan Yahudi terhadap Islam. Pasukan Yahudi lain yang tinggal di Wadil Qura, tidak jauh dari Madinah, memang sempat melakukan pencegatan ketika rombongan Rasulullah melewati wilayah tersebut sepulang dari penaklukkan Khaibar. Namun pasukan Islam berhasil mematahkan serangan tersebut. Sebaliknya Yahudi Taima’ malah mengulurkan tawaran damai tanpa melalui peperangan.

Dalam sebuah riwayat diceritakan ; Suatu ketika dalam perjalanan dari Khaibar menuju Madinah, di salah satu akhir malamnya, Rasulullah bersabda, ‘Siapa orang yang siap menunggu Shubuh untuk kita sehingga kita bisa tidur?’. Bilal berkata, ‘Aku siap menunggu Shubuh untukmu, wahai Rasulullah’.

Maka Rasulullahpun berhenti. Demikian pula para sahabat, kemudian tidur. Sementara itu Bilal mengerjakan shalat beberapa raka’at. Usai shalat, ia bersandar pada untanya untuk menunggu waktu Shubuh, namun rasa kantuk menyerangnya dan ia pun tertidur.

Akibatnya tidak ada seorangpun yang membangunkan Rasulullah dan kaum muslimin melainkan sengatan sinar matahari. Beliau orang yang pertama kali bangun. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Apa yang engkau perbuat terhadap kita, hai Bilal?’ Bilal menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku tertidur sepertimu’. Rasulullah bersabda, ‘Engkau berkata benar’.

Rasulullah kemudian menuntun untanya tidak terlalu jauh kemudian menghentikannya. Beliau berwudhu diikuti kaum muslimin, lalu menyuruh Bilal mengumandangkan iqamah shalat dan mengerjakan shalat bersama kaum muslimin. Setelah salam, Rasulullah menghadap kepada para sahabat dan bersabda, ‘Jika kalian lupa shalat, shalatlah jika kalian telah ingat karena Allah swt berfirman, ‘Shalatlah karena ingat kepadaKu’.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 25 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Pemimpin yang dzalim.

Tidak dapat dipungkiri bahwa contoh pemerintahan Islam yang terbaik adalah pada masa Madinah dibawah Rasulullah saw. Setelah itu masa kekhalifahan yang 4 yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abu Thalib ra. Dan satu lagi mungkin Umar bin Abdul Azis yang sering disebut-sebut sebagai khalifah ke 5.

Pada masa itu, Rasulullah dan ke 4 sahabat itu benar-benar menjalankan dan memberlakukan aturan dan hukum sesuai dengan kehendak Sang Khalik. Dengan mencontoh dan menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan, Al-Quran dijunjung tinggi, tidak hanya sebatas bacaan atau teori.

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Al-Ahzab(3):21).

Ketakwaan, akhlak dan prilaku mulia para khalifah, atas ridho Allah swt, mampu menjadikan negri yang mencakup seluruh semenanjung Arabia ( Saudi Arabia, Yaman, Oman, Qatar, Kuwait dan Dubai), bekas Persia ( Irak dan Iran), Syam ( Yordan, Syria, Lebanon dan  Palestina) serta Mesir, sebuah masyarakat yang tunduk kepada hukum-hukum Islam.

Nafas toleransi, keadilan dan musyawarah amat terasa di negri tersebut. Berbagai kisah tentang para khalifah yang hidup sederhana itu tertulis dengan tinta emas, menjadi bukti sejarah yang sulit untuk dilupakan begitu saja.

Melalui Shirah Nabi atau Biografi Rasulullah banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Diantaranya adalah bagaimana Rasulullah menyikapi perbedaan pendapat dengan musyawarah. Dengan sikap arif dan bijaksana Rasulullah rela mengganti keputusan yang telah diambil selama itu bukan perintah Allah dan dianggap lebih baik dan tepat.

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. QS.Asy-Syua’ra(42):38).

Abu Bakar yang sebelum menjadi khalifah dikenal lembut namun setelah menjadi khalifah ternyata bisa keras dan tegas. Terbukti dari sikapnya yang tegas terhadap sekelompok Muslim yang menolak menunaikan zakat begitu Rasulullah wafat.

Sementara Umar bin Khattab yang sebelum memeluk Islam dikenal keras namun setelah menjadi khalifah berubah dratis menjadi lembut. Terbukti dengan kebiasaannya menyamar menjadi rakyat biasa dan berkeliling mengunjungi orang-orang miskin sekaligus membantu kesulitan mereka.

Tetapi ketegasannya tetap muncul pada saat-saat dibutuhkan. Terlihat jelas dalam kisahnya tentang sebuah tulang ayam yang dikirimkannya kepada Amr bin Ash, pemimpin Mesir kala itu. Ini adalah peringatan agar Amr tidak bertindak semena-mena terhadap nenek Yahudi yang mengadukan kepada sang khalifah bahwa ia digusur karena tanah miliknya itu akan dijadikan masjid oleh pihak pemerintah.

Sedangkan Ustman bin Affan, menantu Rasulullah yang terpilih menjadi khalifah berkat musyawarah, dikenal karena kelembutan dan kesabarannya. Oleh karenanya setiap hari Jumat ia membebaskan seorang budak dengan harga yang sangat tinggi.

Sementara Ali bin Abu Thalib, suami Fatimah binti Muhammad saw, dikenal sebagai orang yang zuhud, yang memilih hidup dalam kesederhaan sekalipun beliau adalah seorang khalifah. Pakaiannya hanyalah kain kasar yang sekedar cukup melindungi beliau dari panasnya matahari dan dinginnya udara ketika musim dingin tiba.

Ingat pula bagaimana Umar bin Abdul Azis yang meminta istrinya agar mengembalikan gelang emas berlian hadiah dari ayahnya ketika ia menjabat sebagai khalifah kepada Baitul Maal. Baitul Maal adalah sebuah lembaga kekayaan negara.

Dari contoh-contoh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya Demokrasi itu sudah ada sejak awal Islam. Namun Demokrasi tersebut tidak sama dengan demokrasi yang sekarang sering digembar-gemborkan pihak Barat. Demokrasi dalam Islam bukan berarti kekuatan rakyat. ( Demokrasi berasal dari bahasa Yunani yang berarti Demos untuk kekuatan dan Cratos yang berarti rakyat).

Demokrasi dalam kacamata Islam  adalah azas musyawarah. Siapa yang diajak musyawarah? Apakah semua orang ? Tidak ! Dasar pemikiran Islam adalah tunduk dan patuh itu hanya kepada Sang Khalik, Allah swt. Karena sebenarnya Dialah yang menjadikan seseorang itu menjadi pemimpin. Tanpa izin-Nya mustahil seseorang bisa mencapai puncak kepemimpinan. Maka orang-orang yang diajak musyawarahpun otomatis hanya orang-orang yang memahami arti Islam, yaitu orang-orang yang beriman dan tunduk pada-Nya. Itulah kaum Mukminin.

Sebaliknya, Allah swt telah menurunkan aturan dan persyaratan bagaimana memilih seorang pemimpin. Itu sebabnya sebagai rakyat biasa kita juga harus berhati-hati ketika memilih pimpinan. Karena kita sendirilah yang nantinya bakal merasakan dampak kepemimpinan seseorang. Bahkan dengan tegas Allah mengatakan bahwa orang yang memilih pemimpin yang mengutamakan kekafiran daripada keimanan adalah termasuk golongan orang yang zalim.

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS.At-Taubah(9):23).

Namun apa yang terjadi saat ini sungguh jauh dari apa yang telah dicontohkan Rasulullah dan para sahabat. Kaum Muslimin saat ini banyak yang tidak memperhatikan kriteria ketakwaan dan kesholehan yang ada dalam pribadi calon pemimpin yang dipilihnya. Kelihatannya standard dan cara berpikir barat yang cenderung mendewakan kehebatan akal telah merusak cara berpikir kaum Muslimin.

Lebih parah lagi, bila kekuatan materi alias kekayaan yang dijadikan patokan. Ataupun hubungan kekerabatan. Bahkan kekuatan militer alias kudeta ! Haus akan kekuatan dan kekuasaan tampaknya telah menjadi ’tren’ sebagian para pemimpin dunia Islam. Mereka lupa bahwa kekuatan dan kekuasaan itu hanyalah titipan dan cobaan yang tanggung jawabnya amatlah berat.

Inilah yang  dikatakan Umar bin Abdul Azis sepulang dari pengangkatannya sebagai khalifah.

“Apa yang kau tangiskan?” tanya istri Umar. Umar  mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang miskin, janda-janda yang banyak  anaknya namun  rezekinya sedikit, aku teringat akan para tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang tidak dapat menjawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah karena aku tahu, yang menjadi pembela  mereka adalah Rasulullah saw’’. Mendengar itu istrinyapun turut meneteskan air mata.

(Click:https://vienmuhadi.com/2009/11/17/keteladanan-umar-bin-abdul-aziz-amirul-mukminin/ )

Islam juga mengajarkan agar kaum Muslimin berdiri di atas kaki sendiri alias tidak bergantung kepada pihak lain apalagi kaum Kafirun. Ini bukan berarti kaum Muslimin disuruh membenci mereka. Allah memerintahkan hal tersebut karena dalam hati mereka sebenarnya menyimpan kebencian yang mendalam kepada Islam, disadari maupun tidak.

” Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”.(QS.Ali Imran(3):119).

Tentu saja hal ini amat berbahaya. Dapat dibayangkan apa yang dapat dilakukan seseorang apalagi musuh dalam selimut ketika kita memiliki hutang. Hutangnya tidak tanggung-tanggung pula, hutang negara . Hutang dimana rakyat, tanah air dan keimanan adalah jaminannya !! Itu sebabnya Allah mengancam orang-orang yang berbuat demikian dengan azab yang benar-benar pedih. Dan Allah memasukkannya kepada golongan orang munafik !

”Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”.(QS.An-Nisa(4):138-139).

Pemimpin adalah penyayom, pelindung sekaligus contoh bagi rakyatnya. Amal ibadah seperti shalat, puasa dan zakat bila tidak diiringi perbuatan baik terhadap sesama adalah sia-sia. Rasulullah menyebutnya bangkrut.  Mengapa ? Karena seseorang harus membayar perbuatan buruknya seperti mencaci, memfitnah dll dengan pahala amal ibadah yang diperbuatnya. Dan bila perbutan dzalim itu lebih besar dan banyak dari dapa pahala ibadahnya maka bangkrutlah ia.

Rasulullah bersabda: “Orang yang bangkrut ialah mereka yang datang di hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat tetapi sekaligus membawa (dosa) mencaci orang, memfitnah dan menganiaya serta menyiksa sesama semasa hidupnya” .

” … Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?” Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. …”. (QS.Asy-Syua’ra(42):44-45).

Bila mencaci, memfitnah, menganiaya dan menyiksa sesama manusia saja dilarang bagaimana pula dengan membunuh ?

“……barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya……”.(QS.Al-Maidah(5):32).

”Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih”.(QS.Asy-Syua’ra(42):42).

Bagaimana dengan orang-orang yang didzalimi ? Bolehkah mereka membela diri atau haruskah mereka takut dan tunduk kepada pemimpin yang dzalim? Berdosakah mereka? Apakah mereka juga harus menanggung dosa orang-orang yang ditakutinya itu?

”Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih”.(QS.Asy-Syua’ra(42):41-42).

Sebaliknya orang-orang tertindas yang tidak membela diri, membiarkan dirinya terdzalimi dan melihat kedzalimin terjadi di depan matanya tanpa berbuat apapun dan hatinyapun tidak mengutuknya maka neraka adalah tempat kembalinya.

” Barangsiapa diantaramu yang melihat kejelekan maka rubahlah dengan tangannya. Maka jika tidak sanggup maka rubahlah dengan perkataanya. Dan jika tidak sanggup rubahlah dengan hatinya, dan itulah yang paling lemah imannya”.(HR Bukhari-Muslim).

Dalam surat Ash-Shad ayat 59-64 Allah menceritakan percakapan yang terjadi antar penghuni neraka sebagai berikut :

(Dikatakan kepada mereka): “Ini adalah suatu rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)”. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka): “Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka”.

Pengikut-pengikut mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap”.

Mereka berkata (lagi): “Ya Tuhan kami; barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.”

……

Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran penghuni neraka”.

”Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya dan mereka mendirikan shalat. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali (mu)”.(QS.Fathir(35):18).

Rasulullah juga bersabda bahwa sesama Muslim itu bersaudara. Oleh karenanya wajib bagi kita untuk mengingatkan  saudaranya yang lalai ataupun sedang khilaf. Tidak boleh kita membiarkan saudara kita tersesat. Apalagi menunggu  hingga orang lain ( non Muslim ) menegur bahkan menyerangnya!

Semoga  apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah cermin kesadaran kaum Muslimin dalam rangka menuju ketakwaaan.  Rasanya sudah terlalu lama kita ini terbuai dalam gelimang hutang para pemimpin yang menggadaikan keimanan ini kepada kaum Kufar. Lupa bahwa suatu hari nanti ia harus mempertanggung-jawaban perbuatannya itu.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 16 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Tutuplah Aib Saudaramu

( Penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah )

Sakinah Mutiara Kata 04 – Juni – 2007 10:38:02

Saudariku muslimah
Bagi kebanyakan kaum wanita ibu-ibu ataupun remaja putri bergunjing membicarakan aib cacat atau cela yang ada pada orang lain bukanlah perkara yang besar. Bahkan di mata mereka terbilang remeh ringan dan begitu gampang meluncur dari lisan. Seolah-olah obrolan tak asyik bila tidak membicarakan kekurangan orang lain. “Si Fulanah begini dan begitu”. “Si ‘Alanah orang suka ini dan itu”.

Ketika asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah “Kuman di seberang lautan tampak gajah di pelupuk mata tiada tampak.”

Perbuatan seperti ini selain tak pantas/tak baik menurut perasaan dan akal sehat kita ternyata syariat yang mulia pun mengharamkan bahkan menekankan untuk melakukan yang sebaliknya,  yaitu menutup dan merahasiakan aib orang lain.

Ketahuilah wahai saudariku siapa yang suka menceritakan kekurangan dan kesalahan orang lain maka diri pun tak aman untuk diceritakan oleh orang lain. Seorang ulama salaf berkata “Aku mendapati orang2 yang tak memiliki cacat/cela lalu mereka membicarakan aib manusia maka manusia pun menceritakan aib-aib mereka. Aku dapati pula orang2 yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yang lain maka manusia pun melupakan aib mereka.”1

Tahukah engkau bahwa manusia itu terbagi dua:
Pertama: Seseorang yang tertutup keadaan tak pernah sedikitpun diketahui berbuat maksiat. Bila orang seperti ini tergelincir dalam kesalahan maka tak boleh menyingkap dan menceritakan karena hal itu termasuk ghibah yang diharamkan. Perbuatan demikian juga berarti menyebarkan kejelekan di kalangan orang2 yg beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِيْنَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

“Sesungguh orang2 yang menyenangi tersebar perbuatan keji2 di kalangan orang2 beriman mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”

Kedua: Seorang yang terkenal suka berbuat maksiat dengan terang-terangan tanpa malu-malu tak peduli pandangan dan ucapan orang lain. maka membicarakan orang seperti ini bukanlah ghibah. Bahkan harus diterangkan keadaan kepada manusia hingga mereka berhati-hati dari kejelekannya. Karena bila orang seperti ini ditutup-tutupi kejelekan dia akan semakin bernafsu untuk berbuat kerusakan melakukan keharaman dan membuat orang lain berani untuk mengikuti perbuatannya3.

Saudariku muslimah
Engkau mungkin pernah mendengar hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ ..

“Siapa yang melepaskan dari seorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Allah akan melepaskan dari satu kesusahan dari kesusahan di hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memudahkan di dunia dan nanti di akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aib di dunia dan kelak di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya.”

Bila demikian engkau telah tahu keutamaan orang yang suka menutup aib saudara sesama muslim yang memang menjaga kehormatan diri, tak dikenal suka berbuat maksiat namun sebalik di tengah manusia ia dikenal sebagai orang baik-baik dan terhormat. Siapa yg menutup aib seorang muslim yang demikian keadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aib di dunia dan kelak di akhirat.

Namun bila di sana ada kemaslahatan atau kebaikan yang hendak dituju dan bila menutup akan menambah kejelekan maka tak apa-apa bahkan wajib menyampaikan perbuatan jelek/aib/cela yang dilakukan seseorang kepada orang lain yg bisa memberi hukuman. Jika ia seorang istri mk disampaikan kepada suaminya. Jika ia seorang anak maka disampaikan kepada ayahnya. Jika ia seorang guru di sebuah sekolah maka disampaikan kepada mudir- . Demikian seterusnya.

Yang perlu diingat wahai saudariku diri kita ini penuh dengan kekurangan aib cacat dan cela. maka sibukkan diri ini untnk memeriksa dan menghitung aib sendiri niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. Lagi pula orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain untnk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas dgn membongkar aib walaupun ia berada di dlm rumahnya.

Sebagaimana disebutkan dlm hadits Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisan dan iman itu belum masuk ke dlm hatinya5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat6 mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari aurat oleh Allah niscaya Allah akan membongkar di dlm rumah .”

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan hadits yang sama ia berkata “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar lalu menyeru dgn suara yang tinggi:

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ اْلإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُو الْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تُعَيِّرُوْهُمْ، وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

“Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisan dan iman itu belum sampai ke dlm hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin janganlah menjelekkan mereka jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesema muslim Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yg dicari-cari aurat oleh Allah niscaya Allah akan membongkar walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.”

Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besar kehormatan seorang muslim. Sampai-sampai ketika suatu hari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memandang ke Ka’bah ia berkata:

مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمَ حُرْمَةً عِنْدَ اللهِ مِنْكِ

“Alangkah agung engkau dan besar kehormatanmu. Namun seorang mukmin lbh besar lagi kehormatan di sisi Allah darimu.”7
Karena itu saudariku Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan menutup cela yang ada pada saudaramu yang memang pantas ditutup. Dengan engkau menutup cela saudaramu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup celamu di dunia dan kelak di akhirat. Siapa yg Allah Subhanahu wa Ta’ala tutup cela di dunia di hari akhir nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menutup cela sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَسْتُرُ اللهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya8.”

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Jami’ul Ulum Wal Hikam .
2 Baik seseorang yg disebarkan kejelekan itu benar-benar terjatuh dlm perbuatan tersebut ataupun sekedar tuduhan yg tdk benar.
3 Jami’ul Ulum Wal Hikam Syarhul Arba’in Ibnu Daqiqil Ied Qawa’id wa Fawa`id minal Arba’in An-Nawawiyyah .
4 Syarhul Arba’in An-Nawawiyyah Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin .
5 Yakni lisan menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap di dlm hatinya.
6 Yang dimaksud dgn aurat di sini adl aib/cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari-cari kejelekan seorang muslim utk kemudian diungkapkan kepada manusia.
7 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2032
8 Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Tentang ditutup aib si hamba di hari kiamat ada dua kemungkinan. Pertama: Allah akan menutup kemaksiatan dan aib dengan tidak mengumumkan kepada orang2 yang ada di mauqif . Kedua: Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menghisab aib dan tidak menyebut aib tersebut.” Namun kata Al-Qadhi sisi yang pertama lebih nampak karen ada hadits lain.”

Hadits yang dimaksud adl hadits dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُوْلُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوْبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطِي كِتَابَ حَسَنَاتِهِ ..

“Sesungguh Allah mendekatkan seorang mukmin lalu Allah meletakkan tabir dan menutupi si mukmin . Allah berfirman ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulu di dunia engkau kerjakan?’ Si mukmin menjawab: ‘Iya hamba tahu wahai Rabbku .’ Hingga ketika si mukmin ini telah mengakui dosa-dosa dan ia memandang diri akan binasa karena dosa-dosa tersebut Allah memberi kabar gembira padanya: ‘Ketika di dunia Aku menutupi dosa-dosamu ini dan pada hari ini Aku ampuni dosa-dosamu itu.’ Lalu diberikanlah pada catatan kebaikan-kebaikannya”

Sumber: http://www.asysyariah.com

Paris, 14 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. )”.(QS.Al-Fath(48):27).

Berdasarkan mimpi bahwa Rasulullah akan memasuki Masjidil Haram, maka pada suatu hari di bulan Dzulqa’idah tahun ke 6 H, Rasulullah mengumumkan keinginan beliau untuk  menunaikan ibadah umrah. Pengumuman ini langsung disambut antusias oleh sekitar 1400 sahabat Anshar dan Muhajirin.  Dengan mengenakan kain ihram serta membawa sejumlah binatang kurban ( al-hadyu) maka berangkatlah rombongan besar ini menuju Mekah yang ketika itu masih berada dibawah kekuasaan kaum Musryik Quraisy.

Setiba di Dzul Hulaifah, Rasulullah saw mengutus seseorang untuk mengintai keadaan kota Mekah. Rasulullah juga mengutus Ustman bin Affan ra pergi ke kota tersebut untuk mengabarkan kedatangan rombongan kepada kaum Muslimin yang ada di Mekah. Semula Rasulullah menginginkan  Umar bin Khattab ra yang melakukan tugas tersebut. Namun karena Umar mempunyai hubungan yang kurang baik dengan keluarga besarnya akhirnya Ustman yang diutus.

Sementara itu Rasulullah dan rombongan terus berjalan perlahan meneruskan perjalanan. Hingga di suatu tempat utusan pengintai tadi kembali dan melaporkan bahwa orang-orang Quraisy telah menyiapkan bala tentara untuk memerangi dan mencegah kaum Muslimin memasuki Mekah dan thawaf di Baitullah.

“ Bagaimana pendapat kalian”, tanya Rasulullah begitu menerima laporan tersebut.

“ Wahai Rasulullah, engkau keluar untuk maksud ziarah ke Baitullah bukan untuk membunuh atau memerangi seseorang. Berangkatlah terus ! Jika ada orang yang menghalangi, kita akan memeranginya”, jawab Abu Bakar ra.

Berangkatlah dengan nama Allah”, sambut Rasulullah.

Lalu Rasulullah dan rombonganpun melanjutkan perjalanan. Namun untuk menghalangi hal-hal yang tidak diinginkan Rasulullah menunjuk salah seorang sahabat yang menguasai jalan pintas yang tidak biasa digunakan umum agar memimpin didepan.

Maka jadilah rombongan ini menyusuri jalan terjal, naik-turun lereng-lereng berbatu tajam. Hingga di suatu tempat di sebuah jalan ke arah Hudaibiyah, unta Rasulullah tiba-tiba berhenti dan tidak mau berjalan. Para sahabat terperanjat. “ Si Qushwa mogok”, seru mereka.

Rasulullah saw menyahut, “ Ia tidak mogok. Ia tidak berwatak demikian. Ia dihentikan oleh Allah swt seperti dahulu Allah menghentikan pasukan gajah. Demi Allah jika mereka memintaku suatu langkah (persyaratan) yang akan menghormati Tanah Haram, pasti akan aku kabulkan”.

Selanjutnya Rasulullah mengarahkan untanya untuk mundur dan berhenti di ujung Hudaibiyah. Para sahabat kemudian turun dan minum serta berwudhu di sebuah parit yang tidak begitu banyak airnya hingga akhirnya kering sama sekali. Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa setelah mendengar pengaduan para sahabat bahwa mereka kehabisan air, Rasulullah kemudian menancapkan sebatang anak panah di parit tersebut. Maka tak lama kemudian paritpun terisi air kembali. Para sahabat lalu berebutan menggunakan sumber air tersebut untuk berbagai keperluan.

Dalam suasana demikian inilah tiba-tiba datang seorang utusan Quraisy. Ia menyatakan bahwa pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan untuk mengusir Rasulullah dan rombongan. Dengan tenang Rasulullah menjawab, “ Kami datang hanya untuk melaksanakan umrah. Sekalipun orang-orang Quraisy telah memutuskan untuk berperang, tetapi jika mereka suka, aku minta untuk menangguhkannya. Jika mereka enggan, demi Allah, aku siap memerangi mereka sampai orang-orang yang ada di belakangku tinggal sendirian. Dan Allah pasti akan menyelesaikan urusan-Nya”.

Utusan tersebut kemudian kembali ke kaumnya dan melaporkan apa yang dikatakan Rasulullah. Sementara itu Ustman bin Affan yang sebelumnya diutus ke Mekah tidak juga kunjung kembali. Berita yang sampai ke telinga Rasulullah, Ustman telah dibunuh oleh Quraisy !.

Maka Rasulpun bersabda “ Kami tidak akan tinggal diam hingga kami berhasil menumpas kaum Quraisy”.

Kemudian Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat dan mengajak mereka berbaiat. Berbait kepada Rasulullah untuk tidak lari meninggalkan medan perang. Baiat ini berlangsung di bawah sebuah pohon dan kemudian dikenal sebagai Baiat Ridwan. Dalam kesempatan itu, Rasulullah mengambil tangan para sahabat satu bersatu sambil berkata : «  Pembaitan ini untuk Ustman ».

Namun tak berapa lama kemudian ternyata Ustman kembali dalam keadaan aman. Rupanya beberapa orang Quraisy sempat menahannya beberapa hari tetapi kemudian melepaskannya kembali. Betapa leganya Rasulullah mengetahui hal tersebut.

Selanjutnya dengan utusan Quraisy yang melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah. Setelah berembug, mereka kembali mengutus seseorang untuk menemui Rasulullah. Di tempat ini, Urwah bin Mas’ud, utusan kedua Quraisy, mendapati betapa para sahabat menghormati sang pimpinan, Rasulullah Muhammad saw.

“ Wahai kaum. Demi Allah, aku pernah menjadi tamu para raja, kaisar, kisra dan najasi. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana penghormatan yang dilakukan oleh para pengikut Muhammad. Sesungguhnya, dia telah menawarkan suatu langkah yang baik buat kalian. Karena itu, terimalah!”, demikian ucap Urwah, melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah kepada para pembesar Quraisy.

Langkah selanjutnya, para pemuka Quraisy memutuskan mengutus Suhail bin Amr sebagai wakil mereka untuk membuat perjanjian dengan kaum Muslimin. Sementara Rasulullah menunjuk Ali bin Abu Thalib ra sebagai juri tulis perjanijian yang di kemudian hari dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah ini.

“ Silahkan”, kata Suhail, “ Tuliskan suatu perjanjian antara kami dan kalian”.

“ Tulislah Bismilahir rahmanir rahim”, sabda Rasulullah kepada Ali.

“ Demi Allah, kami tidak tahu apa itu ‘ar-Rahman’. Tulislah Bismikallahumma », tukas Suhail.

« Demi Allah, kami tidak mau menulis kecuali  Bismilahir rahmanir rahim”, kaum Muslimin berkata.

«Tulislah Bismikallahumma. Ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah », sabda Rasul lagi.

Mendengar ini Suhail sontak menolak, «  Demi Allah, seandainya kami mengakui bahwa engkau adalah Rasul Allah, niscaya kami tidak menahanmu untuk datang ke Baitullah dan memerangimu. Tulislah Muhammad bin Abdullah ».

Rasul kembali mengalah, «  Demi Allah, aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian mendustakanku ! Tulislah Muhammad bin Abdullah ».

Di dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa nabi saw memerintahkan Ali agar menghapuskannya lalu Ali berkata, «  Demi Allah, aku tidak akan menghapusnya ». Rasulullah lalu bersabda, «  Tunjukkan kepadaku mana tempatnya ». Ali lalu menunjukkan dan Rasulullahpun menghapusnya sendiri.

Selanjutnya Rasulullah bersabda kepada Suhail, «  Kalian harus membiarkan kami melaksanakan thawaf di Baitullah ». Namun Suhail menjawab, « Demi  Allah supaya orang-orang tidak mengatakan bahwa kami mendapat tekanan dari kalian … engkau boleh thawaf tahun depan namun tidak boleh membawa senjata kecuali pedang dalam sarungnya ».

Selanjutnya utusan Quraisy tersebut juga mensyaratkan bahwa jika ada anggota keluarga Quraisy yang masuk Islam kemudian lari dan meminta perlindungan Madinah, mereka harus dikembalikan kepada kaumnya. Sebaliknya bila ada kaum Muslimin yang lari dari Madinah dan meminta perlindungan Makkah, mereka tidak harus dikembalikan.

«  Subhanallah, bagaimana mungkin seseorang yang telah beriman akan dikembalikan kepada kaum Musyrikin ? », protes para sahabat. «  Apakah kita akan menulis butir ini, wahai Rasulullah ? »

« Ya, sesungguhnya siapa saja diantara kita yang pergi kepada mereka maka semoga Allah menjauhkannya dan barangsiapa diantara mereka datang kepada kita maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya », jawab Rasulullah saw.

Itulah sebagian dari isi perjanjian perdamaian Hudaibiyah. Perjanjian ini berlaku untuk 10 tahun. Selama itu tidak boleh terjadi peperangan antara ke dua belah pihak. Masing-masing pihak boleh memilih dan mempunyai sekutu. Maka suku Khuza’ahpun mengumumkan persekutuannya dengan kaum Muslimin. Sedangkan bani Bakar memilih bersekutu dengan kaum Quraisy.

Dalam perjanjian Hudaibiyah tersebut juga dituliskan bahwa ketika kaum Muslimin berthawaf tahun depan nanti, kaum Musyrikin tidak diperbolehkan mengganggu. Mereka akan pergi ke lereng-lereng gunung,menyaksikan dari kejauhan.

Namun demikian, sebagian besar sahabat tetap merasa kecewa terhadap isi perjanjian yang dianggap merendahkan umat Islam yang dirasa mulai menguat itu. Umar bin Khattab ra adalah satu diantaranya.

“ Bukankah engkau Nabi Allah?” tanya Umar.

“ Ya, benar”, jawab Rasul.

“ Bukankah orang-orang kita yang terbunuh akan masuk surga dan orang-orang yang mereka bunuh akan masuk neraka?” tanya Umar lagi.

“ Ya, benar”, jawab Rasul tenang.

«  Lalu, mengapa kita menyetujui agama kita direndahkan ? », tanya Umar bertambah penasaran.

“Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia pasti akan membelaku”, jawab Rasul sabar.

«  Bukankah engkau telah menjanjikan bahwa kita akan datang ke Baitullah untuk melakukan thawaf ? », cecar Umar.

« Ya, benar. Tetapi apakah aku mengatakan bahwa engkau akan datang ke sana tahun ini ? Engkau pasti akan datang dan thawaf di Baitullah », tegas Rasul.

Umar tetap bimbang. Maka iapun mendatangi Abu Bakar ra. Namun Abu Bakar menjawab pertanyaan Umar persis seperti apa yang dikatakan Rasulullah.

Rasulullah tidak akan menyalahi perintah Rabbnya dan Allahpun tidak akan membiarkannya”, jawab Abu Bakar.

Tak lama kemudian Rasulullah memanggil Umar dan membacakan ayat yang baru saja diturunkan-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni`mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”.(QS.Al-Fath(48):1-3).

Ya, perjanjian Hudaibiyah sebenarnya adalah sebuah kemenangan besar bagi umat Islam. Ini adalah pengakuan pertama Quraisy terhadap keberadaan kaum Muslimin. Allah, Yang Maha Cerdas dan Maha Teliti  yang menuntun Rasulullah agar bertindak demikian. Ini adalah cara Allah mempersiapkan pembukaan pintu Mekah agar Islam dapat masuk tanpa perang, secara damai dan merasuk ke dalam hati sanubari semua penduduk Mekah yang lama dalam keadaan kesyirikannya.

Di kemudian hari Umar berkata, “ Aku terus berpuasa, shalat, bersedekah dan membebaskan budak ( sebagai karafat) dari apa yang pernah aku lakukan karena takut akan ucapan yang pernah aku lontarkan pada hari itu”.

Namun demikian kekecewaan sebagian besar sahabat yang belum dapat menerima bahwa perjanjiian tersebut sebenarnya adalah kemenangan tetap masih terlihat. Karena ketika Rasulullah memerintahkan agar mereka bercukur dan menyembelih hewan kurban yang mereka bawa sebagai tanda selesainya umrah, tidak mereka indahkan.

Akhirnya Rasulullah, atas usul Ummu Salamah, umirul Mukminin yang ketika itu menyertai Rasulullah,  tanpa banyak kata, langsung bercukur dan menyembelih kurban yang dibawanya. Maka para sahabatpun, tanpa kecuali, langsung mengikuti apa yang diperbuat Rasulullah. ( Baca juga : https://vienmuhadi.com/2009/03/16/keteladanan-rasulullah-saw-dalam-memperlakukan-perempuan/ ).

Setahun kemudian yaitu pada bulan Dzulqai’dah tahun ke 7 H, Allah swt memenuhi janji-Nya. Rasulullah beserta 2000 umat Islam memasuki Mekah dan melaksanakan umrah.  Seluruh sahabat yang ikut dalam perjanjian Hudaibiyah tak satupun yang tertinggal kecuali yang wafat dalam perang Khaibar sekembali dari perjanjian tersebut.

” Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang hari ini menyaksikan kekuatan yang datang dari hadirat-Nya”, begitu bunyi doa Rasulullah ketika tawaf sambil mengangkat tangan kanannya.  Kemudian mencium hajar aswad lalu berjalan cepat sambil mengelilingi Ka’bah.

Sebelumnya Rasulullah dan para sahabat memang sempat khawatir bahwa kedatangan mereka kali inipun akan tetap dihalangi orang-orang Quraisy. Namun Allah swt segera menurunkan ayat-ayat yang isinya  mengizinkan Rasulullah memerangi orang-orang tersebut meski di tanah Mekah sekalipun. Karena menghalangi seseorang menjalankan ibadah sama dengan menyebar fitnah.

” Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.(QS.Al-Baqarah(2):191-192).

Dan atas tekad kuat kaum Muslimin, Allah swt memberikan ridho-Nya hingga Rasulullah dan para sahabat dapat menjalankan ibadah tersebut tanpa hambatan. Tampak bahwa Allah telah memasukkan rasa gentar dan takut kepada orang-orang Quraisy untuk mengganggu kedatangan kaum Muslimin.

(Bersambung)

Paris, 7 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Kubah, menara, mihrab dan mimbar adalah 4 hal yang umumnya menjadi tanda sebuah masjid. Meski sebenarnya bukan menjadi keharusan. Sebaliknya patung dan gambar mahluk hidup haram hukumnya. Itu sebabnya ketika Rasulullah memasuki Ka’bah setelah penaklukan Makkah ( Fathu’ Makkah) hal pertama yang dilakukan Rasulullah adalah menurunkan patung-patung dan menghapus gambar-gambar yang ada didalam bangunan kubus tersebut.

masjd Ali Pasha, Kairo

masjd Ali Pasha, Kairo

Pada masa kejayaan Islam, masjid tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Saking banyaknya masjid di kota Kairo yang ditaklukan pada tahun 640 M, kota ini memperoleh gelar negri 1000 menara. Begitu juga kota-kota di Andalusia Spanyol yang selama 7 abad memang pernah berada di bawah kekuasaan Islam. Masjid dan madrasah terlihat dimana-mana. Bahkan hingga kini bila kita berkendaraan di wilayah tersebut menara-menara tua bekas masjid masih terlihat dari kejauhan.

Katedral Jerez, Spanyol

Katedral Jerez, Spanyol

IMG_9466

Katedral Palermo, Sisilia

IMG_3808

Katedral Malaga – Spanyol

Peninggalan masjid dan madrasah di Spanyol hingga kini masih bisa disaksikan. Sejumlah katedral  seperti katedral di Sevilla, Cordoba, Granada, Toledo, Malaga dan  Saragosa adalah bekas masjid yang sudah direnovasi sedemikan rupa. Demikian pula katedral-katedral di Sisilia, Italia. Bahkan mihrabnyapun di sebagian kecil gereja-geraja tersebut masih ada yang dipertahankan.

( Baca https://vienmuhadi.com/2009/11/10/menilik-jejak-islam-di-eropa-2-andalusia/

marbella-mosque-king-abdul-aziz-21860387

Masjid Marbella – Spanyol

Sayang ketika berada Andalusia Spanyol, kami tidak sempat mengunjungi masjid cantik King Abdul Aziz, nama lain masjid Marbella, yang dibangun megah di perbukitan kota pantai  Marbella itu.

 

2009-11-Granada Alhambra_27

Mezquita Del Cristo De La Luz, Toledo, Spain

Mezquita Del Cristo De La Luz, Toledo, Spain

Alhambra5Selain ke 4 hal diatas, kaligrafi yang menjadi ciri khas masjid juga bisa dijadikan tanda bahwa sebuah bangunan tadinya adalah masjid. Pada masa itu masjid-masjid selain jamaahnya membludak juga indah. Masjid besar selain dilengkapi dengan madrasah lengkap plus perpustakaannya dan pasar yang tidak seberapa jauh, biasanya juga diperindah dengan taman dengan air mancur air mancurnya.

Sebaliknya ada hadist yang mengatakan bila masjid hanya diperindah dan orang berlomba membangun masjid namun tidak meramaikannya ( tidak menggunakannya untuk shalat dan kegiatan keagamaan lainnya) maka itu adalah salah satu tanda datangnya hari Kiamat.

HR.Khamsah, kecuali Imam Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari jalan Anas ra. dari Nabi saw. “Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum orang-orang saling berbangga diri dengan masjid-masjidnya”.

Di negri kita tercinta, Indonesia, tampaknya tanda-tanda tersebut mulai terlihat. Orang-orang kaya  berlomba membangun masjid yang bagus dan indah namun tidak banyak orang yang mengerjakan shalat di dalamnya.

Masjid Milan, Italia

Masjid Milan, Italia

Masjid di Moskow, Rusia

Masjid di Moskow, Rusia

Masjid Madrid, Spanyol

Masjid Madrid, Spanyol

masjid di London

masjid di London

Masjid Petersburg, Rusia

Masjid Petersburg, Rusia

Kazan Mosque, Rusia

Kazan Mosque, Rusia

Terbalik dengan apa yang terjadi di benua Eropa. Masjid di daratan Eropa yang lumayan indah bisa dihitung dengan jari. Tetapi ini harus kita syukuri. Karena sungguh tidak mudah membangun rumah ibadah bagi umat Islam di benua ini. Apalagi pasca tragedi September 2001. Sejak beberapa tahun lalu Swis, negara yang dikenal dengan sebutan Euro Islam ini, melarang pembangunan menara masjid. Hal ini kemudian menjalar ke negara-negara tetangga seperti Jerman, Belanda, Belgia dan Italia.

Masjid di Roterdam

Masjid di Roterdam

Kubah Masjid Biru Istanbul, Turki

Kubah Masjid Biru Istanbul, Turki

Masjid di Kehl, Jerman

Masjid di Kehl, Jerman

Masjid Roterdam

Masjid Roterdam

Kubah masjid Jenewa

Kubah masjid Jenewa

Namun demikian, di Roterdam Belanda pada tahun 2012 dan dua masjid besar yang ada di Jenewa dan Zurich, dua kota terbesar di Swis, memiliki menara yang lumayan tinggi. Bahkan kabarnya negara yang luasnya hanya 1\3 pulau Jawa ini memiliki ratusan masjid meski hanya majid-masjid kecil. ( atau mungkin hanya mushola ??).

Mosque de ParisSementara itu Muslim di Perancis pantas bersyukur karena di Paris berdiri dengan megahnya sebuah masjid, yaitu Grande Mosquee de Paris. Masjid dengan menara setinggi 33 meter ini berdiri setelah melewati perjuangan panjang seorang diplomat Maroko kelahiran Andalusia. Masjid yang terletak dipusat kota ini akhirnya dapat berdiri dengan tegak  pada tahun 1926 M, 20 tahun setelah peletakkan batu pertamanya. Masjid ini didirikan sebagai tanda terima kasih atas pengorbanan 70.000 tentara Muslim ( sebagian besar keturunan Aljazair, Tunis dan Maroko di Afrika Utara) yang berperang untuk Perancis. Untuk diingat, ketiga negara tersebut adalah Negara bekas jajahan Perancis.

IMG_4702

IMG_4694IMG_1153IMG_1155IMG_1154cropmosque de parisMasjid ini memiliki arsitektur gaya Maure-Hispano, gaya Muslim Spanyol. Masjid Karaiyun Fez di Maroko yang menjadi inspirasi masjid ini. Seperti juga masjid-masjid di Andalusia dan istana Alhambra di Granda, Spanyol, taman dengan sejumlah air mancurnya menghiasi masjid ini.

IMG_4695IMG_4704IMG_4694IMG_4690Saat ini meski masjid terlihat kurang terawat karena kekurangan dana ( itu sebabnya, belakangan ini masjid dibuka untuk turis. Dengan biaya 3 euro para turis bisa berkeliling melihat-lihat masjid) masjid masih digunakan secara aktif. Bahkan pada waktu shalat Jumat kaum Muslimin harus berdesak-desakan mencari tempat. Tidak saja jamaah lelakinya namun juga jamaah perempuannya. Masjid ini juga dilengkapi dengan madrasah, perpustakaan, hamam dan restoran.

IMG_4696IMG_4700Suatu ketika, ba’da shalat Jumat, seorang gadis ber-abaya hitam menghampiri saya. Rupanya ia penasaran dengan Al-Quran yang saya baca. Ia menanyakan mengapa Al-Quran saya banyak keterangan-keterangannya. Kebetulan saya hari itu memang membawa Al-Quran dimana tertulis Asbabun- nuzul ayat. Ia juga terheran-heran ketika saya terangkan bahwa kalimat yang ada di bawah setiap kata itu bukan cara membacanya namun artinya.

“ Jadi anda bisa membaca huruf-huruf Arab tersebut?”, tanyanya terheran-heran. Saya katakan bahwa rata-rata Muslim Indonesia bisa membaca Al-Quran walaupun tidak tahu artinya. Dalam hati, saya berkata, malu juga hati ini .. masak bertahun-tahun shalat minimal 5 kali sehari dan mengaji namun tidak juga faham artinya … 😦  ..

Namun lebih lucu lagi, gadis keturunan Tunisia kelahiran Paris itu berkata bahwa ia dan rata-rata teman Muslim Arabnya malah tidak bisa membaca huruf-huruf Al-Quran! Ia membaca Al-Quran berkat bantuan tulisan latin dibawahnya. Olala ..

Tetapi ia bersyukur, beberapa tahun belakangan ini Mosquee de Paris membuka kursus tajwid. Juga kursus agama dan bahasa Arab. Setiap Sabtu sekarang ia mengikuti berbagai ilmu agama di masjid tersebut. “ Gratis pula .. “, katanya senang. Ia menambahkan dari hari ke hari makin banyak saja orang Perancis yang tertarik dengan ajaran Islam. Allahuakbar ..

Berikut beberapa masjid lumayan besar kota-kota utama Perancis yang berhasil kami tandangi.

Mosque de Bordeaux

Mosque de Bordeaux

Mosque de Pau - France

Mosque de Pau – France

Masjid Genevilliers, Perancis

Masjid Genevilliers, Perancis

Masjid di Evry Courcouronnes Paris

Masjid di Evry Courcouronnes Paris

IMG_1992

Masjid Strassbourg (2012)

Masjid Strassbourg (2012)

Masjid Lille, Perancis

Masjid Lille, Perancis

Sebenarnya Grande Mosquee de Paris bukan satu-satunya masjid di Paris. Melalui http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_mosques_in_Europe saya menemukan bahwa masjid di Paris bahkan Perancis dan Eropa ini cukup banyak.  Namun ketika kami berjalan-jalan dan mencoba mencari lokasi masjid, dengan bantuan GPS, sesuai list tersebut, ternyata kami sulit menemukannya. Karena ternyata sebagian besar masjid itu hanya masjid kecil yang letaknya amat terpencil dan seringkali tidak terlihat dari luar. Bahkan tulisan dan tanda-tandanyapun tidak ada. Kita baru bisa menemukannya bila kebetulan berpapasan dengan Muslim lain,menanyakannya, dan sangat beruntung bila ia mengetahuinya !

Begitupun masjid dimana suami saya selalu melakukan shalat. Masjid ini adalah bangunan apartemen 3 lantai milik Mulim yang diwakafkan.  Karena tidak memadai akhirnya shalat Jumat terpaksa dilaksanakan dua kali. Bahkan dibeberapa tempat dan kota( seperti Marseilles dimana jumlah Muslim dikabarkan amat banyak)  sejumlah Muslim terpaksa melaksanakan shalat Jumat di jalan-jalan. Hal inilah yang hingga detik ini menjadi pemicu debat berkepanjangan di parlemen. Hampir setiap hari televisi menyiarkan berita dan debat mengenai Islam, mengenai penting tidaknya pemerintah mendirikan masjid dll.

Saya pikir, ‘ Inikah yang disebut tipu daya Allah? “. Tujuan mereka ingin menjelekkan dan menjauhkan masyarakat yang makin lama makin tertarik dengan ajaran Islam. Namun nyatanya dengan sering munculnya perdebatan mengenai Islam justru makin banyak lagi orang Perancis yang memeluk Islam! Tidak hanya di Perancis tetapi juga di Inggris, Belanda dan negara-negara Eropa lainnya.

« Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya ».(QS. Ali Imran (3) :54).

Majid Toulouse, Perancis

Majid Toulouse, Perancis

Masjid Lyon, Perancis

Masjid Lyon, Perancis

Lain lagi dengan masjid di Toulouse, Perancis Selatan. Masjid yang nyaris siap pakai tersebut di protes masyarakat sekitar. Padahal masjid tersebut sengaja di bangun di lokasi yang tidak jauh dari masjid lama yang kecil dan terpencil.

Kabar terakhir dari Marseilles. Yves Moraine, pemimpin partai berkuasa UMP seperti dikutip BBC belum lama ini menerangkan bahwa lebih baik memberi tempat berkumpul ( maksudnya masjid ) yang terbuka dan terlihat secara jelas kepada kaum Muslimin dari pada mereka harus diam-diam berkumpul dan membicarakan serta merencanakan sesuatu ( maksudnya terorisme) di gudang-gudang atau apartemen lusuh. Karena, masih menurutnya, pemerintah akan lebih mudah mengawasi gerak-gerik kaum Muslimin. ( Baca : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/07/13/124461-muslim-marseille-menyulap-katredal-menjadi-masjid ).

IMG_0420

Masjid di Dublin, Irlandia

Untuk itu, Notre Dame de la Garde, katedral yang berdiri di atas ketinggian Marseille, kabarmya akan dihibahkan untuk  umat Islam. Katedral yang memiliki corak bergaris hitam putih mirip masjid ini memang terlihat kurang terawat karena lama ditinggalkan umatnya. Sejarah mencatat, betapa banyaknya gereja tua di Eropa yang tak terawat akhirnya dibeli oleh kaum Muslimin kemudian dijadikan masjid. Masjid di Dublin Irlandia adalah salah satu contohnya. Subhanallah …

Bila hal ini benar-benar terlaksana masjid agung Marseille ini bakal mampu menampung 7000 jamaah. Dengan demikian masjid yang rencananya akan dilengkapi perpustakaan raksasa ini bakal menjadi masjid terbesar di seantero Perancis.

Namun banyak pihak yang menentang rencana ini. Politikus kawakan Marie Le Pen dan putrinya Marine Le Pen yang dikenal sangat anti Islam tentu saja yang paling merasa jengkel bagai kebakaran jenggot.

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci”.(QS.Ash-Shaf(61):8)

Tampaknya saudara-saudara Muslim kita di Perancis masih harus bersabar menanti Islam menjadi tuan rumah di negri Sarkozi ini. Agar pemerintah segera mengizinkan warga Muslimnya memiliki rumah sendiri, yaitu masjid. Bersabar agar dapat kembali ke habitat sebagaimana ikan bersabar menanti dimasukkan kembali ke lautan atau keburu menggelepar kehabisan oksigen ..  Apalagi, jajak pendapat terakhir mengatakan bahwa Marine Le Pen berhasil mengungguli sang presiden berkuasa !

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 2 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat.  Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”.(QS. An-Nur(24):36-37).

Itulah masjid, tempat yang dimuliakan dimana didalamnya para hamba yang takwa menyebut-nyebut nama-Nya, meng-agung-kan-Nya.

Masjid bagi umat Islam bukanlah sekedar lambang atau tempat suci untuk mengerjakan shalat. Namun juga tempat untuk mengerjakan segala sesuatu yang sifatnya demi mengagungkan dan membesarkan Sang Khalik, Allah  azza wa jalla. Meski tanpa itu semuapun Allah swt tetap dalam ke-Agung-an dan ke-Besar-an-Nya.

Masjid adalah rumah yang paling mulia. Tempat ini merupakan tempat paling baik bagi umat Islam untuk berkumpul melaksanakan shalat, membaca ayat-ayat suci Al-Quran, memahami dan mengkajinya.  Dengan berkumpul di masjid minimal 5 kali sehari, tua muda, kaya miskin dan apapun kebangsaan serta warna kulitnya akan terbentuk ikatan persaudaraan yang kuat dengan landasan cinta dan patuh hanya kepada-Nya.

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat”.

Masjid adalah tempat terbaik untuk berdoa dan mendirikan shalat, baik shalat sendiri apalagi shalat jamaah. Di dalam masjid inilah diharapkan terbangun ukhuwah dan mahabbah antar sesama kaum Muslimin. Dan semua ini diikat karena ketaatan dan kecintaan kepada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla Yang Esa.

Maka adalah wajar bila umat Islam dimanapun berada, sampai kapanpun, akan selalu memerlukan keberadaan masjid. Perumpamaan kaum Muslimin dengan masjidnya adalah laksana ikan di dalam lautan. Ia akan mati bila harus dikeluarkan dari habitat aslinya.

Masjid-Quba

Masjid Quba

Itu sebabnya hal pertama yang dibangun begitu Rasulullah hijrah ke Madinah adalah membangun masjid. Masjid tersebut adalah masjid Quba yang terletak 5 km di sebelah tenggara Madinah. Masjid ini dibangun pada tahun 1 H atau tahun 622 M, hanya beberapa saat sebelum memasuki Madinah.

Rumah ibadah tersebut amat sangat sederhana. Bahkan pembangunannyapun hanya dalam hitungan hari. Karena bangunan masjid memang tidak rumit. Tidak perlu hiasan, lukisan dan sebagainya. Dari sini jelas terlihat betapa penting dan tingginya kedudukan masjid itu.

« … Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”.(QS.At-Taubah(9) :108).

Masjid Quba yang kita lihat saat ini telah berubah jauh dari awal pembangunannya. Masjid ini setiap hari selalu ramai dikunjungi jamaah yang melakukan ibadah haji maupun umrah. Meski demikian berdasarkan hadist dibawah ini, masjid Quba bukan termasuk ke dalam 3 masjid yang memiliki ke-utama-an  bagi umat Islam.

Dari Abu Ad-Darda’ ra, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada sholat di masjid-masjid lainnya. Sholat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan sholat di Masjidil Aqsa lebih utama lima ratus kali lipat.” (HR Ahmad).

1. Masjidil Haram.

Masjidil Haram.png_thumbMasjidil Haram di Mekah adalah rumah ibadah di dunia  yang pertama kali didirikan. Dasar Rumah ibadah ini sudah ada sejak zaman nabi Adam as. Nabi Ibrahim as dibantu putranya nabi Ismail as meneruskan pendiriannya beberapa ratus kemudian ( atau ribu tahun ?? ) karena adanya perintah dari Sang Pemilik, Allah swt.

“ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS.Al-Baqarah(2):127).

sai 2011

Sa’i

Masjidil Haram Desember 2015P1010016Keutamaan masjid ini adalah karena adanya Ka’bah di dalam masjid tersebut. Di masjid inilah setiap tahun pada bulan Zulhjjah umat Islam melaksanakan ibadah haji. Sementara setiap waktu umat Islam datang membanjiri bait Allah ini untuk melaksanakan ibadah umrah.

Masjid ini pertama kali diperluas pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, yaitu pada tahun 17 H atau 639 M. Saat ini Masjidil Haram yang mempunyai luas 328.000  meter persegi dapat menampung 730.000 jamaah dalam satu waktu sholat berjamaah. Pada musim haji pemerintah Arab Saudi mampu menerima lebih dari 1.5 juta tamu Allah belum termasuk jamaah tuan rumah. Indonesia sendiri tahun ini dikabarkan mendapat tambahan kuota haji sebesar 10 ribu hingga totalnya mencapai 211 ribu jamaah.

2. Masjid Nabawi.

masjid-nabawi

Masjid Nabawi didirikan begitu Rasulullah usai mendirikan masjid Quba dan shalat di dalam masjid tersebut. Dari Quba beliau saw segera meneruskan perjalanan. Di ambang pintu Madinah ( dulu Yatsrib), dimana penduduk kota mengelu-elukan kedatangan sang utusan, Rasulullah membiarkan untanya berjalan sendiri tanpa kendali hingga akhirnya berhenti di suatu tempat. Tempat itu adalah tanah milik dua anak yatim piatu. Ini adalah petunjuk dan kehendak Allah swt. Rasulullah kemudian membeli tanah tersebut dan menjadikannya masjid. Itulah masjid Nabawi atau masjid Nabi.

Nabawi1 (2)Di dalam masjid ini terdapat makam nabi yang dinamakan Raudhah yang artinya taman surga. Raudhah dapat dengan mudah dikenali dengan melihat kubah hijau yang terletak di bagian selatan masjid, disamping mimbar dimana imam biasa memimpin shalat.

Pada awal pendiriannya masjid ini hanya berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m. Dindingnya terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka. Rasulullah saw turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para sahabat dan kaum muslimin.

Rasulullah dan keluarga mendiami salah satu sisi masjid sederhana ini. Sementara sejumlah fakir miskin yang tidak memiliki rumah menempati salah satu bagian lain. Masjid juga merangkap madrasah yaitu tempat belajar. Didalam masjid inilah para sahabat selalu berkumpul. Dari kegiatan ibadah seperti shalat, mengkaji ayat-ayat, memotong kurban, membicarakan masalah keseharian penduduk hingga membahas strategi perang.

Islam adalah pandangan hidup, way of life. Karenanya tidak ada pemisahan antara kehidupan spiritual dengan kehidupan sosial dan politik. Semua menjadi suatu kesatuan. Kehidupan dunia bagi umat Islam adalah karena-Nya dan untuk-Nya.

Selama beberapa waktu masjid Nabawi tetap dalam keadaan demikian hingga akhirnya direnovasi dan diperluas untuk pertama kalinya pada masa kekhalifahn Umar bin Khattab pada tahun 17 H. Saat ini masjid memiliki luas hampir 100.000 m², belum termasuk lantai atas yang mempunyai luas 67.000 m². Masjid Nabawi saat ini dapat menampung sekitar 535.000 jemaah setiap harinya.

Barangsiapa mendatangi masjidku ini dan ia tidak mendatanginya melainkan  untuk mempelajari suatu kebaikan dan mengajarkannya maka kedudukannya laksana pejuang fi sabilillah. Namun barangsiapa datang bukan dengan tujuan tersebut maka ia seperti orang yang melihat harta orang lain”. (HR Bukhari).

3. Masjidil Aqsho.

Selanjutnya adalah Masjidil Aqsho. Masjid ini adalah kiblat pertama umat Islam sebelum dipindahkan ke Makah.

“ … Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. … “(QS.Al-Baqarah(2):143).

Dari Al-Barra’ bin Azib ra, ia berkata, “Kami sholat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, kemudian beliau mengalihkan arah ke kiblat (di Mekkah).” (HR Bukhari dan Muslim).

Masjid As-Saqrah

Bagian dalam Masjid Al-Aqsho

Bagian dalam Masjid Al-Aqsho

Bagian dalam kubah As-Sakrah sedang di renovasi

Bagian dalam kubah As-Saqrah yg sedang di renovasi

kubah masjidil Aqsho

Masjidil Aqsho

Masjid suci ke 3 setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ini terletak di Yerusalem Timur. Masjidil Aqsho terletak di dalam sebuah kawasan yang dinamakan Haram al Quds al Syarif. Di dalam  kawasan ini berdiri 2 masjid, yaitu Masjidil Aqsho yang berkubah abu-abu, dan Masjid As-Saqrah ( Masjid Kubah Batu/ Dome of the Rock) yang kubahnya ke-emas-an dimana di dalamnya terdapat “batu terbang”.

https://teguhimanprasetya.wordpress.com/2010/02/12/batu-terbang-masjid-al-aqsha-dan-kubah-emas/

Saat ini,  sungguh sulit bagi umat Islam untuk menunaikan shalat didalam rumah suci ini. Pemerintah pendudukan Yahudi yang sejak puluhan tahun menguasai negri ini adalah penyebabnya. Itu sebabnya umat Islam begitu gigih berjuang agar Zionis Israel segera hengkang dari tanah yang mereka jajah dan duduki sejak tahun 1967 tersebut.

Bagaimana dengan masjid di Perancis/Eropa ?

( Click : https://vienmuhadi.com/2011/03/02/mengintip-masjid-di-perancis-2/ )

Paris, 1 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »