Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Menjelang pukul 19.00 WIB kami memasuki kota Malang. Setelah sepintas mengelilingi kota, bernostalgia melewati sekolah dan rumah masa kecil dimana selama 2 tahun saya pernah tinggal, kamipun bersantap makan malam di sebuah restoran yang cukup dikenal di kota dingin tersebut. Selanjutnya kamipun beristirahat di sebuah hotel.

Esoknya, kembali kami berkeliling kota. Sekitar pukul 11 siang kami meninggalkan Malang untuk menuju Bromo, tujuan utama liburan kami. Perjalanan memakan waktu hampir 5 jam, termasuk makan siang. Kami tiba di lokasi Bromo, yang dinamakan Park Nasional Tengger-Bromo-Semeru pada pukul 4 sore.

Subhanallah .. hanya itu yang dapat kami katakan. Pemandangan kawasan gunung yang kami saksikan di depan mata kali ini tidak seperti umumnya pemandangan pegunungan yang biasanya hijau, teduh dan damai.  Gunung Bromo dan gunung Batok yang merupakan bagian dari pegunungan Tengger dengan gunung Semeru yang menjadi latar belakang pegunungan ini dikellingi lautan pasir seluas 5.250 hektar. Pasir hitam abu-abu kering terlihat beterbangan hingga mengotori jalanan bahkan halaman hotel tempat kami menginap. Yang saking tebalnya maka pengunjungpun terpaksa harus menutup hidung dan mulut dengan masker yang banyak dijual penduduk setempat.

Dengan demikian kesan pertama yang tertangkap, menurut saya pribadi, adalah keindahan misterius. Ditambah lagi dengan  gunung Bromo yang terlihat terus mengeluarkan asap tebal dari kawahnya serta bentuk gunung Batok yang terlihat kering bergerigi, kesannya adalah angker. Bayangan yang dipantulkan sore hari menjelang magrib tersebut terlihat begitu berbahaya dan mengancam. Sungguh terasa, betapa lemah dan tidak berartinya kita ini. Deretan perkasa gunung hitam kelam tak berpenghuni tersebut seolah berseru menantang “ Bersiaplah ! Bumi akan berguncang begitu Ia mencabutku ! “

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, …”(QS.An-Nahl(16):15).

Bromo, gunung api berketinggian 2.392 meter ini adalah gunung yang masih aktif dan cukup berbahaya. Gunung ini telah meletus beberapa kali, yang terakhir terjadi pada bulan November tahun 2010 yang baru lalu. Selama 3 bulan, hingga Januari 2011 kemarin, gunung ini memuntahkan isi perutnya.

Nama Bromo sendiri, berdasarkan beberapa sumber, diambil dari nama dewa tertinggi Hindu, yaitu Brahma, tuhannya pemeluk Hindu. Wilayah pegunungan ini, hingga detik ini, memang adalah rumah bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu.  Sementara nama Tengger sendiri memiliki legenda yang cukup menarik.

Hikayat, adalah Roro Anteng, seorang putri raja Majapahit yang cantik jelita. Kecantikannya amat termasyur hingga banyak ksatria gagah berani datang untuk melamarnya. Termasuk seorang raksasa. Karena tidak berani menolak, akhirnya sang putri mengajukan persyaratan. Yaitu agar sang raksasa membangun lautan di sekitar pegunungan Bromo, dalam satu malam!.

Namun menjelang matahari terbit, sang putri terkejut, mendapati bahwa lautan yang dimintanya itu nyaris terlaksana. Maka demi menggagalkan lamaran raksasa  yang menyeramkan itu, Roro Antengpun segera memerintahkan rakyatnya agar cepat bangun dan menumbuk padi. Mendengar padi ditumbuk maka ayampun berkokok, mengira matahari telah terbit.

Dengan demikan maka gagallah lamaran sang raksasa. Ia terpaksa  pergi dengan meninggalkan gunung Batok yang digunakannya sebagai gayung untuk mengambil air dari kawah gunung Bromo. Kawah gunung Bromo sendiri terlihat begitu lebar akibat airnya yang terus dikeruk. Sementara lautan pasir yang luas terlihat mengelilingi kawasan pegunungan tersebut.

Selanjutnya Rara Antengpun menikah dengan ksatria yang dicintainya. Yaitu Joko Seger, salah satu putra Brahma. Di kemudian hari keturunan pasangan berbahagia ini dinamakan Tengger, singkatan dari Roro AnTENG dan Joko SeGER.

Yang tak kalah menarik, masyarakat Tengger, hingga detik ini, masih suka menyelenggarakan upacara ritual tahunan. Ritual bernama Kasodo yang dikabarkan menjadi salah satu daya tarik turis tersebut diadakan pada setiap bulan purnama pada tanggal 14 dan 15 bulan ke sepuluh ( kasodo) kalender Jawa. Pada upacara itu mereka memohon antara lain panen yang berlimpah dan kesembuhan berbagai penyakit.

Upacara ini dimulai pada tengah malam dari pura yang terletak di tengah lautan pasir. Dari sini arak-arakan yang membawa berbagai sesajen tersebut berjalan menuju kawah Bromo. Selanjutnya sesajen yang berupa berbagai hasil sawah, ladang dan ternak seperti padi, sapi dll itu di lemparkan ke dalam kawah sebagai persembahan kepada Tuhan mereka.

Yang lebih menegangkan lagi, adalah adanya sebagian masyarakat Tengger yang harus menangkap apa yang dilemparkan ke dalam kawah tadi. Dengan menyusuri bibir kawah, mereka menuruninya dan berusaha meraih sesajen tadi. Padahal tidak jarang ada saja korban yang terjatuh ke dalam kawah yang masih mengepulkan asap panas itu.

Tampaknya, ritual melempar sesajen ala agama Hindu inilah yang hingga kini menjadi contoh dan ditiru oleh sebagian pemeluk Islam di beberapa gunung di pulau Jawa, contohnya gunung Merapi di Jawa Tengah. Sungguh ironis, bukan ?

Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’ (QS. Al-An’aam: 162-163).

Dalam sebuah hadits shahih, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat orang yang menyembelih (berkurban) untuk selainNya.” (HR. Muslim).

Kurban yang diizinkan dalam Islam hanyalah menyembelih hewan kurban dalam rangka ketaatan kepada Allah swt, Sang Khalik.  Persis seperti apa yang pernah dicontohkan nabi Ibrahim as ketika akan menyembelih satu-satunya putra kesayangan beliau, nabi Ismail as. Selanjutnya, hasil sembelihan tersebut harus disalurkan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya. Pada hari raya kurban, kita boleh memakannya sebagian. Jadi kurban tidak boleh disia-siakan dengan di buang ( ke dalam kawah dsb ) atau dipersembahkan kepada sesembahan apapun.

Lagi pula, bila kita kembali kepada sejarah, masyarakat Tengger mulanya adalah penduduk kerajaan Majapahit Hindu yang kalah perang melawan Islam pada masa awal pembentukan kerajaan Islam, Demak. Mereka tidak mau menerima ajaran Islam dan memilih mengasingkan diri ke kawasan pegunungan ini. Sebagian lain memilih pulau Bali sebagai tempat tinggal.

Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman”, dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik”.(QS.Yunus(10):104-105).

Itulah tujuan utama dakwah Islam, yaitu memperkenalkan Tuhan yang sebenarnya, Tuhan yang Esa, yang tidak bersekutu, tidak beranak maupun diperanakan, yang menghidupkan dan mematikan manusia. Itulah Allah swt. Jadi alangkah ironisnya, bila ternyata ada manusia yang kemudian menolak ajakan ini. Namun tidak ada paksaan dalam beragama. Bukan Dia yang rugi, sebaliknya manusia itu sendiri yang mendzalimi dirinya.

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.  Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Yunus(10):106-107).

Tiba-tiba saya teringat kepada apa yang dikatakan para wali tentang ritual Jawa yang di’isi’ dengan semangat ke’Islam’an. ( pada bagian 1 artikel ini ). Percakapan itu terjadi 5 abad silam namun nyatanya hingga kini ritual tersebut masih saja terjadi. Sungguh, pasti para wali tersebut bakal amat sangat kecewa mengetahui hal ini .. L

“ Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.(QS.Al-Isra’(17):44)

Demikian pula gunung-gunung, mereka semua bertasbih kepada-Nya.

Wallahu’alam bish shawwab.

( Bersambung).

Read Full Post »

Libur, terutama bagi anak-anak pasti amat dinantikan kehadirannya. Karena dengan adanya  libur berarti mereka bisa santai, tidak perlu dikejar-kejar bangun pagi hari, pergi sekolah dan mengerjakan berbagai tugas sekolah.

Apalagi yang namanya liburan panjang, liburan Lebaran misalnya. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia liburan ini biasanya digunakan untuk pulang kampung, bersilaturahmi dan bermaaf-maafan dengan keluarga besar. Tempat-tempat hiburan dan obyek wisatapun biasanya menjadi ramai bukan kepalang.

Demikian pula dengan kami sekeluarga. Beberapa hari setelah hari Raya Iedul Fitri kamipun pergi meninggalkan kota untuk berlibur ke Jawa Timur. Tujuan utama kami adalah gunung Bromo.

Dengan menumpang pesawat kami berempat menuju Surabaya. Dari airport kami langsung menuju pulau Madura untuk melihat jembatan yang menghubungkan ke dua pulau tersebut. Namun sebelumnya kami sempat menengok masjid Jami’ Sunan Ampel yang terkenal itu.

Masjid ini didirikan oleh Raden Ahmad Rahmatullah, nama asli Sunan Ampel, pada tahun 1481 M. Menurut supir sekaligus guide yang mendampingi kami, masjid yang terletak di tengah perkampungan Arab ini telah lama menjadi salah satu daya tarik wisata religius.

Masjid yang memiliki gaya arsitektur khas jawa ini hingga saat ini masih terlihat terawat dengan baik.  Bangunan ini sengaja dibangun dengan 5 pintu masuk dan diberi nama sesuai dengan rukun Islam. Yaitu pintu Syahadat, pintu Shalat, pintu Zakat, pintu Puasa dan pintu Haji.

Yang menarik, jalan menuju pintu Haji yang sengaja dibuat meniru Pasar Seng, di Mekah. Jadi memang tidak salah ketika saya berkomentar «  Koq serasa di Pasar Seng ya « , sebelum saya diberi tahu bahwa itu adalah Pintu Haji. J .. ada-ada saja .. Sayangnya,  Pasar Seng sekarang sudah dibongkar.

Sementara itu di sebelah Barat masjid berdiri kompleks pemakaman yang lumayan luas. Ternyata salah satu makam tersebut adalah makam sang pendiri masjid. Untuk memasuki wilayah yang dibatasi pagar besi ini para pengunjung diharuskan menanggalkan sandal/sepatu. Dari balik pagar ini tampak banyak orang sedang berkumpul dan berzikir bersama.

Tiba-tiba saya teringat pada sebuah artikel yang pernah saya baca beberapa waktu lalu. Ketika itu para wali sedang membahas bagaimana caranya mengajarkan Islam ke masyarakat Jawa yang waktu itu memang belum mengenal ajaran Islam. Sunan Kalijagapun  mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersesaji, seni wayang  dll yang sejak lama telah menjadi kebiasaan masyarakat dimasuki rasa ke-Islam-an saja.

“Apakah tidak mengkhawatirkan dikemudian hari ? Bahwa adat isitadat dan upacara-upacara lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam, sebab kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadikan bid’ah?”, tanggap Sunan Ampel terhadap usulan itu, ragu.

Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (HR. Bukhari dan Muslim).  Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”. 

Namun Sunan Kudus menjawab : “Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, sebab menurut pelajaran agama Budha itu ada persamaannya dengan ajaran Islam, yaitu orang kaya harus menolong kepada fakir miskin. Adapun mengenai kekhawatiran tuan, saya mempunyai keyakinan bahwa dikemudian hari akan ada orang Islam yang akan menyempurnakannya”.

Pertanyaannya, sudahkah ada orang yang dimaksud Sunan Kalijaga tersebut??

Hal lain yang juga tak kalah menarik. Sejarah mencatat, Sunan Ampel adalah putra raja kerajaan Islam Champa, yang merupakan keturunan bangsa Han/Tionghoa dan bangsa Samarkand di  Asia Tengah.

Sebuah pelajaran, bahwa Islam ternyata telah masuk daratan Cina sejak lama. Menurut catatan, delegasi pertama yang datang ke negri tirai bambu ini terjadi pada tahun ke 29 hijriyah. Utusan itu datang di bawah pimpinan Saad bin Abi Waqash. Beliau diutus khalifah ke 3 Utsman bin Affan untuk menemui kaisar Cina, Yung Wei agar memeluk Islam. Namun demikian hubungan kedua negara besar ini sebelumnya telah terjalin erat yaitu melalui jalur perdagangan.

Sumber lain mengatakan bahwa  Sunan Ampel adalah masih turunan Imam Bukhari, ulama hadits dari Samarkand, yang sangat terkenal itu.  Champa sendiri adalah sebuah kerajaan di Kamboja. ( Sumber lain mengatakan Champa adalah suatu daerah di Aceh).

Sunan bernama asli  Raden Ahmad Rahmatullah ini, pergi ke ibu kota kerajaan Majapahit dalam rangka menjenguk saudarinya yang dinikahi raja Majapahit ketika itu. Selanjutnya saudarinya itu meminta agar Sunan Ampel mengajarkan anak-anaknya tentang akhak dan moral yang baik.

Maka atas izin sang raja, Sunan Ampelpun mengajarkan ajaran Islam yang dianutnya. Bahkan belakangan beliau mendapat izin untuk menyebarkan ajaran yang mulia ini kepada masyarakat Jawa yang ketika itu masih memeluk Hindu dan Budha.

Hasil didikan Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah Mo-Limo atau tidak mau melakukan lima hal tercela yaitu: Main judi, Minum arak atau bermabuk-mabukkan, Mencuri, Madat atau menghisap madu dan Madon atau main perempuan yang bukan isterinya.

Jasa besar lain Sunan Ampel yang juga patut dicatat, beliau adalah pendiri kerajaan Islam Demak yang dipimpin raden Patah, menantu beliau.

Setelah melaksanakan shalat zuhur dan puas menikmati masjid legendaris ini kamipun melanjutkan perjalanan. Yaitu menyeberangi jembatan Suramadu menuju pulau Madura. Tidak ada yang istimewa di tempat ini kecuali jembatan yang menjadi penghubung antara 2 pulau ini memiliki jalur khusus sepeda motor. Sesuatu yang benar-benar jarang, saya rasa.

Selanjutnya kami langsung menuju Malang, dengan melalui Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Astaghfirullah .. Hanya itu yang dapat saya katakan. Lautan lumpur panas ini membentang luas di tepi jalan raya antara Surabaya dan Malang yang kami lalui. Setelah memarkir kendaraan kamipun menaiki tangga kayu sederhana setinggi kurang lebih 11 meter yang berdiri salah satu bagian tembok di sepanjang jalan raya tersebut. Tembok ini sengaja dibangun agar lautan lumpur tidak membanjiri jalanan.

Mulanya saya agak ragu naik. Karena sekelompok orang tampak berdiri di mulut tangga, menghalangi jalanan. Ternyata mereka adalah ‘penjaga’ lautan lumpur, yang secara ilegal, tentu saja, memungut bayaran tiap orang yang ingin melihat lokasi bencana. Tak urung tadinya mengomel juga mulut ini. «  Dasar orang Indonesia, bisa aja cari celah untuk dapetin uang. Ini sih judulnya berdiri di atas penderitaan orang lain ».

Namun setelah melihat lokasi dan bertemu sejumlah orang yang menjajakan video urutan kejadian bencana, luluh juga hati ini. Mungkin mereka adalah korban bencana yang telah kehilangan mata pencarian, pikir saya trenyuh.

Bayangkan, di dalam lautan lumpur setengah kering seluas 800 heltar dan berkedalaman 11 meter tersebut terkubur belasan desa padat penduduk, puluhan rumah ibadah dan beberapa pabrik yang menjadi tumpuan hidup masyarakat setempat. Sementara di kejauhan masih terlihat asap putih membumbung tinggi ke udara. Tampak bahwa ancaman semburan gas dan lumpur panas yang dimulai pada tahun 2006 itu belum bisa dihentikan.

« Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik ».(QS.Al-‘Araf(7):56).

Secara resmi pemerintah memang menetapkan bahwa apa yang terjadi di Porong adalah bencana nasional. Namun apapun alasannya, harus diakui bahwa bencana tersebut mulanya adalah kesalahan atau keteledoran manusia.

Suami saya bercerita, beberapa waktu setelah kejadian Porong, di suatu tempat di Amerika juga telah terjadi peristiwa yang mirip dengan bencana Porong. Namun dengan usaha yang disertai tehnologi dan dana yang demikian tinggi, akhirnya masalah tersebut dapat dengan cepat ditanggulangi. Tentu saja, dengan izin Yang Maha Kuasa.

Nasi telah menjadi bubur. Sesal kemudian tidak ada gunanya. Senang tidak senang, itulah ketetapan yang harus dihadapi. Inilah cobaan berat yang harus dihadapi bangsa ini, masyarakat Porong dan sekitarnya, khususnya. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):45-46)

( Bersambung)

Paris, 29 September 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Abu Jahal pernah berkata, “Kami tidak pernah mendustakan engkau dan engkau bukanlah seorang pendusta. Namun, kami mendustakan apa yang engkau bawa“.

Pengakuan Abu Jahal terhadap kerasulan Muhammad pun diungkapkan Abu Dzar Al-Ghifari. Saat itu Abu Dzar belum memeluk Islam dan ia pun menjadi sahabat dekat Abu Jahal. Keduanya dipersatukan dalam kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Setiap kali Abu Dzar datang ke kota Mekah, ia selalu membawa barang-barang dagangan yang akan ia jual melalui perantaraan Abu Jahal.

Alkisah diceritakan bahwa terjadi sesuatu di luar kebiasaan. Suatu ketika Abu Dzar datang ke Mekah tanpa membawa barang dagangan satu pun, termasuk uang perniagaan. Hal ini tentu saja membuat Abu Jahal heran. la pun bertanya kepada Abu Dzar, “Apakah kau membawa barang dagangan, hai sahabatku?”

Abu Dzar menjawab, “Seperti yang kaulihat, aku tidak membawa apa pun.

Apakah engkau membawa uang?” tanya Abu Jahal kembali.

“Tidak juga,” jawab Abu Dzar singkat.

Melihat ada sesuatu yang tidak biasa pada sahabatnya, Abu Jahal kembali bertanya, “Ada apa denganmu? Apa yang membuatmu datang jauh-jauh ke Mekah tanpa membawa barang dagangan atau uang? Adakah tujuanmu yang lain?”

Melihat kerisauan sahabatnya, Abu Dzar mencoba menenangkannya dengan menjawab, “Sahabatku Abu Jahal, kali ini kedatanganku bukan untuk mengadu untung dalam perdagangan.”

“Lantas untuk apa?” tanya Abu Jahal yang makin penasaran.

Aku ingin bertemu dengan kemenakanmu.”

Jawaban Abu Dzar makin membingungkan Abu Jahal. Abu Jahal pun kembali bertanya, “Kemenakanku? Siapakah yang kaumaksud?”

“Muhammad,” jawab Abu Dzar singkat.

“Muhammad?” ulang Abu Jahal untuk meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.

“Ya. Kudengar dari beberapa sahabatku bahwa Muhammad, kemenakanmu itu telah diangkat menjadi seorang rasul. Engkau harus bangga mempunyai kemenakan semulia itu, sahabatku!” jelas Abu Dzar panjang lebar. Ia tidak tahu bahwa sang paman tidak menyukai risalah yang dibawa kemenakannya, Muhammad.

Abu Jahal yang tidak ingin Islam memengaruhi sahabatnya segera mencegah Abu Dzar untuk bertemu Rasulullah saw dan berkata, “Sahabatku, dengarkanlah aku jika kau ingin selamat, jangan kautemui dia! Sekali-kali jangan pernah kau menemui kemenakanku itu!”

“Mengapa kau berkata seperti itu?” tanya Abu Dzar Al-Ghifari heran.

Abu Jahal menjelaskan, “Kautahu, Muhammad itu sangat menarik. Ia sangat memesona. Sekali berjumpa dengannya, aku jamin kaupasti akan benar-benar terpikat dengannya. Wajahnya bersih, perkataannya berisi mutiara indah dan selalu benar. Perilakunya sangat lembut dan sopan membacakan wahyu. Semua kalimatnya menyentuh jiwa.”

Tentu saja jawaban Abu Jahal sangat berlawanan dengan sarannya untuk tidak menemui Rasulullah saw. Di satu sisi ia melarang Abu Dzar untuk bertemu kemenakannya, tetapi di sisi lain ia memberikan alasan yang baik-baik tentang Rasulullah saw.

Abu Dzar mengungkap keheranannya seraya berkata, “Aku tidak mengerti, tetapi apa itu berarti kau yakin dia seorang rasul?”

Abu Jahal langsung mengiyakan. Katanya, “Jelas. Mustahil rasanya jika ia bukan seorang rasul. Ia baik kepada semua orang tua dan muda, begitu pula budi pekerti dan akhlaknya sangat mulia. Satu hal lagi yang perlu kauketahui, ia sangat tabah menghadapi apa pun yang terjadi padanya. Ia mempunyai daya tarik yang hebat sekali.”

“Aku tidak habis mengerti terhadapmu, Abu Jahal sahabatku,” tandas Abu Dzar, “kaubilang bahwa kauyakin kemenakanmu itu adalah seorang rasul.”

“Yakin betul. Aku tidak pernah meragukannya sedikit pun,” tegas Abu Jahal.

“Apakah kaupercaya bahwa ia benar?” tanya Abu Dzar kembali.

“Lebih dari sekadar percaya,” Jawab Abu Jahal.

“Tapi engkau melarangku untuk menemuinya …,” tanya Abu Dzar masih dengan keheranan.

Abu Jahal menjawab “Begitulah ….”

“Lalu, apakah engkau mengikuti ajaran agamanya?”

Abu Jahal tersentak dengan pertanyaan sang sahabat. “Ulangi sekali lagi pertanyaanmu …,” pinta Abu Jahal.

“Apakah engkau mengikuti agamanya menjadi pemeluk Islam?” Abu Dzar kembali mengulangi pertanyaannya seperti permintaan Abu Jahal.

Tidak bisa mengelak, Abu Jahal berkilah, “Sahabatku, sampai kapan pun aku tetap Abu Jahal. Aku bukanlah orang gila. Aku masih waras. Berapa pun kaubayar aku, aku tidak akan menjadi pengikut Muhammad!”

Abu Jahal melanjutkan, “Meskipun aku yakin bahwa Muhammad itu benar, aku tetap akan melawan Muhammad sampai kapan pun. Sampai titik darah penghabisanku.”

“Apa sebabnya?” tanya Abu Dzar.

Kautahu sahabatku, jika aku menjadi pengikut kemenakanku sendiri, kedudukan dan wibawaku akan hancur. Akan kuletakan di mana mukaku di hadapan bangsa Quraisy?”

Abu Dzar menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya akan pemikiran sahabatnya, ” Pendirianmu keliru, sahabatku.”

“Aku tahu aku memang keliru,” ujar Abu Jahal.

Abu Dzar mengingatkan sahabatnya, “Kelak, engkau akan dikalahkan oleh kekeliruanmu.”

Baik, biar saja aku kalah. Bahkan, aku tahu diakhirat kelak akan dimasukkan ke dalamneraka jahanam. Namun, aku tidak mau dikalahkan Muhammad di dunia walaupun di akhirat sana aku pasti dikalahkan,” jawab Abu Jahal sambil berlalu meninggalkan Abu Dzar yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Abu Jahal tetap dalam pendiriannya. Ketika Perang Badar berlangsung, ia ditanya oleh Akhnas bin Syariq, “Hai, Abu Jahal! Di sini hanya kita berdua dan tidak ada orang lain, ceritakanlah tentang diri Muhammad, apakah benar dia itu orang yang jujur atau pendusta?”

Demi Tuhan! Sesungguhnya Muhammad itu adalah orang yang benar dan tidak pernah berdusta!

=========== =============== ================= ============

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 12 Desember 2010.

Vien AM.

Diambil dari :

http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/04/pengakuan-abu-jahal.html#comment-form

Read Full Post »

Dune atau dalam bahasa Indonesianya ‘bukit pasir‘ yang terbayang dalam benak kita biasanya adalah gurun pasir sahara di Arabia atau Afrika yang extra panas di ujung sana. Namun dune yang kami temui beberapa hari lalu benar-benar jauh berbeda dari bayangan tersebut. La Dune du Pyla adalah bukit pasir yang terletak sekitar 60 km barat daya Bordeaux, Perancis barat. Ini adalah dune  terbesar di Eropa. Bukit ini membujur sepanjang 3 km di pesisir pantai Gasconne, lautan Atlantik dengan ketinggian sekitar 117 meter, lebar 500 meter serta terdiri atas sekitar 60 juta meter kubik pasir putih.

Pasir yang membentuk bukit ini adalah pasir yang semula berada di pantai Gasconne.  Namun karena kekuatan angin dan arus air pantai yang amat kencang pasir terdorong hingga membentur hutan kecil yang ada di belakangnya. Dan sedikit demi sedikit menumpuk hingga terbentuklah bukit pasir seperti yang kami saksikan sore itu. Subhanallah ..

« Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, » (QS.As-Shad (38) :36).

« Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan sekuat-kuatnya, » (QS.Adz-Zariyat (51):1).

« Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), ….. »(QS.Al-Qamar (54):34).

Ya, Kami yang dimaksud ayat diatas adalah Dia, Allah  swt, Sang Penguasa Tunggal yang memiliki langit, bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya. Dialah  yang memerintahkan pasukannya yang teramat taat dan setia  yaitu para malaikat agar angin berhembus kemanapun, menerbangkan dan mengangkat apapun yang dikehendaki-Nya. Jangankan debu-debu lembut dipinggir pantai bahkan batu-batu besar dan tajam sekalipun seperti yang menimpa kaum Luth ataupun kota Pompei di Italia adalah hal yang amat sangat mudah bagi-Nya. Allahuakbar ..

Sore hari itu ketika kami sedang berusaha mendaki bukit, tiba-tiba angin yang lumayan dingin datang bertiup cukup kencang. Temperatur berkisar sekitar 12 derajat Celcius. Saya terpaksa membatalkan keinginan untuk memandang keindahan pemandangan lautan Atlantik yang terdapat di balik bukit tersebut karena khawatir terjatuh oleh angin. Padahal bila cuaca cerah kita bisa menyaksikan  rantai pegunungan Pyrene yang sedang bersalju itu dari kejauhan. Menurut seorang penjual toko souvenir yang berada disana pada musim panas sebenarnya disediakan tangga kayu menuju bukit.

Bordeaux

Bordeaux

 Mosque de Bordeaux

Mosque de Bordeaux

Dengan berat hati akhirnya kamipun meninggalkan tempat dan langsung menuju kota Bordeaux. Esoknya, karena hari itu adalah hari Jumat kamipun menyempatkan diri mencari masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Bertolak belakang dengan keadaan kota  yang besar, ramai dan cantik, masjid yang kami jumpai hanyalah sebuah bangunan apartemen tua yang bediri disela-sela hunian tua pula.

Namun demikian jumlah jamaah cukup mengejutkan hati. Ternyata bangunan 4 lantai yang bertangga sempit tersebut sesak dijejali para hamba yang hendak mengagungkan-Nya. Alhamdulillah …

Setelah puas berjalan-jalan melihat kota dimana deretan panjang bangunan tua nan antik dan cantik menghisasi tepi sungai Garonne, kamipun kembali ke hotel. Esok sebelum kembali ke Pau, kami masih ingin mencoba mengunjungi Dune du Pyla yang tertunda kemarin.

Dune du Pyla 1

Dune du Pyla 1

Dune du Pyla2

Rupanya Sang Khalik amat mengetahui keinginan hamba ini. Setelah beberapa kali kecewa karena sejumlah pintu menuju lokasi ditutup, kami akhirnya berhasil menemukan jalan menuju pantai. Dari sinilah kami akhirnya dapat mendaki bukit walaupun bukan dari lokasi terbaiknya. Karena ternyata di lokasi tersebut tersedia sejumlah tempat wisata yang sayangnya hanya dibuka di musim panas saja. Perkemahan lengkap dengan sarananya, berbagai permainan pantai dan taman bermain anak-anak hingga olah raga layang gantung  tersedia disini.

Subhanallah .. sungguh cantik pemandangannya  .. laut biru kehijauan nan luas diselingi bukit-bukit pasir putih  kecil memanjang di sana sini terbentang di hadapan mata kami. Kami bahkan sempat memandang dan mengikuti terbenamnya matahari ke balik laut. Betapa indahnya alam ciptaan-Mu Ya Allah .. Subhanallah  .. terima kasih Ya Allah  ..

Namun esok paginya ketika kami telah tiba kembali di rumah terdengar kabar bahwa semalam badai Xynthia telah memporak-porandakan pantai barat Perancis. Termasuk sekitar wilayah Bordeaux dimana terdapat Dune du Pyla yang diterjang angin berkekuatan antara 120 – 140 km perjam! Badai ini mengakibatkan angin puyuh, gelombang laut setinggi 8 meter, hujan deras dan banjir dimana-mana. Korban sejumlah  50-an  orang yang kebanyakan sedang tidur nyenyakpun berjatuhan. Angin juga berhasil melumpuhkan tenaga listrik negara maju ini hingga jutaan orang terpaksa melewati malam di musim dingin tersebut dalam kegelapan. Astaghfirullah ..

Pada saat yang sama kami juga mendengar berita terjadinya gempa berkekuatan 8.8 skala richter menyerang Santiago, ibu kota Chili di Amerika Selatan. Gempa dasyat ini disusul dengan terjadinya gelombang tsunami yang berdampak hingga ke Jepang yang letaknya  ribuan kilometer dari Chili. Korban mencapai 700 orang lebih, ironisnya lebih dari separuhnya justru  akibat tsunami yang datang belakangan tanpa terduga.

Jadi pada saat yang sama baik lautan Atlantik di barat maupun lautan Pasifik di timur telah merasakan kekuatan raksasa yang mengakibatkan bencana besar. Siapa yang kuasa mendatangkan ini semua ?

“ Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya “.(QS. Ar-Raad(13):41).

Tampak jelas bumi, rumah yang dihuni milyaran manusia sejak ribuan tahun lalu ini telah mulai goyah dan rentan, renta dimakan usia. Rasanya sudah bukan waktunya lagi manusia cukup hanya mempercayai bahwa bumi akan hancur, bahwa kiamat pasti akan datang, bahwa Sang Penguasa alam semesta itu ada … namun tetap berkeras kepala tidak mau menjalankan perintah dan larangan-Nya. Na’udzubillah min dzalik …

Sekali lagi syukur yang dalam kami panjatkan kepada Allah swt  yang telah mengantarkan kami kembali ke rumah dalam keadaan selamat. Semalam kami memang merasa khawatir terhadap angin kencang yang bertiup. Suara angin yang terjebak di sekitar bangunan apartemen dimana kami tinggal terdengar berderu keras seolah ingin menerbangkan kami. Saking khawatirnya bahkan anak perempuan kami yang telah berusia 15 tahunpun pindah tidur sekamar dengan kami.

Begitu pula malam sebelumnya ketika masih di Bordeaux. Kertas –kertas berterbangan, tong sampah terguling, tiang lampu lalu lintas dan tiang papan reklame bergoyang-goyang. Ini  masih ditambah lagi dengan hujan es batu kecil ( grele) yang datang secara tiba-tiba walaupun hanya beberapa menit.

Cap Ferret

Cap Ferret

Sama halnya dengan ketika kami dalam perjalanan menuju Cap Ferret, sekitar 30 km utara Bordeaux. Hujan angin terus mengiringi perjalanan kami. Namun tidak percuma   kami tetap berkeras meneruskan perjalanan karena di tempat ini kami juga berhasil melihat ‘hasil karya angin’ ciptaan-Nya. Yaitu deretan pulau pasir putih ditengah laut biru kehijauan. Rupanya bukit pasir memang terbentuk di sepanjang garis pantai Gascone di lautan Atlantik ini.

Itulah angin, sebuah kekuatan maha dasyat yang bergerak atas izin dan kehendak-Nya kemanapun ia mau. Menggiring pasir pantai dan membentuknya menjadi bukit pasir, membawa air hujan dan menumbuhkan tanam-tanaman hingga menjadi berkah namun juga sekaligus menghancurkan apa yang menghalanginya. Allahuakbar ..

«  dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya ».(QS.Al-Jaatsiyah(45) :5-6).

Wallahu’alam bishawwab.

Pau- France, 2 Maret 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Mei  2008. Setelah Masjidil Aqsho, kunjungan ke Kairo adalah merupakan tujuan terakhir dari paket umrah kami kali ini. Pesawat Air Jordan yang kami tumpangi terbang lumayan rendah  diatas gurun Sinai di perbatasan  Yordania-Mesir. Lautan pasir gersang tersebut terlihat angker dengan bukit-bukit batu  cadas disana sini. Bayangan nabi Musa as dan saudaranya nabi Harun as secara spontan terlintas di benak saya.    Tak dapat dibayangkan betapa beratnya perjuangan kedua nabi Allah itu ketika harus memimpin bani Israil lari dari kejaran tentara Firaun. Entah berapa lama perjalanan yang mereka butuhkan hingga sampai ke gurun Sinai. Di tempat ini pulalah Musa as dan kaumnya terpaksa harus menetap selama 40 tahun disebabkan sifat pengecut dan tidak setianya bani Israil. Mereka enggan memenuhi perintah rasul-nya untuk  memasuki tanah Palestina yang ketika itu dijanjikan Tuhannya.

Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” (QS.Al-Maidah (5):22).

Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. …“(QS.Al-Maidah (5):26).

Tak berapa lama kemudian dari kejauhan tampak pula laut Merah yang memisahkan benua Asia dari benua Afrika. Saya berusaha keras membayangkan bahwa laut tersebut berwarna merah sesuai dengan namanya namun tidak berhasil. Dari pesawat udara laut tersebut memang  tidak sebiru seperti umumnya laut tetapi juga tidak merah.

Pikirannya saya kembali menerawang , kira-kira bagian mana  laut tersebut yang berabad-abad tahun yang lalu pernah   terbelah dan menenggelamkan  Fir’aun dan bala tentaranya.

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir`aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”.(QS.Al-Baqarah(2):50).

Ingatan saya kembali ke Palestina, tepatnya ke makam nabi Musa as yang terletak sekitar 11 km dari kota Jericho.  Kalau dipikir sungguh keterlaluan kaum Yahudi ini. Mereka sama sekali tidak tahu berterima-kasih. Musa as yang telah demikian bersusah payah berjuang membawa keluar bani Israil dari kekejaman Firaun, penguasa Mesir ketika itu , ternyata  makamnya amat sangat sederhana. Padahal kaum yang dulunya hanya diperlakukan sebagai budak belian itu sekarang telah menjadi kaum yang berpendidikan tinggi dan terkaya di dunia.

Modern Kairo

Modern Kairo

Tak lama kemudian pesawatpun  mendarat di bandara Kairo.  Suhu udara di ibu kota Mesir tersebut sangat panas dan berdebu.  Mula-mula perjalanan dari bandara menuju pusat kota melalui jalan utama Kairo cukup mengesankan. Jalan raya  dengan jalur hijau yang ditanami pohon palem terlihat relatif teduh dan bersih. Bangunan-bangunan disepanjang jalan juga tertata rapi bahkan ada sedikit kesan ‘eropa’di sana sini.  Apalagi menjelang jembatan utama yang menyeberangi sungai Nil, kota Kairo terlihat indah, tak kalah dengan kota-kota besar dunia lain, khas kota metropolis.

Namun makin lama makin terlihat wajah asli kota Kairo seperti yang dilukiskan Habibul Rahman dalam novel “ Ayat-ayat Cinta”nya. Kairo terlihat ‘crowded’   dan kumuh.  Berbagai jenis angkutan umum bercampur baur lengkap dengan klaksonnya yang memekakkan telinga. Para pejalan kaki menyebrang  sembarangan. Saya teringat apa yang dikatakan guide kami tentang trik menyebrang jalan di kota ini. Satu, tutup telinga, tutup mata. Dua mantapkan hati untuk menyebrang dan terakhir baca doa! Alhasil, saya dan suamipun sampailah di mal yang terletak diseberang hotel walaupun dengan hati ketar-ketir karena memang kami nyaris tertabrak!

Dilihat dari sejarah dan bentuk bangunannya, Kairo terbagi menjadi 2, yaitu Kairo modern dan Kairo kuno. Pemerintah tampaknya tidak mungkin merenovasi wajah Kairo kuno karena selain sarat sejarah juga padatnya penduduk. Namun di sisi lain ia tetap ingin menggunakan kota tersebut sebagai ibu kota. Oleh karenanya dapat kita saksikan sekarang adanya berkilo-kilo meter bangunan tua dan kumuh sepanjang jalan yang sudah tidak digunakan dan akhirnya dimanfaatkan penduduk sebagai kuburan dan ditinggali penduduk miskin sebagai penjaganya.

Hal pertama yang bagi sebagian besar wisatawan sebuah surprise adalah kenyataan bahwa  pyramid raksasa ‘The Great Pyramid of Giza’ ternyata  hanya terletak beberapa km dari pusat kota. Bahkan ketika kami sedang menyantap makan siang di hari pertama kunjungan kami, ujung pyramid terlihat dari meja makan kami. Namun demikian keadaannya  langsung berubah begitu mendekati lokasi. Piramid berdiri kokoh  menjulang di gurun tinggi berpasir dan berdebu  tebal dengan ‘Sphink’nya, patung singa berkepala manusia, yang dengan  gagah perkasa seolah sedang menjaga agar lokasi tetap eksis tanpa harus bercampur dengan  riuh rendahnya suasana kota.

Piramid Giza dengan Sphink-nya.

Piramid Giza dengan Sphink-nya.

Malam  harinya pemandangan tampak lebih mengesankan lagi. Dengan bantuan beberapa lampu sorot yang diarahkan ke pyramid dan sang body guard ‘ sphink’ , para wisatawan dapat  duduk-duduk  di kursi yang ditata rapi menghadap pyramid sambil menghayal dan membayangkan kehidupan beribu-ribu tahun yang lampau.

Piramid Giza yang merupakan 1 dari 97 piramid yang ada di seluruh Mesir ini merupakan piramid terbesar dengan tinggi 146 m. Piramid ini terdiri dari 3 bangunan pyramid. Yang terbesar dibangun oleh  Raja Cheops (Khufu) pada 2500 an SM dalam waktu 20 tahun. Sedangkan pyramid kedua dibangun oleh putanya, raja Chepren ( Khafra’). Piramid selain menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi raja konon juga dimaksudkan sebagai tangga menuju hidup abadi di singgasananya yang tertinggi yaitu di langit. Karena para fir’aun menganggap dirinya Tuhan.

Dan berkata Fir`aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.(QS.Al-Qashash(28):38).

Esok harinya kami pergi mengunjungi museum of Cairo. Berbagai peninggalan sejarah Mesir kuno terlihat di museum ini. Peradaban negri yang telah tumbuh subur sejak 7000 tahun silam ini memang menarik. Namun yang paling menarik adalah sejarah dan cerita tentang Fir’aun. Menurut sejarah, Mesir kuno pernah diperintah oleh 330 Fir’aun yang terbagi menjadi 31 dinasti. Setelah itu Mesir sempat takluk dibawah Iskandar Agung, Romawi dan kemudian Yunani sebelum akhirnya ditaklukkan Islam dibawah kepemimpinan panglima ‘Amru bin ‘Ash pada tahun 641 M pada masa kekhalifahan Umar Bin Khattab ra.

Adalah Tutankhamon, firaun yang diperkirakan meninggal dalam usia amat muda, yaitu 18 tahun. Makamnya ditemukan di ‘Lembah Para Raja’ atau ‘Valley Of The King’ pada tahun 1922 lalu setelah diperkirakan terkubur selama lebih 3220 tahun! Tidak hanya itu, para arkeolog bahkan  berhasil menemukan harta karun yang disimpan di sejumlah peti bersama jasadnya yang telah dimumikan. Harta yang berupa berbagai pajangan dan patung besar dan kecil yang terbuat dari emas dan marmer, perhiasan emas dan permata bahkan sejumlah kursi yang ditatah emas dan permata yang sungguh nilainya tak terkira itu sekarang memenuhi seluruh lantai 2 Museum Kairo.

Ironisnya, di lantai berikutnya dipajang pula keranjang kecil sederhana yang konon menyimpan jasad rakyat miskin yang tidak mempunyai apa-apa untuk menemaninya di alam berikutnya. Selanjutnya ada pula peti dengan gambar berbagai macam makanan, buah-buahan dan sayur mayur sebagai teman si mati yang hanya mampu membuat gambar apa yang dibutuhkannya di alam berikut.

Esoknya, karena pihak travel tidak mengadakan jadwal khusus kunjungan, saya,suami dan salah seorang diantara rombongan setanah air memutuskan mengunjungi piramid tertua di Mesir. Piramid yang berada di padang pasir Sakkara, 25 Km Kairo ini dibangun oleh Raja Zoser. Di lokasi pyramid ini masih terlihat adanya peninggalan bangunan kuno dengan pilar-pilar besar dengan berbagai lukisan yang menghiasi dinding marmernya yang berwarna merah muda kecoklatan.

patung raksasa Ramses II yang gagal berdiri

patung raksasa Ramses II yang gagal berdiri

Perjalanan dengan kendaraan pribadi milik seorang mahasiswa Al-Azhar yang hari itu merangkap menjadi guide sekaligus sopir kami ini berlanjut ke Memphis. Disini dapat kita temui patung raksasa Ramses II. Sayangnya, ntah mengapa patung setinggi 13 m ini tidak berhasil dibuat berdiri oleh para pembuatnya sehingga pengunjung hanya bisa melihatnya dalam keadaan terbaring.

Anehnya lagi, dari sekian banyak patung yang kami jumpai, sebagian besar hidungnya dalam keadaan rusak. Menurut beberapa guide, konon, mereka mempunyai anggapan bahwa orang yang telah meninggal pada suatu saat  dengan kembalinya roh si mati, ia akan hidup kembali. Dan melalui hidung inilah roh akan masuk ke jasad. Oleh karenanya untuk menghalangi agar mayit tidak hidup lagi, para musuh seringkali  merusak hidung patung musuh-musuhnya!

Kawasan Benteng Salahudin dengan Kairo di latar belakangnya.

Kawasan Benteng Salahudin dengan Kairo di latar belakangnya.

Pada hari terakhir  kami mengunjungi peninggalan sejarah Islam. Kairo memiliki lebih dari 150 masjid bersejarah,diantaranya adalah Benteng Salahudin, Masjid Amr Bin Ash, Masjid Ahmad Ibnu Talon, Masjid Muhammad Ali Pasha,  Masjid Saiyedah Zenab, dan Masjid Al-Azhar. Masjid Amr Bin Ash tercatat sebagai masjid tertua di Mesir yang didirikan Gubernur Islam pertama di negeri itu, Panglima Amr Bin Ash, pada tahun 21 Hijriyah atau 721 Masehi.

Masjid Ali Pasha

Masjid Ali Pasha

Masjid Muhammad Ali Pasha yang berada didalam kompleks Benteng Salahuddin adalah peninggalan Islam pertama yang kami kunjungi. Masjid dengan arsitektur Turki ini sangat mirip dengan masjid Biru, Blue Mosque di Istambul. Masjid ini terlihat sangat menonjol karena selain memang megah dan besar juga terletak di ketinggian. Nama Ali Pasha sendiri diambil dari nama seorang panglima berdarah Albania yang ditugasi sultan Turki Ottoman untuk memerintah Mesir pada tahun  1800an. Sedangkan benteng Salahuddin adalah benteng yang dibangun oleh Sultan Salahuddin Al-Ayubbi pada abad 10 dari ancaman serangan pasukan Salib  ke negri tersebut. Meskipun ternyata pasukan ini pada akhirnya tidak pernah sampai ke daerah pusat kekuasaan sultan yang sangat dikenal keadilannya itu.

Selanjutnya adalah masjid Al-Azhar. Masjid yang hingga kini dikenal sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam ini dibangun  pada tahun 970M dan merupakan bagian dari universitas Al-Azhar. Di masjid ini kami sempat melaksanakan shalat Jumat yang diikuti banyak sekali jamaah perempuan.

Sayangnya, dari sekian banyak masjid dan peninggalan Islam hanya sebagian saja yang masih terlihat terawat dengan baik.

Jadwal acara malam terakhir kunjungan kami ke Kairo yang telah disusun pihak travel adalah makan malam di kapal pesiar. Namun kami mendengar bocoran bahwa di atas kapal tersebut biasanya di suguhkan acara tari perut ! Tentu saja kami protes. Bagaimana mungkin mereka tega mengotori wisata umrah ini dengan hal-hal yang tidak pantas.

Setelah melalui pembicaraan yang lumayan alot, orang Mesir memang terkenal dengan sifat keras kepalanya, akhirnya disepakati bahwa ketika penari akan masuk kami akan segera diberi kode. Dengan demikian kami bisa pergi keluar ke dok kapal.

Yang juga cukup mencengangkan adalah soal makanan. Makanan yang disediakan di kapal sungguh luar biasa buanyaknya. Namun ternyata orang Arab, yang merupakan tamu terbanyak di kapal, mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan tersebut dalam jumlah yang juga banyak hingga ada saja tamu yang tidak kebagian makanan. Namun apa yang terjadi? Makanan-makanan tersebut disisakan begitu saja di dalam piring hingga terbuang percuma…

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya ”.(QS. Al-Isra(17):26-27).

Esok paginya, kamipun pulang ke Jakarta dengan transit beberapa jam  di Bangkok dengan membawa kenangan dan hikmah yang banyak, Insya Allah…Terima-kasih Ya Allah …

Jakarta, Agustus 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

2001, Musim Dingin. Ini adalah musim Dingin kami kedua selama tinggal di rantau. Kali ini kami sepakat akan memanfaatkan libur panjang Noel, begitu orang Perancis menyebut Natal, dengan melancong ke Istanbul, Turki. Ayahnya anak-anak semula berniat mengendarai mobil sendiri seperti yang kami lakukan 2 tahun terakhir dikala musim libur tiba. Namun saya tidak  setuju. Karena walaupun sebagian Turki termasuk Eropa, jarak Istanbul – Paris terlalu jauh dan melelahkan untuk ditempuh melalui darat. Walau bagi orang Eropa yang gemar bepergian hal tersebut bukan hal yang mustahil. Akhirnya diputuskan perjalanan melewati udara.

Senin, 24 Desember pagi buta nan dingin itu kami berlima ( saya, suami dan ketiga anak kami) dengan menaiki taxi berangkat meninggalkan apartemen menuju Charles De Gaulle Airport. Pesawat Ryan Air yang kami tumpangi tinggal landas tepat pukul 7 pagi waktu Paris. Perjalanan makan waktu kurang lebih 3 jam. Sekitar pukul 11 waktu setempat pesawat dengan mulus mendarat di Ataturk Airport, Istanbul. Waktu di Istanbul 1 jam lebih cepat dari di Paris.

Segera setelah urusan admintrasi, visa dan pengambilan koper beres, kamipun berbaur dengan rombongan yang sebagian besar terdiri dari bule2 Perancis. Dengan dipandu seorang guide Turki-Perancis kami menaiki bus besar dan menuju hotel. Tampaknya hotel ini adalah hotel langganan bagi pelancong asal negri empunya menara Eiffel. Ini terlihat karena disamping semua umbul2 selamat datangnya berbahasa Perancis, beberapa pegawainyapun piawai berbahasa tersebut.

Jarak dari airport menuju hotel lumayan jauh. Tampaknya bandara terletak di luar kota. Dengan demikian kami mempunyai kesempatan melihat tembok besar peninggalan Constantine, kaisar Romawi Timur, yang membentengi pusat kota. ( Nama lama Istanbul, Konstantinopel diambil dari nama kaisar tersebut). Tembok berwarna merah bata ini dulunya sekaligus berfungsi sebagai saluran irigasi kota. Saluran air atau aqueduct ini dibangun dibagian atas tembok. Bus langsung menuju hotel.

Setelah kunci kamar hotel dibagikan dan istirahat sejenak, turpun dimulai. Rombongan kembali menaiki bus. Temperatur ketika itu dingin sekali, ternyata hanya sekitar 1-2 derajat C! Brrr…. Di beberapa tempat masih terlihat adanya tumpukan salju. Pohon2 terlihat indah dengan ranting keringnya yang berwarna putih karena masih ditempeli sisa2 salju yang tampak seperti kapas. Sayang udara di luar kurang cerah bahkan hujan tampak mulai turun.

Kota Istanbul adalah sebuah kota yang memiliki beberapa keistimewaan. Yang pertama kota ini adalah satu-satunya kota di dunia yang menjadi bagian dari dua benua. Sisi barat merupakan bagian dari benua Eropa sedangkan sisi timur milik benua Asia. Yang kedua, kota ini sejak ribuan tahun telah menjadi kota yang diperebutkan banyak pihak dan bangsa. Athenian, Roman, Spartan, Persian, dan Macedonian adalah contohnya. Islam bahkan harus beberapa kali mencoba menaklukan kota sarat sejarah ini sebelum akhirnya berhasil menguasainya.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskannya dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya”. [H.R. Ahmad bin Hanbal]

Tampaknya hadis inilah yang menjadi penyemangat para pemimpin Muslim untuk menaklukkan Istanbul atau Konstantinopel.

Berfoto dengan latar belakang Fatih Sultan Mehmed Bridge

Berfoto dengan latar belakang Fatih Sultan Mehmed Bridge

Bus melintasi selat Borporus yang memisahkan Istanbul Eropa dari Istanbul Asia melalui Fatih Sultan Mehmed Bridge. Nama jembatan ini diambil dari nama sang penakluk Istanbul di tahun 1453 M. Ia adalah seorang sultan dari dinasti Otoman yang gagah perkasa. Ialah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul.

Dari kota ini pula kekhalifahan Islam memerintah selama lebih dari 400 tahun.  Sejak itu Istanbul terus membangun dan mempercantik dirinya hingga abad ke 18. Istanbul yang dipenuhi bukit, dengan menara masjid dan kubahnya yang khas serta pilar-pilarnya yang membumbung tinggi ke udara menambah keindahan dan kekhasan kota ini. Menurut data jumlah masjid di kota ini mencapai  ribuan.

Sebagian besar Istanbul Asia diperuntukkan bagi pemukiman. Sementara roda perekonomian dan pariwisata digerakkan dari Istanbul Eropa. Bus kembali menyeberangi selat menuju Istanbul Eropa. Kali ini melalui The Bridge of Borporus yang terletak di selatan jembatan sebelumnya. Jembatan gantung yang panjangnya 1510 m ini ketika dibangun pada tahun 1973 adalah merupakan jembatan terpanjang ke 4 di dunia. Di ujung selat sebelah selatan terlihat Menara Galatayang dahulu berfungsi sebagai menara pengintai dari serangan musuh yang datang dari Laut Marmara.

Bus kembali melintasi sebuah jembatan. Jembatan ini menyeberangi selat Golden Horn, pelabuhan kapal terbesar di Istanbul. Golden Horn sendiri adalah sebuah teluk. Dinamakan Horn karena menyerupai sebuah terompet. Sementara ketika matahari menjelang terbenam teluk terlihat berwarna keemasan. Golden Horn ini memisahkan Istanbul modern dari Istanbul tua.

Dari atas jembatan kubah-kubah masjid besar lebih jelas lagi terlihat. Diantaranya yaitu, Masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal dengan nama Blue Mosque, Yeni Mosque yang dikabarkan pembangunannnya memakan waktu lebih dari 60 tahun serta Sulemaniye Mosque dimana Sultan Sulemaniye Yang Agung, sultan terlama yang memegang pemerintahan Otoman dimakamkan di dalamnya.

Bus berbelok ke arah kiri, menyusuri tepi laut. Di ujung semenanjung yang terletak diantara selat Borporus dan laut Marmara inilah sebagian besar peninggalan bersejarah berada. Museum Topkapi, Blue Mosque dan  Aya Sophia terlihat berjajar dalam satu garis dengan latar belakang selat Borporus yang biru mempesona bertemu dengan laut Marmara. Area ini dikenal denga nama The Old Town.

Laut Marmara dihimpit oleh selat Borpurus di bagian utaranya serta Laut Tengah / Laut Mediterania di selatannya. Sementara selat Borporus ke arah utara bertemu dengan Laut Hitam/ Black Sea. Jadi secara geografis Istanbul dikelilingi oleh laut. Agaknya inilah yang membuat Istanbul menjadi incaran banyak pihak.

P1010744Begitu sopir bus memarkir kendaraannya di parkiran dengan tidak sabar kami segera turun dari bus. Beserta rombongan kami menyusuri  Sultan Mehmed Square, sebuah taman luas nan indah. Inilah jantung kota tua Istanbul. Selain dihiasi air mancur di taman ini berdiri pula Obelisk yang dibawa dari Mesir 3500 tahun yang lalu. Di tempat ini dahulu berdiri Hipodrome yaitu arena pertunjukan khas Romawi antaa manusia dan binatang buas !

P1010764Dari sini kami memasuki Aya Sophia. Aya Sophia adalah bangunan legendaris tertua di Istanbul. Bangunan ini didirikan pada tahun 325 M dibawah pemerintahan Constantine.. Semula bangunan ini adalah bangunan gereja namun ketika Islam masuk 11 abad kemudian bangunan ini kemudian diubah fungsinya menjadi masjid.

Empat menara tinggi yang ada sekarang adalah tambahan setelah gereja dijadikan masjid. Sejak saat itu Aya Sophiapun menjadi pusat penelitian dan perkembangan ilmu yang berkembang sangat pesat. Karena fungsi masjid pada masa kejayaan Islam memang bukan sekedar tempat ibadah saja. Namun sejak kejatuhan kekhilafahan pada tahun 1924, Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Republik Turki yang sekuler bahkan syahdan dikabarkan Yahudi, memerintahkan masjid besar ini diubah fungsinya menjadi museum hingga yang kita saksikan hari ini.

http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/siapa-sebenarnya-mustafa-kemal-attaturk.htm#.V3ifBrh96Uk

P1010838P1010807P1010800P1010795Selanjutnya kami menyebrangi taman dan menuju The Blue Mosque yang merupakan satu diantara tujuan utama wisatawan mancanegara. Seluruh bagian dalam masjid yang didirikan pada sekitar 1609-1616  M dibawah perintah sultan Ahmad I ini didominasi oleh warna biru langit yang sangat indah. Bagian dalam masjid ini sangatlah cantik. Jauh dibanding bagian luarnya yang terlihat kusam dimakan usia. Dan seperti juga umumnya masjid pada zaman tersebut, masjid terdiri dari sekolah/madrasah, tempat pertemuan juga makam pendirinya.

P1010850Esoknya kami mengunjungi Museum Topkapi yang artinya adalah Gerbang Meriam. Disebut demikian karena dulunya didepan pintu utamanya berdiri sebuah meriam raksasa. Museum ini berada di atas bukit dengan latar belakang laut yang sungguh mempesona. Bangunan ini semula adalah istana para sultan. Istana yang luasnya mencapai 70 hektar dan dikelilingi tembok sepanjang 5 kilometer ini dihuni tidak kurang dari 4000 jiwa!

Dolmahbahce Palace

P1010871P1010862Istana ini telah mengalami beberapa kali renovasi karena sering tertimpa gempa. Di tempat inilah berbagai upacara dan peristiwa penting kenegaraan dilakukan, termasuk upacara penerimaan para duta negara sahabat. Istana ini menjadi lambang kekuasaan dan pusat pendidikan keluarga istana. P1010864

P1010890P1010875Namun sejak abad 19 istana dipindahkan ke bangunan baru, yaitu istana Dolmahbahce yang didirikan di tepi selat Borporus. Istana dengan gaya gabungan Baroque, Rococo dan Ottoman klasik ini dikabarkan menghabiskan 35 ton emas. 14 ton diantaranya dibentuk menjadi bunga dan dedaunan untuk menghiasi langit-langitnya. Luas istana ini sekitar 15 hektar lengkap dengan masjidnya yang juga sangat indah.

miniatur Topkapi Palace

miniatur Topkapi Palace

Sementara istana lama menjadi terbengkalai. Hingga akhirnya pada tahun 1924 istana ini dijadikan museum nasional dengan nama The Topkapi Palace Museum. Di museum inilah disimpan berbagai benda-benda peninggalan bersejarah kerajaan seperti keramik, perhiasan, senjata dll. Yang paling menarik perhatian adalah salah satu ruangan dimana disimpan benda–benda peninggalan Rasullullah Muhammad saw dan para sahabat. Benda-benda ini ditempatkan di 2 buah ruangan khusus yang saling berhubungan. Kubah dengan keramik biru muda menaungi ruangan istimewa ini.

Di dalam ruang pertama yang dindingnya juga dihiasi dengan keramik biru ini ditempatkan antara lain pedang ke 4 khalifah. Pedang-pedang ini terlihat besar dan berat sekali. Terbayang bagaimana Ali Bin Abi Thalib ra yang dikenal sebagai jago pedang memainkan pedangnya melawan musuh –musuh Allah. Sementara diruang berikutnya, didalam beberapa lemari dan meja kaca khusus dipajang secarik surat yang ditujukan kepada Heraclius, raja Bizantium kala itu, mantel, pedang, tapak kaki dan kotak kecill dimana diletakkan gigi dan sehelai jenggot Rasulullah saw.

Memang tidak ada yang berani memastikan apakah benda-benda tersebut benar-benar milik Rasulullah saw. Namun tak urung, air mata ini tak mampu dibendung untuk tidak menetes keluar. Kenangan dan bayangan bagaimana Rasul dan para sahabat berjuang mati-matian demi menegakan ajaran Islam tak dapat dihapus begitu saja. Bahkan si bungsu yang ketika itu baru berumur 7 tahun sampai terheran-heran melihat ibunya menitikkan air mata. Ya Allah, Ya Robb semoga Engkau ridho membalas usaha dan perjuangan mereka dengan pahala yang tak habis-habisnya. Semoga juga umat ini mampu mempertahankan apa yang telah mereka perjuangkan, amin.

( Youtube Museum Topkapi :  http://www.youtube.com/watch?v=O5II5n1N3qQ&feature=related )

Setelah puas melihat keadaan sekitar Museum kamipun berfoto-foto. Di kejauhan terlihat jembatan Borporus. Sementara di bawah terlihat jelas tembok benteng tua yang melindungi istana museum ini dari serangan musuh. Setelah itu rombongan meneruskan perjalanan dengan mengunjungi beberapa bangunan bersejarah.

Diantaranya yang paling menarik adalah  Suleimaniyah Mosque. Masjid ini dibangun antara tahun 1550-1557 M dibawah perintah Sultan Suleiman Yang Agung. Masjid ini merupakan karya terindah Istanbul pada masa itu. Kubah utama memang hanya satu namun dari area utama ini terlihat puluhan kubah kecil yang mengitarinya. Sayangnya, seperti juga sebagian besar masjid yang lain saat ini masjid tak terawat dengan baik. Disamping itu, kegiatan ibadah di masjid tampaknya tidak lagi menjadi bagian dan ruh dari bekas ibu kota kekhalifahan yang membentang luas ini.

Keesokan paginya, rombongan mengunjungi tempat pembuatan karpet. Kami diajak berkeliling. Di tempat tersebut diperagakan cara pembuatan karpet. Mulai dari desain gambar, pemilihan benang dan warnanya hingga proses pembuatan benang sutra. Setelah itu kami menyaksikan peragaan pakaian sambil minum teh atau kopi Turki. Dan terakhir, ini yang terpenting bagi mereka, yaitu penawaran karpet dengan harga yang bervariasi.

Usai makan siang di sebuah restoran, rombongan pergi mengunjungi Grand Bazaar. Ini adalah pasar tertutup terbesar yang pernah kami lihat. Tempat yang menyerupai gua raksasa dengan langit-langitnya yang berbentuk kubah berjajar ini telah berdiri sejak tahun 1461 M dibawah Sultan Mehmet II. Dikabarkan pasar ini memuat 4400 toko, 3000 perusahaan, 67 jalan, 25 ribu karyawan, empat air mancur, dua masjid, dan 22 gerbang masuk!

Waah… benar-benar serasa terperangkap dalam labirin raksasa. Kemungkinan tersesat dan berputar-putar didalamnya tanpa bisa keluar dari tempat ini besar sekali. Ditempat ini segala macam barang bisa didapat. Mulai dari jajan pasar, cendera mata seperti pajangan dari keramik, porselen, karpet, sajadah, pakaian hingga sepatu dan tas kulit. Di tempat ini si sulung merengek dibelikan jaket kulit dengan harga relatif miring dibanding di tempat lain.

Si bungsu berpose di pintu tram

Si bungsu berpose di pintu tram

Pada hari terakhir dengan menaiki kapal pesiar, rombongan menyusuri selat Borporus yang biru sendu karena hujan tetap mengguyur kota ini. Bangunan-bangunan cantik dengan disain campuran Timur dan Barat seperti istana Dolmabahce, kastil, villa serta museum di sepanjang selat menghiasi wajah kota.

Malamnya, pada acara bebas dimana sebagian anggota rombongan memilih pergi menyaksikan pertunjukan malam, kami mengakhiri perjalanan dengan berjalan-jalan di Taksim yang terletak di Istanbul modern.

Ini adalah pedestrian berbukit yang sangat panjang dengan toko2 dan butik kenamaan seperti Channel, Louis Vitton, Dior dll di kiri kanan jalannya. Orang bilang ini adalah Champs Elyse-nya Paris atau Malioboro-nya Yogya. Rasanya semua orang tumpah ruah di tempat ini. Belum lagi tram listrik kunonya yang membuat area ini makin crowded saja.

Esoknya kamipun bersiap-siap pulang ke Paris dengan membawa kenangan yang bercampur aduk. Bagi saya pribadi, Istanbul sebagai bekas ibukota kekhalifahan Islam yang selama berabad-abad pernah mengalami masa kejayaan sangatlah memprihatinkan.

Selama 5 hari berada kota ini, terlihat bahwa masjid sepi dari jamaah shalat. Perempuan-perempuan muda berpenampilan ke-barat-an berseliweran tanpa jilbab, lupa bahwa mereka adalah muslimah yang mustinya menutup aurat ketika bepergian meninggalkan rumah. Para muda-mudi ini terlihat jelas bergaul bebas seperti layaknya kehidupan di Barat. Minuman keras dipajang di berbagai tempat umum.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang“. ( Terjemah QS. Al-Ahzab(33):59).

Pengalaman di atas memang terjadi 7 tahun yang lalu. Namun seiring dengan berlalunya waktu, pada tahun 2007 lalu PM Turki, Rajab Thayib Erdogan dengan partai Islamnya berhasil menggolkan kebijaksanaan baru. Pemakaian jilbab di sekolah, kampus, dan kantor-kantor pemerintah sudah mulai diperbolehkan. Padahal jilbab telah dilarang sejak diproklamirkannya Republik Turki puluhan tahun yang lalu.

Tidak itu saja. Perdana menteri yang istrinya berjilbab ini ( hal yang samasekali baru bagi negri sekuler ini ) bahkan berani berkata terang-terangan langsung dihadapan Presiden Israel Shimon Peres bahwa Israel telah berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat Palestina. Ini diungkapkannya ketika mereka bertemu di pertemuan tingkat tinggi di Davos, Swiss beberapa waktu lalu.

Tampaknya ucapan Rasulullah bahwa Konstantin atau Istanbul akan ditaklukkan untuk kedua kalinya sedang menuju kenyataan. Hadis ini menunjuk pada fenomena akhir zaman sesaat sebelum turunnya Dajjal, si Raja Pendusta.

Wallahu’alam bi shawab.

Jakarta, Maret 2009.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »