Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Gunung Merapi di Jawa Tengah sejak 3 November 2010 hingga hari ini, 7 November   2010 setiap hari tanpa henti memuntahkan lahar dan hawa panasnya. Aktifitas gunung yang mulai meletus tanggal 26 Oktober 2010 ini makin hari terlihat makin meningkat.

Bahkan kekuatan letusan tersebut dikabarkan mendekati atau hampir sama dengan letusan yang terjadi pada tahun 1872 yang selama ini dianggap sebagai letusan terbesar gunung ini. Rangkaian letusan ini telah mengancam 32 desa di sekelilingnya dan memakan korban nyawa lebih dari 100 orang.

Sementara letusan yang terjadi pada  tahun 1930, dilaporkan berhasil menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, Menurut catatan,  ini adalah letusan dengan catatan korban terbesar hingga saat ini.

Gunung Merapi yang memiliki ketinggian 2.968 m adalah satu dari gunung api teraktif di Indonesia. Lereng selatan gunung ini berada di kabupaten Sleman, wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sisanya  berada di dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu sisi barat di kabupaten Magelang, kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur serta kabupaten Klaten di sisi tenggara.

Gunung ini sangat berbahaya karena mengalami letupan kecil 2-5 tahun sekali dan mengalami letupan besar 10-15 tahun sekali. Dengan demikian terhitung sejak tahun 1548 M, Merapi telah meletus 68 kali. Padahal gunung ini dikelilingi pemukiman yang sangat padat penduduk. Kota Yogyakarta tercatat sebagai kota besar yang terdekat, yaitu sekitar 27 km dari puncaknya. Sementara puluhan desa di lerengnya hingga ketinggian 1700 m hanya berjarak sekitar 4 km.

Puncak Merapi yang sekarang, yaitu Puncak Anyar menurut catatan baru mulai terbentuk sekitar 2000 tahun yang lalu. Gunung ini terletak di  Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat di tahun 1006, 1786, 1822, 1872 dan 1930. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah pulau Jawa diselubungi abu, Ahli geologi Belanda, van Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebut menyebabkan pusat kerajaan Medang (Mataram Hindu) harus berpindah ke Jawa Timur.

Sementara itu letusan-letusan yang terjadi pada tahun 2010 ini selain menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km juga mengeluarkan muntahan awan panas dan larva pijar secara tidak beraturan. Rangkaian letusan ini juga teramati sebagai penyimpangan dari yang selama ini terjadi. Karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 50 km.

Kota Yogyakarta tertimpa hujan kerikil, pasir  dan abu vulkanik. Hujan abu vulkanik  dilaporkan tidak saja mencapai Purwokerto dan Cilacap namun juga Tasikmalaya, Bandung dan Bogor di Jawa Barat. Selanjutnya mulai teramati adanya titik api diam di puncaknya. Ini menandakan  dimulainya suatu fase baru yaitu bahwa magma telah mencapai lubang kawah.

Saat ini kawah berdiameter 400 meter yang terbentuk di puncak Merapi terbuka ke selatan atau mengarah ke Kali Gendol. Melalui sungai inilah lahar dingin mengalir dan melahap segala apa yang ada di sekitarnya. 12 sungai yang berhulu di gunung ini tampaknya harus siap menerima muntahan lahar yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi

Tradisi masyarakat Jawa.

Daerah istimewa Yogyakarta atau DIY adalah satu dari dua propinsi Republik Indonesia yang mempunyai status istimewa. Propinsi yang menjadi wilayah Indonesia sejak tahun 1950 ini disebut istimewa karena sejatinya ia adalah sebuah kesultanan, yaitu kesultanan Yogyakarta.

Kesultanan ini adalah warisan kerajaan Mataram Hindu yang berdiri pada abad 8. Pada masa itulah sejumlah candi seperti candi Borobudur, candi Prambanan, candi Mendut dll dibangun. Candi-candi tersebut merupakan tempat peribadatan pemeluk agama Hindu dan Budha yang ketika itu memang menjadi agama resmi kerajaan. Berbagai kegiatan ritual diadakan di tempat suci ini. Bahkan candi Borobudur yang ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh PBB beberapa waktu lalu hingga saat ini dilapokan sebagai tempat suci terbesar umat Budha di dunia. Candi ini hanya terletak 40 km dari Yogyakarta.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa raja-raja mereka adalah titisan para dewa. Itu sebabnya mereka meyakini bahwa roh para raja yang telah wafat sebenarnya tidak pernah meninggalkan dunia nyata. Mereka bahkan tetap memiliki kekuasaan dan mempunyai kerajaan tersendiri. Itulah kerajaan ghaib.

Tempat-tempat tertentu seperti gunung Merapi dan pantai Samudra Selatan adalah contohnya. Bila Nyi Roro Kidul dipercaya sebagai satu-satunya penguasa pantai  Samudra Selatan maka kerajaan gunung Merapi lain lagi. Masyarakat Jawa meyakini bahwa setidaknya ada 9 jin yang menguasai gunung ini.Mereka adalah Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah Lembang Sari, Mbah Nyai Gadhung Wikarti, Kyai Petruk dan Kyai Megantoro. Masing-masing tokoh tersebut dipercaya memiliki tugas masing-masing.

Ntah ini hanya mitos belaka atau tidak namun nyatanya hingga kini keraton Yogyakarta terbiasa menyelenggarakan berbagai ritual  rutin diantaranya upacara Labuhan. Upacara yang diadakan dalam rangka memperingati naik tahtanya  sang sultan ini tujuannya antara lain adalah agar gunung Merapi dan laut selatan  tidak ‘ngambek’, tanahnya tetap subur menghasilkan padi, keraton Yogya tetap langgeng dan sultan sehat walafiat.

Dalam ritual ini berbagai sesajen mulai dari pakaian sultan, potongan rambut, guntingan kuku hingga bunga-bungaan, kemenyan dan jajan pasar dipersiapkan dengan baik. Selanjutnya setelah doa-doa selesai dibacakan sesajen  tersebut dilempar / dilarung ke laut  sebagai persembahan kepada penguasa laut atau gunung ! Ini adalah tugas yang biasa dipimpin mbah Marijan, sang juru kunci Merapi yang beberapa hari lalu meninggal terkena awan panas Merapi.

(Bersambung ).

Untuk baca lanjutannya, click :

https://vienmuhadi.com/2010/11/09/hikmah-dibalik-tragedi-merapi-pentingnya-menegakkan-akidah/

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Medang

http://news.okezone.com/read/2010/11/08/340/390756/raja-jogja-langgar-perjanjian-pariyan-negari

http://us.detiknews.com/read/2010/11/02/124552/1482554/158/prof-heru-nugroho-mitos-merapi-sengaja-dipelihara

http://us.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/08/tgl/25/time/131150/idnews/661899/idkanal/10

Read Full Post »

Sambungan  Hikmah dibalik tragedi Merapi (1).

Masuknya Islam di Jawa.

Ada beberapa pendapat tentang masuknya Islam ke Indonesia. Umumnya orang meyakini bahwa Islam masuk pulau Jawa pada abad 14 melalui para pedagang Gujarat – India. Namun ada juga yang berpendapat pedagang-pedagang tersebut datang dari Persia dan Yaman. Namun Hamka berpendapat lain, bahwa sebetulnya Islam telah masuk Idonesia jauh sebelum itu, yaitu pada abad 7. Penyebaran ini dilakukan pada masa khalifah Ustman bin Affan yang memerintahkan Muawiyah bin Abu Sufyan agar mengirim utusan ke Jepara ( kerajaan Kalingga).

Namun demikian Islam baru menyebar ke seluruh pelosok Jawa pada sekitar abad 14. Yaitu pada masa para wali yang Sembilan atau yang dikenal dengan Wali Songo. ( 1404-1650). Mereka adalah Mualana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati.

Para wali yang rata-rata masih bersaudara atau mempunyai hubungan guru dan murid ini tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa.

Berbeda dengan cara dakwah Rasulullah dan para sahabat yang mengutamakan akidah, para wali ini berdakwah dengan memasukkan ajaran Islam ke dalam tradisi Hindu Budha yang memang sudah mendarah daging dalam seluruh lapisan masyarakat kerajaan Mataram  ketika itu.

Karena para wali tersebut menganut paham yang cenderung sufistik maka merekapun merasa bahwa kesenian dan kebudayaan adalah sarana dakwah yang paling cocok  untuk memperkenalkan ajaran Islam. Kesenian wayang kulit dan tembang suluk adalah salah satu contohnya. Wayang adalah berasal dari kata Ma Hyang yang artinya menuju kepada yang Maha Esa, Sedangkan Suluk yang secara harfiah berarti menempuh (jalan) dimaksudkan sebagai menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah.

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”. (QS.Al-Baqarah(2):165).

Dakwah ini memang terbukti ampuh. Toleransi terhadap kepercayaan lama yaitu Hindu dan Budha yang begitu tinggi, terhadap tradisi nenek moyang, hukum adat dan berbagai ritual lainnya ternyata berhasil menarik para raja kala itu untuk memeluk Islam. Karena dengan demikian para raja ini tidak merasa terancam kehilangan kedudukan dan kekuasaan. Itu sebabnya orang Jawa walaupun Muslim hingga kini masih bangga dengan keningratannya, priyayi. ( darah keluarga kerajaan). Perbedaan tingkatan dalam masyarakat ini adalah warisan agama Hindu yang disebut kasta. Walaupun sebenarnya tidak persis sama karena istilah priyayi sebenarnya dipopulerkan penjajah Belanda dengan tujuan menjauhkan raja dari rakyatnya.

Tampaknya inilah yang menjadi perbedaan mencolok antara Muslim pada umumnya dengan rata-rata Muslim Jawa. Muslim Jawa yang seperti ini sering disebut dengan istilah abangan atau Muslim yang tidak menjalankan ajaran Islam secara tegak alias bengkok karena mencampur adukkannya dengan ajaran Hindu-Budha dan tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Walisongo

http://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Indonesia

Islam dan tragedi Merapi.

Telah diriwayatkan bahwa Walid bin Mugirah, ‘As bin Wail As Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi saw. Mereka menyatakan, “Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun. Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula bersama-sama kami dan engkau akan mendapat bagian pula daripadanya”. Beliau menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya”.Lalu turunlah surah Al Kafirun sebagai jawaban terhadap ajakan mereka.

«  Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah, agamaku”.(QS.Al-Kafirun(109) :1-6).

Karena sikap tegas dan tidak kenal kompromi inilah Rasulullah dimusuhi dan diperangi orang-orang Quraisy. Maka demi tegaknya ajaran Islam, peperangan demi peperanganpun akhirnya terpaksa dijalani. Sebagai hamba yang dipercaya menerima ayat-ayat Al-Quran tentu saja Rasulullah tahu betul apa yang dikehendaki Allah azza wa jalla,Sang Khalik, pemilik tunggal jagad raya ini.

Itulah Akidah. Ia tidak boleh dicampur adukkan oleh paham apapun. Penyembahan hanya kepada-Nya, murni hanya kepada Allah swt. Tidak ada kebengkokan dalam Islam. Tidak ada perantara, tidak ada kerja sama, tidak ada sekutu, tidak ada anak bagi-Nya. Semua orang di sisi Allah adalah sama yaitu para hamba, para abdi yang tergantung kepada-Nya.

Oleh karenanya segala perbuatan dan amal sebaik apapun bila dilakukan bukan karena-Nya dan tidak dalam rangka mencari ridho Allah swt maka tidak ada gunanya diakhirat nanti.

«  Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya ».(QS.An-Nur(24) :39).

Namun bila saat ini mungkin sebagian orang menganggap bahwa kekuatan ghaib ( jin) begitu besar dan berhasil mempengaruhi mereka, ini karena mereka memang menyerahkan dan  mempercayakan urusan mereka kepada para jin. Allah swt yang memberi izin kepada jin-jin tersebut untuk merealisasikan harapan orang-orang yang menjadikan jin/syaitan sebagai pemimpin. Mereka itulah yang disebut orang yang zalim.

“Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”.(QS.An-Nahl(16):99).

« Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu (syaitan) terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat ».(QS.Al-Hijr(15) :42).

Tidakkah kita memperhatikan betapa banyaknya ayat-ayat yang menunjukkan kemurkaan Allah swt terhadap kaum yang berbuat kesyirikan, yang menduakan-Nya, yang menjadikan syaitan/thaghut sebagai pemimpin, yang meminta bantuan kepada selain Allah ?

« Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya ».(QS.Hud(11) :94).

«  Adapun kaum `Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum `Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka ».(QS.Al-Haqqah(69) :6-8).

Gunung Merapi dan bencana apapun yang terjadi di dunia ini terjadi atas kehendak-Nya, karena izin-Nya. Bukan karena jin atau penguasa ghaib manapun. Tidak juga mahluk ghaib yang taat seperti para malaikat.  Karena para malaikatpun hanya menjalankan tugas yang dibebankan Yang Maha Kuasa Yang Esa, Allah swt.

Bencana juga terjadi bukan semata karena azab. Namun juga bisa sebagai peringatan bagi hamba-hamba yang disayangi-Nya karena Ia ingin kita kembali ke jalan yang benar. Sang Khalik tidak ingin kita terus terombang-ambing dalam kesesatan dan ketidak-tahuan.

« Andaikata mereka Kami belas kasihani, dan Kami lenyapkan kemudharatan yang mereka alami, benar-benar mereka akan terus menerus terombang-ambing dalam keterlaluan mereka”.(QS.Al-Mukminun(23):75)

Sejak ratusan tahun gunung Merapi telah berkali-kali meletus. Berarti telah berkali-kali pula Allah swt memperingatkan masyarakat Jawa yang suka mencampur-adukkan ajaran yang dibawa Rasulullah saw untuk kembali kepada kemurnian penyembahan, yaitu meminta tolong hanya kepada Allah swt. Namun nyatanya hingga detik ini berbagai upacara ritual kesyirikan tetap saja dilaksanakan. Tidakkah ayat berikut membuat mereka sadar akan kesalahan tersebut? Lupakah mereka akan pepatah : “Sesal kemudian tidak  ada guna” atau  “Nasi telah menjadi bubur?”

Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka: “Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata karena kita mempersamakan kamu ( jin dan syaitan) dengan Tuhan semesta alam”. Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa.  Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa`at seorangpun dan tidak pula mempunyai teman yang akrab maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman“. (QS.Asy-Syu’ara(26):96-102).

Para peneliti saat ini telah memperingatkan bahwa ancaman gunung tersebut kali ini berbeda dengan ancaman-ancaman sebelumnya. Gunung tersebut telah terlihat bersiap memuntahkan  magma panasnya secara maksimal. Sudah tibakah saatnya azab itu dijatuhkan ??

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya),(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Furqon(25):68-70).

Tampaknya tugas wali songo dalam mengajarkan Islam di tanah Jawa 7 abad silam belumlah tuntas. Ini bukan hanya tugas dan kewajiban para dai namun juga kita sebagai Muslim yang baik agar mengingatkan dan mengajak saudara-saudara kita di Jawa untuk memurnikan ajaran Islam. Bila para pemimpin terlihat sibuk dengan urusan dunia mereka  biarlah mereka mempertanggung-jawabkan urusan maha berat ini di hari akhirat nanti.

Semoga tulisan ini dan juga siapapun yang mau meneruskannya kepada yang membutuhkannya menjadi saksi bahwa kita telah menjalankan perintah-Nya.

” Barangsiapa diantaramu yang melihat kejelekan maka rubahlah dengan tangannya. Maka jika tidak sanggup maka rubahlah dengan perkataanya. Dan jika tidak sanggup rubahlah dengan hatinya, dan itulah yang paling lemah imannya”. (HR. Bukhari-Muslim).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 7 November 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Azraq bin Qais ra mengatakan bahwa suatu hari ada seorang pendeta dari Najran beserta seorang pengikutnya datang menemui Nabi saw. Ketika Nabi menjelaskan kepada mereka tentang Islam, mereka berkata :  “Kami juga Muslim jauh sebelum kamu”.  Nabi menjawab , “ Kalian berdusta karena sesungguhnya ada tiga ajaran kalian yang bertentangan dengan Islam yaitu kalian menisbatkan seorang anak pada Allah, kalian memakan daging babi dan kalian menyembah berhala”. Mereka lalu bertanya, “Siapakah ayah Isa ?”. Rasul tidak segera menjawab karena menunggu petunjuk Allah.  Kemudian turunlah ketiga ayat ini “. ( Hadist shohih, menurut Hakim, Bukhari dan Muslim ).

Demikianlah (kisah `Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Qur’an yang penuh hikmah. Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu”.(QS.Ali imran(3): 58-60).

Hadist diatas menunjukkan bahwa setidaknya ada tiga kriteria yang dapat dijadikan tolok ukur Islam tidaknya seseorang.  Yang utama adalah ke-Esa-an Allah swt. Inilah ajaran Tauhid.

Selama ini Barat ( Nasrani )biasa mengkategorikan tiga agama besar dunia yaitu Nasrani, Yahudi dan Islam sebagai ajaran Monotheisme. Ajaran yang juga  mendapat julukan agama samawi ( agama langit ) ini dianggap lebih ‘modern’ dan tinggi dibanding ajaran Polytheisme yang dulu  dianut oleh banyak peradaban kuno. Polytheisme adalah ajaran yang  menganggap bahwa Tuhan itu lebih dari satu. Sementara Monotheisme adalah ajaran yang meyakini bahwa Tuhan itu hanya ada satu.

Sebuah pertanyaan yang sungguh menggelitik, bagaimana mungkin orang-orang Nasrani itu bisa mengklaim bahwa   ajaran mereka itu ajaran Monotheisme. Sementara mereka tetap menganggap Tuhan itu tiga, Tuhan mempunyai anak, Tuhan bapak Tuhan anak,  Tiga dalam satu atau apapun istilah semacam itu.

” Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS.At-Taubah(9):30)

Sementara Islam secara tegas mengecam pengakuan tersebut. Allah swt adalah Esa, Tunggal. Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada yang menyerupainya, tidak ada yang menyertainya.

“ Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.(QS.Al-Ikhlas(112):1-4).

Kembali ke hadist  diatas. Para pendeta Nasrani di masa Rasulullah mengklaim bahwa mereka Muslim bahkan jauh sebelum  Islam datang. Apa yang dimaksud para pendeta ini? Mengapa mereka mengatakan demikian? Apa yang dimaksud Muslim oleh mereka?

Muslim berasal   dari kata Salama yang berarti berserah diri. Artinya berserah diri kepada ketetapan Allah swt Yang Maha Esa, Sang Khalik yang menciptakan langit, bumi dan segala apa yang ada diantaranya. Para nabi dan rasul diutus Sang Khalik dengan misi, tugas dan tanggung jawab utama yang sama yaitu  menyembah hanya kepada-Nya tanpa  mempersekutukan-Nya dengan apapun. Orang-orang  yang demikian inilah yang dinamakan ‘ Muslim ‘.

Maka jika para pendeta mengklaim bahwa mereka adalah Muslim sementara mereka tetap mengatakan Yesus ( Isa as ) sebagai anak Tuhan, pantaskah mereka menyebut diri sebagai Muslim ?

“ Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.(QS.Al-Maidah (5):72-73).

“ Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Muslim ( yang berserah diri)”. (QS.Ali imran(3): 52).

Adalah Ibrahim as. Rasul Allah ini sering disebut sebagai bapak para nabi. Ibrahim as mempunyai 2 istri. Yang pertama adalah Sarah. Dari rahimnyalah lahir nabi Ishak as, bapak nabi Yakub as. Nabi Yakub yang memiliki nama lain Israel ini  adalah kakek moyang bangsa Yahudi. Dari garis Yakub ini lahir para nabi, diantaranya yaitu Yusuf as, Musa as, Daud as, Sulaiman as, Yahya as dan Isa as.

Sementara Siti Hajar, istri kedua Ibrahim melahirkan nabi Ismail as. Dari garis ini lahir satu-satunya nabi yaitu Muhammad saw yang merupakan nabi dan rasul penutup. Muhammad saw yang diutus menyampaikan kitab suci Al-Quran ini datang  sekitar 6 abad setelah wafatnya Isa as.

“ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”.(QS.Al-Baqarah(2):124)

Lucunya, kaum Yahudi maupun Nasrani masing-masing mengklaim bahwa Ibrahim adalah penganut agama mereka.

“ Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?  Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang  yang lurus lagi Muslim ( berserah diri kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS.Ali imran(3): 65-67).

“ Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“.(QS.Al-Baqarah(2):132)

Allah swt mengutus para nabi dan rasul dengan misi dan  tugas utama yang sama, yaitu memurnikan penyembahan hanya kepada-Nya. Mengingatkan manusia agar meyakini keberadaan Tuhan Yang Satu dan berserah diri kepada-Nya, yaitu menjadi Muslim.

“ Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-beda kan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.(QS.Ali imran(3): 84).

Demikian pula nabi Musa as yang diutus kepada bangsa Yahudi dengan membawa Taurat, nabi Isa as dengan membawa Injil mengingatkan orang-orang Yahudi agar tidak menyelewengkan dan menyembunyikan sebagian ayat-ayat Taurat. Sementara nabi Muhammad saw sebagai nabi penutup  diutus menyampaikan Al-Quranul Karim yang menyempurnakan kitab-kitab terdahulu kepada seluruh umat di akhir zaman.

Para nabi dan rasul ini selain diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah juga ditugaskan untuk mengajarkan,  menerangkan sekaligus mencontohkan bagaimana penerapan ayat-ayat tersebut. Manusia-manusia pilihan ini adalah panutan dan  merupakan contoh keteladanan bagi setiap umat yang didatanginya.   Allah swt berfirman :   “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya”.

“ Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS.Ali imran(3): 32).

Dan ta`atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat”. (QS.Ali imran(3): 132).

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu  maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”.(QS.Asy-Syuara(26):105-108).

“Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan ta`atlah kepadaku”. (QS.Asy-Syuara(26):124-126).

“Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”. (QS.Asy-Syuara(26):142-144).

“ Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku”.(QS.Zukhruf(43):63).

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”(QS.Al-Hadid(57):28).

Selain perintah meng-Esa-kanNya,ternyata  Allah juga menyuruh manusia agar melaksanakan shalat. Dari hadits kita mengetahui bahwa umat nabi Musa diperintahkan untuk melaksanakan shalat 50 kali dalam sehari. Malah tampaknya perintah shalat dengan gerakan-gerakannya yang khusus itupun telah Allah ajarkan sejak  dulu. Demikian pula perintah zakat, puasa bahkan pergi haji ke ke Bait Allah di Mekah.

“Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`”.(QS.Ali imran(3): 43).

“ Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS.Ali imran(3): 96-97).

“ Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan “. (QS.Al-Baqarah(2):141).

Begitulah Allah berfirman mengenai Muslim terdahulu melalui ayat-ayat Al-Quran yang mulia. Maka adalah kewajiban kita sebagai umat Islam, Muslim generasi terakhir  yang mendapat kehormatan menerima ayat-ayat suci Al-Quran melalui perantaraan Rasulullah Muhammad saw agar mentaati rasul-Nya yang ummi ini.

“ Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“.(QS.Al-Araf (7):158).

Dan sungguh beruntung para sahabat sejati yang dengan setia mentaati, menjaga serta melindungi Rasullullah dalam berbagai peperangan itu telah mencatat segala tindakan dan perkataan Rasul. Itulah hadits yang dengan demikian kita yang hidup 15 abad setelah wafatnya Rasulullah tetap dapat mentaati, meneladani dan mencontoh bagaimana Nabi sebagai Muslim melaksanakan perintah Allah swt … Allahuakbar !!!

( Baca juga : https://vienmuhadi.com/2009/04/15/urgensi-mematuhi-hadis/ dan

https://vienmuhadi.com/2009/06/30/hadis-dan-perang-pemikiran/ )

“ Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS.Ali imran(3): 68).

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.Al-Ahzab(33):21)

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim  ( yang berserah diri kepada Allah)”. (QS.Ali imran(3): 64).

“ Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”. (QS.Ali imran(3): 83).

“ Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS.Ali imran(3): 19).

Wallahu’alam bishshawab.

Jakarta, 20 Juli 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Pernikahan dan perzinaan

Pernikahan dan perzinaan adalah dua hal yang bertolak belakang.  Pernikahan hukumnya adalah sunnah sementara  perzinaan haram.  Namun bila ditilik secara lebih dalam sebetulnya keduanya adalah perbuatan yang sama. Yaitu hubungan seksual antara dua jenis kelamin yang berbeda.

Bagi orang Barat istilah perzinaan  kelihatannya tidak ada. Karena bagi mereka hubungan seksual tidak harus diikat oleh sebuah pernikahan .  Yang penting suka sama suka dan tidak ada pemaksaan. Dan ini tidak hanya dilakukan oleh para kelompok Atheis  alias mereka yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan dan hari akhir. Namun juga oleh sebagian orang yang mengaku Kristen, agama terbesar orang barat.  Ini karena sebagian besar dari mereka memang tidak lagi peduli dan menjalankan ajaran agama mereka.   Ironisnya, di Indonesiapun yang mayoritas penduduknya Islam, budaya dan kultur timur juga masih relatif diperhatikan, perzinahan tetap saja terjadi walaupun tidak sebebas di barat. Na’udzubillahmindzalik ..

Menjadi pertanyaan besar mengapa hasrat manusia untuk melakukan hubungan seksual begitu tinggi.  Normalkah hasrat dan nafsu tersebut ? Lucunya, nafsu  ini tidak hanya ada dalam diri manusia namun juga semua hewan. Kelihatannya hanya malaikat saja yang tidak memilikinya.

Sejak dahulu kala kita tahu bahwa manusia itu ada dan lahir sebagai akibat dari adanya hubungan seksual antara dua jenis kelamin yang berbeda.  Tidak  peduli apakah itu hubungan yang diikat dalam pernikahan ataupun tidak.  Pengecualian hanya terjadi pada 3 orang besar , yaitu Adam as, Siti Hawa ra dan Isa as.  Keberadaan mereka adalah murni kekuasaan Allah swt sebagai Sang Khalik.

Dengan kata lain, hubungan seksual adalah cara perkembangan biakkan manusia. Tanpa adanya hubungan ini mustahil manusia bisa menjadi sebanyak seperti sekarang ini. Namun apakah hanya ini fungsi  hubungan tersebut ? Karena pada kenyataannya  tidak pada setiap hubungan seksual terjadi pembuahan apalagi kelahiran.

Kita tahu bahwa setiap lelaki, minimal sekali dalam hidupnya pasti pernah mengalami  ‘mimpi basah’. Inilah  yang menjadi pertanda pertama bahwa seorang anak lelaki telah baligh ( dewasa).  Ini biasanya terjadi ketika ia berusia sekitar 13 tahun. Sementara anak perempuan ditandai dengan datangnya haid. Semenjak itulah seorang perempuan secara fisik dapat menerima pembuahan dan kehamilan.

Dengan demikian dapat diartikan bahwa hubungan seksual adalah fitrah manusia, sebuah kebutuhan  yang tidak mungkin dihindari. Dalam  dunia kedokteranpun diakui bahwa bila kebutuhan ini terhambat, ia beresiko mengakibatkan berbagai gangguan. Mulai gangguan ringan hingga gangguan serius.

Disamping itu hubungan seksual juga harus diakui sebagai salah satu kenikmatan hidup. Ini adalah nikmat Allah yang tidak boleh kita ingkari.  Ini terbukti dengan tidak adanya laporan orang yang kapok melakukan perbuatan tersebut kecuali pada kasus-kasus  tertentu seperti korban perkosaan, penyakit dll.  Tidak jarang bukan kita mendengar tentang perselingkuhan yang hampir dapat dipastikan ujungnya selalu perzinaan? Di hampir semua film  barat adegan seperti itu sering terlihat dipaksakan ada. Seolah-olah tanpanya film akan kekurangan daya tarik !

Namun mengapa Allah harus membatasi nikmat, kebutuhan dan perkembangan biakkan manusia itu dengan aturan dan ikatan pernikahan ? Mengapa Allah tidak membiarkan saja manusia berbuat dan melampiaskan  nafsu tersebut sesukanya?

Inilah yang membedakan kita dengan hewan. Manusia diberi akal dan pikiran agar dapat mengambil hikmah dari segala sesuatu yang diberikan-Nya.  Sebagai mahluk yang diberi kepercayaan menjadi khalifah/pemimpin, ia dituntut agar mampu mempertanggung-jawabkan apa yang dilakukannya selama ia hidup di dunia  ini.

Karena hubungan seksual dapat mengakibatkan lahirnya anak manusia maka manusia harus berhati-hati melakukannya. Mengapa demikan ? Karena setiap anak yang dilahirkan memerlukan perhatian, kasih-sayang,  pendidikan serta materi yang tidak sedikit. Itu sebabnya diperlukan ikatan yang kokoh dari kedua orang-tuanya.  Diperlukan janji setia yang diharapkan mampu melindungi segala kebutuhan anak yang mereka hasilkan.  Ikatan dan janji setia itu adalah ikatan pernikahan yang diridhoi-Nya.

“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir ”. (QS. Ar-Rum (30):21).

Hubungan seksual yang dilakukan karena adanya ikatan pernikahan seperti  inilah yang bakal mendatangkan  ketentraman dan rasa kasih sayang diantara keduanya. Maka bila hubungan tersebut membuahkan anak, hasilnyapun akan maksimal. Bukan hanya  limpahan kasih sayang yang akan didapat oleh seluruh anggota keluarga namun juga rezeki yang menentramkan .

Sebaliknya dengan perzinaan. Karena tidak mempunyai ikatan maka tanggung jawabnyapun kurang. Ketika suatu saat datang perasaan bosan dan jenuh  maka bubarlah hubungan keduanya. Ironisnya,  perasaan bosan dan jenuh ini tidak mungkin dihindari. Ini berbeda dengan pasangan yang terikat dalam pernikahan. Mereka biasanya dapat mengatasi masalah ini dengan lebih baik. Karena adanya janji dalam pernikahan , perceraian biasanya sedapat mungkin akan dihindari. Perceraian adalah pilihan terakhir.

Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak yang dilahirkannya? Putus dan selesaikah hubungan mereka? Siapa yang dapat menggantikan kasih sayang, perhatian dan kebutuhan hidup yang sangat mereka dambakan?? Tak syak lagi anak hasil dari perzinaan hanya akan menjadi duri dalam masyarakat. Emosi mereka tidak stabil, hidup mereka kacau dan bukan tidak mungkin ketika dewasa nanti mereka juga akan melakukan hal yang sama, perzinaan.  Siapa yang harus disalahkan ?

Belum lagi bila hubungan  dilakukan hanya karena nafsu atau dalam rangka mencari uang dan berganti-ganti pasangan pula seperti dalam kasus pelacuran. Minimal penyakit kelaminlah yang bakal ditanggung. Belum lagi bila hubungan tersebut menyebabkan kehamilan.  Siapa yang harus menanggungnya? Digugurkan? Ini sama saja  dengan pembunuhan.  Karena setiap janin dalam rahim seorang perempuan  telah memiliki hak untuk hidup!

Telah menjadi ketetapan-Nya  bahwa hubungan seksual adalah kebutuhan manusia normal. Bagi pasangan normal yang telah menikah tentu bukan masalah. Bagaimana dengan yang belum menikah  atau pasangan yang bermasalah, misalnya salah satunya sakit sehingga tidak mampu melakukan aktifitas tersebut?

Berzinah jelas dilarang, dosa besar hukumnya. Bahkan mendekatinyapun tidak diizinkan-Nya.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk “. (QS. Al-Isra (17):32).

Yang dimaksud dengan mendekati zina disini adalah berdua-duaan dengan lawan jenis atau ber-khalwat,  ditempat yang sepi.  Termasuk didalamnya dua orang lain jenis  yang saling mencurahkan isi hati. Mengapa demikian? Karena orang ketiga yaitu, syaitan dengan segala kekuatan dan kemampuannya akan berusaha keras membangkitkan nafsu seksual keduanya.

Lalu bagaimana mengatasi  kebutuhan ini?

“ Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. …”. (QS.An-Nuur(24):33).

“ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat“. (QS.An-Nuur(24):30).

Abdullah bin Mas’ud RA berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu mencukupi untuk hidup, maka nikahlah! Karena nikah itu dapat menutup mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa itu merupakan benteng bagi dirinya”.

Sementara itu kaum perempuanpun wajib membantu kaum lelaki agar mereka tidak mudah tergoda yaitu dengan menutup aurat mereka.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, ….”.(QS.An-Nuur(24):30-31).

Catatan penting .

Ada sebuah kesalahan besar yang sering dilakukan masyarakat Indonesia. Yaitu ketika mengetahui putri kesayangannya hamil. Pada umumnya orang tua segera menikahkan putrinya tersebut dengan seseorang, entah itu dengan sang pacar yang menyebabkan kehamilan tersebut atau dengan pemuda lainnya. Selanjutnya biasanya mereka  lega karena menganggap persoalan sudah terselesaikan.

Namun benarkah demikian ? Di mata manusia mungkin ya tetapi bagaimana dari sudut agama? Sebagian besar ulama berpendapat bahwa pernikahan yang dilakukan ketika seorang perempuan sedang hamil tidaklah sah. Ayat berikut inilah yang dijadikan pegangan,

“  … Dan janganlah kamu ber`azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya. …”. ( QS. Al-Baqarah (2):235).

…. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. …. “ (QS.At-Thalaq(65):4).

Oleh karenanya hubungan suami istri yang dilakukan pasangan tersebut juga tidak sah alias sama dengan zina. Bagi pasangan yang secara sadar melakukan hal ini hukumnya jelas, yaitu dosa besar. Sebaliknya bila memang mereka tidak mengetahui maka pernikahan tersebut harus segera dibatalkan. Pernikahan dapat dilaksanakan kembali setelah perempuan yang bersangkutan melahirkan.

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akankekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”.(QS.Al-Furqon(25): 68 – 69).

Disamping itu menikahi perempuan  pezina sebenarnya amat sangat tidak dianjurkan.

“ Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu’min.” (QS.An-Nur(24):3).

Dalam hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata : “Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) ‘Anaq dan ia adalah teman (Martsad). (Martsad) berkata : “Maka saya datang kepada Nabi sahollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wassallam lalu saya berkata : “Ya Rasulullah, Saya nikahi ‘Anaq ?”.Martsad berkata : “Maka beliau diam, maka turunlah (ayat) : “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik”. Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata : “Jangan kamu nikahi dia”. (Hadits hasan, riwayat Abu Daud no. 2051, At-Tirmidzy no. 3177, An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269, Al-Hakim 2/180, Al-Baihaqy 7/153, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul).

Namun karena kasus ini makin lama makin menjamur maka akhirnya sebagian ulama berijtihad, boleh menikahinya dengan  catatan yang bersangkutan mau bertaubat. Taubat ini harus dilakukan secara sungguh-sungguh, yaitu lillahi taa’la, menyesal, berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan seterusnya mengisi sisa hidupnya dengan mendekatkan diri kepada-Nya dengan harapan Yang Maha Kuasa ridho menerima taubatnya itu.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Wallahu’alam bi shawwab.

Pau – France,  10 Mei 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

 I. Iman kepada malaikat.

Malaikat adalah mahluk ghaib ciptaan Allah swt. Meskipun kita tidak memiliki kemampuan untuk melihatnya kita wajib meyakininya. Ini adalah bagian dari keimanan.

Rasulullah bersabda: “Keimanan itu ialah engkau akan percaya (beriman) pada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhirat dan engkau akan percaya kepada takdir baik dan buruk dari pada-Nya.”(HR. Muslim).

Allah swt memasukkan orang yang tidak mempercayai malaikat sebagai orang yang sesat sejauh-jauhnya.  

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”. (QS.An-Nisaa’(4):136).

Bahkan Allah menyebutnya kafir ! 

“Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir”. (QS.Al-Baqarah(2):98).

II. Sifat malaikat.

Malaikat adalah adalah hamba Allah yang paling takwa, yang tidak penah melawan, yang senantiasa tunduk dan patuh atas perintah-Nya, yang senantiasa bertasbih, memuji serta  mensucikan-Nya.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “……”. Mereka berkata: “…… padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”(QS.Al-Baqarah(2):30).

“Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. (QS.Al-Anbiyaa(21): 26-27).

Bila Allah SWT menciptakan manusia dari tanah, syaitan dari api maka Allah swt menciptakan malaikat dari cahaya.

“Allah menciptakan malaikat dari cahaya, menciptakan jin dari nyala api, dan menciptakan Adam dari apa yang telah disifatkan (dijelaskan) kepada kalian.” (Diriwayatkan Muslim).

Walaupun malaikat itu ghaib namun rasulllah saw pernah melihat malaikat dalam bentuk dan wujud aslinya. Yang dilihat Rasulullah ketika itu adalah malaikat Jibril as. Sebanyak dua kali Jibril memperlihatkan wujud aslinya. Yang pertama adalah ketika rasulullah menerima wahyu pertama yaitu di gua Hira. Sedang yang kedua adalah ketika rasulullah Isra’ Mi’raj ke Sidratil Muntaha.

…dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) ”.(QS. An-Najm(53):6-9).

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. (QS. An-Najm(53):13-14).

Melalui firman Allah swt yang diabadikan dalam ayat-ayat  Al-Quranul Karim, kita diberitahu bahwa malaikat memiliki sejumlah pasang sayap. Ada yang dua, tiga dan ada yang empat pasang sayap. Bahkan Jibril dikabarkan memiliki 600 sayap !

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat ……”.(QS.Faathir(35):1).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata: “Rasulullah saw pernah melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya yang mempunyai enam ratus sayap, setiap sayap menutup ufuk, dari sayapnya berjatuhan berbagai warna, mutiara dan permata yang hanya Allah sajalah yang mengetahui keindahannya.” (Ibnu Katsir berkata dalam Bidayah Wan Nihayah bahwa sanad hadits ini bagus dan kuat, sedangkan Syaikh Ahmad Syakir ra berkata dalam Al-Musnad bahwa sanad hadits ini shahih). 

Allah swt kadang memberi izin malaikat untuk menampakkan diri sebagai orang biasa. Biasanya ia menjelma sebagai laki-laki dewasa. Dalam keadaan seperti inilah malaikat beberapa kali menemui rasululllah saw. Demikian pula sejumlah nabi dan Maryam putri Imran. Mereka pernah ditemui malaikat dalam keadaan menyamar sebagai laki-laki biasa.

“Terkadang malaikat menjelma kepadaku seperti orang laki-laki, kemudian ia berbicara kepadaku dan aku memahami apa yang ia ucapkan.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)”. (QS.Ali Imraan(3):42).

Berlawanan dengan sifat jin yang menikah dan beranak pinak. Malaikat adalah mahluk ciptaan Allah yang tidak memiliki kebutuhan tersebut. Ia bukan lelaki bukan juga perempuan. Ia tidak berjenis kelamin.  Namun demikian jumlah malaikat sangatlah banyak. Bahkan lebih banyak dari manusia. Ini terbukti dari firman Allah yang mengatakan bahwa setiap manusia itu dijaga oleh dua malaikat yang duduk di kiri-kanannya.

 “………, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”.(QS.Al-Ahqaaf(50):16-17).

III. Tugas malaikat.

Jibril as adalah malaikat yang memiliki kedudukan tertinggi disisi Allah swt. Ia adalah pimpinan para malaikat. Ialah yang diberi wewenang mengatur segala urusan dunia. Selain amat kuat Jibril juga memiliki akal dan kecerdasan tinggi. Ialah yang bertugas menyampaikan wahyu dari Allah swt kepada para nabi. Termasuk kitab Taurat, Injil dan Al-Quranul Karim.

Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang dita’ati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya ”.(QS.At-Takwiir(81):19-21).

yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas (QS.An-Najm(53):5-6).

 “Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.(QS.Al-Baqarah(2):97).

Malaikat memiliki tugas dan kewajiban yang bermacam-macam. Namun setiap malaikat mempunyai tugas sendiri-sendiri, ada yang tugasnya khusus, spesifik dan individual ada pula yang tugasnya bersifat umum. Masing-masing bertanggung-jawab terhadap tugasnya itu. Ada yang bertugas menyampaikan wahyu, ada yang bertugas membagikan rezeki, ada yang mencatat amal perbuatan manusia, ada yang setiap hari Jumat menjaga pintu masjid, ada yang betugas mencabut nyawa, ada yang bertugas menanyai orang yang ada dalam kubur, ada yang diberi tanggung-jawab menjaga surga , neraka  dll. Dan ada pula yang sepanjang waktu hanya diberi tugas shalat dan bertawaf mengelilingi Baitul Makmur.

“Sesungguhnya Baitul Makmur berada di langit yang ketujuh setentang dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada 70 ribu malaikat yang shalat di dalamnya kemudian apabila mereka telah keluar maka tidak akan kembali lagi.” (HR. Bukhari & Muslim).

” Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka”.(QS.Al-Haqqah(69):17). 

” Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang bathil) dengan sejelas-jelasnya dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu,(QS.Al-Mursalat(77):1-5). 

“………, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”.(QS.Al-Ahqaaf(50):16-17).

“Pada hari Jum’at, di setiap pintu-pintu masjid terdapat malaikat-malaikat yang menulis. Orang pertama dan seterusnya. Jika imam telah duduk, maka para malaikat menutup buku catatannya, kemudian mereka mendengarkan dzikir.” (Diriwayatkan Imam Malik, Hadits ini shahih).

Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)”.(QS.An-Naazii’at(79):1-5). 

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”.(QS.An-Nisa’(4):97).

Mereka berseru: “Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”.(QS.Al-Zukhruf(43):-77). 

Berdasarkan ayat-ayat dan hadis yang ada para ulama membuat pembagian nama-nama malaikat beserta tugasnya masing-masing sebagai berikut :

1. Malaikat Jibril as bertugas menyampaikan wahyu dari Allah kepada para Rasul-Nya .

2. Malaikat Mikail as bertugas menurunkan hujan dan menyebarkannya.

3. Malaikat Israfil as bertugas meniup sangkakala.

4. Malaikat Maut atau malaikat Izrail bertugas mencabut nyawa.

5. Malaikat Raqib as dan ‘Atid as bertugas mencatat perbuatan  baik maupun  buruk.

6. Malaikat Mungkar as dan Nakir as ditugasi menanyai mayit ketika telah diletakkan di dalam kuburnya. Ketika itu, dua malaikat mendatanginya untuk menanyakan kepadanya tentang Rabb-nya, agamanya dan nabinya.

7. Malaikat Ridwan as merupakan pemimpin para malaikat penjaga  surga.

8. Malaikat Malik as merupakan pemimpin para malaikat penjaga neraka..

Namun demikian tidak semua ulama sepakat dengan penamaan malaikat diatas. Karena beberapa penamaan seperti malaikat Izrail, malaikat Munkar dan malaikat Nakir selain tidak disebut secara explisit dalam Al-quran rasulullahpun tidak pernah menyebutnya. Kalaupun hadistnya bisa ditemui sebagian berpendapat bahwa hadits tidak shoheh. Wallahu’alam … Tetapi tugasnya sendiri jelas tertulis dalamAl-Quran.

“Malaikat malam dan malaikat siang secara bergantian datang kepada kalian.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

IV. Hikmah penciptaan malaikat bagi manusia.

( Bersambung )

Wallahu’alam bi shawab.

Pau – France, 15 Maret 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

IV. Hikmah penciptaan malaikat bagi manusia.

( bersambung dari ” Malaikat, pasukan Sang Khalik ).

 Malaikat adalah mahluk ghaib yang khusus diciptakan Allah swt dalam rangka kelancaran urusan manusia termasuk diantaranya adalah dalam urusan penetapan umur, rezeki, jodoh dan amal manusia.

Diriwayatkan dari bapak Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Mas’ud ra. Katanya: Telah menceriterakan kepada kami Rasulullah saw: ”Sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa air mani. Kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari. Lalu diutus seorang malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkan ruh kepadanya dan malaikat tersebut diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu: menulis rizkinya, batas umur-nya, pekerjaannya dan kecelakaan atau kebahagiaan hidupnya”.

Berbeda dengan manusia yang sengaja diciptakan condong selalu ingin berpikir menggunakan akalnya, menuruti hawa nafsunya, menolak bahkan melawan perintah-Nya, malaikat adalah mahluk yang taat dan selalu menurut perintah Sang  Khalik. Ini adalah fitrah yang memang telah digariskan dan dikehendaki-Nya.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui“.(QS.Al-Baqarah(2):30).

 Malaikat menjalankan tugas dan kewajiban persis sesuai dengan perintah-Nya, tidak lebih dan tidak kurang. Mereka tidak memiliki hak apapun yang perlu dituntut. Inilah pasukan, bala tentara Allah swt yang benar-benar takwa dan tidak perlu diragukan kesetiaan, ketaatan dan kepatuhannya.  Ini adalah perbedaan mencolok antara manusia dengan malaikat.

Allah memang memerintahkan manusia agar bertakwa, agar menjalankan perintah serta menjauhi larangan. Namun Allah swt tidak pernah memaksa kita agar mentaati perintah tersebut. Kita diberi kebebasan untuk memilih, bertakwa atau mendustai-Nya. Namun resikonya jelas, surga bagi yang bertakwa dan  neraka  bagi yang mendustai-Nya.

Allah tidak memiliki kepentingan terhadap kita. Karena apapun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Berikut adalah contohnya.

Suatu ketika umat Muslim diperintahkan agar berjihad melawan kaum musyrik Mekah. Ini adalah peristiwa dalam Perang Badar, perang yang pertama kali dilakukan umat Islam.

Ketika itu kaum Muslimin yang hanya berjumlah 315 orang harus menghadapi hampir 1000 orang lawan. Itupun dalam keadaan lemah karena mereka tidak memiliki perbekalan yang memadai, baik perbekalan senjata maupun perbekalan makanan. Namun berkat keimanan dan kesabaran yang tinggi ternyata mereka mampu mengalahkan lawan yang tiga kali lebih banyak dan ditopang perbekalan dan pengalaman yang jauh lebih baik pula. Apa yang sebenarnya terjadi ? Berikut firman Allah swt dalam surat Ali Imran ayat 123 – 128.

123. Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.

124. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mu’min: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”

125. ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.

126. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

127. (Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu) untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa.

128. Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. 

Sebaliknya dalam Perang Hunain. Ketika itu jumlah kaum Muslimin jauh lebih banyak dari pihak lawan. Mereka nyaris kalah kalau saja Allah tidak menurunkan bala bantuan berupa bala tentara yang tidak terlihat yaitu para malaikat.

025. Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa`at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.

026. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir .(QS. At-Taubah (9):25-26).

Hanya berdasarkan ayat-ayat diatas saja kita dapat memahami bahwa sesungguhnya kita ini tidak ada artinya di sisi Allah. Hanya ketakwaan sajalah yang dituntut-Nya. Karena seseungguhnya Allah memang tidak memiliki kepentingan apapun terhadap kita. Ia telah memiliki pasukan dan bala tentara yang dapat diandalkan, yaitu pasukan malaikat yang selalu taat kepada perintah-Nya. Walaupun bila saja Allah menghendaki para malaikatpun tidak berguna bagi-Nya. Karena malaikat berbuat segala sesuatu atas izin-Nya.

Ini pula yang terjadi saat ini. Kita diperintahkan agar menegakkan agama Allah, mengumandangkan kalimat Tauhid, Laa illah ha illa Allah. Allah berjanji bahwa menjelang akhir zaman nanti Islam akan menyinari  dunia.

Janji ini memang  belum sepenuhnya terpenuhi. Namun dapat kita saksikan dewasa ini betapa orang mulai berbondong-bondong memeluk Islam. Penduduk negara-negara kafir seperti Perancis, Inggris, Itali, Amerika dan Australia mulai mengakui kebenaran ajaran yang dibawa rasulullah Muhammad saw 15 abad silam ini. Hukum-hukumnya yang ternyata amat sesuai dengan segala zaman ini benar-benar menarik hati mereka.

Dengan atau tanpa dakwah kita sebagai Muslim yang lebih awal tidak akan mengacaukan rencana-Nya. Kita sendiri yang akan merugi bila tidak segera ikut berpartisipasi  dalam menyebarkan Islam sebagi rahmatan lil’alamin. Karena sesungguhnya kita ini ibaratnya adalah pemain figuran dalam sebuah teater raksasa yang disutradarai seorang sutradara besar kawakan. Allahuakbar ..

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu”.(QS.Muhammad(47):36).

Wallahu’alam bi shawab.

Pau – France, 15 Maret 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »